Bunga Di Batu Karang

BungaDiBatuKarang

Karya : SH Mintardja


Jilid 01 Bab 1 : Buntal

MATAHARI sudah menjadi semakin tinggi. Sinarnya menusuk celah-celah dedaunan di pepohonan, membuat lukisan yang cerah di atas tanah yang lembab.

Sekali lagi Buntal berpaling. Dipandanginya sebuah rumah tua yang kecil, dan apalagi miring. Rumah yang untuki beberapa bulan didiaminya bersama paman dan bibinya.

Anak itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Sejak ia menjadi yatim piatu, ia tinggal bersama paman dan bibinya. Tetapi paman dan bibinya ternyata mengalami banyak kesulitan. Untuk memberi makan dan pakaian saudara-saudara sepupunya, anak paman dan bibinya itu sendiri, mereka telah mengalami kekurangan. Apalagi ia berada di rumah itu pula.

Karena itu sekali lagi ia membulatkan niatnya. Meninggalkan rumah itu.

Pagi itu, selagi paman dan bibinya pergi ke ladangnya yang hanya secuwil kecil, dan saudara-saudara sepupunya bermain-main di kebun belakang, Buntal memutuskan untuk berangkat tanpa membawa bekal apapun.

Kadang-kadang ia menjadi ragu-ragu juga, akan kemana saja ia membawa langkahnya. Tetapi iapun kemudian menengadah ke langit, dan tanpa disadarinya ia berdoa semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang menurut ayahnya yang telah meninggal, agar menuntun langkahnya.

Buntalpun kemudian berjalan cepat-cepat agar ia segera menjadi semakin jauh. Meskipun paman dan bibinya miskin, tetapi kepergiannya pasti tidak akan mereka kehendaki. Karena itu, maka iapun telah meninggalkan keluarga miskin itu tanpa pamit.

“Keadaan menjadi semakin buruk” desis Buntal di dalam hati. Ia tidak mengerti, perubahan apakah yang telah terjadi dalam tata pemerintahan. Namun terasa baginya, dan bahkan bagi anak-anak yang lebih kecil dari dirinya, bahwa sesuatu telah terjadi.

Langkahnya semakin lama membawanya semakin jauh dari rumah paman dan bibinya. Ketika matahari berada dipuncak langit ia mulai membayangkan, bahwa paman dan bibinya pada saat-saat yang demikian itu kembali sejenak dari sawah untuk beristirahat. Apabila kebetulan ada, mereka sekedar makan seadanya bersama-sama dengan anak-anak mereka.

“Paman dan bibi ttentu mencari aku” desisnya. Tetapi Buntal berjalan terus. Ia mencoba untuk meneguhkan hatinya, agar ia tidak menjadi ragu-ragu atau bahkan melangkah kembali ke rumah itu, rumah paman dan bibinya yang miskin.

Namun ketika matahari menjadi condong ke Barat, terasalah sesuatu di perutnya. Lapar.

Buntal mulai menjadi gelisah. Sebelumnya ia tidak memikirkan, bagaimana ia mendapatkan makan di sepanjang perjalanannya. Dan kini baru ia sadar, bahwa ia menjadi sangat lapar.

Memang kadang-kadang sehari penuh ia tidak makan nasi di rumah paman dan bibinya yang miskin. Tetapi ada saja yang dapat diambilnya dari kebun, untuk sekedar mengisi perutnya. Kadang-kadang pohung, kadang-kadang nyidra atau garut atau apapun juga. Tetapi di perjalanan ini, ia tidak dapat menemukan apapun juga.

Keragu-raguan di hati Buntal mulai melonjak. Kadang-kadang timbul pula niatnya untuk kembali saja ke rumah paman dan bibinya. Tetapi ia tidak sampai hati melihat keadaan rumah dan keluarga itu sehari-hari.

Kadang-kadang Buntal harus menahan gejolak perasaannya, apabila ia mendengar adik sepupunya yang masih berumur setahun menangis karena lapar. Anaknya yang lebih tua duduk tepekur sambil menyeka air matanya. Yang lain tidur terlentang dengan lemahnya di amben bambu. Sedang yang sulung, yang tiga tahun lebih muda daripadanya, duduk tepekur sambil menganyam keranjang.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Umurnya sendiri belum mencapai limabelas tahun, sehingga adik sepupunya yang sulung itu belum mencapai duabelas tahun. Dan anak yang belum mencapai umur duabelas tahun itu harus sudah bekerja keras membantu ayah dan ibunya untuk mencari nafkahnya sehari-hari.

