Istana Yang Suram

Istana Yang Suram

Karya : S.H. Mintarja


Bab 1

Ketika matahari terbenam dibalik ujung bukit disebelah barat, beberapa ekor kelelawar bangkit dari persembunyiannya diatap sebuah istana kecil yang sudah tua, beterbangan menyusuri gelapnya malam.

Sebuah lampu yang suram menyala dipendapa yang terbuka, terguncang oleh angin yang lemah.

Istana itu kian hari kian bertambah sepi. Halamannya masih tetap bersih seperti saat-saat lampau, tetapi tidak seorangpun yang pernah menjamah kerusakan yang terjadi pada bagian atap rumah itu. Didalam istana itu sama sekali tidak terdapat seorang laki-lakipun yang tinggal.

Mula-mula angin kencang telah menggeser bagian atap istana itu. Hanya sedikit sekali, tetapi ketika hujan turun, maka beberapa titik air menyusup lewat lubang atap yang tergeser itu, telah mengotori langit-langit. Semakin lama semakin banyak, bahkan kemudian lubang-lubang pada atap itupun bertambah-tambah.

Meskipun demikian, titik air hujan yang jatuh dilantai selalu ditampung dengan jambangan kecil, sehingga tidak merusakkan lantai dan mengalir kemana-mana, tidak membasahi perabot istana yang masih lengkap dan terpelihara.

Jika senja lewat, maka penghuni istana kecil itupun segera pergi kebilik masing-masing, seorang perempuan menjelang hari-hari tuanya, seorang gadis remaja yang menginjak masa dewasa. Sedang dibagian belakang istana itu tinggal seorang pelayan perempuan setua perempuan yang tinggal di istana kecil itu.

Demikianlah hari-hari yang lewat, tidak menumbuhkan banyak perubahan dalam tata kehidupan istana kecil yang terpencil dikaki bukit yang gersang. Meskipun dihalaman istana kecil itu nampak tumbuh-tumbuhan yang berwarna hijau.

Beberapa orang peronda dari pedukuhan kecil yang terletak beberapa puluh tonggak saja dari istana itu, selalu meronda berkeliling istana kecil itu. Seolah-olah mereka merasa wajib untuk ikut menjaga ketenangannya, meskipun hubungan antara padukuhan kecil itu sudah hampir terputus sama sekali dengan istana terpencil itu.

Namun setiap kali, perempuan tua penghuni itupun pergi juga ke padukuhan kecil itu, untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari.

Kehadiran perempuan penghuni istana kecil itu selalu disambut dengan ramah dan dan dengan hati terbuka oleh penghuni padukuhan kecil itu. Mereka memberikan apa saja yang diperlukan oleh perempuan tua itu. Jika perempuan tua itu bertanya tentang harga barang-barang yang diperlukan, maka penghuni padukuhan kecil itu selalu menyebut kurang dari separuh harga yang sebenarnya.

Perempuan tua itupun mengerti, bahwa yang dibelinya itu harganya terlampau murah, tetapi ia tidak mempersoalkannya, apalagi uang yang ada padanyapun semakin lama semakin tipis. Bahkan sekali-kali ia terpaksa menjual barang-barangnya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka seisi istana kecil itu.

Setiap orang yang tinggal di padukuhan kecil itupun mengetahui, apa yang pernah terjadi di istana itu. Sejak istana itu didirikan, sehingga istana itu menjadi sangat sepi seperti saat-saat terakhir.

Beberapa orang pernah memberanikan diri datang menghadap perempuan tua penghuni istana dan menawarkan diri untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi pada atap istana itu. Tetapi sambil tersenyum perempuan tua itu menjawab “Terima kasih Ki Sanak, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan hati kalian, tetapi biarlah, apabila aku memerlukan, aku akan katakana kepada kalian, agaknya sekarang aku belum berniat untuk memperbaiki atap rumahku yang rusak”

“Kami tidak memerlukan imbalan apapun” berkata salah seorang dari mereka yang datang menghadap perempuan tua itu, “kami akan melakukan semata-mata karena kami merasa berhutang budi kepada pangeran Kuda Narpada”

Perempuan tua itu tersenyum, senyum yang amat pahit, katanya “Terima kasih Ki Sanak, terima kasih, jika ada kebaikan hati Pangeran Kuda Narpada, lupakan sajalah. Itu sudah menjadi kewajibannya”

Dan orang-orang itupun kemudian meninggalkan istana itu dengan hati yang penuh dengan berbagai macam pertanyaan.

“Apakah artinya pengasingan diri itu?” kata salah satu orang dari mereka.

Yang lain menggelangkan kepalanya, tetapi seorang yang sudah ubanan menyahut, “Hati Raden Ayu Kuda Narpada tidak melihat lagi hari depan yang sebenarnya masih panjang, setidak-tidaknya bagi puterinya. Bukankan dengan sikapnya itu, ia telah mematahkan kuntum bunga yang hampir mekar?”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, seorang anak muda berkata “Gadis itu cantik sekali…”

“Jika gadis itu cantik sekali, apa maumu?”

“Tentu tidak apa-apa, aku hanya sekedar memuji, Raden Ajeng Inten Prawesti adalah gadis tidak ada duanya dimuka bumi”

“Bumi yang mana?” bertanya seorang kawannya, “Yang kau lihat tidak lebh jauh dari daerah pegunungan yang sempit ini”

“Jadi apakah masih ada daerah yang lebih luas dari daerah pegunungan ini?”

“Kau memang anak muda yang terkungkung oleh lingkunganmu, yang kau ketahui tidak lebih dari dinding-dinding pedukuhanmu”

Anak muda itu tersenyum, katanya “Baiklah, jika demikian, maka gadis itu adalah gadis yang paling cantik di didaerah ini”

Kawan-kawannyapun tersenyum pula, meskipun ada diantara mereka tersenyum masam, bahkan seoerang yang bertubuh gemuk berkata “Sudahlah, kehidupan yang suram di istana itu bukan sekedar bahan untuk berkelakar, kita sebenarnya merasa kasihan melihat cara hidup mereka yang tidak sewajarnya itu”

Yang lainpun terdiam, mereka tidak lagi membicarakan hal istana itu, tetapi angan-angan mereka berkecamuk mengulang masa-masa lampau.

Istana itu pernah menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya, terlebih-lebih penghuni padukuhan kecil pegunungan itu.

Terbayang kembali saat-saat istana itu bagaikan pelita yang menerangi daerah disekitarnya. Sesaat istana itu didirikan, maka mulailah nampak bahwa penghuni istana itu adalah orang-orang yang baik dan rendah diri, meskipun sebenarnya ia adalah soerang pangeran, Pangeran Kuda Narpada.

Pangeran Kuda Narpadalah yang yang memberikan beberapa petunjuk yang sangat berarti bagi padukuhan itu, bagaimana mereka bercocok tanam, Pangeran Kuda Narpadalah yang mengajak para penghuni padukuhan kecil itu membuat parit-parit yang akan dapat mengairi daerah mereka yang gersang. Bukan saja memberikan petunjuk dan perintah, tetapi Pangeran Kuda Narpada sendiri menyisingkan kain panjangnya, melepas bajunya dan turun ketanah berlumpur.

Orang bertubuh gemuk yang berjalan diantara beberapa orang kawannya itu menarik nafas dalam-dalam sehingga orang-orang yang berjalan disisinya berpaling kepadanya meskipun mereka tidak bertanya sesuatu.

Dalam pada itu, peristiwa itu seolah-olah membayang kembali dirongga mata orang bertubuh gemuk itu. Saat-saat penghuni istana itu dating untuk yang pertama kalinya dipadukuhannya, sebelum istana itu didirikan.

Kedatangan seorang Pangeran dan keluarganya di padukuhan terpencil itu sangat megejutkan penghuninya. Bahkan beberapa orang lari bersembunyi didalam rumahnya. Tetapi yang lain berkumpul di rumah Ki Buyut dengan senjata ditangan masing-masing.

“Jangan bingung” berkata Ki Buyut Karangmaja, “Aku akan menjumpainya dan bertanya apakah keperluannya datang ke padukuhan ini”

Ketika Ki Buyut menghadap Pangeran yang baru datang itu, nampaklah olehnya bahwa Pangeran dan keluarganya itu sedang dicengkam oleh kegelisahan, tetapi agaknya Pangeran itu menyadari bahwa ia berada didalam lingkungan yang berbeda dengan lingkungan yang ditinggalkannya.

Karena itu, kepada Ki Buyut Karangmaja yang nampak dengan jujur menyonsongnya, tanpa niat yang mencurigakan, Pangeran Kuda Narpada tidak menyembunyikan lagi maksud kedatangannya itu.

“Aku menghindarkan diri dari perang yang sedang berkecamuk di Majapahit” berkata Pangeran Kuda Narpada.

“Tetapi siapakah tuan?” bertanya Ki Buyut.

“Aku adalah Pangeran Kuda Narpada, adinda dari Maharaja di Majapahit”

“Apakah yang terjadi di Majapahit?”

“Perang, pasukan Harya Udara sudah menduduki pusat kerajaan beberapa saat yang lalu, Kakanda telah meninggalkan istana dengan beberapa pengiringnya. Pasukan bantuan yang diminta oleh kakanda dari ananda Raden Patah masih belum sampai ke pusat kerajaan ketika pasukan musuh sudah tidak tertahan lagi memasuki pusat pemerintahan”.

“Jadi pusat kerajaan Majapahit sudah direbut?”

“Ya, aku meninggalkan pusat pemerintahan yang terakhir, ketika pasukanku perah dan hampir tumpas. Aku tidak dapat mengingkari kenyataan dan mengorbankan jiwa tanpa arti lebih banyak lagi. Kerena itu, maka aku terpaksa menarik pasukanku yang tersisa, kemudian aku menyusul kakanda Prabu setelah mengambil keluargaku di pengungsian, menurut pendengaranku, kakanda Prabu pergi ke barat, kemudian menyusuri daerah pegunungan Seribu, tetapi aku tidak berhasil menemukannya”.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam.

“Aku mendengar berita terakhir, bahwa kakanda telah turun dari daerah pegunungan dan dan mendekati kedudukan ananda Raden Patah”

“Dan Pangeran akan menyusulnya juga?”

Pangeran Kuda Narpada menggeleng, katanya “Aku tidak akan menyusulnya, disini aku merasa seolah-olah aku berada ditempat yang paling damai, karena itu, apabila kedatanganku, dirasa tidak menggangu ketenangan padukuhan ini, aku akan tinggal di daerah ini”

Ki Buyut tidak dapat menolak meskipun ia sebenarnnya ia sebenarnya masih ragu-ragu, ia tidak sampai hati untuk mempersilahkan pangeran itu meninggalkan padukuhannya, setelah ia melihat seorang perempuan Raden Ayu Kuda Narpada yang pucat dan lemah, seorang gadis yang kurus dan bermata cekung, meskipun gadis itu adalah seorang yang cantik sekali.

“Tetapi apakah Pangeran akan dapat tinggal bersama kami orang-orang kasar yang tidak mengenal adat dan dungu”.

“Apakah bedanya?, kalian adalah orang-orang yang masih lebih beruntung daripadaku, aku sekarang lebih tidak berarti lagi daripada kalian, aku tidak mempunyai tempat tinggal, tidak mempunyai apapun juga selain yang dapat kami bawa”.

Ki Buyut memandang tubuh-tubuh yang lemah dan pucat. Memang tidak ada yang mereka bawa selain sebungkus pakaian kusut, sedikit perhiasan yang nampak pada jari-jari Raden Ayu Kuda Narpada dan puterinya. Sekilas permata yang nampak dibalik kain Pangeran Kuda Narpada yang disingsingkan dibalik lambung, yang melekat pada timang ikat pinggang, kemudian sebilah keris dengan pendok mas dipinggang, selebihnya tidak ada apa-apa lagi.

Tetapi yang nampak itu seolah-olah telah meyakinkan kepada Ki Buyut Karangmaja bahwa yang dihadapannya itu benar-benar seorang pangeran. Dan ia mengaku bernama Kuda Narpada.

“Pangeran” berkata Ki Buyut kemudian, “Tentu kami tidak akan dapat menolak jika pangeran ingin tinggal bersama kami, tetapi kenapa pangeran tidak berusaha menyusul Prabu Majapahit?”.

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, katanaya “Jika aku hendak menyusul Kakanda Prabu, maka yang terkilas didalam angan-anganku hanyalah keselamatannya, bukan kepentinganku sendiri. Dan kini, menurut pendengaranku, kakanda telah mendekati tempat kedudukan ananda Adipati di Demak, maka aku tidak mencemaskannya lagi”.

“Tetapi pangeran sendiri?, apakah pangeran tidak ingin berada di Demak pula?”,

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, katanya “Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi selain kedamaian hati. Aku tidak akan melibatkan diri lagi kedalam lingkungan yang riuh seperti Demak”.

Ki Buyut mengangguk-angguk, katanya “Pangeran, memang tidak ada yang lebih nikmat dari pada kedamaian hati, akhirnya setiap orang akan merindukan damai didalam dirinya sendiri. Apalagi apabila umur kita menjadi semakin tua, meskipun ada saja pengecualiannya pada satu dua orang” Ki Buyut itu berhenti sejenak “Tetapi pangeran. Dalam usia pangeran sekarang ini, apakah pangeran akan terhenti di padukuhan kecil dan terpencil diatas pegunungan seribu ini? Pangeran adalah kesatria, tugas pangeran adalah luas sekali dalam kehidupan yang terbentang didepan tatapan mata kita. Bukankah seorang ksatria menurut pendengaranku dituntut untuk memberikan dermanya bagi sesama? Melindungi yang lemah, menegakkan yang layu dan menuntun yang buta?”

“Apakah aku tidak dapat melakukannya disini?” jawab Pangeran itu “Jika ternyata bahwa disini akulah yang lemah, yang layu dan yang buta, maka adalah kewajiban kalian untuk memberikan derma ksatria”

“Kami adalah sudra”

Pangeran tersenyum, senyum yang sangat pahit. Kemudian katanya “Aku pernah mendengar diantara desir angin yang lembut, yang mengalir dari istana Kadipaten Demak. Apakah ada bedanya antara Sudra dan Ksatria?, yang Paria dan yang Brahmana? Tidak. Dihadapan Hyang Widhi, kami dan kalian, kita semua adalah hambanya yang terkasih, yang berbeda adalah tugas kita masing-masing, tugas ksatria berbeda dengan tugas Brahmana, berbeda dengan tugas orang-orang yang disebut sudra dan Waisa. Tetapi tidak ada bedanya bagi kita semuanya untuk menempuh jalan mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta, karena perbedaan yang ada semata-mata perbedaan duniawi, bukan perbedaan hakiki dari hamba-hamba Yang Maha Agung itu”.

Ki Buyut Karangmaja masih saja mengangguk-angguk, tetapi ia masih belum mengerti seluruhnya makna dari kata-kata Pangeran Kuda Narpada.

“Meskipun demikian Ki Buyut” berkata Pangeran Kuda Narpada “Semuanya terserah kepada Ki Buyut, jika Ki Buyut mempunyai pertimbangan lain, maka aku akan meneruskan perjalanan”.

“Tidak, tidak pangeran” Ki Buyut menyahut dengan serta merta “Kami memang dapat mencurigai setiap orang baru didaerah kami, tetapi terhadap pangeran yang datang bersama dengan keluarga, kami akan mencoba memberikan tempat yang ada pada kami”

Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian iapun berkata “Aku memang merasa bahwa kedatangan kami dapat menumbuhkan salah paham, keragu-raguan dan ketidak-pastian sikap, aku melihat Ki Buyut dengan ikhlas menemui kami. Tetapi kami juga mengetahui, bahwa ada diantara kalian yang menjadi curiga”

“Maafkan pangeran, kami memang sedang dipengaruhi oleh kecurigaan sejak saat-saat terakhir. Kami memang mendengar bahwa disebelah timur dari padukuhan ini, serombongan bangsawan sedang melintas. Agaknya merekalah yang pangeran maksudkan dengan Prabu Brawijaya dengan pengiringnya” Ki Buyut berhenti sejenak, kemudian “Namun setelah itu, kerusuhan sering terjadi. Beberapa orang yang mendapat hadiah pada saat iring-iringan itu lewat dam memberikan pelayanan seperlunya, telah didatangi oleh penjahat-penjahat yang merampok barang-barang itu. Tetapi agaknya yang mereka cari bukanlah semata-mata harta benda”

“Apakah yang mereka cari?”

“Kami juga tidak tahu pasti, merekapun tidak tahu pasti, Tetapi agaknya sejenis pusaka atau semacamnya….”

Wajah Pangeran Kuda Narpada menegang sejenak, namun kemudian wajahnya itu menjadi tenang kembali, seolah-olah tidak ada kesan apapun dari ceritera Ki Buyut itu.

“Mungkin karena kerusuhan-kerusuhan yang terjadi itulah maka kalian mencurigai setiap orang baru didaerah ini”

“Ya, Pangeran, tetapi justru karena pangeran datang bersama dengan Raden Ayu dan seorang puteri yang nampaknya sudah terlampau letih oleh perjalanan yang lama, maka kami seharusnya tidak mencurigai pangeran lagi”.

Demikianlah sejak saat itu, Pangeran Kuda Narpada berada di padukuhan Karangmaja. Sesuai dengan keinginannya sendiri, maka dengan bantuan penduduk Karangmaja, Pangeran Kuda Narpada membuat istana kecil di luar padukuhan Karangmaja, meskipun hanya berjarak beberapa tonggak saja. Sebuah jalur jalan sempit menghubungkan istana kecil itu dengan sebuah lorong padukuhan.

Istana kecil itu adalah Istana Pangeran Kuda Narpada, istana yang kemudian menjadi semakin sepi. Istana yang seakan-akan telah kehilangan rambatannya.

Pada masa-masa yang lewat, istana itu seolah-olah menjadi pusat perhatian setiap orang di Karangmaja. Ki Buyut sendiri sering berkunjung ke istana itu. Pendapanya yang mungil hampir setiap hari menjadi tempat berkumpul. Orang-orang tua maupun anak-anak muda. Meskipun istana itu adalah istana seorang Pangeran, tetapi rasa-rasanya tidak ada bedanya dengan rumah-rumah yang bertebaran dipadukuhan kecil. Pangeran Kuda Narpada dengan senang hati menerima mereka setiap saat dan berbicara dengan mereka tentang berbagai bermacam persoalan. Dari lingkungan permainan anak-anak kecil, anak-anak meningkat dewasa, sampai dengan kepada menggali parit dan membangun bendungan.

Hubungan antara orang-orang Karangmaja dan Pangeran Kuda Narpada menjadi semakin rapat. Ketika Pangeran Kuda Narpada menyatakan dirinya, tidak lagi mempergunakan sebutan kebangsawanannya.

“Panggil aku Ki Narpada” berkata Pangeran yang rendah hati itu.

Untuk beberapa lamanya orang-orang Karangmaja masih saja merasa segan, namun akhirnnya, lambat laun, sebagian kecil dari mereka berhasil juga membiasakan diri memanggil Ki Narpada.

Seperti juga orang-orang Karangmaja, Ki Narpada bekerja di sawah dan di ladang. Turut serta menggali parit seperti yang dianjurkannya sendiri. Membuat belumbang-belumbang untuk berternak ikan dan rumpon-rumpon di sungai. Menanam pohon buah-buahan dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Ternayata kehadiran Pangeran Kuda Narpada telah merubah tata kehidupan di Karangmaja. Mereka mulai mengenal cara menanam yang jauh lebih baik dari cara yang selama ini mereka pergunakan. Ki Narpada mulai menganjurkan agar orang-orang Karangmaja mempergunakan pupuk bagi tanah yang tandus.

“Apakah gunanya kotoran kandang ternak bagi tanaman?” bertanya Ki Buyut.

“Tanah yang setiap kali dihisap sari makanannya oleh pepohonan memerlukan sari makanan baru” jawab Ki Narpada. Dengan cara yang sederhana. Yang ternyata pada panen yang berikutnya memberikan pengaruh yang baik bagi hasil sawah mereka.

Dengan demikian maka Karangmaja rasa-rasanya menjadi semakin cerah, sawah-sawah yang kekuning-kuningan menjadi hijau dan pategalan yang kering dapat dibasahi oleh air yang mengalir lewat parit-parit dan bendungan yang mereka buat.

Tetapi mereka bulum berhasil mengatasi kegersangan tanah dilereng pebukitan.

“Kita akan menghijaukannya” berkata Ki Narpada.

“Bagaimana Mungkin?” bertanya orang-orang Karangmaja.

“Kita sebarkan biji metir. Jika pohon metir dapat tumbuh dengan baik, meskipun tidak terlampau subur, maka keadaan tanah yang membatu itu akan berubah. Kita dapat berharap beberapa tahun kemudian, sebagian dari tanah yang gersang itu akan dapat kita tanami dengan pepohonan yang sesuai”

Orang-orang Karangmaja tidak segera mengerti, apakah pengaruhnya batang-batang metir atas tanah yang membatu. Meskipun Ki Narpada memberikan sedikit penjelasan tentang sifat akar pohon metir, namun mereka masih juga ragu-ragu.

Tetapi kini sudah ternyata bagi mereka, bahwa lereng bukit-bukit yang tandus itu dapat juga ditumbuhi beberapa jenis pepohonan. Sementara itu pohon metir menjadi semakin rimbun, tumbuh dimana-mana, yang seakan-akan akarnya dapat meremas batu-batu karang manjadi tanah yang dapat ditanami. Pohon-pohon yang lain sudah mulai dicoba diantara batu-batu pada pegunungan.

Namun dalam pada itu batang-batang kayu metir sendiri telah memberikan penghasilan dan khusus bagi orang-orang di padukuhan Karangmaja. Selain daunnya yang dapat dipergunakan untuk membantu memberi makanan ternak, biji-bijinya dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi Pangeran Kuda Narpada tidak dapat melihat gunung yang semula kering itu sedikit demi sedikit manjadi manjadi hijau, meskipun dibeberapa bagian masih belum berhasil. Hujan yang jatuh dimusim basah memberikan banyak pengaruh atas pohon-pohon metir yang tersebar diatas pebukitan yang keras.

Dan setiap kali orang-orang Karangmaja memandang bukit yang mulai hidup itu, mereka selalu teringat kepada Pangeran Kuda Narpada. Seorang pangeran yang pernah hidup didalam lingkungan mereka dan yang pernah memberikan banyak sekali petunjuk bagi penduduk yang semula terlampau sedikit pengalamannya itu.

Tetapi kini Pangeran Kuda Narpada tidak ada lagi didalam istananya. Tidak seorangpun dapat mengatakan, kemana ia pergi. Yang mereka ketahui, pada suatu musim beberapa ekor kuda memasuki halaman istana itu. Tidak terlampau lama, sejenak kemudian penunggang-penunggang kuda itupun pergi bersama dengan Pangeran Kuda Narpada.

“Mereka adalah saudara-saudara seayah Kamas Kuda Narpada”

Ki Buyut Karangmaja telah berusaha untuk menanyakan hal itu kepada isteri Ki Narpada. Tetapi isterinya itupun hanya dapat menggelengkan kepala kepalanya dengan mata yang basah.

“Aku tidak mengerti, kemana Kamas Kuda Narpada itu pergi”

“Tetapi siapakah mereka yang datang itu?”

“Adimas Cemara Kuning dan Adimas Sendang Prapat bersama pengiringnya”

“Siapakah mereka itu?”.

Beberapa orang peronda hanya dapat memandang darin kejauhan. Semula mereka menyangka yang datang itu adalah beberapa orang tamu. Kemudian Pangeran Kuda Narpada ikut mengantarkan tamu itu ketempat tertentu. Tetapi ternyata, sejak saat itu Pangeran Kuda Narpada tidak pernah kembali lagi.

“Apakah Pangeran tidak mengatakan, kemana ia akan pergi?”

Raden Ayu Kuda Narpada tidak dapat menjawab. Ia hanya dapat menggelengkan kepalanya dengan lemah.

Sejak kepergian Pangeran Kuda Narpada ketempat yang tidak diketahui itulah, istana itu menjadi semakin sepi. Orang-orang Karangmaja yang semula sering datang dan duduk-duduk mendengarkan cerita Pangeran Kuda Narpada di pendapa kecil itupun makin lama menjadi semakin jarang berkunjung.

Raden Ayu Kuda Narpada sendiri tidak pernah menolak setiap kunjungann, tetapi orang-orang itu sendirilah yang menjadi semakin segan. Apalagi mereka tahu, bahwa tidak ada seorang laki-lakipun yang tinggal didalam istana itu.

Dihari-hari berikutnya, jika Raden Ayu Kuda Narpada keluar dari batas halamannya, maka berdatanganlah perempuan Karangmaja menyambutnya dan menawarkan apa saja yang ada pada mereka. Pada umumnya perempuan-perempuan itu pernah mendengar dari sumai mereka, bahwa Karangmaja menjadi hijau karena jasa Pangeran Kuda Narpada.

Di istana itu sendiri, suasananyapun terasa semakin sepi. Puteri Pangeran Kuda Narpada yang meningkat dewasa, rasa-rasanya telah kehilangan satu masa didalam garis hidupnya, justru masa yang paling cerah.

Tetapi ia tidak pernah mengeluh. Apalagi apabila ia melihat ibunya duduk termenung ditangga pendapa. Maka hatinyapun bagai tersayat.

Namun sebaliknya, demikian juga perasaan yang selalu membebani Raden Ayu Kuda Narpada, kadang-kadang ia menangis seorang diri didalam biliknya apabila ia membayangkan masa depan puterinya yang semakin dewasa.

“Apakah yang akan ditemukan didalam hidupnya kelak di tempat yang terpencil ini” katanya dalam hati.

Betapa rendah hati Pangeran Kuda Narpada sekeluarga, namun Raden Ayu Kuda Narpada tidak pernah membayangkan, dari mana anaknya akan mendapatkan jodohnya. Sama sekali tidak terkilas didalam angan-angannya, bahwa ada anak muda dari Karangmaja yang pantas untuk menjadi sisihan gadisnya.

Jika malam mulai menyentuh ujung pendapa istana kecil itu, dan kelapak kelelawar mulai mendengar diatas atap rumah yang tiris. Maka Raden Ayu Kuda Narpada mengantarkan gadisnya masuk kedalam biliknya. Kemudian ia sendiri duduk dibilik itu pula dengan hati yang resah.

Kadang-kadang masih juga tumbuh harapannya, pada suatu saat Pangeran Kuda Narpada akan datang kembali. Tetapi harapan itupun semakin lama menjadi semakin susut. Sehingga akhirnya hanyalah sebuah gambaran yang samar-samar. Yang tidak nampak jelas, tetapi yang tidak dapat dihapuskannya.

“Adimas Cemara Kuning dan adimas Sendang Prapat mengatakan bahwa mereka hanya memerlukan kamas Kuda Narpada beberapa saat saja. Secepatnya kamas Kuda Narpada akan dikembalikan. Tetapi beberapa bulan telah lampau, dan kamas Kuda Narpada tidak pernah datang kembali” keluh Raden Ayu Kuda Narpada setiap kali dalam hatinya.

Demikian pula terjadi pada putrinya Inten Prawesti. Rasa-rasanya ia ingin terbang menyusul ayahandanya yang pergi bersama pamannya.

“Tetapi kemana ayah dibawa oleh pamanda Cemara Kuning dan pamada Sendang Prapat?”

Menurut pengakuan kedua pangeran yang mengambil Pangeran Kuda Narpada itu, mereka mendapat perintah dari Raden Patah untuk memanggil Pangeran Kuda Narpada, tetapi ternyata Pangeran Kuda Narpada tidak pernah pulang kembali ke istananya yang terpencil.

“Apakah ayahanda mendapat tugas baru diistana Demak?”

Pertanyaan itu timbul pula didalam hati anak gadis itu, “Tetapi jika demikian, ayahanda tentu akan menjemput ibunda dan aku” ia melanjutkannya.

Namun seribu macam teka-teki itupun tidak dapat diketemukan jawabannya. Yang diketahui dengan pasti adalah, ayahandanya pergi tidak pernah kembali.

Sementara kedua penghuni istana itu tenggelam didalam angan sendiri, maka dibelakang, Nyi Upih, seorang abdi yang setia satu-satunya orang masih mengikuti Pangeran Kuda Narpada sampai ke Karangmaja, tidak henti-hentinya berdoa didalam hati agar Pangeran yang diikutinya itupun segera kembali.

Kadang-kadang masih juga terbayang didalam angan-angannya Nyi Upih, betapa beratnya perjalanan yang pernah ditempuh Pangeran Kuda Narpada memberikan kebebasan kepada para pengiringnya untuk memilih jalan masing-masing. Bahkan sebagian mendapat perintahnya untuk berpencar mencari Prabu Brawijaya disepanjang Gunung Sewu, sehingga akhirnya Pangeran Kuda Narpada tidak lagi diikuti oleh seorang pengiringpun.

“Agaknya Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat telah menemukan Prabu Brawijaya. Mungkin sudah berada di Demak, mungkin ditempat lain. Kemudian mereka mendapat perintah untuk mencari Pangeran Kuda Narpada” berkata Nyi Upih didalam hati. “Tetapi jika demikian, kenapa Pangeran Kuda Narpada tidak mengambil anak isterinya. Padahal anak isterinya adalah anak isteri yang dibawanya sejak dari Majapahit. Bukan selir yang diketemukan ditengah jalan yang dapat ditinggalkan ditengah jalan pula.”

Namun seperti Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti maka pertanyaan-pertanyan itu akan tetap menjadi pertanyaan yang tidak terjawab. Pangeran Kuda Narpada yang melambaikan tangannya saat meninggalkan tangga pendapa itu ternyata hilang seperti kapas ditiup anging kencang, melambung tinggi dan tidak tahu dimana akan hinggap.

Tetapi diantara pertanyaan yang terselip dihatinya, Nyi Upih menjadi berdebar-debar apabila ia mengenangkan tanggapan beberapa orang atas Pangeran Cemara Kuning. Ia tidak tahu sama sekali tentang Pangeran Cemara Kuning, ia tidak tahu sama sekali tentang Pangeran Sendang Prapat, karena ia baru melihat beberapa kali selama ia menghambakan diri kepada Pangeran Kuda Narpada. Tetapi tentang Pangeran Cemara Kuning, ia sering mendengar ceritera beberapa orang pelayan kawan-kawannya. :

“Si Sampir sudah diusirnya” berkata seorang kawannya. “Justru ketika Pangeran Cemara Kuning mengetahui perempuan itu mulai mengandung”

“Diusir?” bertanya Nyi Upih.

“Maksudku, pekatik-nyalah yang harus mengawininya”

“Alangkah senangnya pekatik itu mendapat triman” Nyi Upih berhenti sejenak “He…Bukankah Werdi juga diberikan kepada juru tamannya ketika ia mulai mengandung?”

“Mungkin, dan itu menjadi watak Pangeran Cemara Kuning”.

“Kau juga akan menjadi triman?” Nyi Upih bergurau. Dan kawannya mencubitnya sambil berkata “Aku tidak sudi, tetapi jika terpaksa apa boleh buat”

Nyi Upih tertawa, namun ia menjadi sedih juga. Memang ada satu dua orang dengan senang hati menerima nasib seperti itu. Mengandung dalam hubungannya dengan seorang bangsawan kemudian menjadi triman dengan pesangon yang banyak bagi dirinya sendiri dan bagi bakal suami yang harus dengan ikhlas menerimanya dalam keadaan apapun.

Tetapi Nyi Upih tidak terlampau dalam menyesali tingkah laku seorang bangsawan yang demikian. Yang paling sakit baginya justru Pangeran Cemara Kuning yang memang berwajah tampan itu tidak saja mengorbankan pelayan-pelayan perempuannya yang masih gadis saja, tetapi kadang-kadang mereka yang sudah bersuamipun diambilnya dengan segala pengaruh yang ada padanya. Pengaruh derajat dan pangkat, tetapi juga pengaruh kekayaan yang dimilikinya.

“Untuk berapa lama, ia dapat memenuhi segala keinginannya” berkata Nyi Upih didalam hatinya.

Peristiwa-peristiwa itu, ternyata telah mempengaruhi perasaannya. Pada saat terakhir. Pangeran Kuda Narpada pergi bersama Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat yang tidak begitu dikenalnya, membuatnya semakin lama semakin gelisah. Tetapi ia tidak mengatakan semuanya itu kepada Raden Ayu Kuda Narpada dan puterinya, Inten Prawesti. Ia tidak sampai hati menambah parah luka dihati keduanya.

Tetapi justru karena itu, maka beban perasaan itu harus dipikul diatas pundaknya sendiri, tidak ada orang lain yang dapat membantu mambawa beban itu. Dan ia memang tidak ingin membaginya dengan orang lain.

Namun ternyata bahwa beban itu semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin berat, sehingga hampir tidak tertahankan lagi olehnya.

Sealan dengan itu, maka istana kecil itupun menjadi semakin suram pula. Raden Ayu Kuda Narpada semakin jarang keluar dari istananya. Apalagi puterinya Inten Prawesti. Yang kemudian harus pergi kepadukuhan Karangmaja untuk mendapatkan keperluan sehari-hari adalah Nyi Upih. Dan agaknya orang-orang Karangmajapun menganggap pelayan yang setia itu seperti saudara mereka sendiri.

Justru apabila Nyi Upih pergi kepadukuhan Karangmaja, rasa-rasanya ia sempat bernafas. Sehari-hari ia merasa terkurung didalam halaman istana kecil itu. Jarang sekali ia bercakap-cakap dengan Raden Ayu yang menjadi semakin pendam dan momongannya Inten Prawestipun nampaknya semakin murung. Sehingga dengan demikian, jika ia mendapat kesempatan untuk keluar dari istana itu, rasa-rasanya dadanya agak menjadi lapang, meskipun tidak ada tempat untuk mengadukan semua beban didalam hati.

Dalam kemurungan itu, kadang-kadang Inten Prawesti masih juga sempat mengajak Nyi Upih berjalan-jalan dibelakang istana kecilnya. Naik kelereng bukit yang sepi. Memandang lereng yang mulai hijau dan celah-celah bukit yang memberikan kesan tersendiri.

“Apakah ayahanda pergi lewat jalan itu?” bertanya Inten Prawesti kepada momongannya.

Nyi Upih memandang jalur jalan dibawah bukit kecil itu, sambil mengangguk kecil ia menjawab “Demikianlah agaknya, jalur jalan itu menuju ketempat yang sangat jauh”.

“Dan ayahandapun pergi ketempat yang sangat jauh. Sudah lebih dari setahun ayahanda tidak pulang kembali”.

Nyi Upih tidak menyahut, kepergian Pangeran Kuda Narpada memang sudah lebih dari bukan saja setahun, tetapi sudah lebih dari dua tahun.

Setiap kali Inten Prawesti mengajak Nyi Upih memanjat bukit kecil dan memandang jalur yang panjang berliku-liku dan yang ujungnya seolah-olah hilang menyusup kebawah bukit, gadis itupun menjadi semakin nampak suram, ada kerinduan yang menekan didalam dadanya. Kerinduan kepada ayahandanya yang diikutinya sejak dari pusat kerajaan agung Majapahit.

Kadang-kadang Nyi Upih mencoba untuk mengajak Inten Prawesti berjalan-jalan ketempat lain, tetapi gadis itu selalu menolak, dan mengajak pemomongnya naik kelereng bukit kecil dan mamandang jalan yang berliku-liku itu.

“Kenapa tidak pergi ke padukuhan itu saja puteri” bertanya Nyi Upih

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya.

“Disini terlampau sepi. Kita tidak bertemu dengan seorangpun, tetapi di padukuhan kita dapat berbicara dengan orang-orang Karangmaja. Kadang-kadang yang mereka katakan memberikan pengalaman baru bagi kita. Kadang-kadang aneh, kadang-kadang tidak masuk akal dan kadang-kadang menggelikan sekali. Meskipun demikian bukan berarti bahwa mereka tidak mempunyai sikap hidup. Dan sikap hidup mereka, yang bertahun-tahun hidup didalam perjuangan melawan alam yang keras ini, dapat memberikan banyak petunjuk bagi kita”.

Tetapi Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, jawabnya “Aku lebih suka senang berada ditempat yang sepi”

“Puteri” berkata Nyi Upih “Bukankah dengan demikian kita akan menjadi samakin terasing dari pergaulan. Padahal pergaulan yang betapapun sederhananya, akan memberikan pengaruh bagi kita, manusia adalah makhluk yang hidup dalam lingkungannya, bukan seharusnya hidup menyendiri”.

Tetapi Inten Prawesti mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata “Aku mengerti Nyai, tetapi rasa-rasanya kini aku lebih senang hidup dalam ketenangan. Rasa-rasanya tidak ada lagi gairah untuk hidup dalam lingkungan yang luas, meskipun hanya seluas padukuhan Karangmaja. Disini aku mendapatkan kedamamaian hati. Tidak ada persoalan-persoalan yang menambah hidupku menjadi semakin suram”.

“Tetapi yang puteri dapatkan bukanlah kedamaian yang sejati, tetapi sekedar kesunyian, karena hati yang damai seharusnya memancar seperti pelita yang menerangi keadaan sekitarnya, bukan seperti pelita yang berada dibawah kerudung yang rapat, sehingga sinarnya tidak memberikan arti apapun bagi kehidupan si lingkungannya”.

Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam, katanya “Nyai, bagaimana hati ini dapat menjadi pelita yang menerangi lingkungannya, jika hati ini rasa-rasanya menjadi semakin suram dan bahkan padam. Itulah yang mungkin benar, kesuraman yang sepi, bukan kedamaian, karena didalam hati ini tersimpan kegelisahan yang menggelora”.

“Ah…” Nyi Upih menjadi semakin menyesal akan kata-katanya sendiri. Sehingga karena itu iapun segera menyahut “Sudahlah Puteri, bukankah puteri ingin mendapatkan kesegaran dengan berjalan-jalan diatas bukit ini?. Nah puteri dapat melihat lereng-lereng bukit yang menjadi hijau meskipun baru ditumbuhi batang metir. Tetapi kelak lereng itu akan dapat ditanami pepohonan yang mempunyai arti yang lebih besar lagi. Pohon aren, jambu kelutuk, bahkan mungkin sebuah ladang jagung”.

Inten Prawesti mengangguk-angguk, tetapi hatinya seolah-olah tidak melekat pada pemomongnya yang sedang mencoba untuk menggeser perhatian gadis itu.

Nyi Upih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, sedang momongannya masih saja memandang jalur jalan yang berliku-liku seperti tubuh seekor ular raksasa yang membelit pebukitan.

Namun selagi mereka termenung diatas bukit kecil itu, tiba-tiba pendengaran mereka tertarik oleh suara seruling dikejauhan, suara seruling yang melengking menyusup celah-celah pebukitan.

Inten Prawesti yang selama itu rasa-rasanya tidak mempunyai perhatian terhadap apapun juga, agaknya sentuhan suara seruling itu dapat menggetarkan dinding hatinya pula.

“Nyai…” berkata Inten Prawesti “Kau mendengar suara seruling itu?”

“Ya..Puteri” jawab Nyi Upih, lalu “Suara seruling itu mengingatkan kita kepada kidung tentang cinta”

“Ah…” desah Inten Prawesti.

“Ooo…” Nyi Upih menutup mulutnya, ia sudah terlanjur lagi menyebutkan sesuatu yang hampir tidak dikenal oleh momongannya. Karena itu maka cepat-cepat ia menyambung “Seperti cinta Maha Pencipta atas kita yang telah memberikan banyak sekali kenikmatan. Meskipun kadang-kadang kita merasa sesuatu yang agak mengganggu, tetapi kurnia yang paling berharga bagi kita adalaj kemampuan untuk mengatasi setiap kesulitan dan gangguan didalam hidup kita.”

Inten Prawesti tidak menjawab.

“Puteri, cobalah dengar, lagu itu seperti mengalun dari langit”.

Untuk sejenak Intern Prawesti masih berdiam diri, agaknya suara seruling itu benar-benar dapat menyentuh hatinya.

Ternyata bahwa dihari berikutnya, Inten Prawesti mengajak Nyi Upih untuk pergi lagi ke bukit itu, rasa-rasanya ia ingin mendengar suara seruling yang pernah didengarnya itu.

“Seruling seorang gembala puteri, jika puteri ingin mendengar, maka puteri dapat memanggil gembala itu dan menyuruhnya bersenandung dihalaman istana.”

“Ah, tentu tidak akan merdu suara seruling yang diiringi oleh gemanya dilereng-lereng bukit seperti itu Nyai”

Nyai Upih tidak menjawab, iapun mengerti bahwa apabila gembala itu dibawa masuk halaman, kemudian duduk dipendapa dan meniup sulingnya, kesan getarannya akan jauh berbeda. Karena itu maka iapaun tidak lagi mengganggu Inten Prawesti yang sedang asyik mendengar lagu yang melontar dari seruling dikejauhan tanpa mengetahui siapakah yang membunyikannya. Lagu yang rasa-rasanya sengaja disesuaikan dengan gejolak yang sedang melanda dinding-dinding jantung Inten Prawesti, gejolak kerinduan kepada ayahandanya yang pergi bertahun-tahun yang lalu.

Tetapi sebenarnyalah ada perasaan rindu yang lain yang terselip didalam didalam hati gadis yang meningkat dewasa itu. Inten Prawesti sendiri tidak mengetahuinya. Apalagi orang lain. Sebagai seorang gadis yang sudah dewasa, maka hatinyapun menjadi peka sekali terhadap sentuhan yang sendu. Suara seruling itu agaknya telah membelainya, bukan saja sebagai curahan perasaan rindu kepada ayahandanya, tetapi sentuhan-sentuhan yang lain didalam kalbunya, karena seperti yang dikatakan oleh Nyi Upih, lagu itu adalah kidung cinta, Asmaradan, tembang yangn melontarkan gairah cinta yang menyala didalam kalbu.

Karena itu, maka rasa-rasanya suara seruling itu terdengar manis ditelinganya dan mendapat tempat dihatinya, seolah-olah suara seruling itu sengaja disiulkan untuknya.

“Nyai…, siapakah yang meniup seruling itu?” tiba-tiba Inten Prawesti bertanya.

“Seorang gembala, puteri. Seperti yang sudah aku katakan

“Apakah ia anak Karangmaja….?”

“Tentu, padukuhan yang lain terletak ditempat yang agak jauh, agaknya hanya anak-anak Karangmaja sajalah yang menggembalakan ternak-ternaknya sampai kelereng bukit itu”

Inten Prawesti merenung sejenak, tetapi ia menjadi kecewa jika suara itupun kemudian terhenti.

“Disaat-saat begini, gembala-gembala biasanya mulai mengumpulkan ternaknya, sebentar lagi mereka akan menggiringnya kembali ke kandang”.

Inten Prawesti hanya mengangguk-angguk saja.

“Matahari menjadi semakin rendah, sebentar lagi senja akan turun, sehingga ternak harus sudah berada di kandangnya, bukankah dilembah yang curam itu, kadang-kadang masih terdapat harimau yang berkeliarian?, karena itu menjelang senja para gembala harus sudah pulang”.

“Apakah disiang hari harimau itu tidak mau mencuri ternak?”

“Kadang-kadang puteri, tetapi disiang hari gembala-gembala itu mempunyai banyak kawan, juga orang-orang yang diladang. Jika ada seekor atau dua ekor harimau yang berani mengganggu ternak, maka beramai-ramai gembala itu melawannya, karena itu, mereka membawa senjata ke ladang”

Inten Prawesti menganguk-angguk pula.

“Sekarang, kitapun pulang puteri”

“Sebentar Nyai, Aku ingin melihat matahari menjadi semakin rendah dan turun ke punggun bukit”

“Ah…” wajah Nyai Upih menegang “Sudah aku katakan, disela-sela berbukitan itu masih berkeliaran harimau kumbang, mungkin macan tutul”

“Tetapi harimau-harimau itu tidak akan datang kemari, disini tidak ada ternak.”

Inten Prawesti tersenyum, senyum yang sudah jarang sekali nampak dibibirnya.

“Apakah suara seruling itu tidak akan terdengar lagi?”

“Besok lagi kita datang kemari untuk mendengarkan, mereka sekarang sudah pulang”

Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam, iapun tiba-tiba menjadi ngeri jika ada seekor harimau yang tersesat sampai keatas bukit kecil itu. Karena itu, maka katanya “Baiklah, kita akan pulang, besok kita akan mendengarkan seruling itu lagi” ia berhenti sejenak, lalu “Bagaimana jika kita pergi mendekat?”

“Ah, tidak mungkin, puteri. Jalan terlampau sulit, anak-anak gembala dapat berlari-lari di lereng yang terjal sambil menggiring ternak, tetapi kita tidak akan dapat merangkak sekalipun.”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, ia mengerti, bahwa jalan dilereng bukit itu terlampau sulit dilalui sampai ke ladang tempat anak-anak menggembalakan ternaknya.

“Puteri” berkata Nyi Upih pula. “Matahari menjadi semakin terlampau rendah, apakah kita tidak sebaiknya pulang sekarang”

Inten Prawesti mengangguk, sekali ia masih memandang kelereng bukit, kearah seruling itu melontarkan tembang, namun kemudian iapun bergeser dan melangkah meninggalkan tempatnya.

Tetapi tiba-tiba saja ia langkahnya terhenti, ketika dengan tiba-tiba pula ia mendengar suara seruling itu pula, tidak sejauh yang didengarnya sebelumnya.

“Nyai…” desis Inten Prawesti.

Nyi Upihpun tertegun, suara seruling itu terdengar dekat sekali. Hanya dibalik gerumbul dibawah ujung bukit kecil itu

“Kau dengar suara seruling itu?” bertanya Inten Prawesti

“Tentu, puteri”

“Dekat sekali”

“Ya…dekat sekali”

Inten Prawesti memandang Nyi Upih yang menadi pucat.

“He…! Kenapa Kau”

“Suara seruling itu…?

“Kenapa…”

“Lain puteri, agak lain. Apakah puteri tidak merasakan perbedaannya.

Inten Prawesti bukan seorang yang mengerti tentang kidung dan tembang, tetapi ia merasakan ia memang merasakan sesuatu yang lain. Suara seruling yang didengarnya itu justru lebih menyentuh perasaannya, halus dan menggelayut.

“Nyai…, apakah hanya pendengaranku dan ketidak tahuanku tentang suara seruling?, lagunya bertambah indah”.

“Ya..ya.. puteri, lebih syahdu, tetapi…..” Ia berhenti sejenak.

“Tetapi apa Nyai…”

Nyi Upih memandang kesekelilingnya, ia tidak melihat seorangpun, sehingga kemudian ia berkata “Apakah aku hanya mendengar suaranya saja?”

“Oooh…” Inten Prawesti menepuk bahu pemomongannya, “Aku mengerti Nyai, Kau takut? Kau anggap suara seruling itu suara hantu yang sedang bermain seruling?”

“Puteri, tempat ini jarang sekali disentuh kaki manusia”

“Jika sekiranya ada hantu yang pandai bermain seruling apa salahnya?”

Nyi Upih mengerutkan lehernya, katanya “Marilah kita pulang”.

“Sebelum Inten Prawesti menjawab, maka suara seruling itupun tiba-tiba telah lenyap, seperti tiba-tiba saja suara itu melengking, sehingga Nyi Upih menjadi semakin gemetar. Bulu-bulu tubuhnya serasa berdiri. Sambil mendekati momongannya ia berkata “Puteri… marila kita cepat-cepat pulang”

Inten Prawesti mengangguk, tetapi ia sama sekali tidak menjadi ketakutan, ia yakin bahwa seorang gembala dengan sengaja telah mengganggunya, mungkin seorang ingin bergurau, seperti orang-orang Karangmaja sering bergurau dengan ayahandanya sebelum ayahandanya pergi.

Keduanya kemudian melangkah meninggalkan bukit itu dan kembali ke istana kecil yang terpencil itu.

“Puteri telah mengganggu pekerjaanku” berkata Nyi Upih sambil mencubit Inten Prawesti.

“Kenapa Nyai…?”

“Aku belum merebus air, ibunda biasanya mandi dengan air hangat. Karena aku ikut mendengarkan suara seruling itu, maka aku terlambat.

“Belum terlambat Nyai, dan biarlah aku yang mengatakannya kepada ibunda”

Tetapi ternyata Inten Prawesti tidak mengatakan tentang suara seruling itu, ia hanya mengatakan bahwa Nyi Upih telah dibawanya berjalan-jalan.

“Jangan terlalu jauh Inten” berkata ibundanya “Kita masih belum mengenal seluruh keadaan padukuhan itu, meskipun kita sudah beberapa tahun berada disini. Berbeda dengan ayahandamu, mengenal Karangmaja lebih baik dari orang-orang Karangmaja itu sendiri, tetapi kau belum”.

“Ya…ibunda”

“Apalagi menurut ceritera orang, didaerah pebukitan itu masih ada berkeliaran beberapa ekor harimau. Karena itu, sebaiknya jika kau ingin berjalan-jalan, pergi sajalah ke padukuhan. Orang-orang Karangmaja masih tetap baik kepada kita”

Inten Prawesti mengangguk saja, tetapi ia rasa-rasanya sudah sangat dipengaruhi oleh suara seruling, dan berlebih-lebih lagi suara yang tiba-tiba ada dibalik gerumbul yang tidak terlampau jauh daripadanya.

“Gembala-gembala itu pandai memandang meniup suling” katanya kepada Nyi Upih.

“Hanya seruling sajalah permainan mereka, mereka tidak dapat bermain-main dengan cara yang lain, apalagi bermain sembunyi-sembunyi atau semacamnya. Dengan demikian mereka akan meninggalkan ternak mereka, jika ternak mereka itu hilang, maka mereka akan menyesal.”

“Jadi mereka duduk-duduk saja sambil meniup seruling?”

“Ya… satu dua, yang lain bermain dengan kayu, membuat ukiran dan patung-patung kecil seperti yang terdapat diruang depan, anak-anaklah yang memberikan patung-patung kecil itu kepada pangeran waktu itu”.

Inten Prawesti mengangguk-angguk, ia memang melihat ukirang dan patung-patung kecil itu di ruang depan. Agaknya ayah dari anak-anak yang membuatnya telah memberikannya kepada ayahandanya sebelum ayahandanya pergi. Dan ternyata bahwa patung-patung kecil itu sampai saat itu masih disimpannya baik-baik.

Tetapi dihari berikutnya terjadilah sesuatu yang agak lain dan tidak disangka-sangka sama sekali. Sebelum Inten Prawesti pergi ke bukit kecil, tempat ia biasa mendengarkan suara seruling dan mamandang jalan kecil yang berliku-liku disela-sela bukit, tiba-tiba saja terdengar suara seruling dari pendapa rumahnya. Suara itu memang agak jauh, tetapi jelas terdengar.

“Nyi Upih” ia memanggil pemomongnya yang masih ada didapur, “Kau mendengar suara seruling itu?”

Nyi Upih mencoba mendengarkannya, tetapi ia menggeleng “Aku tidak mendengar , puteri”.

“Aku telah mendengarkannya”.

“Tetapi aku tidak”

Inten Prawestipun kemudian mencoba mendengarkan suara itu, tetapi agaknya suara seruling itu memang tidak terdengar dari dapur, karena suara air yang mendidih didalam belanga.

Inten Prawestipun menarik tangan Nyi Upih dan mengajaknya ke pendapa.

“Ada apa Inten?” bertanya ibunya yang melihat anaknya menarik tangan pemomongnya.

Inten Prawesti tidak menjawab, tetapi Nyi Upihlah yang menyahut. Suara seruling Gusti, suara itu terdengar jelas dari pendapa”.

“Ah hanya suara seruling”

Inten Prawesti sama sekali tidak menjawab, tetapi ia menarik Nyi Upih melintasi ruang dalam, langsung ke pendapa.

Ketika mereka berdiri di pendapa, maka Nyi Upihpun mencoba mempertajam pendengarannya, tetapi ia tidak mendengar apa-apa.

“Apa puteri masih mendengarnya?”

“Inten mengerutkan keningnya, dengan kecewa, ia menggeleng lemah “Suara itu sudah tidak terdengar lagi Nyai;

“Aku kira puteri terlampau memikirkan suara seruling itu, sehingga ketika angin berhembus dan mengguncang dedaunan, suaranya seperti suara seruling yang merdu”

“Ah…, tentu lain” jawab Inten “Apakah kau kira aku sudah tidak dapat membedakan lagi suara seruling dan suara gemerisik dedaunan?”

Bab 2

“Bukan maksudku puteri. Tetapi karena perasaan puteri terlampau dicengkam oleh suara seruling cinta itu, maka rasa-rasanya semua suara seperti suara seruling. Demikian juga dengan tingkahku sewaktu tigapuluh tahun yang lampau, pada saat aku masih remaja seperti puteri”.

“Ah… aku yakin aku mendengar suara itu”

“Baiklah puteri, nanti aku akan ikut mendengarkan. Tetapi airku sudah mendidih, aku akan menanak nasi sebelum airnya kering”

“Kau akan menanak nasi?”

“Ya, puteri, bukankah sehari-hari aku juga menanak nasi?”

“Bukankah kita akan berjalan-jalan?”

“Ya, biasanya aku menjerang nasi sebelum berangkat, kemudian aku akan menyenduknya setelah kita kembali”

“Jika nasi itu sangit?”

“Biasanya, jika ibunda mengetahui aku mengantar puteri berjalan-jalan, maka ibunda tidak berkerberatan turun kedapur? Bukankah hal itu sering dilakukannya pula?”

Inten Prawesti mengangguk-angguk. Ibundanya bukan lagi Gusti Raden Ayu yang hanya duduk diatas tempat duduk yang dialasi dengan beludru atau bercengkerama ditaman yang ditumbuhi oleh seribu macam pohon bunga, ibunya adalah seorang yang harus menyesuaikan diri dari keadaan. Meskipun selagi ibundanya berada di Majapahit, bukan pula seorang yang tinggi hati, namun jarang sekali ibundanya menjenguk kebagian belakang istananya.

“Jika demikian” berkata Inten kemudian “Cepatlah kita akan berangkat”.

Nyi Upihpun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke belakang, menurunkan belanga berisi air yang sudah mendidih, kemudian menjerang nasi, baru ia membuat minuman panas bagi Raden Ayu Kuda Narpada. Sebelum ia pergi mengantarkan Inten Prawesti berjalan-jalan.

Setelah semuanya selesai, maka Inten dan Nyi Upihpun mohon diri kepada Raden Ayu Kuda Narpada untuk berjalan-jalan sebentar keatas bukit seperti hari-hari yang lewat.

Tetapi mereka tertegun ketia beberapa langkah mereka mulai menyusuri jalan setapak, mereka melihat seorang anak muda yang berjalan perlahan-lahan dilereng bukit kecil. Ditangannya tergenggam sebuah seruling bambu yang panjang berwarna gading.

“Nyai…” desis Inten Prawesti “Apakah anak muda itu juga seorang gembala?”

Nyi Upih termangu-mangu sejenak, dipandangnya seorang anak muda yang mempunyai ciri agak lain dari anak-anak muda dari Karangmaja. Meskipun ia mengenakan pakaian yang sederhana, tetapi kesederhanaannya adalah berbeda sekali dengan pakaian anak-anak muda di Karangmaja. Anak muda yang berjalan dilereng bukit itu memakai pakaian lengkap dan dengan cara yang baik pula, rambutnya disanggul tinggi keatas kepalanya dan sebuah anyaman rotan yang tipis membelit di dahinya.

“Agaknya bukan anak Karangmaja, puteri” berkata Nyi Upih.

Inten Prawesti tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar, anak muda itu berjalan langsung menuju kearahnya.

“Nyai…, kenapa ia berjalan kemari?”

Nyi Upihpun menjadi berdebar-debar, tetapi ia justru menjadi ketakutan seperti ketika ia membayangkan hantu yang berterbangan disekitar bukit kecil itu.

Karena itu, maka iapun kemudian berdiri disisi Inten Prawesti yang justru termangu-mangu ditempatnya.

Beberapa langkah dihadapan Inten Prawesti, anak muda itupun berhenti, dengan hormatnya ia membungkukkan kepalanya sambil berkata “Hormat bagi tuan puteri Inten Prawesti”

Inten terkejut, dengan suara bergetar ia bertanya, “Kau sudah mengenal namaku?”

“Setiap orang di Karangmaja telah mengenal tuan puteri”

“Kau juga anak muda Karangmaja…? Bertanya Nyi Upih.

“Bukan Nyai, aku adalah seorang perantau” jawab anak muda itu.

“Ooo…” Nyi Upih mengangguk-angguk “Aku sudah menduga, kau tentu bukan anak muda dari Karangmaja. Tatapan matamu membayangkan tingkat kecerdasan yang lain dari anak-anak muda Karangmaja yang berpikir dengan sederhana”.

“Ah, akupun hanya anak padukuhan, tetapi aku mempunyai kegemaran mengembara. Menjelajahi padukuhan, mendaki perbukitan dan menuruni lembah”.

Nyi Upih mengangguk-angguk, wajah anak muda itu memang menunjukkan hatinya yang keras, tatapan matanya bagaikan ujung tombak yang langsung menusuk kepusat jantung.

“Aku sekarang untuk sementara tinggal di Karangmaja puteri” berkata anak muda itu.

“Kaukah yang bermain seruling?” tiba-tiba Inten Prawesti bertanya.

“Ya…, tetapi bukan yang tuan puteri dengar di lembah, disela-sela bukit. Suara seruling itu adalah suara seruling gembala dari Karangmaja”

“Jadi yang mana..?”

“Aku sering melihat tuan puteri pergi ke bukit kecil itu dan tertarik kepada suara seruling yang berlagu tanpa irama, seperti gemuruhnya suara pasar sedang temawon”

“Dan kau…?”

“Aku mencoba untuk memperkenalkan puteri dengan suara seruling yang baik dan irama yang benar dari tembang asmaradana, aku membunyikan seruling dibalik gerumbul dibawah bukit itu.”

“Oo..Kaukah itu?” Inten Prawesti tersenyum, tetapi ketika kakinya akan melangkah mendekat, Nyi Upih telah menggamitnya.

“Tetapi sebenarnya, akupun bukan peniup seruling yang baik, meskipun demikian, aku tentu dapat melakukannya lebih baik dari gembala-gembala Karangmaja”

“Tentu, suara serulingmu lebih bak, lebih halus dan berirama”

“Aku mempunyai pengalaman yang jauh lebih luas dari anak-anak Karangmaja, dan karena itulah, aku mencoba untuk memberikan yang lebih baik dari yang dapat mereka berikan”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, dan kemudian iapun bertanya “Aku belum bertanya, siapakah namamu dan dari manakah asalmu?”

Anak muda itu tersenyum, jawabnya “Namaku Kidang Alit puteri, asalku? …entahlah, aku sendiri tidak mengetahuinya dengan pasti, aku adalah anak kabar kanginan, berselimut langit dan beralaskan bumi, aku tidak tahu, siapakah yang menurunkan aku sebenarnya”

“Ah…, apakah begitu…?”

“Benar Puteri, dan sekarang aku mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain, kali ini aku tersangkut di padukuhan Karangmaja”

Inten Prawesti tidak segera bertanya lagi, nampak keragu-raguan membayang wajahnya yang bening, tetapi ia tidak mempersoalkannya.

“Aku akan mencoba bermain lebih baik lagi puteri” berkata anak muda yang mengaku Kidang Alit itu.

“Aku senang sekali mendengarnya” jawab Inten Prawesti.

“Aku akan dengan senang hati menghadap puteri di istana, dan bermain seruling siang dan malam”

“Ah…, Inten berdesah, “Tetapi apa salahnya jika kau datang mengunjungi istanaku, eh…maksudku rumahku”.

“Puteri…” Nyi Upih memotong, “Tentu puteri harus mengatakannya lebih dulu kepada ibunda, bahwa akan ada seorang datang menghadap”.

“Ah, bukankah sejak ayahanda masih ada, siapapun boleh masuk dan naik keatas pendapa?”

“Justru kini ayahanda puteri sudah tidak ada di istana”

Inten Prawesti mengerutkan keningnya, dipandangnya wajah anak muda itu sejenak lalu, “Ya, aku akan mengatakannya kepada ibunda. Tetapi jika tidak berkenan dihati ibunda, kau dapat meniup serulingmu dimana saja kau suka. Aku akan mendengarkannya dari pintu butulan, atau dari pendapa”.

Kidang Alit tertawa, katanya “Itu bukan persoalan lagi puteri, setiap saat aku akan meniup seruling, didengarkan atau tidak.

Inten mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Nyi Upih menggamitnya dan berkata “Aku meninggalkan nasi diatas api puteri”

“Ah. Bukankah ibunda ada..?”

“Tentu ibunda tidak akan turun kedapur”

“Bukankah kau juga mengatakan, biarlah ibunda nanti yang mengangkat belanga itu, sebelum kita pulang”

“Tetapi, bagaimana kalau ibunda tertidur…?!”

Inten masih akan menjawab, tetapi Kidang Alit segera memotong. “Silahkan puteri, agaknya pemomong puteri masih mempunyai tugas di istana”.

Inten menjadi kecewa, tetapi ia mengikutinya ketika Nyi Upih melangkah pulang.

Tetapi Inten masih berpaling dan berkata kepada Kidang Alit “Aku akan mendengarkan suara serulingmu”

Kidang Alit tersenyum, tetapi ia tidak menjawab. Nyi Upihpun kemudian menyanding Inten Prawesti mereka berjalan semakin cepat, seolah-olah mereka begitu tergesa-gesa.

“Nyai, kenapa kau berlari-lari?.”

“Nasi itu”

Istana Yang Suram 2

“Tetapi kakiku sakit, dan ibunda tentu akan turun kedapur, bukankah biasanya ibunda berbuat demikian jika kita pergi”

Nyi Upih berpaling sejenak, ia masih melihat Kidang Alit berdiri tegak ditengah lorong sempit itu, sekilas Nyi Upih melihat tubuh tegap dengan dada yang bidang, meskipun wajahnya tidak begitu tampan, namun kecerdikan memancar dari sepasang mata anak muda itu.

Ketika Nyi Upih dan Inten memasuki regol halaman istananya, barulah Nyi Upih berhenti dengan nafas terengah-engah, dan keringat dikeningnya.

“Nyai berlari-lari seperti dikejar hantu, cepatlah jika kau ingin pergi ke dapur” berkata Inten dengan jengkel.

“Ampun puteri, sebenarnya aku tidak tergesa-gesa karena nasi itu”

“Jadi kenapa?”

“Bukankah kita belum mengenal anak muda itu…?”

“Ya.. anak muda itu nampaknya agak lain dengan anak-anak Karangmaja, Ia baik dan ramah”

“Ya…puteri, Anak muda itu baik dan ramah, justru karena ia terlalu baik dan ramah, aku menjadi curiga”

“Kau terlampau cepat berprasangka Nyai”

“Puteri masih terlampau hijau, puteri tidak pernah bergaul dengan anak-anak muda, aku tidak senang melihat tatapan matanya yang gelisah memandang puteri, dan aku tidak senang mendengar kesombongannya”.

“Ah, apakah anak muda itu sombong..?”

“Ia adalah anak muda yang sombong, keramahan yang dibuat-buat itulah yang menyembunyikan kesombongannya” Nyi Upih berhenti sejenak. Lalu “Puteri, Nyai ini sudah tua, sudah banyak bergaul dengan anak-anak muda dimasa Nyai masih muda dahulu, sehingga Nyai dapat membedakan sifat-sifat yang jujur dan dibuat-buat”

Inten mengerutkan keningnya, namun katanya “Tetapi anak itu baik Nyai, setidak-tidaknya ia tidak mempunyai maksud buruk”.

“Mungkin, mungkin tidak ada niat buruk padanya, tetapi puteri harus hati-hati.

“Kenapa Nyai…?”

“Salah satu sebab bahwa puteri harus berhati-hati adalah karena puteri sudah meningkat dewasa, dan berlebih-lebih lagi adalah karena puteri tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik”.

“Ah…” Inten mencubit Nyi di lengannya, sehingga pemomongnya itu mengaduh kesakitan.

“Sudahlah Puteri” berkata Nyi Upih kemudian “Sebaiknya puteri masuk kedalam, anak muda itu tentu akan lewat didepan istana ini, dan puteri tidak boleh berada diluar, apalagi seakan-akan puteri sedang menunggunya”

“Kenapa?, aku ingin mendengar ia bermain dengan serulingnya”

“Mungkin puteri hanya ingin sekedar mendengarkan ia bermain dengan serulingnya dalam kidung cinta. Tetapi hal itu akan menimbulkan salah paham bagi anak muda, apalagi menilik tatapan matanya. Kidang Alit adalah seorang anak muda yang cepat mengagumi kecantikan seorang gadis”

Inten memandang sejenak wajah Nyi Upih dengan tajamnnya, sepercik keragu-raguan memancar pada sorot matanya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

Nyi Upih mengerti bahwa Inten Prawesti masih belum mengenal sifat anak-anak muda, sehingga ia tidak akan muda mengerti keterangannya.

Karena itu Nyi Upihpun kemudian mengajak Inten untuk pergi saja kedapur. Ia dapat melupakan serulingya itu sejenak dengan beberapa kesibukan. Inten Prawesti bukannya seorang gadis yang malas. Meskipun ia seorang puteri Pangeran. Tetapi seperti ibundanya, iapun sudah berusaha menyesuaikan diri dengan keadaannya. Hidup terpencil di padukuhan kecil, segala seseuatu harus dilakukannya sendiri, karena Nyi Upih sudah terlampau banyak pekerjaan. Inten sudah biasa mencuci pakaiannya sendiri, membantu memasak dan membersihkan perabot rumahnya.

Dalam pada itu, ternyata dugaan Nyi Upih tidak meleset, Kidang Alit tidak puas menatap langkah Inten yang hilang ditikungan. Iapun berjalan mengikutinya meskipun dengan jarak yang jauh, anak muda itu tidak dapat menahan keinginannya untuk lewat didepan istana kecil yang lengang itu.

Namun ternyata bahwa halaman istana itu benar-benar telah sepi.

Gadis itu tidak ada di pendapa” desisnya Tentu pemomongnya itulah yang mengajaknya masuk kedalam”

Tetapi Kidang Alit tidak memasuki halaman rumah itu, iapun kemudian duduk dibawah sebatang pohon wuni diseberang jalan yang melintasi didepan istana itu.

Sejenak kemudian terdengar suara seruling memecah sepi, mengalun bersama angin yang berhembus perlahan-lahan mengumandang diseluruh halaman istana kecil itu

Inten yang sedang berada didapur terkejut mendengar suara seruling itu. tanpa sadarnya iapun segera bangkit berdiri. Hampir saja ia meloncat berlari, jika Nyi Upih tidak menangkap lengannya dan berkata “Tinggalah disini saja puteri”

Inten termangu-mangu sejenak

“Sebaiknya puteri tidak menjenguknya”

“Kenapa Nyai…?”

“Tidak apa, tetapi duduk sajalah disini membantu Nyai menyiapkan makan. Aku juga harus menjerang air bagi ibunda jika ibunda akan mandi”.

Inten Prawesti menjadi ragu-ragu, ada keinginannya untuk ke pendapa, bukan saja untuk mendengarkan suara seruling itu. tetapi ada sesuatu yang seolah-olah telah mendorongnya untuk melihat anak muda yang bernama Kidang Alit itu.

Tetapi agaknya Nyi Upih mengerti perasaan Inten sepenuhnya, karena iapun pernah menjadi muda. Sudah lama Inten Prawesti terpisah dari pergaulan justru menjelang usia dewasanya. Adalah wajar sekali, jika ada sebuah sentuhan dihatinya pada saat ia memandang meskipun baru untuk pertama kali, seorang anak muda yang memilki beberapa kelebihan dari anak-anak muda yang kadang-kadang dilihatnya di Karangmaja.

Namun Nyi Upih berkata pula “Duduklah puteri, nanti Nyai akan bercerita”

Inten menjadi sangat kecewa, tetapi seperti biasanya, ia mendengarkan kata-kata pemomongnya, karena itulah maka iapun kemudian duduk disamping Nyi Upih yang sedang menyenduk sayur kepinggan.

Demikianklah setiap kali Nyi Upih berusaha menahan Inten agar tidak keluar rumahnya, bukan saja sehari itu, tetapi dihari-hari berikutnya.

“Kenapa kau menahan aku keluar rumah?, beberapa hari yang lalu kau selalu menemani aku pergi ke bukit kecil itu, sekarang kau sama sekali memperlakukan aku sebagai tawanan”

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam, katanya “Ampun puteri, sebenarnyalah aku cemas bahwa puteri akan tersentuh oleh pergaulan yang kurang sewajarnya”

“Maksudmu, aku harus menjadi seekor burung yang kau simpan didalam sangkar?, betapapun banyaknya kau memberi aku makan, tetapi aku akan menjadi semakin kurus dan sakit-sakitan.

“Tidak puteri” jawab Nyi Upih “Bukan maksudku, tetapi bukankah selama ini puteri memang jarang sekali keluar halaman, baru beberapa lama puteri sering pergi melihat bukit kecil itu?, Ketika kemudian puteri tertarik kepada suara seruling, puteri memang sering pergi keluar halaman, aku tidak keberatan putri pergi keatas bukit mendengarkan suara seruling anak-anak gembala dari Karangmaja meskipun iramanya kurang baik. Tetapi suara seruling yang sengaja diperdengarkan bagi puteri oleh seorang anak muda yang belum kita kenal dan dengan sengaja menyembunyikan asal-usulnya, masih harus kita nilai lebih jauh puteri.”

“Tetapi sikapnya baik padaku”

“Sikap yang baik belum tentu menjadi bayangan yang utuh dari sikap batinnya” jawab Nyi Upih “Puteri, biarlah Nyai mencoba mengerti serba sedikit tentang anak muda itu. besok jika Nyai pergi ke padukuhan, Nyai akan bertanya kepada orang-orang Karangmaja, apakah mereka mengenal seorang anak muda yang bernama Kidang Alit. Baru jika yakin anak muda itu tidak berbahaya, tentu bagi puteri, bukan bagiku, kita dapat bebas menerimanya atau menjumpainya dimana saja”.

Inten Prawesti mengerutkan keningya.

“Jika aku menyampaikan kepada ibunda, aku kira pendapat ibunda puteripun akan sama dengan pendapat Nyai”

Inten tidak menyahut, betapa perasaan kecewa mencekamnya, namun ia memaksa didirnya untuk sama sekali tidak keluar dari rumahnya.

Untuk mengatasi keinginannya mendengarkan suara seruling dan melihat jalan yang membelit pebukitan, seolah-olah sambil menunggu ayahandanya kembali dari perantauannya yang panjang. Inten mengisi waktu dengan berbagai macam kesibukan yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya. Namun diluar sadarnya, kadang-kadang Inten mulai meraba wajahnya. Menjelang saat-saat mendi di jambangan, Inten sering menatap wajahnya itu dipermukaan air yang bening, perlahan-lahan namun pasti, ia mulai percaya, bahwa ia memang seorang gadis yang cantik, secantik ibundanya.

Ketika pada suatu saat, Nyi Upih harus pergi ke padukuhan Karangmaja untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari, maka iapun mempergunakan kesempatan itu pula untuk bertanya kepada orang-orang Karangmaja, apakah mereka mengenal anak muda bernama Kidang Alit.

“Ooo….” Seorang perempuan gemuk mengangguk-angguk “Ya seorang anak muda yang tampan, bertubuh tegap kekar dan berwajah seperti bangsawan?”

“Ya…”

“Tidak seorangpun yang tahu tentang dirinya. Tiba-tiba saja ia berada dipadukuhan ini dan menumpang dirumah seorang janda yang sudah tua disudut desa”

“Siapakah janda itu?”

“Nyai Windu”

“Oo.. jadi anak muda itu tinggal dirumah Nyai Windu”

“Ya…, anak muda itu ternyata seorang yang kaya, ia memberi banyak uang kepada Nyai Windu”

“Anak yang baik..”

Tetapi Nyi Upih terkejut ketika ia melihat wanita gemuk itu menggelengkan kepalanya, katanya “Tidak terlalu baik, banyak sekali imbalan yang harus diberikan kepadanya”

“Ooo…apa saja”

“Makan yang enak, yang kadang-kadang tidak dapat disiapkan oleh janda itu, karena ia tidak biasa menyediakan makan sepeti yang dimintanya, dan setiap saat anak muda itu memerlukan sesuatu, Nyai Windu yang harus pergi mencarinya”

“Tetapi Nyai Windu membiarkan anak muda itu tinggak dirumahnya?”

“Nyai Windu tidak mempunyai anak, dan anak muda itu kadang-kadang bersikap baik juga kepadanya, selebihnya, semua kebutuhan Nyai Windu dipenuhi oleh anak muda itu. Bahkan Nyai Windu mulai mengenakan pakaian yang selamanya belum pernah disentuhnya, bahkan dilihatnya.”

Nyai Upih mengangguk-angguk, dan wanita gemuk itu meneruskan “Anak itu memang sulit dimengerti, tetapi jika aku menjadi Nyai Windu, aku biarkan anak itu tinggal, karena keuntungan yang didapat oleh janda itu, agaknya masih lebih banyak dari kesulitan yang dihadapinya”.

“Apakah kau tahu, darimana asal-usul anak itu?”

“Tidak seorangpun yang mengetahuinya, Nyai Windu juga tidak, karena anak itu tidak pernah mengatakannya, setiap kali ia menyebut dirinya seperti selembar daun yang diterbangkan angin, tanpa sangkan tanpa paran”

Nyi Upih tidak dapat memaksa wanita yang gemuk itu untuk bercerita lebih banyak, namun dari orang-orang lainpun Nyi Upih tidak mendapat keterangan lebih banyak dari yang didengarnya dari wanita yang gemuk itu.

Dengan demikian, maka Nyi Upihpun mengambil kesimpulan bahwa Inten Prawesti untuk sementara tidak boleh berhubungan lagi dengan anak muda itu.

“Jika perlu, aku mendapat mengatakannya kepada gusti, sehingga Gusti Raden Ayu akan langsung memberikan nasehat kepada puterinya yang sedang meningkat dewasa itu.”

Tetapi ternyata Nyi Upih tidak perlu mengatakannya kepada ibunda Inten Prawesti, karena Inten masih mendengarkan nasehat pemomongnya, betapapun ia menjadi kecewa.

Sebenarnyalah, sejak saat itu, Inten Prawesti tidak pernah keluar dari rumahnya, jika suara seruling itu terdengar dekat sekali dari istananya, ia mendengarkannya dengan penuh minat, tetapi jika suara itu menjauh, Inten dapat menarik nafas dalam-dalam.

Setiap kali terbayang ketakutan-ketakutan yang dilukiskan oleh Nyi Upih menghadapi peristiwa yang dapat terjadi atas seorang yang miningkat dewasa seperti Inten Prawesti. Apalagi seorang gadis yang sangat cantik.

Dalam pada itu, bukan saja Inten Prawesti yang menjadi gelisah, tetapi anak muda yang menyebut dirinya Kidang Alit itupun hatinya menjadi tidak tenang. Setiap kali ia mencoba memancing gadis cantik yang sedang meningkat dewasa itu, tetapi Inten Prawesti tidak pernah keluar lagi dari rumahnya. Apalagi pergi ke bukit kecil itu, sedangkan turun ke halamanpun seakan-akan tidak pernah dilakukannya lagi.

Tetapi diluar pengetahuan Kidang Alit, setiap kali sepasang mata selalu mengintip dari balik dinding istana, jika ia berada didepan regol, atau diseberang jalan dibawah pohon wuni sambil meniup seruling. Namun tatapan mata itu selalu memancarkan kecurigaan dan prasangka.

Demikianlah Nyi Upih selalu berusaha mengetahui tingkah laku anak muda itu, jika ia berkeliaran di sekitar istana, tetapi ia tidak pernah mengatakannya kepada siapapun juga. Semuanya seolah-olah hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.

Bahkan ternyata kemudian Nyi Upih tidak hanya sekedar mengawasi tingkah laku yang dapat diintipnya dari celah-celah dinding, tetapi iapun selalu bertanya kepada orang-orang Karangmaja tentang anak muda yang bernama Kidang Alit itu.

Tetapi Nyi Upih kemudian menjadi kecewa, bahwa sebenarnya tingkah laku Kidang Alit tidak mencerminkan tingkah laku anak muda yang memiliki sifat-sifat seperti yang dikehendaki. Kidang Alit kadang-kadang bersikap aneh dan dapat menumbuhkan kecurigaan.

“Aku tidak dapat membiarkan momonganku tergelincir” berkata Nyi Upih.

Sebenarnya bahwa Nyi Upih semua mempunyai harapan, bahwa pada suatu saat momongannya akan bertemu dengan anak muda yang pantas baginya. Bukan sekedar anak-anak muda Karangmaja yang sangat sederhana. Bukan karena baginya anak-anak Karangmaja berderajat rendah, tetapi sebagai seorang menganggap Inten seperti anaknya sendiri, ia menghendaki seorang laki-laki yang mempunyai beberapa kelebihan, sesuai dengan kedudukan Inten Prawesti.

“Tidak berlebih-lebihan” katanya didalam hati “Tetapi Kidang Alit agaknya terlalu banyak menyimpan teka-teki sehingga justru akan dapat menumbuhkan kekaburan bagi masa depan puteri itu sendiri”

Itulah sebabnya, Nyi Upih kemudian selalu berusaha menghalangi setiap kemungkinan hubungan Inten Prawesti dengan Kidang Alit.

Akhirnya Kidang Alitpun merasa bahwa sulitlah baginya untuk dapat menembus dinding istana kecil itu. suara serulingnya tidak mampu lagi memancing puteri canti itu untuk keluar dari halaman, bahkan kehalamanpun tidak.

“Pemomongnya itulah yang mendengkinya” geram Kidang Alit.

Dan ternyata kemudian Nyi Upih merasa, bahwa sikapnya itu adalah sikap yang benar, ketika pada suatu saat ia pergi ke padukuhan Karangmaja dan mendengar orang-orang Karangmaja membicarakan anak muda yang bertubuh tegap dan mempunyai kelebihan dari anak muda yang lain itu.

“Sunti kehilangan kegadisannya” berkata seorang perempuan yang sudah separuh baya.

“Ah… darimana kau tahu?” bertanya Nyi Upih.

“Beberapa anak muda menemukannya”

“Atas tingkah laku Kidang Alit…?”

“Tetapi salah Sunti sendiri, ia merasa bangga berkawan dengan seorang anak muda yang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya yang lain”

“Dan akhirnya ia mengalami perlakuan kasar?”

Perempuan separuh baya itu menggelengkan kepalanya, jawabnya “Tidak, Sunti sendiri menyerahkan kehormatannya kepada anak muda yang tampan itu”

“Dan mereka akan kawin?”

“Itulah yang menjadi persoalan, agaknya anak muda itu menyesal bahwa ia sudah tenggelam dalam hubungan yang terlampu dalam, ia tidak pernah berfikir untuk kawin dengan gadis desa seperti Sunti”

“Jadi…?”

“Akhirnya diketemukan penyesalan itu. anak muda yang bernama Kidang Alit itu memberikan biaya perkawinan Sunti dengan anak muda Karangmaja”

“Gila…!”

“Itu sudah saling disetujui. Selain biaya perkawinan, Kidang Alit memberikan sepasang kerbau kepada anak muda yang manjadi suami Sunti itu, sebagai bekal untuk menempuh hidup kekeluargaan. Dengan sepasang kerbau, maka suami Sunti akan dapat bekerja sebaik-baiknya disawah”

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam, tetapi hal itu sudah terjadi.

Diluar sadarnya, kenangan Nyi Upih meloncat kemasa lampau, saat ia masih mengikuti Pangeran Kuda Narpada dipusat kerajaan Majapahit. Terbayang sekilas tingkah laku beberapa orang bangsawan tertinggi. Yang diketahuinya dengan pasti, adalah Pangeran Cemara Kuning.

“Diluar lingkungan kebangsawanan ada juga orang-orang yang berlaku demikian, orang-orang yang memiliki kekayaan yang dapat dipergunakannya untuk menjadi apa saja. Bahkan kehormatan orang lain sekalipun” berkata Nyi Upih didalam hati.

Namun tiba-tiba ia berdesah “Apakah dapat disebut dengan pasti bahwa Kidang Alit tidak mempunyai darah kebangsawanan. Ia seorang anak muda yang menyimpan rahasia tentang pribadinya. Apalagi kebangsawanan ini bukan hanya bersumber dari Majapahit, mungkin dari Kediri, mungkin dari Demak” ia berhenti sejenak. Lalu “Tetapi apakah maksud kunjungannya kemari…?”

Pertanyaan-pertanyaan itu telah membuat Nyi Upih menjadi semakin berrhati-hati menghadapi anak muda yang bernama Kidang Alit itu. meskipun anak muda itu tidak berkesempatan bertemu dengan Inten Prawesti secara terbuka, mungkin ia akan dapat menempuh jalan lain”

“Jika ia seorang perantau yang sebenarnya, ia tidak dapat tinggal terlampau lama disuatu tempat” berkata Nyi Upih kepada dirinya sendiri pula “Apalagi membawa bekal uang sebanyak-banyaknya”

Tetapi Kidang Alit tidak berbuat lebih jauh lagi, bahkan semakin lama, Kidang Alit menjadi seolah-olah putus asa. Suara serulingnya tidak terdengar lagi, disekitar istana kecil itu. dan anak-anak muda itupun jarang sekali nampak berlalu di jalan yang terjulur di depan istana itu.

Dengan demikian, maka lambat laun Intenpun telah melupakannya, ia tidak pernah lagi bertanya-tanya tentang seruling Kidang Alit dan akhirnya ia sama sekali tidak pernah menyebut namanya lagi.

Untuk beberapa lamanya Kidang Alit itupun menjadi bahan pembicaraan lagi bagi rakyat Karangmaja. Kehadirannya sudah merupakan kebiasaan yang tidak menimbulkan persoalan lagi. Persoalan Suntipun seolah-olah telah dilupakan orang, Jika seseorang bertemu dengan Kidang Alit, maka mereka sekedar menundukkan kepala sambil tersenyum, seperti yang dilakukan Kidang Alit. Selebihnya, mereka tidak memperdulikan lagi.

Namun ketenangan padukuhan Karangmaja tiba-tiba saja terganggu pula. Selagi orang-orang Karangmaja telah menjadi terbiasa dengan keadaannya setelah diguncang untuk beberapa saat oleh Kidang Alit, maka datanglah persoalan-persoalan baru di padukuhan kecil itu.

Dengan tidak terduga-duga, tiga orang yang berkuda telah memasuki padukuhan itu dari arah yang tidak diketahui. Wajah menunjukkan sikap mereka yang keras dan bahkan agak kasar.

Demikian mereka sampai di regol padukuhan kecil itu, maka salah soerang dari mereka segera meloncat turun dan mendatangi seorang laki-laki tua yang berdiri di regol halaman rumahnya dan bertanya “Kau kenal Buyut Karangmaja…?!”

“Tetapi siapakah Ki Sanak ini?” bertanya orang tua itu.

“Aku bertanya rumah Ki Buyut Karangmaja!!” tiba-tiba saja orang itu membentak sehingga orang tua yang bertanya itupun terkejut bukan buatan”

“Kau tunjukkan saja, kemana aku harus pergi, kesana…atau kesana!!, desak orang itu dengan kasarnya.

Orang tua yang ketakutan itupun menjadi gemetar, ia tidak dapat berpikir apapun lagi. Denga suara tergagap ia menunjuk kesatu arah sambil berkata “Kesana… pergilah kesana…”

Ketiga orang itu tidak berbicara lebih banyak, merekapun segera meneruskan perjalanan mereka kearah yang ditunjuk oleh orang tua itu.

Disepanjang jalan orang-orang itu masih bertanya dengan kasarnya, membentak-bentak dan menakut-nakuti, sehingga akhirnya iapun mendekati rumah Ki Buyut di Karangmaja.

Dalam waktu sekejap, berita kedatangan orang-orang yang kasar itu segera tersebar, jauh lebih cepat dari saat-saat kedatangan Kidang Alit, karena Kidang Alit datang tanpa memberikan kejutan apapun bagi padukuhan Karangmaja, meskipun tingkah lakunya kemudian menjadi perhatian, tetapi saat kedatangannya sendiri tidak banyak diketahui orang.

Orang-orang Karangmaja adalah orang-orang yang sederhana dan tidak segera mudah dicengkam prasangka. Tetapi merekapun adalah orang-orang yang menyadari haknya. Karena itu, ketika anak-anak muda Karangmaja mendengar kehadiran ketiga orang asing yang mencurigakan, dan bersikap kasar, merekapun segera saling mendekatkan diri dengan kawan-kawannya, sehingga tanpa mereka sadari merekapun telah berkumpul di depan regol padukuhan mereka.

Seorang anak muda yang memiliki pengaruh atas kawan-kawannya mulai bertanya “Apakah yang dapat kita lakukan sekarang?” orang-orang itu agaknya telah sampai di rumah Ki Buyut”

“Marilah kit pergi ke rumah Ki Buyut, kita melihat apa yang mereka lakukan”

“Beberapa tahun yang lalu, kita pernah juga dicengkam oleh kecurigaan kerena terjadi peristiwa-peristiwa yang terjadi di padukuhan-padukuhan yang kebetulan menjadi tempat persinggahan para bangsawan dari Majapahit. Banyak penjahat-penjahat yang kemudian mencari sisa-sisa kekayaan para bangsawan itu. karena mereka tidak berani melawan para bangsawan yang pada umumnya adalah perajurit-perajurit pilihan, maka merekapun mulai merampok penduduk yang mereka sangka mendapat imbalan atau pemberian berupa apapun juga”

“Dan sekarang mereka memasuki padukuhan kita, karena di padukuhan kita ada sebuah istana kecil” berkata seorang yang bertubuh gemuk.

“Tidak…,” tiba-tiba seorang anak muda yang lain membantah “Jika istana kecil itulah yang menyebabkannya, maka hal ini tentu sudah terjadi beberapa waktu yang lalu”.

“Bagaimana jika penjahat-penjahat itu baru saja mendengar bahwa di tempat ini ada istana kecil itu?, jika demikian, maka istana kecil itu akan menjadi penyebab kesulitan di padukuhan ini”

“Tidak” hampir berbareng empat orang anak muda menyahut sekaligus, salah seorang dari mereka meneruskan “Istana itu sudah membuat padukuhan ini menjadi hidup, lereng-lereng yang tandus manjadi semakin hijau dan dapat ditanami meskipun hanya pepohonan yang khusus. Sebelumnya kita hamir tidak mengenal jalur-jalur air untuk membasahi sawah di musim kering, sehingga seolah-olah sawah kami hanya dapat ditanami dimusim basah. Sekarang parit-parit yang selalu dialiri air yang naik dari bendungan seolah-olah telah menjalar keseluruh tanah persawahan” ia berhenti sejenak, lalu “Bahkan jika terjadi sesuatu atas istana itu, adalah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya, kita tahu, bahwa di dalam istana itu tidak ada seorang laki-lakipun yang akan dapat melindunginya”.

“Ya…, kita harus membalas kebaikan yang sampai saat ini dan bahkan untuk seterusnya selalu akan kita hayati. Sawah yang subur, lereng yang hijau dan pemeliharaan ternak yang baik, kita tidak akan dapat berbuat demikian tanpa kehadiran Pangeran Kuda Narpada, yang tinggal di istana kecil itu”.

Anak muda yang cemas dengan kehadiran istana kecil itu tidak menjawab lagi, ia sadar, bahwa tidak ada seorangpun yang akan berada di pihaknya, karena itu, maka lebih baginya untuk berdiam diri.

Jadi sekarang kita pergi kerumah Ki Buyut” tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata.

“Ya, sekarang kita lihat, apa yang telah terjadi”

“Tetapi bagaimana dengan Kidang Alit?, apakah orang-orang itu kawan-kawan Kidang Alit?”.

“Mereka tidak bertanya tentang Kidang Alit”

“Tetapi siapa tahu…”

Namun anak-anak muda itupun tiba-tiba terkejut, ketika mereka mendengar suara dari balik dinding batu. “Aku tidak mengenal mereka”.

Ketika anak-anak itu berpaling, mereka melihat Kidang Alit meloncat dinding itun dan berdiri tegak dengan wajah tengadah.

“Aku akan ikut bersama kalian ke rumah Ki Buyut, aku juga ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh ketiga orang itu. dengan demikian, maka tidak akan ada prasangka lagi terhadapku bahwa akulah yang menyebabkan padukuhan ini menjadi terganggu. Aku menyesal bahwa aku telah berbuat sesuatu yang terlampau jauh dan menyinggung ketenangan padukuhan ini. Untunglah bahwa persoalan Sunti itu cepat mendapat jalan keluar, akrena itu, maka aku tidak mau lagi dilibatkan dalam peristiwa yang dapat merusak nama baikku”.

Anak-anak muda Karangmaja itupun berdiri termangu-mangu sejenak, baru sesaat kemudian soerang yang paling berpengaruh diantara mereka berkata “Baiklah Kidang Alit, kau pergi bersama kami dan melihat apa yang telah terjadi”

“Aku akan menyesuaikan diriku seperti kalian, agar aku tidak menarik perhatian orang itu”

“Anak-anak muda Karangmaja tidak menghiraukannya lagi. Merekapun kemudian pergi bersama-sama ke rumah Ki Buyut untuk melihat apa yang sudah terjadi di rumah tetua padukuhan mereka.

Ketika anak-anak muda itu sampai ke regol halaman, mereka melihat ketiga orang itu masih beridiri di tangga pendapa, mereka mengikat kuda mereka pada batang-batang perdu di halaman.

“Kau harus menyediakan sebuah rumah buat kami disini” seorang diantara mereka berkata lantang.

Ki Buyut nampak sangat gelisah, beberapa orang bebahu dan pembantunyapun berdiri termangu-mangu, tidak seorangpun dapat berbuat sesuatu.

“Tidak ada alasan apapun yang dapat kau pergunakan untuk menolak kehadiran kami disini.” Yang lain berkata lantang.

Ki Buyut tidak segera dapat menjawab, rasa-rasanya ia tidak lagi dapat berbuat sesuatu dan memutuskan apapun juga, karena kegelisahan didalam dadanya.

Ketika Ki Buyut melihat anak-anak muda berdatangan, maka wajahnya menjadi agak cerah. Meskipun suaranya masih bergetar namun ia berhasil menguasai perasaannya. “Silahkan duduk Ki Sanak, kita akan berbicara sebaik-baiknya.”

“Kau harus menyanggupi permintaanku lebih dahulu” berkata salah seorang dari mereka, seorang laki-laki berkumis tebal, setebal ibu jari.

Ki Buyut bukan seorang penakut, ia memiliki sedikit kelebihan dari orang lain, namun justru karena itu, maka ia melihat bahwa ketiga orang itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya.

Dalam pada itu, anak-anak muda yang sudah memasuki regol halaman rumah Ki Buyut di Karangmaja menjadi ragu-ragu sejenak, mereka menjadi ngeri melihat wajah-wajah yang keras seperti batu-batu padas di tebing pegunungan, bahkan rasa-rasanya orang-orang itu sama sekali tidak mengacuhkan kedatangan anak-anak muda itu.

Ki Buyut yang melihat mereka mendekat itupun kemudian berkata kepada anak-anak muda yang memiliki pengaruh atas kawan-kawannya itu “Kasdu, kemarilah”

Anak muda yang bernama Kasdu itupun melangkah mendekat, tetapi nampak ia ragu-ragu.

“Mereka memerlukan tempat tinggal” berkata Ki Buyut.

Kasdu memandang ketiga orang itu yang sama sekali tidak mengacuhkannya, namun betapapun juga ia bertanya “Apakah kalian akan tinggal di padukuhan ini?”

Tetapi ketiga orang itus sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Bahkan malah seorang membentak kepada Ki Buyut “Ki Buyut..!!!, jawab pertanyaanku…!!!, jangan membawa anak-anak ingusan ini dalam pembicaraan…!”

“Ki Sanak, mereka adalah anak-anak muda Karangmaja, setiap kali aku mengajak mereka berbincang, apalagi dalam keadaan seperti ini”.

“Kau tidak usah berbincang dengan siapapun, yang perlu kau kerjakan adalah menyediakan tempat tinggal bagi kami, kami tidak akan selamanya tinggal di padukuhan ini”

“Ya… itulah yang akan aku katakan kepada Kasdu”

“Aku tidak memerlukan anak-anak itu…!!” salah seorang dari ketiga orang itu hampir berteriak.

Kasdu, betapa ia menjadi ngeri melihat sikap dari tingkah laku ketiga orang itu, namun ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan padukuhannya. Karena itu, maka iapun segera melangkah maju sambil berkata “Jangan teriak-teriak disini Ki Sanak, kau orang asing bagi kami, jika kau menginginkan sesuatu, kau harus bersikap baik, karena keputusan terakhir akan berada ditangan kami”

Tetapi Kasdu tidak dapat meneruskan kata-katanya, tiba-tiba saja tangan salah seorang dari ketiga orang itu terayun menampar wajah Kasdu.

Akibatnya benar-benar tidak terduga, Kasdu terlempar dari tempatnya, dan jatuh berguling ditanah, …pingsan.

Beberapa anak muda dengan gerak naluriah memburu dan berjongkok disisinya. Mereka terkejut ketika mereka melihat wajah Kasdu bernoda biru.

Tubuh Ki Buyut menjadi gemetar, gemetar oleh kemarahan yang tertahan, tetapi iapun sadar, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Orang-orang itu bukan orang-orang kebanyakan.

Karena itu, ia tidak memberikan aba-aba apapun kepada anak muda yang berada di halaman. Jika terjadi benturan kekerasan maka Karangmaja akan menyesali anak-anaknya yang akan menjadi korban keganasan orang-orang asing yang tidak mereka kenal itu.

Dalam pada itu, maka anak-anak muda Karangmaja yang berada di halamanpun menjadi ngeri, sentuhan tangan orang-orang itu bagaikan sentuhan bara api yang membakar wajah Kasdu.

“Siapa yang akan mencoba sekali lagi berdiri di hadapanku!” teriak orang yang memukul Kasdu itu “Aku masih berbaik hati untuk memberi peringatan kepada kalian. Apalagi jika kalian mencoba menyesuaikan persoalan ini dengan senjata, maka sudah tentu kalian semuanya akan tumpas, karena kamipun akan mempergunakan senjata pula”.

Tidak seorangpun yang berani bergerak.

“Bawa anak itu pergi..!!” teriak orang yang memukul Kasdu “Ia akan menyesali kelancangannya sepanjang hidupnya, ia tidak akan mati karena pukulan itu, tetapi ia akan cacat seumur hidup”.

Beberapa anak muda itu menjadi gemetar, tetapi beberapa orang yang lain dengan ragu-ragu saling berpandangan di sekitar Kasdu.

Kidang Alit turut berjongkok di sebelah Kasdu, dengan matanya ia memberi isyarat kepada anak-anak muda yang lain, untuk membawa Kasdu pergi.

Dengan ragu-ragu pula beberapa orang mengangkatnya dan membawanya menepi.

Tetapi Kidang Alit berbisik “Kita bawa masuk ke rumah Ki Buyut, lewat pintu butulan”

Merekapun kemudian membawa Kasdu melalui longkangan bagian belakang rumah Ki Buyut Karangmaja, sementara itu perempuan dan kanak-kanak di belakang, seakan-akan sama sekali tidak berani lagi bergerak dari tempatnya, mereka berkumpul di dapur dengan tubuh gemetar dan ketakutan.

Dengan hati-hati tubuh Kasdu itupun segera dibaringkan diatas amben bambu di bilik dalam. Sejenak anak-anak muda yang membawanya masuk itu menjadi tegang melihat noda-noda yang seolah-olah tumbuh di bagian wajah Kasdu yang lain.

“Darahnya telah di kotori oleh semacam racun yang dengan ganas dapat membuatnya lumpuh” berkata Kidang Alit.

“Darimana kau tahu..?” bertanya salah seorang anak muda.

“Bukankah orang itu mengatakan, bahwa Kasdu akan menjadi cacat”

“Lumpuh…?”

“Lumpuh dan mungkin buta”

“Mengerikan sekali”

“Tentu cincin itu mengandung racun, mungkin pula akik pada cincinnya itu, atau alat-alat lain di jarinya” desis Kidang Alit.

“Dan Kasdu akan cacat sepanjang hidupnya…?, kasihan ia masih terlampau muda untuk mengakhiri hidup sewajarnya”

Kidang alit termenung sejenak, kemudian iapun berkata dengan hati-hati, seolah-olah tidak ingin didengar oleh orang lain “Aku akan berbuat sesuatu, tetapi berjanjilah, bahwa kalian yang melihat, tidak mengatakan kepada siapapun juga”

Anak-anak muda yang ada disekitar tubuh Kasdi itupun termangu-mangu sejenak.

“Berjanjilah, cepat sebelum racun itu mencapai pusat sarap Kasdu.”

“Apa yang akan kau lakukan”

“Berjanjilah…!!” desis Kidang Alit.

Anak-anak muda itupun termenung sejenak, namun kemudian salah seorang dari mereka mengangguk sambil berkata lirih “Aku berjanji”

Dan yang lainpun berkata pula “Ya… aku berjanji”

“Baiklah” berkata Kidang Alit “Aku mempunyai obat penawar racun, mudah-mudahan akan dapat aku pergunakan, jika penawar racunku sesuai dengan diderita oleh Kasdu, maka ia akan sembuh, tetapi jika aku gagal, maka ia bukan saja akan cacat, tetapi mungkin mati”

Anak-anak muda itu saling berpandangan.

“Nah, apakah kita akan bersama-sama bertanggung-jawab jika Kasdu mati?… Kita tidak akan mengatakan apa yang sudah terjadi disini, jika ia mati, biarlah kesalahannya kita timpakan saja kepada orang-orang itu, artinya, bahwa pukulan itulah yang menyebabkan kematiannya”.

Sejenak, ruangan itu menjadi hening, baru kemudian salah sorang berkata “Berdosakah kita, jika kita mencobanya?, jika kita berhasil, maka Kasdu akan tertolong, tetapi jika kita gagal, apakah kita dapat dipersalahkan karena kita berusaha?, apalagi Kasdu pasti akan cacat sepanjang hidupnya jika kita tidak berbuat sesuatu”

“Maksudmu, daripada cacat, jika gagal, lebih baik jika ia tidak tersiksa sepanjang hidupnya” bertanya seorang kawannya.

“Bukan, bukan begitu, tetapi hampir seperti itu, bagiku, lebih baik kita berbuat sesuatu, jika perbuatan itu dapat menumbuhkan harapan”.

“Ya… aku setuju” desis yang lain berurutan.

Kidang Alit menarik nafas, wajahnya menjadi tegang, di keningnya mengembun keringat dingin, dan bahkan menitik keatas tubuh Kasdu yang tergolek diam.

Perlahan-lahan Kidang Alit mengambil sebuah bumbung kecil dari kantong ikat pinggangnya, kemudian seorang anak muda yang lain disuruhnya mengambil semangkuk air.

Sepercik serbuk yang berwarna kekuning-kuningan dimasukkannya ke dalam air itu dan dimasukkan ke dalam mulut Kasdu yang seolah-olah membeku.

“Mudah-mudahan aku tidak terlambat, dan mudah-mudahan racun itu dapat bersentuhan dengan racun yang telah masuk ke dalam darahnya” berkata Kidang Alit sambil menitikkan air yang sudah berisi serbuk itu lalu katanya “Tetapi itu belum cukup”

Tidak ada yang menjawab, semua telah dicengkam oleh ketegangan yang memuncak.

“Air itu akan menghentikan cengkaman racun itu lebih jauh” berkata Kidang Alit sambil meletakkan mangkuknya, kemudian sambil membuka sebuah bungkusan kecil ia berkata, “Obat ini harus diusapkan pada lukanya”

“Ia tidak terluka” desis seorang anak muda.

Kidang Alit tidak menjawab, tetapi dengan seksama ia mengamati wajah Kasdu yang menjadi semakin biru.

Beberapa orang memandanginya sambil menahan nafas, mereka tidak mengerti, apa yang dilakukan olah Kidang Alit, mereka sama sekali tidak melihat luka pada wajah Kasdu yang kebiru-biruan itu.

Namun kemudian Kidang Alit berkata “Inilah lukanya, kecil sekali, tidak lebih dari gigitan serangga”

“Kau dapat melihatnya…?”

Kidang Alit tidak menjawab, iapun kemudian mengusapkan obat penawar yang berwarna kehitam-hitaman, obat yang kental seperti bubur pati ketela pohong, hanya seusap kecil.

Dengan hati-hati Kidang Alit alit membngkusnya kembali dan menyimpannya bersama bumbung kecilnya pada kantong kuning ikat pinggangnya yang besar.

Sejenak anak-anak muda yang menunggui Kasdu itu menjadi semakin tegang, mereka tidak segera melihat perubahan yang terjadi pada anak muda yang terluka itu.

Sementara itu, dipendapa, Ki Buyut tidak dapat berbuat lain kecuali memenuhi permintaan ketiga orang yang tidak dikenalnya itu. untuk menjaga agar tidak ada seorangpun yang merasa dikorbankan, maka Ki Buyut berkata “Ki Sanak, berkeras untuk tinggal di padukuhan ini, maka baiklah Ki Sanak bisa tinggal di Banjar desa padukuhan ini, meskipun Banjar itu tidak begitu besar, tetapi bagian belakang terdapat dua buah bilik yang cukup untuk tinggal sementara”

Bab 3

“Kau tempatkan aku di Banjar?, bagaimana aku makan sehari-hari?” bertanya salah satu dari ketiga orang itu.

“Jadi bagaimana maksud Ki Sanak?”

“Aku memerlukan makan dan minum….”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam katanya “Baiklah, aku akan menyuruh pembantuku setiap hari mengirimkan makan dan minum, pagi, siang dan sore hari, cukup…?”

“Persetan…!,” orang itu menggeram, lalu “Baiklah kami berbaik hati. Tetapi jika makananmu terlambat datang, aku akan mengambil apa saja yang dapat aku ambil dari siapapun juga!…”

Ki Buyut mengangguk kecil, jawabnya “akulah yang akan tanggung jawab, karena aku adalah Buyut di Karangmaja”

Orang berwajah sekeras batu padas tu tertawa” katanya “He…., kau mengenal tanggung jawab juga Ki Buyut. Terima kasih. Sayang, bahwa aku telah membuat seorang anak muda Karangmaja menjadi cacat. Tetapi itu adalah salahnya sendiri, tidak ada seorangpun yang akan dapat mengobatinya. Ia akan lumpuh, buta dan tuli sepanjang umurnya”

Wajah Ki Buyut menegang sejenak. Tetapi sebelum ia bertanya sesuatu, salah seorang dari ketiga orang asing itu berkata “Jumlahnya tentu akan bertambah, jika orang-orang Karangmaja tidak bersikap baik kepadaku, aku adalah orang-orang yang harus kalian penuhi segala kebutuhanku, bukan sekedar makan dan minum”.

Jantung Ki Buyut berdentangan memukul dinding dadanya, ia telah dicengkam bayangan-bayangan yang mengerikan, bahkan kemudian ia berkata kepada diri sendiri “Apakah jadinya jika orang-orang itu melihat seorang gadis cantik yang sedang tumbuh di istana kecil itu..?”

Tetapi Ki Buyut menahan perasaan itu dalam dadanya, ia tidak mengatakannya kepada siapapun juga sebelum ia menemukan jalan sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, Ki Buyutpun kemudian memerintahkan dua orang anak muda untuk mengantarkan ketiga orang itu, dengan dada bergetar, kedua anak muda itu tidak dapat menolak, betapapun ketakutan melanda perasaannya, tetapi keduanyapun kemudian berangkat juga mengantarkan ketiga orang yang berwajah sekasar batu padas.

Tetapi diluar dugaannya, ketika mereka sampai di banjar padukuhan, ketiganya tersenyum kepada kedua anak muda itu. Dengan ramah salah seorang berkata, “Terima kasih Ki Sanak, kalian adalah anak muda yang baik. Nah, ingat-ingatlah. Aku belum memperkenalkan nama kami. Sampaikan kepada Ki Buyut, bahwa namaku adalah Kumbara, dan kedua kawanku yang lain adalah Gagak Wereng dan Naga Pasa”.

Orang yang disebut bernama Naga Pasa itu tertawa, katanya “Ya… namaku Naga Pasa, seperti nama sebuah ilmu yang mempunyai kekuatan seperti racun ular. Setiap sentuhan akan berakibat mengerikan sekali, seperti kawanmu yang lancang itu”

Kedua anak muda Karangmaja itu sama sekali tidak berani berbuat apapun juga, bahkan bergerakpun hampir tidak dapat dilakukan.

“Pergilah, pesanku kepada Ki Buyut, makananku jangan terlambat, dan semua kebutuhanku harus dipenuhi. Aku dapat berbuat banyak di padukuhan ini, jika mereka menentang setiap kehendakku”

Kedua anak-anak muda itupun kemudian dengan kaki gemetar pergi meninggalkan Banjar, kembali ke rumah Ki Buyut dan menyampaikan semua pesan ketiga orang itu.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, hatinya bagaikan pepat. Bahkan ia langsung menghubungkan kehadiran ketiga orang itu dengan istana kecil yang sepi itu.

Ki Buyut sepeprti terbangun dari mimpinya, ketika ia teringat kepada Kasdu, demikian hatinya dicengkam oleh kegelisahan sehingga ia hampir lupa, bahwa didalam rumahnya terdapat seorang yang sedang terluka parah.

Karena itu, maka iapun kemudian berdiri dan mengajak dua orang bebahu yang masih berada dihalaman rumahnya untuk menengok anak muda yang terluka parah itu.

“Tunggulah disini” berkata Ki Buyut kepada anak-anak muda yang masih berada dihalaman rumahnya pula.

Anak-anak muda itu tidak menjawab, tetapi tatapan mereka membayangkan kecemasan yang luar biasa. Orang-orang yang menyebut dirinya bernama Kumbara, Gagak Wereng dan Naga Pasa itu, akan dapat berbuat apa saja seperti yang dikatakannya.

Seperti Ki Buyut, anak-anak itupun menjadi cemas akan isi istana kecil. Gadis itu terlampau cantik dan apalagi tanpa pelindung sama sekali. Jika ketiga orang itu melihatnya, maka tidak seorangpun akan dapat mencegah jika mereka menghendakinya dengan cara yang paling buas.

“Pangeran Kuda Narpada sudah memberikan petunjuk dan bimbingan terlampau banyak kepada kami” berkata salah seorang anak muda itu kepada diri sendiri. “Apakah kami dapat membiarkan keluarganya menjadi korban…?”

Bahkan anak-anak muda itu menduga bahwa ketiga orang itu tentu menganggap bahwa didalam istana kecil itu terdapat benda yantg tiada ternilai harganya.

“Istana itu sama sekali tidak menyimpan harta bernilai uang” berkata anak muda itu didalam hatinya. “Tetapi bernilai kebajikan, jika orang-orang itu mencari harta kekayaan bernilai uang, maka, mereka tidak akan mendapatkannya. Adalah mengerikan sekali jika orang-orang itu itu tidak percaya dan memaksa dengan kekerasan untuk memberikan apapun juga yang mereka anggap ada”

Tetapi semuanya itu hanya bergetar didalam angan-angan saja. Meskipun isi hati anak-anak muda itu hampir bersamaan, bahkan seperti yang tergetar didalam hati Ki Buyut di Karangmaja, namun tidak seorangpun yang berani mempersoalkannya, seakan-akan mereka cemas, bahwa kata-kata mereka akan dapat mendorong itu terjadi.

Dalam pada itu, dengan ragu-ragu, Ki Buyut masuk keruang dalam, hampir saja ia mengurungkan niatnya. Hatinya tentu akan menjadi sangat pedih melihat keadaan Kasdu yang akan menjadi cacat seumur hidupnya. Lumpuh, buta dan tuli. Ia kan menjadi beban keluarganya seperti bayi yang aneh, karena besar tubuhnya dan umurnya yang dewasa, tatapi tidak akan dapat berbuat apa-apa.

“Sesuatu siksaan yang mengerikan” berkata Ki Buyut didalam hati “tetapi tidak seorangpun akan dapat menolongnya. Ia akan tergolek dipembaringan seperti orang yang sudah mati didalam hidupnya.”

Langkah Ki Buyut tertegun ketika ia melihat beberapa orang muda yang berjongkok disisi sebuah pembaringan. Namun kemudian ia memaksa kakinya untuk melangkah terus. Ia adalah orang yang mempunyai tanggung-jawab tertinggi di padukuhan Karangmaja. Apapun yang akan dilihatnya, ia tidak akan dapat ingkar.

Anak-anak muda yang ada didalam ruangan itupun kemudian menyibak ketika mereka melihat Ki Buyut dan dua orang bebahu padukuhan mendekati Kasdu yang berbaring diam. Kidang Alit yang tegang mengikuti setiap perkembangan anak muda yang luka parah itupun bergeser pula, sambil berkata “Silahkan Ki Buyut”

Ki Buyut melangkah semakin mendekat, dengan dada yang berdebaran ia melihat Kasdu dengan perasaan yang penuh iba. Bahkan kedua bebahu yang lain, rasa-rasanya tidak dapat lagi bernafas didalam ruangan itu.

Tetapi betapa Ki Buyut dan kedua bebahu itu terkejut ketika mereka mendengar sebuah desah perlahan “Apakah yang datang Ki Buyut?”

Ki Buyut seolah-olah tidak percaya kepada pendengarannya. Sehingga dengan ragu-ragu ia bertanya “Apakah aku mendengan seseorang bertanya..?”

Kidang Alit mengangguk “Ya, Ki Buyut”

“Apakah aku mendengar dan melihat bibir Kasdu bergerak dan menyebut aku?”

“Ya…, Ki Buyut. Kasdu sudah mampu melihat dan berbicara”

Ki Buyut menjadi bingung, beberapa kali ia berpaling kepada kedua pembantunya dan memandang anak-anak muda yang ada diruangan itu berganti bergant-ganti.

“Jadi Kadu tidak menjadi buta, tuli dan lumpuh…?”

“Ia akan dapat menjadi demikian jika tidak segera mendapat pengobatan” jawab Kidang Alit.

“Siapa yang mengobatinya…?”

“Aku Ki Buyut…”

“Kau…., kau…”

Kidang Alit berdiri disisi pembaringan sambil tersenyum, katanya “Aku sudah berhasil mengobati Kasdu, tidak seorangpun akan dapat melakukannya selain aku sekarang ini. Tetapi mungkin didaerah dan padepokan lain ada juga orang yang mampu menahan bisa seperti bisa yang telah menyentuh Kasdu”

Ki Buyut menjadi termangu-mangu, ia benar-benar menjadi bingung dan seolah-olah tidak yakin akan penglihatanya.

“Memang luka Kasdu sangat parah” berkata Kidang Alit “Untunglah bahwa aku sedang berada di padukuhan ini pada saat ia mengalaminya, sehingga aku dapat menolongnya. Perlahan-lahan ia akan sembuh dan akan menjadi pulih kembali meskipun diperlukan waktu kira-kira tiga atau empat bulan, tetapi bukankah itu jauh lebih baik daripada ia harus menjadi lumpuh buta, tuli dan bisu..?”

“Ya, jauh, jauh lebih baik”, Ki Buyut menelan ludahnya” Aku sangat berterima kasih kepadamu Kidang Alit”

Kidang Alit masih saja tersenyum, katanya kemudian “Aku berharap tidak akan ada orang lain yang mengalami peristiwa seperti ini lagi Ki Buyut”

“Mudah-mudahan, tetapi kehadiran ketiga orang itu tentu akan membuat banyak kesulitan bagi padukuhan ini”

“Apa yang kira-kira akan mereka lakukan? Bertanya Kidang Alit.

“Akut tidak tahu, tetapi mereka sudah mengancam bahwa ita harus dapat menyediakan semua kebutuhan yang mereka kehendaki selama mereka berada di padukuhan ini”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, kemudian katanya kepada Ki Buyut “Ki Buyut, aku berharap bahwa apa yang sudah aku lakukan sekarang ini, dan tidak akan dapat dilakukan oleh orang lain, untuk sementara dirahasiakan, aku sudah minta kepada anak-anak muda yang melihat usaha penyembuhan ini, agar mereka tidak mengatakan bahwa Kasdu menjadi lumpuh, buta dan tuli. Racun itu benar-benar telah melumpuhkan bukan saja kekuatan jasmaniah, tetapi juga pusat syarafnya. Dengan demikian, ketiga orang itu tidak akan berusaha untuk mencari, siapakah yang telah berhasil mengobati luka yang sebenarnya tidak terobati itu” Kidang Alit berhenti sejenak, lalu “Ki Buyut, ketahuilah, menilik ciri-cirinya ketiga orang itu adalah murid-murid dari perguruan yang dipimpin oleh Kiai Sekar Pucang”

“Kiai Sekar Pucang?” wajah Ki Buyut tiba-tiba menjadi semakin tegang.

“Apakah Ki Buyut pernah mendengarnya?” bertanya Kidang Alit.

“Aku pernah mendengar nama itu, tetapi sudah lama sekali. Pada waktu itu aku masih remaja, jika orang yang menjadi semamcam dongeng itu memang ada, ia sekarang sudah tua sekali”

“Mungking Ki Buyut, tetapi mungkin pula murid yang sangat dipercayainya, akan dapat menggantikan kedudukannya”

Ki Buyut nengangguk-angguk, iapun kemudian bergumam seperti kepada dirinnya sendiri “Menurut dongeng yang aku dengar, Kiai Sekar Pucang adalah orang yang tidak dapat mati, kebal dari segala macam senjata dan mampu melenyapkan diri dari tangkapan mata wadag, namun dibalik kemampuannya yang tidak terlawan itu, ia adalah orang yang paling bengis dimuka bumi.”

Tetapi Kidang Alit justru tertawa, katanya “Hanya sebagian kecil saja dari ceritera itu yang benar Ki Buyut, Kiai Sekar Pucang mamang seorang yang pilih tanding. Ia memang meiliki ilmu yang luar biasa, Lembu Sekilan, sehingga seolah-olah ia manjadi kebal.

Tetapi tidak ada orang yang tidak dapat mati. Ia pada suatu saat tentu kehilangan kekuatannya dan mati seperti kebanyakan orang. Selebihnya, ia sama sekali tidak dapat melenyapkan diri seperti yang memang pernah aku dengar”

“Jadi kau mendengar dongeng itu pula…?”

“Dongeng itu tersebar keseluruh tlatah Majapahit. Tatapi aku sama sekali tidak percaya bahwa seluruhnya itu benar. Apa lagi kemudian setelah Demak berhasil merebut kembali pusat pemerintahan Majapahit yang telah direbut oleh Kediri dari prabu Brawijaya Pamungkas.”

“Apa hubungannya dengan Demak..?”

“Kiai Sekar Pucang adalah selah seorang yang ikut serta merebut Majapahit dari Prabu Brawijaya. Tetapi ternyata ia tidak mampu mempertahankan pusat pemerintahan yang sudah direbutnya bersama pasukan Kediri itu dari serangan balasan yang dilakukan oleh Demak, dibawah pimpinan langsung Raden Patah, pasukan yang telah berhasil menduduki pusat pemerintahan Majapahit itupun segera terusir, dan Raden Patah berhasil menyelamatkan tanda-tanda kebesaran Majapahit dan dibawanya ke Demak”.

“Jadi siapakah Sekar Pucang yang sebenarnya?”

“Sekar Pucang, ia adalah Sekar Pucang”

“Ki Buyut termangu-mangu sejenak, namun tiba-tiba ia bertanya “Dan siapah kau sebenarnya?”

Kidang Alit mengerutkan keningnya. Kemudian sambil tersenyum ia menjawab “Aku adalah Kidang Alit, seorang anak yang bertualang, tanpa asal usul dan tujuan”.

“Aku sudah mendengar seribu kali jawaban yang demikian”

“Ki Buyut meragukan…?”

“Ya….”

Kidang Alit tertawa, katanya kemudian “Sudahlah Ki Buyut, jangan hiraukan aku. Aku adalah orang yang merantau dan kini telah berhasil menyelamtkan Kasdu disini. Tetapi ingat, hal ini adalah rahasia. Jika ternyata ketiga orang kelak mengetahui bahwa Kasdu tidak menjadi lumpuh, buta dan tuli, maka tentu ada salah seorang dari kita yang berada diruangan ini yang berkhianat. Akibatnya dapat dibayangkan. Orang-orang beracun itu akan marah dan akan bertebaranlah anak-anak muda yang mengalami nasib serupa Kasdu sebelum aku sebelum aku sembuhkan. Dan aku akan segera lari dari padukuhan ini, karena aku tidak mau mengalami nasib yang lebih buruk lagi dari kalian, tanpa berusaha untuk mengobati siapapun juga diantara kalian yang mengalami bencana itu.”

Ki Buyut mengangguk-angguk, katanya “Kami semuanya sudah mendengar keteranganmu Kidang Alit, kami akan berbuat seperti yang kau kehendaki, karena kami tidak mau melihat korban semakin banyak lagi”

“Terima kasih Ki Buyut, selama ini biarlah Kasdu berada disini, Ia harus dirawat seperti seorang yang lumpuh, buta tuli dan bisu.”

“Bagaimana dengan orang tuanya?”

“Orang tuanya tidak boleh mengetahui keadaan yang sebenarnya. Biarlah untuk sementara orang tuanya menganggap bahwa Kasdu memang lumpuh, buta, tuli dan bisu”

“Mereka akan menderita, dan apakah jawabku jika Kasdu diminta orang tuanya?”

“Biarlah ia disini, dan biarlah orang tuanya menderita untuk sementara waktu”

Ki Buyut termenung sejenak, namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil berkata “Baiklah Kidang Alit, Kasdu akan kami rawat disini, ia akan kami anggap sebagai seorang yang lumpuh, buta, tuli dan bisu. Aku berharap bahwa Kasdu sendiri akan dapat membantu, sehingga pelayan dan keluargaku yang lain tidak mengetahui keadaannya yang sebenarnya.”

Kemudian katanya “Kau mendengar sendiri Kasdu, He…! Bukankah kau sudah dapat mendengar??”

Kidang Alit berpaling kepada Kasdu yang terbaringdiam, Kasdu mengangguk kecil, katanya “Aku mendengar pembicaraan kalian”

“Bagus, terhadap orang lain kau harus berpura-pura buta, bisu, tuli dan lumpuh, kau mengerti?”

“Apakah aku harus memejamkan mataku?”

“Tidak perlu, mata itu dapat saja terbuka, tetapi kau tidak melihat apapun juga. Hati-hatilah, semuanya itu untuk kepentinganmu sendiri. Jika kau lengah, maka ketiga orang itu akan datang, dan barangkali mereka akan membunuhmu saat itu juga”

“Baiklah,” berkata Kasdu, lalu “Aku mengucapkan terima kasih kepadamu Kidang Alit”

“Lupakan, tetapi kau harus menjaga dirimu baik-baik. Kau akan baik kembali dalam waktu yang agak lama. Tiga atau empat bulan. Dan aku berharap bahwa kau akan dapat pulih kembali”

Kasdu menarik nafas dalam-dalam, hingga masih saja dicengkam berbagai macam perasaan, cemas, ngeri, gelisah dan campur-baurnya perasaan takut. Namun bahwa ia mempunyai kemungkinan yang jauh lebih baik karena pertolongan Kidang Alit, telah membuatnya terhibur, meskipun ia masih harus berbaring tiga sampai empat bulan”.

Sejenak kemudian, maka anak-anak muda itupun minta diri. Atas persetujuan Ki Buyut, maka anak-anak muda dianjurkan untuk tidak berbuat sesuatu, ketiga orang itu amat berbahaya.

“Jadi apakah kita harus membiarkan kesulitan itu terjadi untuk selanjutnya?” bertanya seorang bebahu padukuhan itu.

“Tentu saja hati kita tidak akan rela. Tetapi apa yang dapat kita lakukan ditempat yang terpencil ini?”

Bebahu itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali pasrah diri kepada Yang Maha Agung agar rakyat padukuhan terpencil itu dibebaskan dari bencana yang lebih dahsyat lagi.

Sepeninggal kawan-kawannya, Kasdu dengan sadar, menjadikan dirinya seorang yang buta, tuli dan lumpuh. Hanya dengan Ki Buyut dan orang-orang tertentu saja ia kadang-kadang melepaskan kepepatan dan ketegangan perasaan selama ia memerankan dirinya dalam keadaan yang parah.

Namun smentara itu, orang-orang Karangmaja mulai merasa diri mereka sangat terganggu oleh kehadiran tiga orang yang sama sekali tidak mereka kehendaki. Tetapi tidak seorangpun yang dapat mencegah mereka melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Bahkan dihari-hari terakhir mereka mulai menyebut beberapa ekor kambing yang gemuk, yang sering digembalakan oleh anak-anak Karangmaja dipinggir padukuhan.

“Sekali-sekali aku memerlukan kambing itu” berkata Kumbara kepada salah seorang anak yang sedang mengembalakan kambingnya.

Mula-mula anak tidak mengerti maksudnya, tetapi sehari kemudian, ia mengangis sepanjang malam, karena ternyata yang dimaksud oleh Kumbara adalah, bahwa kambing itu harus disembelih.

Ki Buyut menjadi sangat berprihatin atas kehadiran ketiga orang itu. Yang mereka minta semakin hari menjadi semakin banyak, dan kadang-kadang gawat, karena itulah sudah mulai terbayang diangan-angan Ki Buyut, bahwa pada suatu saat mereka minta lebih dari seekor kambing, bahkan seekor lembu, karena di Karangmaja banyak terdapat gadis-gadis yang memang sedang tumbuh. Dan diantara gadis-gadis itu terdapat seorang gadis yang sangat mereka hormati, Inten Prawesti.

Berita kehadiran orang-orang itu, pada akhirnya sampai juga ke telinga penghuni istana kecil itu, Nyi Upih yang mendengar pertama kali, segera menjadi cemas. Seperti bisik-bisik orang-orang di Karangmaja, bahwa hampir setiap oang mencemaskan anak-anak gadisnya, dan terutama Inten Prawesti.

“Jadi apa pendapatmu Nyai…?” bertanya Raden Ayu Narpada kektika Nyi Upih menyampaikan berita itu kepadanya.

“Untuk sementara, puteri sama sekali tidak boleh menampakkan diri Gusti. Ternyata bahwa di Karangmaja kini sedang mengintai dua ujung bahaya yang hampir sama, di Karangmajaada seorang anak muda bernama Kidang Alit. Nyai sudah mencemaskan kehadirannya, karena rasa-rasanya ia sangat tertarik kepada puteri”

“Dimana mereka dapat bertemu?”

“Kadang-kadang puteri keluar istana melihat-lihat bukit yang semakin hijau” Nyi Upih berhenti sejenak, lalu “Tetapi kemudian menyusul bahaya yang kedua, yang tidak kalah tajamnya dengan sikap anak muda yang bernama Kidang Alit itu. Keduanya dapat berbuat kasar jika niat mereka tidak dapat mereka penuhi dengan halus. Namun agaknya orang-orang kasar yang baru datang itu memang belum pernah melihat puteri”.

Raden Ayu Kuda Narpada menundukkan kepalanya. Dalam keadaan yang demikian, perasaanya bagaikan terbang menyusuri masa-masa lampaunya, selagi suaminya masih ada disampingnya. Suaminya adalah seorang senopati yang mumpuni, karena itu, jika suaminya ada, jangankan anak muda yang seoang, tiga atau empat orang sekaligus datang keistana itu, mereka akan kehilangan kesempatan untuk keluar lagi dalam keadaan hidup.

Tetapi suaminya kini sudah tidak dapat diharapkannya lagi. Pangeran Kuda Narpada pergi untuk saat yang tidak dapat diperkirakan. Bahkan mungkin tidak akan dapat kembali lagi kepadanya dan kepada anak gadisnya.

Setitik air menggenang dipelupuk mata puteri bangsawan itu. Kepada siapa ia minta perlindungan agar anaknya tidak terlibat dalam kesulitan.

“Gusti” desis Nyi Upihyang melihat luka dihati Raden Ayu itu menjadi semakin pedih” “Kita masih mempunyai pelindung yang paling bekuasa atas siapapun juga”

Raden ayu mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu ia bertanya “Siapa Nyai?”

“Nyai tidak begitu jelas, menurut tuntunan orang-orang yang pernah berhubungan dengan kekuasaan Demak sekarang. Mereka menyebutnya Yang Maha Kuasa”

Raden Ayu Kuda Narpada menarik nafas, katanya “Dewa-Dewa yang agung”

“Ya… Yang Tunggal, Yang Esa, tidak lebih”

Istana Yang Suram 3

Raden Ayu itu menundukkan kepalanya lagi, tetapi iapun mencoba untuk pasrah diri kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa itu.

Namun dalam pada itu, kecemasan, orang-orang Karangmaja menjadi semakin memuncak. Seorang anak gembala melihat ketiga orang itu berkuda dilereng pebukitan. Tetapi kemudian mereka berhenti dan memandang istana yang kecil itu dari arah belakang untuk waktu yang lama.

“Apakah yang mereka lakukan?” bertanya seorang anak muda kepada gembala itu.

“Waktu itu mereka tidak berbuat apa-apa selain memandanginya sambil berbicara satu sama lain”.

“Apa yang mereka bicarakan?”

“Tentu aku tidak mendengarnya. Aku berada ditempat yang agak jauh. Aku tidak berani memandang mereka terlampau lama, jika tangannya itu menyentuh pipiku, aku akan menjadi lumpuh sepeti Kasdu, lumpuh, buta, tuli dan bisu. Mengerikan sekali”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa wajib menyampaikan kepada Ki Buyut.

Berita kecil itu cukup membuat Ki Buyut menjadi semakin bingung, karena itu, maka iapun segera memanggil Kidang Alit, seorang anak muda, yang dianggapnya memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda Karangmaja sendiri.

“Mengerika sekali” desis Ki Buyut “Aku tidak tahu apakah kehadiran ketiga orang itu justru karena mereka tertarik kepada istana kecil itu. Mula-mula mereka tentu menyangka bahwa di istana kecil itu ada harta, kekayaan yang tidak ternilai. Tetapi pada suatu saat mereka tentu akan melihat daya tarik yang lain”

“Puteri itu” desis Kidang Alit.

“Ya… dan banyak kemungkinan dapat terjadi atas gadis itu” Kidang Alit mengerutkan keningnya. Terbayang wajah puteri yang cantik dihalaman istana kecil itu. Gadis yang sudah agak lama tidak dilihatnya.

“Pemomongnya itulah yang gila” desis Kidang Alit, namun kemudian “Tetapi ada juga baiknya untuk sementara gadis itu bersembunyi.”

“Kenapa dengan pemomongnya?” bertanya Ki Buyut.

“Tidak apa-apa, maksudku, pemomongnya harus lebih berhati-hati”

“Tetapi apakah daya mereka, Istana itu dihuni hanya oleh tiga orang dan semuanya perempuan”

“Apakah kalau ada seorang laki-laki dirmuah itu, maka gadis itu akan dapat diselamatkan dari ketiga iblis yang gila itu?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, katanya “Kidang Alit, agaknya kau bukan sekedar perantau, tetapi kau tentu seorang petualang yang senang mengalami peristiwa-peristiwa yang dahsyat dan keras. Ternyata dengan persiapan yang kau bawa. Kau mempunyai obat yang dapat menghentikan kerja racun yang ganas itu. Dan tidak mustahil kau menyembunyikan senjata dirumah janda itu”

“Akut memang mempunyai senjata Ki Buyut. Tetapi dalam keadaan serupa ini, maka senjataku itu harus aku sembunyikan. Jika ketiga orang itu melihat aku mempunyai senjata, maka umurku akan menjadi sangat pendek”.

Ki Buyut mengangguk-angguk, Ia menyadari, bahwa Kidang Alit seorang diri tidak akan dapat berbuat apa-apa. Sedangkan anak-anak muda Karangmaja sama sekali tidak dapat diharapkan untuk membantunya menghadapi ketiga orang yang ganas itu.

“Jadi apa yang dapat kita lakukan?”

Kidang Alit mengangkat bahunya, namun kecemasan nampak membayangi wajahnya.

“Untuk sementara kita hanya dapat mengamatinya saja” desis Kidang Alit.

“Apakah pada saat lain kau melihat pemecahan?”

“Sekarang belum Ki Buyut, tetapi kita tidak boleh diam sampai disini, kita akan berusaha meskipun kita tidak tahu apakah yang harus kita lakukan”

Ki Buyut menggigit bibirnya, kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berucap “Jika kita tidak berhutang budi kepada Raden Kuda Narpada dan seluruh keluarganya, beban kita tidak akan seberat sekarang. Maksudku, beban perasaan. Kita memang wajib menolong siapapun juga jika kita mampu. Tetapi terlebih-lebih karena seluruh penduduk Karangmaja pernah merasakan uluran tangan penghuni istana kecil itu”.

Kidang Alit mengangguk-angguk, katanya “Aku belum pernah merasa berhutang budi, tetapi akupun merasa wajib menolongnya. Ki Buyut, biarlah untuk sementara anak-anak mengawasinya”

“Kenapa anak-anak?”

“Mereka tidak akan mencurigai anak-anak kecil yang sedang menggembalakan ternak dipinggir padukuhan, atau dilereng-lereng bukit-bukit.”

“Tetapi apakah yang dapat dilakukan oleh anak-anak itu?”

“Mereka hanya melihat-lihat, apa yang dilakukan oleh ketiganya”

“Dan kita menyuruh anak-anak itu menggembalakan di lereng bukit di belakang istana kecil itu?”

“Jangan ada perubahan apapun yang dilakukan oleh anak-anak itu sehari-hari. Setiap perubahan keadaan tentu tidak akan lepas dari pengamatan ketiga iblis itu. biarlah anak-anak menggembalakan seperti biasanya. Yang bermain-main dengan seruling, meskipun iramanya tidak tepat, biarlah mereka bermain-main seperi biasanya. Kita tidak usah berpesan apa-apa kepada mereka”

“Lalu…”

“Setiap kali saja kita bertanya, apakah mereka melihat ketiga orang itu? bukankah tanpa kita pesan, anak-anak itu merasa bahwa wajib ikut mengawasi ketiga orang itu? Ternyata salah seorang dari mereka telah memberitahukan kepada kita bahwa tiga orang itu sedang mengamati istana kecil itu dari kejauhan”

Ki Buyut mengangguk-angguk, ia sadar, bahwa anak-anak masih belum mampu membuat pertimbangan-pertimbangan sebaik-baiknya, sehingga jika mereka menyadari bahwa mereka harus mengawasi orang-orang itu. maka mereka akan melakukan perbuatan yang aneh-aneh yang justru akan dapat menimbulkan kecurigaan, atau sebaliknya, justru anak-anak itu akan menjadi ketakutan.

“Agaknya memang baru itulah yang dapat kita lakukan” berkata Ki Buyut kemudian.”

“Dan pesan kepada Nyi Upih, bahwa mereka yang tinggal di istana itu harus semakin berhati-hati” sambung Kidang Alit.

Namun ternyata bahwa pesan yang kemudian sampai ketelinga Nyi Upih saat-saat ia pergi ke padukuhan, membuat perempuan itu menjadi cemas, tetapi seperti biasanya, ia tidak mau membuat Gusti dan momongannya menjadi bertambah gelisah. Sehingga karena itu kecemasannya ditahankannya didalam hatinya sendiri.

Tetapi seperti peristiwa beruntun yang tidak dapat dimengerti, selagi istana kecil itu dicengkam oleh ketakutan, sekali lagi padukuhan Karangmaja dikejutkan oleh kehadiran dua orang berkuda yang tidak mereka kenal.

Selagi orang-orang Karangmaja sibuk bekerja disawah, tiba-tiba saja seorang anak muda berlari-lari mendapatkan kawannya sambil bertanya.

“Kau melihat debu yang mengepul itu?”

“Dua orang berkuda” desis kawannya.

Anak muda yang berlari-lari itu menganggukkan kepalanya. “Apalagi yang akan terjadi dipadukuhan yang kecil ini?”

“Kita harus memberitahukan Ki Buyut”

“Terlambat, kuda-kuda itu akan segera mamasuki padukuhan”.

Keduanya termangu-mangu, namun mereka sempat melihat dua orang penumpang kuda itu.

Ketika kuda itu mendekati padukuhan Karangmaja, maka keduanya mengurangi kecepatan. Bahkan kemudian mereka berhenti sejenak sambil mengamati gerbang padukuhan.

Ternyata bukan hanya kedua anak muda itu saja yang terpaku melihat kedua penumpang kuda itu. beberapa orang yang lain, yang sedang bekerja di sawahpun telah terpaku pula. Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat dua orang berkuda diatas dua ekor kuda yang tegar. Yang seekor berwarna kelabu kehitam-hitaman, yang lain berwarna merah sawo.

Kedua nak muda yang memperhatikan kedua penunggang kuda berdesis “He, lihat, pakaian mereka seperti pakaian Pakaian Kuda Narpada, pada saat Pangeran datang”

“Ya…, jika demikian, agaknya keduanya adalah bangsawan-bangsawan yang lain”.

“Jauh berbeda dengan orang-orang kasar yang telah berada di padukuhan itu”.

Namun tiba-tiba yang seorang menyahut “Tetapi apakah keduanya tidak akan masuk kedalam sarang tiga ekor serigala yang paling ganas”, ketiga orang itu tidak menghendaki kehadiran kedua bangsawan itu, maka tentu akan terjadi benturan-benturan diantara mereka”.

Yang lain tidak menyahut, ia memandang dengan tajamnya kepada kedua penunggang kuda yang sejenak kemudian telah memasuki padukuhan.

Seperti saat-saat kedatangan ketiga orang-orang kasar itu, maka kedua orang bangsawan itupun berhenti diujung padukuhan dan bertanya kepada orang tua “Ki sanak, maaf, apakah Ki Sanak dapat menunjukkan rumah Ki Buyut?, maksudku Ki Buyut Karangmaja, bukankah ini padukuhan Karangmaja?”

“Ooo…, tentu Tuan-tuan, tetapi siapakah tuan-tuan ini?”

Kedua orang yang masih berada diatas punggung kudanya itu tersenyum. Yang seorang yang masih muda menyahut “Kami adalah petualang-petualang yang tersesat sampai ketempat ini”.

Tetapi orang tua itu menjawab “Tuan tidak tersesat, ini memang padukuhan Karangmaja”

“Terima kasih Ki Sanak” penunggang kuda yang separuh baya itu menyahut.

Orang tua itupun menunjukkan arah untuk sampai kerumah Ki Buyut Karangmaja.

“Jalanlah terus tuan, jalan ini menuju ke rumah Ki Buyut” orang tua itu tertegun sejenak, lalu “Tetapi, tetapi……..” ia menjadi ragu-ragu untuk meneruskan.

“Ada apa Ki Sanak?” bertanya penunggang kuda yang sudah separuh baya.

“Maaf tuan-tuan, aku tidak dapat mengatakannya”.

Kedua penunggang kuda itu termangu-mangu, nampak sesuatu bergejolak dihatinya.

“Sebaiknya katakana saja Ki Sanak” desis yang muda “Kami akan sangat berterima kasih kepadamu”

Orang itu termangu-mangu sejenak, ada maksudnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi nampaknya ia menjadi ketakutan untuk menyebutnya.

Kedua orang berkuda itu saling berpandangan sejenak. Kemudian orang yang tua itu berkata sambil tersenyum “Apakah ada suatu yang menakut-nakutimu Ki Sanak?”

“Tuan sebaiknya tuan-tuan pergi saja ke rumah Ki Buyut. Nanti tuan akan mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi di padukuhan ini”.

Kedua orang berkuda tersenyum. Mereka tidak dapat memaksa orang tua itu untuk berkata sesuatu, karena itu maka yang mudapun menyahut “Baiklah Ki Sanak, Kami akan pergi ke rumah Ki Buyut”

“Berhati-hatilah tuan”

Penunggang kuda yang muda tertawa, katanya “Aku sudah menempuh perjalanan beratus-ratus bahkan beribu tonggak, tetapi baiklah, aku akan sangat berhati-hati disisa perjalanan ini hanya tinggal beberapa puluh langkah ini”

Orang tua itu tidak berkata apapun lagi, ia memandang saja kedua penunggang kuda yang meninggalkannya sambil melambaikan tangannya.

Namun sejenak kemudian penunggang kuda yang muda itupun berkata, “Paman, agaknya memang ada sesuatu yang terjadi di padukuhan ini, mungkin kita memang harus berhati-hati”

“Ya, ngger, orang tua itu tentu berkata sebenarnya, mudah-mudahan kita akan dapat mengatasi semua kesulitan yang akan terjadi”.

Yang muda tersenyum, katanya “Kita tidak boleh bimbang. Kita sudah mulai melangkahkan kaki, kita mendapat kepercayaan yang besar dari tugas ini”

Yang tua tersenyum, katanya “Aku yakin akan kemampuan anakmas. Mudah-mudahan pula, aku dapat membantu sebaik-baiknya seperti yang diharapkan”.

Keduanya terdiam, diahapan mereka nampak regol halaman yang agak lebih besar dari regol-regol yang lain.

“Itulah rumah Ki Buyut, regolnya nampak lebih besar dan halamannya cukup luas seperti yang dikatakan oleh orang tua itu” berkata yang tua.

“Agaknya memang regol itu regol halaman rumah Ki buyut paman. Kita sudah sampai dengan selamat. Tetapi bukan berarti kita tidak harus tetap waspada. Mungkin bahaya yang dimaksud berada didalam halaman itu, atau mungkin setiap saat setelah kita berada disini”.

Yang tua tidak menjawab, namun nampak wajahnya menjadi agak tegang, alisnya berkerut dan dengan sungguh-sungguh ia berkata “Semuanya mungkin terjadi, anakmas”

Keduanyapun terdiam ketika mereka berada di regol halaman. Untuk sesaat keduanya termangu-mangu. Mereka melihat beberapa anak-anak muda di halaman yang terkejut melihat kehadirannya.

“Apakah kita akan langsung masuk?” bertanya yang muda.

“Agaknya demikian anakmas, anak-anak muda itu tentu tidak berbahaya bagi kita asal kita bersikap baik kepada mereka”.

Keduanya kemudian memasuki halaman rumah Ki Buyut. Meskipun nampaknya keduanya tenang-tenang saja, namun keduanya tidak lepas dari kewaspadaan.

Ki Buyut yang sudah diberi tahu bahwa ada dua orang tamu memasuki regol halaman, dengan tergopoh-gopoh menyongsongnya. Menurut ujud lahiriahnya, tamu-tamunya kali ini jauh berbeda dengan tiga orang yang berkuda yang telah masuk ke padukuhan itu dan bahkan telah menyakiti Kasdu.

Kedua penunggang kuda itupun kemudian meloncat turun ketika mereka melihat beberapa orang menyongsong.

Ki Buyut yang berjalan paling depan, mendekati kedua orang itu sambil berkata “Aku adalah buyut di Karangmaja. Maaf tuan-tuan, kami di padukuhan ini belum pernah melihat tuan berdua. Perkenankanlah sebelum kami mempersilahkan tuan-tuan naik ke pendopo, kami ingin bertanya, siapakah tuan berdua?”

Kedua penunggang kuda itu saling berpandangan sejenak, terasa adanya kecurigaan pada Ki buyut itu, sehingga dengan demikian keduanya menjadi semakin yakin bahwa pernah terjadi sesuatu di padukuhan ini.

Yang muda dari kedua orang berkuda itupun kemudian mengangguk hormat sambil menjawab. “Maaf Ki buyut, mungkin kedatangan kami agak mengejutkan Ki buyut, jika Ki Buyut ingin mengetahui siapakah kami berdua maka kami akan memperkenalkan diri. Kami berdua datang dari jauh, kami adalah keluarga istana Demak.”

“Ooo…” Ki Buyut mengangguk hormat, menilik pakaiannya ia memang sudah menduga.

“Namaku Kuda Rupaka”.

“Kuda Rupaka” Ulang Ki Buyut, namun orang yang berkuda yang tua itu menyahut “Raden Kuda Rupaka”

“Oh maaf Raden, jadi nama lengkap Raden adalah Raden Kuda Rupaka”

“Demikianlah” anak muda itu tersenyum, lalu “Dan kawanku ini adalah paman Sura Wilaga”

“Raden Sura Wilaga” ulang Ki Buyut.

“Sebutlah Panji Sura Wilaga” sebut anak muda yang bernama Raden Kuda Rupaka itu.

“Panji Sura Wilaga…. Ki Buyut mengucapkannya lagi diluar sadarnya. Lalu seperti orang terbangun ia bertanya serta merta “Jadi Raden keduanya adalah bangsawan dari Demak?”

“Raden Kuda Rupaka tersenyum pula, jawabnya “Begitulah, aku adalah saudara sepupu Sultan di Demak sekarang”.

“Ooo maafkan kami Raden, kami sama sekali tidak mengetahui meskipun seharusnya menilik pakaian dan kelengkapan Raden kami harus sudah menduga bahwa Raden berdua datang dari pusat kerajaan.”

Raden Kuda Rupaka masih tersenyum saja, katanya “Kau tidak bersalah sama sekali, meskipun kami dari istana Demak, tetapi bukan untuk menakut-nakuti orang-orang pedesaan, kami datang sebagai orang biasa. Disini, Ki Buyut adalah orang yang paling berkuasa. Kami adalah tamu-tamu Ki Buyut sehingga kamipun harus menyesuaikan diri, karena kami sadar bahwa padukuhan Karangmaja, kami berada dibawah keuasaan Ki Buyut”.

“Ah…, Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam sejenak, ia memandang wajah kedua orang bangsawan itu. katanya didalam hati “Agaknya bangsawan-bangsawan ini rendah hati seperti Raden Kuda Narpada”

Selagi Ki Buyut tarmangu-mangu, maka Raden Kuda Rupaka bertanya “Ki Buyut, apakah Ki Buyut dapat menerima kedatanganku setelah Ki Buyut tahu serba sedikit tentang aku dan paman Sura Wilaga?”

Sekali lagi Ki Buyut seperti tersentak dari tidurnya “Tentu…tentu Raden. Marilah, aku persilahkan Raden berdua naik ke pendapa”

Tetapi Raden Kuda Rupaka menggelengkan kepalanya, katanya “Terima kasih Ki Buyut, sebaiknya aku tidak usah naik, jika Ki Buyut tidak berkeberatan aku berada di padukuhan ini, maka akupun tidak akan segera melanjutkan perjalananku”.

“Aku tidak mengerti Raden” Ki Buyut menjadi bingung.

“Maksudku, akhir dari perjalananku, berdua aku akan menghadap bibi Kuda Narpada”

“He…, jadi Raden masih keluarga Pangeran Kuda Narpada?”

“Aku masih saudara sepupunya”.

“Oooo…..” Ki Buyut mengusap dadanya, “ Raden… kedatangan Raden seperti titiknya embun dipanas yang terik. Adalah kebetulan sekali sekali jika Raden berdua ingin mengunjungi Raden Ayu Kuda Narpada, agaknya sekarang waktunya memang tepat sekali”

“Kenapa…?” Kuda Rupaka mengerutkan keningnya. Lalu “Apakah ada hubungannya dengan pesan orang tua di ujung padukuhan ini?”

“Apa pesannya…?”

“Aku tidak mengenal orang tua itu, orang tua itupun belum mengetahui siapa aku. Tetapi ia sudah berpesan agar aku sangat berhati-hati”

“Mungkin Raden, mungkin sekali…” Ki Buyut mengangguk-angguk. “Karena itu, silahkan Raden duduk sejenak, mungkin kami dapat menceritakan apa yang sudah terjadi”.

Kuda Rupaka memandang Panji Sura Wilaga sejenak, lalu desisnya “Apakah kita akan singgah..?”

“Sebentar saja ngger, kita harus segera sampai kepada bibi anakmas”

“Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu, “Baiklah KI Buyut, tetapi tidak terlalu lama, aku sudah sangat rindu kepada keluarga pamanda Kuda Narpada”

Kedua tamu Ki Buyut itupun kemudian dipersilahkan naik kependapa, dan duduk diatas sebuah tikar pandan yang putih kekuning-kuningan.

Beberapa orang anak muda yang mendengar percakapan Ki Buyut denga kedua bangsawan itupun kemudian menyampaikan kepada kawan-kawannya yang saling memperbincangkannya.

Dipendapa Ki Buyut menceritakan apa yang sudah terjadi di padukuhan kecilnya. Kedatangan orang-orang yang membuat seluruh penduduk padukuhan itu menjadi cemas, apabila agaknya mereka menaruh perhatian kepada istana kecil yang sejak kepergian Pangeran Kuda Narpada, istana itu seperti kehilangan gairah hidupnya.

“Jadi, orang-orang itu agaknya mulai tertarik kepada istana pamanda Kuda Narpada yang kosong itu?”

“Begitulah Raden” jawab Ki Buyut yang tidak lupa menceritakan Kasdu yang berbaring di ruang dalam.

“Jadi anak muda itu menjadi lumpuh, tuli, buta dan bisu?”

Ki Buyut ragu-ragu sejenak, Apakah ia akan mengatakan bahwa seorang anak muda bernama Kidang Alit telah dapat menyembuhkannya.

Namun akhirnya Ki Buyut memutuskan untuk tetap memegang rahasia itu, namun agaknya kedua bangsawan itu dapat dipercayai. Tetapi jika pengakuan itu didengar dan diketahui oleh orang lain, maka, hal itu akan membahayakan jiwa Kasdu”

Karena itu Ki Buyut yang termangu-mangu itu tidak segera menjawab, maka, Kuda Raden Rupakapun berkata “Apakah aku boleh melihat anak yang sakit itu Ki Buyut?”

Ki Buyut masih ragu-ragu.

“Ah… baiklah Ki Buyut” berkata Raden Kuda Rupaka “Aku mengerti bahwa Ki Buyut tidak akan dapat langsung mempercayai sesorang yang baru saja dikenalnya. Tetapi menilik cerita Ki Buyut, aku dapat menduga. Bawha ketiga orang itu tentu bukan orang-orang kebanyakan. Dan karenanya aku memang harus berhati-hati. Tetapi karena aku memang tidak mempunyai maksud apa-apa, selain menengok kesehatan bibi, maka aku kira, mereka tidak akan marah kepadaku. Tetapi apabila mereka akan marah juga, maka sudah barang tentu, kami akan memberikan banyak penjelasan tentang maksud kedatangan kami dengan segala macam cara. Mungkin cara-cara yang tidak biasa dipergunakan orang lain”.

Ki Buyut masih termangu-mangu sejenak, namun kemudian “Baiklah Raden, tetapi sebaiknya Raden harus berhati-hati”.

“Terima kasih Ki Buyut, tetaoi baiklah besok aku akan kembali kemari, jika sudah ada kepercayaan dari Ki Buyut tentang dan paman Panji Sura Wilaga, karena Ki Buyut benar-benar mengetahui bahwa aku berada di istana bibi Kuda Narpada. Maka, aku tidak berkeberatan jika aku diperkenankan melihat anak muda yang bernama Kasdu itu. mungkin aku mempunyai cara untuk mengobatinya, jika aku belum terlampau lambat”.

“Mengobati..?”

“Yaa… kenapa…?”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, semula ia mendengar dari orang yang memukul Kasdu, bahwa kemungkinan yang paling buruk itu tidak akan ada orang yang dapat mengobatinya. Kemudian datang Kidang Alit, dengan obat-obatan yang ada. Ia berhasil menawarkan racun yang mencengkam tubuh Kasdu, dan yang akan membuatunya lumpuh, bisu, tuli dan buta itu. tetapi Kidang Alit mengatakan bahwa jarang sekali, bahkan hampir tidak ada orang yang dapat mengobatinya kecuali Kidang Alit Sendiri. Tetapi ternyata anak muda yang bernama Kuda Rupaka itu sanggup pula untuk mengobatinya.

Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba telah timbul pikiran lain pada Ki Buyut, menurut pengamatannya, bangsawan-bangsawan itu tentu bukan orang yang bermaksud jahat. Sehingga apa salahnya jika mereka dapat juga melihat dan mengenal dan mengetahui keadaan Kasdu yang sebenarnya.

“Ki Buyut…” berkata Raden Rupaka kemudian, “kenapa Ki Buyut nampak ragu-ragu, ketika aku mengatakan bahwa aku akan berusaha mengobati luka-luka anak itu..?”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, saat itu Kidang Alit tidak nampak berada di halaman, sehingga ia tidak dapat meminta pertimbangannya.

Namun akhirnya Ki Buyut berniat untuk memperlihatkan Kasdu kepada kepada kedua bangsawan itu. kemudian, ia akan berbuat sesuatu dengan tanggapan kedua orang itu atas Kasdu.

“Raden…” berkata Ki Buyut kemudian, “Sebenarnyalah bahwa anak yang terluka itu ada disini. Terus terang aku memang ragu-ragu karena aku belum pernah mengenal Raden sebaik-baiknya. Tetapi agaknya Raden dapat dipercayai, sehingga aku akan memperlihatkan anak yang terluka itu kepada Raden”.

Kuda Rupaka tertawa pendek, katanya “Terserahlah kepada Ki Buyut, jika Ki Buyut percaya kepada kami, baiklah kami akan melihatnya. Seperti aku katakan, jika aku masih belum terlambat, maka aku mencoba mengobatinya, karena menilik keteranganmu, luka-luka itu disebabkan oleh sabangsa racun yang kuat”.

“Baklah Raden, marlah, aku persilahkan Raden pergi ke ruang belakang.”

Demikianlah maka Ki Buyut itupun membawa Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga keruang belakang, ketempat Kasdu masih terbaring diam.

“Inilah anak muda itu”.

Kuda Rupaka mendekatinya, dipandanginya Kasdu dengan sekasama. Beberapa kali ia menyentuh tubuh Kasdu dengan jari-jarinya, bahkan kemudian pada noda-noda di wajahnya.

“Apakah ia benar-benar lumpuh, bisu, tuli dan buta?” bertanya Kuda Rupaka.

“Benar Raden”

Sejenak Kuda Rupaka terdiam, lalu “Apakah ia melihat atau mendengar kedatanganku?”

“Tentu tidak Raden…”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, perlahan-lahan ia meraba dahi Kasdu kemudian dadanya dan terakhir disusupkannya tangannya dibawah tengkuknya.

Tiba-tiba Kuda Rupaka tersenyum, katanya “Kenapa Ki Buyut menipu aku?”

“Menipu ?, Maksud Raden.?”

“Ki Buyut benar, bahwa anak ini telah terkena racun yang dapat membuatnya lumpuh, karena syarafnya langsung dilumpuhkan oleh racun tiu”

“Ya… jadi kenapa Raden mengatakan aku telah menipu ?”

“Tetapi anak ini tidak lumpuh, buta dan tuli… meskipun ia tidak bergerak dan tidak menunjukkan tanggapan apapun atas kedatanganku, seolah-olah ia memang tidak melihat dan tidak mendengar, namun aku mengetahui dengan pasti, bahwa sudah ada obat yang dapat menyembuhkannya”.

Dada Ki Buyut menjadi berdebar-debar, dalam beberapa hari ia harus menyaksikan beberapa macam peristiwa yang seolah-olah berada diluar jangkauan nalarnya.

Mula-mula sentuhan tangan kasar, yang membuat Kasdu menjadi kehilangan kesadaran dan kelumpuhan syarat mutlak. Kemudian ia melihat Kidang Alit berhasil mengobatinya meskipun Kasdu baru akan dapat pulih dengan perlahan-lahan dalam waktu yang cukup lama, yang dapat mengerti apa yang sebenarnya dihadapi. Kasdu sudah tidak lagi lumpuh, buta, tuli dan bisu.

Dalam kebingungannya itu Ki Buyut bertanya diluar sadarnya “Dari mana Raden mengetahui bahwa anak itu sudah diobati ?”

“Ujung jari-jariku tidak dapat dikelabui meskipun mungkin mata dan telingaku dapat, aku yakin bahwa anak ini akan sembuh dalam jangka yang pendek. Antara tiga atau empat bulan, bukanjah begitu..?”

“Maaf Raden, bukan maksudku untuk menipu, tetapi aku hanya ingin berhati-hati”.

“Aku tahu, sebab jika orang yang melukai anak ini mengetahui bahwa kelumpuhan syaraf itu dapat disembuhkan, ia akan datang dan membunuhnya dengan cara lain. Mungkin anak ini akan decikik atau langsung ditusuk jantungnya dengan belati atau keris yang mengandung warangan yang kuat, dan ditungguinya sampai ia yakin bahwa anak ini mati”

“Ya… ya Raden” Ki Buyut tergagap.

“Baiklah, aku justru bersyukur bahwa sudah ada seorang yang mengobatinya. Siapakah yang mengobati itu?”

Bab 4

“Baiklah, aku justru bersyukur bahwa sudah ada seorang yang mengobatinya. Siapakah yang mengobati itu?”

“Seorang petualang yang singgah di padukuhan ini, Raden”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, kemudian bertanya “Ki Buyut, apakah Ki Buyut mengetahui, siapakah yang sudah melukai anak ini dan yang menyembuhkannya?”

“Yang aku ketahui adalah mereka yang ada di padukuhan ini”

Kuda Rupaka menarik nafas. Katanya “Mungkin orang yang kau ceritakan itu adalah orang yang tertentu dengan ciri-ciri tertentu, sehingga orang-orang yang ada di padukuhan ini, jelasnya tiga orang yang kasar itu itu adalah sebagian dari kesatuan yang jauh lebih besar lagi”

“Kami yang di padukuhan ini tidak mengetahuinya Raden”

Kuda Rupaka mengangguk-anggukan kepalanya, lalu katanya “KI Buyut, baiklah aku memberitahukan kepada Ki Buyut. Bukan maksudku membuat Ki Buyut bertambah kecil. Yang melukai anak muda ini tentu seorang yang datang dari perguruan yang namanya sangat dikagumi, Guntur Geni”

“Guntur Geni” Ki Buyut mengulang. Namun ia menjadi heran. Kidang Alit pernah juga menyebut sebuah perguruan, tetapi perguruan itu dipimpin oleh Kiai Sekar Pucang, yang masa mudanya tersebar semacam dongeng bahwa orang yang bernama Kiai Sekar Pucang itu tidak dapat mati, kebal dari segala macam senjata dan dapat melenyapkan diri dari tangkapan mata wadag. Tetapi kini anak muda yang bernama Raden Kuda Rupaka itu menyebut sebuah perguruan lain. Perguruan Guntur Geni.

“Apakah Ki Buyut pernah mendengarnya?” bertanya Kuda Rupaka kemudian.

Ki Buyut menggeleng dengan ragu-ragu. Jawabnya “Belum Raden, aku belum pernah mendengar nama perguruan itu”.

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian “Perguruan Guntur Geni adalah perguruan yang dipimpin oleh seorang yang menyebut dirinya seperti nama seorang sakti pada masa beberapa puluh tahun yang lalu. Mungkin ia adalah muridnya yang paling dikasihi sehingga ia berhak memasuki namanya pula”.

“Siapakah nama itu?” tiba-tiba Ki buyut menjadi ingin tahu.

“Kiai Sekar Pucang”

“Ooo….” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia baru saja menemukan sesuatu yang baru saja hilang”.

“Apakah Ki Buyut pernah mendengar nama itu?”

“Dahulu Raden. Pada masa aku masih muda, Kiai Sekar Pucang adalah orang yang sangat sakti, ia tidak dapat mati dan kebal, bahkan dapat menghilang”.

Kuda Rupaka tertawa, mirip sekali dengan saat-saat Kidang Alit tertawa, ketika ia mendengar kesaktian Kiai Sekar Pucang yang diucapkannya. Dan yang dikatakan oleh Rupakan ternyata mirip sekali pula. “Tidak seluruhnya benar Ki Buyut, Kiai Sekar Pucang memang memiliki aji Lembu Sekilan. Tidak lebih. Memang jarang yang ada orang yang memiliki ilmu itu. Tetapi ada pula ilmu yang akan dapat menembus kekuatan daya tahan aji Lembu Sekilan, sehingga aji itu hampir tidak berarti sama sekali.”

Ki Buyut mengangguk-angguk, rasa-rasanya ia berhadapan sekali lagi dengan Kidang Alit. Apalagi ketika Kuda Rupaka berkata “Tetapi sudah barang tentu bahwa Kiai Sekar Pucangpun akan mati, tidak ada orang yang tidak dapat mati”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Dalam saat-saat terakhir ia menghadapi banyak sekali teka-teki yang harus dipecahkannya, disamping kegelisahan yang memuncak karena tingkah tiga orang kasar yang sudah beberapa saat berada dipadukuhannya yang kecil.

Beberapa tahun yang lalu. Ki Buyut menjadi cemas ketika Pangeran Kuda Narpada menyatakan keinginannya tinggal di padukuhan ini. Karena dengan demikian akan dapat mengundang banyak persoalan. Tetapi ternyata yang terjadi kemudian adalah kemajuan dan harapan bagi penduduk padukuhan kecil yang terpencil itu. namun justru setelah Pangerang Kuda Narpada pergi, bahkan untuk waktu yang sudah cukup lama. Yang dahulu pernah dicemaskan itu baru datang, diikuti dengan kehadiran orang-orang yang dianggap aneh.

Karena Raden Kuda Rupaka menyebut beberapa hal yan mirip sekali dengan yang dikatakan oleh Kidang Alit, maka Ki Buyut mulai dibebani lagi oleh pertanyaan yang semakin menekan hatinya “Siapakah sebenarnya Kidang Alit itu?”

“Ki Buyut…, berkata Raden Kuda Rupaka kemudian, “Baiklah untuk sementara aku minta diri, aku akan menghadap bibi Kuda Narpada. Mungkin kedatanganku dapat memberikan suasana yang agak baik bagi keluarganya meskipun aku tidak akan tinggal terlampau lama di istana itu”.

“Jadi Raden hanya akan tinggal sebentar di padukuhan ini?”

Kuda Rupaka tersenyum, katanya “Aku hanya menengok keselamatan bibi, aku mempunyai tugas tertentu yang tidak dapat terlampau lama aku tinggalkan”

Ki Buyut mengangguk-angguk sejenak. Tetapi sebagai orang tua ia tidak dapat menahan hati dan berkata “Raden…, agaknya istana kecil itu kini terancam. Kehadiran Raden adalah suatu kebetulan. Jika Raden dapat membantu Raden Ayu Kuda Narpada, maka alangkah gembiranya hati kami, penduduk padukuhan terpencil yang merasa pernah berhutang budi kepada penghuni istana itu. Pangeran Kuda Narpada telah memberikan banyak sekali kepada kami, dan kami tidak mampu untuk berbuat apapun juga.”

Kuda Rupaka tersenyum, katanya “Baiklah, Ki Buyut, kami berdua akan berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan bibi”.

Namun tiba-tiba Ki Buyut bertanya “Raden, apakah Raden tidak mengetahui, kemanakah Pangeran Kuda Narpada itu pergi?”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, dipandanginya Panji Sura Wilaga, namun orang itu tidak memberikan tanggapan apapun.

Karena itu, maka Kuda Rupaka berkata “Pamanda Kuda Narpada pergi ke tempat yang tidak diketahui, tetapi sebaiknya kita tidak usah berbicara tentang sesuatu yang tidak aku mengerti dengan pasti. Jika aku membuat kesalahan, akibatnya mungkin akan sangat merugikan. Baik bagiku sendiri maupun bagi pamanda Kuda Narpada”.

“Tetapi Pangeran Kuda Narpada masih hidup?”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, sekilas ia berpaling memandang Panji Sura Wilaga. Namun kemudian ia berhasil menguasai perasaan dan menjawab sambil tersenyum. “Tentang pamanda Kuda Narpada, itupun aku tidak mengetahui dengan pasti, karena itu, jangan berbicara lagi tentang pamanda Kuda Narpada”

Ki Buyut hanya dapat mengangguk-angguk, tetapi beberapa patah kata itu agaknya telah menumbuhkan harapan di dalam dadanya, bahwa Pangeran Kuda Narpada masih diliputi oleh rahasia yang tidak terpecahkan. Kemanakannya sendiripun tidak mengetahui dengan pasti. Tetapi dengan dengan demikian berarti bahwa belum dapat dipastikan bahwa Pangeran Kuda Narpada telah tidak ada lagi.

Meskipun demikian, Ki Buyut sama sama sekali tidak mendesak lagi. Ia tidak mau membuat kedua orang itu membuat kesan yang kurang baik padanya, sehingga dapat menyulitkan hubungan buat selanjutnya.

Karena itu, maka, Ki Buyutpun berkata “Maaf Raden, aku tidak berniat memberikan pertanyaan yang kurang Raden senangi, tetapi baiklah, jika Raden ingin pergi ke istana yang menjadi semakin suram itu, aku persilahkan Raden menyelusuri jalan ini, satu-satunya jalan yang melalui depan regol istana kecil itu.” Ki Buyut berhenti sejenak, lalu. “Tetapi apakah Raden memerlukan seorang pengantar yang akan menunjukkan jalan ke istana itu?”.

“Aku sudah menempuh perjalanan yang jauh sekali, dan aku dapat menemukan padukuhan ini, karena itu, aku tidak memerlukan penunjuk jalan untuk menghabiskan sisa perjalanan yang tinggal beberapa langkah saja ini”

Ki Buyut mengangguk-angguk, lalu katanya “Sebenarnya kami ingin menjamu Raden berdua….” ia berhentu senenak, lalu dengan ragu-ragu ia berkata “Mungkin dengan demikian kami dapat mengurangi kesibukan Raden Ayu di Istana kecil itu”.

Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, lalu “Jadi apakah keadaan bibi sudah terlampau sulit sekarang ini..?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, katanya “Selama ini tidak ada penghasilan apapun juga bagi Raden Ayu, sedangkan mereka harus membiayai hidup mereka sehari-hari”.

“Dan tidak ada seorangpun yang membantunya…?”

“Kami sudah berusaha, tetapi Raden Ayu Kuda Narpada tidak terlampau mudah menerima bantuan orang lain, bahkan untuk memperbaiki atap istananyapun Raden Ayu belum dapat menerimanya”.

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, lalu “Keteranganmu mendorong aku untuk lebih cepat lagi mengunjungi bibi” ia berhenti sejenak, lalu berpaling kepada Panji Sura Wilaga “Marilah Paman, kita segera pergi ke rumah bibi”

Demikianlah Raden Kuda Rupaka segera meninggalkan rumah Ki Buyut dan langsung menuju ke istana kecil yang terpisah beberapa tonggak dari padukuhan induk.

Disepanjang jalan padukuhan beberapa orang dengan termangu-mangu memandang kedua orang penunggang kuda itu, sebagian dari mereka telah mengetahui bahwa keduanya telah singgah beberapa saat di rumah Ki Buyut di Karangmaja.

Sebagian dari mereka telah ditumbuhi oleh harapan, bahwa keduanya akan membuat perubahan-perubahan didalam padukuhan itu. kehadiran tiga orang kasar yang memiliki kemampuan mengerikan itu telah membuat Karangmaja serasa diselubungi oleh kecemasan dan ketakutan.

“Apakah kehadiran keduanya itu dapat merubah suasana?” bertanya seorang kepada kawannya.

Kawannya menggelengkan kepalanya, katanya “Tidak seorangpun yang mengerti, tetapi mungkin justru sebaliknya, kedua orang itu akan mengalami nasib yang serupa dengan Kasdu.”

“Kasihan sekali, apakah dengan demikian berarti Raden Ayu Kuda Narpada yang sudah dalam kesulitan itu harus menanggung dua orang lumpuh, bisu, tuli dan buta…?”

Kawannya mengangkat bahunya, tetapi ia tidak menjawab. Dalam pada itu, kedua ekor kuda berderap terus menuju ke istana kecil itu. tidak terlampau cepat, karena keduanya tenggelam dalam pembicaraan yang bersungguh-sungguh.

“Paman” berkata Kuda Rupaka, “Ternyata dipadukuhan ini tinggal beberapa orang dari perguruan Guntur Geni, itu merupakan tanda bahaya bagi kehadiran kita, meskipun kita tidak harus melarikan diri.”

“Bukan hanya dari perguruan Guntur Geni Raden, tetapi masih ada yang harus kita pertimbangkan”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, lalu “Ya… ternyata ada orang yang mampu melawan kekuatan racun dari perguruan Guntur Geni itu, siapakah kira-kira orang itu?”

Sura Wilaga menggelengkan kepalanya, katanya “Sulit untuk menebak, tetapi pasti orang yang memiliki kemampuan seimbang dengan perguruan Guntur Geni, dan perguruan yang demikian itu tidak banyak jumlahnya. Hanya satu atau dua saja di daerah yang luas, yang berada di kekuasaan Demak sekarang”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya “Kita memang harus berhati-hati, rasa-rasanya padukuhan kecil ini kini telah berubah menjadi daerah jelajah orang-orang yang memilki ilmu yang tinggi, jusru karena istana kecil itu”.

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, namun ketika ia akan berbicara, tiba-tiba wajahnya menegang, ia memandang beberapa puouh langkah di hadapannya ketika ia telah berada dimulut lorong padukuhan.

Tetapi Kuda Rupaka justru tersenyum sembil berkata, “Kau juga melihatnya..?”

“Ya Raden, tiga orang yang barangkali telah disebut oleh Ki Buyut”.

Kuda Rupaka mengangguk, katanya “Sekerang kita sudah langsung dapat bertemu, jika mereka ingin berbuat sesuatu sekarang ini, agaknya memang menyenangkan sekali, kita baru saja menempuh perjalanan yang berat, sehingga hati kita masih tegang, mungkin dengan demikian kita akan dapat melayani mereka dengan kasar seperti apa yang dapat mereka lakukan. Tetapi jika sempat beristirahat dan merenungi martabat kita, maka kita akan terlampau berhati-hati dan berbuat seperti seorang kesatria”

Panji Sura Wilaga tersenyum, katanya “Baiklah Raden, Tiga orang dari perguruan Guntur Geni”.

Kuda Rupaka tersenyum pula, katanya “Kau mulai menilai kemampuan kita masing-masing?”

“Ah bukankah itu wajar?”

Keduanya berjalan terus, seolah-olah mereka tidak melihat sesuatu, mereka sama sekali tidak memperhatikan tiga orang yang berkuda yang berada dilereng gumuk kecil disebelah istana kecil yang terpencil itu.

Ternyata kehadiran kedua orang itu telah mengejutkan pula ketiga orang yang sedang mengawasi istana kecil dari lereng bukit, rencana yang telah mereka susun di padukuhan terpencil itu.

“He…!, siapakah mereka” bertanya Kumbara kepada kedua kawannya.

Gagak Wereng dan Naga Pasa mengerutkan keningnya, kedatangan kedua orang itu benar-benar telah menggoncangkan setiap rencana yang telah setiap susun.

“Dua orang bangsawan” desis Naga Pasa.

“Gila… apakah mereka keluarga Pangeran Kuda Narpada?”

“Kita belum tahu pasti”

Namun tiba-tiba Gagak Wereng berkata, “Kita tidak perlu mempertimbangkan banyak persoalan, marilah kita potong perjalanan mereka yang tinggal beberapa langkah itu. kita bunuh mereka di muka gerbang istana yang sudah pudar itu”.

Kumbara mengerutkan keningngya, untuk beberapa lamanya ia merenung. Sedang Gagak Wereng mendesaknya “Ya….kakang Kumbara, apakah kita menunggu mereka memasuki regol?”

“Membunuh keduanya tidak sulit, tetapi dengan demikian kita sudah menumbuhkan persoalan lain di padukuhan ini. Kau sangka keduanya itu berdiri sendiri?, jika pada waktunya mereka belum kembali ke istananya, maka ayahnya, pamannya, kakeknya dan prajurit-prajuritnya akan mencarinya. Tentu mereka tahu pasti bahwa anak itu pergi mengunjungi Raden Ayu Kuda Narpada”.

“Tetapi itu akan terjadi satu atau dua pekan mendatang, sementara itu, kita sudah menghilang dari padukuhan ini.”

“Kita sudah meninggalkan bekas disini, mereka akan menemukan ciri-ciri tentang kita semuanya dan segera menyusul ke padepokan dengan kekuatan yang tidak terlawan. Mungkin pasukan segelar sepapan denan senapati-senapati pilihan dari Demak”.

“Tunggu…!” tiba-tiba yang lain memotong, “Apakah kau sudah yakin bahwa keduanya termasuk keluarga Pangeran Kuda Narpada?”

“Memang masih harus kita yakinkan, tetapi demikianlah dugaanku”.

Sejenak ketiga orang itu terdiam. Mereka memandangi saja kedua orang bangsawan yang berkuda menyusuri jalan menuju ke istana kecil itu.

“Kita yakin sekarang, mereka pasti keluarga Pangeran Kuda Narpada”.

“Dan kita yakin sekarang, bahwa kita tidak akan dapat begitu saja membunuhnya”.

Kumbara menggeram, katanya “Jadi, apakah semua rencana kita harus batal?”

“Tidak, tidak harus batal, kita akan mencari jalan yang paling baik untuk dapat untuk dapat melaksanakan semua rencana itu”

“Tidak ada jalan lain kecuali dengan membunuh kedua orang itu”.

“Mungkin, tetapi sudah barang tentu dalam waktu yang tepat. Atau barangkali mereka tidak akan terlalu lama tinggal di istana itu.”

“Baiklah, kita menunggu dua hari lagi, Jika dalam waktu dua hari ini keduanya tidak meninggalkan istana itu, kita harus segera bertindak. Tidak ada kesempatan yang akan terbuka kelak, jika tidak sekarang.”

Kedua orang yang lain mengangguk-angguk. Sambil memandang kedua orang yang berkuda. Dengan acuh tidak acuh terhadap mereka bertiga itu. Naga Pasa berdesis “Mereka amat sombong, aku sebenarnya ingin membunuhnya sekarang”

“Mungkin mereka belum tahu, siapakah kita. Jika mereka besok atau lusa mendengar tentang anak karangmaja yang lumpuh, buta dan tuli itu, tentu keduanya akam memperhitungkan kehadiran kita disini” Jawab Kumbara.

Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Mereka memandang saja kedua orang yang semakin lama semakin dekat dengan pintu gerbang istana kecil itu.

Dalam pada itu, Raden Kuda Rupakapun sekali-kali memandang ketiga orang itu dengan matanya, tetapi ia memang dengan sengaja memberikan kesan bahwa ia tidak mengacuhkan kehadiran ketiga orang dilereng bukit kecil itu.

“Kita langsung masuk kehalaman istana itu paman?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

Sura Wilaga termangu-mangu sejenak, namun kemudian “Memang sebaiknya demikian Raden, mungkin kedatangan Raden akan sangat mengejutkan. Tetapi Raden akan segera dapat memberikan penjelasan dan tentu Raden Ayu Kuda Narpada akan senang sekali menerima Raden di Istananya yang sudah menjadi suram itu.”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya “Aku sependapat paman, mungkin aku akan mengejutkan bibi, tetapi kemudian bibi tentu akan sangat senang menerima kedatanganku” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi bagaimana jika bibi nanti bertanya tentang pamanda Pangeran Kuda Narpada?”

Panji Sura Wilaga termangu-mangu sejenak, “Namun kemudian katanya “Raden jangan membuat Raden Ayu menjadi semakin muram, sebaiknya Raden mengatakan saja, bahwa Raden tidak mengetahui sama sekali masalah pamanda Raden itu”.

“Bibi tentu tidak akan percaya…”

“Raden katakana saja bahwa Raden memang mendengar bahwa pamanda telah pergi bersama kedua orang pangeran yang lain”

“Ya…, Pamanda Pangeran Cemara Kuning dan Pamanda Pangeran Sendang Prapat”

“Seterusnya Raden tidak mengetahui apa yang terjadi dengan kedua Pamanda Raden itu”.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, ketika ketika ia memandang tiga orang yang berada dilereng bukit itu, dilihatnya ketiganya sedang meninggalkan tempatnya.

“Kita memang harus berhati-hati Raden” berkata Panji Sura Wilaga.

“Aku mengerti Paman, mereka bukan orang-orang yang dapat diabaikan, namun percayalah, mereka tidak akan dapat berbuat banyak atas kita, kita bukan sebangsa anak Karangmaja yang menjadi lumpuh, bisu, buta dan tuli, untunglah ada seseorang yang dapat mengobatinya. Seseorang yang harus masuk dalam hitungan kita.”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, tetapi ia tidak menyahut. Sementara itu mereka berdua semakin dekat dengan regol halaman yang mulai nampak gersang meskipun masih tetap bersih.

“Kita berhenti di depan regol” berkata Kuda Rupaka.

“Kenapa..??”

“Kita menunggu sesorang yang akan keluardari regol itu”

“Tidak akan ada orang yang keluar dari regol. Kitalah yang harus masuk dengan hati-hati, agar jangan membuat penghuninya ketakutan”.

Raden Kuda Rupaka setuu, Karena itu, maka ketika mereka berada di depan regol, keduanya segera meloncat turun. Dengan hati-hati Panji Sura Wilaga membuka pintu regol itu dari luar perlahan-lahan.

“Diselarak Raden” desisnya

“Kau dapat membukanya?”

“Akan aku coba…”

Raden Kuda Rupaka menunggu sejenak, Panji Sura Wilaga dengan susah payah berhasil juga membuka selarak regol dari luar dengan menyusupkan tangannya disela-sela daun pintu yang sudah renggang.

“Marilah Paman” ajak Kuda Rupaka.

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, tetapi iapun kemudian menutup pintu regol kembali, sebelum mereka kemudian melangkah menuju tangga pendapa.

“Sepi sekali…” desis Kuda Rpaka.

“Ya… sepi sekali” sahut Panji Sura Wilaga

Untuk beberapa saat mereka berdiri termangu-mangu dipendapa, pintu pringgitanpun ternyata tertutup pula, sedangkan pintu samping sebelah menyebalahpun masih juga tertutup.

Dengan ragu-ragu Raden Kuda Rupaka mengucapkan salam perlahan-lahan. Namun semakin lama semakin keras. Tetapi tidak seorangpun yang membuka pintu pringgitan di belakang pendapa itu.

“Apakah kita akan masuk ke halaman samping atau kelongkongan gandok?”

“Apakah kiranya tidak akan mengejutkan sekali?” bertanya Panji Sura Wilaga.

“Itulah, jangan-jangan bibi menjadi pingsan.”

“Tetapi bagaimanakah jika kedatangan kita tidak diketahui oleh Raden Ayu..?, mungkin sehari penuh kita harus berdiri disini sampai seseorang keluar dengan membawa sapu lidi untuk membersihkan halaman”.

“Baiklah” berkata Raden Kuda Rupaka “Pegang kendali kudaku, aku akan masuk lewat kelongkongan, mudah-mudahan pintu samping itu tidak diselarak pula”.

Panji Sura Wilagapun kemudian menerima kendali kuda Raden Kuda Rupaka yang dengan ragu-ragu pergi ke pintu disisi kanan halaman istana itu. Perlahan-lahan ia mendorong pintu yang tertutup itu, ternyata pintu itu tidak diselarak, sehingga perlahan-lahan pula pintu itu terbuka.

Agar kedatangannya tidak mengejutkan sekali, maka Kuda Rupaka sekali lagi mengucapkan salam, namun tidak seorangpun yang menyahutnya. Beberapa titik keringat telah membasahi punggungnya, tetapi Kuda Rupaka terpaksa tersenyum sendiri, rasa-rasanya ia memasuki suatu tempat yang sangat mendebarkan jantungnya.

Beberapa langkah iapun kemudian memasuki longkongan, dilihatnya longkongan dan gandok sebelah kananpun sepinya bukan main, seolah-olah ia berada di dalam istana yang sudah bertahun-tahun kosong sama sekali.

Namun telinganya yang tajam itupun kemudian mendengar suara sesorang di belakang, bahkan kemudian ia mendengar isak tangis. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang, untunglah bahwa ia masih dapat menahan diri, ketika kakinya hampir saja meloncat berlari kebelakang.

Sambil menahan hati, Kuda Rupakan berjalan dengan hati-hati menuju ke tempat suara tangis itu. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar langkah didalam istana, dekat sekali dari tempatnya berdiri.

Karena itu, agar ia tidak mengejutkan orang-orang yang ada debelakang, sekali lagi ia mengucapkan salam. Ternyata suaranya kali ini dapat didengar oleh penghuni istana itu, dari dalam ia mendengar suara seorang perempuan.

“Siapa diluar….?.

“Aku…… Kuda Rupaka”

“Kuda Rupaka…?, Aku belum pernah mendengar nama itu…”

“Aku ingin menghadap bibi Kuda Narpada….”

Sejenak tidam mendengar suara apapun. Agaknya perempuan yang menyahut tadi masih ragu-ragu, namun kemudian terdengar pintu berderit, perlahan-lahan daun pintu buntulan itupun terbuka.

Ketika sebuah wajah nampak dari balik daun pintu, dada Kuda Rupaka terguncang, wajah itu adalah wajah seorang gadis yang sangat cantik, Inten Prawesti.

Sejenak kemudian bagaikan membeku, Inten Prawestipun terkejut melihat anak muda dalam pakaian kebangsawanannya berdiri dilongkangan.

Ternyata Kuda Rupaka segera berhasil menguasainya, karena itu, maka iapun segera bertanya. “Apakah aku berhadapan dengan diajeng Inten Prawesti..?”

“Ya,,, aku Inten Prawesti” jawab gadis itu terbata-bata.

“Aku adalah Kuda Rupaka, aku ingin menghadap bibi, apakah bibi ada di istana ini..?”

Ternyata hati Inten yang tergoncang, masih belum dapat ditenangkan, karena itu, maka dengan gelisah ia menerima tamunya yang rasa-rasanya belum pernah dilihatnya. Ia tidak sempat mempersilahkannya masuk ke dalam tetapi dengan tergesa-gesa ia berlari kebelakang mendapatkan ibundanya.

“Ibunda” desisnya, “Ada tamu dilongkangan”

“Tamu…?” Ibunya menjadi heran, sudahn lama ia tidak pernah mendengar sebutan itu…TAMU.

“Apakah benar kita menerima tamu…?” bertanya ibundanya pula.

“Ya…, tamu yang agak lain”

Ibundanya menjadi ragu-ragu, sejenak dipandangnya Nyi Upih yang sedang menangis, tiba-tiba tangisnya terhenti.

“Nyi…” berkata Raden Ayu Kuda Narpada “Jangan menangis lagi, kita akan menerima tamu, biarlah anak-anakmu ini berbaring tenang lebih dahulu. Agaknya mereka tidak apa-apa, hanya karena lelah amat sangat, mungkin lapar dan haus, biarlah mereka beristirahat”

“Ya gusti, aku mengucapkan terima kasih tiada terhingga jika Gusti mengijinkan kedua anak-anakku yang menyusul aku ini tinggal disini bersamaku.”

“Ah, kenapa aku keberatan…? Aku senang sekali mendapat kawan diistanaku yang sepi dan terpencil ini”

Nyi Upih mengusap matanya.

”Kita mengucap sukur kepada Yang Maha Agung karena kedua anak-anakmu telah selamat sempai kepadamu meskipun wwajahnya menjadi merah biru dan kakinya luka-luka”

Setitik air mata telah mengembun lagi dimata Nyi Upih, katanya “bertahun-tahun mereka mencari aku, rasa-rasanya mereka sudah menjadi orang yang paling hina. Tidak lebih baik dari pengemis disepanjang jalan kota raja, pakaian compang-camping, tubuh yang rusak.”

“Tetapi mereka selamat”

Nyi Upih mengangguk-angguk, sementara Inten Prawesti menggamit ibundanya sambil berbisik “Tamu itu masih berdiri dilongkongan”

Sebenarnyalah Kuda Rupaka masih berdiri dilongkangan, Ia justru menjadi gelisah, kenapa Inten itu juga belum juga mempersilahkan masuk atau naik ke pendapa.

Namun sejenak kemudian muncullah seorang perempuan yang lain, seorang yang sudah melampui pertengahan umurnya.

Demikian prempuan itu muncul dimuka pintu, maka Kuda Rupakapun segera meloncat maju, dengan serta merta ia berjongkok sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Bibi, baktiku bagi bibi Kuda Narpada”

“Anak muda” berkata Raden Ayu, “Siapakah sebenarnya kau ini?, aku belum pernah melihatmu dan aku belum pernah mengenalmu”

“Ampun bibi, mungkin bibi belum pernah mengenal aku, atau barangkali bibi sudah melupakan aku, aku adalah Kuda Rupaka, Putera Ayahanda Pangeran Lingga Watang”

“Putera Pangeran Linggar Watang?, jadi kau putera Kamas Linggar Watang?”

“Ya, bibi”

Raden Ayu Kuda Narpada mengusap kepala anak muda itu, setitik air mata nampak dipelupuknya, namun Raden Ayu Kuda Narpada tidak menangis.

“Inten” panggil Raden Ayu Kuda Narpada “Kemarilah, ini adalah saudara sepupumu Kuda Rupaka, putera pamanmu Pangeran Lingga Watang” lalu “Marilah Kuda Rupaka, masuklah, apakah kau datang seorang diri?”

“Tidak bibi, aku datang bersama paman Panji Sura Wilaga”

“Ooo…” tetapi keningnya berkerut “Aku belum pernah mendengar nama itu!”

“Mungkin belum bibi, paman Panji Sura Wilaga adalah salah seorang perwira dari Demak”

“Ooo…” Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk, “Dimana Panji Sura Wilaga sekarang?”

“Di depan bibi, ditangga pendapa”

“Marilah, kalian harus kami terima dengan penuh kehormatan, sudah terlalu lama kami hidup terpencil dari sanak kadang”.

Demikianlah maka Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga itupun kemudian diterima dengan segala senang hati, Nyi Upihpun kemudian sibuk mempersiapkan hidangan bagi kedua tamu tuannya itu. sementara Inten Prawesti mondar-mandir menghidangkan hidangan kependapa.

“Apakah tamunya masih muda puteri?” bertanya Nyi Upih.

“Yang seorang Nyai, yang seorang sudah separuh baya, yang seorang adalah putera pamanda Pangeran Linggar Watang, sedangkan yang seorang adalah pengiringnya, seorang senopati dari Demak. Apakah kau belum pernah mengenalnya?”

“Yang sudah aku kenal adalah Pangeran Linggar Watang itu sendiri dahulu, tetapi aku belum pernah melihat orang yang bernama Pangeran Sura Wilaga”

“Bukan Pangeran Nyai”

“Ooo…” Nyi Upih mengangguk-angguk, tentu seorang anak muda yang tampan”

“Ah, darimana kau tahu?”

“Pangeran Linggar Watang adalah seorang Pangeran yang tampan, gagah tinggi dan tegap, sedang Raden Ayu adalah seorang perempuan yang sangat cantik, juga bertubuh tinggi semampai. nah, apakah puteranya tidak akan menjadi seorang yang gagah, bertubuh tinggi dan berdada bidang, sedang wajahnya adalah wajah yang cerah dan tampan?”

“Tetapi Kuda Rupaka tidak begitu tinggi”

“Namun anak-anak muda masih akan berkembang, tentu Raden Kuda Rupaka akan bertambah tinggi dan tegap”

Inten Prawesti tersenyum, tetapi ia tidak menyahut, bahkan tiba-tiba saja ia bertanya “Bagaimana dengan anak-anakmu Nyai?”

“Mereka sedang berbaring didalam bilik puteri”

“Apakah mereka sudah tenang?”

“Ya puteri, tetapi anak perempuan itu agaknya masih selalu gelisah”

“Nyai” tiba-tiba Inten bertanya sambil meletakkan nampan, “Kenapa aku belum pernah melihat anak-anakmu dahulu?, apakah anak-anakmu tidak pernah menengokmu saat kau bersama kami di Majapahit?”

Istana Yang Suram 4

“Nyi Upih tersenyum, katanya “Sebuah ceritera yamg memalukan sekali puteri”

“Cerita yang mana yang kau maksud?”

“Ah sudahlah”

“Ceritakan, bukankah sudah lama kita meninggalkan Majapahit, dan agaknya kita tidak akan kembali lagi?”

“Ah…” Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam sambil menyiapkan makan bagi tamu-tamunya, “Puteri, sebaiknya aku menyelesaikan tugasku ini dahulu, bukankah tamu itu akan segera dipersilahkan makan”

“Kau dapat menanak nasi sambil berceritera”

“Sebaiknya puteri ikut menemui tami itu”

Inten menggeleng sambil tersenyum, katanya “Aku malu Nyai”

“Ah, bukankah tamunya adalah saudara sendiri?”

“Tetapi aku malu” wajah Inten menjadi kemerah-merahan, “Sekarang ceritakan saja tentang anak-anak Nyai itu”

“Apakah menarik?”

“Tentu, mereka akan menjadi kawan-kawanku bermain”

“Puteri, dahulu aku ditinggalkan oleh suamiku, aku dicerai olehnya, anak-anakku itu dibawanya, dan diserahkannya kepada seorang ibu tiri. Demikianlah berlangsung lama, sehingga akhirnya suamiku itu meninggal. Anak-anakku tidak kerasan tinggal bersama ibu tirinya, mereka mencari aku ke kota, tetapi Majapahit sudah menjadi karang abang, dari beberapa orang mereka mendengar perjalanan Pangeran Kuda Narpada, karena itulah maka mereka menyusul perjalanan kita”

“Tetapi mereka terlambat bertahun-tahun”

“Tetapi Yang Maha Agung masih ingin mempertemukan anak dengan orang tuanya. Barangkali mereka menganggap lebih baik tinggal dengan ibu sendiri, betapapun sulitnya untuk mencari, dari pada dengan ibu tiri”

“Tentu, tentu Nyai, Eee.. Siapakah nama mereka? Aku belum sepat bertanya karena nampaknya mereka manjadi sangat letih dan anak perempuanmu itu hampir pingsan”

“Aku menemukan mereka dipinggir jalan ketika aku mencari sayuran ke padukuhan, aku hampir tidak mengenal mereka lagi” tiba-tiba mata Nyai Upih menjadi basah.

Inten tidak mendesaknya lagi, Ia tidak mau mengganggu perasaan Nyi Upih yang sudah hampir menjadi tenang kembali, apalagi ia harus menyiapkan makan bagi tamu-tamunya yang tentu juga lelah dan lapar”

Karena itu, Intenpun kemudian meninggalkan Nyi Upih yang mengisi waktunya dengan kesibukan di dapur, agar hatinya tidak selalu dipengaruhi oleh perasaan pedih melihat keadaan anak-anaknya.

Tetapi Intenpun menjadi gelisa, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan, dari celah-celah pintu pringgitan yang terbuka, ia melihat kedua tamunya duduk bersama ibumya, sekali-kali ia melihat kedua tamu itu mangangguk-angguk, agaknya ibunya menceritakan berbagai kesulitan hidup yang dalaminya.

Namun demikian Inten tidak mau ikut menemui karena perasaan malu soerang gadis. Meskipun tamu itu adalah saudara sepupunya, tetapi sudah terlampau lama Inten Prawesti tidak bergaul dengan seseorang diluar lingkungannya. Apalagi anak-anak muda”

Tiba-tiba saha Inten Prawesti yang termangu-mangu itu teringat kepada suara seruling dikejauhan, sudah agak lama ia tidak mendengar suara seruling yang sering didengarnya dekat dengan istananya. Tetapi sejak ia seolah-olah mengasingkan diri didalam istananya, suara seruling itupun tidak pernah didengarnya lagi.

“Aku memang tidak ingin melihat anak itu lagi” desisnya. “Ternyata anak muda itu bertabiat buruk, Ia mengambil seorang gadis, yang kemudian diberikannya kepada orang lain”.

Dalam kegelisahan, dan ketidak tentuan apa yang harus dilakukannya, Inten Prawestipun kemudian memasuki bilik Nyai Upih. Hampir diluar sadarnya ia mendekati kedua anak Nyi Upih yang berbaring dengan letihnya.

Melihat kedatangan Inten Prawesti anak laki-laki Nyi Upih itupun segera bangkit, meskipun kemudian ia harus menyeringai. Tetapi adiknya ternyata tidak beranjak dari tempatnya. Punggungnya rasa-rasanya hampir patah setelah berjalan untuk waktu yang sangat lama menyusuri daerah selatan sampai ke daerah Gunung Sewu.

“Berbaring sajalah” berkata Inten Prawesti “Kau tentu sangat letih”

“Maaf puteri, adikku memang sangat letih”

“Biarlah ia berbaring “ berkata Inten kektika melihat gadis itu akan bangkit “Jangan bangkit”

“Ampun puteri”

“Jangan segan, tetap berbaringlah”

Gadis itupun kemudian meletakkan kepalanya kambali diatas tikar.

“Oo.. Kakimu berdarah” berkata Inten Prawesti.

“Sedikit puteri” jawab gadis itu.

Inten Prawestipun kemudian duduk diatas pembaringan Nyi Upih, sedang kedua anak-anak itu berbaring diatas tikar dilantai.

“Siapa namamu?” bertanya Inten Prawesti.

“Sangkan puteri, sedangkan adikku bernama Pinten”

“Oo.., nama yang baik, Sangkan dan Pinten, “Inten mengangguk-angguk “Jadi selama ini kau berjalan dari kota raja sampai kelereng pegunungan ini?”

“Ya puteri, perjalanan kami berdua rasa-rasanya tidak akan berakhir, Tetapi kami bertekad menyelusuri jalan yang pernah dilalui oleh para bangsawan yang menyingkir dari kota raja, akhirnya Yang Maha Agung mempertemukan aku dengan biyung”

“Kau berjalan setiap hari?”

“Tidak puteri. Kami berdua pernah berhenti disuatu tempata untuk waktu yang agak lama. Kami menghambakan diri pada seorang pedagang yang baik. Tetapi ternyata keinginan kami untuk bertemu dengan biyung sangat mendesak”

“Dan kalian berjalan lagi menempuh jarak yang sangat panjang?”

“Sepanjang yang pernah ditempuh oleh puteri. Tetapi agaknya keadaan adikku jauh lebih buruk, dari keadaan puteri pada saat puteri sampai ketempat ini”

“Tentu, dibeberapa kesempatan aku masih sempat naik tandu, sampai pada suatu saat ayah terpisah dari seluruh pengikutnya atas kehendak ayah sendiri”

Sangkan mengangguk-angguk, wajahnya yang kemerah-merahan dibakar oleh terik matahari nampak keras dan kasar.

Untuk beberapa lamanya Inten Prawesti berada didalam bilik itu. Dengan perasaan iba ia melihat anak-anak Nyi Upih yang sangat letih, apalagi Pinten.

Namun Inten merasa senang atas kehadiran gadis itu, karena dengan demikian ia akan mendapat kawan yang sebaya, meskipun agaknya Pinten mamsih agak lebih muda sedikit daripadanya.

Tetapi selagi Inten prawesti sedang mengamat-amati kaki Pinten yang luka dan berdarah, tiba-tiba Nyi Upih memasuki biliknya sambil berkata “Puteri…, Ibunda memanggil”

“Ada apa Nyai..?”

“Aku tidak tahu, tetapi agaknya ibunda minta puteri ikut menemuui tamu itu, bukankah kedua tamu itu masih ada hubungan keluarga dengan puteri?”

“Yang seorang, Kakangmas Kuda Rupaka, yang lain itu tentu bukan”.

Nyi Upih mengangguk-angguk, katanya kemudian “Silahkanlah, ibunda menunggu, aku baru saja menghidangkan sirih”

Inten Prawesti termangu-mangu, namun ia berkata “Tidak Nyai, aku disini aja, bersama anak-anakmu, aku malu”

“Ah, tentu tidak baik, marilah” Nyi Upihpun kemudian menarik tangan Inten Prawesti “Marilah puteri sebentar lagi puteri juga harus menghidangkan makan dengan lauk seadanya, aku sudah menangkap seekor ayam, Sangkan tadi yang menyembelihnya. Meskipun ia masih lelah, tetapi ia masih mampu menyembelih ayam”

Inten Prawesti masih tetap bertahan, tetapi akhirnya ia berdiri juga dan melangkah keluar digandeng oleh Nyi Upih.

Sepeninggal Inten Prawesti, Sangkan menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian membaringkan dirinya lagi diatas tikar disisi adiknya yang terbaring memandang langit-langit yang bernoda disana-sini oleh titik air hujan yang menyusup disela-sela atap rumah.

Dalam pada itu, akhirnya Nyi Upih berhasil memaksa Inten untuk pergi ke pendapa, demikian ia muncul dipintu maka ibundanya segera memanggil “Kemarilah Inten, ini adalah kakamu sendiri”

Dengan kepala tunduk, Intenpun kemudian duduk disisi ibunya agak kebelakang. Seolah-olah ia berhadapan dengan jejaka yang hendak melamarnya.

“Diajeng tentu belum mengenal aku” berkata Raden Kuda Rupaka.

Inten tidak menyahut, justru kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Ia seorang pemalu” berkata ibundanya.

“Wajar bagi seoarang gadis” sahut Panji Sura Wilaga.

“Kau harus mengucapkan selamat datang Inten” berkata Ibundanya, “Kakakmu akan berada di istana ini barang dua tiga hari, memang menyenangkan sekali. Aku berharap mereka berdua akan lebih lama lagi berada disini”.

Inten Prawesti tidak menyahut, tetapi dadanya menjadi semakin bergejolak. Ada perasaan aneh didalam dirinya karena ia mendengar keterangan ibunya, bahwa kedua orang itu akan berada di istananya untuk dua tiga hari. Dalam dua tiga hari itu ia akan berhubungan dengan anak muda yang sebelumnya belum pernah dikenalnya meskipun ia masih saudara sepupunya. Ada semacam perasaan malu, tetapi juga kegembiraan yang tersembunyi.

Namun tiba-tiba saja ia berkata kepada diri sendiri “Aku lebih senang bermain bersama Pinten daripada Kakangmas Kuda Rupaka, aku tentu akan menjadi canggung dan bingung. Kakangmas Kuda Rupaka tentu sering berkawan dengan gadis-gadis cantik di kota. Mungkin juga saudara-saudara sepupu yang lain yang selama ini berada di Demak.

Ada semacam kekecewaan yang merambat dihatinya, bahwa ayahandanya dahulu tidak membawanya ke kota, dan untuk waktu yang lama tinggal di padukuhan terpencil. Dengan demikian, maka ia seolah-olah telah terpisah dari pergaulan keluarga dan sanak kadangnya.

“Kini aku tidak lebih seorang gadis pedesaan “Berkata Inten Prawesti didalam hatinya “Aku tidak pantas bermain bersama orang-orang yang datang dari pusat pemerintahan, aku tentu tidak secantik gadis-gadis dikota, mungkin mereka tentu lebih pandai menghias diri dan menyesuaikan dengan kehidupan kota raja”.

Inten Prawesti terkejut ketika tiba-tiba saja ibundanya berkata “Inten, bersihkanlah bilik ayahandamu, biarlah anakmas Kuda Rupaka mempergunakan bilik itu”

Inten Prawesti termangu-mangu sejenak, selama ini bilik itu tidak dipergunakan oleh ibundanya, sehingga ia tidak segera memahami kata-kata ibundanya.

Ibundanya seolah-olah dapat mengerti keragu-raguan dihati puterinya, sehingga iapun berkata “Kosongkan bilik itu, aku akan berada didalam bilikmu”

“Aku…??” diluar sadarnya Inten Prawesit bertanya.

“Kita berdua”

Inten tidak menjawab lagi, iapun segera berdiri meninggalkan tempat yang rasa-rasanya menjadi semakin panas itu.

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, ia tidak mengerti maksud yang sebenarnya dari bibinya. Apakah itu suatu perhormatan baginya atau karena bibinya terlampau berhati-hati. Kehadiran seorang anak muda dirumah itu, tentu akan dapat menumbuhkan persoalan meskipun ia adalah sepupu Inten Prawesti, sehingga dengan demikian, maka bibinya harus tidur bersana anak gadisnya itu. Anak gadisnya yang sangat cantik dalam kesederhanaan.

“Apalagi jika ia berhias seperti gadis-gadis kota raja “ tiba-tiba saja Kuda Rupaka berdesis didalam hatinya.

Sementara Inten Prawesti membersihkan bilik ayahandanya, maka dibelakang, Nyi Upih telah mempersiapkan jamuan makan, meskipun hanya apa adanya, tetapi Nyi Upih memang pandai memasak sehingga jamuannya merupakan jamuan yang pantas bagi kedua tamunya.

Dalam pada itu, selagi istana kecil itu sedang sibuk menjamu dua orang tamu, maka dengan tergesa-gesa Kidang Alit pergi ke rumah Ki Buyut.

Ki Buyut melihat kedatangan Kidang Alit, segera menyongsongnya sambil berkata “Kidang Alit, apakah kau sudah mendengar kehadiran dua orang bangsawan dipadukuhan kita?”

“Ya, aku mendengar Ki Buyut, karena itu, aku tergesa-gesa datang kemari” jawab Kidang Alit, lalu “Apakah keduanya singgah disini?”

“Ya…”

“Dan mereka melihat Kasdu?”

“Ya, mereka ingin melihat anak itu”

“Apakah kasdu tetap diam, seolah-olah ia lumpuh, bisu buta dan tuli?”

“Ya, tetapi ternyata ia tidak berhasil”

“Maksud Ki Buyut?”

“Kasdu tidak berhasil mengelabui kedua orang itu”

“Kenapa Ki Buyut?”

Ki Buyutpun menceritakan bahwa seorang dari keduanya, justru yang muda, telah meraba tubuh Kasdu. Dengan jari-jarinya ia berhasil mengetahui keadaan Kasdu yang sebenarnya, bahwa ia telah tidak lagi lumpuh, buta dan tuli.

Kidang Alit menjadi tegang, sejenak ia memandang wajah Ki Buyut Karangmaja, namun ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata “Kita mendapat tamu orang-orang yang luar biasa Ki Buyut”

Ki Buyut tidak segera menyahut.

“Hanya orang-orang yang luar biasa sajalah yanga dapat berbuat demikian, dengan demikian maka padukuhan ini telah didatangi lima orang yang luar biasa, pertama adalah tiga orang yang memilki tangan beracun itu. kemudian dua orang bangsawan saudara Pangeran Kuda Narpada”.

“Aku dapat mengerti, bahwa tiga orang-orang kasar itu berbahaya bagi padukuhan kita, tetapi apa salahnya dua orang bangsawan itu?, bukankah dengan demikian keluarga yang tinggal di istana kecil itu akan mendapat perlindungan”

“Kidang Alit mengangguk-angguk, katanya “Ya mudah-mudahan demikianlah hendaknya”

“Kau curiga?”

“Ki Buyut” berkata Kidang Alit “Dalam keadaan tidak menentu ini kita memang dapat saling mencurigai, untunglah bahwa ketiga orang-orang kasar itu belum tahu, bahwa sebenarnya, Kasdu sudah dapat diselamatkan dari racun yang berbahaya itu”

“Mereka tidak akan mengetahuinya”

“Mudah-mudahan kedua orang bangsawan itu tidak menceritakan kepada siapapun keadaan Kasdu yang sebenarnya”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil bergumam “Ya, mudah-mudahan. Aku tidak tahu bahwa ia memilki ketajaman penglihatan sehingga ia dapat mengetahui bahwa Kasdu sudah dibebaskan dari cengkeraman recun itu”

Kidang Alitpun mangangguk-angguk, lalu “Apakah aku dapat melihat Kasdu?”

“Lihatlah” jawab Ki Buyut sambil melangkah diiringi oleh Kidang Alit.

Ketika mereka berada disisi pembaringan Kasdu, nampaknya Kasdu memang sudah menjadi semakin bak.

“Sayang sekali Kasdu” berkata Kidang Alit “Ada orang yang mengetahui bahwa kau sudah bebas dari racun itu, aku berharap bahwa hal itu tidak didengar oleh orang-orang yang telah meracunimu dengan jari-jari itu”.

Wajah Kasdu yang sudah menjadi semakin merah itu, nampak manjadi pucat, dengan terbata-bata ia berkata “Aku menjadi takut sekali”

“Maaf Kidang Alit “ berkata Ki Buyut “Aku tidak sengaja telah membuat suatu keputusan yang besar”.

“Sdahlah Ki Buyut, semuanya masih tergantung kepada sifat dan watak kedua bangsawan itu. Jika mereka menyadari bahwa yang dapat mengancam Kasdu, sudah tentu mereka aka tetap diam”

“Aku kira demikian Kidang Alit, yang muda diantara merekapun, bahwa anak muda yang sakit itu memang sangat gawat. bukan saja karena sakitnya, tetapi jika orang-orang yang telah melukainya itu mengerti bahwa anak itu sudah tawar, maka ia akan dibunuhnya secara langsung oleh ketiga orang itu”

Ki Buyut mengangguk-angguk, tetapi ia tidak dapat mengusir kegelisahannya. Kidang Alitpun kemudian dengan tergesa-gesa minta diri, ia tidak mengatakan kepada Ki Buyut, kemanakah ia akan pergi.

Tetapi ternyata bahwa Kidang Alit telah pergi kelereng bukit yang menghadap ke istana kecil itu. Ia masih sempat melihat ketiga orang berkuda yang kembali ke padukuhan dari lereng bukit itu pula. Tetapi Kidang Alit sempat bersembunyi dibalik batu-batu padas, apalagi jarak diantara mereka masih agak jauh, sedang Kidang Alit tidak berkuda, berada ditempat yang agak lebih tinggi dari orang-orang berkuda itu.

Bab 5

Setelah ketiga orang itu hilang dibalik tikungan. Maka Kidang Alitpun melanjutkan langkahnya. Dengan hati-hati ia mendekati istana itu dari arah bukit kecil.

Untuk Beberapa saat lamanya Kidang Alit menunggu, tetapi ia tidak melihat seorangpun di halaman. Ketika kemudian seseorang muncul dibelakang, ternyata ia adalah Nyi Upih.

Tetapi Kidang Alit tidak segera pergi. Dengan telaten ia duduk dibalik sebuah gerumbul agar orang-orang yang berada di halaman atau di dalam istana itu tidak dapat melihatnya.

Ternyata bahwa kemudian Kidang Alit tidak sia-sia, setelah menunggu beberapa lamanya, dengan seksama ia memperhatikan dua orang laki-laki yang kemudian turun ke halaman dan berdiri dibawah bayangan sebatang pohon yang rindang.

“Agaknya mereka kepanasan di dalam” berkata Kidang Alit, lalu “Tetapi sayang, bahwa aku tidak dapat melihat keduanya dengan jelas”

Agaknya jarak yang memisahkan lereng bukit kecil itu dengan istana agak terlampau jauh bagi Kidang Alit untuk dapat melihat wajah orang-orang itu dengan teliti. Hanya secara umum sajalah Kidang Alit dapat menyebut bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang gagah dan tampan. Selebihnya Kidang Alitpun dapat menduga, bahwa keduanya memiliki ilmu yang dapat dipergunakan sebagai bekal petualangannya.

Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada diri sendiri “Ternyata bahwa pedukuhan kecil ini telah mengundang beberapa orang untuk berkumpul disini”

Sejenak kemudian, setelah Kidang Alit dapat melihat kedua laki-laki itu, meskipun tidak sempat pada bagian-bagiannya yang terkecil, iapun kemudian meninggalkan tempatnya, kembali kepadukuhan. Disepanjang jalan, ia mencoba untuk menilai, apakah yang kira-kira dapat terjadi antara kedua orang itu dengan tiga orang yang sudah datang lebih dahulu.

“Aku yakin, bahwa tiga orang itu mempunyai kepentingan dengan istana kecil itu” berkata Kidang Alit kepada diri sendiri.

“Dan kini di istana kecil itu telah hadir dua orang bangsawan yang menyebut dirinya saudara-saudara Pangeran Kuda Narpada.

Tetapi Kidang Alit bersikap hati-hati. Banyak kemungkinan akan dapat terjadi atas istana kecil itu.

Sementara itu Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga memang sedang berada di halaman, rasa-rasanya badan mereka menjadi sejuk disentuh angin yang semilir, dibawah dedaunan yang rimbun.

“Untung dilereng pegunungan ini terasa segar sekali” desis Raden Kuda Rupaka.

“Tetapi baru saja Raden mengatakan, bahwa udara di daerah ini terasa panas sekali”

Kuda Rupaka tersenyum, katanya “Didalam istana pamanda Kuda Narpada udara memang terasa panas sekali, paman”

“Apakah hanya sekedar karena udara didalam istana itu?”

“Ah…” Kuda Rupaka berdesis “Apapun sebabnya, tetapi diluar memang terasa sejuk. Disini sentuhan angin terasa mengusap kening yang basah okeh keringat. Tetapi di dalam istana itu tidak terasa  udara yang bergerak seperti ini”

Panji Wiralaga hanya tersenyum saja.

Sejenak keduanya kemudian berjalan-jalan di halaman depan mereka melihat pintu gerbang yang telah rusak, regol yang miring dan bagian istana itu sendiri yang telah rusak.

“Paman…” berkata Kuda Rupaka “Sepengetahuanku, istana ini masih belum terlampau lama, tetapi beberapa bagian telah mulai rusak dan lapuk”

“Raden…” jawab Panji Sura Wilaga “Istana ini dibuat oleh orang padukuhan ini dengan kayu yang tidak terpilih. Karena itu, maka kekuatannyapun tidak seimbang. Apalagi pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang sangat kasar”.

“Ya…” sahut Kuda Rupaka “Mereka mengerjakan kayu seperti orang-orang tua mereka mengerjakannya”.

Keduanya tidak berbicara lagi, mereka berjalan saja menyusuri halaman sehingga mereka sampai kebagian belakang dari istana itu.

“Kita telah melihat semuanya” berkata Kuda Rupaka “Halaman istana bibi tetap bersih dan terawat, meskipun sebagian dari bangunannya telah rusak, terutama bagian atap”

Panji Sura Wilaga menganggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menyahut.

“Paman…” berkata Kuda Rupaka kemudian “Ada satu yang masih tetap menggetarkan jantungku”

“Apa Raden…?”

“Bibi dan Inten Prawesti masih belum bertanya tentang pamanda Kuda Narpada dengan sungguh-sungguh, pada suatu saat mereka tentu akan mendesak, agar aku menceritakannya, apakah yang sebaiknya aku katakana…?, aku benar-benar menjadi bingung”.

“Raden harus berterus terang bahwa Raden memang tidak tahu”

“Mustahil…”

“Kenapa mustahil ?, bukankah Raden selama ini tidak pernah bertemu dengan pamanda Pangeran Cemara Kuning, pamanda Pangeran Sendang Prapat? Bagaimana Raden dapat mengatakan tentang Raden Kuda Narpada…?”

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, sambil mengangguk-angguk ia melangkah kembali kehalaman depan diikuti oleh Panji Sura Wilaga.

Sementara itu dibelakang, Nyi Upih sedang sibuk membersihkan alat-alat dapurnya. Inten Prawesti yang telah menyingkirkan jamuan makan bagi tamu-tamunya berkata kepada Nyi Upih “Anak-anakmu sebaiknya kau suruh makan dahulu Nyai…”

“Bukankah mereka sudah makan puteri, demikian mereka datang pagi tadi, demikian mereka aku beri makan seadanya.”

“Ah…, tetapi biarlah kita menjamunya sekarang”

Nyi Upih tersenyum “Biarlah puteri, nanti sajalah”

Inten Prawesti tidak memaksa lagi, tetapi ia menengok kedalam bilik pembantu setia itu. Dilihatnya Pinten sudah mulai duduk sambil memijit-mijit kakinya.

“Kau usap dengan apa kakimu itu..?” bertanya Inten.

“Dengan nasi dan dan air asem, puteri. Rasa-rasanya kaki ini menjadi dingin. Darah yang rasa-rasanya membeku telah mengalir kembali”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, iapun teringat saat-saat ia sampai ke padukuhan ini dan bermalam untuk sementara di rumah Ki Buyut sebelum istana kecilnya itu disiapkan.

Meskipun kadang-kadang ia masih sempat naik tandu, namun untuk mengurangi perasaan lelahnya, kakinya juga diparami dengan nasi yang diremas dengan air asam.

Ketika kemudian mereka bercakap-cakap lebih banyak tentang perjalanan, maka ternyata Pintenpun dapat mengatakan tempat-tempat yang dilaluinya meskipun waktu sudah terpaut jauh.

“Kau benar-benar dapat mengikuti jejak perjalananku” berkata Inten

“Kami tidak henti-hentinya bertanya kepada setiap orang yang kami temui di perjalanan, puteri” Jawab Pinten.

“Tetapi waktu kita terpaut panjang”.

“Ternyata orang-orang di sepanjang jalan yang pernah dilalui oleh Pangeran Kuda Narpada, mash tetap dapat menyebut kemana Pangeran itu pergi, bahkan beberapa orang masih dapat menunjukukkan beberapa macam barang yang pernah dihadiahkan oleh Pangeran Kuda Narpada kepada orang-orang yang membantunya di perjalana”.

“Ooo…” Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam. Ayahnya memang banyak memberikan sekedar kenang-kenangan kepada orang-orang yang sudah membantunya di sepanjang jalan, bahkan beberapa macam barang berharga.

“Kini hampir tidak ada sebuah barangpun yang masih dapat disebut berharga di dalam rumah ini” Berkata Inten Prawesti di dalam hatinya.

Demikianlah maka meskipun keduanya baru saja bertemu, tetapi karena keduanya hampir sebaya, dan sudah terlampau lama Inten Prawesti hidup sendiri, seolah-olah di pengasingan, maka Pinten baginya merupakan seorang yang dapat mengisi kekosongan itu. Ketika Inten kemudian sudah dapat berdiri dan berjalan keluar, maka Inten Prawesti menjadi sangat gembira pula karenanya.

Dengan serta merta ia minta kepada ibunya, agar kepada Pinten diberikan beberapa lembar pakaiannya yang sudah tidak dipakainya lagi, agar Pinten nampak lebih bersih dan pantas.

Namun sementara itu, di rumah itu Inten Prawesti ternyata mendapat kawan yang lain pula. Atas desakan ibunya maka Inten Prawesti mulai berkenalan dan sekali-kali berbicara dengan saudara sepupunya.

Dihari berikutnya, suasana istana kecil itu benar-benar sudah berbeda. Inten tidak kelihatan murung seperti biasanya. Jika ia berada di belakang, ia selalu bersama dengan Pinten, jika Pinten sibuk membantu ibunya, maka Intenpun ikut membantunya pula.

Tetapi jika Inten Prawesti berada didepan, ia duduk bersama Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga. Jarak yang mula-mula memisahkan antara Inten Prawesti dan Kuda Rupaka, semakin lama menjadi semakin dangkal, bahkan pada suatu saat rasa-rasanya akan lenyap sama sekali.

“Jasa pamanda Kuda Narpada terhadap padukuhan ini ternyata cukup besar” berkata Raden Kuda Rupaka kepada Inten Prawesti ketika mereka berdua berdiri di halaman memandang kelereng bukit yang hijau.

“Ayah berusaha untuk membantu kesulitan orang-orang Karangmaja” sahut Inten.

“Menurut pendengaranku, bukit-bukit itu menjadi hijau karena usaha pamanda pangeran.”

“Sebagian memang demikian” jawab Inten.

“Aku ingin sekali-sakali melihat lereng-lereng bukit itu” gumam Raden Kuda Narpada, seolah-olah kepada diri sendiri.

Inten Prawesti hanya memgerutkan keningnya saja. Ia tidak berani menawarkan diri untuk menunjukan jalan-jalan setapak di lereng bukit itu, meskipun ia sendiri sudah agak lama ingin menyusuri jalan yang beberapa saat lampau selalu di lewatinya jalur jalan yang pernah di lalui oleh ayahandanya ketika ia menimang Nyi Upih sampai ke atas bukit. Dari bukit itu dia dapat melihat Ayahandanya meninggalkan padukuhan Karamaja dan sampai saat terakhir, tidak nampak kembali lagi.

Tetapi ternyata bukan Intenlah yang mengajak untuk mendaki lereng bukit kecil itu. Agaknya Kuda Rupakapun ingin sekali untuk mendekati lereng yang nampak hijau di tumbuhi oleh pohon perdu yang rimbun.

“Apakah bibi tidak berkeberatan jika kita pergi ke lereng bukit itu?”

Inten termangu-mangu.

“Cobalah memohon izin kepada bibi.”

Intenpun segera berlari menemui ibundanya yang sedang berada di belakang. Dengan ragu-ragu ia mohon izin untuk pergi ke lereng bukit itu.

Ibunya menjadi ragu-ragu sejenak. Apalagi keteka Nyi Upih berkata “Puteri, sebaiknya puteri tidak mengajak tamu-tamu itu pergi ke lereng bukit. Mungkin ada sesuatu yang dapat membahayakan puteri dan tamu-tamu itu.”

“Apakah yang dapat membahayakan itu Nyai?” bertanya Inten.

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengatakan sesuatu. Tetapi kedua tangannya bermain di muka mulutnya seperti seseorang yang sedang meniup seruling.

Sekilas terbayang seorang anak muda yang pernah dijumpainya di lereng bukit itu pula. Bahkan yang kemudian sering hilir mudik di muka istananya. Tetapi kali ini, ia tidak akan pergi sendiri atau hanya berdua saja dengan Nyi Upih.

“Aku tidak akan pergi terlalu jauh ibu.” mohon Inten kemudian.

“Hati-hatilah” akhirnya ibundanya tidak dapat menolak. Setelah berkemas sejenak, maka Intenpun kemudian pergi bersama Raden Kuda Rupaka dan Panji Surawilaga, berjalan-jalan ke bukit kecil di sebelah istananya itu.

Terasa udara yang cerah menyegarkan tubuh. Angin pegunungan yang silir mengalir dengan lembut. Di udara yang jernih nampak beberapa ekor burung berterbangan di antara warna-warna putih awan yang berarak selembar-selembar di dorong angin ke utara.

“Menyenangkan sekali” desis Raden Kuda Rupaka “Sebelum pamanda Pangeran Kuda Narpada menghijaukan lereng bukit itu, tentu yang nampak jauh berbeda dari sekarang”

“Pegunungan yang gundul” sahut Panji Sura Wilaga.

“Ya..” berkata Inten Prawesti. “Saat kami datang ditempat ini, maka yang nampak hanyalah tanah gersang, kuning kemerah-merahan”

“Tentu pamanda pangeranlah yang mengajari orang-orang Karangmaja membuat parit-parit di daerah kering. Menanami  lereng bukit dengan pepohonan yang khusus. Pohon metir dan sebangsanya. Dan sudah barang tentu kemudian dengan pohon buah-buahan”

“Ya…” jawab Inten Prawesti.

Mereka bertigapun kemudian berjalan perlahan-lahan melalui jalan kecil menuju ke lereng bukit kecil itu. Raden Kuda Rupaka dan Inten Prawesti de depan. Sedangkan Panji Sura Wilaga de belakang.

Untuk beberapa saat lamanya mereka berjalan perlahan-lahan sambil berbicara tentang padukuhan kecil itu. Istana kecil yang dibangun di dekat padukuhan itu, dan bukit-bukit yang kemudian menjadi hijau.

Namun tiba-tiba saja langkah Inten Prawesti terhenti, Inten Prawesti tertegun, wajahnya nampak menjadi pucat. Meskipun kemudian ia berusaha melenyapkan kesan-kesan ini, dan melangkahkan kakinya pula. Namun Kuda Rupaka segera dapat menangkap kegelisahannya itu.

Ternyata ketika Raden Kuda Rupaka memandang agak jauh ke depan, dilihatnya seorang anak muda yang nampaknya memang agak berbeda dengan anak-anak Karangmaja.

“Siapakah anak itu..?” bertanya Kuda Rupaka.

“Kidang Alit” jawab Inten Prawesti.

“Apakah orang itu menggelisahkan kau…?”

Inten menjadi ragu-ragu, tetapi iapun kemudian menggeleng, jawabnya “Tidak”.

Tetapi Kuda Rupaka tidak dapat dikelabuinya. Dan iapun bertanya pula “Apakah anak itu anak Karangmaja pula..?”

“Bukan Kamas, anak muda itu bukan anak Karangmaja, belum lama ia berada di padukuhan kecil ini”.

Terasa jantung Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga berdebaran. Tetapi keduanyapun berusaha menghapuskan semua kesan dari wajah mereka.

“Apakah kau mengetahui namanya…?”

“Namanya Kidang Alit, bukankah aku sudah menyebutnya”.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, bahkan sekilas ia berpaling, tepat pada saat Sura Wilaga memandangnya. Seolah-olah mereka sedang menyesuaikan pendapat mereka, bahwa anak muda yang bernama Kidang Alit itulah yang agaknya telah menyembuhkan Kasdu.

Karena itu, maka keduanyapun segera mempersiapkan diri. Meskipun tidak semata-mata, tetapi semakin dekat langkah mereka dengan anak muda yang duduk di atas sebuah batu itu, merekapun menjadi semakin berhati-hati. Bahkan Sura Wilaga mencoba memandang berkeliling, apakah benar anak muda itu hanya seorang diri. Tetapi ia tidak melihat orang lain di tempat itu.

Beberapa dari Kidang Alit, kaki Inten Prawesti terasa semakin berat. Tetapi ia tidak berjalan sendiri. Ia berjalan dengan saudara sepupunya dan seorang pengawalnya. Apalagi jika teringat oleh Inten, bahwa Kidang Alit ternyata bukan seorang yang dapat menahan diri terhadap seorang gadis yang menarik perhatiannya, ternyata seorang gadis Karangmaja telah menjadi korbannya. Untunglah bahwa bagi gadis itu telah diketemukan jalan yang paling baik, meskipun sekedar sepeperti menimbuni sebuah lobang yang terlanjur tergali.

Kuda Rupaka menegang ketika ia melihat Kidang Alit berdiri, tetapi ia seolah-olah sama sekali tidak menghiraukannya, karena sebelumnya ia memang belum mengenalnya.

Dengan tajamnya Kidang Alit memandang ketiga orang yang menjadi semakin dekat. Namun Inten Prawesti dan Kuda Rupaka lewat tepat di hadapannya. Kidang Alit menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil bertanya “Apakah puteri akan naik ke atas bukit kecil itu..?”

Inten Prawesti menjadi bingung, tetapi seakan-akan di luar sadarnya terloncat jawabnya “Ya… aku akan berjalan-jalan ke atas bukit kecil itu”

“Sudah lama puteri tidak pergi ke sana, melihat-lihat jalur jalan kecil itu dari atas bukit yang kini berwarna hijau. Dan sudah lama puteri tidak lagi menghiraukan suara seruling yang menghimbau dari lembah, tempat anak-anak gembala bermain-main dengan ternaknya.

Inten semakin bingung, tetapi ia menjawab juga “Aku tidak mempunyai waktu lagi..”

Kidang Alit tertawa, katanya “Apakah yang puteri sibukkan…?, tamu-tamu puteri baru kemarin berada disini, sebelumnya puteri tentu masih sempat jika puteri ingin.

Inten bertambah bingung, nampak wajahnya bahwa ia tidak dapat segera menemukan jawabnya. Ia tidak mengerti kenapa anak muda itu seakan-akan menuntunnya, karena agak lama tidak keluar dari istananya, justru pada saat ia berjalan bersama dengan saudara sepupunya.

Karena Inten Prawesti menjadi bingung, maka tiba-tiba saja Kuda Rupaka bertanya kepada Inten Prawesti, “Diajeng, apakah diajeng sering juga pergi ke atas bukit itu..?”

Pertanyaan itupun membingungkan, tetapi Inten mengangguk sambil menjawab lirih. “Ya…aku memang sering pergi ke atas bukit itu…”

“Dan pada suatu saat diajeng tidak pergi ke atas bukit ?”

“Ya…”

“Itu adalah hakmu, kau dapat pergi kapan saja kau ingin pergi. Dan kau dapat tinggal di dalam istana sampai kapanpun, bahkan jika tiba-tiba timbul keinginanmu untuk pergi ke Demak bersama aku besok atau lusa…”

Inten Prawesti termangu-mangu sejenak, dan sebelum ia menyahut, terdengar Kidang Alit tertawa, katanya “Lembah ini mempunyai kenangan yang manis bagi puteri. Suara seruling yang tidak berirama itu justru merupakan daya tarik yang tidak mudah dipisahkan antara puteri dan lereng-lereng pegunungan yang hijau”

“Sebuah mimpi yang mengasyikkan” Kuda Rupaka yang menyahut. “Tetapi pada suatu saat seorang harus bangun dari tidurnya, jika tidak, maka ia akan tetap pada keadaanya yang paling buruk tanpa mengalami perubahan apapun juga”

Kidang Alit agaknya masih akan menjawab lagi, tetapi tiba-tiba Inten berkata “Kenapa tiba-tiba saja kita harus melayaninya ?”

Kuda Rupaka memandangi Inten sejenak. Sambil tersenyum ia berkata “Agaknya diajeng baru menyadari bahwa tidak sepantasnya melayani pembicaraan seorang anak muda yang bukan kadang di pinggir jalan seperti ini”

“Marilah kita berjalan terus” ajak Pinten

Kuda Rupaka mengangguk, senyumnya masih nampak di bibirnya, ia berkata “Sebaiknya kita lebih memperhatikan bukit yang hijau itu daripada orang-orang yang mengganggu perjalanan ini”

Inten Prawesti yang menjadi semakin berdebar-debar itu tidak membicarakan lagi. Ia melihat keadaan yang rasa-rasanya menjadi semakin tegang, karena itu, maka iapun segera meninggalkan tempat itu.

Kuda Rupaka masih sempat memandang wajah Kidang Alit sejenak, ketika iapun kemudian melangkah mengikuti adik sepupnya. Nampak sesuatu yang aneh memancar di mata Kidang Alit.

Tetapi Kuda Rupakapun kemudian tidak menghiraukan lagi. Dengan tergesa-gesa ia menyusul Inten Prawesti yang sudah mendahuluinya. Dibelakangnya Panji Sura Wilaga berjalan dengan tengangnya, seolah-olah ia sedang tidak melihat ketegangan yang baru saja terjadi.

Kidang Alit yang masih tetap berdiri di pinggir jalan kecil itu memandang ketiga orang yang berjalan menjauhinya. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia tersenyum sendiri, katanya “Anak muda yang meyakinkan, agaknya memang ia memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Dengan jari-jarinya ia mengetahui bahwa Kasdu telah aku bebaskan dari racun yang sangat parah itu”

Namun kemudian, ia berkata pula kepada dirinya sendiri “Tetapi kehadirannya di padukuhan kecil ini perlu mendapat perhatian. Ketiga orang kasar dan memilki tenaga racun itu sudah terasa mengganggu, apalagi kedatangan kedua orang bangsawan ini”

Tetapi Kidang Alit tidak mengambil sikap apapun pada saat itu. Dengan tergesa-gesa, iapun berjalan meninggalkan tempatnya dan kembali ke padukuhan.

“Mudah-mudahan ketiga orang yang berada di banjar padukuhan tidak pergi ke lereng itu pula, jika mereka bertemu muka dengan bangsawan-bangsawan itu, maka akan dapat timbul benturan diantara mereka” gumamnya sambil berjalan menyusuri jalan sempit.

Apa yang terjadi itu, agaknya telah menggelisahkan Inten Prawesti, itulah agaknya ia menjadi gelisah, bukit-bukit yang hijau dan lembah-lembah yang ditumbuhi rerumputan, tidak menarik lagi baginya, jalan-jalan yang nampak menjauh seperti tubuh seekor ular yang menjalar meninggalkan liangnya dibawah gunung, tidak dapat memikatnya lagi.

“Kau nampak gelisah diajeng” bertanya Kuda Rupaka

“Ya… aku gelisah sekali”

Kuda Rupaka tertawa, katanya “Jangan hiraukan anak itu, mungkin sebelum aku berada di istana bibi, ia sudah sering mengganggumu pula”

Inten ragu-ragu sejenak, tetapi kemudian jawabnya  dengan jujur “Aku mula-mula senang mendengarkan ia bermain dengan seruling. Tetapi aku menjadi takut kepadanya setelah peristiwa gadis padukuhan itu terjadi”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, mendengar Inten yang kemudian bercerita dengan singkat tentang Kidang Alit itu.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya “Sudahlah, jangan dicemaskan lagi, kau memang tidak usah lagi berhubungan dengan anak muda itu”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, tetapi ia sudah tidak dapat menenangkan dirinya lagi, setiap kali nampak kegelisahan memercik pada sikapnya.

Ternyata Raden Rupakapun dapat mengerti, sehingga sejenak kemudian iapaun berkata sambil tersenyum “Paman Sura Wilaga, agaknya diajeng Inten Prawesti terpengaruh oleh peristiwa itu, karena itu, marilah kita kembali saja ke istananya, lain kali kita akan mendapat kesempatan untuk berada di bukit ini lagi”

Panji Sura Wilaga tersenyum, jawabnya “Tentu puteri menjadi gelisah, baiklah kita kembali saja, tetapi lain kali, aku akan menyingkirkan anak muda itu jika ia berani mangganggu puteri”

Inten Prawesti sama sekali tidak menyahut, ia memang ingin segera pulang, tetapi ia tidak dapat mengatakannya.

Demikianlah, mereka bertiga tidak lama berada di lereng bukit itu. Perlahan-lahan mereka berjalan turun menyelusuri jalan di lereng yang rendah itu.

Namun di sepanjang perjalanan itu, Raden Kuda Rupaka tidak henti-hentinya mengagumi peninggalan Pangeran Kuda Narpada. Bukan berujud harta benda atau bangunan-bangunan yang besar dan kuat, tetapi peninggalan itu berupa warna-warna hijau di lereng pegunungan yang luas, parit yang mengalirkan air yang jernih dan jalan-jalan yang semakin teratur.

Inten sempat menceritakan keadaan padukuhan itu sebelum ia bersama keluarganya menetap di istana itu.

“Rakyat Karangmaja tentu tidak akan melupakan jasa paman Pangeran Kuda Narpada” berkata Kuda Rupaka.

“Ya…, agaknya mereka bersikap sangat baik kepada kami sampai saat ini”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tentu rakyat padukuhan kecil itu tidak akan dapat mengingkari kenyataan yang masih dapat dihayatinya saat itu.

Ketika kemudian mereka menjadi semakin rendah di kaki bukit kecil itu, sekali ini Inten tertegun, ia melihat dua orang yang sedang berjalan menyusuri kaki bukit itu pula.

“Siapakah mereka ?” bertanya Raden Kuda Rupaka “Apakah mereka juga termasuk anak muda yang bertingkah laku seperti Kidang Alit itu ?”

“Ooo…, Tentu bukan” sahut Inten Prawesti “Apakah kamu tidak mengenal mengenal mereka ?”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya.

“Apakah keduanya anak-anak yang ada di istana itu diajeng ?”

“Ya.. keduanya adalah anak-anak pembantuku yang mengikuti perjalanan kami dari Majapahit”

“Ooo…” Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tetapi ia tidak menghiraukan kedua anak muda kakak beradik itu.

Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, Inten Prawestilah yang memanggil keduanya untuk mendekat.

Sambil berjalan terbungkuk-bungkuk kedua orang kakak beradik itu mendekati Inten Prawesti, wajah mereka nampak tegang dan membayangkan kegelisahan.

“He… kenapa kalian berada disini ?”

“Ampun puteri, maksud kami, kami hanya sekedar ingin melihat-lihat daerah baru ini”

Inten mengerutkan keningnya, tetapi iapun kemudian tersenyum, “Kenapa kalian menjadi gelisah ?, Aku tidak apa-apa, jika kalian ingin melihat-lihat tanah yang mulai menjadi hijau ini, pergilah, mungkin ada gunanya bagi kalian berdua”

“Ya… puteri, bahkan biyung tadi menyuruh kami berdua mencoba memperkenalkan diri kepada anak-anak muda di Karangmaja, biyung mengatakan agar aku menyebur diri sebagai anak Nyi Upih. Agaknya biyung kami sudah banyak dikenal oleh orang-orang Karangmaja”

Inten Prawesti tersenyum, katanya “Itu memang ada baiknya, kalian dapat berhubungan dengan anak-anak muda Karangmaja, agar jika kalian memerlukan sesuatu, kalian dapat minta bantuan mereka”

“Terima kasih puteri”

“Pergilah ke Padukuhan itu, atau kelereng bukit, tempat anak-anak muda Karangmaja menggembalakan ternak mereka”

“Baik puteri…”

Namun dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka menyambung “Tetapi berhati-hatilah, bersikaplah sebaik-baiknya agar kalian tidak mendapat gangguan dari mereka”

“Terima kasih Raden, kami akan mencoba berbuat sebaik-baiknya, sesuai dengan derajat kami”

Inten dan Raden Kuda Rupakapun kemudian meneruskan perjalanan mereka diikuti olah Panji Sura Wilaga, kembali ke istana kecil yang terpencil itu.

Seperti yang diminta oleh ibunya, Sangkan dan Pinten berusaha untuk berkenalan dengan anak-anak muda dari Karangmaja, kehadiran mereka di padang rumput di lereng bukit, memang sama sekali belum pernah mengenal kedua kakak beradik itu.

Tetapi seperti pesan ibunya, maka Sangkanpun segera mengatakan bahwa mereka adalah anak Nyi Upih, pelayan pada istana kecil dan terpencil itu.

“Ooo….” Seorang gembala yang bertubuh tinggi besar mendekati Sangkan sambil tersenyum “Jadi kau anak Nyi Upih itu ?”

“Ya…” jawab Sangkan

“Kami mengenal ibumu dengan baik, ia serng ke rumahku dan kadang-kadang membeli sesuatu dari ibuku”

Sangkan mengangguk-angguk, sambil tersenyum pula ia berkata “Kami ingin memperkenalkan diri kami”

“Marilah, ikut kami, kakak-kakak kami yang lebih besar berada dibawah, tetapi sebagian ada yang tinggal di rumah Ki Buyut disaat-saat seperti ini”

“Dirimah Ki Buyut ?, Apakah mereka bekerja disana ?”

“Jika ada waktu senggang, kakak-kakak kami memang sering berkumpul disana, Ki Buyut sering memerlukan anak-anak muda untuk membantunya mengatur padukuhan ini sebaik-baiknya seperti yang dianjurkan oleh Pangeran Kuda Narpada, bukankan kalian berada di istana Pangeran itu ?“

“Ya… tapi sayang, kami datang jauh terlambat Pangeran Kuda Narpada sudah tidak ada di istana kecil itu lagi”

“Kami semua menyesal kerpergian itu” berkata gembala itu “Apalagi ayahku, ia benar-benar merasa kehilangan pelindung yang paling baik, bahkan telah berhutang budi kepada Pangeran Kuda Narpada?

Sangkan hanya mengangguk-agukkan kepalanya

“Marilah..” ajak anak muda itu “Aku antarkan kalian ke rumah Ki Buyut.

Sangkan memandang adiknya sejenak, namun agaknya Pinten berkeberatan, katanya “Lain kali saja, pergilah sendiri ke rumah Ki Buyut itu kakang”

Sangkan tersenyum, katanya “Lain kali saja Ki Sanak, tetapi kali ini, setidak-tidaknya aku sudah mengenal beberapa anak-anak muda Karangmaja”

Karena Pinten berkeberatan untuk pergi ke rumah Ki Buyut, maka merekapun mengurungkan niatnya untuk pergi ke padukuhan.

“Maaf Ki Sanak” berkata Sangkan kemudian “Sampaikan saja salamku kepada anak-anak muda di Karangmaja, pada suatu saat kami makan menemui mereka dan berkenalan dengan mereka, selanjutnya kami adalah bagian dari anak-anak di Karangmaja, kami sudah berniat, untuk tetap tinggal disini, sehingga karena itu, kami harus merpersatukan diri dengan kalian”

“Kami akan menerima kalian dengan senang hati” jawab anak yang bertubuh tinggi itu “Seperti kami menerima Kidang Alit disini, Ia telah memberikan banyak pertolongan dan petunjuk bagi anak-anak muda di Karangmaja”

“Siapakah Kidang Alit itu ?” bertanya Sangkan. “Jika yang kalian maksud dua orang bangsawan yang ada di istana Pangeran Kuda Narpada itu, mereka adalah Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga”

“Bukan…. Bukan kedua bangsawan itu, Kidang Alit adalah seorang petualang. Ia masih muda seperti engkau, ia mempunyai banyak kelebihan dari kami anak-anak muda Karangmaja dalan segala hal”

Sangkan mengangguk-angguk, lalu katanya “Sayang kami tidak memiliki kelebihan apa-apa”

“Tetapi barangkali kalian dapat memberikan pengalaman-pengalaman yang pernah kalian alami di daerah kalian yang lama, bukankah kalian pernaj tinggal di daerah peradaban yang lebih tinggi dari padukuhan kami yang terpencil ini ?”

Sangkan mengangguk-angguk, tetapi jawabnya “Di daerah yang lama itupun kami berdua tidak lebih dari seorang anak pelayan”

“Tentu, justru oleh karena itu akan dapat berguna bagi kami disini yang masih ketinggalan”

Sangkan tersenyum, katanya “Kami akan memberikan apa yang dapat kami lakukan seperti saat-saat kami berada di daerah kami yang lama. Tetapi agaknya Pangeran Kuda Narpada dan anak muda yang bernama Kidang Alit itu telah memberikan  banyak sekali bagi kalian, sehingga tidak ada lagi yang dilampaui”

Gembala yang bertubuh tinggi itupun tersenyum, katanya kemudian “Baiklah, kami akan menyampaikan kepada kawan-kawan kami tentang kehadiran kalian di istana kecil itu, mudah-mudahan istana itu tidak lagi terlampau suram seperti saat-saat yang lalu”

“Kini istana itu akan menjadi semakin hidup dengan kehadiran Raden Kuda Rupaka” jawab Sangkan, lalu “Baiklah kami minta diri, kami akan pergi ke ujung bukit kecil itu, kami ingin melihat daerah yang luas dengan lekuk-lekuk alam yang sangat menarik. Dalam perjalanan  dari kota roja, kamipun melalui daerah-daerah pegunungan, tetapi pada umumnya lereng-lereng pegunungan itu nampak gersang dan kering, tetapi pegunungan di daerah ini nampak hijau dan segar”

Demikianlah Sangkan dan Pinten meninggalkan gembala-gembala yang masih sangat muda itu. Tetapi hubungan itu adalah permulaan dari pergaulannya dengan anak-anak muda di Karangmaja yang lebih tua lagi dari gembala-gembala itu.

Ketika mereka sampai diatas bukit kecil itu, merekapun menebarkan pandangan mata mereka kesekelilingnya, daerah yang luas dan hijau, meskipun disana-sini masih ada juga daerah yang masih perlu mendapat pemeliharaan.

Keduanya tidak terlalu lama berada diujung bukit kecil itu, Pintenpun kemudian mengajak kakaknya segera kembali ke istana kecil yang terpencil itu.

“Kau masih akan tidur lagi sepanjang hari ?” bertanya kakanya.

Pinten mengerutkan keningnya, kaktanya “Tetapi aku sekarang tidak pincang lagi”

Kakaknya memandang wajah adiknya yang mulai cerah, tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

“Apakah kita akan berlomba lari ?” Pintenlah yang bertanya.

“Lereng ini miring sekali, jika kau terdorong dan tidak dapat menahan diri, kau akan jatuh terlungkup, mungkin wajahmu akan tergores batu padas”

Pinten mangn-mangu sejenak, namun kemudian iapun mengangguk-angguk sambil bertanya “Apakah kira-kira akan terjadi demikian jika kita berlomba lari ?”

Sangkan sama sekali tidak menjawab, tetapi iapun menunjuk kelembah, dibawah bukit disini yang lain dari istana kecil itu “Kau lihat, ternak itu semakin lama semakin tumangkar, padukuhan ini akan mengalami hari-hari yang semakin baik jika mereka tidak meninggalkan petunjuk-petunjuk yang pernah diberikan oleh Pangeran Kuda Narpada”

Pinten mengedarkan tatapan matanya, sambil mengangguk-angguk ia berkata “Nampaknya orang-orang Karangmaja bukan orang-orang yang cepat menjadi jemu, sesuatu yang dianggapnya baik dilakukannya terus”

“Tetapi mungkin anak muda yang disebut namanya bernama Kidang Alit itupun banyak memberikan pengaruh kepada padukuhan ini.

Pinten tidak menyahut, rasa-rasanya ia sedang menikmati hijaunya bukit disekitarnya.

Namun tiba-tina ia menggamit kakaknya sambil berkata “Kakang, kau lihat tiga orang yang berkuda itu ?”

Sangkan mengangguk

“Bagaimana jika mereka datang kemari ?”

“Kenapa ?, biar sajalah mereka datang kemari ?”

“Apakah mereka tidak akan berbuat apa-apa atas kita ? Ketiga orang itu tentu orang-orang yang pernah dikatakan ibu, bahwa mereka adalah orang-orang yang kasar dan bahkan buas”

“Tetapi mereka tentu tidak akan berbuat apa-apa atas kita…, kita sama sekali bukan orang-orang penting, kita hanyalah anak seorang pelayan, apakah yang akan dilakukan oleh ketiga orang itu atas kita ?”

“Tetapi aku cemas, aku seorang perempuan, mungkin mereka akan berbuat sesuatu atasku”

“Ah…, kau terlampau perasa, apa kau sangka kau itu seorang gadis yang cantik ? yang dapat membuat setiap laki-laki tergila-gila kepadamu, sehingga dengan demikian kau cemaskan dirimu sendiri”

“Ah..!” Pinten mencubit kakaknya sehingga kakaknya mengaduh “Katakan sekali lagi”

“Kukumu seperti kuku macan Pinten”

“Kau nakal sekali”

Sangkan masih akan menyahut, tetapi ternyata ketiga orang berkuda itu benar-benar menjadi semakin dekat.

“Sebaiknya kita pergi saja” ajak Pinten

“Kembali ke istana ?”

“Tetapi Pinten mengerutkan keningnya sambil megeluh “Kita tidak punya waktu. Itu mereka sudah datang, mereka sudah melihat disini”

Sangkan memandang ketiga orang berkuda yang menjadi semalin dekat, namun tampaknya ia tidak menjadi cemas.

“Aku bukan orang penting, mereka tentu tidak akan menghiraukan kita” desisnya.

Namun ternyata ketiga orang itu memperhatikan kedua anak-anak muda itu, bahkan seorang dari merekapun kemudian mendekatinya sambil bertanya “He ! sapakah kalian ?”

“Aku sangkan tuan, dan ini adalah adikku Pinten”

Orang itu memandang Pinten dengan mata yang hampir tidak berkedip, namun tiba-tiba ia bertanya “Itu adikmu ?”

“Ya, ya tuan”

Orang itu masih saja memandang Pinten dengan tajamnya sehingga wajah Pinten menjadi kemerah-merahan, Ia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya, bahkan kemudian iapun bergeser mendekati kakaknya,

“Dimana rumahmu ? bukankah kau juga anak-anak Karangmaja ?”

Sangkan menggelengkan kepalanya, jawabnya “Bukan tuan, kami bukan anak-anak Karangmaja”

“He…! “

“Kami tinggal di istana kecil itu, kami adalah pelayan dim istana itu”

“Orang yang masih duduk dipunggung kudanya itu mengangguk-angguk, tetapi iapun kemudian berpaling kepada kedua kawannya, katanya “Mereka tinggal di istana itu”

“Kami mendengar” jawab salah soerang kawannya “Biarlah mereka pergi, kami tidak memerlukannya”

“Tunggu !” jawab orang yang pertama “Apakah gadis itu memang sebenarnya adikmu ?”

“Ya tuan”

Orang itu masih akan bertanya lagi, tetapi kawannya telah memotongnya “Ah… kau menjadi mabuk, jika kau melihat perempuan, biarlah mereka kembali ke istana itu, jika pada suatu saat kau benar-benar memerlukannya, kau dapat mengambilnya”

“Aku memang akan membawanya sekarang”

Kawannya mengerutkan keningnya, katanya “Kemarilah”

Orang yang pertama-tama bertanya kepada kedua anak muda itupun bergeser mendekati kawannya, sambil berkata kepada Pinten “Jangan pergi !”

Pinten benar-benar menjadi bingung, sekali ia melihat orang berkuda itu mendekati kawan-kawannya.

“Kau jangan gila” berkata kawannya “Di istana itu ada dua orang bangsawan, jangan membuka persoalan, yang penting bagi kita, masih belum kita ketemukan, jangan mementingkan persoalan-persoalan kecil yang tidak berarti, jika yang pokok itu sudah kita selesaikan, terserahlah kepadamu, di istana itupun ada seorang gadis yang lebih cantik”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam.

“Biarkan mereka pergi”

Orang yang pertama-tama bertanya kepada Sangkan itupun ragu-ragu sejenak, namun kemudian katanya dengan lantang “Pergilah ! kami tidak memerlukan kalian”

Demikian kata-kata itu diucapkan, maka Pintenpun segera menarik tangan kakaknya dan dengan tergesa-gesa sekali meninggalkan tempat itu.

Ketiga orang berkuda itu tertawa melihatnya, namun dalam pada itu, sepasang mata yang memperlihatkan peristiwa itu dari balik gerumbul agak dikejauhanpun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa Kidang Alit memperhatikan peristiwa itu dari agak jauh dibalik gerumbul perdu, meskipun ia tidak mendengar percakapan diantara mereka, tetapi ia dapat menduganya.

Sejenak Kidang Alit tetap berada ditempatnya, didalam hati ia berkata “Untunglah bukan kedua bangsawan bersama Inten Prawesti yang mereka jumpai, jika mereka bertiga masih belum kembali ke istana, mungkin akan dapat terjadi benturan diantara mereka, karena mereka masing-masing memiliki kelebihan”

Akhirnya Kidang Alit harus bergeser ketika ketiga orang berkuda itupun kemudian meninggalkan bukit kecil itu. Tetapi agaknya mereka tidak akan segera kembali ke padukuhan, karena ternyata mereka menempuh perjalanan kearah lain.

Kidang Alit kemudian muncul dari balik gerumbul itu menarik nafas dalam-dalam, sejenak ia mengamati ketiga orang yang semakin lama semakin kecil dan akhirnya menghilang sama sekali.

“Jika bangsawan-bangsawan itu terlambat sedikit, mereka akan bertemu dengan ketiga iblis itu” Desisnya

Perlahan-lahan Kidang Alitpun kemudian meninggalkan tempatnya, tetapi ia tidak lagi tergesa-gesa kembali ke padukuhan, ia berdiri beberapa saat lamanya, memandangi istana kecil yang ternyata telah bertambah penghuni.

Sejak saat itu, perhatian Kidang Alit kepada istana kecil itu menjadi semakin bertambah, terutama kepada kedua bangsawan yang untuk beberapa saat lamanya tinggal di istana itu pula.

Ki Buyut Karangmaja merasa, bahwa kehadiran orang-orang baru di padukuhannya agaknya membawa mengaruh yang kurang baik, ia merasa adanya pertentangan meskipun tidak terbuka diantara mereka. Namum Ki Buyut tidak merasa kuasa berbuat apa-apa, ia sadar bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang dapat dibanggakan, bahkan seakan-akan masing-masing justru ingin mencoba, apakah ada orang lain yang melampaui kemampuan ilmu masing-masing.

Dalam pada itu, tingkah laku ketiga orang-orang kasar yang menyebut dirinya bernama Kumbara, Gagak Wereng dan naga Pasa menjadi semakin menggetarkan hati setiap orang di padukuhan Karangmaja, bahkan beberapa orang tidak lagi berani lewat di muka banjar padukuhan, apalagi perempuan dan mereka yang sedang mambawa barang-barang berhargam bahkan makanan.

“Apakah ada seseorang yang pernah diganggunya ?” bertanya Ki Buyut kepada anak-anak muda “Terutama perempuan ?”

Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak, namun merekapun kemudian menggeleng “Yang dapat disebut dengan pasti memang belum ada Ki Buyut”

“Baiklah, jagalah agar perempuan-perempuan di Karangmaja berbuat dengan hati-hati, jangan mendorong orang-orang kasar itu berbuat sesuatu atas diri mereka, karena itu, jauhi sajalah mereka sedapat mungkin”

Pesan itu ternyata semakin menggetarkan hati perempuan dan gadis-gadis Karangmaja, ketiga orang kasar itu, seolah-olah bagaikan iblis yang merenungi liang-liang kubur yang masih baru. Dalam setiap saat, tangan-tangannya yang besar dan kasar, akan mencengkam tanah yang masih basah dan mengungkat kembali mayat yang terbujur di dalamnya.

Namun beruntunglah, bahwa tidak pernah terdengar berita tentang perempuan yang menjadi korban mereka,

Dalam kecemasan tentang perempuan dan gadis-gadis di Karangmaja karena kehadiran orang-orang kasar itu, maka justru yang terjadi adalah diluar dugaan.

Sekali lagi Karangmaja diributkan oleh seorang gadis yang tidak dapat menahan diri dan melepaskan kegadisannya yang diserahkan kepada Kidang Alit. Dan sekali lagi dengan nada penyesalan yang dalam, Kidang Alit menghadap Ki Buyut Karangmaja dengan pengakuan yang jujur.

“Seperti yang pernah terjadi, Ki Buyut” berkata Kidang Alit “Aku seolah-olah telah kehilangan kepribadianku ketika gadis itu memaksaku melakukan perbuatan terkutuk itu”

“Aku tidak memaksa” bantah gadis itu.

“Tidak dengan kata-kata, tetapi dengan sikap dan perbuatan” sahut Kidang Alit

Gadis tidak menjawab, ia memang melakukan seperti yang dikatakan oleh Kidang Alit, Kidang Alit Memang seorang anak muda yang lain dari anak muda Karangmaja.

“Kenapa terjadi hal itu ?” bertanya Ki Buyut kepada gadis itu.

“Aku tidak tahu, tetapi sentuhan jari-jarinya bagaikan telah membiusku”

“Aku tidak sengaja berbuat apa-apa, aku menolongnya naik tebing yang curam itu” sahut  Kidang Alit.

“Memang aneh sekali” berkata Ki Buyut “Peristiwa yang pernah terjadi memang hampir serupa. Seolah-olah sentuhan jari-jari Kidang Alit telah meracuni gadis-gadis itu”

“Sama sekali tidak aku sengaja Ki Buyut, bahkan akupun merasa seolah-olah aku telah ditenungnya dan melakukannya diluar sadar”

Penyelesaian yang ditempuhnya serupa pula dengan penyelesaian yang pernah dilakukan. Seorang anak muda Karangmaja bersedia mengawininya, tetapi Kidang Alit harus membeli sepasang kerbau bagi sepasang pengantin baru itu.

Kidang Alit tidak dapat ingkar, ia harus menerima keputusan itu.

Namun ternyata bahwa Kidang Alit mempunyai bekal yang cukup, ia masih sanggup bukan saja membeli sepasang lembu atau kerbau, tetapi berpasang-pasang. Dan Ki Buyutpun bertanya didalam hatinya “Apakah dengan demikian peristiwa yang serupa masih akan terjadi”

Tetapi untuk sementara waktu Ki Buyut masih berusaha menahan perasaannya. Kidang Alit telah pernah memberikan sessuatu yang tidak pernah  dapat diberikan orang lain atau salah seorang anak-anak muda Karangmaja, ia telah menyelamatkan Kasdu dari bencana yang sangat mengerikan.

“Tetapi apakah dengan demikian berarti Kidang Alit akan dibiarkan berbuat apa saja di padukuhan ini ?” pertanyaan itu telah memukul dinding jantung Ki Buyut di Karangmaja.

Dalam waktu yang singkat, berita itupun telah menjalar di seluruh padukuhan, bahkan Nyi Upih yang sedang mencari keperluan sehari-hari di padukuhan itupun segera mendengar pula peristiwa itu.

Karena itulah, maka ketika ia kembali ke istana, iapun segera menyapaikan hal itu kepada momongannya, Inten Prawesti.

“Puteri, ternyata puteri telah mengambil keputusan yang palung bijaksana, memang bukan mustahil, bahwa Kidang Alit menyimpan maksud yang kurang baik terhadap gadis-gadis, apalagi apabila puteri sempat dibujuknya”

“Ah… mengerika sekali” desis Inten Prawesti “Terasa seluruh kulit tubuhnya telah meremang.

“Yang manakah anak muda yang bernama Kidang Alit itu ibu ?” bertanya Pinten “Akupun akan menjauhinya pula”

“Oo macam kau Pinten, kau jangan merasa dirimu cantik, gadis-gadis Karangmaja masih lebih cantik dari pada kau, karena itu Kidang Alit akan menghiraukan kau sama sekali”

“Tentu tidak Nyai” potong Inten Prawesti “Pinten adalah seorang gadis yang cantik sekali, ketika ia baru datang, wajahnya memang nampak kasar, kotor dan terbakar oleh sinar matahari, tetapi kini ia nampak cantik sekali”

“Oo…. Puteri jangan memuji, ia akan kehilangan akal dan merasa dirinya orang yang paling cantik di seluruh Majapahit, itu akan berbahaya baginya”

Inten Prawesti tertawa, sedang Pinten yang memberengut nampak justru benar-benar cantik sekali.

Namum mereka terkejut ketika mendengar suara tertahan dari dari balik dinding, ternyata Sangkan yang mendengar pembicaraan itu tidak dapat menahan tertawanya, sambil menjengukkan kepalanya ia berkata “Pinten, aku jadi kasian sekali kepadamu, kenapa kau merasa dirimu menjadi perhatian orang”

“Siapa..! siapa he…?” Pinten menjawab lantang

Tetapi Sangkan sudah hilang dan berlari ke halaman belakang istana itu sambil menyambar sapu lidi, karena ia memang akan membersihkan halaman itu.

Di Karangmaja, Ki Buyut rasa-rasanya hamir kehilangan akal pula, ia tidak tahu, apakah yang sebaiknya dikerjakan. Ia memerlukan Kidang Alit, karena menurut perhitungannya, Kidang Alit akan dapat membantu mengatasi kesulitannya yang dapat terjadi setiap saat. Jika ketiga orang yang berada di banjar itu menjadi semakin liar. Tetapi agaknya Kidang Alit sendiri telah melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dapat dianggapnya baik bagi para penghuni padukuhan Karangmaja yang kecil itu

Bab 6

Kadang-kadang Ki Buyut pun dihinggapi oleh pertanyaan tentang anak muda itu, siapakah sebenarnya anak muda yang menyebut dirinya Kidang Alit, seorang petualang itu ?

Dalam kebingungan Ki Buyut kadang-kadang berjalan tanpa tujuan mengelilingi padukuhannya, maka iapun selalu menghindari banjar padukuhannya, ia lebih memilih jalan melingkari padukuhan kecilnya dari pada melalui jalan induk yang menjulur di depan banjar, jalan yang justru semakin lama menjadi semakin sepi. Hanya orang-orang yang bertugas untuk menyampaikan makan dan minum bagi ketiga orang yang tinggal di banjar itu sajalah agaknya yang masih berjalan melalui jalan induk padukuhan itu.

Ternyata Kumbara, Gagak Wereng dan Naga Pasapun merasakan suasana yang semakin memburuk di padukuhan itu. Padukuhan kecil itu terasa menjadi semakin sepi dan asing.

Karena itu, maka Kumbara merasa perlu untuk segera mengambil sikap, ia sudah merasa terlalu lama berada di padukuhan kecil yang menjemukan itu.

“Kedua bangsawan itu ternyata tidak segera pergi dari istana kecil itu” berkata Kumbara.

“Ya.., kita sudah terlalu lama menunggu” Sahut Naga Pasa “Aku sudah tidak sabar lagi”

“Mula-mula kita menunggu dua hari, kemudian tiga, empat dan berkepanjangan” potong Gagak Wereng “Sudah waktunya untuk segera bertindak”

“Jadi, apakah ayahnya, kakeknya, pamannya dan siapa saja yang akan mengambil tindakan balasan, sekarang yang penting, tugas kita dapat kita selesaikan dengan sebaik-baiknya”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk, seolah-olah mereka sudah mendapatkan kesepakatan untuk bertindak.

Ternyata merekapun kemudian segera membicarakan apa yang sebaiknya mereka lakukan. Dengan mempertimbangkan semua keadaan dan kemungkinan yang ada di Karangmaja.

“Orang-orang Karangmaja tidak akan ada yang berani berbuat apapun juga, meskipun mereka mengetahui apa yang kita lakukan di istana kecil itu” berkata Kumbara “Kita sudah memberikan contoh akibat yang dapat timbul jika seseorang berani mengganggu kehadiran kita disini”

“Ya…” sahut Gagak Wereng “Jika perlu kita akan memberikan contoh lebih banyak lagi”

“Itu tidak perlu, orang-orang Karangmaja dapat kita abaikan didalam hubungan dengan tugas kita” berkata Naga Pasa “Yang harus kita perhatikan adalah justru kedua orang bangsawan yang ada di istana itu”

“Sudah tentu” sahut Kumbara “Bukankah kita sudah mengambil sikap terhadap keduanya ?,  Keduanya harus kita singkirkan tanpa menghiraukan siapapun yang dapat menuntut balas atas kematian mereka”

“Jika demikian maka tidak ada persoalan lalgi bagi kita” berkata Naga Pasa “Kita dapat berangkat sekarang juga ke istana kecil itu dan langsung bertindak sesuai dengan tugas kita”

“Memang tidak akan ada kesulitan apapun juga, tetapi tindakan yang demikian adalah tergesa-gesa dan dapat menimbulkan keonaran”

“Jadi…?” desis Naga pasa “Apakah yang harus  kita lakukan ?”

“Kita menunggu hari gelap, apapun yang kita lakukan, tidak dilihat oleh orang banyak, sehingga apabila kelak benar-benar datang beberapa orang yang mencari kedua bangsawan yang malang itu, tidak banyak orang yang dapat memberikan keterangan yang akan dapat menjadi petunjuk bagi mereka, untuk melacak jejak kita, meskipun seandainya mereka mengetahui juga siapakah kita, namun hal itu akan memerlukan waktu”

“Kau memang terlampau berhati-hati, aku tidak melihat perbedaan sama sekali, tetapi baiklah, jika kau menganggap bahwa bertindak di malam hari agaknya lebih baik dari siang hari. Kau orang tertua diantara kita”

“Baiklah” berkata Kumbara kemudian “Kita akan memasuki istana itu dari pintu gerbang, kita tidak akan besembunyi-sembunyi seperti tikus mencuri daging”

“Sudah barang tentu, kita akan memasuki dengan dada terngadah, kita tahu, bahwa kedua orang bangsawan itu tentu akan mencoba melawan. Tetapi mereka akan kita bunuh dan  mayatnya kita tinggalkan di luar pintu gerbang”

“Semuanya yang menantang rencana dan tugas kita akan kita bunuh, Raden Ayu  itupun jika tidak mau membantu tugas kita, akan kita bunuh juga”

Tetapi jangan gadis itu” desis Naga Pasa

“Persetan” geram Kumbara “Itu diluar pembicaraan kita, tetapi jika gadis itu menyulitkan kita, apa boleh buat”

“Aku tidak akan membawanya, aku hanya memerlukannya sementara waktu, jika kemudian harus dibunuh, aku tidak berkeberatan” Naga Pasa berhenti sejenak, lalu “Sudah barang tentu kedua-duanya”

“Kenapa kedua-duanya ?” geran Gagak Wereng

“Bukankah ada  dua orang gadis di dalam istana itu”

“Gila, itu urusanmu, tetapi jangan mengganggu tugas kita”

“Tidak…, aku berjanji, tugas kita akan kita selesaikan lebih dahulu, aku baru akan memerlukannya, setelah semuanya yang bersifat hidup di dalam istana itu,  mati terbunuh, kecuali dua orang gadis itu”

Kumbara mengerutkan dahinya, namun kemudian iapun menggeram “Jangan kau membicarakan dengan kami, selesaikan persoalanmu sendiri, tetapi setiap persoalan yang dibeliti oleh nafsu seperti itu, akan mendatangkan sial. Karena itu, jika benar-benar demikian, biar kau sajalah yang akan dimakan oleh nasibmu yang buruk”

Istana Yang Suram 5

Naga Pasa tertawa katanya “Kau jangan mengutuk begitu, baiklah, jika kalian tidak mau, akupun tidak akan memaksa, nanti akan timbul pertimbangan tersendiri setelah semuanya selesai. Nah, karena itu, maka jika terjadi sesuatu, bukanlah aku penyebabnya”

Kedua kawannya tidak begitu menghiraukannya lagi. Merekapun kemudian sibuk mempersiapkan senjata masing-masing, senjata yang jarang sekali mereka pergunakan, karena dalam keadaan sehari-hari mereka sudah cukup percaya kepada tangan-tangan mereka yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Apalagi mereka berada di dalam masyarakat pedesaan yang dianggapnya tidak akan mampu berbuat apapun juga atas mereka. Yang mereka pertimbagkan kemudian adalah dua orang bangsawan yang ada di dalam istana itu. Keduanya tentu bukan orang kebanyakan di dalam ilmu kanuragan. Karena itu, maka mereka bertiga harus mempersiapkan diri mereka sebaik-baiknya.

“Anak muda itu memang berani” berkata Kumbara “Apalagi agaknya ia diiringi oleh seorang pengawal yang tangguh, tetapi mereka tentu belum mengenal siapakah kita”

“Tentu mereka sudah mendengar tentang anak Karangmaja yang kita lumpuhkan itu” sahut Naga Pasa.

“Tetapi berbuat demikian terhadap tikus dari Karangmaja adalah mudah sekali. Dengan ilmu yang paling permulaan dan sekedar racun yang dapat dicuri dari orang-orang yang mengerti tentang ilmu obat-obatan, maka hal itu akan dapat dilakukan”

“Tetapi sudah barang tentu tidak dengan cara seperti yang kita lakukan atas anak itu. Mungkin dengan menggoreskan senjata ditubuhnya atau menusuk dengan jarum. Tetapi kita tidak berbuat demikian. Dan Ki Buyut di Karangmaja dapat bercerita bahwa dengan sentuhan tangan, kita dapat membuat anak itu lumpuh, buta, tuli dan bisu”

Kumbara mengangguk-angguk, katanya “Memang mungkin. Dan memang mungkin pula pula kedua bangsawan itu merasa memiliki sedikit ilmu untuk dapat melawan kita. Karena itu, bersiaplah sebail-baiknya”

Ketiga orang itu tidak berbicara berkepanjangan lagi, Mereka benar-benar mempersiapkan diri. Kumbara telah menyiapkan sebilah pedang yang berwarna kehitam-hitaman oleh racun yang kuat. Jika pedang itu berhasil menyentuh lawannya, maka jika lawannya tidak mempunyai penawar yang baik, maka ia akan segera mati membeku”

Gagak Wereng ternyata memiliki senjata yang lain. Selain kekuatan tangannya yang luar biasa dan sebuah cincin yang beracun, iapun memiliki senjata yang berujung runcing di kedua sisinya. Senjata yang tangkainya tidak lebh panjang dari dua jengkal, tetapi di sebelah menyebelah terdapat ujung seperti ujung tombak yang masing-masing panjangnya lebih dari sejengkal.

Seperti pedang Kumbara, maka ujung senjata Gagak Wereng itupun beracun pula. Racun yang sama kuatnya dengan racun pedang Kumbara.

Naga Pasa mempunyai senjata yang lain pula, ia mempergunakan dua buah pisau belati panjang, selain kedua pisau belati panjang itu, juga memiliki memiliki beberapa buah pisau yang lebih kecil. Tangannya sudah terbiasa melontarkan senjata-senjata kecil yang seperti kedua kawan-kawannya, senjatanya itupun beracun pula.

Ketiga orang itu hampir tidak sabar menunggu matahari yang merambat lambat sekali di langit, apalagi ketika warna merah mulai membayang, seolah-olah matahari itu telah berhenti di tempatnya.

“Kita berangkat setelah makan malam” berkata Kumbara “Sebentar lagi, orang-orang Karangmaja akan mengirimkan makan malam kita yang terakhir, aku sudah berpesan kepada mereka, agar mereka memotong seekor kambing muda yang paling gemuk”

“Apakah kau juga mengatakan bahwa pengiriman ini adalah yang terakhir bagi kita ?” bertanya Naga Pasa.

“Tentu tidak”

Naga Pasa menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Sebenarnya orang-orang Karangmaja terpaksa menyembelih seekor kambing seperti yang diminta oleh orang-orang yang mereka anggap sedang menghantui Karangmaja dan tinggal di banjar padukuhan itu. Mereka tidak dapat berbuat lain daripada memenuhinya, apalagi hanya seekor kambing muda yang gemuk, bahkan seekor lembupun akan diberikannya.

Dalam keprihatinan Ki Buyut di Karangmaja selalu merasa dikejar-kejar oleh kewajiban yang tidak dapat dipenuhinya, ia sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa atas ketiga orang itu, sedangkan dipihak lain, seeorang anak muda yang akan dapat diharap membantunya, ternyata telah mengambil korban bukan satu atau dua ekor kambing muda yang paling gemuk, tetapi korban itu adalah dua orang gadis muda yang terhitung cantik di Karangmaja. Pada suatu saat memang timbul niatnya untuk mengadukan kesulitannya kepad kedua bangsawan yang ada di istana itu.

“Mungkin mereka akan dapat membantu” katanya di dalam hati. Namun niat itupun diurungkannya, dengan demikian, jika terjadi sesuatu atas bangsawan-bangsawan itu, maka ia adalah penyebabnya, yang mungkin akan dapat dibebani kesalahan seperti yang telah menciderainya pula, karena Ki Buyut menduga, keluarganya tidak akan dapat menerima hal itu terjadi atas keduanya.

Dengan demikian, yang dapat dilakukannya adalah sekedar merenungi dirinya sendiri dan padukuhan kecilnya yang telah dibayangi oleh kesulitan yang semakin lama akan menjadi semakin besar.

Sementara itu, langit merah menjadi semakin buram, beberapa orang Karangmaja dengan tergesa-gesa pergi ke banjar sambil membawa makanan dan minuman bagi tiga orang penghuninya.

Setiap kali mereka memasuki halaman banjar, terasa tubuh mereka tergetar, meskipun sejak orang-orang itu berada di banjar, belum seorangpun yang pernah diganggunya sejak ia memukul Kasdu. Tetapi bagaimanapun juga, hati mereka tetap tergetar untuk setiap kali bertemu.

“Apakah pesanku sudah terpenuhi ?” bertanya Kumbara kepada orang-orang yang membawa makanan dan minuman itu.

“Daging kambing maksud Tuan ?”

“Ya…, daging kambing muda dan gemuk, aku sudah jemu makan daging ayam dan telur”

“Sudah, sudah, kami membawa hampir seluruh tubuh kambing muda itu, hanya beberapa bagian kami tinggalkan buat makan Tuan-tuan besok pagi-pagi”

“Bagus” desis Gagak Wereng “Orang-orang Karangmaja memang orang yang ramah dan baik hati. Kami mengucapkan terima kasih”

Orang-orang yang membawa makanan itu tidak menjawab, mereka meletakkan saja beberapa bakul diatas amben di dalam banjar sambil mengambil sisa-sisa makanan siang yang berserakan.

Ketika Kumbara membuka tutup bakul-bakul itupun, ia tertawa katanya “Lihatlah, bukankah itu merupakan bekal yang baik bagi kita yang malam ini akan melakukan tugas yang besar, yang akan menentukan kedudukan kita kelak ?”

Gagak Wereng tidak menjawab, tetapi tangannya langsung menjamah gumpalan-gumpalan daging di dalam bakul itu, tanpa mengatakan sepatah katapun, ia segera menyumbatkan segumpal daging ke dalam mulutnya.

Kumbara tertawa melihat tingkah laku Gagak Wereng, disela-sela suara tertawanya ia berkata “Dua orang kawanku mempunyai kebiasaan yang menjengkelkan dalam bentuknya masing-masing, yang seorang adalah seorang yang memanjakan nafsu makannya tanpa kendali, sedang yang lain sangat dipengaruhi oleh wajah-wajah cantik tanpa memikirkan akibat-akibat yang dapat timbul karenanya. Dua cacat yang apabila tidak disadari akan sangat membahayakan kedudukan kita semuanya.

Namun sambil mengunyah Gagak Wereng berkata “Betapapun rakusnya aku, tetapi aku dapat membedakan, yang manakah yang boleh aku lakukan dan yang manakah yang tidak”

“Kau sangka aku tidak ?” bertanya Naga Pasa “Jika aku tidak dapat membedakannya, maka aku sudah lebih dari sepuluh gadis-gadis Karangmaja, terutama di istana itu, yang sudah aku seret ke dalam banjar”

Gagak Wereng tertawa, tetapi ia masih saja menyuapi mulutnya dengan gumpalan-gumpalan daging.

“Kita akan makan dahulu” berkata Kumbara “Lalu kita akan melakukan tugas kita sebaik-baiknya, mungkin kita harus membunuh semua yang hidup di dalam istana itu”

Naga Pasa berpaling sekejap, namun ia tidak menghiraukannya lagi, ia tahu, Kumbara sengaja menggelitik hatinya agar ia menyatakan sikapnya, tetapi ia lebih baik diam saja.

Sesaat kemudian mereka bertigapun telah memegang mangkuk masing-masing. Ternyata bukan hanya Gagak Wereng yang rakus terhadap gumpalan-gumpalan daging kambing, tetapi adalah mereka ketiga-tiganya bagaikan berlomba menghabiskan daging yang terbanyak.

Setelah mereka selesai makan dan melemparkan sisanya kesudut ruangan, maka merekapun segera membenahi diri, Kumbara yang dianggap tertua diantara mereka berkata “Kita beristirahat sejenak sambil menyiapkan senjata kita masing-masing, jangan ada yang mengecewakan, selebihnya semua yang akan kita bawa harus sudah tersangkut di pelana kuda kita masing-masing. Karena kita tidak akan kembali lagi ke banjar ini, kita tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang Karangmaja yang dungu untuk seterusnya. Memang mungkin beberapa tahun lagi kita akan datang lagi ke daerah ini, tetapi sudah barang tentu dengan kedudukan yang jauh berbeda”

Kedua kawannya tidak menyahut, mereka duduk di muka biliknya, sambil mengipasi dada mereka yang berkeringat.

Terasa angin mulai menjadi sejuk, langit yang buram menjadi semakin buram, satu-satu bintang mulai bergayutan di langit yang biru pekat. Beberapa helai awan yang putih mengambang dihembus oleh angin ke utara.

“Padukuhan ini segera menjadi sepi” gumam Gagak Wereng “Jika matahari terbenam, maka hampir semua pintu telah tertutup, hanya satu dua orang saja yang masih berada diluar rumah”

“Pada umumnya mereka pergi ke rumah Ki Buyut” sahut Naga Pasa.

Gagak Wereng mengangguk-angguk, matanya yang tajam seolah-olah sedang menusuk ke dalam kegelapan.

Satu-satu nampak cahaya pelita yang menembus dinding rumah yang berlubang, jatuh keatas dedaunan di halaman, sentuhan angin yang menggerakkan dedaunan itu, bagaikan mengguncang sinar pelita yang menggeliat seperti sedang dibayangi oleh kegelisahan yang sangat.

Gagak Wereng menarik nafas dalam-dalam, meskipun hampir setiap pintu rumah sudah tertutup rapat, tetapi seolah-olah Gagak Wereng dapat melihat, sekeluarga yang sedang dilanda oleh kecemasan tentang hari depannya, duduk diatas amben bambu   yang besar, betapapun juga seorang ayah mencoba menghibur anak-anaknya, tetapi anak-anak yang kecil itu tidak dapat menghindarkan diri dari ketakutan yang luar biasa, begitu juga ibunya.

“Kenapa aku justru menjadi hantu bagi sesama manusia ?” pertanyaan itu tiba-tiba saja telah menghinggapi jantung gagak Wereng.

“Kali ini agaknya yang terakhir” katanya di dalam hati pula.

Gagak Wereng mulai membayangkan, bahwa jika usahanya kali berhasil, dan ia mendapat upah uang atau kedudukan yang cukup memadai, maka ia akan hidup wajar untuk seterusnya, dan iapun akan menukar namanya lagi dengan namanya yang sebenarnya. Margajati.

Namun demikian ia berkata kepada diri sendiri “Tetapi tugas ini harus diselesaikan dahulu”

Gagak Wereng menggeliat ketika ia mendengar Kumbara berkata “Ujung malam ini sudah mulai gelap, marilah kita kita berangkat, kita tidak akan berjalan  tergesa-gesa. Kita akan menikmati malam terakhir di Karangmaja ini sebaik-baiknya”

Ketiga orang itupun kemudian mempersiapkan diri, semua milik mereka telah mereka siapkan dan mereka sangkutkan pada pelana kuda mereka masing-masing, senjata mereka  telah siap pula untuk dipergunakan sewaktu-waktu.

“Mungkin kedua orang itu perlu dibantai dengan senjata” berkata Kumbara “Karena itu jangan meremehkan keduanya, keduanya bukanlah anak-anak kecil lagi”

Sejenak kemudian, maka ketiga orang itupun segera berangkat meninggalkan banjar desa, tidak ada orang Karangmaja yang mengetahuinya, pada umumnya mereka sudah berada di dalam bilik masing-masing.

Hanya satu dua anak muda sajalah yang masih berada di rumah Ki Buyut Karangmaja, mereka berjaga-jaga sambil berbincang, sekali-kali mereka menengok Kasdu nampaknya keadaannya memang berangsur baik.

Tetapi anak-anak muda yang masih tinggal di rumah Ki Buyut itu. Tidak berani pulang ke rumah masing-masing, hingga menjelang pagi hari. Ketakutan itu selalu mencengkam hati setiap anak-anak  muda sejak di banjar tinggal ketiga orang yang sama sekali tidak dikehendaki oleh orang-orang Karangmaja, namun yang sama sekali tidak dapat diusiknya itu.

Meskipun demikian, seperti juga perempuan dan gadis-gadis, anak-anak muda Karangmaja belum pernah mengalami perlakuan yang dapat menghentikan denyut jantung mereka dari ketiga orang yang tinggal di banjar itu.

Dalam pada itu, ketika angin malam menjadi semakin dingin, Kumbara, Gagak Wereng dan Naga Pasa telah menjadi semakin dekat dengan istana kecil yang terpencil, dimalam hari istana itu memang nampak suram dan sepi sekali.

“Seperti sebuah rumah hantu” desis Naga Pasa.

“Ya… sebuah rumah di lereng bukit kecil, lihat, jika bulan kebetulan purnama, maka istana itu justru akan menjadi semakin mengerikan nampaknya. Seolah-olah dari balik pintunya akan dapat bermunculan sebangsa hantu, jin dan bekasakan”

“Kita akan memasukinya, kita akan segera menemukan penghuni istana itu yang sebenarnya”

Kawan-kawannya tidak menyahut lagi, mereka memusatkan perhatian mereka kepada istana yang sepi dan suram itu. Sebuah lampu minyak yang berkeredipan menerangi sebagian kecil pendapa yang terbuka.