Tetapi kini perutnya sendiri merasa lapar. Sedang perjalanannya sama sekali tidak berketentuan. Ia tidak akan dapat menghitung sampai kapan ia harus berjalan. Dan kemanalah. tujuan yang akan didatanginya. Ia tidak lagi mempunyui saudara yang agak jauh sekalipun.

Namun Buntal tidak berhenti. Ia melangkah terus dengan lemahnya. Semakin lama semakin lemah, sehingga akhirnya ia jatuh terduduk diatas sebuah batu di pinggir jalan.

Ketika tanpa disadarinya Buntal menengadahkan kepalanya ke langit, dilihatnya cahaya yang kemerah-merahan telah mulai membayang, sehingga sebentar lagi senja akan segera turun.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mendengar gemericik air parit, maka terasa lehernya menjadi semakin kering. Karena Itu, maka perlahan-lahan ia beringsut mendekati parit itu. Apalagi ketika dilihatnya air yang bening mengalir diatas rerumputan yang hijau di dasar parit bercampur pasir yang keputih-putihan, maka iapun segera berjongkok diatas tanggul. Dengan kedua belah telapak tangannya ia mengambil seteguk air untuk menghilangkan hausnya yang tidak tertahankan, meskipun ia sadar, bahwa air itu tidak bersih sama sekali dari kotoran, karena diparit itu pula para petani mencuci kaki, tangan dan alat-alatnya apabila mereka pulang dari sawah.

Tetapi lehernya terasa haus sekali.

Buntal menarik nafas dalam-dalam ketika terasa tenggorokannya telah menjadi basah. Perlahan-lahan ia berdiri dan memandang daerah di sekitarnya. Tetapi daerah itu adalah daerah yang asing baginya. Dan dengan demikian ia sadair, bahwa ia telah benar-benar terpisah dari paman dan bibinya. Ia tidak akan dapat menemukan jalan kembali, apabila ia tidak bertanya-tanya dengan susah payah.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Kecemasan semakin merayapi batinnya. Sebentar lagi malam akan tiba, dan sebentar lagi seluruh permukaan bumi ini akan menjadi gelap.

“Apakah aku akan tetap berada di bulak dan tidur diatas rerumputan?“

Tiba-tiba tengkuknya meremang. Dikejauhan dilihatnya seonggok pepohonan yang rimbun. Kalau itu sebuah ujung dari hutan yang membujur, meskipun hutan yang rindang, kadang-kadang masih ada juga seekor harimau yang tersesat keluar hutan dan mencari makan ke padukuhan. Mungkin seekor lembu, mungkin kambing dan apabila ia berada di bulak itu mungkin dirinya.

Dalam kecemasan itu, Buntal melihat sebuah gubug yang bertiang agak tinggi. Sebuah gubug yang di siang hari dipakai untuk menunggu dan menghalau burung.

“Mungkin tempat itu merupakan satu-satunya tempat yang paling baik buat bermalam. Tangga gubug itu cukup kecil, sehingga aku kira tidak, akan ada harimau yang dapat memanjat keatas.

Meskipun agak ragu, Buntalpun berjalan juga menyusur pematang ke gubug itu.

Besek pagi-pagi benar aku harus bangun dan meninggalkan gubug itu. Kalau aku kesiangan, dan ada seseorang yang menemukan akju masih tidur, maka aku akan mendapat seribu macam pertanyaan.

Ternyata gubug itu cukup panjang untuk menjelujurkan kakinya. Sambil menggeliat ia berbaring. Kepalanya diletakkan diatas kedua telapak tangannya.

Senjapun semakin lama menjadi semakin gelap. Seperti perut Buntal yang menjadi semakin lapar.

Sekali-kali Buntal menarik nafas dalam-dalam. Udara yang segar terhisap masuk ke dadanya. Namun dada itu masih juga tetap gelisah dan cemas.