Namun, bagaimanapun juga, hati ketiga orang itupun terasa menjadi berdebar-debar, mereka sudah terbiasa membunuh, tetapi rasa-rasanya membunuh perempuan yang tidak berbahaya justru sangat mendebarkan hati.

Ketiga orang itu tidak akan tergetar hatinya jika senjata mereka pada saatnya terhujam di dada kedua orang bangsawan yang sedang berada di istana itu pula, tetapi jika mereka harus membunuh perempuan yang ada di dalamnya, maka tangan mereka akan manjadi gemetar.

Bahkan tiba-tiba saja tumbuh penyakit dihati Gagak Wereng ”Apakah untungnya dengan membunuh perempuan-perempuan itu ?, mereka tidak dapat berbuat apa-apa, seandainya mereka melawan, apakah yang dapat mereka lakukan ?, dengan sekali dorong, mereka akan jatuh pingsan”

Gagak Wereng menarik nafas dalam-dalam, tanpa sadarnya ia berpaling memandang wajah Kumbara yang tegang, didalam keremangan malam, Gagak Wereng tidak dapat melihat dengan jelas bentuk dan kerut merut di wajah kawannya itu.

Namun Naga Pasa agaknya mempunyai pikiran yang lain, setiap kali ia mengadahkan wajahnya, dan seolah-olah tersenyum seorang diri.

“Gila..!” desis Gagak Wereng di dalam hatinya “ Naga Pasa tentu akan akan mengambil kedua gadis yang ada di istana itu. Ia tidak akan segan membawanya dan melemparkan ke tepi jalan selagi gadis itu tidak sadarkan diri.

Gagak Wereng adalah seorang laki-laki yang hampir tidak pernah bertanya kepada kawan-kawan dan kepada diri sendiri. Apakah korbannya perlu dikasihani atau tidak, ia adalah laki-laki yang bengis dan tidak berkeprimanusiaan. Namun tiba-tiba saja, sebuah kejemuan telah merayapi hatinya, justru selagi ia bergerak mendekati istana yang kecil dan terpencil untuk melakukan tugasnya yang cukup berat.

“Gila,,! “ Ia menggeram didalam hatinya “Kenapa aku ragu ?, Apakah sebenarnya aku ketakutan melihat kedua orang bangsawan yang ada di istana itu ?”

Gagak Wereng tidak sempat merenung dirinya lebih jauh. Kumbara memberi isyarat dengan tangannya, sehingga mereka bertigapaun kemudian berhenti beberapa langkah di depan regol halaman istana yang suram itu.

“Kita akan memasuki halaman istana, kita akan menambatkan kuda kita diluar regol” berkata Kumbara

“Kenapa diluar regol ?” bertanya Naga Pasa.

“Kuda kita tidak boleh menjadi sasaran kebingungan kedua orang yang ada di istana itu. Jika mereka kehilangan akal menghadapi kematian, mereka akan dapat dengan gila menyerang kuda yang tidak tahu menahu tentang perkelahian itu”

“Selebihnya, kita akan dapat dengan cepat meninggalkan halaman jika keadaan memaksa” desis Gagak Wereng

Naga Pasa memandanginya dengan heran, katanya “He..!, sejak kapan kau memperhitungkan cara untuk melarikan diri ?”

“Bukan untuk melarikan diri” sahut Gagak Wereng, tetapi ia tidak menemukan kata-kata untuk melanjutkan kalimatnaya.

Naga Pasa tertawa, katanya “Kedua orang yang tinggal di istana itu adalah bangsawan-bangsawan yang hanya pandai berhias dan merayu perempuan, karena itu mereka harus dibunuh, jika tidak, maka perempuan-perempuan akan menjadi korban mereka dan hidup tersia-sia dihari tuanya”

“Cukup.., desis Kumbara “Marilah kita bersiap-siap, semuanya akan segera dimulai”

Ketiga orang itupun meloncat turun dari kuda mereka dan menambatkan kuda-kuda itu di batang perdu di depan istana itu. Untuk sesaat mereka mcncoba mengamati keadaan, tetapi istana itu benar-benar telah menjadi sepi.

“Kita akan masuk sekarang” berkata Kumbara.

Gagak Wereng dan Naga Pati mengangguk kecil, hampir diluar sadar, merekapun telah meraba senjata masing-masing, Seolah-olah  mereka ingin meyakinkan, bahwa senjata-senjata mereka akan dapat menyelesaikan persoalan yang sedang mereka hadapi. Sejenak kemudian Kumbarapun telah telah berdiri dimuka pintu regol, beberapa kali ia mencoba mendorongnya, tetapi agaknya pintu itu telah diselarak,

“Kita dorong saja” desis Naga Pasa.

“Itu akan membuat keributan, kita dapat mengangkat selarak dengan memasukkan tangan kita pada bagian yang rusak itu”

“Aku tidak telaten” desis Gagak Wereng “Aku akan loncat dinding batu dan aku akan membukanya dari dalam”

Kumbara mengangguk, katanya “Baik, lakukanlah”

Gagak Werengpun segera meloncat keatas dinding batu yang mengelilingi halaman, sejenak ia memandang ke bagian dalam dari dinding batu itu. Ternyata halaman itu benar-benar sepi. Tidak ada sesuatu nampak bergerak meskipun sekedar oleh seekor kadal. Gagak Wereng segera meloncat masuk, dengan hati-hati ia melangkah mendekati pintu gerbang dan kemudian membuka selaraknya.

Kumbara dan Naga Pasa yang berada di luar, menarik nafas dalam-dalam, seolah pintu  pintu telah terbuka lebar-lebar  bagi tugas yang yang akan dilakukannya, meskipun  yang sudah terjadi baru ujung dari keseluruhan tugas yang sangat berat. Terlebih-lebih dengan kehadiran kedua orang bangsawan yang berada di dalam istana itu pula.

“Apakah kita akan langsung memasuki istana?” bertanya Gagak Wereng

“Sudah barang tentu” Jawan Kumbara “Kita tidak akan membuang waktu lebih lama lagi”

“Marilah” geram Naga Pasa “Pekerjaan kita sudah selesai”

“Kau bermimpi, kita baru mulai”

“Ya…, kita baru mulai, tetapi selanjutnya adalah mudah sekali”

Kumbara memandang Naga Pasa dengan tatapan mata yang ragu, namun iapun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Perlahan-lahan ia mulai melangkah mendekati pendapa yang remang-remang diterangi oleh lampu minyak yang redup.

“Kita akan naik ke pendapa dan langsung mengetuk pintu” berkata Kumbara.

“Ya, kita akan mengetuk pintu” sahut Naga Pasa yang mulai melangkahkan kakinya naik ke pendapa.

Tetapi langkahnya terhenti, dengan wajah yang tegang ia memandang Kumbara dan Gagak Wereng yang juga termangu-mangu.

“Aku mendengar sesuatu” desis Naga Pasa

“Ya, aku juga mendengar sesuatu” sahut Kumbara.

Ketiganyapun kemudian berdiri mematung, namun untuk beberapa saat lamanya, tidak ada sesuatu yang yang mereka dengar, desah anginpun tidak.

“Aku akan naik” berkata Naga Pasa “Ternyata kita telah diganggu oleh kecemasan kita sendiri”

Kumbara mengangguk, katanya “Ketuklah pintu itu keras-keras”

Namun Naga Pasa tidak sempat menjawanb, tiba-tiba saja terdengar suara tertawa disisi pendapa itu, dari dalam kegelapan terdengar suara “Kau tidak usah mengetuk pintu itu keras-keras, aku berada disini”

Naga Pasa segera meloncat turun, dengan wajah yang tegang ia memandang kedalam kegelapan sambil berkata “Nah, ternyata yang kami dengar bukan sekedar nafas kami sendiri” ia berhenti sejenak, lalu “He..! Siapakah kau, apakah kau bangsawan yang ada di istana ini ?”

Ketegangan memuncak ketika mereka melihat dedaunan yang bergerak, dari dalam kegelapan muncul seseorang yang seperti telah diduga, ia adalah seorang dari kedua bangsawan yang ada diistana itu.

“Oo… Kau” desis Kumbara “Terima kasih atas sambutanmu”

“Namaku Panji Sura Wilaga”

“Panji Sura Wilaga” Kumbara mengulang “Baiklah, kemarilah, aku akan berbicara denganmu sedikit”

Panji Sura Wilaga melangkah mendekati ketiga orang itu dengan tanpa ragu-ragu, tidak ada sepercik kecemasanpun yang membayang diwajahnya.

“Dimanakah kawanmu itu ?” bertanya Kumbara kepada Panji Sura Wilaga.

“Ia berada di dalam, tetapi ia akan dengan senang hati menyambut kedatangan kalian pula”

“Baiklah, apakah kau sedang menunggunya Panji Sura Wilaga ?”

“Aku memang tinggal di istana ini bersamanya, ia sedang menengok bibinya yang agaknya hidup seolah-olah dalam pengasingan”

“Maksudku, sekarang ini, apakah kau sedang menunggu kawanmu itu ?”

“Ia akan keluar nanti, ia tidak sedang tidur, ia tentu mendengar kedatangan kalian, tetapi ia masih berada didalam”

“Jika demikian, maka aku akan menemuinya dan menemui isteri Pangeran Kuda Narpada”

“Buat apa kau ingin menemuinya ?”

“Ada sesuatu keperluan yang akan aku sampaikan kepada isteri Pangeran yang telah hilang itu”

“Ki Sanak “ berkata panji Sura Wilaga “Agaknya tidak pantas jika Ki Sanak pada malam hari yang gelap, datang sebagai tamu di istana ini, bukankan besok masih ada hari ?, aku ingin menasehatkan kepada Ki Sanak, besok sajalah datang kembali disiang hari, jangan sekarang”

Kumbara menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin mengedepankan perasaannya yang mulai menjadi panas.

“Aku datang untuk menemui  isteri Pangeran Kuda Narpada, aku ingin bertemu barang sekejap, dan aku ingin lakukan sekarang, tidak besok”

“Ki Sanak “ berkata Sura Wilaga “Sebaiknya Ki Sanak jangan memaksa, itu kurang baik, yang Ki Sanak lakukan sekarang ini benar-benar bertentangan dengan kesopanan yang lazim berlaku”

“Maaf Panji Sura Wilaga “ sahut Kumbara “Barangkali aku memang tidak menghiraukan sopan santun, tetapi demikianlah keinginanku, jangan menghalang-halangi aku, supaya hidupmu tidak menjadi pendek.”

“Ah, kau sedang menakuti-nakuti” jawab Sura Wilaga “Jangan seperti menakut-nakuti anak-anak, karena itu, sebaiknya kalian kembali saja, dan datanglah besok jika matahari sudah naik tinggi.”

“Persetan !!” geram Kumbara yang hampir kehabisan kesabaran “Kau jangan mempersulit dirimu sendiri.”

“Tentu tidak, aku sama sekali tidak mempersulit diriku, tetapi adalah menjadi kewajibanku untuk memperingatkanmu. Ketahuilah, bahwa Raden Ayu Kuda Narpada sekarang sudah tidur, agaknya ia lelah sekali, karena sehari-harian ia bekerja di dapur, adalah bukan menjadi kebiasaan isteri seorang bangsawan tinggi melakukan pekerjaan  itu.”

“Aku tidak perduli.” Bentak Kumbara yang telah kehilangan kesabaran “Aku akan masuk dan menemuinya”

“Sebaiknya jangan Ki Sanak, nanti kita akan dapat berselisih, bukan saja dengan kata-kata, tetapi mungkin dengan kekerasan”

Kumbara menggeram mendapat tantangan itu, maka katanya  kemudian tidak kalah garangnya “Baiklah, jika itu yang kau kehendaki, bukan kamilah yang menentang kalian, tetapi kaulah yang sudah memulainya”

“Tentu saja bukan aku, aku hanya sekedar mempersilahkan kalian untuk kembali besok, selebihnya adalah pengotak-atikmu saja”

“Panji Sura Wilaga !!!” berkata Naga Pasa yang sudah kehilangan kesabaran “Kau tinggal memilih, membawa kami masuk dan mempertemukan kami dengan isteri Kuda Narpada, atau kau akan mati dengan penderitaan yang tidak dapat diperkirakan?. Dengarlah Panji Sura Wilaga, jika tangan kami menyentuh tubuhmu, maka kau akan menjadi lumpuh, bisu, tuli dan buta seperti seorang anak muda dari padukuhan Karangmaja”.

Tetapi diluar dugaan, Panji Sura Wilaga tertawa, katanya “Memang kemampuan anak-anak dari Karangmaja, perguruan Guntur Geni dapat dibanggakan, apabila pemimpinnya yang menyebut dirinya bernama Kiai Sekar Pucang, tetapi bagiku, perguruan itu tidak ubahnya seperti berpuluh-puluh perguruan kecil lainnya yang tesebar dari ujung kulon sampai ke ujung timur pulau ini”

“Gila !!” Kumbara tiba-tiba menggeram “Dari mana kau dapat menyebut nama perguruan dan pimpinanku ?”

“Dari bekas tanganmu yang berbisa itu, aku pernah melihat seorang anak muda yang kau perlakukan seperti itu, adalah diluar peri-kemanusiaan jika kau memperlakukan seorang anak muda pedesaan yang tidak tahu menahu tentang ilmu kanuragan dengan cara seperti itu”

“Ia menentang aku”

“Apapun yang dilakukannya, kau tentu dengan mudah akan dapat mencederainya, karena anak pedesaan itu adalah anak yang bodoh dan dungu”

Tiba-tiba Gagak Wereng yang sejak semula hanya berdiam diri saja berkata “Kita akan berbantah terus sepanjang semalam suntuk, atau akan menyelesaikan tugas kita yang penting ini ?”

“Sudah tentu, kita akan segera bertindak”

“Marilah, aku akan memasuki pringgitan, Siapa yang sudah jemu berbicara, ikuti aku”

“Panji Sura Wilaga tertawa, katanya “Masuklah, tetapi kalian tidak akan pernah keluar lagi”

“Jangan hiraukan” berkata Gagak Wereng sambil melangkah naik ke pendapa “Kita akan berjalan terus, jika orang ini berani bertindak, ia akan bertindak, ia tahu pasti, bahwa ia akan berhadapan dengan perguruan Guntur Geni”

“Jangan panik” desis Panji Sura Wilaga.

“Persetan !!!” Gagak Wereng tidak menghiraukannya.

Panji Sura Wilaga maju beberapa langkah, ketika iapun kemudian meloncat naik ke pendapa, terdengar pintu pringgitan terbuka. Nampak dalam cahaya lampu minyak seorang anak muda berdiri bersilang tangan didada.

“Nah itulah yang seorang” berkakta Gagak wereng.

“Ya…” jawab anak muda yang berada di pintu itu “Aku kira kalian dapat diajak berbicara dan meninggalkan halaman istana ini, tetapi ternyata dugaanku keliru, kau memaksa naik dan masuk kedalam istana bibiku ini”

Gagak Wereng manjadi ragu-ragu sejenak, ada sesuatu yang bergetar didala, hatinya, tetapi sambil menggerakkan giginya ia berkata “Kau jangan mencoba mengganggu tugas tugas kami, aku akan bertemu dengan bibimu”

“Jangan kasar” berkata Raden Kuda Rupaka “Sebaiknya aku masih memperingatkan kalian sekali lagi, pergilah dan kembalilah besok siang jika memang kalian mempunyai kepentingan dengan bibi”

“Tidak aku akan bertemu dengan bibimu sekarang”

Raden Kuda Rupaka yang lebih muda dari Panji Sura Wilaga ternyata lebih cepat menjadi panas. Sambil menggeram ia melangkah lebih maju dan bekata “Jangan menyombongkan diri karena kalian adalah anak-anak dari perguruan Guntur Geni, itu sama sekali tidak dapat menggetarkan hatiku. Namun aku masih dapat berbicara dan bersikap sebagai manusia, bukankah kita manusia yang mempunyai akal dan budi ?, bukankah kita punya mulut untuk berbicara ?, dan bukankah kita mengakui, bahwa setiap orang mempunyai hak atas miliknya, seperti bibi mempunyai hak atas istananya ini ?, jangan melanggar hak itu, pergilah”

“Jangan berbicara lagi” Kumbara menjadi semakin marah “Menepilah, aku akan lewat”

Wajah Kuda Rupaka menjadi merah, dengan garangnya ia berkata “Jika demikian, kau akan memaksakan kehendakmu, baiklah itu berarti maut”

Kumbara mengerti bahwa tidak ada jalan lain kecuali bertempur, karena itu, maka iapun berkata kepada Naga Pasa dan gagak Wereng “Kalian bersama-sama dapat membunuh yang seorang itu dengan cepat, aku akan melayani anak gila ini, kemudian kita bertiga akan mencincangnya sampai lumat”

Kuda Rupaka tidak bergerser dari tempatnya, ia berdiri dengan kaki renggang seperti sebatang tonggak besi baja yang menghujam jauh kedalam pusat bumi.

Namun dalam pada itu, Raden Ayu Narpada dan Inten Prawesti yang ketakutan didalam ruang tengah istananya yang suram itu. Tiba-tiba seolah-olah mendapat sebuah kekuatan yang lain, ia tidak ingin mengorbankan kemanakannya yang hanya secara kebetulan saja berada di istananya itu. Karena itu maka didorongnya Inten perlahan-lahan sambil berkata “Inten, pergilah kepada Nyi Upih dan anak-anaknya, aku akan menemui orang-orang itu, mungkin yang dicarinya bukan sesuatu yang sulit untuk dipenuhi”

“Apakah mereka akan mengambil aku ibunda ?” bertanya Inten Prawesti.

“Tentu tidak Inten, pergilah kepada Nyi Upih, ia akan dapat berbuat sesuatu untukmu”

Inten menjadi semakin gematar, tetapi ia tidak dapat menahan ibundanya lagi.

Ketika ibunya bangkit dan melangkah ke pendapa, Inten siap-siap untuk berlari ke belakang, tetapi sebelum ia melangkah ternyata Nyi Upihlah yang berjalan tergesa-gesa memasuki ruangan itu.

“Gusti” ia berdesis

Raden Ayu Kuda Narpada terhenti “Apakah Gusti akan menemui orang-orang itu ?”

“Aku akan menemuinya Nyai, mungkin persoalannya dapat mudah aku selesaikan tanpa menimbulkan onar, aku tidak sampai hati melepaskan angger Kuda Rupaka bertempur dengan mereka, jika terjadi sesuatu atas anak itu, maka aku akan merasa sangat menyesal”

“Tetapi berhati-hatilah Gusti”

Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk, sementara Inten Prawesti telah memeluk pemomongnya dengan tubuh yang gemetar

“Marilah, duduklah puteri” Nyi Upih mencoba untuk menenangkannya.

“Nyai” desis Inten “Dimana anak-anakmu?”

“Mereka membeku di pembaringan puteri, aku sudah mengajak mereka kemari, tetapi Pinten tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali, sedang Sangkan bersembunyi di bawah kolong amben bambunya”

“Aku juga takut sekali Nyai”

“Sudahlah, aku berharap bahwa segala sesuatunya dapat segera diselesaikan” berkata Raden Ayu Raden Kuda Narpada sambil melanjutkan langkahnya ke pendapa.

Sementara itu, Kuda Rupaka sudah siap untuk memaksa ketiga orang yang datang dengan kasarnya dimalam hari itu untuk pergi, Panji Sura Wilagapun telah meraba hulu pedangnya pula.

Namun dalam pada itu, Kumbara, Naga Pasa dan Gagak Werengpun telah siap menghadapi lawan masing-masing dengan garangnya.

Kehadiran Raden Ayu Narpada telah mengejutkan mereka yang sudah siap bertempur di pendapa, apalagi Kuda Narpada yang dengan sigapnya meloncat mendekati bibinya “Bibi, silahkan bibi masuk, biarlah aku selesaikan persoalan kecil ini, mereka adalah anak-anak dari perguruan Guntur Geni yang tidak mempercayai kemampuan prajurit-prajurit Demak, tetapi sebentar lagi mereka akan menyesal dan akan menyebut nama Sultan Demak sambil berjongkok dihadapanku”

“Anakmas Kuda Rupaka” berkata Raden Ayu Kuda Narpada “Kau adalah tamuku, kehadiranmu, membuat aku sekeluarga yang kecil ini menjadi gembira, karena itu, aku tidak mau sesuatu terjadi atasmu anakmas, jika pakaianmu sobek, apalagi kulitmu tergores ujung senjata meskipun hanya setebal rambut, aku akan sangat menyesal, semua kegembiraan akan lenyap dan persoalannya tentu akan menjadi berkepanjangan”

Kuda Rupaka tertawa, katanya “Bibi, aku tidak biasa menyombongkan diri, tetapi bersama-sama dengan paman Panji Sura Wilaga, aku akan berusaha untuk melindungi istana peninggalan pamanda Kuda Narpada ini”

“Terima kasih anakmas, tetapi biarlah orang ini menyebutkan persoalannya, biarlah ia mengatakan, apakah yang akan dibicarakannya dengan aku”

“Nah…!” tiba-tiba saja Kumbara memotong “Itu adalah suatu kebijaksanaan yang terpuji”

“Angger Kuda Rupaka” berkata Raden Ayu Kuda Narpada “Biarlah ia berbicara”

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, iapun kemudian berjongkok dihadapan bibinya sambil berkata “Bibi. Adalah  kewajiban seorang ksatria untuk berbuat derma, melindungi yang lemah dan memerangi kejahatan, apalagi terhadap keluarga sendiri, sedangkan bagi orang lainpun harus dilakukannya tanpa pamrih. Bibi, terjadi sesuatu atas diri kami berdua, maka tidak akan ada seorangpun yang menyalahlkan bibi. Bahkan ayahanda akan berbangga, bahwa anaknya telah melakukan tugas seorang ksatria, karena itu bibi, jangan layani orang-orang gila ini, serahkanlah mereka kepadaku”

“Bagus” teriak Naga Pasa “Kau akan kami bunuh lebih dahulu, baru kami akan berbicara dan memaksa bibimu untuk memenuhi tuntuan kami”

“Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki ?” bertanya Raden Ayu Kuda Narpada

Namun sebelum mereka menjawab Kuda Rupaka telah meloncat berdiri sambil berkata lantang “Selama aku masih berdiri di halaman ini, kalian tidak akan dapat memaksa bibi untuk berbuat apapun. Karena itu, jika kalian mampu membunuh aku, lakukanlah”

“Aku akan membunuhmu” geram Kumbara sambil melangkah maju.

“Bibi masuklah” Kuda Rupaka perlahan-lahan mendorong bibinya masuk kembali, sehingga Raden Ayu Kuda Narpada sama sekali tidak sempat menolak”

Demikian Raden Ayu itu hilang dibalik pintu, maka pintu itupun segera ditarik oleh Raden Kuda Rupaka, sehingga tertutup rapat-rapat.

“Kau jangan menakuti-nakuti perempuan itu he..!!” geram Raden Kuda Rupaka “Sekarang lakuka apa yang akan kau lakukan”

“Kumbara menggeram, namun sebelum ia berkata sesuatu, Kuda Rupaka dengan acuh tidak acuh berjalan turun ke halaman sambil berkata “Di sini kita mendapat tempat yang lapang untuk saling berbunuhan”

Kumbara tidak menjawab, iapun segera meloncat dari pendapa langsung menyerang anak muda yang memang sudh siap menunggunya itu.

Radn Kuda Rupaka sama sekali tidak terkejut mendapat serangan yang dahsyat itu, dengan sigapnya ia meloncat. Bakan ia masih sempat berkata “Racun di tanganmu dan senjatamu tidak akan dapat bekerja dihadapanku. Aku sudah menggosok seluruh tubuhku dengan obat panawar racun, Sementara di jariku terdapat sebuah cincin dengan batu akikJumerut Sisik Waja, betapa tinggi ketajaman racunmu, kau sama sekali tidak akan berdaya”

“Gila…!!!, jadi kau mempunyai batu akik Jumerut Sisik Waja ?” bertanya Kumbara.

“Ya…, dan paman Panji Sura Wilaga mempunyai batu akik Naga Keling. Kecuali obat penawar seperti yang aku pergunakan pula”

“Persetan…!!! Kalian tentu anak-anak dari perguruan Cengkir Pitu”

“Kau sudah mengenalnya?, nah, jika demikian, jangan bermain-main dengan racun, tentu tidak ada gunanya.ntu tidak ada gunanya. Perguruan Guntur Geni dan Cengkir Pitu mempunyai pengetahuan tentang racun dari sumber yang sama”

Kumbara menggeram, iapun segera menyerang pula sambil berteriak “Tetapi baik akik Jumerut Sisik Waja, maupun Naga Keling tidak mampu membuat kulitmu menjadi kebal. Meskipun kalian tawar dari racun, namun tubuh kalian tidak menjadi kebal oleh senjata tajam”

“Juga anak-anak dari Guntur Geni tidak akan dapat mengelakkan luka ditubuhnya”

Kumbara menjadi semakin marah karena serangannya sama sekali tidak menyentuh lawannya, karena itu, maka iapun segera menyerang lawannya beruntun dengan senjatanya sambil bertanya “Jika kalian anak-anak Cengkir Pitu, kenapa kalian berada disini?”

Kuda Rupaka tidak menyahut, tetapi suara tertawanya terdengar tinggi. Dalam pada itu Naga Pasa dan Gagak Wereng menjadi termangu-mangu melihat perkelahian yang terjadi. Dalam sekilas nampak bahwa Kuda Rupaka memang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakannya.

Namun sementara itu, Panji Sura Wilaga telah siap pula menghadapi keduanya di halaman istana yang suram itu.

“Kau akan segera mati” desis Naga Pasa kemudian.

“Kau atau aku, atau kita bersama-sama”

“Persetan, Kau harus melawan kami berdua”

“Aku sudah terlalu biasa bertempur melawan kelinci-kelinci penakut yang berkelahi bersama seluruh keluarganya”

“Persetan…!!!” Kemarahan Naga Pasa telah memuncak, karena itu serangannyapun segera datang membadai, disusul dengan serangan-serangan Gagak Wereng yang dahsyat.

Panji Sura Wilagapun kemudian mengerahkan segenap kemampuan bertempur yang cukup tinggi. Ia sadar, bahwa kedua orang itu akan memaksanya untuk menyerah dan mati. Kemudian mereka bertiga akan dengan sangat mudah dapat membunuh Kuda Rupaka pula.

Karena itu, maka Panji Sura Wilaga harus mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya sesuai dengan pekembangan pertempuran antara Kuda Rupaka dan lawannya.

“Aku harus bertahan sampai saatnya Raden Kuda Rupaka dapat membunuh iblis itu” berkata Panji Sura Wilaga kepada dirinya sendiri, sehingga dengan demikian, sejauh-jauh dapat dilakukan, Panji Sura Wilaga tidak menghambur-hamburkan tenaganya dalam perkelahian itu.

Tetapi hal itu sangat sulit dilakukannya, kedua lawannya memiliki kemampuan yang dapat memaksanya untuk memeras segenap tenaga yang ada padanya. Jika tidak, maka ia justru akan segera mengakhiri perlawanannya. Kumbara dan kawan-kawannya ternyata adalah orang-orang yang memang sepantasnya dipercaya oleh perguruannya untuk menjalankan tugas yang berat itu.

Karena itulah, maka pertempuran di halaman istana itu semakin lama menjadi semakin seru. Jika Panji Sura Wilaga harus bertempur mati-matian untuk mempertahankan diri dari serangan kedua orang lawannya. Maka Raden Kuda Rupaka mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera mengalahkan Kumbara agar ia segera dapat membantu Panji Sura Wilaga, karena Raden Kuda Rupakapun menyadari bahwa kawannya itu akan segera mengalami kesulitan.

Sebenarnyalah memang demikian yang terjadi, melawan kedua orang lawannya itu, Panji Sura Wilaga harus mengerahkan segenap kemampuan yang dapat dilakukan. Dengan demikian maka ia harus mengerahkan segenap tenaganya seakan-akan tanpa mendapat kesempatan untuk menarik nafas panjang sama sekali.

“Gila” geram Sura Wilaga di dalam hatinya “Ternyata orang ini benar-benar ingin memaksaku menyerahkan leherku kepada mereka”

Sementara itu, didalam istana kecil itu, Raden Ayu Kuda Narpada duduk dengan gemetar, betapa ia berusaha menenangkan hatinya, namun terasa degup jantungnya menjadi semakin kencang. Sedang di belakangnya, Inten Prawesti duduk di dalam pelukan pemomongnya yang seolah-olah bagaikan membeku.

Sekali-kali mereka tergetar oleh dentang senjata di halaman. Kemudian teriakan-teriakan nyaring dari orang-orang yang sedang berkelahi itu.

“Apakah Kamas Kuda Rupaka akan menang Nyai?” bertanya Inten Prawesti dengan suara gemetar. Ia tidak dapat menahan ketegangan yang semakin memuncak di dadanya. Nyai Upih bergeser sedikit, dengan suara lirih ia menjawab “Kita berdoa puteri. Yang Maha Kuasa akan memberi kekuatan kepada setiap orang yang memuji namanya”

Inten Prawesti mengerutkan keningnya, katanya “Ya, semoga Allah Yang Maha Besar akan memberikan pertolongannya”

Inten Prawesti termangu-mangu, meskipun hatinya sedang dicengkam oleh kebingungan, namun ia masih sempat menimbang-nimbang kata pemomongnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi kepadanya, diluar agaknya perkkelahian manjadi semakin seru.

Sebenarnyalah bahwa pertempuran di halaman menjadi semakin seru, namun ternyata bahwa Panji Sura Wilaga semakin mengalami kesulitan untuk mempertahankan dirinya melawan dua orang yang memilki kekuatan hampir seimbang, yang dapat dilakukannya kemudian adalah sekedar membela diri dengan harapan bahwa Raden Kuda Rupaka akan segera dapat mengakhiri perkelahian.

Tetapi lawan Raden Kuda Rupakapun adalah orang yang sangat tangguh. Ia adalah orang yang paling kuat diantara tiga orang murid perguruan Guntur Geni yang ditugaskan ke padukuhan Karangmaja itu. Sehingga dengan demikian maka Raden Kuda Rupakapun tidak segera dapat menguasainya. Apalagi Panji Sura Wilaga yang harus bertempur melawan dua orang berpasangan, dua orang yang garang dan ganas dengan senjata mereka masing-masing. Senjata yang mengerikan.

Pada setiap ayunan senjata Naga Pasa yang sepasang itu, bagaikan lambaian maut, sedang Gagak Wereng yang membawa sebuah limpung berujung rangkap, merupakan ancaman yang mendebarkan jantung, kearah manapun senjata itu bergerak, rasa-rasanya dada Panji Sura Wilaga akan tergores karenanya.

Namun ternyata bahwa semakin lama Panji Sura Wilaga menjadi semakin lemah, kekuatannya berangsur menjadi surut,  sedang serangan kedua lawannya masih tetap saja membadai.

“Kau tidak akan dapat luput dari pelukan maut kali ini Panji” desis Naga Pasa.

Panji Sura Wilaga mengeram, bagaimanapun juga ia masih manjawab “Jangan berbangga, pertempuran ini belum selesai”.

“Tetapi akhir dari pertempuran ini sudah membayang, nah apa yang akan kau katakana sebelum ajalmu sampai ?”

Panji Sura Wilaga menggeram, tetapi ia tidak menjawab lagi, Ia mencoba mengerahkan kekuatan yang ada padanya untuk memperlonggar serangan-serangan kedua lawannya.

Tetapi usaha itu tidak memberikan kesempatan kepadanya, sehingga ia mengumpat di dalam hati “Setan alas, aku tidak mengira bahwa pertumbuhan perguruan Guntur Geni menjadi demikian pesatnya, sehingga aku mendapat kesulitan melawan kedua orang ini, bahkan Raden Kuda Rupaka tidak segera dapat menyelesaikan yang seorang itu”

Ternyata Raden Kuda Rupaka dapat melihat kesulitan yang dialami oleh Panji Sura Wilaga. Karena itu, ia mencoba mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelesaikan lawannya. Tetapi lawannya berbuat serupa pula, mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, sehingga dengan demikian, perkelahian itu justru menjadi semakin seru. Keduanya ternyata adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui kemampuan sesamanya, senjata keduanya berputaran saling melibat dan berbenturan. Percikan bunga api berloncatan di udara.

Melihat kemampuan antara Kuda Rupaka dam Kumbara, Panji Sura Wilaga tidak dapat lagi mengharap bantuannya. Ia harus dapat berusaha menolong dirinya sendiri, apapaun caranya. Jika tidak, maka ia akan segera tergolek di tanah tanpa nyawanya lagi.

“Tetapi tidak ada jalan yang dapat aku tempuh” desis Panji Sura Wilaga didalam hatinya, namun demikian, ia masih bertempur terus, apapun yang akan terjadi.

Dalam pada itu. Panji Sura Wilaga selalu terdesak itupun semakin lama menjadi semakin terpisah dari Kuda Rupaka, tanpa sadarnya, Panji Sura Wilaga terdesak ke dinding halaman, sehingga pada suatu saat, terasa punggungnya menyentuh dinding batu itu.

“Ha ha ha….!!” Tiba-tiba Naga Pasa tertawa “Sekarang, kau tidak akan dapat menghindar lagi, sebentar lagi, nyawamu akan terpisah dari tubuhmu, sekali lagi, aku bertanya kepadamu, pesan apakah yang akan kau sampaikan sebelum kau mati?”

Panji Sura Wilaga mengeram, tetapi ia tidak menjawab sama sekali, ia harus berpikir bagaimana dapat melepaskan diri dari bencana yang sudah membayang di pelupuk matanya itu. Jika serangan dari kedua orang itu dating bersama-sama, maka ia tidak akan dapat berbuat banyak, karena punggungnya sudah terasa menyentuh dinding batu.

“Kenapa kau diam saja” bertanya Naga Pasa “Ini adalah kesempatanmu yang terakhir”

Panji Sura Wilaga masih tetap membisu, tetapi ia benar-benar tidak melihat lagi jalan untuk keluar dari kesulitan itu. Namun demikian, Panji Sura Wilaga bukan seorang pengecut, ia tidak akan merengek minta belas kasihan kepada lawan-lawannya. Apapun yang akan terjadi atas dirinya, ia akan menggenggam senjatanya, mati dengan senjata ditangan baginya adalah kematian yang paling terhormat bagi seorang laki-laki.

Naga Pasa dan Gagak Wereng telah mempersiapkan dirinya untuk meneyerang bersama. Serangan yang terakhir kalinya dan yang akan menentukan kematian lawannya. Sepasang senjata dan sebuah senjata berujung rangkap, telah siap terayun dan mematuk pada tubuh yang sudah melekat pada dinding batu itu.

Tetapi pada saat yang paling tegang bagi Panji Sura Wilaga itu, tiba-tiba halaman istana kecil itu telah digetarkan oleh suara tertawa yang berkepanjangan. Suara tertawa yang terlontar dari atas dinding batu tepat diatas Panji Sura Wilaga berdiri.

Semua orang berpaling kearah suara itu. Dalam kegelapan, yang nampak hanyalah sebuah bayangan hitam. Bayangan seseorang yang berdiri tegak diatas dinding batu dengan kepala tengadah dan tangan bertolak pinggang.

Dengan demikian maka perkelahian yang terjadi di halaman itu seakan-akan telah terhenti. Masing-masing dengan heran bertanya-tanya di dalam hati, siapakah orang yang berdiri diatas dinding batu itu.

Kumbara yang sedang bertempur dengan Kuda Rupaka dengan marah menggeram “He, siapakah kau ?, dan apakah maksudmu mengganggu permainan kami ?”

Orang itu tidak segera menjawab, tetapi suara tertawanya masih saja menggema. Panji Sura Wilagapun telah dicengkam oleh keragu-raguan. Ia tidak tahu pasti, siapakah orang yang berdiri diatas dinding batu itu, dan apakah maksudnya. Jika orang itu kawan kedua lawannya, maka ia akan dengan mudah sekali meloncat dam menikam tengkuknya, sementara ia berusaha menangkis dan menghindari serangan kedua lawannya.

Karena itu, maka dengan ragu-ragu uapun bertanya “Siapakah Kau ?”

Bab 7

“Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, aku bukan sanak dan kadangmu, tetapi aku tidak ingin melihat kalian mati di halaman rumah ini” Jawab orang itu.

“He…!!, siapakah kau” teriak Naga Pasa.

“Mungkin niatku untuk menyelamatkan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga bukannya niat yang jujur pula, tetapi bagiku, lebih baik aku membantu kalian saat ini dan membinasakan ketiga iblis itu, baru kemudian, mungkin akan timbul persoalan antara kita masing-masing”

“Gila..!!” geram Kumbara “Siapa kau he..!!”

“Mungkin aku mempunyai maksud yang sama dengan iblis-iblis ini, mungkin pula dengan Raden, tetapi itu tidak penting, yang penting ketiga iblis ini harus dibinasakan”

“Persetan..!!” geram Naga Pasa “Turunlah, jika kau ingin dicincang pula disini”

“Tentu tidak, aku melihat perkelahian ini dari sela-sela pintu regol, aku melihat Raden Kuda Rupaka memiliki kemungkinan lebih baik dari iblis itu, sedang Panji Sura Wilaga tentu akan dapat menyelamatkan dirinya, jika ia berkelahi seorang lawan seorang, dengan demikian, maka aku akan mengambil salah seorang dari kedua lawan  Panji Sura Wilaga agar Panji Sura Wilaga tidak terbunuh di halaman rumah ini”

“Gila..!!” Panji Sura Wilagapun menggeram “Siapa kau He..!!”

Orang itu tertawa lagi, katanya disela-sela suara tertawanya “Maaf Raden Kuda Rupaka, mungkin aku telah menyinggung sifat kesatriamu, tetapi aku tidak dapat mengingkari kenyataan ini. Panji Sura Wilaga tidak akan mampu melawan dua orang sekaligus, bukan karena Panji Sura Wilaga ilmu kanuragannya lemah, tetapi ia sedang melawan dua orang yang dengan licik mengeroyoknya, itu tidak adil. Aku akan mencoba membuat perkelahian menjadi adil, jika Raden Kuda Rupaka atau Panji Sura Wilaga sudah berhasil membunuh lawannya, maka aku akan menininggalkan gelanggang dan menyerahkan lawanku kepada salah seorang dari kalian yang bebas dari lawan”

“Bagaimana jika kau terbunuh?” geram Raden Kuda Rupaka.

“Itu adalah nasibku, aku akan mati disini, tetapi namaku akan tetap kau kenang sepanjang umurmu”

“Siapa namami ?” tiba-tiba Kuda Rupaka bertanya.

Orang itu tertegun sejenak, namun iapun tertawa, katanya “Aku tidak punya nama”

“Persetan” desis Naga Pasa “Marilah, kau akan paling cepat mati, setidak-tidaknya, kau akan menjadi cacat”

Orang  itu tertawa, jawabnya “Maksudmu seperti Kasdu anak Karangmaja itu ? Aku bukan anak Karangmaja, aku memiliki penawar racun yang bagaimanapun juga tajamnya, kau tidak percaya ?”

“Jadi kau yang mengobati anak Karangmaja itu ?” dengan serta merta Raden Kuda Rupaka berteriak.

“Bukan, bukan aku” jawab orang itu sambil tertawa.

“Gila..!!” geram Kumbara “Jadi anak Karangmaja itu sudah diobati…”

“Ya…., tetapi bukan aku, meskipun aku mempunyai cula kumbang kuning bermata berlian”

“Gila… !!” hampir bersamaan orang-orang yang ada di halaman itu menggeram “Kau datang dari kaki gunung Semeru ?”.

Orang yang berdiri diatas dinding itu tertawa lagi, katanya “Apakah hanya di kaki gunung Semeru saja yang terdapat kumbang kuning bermata berlian”

“Ya…” sahut Kumbara “Kami tahu, bahwa yang kau maksud bukan sebenarnya kumbang. Tetapi kuning bermata berlian adalah lambang perguruan Kumbang Kuning pimpinan Ajar Sokanti”

“Ooo… kau mengenal nama Ajar Sokanti yang hidup seratus lima puluh tahun yang lalu seperti nama pemimpin perguruan Guntur Geni yang diabadikan sampai sekarang?, bukankah yang disebut Kiai Sekar Pucang sekarang ini sama sekali bukan Kiai Sekar Pucang pendiri perguruan Guntur Geni? Ternyata dari arah perkembangan perguruan Guntur Geni itu sendiri. Nah, aku ingin bertanya, apakah kira-kira Kiai Sekar Pucang akan dapat tertawa melihat kalian pada malam hari seperti ini dengan bengis menakut-nakuti seorang perempuan di istana kecil ini?. Tentu tidak, Kiai Sekar Pucang yang sebenarnya tentu akan sangat berprihatin, bahkan mungkin akan membunuh diri”

“Tutup mulutmu” teriak Kumbara “Kau sama sekali tidak mengenal kami, kau tidak mengenal tugas kemanusian yang sedang kami lakukan sekarang ini”

Orang diatas dinding itu tertawa semakin keras, katanya “Tugas kemanusiaan yang mana yang akan kau lakukan disini, sudahlah anak-anak Guntur geni, marilah kita bermain-main, jika kalian menyangka aku datang dari perguruan Kumbang Kuning di kaki gunung Semeru, nah, kita disini telah berkumpul bersama-sama Perguruan Guntur Geni, Perguruan Cengkir Pitu yang mengalir dari sumber yang sama. Kemudian perguruan yang kau sebut Kumbang Kuning, tetapi ketahuilah, bahwa sebenarnaya aku tidak datang dari perguruan Kumbang Kuning yang dipimpin oleh Ajar Sokanti, meskipun aku berhubungan erat dengan perguruan itu”

“Persetan, aku tidak peduli dari mana kau datang, yang penting, kaupun harus dibinasakan sekarang ini” teriak Naga Pasa.

“Baiklah” bekata orang yang berada diatas dinding batu itu “Akupun sudah jemu berbicara” Ia berhenti sejenak lalu “Panji Sura Wilaga, jangan tersinggung jika aku akan berada di sebelahmu”

Panji Sura Wilaga tidak menyahut, iapun kemudian bergeser setapak. Tetapi geraknya itu seolah-olah telah merupakan aba-aba bagi kedua lawannya yang tiba-tiba saja telah mempersiapkan ujung senjata untuk menerkam.

Agaknya Naga Pasa dan Gagak Wereng tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan, dengan sebuah teriakan nyaring, Naga Pasa meloncat menyerang Panji Sura Wilaga yang berdiri termangu-mangu, sementara bayangan orang yang tidak dikenal itu masih berada diatas dinding.

Panji Sura Wilaga berdesir melihat serangan itu, namun ia tidak dapat tinggal diam, dengan sigapnya ia bergeser sambil menangkis serangan Naga Pasa yang dahsyat itu.

Tetapi dengan demikian ia kehilangan pengamatannya atas Gagak Wereng, jika pada saat yang bersamaan Gagak Wereng meloncat menyerang pula, ia akan kehilangan semua kesempatan untuk bertempur lebih lama lagi.

Dalam pada itu, sekilas ia melihat Gagak Wereng sudah mulai bergerak, tetapi ia tidak melihatnya apa yang dilakukan kemudian. Karena ia harus memusatkan perhatiannya kepada serangan Naga Pasa.

Barulah kemudian Panji Sura Wilaga menyadari, bahwa serangan Gagak Wereng, yang seharusnya telah mengakhiri perlawanannya itupun telah dipotong oleh orang yang berdiri diatas dinding batu itu. Sambil meloncat ia menangkis serangan senjata yang berujung rangkap di tangan Gagak Wereng, sehingga Gagak Wereng tidak berhasil menyentuh tubuh Panji Sura Wilaga, dan bahkan kemudian meloncat surut.

“Gila…” geram Gagak Wereng “Jadi kau benar-benar ikut mencampuri persoalan ini”

Orang itu tidak menjawab, tetapi dialah yang kemudian yang menyerang dengan sengitnya. Gagak Wereng terpaksa meloncat surut, baru kemudian ia dapat menempatkan dirinya dalam perlawanan yang mapan.

Sementara itu, Naga Pasa masih bertempur dengan serunya melawan Panji Sura Wilaga, namun karena kemudian ia harus bertempur sendiri, maka keseimbangannyapun segera berubah. Panji Sura Wilaga mendapat kesempatan untuk menarik nafas. Ia tidak lagi merasa terus menerus didesak kesudut halaman, sehingga disaat terakhir ia harus melekat dinding batu dan hampir saja kehilangan kesempatan untuk tetap hidup.

Dalam pada itu, Kumbarapun menjadi semakin marah, dengan demikian berarti tugasnya akan menjadi semakin panjang, Naga Pasa dan Gagak Wereng tidak lagi dapat bertempur bersama-sama untuk dalam waktu yang lebih singkat, membunuh Panji Sura Wilaga. Karena itu, maka iapun kemudian memusatkan perkelahian itu pada diri sendiri, ia harus dapat membunuh lawannya dengan cepat. Sehingga ia akan dapat membantu salah seorang kawannya membunuh lawannya.

Sambil berteriak nyaring, Kumbarapun segera mengulangi perkelahiannya melawan Kuda Rupaka, namun Kuda Rupaka telah menjadi semakin tenang. Meskipun kehadiran orang yang tidak dikenal itu dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru, tetapi persoalan itu akan dapat diselesaikannya kemudian.

“Jika perlu, seteleh ketiga iblis itu mati, maka orang itupun harus disingkirkan pula” desis Kuda Rupaka “Jika tidak, maka ia akan menjadi pengganggu istana ini, untuk selanjutnya. Mungkin ia akan memeras atau seolah-olah ia adalah pahlawan yang menuntut imbalan” Tiba-tiba saja Kuda Rupaka telah mengenang meskipun hanya hanya sekilas, Inten Prawesti.

“Apakah orang itu mempunyai  maksud-maksud tertentu terhadap diajeng Intan Prawesti ?” tetapi ia tidak sempat bertanya-tanya lebih jauh, ia harus memusatkan diri pada perkelahian yang menjadi semakin seru itu.

Dalam pada itu, setelah bertempur beberapa saat, Gagak Werengpun merasa, bahwa lawannya ternyata memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari padanya, dalam waktu yang pendek iapun segera terdesak. Senjatanya yang garang itu todak banyak dapat menyerang apalagi menembus pertahan senjata lawannya. Senjata yang tidak lebih dari sepotong rantai yang tidak begitu panjang.

“Gila..” desis Gagak Wereng didalam hati “Rantai yang berputar itu seolah-olah menjadi perisai baja yang tidak dapat disusupi oleh ujung duri yang paling runcing sekalipun”

Baik Kumbara maupun Naga Pasa melihat, bahwa Gagak Wereng segera terdesak surut. Bahkan sekali-kali ternyata senjata lawannya telah hampir berhasil menyentuh tubuhnya.

“Aku tidak biasa membunuh orang” berkata orang yang telah ikut dalam pertempuran itu “Tetapi dalam keadaan seperti ini, aku kira membunuh bukannya suatu kesalahan”

“Persetan…!!” geram Gagak Wereng yang mencoba mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada dirinya.

“Ki Sanak” berkata orang itu, “Apa boleh buat, jika aku tidak membunuhmu, maka akibatnya tentu akan berkepanjangan. Jika kemudian ada kawanmu yang dapat lolos dalam keadaan hidup, biarlah ia mengatakan bahwa salah seorang kawannya telah mati terbunuh di Karangmaja oleh orang yang memiliki ciri perguruan Kumbang Kuning. Tetapi aku bukan murid perguruan Sokantil itu”

Gagak Wereng tidak menjawab, serangannya bertambah dahsyat. Tetapi perlawanan orang yang tidak dikenal itupun menjadi semakin sengit. Bahkan rasa-rasanya, bagaikan banjir yang sudah mulai menggoyahkan tanggul. Dan kemudian ternyata, kemampuan orang itu tidak terlawan lagi oleh Gagak Wereng, ujung rantainya rasa-rasanya semakin lama semakin dekat dengan tubuhnya, bahkan pada suatu saat, terasa ujung rantai itu bagaikan lalat yang mulai hinggap ditubuhnya.

“Gila” geram Gagak Wereng “Orang ini benar-benar memilki kemampuan perguruan Kumbang Kuning”

Namun Gagak Wereng tidak sempat memujinya lebih banyaklagi, karena terasa ujung rantai itu menyengatnya lagi, maka bukanlah sekedar suatu sentuhan saja, kulitnya mulai terasa pedih karena tergores luka yang mulai menganga.

Terdengar orang itu tertawa “Kau tidak akan mampu berbuat banyak. Sebaiknya kau menghentikan perlawananmu. Aku tidak akan membunuhmu”

“Persetan..!!” geram Gagak Wereng, kemarahannya bagaiakan membakar jantungnya, namun sejalan dengan itu, iapun merasa bahwa umurnya sudah berada diujung rambutnya.

Sementara itu, pertempuran antara kedua kawannya manjadi semakin sengit. Agaknya semakin lama menjadi nyata, bahwa murid perguruan Cengkir Pitu masih memiliki kelebihan dari anak Guntur Geni, ternyata bahwa Panji Sura Wilaga dan Raden Kuda Rupaka sudah berhasil menguasai lawannya sebaik-baiknya. Naga Pasa yang garang itupun sudah hampir kehilangan akal melawan Panji Sura Wilaga yang cepapt dan cekatan. Apalagi setelah ia kehilangan seorang lawannya yang kemudian bertempur dengan orang yang tidak dikenalnya.

Yang paling mengalami kesulitan sebenarnya adalah Gagak Wereng, ia sadar lawannya mempunyai banyak kelebihan dari padanya. Tetapi ia sendiri merasa heran, bahwa ia tidak segera kehilangan nyawanya. Namun tubuhnya semakin lama semakin lemah. Bahkan kemudian ia sama sekali tidak mampu lagi untuk melakukan perlawanan apapun juga. Darahnya semakin banyak mengalir dari luka-lukanya dan nafasnya serasa telah menyumbat kerongkongan.

Meskipun demikian, ia merasa bahwa ia masih tetap hidup. Orang yang tidak dikenalnya itu justru tidak lagi memusatkan serangannya pada bagian tubuhnya yang berbahaya. Bahkan ketika ia sudah tidak mempu berbuat sesuatu, maka lawannya berhenti pula sambil menggeram “Apakah kau menyerah”

“Gila..!!, aku tidak akan menyerah kepada siapapun juga” sahut Gagak Wereng. Yang terdengar adalah suara tertawa orang yang tidak dikenal itu mendekati lawannya sambil berkata “Mengangkat senjatamu yang mengerikan itupun kau sudah tidak mampu lagi, bagaimana kau akan melawanku”

Gagak Wereng menggeretakkan giginya, ia masih menghentakkan kekuatannya untuk mengangkakt senjatanya. Namun ketika ia mengayunkannya dan tidak mengenai sasarannya, justru ia terdorong selangkah maju dan jatuh terlungkup.

“Beristirahatlah, aku merasa bahwa tugasku sudah selesai. Kau akan tetap hidup dan akan ditangkap oleh kedua bangsawan itu. Mungkin kau akan dibawa ke Demak atau ke tempat lain atau keputusan apapun yang akan mereka ambil”

Gagak Wereng masih akan menjawab, namun tiba-tiba saja lawannya telah meloncat mundur. Beberapa saat ia mengamati pertempuran itu, kemudian dengan lincahnya ia meloncat naik keatas dinding batu itu sambil berkata “Aku minta diri. He..!! Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga. Silahkan menyelesaikan tugas kalian, aku sudah mencoba membantu kalian”

“Kau akan kemana ?”. bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Aku akan kembali ke sarangku, aku adalah hantu malam yang berkeliaran didalam gelap. Jika ayam mulai berkokok, aku harus sudah berada kembali ke sarangku yang tersembunyi, diatas pepohonan yang rimbun”

Istana Yang Suram 6

“Gila…” geram Kumbara yang tidak memburu Kuda Rupaka “Kau licik, jika kau jantan, tunggulah setelah aku membunuh bangsawan kerdil ini”

Tetapi orang orang berdiri diatas dinding itu tertawa “Jangan berharap kau dapat memenangkan pertempuran itu. Semuanya sudah nampak padaku, bahwa kau hanya akan dapat menyebut nama orang tuamu sebelum ajalmu sampai. Kecuali jika Raden berhati putih, dan memberi kesempatan hidup kepadamu, meskipun kau harus diserahkan kepada para prajurit”

“Tidak ada bedanya” geram Kuda Rupaka “Ditangan prajurit ia akan dibunuh”

“Itu bukan persoalanku. Sekarang aku akan pergi. Hantu-hantu sudah memiliki jalan pintu gerbang. Aku lebh senang meloncati pagar. Dan selamat menyabung nyawa”

Bayangan itu tidak menunggu lagi, iapun segera meloncat dan hilang dibalik dinding batu. Kumbara menggeretakkan giginya, namun ketika ia sadar akan keadaannya, maka tiba-tiba iapun segera meloncat menyerang dengan garangnya. Tetapi Raden Kuda Rupaka telah siap menghadapinya, iapun segera bergeser dan bahkan serangannyapun kemudian menyapu lawannya seperti angin prahara menyapu pepohonan perdu dipadang yang luas.

Naga Pasapun mengalami tekanan yang dahsyat sekali. Panji Sura Wilaga ternyata memiliki tenaga raksasa yang tidak terlawan olehnya, sehingga dengan demikian, Naga Pasa mencoba melawan dengan kecepatannya bergerak. Tetapi rasa-rasanya darimanapun ia menyerang, Panji Sura Wilaga yang tidak banyak bergerak itu sudah siap menghadapinya.

Dalam pada itu, Gagak Wereng yang terluka masih sempat memperhatikan pertempuran disekitarnya, meskipun dalam keremangan malam, namun ia dapat melihat, bahwa kedua kawannya agaknya telah terdesak oleh anak-anak perguruan Cengkir Pitu, sedangkan ia sendiri sudah tidak mampu sama sekali untuk ikut dalam pertempuran itu.

Meskipun demikian Gagak  Wereng tidak menyerah, dalam ketegangan yang memuncak, ia masih dapat mengerahkan segenap tenaganya yang tersisa untuk merangkak menepi. Bahkan kemudian ia berhasil bergeser sampai ke pintu gerbang.

“Aku akan melarikan diri, jika aku dapat hidup, maka aku akan dapat melaporkan apa yang telah terjadi disini kepada perguruanku” katanya kepada diri sendiri.

Agaknya Panji Sura Wilaga dan Raden Kuda Rupaka tidak sempat berbuat sesuatu atas Gagak Wereng, keduanya terikat dalam satu perkelahian yang akan menentukan hidup dan mati.

Karena itulah, akhirnya dengan susah payah, Gagak Wereng ternyata masih sempat mencapai kudanya yang masih tetap terikat ditempatnya.

Sejenak kemudian terdengar derap kaki kuda itu. Seorang yang terluka duduk diatas punggungnya, namun kemudian oleh perasaan sakit dan letih, Gagak Wereng telah menelungkup sambil memeluk leher kudanya. Hanya sekali-kali ia mencoba melihat arah dan kemudian ia meletakkan tubuhnya kembali dengan lemahnya.

Derap kaki kuda itu ternyata telah mengejutkan mereka yang sedang bertempur di halaman. Terlebih-lebih adalah Raden Kuda Rupaka, tetapi ia tidak dapat berbuat apapun, ketika tatapan matanya tidak lagi dapat menemukan Gagak Wereng, maka iapun segera melompat sembil bertempur “Licik…!!!, inilah ciri dari perguruan Guntur Geni yang terkenal itu..??”

Kumbara tidak segera menjawab, mula-mula ia merasa tersinggung atas sikap Gagak Wereng yang sama sekali tidak menunjukkan kesetia-kawanan, tetapi akhirnya ia memahami keadaan, Gagak Wereng tentu sudah terluka parah dan tidak dapat berbuat apapun juga. Karena itu, usahanya untuk menyelamatkan diri adalah usaha yang akan dapat berguna. Meskipun tidak berguna bagi Kumbara sendiri dan Naga Pasa, tetapi tentu akan berguna sekali bagi perguruannya. Saudara-saudara perguruannya akan mengetahui, bahwa Kumbara dan Naga Pasa telah terlibat dalam satu pertempuran yang tidak teratasi di istana kecil yang terpencil diluar padukuhan Karangmaja.

Dengan demikian akhirnya perasaan Kumbara menjadi semakin mapan. Ia melihat akibat yang dapat terjadi atasnya dengan dada tengadah. Sejak ia berangkat, iapun sudah mempersiapkan dirinya menghadapi segala kesulitan. Dan salah satu kemungkinan adalah kesulitan yang tidak teratasi, meskipun semula ia menganggap bahwa tugas pokoknya kali ini adalah tugas yang tidak berbahaya karena itu tidak berpenghuni selain tiga orang perempuan, namun akibat-akibat yang dapat timbul telah dipertimbangkan pula. Diantaranya adalah akibat seperti yang sedang dihadapinya itu.

Demikianlah maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin nyata. Serangan demi serangan yang dilancarkan okeh kedua murid dari perguruan Cengkir Pitu itupun telah menggiring perempuran itu untuk segera mencapai akhirnya. Kumbara dan Naga Pasa tidak dapat ingkar lagi, kali ini tugas perguruannya harus ditunaikan dengan mempertaruhkan nyawanya.

Namun agaknya keduanya benar-banar telah ditempa dalam perguruannya. Mereka sama sekali tidak mengeluh, jika memang harus mati dalam pelukan kewajiban, maka mati itupun bukan apa-apa bagi Kumbara dan Naga Pasa.

Sebenarnyalah bahwa akhirnya Kumbara tidak dapat bertahan lagi. Lawannya adalah seorang anak muda yang umurnya jauh dibawah umurnya sendiri. Tetapi ternyata anak muda dari perguruan Cengkir Pitu itu memiliki kemampuan yang tidak terlawan, dan yang bahkan telah menyeretnya kedalam maut.

Segores demi segores luka, telah menyengat tubuh Kumbara. Demikian juga agaknya Naga Pasa, betapapun ia bertempur dengan gigihnya, tetapi akhirnya, sebuah tusukan langsung menghujam ke jantungnya, telah melemparkannya dan membantingnya ke tanah. Untuk seterusnya Naga Pasapun tidak akan pernah bangkit lagi.

Kumbara yang sudah terluka parah masih sempat melihat betapapun buramnya, kawannya terlempar dan terbanting untuk tidak bangkit lagi. Ia tidak sempat berbuat apa-apa karena matanyapun manjadi berkunang-kunang. Darahnya sudah terlampau banyak mengalir, sehingga akhirnya ia harus mengakhiri pertempuran itu dengan menyerahkan nyawanya.

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, sekali-kali ia mengusap tangannya yang ternyata juga terluka. Tetapi seperti yang dikatakannya, ia memang mempunyai obat  penawar racun, selain batu akik yang dianggapnya dapat berpengaruh pula atas racun yang mengenai tubuhnya.

Sambil tersenyum Raden Kuda Rupaka berjalan mendekati Panji Sura Wilaga yang berdiri bersandar dinding batu, nafasnya terengah-engah dan tubuhnya serasa telah kehilangnan tenaga.

“Kau kenapa paman..??” bertanya Raden Kuda Rupaka

“Aku hampir kehabisan nafas Raden, orang ini benar-benar memiliki kemampuan jauh diatas dugaan kita semula”

“Ya…, Aku juga tidak mengira, bahwa orang itu mempu melukai tanganku, untunglah aku benar-benar telah menyiapkan obat penawar racun itu. Aku yakin, senjata orang Guntur Geni tentu mengandung racun”

“Jika Raden hanya terluka di tangan, maka aku terluka di beberapa tempat meskipun tidak dalam, senjatanya yang sepasang itu benar-benar mampu bergerak cepat sekali”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, namun ternyata bahwa iapun masih harus mengatur pernafasannya.

“Marilah kita singkirkan mayat-mayat ini, kita akan menghadap bibi dan melaporkan apa yang terjadi. Besok kita minta bantuan orang-orang Karangmaja untuk menguburkan mayat-mayat ini”

“Tetapi hal ini tentu akan sangant mengejutkannya” berkata Panji Sura Wilaga.

“Apaboleh buat, bukankah kita harus mengatakannya juga?”

“Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Tetapi sebaliknya kita memang harus segera saja menghadap. Agar hati Raden Ayu segera menjadi tenang”

Keduanya kemudian membenahi pakaiannya, mereka mengelap darah yang menetes dari luka mereka. Setelah mereka menyingirkan kedua mayat itu, maka merekapun segera naik ke pendepa dan dengan perlahan-lahan mendorong pintu.

“Oh…” Inten Prawesti hampir menjerit. Ia menjadi sangat cemas, bahwa yang akan masuk ke rumahnya adalah orang-orang yang mendatangi istananya itu.

Tetapi ternyata kemudian terdengar suara Raden Kuda Rupaka “Aku bibi”

“Anakmas Kuda Rupaka ?” bibinya hapir terpekik.

“Ya, bibi”

Raden Ayu Kuda Narpada tiba-tiba saja meloncat berdiri diikuti oleh Inten Prawesti. Demikian Raden Kuda Rupaka muncul dari balik pintu, maka bibinyapun segera berlari kearahnya. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat darah yang menodai pakaian Raden Kuda Rupaka itu.

“Darah bibi” desis Raden Kuda Rupaka yang seolah-olah mengerti apa yang tersirat dihati bibinya.

“Kau terluka ?”

“Sedikit, tetapi tidak berbahaya”

“Dimana pamanmu Panji Sura Wilaga ?”

Raden Kuda Rupaka berpaling, kemudian masuklah Panji Sura Wilaga yang terengah-engah.

“Oh, Kau juga terluka ?”

“Sedikit Raden Ayu, tidak parah”

“Tetapi bagaimanakah dengan jika luka ini akan menjadi semakin besar kelak ?”

Raden Kuda Rupaka tersenyum, katanya “Aku sudah membawa bekal obat yang dapat dipercaya, sudahlah bibi, aku akan membersihkan diriku dan mengobati lukaku dan luka paman Panji Sura Wilaga”

Raden Ayu Kuda Narpada, memandang keduanya dengan tatapan mata yang penuh perasaan terima kasih. Sementara Inten Prawesti yang berdiri di belakang ibundanyapun bertanya “Bukankan kau tidak apa-apa kamas ?”

“Tidak, tidak diajeng, jangan khawatirkan aku, aku tidak apa-apa”

“Tetapi apakah kamas memerlukan apa-apa untuk membersihkan luka itu ?, air panas misalnya ?”

Raden Kuda Rupaka termenung sejenak, sementara itu Nyi Upih telah berdiri dan berkata “Biarlah aku merebus air. He… anak-anakku harus aku beritahu dulu bahwa pertempuran sudah selesai”

“Dimana anak-anakmu ?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Sangkan sembunyi di kolong pembaringan adiknya. Pinten menjadi kaku di pembaringan itu” Nyi Upih berhenti sejenak, lalu “Tetapi bagaimana dengan orang-orang itu ?”

Raden Kuda Rupaka menjaid ragu-ragu, namun kemudian ia berkata “Keduanya terpaksa kami bunuh”

“Oh..!!” Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti hampri bersamaan berdesah.

“Beberapa orangkah yang telah datang ke istana ini Raden ?” bertanya Nyi Upih pula.

“Tiga, hanya tiga orang, tetapi yang seorang berehasil meloloskan diri”

Nyi Upih menjadi tegang, katanya “Kenapa tidak semuanya saja dibunuh Raden, yang seorang itu tentu akan sangat berbahaya bagi kita”

Raden Kuda Rupaka tersenyum, katanya “Memang ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi Nyai. Mungkin ia akan datang lagi dengan beberapa orang kawan. Mungkin ia justru menjadi jera, tetapi mungkin juga perguruannya akan langsung berurusan dengan perguruan Cengkir Pitu”

“Oo…” Nyi Upih mengangguk-angguk, dan seperti bukan atas kehendaknya ia berkata “Tentu perguruan orang-orang jahat itu tidak akan berani berurusan dengan perguruan Raden, mudah-mudahan dengan demikian mereka akan benar-benar menjadi jera”

“Sudahlah” berkata Raden Kuda Rupaka “Setidak-tidaknya malam ini seluruh isi istana dapat tidur nyenyak, tidak akan ada lagi yang berani menganggunya, mayat itu sudah aku singkirkan. Biarlah besok aku minta bantuan orang-orang Karangmaja untuk menguburnya”

Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk

“Silahkan bibi beristirahat”

Raden Ayu Kuda Narpadapun kemudian mengajak Inten Prawesti masuk kedalam biliknya, setelah mereka berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Raden Kuda Rupaka.

Ketika Raden Ayu Kuda Narpada telah hilang dibalik pintu biliknya maka Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga yang masih sangat letih itupun pergi kebelakang diikuti oleh Nyi Upih, mereka akan membersihkan diri dari luka-luka mereka.

“Aku akan merebus air, Raden” berkata Nyi Upih

“Terima kasih Nyai” sahut Raden Kuda Rupaka “Dimanakah anak-anakmu Nyai”

“”Mereka didalam biliknya Raden”

Raden Kuda Rupaka sempat menjengukkan kepalanya ke dalam bilik Pinten, dilihatnya Pinten tidur menelungkup sambil menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya, sementara di kolong pembaringan, nampak kaki Sangkan yang ketakutan dan bersembunyi.

Raden Kuda Rupaka tersenyum, perlahan-lahan ia mendekati kedua anak itu, sambil berjingkat. Kemudian tiba-tiba saja ia menepuk kaki Sangkan sambil memebentak

“Ayo tertangkap kau..!!”

Sangkan terkejut bukan buatan, sehingga iapun terlonjak, karena ia berada ia berada dikolong pembaringan adiknya, maka amben itupun tersentak pula oleh hentakan tubuh Sangkan. Pinten yang ada dipembaringan itu tidak kalah terkejutnya. Iapun kemudian meloncat dan berlari kesudut ruangan, sedemikian kecil hatinya, sehingga meskipun mulutnya terbuka tetapi suaranya sama sekali tidak terdengar.

Sangkan yang gemetar akhirnya berhasil keluar dari kolong pembaringan, dengan wajah yang pucat dan mata yang terbelalak ia memandang kepada Raden Kuda Rupaka. Terdengar suara tertawa Raden Kuda Rupaka. Panji Sura Wilaga yang menyaksikannya dari pintu bilik itupun tertawa pula.

“Raden…., oh, jadi Raden Kuda Rupaka” Suara Sangkan terputus-putus.

“Kau memang pengecut” Raden Kuda Rupaka masih saja tertawa “Belum lagi kau disentuh oleh tangan penjahat itu, kau sudah mati membeku di sini”

“Tetapi, tetapi……” Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

Sementara itu Nyi Upih telah berada di belakang Panji Sura Wilaga, katanya “Jika Raden menakuti-nakuti anak-anakku, aku tidak mau merebus air”

Raden Kuda Rupaka tertawa berkepanjangan, meskipun ia mencoba menahannya agar tidak mengejutkan bibinya di dalam.

“Anakmu memang keterlaluan Nyai, aku mengerti bahwa Pinten menjadi ketakutan, tetapi Sangkan tidak boleh menjadi pengecut begitu”

“Jika aku dapat berkelahi seperti prajurit, aku tidak akan ketakutan” sahut Sangkan.

“Kalau begitu, kau harus belajar, Kau sanggup?”

“Siapakah yang akan mengajari?”

“Biarlah paman Panji, jika kelak aku dan paman Panji pergi, kau dapat menjaga diri, atau kau dapat menjaga bibi, atau setidak-tidaknya menjaga biyungmu”

“Aku tidak perlu dijaga lagi Raden, jika ada orang yang mau mengambil aku, biarlah, aku memang menunggu orang yang mau berbuat demikian”

“O…, kau ini” desis Raden Kuda Rupaka “Agaknya kau dan anak-anakmu memang mempunyai sifat yang turun temurun, bodoh dan agak malas”

“Aku tidak mau merebus air”

“Baiklah, baiklah Nyai, aku tidak akan mengganggu anak-anakmu lagi” namun kemudian ia berpaling “Sangkan, jika kau mau, paman kan benar-benar memberimu serba sedikit tuntunan oleh kanuragan, kau mau?”

“Tentu Raden, aku akan senang hati sekali”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk. Katanya “Nah, dengan demikian kau akan benar-benar menjadi seorang laki-laki, sampai sekarang kau sama sekali tidak ada harganya, jika kau memiliki  sedikit pengetahuan dan ilmu oleh kanuragan, maka kau akan mulai merasakan tanggung jawab bahwa kau adalah seorang laki-laki”

“Terima kasih Raden” jawab Sangkan “Tetapi, tetapi berapa tahun aku harus belajar?”

“Aku hanya akan tinggal disini beberapa hari lagi, jika tidak ada ketiga penjahat itu, sebebarnya aku sudah akan mohon diri, tetapi karena itulah maka aku harus tinggal disini beberapa lama lagi”

Sangkan mengangguk-angguk, tetapi nampaknya wajahnya membayang keragu-raguan hatinya.

“Kenapa kau nampak ragu-ragu ?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Dahulu, aku pernah mendengar seorang prajurit Majapahit mengatakan bahwa, mempelajari ilmu kanuragan diperlukan waktu bertahun-tahun”

“Tidak hanya bertahun-tahun, tetapi tidak akan berkeputusan, maksudku tidak akan ada henti-hentinya sampai akhir hayat. Karena ilmu adalah semisal lautan yang tidak akan pernah kering, meskipun setiap hari disengat oleh panasnya matahari”

“Lalu, apakah artinya ilmu yang akan aku pelajari dalam beberapa hari saja ?”

“He.. otakmu cerdas juga, tetapi kau harus ingat, lebih baik yang sedikit dari pada tidak sama sekali”

“Baik Raden, terima kasih”

“Tidur sajalah, aku akan membersihkan luka-lukaku”

Raden Kuda Rupakapun kemudian meninggalkan bilik itu setelah untuk beberapa saat ia berdiri di muka Pinten yang bagaikan membeku, sambil menepuk bahu gadis yang ketakutan itu ia berkata “Minumlah, agar kau menjadi tenang”

Pinten menarik nafas dalam-dalam, ketika Raden Kuda Rupaka sudah melintasi pintu, gadis itu tertatih-tatih berdiri.

“Aku hampir pingsan” desisnya

“Tidur sajalah, tidak akan ada apa-apa lagi malam ini”

“Uh, macam kau”

“Minumlah, agar hatimu menjadi tenang”

“”Lagakmu, tidur sajalah di kolong amben itu lagi”

Sangkan tersenyum. Dilihatnya adiknya pergi keluar bilik untuk mengambil minum di dapur, agaknya ia benar-benar ingin minum agar hatinya menjadi tenang.

Sementara itu, selagi Raden Kuda Rupaka sibuk membersihkan lukanya, seseorang berjalan dengan tergesa-gesa ke istana kecil yang terpencil itu. jauh diluar padukuhan ia melihat seekor kuda yang berlari didalam kegelapan dan hilang dikejauhan.

Sesaat orang itu termangu-mangu, namun iapun kemudian ia meloncat keatas dinding didalam kegelapan bayangan dedaunan.

Beberapa saat lamanya, orang itu memperhatikan keadaan di sekitarnya, halaman itu telah sepi, tidak seorangpun yang berada di halaman itu. Dengan telinganya yang tajam ia mencoba untuk memperhatikan, dengan setiap desir yang didengarnya, namun akhirnya ia yakin bahwa tidak ada suara nafas seseorang. Dengan hati-hati sosok tubuh itupun meloncat turun, dengan seksama ia memperhatikan bekas-bekas pertempuran dihalaman itu. Sambil menarik nafas ia berkata “Pertempuran yang dahsyat”

Akhirnya ia menemukan dua sosok tubuh yang terbaring diam. Dua sosok tubuh yang telah menjadi mayat. Perlahan-lahan ia mendekatinya, ketika ia menyentuh mayat itu, terasa betapa dinginnya. Sejenak ia berada ditempatnya sambil memandangi istana yang nampak semakin suram itu, tetapi istana itupun sepi, namun telinganya yang tajam, masih menangkap suara seseorang dibagian belakang. Suara percakapan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga dengan Sangkan dan Nyi Upih.

Namun percakapan itupun tidak berlangsung lama, sejenak kemudian istana itu telah benar-benar menjadi sepi. Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilagapun segera masuk kedalam biliknya pula. Apalagi terasa badan mereka yang letih oleh perkelahian yang dahsyat di halaman, sehingga dengan demikian merekapun segera tertidur nyenyak. Namun demikian mereka sama sekali tidak lengah, di pembaringan mereka, tergolek senejata-senjata mereka.

Betapapun nyenyaknya mereka tidur, tetapi ketika matahari siap untuk menjenguk  dipagi harinya dari balik perbukitan, keduanya telah terbangun. Merekapun kemudian membenahi diri masing-masing. Dengan tergesa-gesa merekapun kemudian keluar dari bilik mereka dan menghadap Raden Ayu Kuda Narpada yang juga sudah bangun dan duduk dengan wajah tegang diruang dalam.

“Maaf bibi” berkata Raden Kuda Rupaka “Aku tidur terlampau nyenyak, sehingga aku agak terlambat bangun”

“Hari masih sangat pagi anakmas”

“Bibi, kami berdua akan menemui Ki Buyut dan melaporkan apa yang telah terjadi. Kami akan minta bantuan, tiga atau empat orang untuk mengubur dua sosok mayat yang masih ada di halaman, meskipun sudah aku singkirkan”

“Silahkan anakmas” Jawab Raden Ayu Kuda Narpada, namun kemudian “Atau untuk itu, apakah tidak lebih baik Sangkan sajalah yang pergi ke padukuhan ?”

“Biarlah kami berdua sja bibi, kami akan dapat menjelaskan apakah yang sebenarnya sudah terjadi”

Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk,lalu “Jika demikian terserahlah kepada anakmas berdua”

Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilagapun kemudian mempersiapkan dirinya setelah mandi di pakiwan. Tetapi ketika mereka siap untuk berangkat, rasa-rasanya ada sesuatu yang membuat mereka ragu-ragu. Karena itu, maka Raden Kuda Rupaka berkata “Aku akan menengok kedua sosok mayat itu dahulu paman”

Panji Sura Wilaga tidak mencegahnya, bahkan iapun kemudian berjalan di belakang Raden Kuda Rupaka. Betapa terkejutnya kedua orang itu, ketika ternyata bahwa kedua mayat  itu sudah tidak ada di tempatnya, keduanya bagaikan lenyap saja tanpa meninggalkan bekas.

“Gila” geram Raden Kuda Rupaka “Siapakah yang bermain-main lagi dengan Kuda Rupaka” Ia berhenti sejenak, lalu “Paman apakah kau melihat sesuatu?”

Panji Sura Wilaga kemudian melangkah ketepi dinding batu. Ia melihat beberapa gores warna merah, ternyata warna-warna merah dalam goresan itu adalah susunan huruf-huruf.

“Raden” katanya “Cobalah baca tulisan pada dinding batu ini”

Dengan dada yang berdebar-debar keduanyapun mendekat, dengan suara yang berat Raden Kuda Rupaka berkata “Darah”

Tetapi Panji Sura Wilaga menggeleng “Bukan Raden, tetapi soga”

Keduanyapun kemudian membaca tulisan yang tidak begitu jelas tergores didinding itu.

= SUNGGUH MENGAGUMKAN, TETAPI TUGAS KALIAN BELUM SELESAI =

“Gila” Raden Kuda Rupaka menjadi marah. Dihentakkannya kakinya sambil mengepalkan tangannya “Siapakah yang akan mencoba kemampuan Raden Kuda Rupaka lagi ?”

Sejenak mereka teringat orang yang semalam telah membantunya, tentu orang itu tidak hanya sekedar membantunya tanpa pamrih, tentu ada perhitungan tertentu yang memaksanya untuk berniat demikian.

“Apakah benar ia dari perguruan Kumbang Kuning” bertanya Raden Kuda Rupaka

“Aku tidak dapat memastikannya, tetapi ia adalah sesorang yang memiliki kemampuan yang tinggi, ternyata bahwa salah seorang dari ketiga murid Guntur Geni ini dengan cepat dapat dikuasainya”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, dilontarkannya tatapan matanya ke sekelilingnya, seolah-olah ia sedang mencari sesuatu, bahkan kemudian iapun melangkah perlahan-lahan menyusuri dinding batu itu. Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti, ia tertegun ketika ia melihat sesuatu dibalik semak-semak.

“Gila” desis Raden Kuda Rupaka “Paman…, mayat itu disembunyikan disini, kedua-duanya”

“Hem, agaknya ini sekedar sebuah tantangan Raden”

Raden Kuda Rupaka menggeretakkan giginya, dipandangnya keadaan di sekeliling halaman itu, tetapi halaman itu sepi, dibelakang terdengar suara sapu lidi, sedang di perigi terdengar derit senggot timba.

“Tentu anak muda yang telah mengobati anak Karangmaja yang terluka itu paman”

“Ya, yang duduk dipinggir jalan saat Raden berjalan-jalan dengan puteri Inten”

“Ya, namanya Kidang Alit”

“Apakah benar ia dari perguruan Kumbang Kuning?, jika benar, maka adalah tidak mustahil bahwa ia dapat menyembuhkan anak yang dilukai oleh orang-orang terbunuh itu”

“Jika benar ia datang dari perguruan Kumbang Kuning, kita memang harus berhati-hati, mungkin ia tidak seorang diri dipadukuhan ini”

“Aku kira ia mempunyai kawan, mungkin kawannya masih tersembunyi”

“Dan mungkin lebih dari seorang, tetapi sekelompok”

Kedua-duanya mengangguk-angguk, seolah-olah keduanya bersepakat bahwa Kidang Alit dating ke padukuhan Karangmaja tidak hanya seorang diri, tetapi dalam sekelompok kecil.

“Sudahlah paman, kita akan memikirkannya kemudian, sekarang kita pergi ke rumah Ki Buyut di Karangmaja”

Keduanyapun kemudian meninggalkan kedua mayat yang masih tersembunyi dibalik gerumbul. Mereka kemudian menganggap bahwa justru tempat itu agaknya lebih baik agar tidak menakut-nakuti penghuni istana kecil itu. Dalam pada itu Nyi Upih dan anak-anaknya yang sudah mengetahui bahwa di halaman depan ada dua sosok mayat, sama sekali tidak berani membersihkannya. Mereka menunggu saja sampai ada orang yang mengambil untuk menguburkan mayat-mayat itu.

“Apakah kau juga takut Sangkan?” bertanya Inten Prawesti.

“Ampun puteri, lebih baik aku menyapu jalan-jalan diseluruh padukuhan dari pada harus membersihkan halaman depan pagi ini. Nanti jika orang-orang Karangmaja sudah datang, aku akan menyapunya sampai bersih, tanpa bekas telapak kaki satupun yang tersisa”

“Telapak kakimu sendiri?”

“Tentu tidak puteri, aku menyapu melangkah mundur, sehingga telapak kakiku sendiri akan terhapus oleh goresan lidi”

“Inten mengerutkan keningnya, namun kemudian iapun tersenyum “Kau memang pintar”

Sementara itu, Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga telah berada di regol rumah Ki Buyut Karangmaja, perlahan-lahan Pangeran kuda Rupaka mereka melangkah maju memasuki halaman yang luas itu. Namun wajah Pangeran Kuda Rupaka tiba-tiba menjadi tegang, dilihatnya Kidang Alit telah berada di halaman itu dan dengan acuh tak acuh melihat kehadiran kedua bangsawan itu sambil duduk saja ditangga.

“Setan itu ada disini” desis Pangeran Kuda Rupaka

“Biar saja Raden, jika ia acuh tidak acuh terhadap kedatangan kita, maka biarlah kita juga tidak menghiraukan kehadirannya disini”

Pangeran Kuda Rupaka mengangguk, dan seperti yang dikatakan oleh Panji Sura Wilaga, ia sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Kidang Alit. Ternyata Ki Buyut telah melihat kedatangan keduanya, sehingga kemudian dengan tergesa-gesa ia pergi menyambut kedatangannya.

“Silahkan Raden, marilah”

Pangeran Kuda Rupaka mengangguk sambil menjawab “Terima kasih Ki Buyut”

“Silahkan Raden berdua naik ke pendapa”

Pangeran Kuda Rupaka menyerahkan kudanya kepada seorang anak muda yang dengan tergesa-gesa mendekatinya, sedang seorang yang lain telah menghampiri Panji Sura Wilaga pula. Ketika Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga naik ke pendapa, mereka masih sempat melihat Kidang Alit berdiri dan masih dalam sikapnya acuh tidak acuh, ia melangkah meninggalkan halaman itu.

Wajah Pangeran Kuda Rupaka menegang, namun kemudian Panji Sura Wilaga berbisik “Sudahlah, jangan hiraukan lagi”

“Apakah ia akan ke istana kecil itu?”

“Tentu tidak, ia tahu, bahwa kita akan beada disini untuk waktu yang pendek”

Pangeran Kuda Rupaka manarik nafas, tetapi ia tidak menyahut lagi. Sejenak kemudian maka merekapun telah duduk di pendapa, dihadapan Ki Buyut beserta beberapa orang bebahu padukuhan itu.

“Apakah ada sesuatu yang terjadi Raden?” bertanya Ki Buyut.

Kedua tamunya mengerutkan keningnya, dan Pangeran Kuda Rupakapun kemudian bertanya “Apakah Ki Buyut mendengar sesuatu tentang istana itu?”

“Tidak, tetapi Kidang Alit mengatakan, bahwa kemungkinan sekali Raden berdua akan datang pagi ini”

“Apakah ada hal lain yang dikatakan?”

“Tidak” Ki Buyut terhenti sejenak, lalu “Tetapi ia mengatakan pula bahwa orang-orang yang berada di banjar itu tidak akan dapat mengganggu kita lagi, apakah ada hubungannya kedatangan Raden berdua dengan orang-orang yang tinggal di banjar itu?”

“Apakah Kidang Alit tidak mengatakannya?”

“Ki Buyut menggeleng sambil menyahut “Tidak Raden, hanya itulah yang dikatakannya”

Pangeran Kuda Rupaka memandang wajah Panji Sura Wilaga yang menegang, namun iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil sambil berkata “Kidang Alit benar, orang-orang yang barangkali dimaksud tinggal di banjar itu tidak akan mengganggu kalian lagi, bukankah orang-orang itu pula yang telah melukai seorang anak muda Karangmaja ?, dan agaknya Kidang Alit pula yang telah menyembuhkannya?”

“Kasdu maksud Raden ?”

Pangeran Kuda Rupaka mengerutkan keningnya.

“Ya Raden, Orangorang itulah yang telah meracuni tubuh Kasdu dan yang kemudian diobati oleh kidang Alit. Kasdu kini sudah mampu berdiri dan berjalan setapak-setapak, nampaknya ia akan segera pulih kembali, mungkin lebih singkat dari dugaan Kidang Alit sendiri”

“Sukurlah”

Pangeran Kuda Rupaka mengangguk-angguk. Lalu “Ki Buyut, sebenarnyalah kedatanganku memang ada hubungannya dengan orang-orang kasar itu”

“Apakah orang-orang itu sudah mengganggu istana itu?”

“Bukan saja mengganggu, mereka telah mencoba untuk memasuki istana itu dengan menakut-nakuti bibi Kuda Narpada”

“Oo…”

“Untunglah bahwa kami berdua masih berada di istana itu Ki Buyut, sehingga aku masih sempat mencoba melindungi bibi menurut kemampuanku”

“Jadi…?”

“Dua diantara ketiga orang itu terbunuh” berkata Pangeran Kuda Rupaka “Tetapi yang seorang berhasil melarikan diri”

“Oo…”

Pangeran Kuda Rupaka kemudian menceritakan serba singkat apa yang telah terjadi di halaman itu, bahkan ia menceritakannya juga kehadiran seorang yang tidak dikenal, menyamar wajahnya didalam malam yang kelam.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam kemudian iapun berdesis “Apakah mungkin orang ketiga itu Kidang Alit?”

“Aku tidak dapat memastikannya Ki Buyut, tetapi memang mungkin, apalagi ketika pagi ini aku menjumpai sebuah tantangan setelah kedua mayat itu disingkirkan dari tempatnya”

Ki Buyut mengerutkan keningnya, meskipun orang-orang yang ada di banjar itu sudah tidak ada lagi, tetapi ternyata bahwa Karangmaja belum akan menjadi tenang. Pesoalannya masih akan berkembang terus, berkisar dari pihak yang satu kepihak yang lain, agaknya persoalan akan timbul antara Pangeran Kuda Rupaka dengan Kidang Alit.

“Aku tidak mengerti siapakah sebenarnya Kidang Alit itu” berkata Ki Buyut di dalam hatinya “Ia menolong Kasdu, tetapi ia telah menodai dua orang gadis, orang-orang kasar itu telah melukai Kasdu dengan kejamnya, tetapi setelah itu mereka tidak pernah berbuat apa-apa, kini agaknya Kidang Alit telah mulai dengan persoalan barunya dengan bangsawan-bangsawan itu, apakah salahnya jika hubungan antara mereka itu dilakukan dengan baik?.

Tetapi gambaran didalam angan-angan Ki Buyut segera merayap kepada gadis cantik yang ada di istana itu.

“Tentu Kidang Alit telah menjadi gila karena puteri Inten Prawesti itu” berkata Ki Buyut selanjutnya kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, Ki Buyut bagaikan terbangun dari mimpinya ketika Pangeran Kuda Rupaka berkata “Ki Buyut, kedatangan sebenarnya ada hubungan juga dengan kematian kedua orang itu, mayat itu sampai sekarang masih ada di halaman, aku ingin minta bantuan tiga atau empat orang untuk menguburkan mayat-mayat  itu.”

“O..” Ki Buyut mengangguk-angguk “Tentu Raden, kami tentu akan membantu”

“Terima kasih Ki Buyut, aku harap bahwa mereka akan dapat mengambil mayat itu sekarang”

“Tentu, tentu Raden, aku persilahkan Raden menunggu sebentar”

“Ki Buyut, sebaiknya kami mendahului saja, kami menunggu mereka di regol halaman”

“Baiklah Raden, silahkan, aku akan segera mengirim beberapa orang untuk menguburkan mayat itu”

Demikianlah Pangeran Kuda Rupaka dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah Ki Buyut, sikap Kidang Alit menimbulkan kecurigaannya, sehingga rasa-rasanya ia tidak sampai hati meninggalkan istana kecil itu terlampau lama. Dalam pada itu, selagi Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga tidak berada di istana, penghuni istana itu sama sekali tidak ada yang berani turun ke halaman itu, mereka tahu bahwa di halaman itu ada dua sosok mayat, karena itu, maka mereka seolah-olah berkumpul di belakang, di dapur dan di bilik Nyi Upih.

“Silahkan Gusti duduk saja di serambi” minta Nyi Upih kepada Raden Ayu Kuda Narpada yang membantunya di dapur.

“Tidak Nyai, aku senang berada disini, sebenarnyalah aku agak takut tinggal diluar sendiri, meskipun di serambi belakang rasa-rasanya ada sesuatu yang lain”

“Tentu tidak akan ada apa-apa gusti”

“Nyai, aku adalah orang tua, rasa-rasanya ada  ada firasat padaku bahwa persoalan ini masih akan ada kelanjutannya”

“Tetapi Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga akan selalu melindungi Gusti”

“Nyai, aku tidak akan dapat menahan mereka untuk waktu yang tidak tertentu, pada suatu saat mereka akan kembali ke Demak atau kemanapun, mungkin ke perguruannya atau berkelana lebih jauh”

Nyi Upih mengangguk-angguk, iapun mengerti bahwa tidak untuk selamanya kedua orang itu akan tetap berada di istana terpencil itu. Tetapi ia tidak dapat mengatakan apapun juga selain menundukkan kepalanya.

“Tetapi baiklah kita tidak perlu memikirkannya sekarang Nyai,“ Berkata Raden Ayu Kuda Narpada “Kita pasrahkan saja  kepada Allah Subhanallahi Wata”ala”

Sementara itu di dalam biliknya, Sangkan dan Pinten duduk di lantai sambil menghadap Inten Prawesti yang duduk di pembaringan Pinten, dengan wajah yang tegang Inten masih mempercakapkan perkembangan yang terjadi dimalam yang baru lampau.

“Untunglah kamas Raden Kuda Rupaka ada disini” berkata Inten Prawesti.

“Ya, Puteri, jika tidak, aku akan mengalami nasib yang sangat buruk” sahut Pinten.

“Kenapa kau?” bertanya Sangkan

“Mereka tentu akan membawa aku, tetapi aku tidak mau”

“Ooo… Sebutlah nama Biyung Pinten, jika sekali-sekali kau bermain ditepi kolam, lihatlah wajahmu kedalamnya, kau akan tahu bahwa tidak akan ada seorang laki-lakipun yang menaruh perhatian kepadamu”

“Ah..” wajah Pinten seolah-olah menjadi pudar.

“Jangan berkata begitu Sangkan“ potong Inten Prawesti “Jangan berkata begitu kepada seorang gadis, Pinten adalah gadis yang manis, ia memiliki kelebihan dari seorang gadis kebanyakan”

Pinten menundukkan kepalanya, wajahnya nampak sedih, katanya “Kakang Sangkan selalu berkata begitu puteri, apakah aku memang terlampau jelek?”

“Tidak, tidak Pinten, kau tidak jelek, kau cantik, muda dan lincah, apalagi yang kurang?”

“Tetapi kakang selalu mengatakan, bahwa tidak akan ada laki-laki yang tertarik kepadaku”

“Ia hanya bergurau, bukankah begitu Sangkan?”

“Maksudku tidak puteri, tetapi jika itu menyakiti hatinya, baiklah, aku memang hanya sekedar bergurau”

“Coba dengar puteri, maksudnya sama sekali tidak bergurau, Jika puteri tidak ada, ia tidak akan mencabut kata-katanya seperti itu”

“Sudahlah jangan bertengkar” Inten berhenti sejenak, lalu “Sangkan, bagaimanapun juga, ia adalah adikmu, bukankah kau sudah membawanya jauh dari Majapahit sampai ketempat ini tidak sekedar untuk kau perolok-olokan?”

“Tidak puteri, tentu tidak, aku benar-benar hanya bergurau saja, seperti yang puteri katakan”

“Nah, bukankah kau sudah mendengarnya Pinten?”

Wajah Pinten masih nampal gelap, sambil bersungut-sungut ia berkata “Ia berkata begitu karena puteri ada disini”

“Tentu tidak, sudahlah, jangan kau hiraukan kakakmu, percayalah kepadaku, bahwa kau memang cantik”

Pinten masih menunduk, sedang Sangkan memandanginya dengan bibir yang bergerak-gerak, untunglah Pinten tidak sedang memandangnya. Namun dalam pada itu, selagi mereka sedang berbicara dengan asyik, tiba-tiba saja mereka terkejut oleh suara seruling yang terdengar melengking, seperti sesambat prajurit yang terluka di peperangan.

Bab 8

Inten Prawesti terkejut mendengar suara seruling itu, sudah lama ia tidak mendengarnya, dan tiba-tiba saja suara seruling itu bagaikan menyentuh jantungnya. Sangkan dan Pinten menjadi terheran-heran melihat sikap Inten Prawesti. Suara seruling itu agaknya sangat menarik hatinya, sehingga hatinya rasa-rasanya semua perhatiannya terampas oleh suara seruling itu.

Inten Prawesti benar-benar telah dicengkam oleh pesona yang seolah-olah tidak terlawan. Suara seruling yang didengarnya itu adalah suara seruling yang memang pernah didengarnya. Tetapi rasa-rasanya kali ini suara itu benar-benar menjadi menghiba-hiba seperti tangis bayi yang merindukan ibunya.

“Suara itu” desis Inten Prawesti.

“Suara seruling” sahut Sangkan

“Ya…suara seruling itu….”

“Kenapa dengan suara seruling itu puteri?”

Inten Prawesti tidak menyahut, tetapi seperti tidak atas kehendaknya sendiri, maka iapun berdiri sambil mengadahkan kepalanya “Alangkah syahdunya, tetapi alangkah pilunya suara itu, anak muda itu, merintih oleh penderitaan yang tiada akhirnya”

“Siapa puteri ?”

“Tidak ada seorangpun yang sudi menolongnya, dan gadis yang dicintainya telah pergi meninggalkannya tanpa mengatakan sesuatu kepadanya”

“Siapa ?, Siapa puteri ?” Sangkan menjadi heran.

Suara seruling itu rasa-rasanya mencengkam hati Inten Prawesti semakin dalam.

Didapur Nyi Upihpun mendengar suara itu, dahinya nampak berkerut merut, ketika mmandang Raden Ayu Kuda Narpada, ia termangu-mangu, agaknya Raden Ayu Kuda Narpada itupun tertarik pula oleh suara seruling itu.

“Aku mendengar suara seruling Nyai” berkata Raden Ayu Kuda Narpada “Tetapi tidak seperti suara yang kita dengar sekarang, alangkah dalamnya, suara itu tentu benar-benar meloncat dari dasar hati”

“Gembala-gembala dari Karangmaja memang pandai meniuo seruling Gusti, mungkin itu suara hati seorang gembala yang memang hidup berprihatin sejak kanak-kanaknya”

Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Berbeda dengan ibunya, maka Inten Prawesti benar-benar telah dicengkam oleh suara itu, bahkan kemudian ia bekata kepada kedua anak Nyi Upih itu “Aku ingin sekali melihat, kenapa suara serulingnya kini sangat ngelangut”

“Kemana puteri akan bertanya?”

“Aku tahu, ia tentu duduk dibawah pohon kemuning diluar regol halaman rumah ini”

Sangkan menjadi semakin bingung, namun kemudian ia berkata “Puteri, suara seruling itu datang dari tempat yang agak jauh, mungkin seorang gembala di padang rumput di belakang istana ini, tetapi tentu tidak di bawah pohon kemuning di muka regol istana”

Inten Prawesti mencoba memperhatikan suara itu lebih seksama lagi, katanya kemudian “Tidak Sangkan, suara itu tidak datang dari belakang istana, memang tidak dari bawah pohon kemuning tetapi juga tidak dari belakang”

Sangkan memandang adiknya dengan termangu-mangu, sedang Pintenpun nampak menjadi gelisah “Puteri, biar sajalah suara seruling itu, tentu seorang gembala telah meniupnya”

“Bukan Pinten, bukan seorang gembala, tetapi anak muda yang nakal itu”

“Siapa ?”

“Kidang Alit, apakah kau mengenalnya ?”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, dengan ragu-ragu ia berbisik di telinga adiknya “Pesona apakah yang membuat puteri menjadi bingung”

“Gendam” bisik adiknya

“Apakah kau percaya, bahwa ada ilmu yang disebut gendam dan dapat mempengaruhi hati seorang gadis untuk mencintai orang yang melepaskan ilmi itu ?”

“Kenapa tidak ?!, tetapi sebenarnya gadis itu bukan mencintainya, ia hanya sekedar terbius oleh ilmu itu”

“Siapakah yang terbius, Pinten ?” tiba-tiba saja Inten Prawesti bertanya, agaknya ia mendengar percakapan kedua anak Nyi Upih itu.

“Puteri, maksud kami, apakah puteri sudah kena ilmu gendam itu ?”

Inten Prawesti termangu-mangu, kemudian iapun bertanya “Apakah artinya ?”

“Ilmu yang dapat membius sesorang sehingga ia melupakan segala-galanya karena hatinya dirampas oleh kekuatan ilmu itu, yang kemudian besarang di hati hanyalah bayangan-bayangan orang yang melepaskan ilmu itu”

“Apakah kau menganggap suara seruling itu adalah ilmu semacam itu ?”

“Mungkin puteri” sahut Pinten.

“Kenapa ia harus melepaskan ilmu itu ?”

“Mungkin akulah yang dituju oleh anak muda itu, sekali ia melihat aku, maka iapun segera tertarik, tetapi ia tidak berani mengatakannya kepadaku secara langsung”

“Uh !!“ potong Sangkan “Kau memang tidak dapat menyadari keadaan dirimu sendiri Pinten, jika aku mengatakan bahwa tidak ada laki-laki yang tertarik kepadamu, kau menjadi sakit hati, tetapi kau selalu bermimpi seolah-olah kau seorang bidadari yang sangat cantik”

Inten Prawesti tersenyum katanya “Setiap gadis akan merasa dirinya cantik, dan setiap gadis akan merasa tersinggung bahwa orang lain menganggap sebaliknya, tetapi seorang gadis juga tidak senang melihat gadis lain lebih cantik dari pada dirinya”

“Apakah begitu puteri ?”

Inten Prawesti mengangguk, lalu katanaya “Jangan percaya kepada gendam, jika suara seruling itu sangat menarik hati, karena suara itu memang menyentuh hatiku, aku pernah mengenal anak muda yang menyuarakan seruling itu, kau jangan menuduhnya dengan tuduhan yang menyakitkan hati, seolah-olah ia mempergunakan ilmu gendam, anak muda dan suara serulingnya itu memang memikat”

Sangkan menjadi semakin bingung, apalagi ketika Inten Prawesti berkata “Aku alan mencari suara itu”

“Puteri, itu tidak baik” cegah Sangkan.

“Kenapa ?”

“Puteri, mungkin sebentar lagi orang-orang Karangmaja akan datang , mereka alan membantu Raden kuda Rupaka untuk mengubur mayat-mayat itu, Apakah kata Raden Kuda Rupaka nanti, jika puteri tidak ada, justru dalam keadaan yang gawat seperti sekarang ini ?”

“Biarlah mereka menguburkan mayat itu, aku tidak berkepentingan sama sekali”

“Puteri…”Pinten mulai memegangi ujung kain Inten Prawesti, lalu “Jangan puteri, Ibunda tentu akan marah”

“Ibunda akan mengijinkannya, aku akan mohon diri”

“Tetapi sikap puteri akan membuat ibunda menjadi sedih”

Inten Prawesti tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya ia berkata “Tidak Pinten, tidak ada yang bersedih”

“Aku puteri” potong Sangkan tiba-tiba, namun kemudian dengan tergesa-gesa ia melanjutkan “Maksudku, aku menjadi sedih karena puteri akan pergi justru selagi kakanda puteri Raden Kuda Rupaka tidak ada”

“Katakan kepada kamas Kuda Rupaka, bahwa aku hanya akan pergi sebentar, bukankah tidak akan terjadi sesuatu jika aku hanya melihat dimana anak itu meniup seruling ?”

Sangkan dan Pinten menjadi semakin bingung, Pinten yang sudah memegangi ujung kain Inten Prawesti, memohonnya dengan sangat “Ampun Puteri, aku mohon, janganlah puteri pergi sebelum Raden Kuda Rupaka datang puteri, puteri harus selalu ingat, apa yang pernah dilakukan oleh anak muda yang bernama Kidang Alit yang memang memiliki kepandaian meniup seruling, menurut keterangan yang aku dapat, dia telah mencemarkan dua orang gadis dari Karangmaja”

Inten mengerutkan keningnya, nampak sesuatu menyentuh hatinya, namun ketika suara seruling itu memanjat semakin tinggi, Inten Prawesti tersenyum “Adalah salah gadis-gadis itu sendiri, mereka menyerahkan diri tanpa kepastian, aku tidak akan melakukankannya Pinten, aku adalah puteri Pangeran Kuda Narpada, sehingga kedududkanku harus jelas dalam setiap hubungan dengan siapapun dan dalam hal apapun”

“Puteri” Sangkan tersentak mendengar jawaban itu, bahkan kemudian ia bergumam “Pinten, agaknya jau benar, puteri telah disentuh ilmu gendam”

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, bahkan dengan wajah yang berkerut merut ia berkata “Sangkan, aku peringatkan kau sekali lagi, jangan menuduh demikian buruknya kepada Kidang Alit !!”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, bahkan kemudian ia berkata kepada Pinten “Jagalah puteri sejenak, aku akan menghadap Gusti”

“Tidak perlu Sangkan” berkata Inten Prawesti “Seharusnya kau tidak mencampuri urusanku, jika kau dan adikmu selalu menghalang-halangi kesenanganku, aku akan mohon kepada ibunda, agar kau berdua dijauhkan saja dari istana ini”

“Puteri” Pinten memeluk kaki Inten, tetapi gadis dikibaskannya, bahkan betapapun juga, Pinten mencoba menahannya, namun Inten Prawesti tetap pada pendiriannya untuk pergi ke sumber suara seruling itu.

Namun dalam pada itu, dalam ketegangan yang hampir tidak teratasi, Sangkan berkata sambil meloncat kedepan pintu biliknya pada saat Inten Prawesti akan berlari keluar “Puteri, aku sudah barang tentu tidak dapat menahan puteri, karena aku adalah seseorang yang hanya menumpang hidup disini, seperti selembar daun kering yang terbang dihanyutkan angin dan jatuh diatas pangkguan seorang gadis, ia dapat menibaskan daun kering itu dan membuangnya di tempat sampah, tetapi ia dapat membiarkannya atau memberikan tempat yang agak lebih baik dari tempat sampah itu. Namun ia tetap daun kering yang tidak berharga sama sekali, yang sampai saatnya akan dibuang, tetapi puteri, aku juga pernah menjadi seorang gembala, dan karena itu, akupun pernah bermain-main dengan seruling, bahkan saat inipun aku memiliki sebuah seruling seperti yang dibunyikan oleh Kidang Alit itu, jika puteri hanya sekedar ingin mendengarkan suara seruling, puteri tidak usah pergi kemanapun juga, aku juga dapat membunyikan seruling”

“Ah !!, jangan ganggu aku Sangkan, aku dapat mengusirmu dari tempat ini”

“Ampun puteri, tetapi jangan pergi, hamba mohon, seandainya karena itu, aku harus diusir pergi, aku rela, tetapi jangan pergi dalam keadaan seperti ini”

Inten Prawesti menjadi sangat marah, tetapi sebelum ia berteriak mengusir Sangkan, ibundanya dan Nyi Upih yang mendengar suara ribut itupun dengan tergesa-gesa dating ke ruangan itu.

Ketika Raden Ayu Kuda Narpada melihat Sangkan berdiri di tengah-tengah pintu menghalang-halangi Inten, terbesirlah perasaan aneh dalam dirinya, sehingga dengan serta merta ia berkata lantang “Nyai, apakah anakmu sudah gila ?”

Sangkan mendengar suara Raden Ayu Narpada, sehingga iapun kemudian bergeser sambil berlutut di hadapan Raden Ayu Kuda Narpada itu.

“Ampun Gusti, biarlah aku dikutuk oleh hantu-hantu jika aku berniat buruk, biarlah Pinten mengatakannya kepada Gusti apakah yang telah terjadi”

Dalam pada itu, Inten Prawestipun segera berlari kepada ibunya sambil menangis, katanya bertahan-tahan “Usir saja anak-anak itu ibunda, mereka berniat buruk terhadapku”

“Apakah yang sudah terjadi anakku” bertanya Raden Ayu Kuda Narpada.

“Mereka mengurungku di dalam bilik ini”

“O Gusti” desis Nyi Upih “He..!! anak-anak tidak tahu malu, apakah kalian berbuat demikian ?”

“Gusti” berkata Pinten kemudian “Kami hanya mencoba menghalangi puteri, karena puteri akan pergi ke suara seruling itu”

“He..??” Raden Ayu Kuda Narpada terkejut “Apakah begitu?”

Inten menjadi ragu-ragu, tetapi ketika suara seruling itu melengking lagi, bagaikan jerit suara gadis yang ditinggalkan kekasih, maka Intenpun berkata “Ya ibunda, aku ingin pergi ke tempat anak muda itu meniup seruling, tetapi kedua anak itu menahan aku”

“Ooo…” Raden Ayu Kuda Narpada mengelus rambut anaknya yang berada di dalam pelukannya “Kenapa kau akan pergi Inten ?, dan siapakah yang meniup seruling itu ?”

“Kidang Alit ibunda, tentu Kidang Alit”

“Ooo…” Raden Ayu Kuda Narpada menjadi semakin terkejut “Kidang Alit, bukankah Kidang Alit itu anak muda yang sering dipercakapkan oleh orang-orang Karangmaja ?”

“Aku tidak perduli, apa yang mereka katakana, aku hanya ingin mendengar suara seruling itu”

“Inten, Inten” ibundanya memeluknya semakin erat, lalu “Bagaimana mungkin kau dapat berbuat demikian ?”

“Ibunda” Inten mulai menangis “Apakah ibunda akan melarangku ?”

“Tentu tidak Inten, tetapi kau harus mencegah dirimu sendiri”

“Aku hanya ingin melihat ibunda”

“Ooo…” Nyi Upih mendesah “Kenapa puteri seolah-olah dicengkam oleh ketidak-sadaran ? bukankah puteri mengetahui apa yang sudah diperbuat oleh anak muda yang bermain seruling itu, jika benar ia Kidang Alit?”

Inten masih tetap menangis, bahkan ia berusaha untuk memaksa melepaskan pelukan ibundanya.

“Gendam biyung, ini adalah pengaruh Gendam” berkata Pinten.

“Tidak, tidak” Inten tiba-tiba saja berteriak seperti bukan atas kehendaknya sendiri.

Namun dalam pada itu, selagi mereka sedang diributkan oleh sikap aneh dari Inten Prawesti, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda memasuki halaman, ketika kuda di halaman depan meringkik, maka Sangkanpun berkata “Raden Kuda Rupaka sudah dating”

Anak itu tidak menunggu apapun lagi, tiba-tiba saha ia berlari kedepan menyongsong Raden Kuda Rupaka. Dengan terbata-bata ia menceritakan keadaan Inten Prawesti yang hampir tidak dapat dicegah lagi.

“Paman” desis Kuda Rupaka “Agaknya memang anak muda itulah yang telah menantangku. Kini dengan sengaja ia menjajagi ilmuku. Ia mempergunakan pengaruh kekuatan bunyi untuk mengganggu keseimbangan perasaan diajeng Inten Prawesti”

“Gendam Raden” desis Sangkan

“Ya, semacam itu”

“Jadi, bagaimanakah maksud Raden ?” bertanya Panji Sura Wilaga.

“Aku harus membebaskannya dari pengaruh bunyi itu”

“Silahkan Raden, mungkin Raden dapat melakukannya”

Kuda Rupakapun kemudian berkata kepada Sangkan “Kembalilah kepada diajeng Inten Prawesti, aku akan masuk ke dalam istana dan mencoba memecahkan pengaruh bunyi seruling yang mengandung pesona bagi diajeng Inten Prawesti itu”

Ketika Sangkan mulai bergerak, Kuda Rupaka berkata kepada Panji Sura Wilaga “Tinggalah disini, jika orang-orang Karangmaja itu datang ajaklah mereka mengubur kedua sosok mayat itu, kini, agaknya perang melawan Kidang Alit harus sudah dimulai”

Panji Sura Wilaga mengangguk sambil menjawab “Baik Raden, silahkan mencoba untuk memerangi bunyi seruling itu”

Kuda Rupakapun kemudian masuk ke dalam istana, sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian ia masuk ke dalam biliknya dan menutup pintu itu rapat-rapat.

Dalam pada itu, Inten Prawesti masih sibuk berusaha melepaskan diri dari pelukan ibundanya dan bahkan Nyi Upih pula, seakan-akan ia sudah menyadari lagi, apa yang sedang dilakukannya.

Sementara itu, suara seruling dikejauhan menjadi semakin ngelangut, nadanya kadang-kadang meninggi, kadang-kadang cepat menukik merendah, lepas dari ikatan gending yang ada, namun langsung menusuk hati Inten Prawesti, gadis cantik puteri Pangeran Kuda Narpada.

Ibundanya dan Nyi Upih yang memeluknya manjadi semakin bingung, bahkan kemudian sambil menangis Nyi Upih kepada Pinten yang berdiri kebingungan  “Kenapa kakakmu begitu lama ?, cepat, mohon Raden Kuda Rupaka datang kemari”

Pinten termangu-mangu sejenak, namun sebelum ia meloncat berlari sambil menyingsingkan kain panjangnya, langkahnyapun tertegun. Dari dalam istana ia mendengar suara tembang yang mengalun tinggi, bagaikan angin yang silir bertiup dipanasnya udara yang kering.

Suara itu hanya terdengar lamat-lamat, tidak sekeras suara seruling yang masih melengking.

Namun ternyata suara tembang yang lamat-lamat, yang mengalunkan kidung kasmaran seorang jejaka itu, berhasil menyentuh perasaan Inten Prawesti, perlahan-lahan Inten bagaikan menyadari dirinya, bahkan kemudian dengan wajah yang terheran-heran ia berdesis “Apakah aku mendengar suara tembang ?”

“Ya, puteri” sahut Nyi Upih tiba-tba

“Siapakah yang disaat begini sampai sempat berdendang ?”

“Kakanda puteri, Raden Kuda Rupaka” jawab Nyi Upih yang kemudian berbisik kepada Raden Ayu Kuda Narpada “Suara tembang itu agaknya telah berhasil memecahkan ilmu gendam itu”

“Apa yang Nyai maksud ?” bertanya Inten Prawesti.

“Tidak apa-apa puteri”

Inten Prawesti mengerutkan keningnya, agaknya suara seruling dikejauhan masih sedikit mempengaruhinya, sehingga dengan demikian di dalam dirinya telah terjadi benturan pengaruh bunyi yang mengandung kekuatan ilmu yang langsung menusuk perasaannya.

Namun akhirnya ia berkata “Apakah kakangmas Kuda Rupaka sudah datang ?”

“Ya puteri” jawab Sangkan yang sudah ada di dekatnya pula “Agaknya untuk melepaskan lelahnya, Raden Kuda Rupaka berbaring di dalam biliknya sambil menyanyikan sebuah kidung yang syahdu, aku benar-benar terpesona mendengar suaranya, tidak terlampau keras, tetapi sangat dalam dan betapa lembutnya”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, tetapi suara tembang itu tidak memukaunya seperti suara seruling Kidang Alit, karena tujuan Kuda Rupaka  hanyalah sekedar memecahkan pengaruh kekuatan bunyi yang dilontarkan oleh suara seruling Kidang Alit, sehingga apabila dengan demikian Inten Prawesti menjadi sadar akan dirinya, maka usahanya itupun sudah berhasil.

Dan ternyata Inten Prawesti telah benar-benar menjadi sadar atas apa yang sedang dihadapinya. Meskipun ia masih mendengar suara seruling itu, tetapi ia tidak lagi dipukau oleh suatu keinginan untuk datang ke padang rumput atau kemana saja untuk mendengarkan suara seruling itu lebih dekat dan menemukan peniupnya.

Bahkan ia menjadi malu sekali, jika antara ingat dan tidak, seolah-olah ia tanpa dapat dikendalikan lagi berusaha untuk mencari Kidang Alit.

Bulu-bulu tengkuknya merinding, jika ia menyadari, siapakah anak muda yang bernama Kidang Alit itu, dua orang gadis Karangmaja telah menjadi korbannya.

“Ternyata bahwa dugaan kami salah” berkata Inten Prawesti dalam hatinya “Bukan gadis-gadis itulah yang lengah dan menyerahkan dirinya kepada nafsu yang tidak terkendali, tetapi tentu ada semacam ilmu yang dapat membuat mereka kehilangan diri masing-masing, alangkah ngerinya”

Istana Yang Suram 7

Sementara itu, Kidang Alit yang memang dengan sengaja melepaskan suara serulingnya dengan kekuatan ilmu pengaruh bunyi, merasakan sesuatu yang lain pada suara serulingnya, jika semula rasa-rasanya suaranya menyentuh sasarannya, tiba-tiba ia menyadari, bahwa ada sesuatu yang telah mengganggunya.

Kidang Alit masih mencoba memperdalam pengaruh ilmunya atas sasaranya, tetapi perlawanan yang dirasakannya menjadi semakin berat, sehingga pada suatu saat, ia telah kehilangan sentuhan sama sekali.

“Memang berat untuk melawannya” berkata Kidang Alit kepada diri sendiri, ia tahu benar, bahwa Kuda Rupaka tentu sudah kembali ke istana itu, dan melawan ilmunya sehingga usahanya untuk menunjukan kelebihannya atas Kuda Rupaka telah gagal.

Sesungguhnya Kidang alit sedang mencoba untuk menjajagi ilmu Kuda Rupaka, jika ia berhasil menarik Inten Prawesti keluar dengan kemampuan ilmu pengaruh kekuatan bunyi, ia ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh Kuda Rupaka.

Namun ternyata, sebelum Inten Prawesti keluar dari istananya Kuda Rupaka telah datang dan behasil memecahkan ilmunya.

Kidang Alitpun akhirnya menghentikan pelawanannya, jarak antara sumber ilmu dan sasaran memang ikut menentukan, karena kekuatan pengaruh bunyi itu seolah-olah telah susut sejalan dengan susutnya getaran suaranya.

Sejenak Kidang Alit termangu-mangu, dipandangnya Istana kecil itu dari kejauhan, seolah-olah ia sedang memandang sesuatu yang menyimpan  seribu macam untuk dipecahkannya.

“Iblis-iblis itu telah mati dihalaman istana itu, sedang yang seorang berhasil melarikan diri, mungkin sekali yang seorang itu akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar, sedang aku masih saja duduk tepekur tanpa berbuat sesuatu”

Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam, sekali lagi ia memandang istana terpencil itu, ternyata kehadiran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga telah menimbulkan persoalan baru padanya, persoalan yang tidak diperhitungkan senelumnya.

Dengan langkah yang lamban Kidang Alit meninggalkan tempatnya, kepalanya yang menunduk membayangkan betapa ia sedang merenungkan persoalan yang sedang dihadapinya”

“Tetapi Inten Prawesti itu sangat cantik dan ternyata gadis pelayan itupun cantik sekali” katanya di dalam hati, lalu “Jika aku tidak sedang mengemban tugas yang penting, aku kira aku hanya memerlukan kedua gadis itu saja”

Tetapi Kidang Alit menggelengkan kepalanya, katanya kemudian “Aku tidak boleh terganggu oleh kecantikan keduanya sebelum tugasku selesai, untuk sementara aku dapat mengambil gadis Karangmaja yang manapun yang aku sukai”

Langkah Kidang Alit tiba-tiba semakin cepat, tetapi ia tidak kembali ke Karangmaja, ia dengan tergesa-gesa menuruni lereng bukit kecil, kemudian menyelinap di lembah yang jarang sekali dikunjungi oleh seseorang.

Sejenak Kidang Alit termangu-mangu, dipandangnya sebuah puncak bukit kecil diantara beberapa puncak yang lain.

“Nanti sore sajalah” katanya kepada diri sendiri.

Dengan demikian maka iapun duduk di bawah sebatang pohon yang rindang, dipandanginya alam sekitarnya uang sudah menjadi hijau, meskipun masih belum merata sama sekali, sekali-sekali ia mengadahkan wajahnya memandang burung-burung kecil yang berlompatan diatas diatas daun, dan sekali-sekali burung-burung itu berhenti untuk bersiul. Ketika ia melihat dua ekor gelatik hinggap diranting kecil, Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam.

Beberapa saat lamanya Kidang Alit duduk ditempatnya, ia mengertukan keningnya, ketika ia melihat sesuatu bergerak-gerak disemak-semak beberapa langkah agak kebawah tempatnya berteduh.

Ternyata seekor harimau yang haus telah melintasi lembah untuk mencari air di mata air kecil di ujung lembah, di bawah titik-titik air yang menetes pada gumpalan-gumpalan batu padas.

Tetapi harimau itu sama sekali tidak menggetarkan hatinya, bahkan ia sama sekali tidak menghiraukan lagi, Kidang Alit sama sekali tidak menjadi gemetar, seandainya harimau itu dengan perlahan-lahan merunduknya.

Namun demikian Kidang Alit meraba lambungnya, ketika tersentuh olehnya hulu sebuah pisau belati, maka iapun kembali duduk menikmati silirnya angin yang bertiup dari lembah yang basah.

Dalam pada itu, di istana kecil di luar padukuhan Karangmaja, Inten Prawesti bersembunyi saja di dalam pembaringannya. Tiba-tiba saja perasaan malu telah semakin dalam mencengkam jantungnya.

Ia tidak mengerti, kenapa ia telah terpukau oleh suara seruling itu, beberapa kali ia pernah mendengar suara seruling, tetapi ia tidak pernah dicengkam oleh dorongan yang seolah-olah tidak terlawan untuk datang mendekat, bahkan ia telah berhasil untuk tidak menghiraukan lagi suara seruling yang sebelumnya memang telah menarik hatinya.

Tetepi agaknya orang-orang diluar bilik ini sama sekali tidak menghiraukan peristiwa itu lagi, mereka berbuat seperti kebiasaan mereka, sehingga lambat laun, Intenpun berhasil mengatur perasaannya. Ketika ia keluar dari biliknya, ternyata orang-orang itu telah melupakan apa yang sudah terjadi dam tidak menyinggungnya lagi, Intenpun tidak lagi menjadi canggung karenanya, Sangkan yang biasa bergurau dengan adiknya sama sekali tidak menyebut lagi suara seruling yang bagaikan bius yang sangat kuat nagi Inten Prawesti.

Namunn dalam pada itu, diluar pengetahuan Inten, Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga duduk di bawah pohon yanag rindang di halaman depan istana kecil itu, dengan sungguh-sungguh mereka membicarakan suara seruling yang ternyata telah mempengaruhi bukan saja perasaan tetapi nalar Inten Prawesti.

“Untunglah Raden behasil memecahkan ilmu gendam itu” berkata Panji Sura Wilaga.

“Ya… untunglah, bahwa aku sudah dibekali ilmu untuk melawan ilmu semacam itu, paman, ilmu semacam itu bukan saja dapat mempengaruhi perasaan seorang gadis terhadap seorang anak muda, tetapi ada juga ilmu semacam itu yang dapat mempengaruhi siapa saja untuk tujuan apapun”

“Maksud Raden ?”

“Orang dapat kehilangan perasaan dan nalarnya, apakah ia sedang berjaga-jaga, apakah ia sedang berperang”

“Ooo… “ Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, katanya kemudian “Ya… semacam ilmu sirep yang dapat membius seseorang sehingga ia tertidur nyenyak”

“Benar”

“Tetapi jika kita berhasil memusatkan kekuatan yang ada di dalam diri kita, maka kita akan terbebas dari kekuatan semacam itu, yang sulit adalah seperti yang baru saja Raden lakukan, membebaskan orang lain dari pengaruh semacam itu”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu katanya “Tetapi dalam hal ini, Kidang Alit adalah orang yang sangat berbahaya, aku tidak tahu, apakah tujuannya yang sebenarnya, mungkin ia menghendaki diajeng Inten Prawesti, menilik kelakuannya di padukuhan Karangmaja, dua orang gadis telah mejadi korbannya, bahkan mungkin masih akan bertambah” ia berhenti sejenak lalu “Tetapi dapat juga pamrih yang lebih jauh dari pada itu”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk pula, katanya “Kita memang harus siap menghadapi setiap kemungkinan Raden”

“Paman” berkata Raden Kuda Rupaka kemudian “Apakah menurut pikiran paman kita akan menunggu saja disini sampai Kidang Alit berbuat sesuatu, atau kawan-kawan kedua iblis yang terbunuh itu datang ?”

“Tidak Raden, tentu tidak, kita harus bertindak setelah kita mendapatkan kepastian”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tetapi untuk sesaat ia tidak mengatakan sesuatu, ketika ia mengadahkan wajahnya, nampak langit telah menjadi suram, warna-warna merah ditepi gumpalan awanpun menjadi semakin gelap.

Tetapi tiba-tiba saja Raden Kuda Rupaka terkejut, tanpa disadarinya terpandang olehnya segumpal asap kehitam-hitaman yang membubung tinggi ke langit yang sudah mulai diwarnai oleh kegelapan.

“Paman” desisnya “Kau lihat asp itu?”

Panji Sura Wilaga mengerutkan keningnya, sambil mengangguk kecil ia menjawab “Ya Raden, asap yang mencurigakan”

Panji Sura Wilaga kemudian berdiri tegak, setelah memperlihatkan keadaan sekelilingnya, tiba-tiba saja ia melompat naik memanjat pohon itu dengan tangkasnya, seperti seekor tupai yang berkejaran, dalam waktu sekejap ia sudah berada diatas dahan yang tinggi.

Hanya beberapa saat ia berada diatas dahan itu, karena iapun segera meluncur turun, lebih cepat dari dari saat ia memanjat naik.

“Apa yang kau lihat paman ?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Asap itu mengepul dari atas bukit, Raden”

“Apakah telah terjadi kebakaran ?, mungkin semak-semak atau padang ilalang ?, jika demikian, maka orang-orang Karangmaja harus mencegah menjalarnya api, sebab hutan yang baru mulai hijau itu akan lenyap, akibatnya, tanah itu akan menjadi kering lagi, orang-orang Karangmaja memerlukan waktu yang lama untuk memulai lagi dari permulaan sekali”

Panji Sura Wilaga mengerutkan keningnya, namun kemudian katanya “Aku kira bukan kebakaran, tetapi ada kesengajaan untuk menyalakan api di puncak bukit kecil itu, justru di puncak yang gundul”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, katanya “Kidang Alit, tentu Kidang Alit sedang memberikan isyarat kepada seseorang”

“Ternyata yang kita jumpai di daerah ini berbeda sekali dengan dengan dugaan kita semula, Raden. Disini bukannya suatu tempat yang aman, tenteram dan damai, yang dapat dipergunakan untuk beristirahat sepekan dua pekan, tetapi daerah ini justru akan menjadi pusat pertarungan yang dahsyat” ia berhenti sejenak, lalu “Apakah kita akan terlibat didalamnya ?”

“Jadi maksud paman, kia akan pergi begitu saja dari istana ini ?”

“Tentu tidak Raden”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, setelah merenung sejenak, maka katanya “Aku mengerti, dan kita sudah terlanjur terlibat terlampau jauh dalam persoalan-persoalan yang semula tidak pernah kita bayangkan”

Panji Sura Wilaga tidak menjawab, tetapi ia menatap asap yang masih saja mengepul tinggi itu sambil berkata “Jika orang yang mendapat isyarat itu dapat menangkapnya, mungkin besok atau lusa daerah ini akan dikepung oleh beberapa orang yang mungkin datang dari perguruan Kumbang Kuning”

“Apakah perguruan Cengkir Pitu akan tetap diam menghadapi perguruan Kumbang Kuning yang mulai dengan geramnya ?”

Panji Sura Wilaga tersenyum, katanya “Tentu tidak Raden, dan kita tidak perlu memberikan isyarat apapun juga, jika benar-benar ada gerakan dalam jumlah yang cukup kuat dari perguruan Kumbang Kuning atau Guntur Geni, maka Cengkir Pitu akan segera dapat mengetahuinya, sehingga persoalannya akan berganti menjadi besar, pertentangan antar perguruan yang berpengaruh di daerah Majapahit lama”

“Sebenarnya pertentangan itu memang sudah dimulai paman, tetaoi masing-masing masih mencoba mengatasinya dan mencegah pergulatan yang tidak perlu diantara mereka, tetapi agaknya kini keadaannya sudah lain”

“Ya, aku memperhitungkan bahwa lima atau enam orang murid dari perguruan Kumbang Kuning memang sudah ada di sekitar daerah ini, tetapi hanya Kidang Alit sajalah yang masuk ke padukuhan Karangmaja, isyarat itu agaknya sudah pasti, bahwa ia memanggil saudara-saudaranya untuk mendekat”

“Jika benar lima atau enam orang yang datang maka separuh dari mereka adalah anak-anak ingusan”

“Mungkin malahan gurunya”

Raden Kuda Rupaka menarik dalam-dalam, dan Panji Sura Wilaga berkata seterusnya “Bukankah kita sudah mengadakan pengamatan yang ketat pula?”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu “Baiklah paman, meskipun kita tetap percaya kepada saudara-saudara seperguruan kita, namun kita disini harus tetap berhati-hati, mungkin ada sesuatu yang tiba-tiba saja terjadi diluar dugaan kita”

“Yang penting Raden, bibi dan adik sepupu Raden itu harus tetap tenang, mereka tidak boleh digelisahkan oleh kegelisahan kita, jika ada tindakan kasar di istana, ini adalah tangung jawab kita, mereka sama seskali tidak boleh tersentuh, meskipun hanya ujung kain bibi dan adik sepupu Raden”

Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun iapun kemudian tersenyum, senyum yang membayangkan seribu macam arti, namun juga membayangkan seribu macam rahasia yang tersimpan di dalam hati anak muda yang perkasa itu.

Sementara di puncak sebuah bukit yang gundul, Kidang Alit memang sedang membakar seonggok sampah dan ranting-ranting, mula-mula ia membakar ranting-ranting kering, ketika api sudah mulai menyala, maka ditaburkannya dedaunan yang basah kedalam api itu, sehingga asappun kemudian mengepul tinggi kehitam-hitaman.

Seperti yanga diduga oleh Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, Kidang Alit memang sedang memberikan isyarat kepada seseorang yang berada agak jauh dari padukuhan Karangmaja.

Ternyata bahwa isyaratnya itu dapat ditangkap oleh orang-orang yang dimaksudkan, seorang yang bertubuh sedang dan berwajah tenang meyakinkan.

Isyarat yang memang sudah disepakati bersama itu, telah mendorong orang yang bertubuh sedang dan berwajah tenang itu, untuk pegi menemuui seorang saudara seperguruannya yang lain.

“Kadang Sambi Timur, aku sudah melihat isyarat yang diberikan oleh anak muda yang menyebut dirinya Kidang Alit”

Saudara seperguruannya yang disebut Kadang Sambi Timur itu, mengerutkan keningnya, namun kemudian ia bertanya “Raden Waruju maksudmu?”

“Ya, ia menyebut dirinya Kidang Alit”

Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, katanya “Akupun sudah melihatnya, apa katamu Bramadara”

Orang yang berwajah tenang itu menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian “Isyarat itu telah jelas bagi kita, Waruju mengharap kita mendekat”

“Tentu kau yang dimaksudkan, karena ia tidak tahu bahwa akupun sudah berada disini”

“Ya, aku, apalagi setelah aku mendengar berita yang kau bawa, bahwa Raden Kuda Rupaka tidak ada di istananya”

“Sudah beberapa lamanya ia menghilang, mungkin ia berada di istana bibinya di Karangmaja”

“Ya, dan itu berarti kesulitan bagi Kidang Alit”

“Sudah tentu, Raden Kuda Rupaka adalah seorang anak muda yang memiliki banyak kelebihan” desis Sambi Timur.

Bramadara menarik nafas dalam-dalam, hampir kepada dirinya sendiri ia berkata “Kidang Alit belum pernah mengenal anak muda yang bernama Raden Kuda Rupaka, akupun belum”

“Aku pernah berpapasan, tetapi akupun belum jelas apakah aku masih dapat mengenalnya, ketika aku mendengar pemberitahuan itu, aku menjadi bimbang, tetapi perintah itu  menyebut bahwa aku harus mendekati Kidang Alit, bukankah ia menyebut dirinya Kidang Alit ?”

“Ya..”

“Aku harus berusaha membantunya, dan membantumu jika ia menemui kesulitan karena Raden Kuda Rupaka”

Bramadara mengangguk-angguk, namun kemudian katanya “Tetapi Raden Waruju masih saja tidak dapat membebaskan diri dari kelemahannya”

“Kelemahan yang mana ?”

“Setiap orang Karangmaja mengetahui, dan demikianlah semilirnya angin yang aku dengar, bahwa Raden Waruju sudah berhubungan dengan gadis-gadis Karangmaja, dua orang diantara mereka sudah kawin dengan anak muda Karangmaja, setelah Raden Waruju memberikan bekal sepasang lembu bagi mereka”

Sambi Timur tersenyum, katanya “Aku kira sampai mati Raden Waruju tidak akan dapat meninggalkan kebiasaan itu”

“Namun dengan demikian, kedudukannya di Karangmaja menjadi lemah, ia tidak lagi menjadi seorang yang berwibawa dan mempunyai pengaruhi uang besar. Apalagi jika Raden Kuda Rupaka yang tidak ada di istananya itu benar-benar berada di istana kecil itu”

“Aku kurang mengerti, kenapa ia harus menyebut dirinya Kidang Alit, kenapa ia tidak datang dengan mengadahkan  dadanya, dan menyebut dirinya – INILAH RADEN WARUJU”

“Dengan ujud seorang pengembara, ia akan dapat bergerak lebih leluasa, dan yang penting, ia akan dapat bergaul lebih dekat dengan anak-anak muda dan terutama dengan gadis-gadis Karangmaja”

Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya “Sekarang ia memberikan isyarat, kita memang harus datang, agaknya Raden Kuda Rupaka memang berada di istana kecil itu”

“Jika benar demikian ?”

“Jika perlu, kita akan mempergunakan kekerasan”

“Apakah kita cukup kuat ?”

“Kita tidak tahu, apakah Raden Kuda Rupaka hanya seorang diri atau membawa sekelompok pengawal”

“Kita akan melihatnya nanti”

Keduanyapun kemudian mempersiapkan diri, mereka membawa senjata masing-masing dan menyediakan diri sepenuhnya jika mereka akan terlibat dalam kekerasan sejnata dengan seseorang yang memiliki banyak kelebihan dari sesuatunya, Raden Kuda Rupaka.

Ketika kemudian gelap malam turun perlahan-lahan, Kidang Alit telah melontarkan sebongkok kayu kering kedalam apinya, sehingga ketika api itu menyala, nampaklah warna merah yang membayang di ujung bukit kecil itu”

“Bramadara harus melihat isyarat ini, ia harus segera  datang dan meyelesaikan persoalanku dengan Raden Kuda Rupaka, semakin lama, tugasku akan menjadi semakin berat dan berlarut-larut” desisnya sambil di sebelah api yang menjadi semakin besar.

Tiba-Tiba saja Kidang Alit meloncat berdiri dan bersiap menghadapi setiap kemungkinan, ketika ia mendengar gerisik langkah kaki mendekatinya.

“Aku Raden” terdengar suara dari kegelapan.

“Kau kakang Bramadara ?” bertanya Kidang Alit.

“Ya, aku datang tidak seorang diri”

Dalam cahaya api yang kemerah-merahan, Kidang Alit melihat dua orang dating mendekatinya, yang seorang adalah Bramadara sedang yang lain adalah orang yang tidak di sanka datang bersamanya.

“Kakang Sambi  Timur?” desis Kidang Alit.

“Ya Raden”

Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian “Tentu ada persoalan yanga penting yang kau bawa kemari”

Sambi Timur dan Bramadarapun kemudian melangkah semakin dekat, dan ketiganyapun duduk ditepi perapian yang masih menyala meskipun apinya menjadi semakin redup.

“Berita apakah yang kau bawa, kakang Sambi Timur?” bertanya Kidang Alit

“Yang penting, aku mendapat perintah untuk mendekati Raden, jika pada suatu saat Raden memerlukannya”

“Ya, dan kau sekarang sduah berada disini”

“Yang kedua, aku membawa berita bagi Raden”

“Aku memang sudah menduga, katakana”

“Raden Kuda Rupaka telah meninggalkan istananya”

Kidang Alit tertawa kecil, katanya “Baru sekarang kau memberitahukan hal itu kepadaku, Ia sudah berada disini sekarang, bahkan aku sudah menjajagi kemampuannya”

“Jadi Raden sudah bertempur melawan Kuda Rupaka?”

“Tidak, aku mempergunakan pengaruh bunyi, aku mencoba membius diajeng, eh maksudku puteri Pangeran Kuda Narpada, Inten Prawesti dengan suara seruling, namun ternyata bahwa Raden Kuda Narpada berhasil memecahkan pengaruh kekuatan bunyi itu”

Sambi Timur mengangguk-angguk, katanya “Aku memang mendapat pesan agar Raden menjadi semakin berhati-hati karenanya, menurut perhitangan kami, Raden Kuda Rupaka memang akan pergi ke istana kecil itu, ternyata perhitungan itu benar”

“Ia tidak seorang diri, ia datang bersama seseorang yang bernama Panji Sura Wilaga”

“Sura Wilaga” desis Panji Timur “Aku belum pernah mendengarnya, mungkin seorang murid baru, atau pengawal ayahdanya yang paling dapat dipercaya”

“Mungkin, ternyata keduanya merupakan orang yang harus diperhitungkan”

“Tentu Raden, dan kita tidak akan dapat bertindak dengan tergesa-gesa”

“Agaknya bukan saja Raden Kuda Rupaka yang harus kita perhitungkan disini”

“Siapa lagi Raden ?”

“Anak-anak ingusan dari perguruan Sekar Pucang”

“Guntur Geni maksud Raden”

“Murid-murid Kiai Sekar Pucang”

“Ya, Kiai Sekar Pucang dari perguruan Guntur Geni”

Kidang Alit mengangguk-angguk dan Sambi Timur berkata seterusnya “Mereka tentu orang-orang yang sangat berbahaya Raden, apakah mereka masih juga berada di padukuhan ini ?”

“Mereka sudah mati dibunuh”

“Raden membunuhnya ?”

“Tidak, Kuda Rupaka, dua diantara mereka sudah terbunuh, yang seorang lagi melarikan diri”

Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, sambil memandang kepada Bramadara ia bergumam “Bahaya yang setiap saat dapat meledak”

“Ya, kita harus benar-benar berhati-hati”

“Karena itu kakang Samba Timur dan kakang Bramadara, persoalannya semakin mendesak” Kidang Alit berhenti sejenak, lalu katanya “Karena itu, kalian jangan menjauh lagi, biarlah kalian berada disini”

“Di Karangmaja ?”

“Ya, datanglah dengan sikap yang kasar, seperti sikap orang Guntur Geni”

“Maksud Raden ?”

“Kalian akan ditempatkan di banjar padukuhan, tetapi kalian harus menunjukkan bahwa kalian memiliki sesuatu yang mirip atau serupa dengan ilmu orang-orang Guntur Geni” Kidang Alit berhenti sejenak lalu “Salah seorang dari kalian berdua harus memukul salah seorang anak muda di hadapan Ki Buyut, sehingga anak itu pingsan”

“Dengan racun yang melumpuhkan ?”

“Tidak perlu, asal saja ia pingsan, aku akan mengobatinya, aku akan mengatakan bahwa ilmumu lebih dari anak-anak Guntur Geni, dan aku akan mengobatinya dengan obat yang lebih baik dari yang pernah aku pergunakan untuk mengobati Kasdu, akulah yang membuatnya tetap lemah selama kira-kira sebulan”

Kidang Alit kemudian memberitahukan apa yang harus mereka lakukan seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang dari Guntur Geni.

“Kalian akan menjadi pusat perhatian Raden Kuda Rupaka, seperti saat Raden Kuda Rupaka memperhatikan orang-orang dari Guntur Geni, jika datang saatnya, Raden Kuda Rupaka memang harus dibunuh, kita harus menyelesaikan tugas kita”

“Semakin cepat semakin baik Raden”

“Ya, tetapi hadirnya Raden Kuda Rupaka merusak semua rencana kita, juga karena aku menginginkan kedua gadis itu”

“Dua orang gadis ?”

“Inten Prawesti dan Pinten, anak pelayan istana kecil itu”

Bramadara dan Sambi Timur, menarik nafas dalam-dalam, tetapi mereka tidak mencoba mencegahnya, karena itu sudah menjadi sifat dan wataknya Raden Waruji.