Dengan demikian Buntal tidak segera dapat tertidur. Berbagai macam perasaan bergulat di dalam dirinya. Cemas, gelisah, takut dan juga lapar dan penat. Bahkan ia menjadi cemas pula apabila tiba-tiba saja pemilik gubug itu datang di malam hari untuk menengok sawahnya

“Mudah-mudahan tidak malam ini” desisnya “mudah-mudahan ia tidak menengok sawahnya malam hari”

Namun kegelisahan itu membuatnya tidak segera dapat memejamkan matanya, apalagi karena perutnya terasa menjadi semakin lapar.

Namun oleh kepenatan yang sangat, kantuk yang tidak terlawan dan udara yang segar, akhirnya membuat Buntal terlena diatas gubug itu.

Anak itu tidak menyadari, berapa lamanya ia tertidur diatas gubug itu. Namun ia terkejut ketika terasa olehnya sinar matahari mulai menggigit kakinya.

Dengan tergesa-gesa Buntal bangkit.

“O, matahari telah tinggi“

Sejenak kemudian Buntal telah duduk di gubug itu sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya. Beberapa orang dilihatnya telah bekerja di sawahnya. Beberapa yang lain sedang menyelusuri parit yang mengalirkan air yang bening.

“Aku harus segera pergi” desisnya “kalau yang mempunyai gubug ini datang, aku akan mengejutkannya dan mungkin aku disangkanya telah berbuat sesuatu yang merugikannya”

Tetapi selagi Buntal membenahi dirinya, ia merasa gubug itu terguncang, sehingga karena itu maka dadanya segera menjadi berdebaran. Ia sadar, bahwa seseorang pasti sedang naik keatas gubug itu.

Belum lagi ia sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba sebuah kepala telah menjenguk dari balik alas gubug itu. Seorang gadis kecil yang sama sekali tidak menyangka, bahwa ada seseorang diatas gubugnya, sedang memanjat naik untuk menyimpan bakulnya diatas gubug itu.

Tetapi tiba-tiba saja ia melihat seorang anak muda yang belum dikenalnya di dalam gubugnya itu.

Karena itu, betapa ia terperanjat. Sejenak ia membeku, namun kemudian iapun segera meluncur turun. Tetapi karena ia terlampau tergesa-gesa, maka iapun terperosek diantara mata tangga dan jatuh diatas tanah yang basah.

Tanpa sesadarnya gadis kecil itu menjerit. Kemudian tubuhnya terbanting ke dalam lumpur yang kotor.

Jerit gadis kecil itu ternyata telah mengejutkan beberapa orang yang berada di sekitar tempat itu. Bahkan Buntalpun terkejut pula. Dengan serta-merta ia menjengukkan kepalanya dan dilihatnya gadis itu sedang bergulat untuk bangkit dari lumpur yang licin.
Buntal tidak berpikir apapun lagi. lapun segera turun dengan tergesa-gesa dan berusaha menolong gadis yang berlumuran tanah yang kotor itu.

Sesaat kemudian beberapa orangpun datang berlari-lari ke gubug itu. Yang mereka lihat, Buntal sedang menarik gadis itu dan mencoba membantunya berdiri. Sedang tubuh gadis itu sendiri tiba-tiba menjadi lemas seperti tidak bertenaga. Karena terkejut yang amat sangat, maka gadis kecil itu menjadi pingsan karenanya.

“He, apakah yang kau lakukan atas anak itu?“ bentak seorang yang bertubuh pendek, tetapi sekuat kerbau jantan, yang ternyata dari urat-uratnya yang menonjol di permukaan kulitnya.

“Aku tidak berbuat apa-apa” jawab Buntal ketakutan ”Lepaskan“ teriak seorang anak muda.

“Tetapi, tetapi….“

“Lepaskan” teriak yang lain.

Tetapi Buntal tidak segera melepaskannya.

“He, kenapa kau tidak mau melepaskan?”

“Ia lemas. Lemas sekali” suara Buntal tergagap “kalau aku lepaskan ia akan terjatuh”

Sejenak orang-orang yang mengerumuninya saling berpandangan.
Kemudian dua orang anak muda meloncat maju dan merenggut tubuh gadis itu dari tangan Buntal. Ternyata bahwa gadis itu benar-benar telah lemas dan jatuh pingsan.

“Bawa dia menepi. Bersihkan tubuhnya dari lumpur”

Gadis itupun kemudian dipapah oleh dua orang anak-anak muda yang kemudian meletakkannya di pematang. Dengan selendangnya, wajah gadis yang berlumuran lumpur itupun kemudian dibersihkannya.

“Ayahnya belum datang?“ bertanya seseorang.

“Belum, la datang seorang diri”

Kini semua mata tertuju kepada Buntal. Orang yang bertubuh pendek dan berotot menonjol melangkah maju sambil menggeram “Apa yang kau lakukan he?“

Buntal menjadi semakin ketakutan. Ia menyesal bahwa ia telah terbangun kesiangan, sehingga ia harus mengalami perlakuan yang mendebarkan itu.

“Kau apakan anak itu he?“

“Aku, aku tidak apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa”

“ Bohong” sahut seorang anak muda yang bertubuh tinggi “mungkin kau ingin berbuat jahat. Apapun yang akan kau lakukan. Mungkin kau melihat gadis itu memakai perhiasan. Atau kau memang akan berbuat jahat kepada gadis itu sendiri”

“Tidak, aku tidak berbuat apa. Aku semalam memang tidur di gubug itu. Mungkin ia terkejut melihat aku”

“Jangan mengada-ada. Dan kenapa kau berada di gubug itu? Siapa kau dan dimana rumahmu?“

Buntal menjadi semakin kebingungan. Ingin ia menyebut nama paman dan bibinya. Tetapi jika demikian, dan persoalan yang tidak diharapkannya ini menjadi persoalan yang berkepanjangan, maka paman dan bibinya akan tersangkut pula. Padahal mereka sudah selalu dalam kesulitan untuk hidup mereka sehari-hari. Kalau mereka harus berbuat sesuatu untuk dirinya, maka hidup merekapun akan semakin terbengkelai.

“Siapa kau he?“ seorang yang bertubuh tinggi membentak.

“Namaku Buntal” jawabnya. Suaranya sudah menjadi gemetar.

“Buntal, Buntal. Dimana rumahmu he?“

Buntal ragu-ragu sejenak.

“Dimana?“ tiga orang berbareng membentak.

Suara Buntal menjadi semakin gemetar. Jawabnya “Aku anak yatim piatu”

“He?“

“Aku yatim piatu”

“Bohong. Bohong. Dimana rumahmu. Meskipun seandainya kau yatim piatu, namun kau pasti mempunyai tempat tinggal”

Buntal menjadi semakin bingung. Tetapi ia sudah bertekad untuk tidak menyeret paman dan bibinya yang sudah terlampau sulit itu untuk mendapatkan kesulitan-kesulitan baru. Karena itu, maka ia ingin menunjukkan rumah yang sudah lama ditinggalkan, setelah ayahnya meninggal. Dan rumah itu sama sekali bukan rumahnya karena ia tinggal di pengengeran sekeluarga.

“Dimana, dimana he? Apakah kau menjadi bisu” bentak orang-orang yang marah itu.

“Aku, aku tidak mempunyai rumah karena ayahku hanya seorang pelayan. Seorang abdi”

“Dimana?

“Surakarta”

“Surakarta? Yang kau maksud kau tinggal di dalam kota Surakarta?“

“Ya”

“O, jadi kau anak orang kota? Tetapi kau sama sekali tidak tahu adat?“

“Bukan, aku bukan orang kota. Ayah sekedar seorang abdi dari seorang bangsawan. Ayah adalah seorang juru pangangsu yang dahulu datang dari padesan juga”

“Dimana ayahmu sekarang?“

“Meninggal. Ayah sudah meninggal”

“Dan kau?“

“Aku diusir dari rumah bangsawan itu”

“Pantas. Pantas. Kau pasti berbuat tidak senonoh di rumah bangsawan itu. Kau pasti berbuat iahat seperti yang baru saja kau lakukan”

“Tidak. Aku tidak berbuat apa-apa. Tetapi bangsawan-bangsawan memang terlampau kejam sekarang”

“Omong kosong. Kau pasti yang jahat”

“Tidak. Aku tidak jahat. Sejak rumah itu sering dikunjungi kumpemi, Raden Tumenggung Gagak Barong telah berubah”