Untuk beberapa saat lamanya, mereka masih berbicara tenang rencana, jika rencana mereka itu berhasil, maka mereka akan berada dalam jarak yang pendek tanpa tanpa diketahui oleh Raden Kuda Rupaka. Mungkin Raden Kuda Rupaka akan menjadi lengah, atau tidak memperhitungkan, bahwa ketiga orang yang berada di Karangmaja itu pada suatu saat bekerja bersama untuk, membunuhnya.

Namun dalam pada itu, Kidang Alit kemudian bertanya “Kakang Sambi Timur, apakah pentingnya Raden Kuda Rupaka, maka kau harus datang khusus untuk memberitahukan bahwa ia sudah tidak di istanya lagi ?”

“Selama ini bagi beberapa orang di Demak, Raden Kuda Rupaka merupakan seorang anak muda yang menjadi buah bibir, ia memiliki ilmu yang tinggi, namun ia juga seorang yang baik dan rendah hati, ia menolong hampir setiap orang yang diketahuinya mendapat kesulitan”

“Tetapi apakah ia memerlukan datang ketempat yang jauh ?”

“Raden harus ingat, bahwa Raden Kuda Rupaka  adalah seorang bangsawan yang masih sangat dekat hubungannya dengan Pangeran Kuda Narpada, keduannya datang dari Majapahit saat Majapahit mengalami kemunduran”

“Bagi Demak, mereka adalah orang-orang baru”

“Ya, apalagi bagi Raden yang jarang sekali hadir ke kota Raja itu, meskipun dengan Raden Waruju masih ada gegayutan, tetapi tentu sudah agak jauh”

“Aku lebih suka bernama Kidang Alit, di sini aku dapat hidup diantara anak-anak muda Karangmaja tanpa jarak, jika aku menyebut diriku dengan nama dan kedudukan yang sebenarnya, aku akan menjadi jauh dari mereka”

“Terserahlah kepada Raden, namun dengan demikian Raden sudah mendapat gambaran serba sedikit tentang Raden Kuda Rupaka dan kedudukannya diantara para bangsawan, meskipun ia orang baru, namun pengaruhnya dikalangan anak-anak muda bangsawan, nampaknya sudah semakin berakar”

“Aku mengerti, tetapi pada suatu saat mereka akan kehilangan Raden Kuda Rupaka, yang datang kemudian adalah Raden Waruju dengan kekuatan dan wibawa yang baru setelah aku menyelesaikan tugasku disini” namun dahinya tiba-tiba saja berkerut “Tetapi apakah dengan demikian berarti Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti itu masih kadangku juga ?”

“Ya, tetapi seperti Raden Kuda Rupaka, hubungan itu sudah amat jauh, hampir setiap keluarga Adipati di seluruh negeri masih mempunyai gegayutan, meskipun sekedar bersangkut paut karena perkawinan”

Kidang Alit mengangguk-angguk, namun kemudian katanya “Persetan, aku harus mendapatkan semua yang aku inginkan di sini, Nah, sekarang pergilah, dan datanglah besok berkuda ke Karangmaja, seperti yang aku pesankan, datanglah ke rumah Ki Buyut dan hati-hatilah, semua harus berjalan seperti yang aku kehendaki”

“Baiklah Raden”

“Panggil aku Kidang Alit”

“Baiklah, tetapi kemana kami harus pergi sekarang ? apakah aku harus kembali lagi ke persembunyianku ?”

“Tidak perlu, tinggal sajalah di sini, dan datanglah besok ke Karangmaja”

Bab 9

Kidang Alitpun kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan kedua orang orang kawan-kawannya dengan pesan “Aku akan kembali kepondokku, ingat semua yang harus kau lakukan”

Kedua kawannya tidak menjawab, mereka memandang langkah Kidang Alit yang semakin lama menjadi semakin jauh, dan hilang didalam kegelapan malam.

Sambi Timur dan Bramadra masih termangu-mangu disamping perapian yang sudah hampir padam. Sejenak mereka merenungi bara api yang tertinggal diantara abu yang hitam. Namun kemudian terdengar Bramadara berkata “Semalam suntuk kita harus menunggu perapian ini”

“Kita dapat tidur saja disini, apa bedanya tidur ditempat lalu?”

“Dan kita akan diterkam harimau tanpa melawan?, sebaiknya kita tidur bergantian”

“Tidak ada harimau disini, yang ada hanyalah kucing-kucing hutan yang agak besar”

“Aku sudah berada ditempat ini lebih lama dari kau, disini ada harimau, sebenarnya harmau bukan sekedar seekor  blacan, bahkan disini ada harimau kumbang”

“Kau takut harimau kumbang?”

“Bukan takut, tetapi jika kita tidur, maka kita tidak akan sempat bangun”

“Baiklah, kita akan tidur bergantian”

Keduanyapun kemudian membagi saat pergantian lewat tengah malam, kapan yang seorang akan dibangunkan oleh yang berjaga-jaga terlebih dahulu.

Menjelang pagi hari, maka keduanyapun mempersiapkan diri, mereka bersepakat untuk tidak untuk tidak berbenah, bahkan mereka membuat pakaian mereka menjadi lusuh dan membuat diri mereka nampak sebagai orang-orang kasar, ikat kepala merekapun tidak lagi mereka atur sebaik sebaik-baiknya, nampaknya asal saja membelit kepala, beberapa lembar rambut mereka yang panjang, mereka biarkan mencuat keluar.

“Jika kau berbicara, kau harus membelalakkan matamau” berkata Sambi Timur sambil tersenyum.

“Sebenarnya aku segan berbuat seperti ini, Tetapi apaboleh buat, Raden Waruju memang senang berbuat aneh-aneh. Seperti dirinya sendiri yang menyamar seperti anak padesan kebanyakan dan bernama Kidang Alit”

“Tetapi penyamaran itu sangat bermanfaat baginya” desis Sambi Timur.

Bramadara tertawa, tetapi ia tidak menjawab lagi. Demikianlah keduanya dengan cara yang aneh, mendekati padukuhan Karangmaja seperti petunjuk Kidang Alit, dengan wajah yang garang dan sikap yang kasar dibuat-buat, mereka memasuki padukuhan itu.

Beberapa orang yang melihat kehadiran mereka menjadi ketakutan, mereka belum melupakan hilangnya tiga orang dari banjar, yang menurut pendengaran mereka, telah dibunuh oleh Raden Kuda Rupaka, tetapi seorang dari mereka sempat melarikan diri dan sudah barang tentu ia akan kembali dengan dendam yang membara di hati.

Kini, tiba-tiba saja hadir dua orang kasar di padukuhan mereka, yang tidak mustahil ada sangkut pautnya dengan orang-orang yang telah dibunuh itu.

Kedua orang berkuda itu sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang dengan tergesa-gesa masuk kedalam rumah masing-masing dan menutup pintu, yang tidak sempat, segera berlindung dibalik dinding atau pepohonan atau pepohonan yang rimbun.

Namun keduanya tidak menghirakan mereka, keduanya langsung menuju ke rumah Ki Buyut di Karangmaja.

Kedatangan kedua orang itu benar-benar telah mengejutkan Ki Buyut, belum lagi orang-orang yang mengubur kedau mayat orang-orang asing yang berada di banjar itu melupakan kengeriannya atas mayat-mayat yang penuh noda-noda darah itu, telah datangnya dua yang tidak mereka kenal dengan sikap yang kasar pula.

“He, siapakah Buyut di Karangmaja” Sambi Timur menggeram.

Ki Buyut melangkah mendekatinya sambil menjawab “ Aku Ki Sanak, aku adalah Buyut di Karangmaja”

Ki Sambi Timur membelalakkan matanya, dan berkata lantang “Aku akan berada di Padukuhan ini untuk waktu yang tidak tertentu”

“Ki Sanak” berkata Ki Buyut “marilah, silahkan duduk, barangkali kita dapat berbicara sebaik-baiknya”

“Aku tidak mempunyai waktu, beri aku tempat, beri aku makan dan beri aku semua kebutuhan yang aku inginkan”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, beberapa orang anak muda ragu-ragu untuk mendekatinya, mereka masih belum melupakan, apa yang pernah terjadi atas Kasdu.

Namun dengan demikian Sambi Timur dan Bramadara menjadi agak kebingungan, menurut pesan Kidang Alit, salah seorang dari mereka harus memukul salah seorang anak muda itu sehingga pingsan, tetapi tidak ada seorang anak mudapun yang mendekat.

“Cepat Ki Buyut” Bramadara berteriak, justru karena ia ingin membuat dirinya menjadi kasar, maka ia telah bertingkah laku dengan sikap yang berlebih-lebihan. Berteriak dan sekali-sekali mengumpat dengan kata-kata yang tidak dimengerti.

Ki Buyut menjadi bingung, namun ia tidak dapat berbuat lain, dari pada memenuhi tuntutan orang-orang itu.

“He !!, kenapa kau justru mematung..!!” bentak Sambi Timur.

“Ya…ya… Ki Sanak, kami dapat menempatkan Ki Sanak di Banjar padukuhan ini”

“Baik, aku akan berada di banjar padukuhan, aku ingin disediakan makan dan minum secukupnya, dan kebutuhan-kebutuhan yang aku minta, jika kalian tidak sanggup menyediakan, maka padukuhan ini akan aku jadikan karang abang, He…!!!  kalian mendengar…?”

“Ya.. ya.. Ki Sanak”

“Kalian  mendengar…!!?”  teriak Sambi Timur kepada anak-anak muda yang kebetulan berada di halaman. Ia mencari alas an, untuk dapat memenuhi pesan Kidang Alit, memukul salah soerang dari mereka.

Tetapi anak-anak muda itu menjadi ketakutan dan bergeser mundur.

“Gila..!” geram Bramadara, tiba-tiba saja ia meloncat turun dari kudanya dan memanggil seorang anak muda, yang bertubuh tinggi besar dan berdada bidang. “Kemari, kau kemari”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak “Siapa namamu He..!”

“Sambi, tuan”

“He..!!” tiba-tiba Bramadara terbelalak lebar sekali “Kau jangan menghina kami”

Anak muda itu menjadi bingung

“Sebut namamu sekali lagi”

“Sambi, Sambi Tuan” anak muda itu menjadi gemetar.

“He, kakang Sambi Timur, anak muda ini berani menyebut namamu, ia menyebut namanya dengan namamu”

“Mata Sambi Timur menjadi memerah, dicobanya untuk menunjukkan kemarahan yang meluap-luap, katanya “Anak gila..!, kau telah menghina aku”

Sambi Timurpun kemudian meloncat turun, ia tidak membuat alasan lain yang dapat dipergunakan memenuhi pesan Kidang Alit, adalah kebetulan sekali bahwa nama anak itu sama dengan namanya.

“Satu-satunya alasan” berkata Sambi Timur didalam hatinya, dan agaknya Bramadarapun memperhitungkan demikian pula.

Maka tiba-tiba saja Sambi Timur menyambar ikat kepala anak muda itu dan membantingnya ketanah “Kau berani menyebut namaku He..!, Kau harus tahu, siapa yang menyebut namaku, maka ia harus berurusan denganku”

“Tetapi namaku, namaku memang dengan demikian Tuan” anak itu menjadi semakin gemetar.

“Persetan..!!, jika demikian, maka kau berani menyebut namaku, karena itu, kita harus berperang tanding, di dunia ini, hanya ada satu nama Sambi, Sambi Timur”

Anak muda itu menjadi semakin ketakutan, katanya dengan suara terputus-putus “Tetapi namaku tidak memakai Timur”

“Itu tidak penting, cepat, bersiaplah, kita akan berperang tanding”

“Tidak, tidak” anak muda itu menjadi semakin ketakutan”

“Pengecut” tiba-tiba Sambi Timur membentak, tangannya terayun deras sekali mengenai wajah anak muda yang bernama Sambi itu, sehingga anak muda itupun terpelanting jatuh.

Semua mata terbelalak melihat peristiwa yang terjadi itu, tidak seorangpun dapat mencegahnya, apalagi ketika Sambi Timur kemudian berkata “Anak itu harus mengerti bahwa tidak ada orang lain bernama Sambi di dunia ini, sekarang ia tidak akan dapat menyebut namanya lagi”

“Tuan sudah membunuhnya?” bertanya Ki Buyut.

Sambil tertawa, dicobanya tertawa keras-keras, namun kadang-kadang tertawanya justru menjadi sumbang.

Katanya “Ia tidak mati, tetapi akan menjadi lumpuh, buta, bisu dan tuli”

“Ooo” Ki Buyut menebah dadanya, katanaya “Kasihan anak itu, ia anak baik tuan, apakah tuan tidak dapat menyuruhnya saja berganti nama?”

“Aku tidak perduli, tidak ada orang yang akan dapat mengobatinya, ia akan mengalaminya sampati tua”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, sekilas teringat olehnya dengan seorang anak muda yang bernama Kidang Alit, anak muda yang telah berhasil mengobati Kasdu sehingga kini anak muda itu sudah dapat dikatakan sembuh, meskipun belum pulih, apalagi di istana kecil itu ada seorang bangsawan muda bernama Kuda Rupaka yang juga sanggup pula mengobati seseorang yang mengalami peristiwa seperti itu.

Tetapi Ki Buyut sama sekali tidak menyebutkannya, bahkan kemudian ia berkata “Ki Sanak, aku minta maaf jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan bagi Ki Sanak, sekarang aku persilahkan Ki Sanak pergi ke banjar, di banjar Ki Sanak akan dapat tinggal dengan tenang tanpa gabgguan apapun juga”

Sambi Timur memandang Ki Buyut dengan tajamnya, lalu katanya “Baiklah, aku akan pergi ke banjar”

“Biarlah seseorang mengantarkan Ki Sanak”

“Aku sudah tahu dimana letak banjar itu, aku akan pergi ke banjar”

Sambi Timur dan Bramadara tidak menunggu lebih lama lagi, merekapun kemudian meloncat ke punggung kudanya dan segera meninggalkan halaman rumah Ki Buyut.

Demikian kedua orang itu hilang, maka regol halaman itu telah berdiri termangu-mangu seorang anak muda yang lain, Kidang Alit.

Semua matapun kemudian terpancang kepada Kidang Alit, perlahan-lahan anak muda itu melangkah maju, ketika matanya menyentuh tubuh Sambi yang berbaring diam, maka iapun dengan tergesa-gesa berlari mendekatinya, sambil berjongkok disisinya ia bertanya “Kenapa dengan Sambi?”

Ki Buyut mendekatinya dengan pandangan sedih, sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Agaknya padukuhan ini memang sedang ditimpa oleh malapetaka, aku tidak tahu, apakah kesalahan yang pernah kami perbuat disini, sehingga rasa-rasanya sebuah kutukan yang mengerikan kini sedang berlaku”

Kidang Alit meraba tubuh Sambi, dengan wajah tegang ia berkata “Luar biasa, suatu ilmu yang hampir tidak ada duanya dimuka bumi.”

“Ia mengalami nasib seperti Kasdu” desis Ki Buyut yang kemudian menceritakan apa yang telah terjadi atas Sambi”

“Gila” desis Kidang Alit “Apakah peprsamaan nama saja sudah cukup alas an baginya untuk menyiksa anak ini seumur hidupnya, Kasdu kini nampaknya sudah mulai dapat menggerakkan segenap tubuhnya, bahkan beberapa langkah ia sudah dapat berjalan, tiba-tiba kini malapetaka yang lebih besar telah menimpa Sambi”

“Lebih besar?” bertanya Ki Buyut.

“Ya, Sambi nampaknya lebih parah dari Kasdu”

“Jadi..?”

Kidang Alit menarok nafas dalam sekali, katanya “Bawalah kedalam, aku mencoba mengobatinya”

Anak-anak muda yang ada di halaman itupun  kemudian mengangkat tubuh yang seolah-olah menjadi kejang itu masuk kedalam dan dibaringkannya disebelah Kasdu yang sudah dapat bangkit berdiri meskipun masih tertatih-tatih dan harus mencari pegangan,

Bahkan dengan dilayani oleh seseorang, ia sudah dapat berjalan beberapa langkah, sedangkan penglihatan dan pendengarannya seolah-olah telah pulih sama sekali.

Untuk beberapa saat lamanya, Kidang Alit meraba segenap tubuh Sambi, setiap kali ia seolah-olah menemukan sesuatu dibawah kulit anak muda yang pingsan itu.

Baru beberapa saat kemudian, Kidang Alit mengambil semacam serbuk dari dalam bumbung kecil yang disimpan dikantong ikat pinggangnya, dengan beberapa tetes air, serbuk itu dicairkan, dan dituangkannya kedalam mulut Sambi”

Setelah ditunggu beberapa lama kemudian, maka Sambipun mulai sadar, matanya terbuka dan bibirnyapun mulai bergerak-gerak.

“Air” Desisnya

Kidang Alit tersenyum, demikian juga Ki Buyut yang menungguinya dengan tegang.

“Aku berhasil Ki Buyut, ia dapat membuka matanya dan melihat kita yang berada di sekitarnya, mulutnya dapat bergerak dan menyebut sesuatu yang di kehendakinya, mudah-mudahan ia dapat segera pulih seperti Kasdu meskipun akan membutuhkan waktu yang agak lama.

“Lebih lama..?” bertanya Ki Buyut.

“Ya…, orang-orang yang dating kemudian ini memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari orang-orang yang yang telah dating lebih dahulu, orang-orang yang telah dibunuh di istana kecil itu.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, lalu tiba-tiba saja ia bertanya “Kidang Alit, apakah kau tahu serba sedikit tentang peristiwa di halaman istana kecil itu?”

“Maksud Ki Buyut?:

“Apakah kau ikut campur didalam pertempuran yang telah terjadi?”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tertawa “Janganlah dirisaukan, aku tidak ikut campur sama sekali, aku tidak tahu menahu”

Ki Buyut tidak mendesaknya lagi, meskipun demikian, ia masih bertanya “Kidang Alit, apakah kau berhubungan  dengan Raden Kuda Rupaka?”

“Ooo…” Kidang Alit mengangkat keningnya “Aku tidak ada hubungan dengan bangsawan-bangsawan yang hanya dapat menyombongkan dirinya, yang menganggap kita orang-orang kecil, ini hanyalah sekedar sasaran pelepasan kekuasaannya, Ki Buyut aku memang tidak ingin berhubungan dengan bangsawan-bangsawan itu”

“Tetapi mereka bukan orang-orang yang sombong”

“Ki Buyut, sejak aku kanak-kanak, aku tidak dibiasakan untuk mengangguk hormat dalam sekali, menundukkan kepala jika berbicara, atau dengan tata cara yang menjemukan sekali”

“Tidak, tidak Kidang Alit, aku tidak pernah tidak pernah mempergunakan tata cara yang demikian terhadap Raden Rupaka, bahkan terhadap Pangeran Kuda Narpadapun tidak, atas kehendak Pangeran Kuda Narpada sendiri”

“Tetapi kita masih harus memanggilnya Raden, dan dalam terhadap perempuan yang ada di istana  itu, kita harus harus menyebutnya Gusti dan puteri. Ah, sudahlah Ki Buyut, biarlah aku hidup dengan caraku dan Raden Kuda Rupaka hidup dengan caranya”

“Baiklah Kidang Alit, tetapi sebagai orang tua, aku lebih senang melihat anak-anak muda dapat hidup rukun, apalagi anak-anak muda seperti kau dan Raden Kuda Rupaka, yang memiliki kelebihan dari sesama” Ki Buyut berhenti sejenak, lalu “Jika kalian dapat hidup rukun, maka kami sepadukuhan ini, akan dapat menggantungkan nasih kami kepada kalian, apalagi jika setiap kali padukuhan ini didatangi oleh orang-orang yang mengerikan seperti yang berada di banjar itu”

“Mereka tidak akan berbuat apa-apa, seperti tiga orang yang terdahulu Ki Buyut, persoalan mereka tentu ada hubungannya dengan kematian kedua orang yang baru saja dikuburkan itu, meskipun agaknya mereka bukan saudara seperguruan”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, namun kemudian “Darimana kau tahu bahwa mereka bukannya seperguruan dengan orang-orang yang telah terbunuh itu?”

“Aku dapat melihat akibat dari tangan mereka, memang ada persamaan, tetapi ada juga bedanya”

Ki Buyut tidak mendesaknya lagi, karena ia merasa behwa ia tidak akan dapat mengerti, apapun yang dikatakan Kidang Alit, namun yang ditanyakan justru “Kidang Alit, jika orang itu tidak dapat berbuat apa-apa, kenapa keduanya terbunuh justru di halaman istana itu”

“Maksudku, mereka tidak berbuat apa-apa atas kita disini, persoalan mereka dengan istana itu, sama sekali bukan persoalan kita Ki Buyut”

“Ki Buyut mengangguk-angguk, ia mengerutkan keningnya, ketika ia melihat seorang yang melayani Sambi yang merasa sangat haus, setitik demi setitik air diteteskan dimulutnya, dengan susah payah ia mencoba menelan air itu.

Sambi menarik nafas dalam-dalam, iapun kemudian menggeleng lemah, “Cukup” desisnya lambat sekali.

“Ki Buyut”  berkata Kidang Alit kemudian “Aku minta diri, biarlah anak-anak menjaga Sambi sebak-baiknya, jika ada orang lain yang dating, biarlah keduanya mash tetap berpura-pura lumpuh, bisu dan tuli”

“Tetapi orang-orang yang menyakiti Kasdu sudah tidak ada lagi?”

“Siapa tahu, bahwa aku keliru, jika kedua orang itu adalah kawan-kawan mereka yang sudah terbunuh, maka merekapun tentu akan membunuhnya pula”

Ki Buyut mengangguk-angguk, Iapun kemudian berpesan seperti yang dikatakan olej Kidang Alit itu untuk keselamatan mereka sendiri”

“Kecuali terhadap Raden Kuda Rupaka” berkata Ki Buyut” Ia tidak dapat dibohongi, ia mengerti semuanya tentang Kasdu yang barangkali juga Sambi”

Kidang Alit tersenyum, katanya “Biar sajalah, aku kira mereka tidak akan membahayakan Kasdu, bagaimana juga aku kira bangsawan-bangsawan itu masih juga mengenal peri-kemanusiaan”

Ki Buyut mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab “Sudahlah Ki Buyut, aku akan pergi  ke sungai, sudah dua hari aku tidak mencuci pakaian”

Kidang Alitpun kemudian meninggalkan rumah Ki Buyut, dimuka regol langkahnya terhenti sejenak, namun kemudian iapun berkata kepada diri sendiri “Persetan jika Kuda Rupaka mengetahui permainan ini, aku tidak akan memberi kesempatann kepadanya lebih lama lagi, tetapi semuanya memang tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa agar justru tidak gagal karenanya”

Iapun kemudian melanjutkan langkahnya, kembali ke pondoknya, mengambil beberapa helai pakaiannya, dan langsung pergi ke sungai.

Kidang Alit mempunyai kesenangan mencuci pakaiannya di sungai disaat-saat gadis-gadis Karangmaja mencuci pakaian pula.

Namun gadis-gadis itu sama sekali tidak merasa terganggu oleh kehadirannya, meskipun tidak biasa laki-laki mencuci pakaian bersama dengan mereka. Biasanya laki-laki lebih suka mandi dan mencuci di gerojogan di bawah bendungan, di siang atau di sore hari setelah mereka pulang ke sawah.

Bahkan kehadiran Kidang Alit dapat memberikan kesegaran dan kegairahan pada gadis-gadis itu. Mereka tidak segan-segannya bergurau bahkan kadang-kadang berkejar-kejaran bersama Kidang Alit, sehingga dengan demikian, mereka sering terlambat pulang.

Tidak banyak yang mengetahui perbuatan Kidang Alit itu, gadis-gadis Karangmaja tidak pernah memperbincangkan dengan orang tua mereka tentang tinglah laku anak muda itu, tetapi mereka setiap saat memperbincangkannya dengan kawan-kawan mereka. Bahkan siapa yang paling dekat dengan anak muda itu, merasa sangat bangga, seolaj-olah ia adalah gadis yang paling terkemuka di Karangmaja.

Meskipun dua orang dari mereka telah kehilangan pengakangan diri, namun seolah-olah hal itu tidak pernah diingatnya lagi oleh kawan-kawannya, apalagi keduanya kemudian telah kawin seperti kebanyakan gadis-gadis dewasa dengan laki-laki yang menganggap mereka sebagai isteri yang baik tanpa cela.

Tetapi bagaimanapun juga, tingkah laku Kidang Alit itu telah membuat Ki Buyut menjadi sangat berprihatin. Tidak kurang dari kehadiran dua orang yang tinggal di banjar, seolah-olah menggantikan  tiga orang yang sebelumnya berada di banjar itu pula, dan yang dua diantaranya mereka telah terbunuh sedang yang seorang berhasil melarikan diri.

Namun keprihatinan itu harus ditekannya didalam dadanya, yang semakin lama menjadi semakin penuh dengan persoalan-persoalan yang dating berurutan.

“Kapan ada cahaya terang pada padukuhan kecil ini” Setiap kali Ki Buyut berdesah, jika ia mulai berbaring di malam hari, terasa betapa kecut hatinya menghadapi masa depan padukuhannya.

Memang sekali lagi timbul dugannya, bahwa istana kecil itulah yang agaknya telah mengundang kesulitan bagi  padukuhan Karangmaja, tetapi ia mengenang kebaikan hati Pangeran Kuda Narpada dan segala macam jasa yang telah diberikan maka, ia selalu mencoba mengusir dugaan-dugaan semacam itu.

Tetapi sebenarnyalah bahwa persoalan memang berkisar pada istana kecil yang terpencil itu, kegagalan-kegagalan orang dari perguruan Guntur Geni, bukan mengurangi kekalutan bagi Karangmaja. Karena salah seorang dari mereka yang tidak terbunuh mati, berhasil menghubungi kawan-kawannya dari perguruan Guntur Geni dan menceritakan apa yang telah terjadi di istana kecil itu.

“Gila” desis salah seorang yang bertubuh jangkung, berambut putih dan berjanggut panjang dan berwarna putih pula “Jadi di Karangmaja telah hadir murid-murid dari perguruan Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning?”

Gagak Wereng yang hampir kehabisan darah selama di perjalanan, hampir tidak mampu lagi bergerak, hanya karena ketahanan tubuhnya yang luar biasa sajalah, maka ia masih dapat berbicara beberapa kalimat, untuk menceritakan segala peristiwa pahit yang dialaminya. Ketika ia merasa bahwa semuanya sudah diucapkannya, betapapun sulitnya untuk menggerakkan bibir, tidak dapat lagi mengucapkan kata-kata.

Gagak Wereng masih sadar, bahwa oleh dua orang saudara seperguruannya, ia diangkat mendaki sebuah bukit kecil di ujung Pegunungan Sewu, beberapa tonggak lagi, terhampar ngarai yang luas, yang sebagian masih diselimuti oleh hutan yanga sangat lebat.

Orang berjanggut dan berambut putih tidak memaksanya lagi untuk berbicara, tetapi ia memberikan beberapa tetes cairan, ramuan dari air dan serbuk obat untuk menenangkan dan memberi kekuatan kepada Gagak Wereng, tanpa obat ini maka Gagak Wereng tentu sudah jatuh pingsan, dan bahkan mungkin  ia akan kehilangan kemungkinan untuk  dapat hidup lebih lama lagi.

Namun agaknya Gagak Wereng memang belum saatnya mati, perlahan-lahan tubuhnya merasa menjadi segar, sehingga ia mulai dapat menggerakkan seluruh tubuhnya dan bibirnya mulai dapat menyebut beberapa kata.

Ketika ia merasa sudah menjadi semakin kuat, maka iapun mulai mencoba untuk duduk bersandar pada sebongkah batu besar di pinggir jalan setapak.

“Wereng” salah seorang temannya mulai bertanya lagi ketika ia melihat keadaan Gagak Wereng samakin baik “Jadi jelasnya, kau dan kedua saudara seperguruanmu itu telah gagal”

“Ya, ya Kiai, kami sudah gagal, gagal sama sekali, aku tidk melihat akhir dari pertempuran di halaman itu, namun menurut perhitunganku saudara-saudaraku tidak ada harapan lagi untuk melepaskan diri dari tangan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga”

“Raden Kuda Rupaka” desis orang berjanggut dan berambut putih itu. “Aku mendengar namanya belum lama berselang, ia adalah seorang kesatria dari Majapahit yang memiliki beberapa kelebihan, namanya cepat dikenal di Demak oleh segala golongan, karena ia mempunyai jiwa pengabdian yang tinggi, ia banyak menolong orang-orang yang memang memerlukan pertolongannya, ia tidak segan-segan berbuat apa saja untuk kepentingan orang banyak yang lemah dan tersinggung oleh rasa keadilannya”

“Agaknya benar orang itu” desis Gagak Wereng dengan suara yang lemah “Ia adalah seorang bangsawan yang memang pilih tanding”

“Tetapi disamping Kuda Rupaka, kau harus memperhatikan pula orang yang mneyebut dirinya dari perguruan Kumbang Kuning” sahut orang yang berjanggut dan berambut putih itu. “Perguruan Kuning adalah perguruan yang pernah menggetarkan tanah ini”

Gagak Wereng mengangguk-angguk, namun kemudian ia berdesis “Tetapi kenapa mereka itu kini berkumpul di Karangmaja?” bukankah itu berarti bahwa rahasia yang tersimpan di dalamnya telah banyak diketahui oleh beberapa pihak?”

“Mungkin demikian, tetapi yang menggelisahkan kita adalah Kuda Rupaka, ia adalah keluarga Raden Kuda Narpada, sehingga ia merupakan pelindung yang paling baik” orang yang berjanggut putih itu menggeram “Kenapa Kuda Rupaka itu hadir juga di tempat yang demikian jauhnya?”

“Kita juga dating dari jauh, kini kiai berada disini beberapa lamanya, dan meninggalkan padepokan juga karena rahasia yang tersimpan di istana itu” Sahut Gagak Wereng, “Tentu Kuda Rupaka mengetahui juga rahasia itu, dan merasa wajib untuk melindunginya”

“apakah bukan karena Kuda Rupaka sendiri mempunyai pamrih seperti kita dan murid-murid dari perguruan Kumbang Kuning itu?”

“Kita tidak tahu dengan pasti, tetapi yang jelas, bahwa Kuda Rupaka merupakan penghalang yang paling berat, kita dapat mengesampingkan yang lain dengan kekerasan atau dengan diam-diam mendahului memasuki istana itu, tetapi Raden Kuda Rupaka ada di istana itu”

Orang berjanggut itu menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian “Baiklah Wereng, sementara kita akan mengawasi saja jalan menuju ke istana kecil itu, bukan hanya kita yang mengalami kesulitan memasuki istana itu, tetapi juga murid-murid dari Kumbang Kuning akan menghadapi kekuatan yang mungkin tidak tertembus “ Orang itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi Cengkir Pitu adalah perguruan yang tidak banyak berhubungan dengan para bangsawan di Majapahit, adalah agak aneh jika kau mengatakan bahwa Kuda Rupaka mempunyai ilmu dari perguruan Cengkit Pitu”

“Bukan saja ilmu dari perguruan Cengkir Pitu, tetapi menurut pengakuan mereka, Raden Kuda Rupaka mempunyai batu akik Jumerut Sisik Waja, dan kawannya yang bernama Panji Sura Wilaga mempunya akik Naga Keling”

Orang berjanggut dan berambut putih itu berkata “Kedua akik itu memang menunjukkan cirri dari perguruan Cengkir Pitu, hanya orang-orang terpercaya saja dari perguruan itu yang dapat benda-benda yang mendapat benda-benda yang memiliki pengaruh atas orang yang memakainya”

“Dan selebihnya Kiai, orang yang mengaku memiliki cula Kumbang Kuning bermata berlian itu mengetahui dengan pasti bahwa Kiai Sekar Pucang yang sekarang ini sama sekali bukan Kiai Sekar Pucang pendiri perguruan Guntur Geni”

“Gila, tetapi itu dapat dimengerti, menurut gelar lahirian sebagai seorang manusia tidak akan dapat hidup sampai ratusan tahun”

“Gagak Wereng termangu-mangu sejenak, Namun iapun bertanya denga ragu-ragu, “Kiai, sebenarnyalah bagiku murid dari perguruan Guntur Geni sendiri, merasa selalu dihadapkan pada sebuah teka-teki, kami tidak pernah dapat mengatakan dengan pasti apakah Kiai Sekar Pucang itu masih ada atau Guntur Gen mempunyai guru yang nunggak semi bernama Sekar Pucang pula”

“Gila” desis orang yang dipanggil kiai itu “seharusnya kau tidak bertanya demikian, kiai Sekar Pucang adalah orang yang tidak berhubungan dengan waktu, ia telah berhasil melepaskan dari peredaran masa, sehingga ia tidak terikat lagi geseran hari, bulan dan tahun.

“Maksud Kiai”

“Kau memang dungu, Kiai Sekar Pucang tidak akan pernah mengalami masa akhir dari hidupnya karena umur, berapa ribu tahun sekalipun  tidak akan merenggut nyawanya, ia akan hidup sepanjanga jaman, seandainya ia hanya berhadapan dengan tahun-tahun dan bahkan abad”

“Aku tidak mengerti Kiai”

“Wereng, aku adalah murid yang terdekat saat ini, aku tidak dapat mengatakan siapakah muridnya yang terdekat seratus tahun yang lalu, karena umurku belum seratus, karena itulah maka, aku adalah orang yang paling banyak mengetahui mengenai dirinya, bukankah aku sudah pernah, dan berkali-kali memberitahukan kepadamu bahwa Kiai Sekar Pucang harus mengurung diri dalam tempat terasing dan di rahasiakan”

“Ya, ya Kiai, namun karena itulah, maka timbullah pertanyaan di hati ketika aku mendengar kata-kata orang yang menyebut dirinya murid dari perguruan Kumbang Kuning itu”

“Kau sudah terpengaruh olehnya, memang ajar Sokaniti tidak mampu melepaskan dirinya daro sentuhan waktu, sehingga pada umur delapan puluh tahun lebih sedikit, ia sudah meninggal kerena sakit, He… Gagak Wereng, ternyata betapa tinggi ilmu Ajar Sokaniti, namun ia harus mengalah melawan umurnya, dan hal ini tidak akan terjadi atas Kiai Sekar Pucang.”

“Tetapi kenapa justru Kiai Sekar Pucang harus berada di tempat yang tertutup dan rahasia?”

Bab 10

“Gagak Wereng, setiap orang memiliki kelemahannya masing-masing, karena kau murid Guntur Geni yang sedang dicengkam oleh keragu-raguan, maka kau boleh mengerti serba sedikit, juga sebagai imbalan kesetiaanmu, meskipun hampir saja orang dari Kumbang Kuning itu merenggut nyawamu” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu “Dengarlah,  Kiai Sekar Pucang bukannya orang yang tidak dapat mati, ia hanya dapat membebaskan diri dari perjalanan waktu, karena itu agar ia tidak terbunuh karena suatu yang terjadi pada tubuhnya, maka ia selalu mengasingkan diri, jelasnya Kiai Sekar Pucang belum berhasil memecahkan ilmu kekebalan yang sempurna, karena itu, maka bagaimanapun juga, masih ada kemungkinan untuk membunuhnya. Itulah sebabnya ia harus mengasingkan dirinya, waktunya sepenuhnya dipergunakannya antuk memecahkan ilmu kebal dengan sempurna.

“Sudah berapa tahun Kiai Sekar Pucang itu mengasingkan diri Kiai?”

“Aku tidak ingat lagi waktu itu aku berguru pertama kali, aku masih sempat mendapat tuntunan langsung dari beliau, kemudian, perlahan-lahan ia membiarkan aku menyempurnakan ilmuku sampai pada satu tingkatan, bahwa aku berhak untuk menggantikannya, memberikan ilmu kepada adik-adik seperguruanku, kepadamu, kepada yang lain-lain, murid-murid Kiai Sekar Pucang yang belum pernah melihat wajah gurunya” Orang itu termenung sejenak, lalu “Namun pada suatu saat, jika ilmu itu sudah dipecahkannya, kita semua akan menjadi orang-orang yang kebal, perguruan kita tentu akan menguasai seluruh tanah Majapahit yang telah jatuh itu, bahkan dengan kekuatan yang tidak terkalahkan kita akan bergerak terus keujung bumi”

Gagak Wereng mengangguk-angguk, meskipun masih ada berbagai keragu-raguan didalam hatinya, namun ia tidak bertanya lagi, Ia menganggap bahwa untuk sementara keterangan itulah yang paling naik baginya, dengan demikian ia masih mempunyai kiblat arah berguru, jika ia sudah kehilangan kepercayaan tentang Kiai Sekar Pucang yang belum pernah dilihatnya itu, maka ia akan kehilangan ikatan dan merasa dirinya terlepas dari sarangnya Perguruan Guntur Geni.

“Nah, kau beristirahatlah baik-baik, kita harus segera kembali ke Karangmaja, Rahasia Istana itu memang sudah diketahui oleh perguruan Kumbang Kuning, dan mungkin juga Cengkir Pitu, sehingga kedatangan Kuda Rupaka memang harus dicurigai”

“Apakah aku harus ikut kembali?”

“Kau sudah banyak mengetahui tentang Karangmaja, meskipun tubuhmu belum pulih kembali, kau harus ikut, jika kita menemui kesulitan diperjalanan, kau tidak usah ikut campur, kau akan dilindungi oleh saudara seperguruanmu”

“Baiklah Kiai, tetapi kapan kita akan berangkat ke Karangmaja?”

“Segera, yang penting adalah pengawasan itu terlebih dahulu, kita tidak langsung berada di padukuhan itu sendiri, kita akan berada beberapa ratus tonggak dari istana itu, diatas bukit kecil yang banyak terdapat di sekitar Karangmaja, tentu tanpa diketahui baik oleh Kuda Rupaka ataupun oleh orang-orang dari Kunmbang Kuning”

“Kita akan tinggal di bukit itu?”

“Kita melihat perkembangan keadaan”

Gagak Wereng tidak bertanya lagi, rasa-rasanya malas sekali untuk kembali lagi ke Karangmaja, di padukuhan itu ternyata terdapat beberapa pihak yang akan saling berbenturan”

Namun Gagak Wereng tidak akan dapat ingkar, orang Orang berjanggut dan berambut putih yang bernama Kiai Paran Sanggit itu adalah wakil  dari gurunya yang belum pernah dilihatnya.

Karena itu, maka iapun mempersiapkan dirinya pula, untuk kembali ke daerah yang nampaknya sedang menjadi pusat perhatian beberapa pihak dengan maksud dan tujuan yang sama.

“Gagak Wereng, jika orang dari perguruan Kumbang Kuning berbenturan lebih dahulu dengan orang-orang dari Cengkir Pitu, maka keduanya akan menjadi lemah, kita akan datang kemudian membinasakan keduanya sama sekali, agaknya yang telah terjadi adalah suatu keasalahan, bahwa kitalah yang telah berbenturan lebih dahulu, sehingga orang Kumbang Kuning itu ingin memanfaatkan keadaan, meskipun pada mulanya, ia membantu orang-orang Cengkir Pitu”

“Agaknya memang demikian Kiai, tetapi saat itu, kami tidak mengetahui bahwa ada orang-orang dari Kumbang Kuning yang hadir di padukuhan Karangmaja dan kamipun tidak tahu bahwa kedua bangsawan itu adalah murid-murid dari Cengkir Pitu”

“Baiklah, kita harus memanfaatkan pengalaman itu, dan kita akan datang tidak hanya dengan tiga orang, tetapi enam orang seluruhnya yang berada disini harus mendekati Karangmaja, kita akan bergerak di malam  hari dan memilih tempat yang jarang sekali didatangi oleh gembala-gembala dari Karangmaja dan sekitarnya. Semua bekal makanan akan kita bawa”

“Baiklah Kiai, mudah-mudahan  tubuhkupun segera pulih, sehingga aku tidak hanya sekedar beban saja, tetapi setidak-tidaknya aku akan dapat melindungi diriku sendiri”

Ternyata orang-orang dari Perguruan Guntur Geni yang dipimpin langsung oleh Kiai Parang Sanggit itu tidak menyia-nyiakan waktu, yang mereka lakukan adalah tugas yang berat dan besar, karena itu, maka semua harus dilakukan dengan taruhan yang paling besar, yaitu kehadiran Kiai Paran Sanggit, yang merupakan murid terpercaya dari perguruan Guntur Geni, sedang pimpinan tertinggi yang mereka sebut dengan Kiai Sekar Pucang, sama sekali tidak pernah menampakkan diri, bahkan juga kepada murid-murid yang terpercaya.

Selagi orang-orang dari Guntur Geni mulai dengan persiapan perjalanannya menuju kesebelah bukit di dekat istana kecil di luar padukuhan Karangmaja itu, maka jauh dari daerah pegunungan seribu, seorang pertapa sedang duduk menghadapi satu-satunya muridnya, seorang pertapa yang cacat kaki dan tangannya, sehingga secara badaniah, ia mengalami banyak kesulitan, untuk bergerak ia harus berjalan dengan tongkat, setapak demi setapak, tangan kirinya mengalami cidera, dan hampir tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Namun demikian, dari wajahnya masih tetap memancar cahaya kebesaran jiwa dan kepribadiannya, sepasang matanya yang tajam menyimpan pertanda, bahwa banyak ilmu yang dikuasinya, ilmu kanuragan, kejiwaan bahkan ilmu kesusteraan.

Namun karena cacat badannya, ia tidak lagi mampu berbuat banyak dalam hal kanuragan, itulah sebabnya di tempat terpencil, di ujung jurang di lereng gunung lereng gunung Merbabu.

Dihadapannya, seorang anak muda duduk bersila sambil menundukkan kepalanya, menunggu perintah apa yang harus dilakukan.

Namun agaknya sikap gurunya kali agak berbeda dari hari-hari sebelumnya, namun kesempatan bagi muridnya untuk mengenal lebih dekat, behkan sekali-kali pertapa yang cacat itu masih juga sempat bergurau, tidak saja dengan muridnya, tetapi juga dengan orang tua muridnya itu.

Tetapi kali ini gurunya nampak bersungguh-sungguh, sehingga karena itu, timbullah perasaan aneh dihatinya, sehingga dadanya menjadi berdebar-debar.

“Panos Suka” panggil pertapa itu.

Anak muda yang duduk di hadapannya mengangkat wajahnya perlahan-lahan terdengar suaranya ragu “Ya guru”

“Dimanakah ayahmu?, beberapa hari ini ia tidak berkunjung kemari?”

“Agaknya ayah berada di sawah guru, hujan di lereng gunung membuat arus air menjadi deras, ayah harus menjaga agar air itu tidak merusak batang padi yang baru ditanam”

Gurunya mengangguk-angguk, lalu katanya “Panon, jika ayahmu tidak berkeberatan, aku akan menyerahkan satu tugas yang berat bagimu, karena itu aku ingin berbicara dengan ayahmu”

Panon menjadi semakin heran, dengan bimbang ia bertanya “Guru, bukankah selama ini ayah menyerahkan segala-galanya kepada guru?, akupun merasa berbahagia jika guru telah mempercayakan satu tugas bagiku, aku rasa ayahpun demikian juga”

Tetapi gurunya menggeleng, katanya “Tetapi tugasmu kali ini akan sangat berat, karena itu aku harus berbicara dahulu dengan ayahmu, kau adalah anak laki satu-satunya, tentu kau merupakan harapan bagi masa depannya”

Panon bertambah heran, tetapi karena gurunya yang bersungguh-sungguh, ia tidak berani bertanya lagi.

“Baiklah guru, aku akan pergi sejenak memanggil ayah”

“Tidak terlampau tergesa-gesa, jika pekerjaan di sawah belum selesai, biarlah ia menyelesaikannya, nanti jika ayahmu sudah selesai dan beristirahat barang sejenak, biarlah ia datang kemari”

Panon mengangguk dalam-dalam, lalu iapun bergeser sambil berkata “Baiklah guru, aku akan menyampaikannya”

Perlahan-lahan Panon meninggalkan gubug terpencil di luar padukuhan, gubug yang dibuat oleh ayah Panon di pinggir lereng yang curam, tetapi tempat itulah yang telah dibangun oleh pertapa itu untuk tinggal, ia dapat hidup menyepi, tetapi tidak terputus hubungannya sama sekali dengan kehidupan yang wajar, meskipun ia tidak dapat hadir dalam kehidupan yang demikian karena cacatnya”

Sepeninggal Panon, pertapa itu merenung sejenak, dipandangnya pepohonan perdu di luar gubugnya, warna hijau yang segar mengkilap disentuh okeh sinar matahari, dikejauhan terdengar suara burung berkicau bersahut-sahutan, sambil berloncatan didahan pepohonan.

Pertapa itu menarik nafas dalam-dalam, sekilas terkenang masa lampaunya yang panjang dan penuh dengan gejolak kehidupan, sehingga pada suatu saat ia telah terlempar ketempatnya yang sekarang, benar-benar terlempar seperti arti katanya, ia terlempar dari atas tebing dan berguling jatuh ke dalam jurang.

Pertapa itu mengerutkan keningnya ketika kenangannya membentur pada masa-masa ia tidak sadarkan diri, bahkan serasa bahwa ia memang sudah mati.

Tetapi tiba-tiba pertapa itu terkejut ketika ia mendengar langkah kecil mendekati gubugnya, sejenak kemudian muncullah seorang gadis kecil di depan pintu, gadis kecil yang sudah di kenalnya dengan baik.

Pertapa itu berdesah, katanya “Kau memang nakal, kau tentu kemari seoroang diri”

Gadis kecil itu tersenyum, selangkah ia maju mendekati pertapa itu sambil bertanya “Apakah Kakang Panon ada disini?”

“Kemarilah” desis pertapa itu.

Gadis itu memang sudah biasa datang ke gubug itu, karena itu maka iapun tidak segan lagi terhadap pertapa tua dan cacat itu, dengan lincahnya ia berlari dan duduk diatas pangkuan pertapa tua itu yang menyeringai sejenak, menahan sakit kakinya, tetapi iapun kemudian tersenyum,

“Kau nakal sekali, kenapa kau datang lagi kemari seorang diri?”

“Aku mencari kakang Panon, bukankah ia selalu berada disini?”

“Kakangmu baru saja pulang, kau akan dicari oleh ibumu”

“Ibu ke pasar”

“Ayahmu?”

“Ayah ke sawah”

“Mbakyumu?

“Ia ikut ibu ke pasar, aku sendiri di rumah, karena itu aku aku mencari kakang Panon disini”

“Kau nakal sekali, kalau begitu, kau tentu sedang menjaga rumah, kenapa rumahmu kau tinggalkan?”

“Aku tidak mau di rumah sendiri kek”

“Nuri” desis pertapa itu.

“Kek, namaku bukan Nuri, namaku Wuyung”

Pertapa itu tertawa, katanya “Namamu memang Wuyung, tetapi mulutmu ini selalu berkicau seperti burung Nuri, aku lebih senang memanggilmu Nuri”

Gadis kecil itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Nuri” pertapa itu mengulang “Atau lengkapnya Nuri Wuyung atau Wuyung Nuri, kenapa rumahmu kau tinggalkan?, nanti rumahmu itu dibawa oleh seekor siput, kau pernah melihat siput?”

“Ah, bohong, siput hanya sekecil ibu jari”

“Dipuncak Gunung Merbabu itu ada seekor siput raksasa, siput yang sering mengambil rumah yang ditinggalkan penghuninya”

Gadis kecil itu mengerutkan keningnya, sejenak ia berpikir, namun tiba-tiba ia berkata ragu-ragu “Tetapi, tetapi seekor siput sudah membawa rumahnya sendiri kemana-mana, ia tidak memerlukan rumah lagi”

Pertapa itu tertawa, sambil mengusap rambut gadis kecil itu ia berkata “Kau memang pandai, siput memang sudah membawa rumahnya sendiri”

“Karena itu rumahku tidak akan hilang”

“Tetapi jalan menuju kemari dari rumahmu adalah berbahaya sekali, bukankah kau berjalan di sepanjang pematang, kemudian menuruni tunggul dan tebing yang curam?”

“Aku dapat meluncur sambil duduk”

“Nah, bagaimana jika kainmu tersangkut duri, Ooo, bukan kainmu saja, tetapi kulit kakimu?”

“Ternyata tidak apa-apa”

“Kalau tiba-tiba muncul seekor ular bandotan yang berwarna hitam kelam dari dalam semak-semak bagaimana?”

“Kakang Panon juga sering menakut-nakuti aku dengan ular bandotan, tetapi aku tidak pernah diganggu, sekali aku pernah melihatnya meyelusur kedalam semak, dan aku juga pernah melihat weling”

Pertapa itu menarik nafas, katanya “Kau memang nakal, kau harus tinggal disini sampai kakakmu atau ayahmu datang kemari”

“Aku berani pulang sendiri kok”

“Kau tinggal disini saja anak nakal, He Nuri, apakah kau dapat berdendang?”

“Ah, Aku pulang aja ah”

“Tunggulah dulu, kawani aku disini sebentar”

“Aku mau tinggal disini, tetapi tangkaplah burung podang buatku, aku mencari kakang Panon, karena kakang Panon sanggup untuk menangkap podang yang sedang bersiul di ujung batang jambe di pinggir padukuhan”

“Ah, kau ini aneh-aneh saja”

“Jika kakek tidak mau, aku akan pulang”

“Bagaimana jika tidak ada burung podang disini?”

“Burung jalak atau kutilang atau menco juga jadi”

“Baiklah Nuri, tetapi janji, jangan dibunuh dan jangan diikat, setelah kau puas bermain-main, maka burung itu harus kau lepaskan lagi”

“Aku akan memeliharanya kek”

“Tidak perlu, biarlah burung itu terbang bebas di udara, kau dapat mendengarkan mereka besiul di setiap pagi dengan riang”

“Di dalam sangkar burung juga dapat bersiul”

“Dengarlah Nuri, tetapi lagunya berbeda, jika ia bebas di udara, maka lagunya tentu lagu riang, tetapi jika ia bersiul di dalam sangkar, maka lagunya adalah lagu duka”

Gadis kecil itu merenung sejenak, namun iapun kemudian meloncat berdiri sambil,berkata “Baiklah kakek, aku akan bermain-main dengan burung itu disini saja, nanti, burung itu akan aku lepaskan kembali”

Pertapa itu mengangguk-angguk katanya “Bagus, tetapi kau janji bukan?”

“Aku janji, sekarang kakek menangkap seekor burung buatku”

Pertapa itupun kemudian berdiri tertatih-tatih, ia berjalan dengan tongkatnya dari gubugnya yang terpencil.

Gadis itu memandangnya dengan sorot mata yang keheran-heranan, agaknya pertapa itu memakluminya kerena itu sambil tersenyum ia berkata “Mudah-mudahan kakek dapat menangkap seekor burung yang dapat terbang seperti angin”

“Bagaimana kakek dapat menangkapnya?” bertanya gadis itu kemudian.

Pertapa itu tidak menyahutnya, tetapi selangkah demi selangkah iapun akhirnya sampai keluar gubugnya.

“Jika ada burung yang hinggap dihalanan gubugku Nuri, aku akan menangkap untukmu”

Gadis  kecil itu masih terheran-heran, tetapi ia tidak bertanya lagi.

Beberapa saat lamanya menunggu, namun akhirnya seekor burung jalak urea terbang rendah dan hinggap diatas sebatang pohon dadap yang tumbuh dengan rimbunnya.

“Kau lihat burung itu?”

Gadis itu mencari sejenak, kemudian iapun berkata “Ya, kakek burung itu”

“Jangan lupa janjimu, Kau akan melepaskannya kembali, bukankah begitu?”

“Ya…”

Pertapa itupun kemudian memungut sebutir kerikil yang kecil sekali, tidak lebih dari sebutir buah wuni, kemudian kerikil itu dimasukkan kedalam mulutnya.

Namun ia masih berkata “Nuri sudah berjanji”

Tiba-tiba saja pertapa itu menyemburkan kerikil dimulutnya itu, hampir tidak masuk akal, bahwa tiba-tiba burung yang bertengger didahan pohon dadap itupun terjatuh ke tanah.

“Nah, burung itu sudah jatuh Nuri”

“Apakah burung itu mati kek?”

“Tidak, burung itu tidak mati, tetapi sekedar pingsan, sebentar lagi burung itu akan segera sadar lagi, nah ambillah, dan bermainlah dengan burung itu sambil menunggu kakakmu datang”

Gadis kecil yang bernama Wuyung itupun kemudian berlari-lari mengambil burung yang pingsan itu, kemudian iapun berlari ke pakiwan dan menitikkan beberapa tetes air ke paruh burung itu, sehingga sejenak kemudian burung itupun menjadi sadar.

Tetapi dalam pada itu, gadis itu  sudah melupakan, bagaimanakah caranya pertapa itu mendapatkannya bahwa dengan sebuah tiupan, burung itupun jatuh dari dahan pohon dadap.

Pertapa itu tersenyum melihat Wuyung dengan asyiknya bermain-main dengan seekor burung jalak urea, namun setiap kali Wuyung mengerutkan dahinya, karena burung itu selalu meronta-ronta.

“Kek, burung  ini nakal sekali” katanya

Pertapa itu tersenyum, katanya “itu adalah nalurinya, Nuri, Ia ingin bebas terbang di udara, bermain bersama angin yang lembut, kau lihat burung yang terbang itu, betapa senangnya dia”

Wuyung mengadahkan kepalanyaa. Lalu “Alap-alap, burung itu Alap-alap kek”

“Ya…”

“Ooo, kalau begitu jalak ini harus bersembunyi, jika tidak maka burung ini akan disambarnya”

Pertapa itu mengangguk-angguk “Seperti di hutan, Nuri, maka di udarapun berlaku hukum  kekuatan itu, siapa yang lemah akan menjadi mangsa yang lebih kuat”

“Apakah dimana-mana juga begitu kek?”

“Tidak Nuri, kita manusia tidak berbuat demikian, kita mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain dari kekuatan jasmaniah, kita mempunyai perasaan yang mengandung berbagai macam sentuhan, kita dapat menjadi kasihan terhadap sesama jika kita melihat penderitaan lahir maupun batin, kita dapat menimbang manakah yang baik dan yang manakah yang buruk, dan kita memiliki rasa keadilan dan keseimbangan”

Wuyung mamandang pertapa itu dengan tatapan yang aneh, sehingga akhirnya pertapa itu tertawa.

“Kenapa kakek tertawa?”

“Aku sedang menggigau, kau tentu tidak tahu apa yang aku katakana, tetapi tidak apa, kelak kau akan menjadi besar, dan kau kan mulai mengetahui dengan sendirinya” kakek itupun kemudian tertatih-tatih berjalan mendekati gadis itu, “Marilah, masuklah, barangkali aku masih mempunyai kelapa muda dan segumpal gula kelapa, kau senang kelapa muda bukan?, jika kebetulan aku tidak mempunyai, kau selalu bertanya”

“He, apakah kakek dapat memanjat pohon kelapa?”

“Kenapa?”

“Berjalanpun agaknya kakek harus memakai tongkat”

Pertapa itu tertawa, jawabnya “Kakakmu, Panon yang memanjat pohon kelapa itu”

Wuyungpun kemudian mengikut pertapa itu ke gubugnya, bahkan ia berusaha untuk menggandeng kakek yang berjalan tertatih-tatih itu sambil berkata “Hati-hati kek, nanti kakek jatuh tersandung tlundak pintu, seharusnya kakang Panon memperbaiki pintu rumah kakek” ia berhenti sejenak, lalu “Kenapa kakek tinggal sendiri disini? Kadang-kadang ibu bertanya kepada ayah, kenapa kakek tidak tinggal bersama kami saja?, kakek tidak perlu menanak nasi dan mencuci pakaian sendiri”

Petapa itu tersenyum, katanya “Aku tidak pernah menanak nasi, Nuri”

Wuyung mengerutkan keningnya, ia menjadi heran mendengar jawaban kakek pertapa itu, sehingga kemudian iapun bertanya “Jika kakek tidak menanak nasi, apa yang kakek makan? Atau barangkali kakang Panon yang menanak nasi untuk kakek?”

Orang tua itu tertawa, katanya “Kakek tidak makan nasi, kakek makan jenis makanan yang lain”

“Ketela pohon? Jagung ?”

Kakek itu tidak menjawab, tetapi ia masih saja tersenyum.

“Jika kakek merebus jagung atau ketela pohon, bukankah hampir saja sibuknya dengan menanak nasi?”

Pertapa itu menggeleng, tetapi katanya kemudian “Sudahlah Nuri, jangan risaukan kakek, sekarang bermainlah di dalam gubug ini saja, jangan pergi sebelum kakamu datang”

“Kakek akan kemana?”

“Aku tidak kemana-mana, aku akan duduk dipintu menunggu kakakmu dan ayahmu”

Wuyung yang dipanggil Nuri oleh pertapa tua itu tidak menjawab, iapun kemudian duduk diatas amben bambu sambil bermain-main dengan burung di tangannya, namun kemudian iapun menjadi jemu dan bangkit “Kakek, aku akan melepaskan burung ini”

Kakek pertapa yang duduk di muka pintu itupun berpaling sambil berkata “Bagus, jika terlalu lama kau pegang, maka, burung itu akan menjadi sangat bersedih”

Wuyungpun kemudian berlari ke pintu, disisi pertapa itu iapun kemudian duduk sambil berkata “Aku akan melepaskannya ke udara, kek apakah burung itu akan menjadi gembira?”

“Tentu Nuri, setiap kebebasan akan disambut dengan gembira”

“Tetapi kek, sebenarnya burung yang dipelihara di dalam sangkar itu, tentu merasa lebih senang, ia tidak usah mencari makan dan terlindung dari bahaya, dari alap-alap misalnya, atau dari anak-anak nakal yang bermain dengan tulup”

“Nampaknya memang begitu Nuri, tetapi kebebasan harganya lebih mahal dari makanan sehari-hari, atau bahkan kebebasan kadang-kadang harus dituntut dengan mempertaruhkan nyawa, meskipun kebebasan itu sendiri bukannya berarti berbuat sekehendak hati, karena justru setelah kebebasan itu dapat dicapai, maka yang dihadapi kemudian adalah sebuah tertanggungan jawab, misalnya burung itu harus mencari makan dan melindungi dirinya dari bahaya”

Wuyung mengerutkan keningnya, nampaknya ia tidak dapat mengerti kata-kata kakek pertapa itu, meskipun kemudian mengangguk-angguk, tetapi sambil tersenyum kakek itu berkata “Nah, cobalah, lepaskan burung itu, ia akan segera terbang ke langit biru dan terbang di sinarnya matahari yang nyaman, ia akan segera berdendang melagukan pujian karena kebebasannya”

Wuyung memandang pertapa itu sejenak, namun kemudian iapun berdiri di halaman, sesaat ia termangu-mangu, dipandanginya burung di tangannya dan langit yang biru yang terbentang diatas tanah pegunungan.

“Aku lepaskan sekarang ya kek?” Wuyung bertanya

Kakek itu mengangguk.

Wuyungpun kemudian melepaskan burung itu ke udara, sesaat kemudian burung itupun mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi dengan tanpa berpaling.

Wuyung termangu-mangu sejenak, namun kemudian iapun tertawa sambil berlari mendapatkan kakek pertapa yang duduk di muka pintu.

“Kek, burung itu terbang tinggi ke langit biru”

Pertapa itu tersenyum, katanya “Nah, bukankah burung itu dengan riang kini berputaran di udara”

Wuyung mengangguk-angguk, nampaknya ia masih akan bicara lagi, tetapi mulutnya yang sudah menganga itupun terkatup kembali ketika ia mendengar suara ayahnya “Aku sudah menduga kau disini Wuyung?”

Wuyung berpaling, dilihatnya ayahnya berjalan diantara tanaman di kebun di samping gubug itu.

Wuyung meloncat dan berlari mendapatkan ayahnya sambil berkata lantang “Baru saja kakek menangkap burung buatku”

Ayahnya tersenyum, lalu dibimbingnya anak gadisnya kembali ke gubug itu sambil berkata “Tetapi lain kali, jangan pergi sendiri Wuyung”

“Aku di rumah sendiri”

“Justru kau sendiri, kau harus menjaga rumah”

“Wuyung memberengut, tetapi ia tidak menyahut lagi.

Ternyata ayah Wuyung tidak datang seorang diri, di belakangnya Panon Suka mengikutinya dengan ragu, agaknya ia masih dicengkam oleh berbagai pertanyaan tentang  sikap gurunya  dan apalagi gurunya telah minta kepadanya untuk memanggil ayahnya.

“Tanpa dipanggilpun ayahnya selalu datang” katanya di dalam hati”

Tetapi Panon tidak sampai ikut masuk ke dalam gubug itu, karena gurunyapun kemudian berkata “Panon, antarkan adikmu pulang, nanti ibu dan kakaknya gelisah karena anak itu pergi”

Panon mengangguk sambil menjawab “Baik guiru”

Tetapi nampaknya Wuyung masih segan untuk pulang, meskipun ia tidak mengelak kakaknya membimbing tangannya dan membawanya meninggalkan gubug itu.

Namun agaknya masih ada beberapa persoalan yang mengganggu pikiran kecilnya, sehingga ia tidak dapat menahannya lagi, dan menanyakannya kepada Panon, “Kakang, apakah yang dimakan oleh kakek pertapa itu?, katanya ia tidak pernah menanak nasi”

Panon memandang adiknya sejenak, lalu berkata “Kenapa kau tanyakan hal itu?”

“Kakek mengatakan, bahwa ia tidak pernah menanak nasi dan memang ia tidak pernah makan nasi?”

“Panon mengangguk, jawabnya “Kakek pertapa itu memang tidak pernah makan nasi Wuyung, yang dimakannya adalah empon-empon disamping sebangsa garut dan lembong”

“Hanya itu?”

“Dan cabe, cabe rawit”

“Ya, aneh sekali”

“Sudahlah, kau tidak usah memikirkannya, kakek pertapa itu tentu sudah mempunyai maksud tertentu dengan caranya itu”

“Aneh sekali” Gadis itu termangu-mangu sejenak, namun tiba-tiba ia teringat cara pertapa itu menangkap burung, karena itu, maka katanya “Kakang, kakek itu menangkap burung dengan cara yang aneh, Ia memasukkan kerikil kecil sekali ke dalam mulutnya, kemudian, dengan sebuah hembusan, kerikil itu dapat membuat seekor burung menjadi pingsan, aku pernah melihat cara yang hampir serupa, tetapi orang lain mempergunakan tulup dan lempung”

Bab 11

Panon Suka tertawa, sambil menarik tangan adiknya agar gadis kecil itu berjalan lebih cepat ia berkata “Marilah, ibu tentu sudah pulang dari pasar, apakah kau tidak pesan oleh-oleh?”

“Tentu ibu akan membeli tiga bungkus hawug-hawug”

Panon tidak bertanya lagi, Ia mengajak adiknya mendaki tebing yang curam, kemudian meloncati parit dan berjalan di sepanjang tanggul.

“Aneh” katanya dalam hati. Adikya yang masih kecil itu nampaknya tidak merasa lelah, ada sesuatu yang lain padanya.

Tetapi Panon tidak mengatakannya, ia berjalan saja semakin lama semakin cepat. Dan Wuyungpun berlari-lari kecil di sampingnya.

Dalam pada itu, sepeninggal Panon Suka dam Wuyung, pertapa tua itupun mempersilahkan ayah Panon masuk ke dalam gubugnya, setelah mereka duduk berdua, maka pertapa tua itupun segera mulai dengan kepentingannya, kenapa ia memanggil ayah Panon datang kepadanya.

“Adi” berkata pertapa itu “Sebenarnya Panon Suka masih terlampau muda untuk melakukan tugas ini, tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain, dari segi olah kanuragan dan kajiwan, aku menanggap bahwa ia sudah cukup mampu untuk melindungi dirinya meskipun baru dalam waktu yang singkat aku membimbingnya, ia memiliki banyak kelebihan secara alamiah yang dibawanya sejak ia lahir, sehingga ilmu yang aku berikan dengan keadaan jasmaniku yang cacat ini, segera dapat dipahami dan dihayatinya, meskipun dengan hanya petunjuk-petunjuk lisan dan sedikit contoh-contoh yang tidak berarti, kini Panon Suka telah menjadi seorang yang memiliki ilmuku hampir seluruhnya”

“Tuan, eh, kakang Wirit semuanya aku serahkan kepadamu, aku percayakan anak itu seluruhnya lahir dan batinnya”

Petapa itu tertawa, katanya “Sudah sekian lamanya kita bergaul, Adi masih saja sering keliru, menyebut namaku” Ayah Panon tersenyum dan menunduk.

“Adi, Panon adalah anak laki-lakimu satu-satunya, karena itu aku akan minta ijin, apakah Panon Suka diperkenankan untuk menggantikan aku yang sudah cacat ini?”

Ayah Panon menjadi heran, ia tidak segera mengerti maksud pertapa yang disebutnya kakang Wirit itu, karena itu, maka dengan ragu-ragu ia bertanya “Aku tidak mengerti maksudmu kakang, apakah Panon harus menggantikan kedudukanmu sebagai pertapa di lereng gunung ini?, atau kedudukan yang lain?”

“Adi, ada sesuatu yang penting yang harus aku lakukan, dan yang seharusnya aku lakukan itu, terhalang oleh keadaan jasmaniahku yang cacat sekarang ini”

Ayah Panon menarik nafas dalam-dalam, kemudian dengan nada datar ia berkata “Maksud kakang, apakah Panon harus menuntut balas atas peristiwa yang pernah terjadi atas kakang Wirit beberapa tahun yang lalu itu?”

“Tidak sama sekali, tidak” Sahut Wirit dengan tergesa-gesa, “Aku sama sekali tidak bermimpi untuk membalas dendam”

“Jadi tugas apakah yang harus dilakukan oleh Panon?”

“Adi, aku minta ijin untuk memberikan suatu tugas yang berat, ia harus meninggalkan lereng gunung yang hijau ini dan pergi ketempat yang jauh?

“Kemana?”

“Ke Pegunungan Sewu”

“Pegunungan Sewu? Jadi ke dinding selatan dari pulau ini?” Wirit mengangguk-angguk.

Ayah Panon menarik nafas dalam-dalam, bagaimana juga terasa sesuatu bergetar didadanya, karena Panon adalah anak laki satu-satunya, kedua saudaranya yang lain adalah perempuan semuanya.

“Meskipun demikian Adi, aku menunggu keputusanmu” berkata pertapa itu selanjutnya “Aku adalah guru Panon Suka, tetapi kau adalah ayahnya, adalah salah bahwa seorang guru merasa lebih berhak atas muridnya dari pada ayah anak itu sendiri, keduanya seharusnya memiliki tanggung jawab bersama didalam bidangnya masing-masing serta mendasarinya dengan budi pekerti yang baik, sesuai dengan darma seseorang terhadap sesama dan baktinya terhadap Yang Maha Pencipta” Ia berhenti sejenak, lalu “karena itulah, dalam penyerahan tugas dan tanggung jawab kali ini, akupun minta pertimbanganmu, katakanlah dengan jujur menurut kata hatimu, apakah kau dapat melepaskan anak lakimu satu-satunya itu”

Ayah Panon termenung sejenak, angan-angannya mulai merayap kedalam bayangan yang harus dilakukan oleh anaknya di Pegunungan Sewu.

“Kakang Wirit” Iapun berkata kemudian “Kau belum mengatakan tugas yang kau bebankan kepada anakku itu”

“Ya, aku belum mengatakannya “ Wirit termenung sejenak, lalu “Adi, di daerah Pegunungan Sewu, tepatnya di daerah yang bernama Karangmaja, terdapat sebuah istana kecil yang dibuat oleh Pangeran Kuda Narpada”

“Jadi…..” desis ayah Panon.

“Aku belum selesai” berkata Wirit, “Aku ingin minta Panon Suka untuk pergi ke istana kecil itu, ada sesuatu yang penting harus dilakukan Panon di dalam istana kecil itu”

Ayah Panon mengangguk-angguk, sementara Wirit berkata lebih lanjut “Adi, tugas itu memang berat, aku tidak tahu apakah yang akan dihadapinya, dan aku tidak tahu keadaan istana itu sekarang, mungkin istana itu sudah musnah, mungkin masih ada, dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas istana yan dibuat oleh Pangeran Kuda Narpada itu”

“Ya…” berkata Ayah Panon “Istana itu tentu sudah beberapa tahun ditinggalkannya”

Wirit menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian “Perjalanan Panon ke Pegunungan Sewu itu mungkin hanya merupakan sebuah tamasya saja tanpa berbuat sesuatu, ia akan kembali dan berkata kepadaku bahwa Istana itu sudah musnah dengan segala isinya” Ia berhentu sejenak, lalu “Tetapi ada kemungkinan yang lain, ia akan bertemu dengan beberapa orang yang tidak dikenalnya dan ia harus mempertahankan nyawanya, itulah yang menyebabkan aku harus minta pendapatmu”

Ayah Panon memandang wajah pertapa itu sejenak, ia melihat tatapan mata yang buram, namun ia melihat sesuatu keyakinan yang memancar pada mata yang buram itu, karena itu, maka, ayah Panon itupun kemudian berkata “Kakang Wirit, kaulah yang mengetahui, apakah bekal Panon Suka sudah cukup untuk melakukan tugas itu, jika sekiranya bekal itu memang sudah cukup, baiklah, aku tidak berkeberatan, karena aku percaya, bahwa ia akan dapat melindungi dirinya sendiri, meskipun kemungkinan yang pahit masih dapat terjadi”

Wirit mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya “Waktu yang dipergunakan oleh Panon untuk menuntut ilmu memang terlampau singkat, hanya beberapa tahun saja, sebenarnya masih belum cukup, tetapi ketekunan dan bakat alamiah yang ada padanya, membuat aku menjadi heran, bahwa dalam waktu yang singkat itu, ia sudah memiliki hampir semua kemampuanku, sebelum aku menjadi cacat, bahkan ia memliki beberapa kelebihan justru karena cara hidup dan daerah yang cukup berat baginya hampir setiap saat, jika Panon Suka pergi ke sawah, sehari dua tiga kali, mengambil air dengan lodong bamboo dan memanggulnya nail lereng, dan kerja yang lain, telah menempa tubuhnya dan menjadikannya seorang yang kuat kewadagannya, kemudian diramu dengan ilmu dan latihan-latihan yang teratur dan khusus, ternyata telah membuatnya menjadi seorang anak muda yang luar biasa”

Ayah Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya “Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih kepadamu kakang, karena itulah, maka aku serahkan Panon sepenuhnya untuk melakukan tugasnya yang penting itu”

“Terima kasih adi, Nanti malam aku akan memberikan pesan dan petunjuk atas tugas yang harus dijalankannya itu”

“Aku hanya dapat berdoa, aku tidak dapat memberikan bekal apapun”

“Mudah-mudahan semua tugas dapat dilakukannya dengan baik tanpa kesulitan apapun adi, jika ia datang ke istana itu, dan tidak ada pihak-pihak lain yang terkait, maka tugasnya akan cepat selesai, bahkan seandainya istana itu sudah musnah sekalipun, asal ia masih dapat menemukan bekasnya, maka ia dapat menyelesaikannya pula” Ia terhenti sejenak lalu “Tetapi jika hadir pihak-pihak lain, maka, persoalannya akan menjadi bertambah panjang, tetapi Panon tidak harus harus dapat melakkan tugasnya tanpa pertimbangan-pertimbangan yang wajar, aku akan berpesan kepadanya, bahwa apabila menurut perhitungannya tugas itu tidak dapat dilakukannya, maka ia dapat mengurungkannya, ia tidak perlu dengan membabi buta mengorbankan nyawanya, jika hal itu sudah diketahuinya, karena bagiku nyawa seseorang adalah sesuatu yang sangat berharga, lebih berharga dari apapun juga, tetapi jika taruhan nyawa itu tidak dapat dihindarinya, dengan kemungkinan-kemungkinan yang nyata, maka barulah ia akan berjuang dengan segenap kemampuan yang ada padanya”

Ayah Panon mengangguk-angguk, debar jantungnya masih belum dapat ditenangkannya karena terbayang di angan-angannya anak laki satu-satunya itu menempuh bahaya yang melandanya bagaikan gelora ombak di lautan yang sedang diaduk oleh angin lautan.

Tetapi akhirnya ayah Panon itupun harus pasrah, di dalam hatinya ia mencoba untuk menghibur dirinya sendiri, “Gurunya tentu mengetahui, bahwa tugas yang diberikan kepada Panon akan dapat dilakukannya dengan baik, tanpa menjerumuskannya ke dalam pengorbanan yang sia-sia.

Karena itulah, maka ayah Panon mencoba untuk mengedapankan perasaannya, sambil mengangguk-angguk, ia berkata “Yang Maha Agung akan melindunginya jika ia berjalan di jalan yang lurus”

“Ya adi, sandaran yang paling utama, dan aku mencoba untuk mendorongnya melalui jalan yang lurus itu”

Keduanya tidak meneruskan pembicaraannya, ketika Panonpun kemudian datang kembali setelah mengantarkan adiknya pulang, gurunya ingin memberikan pesan dan nasehat-nasehat tersendiri.

Sejenak kemudian ayah Panon minta diri, ia sama sekali tidak ingin memberitahukan hal itu kepada isterinya, agar isterinya tidak menjadi cemas dan selalu memikirkannya.

Ketika kemudian malam turun menyelubungi lereng pegunungan, maka Panonpun duduk menghadap gurunya, dengan dada yang berdebar-debar. Ia tahu, bahwa gurunya akan memberikan tugas yang penting kepadanya, tugas yang harus dilakukannya dengan segenap kemampuan yang telah diterimanya dari gurunya.

“Panon” berkata gurunya, “Kau akan menemuh sebuah perjalanan yang cukup jauh, meskipun perjalanan itu masih belum sejauh perjalanan para petualang yang sebenarnya”

Panon hanya menundukkan kepalanya, dengan seksama iapun mendengarnya, perjalanan yang harus ditempuhnya ke pegunungan seribu yang membujur bagaikan dinding yang panjang disisi selatan tanah ini.

Dengan lengkap pertapa itu memberikan beberapa penjelasan, pesan dan petunjuk-petunjuk apakah yanag harus dikerjakannya di halaman sebuah istana kecil di padukuhan Karangmaja.

“Panon” berkata gurunya, “Aku tidak mengetahui perkembangan terakhir dari istana kecil itu, mungkin perjalanan akan menjadi singkat, tetapi mungkin juga panjang dengan segala macam akibat yang akan dapat terjadi”

Panon masih menundukkan kepalanya.

“Setiap kali, kau akan dapat menghubungi aku Panon, jika kau menemukan persoalan-persoalan diluar pengetahuanmu”

“Jadi setiap kali aku harus kembali kemari guru?” bertanya Panon kemudian.

Gurunya menggeleng, katanya “Bukan begitu maksudku, bukan kau harus mondar mandir pada jarak yang jauh itu, tetapi akulah yang harus mendekat”

“Guru” desis Pnon

“Gurunya tersenyum, katanya “Sebagaimana kau lihat, tubuhku memang cacat, aku akan mengalami kesulitan jika aku menempuh jarak yang begitu jauh, tetapi jika jarak itu aku lalui dengan tidak tergesa-gesa, maka aku akan sampai ke tujuan, itulah sebabnya maka aku akan mempercayakan kau untuk melakukan tugas ini. Tetapi mungkin perkembangan terakhir yang tidak aku ketahui sudah menjadikan keadaan jauh berubah, karena itu Panon, aku akan mendekati pegunungan Sewu, mungkin lima atau enam hari aku baru sampai, sementara itu, kau sudah memanjat naik dan melihat perkembangan terakhir pada pahukuhan itu”

Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian “Guru, sebenarnya aku dapat mondar mandir pada jarak yang meskipun agak panjang, tetapi dapat dicapai dalam waktu sehari, jika aku mengenderai seekor kuda”

Gurunya menggeeleng, katanya “Tidak Panon, jika jalannya rata seperti jalan-jalan padukuhan, memang jarak itu dapat ditempuh dalam sehari semalam,, bahkan mungkin kurang, meskipun sudah memperhitungkan saat-saat untuk beristirahat, tetapi jalan pegunungan Sewu tidak serata jalan-jalan padukuhan”

Panon mengangguk-angguk.

“Karena itu Panon, biarlah aku mendekat, aku akan berada di ujung pegunungan yang berbatasan dengan ngarai di lembah Payung, kau sebaiknya menempuh jalan sebelah timur Hutan Mentaok yang lebat dan sampai ke ujung pegunungan di lembah Payung, Kau tidak dapat menembus Alas Mentaok, karena perjalanan yang demikian justru akan menjadi lambat, meskipun memotong arah”

Panon mengangguk-angguk, sahutnya perlahan-lahan “Ya, guru”

Gurunya kemudian memberikan beberapa pertanda tentang lembah Payung di kaki Gunung Sewu di ujung hutan, ia memberikan beberapa pertanda tentang sebuah padukuhan kecil di lembah itu.

“Guru akan berada di padukuhan kecil itu?” bertanya Panon.

“Tidak Panon, Kau sajalah yang pergi ke padukuhan kecil itu, kau dapat menitipkan kudamu disana, kau dapat memberikan upah kepada seseorang yang akan merawat kudamu selama kau berada di pegunungan Sewu, karena kau akan datang ke Karangmaja dengan berjalan kaki saja”

“Lalu bagaimana dengan guru?”

“Aku akan menyusul, aku akan meminjam kudamu untuk memanjat pegunungan Sewu itu, karena itu, kau harus berpesan kepada orang yang kau serahi, bahwa seseorang yang cacat akan datang mengambil kuda itu”

Panon mengangguk-angguk, ia mengikuti semua pesan dan petunjuk gurunya, ia harus datang ke Karangmaja sebagai seorang perantau yang kekurangan dan miskin. Selain itu, gurunya memang memerlukan seekor kuda untuk naik ke lereng yang agak terlalu condong seperti yang dikatakan oleh gurunya itu.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Panon bertanya “Tetapi kenapa guru tidak berkuda saja sejak dari sini?”

Gurunya tersenyum, katanya “Tidak Panon, aku ingin berjalan, aku masih ingin menguji kakiku, apakah masih mampu aku pergunakan untuk menempuh jarak yang sebenarnya tidak terlampau jauh itu” gurunya berhenti sejenak, lalu “Kecuali itu, aku ingin melihat-lihat daerah yang pernah aku jelajahi dimasa mudaku dahulu”

Panon hanya dapat menggigit bibirnya, menilik ujud jasmaniahnya, gurunya tentu akan mengalami kesulitan untuk menempuh jarak yang demikian panjang, tetapi sudah barang tentu Panon tidak akan dapat mengukur kemampuan gurunya dengan pasti, sehingga karena itu, maka iapun hanya dapat menyerahkan semua persoalan kepada gurunya.

Demikianlah maka semua pesan dan petunjuk tentang tempat tugas dan nama-nama yang mungkin harus dihubungi telah diberikan semuanya oleh pertapa itu kepada Panon. Padukuhan-padukuhan yang harus menjadi perhatian dan tempat pertapa itu menunggu setiap saat ia diperlukan oleh Panon.

“Goa itu bukanlah goa yang dalam” berkata gurunya itu tentang tempat persembuniyannya “Tetapi cukup untuk berteduh”

“Bagaimana guru mendapatkan air?”

Gurunya tersenyum, katanya “Aku akan mendapatkannya, jika di daerah itu masih tumbuh sebangsa rerumputan yang merambat, aku akan mendapatkan air, pada pangkal rumput itu jika aku potong”

Panon mengangguk-angguk, ia sudah tau semua yang harus dilakukan, jika ia menemui kesulitan, maka ia harus mencari gurunya di tempat yang sudah ditentukan, tidak jauh dari padukuhan Karangmaja.

Maka malam itu Panonpun segera menyiapkan dirinya, lahir dan batin, kecuali menyiapkan seeokar kuda, bekal pakaian di dalam bungkusan kecil, sekedar uang yang ditabungnya, maka iapun menyiapkan senjatanya.

Panon seorang anak muda dari padesan, tidak mempunyai senjata yang berarti, gurunyapun tidak memberikan senjata apapun juga, karena Kiai Wirit itupun tidak mempunyainya. Yang dimiliki oleh Panon adalah senjata-senjata buatan pandai besi di padukuhannya, bukan buatan empu yang memiliki kelebihan dalam pembuatan jenis-jenis pusaka.

Tetapi menurut gurunya senjata-senjata itupun sudah memadai. Senjata-senjata itu tidak lebih dari pisau-pisau kecil yang diselipkan diantara ikat pinggang kulitnya, tidak hanya satu atau dua pisau, tetapim pisau-pisau kecil itu berjajar sepanjang ikat pinggangnya yang melingkarin perutnya.

“Panon” selalu terngiang pesan gurunya “Senjata adalah alat yang paling buruk untuk menjaga diri, karena itu, jika tidak terpaksa sekali, maka senjata pantang diperrgunakan”

“Panon menarik nafas dalam-dalam, ia selalu mencoba mengingat pesan itu.

Namun demikian, Panon adalah anak muda yang memiliki tangan yang dapat bergerak secepat kejapan mata, tidak seorangpun yang dapat menghitung, berapa buah pisau yang sudah terlontar dari tangannya dalam satu tarikan nafas.

Tetapi kepercayaan yang sebenarnya dari Panon tidak saja pada kecepatannya bergerak, tetapi juga kekuatan tangannya yang luar biasa, ia memanfaatkan kerjanya sehari-hari untuk menyusun tata gerak ilmunya yang dahsyat, hampir segenap bagian tubuhnya adalah senjata yang tiada taranya”

Selain kemampuan ilmunya, Panon juga dibekali dengan bermacam-macam obat yang dapat menghindarkan dirinya dari bencana yang disebabkan oleh luka-luka yang memancarkan darah terlampau banyak, juga obat-obatan yang dapat yang menawarkannya dari berbagai macam bisa dan racun.

“Di Pegunungan Sewu terdapat banyak sekali jenis ular berbisa” berkata gurunya “Ular Bandotan, ular yang ditakuti oleh setiap orang, ular weling, ular welang, ular pudak grama, dan yang tidak kalah berbahayanya adalah ular ular gadung, meskipun bisanya tidak sekuat ular bandotan dan ular weling, tetapi ular gadung biasanya menyerang dari dahan-dahan kayu pepohonan, sedang warnanya hijau seperti dahan dan ranting-ranting pohon basah”

Semuanya itu tidak ada yang terlupakan oleh Panon, baginya, tugas itu merupakan batu ujian, apakah ia merupakan murid yang baik atau murid yang buruk. Murid yang baik tentu akan dapat melakukan tugas yang diberikan oleh gurunya dengan baik pula.

Menjelang fajar, Panon telah siap seluruhnya untuk berangkat, Ia berpamitan dan mohon doa kepada ayah dan ibunya, meskipun ia tidak menunjukkan kemungkinan sebenarnya yang dapat terjadi atasnya, terutama kepada ibunya. Sedang kepada adik-adiknya, Panon tidak memberitahukannya, mereka, masih tetap tidur nyenyak ketika Panon meninggalkan rumahnya, ia dibekali dengan beberapa petunjuk dan ancar-ancar yang mungkin sudah berubah karena waktu.

Tetapi Panon Suka bertekad untuk sampai ke tujuannya, ia harus menemukan sebuah padukuhan di punggung Gunung Sewu yang bernama Karangmaja.

Ternyata perjalanan yang ditempuhnya tidak semudah yang diduganya, apalagi ketika ia sampai ke daerah hutan yang masih lebat, Hutan Kedu Pengarang yang wingit.

Tetapi agaknya petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh gurunya membuat perjalanannya agak lancar, belum banyak perubahan yang terjadi. Yang dikatakan gurunya sebagian besar masih dapat dikenalinya, perubahan kecil yang terjadi, tidak mempengaruhi arah yang dipilihnya.

Seperti pesan gurunya maka Panonpun kemudian melingkari Gunung Merapi sebelah timur Alas Mentaok yang sulit untuk ditembus, sehingga karena itu seperti yang dikatakan gurunya, perjalanan ke Gunung Sewu tidak akan dapat ditempuh dalam sehari semalam.

Di beberapa tempat di sepanjang perjalanan, Panon Suka terpaksa berhenti beberapa kali, kudanya yang letih diberinya kesempatan untuk meneguk air di parit atau di sungai, kemudian dibiarkannya kuda itu makan rerumputan hijau sejenak, sebelum ia meneruskan perjalanannya.

Panon Suka yang belum pernah menempuh perjalanan yang agak jauh seperti yang dilakukannya ini, merasa betapa panjang perjalanannya, tetapi ketahanan tubuhnya dan latihan-latihan yang dilakukannya dengan baik, dapat mempertahankan gairah perjalanannya, dengan mengesampingkan perasaan lelah dan jemu.

Perjalanan Panon Suka yang mula-mula tidak menemui gangguan apapun selain kekerasan alam dan lebatnya hutan-hutan, tiba-tiba ia telah membentur sesuatu yang sebelumnya belum pernah dihadapinya. Selama ia mempelajari ilmu kanuragan dari gurunya, sebenarnyalah ia sama sekali belum pernah mempergunakannya untuk benar-benar bertempur dengan alasan apapun juga, setiap kali ia hanya harus melawan musuh buatan yang dibuat oleh gurunya, lemparan-lemparan batu, tongkat dan hembusan-hembusan kerikil dari mulutnya. Yang terakhir ia harus melawan percikan-percikan air yang dilontarkan oleh gurunya agar ia menjadi basah karenanya dan menyerang dengan pisau-pisaunya, batu-batu yang dilemparkan ke udara, selebihnya ia harus menempa tubuhnya agar menjadi kuat dan bukan saja kekuatan wajarnya, tetapi juga pemusatan pikiran dan kehendak dan pemanfaatan tenaga cadangan yang memang sudah ada di dalam dirinya, sehingga seolah-olah Panon memiliki kekuatan jasmaniah yang berlipat-lipat.

Dan kini tanpa diduganya, Panon Suka telah berhadapan dengan tiga orang yang mencurigakan.

“Berhentilah anak muda” berkata salah seorang dari mereka.

Panon Suka berhenti dengan ragu, ketika ia memberikan pandangan matanya yang nampak adalah pepohonan hutan yang lebat, diluar sadarnya maka Panonpun mengadahkan wajahnya ke langit, ternyata di langit bertaburan bintang-bintang yang gemerlapan.

“Siapakah kau anak muda?, kau menempuh perjalanan bukan pada waktunya, kau lihat bintang Gunug Penceng itu?, nah, kau akan mengetahui waktu dengan memperhatikan kelompok bintang itu”

Panon Suka memandang kelompok bintang yang sedang menyilang, dari gurunya ia mengetahui, bahwa dengan menarik garis lewat bintang di puncak dan di ujung bawah, maka akan diketemukannya arah selatan, tetapi bintang itu kini telah condong jauh ke barat.

“Ternyata hari hampir fajar” berkata Panon Suka

“Ya, menjelang pagi, kenapa kau tempuh perjalanan pada waktu ini?”

“Aku berangkat pagi hari kemarin” kata Panon.

“Dan kau paksa kudamu denga menempuh perjalanan yang agaknya cukup jauh itu?”

“Sudah tentu aku berhenti di beberapa tempat, beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan”.

“Sekali lagi aku bertanya, siapakah kau, sudah tentu aku ingin juga mengetahui, kau datang dari mana dan hendak pergi kemana?”

“Namaku Panon” jawab anak muda itu “Aku datang dari lereng Gunung Merbabu, dan…. Aku menempuh perjalanan tanpa tujuan, sekedar mencari pengalaman”

Oang itu mengerutkan keningnya, sampai tiba-tiba ia bertanya “He, anak muda, apakah kau pernah melihat pertunjukkan wayang beber?”

“Kenapa?”

“Seorang ksatria akan menjawab seperti jawabanmu itu, jika ia bertemu lawannya di perjalanan, perjalanan tanpa tujuan menurut kehendak ujung kaki dan keredipan mata”

Panon menarik nafas dalam-dalam, ia tidak dapat menjawabnya, karena itu dibiarkannya saja orang itu berbicara “Baiklah anak muda, jika kau tidak mau menyebut tujuan perjalananmu, maka, katakanlah, apakah kau membawa bekal cukup banyak?”

Panon terkejut mendengar pertanyaan itu, segera ia dapat meraba, siapakah yang kini dihadapinya.

Meskipun Panon sudah berbekal ilmu yang cukup, tetapi hatinya masih juga berdebaran, ia sama sekali belum pernah mengalami hal serupa itu.

“He, kenapa kau diam saja..?!!”

“Ki sanak” berkata Panon Suka setelah ia mencoba mengurangi getar jantungnya “Aku bukan orang kaya yang dapat membawa bekal pada sebuah perjalanan tanpa tujuan seperti ini”

Teteapi orang itu tertawa “Kudamu adalah kuda yang bagus sekali, nah apa katamu?”

Panon termangu-mangu sejenak, pertanyaan orang yang tidak dikenalnya itu semakin membingungkannya.

“Ki Sanak” berkata Panon kemudian “Apakah sebenarnya yang kalian kehendakki?”

Orang itu tertawa, katanya “Bagus, kau ingin langsung pada persoalannya, baiklah, aku ingin merampok semua milikmu termasuk kudamu”

Panon menjadi tegang meskipun ia memang sudah menduganya, sejenak ia berdiam diri, naum tiba-tiba saja ia bertanya “Siapakah sebenarnya kalian ini?”

Orang itu tertawa semakin keras, katanya “Kenapa kau bertanya tentang kami, yang kau jumpai di lorong sempit di pinggir hutan dan akan merampok barang-barang dan semua yang kau miliki?”

“Aku hanya ingin tahu” jawab Panon serta merta.

“Baiklah, jika kau ingin mengenal kami, Akulah yang bernama Bandung Limpat, Nah, apakah kau pernah mendengar nama itu. Setiap orang akan mengerutkan lehernya jika mendengar nama itu disebutkan, yang seorang dari kedua kawanku adalah Sisik Sana, sedang yang satunya adalah Watu Sampar” Ia berhenti sejenak, lalu “Nah, sekarang sudah lengkap, lalu, apakah kau masih akan ingkar bahwa kau membawa bekal cukup”

“Ki Sanak” jawab Panon “Aku sama sekali tidak ingkar, aku memang tidak membawa apapun juga selain seekor kuda dan beberapa lembar pakaian”

“Persetan” geram Bandung Limpat yang sudah mulai kehilangan kesabaran “Cepat turun dari kudamu “Serahkan semuanya yang kau miliki, kemudian tinggalkan kudamu di sini”

“Kenapa kau tidak percaya?, aku benar-benar bukan seorang kaya, sedangkan kudaku itupun tidak dapat aku tinggalkan karena pada suatu saat, kuda itu akan dipergunakan oleh guruku”

“Guru?, jadi kau pernah berguru?” suara Bandung Limpat semakin keras “Itulah yang membuatmu besar kepala, sehingga kau berani menolak permintaan kami yang kami ucapkan secara baik-baik”

“Sebenarnyalah Ki Sanak, tidak ada yang dapat aku berikan kepadamu, aku harus membawa kudaku sampai ke tujuan”

“Persetan” Bentak Sisik Sana “Aku dapat membunuhmu, Kau harus sadari itu”

“Jangan berbuat kasar, sebaiknya kita tidak usah saling memaksa, kuda itu adalah kudaku, dan sudah barang tentu akulah yang paling berhak atasnya”

“Kubunuh kau jika kau mengucapkan satu kalimat lagi”

Panon semakin berdebar-debar, ia sadar, bahwa jika ketiganya memaksakan kehendaknya, maka ia harus menghadapinya dengan kekerasan pula.

Namun karena Panon masih belum memiliki pengalaman sama sekali, maka iapun masih tetap ragu-ragu.

“Jika aku gagal sampai di sini, maka aku adalah murid yang tidak berguna” katanya di dalam hati.

Tetapi ia belum mempunyai gambaran sama sekali, apakah yang mungkin akan terjadi, namun ia sudah bertekad bahwa ia harus dapat mengatasi semua rintangan agar ia dapat melakukan tugas sebaik-baiknya.

Karena itulah, maka iapun segera mempersiapkan diri, dipandanginya di dalam keremangan malam, tiga orang yang berdiri menghadangnya.

“Anak muda” Berkata Bandung Limpat “Jangan memancing kemarahan kami, cepat, sebelum kemi berubah pikiran, pada suatu saat mungkin akan timbul keinginan kami untuk membunuhmu”

Panon tidak dapat berbuat lain. Karena itu, maka iapun segera melompat turun, tetapi sama sekali bukan untuk menyerahkan kudanya, karena ia sama sekali tidak berhasrat untuk berbuat demikian.

Dengan mengendapkan gejolak perasaanya, Panon mencoba bersikap tenang, ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon yang berdiri tegak tidak jauh dari tempatnya.

“Anak setan!!” geram Watu Sampar “Jadi kau akan melawan”

“Tidak Ki Sanak, aku sama sekali tidak akan melakukan kekerasan, seandainya kalian tidak memaksaku untuk mempertahankan kudaku”

“Tutup mulutmu” Bentak Sisik Sana “Sekali lagi kau membuka mulut, aku bunuh kau”

“Kalimat serupa itu sudah kau ucapkan dua kali” jawab Panon yang semakin lama semakin menguasai dirinya “Dan aku tidak akan merubah pendirianku”

Sisik Sana tidak sabar lagi, iapun segera melangkah maju mendekati Panon Suka, dengan wajah yang tegang ia berkata “Aku benar-benar akan membunuhmu”

Panon melihat Sisik Sana sudah bersiap untuk menyerangnya, latihan-latihan yang berat yang dilakukannya selama ia berguru membuatnya bersiaga hampir diluar sadarnya.

Seperti yang diperhitungkannya, maka tiba-tiba sebuah loncatan yang cepat telah menerkamnya, kedua tangan Sisik Sana itu terjulur lurus dengan jari-jari yang terentang merapat, seolah-olah siap untuk menusuk dada Panon.

Bab 12

Tetapi Panon adalah seorang anak muda yang telah mendapat latihan kecepatan yang matang, karena itu, maka dengan gerakan yang sederhana ia berhasil menghindari serangan itu. Bahkan karkena ia masih ragu-ragu menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi, maka iapun langsung menyerang Sisik Sana yang masih belum menemukan keseimbanganya kembali.

Serangan Panon benar-benar tidak terduga, dengan sisi telapak tangannya ia menghantam punggung Sisik Sana dengan kerasnya, sehingga orang itupun terdorong beberapa langkah maju dan kemudian jatuh terlungkup.

Peristiwa yang telah terjadi dalam waktu.yang cepat itu, membuat kedua kawan Sisik Sana termangu-mangu. Mereka hanya memandang saja apa yang telah dilakukan dan kemudian dialami oleh kawannya. Mereka melihat Sisik Sana terdorong oleh pukulan sisi telapak tangan anak muda yang menyebut dirinya bernama Panon itu.

Namun tiba-tiba mata merekapun terbelalak, Panon sendiri menjadi berdebar-debar dan sejenak justru menjadi bingung, orang yang jatuh terlungkup itu sama sekali tidak dapat bergerak lagi, bahkan bernafaspun tidak.

Dengan ragu-ragu Watu Sampar mendekatinya, perlahan-lahan tubuh yang terlungkup itu segera ditelentangkannya, alangkah terkejutnya Watu Sampar melihat Sisik Sana sudah tidak bernafas lagi, dari mulutnya mengalir darah yang membasahi rerumputan.

Ternyata pukulan Panon Suka telah meremukkan tulang belakang Sisik Sana, pukulan yang dilambari oleh ilmu yang luar biasa, tetapi karena belum dilengkapi dengan pengalaman, maka, Panon masih belum dapat mengira-ngira, betapa kuatnya ilmu yang dimilikinya.

“Kau bunuh kawanku” geram Watu Sampar dengan wajah tegang penuh kemarahan.

“Apakah ia benar-benar mati?” bertanya Bandung Limpat.

“Ya, Ia sudah mati, tentu tulang-tulang di punggungnya telah diremukkan oleh pukulan anak gila ini, ia lengah karena ia menganggap lawannya adalah anak-anak yang belum dapat berbuat apa-apa atasnya” Watu Sampar berhenti sejenak, lalu sambil berdiri ia menggeram “Anak muda, kau benar-benar anak gila, agaknya kau memang baru saja keluar dari padepokan, He…!!, kau berguru kepada siapa?”

Panon termangu-mangu sejenak, tiba-tiba saja dari bibirnya terloncat perkataan dengan suara gemetar “Aku tidak sengaja membunuhnya, aku hanya memukul punggungnya, tidak pada tengkuknya, mungkin ia mempunyai penyakit yang dapat membuatnya mati dengan tiba-tiba”

“Gila…!!” teriak Bandung Limpat “Jadi kau masih sempat menghinanya..!! jangan berbangga hati bahwa kau dapat membunuh kawanku dengan sekali pukulan, tentu kau sudah mematahkan tulang belakangnya dan merontokkan jantungnya, tetapi itu bukan karena kelebihanmu, itu semata-mata karena ia lengah dan tidak bersiaga”

“Aku benar-benar tidak sengaja” Panon masih kebingungan, ia baru pertama kalinya mengalami perkelahian dan ternyata ia sudah membunuh.

Tetapi kedua kawan orang yang terbunuh itu tidak menghiraukannya lagi, merekapun segera mempersiapkan diri sambil berkata. “Kau harus mendapat hukuman yang setimpal, kau tidak hanya sekedar mati, tetapi kau akan kami cincang menjadi sayatan kulit dan daging dan akan kami lemparkan kemulut anjing”

Tiba-tiba saja kulit Panon terasa meremang, mengerikan sekali dan sudah barang tentu ia tidak ingin menglaminya.

“Anak Muda” berkata Bandung Limpat “Kau harus berlutut dan minta ampun sebelum aku membunuhmu, caramu minta ampun itupun akan mempengaruhi jalan kematian yang manakah yang kami pilih bagimu”

“Ki Sanak” berkata Panon “Aku benar-benar tidak sengaja membunuh kawanmu, sepanjang umurku sampai saat ini, baru pertama kali inilah aku membunuh orang”

“Cukup, cepat berlutut dan minta ampun”

“Ki Sanak, aku bersedia minta ampun kepadamu, tetapi sudah barang tentu bahwa aku tidak dapat menyerahkan diri untuk dibunuh dengan cara apapun juga, sebaiknya kita akhiri saja salah paham ini, biarkan aku pergi dengan penyesalan, bahwa aku telah membunuh kawanmu tanpa aku sengaja”

“Gila…!, itu adalah suatu sikap akal licik yang paling gila, setelah kau membunuh seorang kawanku, maka kau berusaha untuk menghindakan diri dari tanggung jawab, dengar kelinci dungu, jika kau memang seorang laki-laki, maka kau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu, kau dengar…!!”

Panon menjadi termangu-mangu, ia bimbang akan dirinya sendiri, apakah benar kata orang-orang yang akan merampoknya, bawha jika ia seorang laki-laki, maka ia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya.

“Apakah artinya tanggung-jawab?” pertanyaan itu tumbuh di hati Panon, “Apakah aku harus menerima hukuman karena pembunuhan itu, atau aku harus bertempur secara jantan?”

Panon terkejut ketika tiba-tiba saja Watu Sampar membentak “Cepat lakukan perintah kami”

Namun tiba-tiba terlompat jawaban dari Panon “Maaf Ki Sanak, aku tidak dapat menyerahkan diriku untuk dibantai”

“Cukup, jika demikian kau harus mengalami kematian yang paling mengerikan”

Dalam pada itu, tiba-tiba saja timbul pemikiran di hati Panon, bahwa ia sedang mengemban tugas dari gurunya, ia harus sampai ke padukuhan Karangmaja, ia harus sampai ke istana kecil itu. Masih ada atau tidak, sehingga karena itu, maka dikesampingkannya segenap keragu-raguannya, ia berkata di dalam hati “Aku memang harus bertanggung jawab kepada guru bahwa tugasku harus dapat aku lakukan sebaik-baiknya”

Karena itu, katanya kemudian “Ki Sanak, jika kalian memaksakan kehendak kalian untuk membunuhku, maka betapapun penyesalan melonjak hatiku, namun aku tetap akan mempertahankan hidupku, karena itu adalah hakku

“Persetan…!!” Bandung Limpatpun menggeram, ia benar-benar telah kehilangan kesabaran, selangkah ia maju mendesak, tetapi agaknya, tetapi agaknya ia tidak lagi menjadi korban yang tidak berarti seperti Sisik Sana, karena itu, iapun telah mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya, bahkan iapun kemudian telah menggenggam senjata di tangannya.

Demikian pula Watu Sampar yang berdiri disisi lain, di dekat mayat Sisik Sana, dengan gigi yang bergemeretak oleh kemarahan yang meluap ia menggeser mendekat, seperti Bandung Limpat, maka iapun menggenggam senjata pula di tangannya.

Panon jadi sedikit bimbang, ia harus menghadapi dua orang yang barangkali tidak sebodoh Sisik Sana, apalagi keduanya telah menggenggam senjata ditangan masing-masing, sehingga dengan demikian, maka ia harus melakukan perlawanan yang lebih berat.

Sejenak kemudian Bandung Limpat yang telah dibakar oleh kemarahan itupun segera melangkah mendekat, senjatanya yang menunduk kemudian teracu lurus kepada Panon, sedang senjata Watu Ampar mengarah ke lambung kanannya.

Panon bergeser setapak surut, ia memperhatikan settap gerak dari dua lawannya yang berdiri pada tempat yang berbeda, tetapi kemudian Panon yang kemudian benar-benar yang telah menyadari tugasnya, dengan penuh tanggung jawab menghadapi keduanya dengan hati yang tenang.

Sejenak kemudian terdengar Bandung Limpat menggeram, dan agaknya sekaligus merupakan aba-aba bagi kawannya untuk menyerang bersama-sama.

Demikianlah, serentak dalam kejap mata yang sama, kedua senjata itupun meluncur dari arah berbeda dengan perhitungan yang masak, keduanya telah memperhitungkan arah yang mungkin ditempuh oleh Panon untuk menghindarkan dirinya dari serangan itu.

Ternyata seperti yang mereka duga, bahwa Panon telah meloncat, karena itulah maka serangan berikutnya segera menyusul, senjata Watu Sampar menyerang mendatar sedang Bandung Limpat menusuk sekali lagi mengarah dada.

Gerakan mereka demikian cepatnya, sehingga keduanya yakin bahwa Panon akan dapat dibunuhnya dengan segera, kemudian dicincangnya dan dilemparkannya kepada anjing lapar.

Tetapi mereka terkejut melihat cara Panon menghindari serangan itu, Panon yang pernah berlatih dengan tekun tanpa mengenal lelah, yang pernah berlatih mengindari lontaran batu-batu kerikil dan bahkan percikan air, tidak menjadi bingung, dengan cekatan ia melanting seperti seekor belalang, dengan demikian ia terhindar dari serangan yang mendatar setinggi lambung, namun ia harus menggeliat dan sekaligus meloncat surut menghindar dari serangan yang lain.

Kegagalan mereka untuk kedua kalinya, membuat Watu Sampar dan Bandung Limpat justru menjadi bingung, seolah-olah ia tidak sedang berhadapan dengan seorang anak muda sewajarnya, bahkan tba-tiba terbesit di hati mereka “Apakah yang nampak itu sekedar bayangan dari penunggu hutan ini? Dari seorang jin atau genderuwo yang menjelma, sehingga dengan demikian, maka tubuhnya itu sama sekali tidak dapat disentuh oleh senjata atau segala bentuk kewadagan”

Namun dalam pada itu, Panon telah berdiri tegak beberapa langkah dari keduanya, setelah ia menghindari serangan lawannya yang kemudian justru menjadi termangu-mangu, maka Panonpun mendapat sedikit penilaian atas ilmunya dan ilmu kedua lawannya. Dengan demikiian, Panon menjadi semakin percaya, bahwa jika gurunya memerintahkannya melakukan sesuatu, tentu bukannya tidak beralasan.

“Tetapi guru selalu berpesan, bahkana aku tidak boleh merasa diriku mumpuni, adalah kebetulan sekali bahwa dua orang itu sama sekali tidak mempunyai bekal cukup. Tetapi menurut guru di tlatah Demak, tersebar orang-orang sakti yang pilih tanding, perguruan yang tersebar dari ujung barat sampai ke ujung timur ini telah menghasilkan berpuluh-puluh kesatria, tetapi juga menghasilkan berpuluh-puluh orang yang dibayangi oleh ilmu hitam” Panon bergumam kepada diri sendiri.

Sementara itu kedua lawannya masih tetap ragu-ragu, tetapi merekapun segera mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan, anak muda itu tentu tidak akan tinggal diam, pada saatnya ia tentu akan menyerang.

Seperti mereka duga, Panon telah siap untuk menyerang tetapi ternyata dihati Panon tumbuh sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh kedua lawannya, tiba-tiba saja Panon benar-benar ingin menjajagi kemampuannya sendiri, sebelum pada suatu saat ia berhadapan dengan lawan yang sebenarnya seperti yang pernah dibayangkan oleh gurunya.

Dengan demikian maka Panonlah yang kemudian mengambil sikap terlebih dahulu, dengan hati-hati ia bergeser mendekat.

Tetapi kedua lawannya sama sekali tidak mengetahui, apakah yang sedang dilakukan oleh anak anak muda itu, yang mereka ketahui adalah bahwa anak muda itu tentu akan segera melakukan serangan balasan.

Sebenarnyalah bahwa Panonpun kemudian telah menyerang kedua orang itu dengan gerak yang membingungkan, dalam saat yang bersamaan ia menyerang dua orang sekaligus, padahal kedua lawannya berdiri terpisah, hampir tidak ada selisih waktu sama sekali.

Keduanya terkejut, ternyata anak muda itu memang memiliki kecepatan bergerak yang tidaik dapat mereka bayangkan, karena itulah, maka dengan serta merta mereka mengayunkan senjata mereka untuk mencegah serangan anak muda itu.

Panon melihat gerakan itu, kerena itu, maka iapun dengan cepat pula mengalihkan serangannya, ia sempat menyentuh tanah dengan kakinya, sehingga ia bergeser selangkah, tetapi ketika senjata-senjata itu sudah terayun, akan hampir tidak berjarak waktu, ia sudah meloncat pula, menyerang keduanya yang nampaknya hanya satu gerakan saja.

Kedua lawannya yang menyebut dirinya Bandung Limpat dan Watu Sampar, orang-orang yang menganggap bahwa nama mereka cukup menggetarkan daerah jajahannya, merasa bahwa tubuh mereka yang telah disentuh oleh tangan Panon, hanya disentuh tetapi sentuhan pada punggung dan tengkuk itu rasa-rasanya telah menggetarkan jantung mereka, apalagi ketika mereka mendengar Panon berkata “Nah, aku sudah menyentuh kalian, meskipun aku tidak bersenjata”

“Gila: geram Bandung Limpat. “Apakah kau anak setan?”

Panon berkata sambil meloncat surut “Ki Sanak, apakah kita akan bertempur terus? Aku sudah menyentuh tubuh kalian, tetapi kalian tidak berhasil melukaiku meskipun aku tidak bersenjata, jika kalian tidak menghentikan perkelahian ini, maka aku akan melukai kalian, aku yakin aku dapat menusuk lambung kalian dengan jariku, atau melobangi leher kalian dengan ibu jariku, sekarang apakah keputusan kalian?”

Keduanya lawannya termangu-mangu sejenak, hampir diluar sadarnya mereka berpaling memandang kawannya yang terbujur mati, nampaknya anak muda ini benar-benar tidak sengaja membunuhnya.

“Anak muda ini tentu saja baru keluar dari sebuah perguruan, sehingga ia masih menjajagi ilmunya untuk mendapatkan perbandingan dengan kemampuan orang lain” berkata Bandung Limpat di dalam hatinya “Agaknya ia masih belum yakin, bahwa kemampuannya ternyata melampaui kemampuan kebanyakan orang yang merasa dirinya berilmu sekalipun.

Karena nampakya Bandung Limpat ragu-ragu, maka Watu Sampar menjadi ragu-ragu pula.

“Bagaimana Ki Sanak?” bertanya Panon “Apakah kalian masih akan mencoba kemampuanku lagi?”

Bandung Limpat dan Watu Sampar berpendangan sejenak, tetapi mereka tidak segera menjawab.

“Sudahlah Ki Sanak” Berkata Panon kemudian “Aku tidak melihat gunanya lagi untuk berkelahi, mungkin aku dapat membunuh kalian untuk mengurangi kejahatan di daerah ini, karena dengan kematian kalian, maka tidak ada lagi kejadian perampokan, tetapi aku melihat kemungkinan lain, bahwa kalian berdua akan berhenti sampai disini”

Kedua orang itu masih belum menjawab.

“Ki Sanak” desak Panon “Aku ingin mendengar jawaban kalian, aku adalah manusia biasa, kadang-kadang aku dapat mengendalikan diri dari perasaan ini berhasil diendapkan, tetapi mungkin ada gejolak yang lain di dalam diriku, sehingga aku akan bertindak lebih jauh dari yang aku lakukan sekarang”

Bandung Limpat menelan ludahnya, baru kemudian ia berkata dengan parau “Apa maksudmu sebenarnya anak muda?”

“Aku akan membiarkan kalian berdua tetap hidup, tetapi aku menuntut bahwa hidupmu yang tersisa itu tidak lagi kau pergunakan untuk melakukan lagi kejahatan, jika kau setuju, maka akupun akan segera pergi, karena aku masih akan menempuh perjalanan yang panjang, tetapi jika kalian tidak bersedia menghentikan kegiatan kalian, maka yang paling baik bagiku dan bagi masyarakat adalah membunuhmu”

“Apakau kau dapat mempercayaiku?, tidak ada seorangpun lagi yang dapat percaya kepadaku, bagaimana seandainya aku sekarang menyatakan kesediaanku untuk merubah cara hidupku, tetapi setelah kau pergi, aku telah melupakan janji itu dan tidak menghiraukannya lagi”

“Ternyata kau mempunyai kejujuran juga” sahut Panon “Baiklah jika demikian, maka kau akan kehilangan segala-galanya, harga diri dan kepercayaan mutlak, tetapi lebih dari pada itu, maka kau benar-benar orang yang tidak berarti lagi, karena kalian tidak mampu melihat baik dan buruk secara wajar, kerena sebenarnya kalian tahu yang mana yang baik dan buruk, tetapi kalian tidak mampu memilih”

Istana Yang Suram 9

Kedua orang itu termangu-mangu di tempatnya, yang berdiri di haadapannya adalah anak muda, tetapi nampaknya ia memiliki kajiwan serba sedikit, yang dikatakan itu benar telah menyentuh hati kedua orang yang selama ini seolah-olah tidak lagi mempunyai pegangan hidup.

Sejenak mereka dicengkam oleh kebisuan, kedua orang itu seakan-akan sedang memahami kata-kata yang diucapkan oleh anak muda yang mereka jumpai menjelang dini hari di pinggir hutan yang lebat itu.

Baru sejenak kemudian dengan suara lirih Bandung Limpat berkata “Kau memberi pertimbangan lain didalam hatiku anak muda”

“Terima kasih” Jawab Panon “Aku benar-benar mempercayaimu, justru pertimbangan lain itu adalah permulaan dari jalan lurus yang akan kau pilih”

“Mudah-mudahan aku dapat sampai kesana” desis Bandung Limpat.

“Kau harus yakin kepada dirimu” sahut Panon kemudian “Aku justru yakin kalian akan berhasil”

Watu Sampar yang selama ini berdiam diri sambil menundukkan kepalanya berkata “Memang sudah cukup kematian seorang dari kami bertiga, seharusnya sudah cukup memberikan peringatan kepada kami”

Kata-kata Watu Sampar itu memang sangat menarik perhatian Panon Suka, sehingga iapun kemudian berkata “Aku bangga bahwa kau mempunyai jiwa yang besar, yang melihat kenyataan di depan matamu”

Bandung Limpatpun menyahut “Sudahlah anak muda, peristiwa ini akan selalu kami ingat, kami akan berusaha untuk mengerti, apakah sebenarnya yang telah terjadi pada diri kami, kami berterima kasih, bahwa kami telah bertemu dengan seorang anak muda yang bagi kami adalah suatu peristiwa yang ajaib, aku tidak tahu apakah kau memang memiliki sifat yang aneh, atau kamilah pokok dari peristiwa ini, sehingga kau hanya sekedar merupakan alat untuk memperingatkan kesesatan kami, namun bagaimanapun juga, ternyata aku menemukan sesuatu dari peristiwa yang baru saja terjadi, meskipun seorang dari kawanku harus menjadi tumbal”

“Aku minta maaf” sahut Panon “Aku tidak sengaja”

“Yang mati itu sebenarnya adalah seorang yang seharusnya berjalan di jalan yang lurus, ia adalah putera Ajar Respati, seorang ajar yang tekun, yang mempelajari masalah-masalah jasmaniah dan rohaniah, tetapi anak itu telah sesat jalan”

“Ooo” Panon menarik nafas dalam-dalam, lalu “Jika demikian aku sepantasnya mohon maaf kepada Ki Ajar jika ia masih hidup” Panon berhenti sejenak, lalu “Tetapi aku tidak sempat melakukan sekarang ini, aku harus melakukan suatu perjalanan yang cukup panjang”

“Jika demikian, silahkan kau anak muda melanjutkan perjalanan, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih, dan sudah barang tentu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kami telah mengganggu perjalananmu”

“Kita sudah melakukan kesalahan, kita akan saling memaafkan pula” berkata Panon “Sebenarnyalah aku bahwa aku harus melanjutkan perjalanan”

“Kemanakah sebenarnya kau akan pergi?”

“Aku akan menyelusuri pegunungan Sewu”

“Pegunungan Sewu?”

“Ya, aku akan pergi ke sebuah padukuhan di sela-sela bukit diatas dataran Gunung Sewu itu, apakah kau pernah menjelejahi Gunung Sewu?”

Kedua orang itu mengerutkan keningnya, ada sesuatu yang nampaknya ingin mereka katakan, tetapi mereka ragu-ragu untuk mengatakan.

“Apakah ada sesuatu yang menarik?”

“Tidak anak muda, tetapi jika kau mau melingkar sedikit, maka kau akan sampai ke sebuah padepokan kecil di kaki Gunung Baka ditepi Kali Opak, di padepokan itu tinggal Ki Rancangbandang, ia adalah adik kandung Ki Ajar Respati.”

Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya “Sayang, aku tidak sempat melakukannya, kelak jika aku berhasil melakukan tugasku, maka aku akan singgah ke padepokan kecil tempat tinggal Ki Rancangbandang”

“Anak Muda” berkata Bandung Limpat “Soalnya bukan agar kau memperbincangkan persoalan Sisik Sana, tetapi Ki Rancangbandang agaknya mengetahui, siapa sajakah yang pada saat-saat terakhir telah memanjat naik keatas Gunung Sewu, dan barangkali iapun mengetahui, apakah maksud mereka sebenarnya, atau, barangkali kau juga sudah tahu anak muda, karena perjalananmu juga mempunyai tugas tertentu seperti yang dilakukan oleh orang-orang itu”

Panon termangu-mangu mendengar keterangan itu, tiba-tiba saja ia tertarik pada keterangan Bandung Limpat, jika orang yang bernama Ki Rancangbandang itu dapat memberkan beberapa keterangan, maka ia akan dapat menyesuaikan dirinya, karena menurut keterangan Bandung Limpat, ada beberapa orang yang pada saat terakhir juga menuju ke atas Gunung Sewu.

“Apakah mereka juga sedang berusaha untuk menemukan istana kecil seperti yang dikatakan guru itu?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Dalam keragu-raguan itu Watu Sampar menyambung “Tetapi terserahlah kepadamu anak muda, meskipun barangkali jika, kau dapat singgah akan ada baiknya juga”

“Aku telah melakukan kesalahan, aku telah membunuh Sisik Sana, apakah hal itu tidak akan menjadi perkara, jika pamannya mengetahuinya”

“Agaknya memang mungkin, tetapi jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, aku kira ia tidak akan marah, demikian juga ayahnya, Ki Ajar Respati” berkata Watu Sampar lebih lanjut. Tetapi jika terjadi kesalah-pahaman, maka kau akan mengalami kesulitan, apalagi jika Ki Ajar ada di tempat itu”

“Kenapa?”

“Ki Ajar Respati adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi, tidak banyak orang yang mengetahuinya, karena ia memang lebih senang hidup menyendiri, bercocok tanam dan hidup tenang tanpa banyak sentuhan dengan persoalan-persoalan di luar dunianya yang damai, tetapi jika ia menjadi marah, maka batu sebesar bukitpun akan dapat dihancurkannya dengan tangannya”

“Apakah ia seorang yang sakti?”

“Ya, tanpa diketahui orang lain, ia mempelajari ilmu tanpa guru, dan ia berhasil. Tetapi ternyata ia gagal menjadi seorang ayah yang baik, salah seorang anak laki-lakinya adalah Sisik Sana, ia meninggalkan padepokan ayahnya dan ikut bersama kami”

“Kau murid Ki Ajar Respati?” tiba-tiba Panon bertanya.

Keduanya ragu-ragu, namun kemudian hampir bersamaan keduanya mengangguk “Ya, kami berdua adalah murid Ki Ajar Respati, ternyata kami lebih senang mengikuti jejak sesat dari anaknya dari pada mendengarkan nasehat-nasehatnya”

Panon mengangguk-angguk sejenak, keterangan itu sangat menarik baginya, namun jika ia teringat yang sudah diperhitungkan oleh gurunya, ia menjadi ragu-ragu.

Tetapi masih juga terbersit dihatinya “Jika Kiai Rancangbandang dapat memberikan sedikit keterangan, maka tentu ada juga baiknya” namun kemudian “Asal tidak terjadi salah paham saja atas kematian Sisik Sana”

Dalam kebimbangan itu, Bandung Limpat dan Watu Sampar masih membeku di tempatnya, mereka melihat keragu-raguan di hati Panon Suka, tetapi merekapun tidak dapat memberikan pertimbangan lebih banyak lagi kepadanya.

Tetapi tiba-tiba saja Panon mengambil keputusan untuk singgah sejenak, ia akan mempercepat perjalanannya, menurut arah yang diberitahukan oleh kedua orang itu, kareena menurut mereka Bukit Baka sudah tidak jauh lagi, dari sana ia dapat menyusur ke selatan sampai ke lembah Payung seperti yang telah dibicarakannya dengan gurunya.

“Jika kedatanganku tertunda, maka tidak akan lebih dari setengah hari” katanya di dalam hati.

Demikianlah, maka Panon mengambil keputusan untuk pergi ke Padepokan kecill yang dihuni oleh Kiai Rancangbandang, adik dari Kiai Ajar Respati.

“Tetapi kau harus memberikan penjelesan sebaik-baiknya tentang Sisik Sana:” berkata Bandung Limpat.”Mudah-mudah tidak terjadi salah paham”

“Baiklah, aku memang harus minta maaf kepada orang tuanya atau yang dapat mewakilinya”

Seperti yang ditunjukkan oleh kedua orang itu, maka Panonpun kemudian pergi ke bukit di sebelah timur Kali Opak, ia berpesan kepada Bandung Limpat dan Watu Sampar, agar Sisik Sana dimakamkan sebaik-baiknya, mungkin pada suatu saat keluarganya akan mencarinya.

“Berilah tanda yang jelas” berkata Panon.

“Apakah aku juga akan dapat memberi petunjuk kelak jika diperlukan?” bertanya Bandung Limpat.

“Maksudmu?”

“Meskipun aku memberikan tanda yang jelas, tetapi tanpa aku maka tidak seorangpun yang dapat menemukannya”

“Kaupun harus kembali kepada gurumu, pikirkanlah kemungkinan itu, itu adalah jalan satu-satunya yang dapat kau tempuh untuk menebus jalan sesat yang pernah kau tempuh, justu bersama anak Kiai Ajar Respati itu sendiri”

Keduanya termenung sejenak, lalu Bandung Limpat berkata “Aku akan memikirkannya”

Demikianlah, maka Panonpun telah meninggalkan kedua orang itu dalam keragu-raguan mereka, akhirnya Bandung Limpat berkata “Memang tidak ada pilihan lain, jika dengan demikian kepalaku akan dipenggal oleh guru, aku tidak akan menolak lagi”

Dalam pada itu, Panon telah berada dalam perjalanannya menuju ke padepokan kecil di kaki Gunung Baka, padepokan yang hanya menyimpan beribu-ribu kemungkinan, mungkin Kiai Rancangbandang akan mengucapkan terima kasih kepadanya, bahwa ia telah datang memberikan keterangan tentang kemanakannya yang sesat, tetapi mungkin Kiai Rancangbandang akan membunuhnya, apalagi jika Kiai Ajar Respati benar-benar ada di tempat itu, tetapi kemungkinan yang lain adalah, ia akan mendapatkan banyak keterangan tentang Gunung Sewu dan keadaanya.

Ketika matahari kemudian bertengger diatas cakrawala, maka Panon sudah menjadi dekat dengan bukit kecil itu, sekali ia berhenti memberikan kesempatan kepada kudanya untuk beristirahat, minum dan makan rerumputan, namun sesaat kemudian ia sudah berpacu kembali meneruskan perjalanannya.

Sementara perjalanan semakin mendekati bukit kecil itu, iapun menjadi semakin ragu-ragu, ia mencoba membayangkan, apakah yang akan dijimpainya di padepokan kecil itu.

Tetapi kemudian ia berketepatan hati untuk meneruskan langkahnya, menjumpai orang yang bernama Kiai Rancangbandang.

Panon Suka tidak mengalami kesulitan apapun untuk mencari padepokan kecil itu, ditandai dengan sebuah pintu gerbang kecil yang disisinya tumbuh sebatang pohon kemuning.

Panon Suka memperlambat derap kudanya ketika ia menyusur jalan yang sempit yang langsung menuju ke pintu gerbang itu, memang debar jantungnya terasa semakin menjadi cepat.

Di muka pintu gerbang ia berhenti, perlahan-lahan ia turun melangkah menuntun kudanya mendekati pintu rogol yang terbuka.

“Sepi sekali” katanya dalam hati.

Sebenarnyalah bahwa tidak ada orang yang kebetulan berada di halaman yang cukup luas itu, halaman yang bersih oleh goresan-gorean sapu lidi dari ujung sampai ke ujung, seakan-akan di halaman yang luas itu, tidak selembar daun keringpun yang tertinggal.

Panon menarik nafas, ia ragu-ragu pula untuk masuk, karena di halaman itu sama sekali tidak ada bekas kaki seorangpun, bekas kaki orang yang menyapu halaman itupun tidan nampak, karena agaknya ia melangkah surut ketika ia menggoreskan sapu lidinya.

Tetapi kemudian ia membulatkan tekadnya untuk masuk, ia sama sekali tidak mempunyai niat yang buruk, kedatangannya adalah karena dorongan oleh pengakuannya bahwa ia telah membunuh tanpa sengaja, dan keterangan tentang Gunung Sewu yang barangkali dapat diperolehnya dari Kiai Rancangbandang itu.

Tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika ia melihat dua orang yang tiba-tiba saja muncul dari pintu samping yang menyekat halaman itu dengan halaman samping, yang seorang lebih muda sehingga yang lain adalah seorang yang sudah melampaui pertengahan abad.

Sejenak keduanya termangu-mangu, namun kemudian dengan tergesa-gesa mereka melangkah mendekatinya.

“Marilah anak muda” berkata orang yang sudah tua itu “Silahkan, siapakah yang kau cari?”

Panon mengangguk dalam-dalam, nampaknya orang itu memiliki sesuatu yang membuatnya terasa berwibawa.

“Apakah aku berhadapan dengan Kiai Rancangbandang?”

Orang itupun mengerutkan keningnya, lalu menjawab “Oo bukan anak muda, aku hanyalah seorang tamu saja disini, tetapi Kiai Rancangbandang ada di rumah, marilah, silahkan naik ke pendapa” lalu katanya kepada anak muda di sampingnya “Bawalah ia naik, aku akan memanggil pamanmu”

Anak muda itu mengangguk, ketika orang tua itu kembali masuk ke halaman dalam, maka anak muda itu berkata “Silahkan Ki Sanak, biarlah aku tambatkan kudamu di tiang batang soka itu”

“Terima kasih” jawab Panon “Biarlah aku menambatkannya sendiri”

Setelah menambatkan kudanya, Panon diiringi oleh anak muda iapun naik ke pendapa, dan duduk diatas sebuah tikar pandan putih.

Sejenak kemudian, pintu pringgitan di sisi pendapa itpun terbuka, orang tua yang dijumpainya di regol penyekat halaman itu nampak muncul dari dalam, diiringi oleh seorang yang nampaknya masih lebih muda sedikit dari padanya.

Ketika mereka telah duduk, maka orang yang lebih muda segera bertanya “Apakah benar Ki Sanak mencari aku?, akulah Kiai Rancangbandang penghuni padepokan ini”

Panon menundukkan kepalanya dalam-dalam, menjawab “Benar Kiai, aku memang mencari Kiai”

“Sekarang kita sudah bertemu “kata Kiai Rancangbandang, lalu “Tetapi sebelumnya, siapakah kau anak muda?”

“Aku adalah Panon Suka, aku datang dari jauh, meyelusuri lereng Gunung Merbabu dan Merapi”

“Kau datang dari Gunung Merbabu?”

“Ya Kiai, dan aku sedang dalam perjalanan menuju ke Gunung Sewu”

“Gunung Sewu?” hampir bersamaan kedua orang tua itu mengulang.

Bab 13

Rasa-rasanya ada sesuatu yang mengganjal hati Panon, tetapi ia tidak jadi mengatakannya.

“Angger Panon Suka” berkata Kiai Rancangbandang “Tentu kau mempunyai kepentingan yang besar, bahwa kau akan datang keatas Gunung Sewu, tetapi baiklah, sebelumnya aku ingin memperkenalkan kau dengan tamuku, ia adalah kakakku, namanya Kiai Ajar Respati”

Dada Panon bergetar mendengar nama itu, meskipun sebelumnya ada juga dugaannya, bahwa orang tua itu adalah Ki Ajar Respati.

Untuk sesaat Panon Suka termangu-mangu, dicobanya untuk melihat gambaran sifat dan watak Ki Ajar Respati pada wajahnya, namun yang nampak adalah tatapan mata yang lembut dan bening.

Karena itulah timbul keberaniannya untuk mengatakan hal yang sebenarnya yang telah terjadi dengan anaknya yang bernama Sisik Sana.

“Sebelum aku mengatakan kepada ayahnya, maka hal itu tentu akan selalu menjadi beban perasaanku, sebaliknya aku berterus terang, agar perjalananku kemudian tidak terganggu oleh persoalan yang lain, berkata Panon di dalam hatinya.

Dalam pada itu karena Panon tidak segera menjawab, Kiai Rancangbandang bertanya lebih lanjut “Anakmas, sebenarnya perjalanan keatas Gunung Sewu itu memang sangat menarik, tetapi juga berbahaya” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi baiklah, aku belum mendengar keperluanmu menemui aku”

“Kiai” berkata Panon “Kedatanganku ke Padepokan ini sebenarnyalah bahwa aku ingin mendapatkan beberapa petunjuk agar aku dapat sampai ke tujuan dengan selamat, aku belum pernah naik ke atas Gunung Sewu yang ditebari dengan beberapa ratus puncak bukit, dataran tinggi dan lembah-lembah yang curam, seseorang telah memberitahukan kepadaku agar aku datang kepada Kiai Rancangbandang untuk mendapatkan beberapa petunjuk yang mungkin berguna bagiku, apalagi pada saat-saat terakhir yang menurut pendengaranku, ada beberapa persoalan yang perlu aku ketahui”

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, lalu katanya “Pemberitahuan yang keliru angger, aku tidak banyak mengetahui tentang Gunung Sewu, apalagi aku tidak tahu, apakah maksud perjalanan angger yang sebenarnya”

Panon menjadi termangu-mangu, sudah tentu ia tidak dapat mengatakan maksudnya yang sebenarnya, karena beban yang diletakkan dipundaknya adalah persoalan yang khusus, yang tidak boleh diketahui orang lain.

Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, Kiai Rancangbandang telah bertanya “Anak Muda, siapakah yang menunjukkan kepadamu, agar kau datang kemari untuk mendapatkan beberapa petunjuk tentang Gunung Sewu?”

“Diperjalananku, aku bertemu dengan tiga orang tidak aku kenal, dua diantaranya bernama Wati Sampar dan Bandung Limpat”

“Ha” tiba-tiba Kiai Ajar Respati bergeser setapak, katanya “Anakmas, apakah aku tidak salah dengar?, Watu Sampar dan Bandung Limpat?”

Dada Panon mulai bergejolak, tetapi ia sudah bertekad untuk mengatakan apa yang sebenarnya sudah teradi, maka iapun meneruskannya “Ya, Ki Ajar, Bandung Limpat dan Watu Sampar”

Nampak perubahan pada tatapan mata Ki Ajar Respati, dengan suara yang gelisah iapun bertanya “Angger Panon. Angger tadi mengatakan bahwa angger bertemu dengan tiga orang, yang dua anger sudah menyebutkan namanya, tetapi angger belum mengatakan siapakah yang seorang dari ketiga orang itu?”

Panon menjadi ragu-ragu, tetapi ia tidak berdian diri saja, apalagi ia sudah bertekad untuk mengatakan apa yang pernah terjadi di perjalanannya.

Sejenak ia mengatur pernafasannya yang tiba-tiba saja menjadi semakin cepat mengalir.

“Kiai Ajar” katanya kemudian dengan tersendat-sendat “Sebelumnya aku mohon maaf, juga kepada Kiai Rancangbandang, diluar kemauanku, maka telah terjadi sesuatu yang membuat aku menjadi semakin gelisah”

Ki Ajar Respati, Kiai Rancangbandang dan anak muda yang duduk disamping Ki Ajar itupun menjadi semakin gelisah pula.

Dengan hati-hati Panon menceritakan apa yang sudah dialaminya, pertemuannya dengan tiga orang yang akan merampoknya, kematian salah seorang diantara mereka, yang kebetulan adalah Sisik Sana.

Wajah Ki Ajar dan Kiai Rancangbandang menjadi merah menyala, sejenak mereka membeku ditempat duduknya, namun agaknya Ki Ajar Respati masih mengedepankan perasaannya, ketika anak muda yang duduk di sebelahnya tiba-tiba saja berjongkok sambil menggeram, maka iapun menangkap lenannya sambil berkata “Duduklah Sambi Raga”

“Ia telah membunuh kakakku ayah” berkata anak muda itu “Aku harus membunuhnya, tidak ada hutang yang tidak terbayar”

“Siapakah yang berhutang anakku?”

“Anak muda yang sombong ini, Ia telah membunuh kakakku, dan kini dengan dada tengadah ia sengaja datang menemui ayah dan paman, apakah itu bukan suatu penghinaan?”

“Duduklah, biarlah ia mengatakan, apakah alasannya maka ia datang kemari”

“Tentu ia ingin mengatakan, bahwa ia adalah anak muda yang paling perkasa, ia ingin bertanya kepada kita, apakah kita berani berbuat sesuatu kepadanya”

Ki Ajar Respati memandang Panon dengan tatapan mata yang sayu, perlahan-lahan ia bertanya “Apakah benar begitu anak muda?”

“Tidak Ki Ajar, sungguh tidak”

“Bohong” teriak anak muda itu pula.

“Tenanglah Sambi” berkata Kiai Rancangbandang meskipun suaranya sendiri terasa gemetar.

Sambi Raga memandang Panon dengan tatapan mata yang membara dibakar oleh kemarahan dihatinya, tetapi ia tidak berani melanggar perintah ayah dan pamannya, karena itu maka iapun duduk kembali, betapapun hatinya serasa menjadi hangus.

“Sambi Raga” berkata Ki Ajar Respati “Bukan hanya kau sajalah yang disengat oleh kejutan yang tiada taranya bahwa pada suatu saat, ketika kita sudah berhati-hati, bahkan berpekan-pekan mencari kakakmu yang meninggalkan padepokan, tiba-tiba saja kita mendengar bahwa seseorang telah membunuh kakakkmu itu”

“Lalu, apalagi yang harus kita tunggu?”

“Sambi Raga” berkata Ki Ajar Respati selanjutnya “Sebaiknya kau mendengar dengan baik, tentu anak ini tidak begitu saja membunuh kakakmu”

“Ia dapat mengarang seribu satu cerita, tentang kematian kaka Sisik Sana”

“Jika ia datang dengan kesombongan yang mewarnai dadanya, ia tidak perlu mengarang seribu macam alasan, ia akan datang dan mengatakan bahwa Sisik Sana telah dibunuhnya” Ki Ajar Respati terdiam sejenak, lalu “Tetapi kita tidak dapat berpura-pura menghadapi persoalan ini, kita mengenal tabiat Sisik Sana itu sebaik-baiknya, bukankah kau juga watak dan sifat kakakmu?”

Sambi Raga menunddukkan kepalanya, ia tidak dapat menjawab lagi, sebenarnyalah bahwa ia mengetahui dengan pasti, apakah yang sudah terjadi, anak muda yang bernama Panon itu tentu tidak berbohong.

Meskipun demikian, kematian kakaknya benar-benar telah mengguncang dadanya, betapapun buruk watak dan sifatnya, tetapi Sisik Sana adalah kakaknya.

Tetapi agaknya ayahnya bersikap lain.

“Angger Panon” berkata Ki Ajar Respati “Aku tidak dapat menyebut dengan kata-kata yang manapun juga, betapa sedihnya aku mendengar kabar tentang kematian anakku itu, tetapi pengakuan anakmas yang jujur, membuat hatiku luluh, aku tidak dapat marah dan meyalahkanmu, agaknya semuanya itu adalah lantaran belaka, hukuman bagi anakku sudah masanya datang, dan Yang Maha Adil mempergunakan tangan anakmas untuk menjatuhkan hukuman mati baginya”

Panonpun kemudian menundukkan kepalanya, sesuatu terasa menyumbat kerongkongannya, sehingga ia tidak dapat menyahut.

“Sudahlah berkata Ki Ajar Respati “Kita tidak mau terlibat dalam salah paham lagi, besok aku ingin segera menemukan mayat anakku dan menguburkannya di padukuhan ini”

“Watu Sampar dan Bandung Limpat memberikan tanda pada kuburannya”

“Bukankah kau tidak berkeberatan untuk menemukan kuburan itu anakmas?”

Panon menjadi ragu-ragu, jika demikian, maka ia akan terlambat lebih dari setengah hari, mungkin sehari atau bahkan lebih.

Ki Ajar Respati melihat keraguan itu, karena maka iapun bertanya “Apakah ada sesuatu yang meragukan?”

:Tidak Ki Ajar, sebenarnya menjadi kewajibanku untuk mengantar Ki Ajar menemukan kuburan itu, tetapi bukan akulah yang menguburkannya, dan bukan akulah yang memberi tanda pada kuburan itu, sehingga akupun tidak mengetahui dengan pasti dimanakah letaknya”

“Jadi siapa?”

“Watu Sampar dan Bandung Limpat yang agaknya mulai ditumbuhi oleh penyesalan, pada suatu saat mereka tentu akan kembali kepada Ki Ajar”

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, lalu “Tetapi apakah kau dapat menunjukkan kepadaku, dimanakah kau bertempur melawan ketiga orang itu Anak muda?”

Panon termangu-mangu sejenak, lalu “Ya, ya Kiai, tentu aku dapat menunjukkan tempat itu kepada Kiai, tetapi…………”

“Tetapi apa?”