“Kumpeni?“

“Ya”

“Omong kosong. Kau memang seorang yang pandai berbohong. Sekarang kau masih mencoba berbohong, meskipun kami dapat melihat sendiri apa yang sudah kau lakukan”

“Aku tidak! berbuat apa-apa”

Tiba-tiba seorang anak muda yang bermata setajam burung hantu maju kedepan. Dengan serta merta anak muda itu menerkam baju Buntal yang sudah kusut. Sambil menarik ia menggeram “Berkatalah berterus terang. Siapa kau sebenarnya, dan kenapa kau berada disini?“

“Aku sudah mengatakan semuanya”

“Bohong. Bohong“ anak muda itu mulai mengguncang-guncang baju Buntal.

Buntal menjadi semakin gemetar. Apalagi ketika dilihatnya beberapa orang maju mendekat dengan pandangan mata yang seakan-akan langsung menusuk jantung.

“Ayo, berkatalah sebenarnya“ orang lain berteriak.

Dan Buntal menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba seseorang telah meloncat maju dan langsung menggenggam rambutnya.

“Kalau kau berbohong sekali lagi, aku pukul mulutmu”

Buntal benar-benar telah kehilangan akal. Tubuhnya menggigil seperti semalam suntuk terendam air. Wajahnya menjadi pucat seperti kapas.

“Jawab. Apa yang sudah kau lakukan?“

Mulut Buntal bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak terdengar.

“Jawab pertanyaanku”

Buntal masih belum dapat mengucapkan kata-kata, sehingga orang-orang itu menjadi semakin marah. Kepala Buntal terputar ketika sebuah telapak tangan menampar pipinya.

“Ayo bilang. Bilang bahwa kau telah mengganggu gadis, kecil itu diatas gubug. Untunglah bahwa ia justru terlempar dan sempat menjerit”

“Tidak. Tidak“ hanya itulah yang dapat diucapksn oleh Buntal karena tangan yang lain telah memukul dagunya.

Alangkah sakitnya. Dan alangkah sakit hatinya. Ia sama sekali tidak dapat melawan. Ketika rambut dan bajunya dilepaskan dan sebuah tangan lagi memukul pipinya. Buntal benar-benar telah terlempar dan terbanting jatuh diatas pematang, namun iapun kemudian terguling ke dalam lumpur.

Tertatih-tatih ia mencoba berdiri. Namun ia tidak sempat tegak karena sebuah tendangan mengenai lambungnya, dan mendorongnya sekali lagi jatuh ke dalam lumpur.

“Bawa saja kepada Ki Jagabaya” berkata salah seorang dari mereka.

“Pukuli saja disini. Di dalam keadaan seperti ini, orang-orang gila pantas dibunuh saja”

“O, jangan, jangan” teriak Buntal.

“Kau sudah berani berbuat gila, kau harus mempertanggung jawabkannya. Kenapa kau takut?“

“Aku tidak berbuat apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa“ hanya kata-kata itulah yang dapat diucapkan oleh Buntal. Ia tidak dapat menemukan kalimat-kalimat yang lain di dalam keadaannya itu.

Tetapi orang-orang itu tidak menghiraukannya lagi. Beberapa orang segera menariknya ke pematang. Kemudian Buntal diseret seperti seonggok batang pisang kejalan di tengah-tengah sawah itu.

Sejenak kemudian wajahnya telah dihujani dengan pukulan-pukulan dan bahkan beberapa orang telah meludahinya.

Kepala Buntal segera menjadi pening. Kepalanya serasa menjadi retak dan pandangannya berkunang-kunang. Tetapi ia masih mendengar setiap orang memaki-makinya.

“Gadis itu masih pingsan” terdengar seseorang berkata ”bunuh saja anak jahanam itu. Ia membuat pedukuhan ini ternoda”

“Ya bunuh, bunuh saja”

Buntal tidak berdaya sama sekali untuk melakukan pembelaan. Sekilas terlintas di kepalanya, kenangan atas perjalanannya yang panjang sehingga ia sampai ke tempat ini. Dan terlintas pula di kepalanya, perjalanan yang seakan-akan telah terbentang di hadapannya. Jalan yang jauh lebih panjang dari jalan yang baru saja dilaluinya itu.