“Kiai, aku sebenarnya ingin mendapat beberapa petunjuk mengenai jalan ke Gunung Sewu, apakah yang harus aku hindari dan apakah yang harus aku tempuh”

Kiai Rancangbandang yang menjawab “Tidak banyak yang kami ketahui tentang pegunungan itu anakmas, yang aku ketahui hanyalah bukit-bukit yang membujur dari barat ke timur, seperti cerita orang tua bahwa dewa-dewa yang melihat pulau ini tidak seimbang dan miring ke barat, telah membawa berjuta-juta pikul tanah menuju timur, tetapi tanah itu berguguran di sepanjang pinggir selatan dari pulau ini, sehingga terjadilah pegunungan ini”

Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya “Bukan itulah yang aku maksud Kiai, tetapi keadaan pegunungan itu sekarang, tentang orang-orang yang menurut pendengaranku telah berdatangan”

“Seperti juga anakmas akan naik ke pegunungan ini?”

Panon terdiam, kepalanya tertunduk, memang sulit baginya untuk mendapat penjelasan dari Kiai Rancangbandang, karena ia sendiri tidak dapat mengatakan kepentingannya naik ke pegunungan itu.

Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam, katanya di dalam hati “Baiklah jika aku tidak mendapat keterangan apapun tentang gunung itu, tetapi aku sudah mengurangi beban di hatiku akibat terbunuhnya Sisik Sana, untunglah bahwa ayahnya dapat mengerti”

Dalam pada itu, Kiai Rancangbandang kemudian berkata “Anakmas, Gunung Sewu adalah pegunungan yang diselimuti oleh kabut rahasia, tidak banyak orang yang mengetahui dengan pasti, karena itu, jika tidak penting benar, sebaiknya kau tidak usah pergi naik keatas Gunung Sewu itu, meskipun seandainya kau memiliki ilmu rangkap tujuh, dan berperisai baja di dadamu, namun tidak akan banyak manfaatnya, kareena itu adalah daerah yang berbatu-batu saja tanpa memberikan apapun kepada anakmas, jika anakmas sudah sampai keseribu puncak diatas pegunungan itu.

Panon menarik keningnya, tetapi Ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Respati berkata “Adi Rancangbandang, jika anakmas Panon memang sudah bertekad untuk memanjat tebing Gunung Sewu, maka kita tidak dapat mencegahnya kita hanya dapat memberikan beberapa petunjuk tentang kekerasan alam yang kita ketahui saja kepadanya, biarlah ia bermalam semalam sebelum besok ia akan mengantarkan kita ke bekas perkelahian yang telah menyebabkan Sisik Sana terbunuh, kemudian kita lepaskan anakmas pergi mendaki Gunung Sewu.

Karena Panon tidak segera menjawab, maka Ki Ajarpun kemudian bertanya “Bagaimana anakmas?, apakah kau tidak keberatan?”

Panon bergeser setapak, lalu “Maaf Ki Ajar, bukan maksudku hendak ingkar, tetapi jika Ki Ajar menghendaki, baiklah, sekarang aku mengantarkan Ki Ajar ketempat perkelahian itu”

“Kenapa sekarang?”

“Aku harus meneruskan perjalananku”

“Demikian pentingnya, sehingga kau harus tergesa-gesa?”

Panon tidak segera menjawab, sekali lagi ia menjadi bingung. Tetapi agaknya Ki Ajar mengetahui keadaannya, karena itu maka katanya “Baiklah anakmas, bila kita akan pergi sekarang, agaknya setelah menunjukkan tempat itu, anakmas akan langsung pergi mendaki Gunung Sewu, meskipun dengan demikian anakmas telah membuang waktu hampir setengah hari. Anakmas, sudah melingkar jalan dan singgah kemari, mungkin anakmas bermaksud mengambil jalan di sebelah bukit ini, menyusur Kali Opak ke selatan menuju lembah Payung”

“Ya, Ki Ajar”

“Tetapi anakmas harus kembali ke tempat anakku terbunuh”

“Jika itu dapat mengurangi kesalahanku, aku akan bersedia melakukannya”

Ki Ajar menarik nafas dalam, katanya kemudian “Marilah adi Rancangbandang, kita bersiap-siap pergi mengikuti anakmas Panon”

Kiai Rancangbandang agak ragu-ragu sejenak, namun iapun kemudian mengangguk “Baiklah kakang”

“Aku juga akan pergi” berkata anak muda yang selama ini berdiam diri di sisi Ki Ajar Respati.

“Sambi Raga” berkata Ki Ajar Respati “Jika aku dan pamanmu pergi bersama, maka sebaiknya kau tinggal di rumah, jika kau ikut pergi, maka rumah pamanmu akan kosong, selain para pembantu saja”

Sambi Raga termangu-mangu, tetapi ia tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada ayahnya.

Demikianlah, Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang segera masuk ke ruang dalam, Sambi Raga yang tidak lagi dapat bersikap baik kepada Panon, mengikuti pula, baginya meninggalkan anak muda itu tentu akan lebih baik dari pada duduk bersama, agar tidak timbul salah paham.

Sejenak kemudian Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandangpun telah siap pula, mereka langsung pergi ke halaman sambil menuntun kuda masing-masing.

“Marilah anakmas” ajak Kiai Rancangbandang.

Panonpun segera turun dari pendapa dan mengambil kudanya.

“Sebenarnya kami tidak ingin menghambat perjalanan anakmas” berkata Ki Ajar Respati “Anakku telah memperlambat perjalanan anakmas dengan tindakannya yang bodoh, sekarang kami yang tua-tua inipun telah menghambat pula”

“Tidak apa Ki Ajar” jawab Panon “Akulah yang telah melakukan kesalahan”

Demikianlah merekapun kemudian meninggalkan padepokan kecil itu, Panon menempuh arah kembali ke tempat ia bertempur melawan Sisik Sana dan kedua kawannya.

Mudah-mudahan mereka masih berada di sekitar tempat itu dan bersedia menjadi saksi bahwa aku tidak bersalah, agaknya hal itu akan menjadi semakin baik, apalagi jika kemudian merekapun menyatakan penyesalan atas tingkah lakunya sehingga menjerumuskan Sisik Sana yang tidak berarti sama sekali.

Diperjalanan, mereka bertiga hampir tidak berbicara sama sekali, terdorong oleh keinginannya untuk segera meneruskan perjalanan kepegunungan seribu, maka Panon yang berjalan di paling depanpun rasa-rasanya semakin lama semakin cepat.

Akhirnya merekapun sampai ke tempat yang mereka tuju, dengan ragu-ragu Panon menarik kendali kudanya dan kemudian menghentikannya sama sekali.

“Ki Ajar” berkata Panon dengan suara yang sendat “Disinilah peristiwa itu terjadi”

Ki Ajar dan Kiai Rancangbandang segera meloncat turun, sebagai seorang yang berpengalaman luas, merekapun melihat bekas pertempuran yang tidak begitu seru, perkelahian yang agaknya terlampau cepat selesai.

“Aku kira Watu Sampar dan Bandung Limpat menguburkan Sisik Sana tidak jauh dari tempat ini” berkata Panon yang telah meloncat turun pula dari kudanya.

Sejenak Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang termangu-mangu memandang sekeliling, seolah-olah memang ada yang dicarinya.

“Angger Panon” berkata Ki Ajar Respati kemudian “Apakah kau yakin bahwa pada suatu saat Watu Ampar dan Bandung Limpat akan kembali kepadaku?”

“Aku harap demikian Ki Ajar”

“Dan kau yakin bahwa mereka berdua telah menguburkan anakku sebaik-baiknya?”

“Ya, Ki Ajar”

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, sementara Panon termangu-mangu memandangnya, ketika Ki Ajar itu menambatkan kudanya pada sebatang pohon, demikian pula dilakukan oleh Kiai Rancangbandang.

Tiba-tiba saja Panon menjadi berdebar-debar ketika ia melihat wajah Ki Ajar Respati yang berubah, meskipun Ki Ajar Respati itu masih tetap tersenyum, namun senyumnya rasa-rasanya telah jauh berbeda, apalagi ketika orang tua itu berkata “Disinilah anakku kau bunuh anakmas, aku tidak sampai hati membiarkannya ia berkubur seorang diri di tengah-tengah hutan ini, daripada aku memindahkan kuburnya, agaknya lebih baik bagiku untuk memberikan seorang atau dua atau tiga orang kawan untuk menemaninya.

Panon termangu-mangu, tetapi ia menjadi tegang.

“Tambatkan kudamu” berkata Ki Ajar Respati.

“Aku tidak mengerti maksud Ki Ajar”

“Tambatkan kudamu, karena aku memerlukan kau, kau telah membunuh anakku di sini, sekarang kaupun harus mati dan dikuburkan disini pula”

Dada Panon bergetar mendengar kata-kata itu, ia benar-benar tidak menyangka bahwa yang akan terjadi adalah demikian, ia menyangka bahwa orang yang bernama Ki Ajar Respati dan adiknya adalah orang yang berjiwa besar, berjiwa ksatria dan mulia, orang yang dapat mengerti bahwa anaknyalah yang bersalah.

“Panon Suka” berkata Ki Ajar Respati kemudian “Memang tidak menyenangkan untuk mati sebelum tugas yang dibebankan oleh gurunya dapat diselesaikan, tetapi kau adalah orang yang tidak tahu akan diri, kau belum melakukan apapun juga yang menyangkut tugas yang berat bagimu, tetapi disepanjang jalan kau telah mencari musuh, akibatnya kau akan meneyesal karena kau adalah murid yang paling buruk yang pernah aku ketahui dari seorang guru yang mungkin cukup baik”

“Ki Ajar” berkata Panon “Apakah artinya semuanya ini?”

“Artinya, aku akan menuntut balas kematian anakku, benar kata Sambi Raga, setiap hutang harus dibayar, dan kaupun harus membayar hutangmu, Hutang jiwa, Sisik Sana adalah anakku yang aku banggakan, ternyata ia telah kau bunuh disini”

Panon menjadi semakin tegang.

“Nah, cepat, bersiaplah untuk mati, atau barangkali kau ingin meninggalkan pesan?”

Dada Panon Suka benar-benar telah tergetar, sejenak ia berdiri termangu-mangu memandang Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang berganti-ganti.

“Cepat” bentak Ki Ajar Respati “Katakan yang ingin kau katakan”

Panon Suka menjadi gemetar, berbagai perasaan bercampur baur di dalam hatinya, sejenak ia ragu-ragu, perasaan bersalah memang menyelinap di dalam hatinya, tetapi sejenak kemudian ia merasa bertanggung-jawab untuk menjalankan tugas gurunya, tugas yang amat penting.

Dalam kebimbangan itu ia mendengar Ki Ajar Respati membentaknya sekali lagi “He, anak muda yang cengeng, jangan menyesali nasibmu yang malang, cepat, apakah yang akan kau pesankan?, barangkali kepada gurumu atau kepada orang tuamu?, atau barangkali kau ingin aku membunuh gurumu pula?”

Kata-kata itu benar-benar telah membakar hati anak muda itu, betapapun ia mencoba menguasai diri, tetapi penghinaan terhadap gurunya benar-benar telah membangunkannya dari berbagai macam kebimbangan.

Akhirnya anak muda itu berkata “Ki Ajar Respati, semula aku kagum atas kebesaran jiwa Ki Ajar, Ki Ajar aku anggap benar-benar orang yang dapat menempatkan diri dalam pilihan yang mampu menimbang baik dan buruk, salah dan benar, aku berbangga bahwa di dunia ini ada seoerang yang melihat kebenaran dan menerimanya dengan dada terbuka, meskipun maut telah merenggut jiwa anaknya, tetapi ternyata, aku salah, yang aku hadapi adalah manusia kebanyakan, manusia biasa seperti yang aku jumpai di jalan-jalan, di pematang-pematang, di pasar-pasar dan di lingkungan masyarakat biasa, semua akan menjadi marah, dendam dan kehilangan akal, jika anaknya terbunuh, apapun sebabnya, dan Ki Ajarpun berbuat seperti itu, bukan seorang yang waskita dan bijaksana”

Wajah Ki Ajar Respati menjadi merah, sebuah tarikan nafas yang dalam nampak lewat di lubang hidungnya, sementara Kiai Rancangbandang justru menundukkan kepalanya.

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Respatipun menggeretakkan giginya sambil berkata “Setiap orang akan berusaha membela dan mempertahankan hidupnya, seperti setiap orang, yang marah dan mendendam karena anaknya dibunuh orang, agaknya kaupun berbuat seperti itu. Seperti yang kau katakan, tidak ubahnya dengan orang-orang kebanyakan, kaupun telah berbuat licik dan mencari jalan keselamatan dengan cara yang sangat memalukan, bukankah kau pernah berguru?, jika kau sayang akan nyawamu, kenapa kau tidak menarik senjatamu dan mempertahankan hidupmu dengan jantan, bukan merengek dengan menyentuh perasaan belas kasihan orang lain”

Darah Panon yang masih muda tiba-tiba menggelegak, ia sudah dilanda kemarahan, namun menghadapi sikap Ki Ajar Respati, maka kesabarannya itu rasa-rasanya menjadi luntur.

Karena itu, maka Panonpun kemudian mengadahkan dadanya sambil berkata “Ki Ajar, aku hormati kau sebagai seorang yang lebih tua, bahkan sebagai ayah dan guruku, tetapi jika kau masih tetap tidak melihat kebenaran, maka apa boleh buat, aku bukan orang memiliki kelebihan dari orang lain, juga aku adalah orang biasa yang berusaha mempertahankan hidupku, itulah alasanku yang terutama kenapa aku membunuh anakmu, karena itu jika sekarang hidupku terancam, maka akupun akan mempertahankannya sampai kemampuanku yang terakhir, jika aku mati dalam perjuanganku mempertahankan hidupku, maka guru tidak akan menyalahkan aku, karena aku gagal menjalankan tugasku”

“Bagus, itu adalah kata-kata ksatria” sahut Ki Ajar Respati. “Karena itu bersiaplah, kau akan mati sebagai lagi-laki, seperti juga anakku mati sebagai laki-laki, tetapi perlawananmu akan mempersulit jalan kematianmu”

“Aku tidak perduli” sahut Panon yang kehilangan kesabarannya.

Sejenak kemudian, maka Ki Ajar masih berdiri sambil bertolak pinggang memandangi anak muda itu, namun kemudian iapun melangkah maju sambil berkata “Sebutlah nama orang tua dan gurumu itu di saat-saat kematianmu”

Panon tidak sempat menjawab, tiba-tiba saja ia melihat Ki Ajar telah meloncat menyerangnya, tangannya terjulur lurus mengarah ke dadanya dengan jari-jari yang terentang merapat siap untuk menyobek dadanya.

Panon berdesis melihat serangan itu, ia teringat pada serangan Sisik Sana dengan cara yang sama seperti yang dilakukan ayahnya, tetapi serangan Ki Ajar dibarengi dengan deru angin yang deras, sederas tata gerak yang menggetarkan jantung lawannya”

Tetapi Panon benar-benar telah bersiap, ia sadar bahwa tentu Ki Ajar Respati tidak akan melakukan kesalahan seperti Sisik Sana, apalagi serangan didasari dengan dendam dan kebencian yang menyala dihati orang tua itu.

Dengan sigapnya Panon menghindar, ia tidak berani mencoba-coba lagi, itulah sebabnya, maka demikian serangan itu meluncur sejengkal di depan dadanya, maka iapun segera melakukan serangan balasan, ia berputar pada tumitnya, melintangkan kakinya, kemudian dengan gerak yang cepat ia memburu kearah yang sama sambil melontarkan serangan dengan kakinya.

Benar-benar serangan yang tidak terduga, itulah sebabnya Ki Ajar Respati mengerutkan keningnya, ia hanya bertindak cepat, karena itu iapun segera memutar tubuhnya, merendah pada lututnya dan melindungi lambungnya dengan sikunya.

Yang terjadi adalah benturan yang dahsyat, serangan Panon yang tiba-tiba itu telah membentur pertahanan Ki Ajar Respati sehingga keduanya telah terguncang.

Kiai Rancangbandang melihat benturan itu dengan hati yang tergetar, Panon adalah anak muda yang sebenarnya masih sangat belia untuk melawan Ki Ajar Respati, jika keduanya benar-benar telah membenturkan segenap kekuatannya, maka diluar sadarnya ia mencemaskan anak muda itu.

Tetapi yang dilihatnya adalah berbeda dengan yang dicemaskannya, ia melihat Panon tergetar surut satu langkah, namun ia juga melihat Ki Ajar Respati terpaksa terdesak mundur pula.

“Luar biasa” Kiai Rancangbandang berdesis.

Sementara itu ternyata Panon telah mempersiapkan dirinya untuk menyerang, tetapi dalam saat yang bersamaan serangan Ki Ajar Respati telah mendahuluinya, cepat dan benar-benar terarah pada bagian yang berbahaya, jari-jari yang mengembang rapat itu terjulur ke lehernya.

Panon dengan cekatan bergeser kesamping sambil mencondongkan tubuhnya, kemudian dengan tangannya ia langsung menghantam lawannya, tetapi lawannya sempat menggeliat dan berputar seperti pusaran, bahkan kemudian melintang dengan kaki terjulur lurus ke dada Panon.

Serangan ituun begitu tiba-tiba, sehingga Panon hanya menyilangkan kedua tangan di dadanya, dengan demikian maka sekali lagi terjadi benturan antara kedua kekuatan itu, dan sekali lagi mereka tergetar surut.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru, sekali-sekali salah satu pihak terlambat menghindar serangan lawannya, sehingga terlempar beberapa langkah, namun kedua-duanya seakan-akan memiliki kemampuan melenting seperti belalang, demikian mereka jatuh berguling, demikian mereka bangkit kembali.

Agaknya Ki Ajar Respati tidak mau memberi kesempatan sama sekali kepada anak muda itu, tetapi dengan demikian ia justru menjadi seolah-olah tergesa-gesa. Ketika serangannya gagal, maka Ki Ajar masih memburu dengan serangan keduanya, kakinya terjulur lurus, sehingga orang tua itu bagaikan meluncur dalam garis datar, namun Panon tidak membiarkan kepalanya terlepas karena serangan yang dahsyat itu, ia merendah sedikit, namun ia masih sempat menyambar kaki lawannya dan dengan mempergunakan kekuatan Ki Ajar sendiri, Panon melemparkannya dengan derasnya.

Ki Ajar agaknya telah kehilangan keseimbangan, ketika ia terjatuh ditanah, ia tidak dapat langsung berdiri, sekali ia terguling, tetapi sebelum ia sempat memperbaiki keadaanya, rasa-rasanya Panonlah yang kemudian terbang menerkamnya.

Ki Ajar Respati justru tetap pada keadaannya, sambil menelentang dengan kakinya, ia menyerang Panon yang sedang meluncur dengan kedua tangannya yang terjulur tepat ke lehernya.

Sentuhan kaki Ki Ajar yang dilambari dengan kekuatan yang luar biasa itu telah melemparkan Panon keudara, tetapi Panon tidak menjadi bingung dan kehilangan akal, sekali ia berputar dan ketika ia jatuh ke tanah, maka ia telah berdiri pada kedua kakinya yang kokoh.

Namun pada itu, Ki Ajar Respatipun telah berdiri pula, siap untuk menyerangnya.

Sekejap Panon berdiri termangu, Ia sudah mulai bertempur tanpa pertimbangan lagi, selain mempertahankan hidupnya, apapun yang akan terjadi, sama sekali sudah tidak dipertimbangkannya lagi, ia tidak mau mati sebelum ia menunaikan tugasnya, atau setelah ia berjuang dengan segenap kemampuan dari ilmu yang pernah diterimanya.

Ilmu yang sebenarnya belum pernah dipergunakan dalam pertempuran yang sebenarnya, antara hidup dan mati, bahkan yang dilakukannya dipadepokannya, di tempat terpencil di lereng Gunung Merbabu adalah sekedar latihan-latihan yang seakan-akan hanya seorang diri.

Kini menghadapi seorang yang memiliki ilmu yang mumpuni yang sedang menuntut kematian anaknya yang dibunuhnya tanpa sengaja.

Tetapi Ki Ajar Respati tidak segera menyerangnya, meskipun matanya masih tetap membara, ia masih tetap berdiri di tempatnya.

Namun sejenak kemudian terdengar diantara desah nafas orang tua itu, berkata “Panon, kau memang memiliki kemampuan dan ilmu gerak yang mengagumkan, kau mempunyai kecepatan bergerak jauh melampaui dugaanku, tetapi dalam benturan ilmu, bukan semata-mata ilmu geraklah yang menentukan, aku mempunyai ilmu yang dapat membuat kau luluh menjadi debu”

Panon masih tetap bersiaga sepenuhnya, sambil bergeser setapak ia menjawab “Apapun yang akan Ki Ajar lakukan, aku tidak akan lari”

“Bagus, tetapi sebelum aku membenturkan ilmu keatas kepalamu, aku ingin menunjukkan kepadamu, bahwa ilmu yang bagaikan sekedar ceritera khayal itu memang ada”

Panon tidak menjawab, tetapi ia termangu-mangu ketika ia melihat Ki Ajar Respati memandang sekeliling kearah batu-batu padas yang berserakan.

“Lihat, hai anak muda yang sombong” ia berteriak lantang “Kau akan pingsan melihat kemampuanku mempergunakan kekuatan cadangan”

Panon mengerti, bahwa Ki Ajar Respati akan mempergunakan kekuatannya, namun Panon sama sekali tidak menjadi gentar, bahkan tiba-tiba iapun mempersiapkan dirinya, membangunkan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya, kekuatan cadangan yang jarang nampak pada permukaan tingkah laku dan tindak tanduknya sehari-hari.

Bab 14

Sejenak Panon menunggu, yang dilihatnya kemudian benar-benar menakjubkan, Ki Ajar Respati berteriak sambil meloncat menghantam sebuah batu padas yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Akibatnya benar-benar menakjubkan, batu padas itupun pecah berantakan.

Tetapi belum lagi pecahan batu-batu padas yang berhamburan itu terserak seluruhnya, sekali lagi terdengar gemeretak gigi dan benturan yang tidak kalah dahsyatnya, sebongkah lagi batu padas pecah berserakan pula menjadi debu, segumpal asap yang putih mengepul diantara debu yang berhamburan.

“Luar biasa” terdengar Kiai Rancangbandang berdesis kepada diri sendiri, bahkan Ki Ajar Respatipun justru berdiri termangu-mangu untuk beberapa saat. Ia menyaksikan kepulan asap dan debu yang hanyut didorong oleh angin yang lembut dengan hati yang berdebar-debar.

Ternyata, sesaat setelah Ki Ajar Respati menunjukkan kekuatan yang ada di dalam dirinya, maka Panonpun telah melakukan hal yang sama, ternyata iapun berhasil memecahkan batu padas seperti yang dilakukan Ki Ajar Respati.

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam, tiba-tiba saja wajahnya yang tegang itupun rasa-rasanya menjadi luluh dan lembut, dengan suara datar ia berkata “Sangat mengagumkan anakmas, ternyata kau memiliki kemampuan yang tiada taranya, jauh diluar dugaanku”

Panon masih tetap bersikap hati-hati meskipun Ki Ajar Respati nampaknya tidak bersiap untuk menyerangnya.

“Ki Ajar” berkata Panon “Aku sudah siap untuk melakukan apa saja untuk membela hidupku dan demi tugas yang dibebankan kepadaku”

“Tidak ngger, kau tidak perlu berbuat apa-apa lagi”

“Aku tidak mengerti maksudmu, apakah Ki Ajar menunggu aku menjadi lengah dan menghantam punggungku dengan tiba-tiba selagi aku tidak menyangka?”

“Tentu bukan begitu ngger”

“Ki Ajar, aku sudah kehilangan kepercayaan kepadamu, jika kau tidak melihat bahwa kemampuanku tidak kalah dari apa yang dapat kau lakukan, maka kau tentu akan bersikap lain”

Wajah Ki Ajar menegang pula sejenak, lalu “Anakmas, kenapa pandangan anakmas menjadi sedemikian pendeknya?”

“Ki Ajar, kau tidak akan dapat berpura-pura lagi, kau tidak perlu menunggu, kapan kau akan mencari kesempatan lagi untuk membunuhku”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam, ketika ia memandang Ki Rancangbandang, maka dilihatnya Ki Rancangbandang mengerutkan keningnya sambil berkata “Jangan salah mengerti anakmas, sebenarnyalah kami tidak bermaksud buruk kepadamu”

Sekarang kau dapat berkata begitu, tetapi apakah yang akan kau katakana jika mayatku telah tergolek disini?”

“Tentu tidak akan sampai sedemikian jauh anakmas”

“Aku tidak percaya, jangan berbuat licik”

Sejenak Ki Ajar Respati termangu-mangu dan dengan wajah yang muram ia berkata kepada adiknya “Apakah yang aku lakukan sudah terlampau jauh”

Kiai Rancangbandang memandang Panon sejenak, ada sesuatu yang terpancar pada sorot matanya, dengan nada yang dalam ia berkata “Aku sudah memperhitungkan akibat ini”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, namun kemudian ia melangkah mendekati Panon sambil berkata “Anakmas, adalah wajar sekali, bahwa anakmas yang masih muda itu telah kehilangan kepercayaan kepada kami yang tua-tua, apalagi alasanku untuk perkelahian itupun sangat mendasar, karena aku telah kehilangan anakku” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi jika masih ada sisa kepercayaanmu kepadaku, dengarlah, aku bermaksud baik, aku benar-benar telah mengikhlaskan anakku yang telah sesat jalan, jika aku memaksakan perkelahian ini, semata-mata karena kebimbanganku terhadap kemampuanmu”

“Kenapa Ki Ajar membimbangkan kemampuanku?, dan untuk apa?”

“Angger Panon, bukankah angger akan pergi ke Gunung Sewu?”

“Ya”

“Aku yakin bahwa angger tidak menyadari apakah yang ada disalah satu puncak Gunung itu, menurut perhitunganku angger tentu akan pergi ke Karangmaja, mengunjungi Istana yang suram itu”

“Kenapa Ki Ajar memperhitungkan demikian?”

“Tidak ada yang menarik diatas Gunung itu, selain sebuah istana kecil milik Pangeran Kuda Narpada yang telah ditinggalkannya beberapa lamanya”

Panon tidak menjawab, rasa-rasanya orang tua itu dapat menebak dengan tepat.

“Tetapi ketahuilah anakmas, bahwa istana kecil yang suram itu, ternyata telah menarik banyak perhatian, perhatian orang-orang sakti yang pilih tanding” ia berhenti sejenak, lalu “Itulah sebabnya aku menjadi sangsi, apakah kepergianmu kesalah satu puncak bukit itu, bukan sekedar untuk membunuh diri dengan sia-sia, jika kau jatuh ke tangan siapapun yang kini berada di puncak yang sangat menarik perhatian itu, maka akibatnya akan menjadi sangat parah. Ternyata kau adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu yang mumpuni, karena itu, maka aku tidak menjadi sangsi lagi, bahwa kaupun pantas mendaki pegunungan itu”

Panon mengangguk-angguk jenenak, ia melihat kejujuran di mata Ki Ajar Respati, namun demikian, ia masih belum dapat menghapuskan perasaan curiganya, karena itu, maka iapun kemudian berkata “Apakah kau tidak sekedar menjebak aku?”

“Kenapa aku harus menjebakmu?” bertanya Ki Ajar, “Jika aku benar-benar ingin membunuhmu, aku masih mempunyai satu kesempatan meskipun licik, bukankah adikku dapat membantu jika aku memang ingin membunuhmu”

Panon Suka memandang Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang berganti-ganti, tetapi kecurigaan terhadap keduanya masih tetap memancar pada sorot matanya, kemudian ia berkata “Apakah aku masih dapat membangunkan kepercayaanku lagi? Ki Ajar, apa yang terjadi adalah suatu kejutan yang tidak akan dapat dengan mudah aku lupakan”

“Aku mengerti anakmas, tetapi ketahuilah, jika aku masih juga mendendam dan benar-benar ingin membunuhmu, maka aku tentu akan membawa siapa saja yang akan dapat membantuku, jika karena kesombonganku, aku yakin akan dapat melakukannya, seperti dalam keadaan ini, maka aku akan memberikan isyarat kepada adikku, Kiai Rancangbandang, sebenarnya bahwa adikku, Rancangbandang memiliki ilmu yang lebih sempurna dari padaku, bahkan ilmuku itupun bukan ilmu yang baik, karena aku menyusunnya sendiri. Sesuai dengan pengenelaku atas alam sekitarku, aku berbeda dengan adikku Rancangbandang, setelah ia bersamaku mempelejari ilmu yang kalang kabut, ia masih menemui bukan hanya seorang yang dapat menyempurnakan ilmunya, tetapi dua orang kakak beradik pula, itulah sebabnya, maka ilmunya menjadi lebih sempurna dan teratur. Dengan demikian kau akan dapat mempertimbangkan, bahwa meskipun kau mempunyai kelebihan karena kau tenaga muda, maka kau tentu masih harus membuat perhitungan tersendiri jika kau harus menghadapi kami berdua”

Panon termangu-mangu sejenak, tetapi kemudian ia yang justru menjawab “Apapun yang akan terjadi, aku tidak pernah menyesal selama aku tetap merasa berjalan diatas jalan yang benar menurut keyakinanku atas petunjuk dan didasari nasehat guruku”

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, namun dalam pada itu Kiai Rancangbandang yang menyahut “Angger Panon Suka, tentu saja yang pertama-tama kami harus minta maaf, penilaian angger terhadap kami memang dapat kami mengerti, tetapi, cobalah menangkap kejujuran ats keterangam kami. Aku dan kakang Ajar Respati bersepakat untuk mengetahui, sampai dimana bekal yang kau bawa untuk mendaki Gunung Sewu dalam keadaan seperti sekarang ini, hanya itu, tidak lebih dan tidak kurang, dan kini kami telah mengetahui bahwa angger Panon Suka tidak perlu dicemaskan lagi, karena itulah maka kami akan dapat melepaskan anakmas untuk pergi ke Gunung Sewu” Kiai Rancangbandang berhenti sejenak, lalu “Agar anakmas mempercayai kami, maka aku dapat membertitahukan bahwa aku telah melihat beberapa orang yang nampaknya meyakinkan telah naik ke Gunung Sewu, itupun yang melalui jalur ini, mungkin dari jalur lain, beberapa orang telah naik pula dengan kepentingan yang sama yang tidak begitu aku ketahui”

Panon menjadi bimbang.

“Dengarlah anakmas” Kiai Rancangbandang melanjutkan “Yang pasti aku ketahui, memilik ciri-ciri lahiriah yang pernah aku kenal adalah mereka yang berasal dari perguruan Guntur Geni”

Panon mengerutkan keningnya, gurunya memang pernah menceritakan beberapa perguruan yang terakhir dikenalnya, dan gurunya memang pernah menyebut nama perguruan itu, Guntur Geni, tetapi Panon tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang perguruan itu, karena gurunrya tidak banyak menceritakannya.

“Apakah kau pernah mendengar nama perguruan itu?” bertanya Ki Ajar Respati.

Panon mengangguk kecil, jawabnya “Aku pernah mendengar namanya, hanya mendengar saja tanpa pengertian apapun tentang perguruan itu”

“Apakah gurumu tidak pernah mengatakan apapun juga tentang perguruan itu?”

Panon menggelengkan kepalanya, jawabnya “Guru hanya pernah menyebutkan nama beberapa perguruan hanya itu”

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, agaknya Panon benar-benar seorang yag masih belum berpengalaman, bahkan gurunyapun tidak banyak mengetahui lingkungan yang keras pada saat-saat terakhir dari perguruan-perguruan yang tersebar.

“Mungkin guru anak muda ini menempa diri tanpa tuntunan siapapun juga seperti aku” berkata Ki Ajar Respati di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak mengatakannya kepada Panon.

Dalam pada itu, Panon telah mulai mencoba untuk mempercayai kata-kata Kiai Rancangbandang, meskipun betapapun kecilnya, masih juga terpercik kecurigaannya kepada orang tua itu.

“Karena itu anakmas” berkata Kiai Rancanbandang “Perjalanan ke Gunung Sewu memang bukan perjalanan tamasya”

Panon mengangguk-angguk.

“Jika anakmas sudah siap menghadapi setiap kemungkinan, maka demikian adanya bahaya yang barangkali akan dihadapi oleh anakmas, karena aku kira apa yang akan anakmas lakukan tentu akan banyak sisip dari dugaanku”

“Apakah yang Kiai duga dari perjalananku ini?”

Kiai Rancangbandang memandang Ki Ajar sejenak, lalu katanya “Angger Panon Suka, sebenarnyalah telah tersebar berita diantara orang-orang yang disebut sakti, seperti orang-orang dari perguruan Guntur Geni dan mungkin dari perguruan lain, bahwa istana Pangeran Kuda Narpada telah ditinggalkan oleh penghuninya, maksudnya adalah Pangeran Kuda Narpada sendiri, yang tinggal adalah isterinya saja dan anak gadisnya, ternyata bahwa istana itu telah banyak menarik perhatian, bukan janda pangeran itu atau puterinya, tetapi apa yang mungkin ditinggalkan oleh Pangeran Kuda Narpada, sekali lagi, yang mungkin ditinggalkan, tetapi mungkin pula di istana itu tidak akan pernah diketemukan apapun juga”

Panon Suka menjadi berdebar-debar, ternyata bahwa sesuatu memang benar terjadi di istana itu, dan itulah agaknya maka ia memang seharusnya datang lebih cepat.

“Tetapi nampaknya guru tidak tahu bahwa hal serupa itu telah terjadi” berkata Panon di dalam hatinya “Ternyata guru tidak pernah mengatakan sesuatu yang bersangkutan dengan kedatangan orang-orang itu, apalagi guru memang tidak pernah pergi dari padepokannya yang terpencil itu”

Dalam pada itu, Kiai Rancangbandangpun berkata selanjutnya “Itulah anakmas, apa yang aku ketahui tentang Gunung Sewu, benar-benar suatu daerah yang kurang menyenangkan untuk dikunjungi oleh siapapun juga” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi maafkan bahwa aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau juga termasuk orang-orang yang dipengaruhi oleh keinginan tentang sesuatu yang mungkin ditinggalkan oleh Pangeran Kuda Narpada”

Panon menunddukkan kepalanya, ia amenjadi bingung, ia memang merasa bertanggung jawan untuk melaksanakan tugas yang dibebankan oleh gurunya, tetapi apakah niat gurunya itu tidak termasuk dalam sifat tamak seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain?.

“Menilik sifar dan watak guru, tentu tidak, tetapi kenapa guru juga ingin mendapatkannya seperti orang-orang lain?” pertanyaan itu telah membelit hatinya, namun tiba-tiba wajah Panon menjadi terang, hampir diluar sadarya ia bergumam “Aku ingat, Guru pernah menyebutkan bahwa jika orang lain mendahuluinya dan berhasil, maka akibatnya akan berkepanjangan, mungkin Demak harus menaruh perhatian dengan sungguh-sungguh dan bahkan mungkin akan mengguncangkan ketenangan negeri yang baru berkembang ini”

“Apa katamu ngger?” bertanya Ki Ajar sambil bergeser mendekat.

Panon termangu-mangu, Kiai Rancangbandang mendekatinya pula sambil bertanya “Apakah gurumu mencemaskan akibatnya jika ada orang lain mendahuluimu?”

“Ya, Kiai”

“Siapakah gurumu?”

“Wirit, Kiai Wirit”

Kiai Rancangbandang dan Ki Ajar mengerutkan keningnya, nama itu agaknya memang belum pernah didengarnya, karena itu sambil menggelengkan kepalanya Ki Ajar berkata “Aku belum pernah mendengarnya, tetapi jika benar niat gurumu seperti yang kau katakan, maka kedatanganmu ke istana itu mempunyai maksud yang berbeda dengan orang-orang lain”

“Apakah maksud orang lain datang ke tempat itu?”

“Mereka telah didorong oleh ketamakan dan nafsu untuk berkuasa, karena yang mereka cari adalah lambing kekuasaan, adalah tepat sekali kata gurumu, bahwa jika orang lain berhasil lebih dahulu dari padamu, maka mungkin sekali akan timbul malapetaka bagi Demak”

Panon Suka mengerutkan keningnya, sementara Kiai Rancangbandang meneruskan “Karena itu angger, jika demikian pesan gurumu, cobalah melakukan tugasmu sebaik-baiknya, meskipun tugas itu agaknya akan terasa sangat berat karena kehadiran orang-orang yang telah mendahuluimu mendaki Gunung Sewu”

Panon mengangguk-angguk, kepercayaannya kepada kedua orang tua itu perlahan-lahan telah tumbuh kembali, bahkan iapun kemudian merasakan bahwa kedua orang tua itu sangat mencemaskan dirinya, jika ia tergesa-gesa tanpa mempersiapkan diri sebaik-baiknya mendaki Gunung Sewu yang telah berubah menjadi wingit, bukan karena hantu, jin dan lelembut, tetapi agaknya beberapa orang memang telah mendahuluinya pergi ke istana yang disebutkan oleh gurunya.

Selagi ia termangu-mangu, maka terdengarlah Ki Ajar Respati berkata “Angger Panon Suka, ternyata kemampuan oleh kanuraganmu sudah memadai, jika terpaksa kau harus bertempur, maka kau memiliki bekal yang cukup, tetapi masih dengan keterangan, apabila kau berperang tanding, tetapi mungkin lawanmu tidak hanya seorang atau dua, apalagi orang-orang Guntur Geni memiki senjata yang sulit untuk dilawan”

“Apakah senjata mereka Kiai?”

“Racun, mereka adalah orang-orang yang bergelimang racun tajam yang disadapnya dari bisa ular dan racun tumbuh-tumbuhan”

Panon termenung sejenak, kini ia menyadari sepenuhnya bahwa perjalanannya memang berbahaya.

“Ki Ajar” katanya kemudian “Guruku sudah memberi aku bekal untuk mencegah keracunan, Guru memberi aku obat-obatan yang dapat aku usapkan pada luka atau tempat yang terkena racun, tetapi guru juga memberikan obat yang dapat aku telan, obat yang sudah diramu menjadi seperti butiran buah jarak yang sudah masak”

Ki Ajar mengangguk-angguk, katanya “Jika demikian, bekalmu memang sudah lengkap”

Namun demikian agaknya Kiai Rancangbandang masih meragukannya, karena itu maka tiba-tiba saja ia berkata kepada Ki Ajar “Kakang, aku tidak sampai hati melepaskan angger Panon Suka pergi seorang diri menunaikan tugas yang gawat, agaknya gurunya yang sudah lama tidak mengetahui keadaan Gunung Sewu itu tidak menyadari, betapa bahaya sudah menunggu muridnya”

“Jadi?”

“Aku akan mengantarkannya kakang, mungkin akupun tidak banyak berarti baginya, aku hanya akan mengantarkan sampai ditempat yang dituju, kemudian, jika mungkin, aku akan kembali mendahuluinya, apakah kakang sependapat?”

Ki Ajar Respati termangu-mangu sejenak, kemudian katanya “Baiklah adi, tetapi dengan demikian kaupun telah melintas di daerah yang dapat membahayakan dirimu sendiri, disaat kau berangkat, kau mempunyai seorang kawan yang memiliki ilmu yang mumpuni, tetapi kelak jika kau benar-benar kembali mendahuluinya, maka kau akan berjalan seorang diri”

“Tetapi tidak akan banyak orang yang menghiraukan perjalananku kakang, meninggalkan Gunung Sewu tidak akan mendapat perhatian seperti saat kita mendaki:

“Tetapi baiklah, kaupun harus mempersiapkan dirimu melawan setiap kemungkinan, juga melawa racun”

“Aku membawa keris Kiai Tratagnaga, mudah-mudahan akan dapat membantuku melawan racun jika pada suatu saat aku terpaksa bersentuhan dengan orang-orang Guntur Geni atau dari perguruan yang lain”

Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, katanya “Agaknya Kiai Tratagnaga sudah cukup bagimu untuk melawan segala macam racun dan bisa” ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada Panon Suka “Angger Panon Suka, agaknya kau pun perlu mempersiapkan dirimu lebih baik daripada sekedar membawa obat-obatan untuk melawan racun dan bisa”

“Apakah yang harus aku lakukan Ki Ajar?”

Ki Ajar termangu-mangun sejenak, agaknya ia sedang dicengkam oleh keragu-raguan, baru sejenak kemudian ia berkata “Anakmas Panon, aku mempunyai sesuatu yang berguna untuk mengebalkan diri terhadap racun, tetapi itu adalah milikku satu-satunya, jika aku sekarang bermaksud meminjamkannya kepadamu, maka sudah barang tentu aku berharap bahwa benda itu akan dapat kembali kepadaku kelak”

Panon masih termangu-mangu.

“Anakmas, apakah kau bersedia meminjamnya?”

“Ki Ajar” Jawab Panon, aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih, sudah barang tentu aku akan senang sekali meminjamnya, aku berjanji untuk mengembalikannya kelak kepada Ki Ajar, tetapi aku masih ragu-ragu, apakah aku akan dapat turun lagi dari Gunung Sewu, menilik keadaannya yang semakin gawat”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam, katanya “Jika kau harus tetap tinggal disalah satu puncak pegunungan itu, maka akupun akan mengikhlaskan, tetapi sudah barang tentu kita berharap bahwa perjalananmu akan mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung”

Panon menarik nafas dalam-dalam.

“Inilah anakmas” berkata Ki Ajar “Pakailah kalung rantai berbandul tali ular bersisik seribu”

“Ular bersisik seribu?” bertanya Panon.

“Bukan sebenarnya ular bersisik seribu anakmas, tetapu batu itu disebut taji ular bersisik seribu, batu yang memiliki kekuatan ajaib untuk melawan racun dan bisa, ada beberapa jenis batu serupa ini, misalnya Jumerut Sisik Waja dan Akik Naga Keling dari perguruan Cengkir Pitu dan yang sebagai ciri salah satu perguruan di daerah timur adalah Cula dari Gunung Semeru yang disebut Cula Kumbang Kuning bermata berlian”

Panon mengangguk-angguk, ia memperhatikan keterangan itu dengan seksama, ia memang belum pernah mendengarnya dari gurunya, keterangan mengenai bebatuan yanga dapat melawan bisa.

“Selebihnya” Ki Ajar Respati meneruskan “Ada semacam Batu Mirah Sarpa Suri dan Watu Kuning Ula Cendani dari ujung barat, dan masih banyak lagi ceritanya tentang batu-batu aneh yang memiliki kemampuan untuk menawarkan bisa, diantara semuanya itu adalah batu yang disebut taji ular bersisik seribu, atau yang lazim disebut Akik Jalu Naga Sisik Sasra”

Panon masih mengangguk-angguk, dengan demikian ia menjadi semakin yakin bahwa sebenarnyalah kedua orang tua-tua itu tidak bermaksud buruk terhadapnya.

“Nah angger Panon Suka,” berkata Kiai Rancangbandang “Kau dapat meminjam Jalu Naga Sisik Sasra, aku sudah membawa keris Kiai Tratagnaga, mudah-mudahan jika kita bertemu dengan berbagai macam racun dan bisa, kita dapat mengelakkan diri, sedang obat-obatan yang kau bawa dapat juga dipergunakan dimana perlu, dan mungkin ada orang lain yang memerlukannya”

“Terima kasih Kiai, tetapi apakah dengan demikian aku tidak mengganggu Kiai?”

“Sudahlah, aku memang ingin melihat Gunung Sewu, biarlah Kakang Ajar Respati menunggu rumah”

“Ya, dan aku masih akan mencari kuburan anakku didaerah ini, mudah-mudahan aku dapat menemukannya”

Panon masih termangu-mangu, dan agaknya Ki Ajar Respati mengerti apa yang dipikirkannya, sehingga iapun berkata “Lupakanlah anakmas, Sisik Sana telah memetik buah dari tanamannya sendiri, kau adalah sekedar lantaran”

“Aku mohon maaf atas semua kelancanganku Ki Ajar”

Ki Ajar tersenyum, dilepaskannya rantai yang terbuat dari baja putih, dengan bandul sebuah batu yang disebutnya Akik Jalu Naga sisik Sasra, batu yang berwarna putih kebiru-biruan yang dipusatnya seolah-olah terlukis sisik yang berlapis-lapis.

“Terimalah, kau dapat mempergunakan sampai tugasmu selesai, sudah tentu aku berharap kau dapat kembali dan mengembalikan batu itu kepadaku” Ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada Kiai Rancangbandang “Jika kau akan mengikutinya, pergilah. Kau dapat mendahuluinya, tetapi jika perlu kau akan menjadi kawan yang dapat mengisi kejemuan di malam-malam yang sepi di atas Gunung Sewu yang wingit itu”

“Aku mohon diri kakang, aku akan pergi bersama angger Panon Suka yang agaknya ingin segera sampai ke atas Gunung Sewu”

Panon tidak dapat menolak, ada sesuatu kegembiraan bahwa ia mendapatkan seorang kawan, tetapi ada juga kecemasan bahwa tugasnya akan diketahui oleh orang lain.

Selain tugas itu sendiri, maka ia harus melakukan beberapa pesan gurunya, ia harus berhenti di Lembah Payung, menitipkan kudanya dan kemudian hadir di padukuhan Karangmaja sebagai sesorang yang miksin yang sedang merantau, bahkan seorang peminta-minta.

Namun Panon Suka tidak segera mengemukakan keberatan-keberatan itu, mungkin di perjalanan ia menemukan cara yang yang sebaik-baiknya untuk menyampaikan niat itu kepada Kiai Rancangbandang.

Demikianlah maka Panon Suka dan Kiai Rancangbandangpun segera meninggalkan hutan itu pergi ke pegunungan berpuncak seribu, pegunungan yang membujur ke barat dipinggir selatan pergunungan yang belum banyak disentuh kaki manusia, selain daerah-daerah tertentu yang lebih subur dari dataran-dataran tinggi yang lain.

Memang ada terbersit sedikit kecurigaan Panon Suka, bahwa kepergian Kiai Rancangbandang adalah karena ketamakannya pula untuk ikut serta memasuki istana terpencil itu, namun ada semacam tangkapan dihati nuradi Panon, bahwa Kiai Rancangbandang bukanlah seorang yang dikuasai oleh nafsu semata-mata, bahkan tingkah lakunya menunjukkan sifatnya yang jujur dan rendah hati.

Sepeninggal Panon Suka dan Kiai Rancangbandang, Ki Ajar Respati duduk termenung, barulah kemudian terasa betapa pahitnya melepaskan seorang anak laki-laki, meskipun nalarnya dapat mengikhlaskannya, tetapi amat sulitlah baginya untuk mengatur perasaannya.

“Tetapi Panon Suka tidak bersalah” ia berkata kepada diri sendiri “Mudah-mudahan ia selamat di perjalanan, agaknya benar kata gurunya, jika orang lain yang mendahuluinya, maka akibatnya akan sangat buruk bagi Demak”

Tetapi dalam kesepian dan kepahitan itu, Ki Ajar masih tetap berusaha menguasai dirinya, meskipun demikian diluar sadarnya terasa pelupuk matanya menjadi basah.

“Ah….!” Ia meloncat berdiri “Aku adalah seorang laki-laki

Namun penyesalan yang tiada taranya telah membentur dinding hatinya, ia adalah seorang ajar yang oleh orang-orang di sekitarnya dianggap mempunyai kelebihan, baik kemampuan wadagnya maupun dalam olah kajiwan, tetapi ia tidak berhasil menguasai anaknya sendiri yang justru sudah bertindak melampaui batas, kematian anaknya sudah tentu sebagian adalah karena kesalahannya ketidak mampuannya membentuk anaknya menjadi seorang yang berbuat baik.

“Mudah-mudahan Allah Yang Maha Pengampun memaafkan kedunguanku, anak yang dipercayakan kepadaku, ternyata telah tersia-sia dan bahkan telah diambil-Nya kembali”

Ki Ajar Respati terduduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, “Apakah yang dapat aku katakana kepada orang lain” Gumamnya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Ajar tersentak, ia mendengar langkah orang mendekatinya dengan hati-hati, karena itu maka iapun segera mempersiapkan diri menghadap segala kemungkinan.

Meskipun demikian ia masih tetap duduk pada tempatnya.

Ki Ajar Respatipun kemudian terkejut ketika ia melihat dua orang datang mendekatinya perlahan-lahan, dengan wajah yang pucat dan ketakutan.

Belum lagi Ki Ajar Respati bertanya sesuatu, kedua orang itu telah berjongkok dihadapannya da menunduk dalam-dalam, sehingga dahinya menyentuh tanah.

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, kedua orang itu adalah muridnya yang telah pergi meninggalkannya bersama anaknya , Watu Sampar dan Bandung Limpat.

“Guru” terdengan suara Bandung Limpat terputus-putus “Kami telah menghadap guru lagi setelah kami meninggalkan perguruan beberapa lamanya, kami telah melakukan kesalahan yang tidak terhingga, seandainya demgam demikian kami harus dihukum, maka kami tidak akan ingkar, bahkan hukuman mati sekalipun”

Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, sejenak ia justru terbungkam, rasa-rasanya sesuatu telah menyumbat tenggorokannya.

Namun ia berkata dengan nada yang datar “Anak-anakku, aku sudah mengetahui segala-galanya, anak muda yang bernama Panon Suka, yang telah membunuh anakku, telah datang kepadaku dan mengatakannya segala-galanya”

“Ya guru, kesalahan kamilah, bahwa kami tidak tidak dapat mencegah peristiwa itu terjadi”

“Apa yang dapat kau lakukan terhadap anak muda yang bernama Panon Suka itu? Dalam olah kanuragan, kalian sama sekali bukan tandingannya, akupun masih harus belajar kepadanya dalam beberapa hal”

“Setidak-tidaknya kami dapat memperingatkan Sisik Sana untuk tidak melakukannya, tetapi justru kami terlibat pula kedalamnya”

“Kalian memang telah tersesat, ilmu yang tidak kalian pelajari dengan baik itu, kalian anggap sudah dapat kalian pergunakan, apalagi dipergunakan di jalan yang sesat” berkata Ki Ajar Respati kemudian “Namun agaknya, kalian telah mendapat pelajaran yang sangat berharga dengan korban yang sangat mahal”

“Kami tidak akan menghindar dari hukuman apapun guru” berkata Watu Sampar pula.

“Hukuman yang paling tepat adalah hukuman yang tumbuh dari hatimu sendiri, penyesalan dan kemudian bertaubat, bukan sekedar penyesalan untuk sesaat, dan kemudian perbuatan itu akan terulang lagi”

“Kami menyesal semua tingkah laku kami, dam kami mengatakan dihadapan guru, bahwa kami telah bertaubat sampai akhir hayat kami, jika guru meragukan, maka kematian yang dekat akan menjadi pertanda pertaubatan kami yang abadi”

“Jika aku membunuh kalian agar kalian tidak dapat berbuat salah lagi, maka itu bukanlah penyelesaian yang paling baik buat kalian, dengan demikian maka akhir dari segala kesalahan tidak berlandaskan pada tingkah delam ketetapan hati, tetapi justru dalam keragu-raguan dan tanpa kepastian”

Kedua muridnya itupun tidak menjawab, rasa-rasanya dadanya memang telah tersumbat oleh penyesalan yang tiada taranya, kesesatan mereka telah merampas taruhan yang paling mahal, justru anak laki-laki gurunya sendiri.

“Sudahlah” berkata Ki Ajar Respati kemudian “Apakah kau telah menguburkan mayat Sisik Sana?”

“Ya guru”

“Nah tunjukanlah kepadaku, aku akan mengambilnya dan membawanya kepadukuhan adikku Kiai Rancangbandang, aku akan menyembahyangkan dan menguburkannya di padukuhan itu, agar makamnya terpelihara, setidak-tidaknya merupakan kenangan bahwa aku pernah mempunyai anak yang bernama Sisik Sana, yang pada hidupnya telah memilih jalan yang sesat, dengan demikian akan menjadi petunjuk bagi setiap orang yang mengenalnya dan mengenalku, bahwa aku adalah orang tua yang gagal manjadi seorang ayah yang baik, mungkin aku berhasil dibidang yang lain, dalam olah kanuragan dan kajiwan, pendekatan kepada Yang Maha Kuasa, pergaulan antara sesama, tetapi justru yang satu itu, mengasuh anak-anakku, aku telah gagal”

Kedua muridnya yang telah bertaubat itu sama sekali tidak menyahut, sehingga Ki Ajar Respati meneruskan “Marilah, jangan terlampau lama terombang-ambing oleh perasaan yang tidak menentu, marilah kita berbuat sesuatu”

Ketika Ki Ajar Respati berdiri, maka kedua muridnya itupun berdiri pula, Bandung Limpatpun kemudian menunjukkan tempat yang telah dintandainya sebagai kubur kawan seperguruannya dan anak laki-laji dari gurunya itu.

Bab 15

Sementara itu Panon Suka dan Kiai Rancangbandang memacu kudanya menyelusuri jalan sempit dipinggir hutan yang tidak begitu lebat, namun kudanya tidak dapat berlari terlampau cepat karena jalan yang agak sulit dan sempit.

Ketika mereka kemudian sampati ke jalan yang agak lebar, maka merekapun tidak beriringan lagi, tetapi mereka berkuda bersama-sama.

Dalam pada itu maka Kiai Rancangbandang bertanya “Angger Panon Suka, keteranganmu yang hanya selintas mengenai rencanamu pergi ke Gunung Sewu telah menarik perhatianku, jika angger telah mendapat perintah dari guru angger, maka perintah itu benar-benar sangat menarik perhatian”

“Ya Kiai” jawab Panon.

“Tetapi sayang, bahwa aku belum mengenal gurumu yang bernama Ki Wirit itu, sehingga aku tidak dapat mengambil kesimpulan yang pasti”

“Jadi Kiai curiga juga bahwa yang dikatakan guru itu hanya sekedar lamis belaka”

“Bukan maksudku berkata demikian anakmas, tetapi aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri”

Panon Suka menarik nafas dalam-dalam, katanya “Kiai, jika Kiai percaya kepadaku, Kiai tidak perlu ragu-ragu lagi tentang guruku, mungin aku adalah orang yang terlibat langsung di dalamnya, sehingga aku tidak akan dapat melihat kebenaran dari kata-kataku sendiri, namun demikian aku telah berketetapan hati untuk melakukan perintah guruku sebaik-baiknya”

“Tetapi angger, Angger harus melakukan perintah itu sebaik-baiknya, sebenarnya akupun mempercayaimu, bahkan aku berpendapat, jika sekiranya gurumu sekedar didorong oleh ketamakan dan nafsu, maka, ia tentu dengan tergesa-gesa pergi ke Gunung Sewu dan mengambilnya sendiri di istana kecil yang terpencil itu, mendahului orang lain” Kiai Rancangbandang berhenti sejenak, lalu “Aku tidak dapat membayangkan, betapa tinggi ilmu gurumu, jika muridnya yang masih sangat muda itu telah mampu berbuat seperti yang anakmas lakukan”

“Ah, Kiai terlalu memuji”

Kiai Rancangbandang menyahut “Bukan sekedar memuji anakmas, aku sudah melihat kenyataan yang hampir diluar kesanggupan nalarku, aku pernah melihat anak-anak muda yang memiliki ilmu yang mumpuni, tetapi anakmas mempunyai kelebihan”

“Kiai mamandang kemampuanku berlebih-lebihan, jangan-jangan Kiai akan kecewa jika mengetahui tentang diriku yang sebenarnya, yang tidak lebih dari anak padesan yang belajar sekedar ilmu untuk membela diri pada seorang tua yang tinggal di gubug kecil di sebelah padukuhanku”

Kiai Rancangbandang menjadi semakin heran.

“Jadi gurumu tidak tinggal di sebuah padepokan atau padukuhan kecil?”

“Tidak Kiai, guruku tinggal di sebuah gubug kecil, di lereng gunung, tidak jauh dari padukuhan, ia hidup menyendiri, tetapi tidak terpisah dari pergaulan hidup yang sewajarnya, ia mengenal setiap orang di padukuhanku dengan baik, bahkan seperti kadang sendiri”

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, katanya “Memang aneh, gurumu mempunyai kebiasaan yang lain” ia berhenti sejenak, lalu “Jadi dengan demikian angger Panon Suka melakukan latihan secara terbuka? Maksudku, kadang-kadang juga dilihat oleh orang banyak padukuan itu?”

“Tidak Kiai, aku berlatih seorang diri di halaman belakang gubug guru, jarang orang yang datang ke gubug guruku di lereng kaki Gunung Merbabu itu, hidup guruku benar-benar tidak menarik perhatian, ia tiba-tiba saja tinggal di tempat itu, hanya ayahku sajalah yang banyak mengetahui tentang dirinya. Tetapi ayah tidak banyak bercerita kepadaku tentang guruku itu”

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, ia melihat rahasia yang tersembunyi di dalam perguruan anak muda ini, meskipun ia yakin bukan rahasia yang buruk.

Demikianlah mereka berpacu terus meskipun tidak begitu cepat menuju Lembah Payung di ujung Gunung Sewu.

Namun dalam pada itu di sepanjang jalan, Kiai Rancangbandang masih tetap dipengaruhi oleh gambaran-gambaran yang buram mengenai guru Panon Suka, seseorang yang digambarkannya, hidup menyendiri tetapi tidak terpisah dari pergaulan yang sewajarnya, menenal setiap orang di padukuhannya dengan baik, bahkan seperti kadang sendiri, tetapi orang-orang itu tidak banyak yang mengetahui tentang dirinya, dan jarang sekali yang berkunjung kepadanya karena hidupnya tidak menarik perhatian sama sekali”

Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, terbayang seseorang yang hidup sederhana seperti kebanyakan orang-orang miskin, tetapi yang memiliki ilmu tiada taranya”

Apalagi kemudian ia mengetahui bahwa guru Panon Suka itu adalah seorang yang cacat kaki dan geraknya sangat dibatasi oleh cacatnya itu.

“Dalam keadaanya, bagaimana mungkin ia dapat memebentuk seorang anak muda menjadi seorang yang perkasa seperti angger Panon Suka ini?” pertanyaan itu selalu membelit di hatinya, “Tentu orang itu benar-benar bukan orang kebanyakan, meskipun ujudnya tidak lebih sebagai seorang miskin yang hidup dalam gubug yang didirikannya di lereng Gunung Merbabu”

Sementara itu, ketika mereka menjadi semakin dekat dengan lembah Payung, Panonpun menjadi semakin berdebar-debar, ia harus meninggalkan kudanya kepada seseorang dan gurunya nanti akan mencari kuda itu dan mempergunakannya.

“Apakah aku akan berterus terang kepada Kiai Rancangbandang tanpa curiga?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Namun akhirnya Panon tidak dapat berbuat lain, ketika mereka mendekati padukuhan kecil di lembah Payung, maka Panonpun berkata seperti yang dipesankan gurunya kepadanya.

“Ooo” berkata Kiai Rancangbandang “Senang sekali jika aku dapat bertemu dengan gurumu nanti”

Panon Suka menarik nafas dalam-dalam.

“Jika demikian, maka biarlah kita menitipkan kuda kita” berkata Kiai Rancangbandang selanjutnya.

“Kiai” berkata Panon Suka yang masih sangat muda dan belum banyak mengenyam hidup “Jika guruku mengetahui ada dua ekor kuda, maka mungkin guruku akan memutuskan untuk berbuat lain dari rencana semula, guruku sudah berpesan agar tidak ada orang lain yang mengetahui tugasku dan barangkali juga tentang istana kecil itu”

“Angger” berkata Kiai Rancangbandang “Gurumu adalah orang yang luar biasa, tetapi ia sudah terlalu lama terpisah dari pergaulan hidup orang-orang yang menganggap dirinya mempunyai kelebihan dari orang lain, ternyata bahwa rahasia istana kecil itu seolah-olah telah terbuka, sehingga justru karena itu telah mengundang banyak pihak yang mendatanginya, semula akupun tertarik pula untuk naik ke Gunung Sewu, tetapi kakang Ajar Respati memberi nasehat yang panjang kepadaku agar aku tidak terseret oleh ketamakan yang bodoh itu, karena itulah aku mengurungkan niatku untuk mendaki sekedar didorong oleh ketamakan dan nafsu, jika sekarang aku pergi, agaknya telah didorong oleh kepentingan yang lain, keteranganmu bahwa kau ingin mencegah guncangan yang dapat timbul, sangat menarik perhatianku, dan aku akan senang sekali jika aku dapat membantumu”

“Aku berterima kasih Kiai, tetapi guru belum mengetahui semua itu”

“Anakmas” berkata Kiai Rancangbandang “Bahwa Gurumu akan menyusulmu tentu iapun mempunyai perhitungan tertentu, tetapi sekali lagi, aku kagum karenanya, semuanya itu tentu sekedar didorong oleh firasatnya bahwa sesuatu telah terjadi, bukan karena pendengarannya dari mulut orang lain, hanya orang yang memiliki ketajaman batin yang mempunyai firasat yang sejauh itu”

“Kiai terlampau memuji”

“Aku tidak memuji, tetapi aku benar-benar kagum” ia berhenti senejak, lalu “Dengan demikian sudah sepantasnya angger menunaikan tugas itu, sentuhan dengan perguruan-perguruan yang lebih dahulu naik ke puncak Gunung Sewu tidak akan banyak menghambat perjalananmu, seandainya kau pergi sendiri”

Panon menarik nafas dalam-dalam, karena itulah maka iapun tidak berniat untuk menunda keterangannya, sebagaimana pesan gurunya tentang perjalanan yang harus ditempuhnya.

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, katanya “Benar-benar seorang yang rendah hati, aku akan ikut dengan caramu, agaknya memang menyenangkan sekali untuk memperlakukan diri kita sebagai orang yang tidak perlu mendapat perhatian orang-orang disekitarnya” Ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi sekali lagi aku peringatkan, mungkin gurumu belum membayangkan apa yang sebenarnya ada di sekitar istana kecil itu, meskipun aku belum melihat sendiri, tetapi aku membayangkan bahwa setiap orang yang mendekatinya tentu akan dicurigai oleh setiap orang yang sudah ada di daerah itu terlebih dahulu, mungkin mereka yang berterus terang tentang diri mereka dan perguruan mereka, tetapi juga mereka yang menyamar seperti yang akan angger lakukan”

“Tetapi aku harus berhasil masuk istana itu dan bertemu dengan penghuninya jika masih ada” berkata Panon Suka.

“Kenapa?” bertanya Kiai Rancangbandang.

Istana Yang Suram 10

Panon termangu-mangu, tetapi kepercayaannya kepada Kiai Rancangbandang menjadi bertambah tebal, karena itu katanya “Aku membawa pertanda bahwa aku datang dengan maksud baik, tetapi guruku berpesan bahwa hanya penghuni yang sebenarnya dari istana itu sajalah yang dapat melihat pertanda itu”

Kiai Rancangbandang bergetar mendengar jawaban itu, tetapi ia tidak menampakkan perubahan wajahnya, bahkan dengan senyum ia berkata “Menarik sekali, tetapi apakah angger dapat mengatakan kepadaku, apakah penghuni itu akan dapat mengenal tanda yang angger bawa?”

“Menurut guru, mereka tentu akan mengenalnya Kiai”

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, betapa hatinya bergejolak, tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda apapun juga, sehingga Panon sama sekali tidak menduga, bahwa Kiai Rancangbandang sedang mencoba menghubungkan peristiwa-peristiwa yang pernah didengarnya.

Tetapi akhirnya Kiai Rancangbandang berkata di dalam hatinya “Bagaimanapun juga, aku wajib membantu anak ini untuk mencegah kekisruhan yang semakin merata di daerah Demak yang baru tumbuh, dengan demikian meskipun hanya seleret hitamnya kuku, aku sudah ikut menegakkan kewibawaan pemerintahan yang sedang berusaha untuk mewujudkan ketenangan dan kedamaian di hati rakyatnya ini”

Demikianlah, dengan hati yang tulus, Kiai Rancangbandang meneruskan perjalanannya di sisi Panon, meskipun kadang-kadang tumbuh juga keragu-raguan atas kebersihan tugas anak muda itu, namun ia melihat kejujuran yang bening memancar dari tatapan mata Panon.

“Jika ada kecurangan yang terjadi atas anak muda ini, tentu bukan karena hatinya yang licik, tetapi mudah-mudahan gurunya benar-benar tidak sekedar memanfaatkan kejujuran anak muda ini” berkata Kiai Rancangbandang pada dirinya sendiri, namun ia tidak henti-hentinya mencari hubungan antara peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada istana kecil itu menurut pendengarannya.

Ketika mereka kemudian memasuki padukuhan kecil itu, Kiai Rancangbandang berkata “Jika demikian anakmas, baiklah kudamu sajalah yang kau titipkan di padukuhan ini agar gurumu tidak menjadi curiga, aku akan membawa kudaku mendaki terus dan menitipkannya di padukuhan yang kita jumpai di perjalanan nanti”

“Tetapi untuk sementara kita berpisah Kiai, agar orang-orang yang menerima titipan kudaku tidak menyebutkan kepada guru, bahwa aku datang berdua”

Kiai Rancangbandang tersenyum, katanya “Kau teliti sekali angger, mudah-mudahan bukan sekedar melepeskan diri dari padaku, karena angger segan menolak aku ikut dalam perjalananmu”

“Ah, tentu tidak Kiai, tentu tidak”

“Baiklah, aku akan menunggumu diluar padukuhan ini”

Demikianlah maka merekapun segera berpisah, Kiai Rancangbandang berkuda terus sampai keluar dari padukuhan kecil di lembah Payung, sedangkan Panon Suka, sesuai dengan pesan gurunya, iapun menitipkan kudanya kepada seseorang dengan upah sekedarnya.

“Jangan lupa, berilah kuda itu makan, beberapa hari mendatang, seseorang yang cacat kaki akan mengambilnya” berkata Panon Suka kepada orang itu.

“Bagaimana ia tahu bahwa kau menitipkan kuda kepadaku?”

“Kami sudah berjanji sebelumnya”

“Ya, tetapi kau dan orang yang cacat kaki itu belum berjanji untuk menitipkan kepadaku, karena baik kau maupun orang yang cacat kaki itu belum aku kenal”

“Ia akan mencari dan bertanya kepada siapapun di padukuhan ini”

Orang itu mengangguk-angguk, padukuhan ini adalah padukuhan kecil, sehingga tidak akan banyak kesulitan untuk mencari seekor kuda diantara rumah-rumah yang tidak begitu banyak.

Dengan senang hati orang itu menerima uang dari Panon Suka sebagai upah pemeliharaan kudanya sebelum diambil gurunya.

Panon tidak berhenti di rumah itu meskipun penghuninya mempersilahkan.

“Aku tergesa-gesa” berkata Panon.

“Setiap orang tergesa-gesa naik ke atas Gunung Sewu” desis orang itu.

Panon mengerutkan keningnya, dengan ragu-ragu ia bertanya “Apakah banyak orang yang naik ke Gunung Sewu?”

“Tidak, aku hanya melihat dua orang, tetapi nampaknya, merekapun tergesa-gesa”

“Ia singgah ke rumah ini juga?”

Orang itu menggeleng “Tidak, mereka hanya lewat”

Panon mengangguk-angguk, tetapi dengan demikian ia menjadi semakin yakin, bahwa yang dikatakan oleh Kiai Rancangbandang adalah benar, sehingga terbayang olehnya, bahwa di sekita istana kecil itu, telah berkumpul orang dari perguruan yang berbeda-beda.

“Terima kasih, aku minta diri” kata Panon kemudian

Seperti yang sudah dijanjikan, maka Kiai Rancangbandang telah menunggunya di luar padukuhan, merekapun kemudian bersama-sama melanjutkan perjalanan yang mulai mendaki naik pegunungan Sewu.

Seperti yang mereka rencanakan, agar kedatangan mereka di Karangmaja tidak menarik perhatian, maka Kiai Rancangbandangpun menitipkan kudanya pula, mereka meneruskan perjalanan seperti dua orang pengembara yang miskin.

“Aku tidak berfikir untuk melakukan perjalanan seperti ini” gumam Kiai Rancangbandang sambil tersenyum.

“Akupun tidak Kiai” Sahut Panon “Tetapi guru menhendaki.

“Aku dapat mengerti maksudnya, agaknya cara ini adalah cara yang paling baik, meskipun tidak akan banyak gunanya, agaknya telah banyak orang yang mendahului kita dengan cara yang aneh-aneh”

Panon Suka mengangguk-angguk, agaknya benar kata Kiai Rancangbandang bahwa gurunya kurang mengenal keadaan Karangmaja pada saat terakhir, saat-saat orang yang menyebut dirinya orang-orang sakti mulai mengenal rahasia yang tersembunyi di istana itu.

“Siapakah yang telah membuka rahasia itu?” bertanya Panon Suka kepada dirinya sendiri “Dan apakah guru telah mendengarnya pula?”

Tetapi Panon menggelengkan kepalanya untuk mengusir pertanyaan-pertanyaan itu, ia sadar bahwa teka-teki itu tidak akan dapat segera terjawab.

“Yang penting aku menjalankan saja perintah guru” katanya di dalam hatinya “Itu adalah kewajibanku”

Disepanjang perjalanan naik ke atas Bukit Seribu tidak banyak lagi yang mereka perbincangkan, sekali-sekali Kiai Rancangbandang memberikan beberapa petunjuk tentang daerah yang pernah mereka lalui, memeberitahukan beberapa nama padukuhan kecil yang terselip diantara hutan-hutan perdu.

“Apakah penghuni padukuhan itu tidak pernah berpikir untuk untuk mencari daerah baru yang lebih baik Kiai” bertanya Panon.

“Mereka justru sedang mulai membuka daerah baru” jawab Kiai Rancangbandang.

“Kenapa didaerah pegunungan seperti ini?, kenapa mereka tidak saja turun ke daerah ngarai?”

“Keluarga mereka, orang tua mereka dan kakek serta nenek mereka adalah cikal bakal daerah sekitar jalur jalan ini, dengan demikian, maka merekapun telah membuka daerah baru yang tidak begitu jauh dari sanak kadang mereka”

Panon Suka mengangguk-angguk, ia mulai membayangkan daerah dan padukuhannya sendiri, juga di lereng seperti yang sedang ditempuhnya itu, tetapi di lereng Gunung Merbabu.

“Daerah lereng Gunung Merbabu nampaknya lebih subur” desisnya di luar sadarnya.

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, katanya “Tanah di lereng Gunung berapi, meskipun sudah jauh susut dan bahkan padam, memang manjadi jauh lebih subur dari pegunungan batu dan tanah liat seperti daerah ini, tetapi dimusim hujan itupun menjadi hijau karena air hujan.

Panon mengangguk-angguk.

“Tetapi ada daerah yang hampir tidak ditumbuhi pepohnan sama sekali, di sekitar bukit Paran dan Bukit Seruni nampaknya seperti sebuah padang kering, tetapi ada beberapa puncak bukit gundul yang sudah menjadi hijau, disekitar daerah Karangmaja bukit gundul itu menjadi hutan yang nampak indah sekali”

“Kenapa harus dibuat hutan buatan, bukankah daerah itu merupakan daerah yang dipenuhi oleh hutan yang sebenarnya?”

“Di lembah dan dataran berair, tetapi tidak di puncak-puncak bukit, beberapa tahun yang lampau, serorang pangeran yang terdesak dari Majapahit telah tinggal di daerah Karangmaja, ia membuat istana kecil yang sekarang menjadi pusat perhatian banyak orang itu, ialah yang mencoba menghijaukan puncak-puncak bukit gundul itu, dan agaknya ia berhasil, selain daerah itu menjadi hijau, ia sudah mengurangi arus air hujan yang membanjir ke lembah-lembah di bawahnya, yang kadang-kadang merusakkan hutan yang ada di lembah itu”,

Panon mengangguk-angguk, tetapi ia tidak begitu memahami keterangan Kiai Rancangbandang, di padukuhannya pepohonan tumbuh di lereng gunung dengan subur dan lebatnya, tidak usah dengan menghijaukannya seperti bukit-bukit gundul di daerah Gunung Sewu ini, sehingga padukuhannya terletak di lingkungan hutan yang lebat di lereng Gunung Merbabu.

Tetapi Panon Suka tidak mengatakannya, ia berdiam diri sambil mengamati keadaan di sekelilingnya yang nampak semakin pudar sejalan dengan surutnya matahari diujung barat.

“Kita tidak akan sampai ke padukuhan itu hari ini juga” berkata Kiai Rancangbandang “Kita harus bermalam di perjalanan”.

Panon Suka mengangguk-angguk, diamatinya daerah yang luas dan berbukit-bukit, lereng yang curam dan lembah yang dalam, dikejauhan nampak puncak-puncak yang gundul penuh dengan batu-batu yang berwarna keputih-putihan.

Tetapi semuanya sudah menjadi buram.

“Dimana kita harus bermalam Kiai, di dalam goa-goa yang dangkal atau di pepohonan?”

Kiai Rancangbandang mengerutkan dahinya, lalu “Kita akan bermalam di pinggir saluran air di lembah itu”

Panon mengerutkan keninngya, lembah itu cukup dalam, dasarnya nampak seolah-olah kehitaman.

“Kita memerlukan air, sekarang dan juga besok pagi”

Keduanya kemudian menuruni tebing yang curam, meskipun cukup sulit, keduanya mempunyai ketrampilan yang memungkinkan mereka dapat turun dengan selamat.

Di lembah iu mengalir sebatang sungai yang meskipun kecil, tetapi memberikan arti yang banyak bagi keduanya yang baru saja menempuh perjalanan, betapa segarnya tubuh mereka, ketika mereka kemudian mandi di air yang bening, bahkan mereka dapat meneguk untuk menghilangkan rasa haus yang serasa membakar tenggorokan.

“Kita dapat tidur nyenyak disini” berkata Kiai Rancangbandang “Tidak ada orang yang akan mengusik kita kecuali harimua yang kebetulan saja hendak minum di tempat ini, tetapi sungai ini cukup panjang, sehingga kemungkinan harimau itu datang kemaripun kecil sekali, karena mereke dapat minum di daerah udik atau sebaliknya?”

“Ya Kiai” jawab Panon Suka, tetapi iapun kemudian mengerutkan keningnya, ketika Kiai Rancangbandang meneruskan “Meskipun demikian kita harus tetap berhati-hati, kita akan tidur bergantian agar kita benar-benar dapat tidur dengan tenang”

Panon mengangguk-angguk, ia sadar bahwa orang-orang tua biasanya lebih berhati-hati, apalagi di tempat yang kurang dikenal seperti lembah yang curam itu.

Setelah mereka mendapatkan tempat yang baik diatas batu-batu yang besar, maka mulailah mereka beristirahat, Panon Suka harus berjaga-jaga pada separuh malam yang terdahulu, baru setelah tengah malam, ia akan tidur dan membangunkan Kiai Rancangbandang.

Sejenak kemudian, ketika lembah itu menjadi hitam kelam oleh malam yang turun di lereng itu, Kiai Rancangbandang sudah mendengkur, seolah-olah tidak ada persoalan apapun yang dipikirkannya, demikian ia berbaring, demikian ia tertidur.

Panon Suka hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, ia sendiri digelisahkan oleh tugasnya dan kenyataan bahwa di atas pegunungan Sewu telah berkumpul beberapa orang yang mempunyai maksud yang sama, datang ke istana kecil itu.

Namun agaknya udara yang dingin dan angin yang basah membuat perasaannya menjadi ngelangut.

Tetapi Panon Suka bertahan sempai tengah malam, ketika bintang gubuk Penceng tegak diatas diujung selatan bumi, barulah ia mendekati Kiai Rancangbandang.

Ternyata Panon tidak usah membangunkannya, kerena Kiai Rancangbandang sudah bangkit sambil menguap.

“Aku tidur nenyak sekali, mudah-mudahan kaupun dapat tidur nyenyak ngger”

Panon mengangguk, dan iapun kemudian merebahkan tubuhnya diatas sebuah batu, betapapun perasaannya diganggu oleh kegelisahan dan kadang-kadang kecurigaan, namun iapun akhirnya jatuh tertidur pula.

Panon tidak tahu, betapa nyenyaknya ia tertidur, ketika ia bangun, maka ia melihat sebuah perapian kecil dipinggir sungai, Kiai Rancangbandang duduk sambil memeluk lututnya, kain panjangnya diselubungkannya pada pundaknya.

Panon mengerutkan keningnya ketika ia melihat sesuatu di tangan Kiai Rancangbandang, sesuatu yang dipanggangnya diatas perapian kecil itu.

Perlahan-lahan Panon bangkit dan mencoba mengamat-amatinya, namun agaknya Kiai Rancangbandang sudah melihatnya terbangun berkata “Aku mendapat seekor pelus yang naik ke pasir, cukup untuk makan pagi kita berdua”

Panon menarik nafas dalam-dalam, ternyata Kiai Rancangbandang sedang memanggang sepotong daging pelus yang besar, yang tentu agak sulit untuk menangkapnya, karena kulit pelus yang sangat licin.

Perlahan-lahan Panon mendekatinya, sambil tersenyum ia berkata “Kiai pandai menangkap pelus”

“Sejak kanak-kanak aku hidup di pinggir sungai, padepokankupun terletak tidak jauh dari kali opak, aku memang seorang yang ahli mencari ikan sungai”

Panon mengangguk-angguk.

“Cucilah mukamu, dan marilah kita makan pagi sebelum kita meneruskan perjalanan mendaki bukit”

Panonpun pergi ke sungai untuk mencuci mukanya, nampaknya di sungai itu memang banyak terdapat ikan, karena nampaknya jarang orang yang menangkap sampai ke tempat yang membelah lembah yang curam itu.

Sejenak kemudian, setelah makan pagi, maka merekapun segera brsiap-siap, langir masih nampak gelap, tetapi semburat merah sudah mulai membayang.

“Sebentar lagi fafar akan menyingsing, dan kita akan meneruskan perjalanan ssebagai dua orang pengembara” kata Panon perlahan.

“Apakah pakaian kita terlampau baik bagi seorang pengembara?” bertanya Kiai Rancangbandang.

Panon mengamati-amati bajunya, namun kemudian ia menggeleng “Mungkin tidak, tetapi bagaimana dengan keris yang Kiai bawa itu?”

Kiai Rancangbandang mengerutkan keningnya, namun kemudian iapun berkata “Aku akan menyimpannya di bawah bajuku, diatas Gunung Sewu dalam keadaan ini, kita masing-masing memang harus bersenjata”

Panon mengangguk-angguk.

“Agaknya senjatamu agak lain dengan senjata pada umumnya” berkata Kiai Rancangbandang.

Panon meraba ikat pinggangnya, terasa tangannya menyentuh tangkai pisau belatinya yang berderet di ikat pingganngya, meskipun pisau itu hanyalah pisau kecil yang dibuat oleh pandai besi di padesannya.

Sejenak kemudian, ketika langit menjadi semakin cerah, mereka segera memanjat tebing, menerobos pepohonan perdu yang tumbuh di lereng yang curam itu.

Ketika Panon Suka sampai keatas, maka iapun menggeliat sambil menghirup udara pagi yang segar, seolah-olah ia baru saja keluar dari sebuah ruangan yang gelap dan pengap.

Maka sejenak kemudian keduanyapun melanjutkan perjalanan mereka menuju padukuhan Karangmaja, namun perjalanan mereka kemudian adalah perjalanan yang sudah mulai menyentuh daerah yang berbahaya bagi mereka.

“Sudah dekat” berkata Kiai Rancangbandang “Nah, apakah kau akan memanggilku dengan namaku?, mungkin satu atau dua orang yang ada di daerah ini, pernah mendengar namaku, jika diantara mereka ada yang pernah turun ke daerah tepian Kali Opak di ujung Gunung Baka”

Panon Suka mengerutkan keningnya, gumamnya “Bagaimanakah sebaiknya Kiai?”

Kiai Rancangbandang termenung sejenak, kemudian katanya “Panggil aku Mina, Ki Mina”

Panon mengangguk-angguk, katanya “Kiai menginggatkan aku akan keahlian Kiai menangkap ikan”

“Menangkap Mina” kata Kiai Rancangbandang “Nah, mulailah panggil aku Ki Mina”

Dengan demikian maka di sepanjang jalan, Panon memanggil kawan seiringnya dengan nama samarannya, Ki Mina. Dan dalam hubungan mereka, Panon menyebutnya sebagai pamannya.

Matahari yang telah sampai ke puncak langitpun segera miring ke barat, sementara dua orang pengembara itu masih tetap berjalan di atas pegunungan berbatuan padas.

Semakin dekat mereka dengan padukuhan Karangmaja, merekapun menjadi semakin berhati-hati, meskipun mereka masih belum melihat sesuatu yang dapat menghambat perjalanan mereka.

Dalam pada itu, padukuhan Karangmaja nampaknya masih di selubungi oleh kehidupan sewajarnya, dua orang yang berada di banjar, masih tetap mendapat rangsum makan dan minum. Kidang Alit masih juga selalu pergi ke sungai dan mengganggu gadis-gadis mandi, tetapi bahwa gadis-gadis itu kadang-kadang justru menunggunya.

Beberapa orang yang berada di daerah Karangmaja, nampaknya masih belum menumbuhkan gangguan yang dapat menyulitkan kehidupan penghuninya, selain kegelisahan perasaan.

Namun ternyata bahwa Karangmaja sebenarnya sedang dibayangi oleh sekelompok orang-orang dari perguruan Guntur Geni yang dipimpin langsung oleh orang yang terpercaya, Kiai Paran Sanggit.

Tetapi agaknya Kiai Paran Sanggit tidak langsung mendekati istana kecil itu, ia masih mempunyai banyak pertimbangan bahwa ternyata Karangmaja terdapat banyak orang yang mempunyai kepentingan yang sama dam memiliki ilmu yang harus dipertimbangkan.

Meskipun demikian, sekali-kali Kiai Paran Sanggit berusaha untuk dapat mendengar berita tentang Karangmaja, karena itulah maka, kadang-kadang ia mengirimkan orangnya untuk pergi ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang.

“Orang-orang Karangmaja sering menukarkan barangnya ke padukuhan lain” berkata Kiai Parang Sanggit “Dan kadang-kadang mereka menjual ternaknya di pasar yang meskipun agak jauh tetapi memberikan banyak kesempatan untuk mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan. Tidak banyak orang Karangmaja yang menenun pakaian, tetapi orang-orang Karangmaja banyak membuat barang-barang dari besi untuk alat-alat pertanian, bahkan agak lebih baik dari padukuhan yang lain. Karena orang-orang Karangmaja mendapat beberapa petunjuk dari Pangeran Kuda Narpada, karena itu, usahakan untuk dapat mendengar tentang Karangmaja, tetapi di Karangmaja agar tidak dicurigai dan langsung berbenturan dengan orang-orang dari Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning”

Dua orang dari Guntur Geni itu dengan mempergunakan pakaian petani biasa, agar tidak menimbulkan kecurigaan, pergi ke pasar di padukuan yang sering dikunjungi bukan saja oleh orang-orang Karangmaja, tetapi oleh padukuhan lain di sekitarnya, sehingga dengan demikian maka kehadiran orang baru tidak banyak menarik perhatian.

Bab 16

Namun pesan Kiai Paran Sanggit kepada anak buahnya adalah, bahwa mereka tidak boleh sama sekali mengganggu orang-orang Karangmaja agar tidak menmbulkan persooalan-persoalan yang dapat mengganggu usaha mereka yang lebih besar dan yang terpenting di istana yang terpencil itu.

Di tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang, bahkan dari beberapa padukuhan, Karangmaja memang menarik perhatian dan banyak dibicarakan justru karena perkembangan keadaannya yang terakhir, beberapa orang menjadi saling bertanya-tanya, apalagi jika mereka bertemu langsung dengan orang-orang Karangmaja di pasar atau di tempat lain, mereka selalu bertanya, apa yang telah terjadi di padukuhan itu.

“Nampaknya kami dapat hidup seolah-olah seperti biasa” berkata salah seorang dari Karangmaja yang berada di pasar yang ramai, pusat pertemuan orang-orang dari beberapa padukuhan ”Tetapi sebenarnyalah bahwa kami selalu dibayangi oleh perasaan cemas tentang hari depan padukuhan kami”

“Apakah orang-orang yang datang ke padukuhanmu tidak saling mengganggu, atau menganggu penghuni padukuhan?”

“Sampai sekarang mereka tidak berbuat begitu, selain dua orang yang mereka lukai karena sebab yang tidak begitu jelas, tetapi keduanya telah disembuhkan oleh seorang pendatang yang masih muda yang bernama Kidang Alit”

“Untunglah ada seorang anak muda yang bernama Kidang Alit itu”

“Uh, tetapi iapun mencemaskan kami orang-orang tua, terutama yang mempunyai anak gadis”

“Kenapa?”

“Ia adalah seorang anak muda yang sering memburu gadis-gadis cantik di padukuhan kami, celakanya, gadis-gadis kami juga senang sekali bergaul dengan anak muda yang tampan dan ramah itu”

“Kalian masih terlampau kaku menghadapi pergaulan anak muda”

“Mula-mula tidak, tetapi ketika sudah ada dua orang gadis yang mengandung, karenanya kami menjadi gelisah”

“O…..” orang-orang yang mendengar percakapan itu mengangguk-angguk.

“Padukuhan kami memang sedang suram”

Kawan-kawannya dari padukuhan lain hanya dapat berkata “Kasihan, istana itu pada suatu saat mendatangkan kegembiraan, bagi Karangmaja, tetapi disaat yang lain mendatangkan kegelisahan dan bahkan mungkin bencana”.

Demikianlah pembicaraan mereka berkepanjangan, sampai suatu saat orang-orang Karangmaja bercerita tentang tiga orang yang kasar, yang berada di Banjar, dua diantara mereka terbunuh di istana kecil itu, tetapi kemudian datang lagi kawan-kawan mereka dan tinggal di banjar pula. Meskipun hanya dua orang tetapi akibatnya hampir sama. Makan, minum dan bahkan permintaan-permintaan yang memberatkan kami.

Orang-orang Karangmaja itu sama sekali tidak menyadari, bahwa pembicaraan mereka didengar oleh dua orang yang berdiri saja di dekat mereka, nampaknya kedua orang itu sama sekali tidak memperhatkan pembicaraan itu, tetapi hampir setiap kata selalu diingatnya, terutama, ceritera tentang dua orang baru yang ada di banjar.

“Gila” desis salah satu seorang dari kedua orang Guntur Geni yang dengan seksama mendengarkan ceritera itu, “Siapakah yang telah berani mengaku orang-orang dari Guntur Geni?”

“Mereka sama sekali tidak menyebutkan perguruan Guntur Geni, tetapi dua orang yang kasar, yang mirip sifat dan sikapnya dengan tiga orang yang terdahulu”

“Apakah orang-orang Guntur Geni kasar dan rakus?”

Kawannya mengerutkan keningnya, ternyata ia mencoba untuk menilai kawan-kawannya, kemudian berkata “Agaknya memang demikian, sebutkan seorang diantara kita yang tidak bersikap kasar, Kiai Paran Sanggit barangkali?”

“Ia adakah orang yang paling kasar diantara kita”

“Nah, jika demikian, benarlah bahwa orang-orang Guntur Geni adalah orang-orang yang kasar”

“Tetapi tidak semua orang kasar dan liar adalah orang-orang Guntur Geni”

“Kau benar, tetapi hal ini merupakan persoalan bagi kami, kebencian dan dendam orang-orang Karangmaja kepada kedua orang itu akan ditumpahkan kepada orang-orang Guntur Geni, Kiai Paran Sanggit sudah berpesan agar kita tidak berbuat apa-apa, dan melukai hati orang-orang Karangmaja, bahwa diantara kami telah mengorbankan seorang anak muda Karangmaja untuk menunjukkan kemampuan dan kekasarannya, itu sudah cukup, tetapi salah seorang dari kedua orang yang sekarang berada di banjar itu telah melakukan perbuatan serupa?

“Kita harus melaporkannya”

Kedua orang itu masih berusaha mendengarkan beberapa keterangan tentang Karangmaja, tetapi tidak banyak yang mereka dengar lagi, karena hari menjadi siang, dan pasar itupun menjadi semakin sepi.

“Kita akan kembali” desis salah seorang dari keduanya.

Kawannya mengangguk-angguk, tetapi matanya tersangkut pada seorang perempuan yang sedang menjual daun pisang di dalam bakulnya.

“Ingat, jangan membuat persoalan disini” desis kawannya.

Yang lain tersenyum, katanya “Baiklah, akupun tidak berbuat apa-apa, aku hanya sekedar memandang kecantikannya yang lugu itu saja”

“Setan alas, kau benar-benar hantu bagi perempuan”

“Kau sendiri bagaimana?”

“Tentu tidak”

“Tetapi isterimu berjumlah tiga orang, sementara kau masih saja bertualang seperti sekarang”

“Mereka hanya memerlukan aku, bukan nafkah, kerena mereka sudah dapat mencari makan sendiri”

Keduanya tidak berbicara lagi, yang seorang menarik tangan yang lain sambil bergumam “Kita menghadap Kiai Paran Sanggit”

Demikianlah keduanyapun kemudian meninggalkan pasar yang sudah mulai sepi itu, dengan gelisah mereka mencoba menebak siapakah yang berada di banjar padukuhan Karangmaja itu, yang dianggap oleh sebagian dari orang-orang Karangmaja sebagai kawan tiga orang yang terdahulu.

Dalam pada saat itu, bukan orang-orang Guntur Geni itu sajalah yang mendengarkan ceritera tentang Karangmaja, di dalam pasar itu, selain orang-orang Guntur Geni itu, dua orang lainnya telah mendengarkan ceritera-ceritera semacam itu dengan seksama.

“Nah, kau dengar” desis yang tua kepada yang muda.

Yang muda mengangguk-angguk, katanya “Ya, Ki Mina, aku mendengar”

“Masih banyak yang dapat kita dengar di dalam hubungan semacam ini, ada baiknya kita langsung berhubungan dengan orang-orang Karangmaja” jawab Ki Mina.

Panon Suka ragu-ragu sejenak, lalu “Apakah hal itu tidak akan dapat menimbulkan kecurigaan mereka?”

“Mungkin, tetapi kita harus berusaha dengan sangat berhati-hati”

“Tetapi pasar itu telah menjadi sepi”

“Mungkin di warung-warung kita masih dapat bertemu dengan mereka”

Tetapi memang sulit untuk membedakan, yang manakah orang Karangmaja dan dan manakah yang datang dari padukuhan lain, namun dengan menunggu dan mendengarkan pembicaraan mereka beberapa saat, maka Kiai Rancangbandang yang disebut Ki Mina itupun segera mengetahuim bahwa salah seorang dari mereka yang sedang berada di sebuah warung itu adalah orang Karangmaja.

“Kau dengan percakapan itu” bisik Kiai Rancangbandang yang masih berdiri di muka sebuah warung.

Panon mengangguk-angguk.

“Marilah kita masuk, mumpung tidak ada terlalu banyak orang yang ada di dalamnya”

Keduanyapun segera memasuki warung itu dan duduk di dekat orang Karangmaja yang sedang makan dengan lahapnya setelah ia menghabiskan dagangannya.

“Maaf Ki Sanak” kata Ki Mina.

“Silahkan” sahut orang Karangmaja itu.

Sejenak Ki Mina dan Panon Sukapun minta disediakan dua mangkuk minuman panas.

Untuk beberapa saat mereka masih dapat mendengar, seseorang yang berbicara dengan orang Karangmaja itu. Sekali-sekali diselingi gelak tertawa jika orang Karangmaja itu disela-sela kesibukannya mengunyah makanannya berceriera tentang padukuhannya dengan cara yang lucu.

Ternyata Kiai Rancangbandang dan Panon Suka tidak perlu bertanya lagi kepadanya, karena orang itu telah berceritera pula tentang istana kecil itu.

“Jadi ada seorang Pangeran yang lain yang tinggal disana?”

“Aku tidak tahu apakah ia Pangeran atau bukan, tetapi ia adalah keluarga dari Pangeran Kuda Narpada”

Orang yang bertanya itu mengangguk-angguk, tetapi keinginan yang mendesak agaknya tidak tertahan lagi, sehingga Kiai Rancangbandang menyela “Siapakah nama bangsawan itu Ki Sanak?”

Orang Karangmaja itu berpaling, ditatapnya Kiai Rancangbandang yang kemudian menunduk sambil menghirup minuman panasnya.

“Kuda Rupaka” jawab orang Karangmaja itu kemudian, “Ialah yang sudah membunuh dua orang penjahat yang barangkali akan merampok rumah Pangeran Kuda Narpada yang sebenarnya sudah kosong itu”

“Kosong?” Panon Suka bertanya.

“Ya, yang tinggal hanyalah perabot-perabot rumah tangga yang besar-besar, namun tidak cukup berharga. Selama ini isi istana itu harus makan, karena itu kadang-kadang mereka terpaksa menjual sesuatu meskipun orang-orang Karangmaja sering juga datang membantu dengan bahan-bahan mentah. Tetapi Raden Ayu Kuda Narpada tidak mau terlalu banyak merepotkan orang-orang Karangmaja yang kekurangan”

“Jadi siapakah yang sudah dibunuh oleh bangasawan itu?”

“Tidak banyak yang kami ketahui” jawab orang itu “menurut Ki Buyut, orang-orang itu disebutnya berasal dari perguruan Guntur Geni”

Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, benar-benar perguruan Guntur Geni telah berada di bukit itu. Dan bahkan seperti yang didengarnya, ada beberapa pihak telah saling berbenturan, apa lagi di dalam istana kecil itu telah tinggal seorang bangsawan yang bernama Kuda Rupaka.

“Apakah bangsawan itu bermaksud baik atau sebaliknya?” bertanya Kiai Rancangbandang di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak bertanya apapun lagi, dihirupnya minumannya dan dikunyahnya beberapa potong makanan, agaknya Panonpun telah merasa cukup, bukan saja perutnya terlah terisi, tetapi keterangan yang didengarnya telah cukup banyak.

Demikianlah ketika orang Karangmaja itu meninggalkan warung itu, maka Kiai Rancangbandang dan panon Sukapun membayar harga mekanan mereka dan keluar pula dari warung. Diluar Ki Rancangbandang masih sempat bertanya, dagangan apakah yang dibawa oleh orang Karangmaja itu.

“Kau tahu bahwa aku berjualan disini dan kalian tidak berbelanja” bertanya orang Karangmaja itu.

“Kau tidak membawa apa-apa Ki Sanak”

Orang itu tertawa, agaknya ia memang senang berkelakar, jawabnya kemudian “Aku menjual barang-barang dan alat-alat dari besi, aku adalah pandai besi, bukan saja pandai besi, tetapi aku juga dapat membuat senjata yang baik, ayahku seorang mpu keris yang ternama di Karangmaja, dan akupun sedang mempelajari dengan tekun”

“Bagus sekali” jawab Kiai Rancangbandang “Barangkali keris yang kau pakai itu juga buatan ayahmu?”

“Ya, lihat” katanya sambil menghunus kerisnya.

“O” desis Kiai Rancangbandang “Bagus sekali”

Dengan bangga orang itupun kemudian pergi meninggalkan Kiai Rancangbandang yang tersenyum “Tidak lebih baik dari sebuah pisau dapur”

Panon mengerutkan keningnya, diluar sadarnya iapun bergumam “Tidak banyak bedanya dengan pisau-pisau belatiku, Paman”

Kiai Rancangbandang tersenyum, katanya “Memang tidak banyak bedanya, pisau-pisau yang dibuat oleh pandai besi yang tidak banyak mengetahui tentang wesi aji, tetapi baik pisau-pisau belatimu yang berjumlah cukup banyak itu maupun keris yang tidak lebih baik dari pisau dapur itu ditanganmu akan menjadi senjata yang barangkali lebih baik dari pusaka yang manapun juga”

“Ah, Paman selalu memuji seperti Ki Ajar Respati”

Kiai Rancangbandang tertawa, dipandanginya orang Karangmaja yang sudah menjadi semakin jauh.

“Nah, kita sekarang sudah mendapat gambaran yang agak jelas tentang Karangmaja, sebuah padukuhan yang nampaknya masih tetap tenang, tetapi yang sebenarnya diliputi oleh kemelutnya api yang membara didalam sekam, setiap saat akan dapat menjilat keudara dan membakar padukuhan itu menjadi hangus”

“Untunglah aku datang ke padukuhan ini dengan Kiai” berkata Panon “Jika aku pergi sendiri, mungkin aku akan menjumpai banyak kesulitan”

“Kau akan mengatasinya meskipun mungkin memerlukan waktu yang agak lama”

“Guru tidak banyak memberikan petunjuk tentang kemungkinan-kemungkinan yang ternyata telah terjadi di atas Gunung Sewu”

“Bukan salah gurumu, karena gurumu tidak dapat bergerak dengan bebas karena keadaan jasmaniahnya, maka ia tidak banyak mengetahui dan mendengar tentang padukuhan di atas Gunung Sewu ini”

Panon Suka mengangguk-angguk, kemudian katanya “Jadi bagaimana sebaiknya paman, apakah kita langsung masuk ke istana itu atau kita menunggu kesempatan yang paling baik?”

“Angger” berkata Kiai Rancangbandang “Kita tidak tahu, apakah benar para bangsawan yang ada di istana itu dapat dipercaya, dalam keadaan seperti sekarang ini, kita memang wajib bercuriga terhadap siapapun juga, juga kepada keluarga sendiri, karena ia hadir justru setelah Pangeran Kuda Narpapda tidak ada di istana itu”

“Tetapi bagaimana mungkin kita dapat masuk ke dalam istana itu tanpa diketahui oleh kedua bangsawan yang ada di dalamnya?”

“Kita akan mencari jalan, tentu kedua bangsawan itu tidak akan berada di istana itu siang dan malam, pada suatu saat mereka sekali-sekali akan keluar, entah untuk keperluan apa”

“Tetapi jika demikian, seandainya mereka benar-benar mempunyai pamrih, apakah selama itu tidak akan terjadi sesuatu?”

Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, ia mengetahui dari pembicaraan-pembicaraan yang didengar di pasar tentang kemampuan bangsawan itu, yang dapat mengetahui keadaan seseorang yang sedang terluka dengan rabaan jarinya, dan bahwa ia telah membunuh orang yang memasuki istana itu dengan maksud jahat.

Maka itu maka dengan ragu-ragu Kiai Rancangbandangpun berkata “Kita harus berhati-hati sekali, meskipun kita datang dengan wajah pengemis sekalipun, kita akan tetap dicurigai”

“Jadi?”

“Kita harus benar-benar menyiapkan diri menghadap segala kemungkinan, agaknya kita tidak akan terlepas sama sekali dari suatu tindakan kekerasan menghadapi keadaan di sekitar istana kecil itu”

“Panon mengangguk-angguk, katanya “Agaknya gurupun mempertimbangkan pula, jika tidak, maka guru tentu tidak perlu memberikan bekal ilmu kanuragan kepadaku”

Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, lalu “Karena itu, jangan terlampau mengalah menghadapi setiap persoalan sebelum kita terlambat mengambil sikap, kau agaknya terlampau sabar menghadapi keadaan, agaknya sikap itu baik sekali kau trapkan pada saat-saat lain, kecuali menghadapi keadaan seperti di atas Gunung Sewu itu”

Panon mengangguk-angguk pula, ia menyadari keadaan yang sedang dihadapinya, agaknya memang bukan sekedar memelihara perasaan dan sikap yang lemah lembut.

“Angger, jika kau sudah bersiap, marilah kita mendekat, apapun yang akan kita hadapi, kita sudah mempertimbangkan kemungkinannya”

“Paman” berkata Panon Suka “Agaknya keadaan diatas Gunung Sewu itu benar-benar gawat, aku tidak berpikir tentang Paman, aku berterima kasih sekali atas semua kebaikan hati paman, tetapi jika kebaikan hati itu harus dilengkapi dengan kemungkinan yang pahit bagi keselamatan paman, maka agaknya itu sudah terlampau banyak, apakah aku dapat menerima kebaikan hati yang berlebih-lebihan itu?”

Kiai Rancangbandang tertawa katanya “Kau benar-benar seorang anak muda yang dewasa, kau memiliki daya pikir yang kuat dan mendasar” ia berhenti sejenak, lalu “Anakmas, aku mengerti perasaanmu, tetapi baiklah kau singkirkan saja sejauh-jauhnya, aku sudah dengan sengaja mengikutimu sampai ke daerah Karangmaja, aku pergi dengan penuh kesadaran atas segala akibatnya”

Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya “Terima kasih Paman, agaknya tidak ada jalan yang dapat aku tempuh untuk membalas kebaikan hati Paman ini”

“Jangan kau pikirkan, dengan demikian kau akan menambah beban perasaanmu saja, marilah kita mulai dengan kerja yang bagimu sangat penting, juga buat masa depan Demak yang baru tumbuh”

Panon tidak menjawab, terasa sesuatu menyesak dadanya, namun kemudian iapun menggerakkan giginya, seolah-olah memantapkan tekadnya untuk melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya, bahkan sampai kemungkinan yang paling buruk sekalipun bagi hidupnya.

Karena itulah, maka mereka berduapun dengan hati-hati berusaha mendekati padukuhan Karangmaja yang meskipun nampaknya masih tetap tenang, tetapi agaknya bagaikan bisul yang sudah masak untuk pecah

Berbagai pihak yang ada di sekitar Karangmaja telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, semua mata seolah-olah setiap saat tertuju kepada istana kecil yang terpencil itu. Istana yang sudah suram setelah ditinggalkan oleh Raden Kuda Narpada.

***

Sementara itu, Raden Kuda Rupaka yang berada di istana kecil itupun menjadi gelisah pula, ia mengetahui dengan pasti, bahwa di sekitar istana itu tentu telah bersiap beberapa pihak yang dapat membahayakan istana kecil itu bersama penghuninya.

Karena itulah, maka iapun selalu memperingatkan Inten Prawesti agar ia tidak keluar dari istana tanpa pengawasannya, karena ternyata anak muda yang bernama Kidang Alit itu memiliki berbagai macam cara untuk menjeratnya, mungkin karena sentuhan perasaannya sebagai seorang laki-laki terhadap seorang gadis, tetapi mungkin pula karena maksud-maksud tertentu yang tersembunyi.

“Angger Kuda Rupaka” bertanya Raden Ayu Kuda Narpada ketika kegelisahan yang sangat telah menyentuh hatinya “Rasa-rasanya rumah ini telah dikitari oleh bayangan yang buram, bahkan telah terjadi malapetaka yang untung masih dapat diatasi olehmu, apakah panasnya api yang mengelilingi dinding halaman ini?”

Kuda Rupaka termangu-mangu sejenak, sekilas ditatapnya wajah Panji Sura Wilaga, namun kemudian iapun menggelengkan kepalanya sambil menjawab “Aku tidak tahu bibi, justru sebenarnya akulah yang harus bertanya kepada bibi, apakah ada sesuatu yang merupakan daya tarik dari orang-orang yang tidak dikenal itu untuk datang ke istana ini”

“O…” Raden Ayu Kuda Narpada menjadi heran “Aku tidak mengerti, menurut hematku, isi istana ini justru sudah hampir habis, maksudku, barang-barang yang berharga , yang ada hanyalah perabot-perabot yang aku kira tidak ada harganya”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya kemudian “Tentu mereka menduga bahwa ada sesuatu yang berharga di istana ini, sehingga beberapa orang dari lingkungan yang berbeda telah datang ”

Raden Ayu Kuda Narpada menjadi semakin prihatin, ia tidak tahu pasti apa yang terjadi di luar istananya, tetapi firasatnya yang telah menggelisahkannya. Apalagi setelah dua terbunuh di halaman rumahnya, suara seruling yang seakan-akan telah membius anak gadisnya, dan perasaan yang kadang-kadang tidak menentu dan menggelisahkan.

Ketika Raden Ayu Kuda Narpada meninggalkan Raden Kuda Rupaka, maka anak muda itu berbisik di telinga Panji Sura Wilaga “Bibi tidak mengetahui apapun tentang kemungkinan adanya barang-barang berharga di istana ini”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, namun kemudian katanya “Raden, apakah tidak sebaiknya Raden berterus terang kepada Raden Ayu Kuda Narpada bahwa sebenarnyalah orang-orang yang kini berdatangan ke Karangmaja adalah justru karena istana kecil ini, dengan demikian Raden Ayu mendapat gambaran, betapa rumitnya kedudukannya sekarang, justru setelah Pangeran Kuda Narpada tidak ada lagi”

Kuda Rupaka mengerutkan alisnya, lalu “Apakah yang harus aku katakan kepada bibi?”

“Istana ini dengan dengan segala isinya harus diselamatkan”

“Ya” wajah Kuda Rupaka tiba-tiba saja telah menyala “Harus diselamatkan” namun suaranyapun kemudian menurun “Tetapi sulit untuk keluar dari istana ini sekarang”

“Kita harus bertempur jika ada yang mencoba menghalangi, mudah-mudahan saudara seperguruan Raden dapat melihat kehadiran orang-orang asing di istana ini dan ikut bertanggung jawab atas keselamatan isi istana ini”

“Aku kira bahwa Kamas Bramarasa telah mengetahui kehadiran orang-orang dari Guntur Geni, Kumbang Kuning dan barangkali dari perguruan-perguruan yang lain”

“Tetapi apakah Raden Bramarasa juga akan hadir ditempat ini?”

“Aku yakin, guru tidak akan membiarkan kita berdua terjebak tanpa dapat keluar lagi dari daerah ini, meskipun barangkali kita berdua dapat mengatasi rintangan yang menghalangi jalan keluar dengan kekerasan, tetapi agaknya terlampau berbahaya untuk melakukannya tanpa orang lain. Kita tidak tahu jumlah yang sebenarnya dari orang-orang Guntur Geni, Kumbang Kuning dan perguruan lainnya”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, namun kemudian “Tetapi semakin lama daerah ini nampaknya menjadi semakin ramai”

“Yang penting, kita selamatkan istana ini, baru kemudian kita akan menentukan sikap untuk mengamankannya lebih lanjut, jika Kangmas Bramarasa tidak berbuat sesuatu, maka segalanya memang terserah kepada kita”

“Semula semuanya sudah diserahkan kepada tanggung jawab kita berdua Raden”

“Tetapi kehadiran orang-orang Guntur Geni dan Kumbang Kuning kurang mendapat perhatian guru dan kamas Bramarasa”

“Sekarang mereka telah hadir disini”

“Nah, barangkali hal itu akan mendesak kangmas Bramarasa untuk hadir pula di daerah ini, namun kita tidak menggantungkannya kepada pertolongan itu, kita harus membuat perhitungan tersendiri untuk keselamatan isi istana ini”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, lalu “Tetapi kita belum mengetahui keadaan sebenarnya dari halaman yang tidak begitu luas ini Raden”

“Kita akan melihatnya malam nanti, aku tidak ingin menggelisahkan bibi dan diajeng Inten Prawesti”

Panji Sura Wilaga masih mengangguk-angguk, ia sependapat dengan Kuda Rupaka, setiap langkah yang nampaknya aneh, tentu akan dapat menggelisahkan Raden Ayu Kuda Narpada, sehingga karena itu maka semuanya dilakukannya dengan hati-hati.

Seperti yang mereka rencanakan, maka ketika malam manjadi gelap, Kuda Rupaka berbisik kepada Panji Sura Wilaga “Paman, apakah semuanya sudah tidur?”

“Nampaknya sudah sepi Raden, barangkali kita dapat mulai melihat-lihat halaman ini lebih seksama, jika kita pernah melakukannya, hanyalah sepintas lalu saja tanpa dapat mengamati setiap keadaan yang pantas mendapat perhatian”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya “Marilah, jangan membangunkan siapapun juga”

Keduanyapun kemudian dengan hati-hati keluar dari biliknya, dengan hati-hati pula mereka membuka pintu pringgitan.

“Tutup pintu itu kembali paman” bisik Kuda Rupaka.

Keduanyapun kemudian melintasi pendapa dan turun ke halaman, namun sejenak kemudian, mereka telah menyelusuri halaman samping sampai ke halaman belakang.

Dengan ketajaman pandangan mata mereka, keduanya mencoba mencari sesuatu yang menimbulkan dugaan bahwa di dalamnya tersimpan sesuatu yang telah merangsang perguruan-perguruan bahkan dari tempat yang jauh untuk datang ke Karangmaja.

“Tentu ada sesuatu di istana kecil ini” desis Raden Kuda Rupaka, “Diketahui atau tidak diketahui oleh bibi”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, katanya “Tetapi kita tidak melihat tanda-tanda apapun yang dapat mengatakan, bahwa memang ada sesuatu itu”

Raden Kuda Rupakapun mengangguk-angguk, katanya “Jika memang ada dan kita tidak melihat tanda-tanda apapun, maka agaknya paman Kuda Narpada telah menyembunyikan sebaik-baiknya, di dalam atau di luar rumah, bahkan bibi sama sekali tidak mengetahuinya”

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, dengan nada datar ia menyahut “Dengan cara ini memang sulit untuk mengetahui Raden, apakah tidak sebaiknya, Raden mencoba bertanya langsung kepada bibi Raden”

Raden Kuda Rupaka termenung sejenak, lalu katanya “Jika tidak ada jalan lain, aku akan bertanya kepada bibi”

“Atau kepada Puteri Inten Prawesti?”

“Ia tidak tahu apa-apa, sedangkan bibi, masih ada kemungkinan mengetahuinya”

Panji Sura Wilaga masih akan menjawab, namun tiba-tiba ia bergeser menepi sambil menggamit Raden Kuda Rupaka yang agaknya telah mengetahui pula, kehadiran orang lain yang tidak mereka kehendaki.

“Kita bersembunyi saja paman” desis Kuda Rupaka.

Keduanyapun kemudian meloncat ke balik sebatang pohon perdu yang rimbun, sehingga keduanya terlindung dalam kegelapan.

Namun Raden Kuda Rupakapun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Dalam kegelapan ia berbisik “Aku sangka orang Kumbang Kuning atau orang Guntur Geni yang akan melihat-lihat kebun istana ini pula”

Panji Sura Wilaga mengumpat perlahan “Anak-anak gila”

Dalam pada itu di dalam kegelapan, dua orang anak-anak muda sedang berjalan dengan ragu-ragu, bahkan keduanya saling mendorong.

“Kau kan laki-laki kakang”

“Kau jangan ribut saja Pinten” terdengar jawaban Sangkan “Aku sudah mengantarkan sampai disini, tidak pantas aku ikut masuk ke pakiwan, cepatlah, aku juga ketakutan”

“Aku takut” desis Pinten.

“Masuklah, aku tunggu kau disini, tetapi jangan terlampau lama”

Sejenak keduanya berdiri termangu-mangu, namun Sangkan kemudian mendorong adiknya sambil berkata “Jika kau terlalu lama, aku tinggal kau lari”

“Aku akan berteriak”

“Yang datang menolongmu kawan-kawan dari orang yang terbunuh di halaman, kemudian kau dibawanya ke banjar”

“Tidak mau, tidak mau” Pinten justru berpegangan kakanya semakin erat.

Kuda Rupaka menjadi geli melihat tingkah laku kedua anak-anaknya Nyi Upih itu. Karena itu maka ia menggamit Panji Sura Wilaga sambil berbisik “Anak-anak gila itu tidak akan segera pergi justru karena keduanya ketakutan”

“Aku ingin mencekiknya saja” geram Panji Sura Wilaga.

“Mereka akan tetap saling mendorong sampai pagi” desis Kuda Rupaka “Biarlah aku mengawaninya, dengan demikian mereka akan cepat pergi.

“Mereka akan menjadi manja sekali”

Tetapi Kuda Rupaka tersenyum katanya “Pada suatu saat mereka akan mati ketakutan melihat peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi di istana kecil ini”

“Sebaiknya mereka pergi agar mereka tidak menjadi beban saja disini”

“Mereka tidak lebih dari badut-badut yang pantas untuk lelucon, sekali-kali kita perlu mengendorkan urat syaraf kita yang selalu tegang”

Panji Sura Wilaga tidak menjawab, dibiarkannya Kuda Rupaka berdiri dan perlahan-lahan mendekati kedua anak-anak muda yang masih saja saling berpegangan.

Bab 17

“Cepat antarkan aku ke sumur” desak Pinten.

“Aku tunggu kau disini, cepatlah sebelum aku lari”

Tetapi Pinten menarik tangan kakaknya “Aku akan menangis kseras-keras, biar Puteri terbangun dan marah-marah kepadamu”

“Pasti kita akan diusir”

“Itukan salahmu”

“Kau memang manja sekali Pinten, kita bukan orang-orang besar yang pantas bermanja-manja, kau harus menjadi lebih berani sedikit”

“Majulah sedikit, berdirilah di depab pintu pakiwan”

Hampir saja Pinten menjerit, ketika tiba-tiba saja mereka melihat sesosok tubuh disamping mereka, untunglah sebelah tangan yang kuat telah menyumbat mulutnya, sehingga suaranya yang hampir terlontar itu telah tertelan kembali.

Perlahan-lahan tangan itupun kemudian melepaskannya, yang terdengar kemudian adalah tertawa perlahan-lahan “Kalian anak-anak dungu, penakut dan apalagi, kenapa kalian saling mendorong disini?”

Sangkan yang terkejut bukan buatan, seolah-olah tidak dapat mengucapkan sepatah katapun, nafasnya terengah-engah, dan tubuhnya menjadi gemetar.

“He,,!, ngapain kalian disini..!!”

“O…” nafas Sangkan masih tersengal, “Raden mengejutkan kami, hampir saja kami pingsan karenanya”

“Raden hampir saja membunuhku” suara Pinten terputus-putus,

“Jika aku tidak menyumbat mulutmu, kau tentu sudah berteriak, dan seisi rumah ini akan terbangun dan menjadi ribut” berkata Raden Kuda rupaka yang sengaja mengejutkan mereka.

“Tetapi, jantungku hampir terlepas Raden” berkata Sangkan.

Kuda Rupaka masih tertawa, katanya “He, kenapa kalian berada disini?”

“Pinten ingin pergi ke pakiwan Raden” jawab Sangkan “Ia penakut sekali, ia tidak berani pergi sendiri”

“Apakau kau bukan penakut?, kau tidak berani mengantarkan adikmu mendekati pakiwan itu”

“Bukan tidak berani Raden, tetapi tidak pantas sekali, kecuali jika Pinten seorang anak kecil yang baru pandai berjalan, aku dapat mengantarkannya masuk ke pakiwan”

Kuda Rupaka tertawa berkepanjangan meskipun ia masih mencoba menahan tertawanya agar tidak didengar oleh orang-orang lain di dalam istana itu.

“Marilah aku antarkan sampai ke dalam pakiwan” berkata Kuda Rupaka.

“Ah” desis Pinten, “Tidak mau ah, malu”

“Nah, jika kemudian, pergilah. Biarlah kakakmu menunggu disini, akupun berada disini, kenapa?, kau takut?”

Pinten menjadi ragu-ragu, tetapi iapun kemudian terpaksa melangkah ke pakiwan sendiri yang tinggal beberapa langkah saja dihadapannya, namun setiap kali ia masih saja berhenti dan menoleh.

Tetapi tiba-tiba saja Kuda Rupaka melangkah maju, disambarnya tangan Pinten dan ditariknya mundur.

“Raden” Pinten berteriak pelan, tetapi Kuda Rupaka tidak menjawab, tetapi ia sendirilah yang kemudian meloncat maju.

“Raden, kenapa?” Tanya pinten.

Kuda Rupaka tidak menjawab, tetapi ia telah berdiri tegak menghadap kegelapan, tangannya tiba-tiba saja telah meraba hulu kerisnya yang tidak terpisah dari tubuhnya, dan digesernya ke lambung kanan.

Pinten dan Sangkan termangu-mangu, mereka memandangi saja Kuda Rupaka yang membelakangi mereka dengan sikap aneh.

“Jadi kau mencoba memasuki istana ini di malam hari?” tiba-tiba saja Kuda Rupaka bersuara.

Ternyata dari dalam kegelapan terdengar jawaban, “Suara gadis itulah yang menarik perhatianku, sebenarnya aku tidak mau memanjat dinding, tetapi karena suara gadis itulah aku ingin melihat, siapakah yang bergurau di malam buta seperti ini”

“Kami tidak bergurau” jawab Kuda Rupaka, lalu “Tetapi seandainya kami bergurau sekalipun, apakah hakmu?, gadis itu sama sekali tidak berkepentingan dengan kau”

“Semula aku mengira bahwa suara perempuan itu adalah suara puteri Inten Prawesti, ternyata adalah suara gadis anak pelayan istana ini”

“Kau tidak berkepentingan dengan kedua-duanya” sahut Kuda Rupaka, lalu iapun bertanya “Nah, apakah yang kau kehendaki anak Kumbang Kuning?”

“Kau salah paham” jawab orang di dalam kegelapan itu “Mungkin aku memang murid perguruan Kumbang Kuning, tetapi jika pengenalanmu adalah karena kau melihat seseoarang yang hadir dalam pertempuran di halaman istana ini antara kau dan anak-anak Guntur Geni, maka kau salah, orang itu bukan aku, dan dengan demikian kau keliru memperhitungkan keadaan”

Kuda Rupaka tertawa, katanya “Aku tahu kau menyebut dirimu bernama Kidang Alit, mungkin nama itu bukan namamu yang sebenarnya, tetapi ciri Kumbang Kuning itu justru kau katakan sendiri malam itu”

“Kita sama-sama dihadapkan pada suatu teka-teki, siapakah orang yang hadir pada malam itu dan mengaku anak dari perguruan Kumbang Kuning, kau salah tebak, dan akupun sama sekali tidak tahu siapakah orang itu”

“Apakah gunanya kau ingkar?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam, katanya “Sudahlah, kita tidak usah berbantah, aku hanya mohon, agar kalian tidak bergurau di malam yang gelap dan sepi ini. Suara seorang gadis yang renyah, membuat hatiku berdebar-debar”

Tiba-tiba saja diluar dugaan, Pinten bertanya dengan lugunya “Apakah kau menginginkan diriku?”

“Hush..!!” Sangkan menutup mulut adiknya, sementara Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam.

Terdengar Kidang Alit tertawa, lalu “Jangan bertanya apakah aku menginginkan dirimu, tetapi jika kau sempat, keluarlah dari halaman istana ini sekarang”

Tetapi yang menjawab adalah Kuda Rupaka “Kidang Alit, setiap orang mengetahui sikapmu terhadap gadis-gadis, agaknya kau telah menaruh perhatian atas dua orang gadis yang ada di istana, meskipun mereka dalam kedudukan yang jauh berbeda, seorang Puteri dan seorang anak pelayan, tetapi bagimu kedua-duanya adalah gadis-gadis cantik yang telah membakar nafsumu”

Kidang Alit tertawa, katanya “Itu adalah kelebihanku dari anak-anak muda yang lain Raden, tetapi baiklah, aku tidak berkepanjangan, tetapi jika gadis anak pelayan itu ingin keluar dari halaman istana ini, jangan kau halangi, aku akan menjaga keselamatannya”

“Apa yang harus aku lakukan jika aku keluar halaman?” tiba-tiba Pinten bertanya.

“O, anak gila” geram Sangkan sambil sekali lagi membungkan mulut adiknya.

Kidang Alit tertawa semakin panjang, meskipun tidak terlalu keras, katanya “Sikapmu membuatku semakin gila, kau menjadi semakin dewasa, cobalah kau sadari, bahwa ada perubahan pada dirimu, pada tubuhmu dan pada perasaanmu. Kau tentu mempunyai persoalan yang tidak terpecahkan didalam dirimu saat-saat kau tumbuh dan mekar seperti sekarang ini, persoalan mengenai dirimu dan seleramu terhadap pergaulan, kau tidak menyadari bahwa kau menjadi semakin cantik seperti bunga Arum Dalu disaat-saat menjelang malam, baunya sangat semerbak menggelepar di dalam kegelapan mengusik malam yang sepi, He…, apakah kau mengerti anak manis?”

Pinten tidak menjawab, karena tangan kakaknya masih melekat dimulutnya.

“Jangan terlalu banyak bicara disini anak Kumbang Kuning” Geram Kuda Rupaka.

“Maaf Raden, gadis itu memang sangat cantik, aku mengaguminya seperti aku mengagumi Puteri Inten, tetapi kedua-duanya mempunyai kelebihan sendiri-sendiri, Puteri adalah seorang gadis yang cantik, agung dan berwibawa, serasa diri ini akan berlutut mencium ujung kakinya dan pasrah apa saja yang harus diperbuatnya, tetapi gadis ini mempunyai ciri yang lain, cantik, jujur dan bening, seperti air gemercik mengalir didasar sungai berpasir, rasa-rasanya setiap orang ingin turun mandi untuk mendapatkan kesegaran baru, apalagi dalam kegersangan seperti sekarang ini”

“Gila” potong Kuda Ruapaka “Benar-benar kata-kata orang gila, tetapi kata-katamu memang dapat membuat orang lain menjadi gila pula, seperti suara seruling, tetapi ingat, suara serulingmu itu tidak akan berpengaruh apapun bagi istana ini, selama aku masih ada disini”

“Aku tidak membawa seruling sekarang, aku hanya ingin memuji gadis anak pelayan itu, ia mekar pada saat-saat dedaunan ditaman sedang layu dan menguning, justru karena itu nampak betapa segar dan cantiknya, seperti tetesan embun diterik matahari, memetik membasahi lidah pengembara yang kehausan”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, terasa sesuatu getaran dihatinya, ketika ia berpaling, dilihatnya Pinten masih berdiam diri kerena kakaknya masih tetap membungkam mulutnya.

Namun dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka sadar, bahwa Kidang Alit tidak lagi melontarkan kata-katanya dengan wajar, rasa-rasanya ia telah mempergunakan ilmunya, sehingga kata-kata itu tentu telah menusuk langsung membelah hati gadis yang sedang tumbuh dan masih terlalu hijau itu.

Karena itu, maka Kuda Rupaka segera mencoba melepaskan pengaruh ilmu Kidang Alit, yang tidak sedang mempergunakan kekuatan nada serulingnya, tetapi dengan kekuatan bunyi dan kata-katanya, ia melontarkan ilmunya yang dahsyat dan berbahaya bagi gadis-gadis.

“Tetapi Kidang Alit” berkata Kuda Rupaka “Betapapun indahnya bunga ditaman, namun kelembutan tangan juru taman adalah kebahagiaan yang paling didambakannya, jauh lebih jernih dari sentuhan tangan yang kasar dari jejaka yang lidahnya bercabang”

“Auman serigala dimalam kelam, tidak akan berarti apa-apa bagi kelembutan suara burung pungguk yang melanggut melepaskan perasaan rindu”

“Tetapi angin prahara yang berdegup disetiap hari akan membangunkan seseorang dari mimpinya yang paling mengerikan, dan ini adalah akhir dari lamunan yang dapat menyeretnya kedalam jurang kenistaan, karena itu berhentilah, dan pergilah, karena kekuatan bunyi pada kata-katamu sudah tidak berarti sama sekali”

Kidang Alit tiba-tiba saja menggeram, terasa dadanya bagaikan sesak. Ternyata sekali lagi Kuda Rupaka telah membentur kekuatan ilmu gendamnya dan telah memecahkan penguasaannya atas Pinten yang sudah berhasil dicengkamnya, menurut perhitungannya.

“Kau memang mempunyai kekuatan untuk melawan ilmu gendamku Raden” berkata Kidang Alit kemudian “Tetapi bahwa jika kita pada suatu saat berbenturan sebagai laki-laki di arena perebutan kekuasaan atas sumber wahyu itu, maka kau tidak akan dapat mengalahkan ilmu kanuraganku”

“Cengkir Pitu bukan nama perguruan yang tidak terkalahkan, karena itu, sebaiknya kau menyadari kedudukanmu Raden, kau bukan orang yang paling berkuasa disini, juga diseluruh daerah Demak.

“Aku mengerti Kidang Alit, dan aku siap setiap saat, aku juga mengerti bahwa disini ada orang-orang dari Guntur Geni yang tidak mengakui kegagalannya, jika kau jantan, kau tidak usah menunggu orang-orang Guntur Geni, karena aku tahu, dengan licik kau ingin melihat benturan yang terjadi. Dan diatas mayat kedua belah pihak itulah kau akan menarikan tari kemenangan, tetapi kau tidak akan dapat berhasil”

Kidang Alit tidak menjawab, yang terdengar adalah giginya yang gemeretak menahan marah, namun sejenak kemudian maka Kuda Rupaka itupun menarik nanfas dalam-dalam sambil berkata “Ia akan kembali pada suatu saat”

Sangkan yang gemetar berjalan mendekati Kuda Rupaka sambil mengandeng Pinten “Kidang Alit, jadi Kidang Alit telah dengan diam-diam memasuki halaman ini?, dan apakah ia ini sudah pergi?”

“Anak itu memang berbahaya, lebih berbahaya dari orang-orang Guntur Geni” Jawab Kuda Rupaka.

“Ia sudah pergi?” ulang Sangkan.

“Ya, ia sudah pergi”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia berpaling kepada adiknya yang masih saja dibimbingnya “O, anak dungu. Apakah kau ingin masuk ke dalam mulut buaya itu?, Eh maksudku, kau jangan mendekat” Ia berhenti sejenak, selangkah ia mendekati Kuda Rupaka “Tetapi bukankah ia sudah benar-benar pergi dan tidak mendengar kata-kataku”

Kuda Rupaka tersenyum, jawabnya “Ia sudah benar pergi, ia tidak mendengar kata-katamu, kecuali ia mempergunakan Aji Sapta Pangrungu”

“Tetapi apakah anak muda itu memiliki ilmu itu?”

“Aku tidak tahu, ia memiliki bermacam-macam ilmu”

Wajah Sangkan menjadi semakin pucat, lalu “Tetapi apakah ia marah jika ia mendengar kata-kataku?”

“Tentu ia akan marah”

“Tetapi, tetapi aku tidak bermaksud jahat, aku hanya memperingatkan adikku agar tidak merasa dirinya penting dan diperlukan orang lain”

Kuda Rupaka tertawa, katanya “Jangan takut, selama aku masih ada disini, ia tidak akan berani berbuat apapun juga atas keluarga istana ini”

“Terima kasih Raden” kata Sangkan.

Tetapi baru saja mulutnya terkatub, ia sudah melonjak ketakutan ketika ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak, apalagi Pinten yang tiba-tiba saja sudah bersembunyi dibelakang kakaknya.

“Jangan takut, itu adalah paman Panji Sura Wilaga”

“O…..” Sangkan mengusap dadanya “Tuan membuat kami ketakutan”

Panji Sura Wilaga mengumpat, katanya “Pengecut macam kalian ini sama sekali tidak ada harganya, sebelum kalian mati membeku disini, sebaiknya kalian kembali ke padukuhanmu”

“O…” Aku tidak mempunyai tempat tinggal lagi tuan, biyungku ada disini, dan aku senang tinggal disini”

“Tetapi disini kalian akan selalu ketakutan, jika kalian memiliki sedikit saja keberanian, setidak-tidaknya untuk tidak berteriak, maka kalian masih ada juga gunanya disini, membantu membersihkan halaman, mengambil air dan semacam itu, tetapi sifat pengecut kalian yang berlebih-lebihan, pada suatu saat akan tidak menguntungkan, baik bagi isi istana ini seluruhnya, maupun bagi dirimu sendiri”

Sangkan tidak menyahut, tetapi kepalanya sajalah yang munduk dalam-dalam, seolah-olah ia sedang merenungi dirinya sendiri dan adik perempuannya yang akan selalu menjadi beban orang-orang lain.

“Sudahlah paman” berkata Kuda Rupaka “Biarlah mereka kembali ke biliknya, memang harus ada pemecahan bagi mereka disini”

Sangkan dan Pinten tidak menyahut.

“Masuklah” berkata Kuda Rupaka.

“Baik Raden” jawab Sangkan.

Tetapi ketika ia mulai melangkah sambil membimbing adiknya, maka Pintenpun berkata “Aku akan ke pakiwan dahulu, bukankah aku belum sempat?”

“O…., anak gila” desis Panji Sura Wilaga sambil melangkah pergi.

Kuda Rupaka tertawa, tetapi ketika iapun akan melangkah pergi, Sangkan berkata “Maaf Raden, apakah Raden mau menunggu sebentar?”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, sementara Panji Sura Wilaga menggeram sambil melangkah menjauh “Lebih baik kalian dimakan hantu sekarang juga, atau diterkam Kidang Alit itu sama sekali”

Tetapi Kuda Rupaka tertawa sambil berkata “Cepat”

Pintenpun kemudian berlari-lari kecil ke pakiwan, sedangkan Sangkan melangkah beberapa langkah maju agar adiknya tidak selalu berteriak ketakutan.

Baru kemudian setelah mengucapkan terima kasih, keduanyapun kembali kedalam biliknya, mereka berdesakkan dahulu mendahului masuk meloncat pintu, sehingga pintu itu berderak.

“Siapa?” bertanya Nyi Upih.

Kedua anak itu tidak menjawab, bahkan kemudian merekapun berjingkat masuk, dengan hati-hati Sangkan menutup pintu itu agar tidak mengejutkan Nyi Upih yang agaknya juga terbangun.

Karena tidak ada jawaban, maka Nyi Upih hanya sekedar membetulkan selimutnya, meskipun ia melihat kedua anaknya merangkak ke pembaringan masing-masing.

Sementara itu Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilagapun tidak melanjutkan usahanya mencari ciri-ciri yang dapat manjadi pertanda bahwa di halaman atau di kebun belakang istana itu tersimpan sesuatu yang berharga yang telah mengundang beberapa pihak untuk datang ke istana kecil itu, bahkan mereka menganggapnya sebagai isyarat untuk mendapatkan wahyu, sehingga akan dapat mengangkakt derajat mereka, dan bahkan memberikan kesempatan untuk merayap keatas tahta.

“Anak-anak itu memang gila” berkata Panji Sura Wilaga setelah mereka berada di dalam biliknya.

“Tetapi memberikan kesegaran tersendiri paman”

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian “Tetapi agaknya perebutan wahyu itu menjadi semakin jelas”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk sambil berjalan mondar-mandir didalam biliknya, ia berkata “Aku tidak mengerti, berita itu nampaknya tersebar cepat sekali, sekarang yang ada di padukuhan ini baru anak-anak Guntur Geni dan Kumbang Kuning, tetapi beberapa pekan lagi, ada kemungkinan orang-orang baru dari perguruan-perguruan lain saling berdatangan”

“Ternyata siapa yang kuat, ialah yang akan membawanya” desis Panji Sura Wilaga.

“Itu jika yang mereka cari ternyata ada disini”

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian iapaun mengangguk sambil menjawab “Sudah tentu Raden, jika yang mereka cari ada disini, dan kita yang bebrada di dalam istana ini harus mempertahankannya”

Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun kemudian iapun tersenyum “Tentu yang dicari oleh beberapa pihak itu tidak akan berguna lagi disini, Pamanda Kuda Narpada sudah tidak ada lagi, siapakah yang akan membutuhkannya?, karena itu, kitalah yang wajib mempertahankannya”

Panji Sura Wilaga akan mengatakan sesuatu, tetapi suaranya seolah-olah tertelan kembali bersama ludahnya.

Sambil menggeleng ia kemudian berkata “Ya, ya, begitulah”

Kuda Rupaka justru tertawa, katanya “Yang ada disini hanyalah diajeng Inten Prawesti, jika wahyu itu ada padanya, maka sudah barang tentu harus ada orang yang menjadi pelaksananya”

“Ya, ya, begitulah”

Kuda Rupaka masih saja tertawa, bahkan kemudian ia menepuk bahu Panji Sura Wilaga sambil berkata “Apakah kau keberatan?”

“Tidak, tidak, Raden”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, sambil duduk disisi Panji Sura Wilaga ia berkata “Ah, sudahlah, aku ingin tidur nyenyak malam ini, Kidang Alit tentu tidak akan mengangguku lagi”

Perlahan-lahan Kuda Rupakapun segera meletakkan tubuhnya di pembaringan, namun ternyata bahwa matanya sama sekali tidak terpejam,

“Raden tidak akan dapat tidur malam ini” desis Panji Sura Wilaga.

“Ya, demikianlah agaknya”

Panji Sura Wilaga tidak menyahut, iapun kemudian berbaring pula di pembaringannya, tetapi ternyata iapun sama sekali tidak dapat memejamkan matanya, meskipun ia sebenarnya ingin dapat tertidur meskipun hanya sejenak.

Mereka berdua saling berpandangan dari pembaraingan masing-masing, ketika sorot matahari pagi sudah membayang di dinding, bahkan sambil tersenyum Kuda Rupaka bangkit dari pembaringannya dan berkata “Paman juga tidak dapat tidur semalam suntuk”

“Ya, aku menjadi gelisah sekali” jawab Panji Sura Wilaga “Aku menjadi cemas jika iblis itu kembali lagi”

“Kidang Alit maksud paman?”

“Ya”

“Iapun tidak akan menemukan apa-apa di halaman dan kebun istana ini”

“Masih belum pasti Raden, jika dengan tidak sengaja ia berbuat sesuatu sehingga ia mendapatkan suatu petunjuk”

Raden Kuda Rupaka tersenyum, katanya “Aku yakin, dengan cara itu, ia tidak akan mendapat apa-apa, dan mungkin ia sama sekali tidak akan melakukannya, karena ia menyangka bahwa bibi tentu mengetahuinya, ia akan datang dan memaksa bibi untuk menunjukkannya”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, lalu “Jika demikian, sebaiknya Raden jangan terlambat, jika orang lain mendahuluinya, akibatnya akan buruk sekali”

“Aku akan mencoba bertanya kepada diajeng Inten Prawesti meskipun dengan cara yang tidak langsung, aku akan dapat mengetahui, apakah ia menjawab sebenarnya apa tidak”

“Apakah tidak lebih baik langsung kepada bibi, Raden?”

“Aku tidak ingin tergesa-gesa dan membuat bibi salah paham, karena itu, aku harus berhati-hati”

Panji Sura Wilaga tidak menyahut lagi, perlahan-lahan iapun kemudian keluar dari biliknya dan pergi ke pakiwan”

Seperti biasanya, air di pakiwan sudah penuh sejak Sangkan dan adiknya Pinten ada di istana itu, maka air di jambangan tidak pernah kering dan halaman dimuka istana dan kebun di belakangpun selalu nampak bersih.

Sejenak kemudian maka Raden Kuda Rupakapun segera menyusul pula, di sudut istana ia berhenti dengan Sangkan yang sedang menyaingi sepotong pohon soka putih.

Tetapi Kuda Rupaka tidak bertanya sesuatu, ia hanya menyentuh Sangkan yang sedang berjongkok.

Ketika Sangkan berpaling, Kuda Rupaka hanya tersunyum saja tanpa berhenti.

Sangkan menarik nafas, ada sesuatu yang agaknya terlintas di kepalanya, tetapi ia tidak mengatakan apapun juga, ia kembali sibuk dengan sebatang pohon soka putih yang dicangkoknya dari sebatang yang tumbuh disudut kebun belakang istana itu.

Setelah makan pagi, maka Kuda Rupaka benar-benar ingin bertanya sesuatu kepada Inten Prawesti. Karena itu, maka iapun kemudian mengajaknya pergi ke halaman seperti yang sering dilakukannya untuk melihat-lihat pohon-pohon bunga yang nampak semakin segar setelah terpelihara oleh Sangkan dan Pinten.

“Sangkan menanam sebatang soka putih disudut istana” berkata Raden Kuda Rupaka.

“O….” desis Inten Prawesti “Akulah yang minta kepadanya, apakah ia sudah melakukannya?”

“Marilah, aku akan menunjukkannya”

Dengan senang hati Inten Prawesti mengikuti Kuda Rupaka ke sudut istana untuk melihat sebatang pohon soka putih yang baru saja disaingi oleh Sangkan.

“O…, aku tidak melihat, kapan ia menanam pohon itu disini?” bertanya Inten Prawesti.

“Baru beberapa hari, tetapi ternyata rerumputan liar tumbuh lebih dahulu dari pohon soka itu” sahut Kuda Rupaka.

Inten tersenyum, katanya “Pohon soka putih ini akan segera berbunga. Menyenangkan sekali, aku akan menyuruhnya menanam soka merah dihalaman depan”

“Bukankah sudah ada dua batang soka merah di depan?”

“Dua batang lagi” jawab Inten.

Kuda Rupaka tidak menyahut, dibiarkannya Inten mengamati pohon soka putih yang sudah mulai bersemi itu.

Baru setelah ia puas, maka keduanyapun berjalan menyusuri kebun belakang sambil melihat-lihat tanaman yang semakin rapi dipelihara oleh Sangkan dan Pinten.

Ketika mereka berdiri dibawah bayangan daun kemuning, maka seolah-olah diluar sadarnya, Raden Kuda Rupaka bertanya “Diajeng, ketika kalian meninggalkan Majapahit, apakah diajeng pergi bersama ayahanda?”

“Ya, kamas, Ayah yang terdesak di peperangan, telah mengirimkan beberapa orang pengawal untuk menyingkirkan aku dan ibuku, waktu itu, kami tidak tahu, kemanakah kami akan pergi, tetapi pergi dari Kota Raja adalah lebih baik dari pada menjadi puteri boyongan”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk.

“Ternyata kami dapat bertemu dengan ayah dan pasukannya yang parah, maka mulailah perjalanan kami yang panjang”

“Apakah pasukan pamanda Kuda Narpada pasukan yang terakhir meninggalkan Kota Raja?”

“Ayahanda masih bertahan pada saat Perabu Brawijaya meninggalkan istananya dan menyusuri daerah selatan menuju ke barat. Ayah masih berusaha menahan arus pasukan lawan dan memberikan kesempatan kepada Perabu Brawijaya untuk berjalan semakin jauh, namun ternyata pasukan ayahanda tidak dapat berjalan lagi, ayahanda tidak mau mengorbankan setiap orang di dalam pasukannya. Karena itu, setelah ayahanda yakin bahwa Perabu Brawijaya selamat meninggalkan Kota Raja, maka ayahandapun menarik pasukannya yang tidak lagi dapat menunggu keajaiban untuk memenangkan perang, kenyataan itulah yang memaksa ayahanda sampai ke tempat ini dan tinggal terpencil bersama penghuni padukuhan Karangmaja”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya kemudian “Benar-benar seorang pahlawan yang tiada taranya, pamanda Pangeran Kuda Narpada adalah senapati yang terakhir sekali meninggalkan Kota Raja yang hancur akibat perang itu, tentu setiap orang mengaguminya”

“Ah, sudahlah kamas Kuda Rupaka, sebaiknya kita tidak usah mengenangnya lagi, ayahanda kini sudah tidak ada, justru setelah perang selesai”

“Tetapi itu tidak mengurangi kebesaran nama pamanda Kuda Narpada” Kuda Rupaka menjadi ragu-ragu, namun sejenak kemudian ia berkata “Tentu saja sifat kandel pada pamanda Kuda Narpada sehingga ia mampu menahan arus yang menurut pendengaranku bagaikan banjir bandang melanda Kota Raja, sedangkan para senapati dan panglima Majapahit sudah tidak lagi memiliki kebesaran jiwa dan dan kesetiaan kecuali beberapa orang saja, termasuk pamanda Kuda Narpada”

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu kamas”

“Tentu, tentu kau tidak mengetahui, tetapi pamanda tentu memiliki sebuah atau sebilah pusaka bagi dirinya sendiri dan pasukannya”

Dengan tegang Kuda Rupaka menunggu jawaban Inten Prawesti, namun ternyata gadis itu menggelengkan kepalanya “Aku tidak mengetahui kamas”

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, namun ia masih bertanya “Apakah senjata terakhir yang dibawa oleh pamanda dari Majapahit?”

“Ayahanda tidak membawa senjata apapun”

“Tombak?”

Inten Menggeleng.

“Keris?”

Inten mengingat-ingat, namun kemudian ia mengangguk “Ya, ayahanda membawa sebilah keris, hanya keris itulah senjata ayahanda yang dibawanya sampai ke tempat ini”

Kuda Rupaka menjadi semakin berdebar-debar, dengan mata yang dalam ia bertanya “Apakah diajeng mengetahui serba sedikit tentang keris itu?”

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu sama sekali”

“Tetapi setelah pamanda pergi, dimanakah keris itu disimpan?”

“Tentu dibawa oleh ayahanda” Jawab Inten “Keris itu tidak pernah berpisah sama sekali dengan ayahanda”

“Ah, apakah benar bahwa keris itu telah dibawa oleh pamanda pada saat pamanda meninggalkan istana ini, bersama pamanda Cemara Kuning dan pamanda Sendang Prapat?”

Inten mengingat-ingat tetapi jawabnya kemudian “Aku tidak ingat lagi, apakah keris itu telah dibawa oleh ayahanda, tetapi saat itu ayahanda memang tergesa-gesa sekali”

Raden Kuda Rupaka menjadi tegang, namun kemudian ditenangkannya dirinya sambil berkata “Mungkin bibi Kuda Narpada dapat mengingatkan, apakah keris itu dibawa oleh pamanda Kuda Narpada, apakah ditinggalkannya pada bibi dan disimpannya dengan baik”

Inten Prawesti merenung sejenak, tetapi ia sama sekali tidak ingat lagi saat ayahandanya meninggalkan istana itu, apalagi pada saat itu mereka sama sekali tidak memikirkan lagi tentang keris atau jenis-jenis pusaka yang lain, terdorong oleh kegelishan karena kepergian Pangeran Kuda Narpada, meskipun pangeran itu pergi bersama dua orang saudara dekatnya, namun rasa-rasanya seluruh keluarga saat itu telah mengetahui, bahwa pangeran Kuda Narpada akan pergi untuk waktu yang tidak ditentukan.

Karena itulah, maka Inten Prawestipun berkata “Baiklah kamas, aku akan mencoba bertanya kepada ibunda. Apakah ibunda masih ingat, dimanakah pusaka ayahanda yang berupa keris itu”

Namun Kuda Rupaka kemudian tersenyum sambil berkata dengan nada datar “Tetapi jangan menimbulkan kegelisahan pada ibunda diajeng. Anggaplah pertanyaan itu tidak ada artinya sama sekali, selain kecemasan bahwa pusaka yang barangkali sangat berharga bagi Demak itu hilang tanpa bekas, atau jatuh ketangan orang-orang yang tidak berhak”

Inten mengangguk katanya “Aku akan mencobanya”

Demikianlah mereka masih melangkah beberapa langkah lagi di kebun belakang untuk melihat-lihat pohon-pohon bunga yang beraneka warna, Sangkan dengan telaten telah menanam berbagai macam bunga dalam kelompok-kelompok yang dapat memberikan campuran warna yang menyenangkan. Daun udan mas yang diseling oleh sebatang lopengan-lopengan, memberikan latar belakang yang manis pada sebatang pohon bunga ceplok piring yang berwarna putih kapas. Sedangkan diantara pohon-pohon yang bunga itu, Sangkan dapat menyelipkan pohon-pohon empon yang berguna bagi pengobatan. Pohon temulawak yang tumbuh disela-sela batang-batang kunir dan jahe, tumbuh disepanjang dinding belakang, sedangkan batang-batang nyidra juga memberikan bunga-bunganya yang berwarna kemerah-merahan, disela-sela pohon sirih yang merambat pada anjang-anjang bambu di pinggir sumur.

Namun langkah mereka terhenti, ketika keduanya melihat dibawah sebatang soka putih yang sudah timbuh dengan rimbunnya. Pinten tengah duduk di sebuah batu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

ISTANA YANG SURAM

Bab 18

“Pinten” Inten Prawesti kemudian berlari-lari mendekatinya “Ada apa?”

Pinten mengusap matanya yang basah dan kemerah-merahan, “Kau menangis?”

Pinten mengangguk

“Apa yang terjadi?”

“Kakang Sangkan nakal sekali”

“O…” Inten menarik nafas dalam-dalam “Apakah yang sudah dilakukannya atasmu?”

“Kakang Sangkan yang merasa takut tinggal disini, ingin pergi meninggalkan biyung dan aku, sebenarnya aku ingin ikut, atau Kakang Sangkan yang tetap tinggal bersama biyung disini”

Inten Prawesti terkejut mendengarnya, dengan dahi yang berkerut ia bertanya “Kenapa Sangkan akan pergi, Pinten”

Pinten mengusap air matanya, katanya “Seperti yang dikatakan oleh Raden Panji Sura Wilaga, bahwa ia semakin ketakutan disini apabila persoalan-persoalan yang timbul menjadi semakin gawat, sebelum ia mati membeku disini, baginya lebih baik untuk pergi saja kemanapun juga, asalkan menjauh jauh dari tempat ini”

“O…” Intenpun kemudian berjongkok “Pinten, seharusnya kakakmu tidak usah takut tinggal disini, apakah yang sebenarnya telah terjadi dan membuat takut kakakmu?”

Raden Kuda Rupaka yang mendengar percakapan itu menjadi berdebar-debar, namun iapun kemudian tertawa sambil berkata “Tidak diajeng, Paman Panji Sura Wilaga memang senang bergurau, ketika semalam Kidang Alit mencoba memasuki halaman ini, Pinten dan Sangkan secara kebetulan melihatnya, tetapi saat itu akupun ada di kebun belakang ini, sehingga Kidang Alit tidak dapat berbuat apa-apa” ia berhenti sejenak, beberapa langkah ia maju mendekati Pinten sambil berkata “Katakan kepada kakakmu bahwa paman Panji hanya bergurau, ia jengkel melihat Sangkan yang penakut sekali, sehingga karena itu, maka ia justru menakut-nakutinya sama sekali”

“Jadi Kidang Alit berani memasuki halaman ini?”

“Jangan hiraukan diajeng, aku masih disini”

Inten Prawesti merenung sejenak, namun kemudian iapun memandang wajah Pinten sambil berkata “Katakan kepada kakakmu, ia tidak perlu pergi meninggalkan rumah ini, paman Panji hanya hanya sekedar bergurau, meskipun ia jengkel melihat tingkah laku kakakmu yang penakut itu, tetapi itu bukan berarti bahwa kakakmu harus pergi”

“Kakang sudah berkemas, sekarang ia ada di dalam biliknya, aku disuruhnya pergi keluar, agar aku tidak membuatnya ragu-ragu meninggalkan istana ini”

Inten menjadi semakin berdebar-debar, dan tiba-tiba saja ia berdiri, sambil menarik tangan Pinten dan berkata “Aku akan menasehatinya” lalu ia berpaling kepada Kuda Rupaka, ia berkata.

“Kamas marilah, kamas dapat memberitahukan kepadanya, agar ia tetap tinggal disini”

Kuda Rupaka tertawa pula, katanya “Baiklah, aku akan mencoba menahannya”

Dengan tergesa-gesa Intenpun kemudian pergi ke bilik Sangkan, dilihatnya anak muda itu sedang membungkus selembar pakaiannya yang kusut, itu adalah satu-satunya kekayaan selain yang sedang dipakainya.

“Sangkan” berkata Inten Prawesti ketika melangkah berdiri diambang pintu, “Apakah benar kata adikmu, bahwa kau akan meninggalkan rumah ini?”

Sangkan menjadi ragu-ragu sejenak, ditatapnya wajah Inten dengan tajamnya, sehingga gadis itupun memalingkan wajahnya.

Beberapa saat lamanya Sangkan seolah-olah sedang berpikir, namun kemudian jawabnya “Ampun puteri, sebenarnyalah aku tidak akan berarti apa-apa disini, selebihnya aku memang takut sekali apabila pada suatu saat, akan terjadi apapun di istana ini.

“Apakah yang akan terjadi disini?” bertanya Inten.

“Tidak ada apa-apa” jawab Kuda Rupaka mendahului Sangkan “Disini tidak akan terjadi apapun juga, apalagi selama aku disini bersama paman Panji Sura Wilaga”

“Tetapi bukankah Raden Panji kemarin mengatakan bahwa aku akan mati ketakutan”

Raden Kuda Rupaka tidak dapat menahan tertawanya, katanya “Kau memang penakut sekali Sangkan, dan agaknya paman Panji agak berlebihan pula menakut-nakutimu, tetapi yakinlah bahwa ia hanya sekedar berguaru”

Sangkan menjadi bingung.

“Sangkan” suara Inten menurun “Kau tidak usah pergi, adikmu akan menjadi sedih, ia tidak dapat ikut bersamamu karena kepergianmu tidak tentu arah dan tujuan, tetapi ia tidak akan dapat tenang tinggal disini setelah kau pergi”

Sangkan menundukkan kepalanya.

“Jawablah Sangkan” desak Inten yang tanpa disadarinya telah berdiri disamping Sangkan yang sedang mengemasi pakaiannya di pembaringannya itu.

“Tetapi, apakah aku tidak akan mati membeku disini?”

Kuda Rupaka masih tertawa, katanya “Kau adalah laki-laki Sangkan, berbuatlah seperti laki-laki, aku juga tidak takut mati disini, meskipun aku tahu kemungkinan itu ada, bukankah kau tahu bahwa pernah ada orang yang memasuki istana ini dan memaksa bibi untuk menyerahkan barang-barang berharga?”

Sangkan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Kau tidak boleh pergi Sangkan” kata Inten “Dimana ibumu sekarang?”

“Biyung belum mengetahuinya puteri”

“Sudahlah, jika ibumu mengetahui, iapun akan menjadi bersedih seperti adikmu”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, ketika ia berpaling kearah adiknya. Dilihatnya adiknya mengusap air mata yang membasahi pipinya.

“Jangan menangis Pinten” berkata Sangkan.

“Kaulah yang harus menentukan sikapmu“ Potong Inten Prawesti

“Ampun puteri, suara Sangkan terputus-putus, ia mengangkat kepalanya, iapun beringsut setapak, karena Inten berdiri terlalu dekakt disisinya.

“Berjanjilah, agar adikmu tidak menjadi sedih” kata Inten.

Sangkan berpaling kepada adiknya, kemudian katanya “Baiklah puteri, atas nasehat Raden Kuda Rupaka dan puteri Inten Prawesti, aku akan mencoba tinggal di istana ini lebih lama lagi, tetapi jika kemudian aku hanya akan menjadi permainan perasaan takut dan bahkan mungkin aku benar-benar akan mati membeku, maka aku akan mohon diri untuk meninggalkan istana ini”

Raden Kuda Rupakapun kemudian mendekatinya, sambil menepuk bahu Sangkan ia berkata “Belajarlah menjadi seorang laki-laki”

Sangkan memandang Kuda Rupaka dengan heran, namun yang dilihatnya hanyalah senyum yang bermain dibibir anak muda yang perkasa itu.

“Marilah kita tinggalkan saja anak itu diajeng” berkata Kuda Rupaka kemudian “Biarlah ia mendapat kesempatan untuk merenungi dirinya sendiri”

Namun tanpa diduga sama sekali oleh Sangkan, Inten Prawestipun menepuk bahunya pula sambil berkata “Jangan takut, disini ada kakangmas Kuda Rupaka”

Sangkan mengangguk-angguk.

“Dan jagalah adikmu baik-baik“ pesan Inten kemudian sambil melangkah meninggalkan bilik itu diikuti oleh Kuda Rupaka.

Sepeninggal Kuda Rupaka dan Inten Prawesti, Pinten mendekati kakanya sambil berbisik “Bukankah itu maumu?”

“Apa?”

“Puteri melarangmu pergi sambil menepuk bahumu?”

“Ah, kau aneh Pinten, apakah aku memang harus pergi?”

Pinten tiba-tiba saja tersenyum, tetapi iapun kemudian berkata “Sudahlah, simpanlah barang-barang yang tidak perlu kau kemasi lagi itu, simpanlah baik-baik”

Sangkan mengerutkan keningnya, sejanak ia memandang ke pintu yang masih terbuka, katanya “Raden Kuda Rupaka dan puteri sudah mengetahui, bahwa bungkusan kecil itu adalah kekayaanku”

“Ya”

“Mudah-mudahan puteri tidak ingin tahu lebih banyak kagi tentang bungkusan kecil ini”

“Letakkan saja disudut pembaringanmu, tidak akan ada orang yang tertarik pada kekayaanmu itu”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, wajahnya berkerut ketika ia melihat Nyi Upih berdiri dimuka pintu.

“Ah” desis Sangkan “Aku akan menyimpan bungkusan ini biyung”

“Barang-barangmu?”

“Ya”

“Letakkan saja di pembaringanmu” jawab Nyi Upih acuh tak acuh “Apakah Raden Kuda Rupaka dan puteri baru saja dari bilik ini?”

Sangkan dan Pinten mengangguk berbarengan.

“Apakah yang dikatakannya?”

“Tidak apa-apa” jawab Sangkan.

“Puteri dan Raden Kuda Rupaka mencegah kakang”

Nyi Upih mengerutkan keningnya.

“Kakang Sangkan akan minggat, tetapi puteri melarangnya, sambil menepuk bahunya puteri berkata kepada kakang supaya kakang jangan takut, karena di istana masih ada Raden Kuda Rupaka.

“He,,!, kau mengigau” desis Sangkan.

Tetapi Pinten tertawa, katanya “Itulah yang dikehendakinya, tetapi kakang tentu tidak akan mengaku”

“Jadi kau akan pergi?”

“Tentu tidak jadi” sahut Pinten puteri sendirilah yang mencegahnya, dan kakang tentu menurut perintahnya”

“Kau, kau ini kenapa sebenarnya Pinten?” bertanya Sangkan “Kau seperti orang yang benar-benar sedang mengigau?”

Nyi Upih memandang Sangkan sejenak, namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata “Jangan pura-pura minggat”

“Aku benar-benar akan minggat biyung, aku ketakutan disini, tetapi Pintenlah yang sengaja menyampaikannya kepada puteri, tentu puteri akan mencegahnya, apakah benar-benar seperti yang dikehendaki atau sekedar berpura-pura, tetapi aku kira puteri benar-benar mencegah aku pergi, karena tenagaku disini dapat dipergunakan. Siapakah yang yang akan menimba air, siapa yang akan memperbaiki atap rumah yang rusak, siapa yang menegakkan tiang tegol halaman”

Pinten tertawa, katanya “Ceritamu lucu sekali”

“Sudahlah” potong Nyi Upih, lalu “Sekarang, kerjakan kerjamu di halaman belakang, Sangkan mengambil air, dan Pinten membereskan pakiwan”

Keduanya terdiam, dengan segan Sangkan melangkah keluar biliknya, diikuti oleh Pinten menuju ke halaman belakang, Sangkan membawa upih yang akan dipasangnya pada senggot timba perigi, sedang Pinten membawa sapu lidi dan kelenting untuk mengambil air ke dapur.

“Mereka berdua berada di sudut istana itu cukup lama mengamat-amati pohon Soka putihmu” berkata Pinten kemudian “Tentu puteri senang sekali, tetapi senang kepada pohon yang kau tanam itu”

“Apakah yang mereka bicarakan?, Kembang Soka putih. atau yang menanamnya?”

“Ah, kau memang mulai mabuk, tentu pohon soka putih itu”

“Apa?”

“Aku tidak berhasil mendekati, tetapi mereka berbicara tentang pusaka, agaknya tentang keris”

Sangkan mengangguk-angguk, tetapi iapun kemudian berkata “Apa peduliku tentang keris, agaknya keris itulah yang telah menarik perhatian banyak orang, termasuk dua orang yang telah terbunuh di halaman istana ini. Tetapi yang penting bagiku adalah senggot timba itu tidak patah, dan bagimu sapu lidi itu tidak rusak dan kelentingmu tidak pecah”

Pinten tersenyum, katanya “Kenapa tiba-tiba saja kau bersungut-sungut seperti itu kakang?”

Sangkan tidak menjawab, iapun kemudian mempercepat langkahnya, namun ia masih juga bergumam kepada diri sendiri “Aku harus mencari Upih baru, upih ini sudah mulai sobek”

Tetapi tiba-tiba saja langkah Pinten terhenti, dipanggilnya kakaknya yang berjalan di depan “Kakang, kakang”

Sangkan berhenti sejenak, ketika ia berpaling, ia melihat adiknya berhenti sambil berkata dengan nada yang dibuat-buat “Kakang, aku takut”

Sangkan tidak menghiraukannya lagi, iapun berjalan semakin cepat ke perigi, semenara Pintenpun kemudian berlari-lari kecil menyusulnya.

Sementara itu, Inten Prawesti telah masuk ke ruang dalam, ia memang ingin menyampaikan pertanyaan-pertanyaan Raden Kuda Rupaka kepada ibunya. Tetapi ia memang ingin berhati-hati seperti yang dipesankan oleh Kuda Rupaka, agar ibunya tidak menjadi gelisah. Apalagi jika ibundanya meyakini bahwa kehadiran orang-orang di sekitar istana itu tentu bukannya tanpa maksud.

Intenpun kemudian mendekati ibundanya perlahan-lahan, ia berhenti beberapa langkah sambil memandangi ibundanya yang sedang melipat pakaiannya yang baru saja diambilnya dari jemuran.

Sambil mengangkat wajahnya, ibundanya kemudian memanggilnya untuk mendekat.

“Dari mana kau Inten?”

“Kami, maksudku aku dan kakangmas Kuda Rupaka, berjalan-jalan di halaman samping dan kebun belakang, ibunda”

Ibundanya mengangguk-angguk, tetapi ia tidak bertanya lagi.

Inten duduk disisi ibundanya yang masih sibuk melipat pakaian yang baru diambil dari jemuran tadi

Mula-mula iapun menjadi ragu-ragu, tetapi akhirnya Intenpun bertanya kepada ibundanya “Ibunda, apakah ibunda masih ingat, bahwa ayahanda pernah membawa sebilah keris dari Majapahit?”

Ibundanya mengerutkan keningnya.

“Atau barangkali justru dua?, seingatku, yang satu diselipkan di lambung, yang lain dianggar di bawah ikat pinggang tergantung disisi”

Ibundanya terkejut mendengar pertanyaan itu, namun diusahakannya untuk melenyapkan semua kesan yang terpancar di wajahnya, katanya kemudian “Memang ayahanda membawa keris dari Majapahit, itu adalah satu-satunya senjatanya, bukan dua”

Inten mencoba mengingat-ingat.

Tetapi akhirnya ia mengangguk-angguk, katanya “Ya, hanya satu, aku memang pernah melihat ayahanda membawa dua bilah keris. Tetapi ketika ayahanda sampai ke padukuhan ini, ayahanda hanya membawa sebilah saja”

“Inten” desis ibunya kemudian “Kenapa tiba-tiba saja kau bertanya tentang keris?”

“Tidak apa-apa ibunda, sebenarnya kakangmas Kuda Rupakalah yang menanyakannya, Kakangmas melihat peristiwa yang telah terjadi di istana ini pada saat beberapa orang mencoba untuk bertemu dengan ibunda, tetapi yang kemudian terbunuh oleh kamas Kuda Rupaka”

“Apakah hal itu ada hubungannya dengan keris yang dibawa oleh ayahandamu?”

“Tidak begitu jelas, tetapi kakangmas Kuda Rupaka mengatakan, mungkin pusaka itu adalah pusaka yang penting artinya bagi Demak, mungkin orang-orang yang berdatangan itu menginginkan pusaka itu, sehingga mungkin akan dapat mempengaruhi pemerintahan Demak yang sekarang”

Ibundanya mengerutkan keningnya.

“Tetapi ibunda” berkat Inten sambil beringsut mendekat “Ibu tidak usah gelisah, jika ibunda ingat keris yang dibawa oleh ayahanda itu, dan ibunda mengetahui dimanakah keris itu sekarang, sebaiknya keris itu diserahkan saja kepada pimpinan pemerintahan di Demak, agar tidak menimbulkan persoalan-persoalan baru di istana ini”

Sejenak ibundanya termangu-mangu, dipandanginya wajah puterinya beberapa lama, namun kemudian, ia menggelengkan kepalanya dan berkata “Inten, aku tidak mengerti, dimanakah keris itu, sekarang mungkin keris itu dibawa oleh ayahandamu. Mungkin disimpan di tempat yang tidak aku ketahui atau mungkin telah diserahkan kepada pamanmu Pangeran Cemara Kuning. Ayahandamu tidak pernah mengatakan apapun juga, tentang keris itu. Dan aku kira, keris ayahandamu adalah keris yang tidak berhraga sama sekali bagi Demak. Mungkin keris itu merupakan yang paling dihormati oleh ayahandamu, karena ternyata keris itulah yang dibawanya sejak dari Majapahit, tetapi aku kira, bagi Demak yang sudah penuh dengan segalla keris pusaka, juga yang dapat diboyongnya dari Majapahit, setelah Demak berhasil membebaskan Kota Raja yang hancur itu dari tangan musuh, agaknya sudah cukup banyak keris berharga. Dengan demikian, apakah artinya pusaka kecil yang sebuah itu?”

Inten mengangguk-angguk, katanya “Agaknya memang demikian ibunda, tetapi kangmas Kuda Rupaka ingin mengetahuinya. Tentu ia sudah menghubung-hubungkan dengan kehadiran beberapa orang di sekitar istana ini, bahkan beberapa orang telah berani memasuki halaman dan memaksa untuk berbicara dengan ibunda”

Ibunda Inten itu termenung sejenak, kemudian jawabnya “Mungkin juga Inten, tetapi mungkin juga mereka menyangka bahwa kita masih mempunyai harta benda yang berharga, yang kita bawa dari Majapahit”

“Mungkin juga ibunda, tetapi sikap hati-hati kamas Kuda Rupaka mungkin beralasan”

Ibundanya termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya “Tetapi bagaimanakah caranya untuk memberitahukan kepada orang-orang yang menaruh perhatian terhadap kemungkinan adanya keris itu disini, bahwa sebenarnya tidak ada apa-apa di dalam istana kecil ini”

“Aku akan mengatakan kepada kamas Kuda Rupaka, mudah-mudahan ia mempunyai cara yang mungkin dapat membersihkan nama rumah ini”

Ibundanya mengangguk-angguk, katanya “Cobalah berbicara dengan kamasmu, kita kini menggantungkan diri kepadanya, tanpa dia, kita tentu sudah mengalami banyak bencana. Dua orang yang terbunuh di halaman ini, dan juga suara seruling yang membuatmu kehilangan kesadaran”

Bulu tengkuk Inten Prawesti meremang, ia tidak dapat membayangkan akibat yang dapat terjadi, jika saat itu Kuda Rupaka tidak ada di istana ini, dan tanpa dapat dicegah ia jatuh ke tangan Kidang Alit.

Sejenak kemudian, maka Intenpun meninggalkan ibunya untuk bertemu lagi dengan Kuda Rupaka, ia akan menyampaikan semua keterangan ibunya tentang keris yang pernah dibawa oleh ayahandanya. Keris itu adalah keris yang tidak cukup bernilai bagi Demak, dan ibundanya tidak tahu dimanakah keris itu sekarang.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk kecil, tetapi di wajahnya terbayang pertanyaan yang belum terjawab. Meskipun demikian ia berkata “Sudahlah diajeng, mungkin dalam kesempatan lain aku dapat menghadapi bibi. Selama ini aku harap bibi sempat mengingat-ingat tentang keris itu. Sementara itu aku akan berusaha menyebarkan keterangan, bahwa sebenarnya di dalam istana ini tidak ada apapun yang pantas mendapat perhatian, pusaka tidak, apalagi harta benda”

“Terima kasih kamas, mudah-mudahan kamas berhasil, sehingga mereka tidak menimbulkan kegelisahan kami, penghuni rumah terpencil ini”

“Aku akan berusaha diajeng, tetapi akupun berharap, bahwa apabila bibi dapat mengingat kembali keris pusaka pamanda Kuda Narpada, aku adalah orang yang pertama-tama ingin mengetahuinya, justru untuk kepentingan bibi dan kau. Bahkan mungkin kelak ternyata aku masih akan dapat menemukan pamanda Kuda Narpada di suatu tempat dalam keadaan apapun”

“Ah”

“Mungkin hanya satu kemungkinan”

Inten menundukkan kepalanya, namun satu kerinduan telah melonjak di hatinya, meskipun seakan-akan bayangan ayahandanya hanya sekedar dapat dilihatnya dalam mimpi, namun selama masih belum ada kepastian bahwa ayahandanya telah meninggal, maka ia masih dapat mengharapkannya.

“Apakah kakangmas dapat pergi ke Demak, bertemu dengan pamanda Cemara Kuning atau pamanda Sendang Prapat untuk menanyakan dimanakah ayahanda sekarang, atau yang paling akhir berpisah?” tiba-tiba gadis itu bertanya dengan suara yang tersendat-sendat.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya “Pada suatu saat aku akan mencari pamanda Cemara Kuning atau pamanda Sendang Prapat, keduanya tentu mengetahui serba sedikit tentang pamanda Kuda Narpada, karena pamanda Kuda Narpada telah pergi bersama mereka berdua disaat terakhir”

Inten makin menundukkan kepalanya, perlahan-lahan ia berkata “Sudahlah kangmas, ceritera tentang ayahanda membuat hatiku menjadi pedih”

“Aku hanya ingin menyatakan perasaanku diajeng, tetapi baiklah. Kita akan berbicara tentang masalah-masalah lain, meskipun demikian, sekali-sekali usahakan untuk bertanya sekali lagi, barangkali bibi teringat sesuatu yang ada hubungannya dengan keris itu”

Sejak saat itu, tiba-tiba saja Inten selalu dibayangi oleh kerinduannya kepada ayahandanya, berbagai usaha telah dilakukannya, agar ia dapat melupakannya saja. Karena baginya, melupakannya adalah cara yang sebaik-baiknya untuk memelihara ketenangan perasaannya.

Tetapi ternyata bahwa, setiap kali bayangan itu telah muncul kembali, bahkan kadang-kadang menjadi jelas.

“Puteri” bertanya Pinten ketika ia melihat Inten duduk sendiri di tangga pendapa “Kenapa nampaknya puteri termenung saja akhir-akhir ini?”

Inten menarik nafas dalam-dalam, katanya “Tidak apa-apa Pinten”

“Barangkali puteri dapat membagi kegelisahan hati, meskipun barangkali aku tidak dapat berbuat apa-apa, namun jika puteri dapat menyatakannya kepada orang lain, maka hal itu tentu akan mengurangi beban dihati puteri”

“Ah, kenapa kau tiba-tiba telah berubah menjadi orang yang bijaksana Pinten, siapakah yang mengajarimu?”

“O…” Pinten mengingat-ingat, tiba-tiba ia tersenyum sambil menunduk, “Puteri pernah mengatakannya kepadaku”

Intenpun tertawa kecil, Pinten memang dapat memberikan selingan di dalam saat-saat yang kadang-kadang terasa mencengkeram perasaannya.

“Meskipun demikian puteri, mungkin puteri justru telah terlupa, bukankah dengan demikian puteri teringat kembali kepada kebijaksanaan, eh maksudku kebijaksanaan puteri itu”

Inten masih saja tersenyum, sambil menepuk bahu Pinten ia berkata “Terima kasih Pinten, ternyata ingatanmu cukup baik. Aku akan membagi perasaan dengan kau, tetapi pada saatnya nanti”

“O…., dan sekarang saat itu belum tiba”

Inten menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya, ”Baiklah Pinten, rasa-rasanya memang senang bergurau denganmu dalam keadaan apapun juga”

Pinten tidak menyahut, ia berharap Inten Prawesti mengatakan beban yang memberati hatinya.

“Pinten” berkata Inten Prawesti kemudian “Sebenarnyalah, bahwa tiba-tiba saja aku telah dicengkam oleh kerinduan kepada ayahanda”

“O….” Pinten mengerutkan dahinya “Tetapi itu sewajarnya puteri, sekali-sekali kita seolah-olah terlempar pada kerinduan yang tidak tertahankan kepada masa lampau. Tetapi puteri, bukankah kita menyadari, bahwa masa lampau itu tidak akan kembali?. Aku masih sering membayangkan, suatu saat aku bermain-main di bawah sebatang pohon beringin yang subur, dayang-dayang yang duduk di pinggir halaman dengan girang bermain diantara mereka. Dakon, gating dan sumbar suru. Ooo, menyenangkan sekali, kupu-kupu yang berterbangan seolah-olah merupakan perhiasan hidup yang mewarnai udara yang silir oleh hembusan angin lembut. Rasa-rasanya apa yang diinginkan terjadi di masa-masa yang hanya dapapt dikenang itu”

Inten mendengarkan dengan seksama, dan tiba-tiba saja ia bertanya “Dimanakah kau tinggal dimasa kanak-kanakmu, Pinten?, kau menyebut sebatang pohon beringin dan dayang-dayang yang bermain?”

“O…” Pinten tergagap, namun kemudian “Bukankah aku tinggal bersama biyung di istana Pangeran Kuda Narpada?”

“Aku teringat sebatang pohon beringin di halaman, dayang-dayang yang bermain diantara mereka, tetapi aku tidak ingat lagi, bahwa di masa-masa kanak-kanak aku pernah mengenalmu”

Pinten termangu-mangu, lalu “Ketika puteri menjdi semakin besar, aku sudah tidak tinggal lagi bersama biyung, aku telah dibawa oleh ayah kembali ke padukuhan”

Inten menjadi semakin heran, lalu “Siapakah kira-kira yang lebih tua diantara kita? Kau atau aku?”

Pinten tidak segera menjawab, nampaknya ia menjadi bingung, tetapi kemudian katanya “Kita tidak tahu hari-hari lahir kita masing-masing, apalagi aku. Mungkin saja puteri lebih tua, tetapi mungkin akulah yang lebih tua. Yang kedua itulah barangkali yang benar, tetapi agaknya aku memang awet muda, sehingga aku masih tetap kelihatan lebih muda dari puteri”

“Ah” Inten Prawesti tertawa kecil, katanya “Mungkin, tetapi apakah ingatan kita sama?, katakan, ada berapa batang pohon beringin yang tumbuh di halaman?”

Pinten mengingat-ingat sejenak, lalu “Sebatang di tengah halaman, dan enam di seputarnya”

“O, banyak sekali”

“Ada tiga ekor bekisar di dalam sangkar masing-masing, seekor burung nuri putih, seekor harimau yang dukurung dalam sangkar besi, seekor orang utan sebesar aku sekarang ini”

“He…!!” Inten menjadi heran “Kau bermimpi, aku tidak pernah mengingat semuanya itu lagi, menurut ingatanku, istana ayahanda tidak mempunyai tujuh batang pohon beringin, tetapi ada dua batang disebelah menyebelah halaman. Tidak ada sangkar bekisar. Yang ada hanyalah beberapa sangkar burung jenis nuri dan burung berkicau. Ayahanda memang mempunyai sepasang ayam alas, tetapi bukan bekisar. Dan di halaman, menurut ingatanku, sama sekali tidak ada seekor harimau dan orang utan”

“O….” Pinten mengerutkan keningnya sekali lagi.

“Pinten, apakah kau berhayal?”

“Mungkin puteri, mungkin aku berhayal” Pinten mengingat-ingat “Tetapi tidak, aku tidak berhayal”

“Pinten, di halaman rumahku tidak ada binatang seperti yang kau katakan, tetapi aku memang masih teringat, disalah satu istana di Majapahit terdapat halaman yang dihiasi dengan sangkar binatang hutan, harimau dan barangkali juga seekor orang utan” tiba-tiba Inten mengingat sesuatu “Ya, aku ingat, sebatang pohon beringin di tengah-tengah dan enam diseputarnya. He..! kau salah ingat Pinten, istana itu bukan istana ayahanda Kuda Narpada. Tetapi istana itu adalah istana pamanda Sargola Manik yang bergelar Adipati Alap-alap. Pahlawan yang tidak ada duanya, yang gugur menjelang pertempuran besar yang menghancurkan Kota Raja”

“Ooo…” tiba-tiba Pinten menundukkan kepalanya.

“Kau mengenal pamanda Sargola Manik yang bergelar Adipati Alap-alap?”

“Tidak, tidak puteri”

“Tetapi kau menyebutkan istananya, halamannya dan binatang peliharaannya dengan tepat”

Akhirnya Pinten tertawa, katanya “Biyung sering bercerita tentang istana-istana yang terdapat di Majapahit, tetapi kadang-kadang tidak jelas, sehingga aku kurang mengerti. Aku hanya membayangkan betapa senangnya tinggal di istana-istana serupa itu”

Inten menjadi heran mendengar kata-kata Pinten yang membingungkan. Namun Pinten telah berkata seterusnya “Apakah kata-kataku membingungkan puteri? Aku sendiri menjadi bingung puteri, dikarenakan aku tidak tinggal lama bersama biyung di istana Pangeran Kuda Narpada. Aku adalah anak padesan yang hanya dapat mendengar ceritera dan kemudian berangan-angan” ia berhenti sejenak, lalu “Sudahlah kita tidak usah berangan-angan lebih panjang lagi tentang masa lampau yang telah kita tinggalkan itu. Marilah kita sekarang menatap masa kini, masa yang jauh berbeda dengan masa-masa yang penuh kenangan itu”

Inten menepuk bahu Pinten sambil berkata “Pinten, ternyata kau tidak hanya menirukan aku tentang membagi perasaan. Kau ternyata benar-benar bijaksana, kau dapat menasehatiku untuk melepaskan diri dari masa cengkaman kerinduan kepada masa lampau yang tidak akan kembali lagi”

Pinten terdian sejenak, namun iapun kemudian tersenyum sambil berkata “Puteri, sebenarnyalah aku baru saja terlempar kedalam keadaan yang serupa. Tetapi biyung datang kepapdaku dan memberikan beberapa petunjuk, apa yang aku ingat dari petunjuk-petunjuk biyung itu, sudah aku katakan kepada puteri”

“Ah, kau” Intenpun tertawa “Jika demikian, maka nasehat itu, sebagian tentu kau tujukan kepada dirimu sendiri untuk meyakinkan apakah kau dapat mengerti nasehat ibumu itu”

Pintenpun tertawa juga.

“Sudahlah puteri, marilah aku persilahkan puteri masuk ke dalam, ingat puteri, angin di musim ini sangat berbahaya”

“Musim apa Pinten?”

“Dimusim kita masing-masing dicengkam oleh angan-angan, bukankah kita gadis yang meningkat dewasa?”

“Ah” Inten mendorong Pinten sehingga gadis itu terhenyak duduk. Tetapi sambil tersenyum-senyum Inten berkata “Kau ini selalu aneh”

Pinten masih tertawa, katanya “Bukankah begitu puteri?, jika seruling itu terdengar lagi, maka akibatnya akan parah bagi puteri”

Tiba-tiba saja terasa tengkuk Inten meremang, katanya “Baiklah, tetapi bukankah kamas Kuda Rupaka ada?”

“Ah, apakah puteri tidak mengetahui, bahwa tadi Raden Kuda Rupaka mohon diri kepada ibunda untuk pergi ke padukuhan sebentar ketika puteri sedang mandi?, bukankah kandang kuda itu sudah kosong?”

“Bersama Paman Panji Sura Wilaga?”

“Ya, tetapi hanya sebentar, seperti biasanya, mereka memerlukan kebutuhan hidup sehari-hari. Nanti sebentar mereka akan pulang, dan orang-orang Karangmaja itu akan mengirimkan apa yang diperlukan oleh Raden Kuda Rupaka”

“Kakangmas Kuda Rupaka bekal yang cukup, agaknya ia tidak menghitung-hitung lagi, berapa ia membayar kepada Ki Buyut untuk membeli kebutuhan kita semuanya”

Pinten mengangguk-angguk, katanya “Tentu Raden Kuda Rupaka mempunyai bekal yang banyak sekali”

Intenpun kemudian membenahi pakaiannya, agaknya benar kata Pinten, bahwa sebaiknya mereka berada di dalam saja.

Tetapi ketika mereka baru saja berdiri, terdengar suara yang melangut di depan regol halaman, suara tembang yang tiba-tiba saja mereka dengar.

Pinten mengerutkan keningnya, ketika ia berpaling, dilihatnya dua orang yang berjongkok di depan regol halaman itu, salah seorang dari keduanya telah mengidungkan tembang yang mengiba-iba.

Inten Prawesti tertegun pula, dengan penuh kebimbangan ia memperhatikan kedua orang yang berjongkok de depan regol istana itu.

“Tentu bukan Kidang Alit” bisiknya.

Pinten tiba-tiba saja telah berdiri tegak ditangga pendapa, dengan tajam dipandangnya kedua orang itu, namun kemudian ia berkata “Puteri, tembangnya mohon belas kasihan, tetapi aku tidak tahu, apakah tembangnya mengandung bisa seperti tembang Kidang Alit, jika kedua orang itu kawannya, maka mereka tentu dapat melakukannya juga, padahal saat ini Raden Kuda Rupaka tidak berada disini”

“Aku kira, mereka adalah pengembara yang memerlukan belas kasihan” bisik Inten.

“Mungkin puteri, tetapi biarlah kakang Sangkan sajalah yang menjumpai mereka, memberikan dua bungkus nasi atau keperluan yang lain”

Inten mengangguk-angguk, suara tembang itu masih menggetarkan halaman, meskipun semakin lama menjadi semakin lambat, dan hilang diujung bait.

Namun sejenak kemudian tiba-tiba suara orang itu melonjak naik. Dari kidung yang ngelangut tembangnya berubah menjadi garang, seolah-olah suara gendering perang di medan perang, memanggil setiap prajurit untuk bangkit dengan senjata di tangan.

“Puteri” bisik Pinten, “Biarlah kakang Sangkan segera menemuinya dan memberikan apa yang diperlukannya”

“Alangkah garangnya” bisik Inten.

“Marilah, aku akan memanggil kakang Sangkan”

Tetapi keduanya tidak perlu beranjak dari tempatnya. Dilihatnya Sangkan telah berada di halaman, disisi pendapa itu dengan sapu lidi ditangan.

“Bukan main” bisiknya “Tembang itu sangat merdu, aku senang sekali mendengar tembang yang garang seperti itu, bukan yang melangut dan beriba-iba”

“Ah kau” sahut Pinten “Ambillah dua bungkus nasi, berikan kepada mereka, agar mereka cepat pergi”

“Kenapa?, aku senang mendengarnya, aku akan mengambil dua bungkus nasi, tetapi mereka harus berdendang tiga atau empat lagu lagi, jika mereka tidak mau, akupun tidak akan memberikan nasi itu”

“Cepatlah, mintalah nasi kepada biyung”

Tetapi Sangkan berdiri sambil tersenyum-senyum, bahkan kemudian ia mulai menirukan suara tembang itu”

“Kakang..!!” Pinten agak berteriak.

Namun pada saat itu, mereka mendengar pintu pringgitan berderit, ketika mereka berpaling, mereka melihat Raden Ayu Kuda Narpada berdiri di muka pintu pringgitan itu.

“Ibunda” panggil Inten sambil berlari mendekatinya.

“Aku mendengar suara tembang itu” kata ibundanya.

“Dua orang yang agaknya memerlukan sesuatu ibunda, itulah mereka berjongkok di depan regol”

Raden Ayu termangu-mangu sejenak, dipandanginya kedua orang yang berjongkok di depan pintu regol, tetapi jaraknya tidak terlampau dekat, sehingga karena itu, Raden Ayu tidak begitu dapat melihat wajah mereka.

“Suruhlah mereka masuk” berkata Raden Ayu Kuda Narpada.

Inten termangu-mangu, sementara Pinten yang berdiri di tangga pendapapun kemudian naik pula sambil berjongkok “Ampun gusti, biarlah kakang Sangkan memberikan dua bungkus nasi kepada mereka”

“Aku akan bertanya kepada mereka, Pinten suruhlah kakakmu membuka regol dan membawa mereka masuk”

“Tetapi ibunda” kata Inten “Saat-saat seperti ini agaknya sangat meragukan, apalagi kakangmas Kuda Rupaka sedang tidak ada”

“Kakangmasmu baru pergi sebentar Inten, hanya sebentar ia akan pulang”

“Tetapi sementara itu?” sahut Inten.

“Suara tembangnya sangat menarik perhatianku, bawalah mereka masuk, mereka tidak akan berbuat apa-apa”

Tetapi Inten masih ragu-ragu, mungkin orang-orang yang berniat kurang baik atas isi istana ini mempergunakan cara lain. Bukan ilmu gendam yang dapat mengaburkan pikiran gadis-gadis, tetapi mereka mempergunakan ilmu yang lainm yang dapat merubah skap seseorang tanpa disadarinya.

Namun dalam pada itu, Sangkan menyahut dari halaman “Ampun Gusti, aku akan membuka regol itu. Suara tembang itu memang sangat menyenangkan”

“Kakang” berkata Pinten “Apakah kakang tidak minta saja dua bungkus nasi kepada biyung?”

Tetapi yang menjawab adalah Raden Ayu “Tidak Pinten, orang itu tentu tidak hanya sekedar minta sebungkus nasi”

Belum lagi Pinten menjawab, terdengar suara Nyi Upih dari pintu pringgitan “Ya, gusti puteri, mereka tentu tidak sekedar minta sebungkus nasi”

“Biyung” desis Pinten.

“Suara tembang itu sangat menarik hati, menurut pendapatku, seperti pendapat gusti, biarlah mereka masuk”

Pinten tidak menyahut lagi, dengan wajah yang tegang seperti Inten Prawesti mereka memandang Sangkan yang berlari-lari ke regol halaman dam membuka selaraknya.

“He, masuklah” berkata Sangkan kepada dua orang yang berjongkok di depan pintu.

“Apakah kami berdua sudah diperkenankan?” bertanya yang muda.

“Masuklah, Gusti memanggil kalian”

Kedua orang itu masih termangu-mangu, dipandanginya Sangkan dengan keraguan.

“Kami mohon belas kasihan” kata yang tua.

Tetapi Sangkan tertawa, katanya “Baiklah, kami mempunyai cukup belas kasihan, masuklah, kalian harus menghadap gusti puteri”

“Siapakah gusti itu?”

“Raden Ayu Kuda Narpada” Sangkan masih saja tersenyum, lalu “Cepat, masuklah, regol ini akan segera aku tutup, sebentar lagi Raden Ayu Kuda Narpada akan datang, apakah kalain melihat Raden Kuda Rupaka? Mungkin kalian bertemu dengan Raden Panji Sura Wilaga di Karangmaja apabila kalian baru datang dari padukuhan itu”

Bab 19

Kedua orang itu termangu-mangu, namun kemudian segera bangkit berdiri dan berjalan perlahan-lahan memasuki halaman istana itu, sementara Sangkan segera menutup regol itu kembali.

“Apakah ibunda akan menyuruh keduanya menghadap?”

“Aku perlu berbicara dengan mereka berdua”

“Mereka memerlukan belas kasihan ibunda, tetapi dalam keadaan sekarang ini, kita perlu berhati-hati”

“Aku akan berhati-hati” ibundanya termenung sejenak, lalu “Sudahlah Inten, bawalah Pinten ke belakang, biarlah Nyi Upih mengawani aku disini”

Inten dan Pinten masih termangu-mangu, sementara Sangkan telah mendahului menghilang di sudut pendapa.

Namun sejenak kemudian, Inten dan Pintenpun bergeser dari tempatnya, Inten langsung masuk ke ruang dalam, sedangkan Pinten beringsut turun ke halaman.

Dengan tergesa-gesa Pinten kemudian menyusul kakaknya, tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat Sangkan masih berdiri disebelah sudut pendapa, dibelakang sebatang pohon ceplok piring yang rimbun.

“Kenapa kau berbuat itu kakang?” bertanya Pinten “Mungkin mereka adalah kawan-kawan Kidang Alit, mereka mungkin sekali mempunyai ilmu yang dapat mempengaruhi pikiran orang lain”

“Apakah pikiranmu sudah dipengaruhi?, lihatlah seorang dari mereka adalah anak yang masih muda”

“Tetapi ia adalah seorang peminta-minta”

Sangkan tertawa, iapun kemudian berkata “Kau aneh Pinten, jika kau yakin ia peminta-minta, kau tidak usah cemas meskipun ia naik ke pendapa. Kecurigaanmu mengatakan kepadaku, bahwa kau menganggap anak muda yang tampan dalam ujud seorang peminta-minta itu, sama sekali bukannya seorang peminta-minta”

“Kau selalu begitu kakang” kata Pinten sambil mengulurkan tangannya. Tetapi sebelum ia mencubit tangan kakaknya, Sangkan berbisik “Ssst, jangan bikin ribut disini”

Pinten dengan serta merta menarik tangannya sejenak, ia termangu-mangu, namun kemudian ia berkata “Terserahlah kepadamu, aku akan menemui puteri ke belakang”

Sangkan tidak menjawab, dipandanginya saja langkah Pinten yang kemudian menghilang di longkangan.

Di pendapa kedua orang pengembara itu menghadap Raden Ayu Kuda Narpada yang dikawani oleh Nyi Upih. Dengan penuh minat Raden Ayu mendengarkan ceritera tentang asal usul kedua orang yang telah mendengarkan tembang yang sangat menarik itu.

“Siapakah yang mengajari kalian melagukan kidung itu?”

“Ampun Puteri, setiap orang di padukuhan kami dapat melagukan tembang itu”

“Tetapi kata-kata yang tersirat pada kidung itu tentu tidak semua orang dapat mengucapkannya”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak.

Sementara itu Sangkan masih saja berada di tempatnya, tetapi ternyata ia tidak banyak mendengar percakapan itu, meskipun beberapa patah kata dapat dimengertinya, namun demikian kadang-kadang wajahnya menjadi tegang, tetapi sejenak kemudian nampak sebuah senyuman dibibirnya.

Percakapan itu tidak berlangsung lama, sejenak kemudian maka, Sangkan mendengar suara Nyi Upih mengajak kedua orang itu ke belakang.

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, katanya kepada diri sendiri “Agaknya aku mendapat kawan dua orang pengembara di dalam istana ini, apakah dengan demikian pekerjaanku akan menjadi bertambah ringan atau sebaliknya, aku harus mengawasi keduanya terus menerus, agar mereka tidak sempat mencuri sisa-sisa barang yang masih ada”

Belum lagi Sangkan berbuat sesuatu, ia sudah mendengar suara ibunya memanggil, “Sangkan, kemarilah”

Dengan tergesa-gesa Sangkan pergi menemui ibunya di belakang, dilihatnya dua orang pengembara itu masih berdiri termangu-mangu di belakang Nyi Upih.

“Sangkan” berkata ibunya “Kau mendapat dua orang kawan lagi, kasihan, mereka adalah pengembara yang kelaparan dan kehausan”

Sangkan tersenyum, namun sebuah kilatan tatapan matanya telah menyambar kedua orang itu, sehingga kedua tertunduk dalam-dalam.

“Jadi” sahut Sangkan kemudian “Aku akan menjadi lurah orang-orang sekarat disini, sudah tentu aku akan mengatur pekerjaan yang harus kalian lakukan. Bukankah begitu? Kalian tidak akan dapat bermalas-malasan disini, dan setiap hari mendapat makan tiga kali” namun tiba-tiba Sangkan menjadi ragu “Tetapi bagaimana dengan Raden Kuda Rupaka? Apakah ia sependapat dengan kehadiran kedua orang ini? Sampai sekarang rasa-rasanya hidup kita tergantung kepadanya”

Nyi Upih memandang anaknya dan kedua orang itu berganti-ganti, dengan ragu-ragu iapun kemudian berkata “Tentu Raden Kuda Rupaka tidak akan membiarkan keduanya mengalami penderitaan lebih lama lagi”

“Tetapi apakah bekal yang dibawanya cukup banyak untuk menghidupi kita semuanya, ditambah dengan dua orang pengembara ini.

“Sudahlah Sangkan, biarlah gusti puteri mengatakannya nanti kepada Raden Kuda Rupaka, adalah tidak sepantasnya kau mengatakan hal itu dihadapan orang yang berkepentingan”

Sangkan tertawa, katanya “Hanya orang-orang yang berperasaan sajalah yang akan menjadi tersinggung karenanya, dan aku tidak yakin bahwa kedua orang ini mempunyai perasaan yang halus sehingga keduanya mempertimbangkan kemungkinan serupa itu”

Sekilas Sangkan melihat bahwa yang muda diantara kedua orang itu mengangkat wajahnya, namun kemudian wajah itupun kemudian tertunduk lagi, sementara Nyi Upih membentaknya “Kau terlalu sekali Sangkan, kaulah yang tidak berperasaan”

Sangkan masih tertawa, katanya kemudian “Tetapi suara kalian memang sangat menarik hati, tembang yang kau lontarkan benar-benar telah memukau Gusti Raden Ayu. Akupun tertarik pula pada tembang yang memiliki ciri yang aneh itu. Karena tembang kalianlah maka aku tidak sependapat dengan adikku agar kalian sekedar mendapat dua bungkus nasi saja”

Kedua orang itu sama sekali tidak menjawab.

“Sudahlah Sangkan” berkata Nyi Upih “Jangan sesorah, bawa kedua orang ini kedalam bilikmu”

“Ke dalam bilikku?, dimanakah Pinten akan tidur?, apakah Pinten dan biyung juga akan tidur bersama dengan kedua orang ini?”

Nyi Upih menggelengkan kepalanya, katanya “Aku sudah mohon agar kami berdua diperkenankan tidur di jerambah dalam disamping pintu”

Sangkan mengerutkan keningnya, lalu katanya “Biyung akan membentangkan tikar setiap malam, dan menggulungnya lagi di pagi hari?”

“Ya, kenapa?”

Sangkan mengangguk-angguk, lalu katanya kepada kedua orang itu “Nah, kau dengar, Biyungku terlalu baik hati terhadap kalian, ia mengorbankan dirinya untuk memberikan tempat kepada kalian di istana ini”

Orang yang lebih tua mengangkat wajahnya, dengan suara yang dalam ia menyahut “Kami mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Raden”

“Hem, aku yang kau maksud?”

Orang itu ragu-ragu, sedang Sangkan kemudian tertawa terbahak-bahak “Jangan sebut aku Raden, aku akan menjadi pingsan nanti, panggil aku Panji, eh bukan, Rangga juga bukan, panggil saja aku Sangkan”

Pengembara yang tua menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia mencoba bersikap seperti semula.

“Kau terlalu banyak bicara Sangkan” berkata Nyi Upih “Ayo, bawa mereka ke bilikmu”

Kedua orang itu berpandangan sejenak.

“Ya, kau belum memperkenalkan namamu kepada anakku” berkata Nyi Upih.

Yang muda memandang Sangkan sejenak, lalu katanya “Namaku Panon”

“Panon, Panon begitu saja?”

“Itu sudah cukup” Nyi Upihlah yang menyahut “Apa jawabmu jika ada orang yang bertanya kepadamu, apakah namamu hanya Sangkan saja?, Apa itu sudah cukup?”

Sangkan tertawa pula, lalu iapun melangkah mendekati kedua orang itu sambil bertanya pula “Dan kau Ki Sanak?”

“Aku bernama Ki Mina, anak muda”

“O, kau tentu mempunyai hubungan dengan beberapa jenis ikan”

“Aku memang pencari ikan disungai”

“Sudahlah” sekali lagi Nyi Upih memotong. Kau harus segera melakukan tugasmu, kau belum selesai membersihkan halaman, kau juga belum mengisi jambangan di pakiwan”

“He, bukankah aku tinggal mengaturnya saja”

“Ah, kau memang terlalu banyak bicara, cepat, bawa mereka kebilikmu”

Tetapi sebelum Sangkan beranjak dari tempatnya, tiba-tiba terdengar suara Pinten dari pintu dalam, “Mau dibawa kemanakah mereka itu?”

“Ke bilikku, mereka akan tidur di dalam bilikku” jawab Sangkan.

“Aku?”

“Kau juga”

“Tidak mau, aku tidak mau”

“Nyi Upihpun segera mendekati Pinten sambil berkata “Aku sudah mengaturnya Pinten, Kau tidur bersamaku”

“O, senang sekali. Seperti masa kanak-kanak aku tidur bersama bibi, Kau tentu akan berdendang lagu yang ngelangut sebelum aku tertidur”

“Bibi siapa?”

“O, biyung, maksudku biyung”

Nyi Upih tertawa kecil, tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu Sangkanpun telah mengajak kedua orang pengembara itu kedalam biliknya, sambil berdiri dimuka pintu ia berkata “Nah, kau berdua dapat mempergunakan pembaringan biyung, aku akan tidur di pembaringan Pinten.

Namun tiba-tiba saja Ki Mina bertanya “Dan pembaringamu anak muda?”

“Biasanya aku tidur di kolong pembaringan Pinten”

Kedua pengembara itu saling berpandangan sejenak, namun kemudian mereka menarik nafas panjang.

Sangkan memperhatikan tingkah laku mereka dengan heran, bahkan kemudian ia bertanya “Ada yang kurang sesuai dengan kehendak kalian?”

“O, tidak, tidak anak muda, semuanya sudah terlampau cukup, aku sangat berterima kasih atas semuanya ini, atas kemurahan yang dilimpahkan oleh Raden Ayu” Sahut Ki Mina.

“Nah, kemasilah barang-barangmu, aku akan pergi ke pakiwan”

“O, biarlah aku saja” berkata Panon “Biarlah aku saja yang menimba air”

Sangkan tertawa, katanya “Nanti sajalah, sekarang kalian boleh beristirahat, kalian memang harus bekerja disini, itu memang lebih baik. Kalian tidak pantas menjadi pengemis yang malas dan sekedar menanti belas kasihan orang, badanmu cukup baik. Masih belum terlalu tua dan pikun, bahkan Panon masih terlalu muda. Semuda aku barangkali, benar-benar tidak pantas memilih pekerjaan sebagai pengemis.”

Panon menjadi gelisah, rasa-rasanya ia ingin menjawab pemalas yang hanya dapat menanti belas kasihan orang tidak dan sanggup bekerja apa saja.

Tetapi keadaannya tidak memungkinkan untuk menjawab kata Sangkan itu, karena itulah, maka rasa-rasanya dadanya membengkak oleh sebuah tekanan perasaan yang sangat berat baginya.

Sangkanpun kemudian melangkah pergi, dimuka pintu ia berpaling sambil berkata “Suara tembangmulah yang menyeret aku kemari, akupun jadi tertarik”

Panon menjadi termangu-mangu

“Nanti malam, aku ingin belajar melagukan tembang itu, kau tentu mau mengajariku bukan?”

Panon masih termangu-mangu, namun Ki Manalah yang menjawab “Tentu anak muda, Panon akan mengajarimu melagukan kidung yang menarik itu, bukan saja tembang-tembang yang sudah dilagukannya, tetapi tembang yang lainpun Panon dapat menendangkannya dengan baik”

“Tidak” sahut Sangkan “Tembang itu saja”

Ki Mina tidak sempat menjawab, karena Sangkanpun kemudian meninggalkan mereka di dalam biliknya.

Sepeninggal Sangkan, Ki Mina terduduk di atas pembaringan, sementara Panon terdengar mengeluh pendek.

“Sunggguh berat tugas ini Paman” berkata Panon Suka “Agaknya bukan hanya cobaan-cobaan dan hambatan-hambatan jasmaniah saja, tetapi perasaanpun harus tahan mengalami caci maki yang tidak ada ujung pangkalnya itu”

Ki Mina tersenyum, jawabnya “Semua ini adalah ujian bagimu, dan kau harus dapat mengatasinya dengan sebaik-baiknya, jangan kau perturutkan perasaanmu, apalagi dalam usia muda, jika kau cepat tersinggung, maka tugasmu akan terganggu dan bahkan akan gagal” Ki Mina terdiam sejenak, lalu “Apapun yang dikatakan oleh Sangkan, adalah sebagian kecil saja dari ujian perasaan yang akan kau alami, jika nanti Raden Kuda Rupaka itu datang , maka kau akan mengalami ujian yang barangkali lebih berat. Tetapi jangan lupa, kau adalah seorang pengembara, jangan sakit hati jika kau disebut pengemis, pemalas dan lan-lain”

Panon mengangguk-angguk, ia menyadari ujian yang bakal dialami di istana kecil itu, karena itulah maka iapun kemudian mempersiapkan dirinya untuk menghadapi setiap kemingkinan. Yang lahir tetapi juga yang batin.

Tiba-tiba terdengar derap dua ekor kuda memasuki longkangan samping langsung menuju ke kandang.

“Bangsawan muda yang bernama Kuda Rupaka itu telah datang bersama Panji Sura Wilaga” kata Ki Mina.

Panon mengangguk-angguk.

“Kita harus bermain lebih baik, aku harus menjadi menjadi orang yang lebih tua, dan jangan sekali-kali menunjukkan sikap yang dapat menimbulkan kecurigaan”

Panon mengangguk lagi.

Beberapa saat kemudian mereka menunggu, agaknya Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, setelah memasukkan kudanya ke kandang, kangsung menuju masuk ke ruang dalam.

“Tentu Raden Ayu baru memberitahukan kehadiran kita sekarang” desis Ki Mina.

Panon termangu-mangu sejenak, kemudian ia berkata “Paman, jika persoalan menjadi runcing, dan tiba-tiba saja timbul sikap yang kasar, apakah kita akan membiarkan diri kita dilemparkan dari istana ini?”

“Kita percaya kepada Raden Ayu Kuda Narpada, ia akan dapat mengatasi kemanakannya itu betapapun kasarnya”.

“Tentu, tetapi dalam keadaan yang wajar, tetapi jika kedua bangsawan itu mempunyai maksud tertentu yang nilainya lebih berharga dari sanak kadang, aku kira ia sudah tidak akan dapat mempercayai setiap orang yang dalam ujudnya sudah hampir mati sekalipun, karena saat ini, Karangmaja baru menjadi arena pertemuan yang panas, bukankah kita juga merupakan salah satu pihak yang memang pantas dicurigai, dan selalu mencurigai siapapun juga disini? Bahkan sekalipun, meskipun ia adalah orang dalam istana ini”

Percakapan terhenti karena tiba-tiba di depan pintu bilik sudah berdiri Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga.

“Siapa sebenarnya kalian He…! Dan apa maksud kedatangan kalian di istana ini? ”

“Kami pengembara Raden, dan kami tidak ada maksud apa-apa di istana ini”

“Jangan bohong, kalian pasti mengincar sesuatu disini”

“Kami tidak mengerti maksud Raden, dan apa yang harus kami incar dari istana ini?”

“Kita sama-sama tahu, apa maksud kalian sesungguhnya”

Ki Mina tidak menjawab lagi, tetapi terasa betapa kesulitan akan menjadi semakin banyak dihadapi oleh Panon dalam tugasnya.

“Baiklah pengembara yang malang, nikmatilah kemenanganmu yang pertama itu, karena dalam babak berikutnya, kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa, kecuali jika kalian mengurungkan niat kalian mencelakai bibi Kuda Narpada”

Kuda Rupaka tidak menunggu jawaban, iapun kemudian meninggalkan bilik itu diikuti oleh Panji Sura Wilaga.

“Bibi terlampau baik” desisnya ketika mereka sudah berada di serambi.

“Tetapi benar-benar berbahaya” Sahut Panji Sura Wilaga “Raden harus berusaha meyakinkan bahwa kehadiran pengembara itu dapat berakibat buruk, siapa tahu, ia adalah kawan dari dua orang yang terbunuh di halaman ini. Yang seorang yang berhasil lari itulah yang memanggilnya dengan cara yang berbeda untuk memasuki halaman ini”

“Ya, aku akan berusaha terus, sehingga orang-orang itu diusir dari istana ini, biarlah mereka menghubungi Ki Buyut di Karangmaja, jika mereka berdua benar-benar orang yang perlu belas kasihan, itu adalah kewajiban Ki Buyut”

Panji Sura Wilaga menggeleng, katanya “Tentu bukan Raden, Apakah Raden memperhatikan badannya yang nampaknya terpelihara baik meskipun agak kotor”

“Aku melihatnya, dan aku memang sudah mencurigainya” Kuda Rupaka berhenti sejenak, lalu “Mungkin kita harus membunuh lagi paman”

“Bagaimana dengan Sangkan?” bertanya Panji Sura Wilaga.

“Maksudmu? Apakah kau mencurigainya?”

Panji Sura Wilaga menggeleng, katanya “Tidak ada yang pantas dicurigai pada pengecut itu, tetapi justru karena ia tinggal dalam satu bilik dengan pengembara itu, mungkin ia akan dapat menjadi korban yang pertama”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, katanya “Kasihan jika benar-benar terjadi demikian, tetapi tanggung jawab atas peristiwa itu ada pada bibi Kuda Narpada”

Panji Sura Wilaga tiba-tiba saja menggeram, katanya seakan-akan kepada diri sendiri “Semakin lama istana ini menjadi semakin panas. Rasa-rasanya halaman ini sudah dikepung rapat sekali, bahkan satu dua orang sudah menyusup kedalam” ia berhenti sejenak, lalu “Raden, jika Raden tidak segera dapat memecahkan teka-teki dari istana ini, maka akibatnya akan menjadi semakin buruk bagi bibi Raden dan seluruh isi istana ini. Karena itu, Raden harus cepat berbuat sesuatu, jika kita berhasil dan sempat keluar dari kepungan ini, maka perhatian mereka akan beralih kepada Raden, istana ini akan kembali menjadi sepi dan tenang”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk.

“Raden tidak boleh memalingkan tugas Raden karena pengaruh keinginan bibi Raden”

“Maksud paman?”

“Puteri Inten Prawesti, misalnya”

“Ia adalah saudaraku, seperti aku harus menyelamatkan bibi, maka akupun harus menyelamatkannya”

Panji Sura Wilaga menarik nafas, bahkan iapun kemudian tersenyum sambil berkata “Apakah begitu?”

“Apakah paman mempunyai tanggapan yang berbeda?”

“Mudah-mudahan Raden, mudah-mudahan demikianlah yang seharusnya”

Kuda Rupaka termangu-mangu sejenak. Namun iapun tersenyum sambil berkata “Seandainya dugaan paman benar, apakah salahnya?”

“Tetapi Panji Sura Wilaga kemudian berkata “Tetapi ingat, Raden adalah murid dari perguruan Cengkir Pitu”

“Jangan kau sebut”

“Ciri-ciri yang ada tidak dapat kita ingkari, kita sebut atau tidak kita sebut. Memang mungkin ada orang yang melihat sampai kepusat jantung perguruan Cengkir Pitu, tetapi memang sulit untuk menghindarkan ciri dari ciri itu, namun demikian agaknya perguruan itu tidak sangat menarik perhatian, setiap orang dapat saja berguru ke perguruan yang manapun juga, tetapi hanya orang-orang tertentu saja yang dapat dengan pasti menghitung jumlah murid di suatu perguruan”

“Agaknya segala sesuatu memang harus berlangsung lebih cepat paman. Sebelum pengembara itu menunjukkan gejala-gejala yang lain, sehingga kita harus membunuhnya”

“Meskipun demikian Raden, kita memang tidak dapat bertindak tanpa kewaspadaan yang tinggi”

“Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, namun ia tidak segera menjawab.

Demikianlah keduanya memasuki bilik mereka sambil membawa persoalan di dalam hati. Meskipun demikian, mereka saling berdiam diri, bahkan Raden Kuda Rupakapun membaringkan dirinya di pembaringannya. Namun rasa-rasanya mereka sedang berpikir tentang persoalan-persoalan yang mejadi semakin berat yang harus mereka hadapi.

Dalam pada itu, Raden Ayu Kuda Narpada ternyata telah disentuh oleh suatu kejutan yang tidak disangka-sangka. Kehadiran kedua pengembara itu menumbuhkan persoalan baru didalam hatinya, persoalan yang ingin disingkirkannya dalam hatinya.

Karena itulah, maka iapun kemudian mengurung dirinya di dalam biliknya, duduk termenung seakan-akan melihat ke alam lain, menerawang menjelajahi waktu dan tempat. Dari masa-masa yang lampau, masa kini dan masa mendatang. Sepanjang perjalanan hidupnya sejak berada di Majapahit.

Bukan saja Raden Ayu Kuda Narpada, tetapi Inten Prawestipun merasakan sesuatu yang berbeda di dalam rumahnya, sikap ibunya menimbulkan teka-teki yang tidak dapat dipecahkannya, tetapi ia tidak berani langsung bertanya tentang sikap ibunya yang asing.

Untunglah bahwa Pinten segera menemuinya, seperti biasa keduanya dapat saling mengisi setiap kekosongan yang timbul dihati masing-masing.

“Ibunda nampaknya memikirkan sesuatu di dalam biliknya” kata inten.

“Apakah dua pengembara itu sudah mempengaruhi Raden Ayu dengan ilmu yang lain lagi untuk mengambil keuntungan dari istana ini?” bertanya Pinten.

“Jika demikian, apakah kiranya yang akan diambilnya dari tempat ini? Ibunda sudah tidak mempunyai apapun juga selain yang nampak ini, perkakas yang tidak berharga dan barangkali tidak seorangpun yang akan tertarik lagi”

Pinten menarik nafas, lalu iapun berbisik “Puteri, apakah puteri pernah mempertimbangkan untuk berbuat sesuatu?”

“Maksudmu?” bertanya Inten.

“Puteri, agaknya istana ini menjadi pusat perhatian dari banyak orang, jika yang mereka kehendaki adalah harta benda betapapun banyaknya, maka aku kira cara yang mereka tempuh akan berbeda dengan yang terjadi sekarang ini”

“Pinten” Inten Prawesti mengerutkan keningnya “Semakin lama kau menjadi semakin pandai, aku memang sudah berpikir demikian, dan agaknya kakangmas Kuda Rupakapun menganggapnya seperti itu”

“O, apakah yang dikatakan oleh Raden?”

“Mungkin ada sesuatu yang menarik di halaman ini, bahkan kakangmas Kuda Rupaka bertanya kepadaku, apakah aku tahu bahwa di halaman ini ada semacam pusaka atau apapun yang serupa dengan itu”

Pinten mengerutkan keningnya, agaknya sesuatu telah membersit dihatinya.

Inten memandang wajah Pinten yang menegang, tiba-tiba saja wajah gadis itu menjadi bersungguh-sungguh. Dengan nada yang ragu-ragu Pintenpun kemudian bertanya “Tetapi apakah benar di halaman ini ada semacam pusaka atau benda-benda lain serupa itu? Tombak atau keris atau pantrem?”

“Aku tidak tahu Pinten, ibupun tidak mengetahuinya”

Pinten berpikir sejenak lalu “Puteri, jika demikian kita harus mencarinya”

“Kita?, maksudmu kau dan aku?”

“Ya, puteri”

“Dimana kita akan mencari?, dan bukankah belum pasti bahwa di halaman istana ini ada sesuatu”

“Ah, aku akan mencoba mencarinya, aku akan menyuruh kakang Sangkan untuk mencari pusaka-pusaka yang mungkin ada di halaman ini”

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, katanya “Itu tidak mungkin”

“Aku akan membicarakannya dengan kakang Sangkan, mungkin ia mempunyai cara, jika puteri menyetujui, kita akan mencari bersama-sama”

Inten termangu-mangu, namun kemudian ia berkata “Terserahlah kepadamu, jika Sangkan memang mempunyai cara yang baik, aku tidak keberatan” Inten menjadi ragu-ragu “Tetapi aku harus minta ijin dahulu kepada ibunda”

“Itu tidak perlu puteri, jika kita mememukannya, maka kita akan menyerahkannya kepada ibunda puteri, tentu ibunda puteri akan senang sekali”

“Sesudah itu”

“Kita serahkan kepada Kuda Rupaka untuk membawanya kemana saja yang paling baik, asal tidak lagi berada di halaman ini. Bukankah dengan demikian istana ini akan menjadi tenang dan tidak lagi dibayangi oleh kecemasan seperti sekarang ini, puteri?”

Inten mengangguk-angguk, katanya “Terserahlah kepadamu”

Pintenpun kemudian dengan tergesa-gesa mencari Sangkan, sejenak mereka berbicara tentang pusaka-pusaka itu.

“Lebih cepat lebih baik, kita akan mencarinya sekarang, aku akan mengerahkan semua tenaga yang ada, kedua pengembara itu harus dimanfaatkan” berkata Sangkan.

Demikianlah maka Sangkanpun mulai mengerjakan rencananya, dengan tergesa-gesa ia pergi ke dalam biliknya dan mengajak kedua orang pengembara itu untuk mencari pusaka di halaman istana itu.

Ajakan itu benar-benar mengejutkan kedua pengembara itu, sejenak mereka saling memandang. Sementara Sangkan mendesaknya “Cepat, aku adalah lurahmu disini”

“Sangkan” bertanya Ki Mina kemudian “Dimana kita akan mencari pusaka yang kau katakan itu?”

“Dihalaman istana ini, diseluruh halaman”

Ki Mina menjadi semakin bingung, tetapi iapun kemudian mengajak Panon “Marilah Panon, kita mencarinya”

“Kita harus menemukannya, jika kita tidak menemukannya, maka kemungkinan yang lalu dapat terjadi, mungkin kalianlah yang dengan diam-diam akan mencuri pusaka-pusaka itu, atau mungkin orang lain yang dengan diam-diam memasuki halaman di malam hari”

Demikianlah maka merekapun mengikuti Sangkan pergi ke halaman belakang, mereka tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan untuk mencari pusaka-pusaka itu.

Dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga mendengar pula keributan di halaman, lamat-lamat mereka mendengar Sangkan memerintahkan kedua orang itu untuk menggali seluruh halaman.

“Yang seorang mulai dari belakang” perintah Sangkan “Yang lain dari sebelah barat, sekaligus kalian dapat menyiangi tanaman bunga dan empon-empon”

Ki Mina menarik nafas, tetapi dengan isyarat ia menyuruh Panon untuk melakukannya.

“Paman” desis Kuda Rupaka “Apakah Sangkan sudah menjadi gila?”

Panji Sura Wilaga termangu-mangu, katanya “Aku juga mendengarnya Raden, ia ingin mencari pusaka”

“Marilah kita lihat”

Keduanya dengan tergesa-gesa keluar dari biliknya turun ke halaman samping, sambil menarik nafas dalam-dalam keduanya mendekati Sangkan yang berdiri di sudut istana bagian belakang sambil bertolak pinggang. Dihalaman sisi belakang, nampak kedua pengembara sedang mencangkul tanah seperti mereka mengerjakan sawah sebelum ditanami”

“Apa yang kau lakukan Sangkan?”

Mencari pusaka Raden, agaknya pusaka-pusaka itu yang menjadi sebab kesulitan yang selama ini terasa semakin menekan. Orang-orang yang memasuki halaman ini di malam hari dan terbunuh oleh Raden berdua. Kidang Alit yang menakut-nakuti aku, dan mungkin masih ada orang-orang lain lagi diluar dinding istana ini. Karena itu, aku mencari pusaka itu sampai ketemu. Mungkin pusaka itu telah ditanam di halaman ini, karena ternyata pusaka itu tidak terdapat di dalam istana”

“Sangkan” bertanya Kuda Rupaka “Siapakah yang mengatakan bahwa di dalam rumah ini terdapat pusaka-pusaka?”

“Raden juga menanyakan kepada puteri tentang pusaka-pusaka. Mungkin dugaan Raden benar, dan kita memang harus menemukannya dan menyingkirkannya, jika mungkin menjualnya, harganya tentu cukup tinggi.

Wajah Kuda Rupaka nampak berkerut-merut, namun kemudian sambil menarik nafas ia berkata “Kau memang terlalu bodoh untuk berbicara tentang pusaka, jika sekiranya kau menemukan pusaka di halaman ini, kemana kau akan menjualnya?”

“Ke Demak, para bangsawan di Demak mempunyai banyak uang dan mereka tentu akan memerlukan pusaka tersebut. Dan dengan uang itu aku akan membangun istana ini menjadi lebih baik lagi”

“Dan kau akan memiliki istana yang sudah kau bangun ini selanjutnya?”

“O, tentu tidak, Istana ini tetap milik gusti puteri, dan kelak akan menjadi milik Puteri Inten Prawesti”

Kuda Rupaka mengerutkan dahinya, sementara itu Pinten yang mendengar jawaban kakaknya mencibirkan bibirnya.

“Sangkan” berkata Kuda Rupaka “Apakah kau kira kau akan dapat menemukan pusaka dengan caramu yang dungu ini? Seandainya benar pusaka itu disembunyikan di istana ini, apakah pusaka itu akan diletakkan di halaman begitu saja? Atau katakan ditanam sedangkal mata kaki?, sudahlah, hentikan perbuatan gila ini, jangan berpikir lagi tentang pusaka, jika kau menemukan pusaka apapun di halaman ini dan kau mencoba menjualnya, itu berarti bahwa umurmu akan mejadi pendek”

“Kenapa Raden, apakah akan dikutuk oleh pusaka itu, sehingga aku akan mati?”

“Ya, kau akan dikutuk oleh pusaka itu, dan kau akan dirobek-robek oleh orang-orang yang sekarang tentu sudah menunggu disekitar istana ini. Orang-orang yang tidak kita ketahui dengan pasti apakah yang telah mendorong mereka untuk memasuki istana ini, seperti dua orang yang telah aku bunuh itu, jika bukan kawan-kawan mereka, maka kidang alitpun tentu siap mencincangmu tanpa memberikan ampun lagi, apalagi membeli pusaka-pusaka seandainya kau menemukan”

“O” wajah Sangkan menjadi pucat “Mengerikan sekali, jika demikian, hal serupa itupun dapat terjadi di dalam istana ini, jika mereka berkeras menganggap bahwa di dalam istana ini memang ada pusaka itu, maka mereka akan beramai-ramai mencarinya disini dengan kekerasan, karena itu agaknya lebih baik jika kita menemukannya terlebih dahulu”

“Jika kau menemukannya?”

“Kita sediakan saja di pendapa, atau sebuah sayembara yang menarik, siapakah yang paling kuat, ialah yang akan memiliki pusaka itu”

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, Panji Sura Wilaga menggeram “Aku ingin mencekiknya saja Raden”

Namun Kuda Rupaka tertawa, katanya “Kedunguannya sangat memberikan kesegaran pada kehidupan yang datar di istana ini. Tetapi sudahlah Sangkan, hentikanlah kerjamu yang sia-sia, kecuali jika kau memang sudah benar-benar menjadi gila”

Sangkan menjadi termangu-mangu, tetapi kemudian katanya “Baiklah Raden, aku akan menghentikan usahaku mencari pusaka itu, tetapi biarlah orang-orang malas ini bekerja terus. Biarlah mereka menyiangi pohon-pohon bunga dan perdu. Meluruskan tanaman empon-empon dan jika perlu membuat lubang sampah di belakang”

“Hentikan Raden” geram Panji Sura Wilaga.

“Kau benar-benar gila Sangkan” berkata Kuda Rupaka kemudian “Agaknya kau berkeras untuk menemukan sebuah pusaka atau mungkin lebih dari itu, dengan membuat lubang tempat sampah kau berharap untuk mendapatkannya, tetapi kau tentu akan kecewa, meskipun demikian, cobalah. Jika kau berhasil menemukan sebuah pusaka, bahkan sebilah senjata apapun meskipun bukan pusaka, aku akan menukar dengan seekor kuda yang paling tegar, kau akan dapat menjual kuda itu dengan aman, karena tidak akan ada orang yang ingin merebutnya dari tanganmu, seperti jika kau menemukan sebuah pusaka”

“Raden membuat suatu kesalahan” desis Panji Sura Wilaga “Dengan demikian Raden telah mendorongnya untuk mencarinya di seluruh halaman ini”

“Aku akan membelinya paman” bisik Kuda Rupaka.

“Tetapi pengembara malas itu?”

Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun kemudian katanya perlahan-lahan sekali “Kita sudah siap menghadapi segala kemungkinan, jika kedua pengembara itu ternyata berniat buruk pula terhadap pusaka-pusaka yang seharusnya kembali ke Demak itu, kita sudah siap, apapun yang akan terjadi”

Panji Sura Wilaga tidak menjawab lagi, ia dengan tegangnya mengamati kedua orang pengembara yang masih memegang cangkul sambil termangu-mangu di halaman samping dan belakang, agaknya mereka menunggu, apakah yang harus mereka lakukan.

“Bekerja terus” teriak Sangkan sambil mengangkat wajahnya seperti seorang senapati di peperangan “Meskipun kalian tidak menemukan pusaka apapun, tetapi kerja kalian akan bermanfaat. Teruskan. Dan kalian akan membuat lubang sampah di kebun belakang”

Dalam pada itu Kuda Rupaka berbisik “Kita akan mengawasi mereka, jika mereka membuat lubang-lubang sampah. Mungkin Sangkan melihat sesuatu yang menarik perhatian dan menggalinya”

Tetapi ini permainan gila, dan kita harus ikut manjadi gila pula”

Kuda Rupaka tersenyum, desisnya “Apa salahnya kita harus berbuat apa saja, dan kali ini kita menjadi gila”

Panji Sura Wilaga tidak menjawab.

“Marilah kita ke halaman depan, kita akan melihat dari kejauhan, jika mereka mulai membuat lubang-lubang sampah, kita akan medekat”

Panji Sura Wilagapun mengikuti Kuda Rupaka ke halaman depan, mereka kemudian duduk dibawah sebatang pohon perdu yang rimbun sambil mengawasi kedua pengembara yang masih saja berdiri termangu-mangu.

“He, mengapa kalian masih belum mulai?” bertanya Sangkan. “Sudah aku katakan, mendapat atau tidak, kalian akan tetap menggali halaman itu”

Panon menarik nafas, rasa-rasanya dadanya akan meledak melihat perlakuan Sangkan yang dungu itu, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi ketika ia melihat Kiai Rancangbandang sudah mulai mengayunkan cangkulnya lagi.

Namun demikian, kedua orang itu dibayangi oleh kecemasan, mereka telah menyembunyikan senjata dibawah tikar di pembaringan. Jika tidak atau dengan sengaja seseorang menemukannya, maka keadaannya tentu akan segera berubah. Tetapi agaknya semua orang berada di halaman itu, kecuali Raden Ayu Kuda Narpada dan Nyi Upih. Dan keduanya yakin bahwa kedua perempuan itu tentu tidak akan melihat-lihat pembaringan mereka.

Dalam pada itu, Pinten yang semula berdiri termangu-mangu beberapa langkah dari kakaknya, segera mendekatinya sambil berbisik “Jika kau menemukan pusaka-pusaka itu. Kau akan menjualnya dan membangun istana ini bagi puteri Inten Prawesti”

“Ya”

Pinten mencibirkan bibirnya “Kau terlalu sombong, apakah kau tidak menyadari, bahwa kau adalah pelayan disini”

“He, kenapa kau ini Pinten? Aku memang pelayan disini, kenapa?, apakah aku tidak boleh membangun istana itu? Bukankah sampai sekarang aku juga yang memperbaiki semua kerusakannya, dari atap sampai ke regolnya”

“Sst, jangan terlalu keras.Lihat, puteri berdiri di butulan dan kau selalu saja membicarakannya”

“Siapa yang mulai?”

“Aku akan mengatakannya kepada puteri. Oh puteri, kakang Sangkan akan menjual pusaka untuk memperbaiki istana ini bagi puteri”

“Kau jangan mengigau Pinten”

Tiba-tiba saja Pinten tertawa..

“Aku copot gigimu tiga buah” desis Sangkan.

Tetapi ketika Sangkan menjulurkan tangannya, Pinten berlari ke butulan menjumpai puteri Inten Prawesti yang berdiri di butulan itu melihat Sangkan dan kedua pengembara itu mencari pusaka.

Dimuka pintu Pinten berhenti, dari kejauhan Sangkan hanya melihat bibir adiknya itu bergerak-gerak, tetapi ia tidak tahu apa yang dikatakannya kepada puteri Inten Prawesti.

Tetapi yang dikatakan oleh Pinten sama sekali bukan tentang pusaka yang akan dijual untuk membangun istana ini, yang dikatakannya adalah usaha pencarian pusaka yang agaknya tidak akan dapat berhasil dengan cara itu.

Bab 20

Inten tersenyum katanya “Kakangmu memang aneh Pinten, jika dengan demikian kau akan menemukan pusaka-pusaka itu, maka alangkah mudahnya”

“Pusaka-pusaka yang mana puteri?” bertanya Pinten.

“Bukankah kalian sedang mencari pusaka?”

“O” Pinten menarik nafas “Aku kira puteri ingin mengatakan tentang pusaka-pusaka yang sudah puteri ketahui”

Inten mengerutkan keningnya, ditatapnya wajah Pinten sejenak. Namun pada wajah itu sama sekali tidak terbayang niat apapun juga, karena nampaknya Pinten acuh tidak acuh terhadap kata-katanya sendiri.

Namun dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga terkejut ketika mereka mendengar derap kaki kuda. Dengan serta merta meloncat berdiri dan langsung menghadap ke regol halaman yang sedikit terbuka.

Ternyata bukan hanya kedua orang itu sajalah yang menjadi tegang. Semua orang yang ada di halaman samping dan belakang itupun mendengar derap kaki kuda itu pula. Tetapi mereka tidak melihat apa yang terjadi di halaman depan dengan jelas, apalagi orang yang sedang berada di halaman belakang.

Sementara itu. Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga dengan hati-hati melangkah mendekati regol. Jelas bagi mereka bahwa derap kuda itu telah terputus, dekat regol halaman itu.

Sejenak kemudian mereka melihat dua orang berkuda yang berada diluar regol.

Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga ragu-ragu sejenak, namun kemudian mereka berdua dengan langkah yang tetap mendekati regol itu, dan bahkan membuka pintunya semakin lebar.

Dua orang yang masih duduk diatas kuda memandang kedua orang yang berada di halaman itu dengan tegangnya.

“Jadi kalian berdua adalah yang bernama Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga?, yang sudah membunuh dua orang dari perguruan Guntur Geni?”

Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga termangu-mangu, namun kemudian dengan tegas Kuda Rupaka menjawab “Ya, aku adalah Kuda Rupaka dan ini adalah paman Panji Sura Wilaga, kamilah yang telah membunuh orang-orang dari Guntur Geni, dan kami akan membunuh siapa saja yang berusaha memasuki istana ini dengan kekerasan dan mengganggu bibi Kuda Narpada”

Kedua orang itu meragu, namun salah seorang dari mereka tertawa “Kau adalah seorang yang berani Raden, tetapi kau sama sekali tidak berperhitungan”

Kuda Rupaka memandang kedua orang kedua itu, wajahnya bagaikan membara, namun ia berdiri ditempatnya. Sambil menggeram ia berkata, “Kau jangan mengigau disini, aku mempunyai perhitungan yang tepat, jika kalian tidak segera pergi, maka kalianpun akan aku bunuh pula di tempat ini, agaknya kalian adalah kawan-kawan dari perguruan Guntur Geni itu”

“Kami bukan orang-orang Guntur Geni” sahut seorang dari mereka yang berkuda diluar regol.

“Aku tidak peduli sipakah kalian, tetapi jika kalian mengganggu kami disini, maka itu akan berarti kematian bagi kalian”

“Jangan terlampau sombong”

“Aku akan membuktikan, kecuali jika kalian segera pergi dari tempat ini”

Keduanya termangu-mangu sejenak, namun salah seorang dari mereka tertawa “Kau benar-benar seorang anak muda yang berani, seperti juga pamanmu Sura Wilaga itu, tetapi kalian akan menyesal karena kalian berada di tempat ini”

“Itu sudah cukup, pergilah” geram Kuda Rupaka.

“Raden” berkata salah seorang dari kedua orang berkuda itu “Aku harap dalam waktu tiga hari, Raden meninggalkan istana ini, kami memang mempunyai kepentingan dengan Raden Ayu Kuda Narpada. Kami sudah tidak sabar lagi menunggu di padukuhan Karangmaja. Karena itu, sebelum kami kehabisan kesabaran sama sekali, sebaiknya kalian pergi. Termasuk dua orang pengembara yang kini berada di halaman ini. Aku menduga bahwa keduanya bukan orang-orangmu. Ia datang dalam ujud yang lain dari ujud seorang bangsawan seperti kalian. Meskipun aku menduga pada suatu saat akan terjadi benturan antara kau dan orang yang berpura-pura menjadi pengemis itu, namun aku menganggap lebih baik bahwa kalian pergi dahulu sebelum hal itu terjadi, dan biarlah aku yang mengusir mereka itu dari halaman ini dan aku akan membunuh mereka”

“Aku akan membunuhmu sekarang, He, jika kau ingin membunuh, kenapa harus menunggu tiga hari?, Pengecut, Kau hanya dapat mengancam dan menakut-nakuti aku, atau barangkali kau menunggu pasukan segelar sepapan?”

“Bukan begitu, bagiku lebih baik berhasil tanpa membasahi tangan ini dengan darah daripada harus membunuhmu”

Raden Kuda Rupaka sudah tidak sabar lagi, terlebih Panji Sura Wilaga yang maju selangkah mendekati orang-orang berkuda itu.

Namun sebelum orang berkuda itu menggerakkan kendali kuda mereka, salah satu dari dari mereka berkata “Jangan terburu nafsu, lebih baik kalian agak berhati-hati menghadapi aku dan kawanku besok”

Kuda Rupaka menggeram, tetapi kedua orang itupun kemudian segera meninggalkan regol itu sambil tertawa.

Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga berdiri termangu-mangu, mereka masih dapat menahan diri dam membuat perhitungan yang lebih baik dari sekedar menuruti perasaan.

“Mereka sudah gila, “Geram Panji Sura Wilaga “Sementara kita masih tetap disini oleh mimpi yang indah”

Kuda Rupaka memandang Panji Sura Wilaga dengan kemerut didahinya, katanya “Aku tahu yang paman maksudkan, sebenarnyalah bahwa akupun sudah siap berbuat sesuatu, aku sama sekali tidak terpengaruh oleh kehadiran Inten Prawesti di dalam hatiku, karena bagiku kedua-duanya dapat aku lakukan dengan sempurna”

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, katanya seolah-olah sekedar bergumam kepada diri sendiri “Aku tidak tahu, bagaimana harus membagi hati antara tugas dan perasaan seroang laki-laki terhadap seorang gadis”

Kuda Rupaka mengangkat wajahnya, seolah-olah ia ingin mengatakan kepada seisi istana kecil itu “Lihatlah, aku akan menyelesaikan semua tugasku bersama-sama, tugasku sebagai murid perguruan Cengkir Pitu dan tugasku sebagai seorang laki-laki”

Panji Sura Wilaga masih akan menyahut, tetapi tiba-tiba mereka tertegun ketika telinga mereka yang tajam menangkap sebuah desis diatas dinding halaman.

Mereka menjadi berdebar-debar ketika tiba-tiba saja mereka melihat seorang yang duduk diatas batu itu sambil memandang berkeliling. Tatapan matanya terhenti sejenak, ketika ia melihat orang-orang sedang sibuk mencangkul tanah di halaman samping dan belakang.

Sebelum seorang menyapanya, telah terdengar ia tertawa pendek, katanya, “Menyenangkan sekali untuk mendapat kesempatan mencari pusaka-pusaka yang belum diketemukan itu dengan cara yang paling baik yang pernah aku lihat”

“Kidang Alit” hampir bersamaan semua orang yang berada di halaman itu berdesis. Panon dan Kiai Rancangbandang yang belum mengenalnyapun kemudian mengulangi nama itu, didalam hatinya, setelah ia mendengar Sangkan menyebutnya “Kidang Alit”

Kuda Rupaka yang masih dicengkam oleh kemarahan karena hadirnya dua orang berkuda itupun menggeram sambil berkata “Kidang Alit, kau jangan terlalu sombong, jika aku tidak segera membunuhmu itu karena aku masih mempunyai pertimbangan lain. Aku kira kau pada suatu saat merasa bahwa kau tidak akan berhasil mendapatkan apapun juga di halaman ini. Tetapi agaknya kau memang terlampau dungu untuk mengerti, bahwa kau tidak mempunyai kekuatan apapun yang akan dapat kau andalkan disini, selama aku masih berada di halaman istana ini”

“Dan sekarang bertambah lagi dengan dua orang pengembara itu. Eh, aku tidak yakin bahwa kedua pengembata itu bukan pengikut-pengikutmu yang dengan sengaja kau masukkan ke dalam istiana ini”

“Kau gila Kidang Alit” Kuda Rupaka yang tidak dapat menahan hatinya hampir beteriak “Aku tidak kenal dengan pengembara itu, tetapi apapun yang ada di dalam istana ini, akan menggagalkan usahamu untuk menemukan pusaka-pusaka yang ada di dalamnya. Kau memang tidak dapat ingkar lagi, bahwa pusaka-pusaka itu telah menyeret kalian dan orang-orang Guntur Geni itu untuk merebutnya dari tangan penghuni istana ini. Tetapi selama aku masih ada disini, maka semua usaha itu tentu akan sia-sia. Kau tentu tahu, dua orang yang terbunuh itu, jika kaulah yang hadir pada malam itu, dengan menyebut perguruan Kumbang Kuning itu bukan berarti bahwa kaupun berhak atas pusaka-pusaka di dalam istana ini”

Kidang Alit tertawa, katanya “Jangan marah-marah Raden, akupun menjadi curiga, bahwa Raden Kuda Rupaka benar-benar sekedar ingin menyelamatkan pusaka-pusaka itu tanpa pamrih”

“Jika ada pamrih padaku, itu adalah wajar sekali, tetapi pamrihku adalah pamrih yang baik”

Kidang Alit termenung sejenak, dengan mata yang tidak berkedip ia memandang ke pintu butulan, justru pada saat Inten Prawesti mencoba menjengukkan kepalanya.

“Pusaka dan perawan memang pantas dipertahankan sampai akhir hayat, tetapi jika kau mati terbunuh di halaman istana ini Raden, kau tidak akan mendapatkan kedua-duanya”

“Itu adalah akibat yang wajar dari sebuah perjuangan, tetapi pamrih yang utama bagiku adalah mengembalikan pusaka-pusaka itu ke Demak, jika memang pamanda Kuda Narpada meninggalkan pusaka itu di istana ini”

“Jangan berpura-pura, setiap orang mengetahui, bahwa pada saat Pangeran Kuda Narpada bertahan, Maharaja Majapahit telah menyerahkan sebilah keris. Hanya sebilah keris. Kau tidak akan dapat menyebut pusaka yang manapun juga lebih dari satu justru untuk mengelabui orang-orang yang mengetahui denga pasti pusaka apakah yang telah diserahkan kepada Pangeran Kuda Narpada sebagai lambang kekuasaan Majapahit dan sebagai sipat kandelnya di dalam pertempuran yang maha dahsyat yang telah menghancurkan Kota Raja itu. Tetapi akhirnya Pangeran Kuda Narpada tidak dapat bertahan. Ia meninggalkan Kota Raja dengan pusaka yang diterimanya, bukankah begitu?”

“Ya, dan sekarang aku datang untuk mengambil pusaka itu dan menyerahkan kepada pamanda Sultan Demak”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, katanya “Apakah kau yakin bahwa Demak akan dapat bertahan dan melanjutkan kekuasaan Majapahit?”

Kuda Rupaka termenung sejenak, lalu “Jika demikian aku yakin, kau adalah seorang pewaris kerajaan Kediri yang merindukan kebesarannya setelah Kediri tidak pernah dapat bangkit kembali. Bukan salah Majapahit bahwa ia menjadi besar dan berkuasa mempersatukan kepulauan yang terbentang dari ujung Barat sampai ke ujung Timur”

Kidang Alit duduk memeluk lututnya diatas dinding halaman itu mengangkat kepalanya sejenak, lalu diantara suara tertawanya ia berkata seolah-olah acuh tak acuh saja atas sikap Raden Kuda Rupaka “Kenapa kau mengambil kesimpulan bahwa aku adalah trah langsung dari Kediri? Aku adalah Kidang Alit, seorang pengembara yang tidak mempunyai tempat menetap seperti kleyang kabur kanginan”

Kuda Rupakalah yang kemudian tertawa. Katanya “Lihatlah kedua pengembara itu, mereka juga menyebut dirinya kleyang kabur kanginan. Dan mungkin masih banyak orang yang mempergunakan penyamaran yang dungu semacam kau”

“Seandainya demikian, kenapa kau menghubungkan aku dengan trah Kediri?”

“Banyak trah Kediri yang berada di dalam lingkungan Kumbang Kuning” Jawab Kuda Rupaka “Selebihnya kau mempunyai bayangan ujud bangsawan, bukan seorang perantau yang kau sebut kleyang kabur kanginan, maka kau adalah seorang bangsawan yang mursal, yang kehabisan sisa harta benda Karena kau menginginkan nafsu duniawi”

“Ah, kesimpulanmu salah, ada banyak sebab, contoh yang dekat adalah puteri Inten Prawesti, ia menjadi melarat, tetapi apakah ia benar-benar mengagungkan nafsu duniawi?”

“Gila” Kuda Rupaka menggeram, tetapi ia tidak mau digelitik oleh sikap Kidang Alit sehingga kehilangan akal dan pengamatan diri. Karena itu ia masih tetap menahan perasaannya. Bahkan ia masih sempat tersenyum dambil menjawab “Kau memang pandai memilih persoalan. Tetapi kita tidak akan terperosok dalam perdebatan yang kau inginkan, aku tidak membicarakan diajeng Inten Prawesti, aku berbicara tentang kau dan kandunganmu”

Kidang Alit menarik nafas, katanya “Kau memang bijaksana, kau tidak mudah terseret arus kemarahanmu dan mengalihkan persoalan. Baiklah, aku sadar sekarang, bahwa Raden Kuda Rupaka memang seorang yang harus mendapat perhatian lebih banyak dari setiap orang yang ada di sekitar istana ini untuk merampas pusaka yang tersimpan di dalamnya, aku yakin bahwa pada suatu saat akan terjadi, kita semuanya akan menentukan siapakah yang pantas memiliki pusaka itu”

“Kau belum memperhitungkan paman Cemara Kuning dan paman Sendang Prapat”

“Keduanya tidak akan dapat kau jumpai lagi dimanapun juga kau berada”

“Semakin jelas bagiku, kau adalah saluran dari kedua paman yang memang masih mempunyai darah keturunan Kediri itu, meskipun keduanya adalah darah Majapahit pula, ibunda dari kedua pamanda itu tentu mempunyai saluran yang sama dengan kau yang menamakan Kidang Alit”

“Penglihatanmu tajam sekali, Raden. Tetapi tidak ada orang yang dapat melihat samubarang”

“Meskipun tidak ada. Tetapi aku seolah-olah dapat melihat bahwa pada saat paman Cemara Kuning dan Sendang Prapat membawa Pamanda Kuda Narpada, pusaka itu tentu tidak ada pada paman Kuda Narpada. Atau, jika pamanda membawa sebilah keris yang disangkanya pusaka itu, ternyata bukan, sebab jika tidak demikian, kau tentu tidak akan kemari”

“Kau benar-benar waskita”

“Tetapi marilah kita berkesimpulan, bahwa dengan demikian satu-satunya keris yang dibawa oleh pamanda Kuda Narpada saat ia memasuki padukuhan ini adalah bukan pusaka yang kau cari itu. Karena pamanda hanya membawa sebilah keris saja”

Kidang Alit tertawa “Itu adalah kesimpulan yang tergesa-gesa Raden, atau kau sudah menerima keris itu dari Raden Ayu Kuda Narpada dan dengan demikian kau ingin mengelabui aku”

“Carilah kesimpulanmu sendiri, itu adalah kesimpulanku”

“Pada suatu saat aku ingin bertanya langsung kepada Raden Ayu”

“Sia-sia, bibi tidak tahu sama sekali” ia berhenti sejenak, lalu “He, Kidang Alit, kenapa kau tidak menyebutnya bibi seperti aku?, aku tahu, bahwa kau memiliki gelar kebangsawanan, sebaiknya kau tidak perlu mempergunakan penyamaranmu lagi”

Kidang Alit mengangguk, jawabnya “Mungkin kau benar, tetapi itu adalah urusanku. Aku adalah Kidang Alit, bagiku sendiri, aku tidak perduli pendapat orang lain.”

“Dan sekarang?”

“Aku akan pergi. Tetapi aku akan kembali lagi kemari. Sebaiknya kau pergi sebelum terjadi peristiwa-peristiwa yang dapat berakibat buruk bagimu”

Kuda Rupaka yang justru tertawa, katanya “Ternyata kau tidak ada bedanya dengan dua orang dungu yang berkuda tadi. Sebenarnya aku kecewa mendengar peringatanmu itu. Sebelumnya aku hormat kepadamu sebagai seorang bangsawan yang merendahkan diri. Karena cita-cita yang mempunyai pengetahuan yang luas dan ilmu yang tinggi, tetapi kau masih juga sempat menakut-nakuti aku seperti kanak-kanak. Seharusnya kau tahu bahwa itu tidak berguna sama sekali”

Kidang Alit tertawa pula. Jawabnya “Kau benar Raden, aku ternyata masih terlalu cengeng menghadapi seorang anak muda yang sangat perkasa. Baiklah, aku minta diri. Aku kadang-kadang masih juga mengganggu Raden ini sebangsa tikus dari Guntur Geni itu, sehingga aku merasa perlu untuk menakut-nakuti Raden. Tetapi ternyata aku harus menjadi malu karenanya. Namun, pada suatu saat aku akan menebusnya dengan bukti bahwa aku benar-benar akan membunuhmu”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya “Aku menunggu setiap saat, aku akan berada di tempat ini waktu yang tidak terbatas, meskipun aku tahu keluargaku tentu menjadi gelisah karena aku belum juga pulang. Bahkan mungkin ada satu dua orang senapati yang akan menyusulku kemari”

“O, adakah itu juga suatu keterangan yang cengeng?”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, tetapi iapun kemudian tertawa pula. Namun justru Panji Sura Wilaga hampir kehilangan kesabarannya.

“Nah, kau juga cerdik” kata Kuda Rupaka “Sekarang pergilah”

“Baik Raden”

Kidang Alitpun kemudian memandang halaman itu sejenak. Ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat Panon dan Kiai Rancangbandang masih tetap berdiri di tempatnya. Tetapi iapun kemudian tersenyum melihat Sangkan yang terduduk dengan wajah pucat disudut istana itu, bersandar tiang. Sementara Pinten duduk sambil memeluk kaki Inten Prawesti di butulan.

“Aku akan pergi. Agaknya aku menakut-nakuti orang disini, kecuali Raden berdua dengan Panji Sura Wilaga dan kedua pengembara itu. Jika kedua pengembara itu bukan sahabat Raden, hati-hatilah dengan mereka. Lihatlah betapa matanya menyala dan kedua kakinya yang renggang menghadap kepadaku, Raden harus lebih menaruh perhatian kepada mereka, daripada kepada anak-anak Guntur Geni itu telah datang lagi dalam jumlah yang lebih banyak dan sudah tentu orang-orang yang lebih baik dari yang sudah Raden bunuh di istana ini”

Raden Kuda Rupaka tidak menjawab, dibiarakannya Kidang Alit bergeser. Namun ia masih sempat tersenyum kepada Inten Prawesti sambil berkata “Ampun puteri, aku tidak ingin menakut-nakuti puteri dan gadis itu, aku tidak ingin melontarkan gendam dalam kidung maupun perngaruh bunyi yang lain. Karena semuanya itu dapat dipudarkan oleh Raden Kuda Rupaka. Tetapi aku tidak yakin bahwa ia akan dapat berbuat demikian pula dalam oleh kanuragan”

Inten Prawesti tidak manyahut. Tetapi tubuhnya terasa menjadi gemetar seperti Pinten yang masih memeluk kakinya.

Sejenak kemudian Kidang Alit itupun meloncat turun, tetapi suaranya masih mengumandang “Akan datang waktunya orang-orang Guntur Geni itu menyerang istana ini”

Tidak seorangpun yang menjawab, tetapi Raden Kuda Rupaka kemudian menghentakkan tangannya sambil bergumam “Gila, kita harus segera selesai”

“Tidak ada lagi sopan santun dan ungguh-ungguh yang dapat menghambat tugas kita”

Kuda Rupaka tidak menjawab, tetapi iapun kemudian mendekati Inten Prawesti yang berdiri di butulan, ketika ia lewat di dekat sangkan yang bagaikan membeku, ia sempat menyentuh kaki Sangkan dengan kakinya.

“Kau akan mati membeku pada suatu saat” desis Kuda Rupaka.

“Tetapi, tetapi….” Suara Sangkan bagaikan tersumbat di kerongkongan.

Kuda Rupaka tidak menghiraukannya, tetapi ia melangkah terus mendekati Inten.

Inten Prawesti masih saja berdiri di tempatnya, sementara Pinten dengan gemetar berpegangan dengan kakinya.

“Diajeng” berkata Kuda Rupaka “Agaknya keadaan menjadi semakin gawat, hati-hatilah, mungkin ada persoalan yang nenyusul. Tetapi jangan cemas, semuanya tentu akan dapat kita atasi” Ia berhenti sejenak, lalu “Namun demikian, kita harus saling membantu, aku akan menjaga istana ini dengan mempertaruhkan nyawaku”

Inten Prawesti tidak menjawab, rasa-rasanya mulutnya menjadi kaku dan jantungnyapun serasa berhenti berdenyut.

“Diajeng” berkata Kuda Rupaka “Sebaiknya kita mulai berterus terang kepada bibi, sudah waktunya bibi mengetahui semua persoalan yang sedang bergejolak di sekitar istana ini”

Inten tidak dapat menjawab, tetapi kepalanya terangguk lemah.

“Semuanya harus berlangsung dengan cepat. Pada saatnya aku akan menghadap bibi untuk memecahkan kesulitan yang timbul di istana ini”

Inten masih tetap berdiam diri, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

“Cobalah mengerti diajeng” berkata Kuda Rupaka selanjutnya “Dan usahakanlah agar bibi dapat mengerti pula kesulitan-kesulitan yang sama-sama kita hadapi”

Kuda Rupaka tidak menunggu jawaban Inten yang masih bingung, tetapi iapun kemudian melangkah pergi sambil berkata “Tetapi tetap tenang sajalah, aku ada disini”

Dihadapan Sangkan yang masih membeku di tempatnya Kuda Rupaka berhenti, sambil menunjuk kepada dua orang yang berdiri termangu-mangu di kebun sambil memegang cangkulnya ia berkata “Kau lihat kedua orang itu?, pada suatu saat bukan Kidang Alitlah yang akan menakut-nakuti kau, tetapi kedua orang itu. Bahkan mungkin mereka akan menjadi lebih berbahaya dari Kidang Alit itu sendiri”

“Tetapi, tetapi mereka hanya dua orang pengembara?”

“Kau dengar yang dikatakan oleh Kidang Alit? Iapun tidak lebih dari seorang pengembara pula, kleyang kabur kanginan”

Sangkan tidak menjawab, tetapi wajahnya yang pucat masih saja pasi, sedang keringatnya telah membasahi seluruh tubuhnya.

Tetapi ia hanya dapat memandang langkah Kuda Rupaka menjauh dan hilang bersama-sama dengan Panji Sura Wilaga di halaman depan.

Sepeninggal Kuda Rupaka, Sangkan mencoba untuk beranjak dari tempatnya, sejenak ia memandang adiknya yang duduk berpegangan kaki Inten Prawesti, namun kemudian ia memandang kedua orang yang sedang termangu-mangu di kebun itu dengan sorot mata yang aneh.

“He…!” tiba-tiba Sangkan berteriak kepada Panon “Apakah benar apa yang dikatakan oleh Kidang Alit dan Raden Kuda Rupaka, bahwa kau dan pamanmu akan membuat kesulitan disini?”

Pertanyaan itu benar-benar membingungkan, sehingga Panon tidak segera menjawab, dengan gelisah ia memandang Ki Mina yang berdiri beberapa langkah dari padanya, tetapi nampaknya orang tua itupun menjadi agak bingung pula.

“Kenapa kau diam saja” berkata Sangkan “Kalian berada dibawah perintahku disini, kalian harus menjawab dengan jujur dan tidak berbelit-belit.”

Panon menjadi semakin bingung, tetapi justru karena itulah maka iapun dengan ragu-ragu menjawab “Tidak, tentu tidak, aku telah mengabdi disini dengan maksud yang baik”

“Apakah kau mencari pusaka pula seperti orang-orang lain?”

“Tidak, tidak”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, katanya “Bagus, sayang Raden Kuda Rupaka sudah pergi, seharusnya ia mendengar jawaban kalian bahwa kalian tidak akan mencari pusaka itu dengan cara apapun juga. Jika kalian sekarang mencangkul halaman dan nanti membuat lubang-lubang sampah itu karena akulah yang menyuruhmu”

“Ya, ya, semata-mata karena aku mendapat perintah dari Ki Lurah”

“Jangan panggil aku Ki Lurah, tidak seorangpun yang mengangkat aku menjadi lurah disini, meskipun kedudukanku terhadap kalian memang ada bedanya dengan lurah kalian”

Panon tidak menjawab lagi, tetapi rasa-rasanya ia tidak tahan lagi menghadapi tekanan perasaan yang semakin menghimpit dadanya. Seakan-akan rongga dadanya itu hampir meledak oleh perasaan muak dan kesal.

Sangkanpun kemudian berdiri dengan dada terngadah dimuka pintu butulan menghadap kepada Inten Prawesti, katanya “Puteri telah mendengar sendiri, kedua orang itu tidak akan berbuat apa-apa disini, nanti puteri dapat mengatakannya kepada Raden Kuda Rupaka dan Raden Panji Sura Wilaga”

Inten menarik nafas dalam-dalam, tetapi kepalanya terangguk pula meskipun ia berkata di dalam hatinya “Sangkan adalah anak yang aneh, adik perempuannya kadang-kadang menunjukkan sikap yang cerdas dan cakap menganggapi keadaan, tetapi Sangkan justru kebalikannya. Betapa mudahnya ia disesatkan oleh jawaban-jawaban yang mungkin kosong, jika dengan jawaban itu sudah meyakinkannya, maka ia akan mudah sekali terpersosk ke dalam kesulitan”

Namun Inten Prawesti tidak mengatakan apapun juga bahkan perlahan-lahan ia menyentuh bahu Pinten sambil berkata “Marilah Pinten, kita masuk saja kedalam”

Pintenpun kemudian berdiri dan mengikuti Inten masuk ke ruang dalam, dengan ragu-ragu Inten bertanya “Apakah aku harus mengatakannya kepada ibunda?”

Pinten termangu-mangu sejenak, namun kemudian iapun menjawab “Sebaiknya puteri, karena ibunda justru telah mendengar keributan-keributan di halaman, karena itu, agar ibunda puteri jusru tidak selalu dibayangi oleh berbagai macam pertanyaan, maka ada pula baiknya puteri memenuhi pesan Raden Kuda Rupaka”

Inten mengangguk-angguk, katanya “Baiklah Pinten, aku akan langsung menghadap ibunda, sebaiknya kau ikut serta, agar kau dapat membantu aku memberikan penjelasan”

Pinten mengangguk-angguk, tetapi dengan dahi yang berkerut-merut ia bertanya “Tetapi puteri, apakah yang akan puteri katakan kepada ibunda?”

“Kesulitan kita, bukankah kakangmas Kuda Rupaka berpesan demikian?”

“Lalu, apakah kira-kira tanggapan ibunda puteri?”

“Tentu aku tidak tahu Pinten”

“Jika puteri menjadi ibunda, apakah kira-kira yang akan puteri lakukan?”

Inten termangu-mangu sejenak, dengan ragu-ragu Inten mencoba menjawab “Apakah kira-kira ibunda akan mempersoalkan keris itu lagi? Tetapi jika sekiranya ibunda mengetahui, ibunda tentu sudah mengatakannya kepada kakangmas Kuda Rupaka, agar kita segera terlepas dari kesulitan yang selalu membayangi rumah ini”

Pinten menarik nafas dalam-dalam, katanya “Memang itulah tujuan Raden Kuda Rupaka, Raden Kuda Rupaka ingin segera mengetahui dimanakah pusaka ayahanda puteri itu disimpan. Karena bukan saja Raden Kuda Rupaka, tetapi setiap orang yang berdatangan ke sekitar istana ini percaya, bahwa keris pusaka itu masih ada di dalam istana ini”

Jika sekiranya ibunda memang mengetahui?” desis Inten Prawesti “Tetapi ibundapun tentu tidak mengetahui, dan itu berarti malapetaka akan menimpa kita semuanya”

Pinten mendekati Inten sambil berbisik “Raden Kuda Rupaka ada di istana ini puteri, seharusnya puteri tidak usah menjadi cemas, jika sekiranya ibunda puteri memang tidak menegetahui. Apakah salahnya untuk berterus terang bahwa memang tidak mengetahuinya. Tidak seorangpun akan dapat memaksa agar orang yang benar-benar tidak mengetahui, dan dengan sendirinya menjadi tahu”

Inten termangu-mangu, sekali lagi ia heran melihat sikap dan tingkah laku Pinten dibandingkan dengan kakaknya, Sangkan.

“Tetapi Pinten, bagaimanakah jika kakangmas Raden Kuda Rupakalah yang kemudian tidak percaya bahwa ibunda tidak mengetahui sama sekali tentang pusaka itu”

“Siapapun yang menghadap, yang tidak diketahui akan tetap tidak diketahui, aku kira puteri menjadi cemas bahwa dengan demikian Raden Kuda Rupaka akan kecewa dan meninggalkan istana ini”

Inten termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Kau benar Pinten, aku memang cemas, bahwa kakangmas Kuda Rupaka akan merasa kecewa. Ia telah menyelamatkan kami dari bencana dan telah membunuh orang-orang yang ingin dengan paksa memasuki istana ini, yang pernah barang tentu ingin memaksa ibunda untuk menunjukkan pusaka itu pula”

“Puteri tidak perlu mengkhawatirkan, Raden Kuda Rupaka adalah seorang kesatria, jika ia menolong kita maka itu adalah darma. Tentu Raden Kuda Rupaka kelak akan menimbang beratnya. Ia tidak akan menghubungkan pertolongannya dengan kepentingan yang lain, katakanlah tentang pusaka yang sedang dicari oleh banyak orang”

“Ah” Inten Prawesti berdesah.

Sementara itu Pinten berkata selanjutnya “Sudahlah puteri, jangan gelisah”

“Tetapi jika kakangmas Kuda Rupaka menjadi benar-benar kecewa, maka ia akan meninggalkan istana ini, menemukan pusaka itu baginya sebagai seorang kesatria adalah darma pula. Ia haris mengembalikan pusaka itu ke Demak”

“Tetapi ia tidak dapat memaksa orang lain untuk mengatakan apa yang tidak diketahuinya” jawab Pinten, lalu “Puteri, jika Raden Kuda Rupaka kemudian merasa kecewa dan meninggalkan istana ini, maka kitapun tidak menjadi cemas”

“Dan orang-orang itu akan berdatangan?”

”Tentu tidak puteri, sasaran mereka akan beralih, mereka tidak akan bernafsu lagi memasuki istana ini, tetapi mereka akan mencari Raden Kuda Rupaka, karena mereka mengira bahwa Raden Kuda Rupakalah yang telah membawa keris pusaka itu dari istana ini”

“O” Inten menarik nafas dalam-dalam, katanya “Kau memang cerdas sekali, seolah-olah kau memiliki pengamatan yang tajam sekali terhadap sesuatu persoalan. Jauh berbeda dengan kakakmu. Ia adalah seorang anak muda yang lucu sekali, tidak banyak yang dapat dilakukan, tetapi setiap perbuatannya dapat menimbulkan kejenakaan, sedangkan kau mempunyai ungkapan yang lain lagi Pinten, nampaknya kau seperti seorang gadis yang bijaksana”

“Ah. Puteri selalu memuji, jika aku benar-benar menjadi bijaksana, tentu karena puteri sadar atau tidak sadar telah membimbing caraku berpikir”

“Bagaimana mungkin jika aku sendiri tidak memiliki kebijaksanaan itu”

“Orang-orang rendah hati tidak akan memperlihatkan kebijaksanaan diri, apalagi mengatakannya kepada orang lain, dan itulah bedanya antara puteri dan orang-orang lain yang merasa dirinya bijaksana”

Inten mengerutkan keningnya, dipandanginya wajah Pinten dengan seksama, seolah-olah ia sedang mencari sesuatu di dalamnya, bahkan rasa-rasanya jauh lebih dalam arti pandangan lahiriah semata-mata.

“Pinten” berkata Inten Prawesti kemudian “Kau jauh berbeda dengan kakak dan biyungmu”

“Pinten termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia tertawa, katanya “Sudahlah puteri, jangan memikirkan aku, bukankah puteri sedang menghadapi masalah yang jauh lebih pelik daripada menilik sifat dan tabiatku”

Inten menarik nafas dalam-dalam, kepalanya teragguk-angguk kecil, lalu katanya “Aku akan menghadap ibunda”

“Apakah aku juga akan ikut serta seperti yang puteri kehendaki untuk membantu puteri mengatakan apa yang telah terjadi?”

“Ya, tentu Pinten”

Pinten mengangguk lemah “Terima kasih atas kepercayaan itu puteri”

Keduanyapun kemudian mencari Raden Ayu Kuda Narpada yang pada saat terakhir justru lebih banyak berada di dalam biliknya. Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang telah menyentuh hatinya sehingga menumbuhkan bayangan lain di wajahnya.

“Semula ibunda sudah memasrahkan diri kepada Allah Yang Maha Besar” berkata Inten, “Tetapi tampaknya kini ibunda telah diganggu lagi oleh kenangan masa silamnya, atau barangkali ibunda sudah mengetahui bahwa istana ini telah menggetarkan bukan saja padukuhan Karangmaja, tetapi padepokan-padepokan dan bahkan para bangsawan di Demak, karena mereka mengira di halaman ini terdapat sebilah pusaka yang mereka cari”

“Kita akan menghadap puteri, mudah-mudahan ibunda membuka hatinya”

Dengan ragu-ragu Intenpun kemudian mengajak Pinten menemui ibundanya di dalam biliknya, namun alangkahnya tertegun ketika mereka mendengar suara tembang di belakang istana.

“Ah” desis Pinten, “Tentu kakang Sangkan memaksa anak muda pengembara itu untuk mengajarinya mendendangkan kidung itu, sejak semalam ia sudah rerasan, bahwa ia ingin belajar kidung yang telah menarik perhatiannya itu”

Inten menarik nafas dalam-dalam, katanya “Kakakmu sama sekali tidak terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa yang beruntun terjadi di istana ini, meskipun pada saat peristiwa itu terjadi, ia menjadi ketakutan dan bahkan seolah-olah menjadi beku sama sekali” ia berhenti sejanak lalu “Marilah, kita mohon untuk berbicara dengan ibunda yang tampak murung”

Dengan ragu-ragu maka keduanya memasuki bilik Raden Ayu Kuda Narpada yang seperti telah diduga oleh Inten, duduk dengan murung di dalam biliknya di bibir pembaringan. Bahkan Inten terkejut ketika ia melihat setitik air mata mengambang di pelupuk mata ibundanya.

“Ibunda” desis Inten.

Tetapi ibundanya justru mencoba tersenyum, sambil mengusap matanya ia berkata “Marilah Inten”

Inten menjadi semakin ragu-ragu. Sekali ia berpaling kepada Pinten yang sudah duduk bersimpuh di muka pintu.

“O, kau ajak Pinten?” bertanya ibundanya.

“Ya ibunda, aku membawanya menghadap ibunda jika ibunda berkenan”

“Ibundanya mengerutkan keningnya, namun kemudian sambil mengangguk ia menjawab “Suruhlah ia masuk”

Pintenpun kemudian bergeser masuk ke dalam ketika Inten memeberi isyarat.

“Tutup pintu itu Pinten” berkata Inten Prawesti.

Pintenpun kemudian menutup pintu bilik itu, namun ia masih juga sempat melihat Raden Ayu Kuda Narpada mengusap matanya.

“Aku tahu apa yang akan kau katakan Inten, aku juga mendengar peristiwa yang baru saja terjadi di halaman samping”

“Karena itulah ibunda menangis?” bertanya Inten.

Ibundanya menarik nafas semakin panjang, jawabnya “Mungkin juga kerana hal itu, tetapi mungkin juga karena banyak persoalan yang selama ini mengendap di dalam hatiku, aku tahu bahwa orang-orang yang mengepung istana ini sedang mencari pusaka yang mereka sangka disimpan oleh ayahandamu”

“Agaknya memang demikian ibunda, bahkan kini tekanan itu terasa menjadi semakin pepat, sehingga kakangmas Kuda Rupakapun telah merasa cemas pula”

“O, jadi angger Kuda Rupaka sudah merasa dicemaskan oleh perkembangan keadaan itu?” ibundanya menundukkan kepalanya. “Ia merupukan perisai yang kuat bagi rumah ini, jika perisainya sudah mulai lentur, apakah artinya kita semuanya?”

“Karena itu ibunda, apakah tidak sebaiknya ibunda berterus terang kepada kakangmas Kuda Rupaka”

“Tentang apa Inten? Apakah maksudmu, agar aku menunjukkan pusaka yang tidak aku ketahui itu untuk dibawa ke Demak?”

Inten manjadi termangu-mangu, namun kemudian katanya “Memang jika ibunda tidak mengetahuinya, sebaiknya ibundapun mengatakannya kepada kakangmas Kuda Rupaka, sebab agaknya kakangmas Kuda Rupakapun mempunyai dugaan bahwa pusaka itu memang ada disini.

Raden Ayu Kuda Narpada mengerutkan keningnya, dipandanginya Pinten yang duduk di lantai sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Intenpun kemudian mengatakan pula kepada ibundanya seperti yang dikatakan oleh Pinten, seandainya Raden Kuda Rupaka merasa kecewa dan meninggalkan istana itu.

“Ibunda” berkata Inten kemudian “Di Demak kakanda Kuda Rupaka mempunyai kekuatan untuk melawan mereka, seandainya orang-orang yang ingin memiliki pusaka itu benar-benar mengejarnya, tetapi disini?”

Ibundanya tidak segera menjawab, bahkan ia kemudian termenung memandang ke kejauhan, seoah-olah ada yang dicarinya di sela-sela bayangan angan-angannya.

Dalam pada itu, suara Sangkan seakan-akan justru menjadi semakin keras melagukan tembang yang melagukan tembang yang dipelajarinya dari Panon, ia menirukan dengan irama yang terputus-putus.

Panon telah benar-benar muak menghadapi anak muda yang menuruti kehendaknya sendiri itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat menolak dan apalagi sempai timbul persoalan. Kedatangannya ke istana itu mengemban tugas yang dibebankan oleh gurunya. Untuk itu ia harus mengorbankan apa saja yang dapat diberikan. Termasuk mengorbankan perasaannya.

Sementara itu, Inten Prawesti yang masih berada di bilik ibundanya, berkata “Jika Ibunda langsung mengatakannya kepada kakangmas Kuda Rupaka, maka aku kira kakangmas akan dapat mengerti, dan bahkan mungkin kakangmas Kuda Rupaka akan sempat memanggil beberapa orang prajurit untuk mengusir orang-orang yang berada di sekitar rumah ini”

Ibundanya menarik nafas dalam-dalam, katanya “Demak, jaraknya jauh dari sini Inten, untuk mencapai Demak, anakmas Kuda Rupaka harus menempuh perjalanan dua atau tiga hari. Selama itu, diperjalanan, akan dapat terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki yang mungkin ditembulkan oleh orang-orang yang menurut dugaanmu menyangka bahwa pusaka itu telah dibawanya ke Demak”

Inten mengerutkan dahinya, memang hal itu dapat terjadi diperjalanan.

Sepercik kecemasan telah meloncat di hatinya, ada sesuatu yang rasa-rasanya memberati hatinya. Jika benar-benar Kuda Rupaka mengalami sesuatu di perjalanan, apakah hatinya tidak akan terluka pula?”

Tetapi sebuah pertanyaan telah meloncat dihatinya “Lebih dari itu?”

“Ah” Inten berdesah sambil menggeleng.

Pinten melihat kerisauan dihati puteri itu, sejenak ia ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata “Ampun puteri. Ampun Gusti, jika aku berani mengetengahkan pendapatku disaat seperti ini”

Raden Ayu Kuda Narpada memandanginya dengan kerut merut di dahinya. Kemudian katanya “katakanlah Pinten”

“Menurut pengamatanku. Raden Kuda Rupaka, adalah orang yang linuwih. Ia tidak akan dapat dikalahkan dengan mudah oleh siapapun juga. Demikian juga agaknya di perjalanan kembali ke Demak”

Raden Ayu Kuda Narpada termenung sejenak, sekilas ia melihat wajah Inten yang tegang.

“Tetapi itu berbahaya sekali bagi kakangmas Kuda Rupaka, Pinten” tiba-tiba Inten menyahut “Mungkin kakangmas Kuda Rupaka dapat mempertahankan diri jika lawannya tidak begitu banyak, tetapi jika jumlahnya tidak terhitung?”

Pinten mengangguk, namun katanya “Memang setiap langkah kini harus dipertimbangkan sebaik-baiknya. Tetapi juga setiap langkah mengandung akibatnya masing-masing. Apakah kira-kira yang dapat dilakukan oleh Raden Kuda Rupaka jika istana ini juga diserang oleh orang-orang yang jumlahnya tidak terhitung?”

“Tetapi itu adalah akibat yang memang seharusnya menimpa kami. Bukan angger Kuda Rupaka” Raden Ayu Kuda Narpadalah yang menyahut.

“Tetapi bukankah Raden Kuda Rupaka juga mengalaminya?”

“Tetapi disini ada beberapa orang yang dapat membantunya, kedua pengembara itu juga laki-laki, mereka akan dapat membantu betapapun lemahnya mereka” Sahut Inten Prawesti.

“Itu hanya akan menambah korban saja puteri, mereka tidak banyak berarti bagi orang-orang yang hidupnya telah ditempa oleh kekerasan yang liar seperti orang-orang yang terbunuh di halaman, atau, bukankah Raden Kuda Rupaka justru meragukan kedua orang pengembara yang kini ada di istana ini?”

Raden Ayu Kuda Narpada berpaling, dipandanginya wajah Pinten sejenak, wajah yang kekanak-kanakan, tetapi agaknya ada kelainan pada anak perempuan ini. Agaknya ia terlampau cerdas dibandingkan dengan ibunya Nyi Upih yang sudah termasuk seorang yang cukup cerdas diantara kawan-kawannya dahulu.

“Pinten” Inten Prawesti kemudian berlari-lari mendekatinya “Ada apa?”

Pinten mengusap matanya yang basah dan kemerah-merahan, “Kau menangis?”

Pinten mengangguk

“Apa yang terjadi?”

“Kakang Sangkan nakal sekali”

“O…” Inten menarik nafas dalam-dalam “Apakah yang sudah dilakukannya atasmu?”

“Kakang Sangkan yang merasa takut tinggal disini, ingin pergi meninggalkan biyung dan aku, sebenarnya aku ingin ikut, atau Kakang Sangkan yang tetap tinggal bersama biyung disini”

Inten Prawesti terkejut mendengarnya, dengan dahi yang berkerut ia bertanya “Kenapa Sangkan akan pergi, Pinten”

Pinten mengusap air matanya, katanya “Seperti yang dikatakan oleh Raden Panji Sura Wilaga, bahwa ia semakin ketakutan disini apabila persoalan-persoalan yang timbul menjadi semakin gawat, sebelum ia mati membeku disini, baginya lebih baik untuk pergi saja kemanapun juga, asalkan menjauh jauh dari tempat ini”

“O…” Intenpun kemudian berjongkok “Pinten, seharusnya kakakmu tidak usah takut tinggal disini, apakah yang sebenarnya telah terjadi dan membuat takut kakakmu?”

Raden Kuda Rupaka yang mendengar percakapan itu menjadi berdebar-debar, namun iapun kemudian tertawa sambil berkata “Tidak diajeng, Paman Panji Sura Wilaga memang senang bergurau, ketika semalam Kidang Alit mencoba memasuki halaman ini, Pinten dan Sangkan secara kebetulan melihatnya, tetapi saat itu akupun ada di kebun belakang ini, sehingga Kidang Alit tidak dapat berbuat apa-apa” ia berhenti sejenak, beberapa langkah ia maju mendekati Pinten sambil berkata “Katakan kepada kakakmu bahwa paman Panji hanya bergurau, ia jengkel melihat Sangkan yang penakut sekali, sehingga karena itu, maka ia justru menakut-nakutinya sama sekali”

“Jadi Kidang Alit berani memasuki halaman ini?”

“Jangan hiraukan diajeng, aku masih disini”

Inten Prawesti merenung sejenak, namun kemudian iapun memandang wajah Pinten sambil berkata “Katakan kepada kakakmu, ia tidak perlu pergi meninggalkan rumah ini, paman Panji hanya hanya sekedar bergurau, meskipun ia jengkel melihat tingkah laku kakakmu yang penakut itu, tetapi itu bukan berarti bahwa kakakmu harus pergi”

“Kakang sudah berkemas, sekarang ia ada di dalam biliknya, aku disuruhnya pergi keluar, agar aku tidak membuatnya ragu-ragu meninggalkan istana ini”

Inten menjadi semakin berdebar-debar, dan tiba-tiba saja ia berdiri, sambil menarik tangan Pinten dan berkata “Aku akan menasehatinya” lalu ia berpaling kepada Kuda Rupaka, ia berkata.

“Kamas marilah, kamas dapat memberitahukan kepadanya, agar ia tetap tinggal disini”

Kuda Rupaka tertawa pula, katanya “Baiklah, aku akan mencoba menahannya”

Dengan tergesa-gesa Intenpun kemudian pergi ke bilik Sangkan, dilihatnya anak muda itu sedang membungkus selembar pakaiannya yang kusut, itu adalah satu-satunya kekayaan selain yang sedang dipakainya.

“Sangkan” berkata Inten Prawesti ketika melangkah berdiri diambang pintu, “Apakah benar kata adikmu, bahwa kau akan meninggalkan rumah ini?”

Sangkan menjadi ragu-ragu sejenak, ditatapnya wajah Inten dengan tajamnya, sehingga gadis itupun memalingkan wajahnya.

Beberapa saat lamanya Sangkan seolah-olah sedang berpikir, namun kemudian jawabnya “Ampun puteri, sebenarnyalah aku tidak akan berarti apa-apa disini, selebihnya aku memang takut sekali apabila pada suatu saat, akan terjadi apapun di istana ini.

“Apakah yang akan terjadi disini?” bertanya Inten.

“Tidak ada apa-apa” jawab Kuda Rupaka mendahului Sangkan “Disini tidak akan terjadi apapun juga, apalagi selama aku disini bersama paman Panji Sura Wilaga”

“Tetapi bukankah Raden Panji kemarin mengatakan bahwa aku akan mati ketakutan”

Raden Kuda Rupaka tidak dapat menahan tertawanya, katanya “Kau memang penakut sekali Sangkan, dan agaknya paman Panji agak berlebihan pula menakut-nakutimu, tetapi yakinlah bahwa ia hanya sekedar berguaru”

Sangkan menjadi bingung.

“Sangkan” suara Inten menurun “Kau tidak usah pergi, adikmu akan menjadi sedih, ia tidak dapat ikut bersamamu karena kepergianmu tidak tentu arah dan tujuan, tetapi ia tidak akan dapat tenang tinggal disini setelah kau pergi”

Sangkan menundukkan kepalanya.

“Jawablah Sangkan” desak Inten yang tanpa disadarinya telah berdiri disamping Sangkan yang sedang mengemasi pakaiannya di pembaringannya itu.

“Tetapi, apakah aku tidak akan mati membeku disini?”

Kuda Rupaka masih tertawa, katanya “Kau adalah laki-laki Sangkan, berbuatlah seperti laki-laki, aku juga tidak takut mati disini, meskipun aku tahu kemungkinan itu ada, bukankah kau tahu bahwa pernah ada orang yang memasuki istana ini dan memaksa bibi untuk menyerahkan barang-barang berharga?”

Sangkan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Kau tidak boleh pergi Sangkan” kata Inten “Dimana ibumu sekarang?”

“Biyung belum mengetahuinya puteri”

“Sudahlah, jika ibumu mengetahui, iapun akan menjadi bersedih seperti adikmu”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, ketika ia berpaling kearah adiknya. Dilihatnya adiknya mengusap air mata yang membasahi pipinya.

“Jangan menangis Pinten” berkata Sangkan.

“Kaulah yang harus menentukan sikapmu“ Potong Inten Prawesti

“Ampun puteri: suara Sangkan terputus-putus, ia mengangkat kepalanya, iapun beringsut setapak, karena Inten berdiri terlalu dekakt disisinya.

“Berjanjilah, agar adikmu tidak menjadi sedih” kata Inten.

Sangkan berpaling kepada adiknya, kemudian katanya “Baiklah puteri, atas nasehat Raden Kuda Rupaka dan puteri Inten Prawesti, aku akan mencoba tinggal di istana ini lebih lama lagi, tetapi jika kemudian aku hanya akan menjadi permainan perasaan takut dan bahkan mungkin aku benar-benar akan mati membeku, maka aku akan mohon diri untuk meninggalkan istana ini”

Raden Kuda Rupakapun kemudian mendekatinya, sambil menepuk bahu Sangkan ia berkata “Belajarlah menjadi seorang laki-laki”

Sangkan memandang Kuda Rupaka dengan heran, namun yang dilihatnya hanyalah senyum yang bermain dibibir anak muda yang perkasa itu.

“Marilah kita tinggalkan saja anak itu diajeng” berkata Kuda Rupaka kemudian “Biarlah ia mendapat kesempatan untuk merenungi dirinya sendiri”

Namun tanpa diduga sama sekali oleh Sangkan, Inten Prawestipun menepuk bahunya pula sambil berkata “Jangan takut, disini ada kakangmas Kuda Rupaka”

Sangkan mengangguk-angguk.

“Dan jagalah adikmu baik-baik“ pesan Inten kemudian sambil melangkah meninggalkan bilik itu diikuti oleh Kuda Rupaka.

Sepeninggal Kuda Rupaka dan Inten Prawesti, Pinten mendekati kakanya sambil berbisik “Bukankah itu maumu?”

“Apa?”

“Puteri melarangmu pergi sambil menepuk bahumu?”

“Ah, kau aneh Pinten, apakah aku memang harus pergi?”

Pinten tiba-tiba saja tersenyum, tetapi iapun kemudian berkata “Sudahlah, simpanlah barang-barang yang tidak perlu kau kemasi lagi itu, simpanlah baik-baik”

Sangkan mengerutkan keningnya, sejanak ia memandang ke pintu yang masih terbuka, katanya “Raden Kuda Rupaka dan puteri sudah mengetahui, bahwa bungkusan kecil itu adalah kekayaanku”

“Ya”

“Mudah-mudahan puteri tidak ingin tahu lebih banyak kagi tentang bungkusan kecil ini”

“Letakkan saja disudut pembaringanmu, tidak akan ada orang yang tertarik pada kekayaanmu itu”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, wajahnya berkerut ketika ia melihat Nyi Upih berdiri dimuka pintu.

“Ah” desis Sangkan “Aku akan menyimpan bungkusan ini biyung”

“Barang-barangmu?”

“Ya”

“Letakkan saja di pembaringanmu” jawab Nyi Upih acuh tak acuh “Apakah Raden Kuda Rupaka dan puteri baru saja dari bilik ini?”

Sangkan dan Pinten mengangguk berbarengan.

“Apakah yang dikatakannya?”

“Tidak apa-apa” jawab Sangkan.

“Puteri dan Raden Kuda Rupaka mencegah kakang”

Nyi Upih mengerutkan keningnya.

“Kakang Sangkan akan minggat, tetapi puteri melarangnya, sambil menepuk bahunya puteri berkata kepada kakang supaya kakang jangan takut, karena di istana masih ada Raden Kuda Rupaka.

“He,,!, kau mengigau” desis Sangkan.

Tetapi Pinten tertawa, katanya “Itulah yang dikehendakinya, tetapi kakang tentu tidak akan mengaku”

“Jadi kau akan pergi?”

“Tentu tidak jadi” sahut Pinten puteri sendirilah yang mencegahnya, dan kakang tentu menurut perintahnya”

“Kau, kau ini kenapa sebenarnya Pinten?” bertanya Sangkan “Kau seperti orang yang benar-benar sedang mengigau?”

Nyi Upih memandang Sangkan sejenak, namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata “Jangan pura-pura minggat”

“Aku benar-benar akan minggat biyung, aku ketakutan disini, tetapi Pintenlah yang sengaja menyampaikannya kepada puteri, tentu puteri akan mencegahnya, apakah benar-benar seperti yang dikehendaki atau sekedar berpura-pura, tetapi aku kira puteri benar-benar mencegah aku pergi, karena tenagaku disini dapat dipergunakan. Siapakah yang yang akan menimba air, siapa yang akan memperbaiki atap rumah yang rusak, siapa yang menegakkan tiang tegol halaman”

Pinten tertawa, katanya “Ceritamu lucu sekali”

“Sudahlah” potong Nyi Upih, lalu “Sekarang, kerjakan kerjamu di halaman belakang, Sangkan mengambil air, dan Pinten membereskan pakiwan”

Keduanya terdiam, dengan segan Sangkan melangkah keluar biliknya, diikuti oleh Pinten menuju ke halaman belakang, Sangkan membawa upih yang akan dipasangnya pada senggot timba perigi, sedang Pinten membawa sapu lidi dan kelenting untuk mengambil air ke dapur.

“Mereka berdua berada di sudut istana itu cukup lama mengamat-amati pohon Soka putihmu” berkata Pinten kemudian “Tentu puteri senang sekali, tetapi senang kepada pohon yang kau tanam itu”

“Apakah yang mereka bicarakan?, Kembang Soka putih. atau yang menanamnya?”

“Ah, kau memang mulai mabuk, tentu pohon soka putih itu”

“Apa?”

“Aku tidak berhasil mendekati, tetapi mereka berbicara tentang pusaka, agaknya tentang keris”

Sangkan mengangguk-angguk, tetapi iapun kemudian berkata “Apa peduliku tentang keris, agaknya keris itulah yang telah menarik perhatian banyak orang, termasuk dua orang yang telah terbunuh di halaman istana ini. Tetapi yang penting bagiku adalah senggot timba itu tidak patah, dan bagimu sapu lidi itu tidak rusak dan kelentingmu tidak pecah”

Pinten tersenyum, katanya “Kenapa tiba-tiba saja kau bersungut-sungut seperti itu kakang?”

Sangkan tidak menjawab, iapun kemudian mempercepat langkahnya, namun ia masih juga bergumam kepada diri sendiri “Aku harus mencari Upih baru, upih ini sudah mulai sobek”

Tetapi tiba-tiba saja langkah Pinten terhenti, dipanggilnya kakaknya yang berjalan di depan “Kakang, kakang”

Sangkan berhenti sejenak, ketika ia berpaling, ia melihat adiknya berhenti sambil berkata dengan nada yang dibuat-buat “Kakang, aku takut”

Sangkan tidak menghiraukannya lagi, iapun berjalan semakin cepat ke perigi, semenara Pintenpun kemudian berlari-lari kecil menyusulnya.

Sementara itu, Inten Prawesti telah masuk ke ruang dalam, ia memang ingin menyampaikan pertanyaan-pertanyaan Raden Kuda Rupaka kepada ibunya. Tetapi ia memang ingin berhati-hati seperti yang dipesankan oleh Kuda Rupaka, agar ibunya tidak menjadi gelisah. Apalagi jika ibundanya meyakini bahwa kehadiran orang-orang di sekitar istana itu tentu bukannya tanpa maksud.

Intenpun kemudian mendekati ibundanya perlahan-lahan, ia berhenti beberapa langkah sambil memandangi ibundanya yang sedang melipat pakaiannya yang baru saja diambilnya dari jemuran.

Sambil mengangkat wajahnya, ibundanya kemudian memanggilnya untuk mendekat.

“Dari mana kau Inten?”

“Kami, maksudku aku dan kakangmas Kuda Rupaka, berjalan-jalan di halaman samping dan kebun belakang, ibunda”

Ibundanya mengangguk-angguk, tetapi ia tidak bertanya lagi.

Inten duduk disisi ibundanya yang masih sibuk melipat pakaian yang baru diambil dari jemuran tadi

Mula-mula iapun menjadi ragu-ragu, tetapi akhirnya Intenpun bertanya kepada ibundanya “Ibunda, apakah ibunda masih ingat, bahwa ayahanda pernah membawa sebilah keris dari Majapahit?”

Ibundanya mengerutkan keningnya.

“Atau barangkali justru dua?, seingatku, yang satu diselipkan di lambung, yang lain dianggar di bawah ikat pinggang tergantung disisi”

Ibundanya terkejut mendengar pertanyaan itu, namun diusahakannya untuk melenyapkan semua kesan yang terpancar di wajahnya, katanya kemudian “Memang ayahanda membawa keris dari Majapahit, itu adalah satu-satunya senjatanya, bukan dua”

Inten mencoba mengingat-ingat.

Tetapi akhirnya ia mengangguk-angguk, katanya “Ya, hanya satu, aku memang pernah melihat ayahanda membawa dua bilah keris. Tetapi ketika ayahanda sampai ke padukuhan ini, ayahanda hanya membawa sebilah saja”

“Inten” desis ibunya kemudian “Kenapa tiba-tiba saja kau bertanya tentang keris?”

“Tidak apa-apa ibunda, sebenarnya kakangmas Kuda Rupakalah yang menanyakannya, Kakangmas melihat peristiwa yang telah terjadi di istana ini pada saat beberapa orang mencoba untuk bertemu dengan ibunda, tetapi yang kemudian terbunuh oleh kamas Kuda Rupaka”

“Apakah hal itu ada hubungannya dengan keris yang dibawa oleh ayahandamu?”

“Tidak begitu jelas, tetapi kakangmas Kuda Rupaka mengatakan, mungkin pusaka itu adalah pusaka yang penting artinya bagi Demak, mungkin orang-orang yang berdatangan itu menginginkan pusaka itu, sehingga mungkin akan dapat mempengaruhi pemerintahan Demak yang sekarang”

Ibundanya mengerutkan keningnya.

“Tetapi ibunda” berkat Inten sambil beringsut mendekat “Ibu tidak usah gelisah, jika ibunda ingat keris yang dibawa oleh ayahanda itu, dan ibunda mengetahui dimanakah keris itu sekarang, sebaiknya keris itu diserahkan saja kepada pimpinan pemerintahan di Demak, agar tidak menimbulkan persoalan-persoalan baru di istana ini”

Sejenak ibundanya termangu-mangu, dipandanginya wajah puterinya beberapa lama, namun kemudian, ia menggelengkan kepalanya dan berkata “Inten, aku tidak mengerti, dimanakah keris itu, sekarang mungkin keris itu dibawa oleh ayahandamu. Mungkin disimpan di tempat yang tidak aku ketahui atau mungkin telah diserahkan kepada pamanmu Pangeran Cemara Kuning. Ayahandamu tidak pernah mengatakan apapun juga, tentang keris itu. Dan aku kira, keris ayahandamu adalah keris yang tidak berhraga sama sekali bagi Demak. Mungkin keris itu merupakan yang paling dihormati oleh ayahandamu, karena ternyata keris itulah yang dibawanya sejak dari Majapahit, tetapi aku kira, bagi Demak yang sudah penuh dengan segalla keris pusaka, juga yang dapat diboyongnya dari Majapahit, setelah Demak berhasil membebaskan Kota Raja yang hancur itu dari tangan musuh, agaknya sudah cukup banyak keris berharga. Dengan demikian, apakah artinya pusaka kecil yang sebuah itu?”

Inten mengangguk-angguk, katanya “Agaknya memang demikian ibunda, tetapi kangmas Kuda Rupaka ingin mengetahuinya. Tentu ia sudah menghubung-hubungkan dengan kehadiran beberapa orang di sekitar istana ini, bahkan beberapa orang telah berani memasuki halaman dan memaksa untuk berbicara dengan ibunda”

Ibunda Inten itu termenung sejenak, kemudian jawabnya “Mungkin juga Inten, tetapi mungkin juga mereka menyangka bahwa kita masih mempunyai harta benda yang berharga, yang kita bawa dari Majapahit”

“Mungkin juga ibunda, tetapi sikap hati-hati kamas Kuda Rupaka mungkin beralasan”

Ibundanya termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya “Tetapi bagaimanakah caranya untuk memberitahukan kepada orang-orang yang menaruh perhatian terhadap kemungkinan adanya keris itu disini, bahwa sebenarnya tidak ada apa-apa di dalam istana kecil ini”

“Aku akan mengatakan kepada kamas Kuda Rupaka, mudah-mudahan ia mempunyai cara yang mungkin dapat membersihkan nama rumah ini”

Ibundanya mengangguk-angguk, katanya “Cobalah berbicara dengan kamasmu, kita kini menggantungkan diri kepadanya, tanpa dia, kita tentu sudah mengalami banyak bencana. Dua orang yang terbunuh di halaman ini, dan juga suara seruling yang membuatmu kehilangan kesadaran”

Bulu tengkuk Inten Prawesti meremang, ia tidak dapat membayangkan akibat yang dapat terjadi, jika saat itu Kuda Rupaka tidak ada di istana ini, dan tanpa dapat dicegah ia jatuh ke tangan Kidang Alit.

Sejenak kemudian, maka Intenpun meninggalkan ibunya untuk bertemu lagi dengan Kuda Rupaka, ia akan menyampaikan semua keterangan ibunya tentang keris yang pernah dibawa oleh ayahandanya. Keris itu adalah keris yang tidak cukup bernilai bagi Demak, dan ibundanya tidak tahu dimanakah keris itu sekarang.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk kecil, tetapi di wajahnya terbayang pertanyaan yang belum terjawab. Meskipun demikian ia berkata “Sudahlah diajeng, mungkin dalam kesempatan lain aku dapat menghadapi bibi. Selama ini aku harap bibi sempat mengingat-ingat tentang keris itu. Sementara itu aku akan berusaha menyebarkan keterangan, bahwa sebenarnya di dalam istana ini tidak ada apapun yang pantas mendapat perhatian, pusaka tidak, apalagi harta benda”

“Terima kasih kamas, mudah-mudahan kamas berhasil, sehingga mereka tidak menimbulkan kegelisahan kami, penghuni rumah terpencil ini”

“Aku akan berusaha diajeng, tetapi akupun berharap, bahwa apabila bibi dapat mengingat kembali keris pusaka pamanda Kuda Narpada, aku adalah orang yang pertama-tama ingin mengetahuinya, justru untuk kepentingan bibi dan kau. Bahkan mungkin kelak ternyata aku masih akan dapat menemukan pamanda Kuda Narpada di suatu tempat dalam keadaan apapun”

“Ah”

“Mungkin hanya satu kemungkinan”

Inten menundukkan kepalanya, namun satu kerinduan telah melonjak di hatinya, meskipun seakan-akan bayangan ayahandanya hanya sekedar dapat dilihatnya dalam mimpi, namun selama masih belum ada kepastian bahwa ayahandanya telah meninggal, maka ia masih dapat mengharapkannya.

“Apakah kakangmas dapat pergi ke Demak, bertemu dengan pamanda Cemara Kuning atau pamanda Sendang Prapat untuk menanyakan dimanakah ayahanda sekarang, atau yang paling akhir berpisah?” tiba-tiba gadis itu bertanya dengan suara yang tersendat-sendat.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya “Pada suatu saat aku akan mencari pamanda Cemara Kuning atau pamanda Sendang Prapat, keduanya tentu mengetahui serba sedikit tentang pamanda Kuda Narpada, karena pamanda Kuda Narpada telah pergi bersama mereka berdua disaat terakhir”

Inten makin menundukkan kepalanya, perlahan-lahan ia berkata “Sudahlah kangmas, ceritera tentang ayahanda membuat hatiku menjadi pedih”

“Aku hanya ingin menyatakan perasaanku diajeng, tetapi baiklah. Kita akan berbicara tentang masalah-masalah lain, meskipun demikian, sekali-sekali usahakan untuk bertanya sekali lagi, barangkali bibi teringat sesuatu yang ada hubungannya dengan keris itu”

Sejak saat itu, tiba-tiba saja Inten selalu dibayangi oleh kerinduannya kepada ayahandanya, berbagai usaha telah dilakukannya, agar ia dapat melupakannya saja. Karena baginya, melupakannya adalah cara yang sebaik-baiknya untuk memelihara ketenangan perasaannya.

Tetapi ternyata bahwa, setiap kali bayangan itu telah muncul kembali, bahkan kadang-kadang menjadi jelas.

“Puteri” bertanya Pinten ketika ia melihat Inten duduk sendiri di tangga pendapa “Kenapa nampaknya puteri termenung saja akhir-akhir ini?”

Inten menarik nafas dalam-dalam, katanya “Tidak apa-apa Pinten”

“Barangkali puteri dapat membagi kegelisahan hati, meskipun barangkali aku tidak dapat berbuat apa-apa, namun jika puteri dapat menyatakannya kepada orang lain, maka hal itu tentu akan mengurangi beban dihati puteri”

“Ah, kenapa kau tiba-tiba telah berubah menjadi orang yang bijaksana Pinten, siapakah yang mengajarimu?”

“O…” Pinten mengingat-ingat, tiba-tiba ia tersenyum sambil menunduk, “Puteri pernah mengatakannya kepadaku”

Intenpun tertawa kecil, Pinten memang dapat memberikan selingan di dalam saat-saat yang kadang-kadang terasa mencengkeram perasaannya.

“Meskipun demikian puteri, mungkin puteri justru telah terlupa, bukankah dengan demikian puteri teringat kembali kepada kebijaksanaan, eh maksudku kebijaksanaan puteri itu”

Inten masih saja tersenyum, sambil menepuk bahu Pinten ia berkata “Terima kasih Pinten, ternyata ingatanmu cukup baik. Aku akan membagi perasaan dengan kau, tetapi pada saatnya nanti”

“O…., dan sekarang saat itu belum tiba”

Inten menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya, ”Baiklah Pinten, rasa-rasanya memang senang bergurau denganmu dalam keadaan apapun juga”

Pinten tidak menyahut, ia berharap Inten Prawesti mengatakan beban yang memberati hatinya.

“Pinten” berkata Inten Prawesti kemudian “Sebenarnyalah, bahwa tiba-tiba saja aku telah dicengkam oleh kerinduan kepada ayahanda”

“O….” Pinten mengerutkan dahinya “Tetapi itu sewajarnya puteri, sekali-sekali kita seolah-olah terlempar pada kerinduan yang tidak tertahankan kepada masa lampau. Tetapi puteri, bukankah kita menyadari, bahwa masa lampau itu tidak akan kembali?. Aku masih sering membayangkan, suatu saat aku bermain-main di bawah sebatang pohon beringin yang subur, dayang-dayang yang duduk di pinggir halaman dengan girang bermain diantara mereka. Dakon, gating dan sumbar suru. Ooo, menyenangkan sekali, kupu-kupu yang berterbangan seolah-olah merupakan perhiasan hidup yang mewarnai udara yang silir oleh hembusan angin lembut. Rasa-rasanya apa yang diinginkan terjadi di masa-masa yang hanya dapapt dikenang itu”

Inten mendengarkan dengan seksama, dan tiba-tiba saja ia bertanya “Dimanakah kau tinggal dimasa kanak-kanakmu, Pinten?, kau menyebut sebatang pohon beringin dan dayang-dayang yang bermain?”

“O…” Pinten tergagap, namun kemudian “Bukankah aku tinggal bersama biyung di istana Pangeran Kuda Narpada?”

“Aku teringat sebatang pohon beringin di halaman, dayang-dayang yang bermain diantara mereka, tetapi aku tidak ingat lagi, bahwa di masa-masa kanak-kanak aku pernah mengenalmu”

Pinten termangu-mangu, lalu “Ketika puteri menjdi semakin besar, aku sudah tidak tinggal lagi bersama biyung, aku telah dibawa oleh ayah kembali ke padukuhan”

Inten menjadi semakin heran, lalu “Siapakah kira-kira yang lebih tua diantara kita? Kau atau aku?”

Pinten tidak segera menjawab, nampaknya ia menjadi bingung, tetapi kemudian katanya “Kita tidak tahu hari-hari lahir kita masing-masing, apalagi aku. Mungkin saja puteri lebih tua, tetapi mungkin akulah yang lebih tua. Yang kedua itulah barangkali yang benar, tetapi agaknya aku memang awet muda, sehingga aku masih tetap kelihatan lebih muda dari puteri”

“Ah” Inten Prawesti tertawa kecil, katanya “Mungkin, tetapi apakah ingatan kita sama?, katakan, ada berapa batang pohon beringin yang tumbuh di halaman?”

Pinten mengingat-ingat sejenak, lalu “Sebatang di tengah halaman, dan enam di seputarnya”

“O, banyak sekali”

“Ada tiga ekor bekisar di dalam sangkar masing-masing, seekor burung nuri putih, seekor harimau yang dukurung dalam sangkar besi, seekor orang utan sebesar aku sekarang ini”

“He…!!” Inten menjadi heran “Kau bermimpi, aku tidak pernah mengingat semuanya itu lagi, menurut ingatanku, istana ayahanda tidak mempunyai tujuh batang pohon beringin, tetapi ada dua batang disebelah menyebelah halaman. Tidak ada sangkar bekisar. Yang ada hanyalah beberapa sangkar burung jenis nuri dan burung berkicau. Ayahanda memang mempunyai sepasang ayam alas, tetapi bukan bekisar. Dan di halaman, menurut ingatanku, sama sekali tidak ada seekor harimau dan orang utan”

“O….” Pinten mengerutkan keningnya sekali lagi.

“Pinten, apakah kau berhayal?”

“Mungkin puteri, mungkin aku berhayal” Pinten mengingat-ingat “Tetapi tidak, aku tidak berhayal”

“Pinten, di halaman rumahku tidak ada binatang seperti yang kau katakan, tetapi aku memang masih teringat, disalah satu istana di Majapahit terdapat halaman yang dihiasi dengan sangkar binatang hutan, harimau dan barangkali juga seekor orang utan” tiba-tiba Inten mengingat sesuatu “Ya, aku ingat, sebatang pohon beringin di tengah-tengah dan enam diseputarnya. He..! kau salah ingat Pinten, istana itu bukan istana ayahanda Kuda Narpada. Tetapi istana itu adalah istana pamanda Sargola Manik yang bergelar Adipati Alap-alap. Pahlawan yang tidak ada duanya, yang gugur menjelang pertempuran besar yang menghancurkan Kota Raja”

“Ooo…” tiba-tiba Pinten menundukkan kepalanya.

“Kau mengenal pamanda Sargola Manik yang bergelar Adipati Alap-alap?”

“Tidak, tidak puteri”

“Tetapi kau menyebutkan istananya, halamannya dan binatang peliharaannya dengan tepat”

Akhirnya Pinten tertawa, katanya “Biyung sering bercerita tentang istana-istana yang terdapat di Majapahit, tetapi kadang-kadang tidak jelas, sehingga aku kurang mengerti. Aku hanya membayangkan betapa senangnya tinggal di istana-istana serupa itu”

Inten menjadi heran mendengar kata-kata Pinten yang membingungkan. Namun Pinten telah berkata seterusnya “Apakah kata-kataku membingungkan puteri? Aku sendiri menjadi bingung puteri, dikarenakan aku tidak tinggal lama bersama biyung di istana Pangeran Kuda Narpada. Aku adalah anak padesan yang hanya dapat mendengar ceritera dan kemudian berangan-angan” ia berhenti sejenak, lalu “Sudahlah kita tidak usah berangan-angan lebih panjang lagi tentang masa lampau yang telah kita tinggalkan itu. Marilah kita sekarang menatap masa kini, masa yang jauh berbeda dengan masa-masa yang penuh kenangan itu”

Inten menepuk bahu Pinten sambil berkata “Pinten, ternyata kau tidak hanya menirukan aku tentang membagi perasaan. Kau ternyata benar-benar bijaksana, kau dapat menasehatiku untuk melepaskan diri dari masa cengkaman kerinduan kepada masa lampau yang tidak akan kembali lagi”

Pinten terdian sejenak, namun iapun kemudian tersenyum sambil berkata “Puteri, sebenarnyalah aku baru saja terlempar kedalam keadaan yang serupa. Tetapi biyung datang kepapdaku dan memberikan beberapa petunjuk, apa yang aku ingat dari petunjuk-petunjuk biyung itu, sudah aku katakan kepada puteri”

“Ah, kau” Intenpun tertawa “Jika demikian, maka nasehat itu, sebagian tentu kau tujukan kepada dirimu sendiri untuk meyakinkan apakah kau dapat mengerti nasehat ibumu itu”

Pintenpun tertawa juga.

“Sudahlah puteri, marilah aku persilahkan puteri masuk ke dalam, ingat puteri, angin di musim ini sangat berbahaya”

“Musim apa Pinten?”

“Dimusim kita masing-masing dicengkam oleh angan-angan, bukankah kita gadis yang meningkat dewasa?”

“Ah” Inten mendorong Pinten sehingga gadis itu terhenyak duduk. Tetapi sambil tersenyum-senyum Inten berkata “Kau ini selalu aneh”

Pinten masih tertawa, katanya “Bukankah begitu puteri?, jika seruling itu terdengar lagi, maka akibatnya akan parah bagi puteri”

Tiba-tiba saja terasa tengkuk Inten meremang, katanya “Baiklah, tetapi bukankah kamas Kuda Rupaka ada?”

“Ah, apakah puteri tidak mengetahui, bahwa tadi Raden Kuda Rupaka mohon diri kepada ibunda untuk pergi ke padukuhan sebentar ketika puteri sedang mandi?, bukankah kandang kuda itu sudah kosong?”

“Bersama Paman Panji Sura Wilaga?”

“Ya, tetapi hanya sebentar, seperti biasanya, mereka memerlukan kebutuhan hidup sehari-hari. Nanti sebentar mereka akan pulang, dan orang-orang Karangmaja itu akan mengirimkan apa yang diperlukan oleh Raden Kuda Rupaka”

“Kakangmas Kuda Rupaka bekal yang cukup, agaknya ia tidak menghitung-hitung lagi, berapa ia membayar kepada Ki Buyut untuk membeli kebutuhan kita semuanya”

Pinten mengangguk-angguk, katanya “Tentu Raden Kuda Rupaka mempunyai bekal yang banyak sekali”

Intenpun kemudian membenahi pakaiannya, agaknya benar kata Pinten, bahwa sebaiknya mereka berada di dalam saja.

Tetapi ketika mereka baru saja berdiri, terdengar suara yang melangut di depan regol halaman, suara tembang yang tiba-tiba saja mereka dengar.

Pinten mengerutkan keningnya, ketika ia berpaling, dilihatnya dua orang yang berjongkok di depan regol halaman itu, salah seorang dari keduanya telah mengidungkan tembang yang mengiba-iba.

Inten Prawesti tertegun pula, dengan penuh kebimbangan ia memperhatikan kedua orang yang berjongkok de depan regol istana itu.

“Tentu bukan Kidang Alit” bisiknya.

Pinten tiba-tiba saja telah berdiri tegak ditangga pendapa, dengan tajam dipandangnya kedua orang itu, namun kemudian ia berkata “Puteri, tembangnya mohon belas kasihan, tetapi aku tidak tahu, apakah tembangnya mengandung bisa seperti tembang Kidang Alit, jika kedua orang itu kawannya, maka mereka tentu dapat melakukannya juga, padahal saat ini Raden Kuda Rupaka tidak berada disini”

“Aku kira, mereka adalah pengembara yang memerlukan belas kasihan” bisik Inten.

“Mungkin puteri, tetapi biarlah kakang Sangkan sajalah yang menjumpai mereka, memberikan dua bungkus nasi atau keperluan yang lain”

Inten mengangguk-angguk, suara tembang itu masih menggetarkan halaman, meskipun semakin lama menjadi semakin lambat, dan hilang diujung bait.

Namun sejenak kemudian tiba-tiba suara orang itu melonjak naik. Dari kidung yang ngelangut tembangnya berubah menjadi garang, seolah-olah suara gendering perang di medan perang, memanggil setiap prajurit untuk bangkit dengan senjata di tangan.

“Puteri” bisik Pinten, “Biarlah kakang Sangkan segera menemuinya dan memberikan apa yang diperlukannya”

“Alangkah garangnya” bisik Inten.

“Marilah, aku akan memanggil kakang Sangkan”

Tetapi keduanya tidak perlu beranjak dari tempatnya. Dilihatnya Sangkan telah berada di halaman, disisi pendapa itu dengan sapu lidi ditangan.

“Bukan main” bisiknya “Tembang itu sangat merdu, aku senang sekali mendengar tembang yang garang seperti itu, bukan yang melangut dan beriba-iba”

“Ah kau” sahut Pinten “Ambillah dua bungkus nasi, berikan kepada mereka, agar mereka cepat pergi”

“Kenapa?, aku senang mendengarnya, aku akan mengambil dua bungkus nasi, tetapi mereka harus berdendang tiga atau empat lagu lagi, jika mereka tidak mau, akupun tidak akan memberikan nasi itu”

“Cepatlah, mintalah nasi kepada biyung”

Tetapi Sangkan berdiri sambil tersenyum-senyum, bahkan kemudian ia mulai menirukan suara tembang itu”

“Kakang..!!” Pinten agak berteriak.

Namun pada saat itu, mereka mendengar pintu pringgitan berderit, ketika mereka berpaling, mereka melihat Raden Ayu Kuda Narpada berdiri di muka pintu pringgitan itu.

“Ibunda” panggil Pinten sambil berlari mendekatinya.

“Aku mendengar suara tembang itu” kata ibundanya.

“Dua orang yang agaknya memerlukan sesuatu ibunda, itulah mereka berjongkok di depan regol”

Raden Ayu termangu-mangu sejenak, dipandanginya kedua orang yang berjongkok di depan pintu regol, tetapi jaraknya tidak terlampau dekat, sehingga karena itu, Raden Ayu tidak begitu dapat melihat wajah mereka.

“Suruhlah mereka masuk” berkata Raden Ayu Kuda Narpada.

Inten termangu-mangu, sementara Pinten yang berdiri di tangga pendapapun kemudian naik pula sambil berjongkok “Ampun gusti, biarlah kakang Sangkan memberikan dua bungkus nasi kepada mereka”

“Aku akan bertanya kepada mereka, Pinten suruhlah kakakmu membuka regol dan membawa mereka masuk”

“Tetapi ibunda” kata Inten “Saat-saat seperti ini agaknya sangat meragukan, apalagi kakangmas Kuda Rupaka sedang tidak ada”

“Kakangmasmu baru pergi sebentar Inten, hanya sebentar ia akan pulang”

“Tetapi sementara itu?” sahut Inten.

“Suara tembangnya sangat menarik perhatianku, bawalah mereka masuk, mereka tidak akan berbuat apa-apa”

Tetapi Inten masih ragu-ragu, mungkin orang-orang yang berniat kurang baik atas isi istana ini mempergunakan cara lain. Bukan ilmu gendam yang dapat mengaburkan pikiran gadis-gadis, tetapi mereka mempergunakan ilmu yang lainm yang dapat merubah skap seseorang tanpa disadarinya.

Namun dalam pada itu, Sangkan menyahut dari halaman “Ampun Gusti, aku akan membuka regol itu. Suara tembang itu memang sangat menyenangkan”

“Kakang” berkata Pinten “Apakah kakang tidak minta saja dua bungkus nasi kepada biyung?”

Tetapi yang menjawab adalah Raden Ayu “Tidak Pinten, orang itu tentu tidak hanya sekedar minta sebungkus nasi”

Belum lagi Pinten menjawab, terdengar suara Nyi Upih dari pintu pringgitan “Ya, gusti puteri, mereka tentu tidak sekedar minta sebungkus nasi”

“Biyung” desis Pinten.

“Suara tembang itu sangat menarik hati, menurut pendapatku, seperti pendapat gusti, biarlah mereka masuk”

Pinten tidak menyahut lagi, dengan wajah yang tegang seperti Inten Prawesti mereka memandang Sangkan yang berlari-lari ke regol halaman dam membuka selaraknya.

“He, masuklah” berkata Sangkan kepada dua orang yang berjongkok di depan pintu.

“Apakah kami berdua sudah diperkenankan?” bertanya yang muda.

“Masuklah, Gusti memanggil kalian”

Kedua orang itu masih termangu-mangu, dipandanginya Sangkan dengan keraguan.

“Kami mohon belas kasihan” kata yang tua.

Tetapi Sangkan tertawa, katanya “Baiklah, kami mempunyai cukup belas kasihan, masuklah, kalian harus menghadap gusti puteri”

“Siapakah gusti itu?”

“Raden Ayu Kuda Narpada” Sangkan masih saja tersenyum, lalu “Cepat, masuklah, regol ini akan segera aku tutup, sebentar lagi Raden Ayu Kuda Narpada akan datang, apakah kalain melihat Raden Kuda Rupaka? Mungkin kalian bertemu dengan Raden Panji Sura Wilaga di Karangmaja apabila kalian baru datang dari padukuhan itu”

Bab 19

Kedua orang itu termangu-mangu, namun kemudian segera bangkit berdiri dan berjalan perlahan-lahan memasuki halaman istana itu, sementara Sangkan segera menutup regol itu kembali.

“Apakah ibunda akan menyuruh keduanya menghadap?”

“Aku perlu berbicara dengan mereka berdua”

“Mereka memerlukan belas kasihan ibunda, tetapi dalam keadaan sekarang ini, kita perlu berhati-hati”

“Aku akan berhati-hati” ibundanya termenung sejenak, lalu “Sudahlah Inten, bawalah Pinten ke belakang, biarlah Nyi Upih mengawani aku disini”

Inten dan Pinten masih termangu-mangu, sementara Sangkan telah mendahului menghilang di sudut pendapa.

Namun sejenak kemudian, Inten dan Pintenpun bergeser dari tempatnya, Inten langsung masuk ke ruang dalam, sedangkan Pinten beringsut turun ke halaman.

Dengan tergesa-gesa Pinten kemudian menyusul kakaknya, tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat Sangkan masih berdiri disebelah sudut pendapa, dibelakang sebatang pohon ceplok piring yang rimbun.

“Kenapa kau berbuat itu kakang?” bertanya Pinten “Mungkin mereka adalah kawan-kawan Kidang Alit, mereka mungkin sekali mempunyai ilmu yang dapat mempengaruhi pikiran orang lain”

“Apakah pikiranmu sudah dipengaruhi?, lihatlah seorang dari mereka adalah anak yang masih muda”

“Tetapi ia adalah seorang peminta-minta”

Sangkan tertawa, iapun kemudian berkata “Kau aneh Pinten, jika kau yakin ia peminta-minta, kau tidak usah cemas meskipun ia naik ke pendapa. Kecurigaanmu mengatakan kepadaku, bahwa kau menganggap anak muda yang tampan dalam ujud seorang peminta-minta itu, sama sekali bukannya seorang peminta-minta”

“Kau selalu begitu kakang” kata Pinten sambil mengulurkan tangannya. Tetapi sebelum ia mencubit tangan kakaknya, Sangkan berbisik “Ssst, jangan bikin ribut disini”

Pinten dengan serta merta menarik tangannya sejenak, ia termangu-mangu, namun kemudian ia berkata “Terserahlah kepadamu, aku akan menemui puteri ke belakang”

Sangkan tidak menjawab, dipandanginya saja langkah Pinten yang kemudian menghilang di longkangan.

Di pendapa kedua orang pengembara itu menghadap Raden Ayu Kuda Narpada yang dikawani oleh Nyi Upih. Dengan penuh minat Raden Ayu mendengarkan ceritera tentang asal usul kedua orang yang telah mendengarkan tembang yang sangat menarik itu.

“Siapakah yang mengajari kalian melagukan kidung itu?”

“Ampun Puteri, setiap orang di padukuhan kami dapat melagukan tembang itu”

“Tetapi kata-kata yang tersirat pada kidung itu tentu tidak semua orang dapat mengucapkannya”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak.

Sementara itu Sangkan masih saja berada di tempatnya, tetapi ternyata ia tidak banyak mendengar percakapan itu, meskipun beberapa patah kata dapat dimengertinya, namun demikian kadang-kadang wajahnya menjadi tegang, tetapi sejenak kemudian nampak sebuah senyuman dibibirnya.

Percakapan itu tidak berlangsung lama, sejenak kemudian maka, Sangkan mendengar suara Nyi Upih mengajak kedua orang itu ke belakang.

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, katanya kepada diri sendiri “Agaknya aku mendapat kawan dua orang pengembara di dalam istana ini, apakah dengan demikian pekerjaanku akan menjadi bertambah ringan atau sebaliknya, aku harus mengawasi keduanya terus menerus, agar mereka tidak sempat mencuri sisa-sisa barang yang masih ada”

Belum lagi Sangkan berbuat sesuatu, ia sudah mendengar suara ibunya memanggil, “Sangkan, kemarilah”

Dengan tergesa-gesa Sangkan pergi menemui ibunya di belakang, dilihatnya dua orang pengembara itu masih berdiri termangu-mangu di belakang Nyi Upih.

“Sangkan” berkata ibunya “Kau mendapat dua orang kawan lagi, kasihan, mereka adalah pengembara yang kelaparan dan kehausan”

Sangkan tersenyum, namun sebuah kilatan tatapan matanya telah menyambar kedua orang itu, sehingga kedua tertunduk dalam-dalam.

“Jadi” sahut Sangkan kemudian “Aku akan menjadi lurah orang-orang kesrakat disini, sudah tentu aku akan mengatur pekerjaan yang harus kalian lakukan. Bukankah begitu? Kalian tidak akan dapat bermalas-malasan disini, dan setiap hari mendapat makan tiga kali” namun tiba-tiba Sangkan menjadi ragu “Tetapi bagaimana dengan Raden Kuda Rupaka? Apakah ia sependapat dengan kehadiran kedua orang ini? Sampai sekarang rasa-rasanya hidup kita tergantung kepadanya”

Nyi Upih memandang anaknya dan kedua orang itu berganti-ganti, dengan ragu-ragu iapun kemudian berkata “Tentu Raden Kuda Rupaka tidak akan membiarkan keduanya mengalami penderitaan lebih lama lagi”

“Tetapi apakah bekal yang dibawanya cukup banyak untuk menghidupi kita semuanya, ditambah dengan dua orang pengembara ini.

“Sudahlah Sangkan, biarlah gusti pueri mengatakannya nanti kepada Raden Kuda Rupaka, adalah tidak sepantasnya kau mengatakan hal itu dihadapan orang yang berkepentingan”

Sangkan tertawa, katanya “Hanya orang-orang yang berperasaan sajalah yang akan menjadi tersinggung karenanya, dan aku tidak yakin bahwa kedua orang ini mempunyai perasaan yang halus sehingga keduanya mempertimbangkan kemungkinan serupa itu”

Sekilas Sangkan melihat bahwa yang muda diantara kedua orang itu mengangkat wajahnya, namun kemudian wajah itupun kemudian tertunduk lagi, sementara Nyi Upih membentaknya “Kau terlalu sekali Sangkan, kaulah yang tidak berperasaan”

Sangkan masih tertawa, katanya kemudian “Tetapi suara kalian memang sangat menarik hati, tembang yang kau lontarkan benar-benar telah memukau Gusti Raden Ayu. Akupun tertarik pula pada tembang yang memiliki ciri yang aneh itu. Karena tembang kalianlah maka aku tidak sependapat dengan adikku agar kalian sekedar mendapat dua bungkus nasi saja”

Kedua orang itu sama sekali tidak menjawab.

“Sudahlah Sangkan” berkata Nyi Upih “Jangan sesorah, bawa kedua orang ini kedalam bilikmu”

“Ke dalam bilikku?, dimanakah Pinten akan tidur?, apakah Pinten dan biyung juga akan tidur bersama dengan kedua orang ini?”

Nyi Upih menggelengkan kepalanya, katanya “Aku sudah mohon agar kami berdua diperkenankan tidur di jerambah dalam disamping pintu”

Sangkan mengerutkan keningnya, lalu katanya “Biyung akan membentangkan tikar setiap malam, dan menggulungnya lagi di pagi hari?”

“Ya, kenapa?”

Sangkan mengangguk-angguk, lalu katanya kepada kedua orang itu “Nah, kau dengar, Biyungku terlalu baik hati terhadap kalian, ia mengorbankan dirinya untuk memberikan tempat kepada kalian di istana ini”

Orang yang lebih tua mengangkat wajahnya, dengan suara yang dalam ia menyahut “Kami mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Raden”

“Hem, aku yang kau maksud?”

Orang itu ragu-ragu, sedang Sangkan kemudian tertawa terbahak-bahak “Jangan sebut aku Raden, aku akan menjadi pingsan nanti, panggil aku Panji, eh bukan, Rangga juga bukan, panggil saja aku Sangkan”

Pengembara yang tua menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia mencoba bersikap seperti semula.

“Kau terlalu banyak bicara Sangkan” berkata Nyi Upih “Ayo, bawa mereka ke bilikmu”

Kedua orang itu berpandangan sejenak.

“Ya, kau belum memperkenalkan namamu kepada anakku” berkata Nyi Upih.

Yang muda memandang Sangkan sejenak, lalu katanya “Namaku Panon”

“Panon, Panon begitu saja?”

“Itu sudah cukup” Nyi Upihlah yang menyahut “Apa jawabmu jika ada orang yang bertanya kepadamu, apakah namamu hanya Sangkan saja?, Apa itu sudah cukup?”

Sangkan tertawa pula, lalu iapun melangkah mendekati kedua orang itu sambil bertanya pula “Dan kau Ki Sanak?”

“Aku bernama Ki Mina, anak muda”

“O, kau tentu mempunyai hubungan dengan beberapa jenis ikan”

“Aku memang pencari ikan disungai”

“Sudahlah” sekali lagi Nyi Upih memotong :Kau harus segera melakukan tugasmu, kau belum selesai membersihkan halaman, kau juga belum mengisi jambangan di pakiwan”

“He, bukankah aku tinggal mengaturnya saja”

“Ah, kau memang terlalu banyak bicara, cepat, bawa mereka kebilikmu”

Tetapi sebelum Sangkan beranjak dari tempatnya, tiba-tiba terdengar suara Pinten dari pintu dalam, “Mau dibawa kemanakah mereka itu?”

“Ke bilikku, mereka akan tidur di dalam bilikku” jawab Sangkan.

“Aku?”

“Kau juga”

“Tidak mau, aku tidak mau”

“Nyi Upihpun segera mendekati Pinten sambil berkata “Aku sudah mengaturnya Pinten, Kau tidur bersamaku”

“O, senang sekali. Seperti masa kanak-kanak aku tidur bersama bibi, Kau tentu akan berdendang lagu yang ngelangut sebelum aku tertidur”

“Bibi siapa?”

“O, biyung, maksudku biyung”

Nyi Upih tertawa kecil, tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu Sangkanpun telah mengajak kedua orang pengembara itu kedalam biliknya, sambil berdiri dimuka pintu ia berkata “Nah, kau berdua dapat mempergunakan pembaringan biyung, aku akan tidur di pembaringan Pinten.

Namun tiba-tiba saja Ki Mina bertanya “Dan pembaringamu anak muda?”

“Biasanya aku tidur di kolong pembaringan Pinten”

Kedua pengembara itu saling berpandangan sejenak, namun kemudian mereka menarik nafas panjang.

Sangkan memperhatikan tingkah laku mereka dengan heran, bahkan kemudian ia bertanya “Ada yang kurang sesuai dengan kehendak kalian?”

“O, tidak, tidak anak muda, semuanya sudah terlampau cukup, aku sangat berterima kasih atas semuanya ini, atas kemurahan yang dilimpahkan oleh Raden Ayu” Sahut Ki Mina.

“Nah, kemasilah barang-barangmu, aku akan pergi ke pakiwan”

“O, biarlah aku saja” berkata Panon “Biarlah aku saja yang menimba air”

Sangkan tertawa, katanya “Nanti sajalah, sekarang kalian boleh beristirahat, kalian memang harus bekerja disini, itu memang lebih baik. Kalian tidak pantas menjadi pengemis yang malas dan sekedar menanti belas kasihan orang, badanmu cukup baik. Masih belum terlalu tua dan pikun, bahkan Panon masih terlalu muda. Semuda aku barangkali, benar-benar tidak pantas memilih pekerjaan sebagai pengemis.”

Panon menjadi gelisah, rasa-rsanya ia ingin menjawab pemalas yang hanya dapat menanti belas kasihan orang tidak dan sanggup bekerja apa saja.

Tetapi keadaannya tidak memungkinkan untuk menjawab kata Sangkan itu, karena itulah, maka rasa-rasanya dadanya membengkak oleh sebuah tekanan perasaan yang sangat berat baginya.

Sangkanpun kemudian melangkah pergi, dimuka pintu ia berpaling sambil berkata “Suara tembangmulah yang menyeret aku kemari, akupun jadi tertarik”

Panon menjadi termangu-mangu

“Nanti malam, aku ingin belajar melagukan tembang itu, kau tentu mau mengajariku bukan?”

Panon masih termangu-mangu, namun Ki Manalah yang menjawab “Tentu anak muda, Panon akan mengajarimu melagukan kidung yang menarik itu, bukan saja tembang-tembang yang sudah dilagukannya, tetapi tembang yang lainpun Panon dapat menendangkannya dengan baik”

“Tidak” sahut Sangkan “Tembang itu saja”

Ki Mina tidak sempat menjawab, karena Sangkanpun kemudian meninggalkan mereka di dalam biliknya.

Sepeninggal Sangkan, Ki Mina terduduk di atas pembaringan, sementara Panon terdengar mengeluh pendek.

“Sunggguh berat tugas ini Paman” berkata Panon Suka “Agaknya bukan hanya cobaan-cobaan dan hambatan-hambatan jasmaniah saja, tetapi perasaanpun harus tahan mengalami caci maki yang tidak ada ujung pangkalnya itu”

Ki Mina tersenyum, jawabnya “Semua ini adalah ujian bagimu, dan kau harus dapat mengatasinya dengan sebaik-baiknya, jangan kau perturutkan perasaanmu, apalagi dalam usia muda, jika kau cepat tersinggung, maka tugasmu akan terganggu dan bahkan akan gagal” Ki Mina terdiam sejenak, lalu “Apapun yang dikatakan oleh Sangkan, adalah sebagian kecil saja dari ujian perasaan yang akan kau alami, jika nanti Raden Kuda Rupaka itu datang , maka kau akan mengalami ujian yang barangkali lebih berat. Tetapi jangan lupa, kau adalah seorang pengembara, jangan sakit hati jika kau disebut pengemis, pemalas dan lan-lain”

Panon mengangguk-angguk, ia menyadari ujian yang bakal dialami di istana kecil itu, karena itulah maka iapun kemudian mempersiapkan dirinya untuk menghadapi setiap kemingkinan. Yang lahir tetapi juga yang batin.

Tiba-tiba terdengar derap dua ekor kuda memasuki longkangan samping langsung menuju ke kandang.

“Bangsawan muda yang bernama Kuda Rupaka itu telah datang bersama Panji Sura Wilaga” kata Ki Mina.

Panon mengangguk-angguk.

“Kita harus bermain lebih baik, aku harus menjadi menjadi orang yang lebih tua, dan jangan sekali-kali menunjukkan sikap yang dapat menimbulkan kecurigaan”

Panon mengangguk lagi.

Beberapa saat kemudian mereka menunggu, agaknya Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, setelah memasukkan kudanya ke kandang, kangsung menuju masuk ke ruang dalam.

“Tentu Raden Ayu baru memberitahukan kehadiran kita sekarang” desis Ki Mina.

Panon termangu-mangu sejenak, kemudian ia berkata “Paman, jika persoalan menjadi runcing, dan tiba-tiba saja timbul sikap yang kasar, apakah kita akan membiarkan diri kita dilemparkan dari istana ini?”

“Kita percaya kepada Raden Ayu Kuda Narpada, ia akan dapat mengatasi kemanakannya itu betapapun kasarnya”.

“Tentu, tetapi dalam keadaan yang wajar, tetapi jika kedua bangsawan itu mempunyai maksud tertentu yang nilainya lebih berharga dari sanak kadang, aku kira ia sudah tidak akan dapat mempercayai setiap orang yang dalam ujudnya sudah hampir mati sekalipun, karena saat ini, Karangmaja baru menjadi arena pertemuan yang panas, bukankah kita juga merupakan salah satu pihak yang memang pantas dicurigai, dan selalu mencurigai siapapun juga disini? Bahkan sekalipun, meskipun ia adalah orang dalam istana ini”

Percakapan terhenti karena tiba-tiba di depan pintu bilik sudah berdiri Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga.

“Siapa sebenarnya kalian He…! Dan apa maksud kedatangan kalian di istana ini? ”

“Kami pengembara Raden, dan kami tidak ada maksud apa-apa di istana ini”

“Jangan bohong, kalian pasti mengincar sesuatu disini”

“Kami tidak mengerti maksud Raden, dan apa yang harus kami incar dari istana ini?”

“Kita sama-sama tahu, apa maksud kalian sesungguhnya”

Ki Mina tidak menjawab lagi, tetapi terasa betapa kesulitan akan mejadi semakin banyak dihadapi oleh Panon dalam tugasnya.

“Baiklah pengembara yang malang, nikmatilah kemenanganmu yang pertama itu, karena dalam babak berikutnya, kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa, kecuali jika kalian mengurungkan niat kalian mencelakai bibi Kuda Narpada”

Kuda Rupaka tidak menunggu jawaban, iapun kemudian meninggalkan bilik itu diikuti oleh Panji Sura Wilaga.

“Bibi terlampau baik” desisnya ketika mereka sudah berada di serambi.

“Tetapi benar-benar berbahaya” Sahut Panji Sura Wilaga “Raden harus berusaha meyakinkan bahwa kehadiran pengembara itu dapat berakibat buruk, siapa tahu, ia adalah kawan dari dua orang yang terbunuh di halaman ini. Yang seorang yang berhasil lari itulah yang memanggilnya dengan cara yang berbeda untuk memasuki halaman ini”

“Ya, aku akan berusaha terus, sehingga orang-orang itu diusir dari istana ini, biarlah mereka menghubungi Ki Buyut di Karangmaja, jika mereka berdua benar-benar orang yang perlu belas kasihan, itu adalah kewajiban Ki Buyut”

Panji Sura Wilaga menggeleng, katanya “Tentu bukan Raden, Apakah Raden memperhatikan badannya yang nampaknya terpelihara baik meskipun agak kotor”

“Aku melihatnya, dan aku memang sudah mencurigainya” Kuda Rupaka berhenti sejenak, lalu “Mungkin kita harus membunuh lagi paman”

“Bagaimana dengan Sangkan?” bertanya Panji Sura Wilaga.

“Maksudmu? Apakah kau mencurigainya?”

Panji Sura Wilaga menggeleng, katanya “Tidak ada yang pantas dicurigai pada pengecut itu, tetapi justru karena ia tinggal dalam satu bilik dengan pengembara itu, mungkin ia akan dapat menjadi korban yang pertama”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, katanya “Kasihan jika benar-benar terjadi demikian, tetapi tanggung jawab atas peristiwa itu ada pada bibi Kuda Narpada”

Panji Sura Wilaga tiba-tiba saja menggeram, katanya seakan-akan kepada diri sendiri “Semakin lama istana ini menjadi semakin panas. Rasa-rasanya halaman ini sudah dikepung rapat sekali, bahkan satu dua orang sudah menyusup kedalam” ia berhenti sejenak,lalu “Raden, jika Raden tidak segera dapat memecahkan teka-teki dari istana ini, maka akibatnya akan menjadi semakin buruk bagi bibi Raden dan seluruh isi istana ini. Karena itu, Raden harus cepat berbuat sesuatu, jika kita berhasil dan sempat keluar dari kepungan ini, maka perhatian mereka akan beralih kepada Raden, istana ini akan kembali menjadi sepi dan tenang”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk.

“Raden tidak boleh memalingkan tugas Raden karena pengaruh keinginan bibi Raden”

“Maksud paman?”

“Puteri Inten Prawesti, misalnya”

“Ia adalah saudaraku, seperti aku harus menyelamatkan bibi, maka akupun harus menyelamatkannya”

Panji Sura Wilaga menarik nafas, bahkan iapun kemudian tersenyum sambil berkata “Apakah begitu?”

“Apakah paman mempunyai tanggapan yang berbeda?”

“Mudah-mudahan Raden, mudah-mudahan demikianlah yang seharusnya”

Kuda Rupaka termangu-mangu sejenak. Namun iapun tersenyum sambil berkata “Seandainya dugaan paman benar, apakah salahnya?”

“Tetapi Panji Sura Wilaga kemudian berkata “Tetapi ingat, Raden adalah murid dari perguruan Cengkir Pitu”

“Jangan kau sebut”

“Ciri-ciri yang ada tidak dapat kita ingkari, kita sebut atau tidak kita sebut. Memang mungkin ada orang yang melihat sampai kepusat jantung perguruan Cengkir Pitu, tetapi memang sulit untuk menghindarkan ciri dari ciri itu, namun demikian agaknya perguruan itu tidak sangat menarik perhatian, setiap orang dapat saja berguru ke perguruan yang manapun juga, tetapi hanya orang-orang tertentu saja yang dapat dengan pasti menghitung jumlah murid di suatu perguruan”

“Agaknya segala sesuatu memang harus berlangsung lebih cepat paman. Sebelum pengembara itu menunjukkan gejala-gejala yang lain, sehingga kita harus membunuhnya”

“Meskipun demikian Raden, kita memang tidak dapat bertindak tanpa kewaspadaan yang tinggi”

“Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, namun ia tidak segera menjawab.

Demikianlah keduanya memasuki bilik mereka sambil membawa persoalan di dalam hati. Meskipun demikian, mereka saling berdiam diri, bahkan Raden Kuda Rupakapun membaringkan dirinya di pembaringannya. Namun rasa-rasanya mereka sedang berpikir tentang persoalan-persoalan yang mejadi semakin berat yang harus mereka hadapi.

Dalam pada itu, Raden Ayu Kuda Narpada ternyata telah disentuh oleh suatu kejutan yang tidak disangka-sangka. Kehadiran kedua pengembara itu menumbuhkan persoalan baru didalam hatinya, persoalan yang ingin disingkirkannya dalam hatinya.

Karena itulah, maka iapun kemudian mengurung dirinya di dalam biliknya, duduk termenung seakan-akan melihat ke alam lain, menerawang menjelajahi waktu dan tempat. Dari masa-masa yang lampau, masa kini dan masa mendatang. Sepanjang perjalanan hidupnya sejak berada di Majapahit.

Bukan saja Raden Ayu Kuda Narpada, tetapi Inten Prawestipun merasakan sesuatu yang berbeda di dalam rumahnya, sikap ibunya menimbulkan teka-teki yang tidak dapat dipecahkannya, tetapi ia tidak berani langsung bertanya tentang sikap ibunya yang asing.

Untunglah bahwa Pinten segera menemuinya, seperti biasa keduanya dapat saling mengisi setiap kekosongan yang timbul dihati masing-masing.

“Ibunda nampaknya memikirkan sesuatu di dalam biliknya” kata inten.

“Apakah dua pengembara itu sudah mempengaruhi Raden Ayu dengan ilmu yang lain lagi untuk mengambil keuntungan dari istana ini?” bertanya Pinten.

“Jika demikian, apakah kiranya yang akan diambilnya dari tempat ini? Ibunda sudah tidak mempunyai apapun juga selain yang nampak ini, perkakas yang tidak berharga dan barangkali tidak seorangpun yang akan tertarik lagi”

Pinten menarik nafas, lalu iapun berbisik “Puteri, apakah puteri pernah mempertimbangkan untuk berbuat sesuatu?”

“Maksudmu?” bertanya Inten.

“Puteri, agaknya istana ini menjadi pusat perhatian dari banyak orang, jika yang mereka kehendaki adalah harta benda betapapun banyaknya, maka aku kira cara yang mereka tempuh akan berbeda dengan yang terjadi sekarang ini”

“Pinten” Inten Prawesti mengerutkan keningnya “Semakin lama kau menjadi semakin pandai, aku memang sudah berpikir demikian, dan agaknya kakangmas Kuda Rupakapun menganggapnya seperti itu”

“O, apakah yang dikatakan oleh Raden?”

“Mungkin ada sesuatu yang menarik di halaman ini, bahkan kakangmas Kuda Rupaka bertanya kepadaku, apakah aku tahu bahwa di halaman ini ada semacam pusaka atau apapun yang serupa dengan itu”

Pinten mengerutkan keningnya, agaknya sesuatu telah membersit dihatinya.

Inten memandang wajah Pinten yang menegang, tiba-tiba saja wajah gadis itu menjadi bersungguh-sungguh. Dengan nada yang ragu-ragu Pintenpun kemudian bertanya “Tetapi apakah benar di halaman ini ada semacam pusaka atau benda-benda lain serupa itu? Tombak atau keris atau pantrem?”

“Aku tidak tahu Pinten, ibupun tidak mengetahuinya”

Pinten berpikir sejenak lalu “Puteri, jika demikian kita harus mencarinya”

“Kita?, maksudmu kau dan aku?”

“Ya, puteri”

“Dimana kita akan mencari?, dan bukankah belum pasti bahwa di halaman istana ini ada sesuatu”

“Ah, aku akan mencoba mencarinya, aku akan menyuruh kakang Sangkan untuk mencari pusaka-pusaka yang mungkin ada di halaman ini”

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, katanya “Itu tidak mungkin”

“Aku akan membicarakannya dengan kakang Sangkan, mungkin ia mempunyai cara, jika puteri menyetujui, kita akan mencari bersama-sama”

Inten termangu-mangu, namun kemudian ia berkata “Terserahlah kepadamu, jika Sangkan memang mempunyai cara yang baik, aku tidak keberatan” Inten menjadi ragu-ragu “Tetapi aku harus minta ijin dahulu kepada ibunda”

“Itu tidak perlu puteri, jika kita mememukannya, maka kita akan menyerahkannya kepada ibunda puteri, tentu ibunda puteri akan senang sekali”

“Sesudah itu”

“Kita serahkan kepada Kuda Rupaka untuk membawanya kemana saja yang paling baik, asal tidak lagi berada di halaman ini. Bukankah dengan demikian istana ini akan menjadi tenang dan tidak lagi dibayangi oleh kecemasan seperti sekarang ini, puteri?”

Inten mengangguk-angguk, katanya “Terserahlah kepadamu”

Pintenpun kemudian dengan tergesa-gesa mencari Sangkan, sejenak mereka berbicara tentang pusaka-pusaka itu.

“Lebih cepat lebih baik, kita akan mencarinya sekarang, aku akan mengerahkan semua tenaga yang ada, kedua pengembara itu harus dimanfaatkan” berkata Sangkan.

Demikianlah maka Sangkanpun mulai mengerjakan rencananya, dengan tergesa-gesa ia pergi ke dalam biliknya dan mengajak kedua orang pengembara itu untuk mencari pusaka di halaman istana itu.

Ajakan itu benar-benar mengejutkan kedua pengembara itu, sejenak mereka saling memandang. Sementara Sangkan mendesaknya “Cepat, aku adalah lurahmu disini”

“Sangkan” bertanya Ki Mina kemudian “Dimana kita akan mencari pusaka yang kau katakan itu?”

“Dihalaman istana ini, diseluruh halaman”

Ki Mina menjadi semakin bingung, tetapi iapun kemudian mengajak Panon “Marilah Panon, kita mencarinya”

“Kita harus menemukannya, jika kita tidak menemukannya, maka kemungkinan yang lalu dapat terjadi, mungkin kalianlah yang dengan diam-diam akan mencuri pusaka-pusaka itu, atau mungkin orang lain yang dengan diam-diam memasuki halaman di malam hari”

Demikianlah maka merekapun mengikuti Sangkan pergi ke halaman belakang, mereka tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan untuk mencari pusaka-pusaka itu.

Dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga mendengar pula keributan di halaman, lamat-lamat mereka mendengar Sangkan memerintahkan kedua orang itu untuk menggali seluruh halaman.

“Yang seorang mulai dari belakang” perintah Sangkan “Yang lain dari sebelah barat, sekaligus kalian dapat menyiangi tanaman bunga dan empon-empon”

Ki Mina menarik nafas, tetapi dengan isyarat ia menyuruh Panon untuk melakukannya.

“Paman” desis Kuda Rupaka “Apakah Sangkan sudah menjadi gila?”

Panji Sura Wilaga termangu-mangu, katanya “Aku juga mendengarnya Raden, ia ingin mencari pusaka”

“Marilah kita lihat”

Keduanya dengan tergesa-gesa keluar dari biliknya turun ke halaman samping, sambil menarik nafas dalam-dalam keduanya mendekati Sangkan yang berdiri di sudut istana bagian belakang sambil bertolak pinggang. Dihalaman sisi belakang, nampak kedua pengembara sedang mencangkul tanah seperti mereka mengerjakan sawah sebelum ditanami”

“Apa yang kau lakukan Sangkan?’

Mencari pusaka Raden, agaknya pusaka-pusaka itu yang menjadi sebab kesulitan yang selama ini terasa semakin menekan. Orang-orang yang memasuki halaman ini di malam hari dan terbunuh oleh Raden berdua. Kidang Alit yang menakut-nakuti aku, dan mungkin masih ada orang-orang lain lagi diluar dinding istana ini. Karena itu, aku mencari pusaka itu sampai ketemu. Mungkin pusaka itu telah ditanam di halaman ini, karena ternyata pusaka itu tidak terdapat di dalam istana”

“Sangkan” bertanya Kuda Rupaka “Siapakah yang mengatakan bahwa di dalam rumah ini terdapat pusaka-pusaka?”

“Raden juga menanyakan kepada puteri tentang pusaka-pusaka. Mungkin dugaan Raden benar, dan kita memang harus menemukannya dan menyingkirkannya, jika mungkin menjualnya, harganya tentu cukup tinggi.

Wajah Kuda Rupaka nampak berkerut-merut, namun kemudian sambil menarik nafas ia berkata “Kau memang terlalu bodoh untuk berbicara tentang pusaka, jika sekiranya kau menemukan pusaka di halaman ini, kemana kau akan menjualnya?”

“Ke Demak, para bangsawan di Demak mempunyai banyak uang dan mereka tentu akan memerlukan pusaka tersebut. Dan dengan uang itu aku akan membangun istana ini menjadi lebih baik lagi”

“Dan kau akan memiliki istana yang sudah kau bangun ini selanjutnya?”

“O, tentu tidak, Istana ini tetap milik gusti puteri, dan kelak akan menjadi milik Puteri Inten Prawesti”

Kuda Rupaka mengerutkan dahinya, sementara itu Pinten yang mendengar jawaban kakaknya mencibirkan bibirnya.

“Sangkan” berkata Kuda Rupaka “Apakah kau kira kau akan dapat memenukan pusaka dengan caramu yang dungu ini? Seandainya benar pusaka itu disembunyikan di istana ini, apakah pusaka itu akan diletakkan di halaman begitu saja? Atau katakan ditanam sedangkal mata kaki?, sudahlah, hentikan perbuatan gila ini, jangan berpikir lagi tentang pusaka, jika kau menemukan pusaka apapun di halaman ini dan kau mencoba menjualnya, itu berarti bahwa umurmu akan mejadi pendek”

“Kenapa Raden, apakah akan dikutuk oleh pusaka itu, sehingga aku akan mati?”

“Ya, kau akan dikutuk oleh pusaka itu, dan kau akan dirobek-robek oleh orang-orang yang sekarang tentu sudah menunggu disekitar istana ini. Orang-orang yang tidak kita ketahui dengan pasti apakah yang telah mendorong mereka untuk memasuki istana ini, seperti dua orang yang telah aku bunuh itu, jika bukan kawan-kawan mereka, maka kidang alitpun tentu siap mencincangmu tanpa memberikan ampun lagi, apalagi membeli pusaka-pusaka seandainya kau menemukan”

“O” wajah Sangkan menjadi pucat “Mengerikan sekali, jika demikian, hal serupa itupun dapat terjadi di dalam istana ini, jika mereka berkeras menganggap bahwa di dalam istana ini memang ada pusaka itu, maka mereka akan beramai-ramai mencarinya disini dengan kekerasan, karena itu agaknya lebih baik jika kita menemukannya terlebih dahulu”

“Jika kau menemukannya?”

“Kita sediakan saja di pendapa, atau sebuah sayembara yang menarik, siapakah yang paling kuat, ialah yang akan memiliki pusaka itu”

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, Panji Sura Wilaga menggeram “Aku ingin mencekiknya saja Raden”

Namun Kuda Rupaka tertawa, katanya “Kedunguannya sangat memberikan kesegaran pada kehidupan yang datart di istana ini. Tetapi sudahlah Sangkan, hentikanlah kerjamu yang sia-sia, kecuali jika kau memang sudah benar-benar menjadi gila”

Sangkan menjadi termangu-mangu, tetapi kemudian katanya “Baiklah Raden, aku akan menghentikan usahaku mencari pusaka itu, tetapi biarlah orang-orang malas ini bekerja terus. Biarlah mereka menyiangi pohon-pohon bunga dan perdu. Meluruskan tanaman empon-empon dan jika perlu membuat lubang sampah di belakang”

“Hentikan Raden” geram Panji Sura Wilaga.

“Kau benar-benar gila Sangkan” berkata Kuda Rupaka kemudian “Agaknya kau berkeras untuk menemukan sebuah pusaka atau mungkin lebih dari itu, dengan membuat lubang tempat sampah kau berharap untuk mendapatkannya, tetapi kau tentu akan kecewa, meskipun demikian, cobalah. Jika kau berhasil menemukan sebuah pusaka, bahkan sebilah senjata apapun meskipun bukan pusaka, aku akan menukar dengan seekor kuda yang paling tegar, kau akan dapat menjual kuda itu dengan aman, karena tidak akan ada orang yang ingin merebutnya dari tanganmu, seperti jika kau menemukan sebuah pusaka”

“Raden membuat suatu kesalahan” desis Panji Sura Wilaga “Dengan demikian Raden telah mendorongnya untuk mencarinya di seluruh halaman ini”

“Aku akan membelinya paman” bisik Kuda Rupaka.

“Tetapi pengembara malas itu?”

Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun kemudian katanya perlahan-lahan sekali “Kita sudah siap menghadapi segala kemungkinan, jika kedua pengembara itu ternyata berniat buruk pula terhadap pusaka-pusaka yang seharusnya kembali ke Demak itu, kita sudah siap, apapun yang akan terjadi”

Panji Sura Wilaga tidak menjawab lagi, ia dengan tegangnya mengamati kedua orang pengembara yang masih memegang cangkul sambil termangu-mangu di halaman samping dan belakang, agaknya mereka menunggu, apakah yang harus mereka lakukan.

“Bekerja terus” teriak Sangkan sambil mengangkat wajahnya seperti seorang senapati di peperangan “Meskipun kalian tidak menemukan pusaka apapun, tetapi kerja kalian akan bermanfaat. Teruskan. Dan kalian akan membuat lubang sampah di kebun belakang”

Dalam pada itu Kuda Rupaka berbisik “Kita akan mengawasi mereka, jika mereka membuat lubang-lubang sampah. Mungkin Sangkan melihat sesuatu yang menarik perhatian dan menggalinya”

Tetapi ini permainan gila, dan kita harus ikut manjadi gila pula”

Kuda Rupaka tersenyum, desisnya “Apa salahnya kita harus berbuat apa saja, dan kali ini kita menjadi gila”

Panji Sura Wilaga tidak menjawab.

“Marilah kita ke halaman depan, kita akan melihat dari kejauhan, jika mereka mulai membuat lubang-lubang sampah, kita akan medekat”

Panji Sura Wilagapun mengikuti Kuda Rupaka ke halaman depan, mereka kemudian duduk dibawah sebatang pohon perdu yang rimbun sambil mengawasi kedua pengembara yang masih saja berdiri termangu-mangu.

“He, mengapa kalian masih belum mulai?” bertanya Sangkan. “Sudah aku katakan, mendapat atau tidak, kalian akan tetap menggali halaman itu”

Panon menarik nafas, rasa-rasanya dadanya akan meledak melihat perlakuan Sangkan yang dungu itu, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi ketika ia melihat Kiai Rancangbandang sudah mulai mengayunkan cangkulnya lagi.

Namun demikian, kedua orang itu dibayangi oleh kecemasan, mereka telah menyembunyikan senjata dibawah tikar di pembaringan. Jika tidak atau dengan sengaja seseorang menemukannya, maka keadaannya tentu akan segera berubah. Tetapi agaknya semua orang berada di halaman itu, kecuali Raden Ayu Kuda Narpada dan Nyi Upih. Dan keduanya yakin bahwa kedua perempuan itu tentu tidak akan melihat-lihat permbaringan mereka.

Dalam pada itu, Pinten yang semula berdiri termangu-mangu beberapa langkah dari kakaknya, segera mendekatinya sambil berbisik “Jika kau menemukan pusaka-pusaka itu. Kau akan menjualnya dam membangun istana ini bagi puteri Inten Prawesti”

“Ya”

Pinten mencibirkan bibirnya “Kau terlalu sombong, apakah kau tidak menyadari, bahwa kau adalah pelayan disini”

“He, kenapa kau ini Pinten? Aku memang pelayan disini, kenapa?, apakah aku tidak boleh membangun istana itu? Bukankah sampai sekarang aku juga yang memperbaiki semua kerusakannya, dari atap sampai ke regolnya”

“Sst, jangan terlalu keras.Lihat, puteri berdiri di butulan dan kau selalu saja membicarakannya”

“Siapa yang mulai?”

“Aku akan mengatakannya kepada puteri. Oh puteri, kakang Sangkan akan menjual pusaka untuk memperbaiki istana ini bagi puteri”

“Kau jangan mengigau Pinten”

Tiba-tiba saja Pinten tertawa..

“Aku copot gigimu tiga buah” desis Sangkan.

Tetapi ketika Sangkan menjulurkan tangannya, Pinten berlari ke butulan menjumpai puteri Inten Prawesti yang berdiri di butulan itu melihat Sangkan dan kedua pengembara itu mencari pusaka.

Dimuka pintu Pinten berhenti, dari kejauhan Sangkan hanya melihat bibir adiknya itu bergerak-gerak, tetapi ia tidak tahu apa yang dikatakannya kepada puteri Inten Prawesti.

Tetapi yang dikatakan oleh Pinten sama sekali bukan tentang pusaka yang akan dijual untuk membangun istana ini, yang dikatakannya adalah usaha pencarian pusaka yang agaknya tidak akan dapat berhasil dengan cara itu.

Inten tersenyum katanya “Kakangmu memang aneh Pinten, jika dengan demikian kau akan menemukan pusaka-pusaka itu, maka alangkah mudahnya”

“Pusaka-pusaka yang mana puteri?” bertanya Pinten.

“Bukankah kalian sedang mencari pusaka?”

“O” Pinten menarik nafas “Aku kira puteri ingin mengatakan tentang pusaka-pusaka yang sudah puteri ketahui”

Inten mengerutkan keningnya, ditatapnya wajah Pinten sejenak. Namun pada wajah itu sama sekali tidak terbayang niat apapun juga, karena nampaknya Pinten acuh tidak acuh terhadap kata-katanya sendiri.

Namun dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga terkejut ketika mereka mendengar derap kaki kuda. Dengan serta merta meloncat berdiri dan langsung menghadap ke regol halaman yang sedikit terbuka.

Ternyata bukan hanya kedua orang itu sajalah yang menjadi tegang. Semua orang yang ada di halaman samping dan belakang itupun mendengar derap kaki kuda itu pula. Tetapi mereka tidak melihat apa yang terjadi di halaman depan dengan jelas, apalagi orang yang sedang berada di halaman belakang.

Sementara itu. Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga dengan hati-hati melangkah mendekati regol. Jelas bagi mereka bahwa derap kuda itu telah terputus, dekat regol halaman itu.

Sejenak kemudian mereka melihat dua orang berkuda yang berada diluar regol.

Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga ragu-ragu sejenak, namun kemudian mereka berdua dengan langkah yang tetap mendekati regol itu, dan bahkan membuka pintunya semakin lebar.

Dua orang yang masih duduk diatas kuda memandang kedua orang yang berada di halaman itu dengan tegangnya.

“Jadi kalian berdua adalah yang bernama Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga?, yang sudah membunuh dua orang dari perguruan Guntur Geni?”

Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga termangu-mangu, namun kemudian dengan tegas Kuda Rupaka menjawab “Ya, aku adalah Kuda Rupaka dan ini adalah paman Panji Sura Wilaga, kamilah yang telah membunuh orang-orang dari Guntur Geni, dan kami akan membunuh siapa saja yang berusaha memasuki istana ini dengan kekerasan dan mengganggu bibi Kuda Narpada”

Kedua orang itu meragu, namun salah seorang dari mereka tertawa “Kau adalah seorang yang berani Raden, tetapi kau sama sekali tidak berperhitungan”

Kuda Rupaka memandang kedua orang kedua itu, wajahnya bagaikan membara, namun ia berdiri ditempatnya. Sambil menggeram ia berkata :Kau jangan mengigau disini, aku mempunyai perhitungan yang tepat, jika kalian tidak segera pergi, maka kalianpun akan aku bunuh pula di tempat ini, agaknya kalian adalah kawan-kawan dari perguruan Guntur Geni itu”

“Kami bukan orang-orang Guntur Geni” sahut seorang dari mereka yang berkuda diluar regol.

“Aku tidak peduli sipakah kalian, tetapi jika kalian mengganggu kami disini, maka itu akan berarti kematian bagi kalian”

“Jangan terlampau sombong”

“Aku akan membuktikan, kecuali jika kalian segera pergi dari tempat ini”

Keduanya termangu-mangu sejenak, namun salah seorang dari mereka tertawa “Kau benar-benar seorang anak muda yang berani, seperti juga pamanmu Sura Wilaga itu, tetapi kalian akan menyesal karena kalian berada di tempat ini”

“Itu sudah cukup, pergilah” geram Kuda Rupaka.

“Raden” berkata salah seorang dari kedua orang berkuda itu “Aku harap dalam waktu tiga hari, Raden meninggalkan istana ini, kami memang mempunyai kepentingan dengan Raden Ayu Kuda Narpada. Kami sudah tidak sabar lagi menunggu di padukuhan Karangmaja. Karena itu, sebelum kami kehabisan kesabaran sama sekali, sebaiknya kalian pergi. Termasuk dua orang pengembara yang kini berada di halaman ini. Aku menduga bahwa keduanya bukan orang-orangmu. Ia datang dalam ujud yang lain dari ujud seorang bangsawan seperti kalian. Meskipun aku menduga pada suatu saat akan terjadi benturan antara kau dan orang yang berpura-pura menjadi pengemis itu, namun aku menganggap lebih baik bahwa kalian pergi dahulu sebelum hal itu terjadi, dan biarlah aku yang mengusir mereka itu dari halaman ini dan aku akan membunuh mereka”

“Aku akan membunuhmu sekarang, He, jika kau ingin membunuh, kenapa harus menunggu tiga hari?, Pengecut, Kau hanya dapat mengancam dan menakut-nakuti aku, atau barangkali kau menunggu pasukan segelar sepapan?”

“Bukan begitu, bagiku lebih baik berhasil tanpa membasahi tangan ini dengan darah daripada harus membunuhmu”

Raden Kuda Rupaka sudah tidak sabar lagi, terlebih Panji Sura Wilaga yang maju selangkah mendekati orang-orang berkuda itu.

Namun sebelum orang berkuda itu menggerakkan kendali kuda mereka, salah satu dari dari mereka berkata “Jangan terburu nafsu, lebih baik kalian agak berhati-hati menghadapi aku dan kawanku besok”

Kuda Rupaka menggeram, tetapi kedua orang itupun kemudian segera meninggalkan regol itu sambil tertawa.

Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga berdiri termangu-mangu, mereka masih dapat menahan diri dam membuat perhitungan yang lebih baik dari sekedar menuruti perasaan.

“Mereka sudah gila, “Geram Panji Sura Wilaga “Sementara kita masih tetap disini oleh mimpi yang indah”

Kuda Rupaka memandang Panji Sura Wilaga dengan kemerut didahinya, katanya “Aku tahu yang paman maksudkan, sebenarnyalah bahwa akupun sudah siap berbuat sesuatu, aku sama sekali tidak terpengaruh oleh kehadiran Inten Prawesti di dalam hatiku, karena bagiku kedua-duanya dapat aku lakukan dengan sempurna”

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, katanya seolah-olah sekedar bergumam kepada diri sendiri “Aku tidak tahu, bagaimana harus membagi hati antara tugas dan perasaan seroang laki-laki terhadap seorang gadis”

Kuda Rupaka mengangkat wajahnya, seolah-olah ia ingin mengatakan kepada seisi istana kecil itu “Lihatlah, aku akan menyelesaikan semua tugasku bersama-sama, tugasku sebagai murid perguruan Cengkir Pitu dan tugasku sebagai seorang laki-laki”

Panji Sura Wilaga masih akan menyahut, tetapi tiba-tiba mereka tertegun ketika telinga mereka yang tajam menangkap sebuah desis diatas dinding halaman.

Mereka menjadi berdebar-debar ketika tiba-tiba saja mereka melihat seorang yang duduk diatas batu itu sambil memandang berkeliling. Tatapan matanya terhenti sejenak, ketika ia melihat orang-orang sedang sibuk mencangkul tanah di halaman samping dan belakang.

Sebelum seorang menyapanya, telah terdengar ia tertawa pendek, katanya, “Menyenangkan sekali untuk mendapat kesempatan mencari pusaka-pusaka yang belum diketemukan itu dengan cara yang paling baik yang pernah aku lihat”

“Kidang Alit” hampir bersamaan semua orang yang berada di halaman itu berdesis. Panon dan Kiai Rancangbandang yang belum mengenalnyapun kemudian mengulangi nama itu, didalam hatinya, setelah ia mendengar Sangkan menyebutnya “Kidang Alit”

Kuda Rupaka yang masih dicengkam oleh kemarahan karena hadirnya dua orang berkuda itupun menggeram sambil berkata “Kidang Alit, kau jangan terlalu sombong, jika aku tidak segera membunuhmu itu karena aku masih mempunyai pertimbangan lain. Aku kira kau pada suatu saat merasa bahwa kau tidak akan berhasil mendapatkan apapun juga di halaman ini. Tetapi agaknya kau memang terlampau dungu untuk mengerti, bahwa kau tidak mempunyai kekuatan apapun yang akan dapat kau andalkan disini, selama aku masih berada di halaman istana ini”

“Dan sekarang bertambah lagi dengan dua orang pengembara itu. Eh, aku tidak yakin bahwa kedua pengembata itu bukan pengikut-pengikutmu yang dengan sengaja kau masukkan ke dalam istiana ini”

“Kau gila Kidang Alit” Kuda Rupaka yang tidak dapat menahan hatinya hampir beteriak “Aku tidak kenal dengan pengembara itu, tetapi apapun yang ada di dalam istana ini, akan menggagalkan usahamu untuk menemukan pusaka-pusaka yang ada di dalamnya. Kau memang tidak dapat ingkar lagi, bahwa pusaka-pusaka itu telah menyeret kalian dan orang-orang Guntur Geni itu untuk merebutnya dari tangan penghuni istana ini. Tetapi selama aku masih ada disini, maka semua usaha itu tentu akan sia-sia. Kau tentu tahu, dua orang yang terbunuh itu, jika kaulah yang hadir pada malam itu, dengan menyebut perguruan Kumbang Kuning itu bukan berarti bahwa kaupun berhak atas pusaka-pusaka di dalam istana ini”

Kidang Alit tertawa, katanya “Jangan marah-marah Raden, akupun menjadi curiga, bahwa Raden Kuda Rupaka benar-benar sekedar ingin menyelamatkan pusaka-pusaka itu tanpa pamrih”

“Jika ada pamrih padaku, itu adalah wajar sekali, tetapi pamrihku adalah pamrih yang baik”

Kidang Alit termenung sejenak, dengan mata yang tidak berkedip ia memandang ke pintu butulan, justru pada saat Inten Prawesti mencoba menjengukkan kepalanya.

“Pusaka dan perawan memang pantas dipertahankan sampai akhir hayat, tetapi jika kau mati terbunuh di halaman istana ini Raden, kau tidak akan mendapatkan kedua-duanya”

“Itu adalah akibat yang wajar dari sebuah perjuangan, tetapi pamrih yang utama bagiku adalah mengembalikan pusaka-pusaka itu ke Demak, jika memang pamanda Kuda Narpada meninggalkan pusaka itu di istana ini”

“Jangan berpura-pura, setiap orang mengetahui, bahwa pada saat Pangeran Kuda Narpada bertahan, Maharaja Majapahit telah menyerahkan sebilah keris. Hanya sebilah keris. Kau tidak akan dapat menyebut pusaka yang manapun juga lebih dari satu justru untuk mengelabui orang-orang yang mengetahui denga pasti pusaka apakah yang telah diserahkan kepada Pangeran Kuda Narpada sebagai lambang kekuasaan Majapahit dan sebagai sipat kandelnya di dalam pertempuran yang maha dahsyat yang telah menghancurkan Kota Raja itu. Tetapi akhirnya Pangeran Kuda Narpada tidak dapat bertahan. Ia meninggalkan Kota Raja dengan pusaka yang diterimanya, bukankah begitu?”

“Ya, dan sekarang aku datang untuk mengambil pusaka itu dan menyerahkan kepada pamanda Sultan Demak”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, katanya “Apakah kau yakin bahwa Demak akan dapat bertahan dan melanjutkan kekuasaan Majapahit?”

Kuda Rupaka termenung sejenak, lalu “Jika demikian aku yakin, kau adalah seorang pewaris kerajaan Kediri yang merindukan kebesarannya setelah Kediri tidak pernah dapat bangkit kembali. Bukan salah Majapahit bahwa ia menjadi besar dan berkuasa mempersatukan kepulauan yang terbentang dari ujung Barat sampai ke ujung Timur”

Kidang Alit duduk memeluk lututnya diatas dinding halaman itu mengangkat kepalanya sejenak, lalu diantara suara tertawanya ia berkata seolah-olah acuh tak acuh saja atas sikap Raden Kuda Rupaka “Kenapa kau mengambil kesimpulan bahwa aku adalah trah langsung dari Kediri? Aku adalah Kidang Alit, seorang pengembara yang tidak mempunyai tempat menetap seperti kleyang kabur kanginan”

Kuda Rupakalah yang kemudian tertawa. Katanya “Lihatlah kedua pengembara itu, mereka juga menyebut dirinya kleyang kabur kanginan. Dan mungkin masih banyak orang yang mempergunakan penyamaran yang dungu semacam kau”

“Seandainya demikian, kenapa kau menghubungkan aku dengan trah Kediri?”

“Banyak trah Kediri yang berada di dalam lingkungan Kumbang Kuning” Jawab Kuda Rupaka “Selebihnya kau mempunyai bayangan ujud bangsawan, bukan seorang perantau yang kau sebut kleyang kabur kanginan, maka kau adalah seorang bangsawan yang mursal, yang kehabisan sisa harta benda Karena kau menginginkan nafsu duniawi”

“Ah, kesimpulanmu salah, ada banyak sebab, contoh yang dekat adalah puteri Inten Prawesti, ia menjadi melarat, tetapi apakah ia benar-benar mengagungkan nafsu duniawi?”

“Gila” Kuda Rupaka menggeram, tetapi ia tidak mau digelitik oleh sikap Kidang Alit sehingga kehilangan akal dan pengamatan diri. Karena itu ia masih tetap menahan perasaannya. Bahkan ia masih sempat tersenyum dambil menjawab “Kau memang pandai memilih persoalan. Tetapi kita tidak akan terperosok dalam perdebatan yang kau inginkan, aku tidak membicarakan diajeng Inten Prawesti, aku berbicara tentang kau dan kandunganmu”

Kidang Alit menarik nafas, katanya “Kau memang bijaksana, kau tidak mudah terseret arus kemarahanmu dan mengalihkan persoalan. Baiklah, aku sadar sekarang, bahwa Raden Kuda Rupaka memang seorang yang harus mendapat perhatian lebih banyak dari setiap orang yang ada di sekitar istana ini untuk merampas pusaka yang tersimpan di dalamnya, aku yakin bahwa pada suatu saat akan terjadi, kita semuanya akan menentukan siapakah yang pantas memiliki pusaka itu”

“Kau belum memperhitungkan paman Cemara Kuning dan paman Sendang Prapat”

“Keduanya tidak akan dapat kau jumpai lagi dimanapun juga kau berada”

“Semakin jelas bagiku, kau adalah saluran dari kedua paman yang memang masih mempunyai darah keturunan Kediri itu, meskipun keduanya adalah darah Majapahit pula, ibunda dari kedua pamanda itu tentu mempunyai saluran yang sama dengan kau yang menamakan Kidang Alit”

“Penglihatanmu tajam sekali, Raden. Tetapi tidak ada orang yang dapat melihat samubarang”

“Meskipun tidak ada. Tetapi aku seolah-olah dapat melihat bahwa pada saat paman Cemara Kuning dan Sendang Prapat membawa Pamanda Kuda Narpada, pusaka itu tentu tidak ada pada paman Kuda Narpada. Atau, jika pamanda membawa sebilah keris yang disangkanya pusaka itu, ternyata bukan, sebab jika tidak demikian, kau tentu tidak akan kemari”

“Kau benar-benar waskita”

“Tetapi marilah kita berkesimpulan, bahwa dengan demikian satu-satunya keris yang dibawa oleh pamanda Kuda Narpada saat ia memasuki padukuhan ini adalah bukan pusaka yang kau cari itu. Karena pamanda hanya membawa sebilah keris saja”

Kidang Alit tertawa “Itu adalah kesimpulan yang tergesa-gesa Raden, atau kau sudah menerima keris itu dari Raden Ayu Kuda Narpada dan dengan demikian kau ingin mengelabui aku”

“Carilah kesimpulanmu sendiri, itu adalah kesimpulanku”

“Pada suatu saat aku ingin bertanya langsung kepada Raden Ayu”

“Sia-sia, bibi tidak tahu sama sekali” ia berhenti sejenak, lalu “He, Kidang Alit, kenapa kau tidak menyebutnya bibi seperti aku?, aku tahu, bahwa kau memiliki gelar kebangsawanan, sebaiknya kau tidak perlu mempergunakan penyamaranmu lagi”

Kidang Alit mengangguk, jawabnya “Mungkin kau benar, tetapi itu adalah urusanku. Aku adalah Kidang Alit, bagiku sendiri, aku tidak perduli pendapat orang lain.”

“Dan sekarang?”

“Aku akan pergi. Tetapi aku akan kembali lagi kemari. Sebaiknya kau pergi sebelum terjadi peristiwa-peristiwa yang dapat berakibat buruk bagimu”

Kuda Rupaka yang justru tertawa, katanya “Ternyata kau tidak ada bedanya dengan dua orang dungu yang berkuda tadi. Sebenarnya aku kecewa mendengar peringatanmu itu. Sebelumnya aku hormat kepadamu sebagai seorang bangsawan yang merendahkan diri. Karena cita-cita yang mempunyai pengetahuan yang luas dan ilmu yang tinggi, tetapi kau masih juga sempat menakut-nakuti aku seperti kanak-kanak. Seharusnya kau tahu bahwa itu tidak berguna sama sekali”

Kidang Alit tertawa pula. Jawabnya “Kau benar Raden, aku ternyata masih terlalu cengeng menghadapi seorang anak muda yang sangat perkasa. Baiklah, aku minta diri. Aku kadang-kadang masih juga mengganggu Raden ini sebangsa tikus dari Guntur Geni itu, sehingga aku merasa perlu untuk menakut-nakuti Raden. Tetapi ternyata aku harus menjadi malu karenanya. Namun, pada suatu saat aku akan menebusnya dengan bukti bahwa aku benar-benar akan membunuhmu”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya “Aku menunggu setiap saat, aku akan berada di tempat ini waktu yang tidak terbatas, meskipun aku tahu keluargaku tentu menjadi gelisah karena aku belum juga pulang. Bahkan mungkin ada satu dua orang senapati yang akan menyusulku kemari”

“O, adakah itu juga suatu keterangan yang cengeng?”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, tetapi iapun kemudian tertawa pula. Namun justru Panji Sura Wilaga hampir kehilangan kesabarannya.

“Nah, kau juga cerdik” kata Kuda Rupaka “Sekarang pergilah”

“Baik Raden”

Kidang Alitpun kemudian memandang halaman itu sejenak. Ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat Panon dan Kiai Rancangbandang masih tetap berdiri di tempatnya. Tetapi iapun kemudian tersenyum melihat Sangkan yang terduduk dengan wajah pucat disudut istana itu, bersandar tiang. Sementara Pinten duduk sambil memeluk kaki Inten Prawesti di butulan.

“Aku akan pergi. Agaknya aku menakut-nakuti orang disini, kecuali Raden berdua dengan Panji Sura Wilaga dan kedua pengembara itu. Jika kedua pengembara itu bukan sahabat Raden, hati-hatilah dengan mereka. Lihatlah betapa matanya menyala dan kedua kakinya yang renggang menghadap kepadaku, Raden harus lebih menaruh perhatian kepada mereka, daripada kepada anak-anak Guntur Geni itu telah datang lagi dalam jumlah yang lebih banyak dan sudah tentu orang-orang yang lebih baik dari yang sudah Raden bunuh di istana ini”

Raden Kuda Rupaka tidak menjawab, dibiarakannya Kidang Alit bergeser. Namun ia masih sempat tersenyum kepada Inten Prawesti sambil berkata “Ampun puteri, aku tidak ingin menakut-nakuti puteri dan gadis itu, aku tidak ingin melontarkan gendam dalam kidung maupun perngaruh bunyi yang lain. Karena semuanya itu dapat dipudarkan oleh Raden Kuda Rupaka. Tetapi aku tidak yakin bahwa ia akan dapat berbuat demikian pula dalam oleh kanuragan”

Inten Prawesti tidak manyahut. Tetapi tubuhnya terasa menjadi gemetar seperti Pinten yang masih memeluk kakinya.

Sejenak kemudian Kidang Alit itupun meloncat turun, tetapi suaranya masih mengumandang “Akan datang waktunya orang-orang Guntur Geni itu menyerang istana ini”

Tidak seorangpun yang menjawab, tetapi Raden Kuda Rupaka kemudian menghentakkan tangannya sambil bergumam “Gila, kita harus segera selesai”

“Tidak ada lagi sopan santun dan ungguh-ungguh yang dapat menghambat tugas kita”

Kuda Rupaka tidak menjawab, tetapi iapun kemudian mendekati Inten Prawesti yang berdiri di butulan, ketika ia lewat di dekat sangkan yang bagaikan membeku, ia sempat menyentuh kaki Sangkan dengan kakinya.

“Kau akan mati membeku pada suatu saat” desis Kuda Rupaka.

“Tetapi, tetapi….” Suara Sangkan bagaikan tersumbat di kerongkongan.

Kuda Rupaka tidak menghiraukannya, tetapi ia melangkah terus mendekati Inten.

Inten Prawesti masih saja berdiri di tempatnya, sementara Pinten dengan gemetar berpegangan dengan kakinya.

“Diajeng” berkata Kuda Rupaka “Agaknya keadaan menjadi semakin gawat, hati-hatilah, mungkin ada persoalan yang nenyusul. Tetapi jangan cemas, semuanya tentu akan dapat kita atasi” Ia berhenti sejenak, lalu “Namun demikian, kita harus saling membantu, aku akan menjaga istana ini dengan mempertaruhkan nyawaku”

Inten Prawesti tidak menjawab, rasa-rasanya mulutnya menjadi kaku dan jantungnyapun serasa berhenti berdenyut.

“Diajeng” berkata Kuda Rupaka “Sebaiknya kita mulai berterus terang kepada bibi, sudah waktunya bibi mengetahui semua persoalan yang sedang bergejolak di sekitar istana ini”

Inten tidak dapat menjawab, tetapi kepalanya terangguk lemah.

“Semuanya harus berlangsung dengan cepat. Pada saatnya aku akan menghadap bibi untuk memecahkan kesulitan yang timbul di istana ini”

Inten masih tetap berdiam diri, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

“Cobalah mengerti diajeng” berkata Kuda Rupaka selanjutnya “Dan usahakanlah agar bibi dapat mengerti pula kesulitan-kesulitan yang sama-sama kita hadapi”

Kuda Rupaka tidak menunggu jawaban Inten yang masih bingung, tetapi iapun kemudian melangkah pergi sambil berkata “Tetapi tetap tenang sajalah, aku ada disini”

Dihadapan Sangkan yang masih membeku di tempatnya Kuda Rupaka berhenti, sambil menunjuk kepada dua orang yang berdiri termangu-mangu di kebun sambil memegang cangkulnya ia berkata “Kau lihat kedua orang itu?, pada suatu saat bukan Kidang Alitlah yang akan menakut-nakuti kau, tetapi kedua orang itu. Bahkan mungkin mereka akan menjadi lebih berbahaya dari Kidang Alit itu sendiri”

“Tetapi, tetapi mereka hanya dua orang pengembara?”

“Kau dengar yang dikatakan oleh Kidang Alit? Iapun tidak lebih dari seorang pengembara pula, kleyang kabur kanginan”

Sangkan tidak menjawab, tetapi wajahnya yang pucat masih saja pasi, sedang keringatnya telah membasahi seluruh tubuhnya.

Tetapi ia hanya dapat memandang langkah Kuda Rupaka menjauh dan hilang bersama-sama dengan Panji Sura Wilaga di halaman depan.

Sepeninggal Kuda Rupaka, Sangkan mencoba untuk beranjak dari tempatnya, sejenak ia memandang adiknya yang duduk berpegangan kaki Inten Prawesti, namun kemudian ia memandang kedua orang yang sedang termangu-mangu di kebun itu dengan sorot mata yang aneh.

“He…!” tiba-tiba Sangkan berteriak kepada Panon “Apakah benar apa yang dikatakan oleh Kidang Alit dan Raden Kuda Rupaka, bahwa kau dan pamanmu akan membuat kesulitan disini?”

Pertanyaan itu benar-benar membingungkan, sehingga Panon tidak segera menjawab, dengan gelisah ia memandang Ki Mina yang berdiri beberapa langkah dari padanya, tetapi nampaknya orang tua itupun menjadi agak bingung pula.

“Kenapa kau diam saja” berkata Sangkan “Kalian berada dibawah perintahku disini, kalian harus menjawab dengan jujur dan tidak berbelit-belit.”

Panon menjadi semakin bingung, tetapi justru karena itulah maka iapun dengan ragu-ragu menjawab “Tidak, tentu tidak, aku telah mengabdi disini dengan maksud yang baik”

“Apakah kau mencari pusaka pula seperti orang-orang lain?”

“Tidak, tidak”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, katanya “Bagus, sayang Raden Kuda Rupaka sudah pergi, seharusnya ia mendengar jawaban kalian bahwa kalian tidak akan mencari pusaka itu dengan cara apapun juga. Jika kalian sekarang mencangkul halaman dan nanti membuat lubang-lubang sampah itu karena akulah yang menyuruhmu”

“Ya, ya, semata-mata karena aku mendapat perintah dari Ki Lurah”

“Jangan panggil aku Ki Lurah, tidak seorangpun yang mengangkat aku menjadi lurah disini, meskipun kedudukanku terhadap kalian memang ada bedanya dengan lurah kalian”

Panon tidak menjawab lagi, tetapi rasa-rasanya ia tidak tahan lagi menghadapi tekanan perasaan yang semakin menghimpit dadanya. Seakan-akan rongga dadanya itu hampir meledak oleh perasaan muak dan kesal.

Sangkanpun kemudian berdiri dengan dada terngadah dimuka pintu butulan menghadap kepada Inten Prawesti, katanya “Puteri telah mendengar sendiri, kedua orang itu tidak akan berbuat apa-apa disini, nanti puteri dapat mengatakannya kepada Raden Kuda Rupaka dan Raden Panji Sura Wilaga”

Inten menarik nafas dalam-dalam, tetapi kepalanya terangguk pula meskipun ia berkata di dalam hatinya “Sangkan adalah anak yang aneh, adik perempuannya kadang-kadang menunjukkan sikap yang cerdas dan cakap menganggapi keadaan, tetapi Sangkan justru kebalikannya. Betapa mudahnya ia disesatkan oleh jawaban-jawaban yang mungkin kosong, jika dengan jawaban itu sudah meyakinkannya, maka ia akan mudah sekali terpersosk ke dalam kesulitan”

Namun Inten Prawesti tidak mengatakan apapun juga bahkan perlahan-lahan ia menyentuh bahu Pinten sambil berkata “Marilah Pinten, kita masuk saja kedalam”

Pintenpun kemudian berdiri dan mengikuti Inten masuk ke ruang dalam, dengan ragu-ragu Inten bertanya “Apakah aku harus mengatakannya kepada ibunda?”

Pinten termangu-mangu sejenak, namun kemudian iapun menjawab “Sebaiknya puteri, karena ibunda justru telah mendengar keributan-keributan di halaman, karena itu, agar ibunda puteri jusru tidak selalu dibayangi oleh berbagai macam pertanyaan, maka ada pula baiknya puteri memenuhi pesan Raden Kuda Rupaka”

Inten mengangguk-angguk, katanya “Baiklah Pinten, aku akan langsung menghadap ibunda, sebaiknya kau ikut serta, agar kau dapat membantu aku memberikan penjelasan”

Pinten mengangguk-angguk, tetapi dengan dahi yang berkerut-merut ia bertanya “Tetapi puteri, apakah yang akan puteri katakan kepada ibunda?”

“Kesulitan kita, bukankah kakangmas Kuda Rupaka berpesan demikian?”

“Lalu, apakah kira-kira tanggapan ibunda puteri?”

“Tentu aku tidak tahu Pinten”

“Jika puteri menjadi ibunda, apakah kira-kira yang akan puteri lakukan?”

Inten termangu-mangu sejenak, dengan ragu-ragu Inten mencoba menjawab “Apakah kira-kira ibunda akan mempersoalkan keris itu lagi? Tetapi jika sekiranya ibunda mengetahui, ibunda tentu sudah mengatakannya kepada kakangmas Kuda Rupaka, agar kita segera terlepas dari kesulitan yang selalu membayangi rumah ini”

Pinten menarik nafas dalam-dalam, katanya “Memang itulah tujuan Raden Kuda Rupaka, Raden Kuda Rupaka ingin segera mengetahui dimanakah pusaka ayahanda puteri itu disimpan. Karena bukan saja Raden Kuda Rupaka, tetapi setiap orang yang berdatangan ke sekitar istana ini percaya, bahwa keris pusaka itu masih ada di dalam istana ini”

:Jika sekiranya ibunda memang mengetahui?” desis Inten Prawesti “Tetapi ibundapun tentu tidak mengetahui, dan itu berarti malapetaka akan menimpa kita semuanya”

Pinten mendekati Inten sambil berbisik “Raden Kuda Rupaka ada di istana ini puteri, seharusnya puteri tidak usah menjadi cemas, jika sekiranya ibunda puteri memang tidak menegetahui. Apakah salahnya untuk berterus terang bahwa memang tidak mengetahuinya. Tidak seorangpun akan dapat memaksa agar orang yang benar-benar tidak mengetahui, dan dengan sendirinya menjadi tahu”

Inten termangu-mangu, sekali lagi ia heran melihat sikap dan tingkah laku Pinten dibandingkan dengan kakaknya, Sangkan.

“Tetapi Pinten, bagaimanakah jika kakangmas Raden Kuda Rupakalah yang kemudian tidak percaya bahwa ibunda tidak mengetahui sama sekali tentang pusaka itu”

“Siapapun yang menghadap, yang tidak diketahui akan tetap tidak diketahui, aku kira puteri menjadi cemas bahwa dengan demikian Raden Kuda Rupaka akan kecewa dan meninggalkan istana ini”

Inten termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Kau benar Pinten, aku memang cemas, bahwa kakangmas Kuda Rupaka akan merasa kecewa. Ia telah menyelamatkan kami dari bencana dan telah membunuh orang-orang yang ingin dengan paksa memasuki istana ini, yang pernah barang tentu ingin memaksa ibunda untuk menunjukkan pusaka itu pula”

“Puteri tidak perlu mengkhawatirkan, Raden Kuda Rupaka adalah seorang kesatria, jika ia menolong kita maka itu adalah darma. Tentu Raden Kuda Rupaka kelak akan menimbang beratnya. Ia tidak akan menghubungkan pertolongannya dengan kepentingan yang lain, katakanlah tentang pusaka yang sedang dicari oleh banyak orang”

“Ah” Inten Prawesti berdesah.

Sementara itu Pinten berkata selanjutnya “Sudahlah puteri, jangan gelisah”

“Tetapi jika kakangmas Kuda Rupaka menjadi benar-benar kecewa, maka ia akan meninggalkan istana ini, menemukan pusaka itu baginya sebagai seorang kesatria adalah darma pula. Ia haris mengembalikan pusaka itu ke Demak”

“Tetapi ia tidak dapat memaksa orang lain untuk mengatakan apa yang tidak diketahuinya” jawab Pinten, lalu “Puteri, jika Raden Kuda Rupaka kemudian merasa kecewa dan meninggalkan istana ini, maka kitapun tidak menjadi cemas”

“Dan orang-orang itu akan berdatangan?”

”Tentu tidak puteri, sasaran mereka akan beralih, mereka tidak akan bernafsu lagi memasuki istana ini, tetapi mereka akan mencari Raden Kuda Rupaka, karena mereka mengira bahwa Raden Kuda Rupakalah yang telah membawa keris pusaka itu dari istana ini”

“O” Inten menarik nafas dalam-dalam, katanya “Kau memang cerdas sekali, seolah-olah kau memiliki pengamatan yang tajam sekali terhadap sesuatu persoalan. Jauh berbeda dengan kakakmu. Ia adalah seorang anak muda yang lucu sekali, tidak banyak yang dapat dilakukan, tetapi setiwap perbuatannya dapat menimbulkan kejenakaan, sedangkan kau mempunyai ungkapan yang lain lagi Pinten, nampaknya kau seperti seorang gadis yang bijaksana”

“Ah. Puteri selalu memuji, jika aku benar-benar menjadi bijaksana, tentu karena puteri sadar atau tidak sadar telah membimbing caraku berpikir”

“Bagaimana mungkin jika aku sendiri tidak memiliki kebijaksanaan itu”

“Orang-orang rendah hati tidak akan memperlihatkan kebijaksanaan diri, apalagi mengatakannua kepada orang lain, dan itulah bedanya antara puteri dan orang-orang lain yang merasa dirinya bijaksana”

Inten mengerutkan keningnya, dipandanginya wajah Pinten dengan seksama, seolah-olah ia sedang mencari sesuatu di dalamnya, bahkan rasa-rasanya jauh lebih dalam arti pandangan lahiriah semata-mata.

“Pinten” berkata Inten Prawesti kemudian “Kau jauh berbeda dengan kakak dan biyungmu”

“Pinten termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia tertawa, katanya “Sudahlah puteri, jangan memikirkan aku, bukankah puteri sedang menghadapi masalah yang jauh lebih pelik daripada menilik sifat dan tabiatku”

Inten menarik nafas dalam-dalam, kepalanya ternagguk-angguk kecil, lalu katanya “Aku akan menghadap ibunda”

“Apakah aku juga akan ikut serta seperti yang puteri kehendaki untuk membantu puteri mengatakan apa yang telah terjadi?”

“Ya, tentu Pinten”

Pinten mengangguk lemah “Terima kasih atas kepercayaan itu puteri”

Keduanyapun kemudian mencari Raden Ayu Kuda Narpada yang pada saat terakhir justru lebih banyak berada di dalam biliknya. Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang telah menyentuh hatinya sehingga menumbuhkan bayangan lain di wajahnya.

“Semula ibunda sudah memasrahkan diri kepada Allah Yang Maha Besar” berkata Inten, “Tetapi tampaknya kini ibunda telah diganggu lagi oleh kenangan masa silamnya, atau barangkali ibunda sudah mengetahui bahwa istana ini telah menggetarkan bukan saja padukuhan Karangmaja, tetapi padepokan-padepokan dan bahkan para bangsawan di Demak, karena mereka mengira di halaman ini terdapat sebilah pusaka yang mereka cari”

“Kita akan menghadap puteri, mudah-mudahan ibunda membuka hatinya”

Dengan ragu-ragu Intenpun kemudian mengajak Pinten menemui ibundanya di dalam biliknya, namun alangkahnya tertegun ketika mereka mendengar suara tembang di belakang istana.

“Ah” desis Pinten, “Tentu kakang Sangkan memaksa anak muda pengembara itu untuk mengajarinya mendendangkan kidung itu, sejak semalam ia sudah rerasan, bahwa ia ingin belajar kidung yang telah menarik perhatiannya itu”

Inten menarik nafas dalam-dalam, katanya “Kakakmu sama sekali tidak terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa yang beruntun terjadi di istana ini, meskipun pada saat peristiwa itu terjadi, ia menjadi ketakutan dan bahkan seolah-olah menjadi beku sama sekali” ia berhenti sejanak lalu “Marilah, kita mohon untuk berbicara dengan ibunda yang tampak murung”

Dengan ragu-ragu maka keduanya memasuki bilik Raden Ayu Kuda Narpada yang seperti telah diduga oleh Inten, duduk dengan murung di dalam biliknya di bibir pembaringan. Bahkan Inten terkejut ketika ia melihat setitik air mata mengambang di pelupuk mata ibundanya.

“Ibunda” desis Inten.

Tetapi ibundanya justru mencoba tersenyum, sambil mengusap matanya ia berkata “Marilah Inten”

Inten menjadi semakin ragu-ragu. Sekali ia berpaling kepada Pinten yang sudah duduk bersimpuh di muka pintu.

“O, kau ajak Pinten?” bertanya ibundanya.

“Ya ibunda, aku membawanya menghadap ibunda jika ibunda berkenan”

“Ibundanya mengerutkan keningnya, namun kemudian sambil mengangguk ia menjawab “Suruhlah ia masuk”

Pintenpun kemudian bergeser masuk ke dalam ketika Inten memeberi isyarat.

“Tutup pintu itu Pinten” berkata Inten Prawesti.

Pintenpun kemudian menutup pintu bilik itu, namun ia masih juga sempat melihat Raden Ayu Kuda Narpada mengusap matanya.

“Aku tahu apa yang akan kau katakan Inten, aku juga mendengar peristiwa yang baru saja terjadi di halaman samping”

“Karena itulah ibunda menangis?” bertanya Inten.

Ibundanya menarik nafas semakin panjang, jawabnya “Mungkin juga kerana hal itu, tetapi mungkin juga karena banyak persoalan yang selama ini mengendap di dalam hatiku, aku tahu bahwa orang-orang yang mengepung istana ini sedang mencari pusaka yang mereka sangka disimpan oleh ayahandamu”

“Agaknya memang demikian ibunda, bahkan kini tekanan itu terasa menjadi semakin pepat, sehingga kakangmas Kuda Rupakapum telah merasa cemas pula”

“O, jadi angger Kuda Rupaka sudah merasa dicemaskan oleh perkembangan keadaan itu?” ibundanya menundukkan kepalanya. “Ia merupukan perisai yang kuat bagi rumah ini, jika perisainya sudah mulai lentur, apakah artinya kita semuanya?”

“Karena itu ibunda, pakah tidak sebaiknya ibunda berterus terang kepada kakangmas Kuda Rupaka”

“Tentang apa Inten? Apakah maksudmu, agar aku menunjukkan pusaka yang tidak aku ketahui itu untuk dibawa ke Demak?”

Inten manjadi termangu-mangu, namun kemudian katanya “Memang jika ibunda tidak mengetahuinya, sebaiknya ibundapun mengatakannya kepada kakangmas Kuda Rupaka, sebab agaknya kakangmas Kuda Rupakapun mempunyai dugaan bahwa pusaka itu memang ada disini.

Raden Ayu Kuda Narpada mengerutkan keningnya, dipandanginya Pinten yang duduk di lantai sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Intenpun kemudian mengatakan pula kepada ibundanya seperti yang dikatakan oleh Pinten, seandainya Raden Kuda Rupaka merasa kecewa dan meninggalkan istana itu.

“Ibunda” berkata Inten kemudian “Di Demak kakanda Kuda Rupaka mempunyai kekuatan untuk melawan mereka, seandainya orang-orang yang ingin memiliki pusaka itu benar-benar mengejarnya, tetapi disini?”

Ibundanya tidak segera menjawab, bahkan ia kemudian termenung memandang ke kejauhan, seoah-olah ada yang dicarinya di sela-sela bayangan angan-angannya.

Dalam pada itu, suara Sangkan seakan-akan justru menjadi semakin keras melagukan tembang yang melagukan tembang yang dipelajarinya dari Panon, ia menirukan dengan irama yang terputus-putus.

Panon telah benar-benar muak menghadapi anak muda yang menuruti kehendaknya sendiri itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat menolak dan apalagi sempai timbul persoalan. Kedatangannya ke istana itu mengemban tugas yang dibebankan oleh gurunya. Untuk itu ia harus mengorbankan apa saja yang dapat diberikan. Termasuk mengorbankan perasaannya.

Sementara itu, Inten Prawesti yang masih berada di bilik ibundanya, berkata “Jika Ibunda langsung mengatakannya kepada kakangmas Kuda Rupaka, maka aku kira kakangmas akan dapat mengerti, dan bahkan mungkin kakangmas Kuda Rupaka akan sempat memanggil beberapa orang prajurit untuk mengusir orang-orang yang berada di sekitar rumah ini”

Ibundanya menarik nafas dalam-dalam, katanya “Demak, jaraknya jauh dari sini Inten, untuk mencapai Demak, anakmas Kuda Rupaka harus menempuh perjalanan dua atau tiga hari. Selama itu, diperjalanan, akan dapat terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki yang mungkin ditembulkan oleh orang-orang yang menurut dugaanmu menyangka bahwa pusaka itu telah dibawanya ke Demak”

Inten mengerutkan dahinya, memang hal itu dapat terjadi diperjalanan.

Sepercik kecemasan telah meloncat di hatinya, ada sesuatu yang rasa-rasanya memberati hatinya. Jika benar-benar Kuda Rupaka mengalami sesuatu di perjalanan, apakah hatinya tidak akan terluka pula?”

Tetapi sebuah pertanyaan telah meloncat dihatinya “Lebih dari itu?”

“Ah” Inten berdesah sambil menggeleng.

Pinten melihat kerisauan dihati puteri itu, sejenak ia ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata “Ampun puteri. Ampun Gusti, jika aku berani mengetengahkan pendapatku disaat seperti ini”

Raden Ayu Kuda Narpada memandanginya dengan kerur merut di dahinya. Kemudian katanya “katakanlah Pinten”

“Menurut pengamatanku. Raden Kuda Rupaka, adalah orang yang linuwih. Ia tidak akan dapat dikalahkan dengan mudah oleh siapapun juga. Demikian juga agaknya di perjalanan kembali ke Demak”

Raden Ayu Kuda Narpada termenung sejenak, sekilas ia melihat wajah Inten yang tegang.

“Tetapi itu berbahaya sekali bagi kakangmas Kuda Rupaka, Pinten” tiba-tiba Inten menyahut “Mungkin kakangmas Kuda Rupaka dapat mempertahankan diri jika lawannya tidak begitu banyak, tetapi jika jumlahnya tidak terhitung?”

Pinten mengangguk, namun katanya “Memang setiap langkah kini harus dipertimbangkan sebaik-baiknya. Tetapi juga setiap langkah mengandung akibatnya masing-masing. Apakah kira-kira yang dapat dilakukan oleh Raden Kuda Rupaka jika istana ini juga diserang oleh orang-orang yang jumlahnya tidak terhitung?”

“Tetapi itu adalah akibat yang memang seharusnya menimpa kami. Bukan angger Kuda Rupaka” Raden Ayu Kuda Narpadalah yang menyahut.

“Tetapi bukankah Raden Kuda Rupaka juga mengalaminya?”

“Tetapi disini ada beberapa orang yang dapat membantunya, kedua pengembara itu juga laki-laki, mereka akan dapat membantu betapapun lemahnya mereka” Sahut Inten Prawesti.

“Itu hanya akan menambah korban saja puteri, mereka tidak banyak berarti bagi orang-orang yang hidupnya telah ditempa oleh kekerasan yang liar seperti orang-orang yang terbunuh di halaman, atau, bukankah Raden Kuda Rupaka justru meragukan kedua orang pengembara yang kini ada di istana ini?”

Raden Ayu Kuda Narpada berpaling, dipandanginya wajah Pinten sejenak, wajah yang kekanak-kanakan, tetapi agaknya ada kelainan pada anak perempuan ini. Agaknya ia terlampau cerdas dibandingkan dengan ibunya Nyi Upih yang sudah termasuk seorang yang cukup cerdas diantara kawan-kawannya dahulu.

Bab 21

Pinten menundukkan kepalanya ketika terasa tatapan mata Raden Ayu menyentuh biji matanya, bahkan dengan nada yang rendah ia berkata “Ampun Gusti, mungkin aku sudah terlampau deksura dengan mengutarakan pikiranku yang dungu dihadapan Gusti dan puteri”

“Tidak Pinten” jawab Raden Ayu, “Kau boleh mengutarakan pendapatmu, aku tidak berkeberatan. Bahkan semua itu akan aku jadikan bahan pertimbangan nanti. Karena aku masih harus memikirkannya masak-masak”

“Terima kasih Gusti, mudah-mudahan Gusti tidak marah kepadaku”

“Aku tidak marah Pinten, benar-benar tidak. Aku senang kau selama ini mengawani Inten bermain gateng dan dakon. Bahkan mungkin juga berbincang tentang keadaan istana ini, ternyata kau telah dibawanya menghadapku sekarang ini”

“Ya ibunda” sahut Inten “Pinten justru banyak memberikan pertimbangan kepadaku, seperti yang diberikannya kepada ibunda”

“Puteri terlampau memuji” berkata Pinten.

“Aku mendengarkan semuanya” sahut Raden Ayu Kuda Narpada kemudian “Biarlah aku membuat pertimbangan-pertimbangan”

Inten memandang wajah ibunya yang suram sekilas, kemudian iapun berkata “Baiklah Ibunda, agaknya sudah cukup banyak yang aku katakan bersama Pinten, mudah-mudahan ibunda dapat menemukan jalan yang sebaik-baiknya”

“Jika aku melihat jalan keluar, Inten, aku akan memanggilmu dan minta pertimbanganmu”

Inten dan Pintenpun kemudian minta diri keluar dari bilik ibunya, ibundanya yang nampaknya dihari-hari terakhir terlalu muram.

Dalam pada itu, Inten dan Pintenpun mencoba menghilangkan risau dihati mereka dengan bermain dakon. Namun permainan mereka nampaknya tidak begitu lancar, sementara itu tidak banyak mereka bercakap-cakap.

Dibelakang Sangkan masih melagukan rembang yang sedang dipelajarinya, sementara Panon dan Kiai Rancangbandang masih saja dibiarkan mencangkul kebun istana itu, bahkan mereka telah membuat beberapa lubang untuk membuang sampah.

“Gila” Panon mengumpat didalam hatinya, keringatnya mulai mengalir diseluruh tubuhnya, meskipun di padukuhannya ia juga seorang petani yang setiap hari bergulat dengan cangkul, namun sikap Sangkan benar-benar telah membuatnya sangat muak dan hampir menghilangkan segala kesabarannya, apalagi jika Panon melihat sikapnya. Anak muda itu duduk dibawah sebatang pohon kemuning bersandar sambil menjulurkan kakinya. Sementara itu mulutnya masih saja melagukan tembang yang sedang dipelajarinya, bahkan setiap kali ia berteriak menyuruh Panon memberikan tuntunan lagunya jika ia terlupa.

“Lagu itu manis sekali” desis Sangkan “karena lagu itulah maka agakya Gusti puteri memanggilmu masuk”

Panon tidak menjawab, namun tampak dari sorot matanya, luapan hati yang geram.

Sementara itu, Sangkan mengulang lagunya, justru semakin keras.

Kiai Rancangbandang mengerutkan keningnya, disela-sela nada-nada yang terlontar didalam suara tembang itu, ada sesuatu yang terasa aneh bagi orang tua itu. Rasa-rasanya Sangkan tidak benar-benar sedang belajar. Bahkan kadang-kadang terdengar unsur nadanya yang sangat kuat. Lebih dalam dari tukikan nada Panon yang nampaknya memang belum sangat menguasai lagu itu. Hanya di bagian-bagian tertentu suara Sangkan terdengar sumbang, bahkan seolah-olah dengan sengaja berbelok pada tangga nada yang salah.

“Apakah sebenarnya keinginan anak itu?” desis Kiai Rancangbandang didalam hatinya.

Namun suara Sangkan itu terputus ketika ia melihat Panji Sura Wilaga dengan tergesa-gesa mendekatinya dengan wajah yang buram. Beberapa langkah di hadapannya ia berhenti sambil mengumpat “Apakah kau sudah benar-benar menjadi gila Sangkan?”

Sangkan menjadi bingung, diluar sadarnya iapun berjongkok dengan gemetar “Apakah maksud Raden Panji?”

“Kenapa kau berteriak-teriak seperti orang kesurupan?, Raden Kuda Rupaka menjadi muak mendengar suaramu yang sumbang dan menjengkelkan itu”

“O…”

“Berhentilah menggigau, atau aku harus membungkam mulutmu”

“Jika Raden Kuda Rupaka memang tidak menghendaki, baiklah, Baiklah aku akan diam Raden Panji”

“Diamlah, dan hentikan kegilaanmu dengan menggali lubang-lubang sampah dan mencangkul seluruh halaman itu”

“Maksudku, biarlah keduanya menyiangi tanaman-tanaman bunga dan pohon perdu serta empon-empon”

“Diam” Panji Sura Wilaga melangkah maju, Sangkan yang menjadi semakin ketakutan bergeser surut, tetapi punggungnya sudah melekat pada batang kemuning itu “Ampun Raden Panji”

“Kau harus diam”

Sangkan tidak berani menjawab lagi, dengan sudut matanya ia memandang kedua orang yang masih memegangi cangkul-cangkulnya masing-masing.

“Berhentilah” geram Panji Sura Wilaga kepada kedua orang yang sedang mencangkul itu “Pergilah ke dalam bilikmu”

“Tetapi, tetapi…” Sangkan menyela “Mereka harus bekerja di istana ini Raden Panji”

“Kau masih menjawab lagi”

“O…” sekali lagi Sangkan menundukkan kepalanya.

Dalam pada itu, Panon yang sudah hampir menjadi gila, karena tingkah Sangkan, menarik nafas dalam-dalam, kemudian iapun melangkah menuju sumur untuk membersihkan cangkul dan dirinya, seperti juga yang dilakukan oleh Kiai Rancangbandang.

Panji Sura Wilaga masih menunggu sejenak, kemudian ditinggalkannya Sangkan dan kedua orang yang sudah mulai mengambil air dari dalam sumur itu.

Sepeninggal Panji Sura Wilaga, Sangkanpun kemudian berdiri dan melangkah mendekati keduanya. Dengan nada yang tajam ia berkata “Kau jangan menjadi terlalu manja, kali ini sikap Panji Sura Wilaga menguntungkan kalian, tetapi lain kali, kalian tidak akan dapat ingkar dari perintahku”

Panon menggeretakkan giginya, tetapi Kiai Rancangbandang menggamitnya, sehingga Panonpun hanya dapat menahan kemarahannya di dalam hatinya.

“Aku benar-benar akan menjadi gila, jika aku terlalu lama berada disini” geramnya lagi dalam hati.

Baru ketika Sangkanpun kemudian meninggalkan keduanya, Panon melontarkan getaran yang bergejolak didadanya itu kepada Kiai Rancangbandang.

“Ini adalah salah satu segi ujian yang harus kau jalani, jika kau gagal, maka semuanya akan gagal pula” berkata Kiai Rancangbandang kemudian.

Panon menarik nafas dalam-dalam, ia memang menyadari bahwa ia harus dapat menahan diri, tetapi sebelumnya ia tidak pernah membayangkan bahwa di dalam istana ini ada seorang anak muda yang bernama Sangkan yang baginya jauh lebih berat artinya dari pada anak muda yang menyebut dirinya Kidang Alit itu. Seandainya Kidang Alit itu membawa satu dua orang kawan memasuki halaman istana itu, maka ia tidak pernah gentar dan tidak akan merasa dirinya tersiksa seperti ini, bahkan sampai kemungkinan yang paling buruk sekalipun.

“Kegagalan memang dapat berakibat kematian” katanya di dalam hati, “Tetapi tidak membuat diriku gila seperti ini”

Tetapi Panon memang tidak dapat mengelak, ia harus menghadapinya betapa perasaannya dicengkam oleh kegelisahan dan muak.

Tetapi belum lagi Panon sempat beristirahat didalam biliknya dengan baik, Sangkan telah masuk ke dalam bilik itu pula. Sejenak ia memandang Panon dan Kiai Rancangbandang, namun kemudian iapun melangkah langsung ke pembaringannya dan berbaring tanpa menghiraukan apapun lagi.

“Hem….” Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, ia melihat Sangkan yang sama sekali tidak mencuci kaki dan tangannya yang kotor oleh Lumpur begitu saja dapat membaringkan dirinya di pembaringan tanpa merasa gatal.

“Aku juga seseorang yang hidup di padesan dan bekerja bergumul dengan Lumpur, tetapi aku tidak tahan membiarkan tubuhku dikotori demikian sambil berbaring di pembaringan” berkata Kiai Rancangbandang di dalam hatinya.

Panon mencoba untuk tidak menghiraukan anak muda itu meskipun ia masih harus menahan sikapnya, agar anak muda itu tidak mencurigainya dan apalagi mengatakannya kepada orang lain.

Agaknya Sangkan benar-benar tidak menghiraukan apapun juga, sejenak kemudian telah terdengar ia mendengkur dengan teratur, ternyata ia telah tertidur dengan nyenyaknya.

“Anak muda yang aneh” desis Kiai Rancangbandang “Rasa-rasanya ia sama sekali tidak mempunyai persoalan di dalam hidupnya, hati yang kosong bahkan menyatakan betapa ia tidak dibebani dengan segala macam persoalan duniawi yang ruwet, memang kadang-kadang kebodohan dan tidak tahu menahu tentang keadaan disekitarnya membuat seseorang tidak di kejar-kejar oleh persoalan.

Panon memandang tubuh yang terbaring itu, sambil bersungut-sungut ia berkata “Jika saja ia tidak berbuat dungu”

“Itu adalah rerangken yang wajar dari kekosongan di dalam dirinya” Sahut Kiai Rancangbandang.

Panon tidak menjawab lagi, iapun kemudian melangkah keluar dan duduk di serambi belakang, tatapan matanya beredar diantara pepohonan yang ada di kebun istana itu, bekas garapannya dan beberapa lobang tempat sampah.

Tiba-tiba saja Panon terkejut ketika ia mendengar langkah kecil berlari-lari, ketika ia berpaling, dilihatnya Pinten berdiri di belakangnya termangu-mangu.

“Oh, aku kira kakang Sangkan”

Panon memandang wajah gadis itu sejenak, namun kemudian rasa-rasanya ia menjadi gelisah dan menjawab diluar sadarnya “Ia sedang tidur di dalam bilik”

Pinten berdiri diam, nampak keragu-raguan membayang di wajahnya, namun kemudian katanya “Aku memerlukannya”

“Ia di dalam” sekali lagi Panon menjawab

“Panggilkan ia sebentar, aku memerlukannya”

Panon ragu-ragu pula, namun kemudian “Aku tidak berani, sekarang ia sedang tidur”

“Tidur??”

“Ya”

Pinten mengerutkan keningnya, lalu iapun kemudian berlari ke pintu bilik itu, ia tertegun ketika ia melihat Kiai Rancangbandang yang dikenalnya dengan Ki Mina masih berada di dalam bilik itu.

“Aku memerlukan kakang Sangkan” Desis Pinten “Jika angin bertiup, biasanya buah kemiri berguguran di halaman samping”

“O, maksud puteri, kami harus memunguti buah kemiri”

“He, aku bukan puteri”

“Eh, maksudku apakah puteri menghendaki buah kemiri itu?, jika demikian maka biarlah kami saja yang mengambilnya, atau biarlah Panon melakukannya, Sangkan sedang tidur nyenyak, agaknya iapun merasa lelah.

“Ya, puteri menghendaki buah kemiri itu”

Kiai Rancangbandang kemudian melangkah keluar pintu dan berkata kepada Panon “Panon, ambillah buah kemiri yang rontok oleh angin, mungkin puteri ingin bermain jirak kemiri atau gateng”

Panon bangkit dengan malasnya, tetapi kemudian iapun melangkah ke halaman samping, beberapa saat ia duduk di bawah sebatang pohon soka putih menunggui buah kemiri yang satu-satu jatuh karena diguncang oleh angin yang semakin keras.

Sekali-kali Panon mengangkat wajahnya memandang langit yang luas, diujung cakrawala nampak mendung yang kelabu bergeser di dorong angin.

“Agaknya mendung itu akan segera merata” Desis Panon kepada diri sendiri “Dan hujan yang lebat akan segera turun”

Panon terkejut ketika mendengar langkah seseorang mendekatinya, ternyata yang datang adalah Pinten, dengan nada yang tinggi gadis itu berkata lantang “Dan kau hanya duduk saja disini?”

Panon mengerutkan keningnya, tetapi sebelum ia berkata sesuatu Pinten telah berlari memungut dua tiga buah kemiri yang berjatuhan.

Panon justru tidak beranjak dari tempatnya, ia hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, sambil memandang gadis yang nampaknya terlalu lincah. Kakinya yang kecil meloncat-loncat di rerumputan, seolah-olah tubuhnya yang sama sekali tidak memiliki berat. Setiap kali ia membungkuk memungut buah kemiri yang berjatuhan, satu, dua dan jika angin bertiup lagi, maka buah-buah yang masakpun berguguran pula.

“Sebenarnya aku sedang menunggu sehingga buah-buah kemiri itu terkumpul” tiba-tiba saja seolah-olah diluar sadarnya Panon berkata.

“Uh” tiba-tiba saja Pinten mencibirkan bibirnya “Itu hanya alasanmu saja, kau memang malas, akan aku katakan kepada kakang Sangkan, bahwa kau malas”

Panon mengerutkan keningnya, namun tiba-tiba nampak olehnya sesuatu yang lain pada gadis itu. Ia mempunyai banyak sekali kawan gadis-gadis sebaya Pinten itu di padukuhannya, tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang mempunyai tatapan mata setajam gadis itu.

Tiba-tiba saja Panon menundukkan wajahnya.

Tetapi iapun kemudian tidak mendengar lagi suara Pinten, ia hanya mendengar desir yang lembut, bergerak cepat sekali meninggalkan bayangan daun-daun kemiri bergoyang-goyang di rerumputan.

Baru sejenak kemudian Panon mengangkat wajahnya, ia masih melihat punggung Pinten yang menjauh dan hilang di sudut halaman istana.

Namun dalam pada itu langkah Pinten terhenti, sesuatu rasa-rasanya telah menahannya, bahkan perlahan-lahan ia berpaling, tetapi yang dilihatnya hanyalah sudut istana beberapa langkah di belakangnya.

Pinten menarik nafas dalam-dalam, ia tidak berlari lagi, sambil membawa beberapa buah kemiri dengan sudut bajunya, ia pergi menemui Inten yang sedang menunggunya.

“Buah kemiri itu harus dikupas lebih dahulu” berkata Pinten ketika ia sudah berada di serambi bersama Inten.

Inten mengangguk-angguk, tetapi nampaknya ia tidak berminat lagi untuk bermain-main.

“Aku lelah Pinten” berkata Inten.

“O, silahkan puteri beristirahat, atau apakah aku harus memijit?”

Inten menggelengkan kepalanya, katanya “Tidak Pinten, aku tidak sekedar lelah badanku, tetapi lelah batinku”

“Jika demikian, sudah betul jika puteri bermain-main, mudah-mudahan dapat mengurangi perasaan lelah itu”

“Aku ingin berbaring sebentar Pinten” jawab Inten.

“Puteri” Pinten berdesis sambil memijit-mijit kaki Inten “Jika puteri berbaring di pembaringan, tetapi tidak segera tertidur maka itu akan berarti beban batin puteri akan semakin bertambah berat, karena angan-angan yang mengambang. Dan puteri justru akan menjadi semakin lelah”

Inten menarik nafas dalam-dalam, katanya “Aku akan mencoba tidur Pinten.

Tiba-tiba saja Pinten tersenyum, katanya “Puteri jangan mencoba membayangkan wajah-wajah yang barangkali mulai mengganggu perasaan puteri”

“Ah” Inten mencubit lengan Pinten, sehingga gadis itu berdesis “Ampun puteri”

“Kau nakal sekali”

Pinten bergeser mundur, tetapi senyumnya masih nampak diwajahnya.

“Mungkin ibumu memerlukan kau Pinten, sekarang semakin banyak orang yang dilayaninya di rumah ini. Karena itu ia harus lebih banyak memasak”

“Baiklah puteri, aku akan pergi ke dapur”

Ketika Inten kemudian pergi kebiliknya, maka Pintenpun pergi mendapatkan ibunya yang sedang berada di dapur, keringatnya membasahi baju dan keningnya, sementara api masih nampak menyala di perapian”

“Ooo… biyung sibuk sekali ya…?”

“Dan kau bermain saja kerjanya”

“Aku menemani puteri bermain supaya ia tidak selalu dibebani oleh kegelisahan yang semakin mencengkam”

“Dan sekarang?”

“Puteri berbaring di biliknya”

“Dimanakah kakangmu?”

“Tidur, ia mendengkur di biliknya”

“Bukan main anak itu, bangunkan dia, apakah dikiranya ia seorang pangeran yang disaat seperti ini sempat tidur”

“Ah tidak mau biyung, dibiliknya ada dua orang pengembara itu”

Nyi Upih tidak memaksanya, dibiarkannya saja Pinten berbuat menurut kehendaknya, apa saja yang akan dilakukannya di dapur itu, namun Pinten sudah berusaha untuk membantu ibunya, meskipun hanya sekedar menunggui api dan mengaduk sayur yang sudah mulai mendidih.

Demikianlah, maka seperti yang dikatakan oleh Pinten, maka sebenarnyalah bahwa Inten justru menjadi semakin lelah, setelah sesaat ia berada di pembaringannya, angan-angannya mulai menerawang ke dunia yang nampaknya semakin suram seperti istana kecil yang terletak di luar padukuhan Karangmaja itu.

Bahkan bukan saja Inten yang rasa-rasanya menjadi semakin gelisah, tetapi terlebih-lebih adalah ibundanya yang nampak selalu murung dan sedih.

Meskipun Inten Prawesti dan Raden Ayu Kuda Narpada tidak melihat, namun rasa-rasanya mereka mengetahui dengan pasti, bahwa di sekeliling istana itu sedang bergejolak, beberapa kelompok kekuatan yang sudah siap menerkam seluruh istana itu.

Tetapi di dalam istana itu, Raden Kuda Rupaka yang sebenarnya juga mulai gelisah, benar-benar telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, iapun sadar, bahwa pada suatu saat mungkin mereka berdua dengan Panji Sura Wilaga harus menghadapi jumlah orang yang jauh lebih banyak, tetapi sebagai seorang laki-laki, merekapun pantang surut di dalam tugas yang betapapun beratnya.

Ketika kemudian melam turun, rasa-rasanya istana itupun menjadi semakin suram, lampu di pendapa nampak berkerdipan disentuh angin yang silir.

“Paman” berkata Kuda Rupaka di dalam biliknya. “Kita sekarang tidak sekedar mengawasi orang-orang yang datang di luar istana, tetapi di dalam istana itu ada Panon dan Ki Mina”

“Raden terlalu lunak hati, jika Raden berkebaratan pasti keduanya akan diusir dari istana ini, selama ini Radenlah yang membantu kebutuhan sehari-hari Raden Ayu Kuda Narpada dan keluarganya. Raden dapat mempergunakan alasan yang sederhana itu, karena dengan alasan kemungkinan-kemungkinan yang lebih rumit, apalagi dalam hal pusaka yang sedang diperebutkan itu, Raden Ayu tidak dapat mengerti”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tetapi ia tidak menjawab lagi.

Sejenak keduanya saling berdiam diri, agaknya mereka sedang memperhatikan angan-angan masing-masing yang seolah-olah sedang dicengkam oleh kegelisahan dan seribu macam pertimbangan tentang pusaka yang ternyata telah menjadi perebutan dan bahkan dengan terbuka.

Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya ketika ia mendengar suara burung hantu di kejauhan, suaranya ngelangut disela-sela derik jangkrik dan belalang.

“Paman” desis Kuda Rupaka, “Kau dengar suara burung itu?”

“Ya, Raden”

“Ngelangut dan menimbulkan kesan yang aneh”

“Ya, Raden, tetapi agaknya lebih dari itu, bukankah Raden ingin mengatakan bahwa suara itu bukan suara burung hantu yang sebenarnya”

“Ya, aku mendengar itu tentu suatu isyarat”

“Agaknya memang demikian, tetapi masih terlampau sore bagi sebuah tindakan yang langsung sekarang ini”

“Karena itulah, maka kita dapat membayangkan, bahwa di luar istana ini telah disusun sebuah persiapan yang masak sekarang ini, tetapi aku kira bukan dari orang-orang Kumbang Kuning, Kidang Alit tidak sedungu itu, langkahnya lebih lembut dan rumit”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, sekali-kali ia memiringkan kepalanya, seolah-olah ingin mendengar lebih jelas lagi suara burung hantu yang terdengar diantara suara-suara malam yang menimbulkan kesan tersendiri.

Kedua orang itu nampak saling berpandangan ketika tiba-tiba suara burung hantu yang ngelangut itu telah tersayat oleh teriakan suara anjing di kejauhan, suara anjing liar yang kelaparan.

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, katanya “Suara anjing itu juga mencurigakan”

“Semua suara sekarang mencurigakan, kau dengar desah di ruang dalam?”

“Agaknya puteri Inten Prawesti”

“Kegelisahannya juga memberikan kesan tersendiri, gadis itu tidak pernah nampak begitu gelisah sepeprti saat terakhir ini”

“Itu sudah wajar Raden, jangankan puteri Inten Prawesti, Raden sendiripun menjadi gelisah”

“Gelisahku lain paman, aku mencemaskan kekuatuan batin diajeng Inten Prawesti, sementara itu, Kidang Alit mempunyai seribu macam akal untuk memperngaruhinya lewat segala cara, ia mempunyai ilmu yang dapat tersalur pada kekuatan bunyi dan irama”

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, katanya “Perhatian Raden sebagian telah terampas oleh puteri Inten Prawesti, seharusnya Raden memusatkan semua ilmu dan kemampuan yang ada bagi tugas terpenting Raden, menyelamatkan pusaka yang kini sedang jadi rebutan itu”

“Ya, aku menyadari, tetapi bukankah kedua-duanya dapat dilakukan bersama-sama”

“Seharusnya Raden menjadi lebih berhati-hati, Raden harus dapat memilahkan, yang manakah yang harus mendapat perhatian lebih dahulu, baru yang kemudian Raden dapat menilai puteri Inten sebagai seorang gadis”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia justru menjadi semakin gelisah, suara burung hantu yang ngelangut terdengar semakin sayup, akhirnya suara itu hilang ditelan oleh sepinya malam, namun demikian, sekali masih terdengar suara anjing liar yang kelaparan menyalak diujung bukit sebelah.

Selagi kedua orang diruang dalam itu terdiam dalam kegelisahan, dibagian belakang istana itu, dua orang tidak dapat memejamkan matanya pula, Panon yang berbaring disamping Ki Mina, menjadi gelisah, seperti Kuda Rupaka.

“Paman” Panon berdesis

Ki Mina mengerutkan keningnya, tetapi ketika dengkur Sangkan terdengar lagi, ia berbisik “Kau digelisahkan oleh suara burung hantu dan suara anjing liar itu Panon”

“Ya Paman”

Sekali lagi Ki Mina memandang Sangkan, yang nampaknya memang sudah tertidur, lalu katanya “Memang suara burung itu mempunyai arti tersendiri, aku juga tidak mendengarnya sebagai suara burung hantu”

Panon mengangguk-angguk lalu, “Bagaimana dengan gonggongan anjing itu?”

“Juga sangat menarik perhatian”

Panon memandang Ki Mina dengan gelisah, namun kemudian ia berkata “Apakah hanya sekedar hanya sekedar suara burung hantu dan gonggoan anjing itu paman?”

“Maksudmu?”

“Sangkan memang seorang anak muda yang malas dan agak sombong, tetapi jika disiang hari tidur, ia tidak akan sepulas itu tidur di malam hari, nampaknya ia terlampau cepat tidur dari hari-hari yang lain”

“Ia memang malas sekali, ia selalu tertidur jika ia berbaring dimanapun, tetapi jika kau merasa hadirnya suasana yang lain, akupun sependapat”

Panon dengan hati-hati melangkah mendekati Sangkan, ia ingin membuktikan, bahwa ada yang lain pada saat itu. Bukan saja terjadi pada anak muda yang malas itu, tetapi juga terasa olehnya.”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Ki Mina.

“Aku hanya ingin tahu, apakah ia benar-benar tidur lebih pulas dari biasanya”

“Anak malas itu tidak pernah merasa terganggu oleh kejadian apapun juga, sehingga iapun selalu tidur dengan nyenyaknya, Sangkan tidak akan dapat dipergunakan sebagai ukuran suasana malam yang terlampau sepi ini, Suara jangkrik dan belalangpun rasa-rasanya terhenti dengan tiba-tiba”

Panon termangu-mangu, diurungkan niatnya untuk menyentuh tubuh Sangkan, karena iapun sependapat, bahwa Sangkan tidak dapat dipergunakan sebagai ukuran.

“Panon” berkata Ki Mina “Jika yang kau maksud adalah pengaruh yang tajam pada kesadaran syaraf kita, maka akupun merasakannya”

“Tepat paman, aku tidak pernah merasa pengaruh malam yang tajam seperti sekarang ini”

“Panon” Ki Mina berkata perlahan “Kemarilah, duduklah”

Panonpun kemudian duduk disamping Ki Mina.

“Apakah gurumu pernah mengatakan kepadamu, apalagi dengan latihan-latihan yang mapan, ilmu yang disebut sirep?”

“Panon mengerutkan keningnya, lalu “Ya paman, Guru pernah mempersoalkannya”

“Dan kau juga pernah menghayati pengaruh ilmu itu?”

“Ya, guru telah memberikan beberapa petunjuk untuk melawan ilmu itu, langsung atau tidak langsung”

“Apakah maksudmu dengan pengertian langsung atau tidak langsung?”

“Ketahanan kesadaranku dengan sendirinya akan melawan pengaruh itu terhadap diriku paman, tetapi akupun mampu melawan kekuatan itu langsung mematahkan sumber sirep itu sendiri”

Ki Mina mengangguk-angguk, lalu “Dan kau ingin mengatakan bahwa sekarang ini telah terjadi pengaruh itu? Bahwa istana ini telah diselimuti oleh kekuatan sirep?”

“Ya, paman”

Ki Mina menarik nafas dalam-dalam, katanya sambil menepuk bahu anak muda itu “Ilmumu benar-benar hampir sempurna Panon, tetapi kau masih perlu mematangkannya, dengan pengalaman-pengalaman, namun jarang sekali anak muda sebaya dengan kau berhasil memiliki ilmu yang demikian tinggi, Aku melihat Raden Kuda Rupaka, kemudian anak muda yang duduk diatas batu, yang menyimpang dari kebiasaan seperti kau sendiri. Tetapi aku sama sekali tidak berkecil hati, bahwa ilmu mereka berada diatas ilmumu, nampaknya mereka memang lebih yakin akan dirinya, dan mereka memiliki pengalaman yang jauh lebih panjang dari pengalamanmu, tetapi dalam benturan ilmu, jika terpaksa harus terjadi, maka aku masih merasa yakin, bahwa setidak-tidaknya kau dapat menyelamatkan dirimu sendiri”

Panon menarik nafas dalam-dalam, diluar sadarnya ia memandang Sangkan yang tidur dengan nyenyaknya, tiba-tiba saja terpercik perasaan ini membersit dihatinya, justru karena anak muda itu tidak memiliki ilmu apapun juga. Dengan demikian, ia tidak perlu memikirkan apapun yang terjadi di sekitarnya.

“Tetapi itu adalah pikiran-pikiran yang condong kepada kepentingan diri sendiri. Aku harus berbuat sesuatu yang dapat membantu melawan segala bentuk kejahatan meskipun hal itu akan menyulitkan driku sendri” Panon berkata kepada dirinya sendiri.

Dalam pada itu, Ki Mina kemudian berkata “Panon, jika perasaanmu benar, seperti yang aku rasakan, bahwa istana ini sudah terkena pengaruh sirep, maka tentu akan ada sesuatu yang terjadi. Karena itu, berhati-hatilah, kau tidak boleh ragu-ragu, apabila keadaan memaksamu untuk mengambil sikap. Keragu-raguan akan dapat menjadi permulaan dari kegagalan”

“Aku mengerti paman, dan aku merasakan pengaruh sirep ini menjadi semakin tajam”

“Akupun harus melawan dengan pemusatan pikiran jika pengaruh ini masih bertambah-tambah”

“Apakah aku sebaiknya langsung melawan sumber pengaruh itu paman?”

“Jangan sekarang, kita masih harus menunggu perkembangan. Aku mempunyai dugaan bahwa Raden Kuda Rupakapun dapat melakukannya”

Panon termangu-mangu, sejenak kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya “Apakah salahnya, jika aku melakukannya, bukan Raden Kuda Rupaka?”

Ki Mina tersenyum katanya “Kehadiran kita disini mempunyai kekhususan Panon, jika sirep itu kemudian hilang dengan tiba-tiba kerana perlawanan ilmumu secara langsung, maka Raden Kuda Rupaka tentu akan curiga, ia sudah tidak akan percaya bahwa kehadiran kita tanpa maksud, apalagi jika ilmumu itu kau gunakan sekarang, maka ia akan langsung menunjuk hidungmu tanpa dapat disangkal lagi”

Panon mengangguk-angguk, jawabnya “Ya, ya paman, aku mengerti. Untunglah aku datang bersama paman, banyak hal yang belum aku mengerti sebelumnya dan belum pernah aku pertimbangkan pula”

“Sekarang justru tidurlah, akupun akan tidur pula”

“Dalam keadaan seperti sekarang ini kita tidur?”

“Justru dalam keadaan seperti sekarang ini kita harus tidur, jika Raden Kuda Rupaka mengetahui bahwa kau tidak tertidur. Itupun merupakan pertanda kelebihanmu” ia berhenti sejenak, lalu “Bahkan mungkin justru Raden Kuda Rupaka sendirilah yang melepaskan ilmu sirep ini”

Panon mengangguk-angguk, sekali lagi ia berkata “Ya, ya paman”

Keduanyapun kemudian berbaring di pembaringan, setelah mereka menyelarak pintu.

Bab 22

Ternyata dugaan Ki Mina tidak salah, mereka yang sebenarnya masih belum tidur itu mendengar desis langkah dua orang diluar bilik itu.

Ki Mina menggamit Panon yang tidur di sebelahnya, dan agaknya, Panonpun mengerti maksudnya, sehingga iapun kemudian memejamkan matanya dan mengatur nafasnya.

Diluar, Raden Kuda Rupaka mencoba mengintip mereka yang berada di dalam bilik itu, tidak ada lagi tanda-tanda masih ada yang terjaga diantara mereka.

“Sudah tertidur” desis Raden Kuda Rupaka.

“Mereka tidak dapat bertahan” sahut Panji Sura Wilaga, “Agaknya mereka tidak pantas dicurigai lagi”

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, katanya “Belum pasti paman, mungkin mereka memang tidak memiliki ilmu yang tinggi, tetapi keharidan mereka di dalam istana ini benar-benar memerlukan pengawasan, siapa tahu, ia berhungan dengan orang-orang yang selama ini sangat berbahaya. Keduanya hanya ditugaskan mengambil keris itu dari istana ini, kemudian selanjutnya diserahkan kepada orang lain. Bukankah tidak selamanya kita dapat mengawasi mereka siang dan malam?, suatu saat kita akan tertidur pula, atau barangkali saat kita sedang berada di padukuhan”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, namun kemudian “Tetapi setidak-tidaknya mereka berdua tidak seberbahaya seperti yang kita duga semula”

Raden Kuda Rupaka merenung sejenak, namun kemudian ia berdesis “Ya, keduanya tidak terlalu berbahaya, namun demikian, kita masih harus tahu bahaya yang sedang mengintip malam ini paman. Kita tahu, bahwa sirep ini telah dilontarkan oleh seseorang diluar istana, jika semula kita hanya mendengar suara burung hantu dan gonggongan anjing liar yang mencurigakan, sekarang kita merasakan betapa tajamnya sirep ini.

“Kita siap menghadapi segala kemungkinan Raden” Jawab Panji Sura Wilaga.

Keduanya kemudian bergeser dari depan bilik itu dan berjalan perlahan-lahan menyusuri serambi belakang, istana itu telah benar-benar menjadi sepi, tidak seorangpun yang nampak masih terbangun, selain kedua orang yang sedang berjalan selangkah demi selangkah itu.

Namun sebenarnyalah bahwa Panon dan Ki Minapun masih juga belum lelap, mereka justru sedang memperhatikan dengan seksama, perkembangan suasana di sekitar istana yang kecil itu.

Dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilagapun kemudian lewat pintu butulan, turun ke halaman. Dengan hati-hati mereka menyusuri tempat-tempat yang gelap untuk melihat, apakah ada sesuatu yang membahayakan isi istana itu.

Tiba-tiba saja langkah mereka terhenti, merekka mendengar suara yang seolah-olah bergerak di belakang mereka meskipun perlahan-lahan.

Raden Kuda Rupaka memberika isyarat kepada Panji Sura Wilaga yang agaknya telah mendengar pula. Perlahan-lahan mereka bergeser mendekati dinding halaman. Dan kemudian ternyata bahwa, suara itu adalah benar-benar suara orang yang bercakap-cakap betapapun lirihnya diluar dinding halaman itu.

Sekali lagi Raden Kuda Rupaka memberi isyarat agar mereka mengikuti arah suara tadi.

Beberapa langkah mereka maju, namun kemudian mereka terhenti ketika suara itu mendekati regol halaman, meskipun masih diluar dinding.

Raden Kuda Rupakapun kemudian segara berlindung didalam kegelapan, sedang Panji Sura Wilaga berusaha mendekati pintu sambil melekat dinding juga, namun juga dalam bayangan rimbunnya dedaunan.

Dalam keremangan malam, maka mata mereka yang tajam segera melihat beberapa orang berdiri di pintu regol, yang perlahan-lahan terbuka setelah seseorang berusaha membuka selaraknya dari luar.

“Apakah kita akan masuk?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Ya, kita akan masuk, apapun yang terjadi” jawab yang lain “Dirumah ini hanya ada dua orang yang pantas kita perhitungkan”

“Mereka tidak akan dapat megalahkan kita semuanya, jika ada korban diantara kita, itu adalah akibat yang wajar”

Sejenak mereka termangu-mangu, namun kemudian intu regol itupun terbuka semakin lebar, dan beberapa orang itupun melangkah masuk.

“Hati-hatilah” berkata salah seorang dari mereka “Kau sangka bahwa kedua orang itu akan dapat kau nyenyakkan tidurnya dengan ilmu sirep itu”

“Jika mereka sedang tidur, maka sirep itu akan memperlemah kesadaran mereka, sehingga mereka tidak akan mudah terbangun. Kita akan berkesempatan untuk membunuh mereka sebelum mereka sadar sepenuhnya”

“Marilah kita masuk, kita harus bertindak cepat, sebelum sirep itu kehilangan kekuatannya”

Dalam keremangan melam nampaklah beberapa orang berjalan dengan hati-hati melintasi halaman langsung menuju ke pendapa istana kecil itu.

Dalam pada itu, Panji Sura Wilaga dan Raden Kuda Rupaka tidak akan dapat berdiam diri, ternyata bahwa apa yang mereka duga itu kini telah terjadi, bahwa pada suatu saat akan datang beberapa orang dengan kasar berusaha menemukan pusaka yang mereka sangka ada di dalam istana itu.

“Tetapi mereka tentu bukan Kidang Alit dan kawan-kawannya” berkata Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, di dalam hatinya, seolah-olah mereka telah membicarakannya terlebih dahulu.

Dengan sangat hati-hati pula Panji Sura Wilaga mulai bergerak mendekati Raden Kuda Rupaka, dengan suara yang hanya mereka dengan sendiri, ia bertanya “Apa yang akan kita lakukan Raden?”

“Sudah pasti, Kita akan bertempur, kita tidak akan dapat membiarkan pusaka itu jatuh ketangannya”

“Tetapi tidak seorangpun yang mengetahui dimanakah pusaka itu?”

“Mereka akan mencarinya sampai ketemu, jika tidak berhasil maka bibi akan menjadi korban”

Panji Sura Wilaga termenung sejenak, namun kemudian “Apakah tidak sebaiknya kita menunggu saja, sebelum kita yakin mereka menemukannya , biarlah mereka berbuat apa saja. Baru jika mereka benar-benar berhasil, maka kita akan merebutnya. Dengan demikian, jika kita harus mengorbankan jiwa kita, adalah pengorbanan yang tentu akan berarti”

“Tetapi mereka dapat berbuat kasar terhadap bibi dan diajeng Inten”

“Apakah yang akan dilakukannya atas seorang perempuan”

“Orang-orang sekasar mereka tidak akan membuat pertimbangan siapakah yang sedang mereka hadapi”

Keduanya terdiam sejenak, mereka melihat orang-orang itu agak termangu-mangu ditangga pendapa, diantara mereka nampak seorang yang agaknya merupakan pemimpin yang sangat disegani. Orang itu nampaknya berjanggut meskipun tidak begitu jelas di dalam kegelapan, tetapi sekali-sekali ia mengusap dagu dan mengurus janggutnya itu.

“Pemimpin mereka sudah agak tua” desis Panji Sura Wilaga.

Sebenarnyalah orang berjanggut itu adalah pemimpin dari rombongan dari perguruan Guntur Geni itu. Orang yang selama ini menjadi bayangan dari pendiri perguruan Guntur Geni yang mereka anggap telah berhasil membebaskan diri dari pengaruh waktu sehingga berapapun juga umurnya, ia tidak akan mati karena ketuaannya.

Didalam kegelapan Panji Sura Wilaga dan Raden Kuda Rupaka menjadi semakin tegang, tiba-tiba saja Raden Kuda Rupaka menggeram “Aku harus berbuat sesuatu”

“Mereka berjumlah lebih dari dua kali lipat. Mereka berlima”

Raden Kuda Rupaka memandang Panji Sura Wilaga sejenak, lalu katanya “Aku belum pernah melihat paman Panji Sura Wilaga sempat menghitung jumlah lawan, dan apalagi terpengaruh olehnya”

“Kita tidak boleh kehilangan perhitungan”

Raden Kuda Rupaka tidak menyahut, namun ia mulai bergeser mendekat.

“Raden mencemaskan puteri Inten Prawesti” tiba-tiba saja Panji Sura Wilaga berdesis.

“Ya…”

“Puteri sama sekali tidak menghiraukan Raden sebagai seorang anak muda, ia menganggap Raden benar-benar seperti kakaknya saja”

“Aku tidak berkeberatan, tetapi aku harus membebaskannya”

Panji Sura Wilaga tidak dapat mencegah lagi. Dengan menahan perasaan ia harus mengikut saja apa yang akan dilakukan oleh Kuda Rupaka meskipun sebenarnya ia tidak sependapat.

“Jika mereka mencoba membuka pintu pringgitan, kita akan segera naik, tetapi jika mereka akan mencarinya diluar rumah, kita akan menunggunya” desis Kuda Rupaka.

Panji Sura Wilaga tidak menjawab, mereka mengawasi saja kelima orang yang dengan lebih hati-hati lagi naik ke pendapa.

Agaknya perhatian kelima orang itu benar-benar tertumpah kepada isi istana yang suram itu, sehingga mereka sama sekali tidak memperhatikan keadaan disekitarnya, dan merekapun sama sekali tidak mendengar gemerisik pintu yang bergeser.

Panji Sura Wilaga dan Kuda Rupaka menjadi curiga, angin yang sangat lemah tidak akan dapat menggerakkan daun pintu regol itu.

“Tunggulah disini” desis Kuda Rupaka.

“Raden mau kemana?”

“Aku akan melihat, siapakah yang berada di luar regol” jawab Kuda Rupaka “Awasi mereka, dan jangan bergeser dari tempatmu, aku hanya sebentar”

“Bagaimana jika mereka memasuki pintu pringgitan?”

“Aku hanya sebentar” Kuda Rupaka tidak menunggu lagi, ia sudah mulai bergerak menuju ke regol halaman.

Dengan lincahnya ia bagaikan terbang didalam kegelapan. Panji Sura Wilaga mengawasinya dengan dada yang berdebar-debar, sekali-kali ia memandang ke pendapa yang diwarnai oleh cahaya obor yang redup. Namun dengan demikian ia melihat orang-orang itu masih saja ragu-ragu dan saling berbincang.

Dalam pada itu, Kuda Rupaka yang menuju keregol halaman itu tertegun sejenak, ia mendengar suara yang aneh diluar, tetapi ia memastikan bahwa suara itu adalah suara seseorang.

Dengan penuh kewaspadaan iapun kemudian bergeser. Sebuah loncatan yang cepat, telah membawanya keluar regol dengan kesiagaan untuk menghadapi segala kemungkinan.

Kuda Rupaka terkejut ketika ia melihat seseorang berdiri tegak diluar regol. Namun orang itupun agaknya mendengar desir langkahnya, sehingga iapun segera bersiaga pula.

Sejenak mereka saling berhadapan, namun kemudian terdengar suara Kuda Rupaka “Jadi kau Kidang Alit?”

“Sst” desis Kidang Alit “Aku mengikuti orang-orang itu karena aku yakin mereka akan memasuki halaman istana ini”

Kuda Rupaka termangu-mangu sejenak, ketika terlihat olehnya sesosok tubuh yang tergolek ditanah, ia bertanya “Siapakah orang itu?”

“Sudah tentu karena aku tidak ingin pusaka itu jatuh ketangan orang-orang Guntur Geni, aku tahu bahwa kau dan kawanmu itu akan dapat bertahan dari pengaruh sirep, tetapi kau berdua akan terlalu sulit untuk melawan mereka berlima”

“Jadi…?”

“Kali ini aku akan membantumu mengusir orang-orang Guntur Geni, kita memang harus bergabung, tanpa kerja sama yang baik, maka kita tidak akan dapat mengatasi mereka yang berjumlah lebih banyak. Baru sesudah itu, mungkin kita akan terlihat dalam perhitungan sendiri”

Kuda Rupaka menggeram, ia sadar betapa liciknya Kidang Alit, tetapi menghadapi keadaan yang berat saat itu, ia tidak dapat berbuat lain, katanya “Terserahlah kepadamu, tetapi sesudah orang-orang Guntur Geni itu kita tumpas, maka akan datang gilirannya aku membunuhmu”

Kidang Alit tertawa, katanya “Jangan kita bicarakan sekarang, itu hanya akan menimbulkan kegelisahan, karena sebenarnya kita sudah dapat mengetahui kemampuan kita masing-masing, dan jika pada suatu saat kita harus berkelahi, aku kira kita hanya akan memperhitungkan ketahanan kita masing-masing, mungkin tiga hari tiga malam, atau justru lebih”

“Jadi, kau sudah bertekad untuk membiarkan aku hidup?” bertanya Kuda Rupaka.

“Menurut penilaianku, kau lebih lemah dari kekuatan Guntur Geni, kematianmu akan menguntungkan orang-orang Guntur Geni yang mungkin tidak terlawan pula olehku”

“Kau akan menyesal, lebih baik kau biarkan aku mati oleh orang-orang Guntur Geni yang jumlahnya jauh lebih banyak”

“Sudahlah, nanti kita terlambat”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun kemudian iapun berkata “Baiklah, marilah kita masuk bersama-sama”

“Hati-hatilah dengan racun mereka”

Kuda Rupaka tersenyum, tetapi ia tidak menjawab lagi, keduanya kemudian memasuki halaman istana yang suram itu.

Sejenak mereka termangu-mangu, ternyata pintu pringgitan sudah terbuka.

“Mereka sudah masuk, cepat” desis Kidang Alit.

“Marilah” lalu sambil berpaling kedalam kegelapan ia memanggil “Paman Panji, marilah”

Sesosok tubuh segera meloncat dari kegelapan, namun Panji Sura Wilaga itu terkejut melihat seseorang yang bersama Kuda Rupaka, ternyata ia adalah Kidang Alit.

“Jangan kau persoalkan sekarang paman, biarlah ia berada dipihak kita sebelum kita membunuhnya kelak”

“Tetapi?”

“Tidak ada waktu untuk memberikan penjelasan, ia akan ikut mengusir orang-orang dari Guntur Geni”

“Kemudian kitalah sasarannya”

“Atau kita yang membunuhnya, tetapi nantilah kita bicarakan”

Ketiganyapun kemudian dengan tergesa-gesa kependapa, perlahan-lahan sekali Panji Sura Wilaga berbisik “Mereka sudah beberapa saat memasuki istana ini”

“Kita akan memancingnya keluar, lebih baik bertempur diluar daripada didalam rumah, bibi dan diajeng tentu akan menjadi ketakutan”

Ketiganya termangu-mangu sejenak, namun kemudian Kidang Alit berkata “Sebaiknya memang mereka kita pancing keluar”

Panji Sura Wilaga yang masih belum meyakini sikap Kidang Alit masih saja ragu-ragu, namun kemudian ia melihat Kuda Rupaka mendekati pintu sambil berkata “He, orang yang memasuki istana ini tanpa mengenal unggah-unggah, kau kira sikap deksura itu akan menguntungkanmu”

Sejenak mereka menunggu, mereka yakin bahwa suara itu tentu didengar oleh orang-orang yang berada didalam.

“He, orang-orang Guntur Geni” teriak Kidang Alit “Jangan ingkar, kami tahu kalian adalah orang-orang perguruan Guntur Geni”

Sejenak suasana menjadi tegang, tidak terdengar jawaban, namum orang-orang yang berada di luar pintu itu justru memastikan bahwa orang-orang yang berada di dalam itu sedang merayap perlahan-lahan keluar.

Sebenarnyalah Kiai Paran Sangit sangat terkejut mendengar suara justru berasal dari luar pintu itu.

“Kita salah hitung” desis Paran Sangit. “Kita sudah menduga, bahwa keduanya tidak akan dapat kita lelapkan dengan sirep, kecuali jika keduanya memang sudah tidur”

“Akupun menduga, tetapi bahwa mereka berada diluar pintu adalah aneh, kita tidak mengetahuinya kapan mereka keluar”

“Lalu apakah yang akan kita lakukan?”

Kiai Paran Sangit berfikir sejenak, lalu katanya “Kita adalah orang-orang Guntur Geni, kita tidak akan takut menghadapi apapun juga, marilah kita keluar dan membunuh orang-orang yang akan mengganggu kita”

Kelima orang itupun melangkah, tetapi tiba-tiba Kiai Paran Sangit berkata “Kita akan keluar berempat saja, seorang dari kalian mencari pembaringan puteri itu, yang tua atau yang mudua, bawalah ia keluar dan puteri itu akan kita pergunakan untuk memaksa siapapun untuk menyerah, jika tidak maka kita akan tetap membunuhnya. Kematian puteri itu tentu akan mempengaruhi ketahanan kedua orang itu untuk bertempur terus”

“Baiklah” tiba-tiba seorang yang berwajah hantu menyahut “Akulah yang akan mengambil puteri itu”

Kiai Paran Sangit memandang orang yang berwajah hantu itu sejenak, lalu “Baiklah, pergilah”

Ketika orang berwajah hantu itu mulai melangkah, maka Kiai Paran Sangitpun dengan tergesa-gesa bersama ketiga orang kawannya menuju ke pintu. Tetapi ia terhenti sejenak, dengan sangat hati-hati mereka melangkah mendekati daun pintu yang hanya sedikit saja terbuka.

“Kami sudah menunggu” terdengar suara diluar pintu.

Kiai Paran Sangit menggeram, dengan hati-hati ia mendorong daun pintu itu sehingga terbuka semakin lebar.

Dengan wajah yang tegang ia melihat tiga orang berdiri dipendapa, mereka sudah siap untuk bertempur, menghadapi siapapun juga.

Kiai Paran Sangit ke daun pintu yang sudah terbuka itu. Ketiga orang yang berada diluar mulai berpencar, seorang berada ditengah, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri.

Kiai Paran Sangit dengan langkah satu-satu keluar ke pendapa diiringi olehn ketiga orang kawannya. Sekilas ia memandang ke regol yang dalam keremangan malam nampak terbuka lebar.

“Kawanmu yang di regol sudah mati” tiba-tba saja Kidang Alit berdesis.

Kiai Paran Sangit terkejut mendengar kata-kata Kidang Alit yang berdiri di sebelah kanan. Dengan wajah yang tegang ia memandangnya tanpa berkedip.

“Jangan marah” desis Kidang Alit “Kematian memang merupakan kemungkinan yang harus di perhitungkan sejak kita berangkat ke pegunungan ini”

“Kau benar” berkata Kiai Paran Sangit “Kita memang harus memperhitungkan kemungkinan itu, tetapi kemungkinan yang tidak aku perhitungkan adalah kerja sama yang aneh antara kedua bangsawan ini dengan kau, Kidang Alit”

“O, kau juga mengenal aku?”

“Aku mengenalmu dan dua orang yang berada di banjar itu, kau telah menjadikan kedua anak buahmu seolah-olah orang dari Guntur Geni”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, lalu “Kau bermimpi, aku seorang diri disini”

Tetapi Kiai Paran Sangit tertawa, katanya “Baiklah jika kau ingkar, akupun menduga bahwa kedua kawanmu sekarang berada di sekitar istana ini”

“Terserahlah, memang khayalan yang dilandasi oleh ketakutan itu dapat membuatmu menyusun ceritara yang bukan-bukan, kau dapat menghitung anak buahmu, dan kau akan menemukan kedua orang itu diantara kalian”

Kiai Paran Sangit masih tertawa, tetapi iapun kemudian berkata “Baiklah, kita tidak akan mempersoalkan kedua orang itu lagi, disini ternyata kau mendapat kawan baru, Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga. Ternyata bahwa kesabaran dan kelicikanmu memang menguntungkan. Sebabnya aku menunggu kapan kalian akan berbenturan. Dengan demikian aku akan dapat memanfaatkan keadaan, tetapi aku tidak sabar lagi, aku terpaksa datang lebih dahulu dari Kidang Alit dengan menempuh kemungkinan seperti yang terjadi sekarang”

“Sudahlah” potong Kuda Rupaka “Apapun yang kau perhitungkan, namun kali ini kalian memang harus berhadapan dengan kami bertiga, meskipun kelak, bahkan mungkin nanti setelah kalian terbunuh, aku harus membunuh pula Kidang Alit, sekarang bersiaplah untuk mati”

Suara Kiai Paran Sangit mengeras seperti juga suara Kidang Alit. Disela-sela derai tertawa itu terdengar suara Kidang Alit “Ia terlampau jujur, tetapi kemungkinan itu memang ada, sekarang marilah kita mengurangi lawan, kau atau aku atau Raden Kuda Rupakalah yang akan mati paling awal, kemudian kamatian-kematian lain akan menyusul, itu adalah taruhan yang wajar untuk memperebutkan pusaka yang tiada duanya di seluruh Majapahit”

Kiai Paran Sangit mengangguk-amgguk, selangkah ia maju sedang orang-orangnyapun mulai berpencar pula.

Sejenak kemudian terdengar suara Kiai Paran Sangit “Siapakah yang akan melawan aku? Selebihnya satu diantara kalian bertiga harus melawan dua orang anak buahku”

Raden Kuda Rupaka menggeram, ia pernah bertempur dan bahkan membunuh orang-orang dari Guntur Geni, tetapi ia sadar bahwa orang ini tentu memiliki kelebihan dari orang yang pernah dibunuhnya.

Namun demikian Raden Kuda Rupaka berkata “Aku akan melawan orang yang paling kuat diantara kalian, He agaknya kau adalah pemimpinnya, tetapi kau belum menyebutkan namamu menjelang kematianmu”

“Namaku Paran Sangit, aku memang tidak merahasiakan namaku, dan bahkan setiap orang sebaiknya mengenal, bahwa mereka tidak akan dapat melawan Kiai Paran Sangit”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya “Marilah, aku akan melawanmu”

Kidang Alit tertawa, katanya “Itu adalah pilihan yang paling tepat, dengan demikian kau berhasil memancing perang tanding. Tentu kau segan untuk bertempur melawan dua orang sekaligus”

“Persetan” berkata Kuda Rupaka “Apakah sebenarnya kau sendiri takut menghadapi dua orang dari Guntur Geni?”

“Aku dapat memilih, melawan dua orang, satu orang atau tidak sama sekali, aku akan ikut bertempur jika aku yakin bahwa aku tidak akan mati sekarang”

“Setan yang licik, tetapi baiklah, pilihlah lawanmu, siapapun yang kau pilih, kau sudah mengurangi jumlah lawan kami malam ini”

“Aku akan melawan dua orang dari mereka” geram Panji Sura Wilaga yang tidak sabar lagi.

Namun sementara itu suara tertawa Kiai Paran Sangit seolah-olah telah meledak, katanya “Kau tidak bertanya kepadaku atau kepada anak buahku, kau tidak saja berhak memilih lawan, tetapi aku dan anak buahkupun berhak pula:” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi baiklah, bagi kami tidak ada bedanya siapakah yang mati lebih dahulu, Kuda Rupaka, Panji Sura Wilaga atau Kidang Alit, semuanya memang harus aku hadapi, sekarang atau besok”

“Kau memang jantan Paran Sangit”

Kuda Rupaka tidak dapat menahan senyumnya, katanya “Suatu pujian yang menarik, kau sudah memaksa Paran Sangit memilih paman Panji Sura Wilaga untuk melawan dua orang, tetapi Paman Panji bukan orang yang licik seperti kau”

“Apakah kita akan berbicara saja?” tiba-tiba Panji Sura Wilaga memotong.

Kidang Alit menyahut “Tentu tidak, ayo, siapakah yang ingin mati oleh tanganku”

Kiai Paran Sangit tidak menjawab, tetapi ia maju selangkah mendekati Kuda Rupaka.

Anak buahnya segera memilih lawan masing-masing, ternyata bahwa dua orang diantara mereka memilih Panji Sura Wilaga, sedang seorang yang lain mendekati Kidang Alit.

Tetapi Kidang Alit memang licik, ia masih saja berkata “Aku akan turun ke halaman, aku lebih senang berkelahi tanpa diganggu oleh tiang-tiang pendapa”

“Gila” lawannya menggeram.

Namun Kiai Paran Sangit yang sudah berjanggut putih, yang sudah siap berkelahi melawan Kuda Rupaka, justru menyahut “Bagus, aku sependapat, mari kita turun ke halaman, agar senjata kita tdiak merusakkan tiang-tiang pendapa yang berukir indah ini”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak mau hanyut dalam arus perasaannya, karena ternyata menurut penilaiannya Kiai Paran Sangit itupun orang yang licik, meskipun tidak selicik Kidang Alit.

Demikianlah mereka segera turun ke halaman, Panji Sura Wilaga yang terus melawan dua orang itupun segera meloncat sambil menggeram, namun demikian seorang lawannya turun ke samping pendapa, iapun sudah mulai menyerang dengan garangnya.

Tetapi lawannya sempat mengelak, bahkan lawannya yang seorang lagi segera menempatkan diri dan bertempur berpasangan.

Raden Kuda Rupaka menahan nafasnya, ia sadar, bahwa Panji Sura Wilaga harus memeras segenap kemampuannya, beberapa saat yang lewat, ia pernah juga mengalami kesulitan untuk melawan dua orang sekaligus.

“Mudah-mudahan dua orang itu tidak setingkakt ilmunya dengan orang-orang Guntur Geni yang terbunuh beberapa waktu yang lalu” katanya di dalam hati, namun dalam pada itu ia yakin bahwa orang berjanggut putih itu tentu mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya.

Sejenak kemudian, halaman itupun telah dipenuhi oleh lingkaran-lingkaran perkelahian. Kidang Alit sudah harus bertempur melawan seorang dari anak buah Kiai Paran Sangit.

Tetapi dalam pada itu, ia masih juga sempat berkata di dalam hati “Aku akan membunuh orang ini, jika Kuda Rupaka atau Panji Sura Wilaga terbunuh pula, maka tugasku akan menjadi semakin ringan.

Dalam pada itu, Raden Kuda Rupakapun segera merasa, betapa lawannya kali ini memang lebih berat dari lawan yang pernah di bunuhnya. Kiai Paran Sangit yang tua itu ternyata memiliki kemampuan bergerak yang lincah, langkahnya ringan seperti tanpa menyentuh tanah, sedang pukulannya yang dahsyat menyalurkan hembusan angin yang keras.

Tetapi Kuda Rupaka bukannya anak muda yang dungu, ia mempunyai bekal yang cukup untuk melakukan tugasnya yang berat, sehingga karena itu, maka iapun segera menempatkan diri pada perlawanan yang seimbang dengan tekanan lawannya.

Yang segera nampak terdesak adalah Panji Sura Wilaga, kedua lawannya menyerang dari dari arah yang berbeda-beda, tetapi berurutan tanpa henti-hentinya.

Namun Panji Sura Wilaga sama sekali tidak berkecil hati, ia menyadari bahwa ketahanan tubuhnya melampaui ketahanan tubuh orang kebanyakan, ia dapat bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada untuk waktu yang seolah-olah tidak terbatas tanpa merasa lelah dan dengan kemampuan yang seakan-akan tidak menurun.

Tetapi untuk melawan dua orang dari Guntur Geni sekaligus, ia memang harus berjuang sekuat tenaga.

Dibagian lain terdengar suara tertawa Kidang Alit, ia masih sempat mempermainkan lawannya dengan berlari-lari kecil.

“Kita mencari tempat yang paling baik untuk bertempur” berkata Kidang Alit disela-sela tertawanya.

“Gila, disini kita bertempur” geram lawannya

“Aku tidak sampai hati membunuhmu di tempat terbuka, tetapi diantara semak-semak, maka kematianmu tidak begitu mempengaruhi jiwaku yang sebenarnya adalah penuh dengan belas kasihan”

Lawannya benar-benar telah berhasil dipancing kemarahannya, sehingga dengan demikian ia menyerang Kidang Alit yang memang mengharapkannya.

Dengan demikian, maka lawannya yang seolah-olah dikuasai oleh perasaannya saja tanpa pertimbangan nalar itu, telah berkelahi dengan kasarnya. Namun kadang-kadang serangannya sama sekali tidak terarah.

Dalam keremangan malam kidang Alit mencoba untuk melihat lingkaran-lingkaran perkelahian yang lain. Lampu di pendapa yang samar-samar dapat memberikan sedikit bayangan kemerah-merahan pada tubuh yang sedang mempertahukan nyawanya itu.

Kidang Alit menjadi kagum melihat Kuda Rupaka yang bertempur seperti angin prahara, serangannya yang mantap dan dahsyat kadang-kadang berhasil mendesak lawannya, orang pertama dari perguruan Guntur Geni.

Tetapi Kuda Rupaka yang masih muda itu, ternyata masih harus menilai pengalaman lawannya, meskipun secara jasmaniah ia memiliki kekuatan yang lebih besar, tetapi lawannya yang sudah berjanggut putih itu, seolah-olah mampu terbang mengelilinginya.

“Pada suatu saat Kuda Rupaka harus mengakui keunggulan Kiai Paran Sangit” desis Kidang Alit “Tetapi itu memerlukan waktu yang lama”

Namun kemudian ia tersenyum didalam hatinya. Lawannya yang hanya seorang itu cukup memberikan perlawanan yang sengit dan kasar karena kemarahannya. Tetapi Kidang Alit yakin, bahwa ia dapat mengalahkannya.

“Mudah-mudahan aku dapat membunuh orang ini lebih dahulu dari Kiai Paran Sangit, tetapi agaknya memang demikian, Kuda Rupaka adalah lawan yang cukup berat bagi orang-orang Guntur Geni itu”

Demikianlah setelah Kidang Alit berhasil memaksa lawannya bertempur dengan liar dan hampir kehilangan nalarnya, mulailah ia membenahi dirinya untuk secepat-cepatnya membunuh lawannya itu.

Dengan demikian, maka di halaman istana kecil itu telah terjadi hiruk pikuk yang menegangkan, perkelahian dalam tiga lingkaran pertempuran yang dahsyat seolah-olah telah membakar seluruh halaman istana itu.

Namun dalam pada itu, di dalam istana seseorang telah melangkah dengan hati-hati menuju ke bilik Raden Ayu Kuda Narpada, orang yang berwajah hantu itu termangu-mangu sejenak, ia mencoba mendengarkan apakah pengaruh sirepnya cukup kuat sehingga hiruk pikuk di halaman tidak membangunkan orang-orang yang berada di dalam istana itu.

“Tidak seorangpun yang terbangun” berkata orang yang berwajah hantu itu di dalam hatinya. “Aku akan mengambil puteri yang muda, aku akan menyeretnya ke halaman untuk memaksa Kuda Rupaka menghentikan perlawanannya, kemudian, setelah membunuh orang-orang itu, dan setelah menemukan pusaka itu di dalam istana ini, aku akan membawanya kembali ke padepokan” tetapi ia mengerutkan keningnya, lalu “Ah tidak, aku tidak akan membawanya ke padepokan tentu akan dapat menimbulkan persoalan, aku juga harus menyerahkannya kepada orang-orang gila tidak ikut bersusah payah mengambilnya, dan dengan demikian aku tidak akan dapat memilikinya sendiri” ia tersenyum, namun kemudian keningnya berkerut merut “Lalu akan aku bawa kemana gadis secantik itu?”

Bab 23

Ia termangu-mangu sejenak, namum kemudian “Persetan, sekarang aku harus mengambilnya dan membawanya ke halaman depan”

Di halaman perkelahian semakin lama menjadi semakin sengit, Panji Sura Wilaga telah benar-benar terdesak, tetapi ia masih mampu melindungi dirinya sendiri dari tekanan maut, meskipun ia harus memeras segenap kemampuan yang ada padanya.

Setiap kali Kidang Alit melihat, ia tersenyum kecil, ia tinggal menghitung waku, kapan Panji Sura Wilaga terbunuh, dan kapan pula ia berhasil membunuh lawannya yang sudah terdesak itu.

“Kematian demi kematian akan menyusul” desisnya “Bukan saja di halaman ini, tetapi juga di bagian belakang dan bagian dalam istana ini.

Senyumnya menjadi semakin lebar, ketika ia mendengar auman seekor harimau, suara harimau itu benar-benar menggoncangkan halaman yang sedang diwarnai oleh perkelahian yang dahsyat itu, setiap orang di halaman itu mengetahui bahwa suara itu bukanlah benar-benar suara seekor harimau.

Wajah Raden Kuda Rupaka yang tegang menjadi semakin tegang, ia mengerti bahaya yang akan menerkam dari belakang istana itu, bahaya yang tidak dapat diduga, betapa besar kemampuannya.

Ternyata bahwa dua orang yang berada di banjar padukuhan itu telah siap untuk memasuki istana itu dari bagian belakang, seperti yang diperhitungkan oleh Kidang Alit, maka keduanya kemudian akan dengan leluasa mencari pusaka-pusaka itu, dan jika perlu membunuh siapapun juga yang menghalanginya, termasuk Raden Ayu Kuda Narpada sendiri dan sudah barang tentu, Kidang Alit berpesan agar Inten Prawesti dan seorang gadis anak pembantunya Pinten, harus dapat dikuasai dalam keadaan hidup.

Namun dalam pada itu, betapapun kegelisahan yang melanda dada Kuda Rupaka, namun ia tidak dapat bergeser dari tempatnya, ia harus memeras segenap ilmunya untuk melawan Kiai Paran Sangit.

“Licik dan Gila” geramnya di dalam hatinya, Kuda Rupaka sadar bahwa Kidang Alit benar-benar berhasil mempergunakan keadaan itu untuk kepentingannya.

Dan ternyata bahwa Kidang Alit yang bertempur itupun sempat tertawa sambil berkata “Kita akan sampai pada suatu saat yang menentukan sekarang, siapakah yang akan berhasil membawa pusaka dari Majapahit itu, meskipun kita masih meragukan pusaka yang manakah yang berada di dalam istana ini. Namun menurut penilikan beberapa orang ada beberapa pusaka tidak ada di istana, Kiai Cangkring, Kiai Nagasasra, Kiai Mandarang atau bahkan Kiai Sangkelat. Tentu salah satu dari pusaka itulah yang telah diserahkan kepada Pangeran Kuda Narpada, dan aku condong menduga, bahwa kita sedang memperebutkan pusaka Kiai Mandarang. Dengan bekal itu, kita akan mencari pusaka kedua, Kiai Nagasasra dan kemudian mencuri Kiai Sabuk Inten dan Kiai Sumelang Gandring” Kidang Alit berhenti sejenak, namun kemudian ia melanjutkan “Alangkah sulitnya perjuangan ini, dilangkah pertama kita sudah menjumpai banyak sekali kesulitan dan korbanpun berjatuhan, sedangkan korban itu adalah anak-anak Guntur Geni dan putera-putera Demak sendiri, apalagi dalam perjuangan selanjutnya, maka korban tentu akan semakin banyak jatuh”

Raden Kuda Rupaka menggeram, ia tidak sempat menyahut karena ia harus bertempur mati-matian untuk mempertahankan hidupnya.

Kidang Alit masih saja tersenyum, bahkan kemudian ia tertawa sambil bertempur, katanya “Matilah yang harus mati malam ini, jangan menyesal bahwa kalian bahwa kalian tidak akan dapat ikut dalam perebutuan berikutnya”

Tidak seorangpun yang menjawab, apalagi Panji Sura Wilaga yang menjadi semakin terdesak karenanya.

Ternyata sambil tersenyum Kidang Alit masih berkata selanjutnya “Jika Pangeran Kuda Narpada tidak berkeras hati untuk mempertahankan pusakanya, maka keadaan tentu tidak akan menjadi seperti sekarang, jika dengan suka rela ia menyerahkan pusaka yang diterima langsung dari Maharaja Majapahit yang terdesak itu kepada Pangeran Cemara Kuning dan Sendang Prapat, maka persoalan tentu sudah lama selesai dan keluarga di istana ini akan dapat hidup dengan tenang.”

Yang terdengar adalah desah nafas dan langkah mereka yang sedang bertempur dengan sengitnya.

Kidang Alit tertawa, ternyata lawannya tidak sekuat Kidang Alit sendiri, sehingga untuk melawannya, ia masih sempat berbicara berkepanjangan.

Namun dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka benar-benar harus mengerahkan segenap kemampuannya. Orang yang berjanggut putih itu benar-benar memiliki kemampuan yang tidak terkalahkan, meskipun Kuda Rupaka masih juga mampu bertahan.

“Orang ini memiliki kelebihan dari orang-orang Guntur Geni yang lalu” berkata Raden Kuda Rupaka didalam hatinya.

Dan ternyata tekanan ilmu orang berjanggut putih itu memang menjadi semakin berat. Bahkan sekali-kali Kuda Rupaka sudah terdesak surut.

Kidang Alit memperhatikan semuanya itu dengan senyum dibibirnya. Perhitungannya tentu akan berhasil, malam ini orang-orang Guntur Geni akan terbunuh di halaman istana ini, bersama dengan Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, di bagian belakang kedua orang kawannya akan membunuh setiap orang laki-laki yang mencoba menghalanginya, mungkin kedua perantau itu dan sekaligus anak muda yang gila itu, anak Nyi Upih yang meskipun tidak akan melawan dengan olah kanuragan tetapi ia akan dapat mengganggu bagi usahanya seterusnya.

Dan semakin lama semakin nampak pula, betapa panji Sura Wilaga tentu benar-benar mengalami kesulitan yang tidak akan mungkin teratasi lagi. Kedua orang Guntur Geni itu seolah-olah dengan sengaja telah menggiringnya ke dinding batu disebelah regol. Jika Panji Sura Wilaga tidak mampu lagi berloncatan surut, maka adalah pertanda bahwa hidupnya memang sudah akan berakhir.

Apalagi Kuda Rupakapun nampaknya menjadi semakin terdesak pula, dan ini adalah berbeda dengan harapan Kidang Alit.

“Jika orang berjanggut putih ini berhasil membinasakan Kuda Rupaka, maka tentu akupun akan mengalami kesulitan untuk melawannya” berkata Kidang Alit di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa orang pertama dari Perguruan Guntur Geni itu memiliki ilmu yang luar biasa, meskipun demikian Kuda Rupaka masih bertahan terus.

Dalam pada itu, Kiai Paran Sangit telah mengerahkan segenap ilmunya, ia harus secepatnya berhasil membunuh Kuda Rupaka, agar ia sempat menolong kawannya yang mengalami kesulitan melawan Kidang Alit, tetapi tidak terpikir olehnya untuk untuk mempergunakan racun, karena ia menyadari, bahwa lawannya telah memiliki alat penawarnya.

Karena itu, Kiai Paran Sangit mencoba untuk melumpuhkan lawannya dengan kecepatannya yang sulit diikuti oleh mata lawannya.

Namun Kidang Alit masih mempunyai harapan, didalam hatinya ia berkata “Kedua orang kawannya yang memasuki halaman belakang itu tentu akan segera menyelesaikan tugasnya. Mereka akan segera tampil di halaman ini, untuk membunuh pula orang-orang Guntur Geni dan kedua bangsawan gila itu”

Demikianlah, pertempuran itu semakin lama menjadi semakin jelas, siapakah yang akan segera kehilangan kesempatan dalam perebutan seterusnya.

Tetapi dalam pada itu, yang tidak terduga-duga telah terjadi, selagi Panji Sura Wilaga sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar, karena punggungnya telah melekat pada dinding halaman, tiba-tiba saja sesosok bayangan telah meloncat mendekatinya sambil berkata “Maaf Raden Panji, bukan maksudku mengganggu, tetapi aku tidak akan dapat tinggal melihat perkelahian yang tidak adil ini”

Setiap mata mencari kesempatan untuk memperhatikan siapakah orang ini, dan hampir bersamaan mereka bergumam “Pengembara itu”

Sebenarnyalah bahwa Panon telah tampil diarena, ia tidak dapat menyembunyikan dirinya lebih lama lagi, apalagi ia melihat bahwa keadaan Panji Sura Wilaga sangat membahayakan, selebihnya, iapun telah mendengar rencana Kidang Alit yang sangat licik.

“Kau Pengembara bodoh itu” geram Panji Sura Wilaga yang mendapat kesempatan untuk bernafas justru karena kedua lawannya sedang memperhatikan kehadiran Panon.

“Ya, betapapun juga aku merasa, bahwa selama ini aku telah menumpang di istana ini, aku tahu, bahwa hidup kami selama kami disini, sebagian besar adalah karena kemurahan hati Raden Kuda Rupaka, karena itu, dalam keadaan ini, betapapun juga, aku akan ikut membantu sesuai dengan kemampuanku”

“Kau Gila, He?” tiba-tiba saja Kidang Alit berteriak “Kau akan digilas oleh benturan ilmu yang tidak kau mengerti, He… pengembara miskin, pergilah. Atau barangkali kau memang ingin mati”

Panon memandang Kidang Alit yang nampak remang-remang didalam kegelapan, apalagi agaknya Kiang Alit bertempur diantara pohon-pohon perdu dan batang-batang bunga ceplok piring, namun kemudian terdengar Panon Menjawab “Ini adalah suatu cara bagiku untuk mengucapkan terima kasih meskipun aku akan lumat diantara ilmu-ilmu raksasa yang tidak aku kenal.”

Kidang Alit termangu-mangu, ia mencoba menduga, apakah yang terjadi dibagian belakang istana itu, kenapa Panon masih tetap hidup dan mampu melepaskan diri dari pengaruh sirep.

“Mungkin juga seorang itupun mampu mengatasi kekuatan sirep ini” katanya dalam hati.

Sejenak kemudian halaman itu dicengkam oleh ketegangan yang semakin memuncak. Rasa-rasanya ada sesuatu yang tiba-tiba saja tampil diluar perhitungan mereka sebelumnya.

Dalam pada itu, Kidang Alitpun berkata “Baiklah pengembara dungu, lakukanlah apa yang akan kau lakukan, kau memang harus mati, disini atau di pembaringanmu”

Panon tidak menjawab, tetapi bahkan ia berkata kepada Panji Sura Wilaga “Raden Panji, biarlah aku mencoba melawan salah seorang dari kedua orang ini, adalah tidak adil bahwa seorang diri harus berkelahi melawan dua orang sekaligus”

“Apakah yang kau ketahui tentang perkelahian semacam ini” bentak Kidang Alit “Jangan banyak berbicara lagi, matilah, jika kau ingin mati”

Panon memandangnya sekilas, namun ia masih tidak menyahut.

Panji Sura Wilaga sendiri menjadi termangu-mangu, tetapi ia tidak mencegahnya, jika benar seorang lawannya akan membunuh Panon, maka betapapun singkatnya, ia akan mendapat kesempatan untuk memperbaiki keadaannya, selebihnya, setelah Panon mati, maka ia tentu sudah berhasil melepaskan diri dari himpitan kedua lawannya pada dinding halaman ini.

“Mungkin aku akan mendapat kesempatan lain” katanya dalam hati, “Aku tidak boleh membiarkan diriku didesak sehingga kehilangan kesempatan bergerak”

Karena itulah, maka Panji Sura Wilagapun kemudian bertanya “Panon, apakah kau sudah memikirkan akibat dari tingkahmu yang aneh ini?”

“Sudah Raden Panji”

“Terserahlah kepadamu, kematianmu adalah tanggung jawabmu sendiri”

Panon tidak menjawab, tetapi ia melangkah maju mendekati lawan Panji Sura Wilaga yang mengurungnya pada dinding halaman.

“Bunuh anak itu secepatnya “Tiba-tiba Paran Sangit berteriak “Aku muak melihatnya, dan akupun akan segera membunuh Raden Kuda Rupaka, kemudian yang berikutnya adalah Kidang Alit sebelum yang terakhir adalah kedua orang-orangnya yang tentu hadir pula di halaman istana ini, tetapi aku kira mereka akan langsung memasuki kebun belakang dan mencoba mencari pusaka itu selagi kita bertempur”

Suara Kiai Paran Sangit yang agak serak itu rasa-rasanya telah membangunkan setiap orang yang ada di halaman itu, merekapun serentak terlibat lagi dalam perkelahian yang sengit.

Tetapi dalam itu, seorang lawan Panji Sura Wilaga yang tidak dapat menahan hatinya lagi, seperti angin prahara telah menyerang Panon yang masih berdiri membeku.

Panon yang masih belum banyak berpengalaman terkejut mendapat serangan-serangan yang tiba-tiba sekali itu, justru seolah-olah dengan sengaja mempergunakan kesempatan selagi ia belum bersiap.

“Licik” geramnya, tetapi Panon sempat mengelak.

Yang terdengar kemudian adalah umpatan yang keluar “Gila, kau sempat mengelak”

Panon yang belum berpengalaman itu, ternyata masih berhasil mengelak, meskipun ia masih ragu-ragu, namun agaknya pembajaan diri yang dilakukan didekat sebuah gubuk kecil, ditempat yang terpecil meskipun tidak terlalu jauh dari padukuhannya, dibawah bimbingan seorang guru yang cacat itu, telah memberikan bekal yang cukup baginya.

Kuda Rupaka, Panji Sura Wilaga dan Kidang Alitpun berdesir melihat serangan secepat tatit itu, semula mereka menyangka bahwa Panon akan dapat diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat, sehingga Panji Sura Wilaga belum sempat memperbaiki keadaannya, tetapi ternyata bahwa serangan yang pertama yang dilancarkan dengan tiba-tiba dan demikian dahsyatnya itu, berhasil dielakkan oleh pengembara muda itu.

“Tetapi aku sudah menduga” berkata Kidang Alit didalam hatinya “Tentu ia merasa mampu mempertahankan hidupnya pada saat ia memasuki arena ini, bahkan sejak ia memutuskan untuk masuk ke halaman istana ini”

Demikianlah, maka perkelahian selanjutnya telah bertambah dengan satu lingkaran lagi, Panon ternyata sama sekali tidak mengalami kesulitan melawan orang dari Guntur Geni itu.

Dengan tangkasnya ia berloncatan diatas tanah yang mengeras di halaman, menjauhi lingkaran perkelahian Panji Sura Wilaga, sehingga dengan demikian, maka Panon dengan sepenuhnya mencoba kemampuannya dengan salah seorang murid dari Guntur Geni.

Karena itulah, maka Panji Sura Wilaga yang kehilangan seorang lawannya menjadi agak lapang untuk bernafas, ia segera berusaha menjauhi dinding batu yang mengelilingi halaman istana itu, sehingga dengan demikian ia mendapat kesempatan untuk bertempur sebaik-baiknya.

Kuda Rupaka yang harus bertempur dengan segenap kemampuannya melawan Kiai Paran Sangit, masih saja sempat melihat Panji Sura Wilaga yang terlepas dari kesulitan, namun dengan demikian ia sudah mulai membayangkan kesulitan baru yang akan dihadapinya karena anak muda yang mengaku dirinya pengembara itu.

Sementara itu Panji Sura Wilagapun dapat melihat, betapa Kuda Rupaka didera kesulitan yang seolah-olah semakin menekan, bahkan kemudian nampak, bahwa ia sudah hampir kehilangan kesempatan sama sekali untuk mempertahankan dirinya.

Dalam pada itu, Kidang Alit yang masih saja selalu tersenyum itupun mengerutkan keningnya, ia melihat hadirnya kekuatan baru yang lebih besar dari yang diduganya. Bahkan Panon yang semula dianggapnya tidak menentukan, namun ternyata bahwa anak muda itu benar-benar harus diperhitungkan, apalagi kemampuan Paran Sangit benar-benar diluar dugaannya.

“Jika Kuda Rupaka dapat dikalahkan, maka akupun tentu akan mengalami kesulitan melawan orang tua itu” berkata Kidang Alit dalam hatinya

Tetapi sekali lagi ia meletakkan harapannya kepada dua orang kawannya yang memasuki kebun istana itu dari belakang dan akan menyelesaikan tugas-tugas yang lain sebelum Ia harus memasuki arena.

Dalam pada itu, selagi perkelahian menjadi bertambah sengit dan menentukan, tiba-tiba terdengar suara jerit melengking dari dalam istana itu, jerit yang susul menyusul.

Belum lagi suara itu lenyap, terdengar suara tertawa Paran Sangit yang menggetarkan halaman, dengan lantang ia berkata “Seorang anak buahku telah berhasil menangkap salah seorang puteri di dalam istana ini, agaknya mereka telah terlepas dari pengaruh sirep yang semakin lemah, tetapi ia tidak akan ada artinya, sebentar lagi seorang dari perguruan Guntur Geni itu akan membawa puteri itu kemari dan memaksa kalian untuk melepaskan senjata dan menyerahkan leher kalian”

Yang terdengar adalah gemeretak gigi Kidang Alit yang bertempur diantara batang-batang perdu menggeram “Itu licik sekali”

Tetapi Paran Sangit masih tertawa “Apa boleh buat”

“Kenapa kau tidak berbuat jantan seperti yang kami sangka selama ini?” Kuda Rupakapun menggeram,

“Tidak seorangpun yang berbuat jantan diantara kita, tetapi seandainya kalian berbuat jantan, dan ternyata aku adalah seorang yang paling licik, aku sama sekali tidak berkeberatan, biar saja aku berkelahi dengan licik, asal aku berhasil mendapatkan pusaka itu”

Namun tiba-tiba saja terdengar jawaban yang sama sekali tidak terduga terlontar dari mulut Kuda Rupaka “Aku tidak perduli dengan perempuan-perempuan yang manapun juga yang ada di dalam istana ini, yang penting bagiku adalah pusaka itu, jika kau ingin memaksa kami menyerah dengan mencancam bibi Kuda Narpada, atau bahkan diajeng Inten Prawesti, aku sama sekali tidak akan menyerah”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, tetapi juga Panon heran mendengar jawaban itu, namun kemudian terdengar sekali lagi suara Kiai Paran Sangit sambil menyerang “Kau mencoba untuk menyembunyikan perasaanmu, seolah-olah kau tidak terpengaruh sama sekali dengan jerit itu?, tetapi kau tidak dapat mengelabui aku, kau adalah kemanakan Kuda Narpada, karena itu, maka kau tentu berkepentingan lagi keselamatannya”

“Aku lebih mementingkan pusaka itu dari apapun juga, bahkan seandainya mereka menghalangi aku menemukan pusaka itu, akulah yang akan menyingkirkan mereka dari istana ini, hidup atau mati”

“Kau berkata sebenarnya?” tiba-tiba Kidang Alit menyela.

“Itu tidak penting” Panji Sura Wilagalah yang menyahut “Kami akan membinasakan kalian semuanya untuk mendapatkan pusaka itu”

“Tetapi jerit itupun tidak berarti lagi apa-apa bagi kami, karena itu, jangan mencoba untuk melemahkan perjuangan kami dengan beralaskan perempuan-perempuan yang bagi kami sama sekali tidak berarti”

Panon yang bertempur itupun tidak dapat menahan hatinya, hampir diluar sadarnya ia bertanya “Tetapi bukankah mereka itu keluarga Raden?”

“Persetan” geram Kuda Rupaka yang mencoba memperbaiki keadaannya.

Namun ternyata bahwa jerit itu benar-benar tidak mempengaruhi perjuangan Raden Rupaka, ketika ia mendapat kesempatan, ia telah mencoba membebaskan dirinya dari tekanan yang sangat menghimpit.

“Apakah benar-benar kau membiarkan perempuan-perempuan itu mati tanpa belas kasihan darimu?” berkata Paran Sangit selanjutnya.

“Aku tidak peduli”

“Dengan satu isyarat, akan berarti mereka mati terbunuh di dalam biliknya atau di pendapa ini”

“Aku tidak peduli” teriak Kuda Rupaka.

Kiai Paran Sangit menjadi heran, tetapi iapun menjadi heran pula, bahwa kawannya yang berwajah hantu itu tidak membawa perempuan itu ke pendapa, dengan demikian tentu akan lain sekali kesannya, bahwa orang-orang Guntur Geni tidak hanya sekedar bermain-main.

Tetapi tiba-tiba saja Kiai Paran Sangit itu tertawa berkepanjangan, katanya “ O, orang ini memang gila, ia lebih mementingkan dirinya sendiri, apalagi jika ia melihat perempuan cantik, aku tidak dapat mengatakakan, apa yang telah dilakukannya atas puteri Inten Prawesti”

“Gila” teriak Kidang Alit dan Kuda Rupaka hampir berbarengan.

Namun kemudian terdengar suara Panon “Tidak ada yang lebih rendah dari martabat orang semacam itu, akulah nanti yang akan membunuhnya”

Suara Paran Sangit masih menggema.

Namun tiba-tiba suara itu terputus ketika tiba-tiba ia mendengar keluhan tertahan, Panon yang tidak dapat menahan perasaannya lagi, tiba-tiba telah mengerahkan segenap kemampuan yang pernah dipelajarinya dari gurunya. Kecepatan bermain dengan pisau, merupakan kemampuannya yang telah mengejutkan lawannya, itulah sebabnya, maka ketika terasa sebilah pisau mematuk lengannya, orang Guntur Geni itu mengeluh.

Tetapi Panon tidak dapat mengekang dirinya lagi, bayangan yang bermain diangan-angannya tentang puteri Inten Prawesti di dalam kekejian tangan orang Guntur Geni yang gila itu, benar-benar membuatnya kehilangan pertimbangan lain, karena itulah, maka tiba-tiba dua buah pisau telah meluncur dan menyambar dada lawannya meskipun ia berhasil mengelakkan yang sebuah lagi.

Lawannya terhuyung-huyung dan jatuh terlentang diatas tanah dengan nafas yang terengah-engah.

Ternyata hal itu telah mengejutkan seisi halaman, anak muda yang kurang diperhitungkan itulah yang pertama-tama telah menyelesaikan lawannya murid dari perguruan Guntur Geni.

Kiai Paran Sangit menggeretakkan giginya, kemarahan yang memuncak telah membakar dadanya, namun ia tidak segera dapat berbuat sesuatu atas anak muda itu, karena ia masih terikat pada lawannya, Kuda Rupaka.

Kuda Rupakalah yang kemudian hahrus mengalami tekanan kemarahan Kiai Paran Sangit, dengan susah payah ia mencoba untuk menyelamatkan dirinya dari serangan yang membadai.

Sementara itu, Panon yang telah kehilangan lawannya segera berlari meninggalkan halaman itu langsung masuk ke ruang dalam, ia tidak dapat membiarkan perlakuan yang paling gila terjadi atas puteri Inten Prawesti.

Namun dalam pada itu, kematian salah seorang murid Guntur Geni itu ternyata telah mempengaruhi arena perkelahian. Panji Sura Wilaga yang tinggal berhadapan dengan seorang lawannya, tiba-tiba mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Selagi lawannya masih dicengkam oleh peristiwa yang mengejutkan itu, Panji Sura Wilagapun menyerangnya dengan sepenuh kemampuan yang ada pada dirinya.

Ternyata anak Guntur Geni yang seorang diri itupun tidak mampu bertahan, ia menyadari kelengahannya setelah terasa sebuah tusukan menggores dadanya.

Sekali lagi terdengar sebuah keluhan, dan sekali lagi anak Guntur Geni itu terlempar dari arena dan jatuh berlumuran darah.

Kiai Paran Sangit benar-benar terkejut melihat peristiwa yang terjadi secara beruntun itu, yang terjadi benar-benar diluar dugaan, semula ia menyangka bahwa yang harus dilawannya hanyalah Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga. Kemudian Kidang Alit tentu akan menghalang-halangi jika ia berhasil menemukan pusaka itu, namun ternyata yang terjadi adalah berbeda sekali dengan perhitungannya.

Kematian kawanya berarti membebaskan Panji Sura Wilaga dari arena perkelahian, dan itu akan sangat berbahaya baginya, Panji Sura Wilaga tentu akan segera membantu Kuda Rupaka yang sudah hampir kehilangan kesempatan itu.

Sementara itu, Kiai Paran Sangit masih menggeram, “Persetan dengan wajah hantu yang bodoh itu, kenapa ia tidak segera membawa perempuan itu kemari?, atau barangkali ia masih sibuk dengan kepentingannya sendiri”

Kata-kata itu memang mendebarkan jantung Kuda Rupaka dan Kidang Alit sekaligus, namun terdengar suara Kidang Alit yang bernada tinggi, “Jika sudah terlanjur terjadi, sebaiknya kalian memang harus dicincang disini”

Paran Sangit tidak menjawab, tetapi ia benar-benar menjadi cemas melihat Panji Sura Wilaga yang sudah kehilangan lawannya dan sudah bersiap-siap untuk membantu Kuda Rupaka.

Sejenak Paran Sangit menimbang-nimbang, ia akan dapat mengalahkan Kuda Rupaka yang sudah menjadi semakin terdesak, tetapi untuk melawan dua orang sekaligus, ia masih harus berpikir masak-masak, sedangkan seorang kawannya masih harus mempertahankan dirinya dari desakan Kidang Alit yang juga ternyata memiliki kemampuan yang tinggi.

Karena itu, maka Kiai Paran Sangit itu harus segera menemukan jalan keluar dari kesulitan yang sudah mulai membayang.

Sementara itu, Panon dengan tergesa-gesa berlari masuk ke ruang dalam, ia tidak ragu-ragu lagi untuk memasuki pintu dalam yang selama ia berada di istana itu, belum pernah terbuka baginya, Karena ia hanyalah seorang pengembara. Tetapi dalam keadaan yang gawat, ia tidak lagi teringat tentang dirinya sendiri.

Tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti, ketika ia melihat sesosok mayat yang berbaring di muka pintu bilik Raden Ayu Kuda Narpada, sedangkan di dalam bilik itu dilihatnya Raden Ayu Kuda Narpada yang ketakutan memeluk puterinya Inten Prawesti. Sedangkan Nyi Upihpun telah memeluk anak gadisnya yang pucat pula.

Sejenak Panon termangu-mangu, ia tidak melihat darah yang memerah di lantai, dan ia tidak melihat luka pada tubuh mayat dari orang Guntur Geni itu.

“Kenapa ia bisa mati?” bertanya Panon diluar sadarnya.

Perempuan-perempuan yang ketakutan di dalam bilik itu sama sekali tidak menjawab.

Dalam pada itu, Panonpun teringat ketika ia mendengar langkah-langkah perkelahian di belakang istana itu, segera ia ingat kepada Kiai Mina, agaknya Ki Mina harus bertempur pula di bagian belakang.

“Ternyata istana ini telah benar-benar terkepung“ Gumam Panon “Dibelakangpun ada beberapa orang yang nampaknya juga termasuk orang-orang Guntur Geni.”

Setelah yakin bahwa orang-orang yang terbaring itu tidak bernafas lagi, maka Panonpun segera meninggalkan bilik itu dan menghambur ke serambi belakang.

Seperti yang diduganya, di halaman yang gelap, Ki Mina sedang bertempur melawan dua orang lawan yang ternyata cukup kuat, dalam waktu yang pendek, Panon segera mengetahui, bahwa Ki Mina telah terdesak dan bahkan sudah membahayakan keselamatannya, karena itulah maka Panon tidak berpikir panjang lagi, dengan serta merta iapun langsung terjun ke gelanggang yang sengit itu.

“Maaf Ki Mina, aku akan ikut serta dalam permainan ini”

“Bagaimana dengan perkelahian di halaman depan?”

“Mereka akan segera tertumpas. Beberapa orang telah terbunuh, mudah-mudahan akan segera berakhir meskipun masih cukup membingungkan”

Ki Mina tidak menjawab lagi, serangan kedua orang lawannya justru datang beruntun dengan dahsyatnya, sehingga ia terpaksa meloncat surut sejauh-jauhnya.

Tetapi lawannya tidak mau melepaskannya, justru mereka dengan gigi yang gemeretak karena serangan mereka yang masih saja dapat dielakkan.

Panon tidak dapat menunggu lebih lama lagi sambil berbicara saja, tiba-tiba iapun meloncat untuk menyelamatkan Ki Mina pada keadaan yang paling sulit itu, maka Panonpun dengan sengitnya justru telah mulai menyerang salah seorang lawan Ki Mina itu.

Dengan demikian, maka perhatian lawan Ki Mina telah terpecah, masing-masing kemudian harus menghadapi seorang lawan, sehingga dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itupun segera berubah.

Ki Mina segera dapat memperbaiki keadaannya, apalagi lawannya bukanlah seorang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi. Karena itu, maka sejenak kemudian, maka justru Ki Minalah yang berhasil mendesak lawannya.

Demikian juga keadaan Panon yang bertempur melawan seorang lawannya, tidak banyak kesulitan yang dialaminya, seperti saat ia bertempur melawan salah seorang murid dari Guntur Geni di halaman depan.

Meskipun demikian bukan berarti bahwa keduanya dengan serta merta dapat mengalahkan lawannya, jika mereka melakukan kesalahan, maka yang akan terjadi justru sebaliknya, karena mereka masing-masing bukanlah orang kebanyakan pula.

Dalam pada itu, yang bertempur di halaman belakang itu terkejut ketika mendengar isyarat di halaman depan. Sebuah siulan pendek, tidak begitu nyata, tetapi telinga yang tajam akan segera mendengarnya.

Ternyata Kiai Paran Sangit telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya yang masih hidup. Tidak ada kesempatan lagi baginya untuk mempertahankan diri, maka iapun segera mengambil keputusan untuk melarikan diri.

Agaknya Kiai Paran Sangit telah mengambil keputusan tepat pada waktunya, demikian Panji Sura Wilaga menempatkan dirinya disamping Kuda Rupaka, maka Kiai Para Sangit telah meloncat meninggalkan gelanggang.

Demikian juga seorang kawannya, meskipun ia tidak dapat mengalahkan Kidang Alit, namun agaknya ia masih sempat melarikan dirinya, menghilang diantara semak-semak di halaman.

Sejenak Kidang Alit termangu-mangu, perhitungannya terhadap kekuatan yang ada telah rusak karena kehadiran Panon dan terbunuhnya lawan Panji Sura Wilaga, sehingga Paran Sangit tidak berhasil membunuh Kuda Rupaka atau sebaliknya seperti yang diharapkannya. Karena itu, ia harus mengambil keputusan sementara, dibiarkannya orang Guntur Geni itu tetap hidup, mungkin masih dapat terjadi benturan-benturan yang akan berlangsung antara Kuda Rupaka dan orang-orang Guntur Geni. Mungkin orang-orang Guntur Geni itu akan memanggil kawan-kawannya untuk menghancurkan orang-orang yang berada di dalam istana itu.

Karena itu, maka Kidang Alit tidak mengejar orang Guntur Geni, bahkan kemudian ia sendirilah yang bersiap-siap untuk meninggalkan halaman itu. Karena dalam keadaan yang demikian mungkin sekali Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga kehilangan akal dan bersiap untuk membunuhnya bersama-sama.

“Orang-orangku yang ada di istana ini, akan berhadapan dengan Panon dan mungkin kawannya yang tua itupun memiliki kemampuan yang cukup” berkata Kidang Alit dalam hatinya.

Dugaannya ternyata tidak jauh meleset dari kenyataan yang dihadapinya. Tiba-tiba saja Kuda Rupaka yang kehilangan lawannya itu menggeram “Paman Panji, agaknya saatnya sudah tiba untuk membunuh orang ini pula.”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, dilihatnya Panji Sura Wilaga mempersiapkan dirinya pula.

Tetapi ternyata Kidang Alit masih sempat tertawa, katanya “Memang suatu cara yang baik untuk mengurangi lawan, karena itulah aku membiarkan orang Guntur Geni itu untuk melarikan diri, dengan demikian, maka aku berharap bahwa kalian masih merasa memerlukan aku untuk menghadapi bukan saja orang-orang Guntur Geni. Tetapi orang-orang yang ada di dalam istana ini, He Raden Kuda Rupaka, apakah kau tidak mengetahui, betapa anak muda yang menyebut dirinya pengembara itu memiliki ilmu yang luar biasa, ia adalah orang yang pertama yang berhasil membunuh lawannya. Apakah kau tidak mempertimbangkan, suatu kemungkinan lain akan terjadi atas kalian berdua?”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun yang terdengar adalah suara gemeretak giginya “Aku tidak peduli dengan kedua orang itu, mereka akan mati sebelum fajar menyingsing”

Suara ketawa Kidang Alit justru meninggi, katanya “Kalian memang terlampau sombong, tetapi kalian tidak akan berhasil jikka kalian tetap dalam kebodohan itu” Kidang Alit berhenti sejenak, lalu “Kenapa aku tidak membunuh kalian lebih dahulu?, aku mempunyai pertimbangan tersendiri, disaat terakhir, maka yang harus hidup adalah orang-orang yang paling lemah, dan yang paling lemah diantara kita semuanya adalah kalian berdua, juga sudah aku perhitungkan kedua orang pengembara itu”

“Gila”

“Baru kemudian aku. Nah kau dengar, aku adalah sebuah kekuatan yang termasuk lemah disini, sehingga aku memerlukan cara tersendiri untuk memenangkan perjuangan merebut pusaka-pusaka itu, bukankah dengan caraku sekarang ini, aku akan dapat menampilkan diri dalam perjuangan terakhir? Sayang, pengembara itu sudah merusak perhitunganku, jika tidak, maka kalian berdua tidak akan dapat melihat matahari besok pagi” sekali lagi ia berhenti sambil menarik nafas “Itulah sebabnya aku mengharap bahwa kita kan dapat hidup sampai perjuangan terakhir, kita akan dapat berhadapan dalam keadaan yang lapang, sehingga kita akan mengadu ilmu sampai tuntas, tetapi jika kau cemaskan nasibmu dengan cara itu, maka baiklah, apa yang akan kau lakukan sekarang ini. Apakah kita harus bertempur selagi pengembara-pengembara itu masih saja berkeliaran disini? Aku tidak tahu siapakah yang akan dibantunya, namun seandainya mereka membantumu, akupun sama sekali tidak cemas, karena aku mempunyai kawan yang cukup aku percayai untuk mengikat kedua pengembara itu dalam arena perkelahian.”

Raden Kuda Rupaka menggeram, Panon menyulitkan, apalagi setelah anak muda itu memiliki ilmu yang tinggi, sehingga masih harus diperptimbangkan semasak-masaknya apa yang akan dilakukan.

“Apakah membunuh Kidang Alit sekarang ini bagiku atau justru bagi pengembara itu?” bartanya Kuda Rupaka kepada diri sendiri.

Bab 24

Dalam keragu-raguan itulah, maka Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga mendengar isyarat yang terlontar dari mulut Kidang Alit, sejenak keduanya ragu-ragu, mereka tidak akan tahu arti dari isyarat itu.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Kuda Rupaka.

Kidang Alit tertawa, “Aku memerintahkan orang-orangku untuk menyingkir saja dari halaman ini. Nah jelas? Suara yang mirip dengan auman serigala itu merupakan pertanda aman bagi lawan-lawannya, tetapi jika aku menggonggong, maka ini adalah pertanda kematian bagi orang-orang yang menentang kemauanku”

“Kenapa kau tidak menggonggong sekarang?” geram Sura Wilaga.

“Perhitunganku belum masak, kedua pengembara itu sudah merusak semua rencanaku, aku berharap bahwa setelah orang-orang Guntur Geni, maka kesempatan untuk memperbandingkan ilmu dengan bangsawan dari Demak ini akan dapat aku lakukan, tetapi ternyata niat itu terganggu oleh anak gila itu”

“Persetan”

“Aku akan pergi sekarang”

Tetapi Panji Sura Wilaga melangkah maju sambil berkata “Kenapa bukan kau lebih dahulu yang kami bunuh, sebelum sisa orang-orang dari Guntur Geni dan kedua pengembara itu”

“Aku tidak keberatan jika kau memang menantang, aku dapat memanggil orang-orangku kembali, dan disini akan ada arena segi tiga yang menarik, tetapi pertempuran yang demikian tidak meyakinkan, karena itu, baiklah kita bersetuju untuk bertempur pada kesempatan lain tanpa ada pihak ketiga yang mengganggu. Aku akan mengambil seorang kawanku yang terpercaya, sehingga kita masing-masing akan melakukan perang tanding dengan jujur dan jantan”

“Tidak ada yang percaya kepada mulutmu, kau licik sekali dan terlebih-lebih lagi, tidak mempunyai harga diri sama sekali”

Kidang Alit tertawa, katanya “Sebenarnya aku adalah seseorang yang menjunjung tinggi harga diri, tetapi dalam hal ini, apakah arti harga diriku dibanding dengan nilai pusaka yang sedang kita cari sekarang ini”

“Persetan, jika kau sekarang masih memohon agar hidupmu diperpanjang, pergilah, mungkin aku segera merubah keputusanku dari membunuhmu sekarang juga”

Dan Kidang Alit justru menyambung “Selanjutnya, pengemis itu akan membunuhmu setelah sekarang ia menemukan pusaka yang sedang kita perebutkan”

Tiba-tiba saja Raden Kuda Rupaka menggeram, ternyata keadaan di istana kecil ini menjadi semakin membingungkan.

“Raden” tiba-tiba saja terdengar suara Kidang Alit “Bagaimana jika kita bersepakat saja untuk membunuh pengembara itu? Kau berdua belum tentu dapat melakukannya, sebaliknya, aku dan kawan-kakwankupun belum tentu akan berhasil, tetapi jika kita bersama-sama, maka aku kira kita akan dapat melakukannya, baru setelah pengembara itu mati, kita akan bertempur sepuas-puas kita tanpa ada yang mengganngu. Orang-orang Guntur Geni tentu tidak akan kembali dengan segera, karena ia telah kehilangan dua orang disini, mungkin tiga orang. Kita belum mengetahui apa yang terjadi dengan seorang kawannya yang memasuki bilik istana puteri, tetapi bahwa ia tidak keluar lagi setelah Panon masuk, mungkin nyawanya telah disitanya pula”

“Gila” geram Kuda Rupaka “Kau kira aku akan melakukan tugas ini dengan membabi buta?”

“Bukan membabi buta, tetapi itu adalah perhitungan yang cermat, kita mengambil keuntungan dari peristiwa yang dapat terjadi, apalagi kita sudah bersetuju untuk bertempur disaat terakhir.

“Kita tidak dapat mempercayainya, Raden” potong Panji Sura Wilaga “Pada suatu saat ia akan memanggil sejumlah orang-orangnya untuk melakukan apa saja dengan cara yang licik, karena itu, kita harus memperhitungkan, manakah yang lebih menguntungkan, memilih pengemis itu lebih dahulu bersama-sama dengan Kidang Alit, atau justru membunuh Kidang Alit lebih dahulu bersama-sama dengan pengemis-pengemis itu.”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu katanya “Kau dengar pertimbangan paman Panji Sura Wilaga, Kidang Alit, agaknya dalam keadaan seperti ini, kamipun harus berpendirian seperti kau, harga diri kita jauh lebih murah daripada nilai pusaka-pusaka itu”

“Baiklah, perhitungkan masak-masak, manakah yang lebih menguntungkan bagimu, aku besok akan datang lagi, mungkin kau sudah mempunyai keputusan”

Raden Kuda Rupaka tidak menjawab, Iapun tidak beranjak dari tempatnya ketika kemudian Kidang Alit meninggalkan halaman itu dengan meloncati dinding.

Sejenak Kuda Rupaka termangu-mangu, sekilas dilihatnya mayat yang terbaring diam di halaman.

“Raden” berkata Panji Sura Wilaga “Mayat-mayat ini harus dikuburkan, apakah kisa masih dapat meminta bantuan orang-orang padukuhan Karangmaja?”

“Apa salahnya, disiang hari kita akan dapat pergi ke rumah Ki Buyut”

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, rasa-rasanya kehidupan di malam hari dan di siang hari terasa jauh sekali perbedaannya, di siang hari tidak banyak kelainan yang nampak dari kehidupan sehari-hari. Tetapi di malam hari istana kecil ini merupakan hutan belantara yang lebat, siapa yang kuat ialah yang akan tetap dapat melihat matahari esok pagi.

“Tetapi” tiba-tiba Panji Sura Wilaga berkata “Jika kita pergi ke padukuhan, pengemis-pengemis itu akan lepas dari pengamatan kita, mungkin mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan pusaka-pusaka itu”

Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, sejenak ia berpikir, namun kemudian katanya “Aku akan pergi ke padukuhan bersama salah seorang dari pengemis itu, kau mengawasi yang seorang lagi”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk,

Sekarang, biarlah kita singkirkan mayat-mayat ini dahulu”

“Tetapi apakah Raden tidak melihat apa yang telah terjadi dengan puteri”

Raden Kuda Rupaka bagaikan terbangun dari sebuah mimpi yang buram, tiba-tiba saja ia berkata “Marilah, aku hampir saja melupakannya”

Dengan tergesa-gesa Kuda Rupaka diikuti Panji Sura Wilaga naik ke pendapa dan masuk ke ruang dalam, ketika ia sampai ke pintu bibinya, dilihatnya Panon dan Ki Mina sudah berada diluar bilik pintu itu pula.

Sejenak langkahnya terhenti, rasa-rasanya telah terentang jarak yang membatasi hubungan antara dirinya dengan kedua pengembara itu.

Namun Kuda Rupaka melihat kedua orang itu melangkah surut, seolah-olah memberikan tempat kepadanya untuk menyelesaikan masalah yang baru saja terjadi.

Kuda Rupaka menjadi berdebar-debar, ketika ia melihat sesosok mayat yang terbujur di muka pintu bilik itu, mayat dari seorang yang wajahnya nampak mengerikan, apalagi pada saat-saat matinya.

“Siapakah yang telah membunuhnya?” terdengar suara Kuda Rupaka berat.

Tidak ada seorangpun yang menjawab, sehingga Kuda Rupaka harus mengulanginya lagi, tetapi langsung ditujukan kepada bibinya yang masih ketakutan di dalam biliknya sambil memeluk puterinya yang gemetar, “Siapakah yang telah membunuhnya bibi?”

Raden Ayu Kuda Narpada tidak segera menjawab, rasa-rasanya mulutnya menjadi terlampau sulit untuk digerakkannya.

“Siapa bibi?” tetapi Kuda Rupaka selalu mendesaknya.

Raden Ayu Kuda Narpada masih termangu-mangu, seakan-akan ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.

Kuda Rupaka bergeser selangkah, kemudian dipandanginya wajah Ki Mina yang termangu-mangu pula, seperti wajah-wajah yang lain, dengan nada kasar Kuda Rupaka bertanya “Kaukah yang melakukannya?”

Ki Mina menggelengkan kepalanya, dengan mantap ia menjawab “Aku tidak membunuhnya Raden, aku berada di belakang karena ada dua orang yang ingin memasuki pintu belakang istana ini”

“Kau bertempur melawan keduanya?”

“Aku terpaksa membela diri, kemudian datang Panon membantuku”

Diluar sadarnya Kuda Rupaka memandang Panji Sura Wilaga, seolah-olah ingin mengatakan bahwa orang tua itupun memiliki ilmu yang tinggi, sehingga ia mampu melawan dua orang sekaligus, meskipun tidak berhasil menyelesaikan, jika Panon tidak datang membantunya, kedua orang itu tentu orang-orang yang mendapat isyarat dari Kidang Alit.

Namun dengan demikian, siapakah sebenarnya yang telah membunuh orang ini?”

Tatapan mata Kuda Rupakapun kemudian tertuju kepada Panon, sehingga diluar sadarnya, Panonpun menggeleng sambil berkata “Ketika aku sampai disini, orang ini telah mati”

Wajah Kuda Rupaka menjadi tegang, sekali lagi dipandanginya bibinya sambil bertanya “Apakah bibi melihat seseorang?”

Bibinya yang sudah mulai lebih tenang, menggelengkan kepalanya, katanya “Aku tidak melihat seorangpun ditempat ini, tetapi ketika orang itu melangkah masuk ke dalam bilik ini, ia seolah-olah terdorong surut dan jatuh di muka pintu tanpa aku ketahui sebab-sebabnya”

“Aneh sekali” desis Kuda Rupaka “Apakah masih ada orang lain yang tidak kita ketahui?”

Panji Sura Wilaga menjadi tegang, bahkan Ki Mina dan Panonpun terheran-heran pula karenanya.

Dengan ragu-ragu Kuda Rupaka memandang dinding bilik itu, kemudian merambat sampai ke atap, ternyata ia tidak mendapatkan sebuah lubang yang cukup besar.

Panji Sura Wilaga yang heran pula kemudian mendekati mayat itu sambil bergumam “Tidak ada darah”

“Ya” desis Kuda Rupaka “Tentu dengan jenis senjata yang lain, mungkin racun, kita akan melihatnya nanti, tetapi kita harus yakin, bahwa serangan semacam itu tidak akan mengenai kita pula”

“Kita memiliki penawar racun, justru orang-orang Guntur Geni yang selalu menyerang dengan senjata beracun, kurang memperhatikan akibat bagi dirinya sendiri.”

“Tetapi pemimpin-pemimpinnya tentu memiliki penawarnya, seperti yang kita miliki, meskipun ujudnya lain. Apalagi orang ini tentu tidak menyangka bahwa ia akan mendapat serangan seperti itu”

Panon yang termangu-mangu itupun maju setapak, dengan hati-hati ia berjongkok di samping mayat yang terkapar itu, perlahan-lahan ia menggulingkan tubuh yang membeku itu sehingga menelentang.

“Oh” Inten memalingkan wajahnya dan bahkan kemudian menyembunyikan didadanya ibunya, sedangkan Raden Ayu Kuda Narpada memejamkan matanya.

“Tolonglah” desis Raden Ayu “Bawalah mayat itu pergi”

Tetapi yang terdengar adalah suara Panon perlahan-lahan “Paser-paser inilah yang telah membunuhnya”

“Supit” gumam Panji Sura Wilaga “Paser itu tentu dilontarkan dengan supit, dan ujung supit itu dapat disusupkan dilubang dinding yang kecil, mungkin dari atas pengeret”

Semua orang memandang ke dinding sekali lagi, seperti yang dikatakan oleh Panji Sura Wilaga, memang ada antara yang cukup di bawah pengeret yang memisahkan dinding dan atap.

Namun mereka masih termangu-mangu, jika benar demikian siapakah yang telah melakukannya? Apakah orang-orang Guntur Geni sendiri atau pihak lain yang belum mereka ketahui.

Dalam kebimbangan itu, terdengar suara Raden Kuda Rupaka “Masih ada seorang yang tidak hadir disini”

Semua orang memandang kepadanya, dan Kuda Rupaka meneruskan “Dimanakah Sangkan?”

Tidak ada yang menjawab.

“Carilah Sangkan dibiliknya” berkata Kuda Rupaka kepada Panji Sura Wilaga.

Panji Sura Wilagapun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke bilik Sangkan, namun ia tidak usah terlalu lama mencari, seperti yang pernah terjadi, maka Panji Sura Wilaga langsung mencari di bawah pembaringannya.

“Cepat keluar” bentak Panji Sura Wilaga “Kenapa kau bersembunyi di kolong permbaringan selagi semua orang bertempur?”

“Aku, aku takut sekali” desisnya dengan suara gemetar.

“Kau gila, kau memang pantas dibunuh saja dari pada mengotori istana ini”

“Tetapi, tetapi aku tidak berbuat apa-apa, aku tidak mengganggu dan bahkan aku dapat membantu membersihkan halaman”

“Gila, ternyata pengemis itu lebih berguna dari pada kau, mereka mampu berkelahi melawan kawan-kawan Kidang Alit, sementara kau bersembunyi saja di kolong ambenmu”

“He..!!” Sangkan merangkak keluar “Pengemis-pengemis itu berani berkelahi?”

“Ya, pengemis yang muda telah membunuh seorang perampok dari Guntur Geni”

“Ah, Raden Panji agaknya masih sempat bergurau”

Tetapi Sangkan tidak dapat meneruskan kata-katanya, apalagi senyumnya yang mulai nampak dibibirnya, segera terhapus oleh sebuah pukulan di pipinya.

“Aduh…!” Sangkan mengeluh sambil memegang pipinya, wajahnya yang pucat tiba-tiba menjadi merah, bukan saja wajahnya tetapi juga matanya.

Ketika tangan Sangkan mengusap matanya yang basah, Panji Sura Wilaga membentaknya “Jika kau menangis, aku bunuh kau, kau tidak dapat bermanja-manja di hadapanku, aku tidak peduli jika kau menangis di gendongan biyungmu yang semakin tua itu, tetapi tidak di hadapanku”

Sangkan menjadi semakin ketakutan, tetapi ia tidak menangis “Ikut aku” bentak Panji Sura Wilaga.

Sangkan tidak membantah, iapun kemudian mengikuti Panji Sura Wilaga masuk ke ruang dalam, namun ketika terpandang olehnya sesosok mayat, maka iapun segera berhenti.

“Kenapa kau berhenti?”

“Aku takut, Raden”

“Ikuti aku, jika kau takut mayat, kau sendirilah yang akan menjadi mayat”

Tetapi Sangkan tidak menyahut lagi.

Kemarahan Panji Sura Wilaga tidak tertahankan lagi, tetapi ketika ia hampir saja memukulnya, Panon bertanya “Untuk apakah Sangkan dibawa kemari?, jika ia memang ketakutan, biarlah ia sembunyi di dalam bilik”

“Ia harus menyingkirkan mayat itu”

“Biarlah aku dan paman Mina yang akan menyingkirkan, tetapi mayat yang ada di halamanpun masih harus disisihkan, dan itu bukan semata-mata kewajibanku dan paman”

Terasa sikap Panon memang sudah berbeda dari sikapnya pada saat ia datang. Tetapi Raden Kuda Rupakapun menyadari, bahwa yang dihadapinya itu bukan seorang pengemis kebanyakan, itulah sebabnya maka iapun harus bersikap lain.

“Baiklah” berkata Kuda Rupaka “Pagi-pagi kita akan memanggil orang-orang padukuhan, kau dan aku akan pergi kepada Ki Buyut, kita minta tolong kepada orang-orang Karangmaja untuk menguburkan mayat-mayat itu”.

Panon nampak ragu-ragu, namun kemudian jawabnya “Baiklah Raden, aku besok akan pergi bersama Raden” Ia berhenti sejenak, lalu “Sekarang begaimana dengan mayat-mayat ini?”

Raden Kuda Rupaka mamandang Panji Sura Wilaga, sejenak kemudian ia menjawab “Baiklah, kita akan menyingkirkan nya, semua yang disini dan yang ada di halaman”

“Kau harus membantu kami anak gila” geram Panji Sura Wilaga sambil memandang Sangkan.

Tetapi Panon telah menyahut “Jangan dipaksa, jika ia sudah mengatakan tidak berani”

“Ia akan menjadi manja disini”

“Biarlah aku saja”

Panonpun kemudian mengangkat mayat itu seorang diri dan membawanya keluar, sementara Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga dibantu oleh Ki Mina telah menyingkirkan mayat-mayat yang terbaraing di halaman.

Dalam pada itu, Sangkan yang ketakutan tidak mau segera kembali ke biliknya, karena itu untuk beberapa lamanya ia berada di muka bilik Raden Ayu.

“Kembalikah ke bilikmu” berkata Nyi Upih.

“Aku takut biyung”

“Apa yang kau takutkan sekarang, semuanya sudah siselesaikan”

“Tetapi aku tidak mempunyai kawan dibilik belakang”

“Dimana Panon dan Ki Mina?”

“Mereka sedang menyingkirkan mayat-mayat yang katanya ada di halaman”

“Tetapi mereka sudah berada di biliknya kembali”

Sangkan masih tetap ragu-ragu, tetapi Nyi Upih kemudian berkata “Di muka pintu ini tadi juga terdapat sesosok mayat”

“Ooo” tiba-tiba saja Sangkan meloncat masuk ke dalam bilik.

“Bukankah kau juga melihatnya?”

“Ya, ya, aku melihatnya”

“Sekarang kembalilah ke dalam bilikmu, kau tentu tidak akan dapat tidur disini”

Sangkan ragu-ragu sejenak, namun kemudian iapun dengan tergesa-gesa pergi ke bilik belakang.

Ternyata seperti yang dikatakan oleh ibunya, Panon dan Ki Mina sudah ada di dalam bilik itu pula, tetapi justru Sangkan tidak berani mendekati mereka.

“Kau berbau mayat” desis Sangkan.

“Aku sudah membersihkan diriku di pakiwan” sahut Panon

Sangkan masih termangu-mangu, namun iapun kemudian membanting dirinya di pembaringannya sambil berkata “Jangan dekat-dekat”

Panon menarik nafas dalam-dalam, perasaan muaknya telah sampai keubun-ubun, tetapi ia masih tetap menahan diri agar tidak timbul persoalan lain,

Karena itu, iapun tidak menghiraukan Sangkan yang tidur menelungkup sambil menyembunyikan wajahnya itu. Untuk beberapa saat lamanya Panon masih bercakap-cakap dengan Ki Mina tentang orang-orang Guntur Geni itu.

“Memang aneh” berkata Ki Mina “Orang itu mati dimuka pintu tanpa mengetahui siapakah yang telah membunuhnya, paser itu sama sekali tidak dapat memberikan petunjuk karena tidak terdapat ciri-ciri apapun juga”

“Kidang Alit juga tidak mungkin melakukan, tetapi masih mungkin bahwa ia mempunyai orang lain yang mendapat kesempatan untuk melepaskan paser kecil dari sebuah sumpit”

Ki Mina menarik nafas dalam-dalam, katanya “Panon, kita sudah terlanjur menyatakan diri, karena itu, mungkin kita untuk seterusnya akan menghadapi persoalan-persoalan yang harus kita selesaikan dengan kekerasan. Karena itu, maka sudah sepantasnya kita membawa senjata kita masing-masing, akupun tidak lagi akan menyembunyikan kerisku, dan kaupun harus membawa pisau-pisaumu meskipun tidak lebih dari keratan-keratan besi kecil runcing, namun di tanganmu ternyata telah berubah menjadi pusaka yang sangat berbahaya”

Panon mengangguk-angguk.

“Besok kau akan pergi bersama Raden Kuda Rupaka ke rumah Ki Buyut, aku tahu, dengan demikian maka Panji Sura Wilaga hanya tinggal mengawasi aku saja disini, tetapi kau harus berhati-hati, banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Agaknya disini telah terdapat tiga kekuatan yang harus berhadapan. Kau, Raden Kuda Rupaka, dan Kidang Alit, kalian adalah anak-anak muda yang istemewa. Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alit mempunyai kelebihan yang jarang terdapat pada anak-anak muda sebayanya, sedangkan kaupun telah memiliki bekal yang tidak tanggung-tanggung lagi”

Panon mengangguk sambil berkata “Sukurlah Paman, aku diberkahi oleh Tuhan yang Maha Kuasa”

“Sekarang beristirahatlah, mungkin masih ada persoalan yang akan kita hadapi”

“Tetapi rasa-rasanya aku tidak akan dapat tidur paman”

“Tidurlah, aku akan berjaga-jaga beberapa lama, jika aku merasa perlu, kau akan aku bangunkan”

Panon memandang Ki Mina dengan seksama, kemudian terloncat dari bibirnya “Terima kasih, Paman terlalu baik kepadaku”

Ki Mina tersenyum, katanya “Sudahlah, tidurlah”

Panonpun kemudian membaringkan dirinya di pembaringan, diluar sadarnya ia berpaling mamandang Sangkan yang menelungkup, namun suara nafasnya terdengar mengalir dengan teratur.

“Ia sudah tertidur” desis Panon.

“Itulah anehnya” sahit Ki Mina “Baru saja ia marasa ketakutan, biasanya, orang yang yang ketakutan itu tidak dapat tidur semudah itu”

Panon tidak menjawab, tetapi iapun kemudian memejamkan matanya, ia memang ingin tidur barang sejenak, Kemudian bergantian, biarlah Ki Mina juga beristirahat meskipun sisa malam tinggal sedikit.

Baik Ki Mina dan Panon maupun Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, merasa perlu untuk berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan, karena itulah, maka di ruang depan, Panji Sura Wilaga dan Kuda Rupaka telah mengatur waktu, seorang dari mereka akan tidur dahulu, kemudian yang seorang lagi setelah yang terdahulu dibangunkannya.

“Silahkan paman tidur lebih dahulu” berkata Kuda Rupaka “Hatiku masih belum dapat aku jinakkan, setelah mengalami peristiwa yang mendebarkan tadi”

Panji Sura Wilaga yang terbaring lebih dahulu, iapun berusaha untuk segera dapat tidur nyenyak menjelang dini hari, agar Kuda Rupaka sempat tertidur meskipun hanya sekejap.

Namun dalam pada itu, agaknya sudah tidak ada sesuatu lagi yang terjadi diujung malam itu, tidak ada seorangpun yang kembali lagi dan mengganggu isi istana yang kecil itu.

Pada dini hari, yang telah tertidur lebih dahulupun segera terbangun, mereka mencoba memberi kesempatan kepada kawannya yang lain untuk tidur barang sekejap menjelang fajar.

Tidak banyak kesempatan untuk memejamkan matanya, tetapi yang sekilas itupun kadang-kadang telah cukup, karena mereka adalah orang-orang yang terbiasa menguasai diri sendiri dalam segala bentuk.

Ketika matahari mulai bangkit di ujung timur, ternyata para penghuni istana itupun telah menjadi sibuk, mereka yang baru sempat memejamkan matanya sekejappun telah bangun dan bersiap-siap melakukan tugas masing-masing.

“Hari ini aku tidak dapat membersihkan halaman belakang” berkata Panon kepada Sangkan :Aku harus mengikuti Raden Kuda Rupaka ke padukuhan untuk bertemu dengan Ki Buyut”

Sangkan mengerutkan keningnya, lalu katanya “Aku tidak peduli, tetapi kau harus melakukan kewajibanmu”

“Gila” desis Panon dihatinya, oleh kejengkelannya yang tidak tertahankan lagi iapun berkata “Semalam aku hampir tidak tidur karena aku harus membantu Raden Kuda Rupaka bertempur, kau sama sekali tidak berbuat apa-apa, karena itu, sekarang kaulah yang wajib menyelesaikan semua pekerjaan, aku akan pergi ke padukuhan”

“Aku tidak peduli” tiba-tiba Sangkan mendesak “Kau harus membersihkan halaman belakang, Ki Mina kedua halaman samping dan aku halaman depan”

Panon terkejut mendapat tanggapan yang tidak disangkanya itu, ia mengira Sangkan akan menjadi takut dan merubah sikapnya kepadanya, tetapi ternyata ia justru membentaknya meskipun ia sudah mengatakan bahwa ia bertempur semalam-malamam.

Justru karena itulah, maka Panon memjadi termangu-mangu, beberapa saat lamanya ia terbungkam dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya.

Yang menjawab kemudian adalah Ki Mina yang masih bersabar menghadapi anak muda itu “Baiklah Sangkan, akulah yang akan mengerjakan pekerjaan Panon, sebab jika Panon tidak mau pergi  bersama Raden Kuda Rupaka pagi ini ke padukuhan, maka Raden Kuda Rupakapun akan marah kepadanya, tetapi jangan cemas, aku akan membersihkan halaman belakang dan samping, dan kau akan membersihkan halaman depan, tetapi jika kau menjumpai mayat-mayat yang aku letakkan di pojok halaman, biarkan sajalah di sana, sambil menunggu orang-orang padukuhan yang akan membantu mengubur mayat-mayat itu.

“He..!!” wajah Sangkan menjadi pucat, “Jadi ada tiga mayat di halaman?”

“Ya, yang satu dibunuh oleh Raden Panji, yang satu oleh Panon dan yang satu ketemukan di dalam rumah tanpa diketahui siapakah yang telah membunuhnya”

“Jadi benar-benar Panon telah membunuh seorang dari mereka?”

“Ya” jawab Ki Mina sambil memandang perubahan yang mungkin terjadi di wajah Sangkan.

Tetapi ternyata Sangkan menggeram “Anak gila, kaulah yang ikut menakut-nakuti aku dengan membunuh orang, aku tidak mau membersihkan halaman depan hari ini, kaulah yang melakukannya”

Jawaban Sangkan itu sungguh diluar dugaan, Panon yang juga masih seorang anak muda, betapapun ia telah mengalami latihan jasmaniah maupun rohaniah, namun kesabarannya rasa-rasanya memang sudah sampai kebatas. Namun untunglah bahwa Ki Mina masih sempat menggamitnya sambil berkata kepada Sangkan “Baiklah Sangkan, biarlah aku yang membersihkan halaman seluruhnya hari ini, mungkin kau dapat melakukan sesuatu yang lain yang sesuai dengan kemauanmu hari ini”

Sangkan tidak menjawab, tetapi dari sorot matanya memancar sesuatu yang aneh, kegelisahan, kemarahan dan campur baur dari ketidak tentuan, atau sesuatu yang tidak dimengerti sama sekali oleh Ki Mina.

Dalam pada itu, Panonpun kemudian membenahi diri, ia mencoba untuk tidak menghiraukan lagi anak muda yang bernama Sangkan itu.

“Anggap saja anak itu anak Gila” berkata Panon kepada diri sendiri untuk meredakan gejolak perasaannya”

Ternyata bahwa sejenak kemudian terdengar langkah Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, sambil berdiri dimuka pintu bilik itu Kuda Rupaka berkata “Bersiaplah, kita akan berangkat sekarang, jika kau tidak mempunyai kuda, kau dapat meminjam Kuda paman Panji jika kau dapat berkuda.”

“Aku akan mencoba berkuda, Raden”

“Marilah, biarlah paman Panji tinggal di istana ini, siapa tahu Kidang Alit yang licik itu akan datang disiang hari”

Panon mengangguk, iapun menyadari betapa anak muda yang bernama Kidang Alit justru ia memiliki bermacam-macam ilmu yang dapat dipergunakan untuk melakukan niatnya tanpa mengingat harga diri sama sekali.

Keduanyapun kemudian meninggalkan bilik itu, diikuti oleh Panji Sura Wilaga yang kemudian menyerahkan kudanya kepada Panon.

Ketika dua ekor kuda itu berderap meninggalkan halaman, Panji Sura Wilaga berdiri termangu-mangu di tangga pendapa, sedangkan Ki Mina memandanginya dari halaman samping, sementara Sangkan masih tetap berada di dalam biliknya.

Ketika kedua ekor kuda itu sudah tidak nampak lagi, maka Ki Minapun dengan langkah yang lamban berjalan kembali ke dalam biliknya, dilihatnya di dalam bilik itu Sangkan duduk termenung, seolah-olah merenungi sesuatu yang amat rumit didalam dirinya.

“He, kenapa kau tidak membersihkan halaman?” Sangkan tiba-tiba saja membentak.

Tetapi Ki Mina justru tersenyum, jawabnya “Aku akan melakukannya, tetapi biarlah aku duduk sebentar”

“Kau tahu bahwa sebenarnya hari sudah terlalu siang untuk melakukannya”

Ki Mina masih saja tersenyum, namun demikian ia menjawab pula “Sebentar lagi orang-orang dari padukuhan akan datang dan mengubur mayat-mayat yang ada di halaman, setelah mereka selesai, aku tentu akan membersihkannya”

“Bagaimana dengan halaman belakang dan samping?”

Ki Mina dengan menarik nafas dalam-dalam, tetapi kemudian iapun kemudian meninggalkan bilik itu sambil bergumam “Baiklah, aku akan membersihkannya sekarang”

Sangkan mengikutinya sampai ke depan pintu biliknya, namun kemudian katanya “Ki Mina, aku akan membantumu membersihkan halaman belakang, tetapi kau atau Panon yang nanti harus membersihkan halaman depan”

Ki Mina mengangguk, katanya “Terima kasih, aku akan menyapu halaman samping saja terlebih dahulu”

Sangkan memandang Ki Mina sampai orang tua itu hilang disudut istana, baru kemudian iapun melangkah setelah menutup pintu biliknya.

Sementara itu Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti seolah-olah menjadi beku di dalam biliknya, Pintenpun tidak berani beranjak meskipun ibunya mengajaknya.

“Aku takut biyung” desis Pinten.

“Tetapi bukankah kita harus menjerang air dan menanak nasi?, jika kau dan aku bersembunyi saja disini, siapakah yang akan masak hari ini?”

Pinten memandang Inten Prawesti sejenak, seolah-olah minta tolong kepadanya, agar ia diijinkan untuk tinggal saja di dalam bilik itu.

“Bibi” berkata Inten “Jika Pinten memang takut, biarlah ia disini, aku merasakan betapa tersiksanya jika kita harus memaksa diri berbuat sesuatu dalam ketakutan”

“Tetapi sekarang sudah siang puteri, diluar ada Panji Sura Wilaga yang tidak ikut bersama Raden Kuda Rupaka ke padukuhan”

Bab 25

Inten termangu-mangu sejenak, lalu katanya “Apakah paman ada di belakang?”

“Aku tidak tahu puteri, tetapi masih ada yang akan melindungi kita, ternyata Ki Minapun mampu berbuat sesuatu jika terpaksa, seandainya ia tidak memiliki ilmu setinggi Panji Sura Wilaga, namun ia akan dapat membantu serba sedikit”

Pinten mengangguk-angguk sejenak, namun kemudian katanya “Baiklah biyung, tetapi aku sajalah yang berada di dalam dapur bersama kakang Sangkan, aku tidak mau mengambil air ke sumur”

“Uh, kakakmu adalah laki-laki yang tidak berguna sama sekali didalam keadaan seperti ini, biarlah ia tetap bersembunyi di bawah kolong ambennya” ia berhenti sejenak, lalu “Biarlah aku yang mengambil air, kau menyakakan api, lihatlah matahari sudah naik dan kita belum lagi menjerang air”

“Biarlah Nyai” desis Raden Ayu “Bukan salahmu, dan akupun tidak akan menyalahkan Pinten, jika ia tidak berani keluar di saat seperti ini”

“Ampun puteri, tetapi disiang hari, tentu tidak akan ada sesuatu yang akan dapat mengganggu kita disini, apalagi disini sekarang ada beberapa orang yang dapat melindungi kita”

“Ingatlah Nyai” berkata Raden Ayu “Disiang hari pula suara seruling itu selalu terdengar, dan bahkan disiang hari pula anak muda yang bernama Kidang Alit itu telah berani bertengger diatas dinding halaman kita”

“Ooo…” Nyi Upih menangguk-angguk, namun kemudian “Tetapi sekarang tidak akan terjadi apa-apa, marilah Pinten”

Pinten ragu-ragu sejenak, namun iapun kemudian mengikuti ibunya pergi ke dapur.

Dimuka pintu dapur keduanya termangu-mangu, lewat butulan longkangan belakang, mereka melihat Ki Mina membersihkan halaman samping, sementara di belakang terdengar juga suara sapu lidi.

“Kakang Sangkan telah berada di kebun belakang” desis Pinten “Agaknya ia sedang menyapu halaman”

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia tidak menjawab sama sekali.

Sejenak kemudian, Pinten sudah duduk di muka perapian sambil menyalakan api titikan, kemudian dengan nafas yang terengah-engah ia meniup api yang semakin besar membara pada segumpal emput aren. Baru kemudian diletakkannya emput yang telah membara itu pada seikat belarak kering.

Nyi Upih yang kemudian masuk ke dapur sambil membawa lodong bamboo berisi air. “Kau pandai membuat api Pinten?”

“Bukankah hampir setiap hari aku menyalakan api?”

Nyi Upih mengangguk-angguk, tetapi tatapan matanya menjadi aneh, dan tiba-tiba saja berdesah.

“Kenapa kau biyung?” bertanya Pinten.

“Tidak apa-apa”

“Kau mengeluh?”

“Nyi Upih tidak segera menjawab, sambil duduk di samping Pinten ia berkata “Keadaan seperti ini harus segera diakhiri”

“Mudah-mudahan Raden Kuda Rupaka segera bertindak tepat”

“Kuda Rupaka yang mana?”

Pinten mengerutkan keningnya, dengan nada tinggi ia bertanya “Kuda Rupaka yang mana? Kenapa kau bertanya seperti itu biyung?”

“Sudahlah, kau harus menjerang air, aku akan membersihkan beras ke sumur, yang ada tinggallah beras dan jagung itu”

“O, senang sekali, aku terbiasa makan jagung, sehingga jika aku makan nasi, aku menjadi cepat lapar, padahal nasi sangat terbatas sekarang ini”

Nyi Upih mengerutkan keningnya, tetapi Pinten tertawa sambil berkata “Aku tidak mengeluh biyung, kau tahu, bahwa aku tidak mengeluh kan?”

“Ya, ya kau tidak mengeluh anak manis”

“Ah….” Pinten masih saja tertawa, tetapi akhirnya ia berhenti sama sekali, perlahan-lahan ia mendekati Nyi Upih yang tidak jauh duduk di sebelahnya, sambil memeluk dan meletakkan kepalanya ke bahu biyungnya, ia berkata “Jangan sedih biyung, tidak lama lagi semuanya akan selesai, awan yang selama ini menyelimuti istana ini akan segera dihembus oleh angin yang kencang dan langitpun akan segera akan terbuka”

Nyi Upih mengusap matanya yang basah, iapun kemudian ia memeluk Pinten, katanya “Kau adalah mutiara yang tidak ternilai harganya, kau telah melakukannya dengan ikhlas, umurmu adalah umur remaja yang sebenarnya pada masanya bersolek di dalam bilikmu, tetapi kau sekarang berada dineraka seperti ini”

“He…!” Pinten terkejut mendengar kata-kata Nyi Upih “Biyung, bangunlah, apakah biyung masih tidur dan bermimpi?”

Nyi Upih memandang Pinten sejenak, tetapi matanya masih juga basah.

“Sudahlah biyung” berkata Pinten kemudian “Bukankah kau harus menyediakan minum dan sarapan pagi?”

Nyi Upih mengangguk-angguk katanya “Ya, ya Pinten, aku harus menyediakan minum dan sarapan pagi, tetapi bukankah airmu belum mendidih?”

Pinten menggeleng, dengan tangan-tangannya yang halus, iapun kemudian menggeser beberapa potong kayu di perapian, sehingga apipun menjadi semakin besar.

Dalam pada itu, Sangkan sibuk membersihkan halaman belakang istana itu, sekali-kali ia berhenti sejenak sambil menekan punggungnya, namun dalam pada itu, kadang-kadang matanya merayap disepanjang dinding batu di seputar halaman istana itu, seolah-olah ia selalu dicemaskan oleh kemungkinan yang paling buruk. Jika Kidang Alit memanjat dinding itu dan meloncat masuk. Namun sesekali ia memandang Ki Mina yang berada di halaman samping.

Ki Mina melihat sikap Sangkan yang seakan-akan selalu dibayangi oleh kecemasan, tetapi ia berusaha untuk tidak menghiraukannya, dengam tekun ia melakukan perkerjaan yang diberikan kepadanya, membersihkan halaman.

Sementara itu, diperjalanan ke rumah Ki Buyut, Panon berada di punggung kudanya mengikuti Raden Kuda Rupaka, ketika mereka sudah memasuki padukuhan, maka derap kuda merekapun menjadi semakin lambat, agar mereka tidak mengejutkan orang-orang padukuhan Karangmaja.

Namun dalam pada itu keduanya hampir tidak berbicara sama sekali, Panon yang merasa dirinya tidak sederajat dengan Raden Kuda Rupaka, selalu berada di belakang, ia masih tetap dibayangi oleh perbedaan derajat keturunan meskipun kadang-kadang teringat pula kata-kata gurunya, bahwa nilai seseorang bukanlah berada pada derajat dan tingkat keturunan, tetapi pada apa yang dilakukaknya. Meskipun demikian, Panon masih tetap merasa bahwa, ia sebaiknya berada di belakang Raden Kuda Rupaka tidak di sampingnya.

Kedatangan mereka di rumah Ki Buyut menimbulkan keheranan, karena hari masih terlalu pagi, meskipun matahari sudah mulai naik.

Ki Buyut yang baru saja selesai mandi, dengan tergopoh-gopoh turun dari pendapa rumahnya menyongsong kedatangan kedua orang itu.

“Kedatangan Raden mengejutkan kami disini”

Kuda Rupaka tersenyum, katanya “Memang mungkin mengejutkan Ki Buyut”

“Marilah, silahkan Raden naik ke pendapa”

“Terima kasih, aku hanya sebentar Ki Buyut”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, kerut merut di keningnya melukiskan, betapa hatinya mulai menjadi gelisah.

Namun dalam pada itu, sebelum Kuda Rupaka mengatakan sesuatu, merekapun terpaksa berpaling ke regol halaman, karena kehadiran seorang anak muda, sambil tersenyum anak muda itu mamasuki halaman sambil berkata “Selamat Pagi Ki Buyut”

“Kidang Alit” desis Ki Buyut.

“Aku sudah mengira bahwa pagi ini Raden Kuda Rupaka tentu akan datang kemari”

“Apa yang kau ketahui tentang Raden Kuda Rupaka?”

“Tidak ada Ki Buyut, aku hanya mengira-ngira saja”

Ki Buyut mengerutkan keningnya, ketika ia menatap wajah Kuda Rupaka, ternyata wajah itu menjadin tegang, tetapi sesaat kemudian Kuda Rupakapun berhasil menguasai perasaannya, dan berkata “Akupun tahu, bahwa kau akan datang sepagi ini di rumah Ki Buyut, Kidang Alit”

Kidang Alit tertawa, katanya “Baiklah, silahkan Raden mengatakan keperluan Raden atau barangkali Raden sudah mengatakannya”

“Belum, aku belum mengatakannya”

“Silahkan, aku tidak akan mengganggu” Kidang Alitpun kemudian seolah-olah tidak acuh, duduk di tangga pendapa rumah Ki Buyut,

Kuda Rupaka ragu-ragu sejenak, namun kemudian iapun berkata “Ki Buyut, semalam telah terjadi keributan lagi di halaman istana bibi Kuda Narpada, bahkan beberapa orang telah terbunuh”

“He..!!” Ki Buyut benar-benar terkejut mendengar berita itu “Lalu apakah yang terjadi pada diri Raden Ayu Kuda Narpada?”

“Tidak, bibi tidak apa-apa, yang kami perlukan adalah beberapa orang yang dapat membantu kami menguburkan mayat-mayat itu”

“O…” Ki Buyut mengusap dadanya sambil berkata “Untunglah bahwa ada Raden di istana itu, jika tidak maka orang-orang jahat itu tentu sudah berbuat apa saja yang mereka kehendaki”

Sebelum Kuda Rupaka menjawab, terdengar suara tertawa Kidang Alit, sehingga semua orang berpaling kepadanya.

“Kenapa kau tertawa Kidang Alit?”

“Tidak Ki Buyut, tidak apa-apa, aku berbangga atas Raden Kuda Rupaka yang telah berhasil melindungi istana kecil itu”

Kuda Rupaka menggeram, tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu, Ki Buyutlah yang kemudian berkata “Baiklah Raden, aku akan mengirimkan beberapa orang ke istana itu untuk membantu Raden. Berapa banyakkah orang yang telah terbunuh kali ini, Raden?”

“Tiga, tiga orang”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, kemudian katanya “Tentu seorang yang memasuki bilik puteri Inten Prawesti itupun terbunuh pula”

Sekali lagi semua orang berpaling kepadanya, mereka melihat Kidang Alit tidak tertawa lagi, tetapi sikapnya seakan-akan masih tetap acuh tidak acuh saja.

“Baiklah Raden” berkata Ku Buyut kemudian “Kami akan menguburkan mereka, tetapi karena itulah, maka kami mohon perlindungan Raden, jika kawan-kawannya merasa tersinggung karenanya dan melontarkan dendam mereka kepada kami”

“Aku akan bertanggung jawab Ki Buyut”

“Terima kasih Raden, dua orang anak muda dari padukuhan inipun masih belum sembuh benar” Ki Buyut berhenti sejenak, lalu dipandanginya Panon yang berdiri diam di belakang Kuda Rupaka.

“Ia tidak akan berbuat apa-apa” berkata Kuda Rupaka.

Ki Buyut mengangguk kecil, lalu “Ya, kedua anak muda yang terkena racun itu belum sembuh sama sekali, meskipun mereka sudah menjadi agak baik, karena itu, kami mohon agar tidak ada korban lagi yang dapat mengurangi ketenangan hidup kami di padukuhan ini”

“Ya, ya Ki Buyut” sahut Kuda Rupaka, namun dengan sudut matanya ia melihat Kidang Alit sudah tersenyum lagi.

“Gila” desis Panon di dalam hatinya “Anak muda yang licik itu agaknya memang sangat berbahaya.

“Baiklah Raden, sebentar lagi aku akan mengirimkan beberapa orang yang akan membawa usungan, kemudian membawa mayat-mayat itu ke kuburan. Silahkan Raden mendahului, namun demikian, kami mohon Raden juga mengawasi orang-orang kami yang barangkali selalu dalam kecemasan”

“Terima kasih Ki Buyut, aku minta diri, dam semua persoalan ada di dalam tanggung jawabku”

Kuda Rupakapun kemudian meninggalkan halaman rumah Ki Buyut itu diikuti oleh Panon, Ki Buyut mengantar sampai ke regol halaman, sementara Kidang Alit mengikuti pula.

Ketika Kuda Rupaka dan Panon telah meloncat ke punggung kudanya, tiba-tiba saja Kidang Alit berseru “Raden hati-hatilah dengan pengemis itu, ia nampak dungu dan bodoh, tetapi ia licik seperti kancil”

Terasa dada Panon berguncang, tetapi ia berusaha menahan dirinya agar tidak terjadi perselisihan.

“Persetan dengan mulutmu Kidang Alit” Kuda Rupakapun ternyata tidak dapat menahan hatinya lagi, namun sejenak kemudian kudanya telah berderap meninggalkan rumah Ki Buyut, meskipun tidak begitu cepat, karena mereka berada di tengah-tengah padukuhan.

Panon yang berkuda di belakangnya mencoba menenangkan hatinya, tetapi ia mendapat gambaran yang lebih banyak tentang keadaan sebenarnya yang dihadapinya.

Bagi Panon ternyata kemudian, bahwa persoalan di istana kecil itu benar-benar terbatas pada dinding istana, orang-orang Karangmaja hanya dapat mengikutinya dengan cemas tanpa dapat berbuat apa-apa, setiap tingkah laku orang-orang Karangmaja yang dengan langsung melibatkan diri dalam pergolakan yang terjadi di istana kecil itu, tentu akan berarti bencana, bahkan untuk menguburkan mayat saja, mereka merasa keselamatannya terancam.

“Tetapi kenapa Kidang Alit masih saja berkeliaran seolah-olah ia memang merupakan bagian dari Karangmaja?” bertanya Panon di dalam hatinya, dan orang-orang yang berada di istana kecil itu, secara tidak langsung ia sudah mendengar, bahwa Kidang Alit telah melakukan perbuatan yang kurang pantas di Karangmaja”

Namun demikian semua pertanyaannya itu disimpannya saja di dalam hatinya, meskipun ia menduga bahwa Raden Kuda Rupaka mengerti serba sedikit perbuatan tentang Kidang Alit, namun agaknya ia segan untuk bertanya kepadanya.

Demikianlah, tanpa mengucapkan sepatah katapun, keduanya memasuki regol halaman istana kecil yang suran itu. Raden Kuda Rupaka yang disongsong oleh Panji Sura Wilagapun kemudian meloncat dari kudanya sambil berkata “Mereka akan segera datang”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, katanya “Mereka adalah orang-orang yang baik, kita wajib berterima kasih kepada mereka”

“Ya, kita akan mengucapkan terima kasih”

Panji Sura Wilagapun kemudian berpaling kepada Panon yang berdiri termangu-mangu, namun kemudian anak muda itupun berkata “Aku berterima kasih atas kuda Raden Panji yang sudah diperkenankan aku mengenderainya”

Panji Sura Wilaga memandanginya sejenak, namun kemudian katanya “Kembalikan ke gedogan”

“Baik Raden”

Namun ketika Panon akan melangkah menuntun kuda itu, Kuda Rupakapun berkata pula “Bawa pula kudaku”

Panon termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia menerima kendali kuda itu sambil mengangguk dan menjawab “Baik Raden”

Panonpun kemudian pergi ke gedogan sambil membawa dua ekor kuda dan kemudian memasukkannya ke dalam.

Sejenak Panon termangu-mangu, sekilas ia teringat olehnya kudanya sendiri yang ditinggalkannya di ujung pegunungan seperti yang dipesankan oleh gurunya.

“Guru tentu sudah datang ke pegunungan ini, dan berada di tempat yang sudah dikatakannya” berkata Panon dalam hatinya, tetapi ia menarik nafas dalam-dalam, ia tidak melihat kesempatan yang baik untuk mencarinya gurunya itu. Namun ia tidak akan dapat membiarkan gurunya menunggu dengan cemas.

“Jika perlu sekali, apapun yang terjadi, aku harus pergi mencarinya” desisnya di dalam hati.

Namun tiba-tiba saja Panon terkejut ketika ia mendengar suara Sangkan “He, apa yang kau lakukan disitu?”

Panon berpaling, dilihatnya berdiri di serambi, tetapi agaknya anak muda itu tidak sedang berbicara kepadanya, ternyata ia sedang memandang kearah yang lain.

Panonpun ikut pula memandang ke arah tatapan mata Sangkan, terasa sebuah desir timbul dihatinya, ketika ia melihat seorang gadis berdiri termangu-mangu disudut istana itu.

Ternyata suara Sangkan telah menyadarkan gadis itu pula, ketika gadis itu berpaling kearah Sangkan, maka Sangkan sudah berkata lagi “Kenapa kau merenung disitu Pinten? Apakah kau sedang merenung anak pengembara di gedogan itu?”

“Uh” wajah Pinten menjadi merah, tiba-tiba saja tangannya yang sedang memegang sepotong kayu bakar yang diambilnya dari belakang istana telah terayun kearah kakaknya, untunglah Sangkan sempat berlari sambil berkata “Pinten, jangan”

Tetapi Pinten justru mengejarnya, ia memungut kayu bakar yang dilemparkannya tetapi tidak mengenai sasarannya sambil berkata “Awas kau kakang, jika kau lengah, maka aku akan cubit lehermu sampai terkelupas”

Meskipun Sangkan masih berlari, ia sempat bertanya “He, kenapa di leher?”

Pinten tidak sempat menjawab, karena tiba-tiba saja muncul Nyi Upih di longkangan sambil berteriak “He, anak-anak nakal, berhentilah berkelahi, setiap saat kalian pasti bertengkar, apapun sebabnya”

Pintenpun berhenti beberapa langkah dari Nyi Upih sambil mencibirkan bibirnya, ia mengangkat tangannya yang dikepalannya.

Sangkan berdiri di kejauhan dengan ragu-ragu, namun kemudian ia berkata “Aku tidak apa-apa biyung, Pinten yang mendahului melempar aku dengan sepotong kayu”

“Kenapa kau melempar kakakmu dengan kayu, Pinten?”

“Habis, kakang nakal sekali, awas kau” geramnya.

Tetapi Pinten tidak dapat berbuat lain, ketika ibunya menariknya masuk ke longkangan.

Namun adalah diluar sadarnya bahwa tiba-tiba saja Pinten telah berpaling kearah Panon yang memandanginya dengan termangu-mangu. Seolah-olah ia telah terpukau oleh sesuatu yang tidak dimengertinya pada gadis yang aneh itu.

Ketika Pinten menyadari bahwa anak muda yang ada di gedongan itupun sedang mamandanginya, maka terasa wajahnya menjadi panas, seolah-olah darahnya memanjat sampai ke ujung ubun-ubun, apalagi ketika ia kemudian mendengar Sangkan bertepuk tangan, maka sambil meronta ia berkata “Lepaskan biyung, lepaskan aku menangkap kakang Sangkan”

Tetapi Nyi Upih tidak melepaskannya, tanpa menjawab Pinten itupun ditariknya terus masuk ke dalam longkanan.

Sangkan yang masih berdiri termangu-mangu, kedua telapak tangannya masih beradu, meskipun ia tidak lagi bertepuk.

Namun tiba-tiba saja ia terkejut ketika ia mendengar seseorang membentaknya “Kau sudah menjadi gila lagi He..!!”

Sangkan berpaling, dilihatnya Panji Sura Wilaga menatapnya dengan pandangan mata yang garang.

Wajah Sangkan tiba-tiba menjadi pucat, selangkah ia mundur sambil berkata “Maaf Raden, aku tidak berbuat apa-apa”

“Kau memang anak gila, baru saja kau menjadi beku ketakutan, sekarang kau sudah berteriak-teriak, berlari-lari seperti bayi, He, apakah sebenarnya kau memang mempunyai penyakit gila?”

Sangkan hanya menundukkan kepalanya saja, jika ia mencoba menjawab, maka seperti yang pernah terjadi, tangan Panji Sura Wilaga akan segera melekat di pipinya.

“Sangkan” suara Panji Sura Wilaga semakin geram, “Jika aku tidak mengingat biyungmu dan Raden Ayu Kuda Narpada, kau sudah aku bunuh dan mayatmu aku suruh mengubur bersama-sama dengan mayat di halaman itu”

“Ampun Raden” suara Kuda Rupaka gemetar.

“Tetapi ingat, sekali lagi kau berbuat gila seperti itu, aku tidak akan memaafkan kau lagi, kau sudah berbuat keterlaluan, selagi kita semuanya dicengkam oleh ketegangan karena persoalan-persoalan yang belum kita kuasai benar, kau justru berlari-lari dengan tanpa menghiraukan keadaan sama sekali”

Sangkan menjadi semakin tunduk.

“Masuklah kedalam bilikmu, atau kerjakan pekerjaanmu yang lain”

“Baik, baik Raden” desis Sangkan “Bukan maksudku untuk membuat Raden Panji marah seperti ini”

“Anak setan” geram Panji Sura Wilaga yang tiba-tiba saja kemarahannya justru melonjak sempai ke kepala.

Namun ketika hampir saja ia kehilangan pengamatan diri dan memukul Sangkan yang semakin tunduk, tiba-tiba saja Panon telah mendekatinya dan bertanya “Apakah yang telah terjadi Raden Panji?”

“Anak gila ini membuat gaduh saja di halaman ini, aku ingin memukulnya sehingga mulutnya tidak dapat dipergunakannya untuk berteriak barang dua tiga pekan”

Panon adalah seorang yang paling muak melihat Sangkan yang gila-gilaan itu. Namun dalam pada itu ketika ia melihat anak muda itu menunduk dengan wajah yang pucat, tiba-tiba saja timbul ibanya, karena itu maka katanya “Sebaiknya Raden Panji memaafkannya, akupun selalu berusaha untuk menghilangkan semua kesan yang buruk pada Sangkan, karena itu, aku tidak menghiraukannya lagi”

“He” tiba-tiba Sangkan berteriak “Kau harus menurut perintahku disini”

“Jangan berkata begitu Sangkan” jawab Panon “Aku tahu bahwa sebenarnya kau tidak ingin berkata begitu, memang ada yang aneh padamu, yang tidak aku mengetahuinya, seharusnya kau sudah mulai merubah sikapmu, kita disini benar-benar berada dalam keadaan yang tidak kita inginkan. Karena itu, kau jangan membuat persoalan-persoalan baru dengan siapapun juga, termasuk dengan aku. Dalam keadaan seperti sekarang, darah yang seakan-akan sedang mendidih ini sering menimbulkan sikap yang mungkin tidak kau ingini, karena aku juga dapat bersikap kasar”

Tetapi Sangkan masih menjawab “Kau sudah berani menantang aku, oleh Raden Ayu kau diserahkan kepadaku, karena itu, semua perintahku adalah limpahan perintah Raden Ayu Kuda Narpada”

Panon adalah anak yang terlalu muda untuk menahan hati, namun iapun seorang anak muda yang memiliki tanggapan jiwani, karena pergaulannya dan tuntunan gurunya yang cacat justru jasmaninya.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja Panon menangkap sesuatu yang lain pada Sangkan, sesuatu yang tidak dapat ditanggapi dengan sikap jasmaniah saja.

“Mungkin anak ini benar-benar telah terganggu jiwanya “ berkata Panon di dalam hatinya, ia pernah mendengar bagaimana Sangkan menempuh perjalanan yang berat bersama adiknya menyusul ibunya yang mengabdi dengan setia kepada Raden Ayu Kuda Narpada.

“Mungkin perjalanan yang berat, bahkan terlalu berat bagi Sangkan dan Pinten itu telah membuatnya agak berubah“ Katanya dalam hatinya “Atau memang sebelumnya Sangkan memang mempunyai sifat-sifat yang kurang dapat dipahami”

Namun dalam pada itu, Panji Sura Wilaga yang tidak dapat menahan hati, hampir saja tangannya melayang menampar pipi Sangkan, namun Panon masih sempat menahannya “Serahkan anak ini kepadaku Raden Panji”

Hampir saja Sangkan berteriak, tetapi Panon mendahuluinya “Sejak peristiwa semalam, hubungan kita akan berubah Sangkan, juga hubunganmu dengan Ki Mina”

Sangkan menjadi termangu-mangu, namun tatapan mata Panon jadi jauh berbeda dengan tatapan matanya pada saat-saat sebelumnya, karena itu Sangkan tidak lagi mengatakan apa-apa.

“Marilah kita kembali kedalam bilikmu” ajak Panon “Kita akan berbicara lebih panjang, dan kita harus belajar menahan hati dan ikut berpikir, apa yang sebaiknya kita lakukan di halaman istana ini, bukan hanya sekedar ketakutan, bersembunyi, selebihnya mengacaukan pemusatan pikiran kita”

Sangkan tidak menjawab, tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Marilah” ajak Panon sekali lagi.

Sangkanpun kemudian tidak membantah lagi, ia berjalan saja dengan hati yang kosong diiringi Panon, sementara Panji Sura Wilaga masih bergumam “Jangan kau manjakan anak gila itu, sebaiknya kau bunuh saja ia agar tidak membuatmu kesal”

Panon berpaling, tetapi ia tidak menjawab, ia berjalan terus mengikuti Sangkan ke dalam biliknya, sementara Ki Mina masih saja berada di kebun, menyapu dedaunan kering yang jatuh bertebaran dihembus angin.

Sangkan duduk termangu-mangu di pembaringannya, dilihatnya Panon duduk pula diamben yang lain, tetapi untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri.

Dalam pada itu, sejenak kemudian Ki Minapun memasuki bilik itu sambil berkata “Beberapa orang telah datang dari padukuhan”

Sangkan mengangkat wajahnya, tetapi ia tidak menyahut. Panonlah yang kemudian bertanya “Apakah mereka sudah ditemui oleh Raden Kuda Rupaka?”

“Ya” jawab Ki Mina “Mereka sudah mulai”

Panonpun kemudian berdiri, katanya “Aku akan membantu mereka, biarlah kau berada disini paman”

Ki Mina mengangguk.

Sepeninggal Panon, Ki Mina duduk di ambennya, sejenak dipandanginya wajah Sangkan yang buram.

“Apa yang kau pikirkan Sangkan?”

“Kalian berdua ternyata sudah menipu aku” jawab Sangkan

“Kenapa?, apa yang kami tipu atas dirimu?”

“Kalian menyebut diri kalian berdua sebagai perantau yang mencari belas kasihan, tetapi ketika kalian sudah berada di istana ini, ternyata kalian adalah orang-orang yang termasuk mereka yang membiarkan dirinya dikuasai oleh kekerasan jasmaniah”

“Semua itu kami lakukan dengan terpaksa Sangkan”

“Apapun alasasmu, tentu kalian sengaja mengelabui aku, biyung dan Raden Ayu Kuda Narpada”

Ki Mina termangu-mangu, namun kemudian katanya “Kami tentu akan memohon maaf kepada Raden Ayu, kepada ibumu dan kepadamu kakak beradik, namun percayalah bahwa bagaimanapun juga, maksud kami adalah maksud yang baik bagi istana ini seisinya”

“Kalian termasuk salah satu dari mereka yang ingin merampas pusaka-pusaka itu, meskipun kalian bersikap baik, tetapi tentu karena kalian mempunyai pamrih seperti Raden Kuda Rupaka”

“Apakah Raden Kuda Rupaka mempunyai pamrih?, ia adalah kemanakan Raden Ayu Kuda Narpada, sehingga yang dilakukannya adalah semata-mata untuk melindungi istana ini, jika Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga mencurigai kami, itupu sudah sewajarnya, karena mereka belum mengenal kami”

“Tidak seorangpun yang mengenal kalian” jawab Sangkan “Akupun menjadi curiga, kenapa kalian berdua tiba-tiba saja datang ke istana ini dengan memperdengarkan tembang yang ngelangut dan menimbulkan belas kasihan itu?”

Ki Mina menggelengkan kepalanya, jawabnya “Aku kurang mengetahui Sangkan”

“Sudah tentu kau tidak akan mengatakannya kepadaku, tetapi baiklah, itu adalah hakmu. Dan kau serta Panon tentu berbangga melihat bahwa akulah yang kemudian terpaksa menjadi orang yang paling tidak berharga di istana ini seperti sebelum kalian datang, aku mengira bahwa kehadiran kalian akan sedikit menjunjung derajatku di lingkungan istana ini, tetapi justru sebaliknya, bahkan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga selalu saja mengancam akan membunuhku”

“Rubahlah kelakuanmu, sudah tidak pantas kau berbuat seperti anak-anak, sebenarnyalah bahwa Panon juga sering merasa tersinggung, tetapi aku selalu memperingatkan, bahwa sifat kekanak-kanakanmu tidak sepantasnya mendapat tanggapan yang sungguh-sungguh”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam.

“Kau harus sadar, bahwa yang terjadi di istana ini benar-benar mengancam keselamatan kita semuanya. Karena itu, kau tidak boleh menanggapinya dengan sifat kekanak-kanakanmu, ketakutan, kemudian setelah semuanya mereda, kau tidak menghiraukannya lagi atas semua yang telah terjadi”

Sangkan tidak menjawab, tetapi tatapan matanya tertuju ke noktah-noktah di kejauhan, dipandanginya cahaya matahari diluar yang bermain diatas dedaunan.

“Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa” desisnya.

“Kenapa tidak? Sudah tentu bukan karena kau tidak mampu, tetapi karena kau memang tidak mau melakukannya”

“Tetapi bukankah untuk dapat berbuat sesuatu, aku harus berlatih lebih dahulu? Dan untuk itu diperlukan ketekunan dan waktu?”

“Ya, tetapi kau tidak usah menjadi seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, berbuatlah dengan dewasa, itu saja. Kau tentu tahu, bahwa sudah waktunya kau menggantungkan nasibmu pada dirimu sendiri. Sudah waktunya kau membedakan mana yang lebih dan mana yang buruk, dan sudah waktunya kau melakukan pilihan dengan sadar dan bertanggung jawab”

Sangkan mengangguk-angguk.

“Sudahlah Sangkan, jika kau berbuat demikian, maka Panji Sura Wilaga tidak akan selalu mengancammu lagi”

“Mudah-mudahan aku dapat melakukannya mulai sekarang”

“Baiklah, cobalah dan yakinlah bahwa kau dapat melakukan sebaik-baiknya”

Sangkan mengangguk-angguk pula, tetapi ia tidak menjawab.

Ki Mina kemudian berdiri dan melangkah keluar sambil bergumam “Aku akan pergi ke halaman depan, jika ada yang harus aku kerjakan membantu orang-orang yang sedang menyingkirkan mayat dan menguburkannya. Dan kau tidak usah bersembunyi di bawah kolong ambenmu mendengar ceritera tentang kematian yang mungkin masih akan menyusul lagi”

Sangkan tidak menjawab, ia masih saja duduk di tempatnya.

Sepeninggal Ki Mina, Sangkan menarik nafas panjang, panjang sekali, namun ketika ia berdiri ia mendengar langkah perlahan-lahan mendekati pintu biliknya, dan tiba-tiba saja seseorang meloncat sambil berkata lantang “Nah, tertangkap kau sekarang kakang Sangkan”

Bab 26

Sangkan memandang Pinten sejenak, namun kemudian katanya “Kemarilah Pinten”

“Aku akan membalas, kau sudah menggoda aku sejak tadi pagi”

Sangkan mengangguk-angguk kecil, namun wajahnya masih saja nampak bersungguh-sungguh, katanya sekali lagi “Kemarilah Pinten, duduklah, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu”

Pintenpun menjadi heran melihat sikap Sangkan, ia masih berkata “Aku tidak perduli, aku harus mencubitmu sampai lecet”

“Baiklah, tetapi dengarkan dahulu, aku akan berkata kepadamu, aku bersungguh-sungguh Pinten”

Pinten mengerutkan keningnya, agaknya kakaknya memang akan bersungguh-sungguh, karena itu, maka iapun melangkah masuk dan duduk diamben”

Namun dalam pada itu, Sangkan tekah meloncat kepintu sambil mencibirkan bibirnya “Kau tidak akan dapat menangkap aku Pinten”

“Curang, curang” Pinten meloncat pula beridiri, tetapi keduanya bertubrukan di muka pintu, karena ternyata Sangkan tidak berlari kemana-mana.

Tetapi ketika dengan gemas Pinten mengulurkan tangannya, Sangkan berkata “Tidak, aku tidak lari, aku benar-benar bersungguh-sungguh kali ini”

Tetapi Pinten sudah mencubit dan diputernya sehingga Sangkan menyeringai “Sudah, sudahlah, Aduh!!”

“Sekarang aku baru puas”

Sangkan mengusap lengannya yang menjadi kemerah-merahan, namun kemudian wajahnya telah menjadi bersungguh-sungguh lagi, dengan suara yang bersungguh-sungguh pula, ia berkata “Aku memang akan mengatakan sesuatu kepadamu”

Pinten duduk ladi di amben disebelah Sangkan, sorot matanya mengandung pertanyaan tentang sikap kakaknya yang agak berbeda.

“Kenapa kau sebenarnya kakang?”

Sangkan kemudian mengatakan, bahwa baru saja Ki Mina memberikan beberapa petunjuk kepadanya, agar ia mau merubah sikapnya.

Pinten justru mencibirkan bibirnya sambil berkata “Uh, kita disuruhnya bersikap seperti patung?, diam dan selalu muram?”

“Bukan begitu Pinten. Aku Mengerti, bahwa sifat kekanak-kanakan kadang-kadang sangat menjengkelkan”.

“O, ternyata kau adalah murid Ki Mina yang pandai, tetapi kakang jangan mencoba merubah sifat-sifatku”.

“Tidak. Bukan kau Pinten, tetapi aku. Aku adalah laki-laki. Sedang kau adalah seorang gadis”.

“Jadi kau melihat perbedaan antara seorang gadis dan seorang laki-laki”.

“Ya, tetap tidak dalam keseluruhan, karena memang kodratnya bebeda”

Pinten mengangguk-angguk. Dan Sangkanpun berkata terus” Tetapi yang penting adalah, bahwa keadaan yang gawat ini memerlukan tanggapan yang wajar”

Pintenpun tiba-tiba menjadi bersungguh-sungguh juga. Lalu ia pun bertanya” Jadi apakah maksudmu, kau tidak akan bersembunyi lagi di bawah kolong jika terjadi sesuatu?”

“Maksudku demikian” namun kemudian suaranya datar” tetapi apakah aku dapat melakukannya?”

Pinten termenung sejenak. Namun kemudian iapun tersenyum. Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi ia berdiri dan melangkah