“Aku akaa menyeberangi langit” katanya di dalam hati.

Dan sesaat kemudian Buntal itu menjadi pingsan, la tidak merasakan lagi pukulan-pukulan yang bertubi-tubi mengenainya. Dengan lemahnya ia terkapar di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu.

Dalam pada itu, selagi Buntal masih mengalami hukuman yang sama sekali tidak diduganya, seorang tua berlari-lari diikuti oleh seorang anak muda yang sebaya dengan Buntal menuju ke pematang. Orang tua itu adalah ayah dari gadis yang pingsan itu. Seseorang telah memberitahukan kepadanya apa yang telah terjadi di sawah.

Ketika ia sampai disisi anak gadisnya, segera ia berlutut. Diraba-rabanya tubuh anaknya, kemudian dipijit-pijitnya tengkuknya. Tetapi wajahnya tampak menjadi agak cerah ketika ia mendengar anaknya itu merengek seperti dimasa kanak-kanaknya.

“Arum” desis orang tua itu “kenapa kau?“

Arum, gadis itu, membuka matanya. Dilihatnya ayahnya berjongkok di sampingnya.

“Apakah yang terjadi?“

Arum masih biugung sejenak. Namun kemudian ditolong oleh ayahnya ia mengangkat kepalanya.

Sejenak ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan, namun semakin lama menjadi semakin jelas. Dan tiba-tiba saja ia berkata kepada ayahnya “Aku terjatuh ayah. Aku terkejut sekali”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba pula anaknya itu memandang ke jalan yang membujur diantara tanah persawahan.

“Apa yang terjadi disana ayah?“ ia bertanya sambil menunjuk orang-orang yang berkerumun sambil menyepak-nyepak.

“Anak itu. Anak yang barangkali sudah berbuat jahat kepadamu”

“Kenapa dengan anak itu?“

“Orang-orang telah menganggapnya bersalah. Mereka memukuli anak itu”

“Tidak ayah. Anak itu tidak berbuat apa-apa. Aku hanya terkejut dan aku terjatuh ketika aku meluncur turun, la berada diatas gubug, sedang aku baru saja naik keatas. Dan aku masih berdiri di tangga”

“Aku sudah minta anak mas Juwiring untuk mencegahnya”

Arum kemudian duduk bersandar kedua tangannya. Kepalanya masih terasa pening. Namun ia menjadi cemas, apabila terjadi sesuatu atas anak yang dilihatnya duduk diatas gubugnya.

Dalam pada itu, Juwiring telah berdiri ditengah-tengah lingkaran orang-orang yang mengerumuni Buntal yang terbaring di tanah.

Sejenak ia masih melihat beberapa pasang kaki menyepak-nyepak tubuh yang sudah tidak berdaya itu. Namun katika anak muda yang bernama Juwiring itu berdiri diantara mereka sambil memandang berkeliling, maka tiba-tiba saja orang-orang yang berkerumun itu bergeser surut.

“Kenapa dengan anak ini paman?“ bertanya Juwiring, Meskipun umurnya belum sampai tujuh belas tahun, tetapi terasa wibawa yang besar memancar dari nada kata-katanya.

Tidak seorangpun yang segera menyahut. Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi mulut mereka masih tetap terkatup rapat-rapat.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia membungkukkan badannya dan meraba tubuh Buntal, ia berdesis “Pingsan. Anak ini telah, pingsan”

Tiba-tiba mata Juwiring menjadi tajam memandang setiap wajah yang ada di sekelilingnya. Satu-satu wajah itu tertunduk lemah.

“Apakah salah anak ini?“ sekali lagi ia bertanya.

Tetapi tidak ada yang segera menjawab, sehingga akhirnya Juwiring maju selangkah mendekati orang yang bertubuh pendek kekar dan berotot seperti jalur-jalur pohon merambat di seluruh tubuhnya.

“Paman” bertanya Juwring “apakah salah anak itu?“

Orang itu tergagap sejenak. Namun karena tatapan mata Juwiring bagaikan menusuk jantungnya, akhirnya ia menjawab “Anak ini telah mengganggu Arum diatas gubugnya”

“O“ Juwiring mengerutkan dahinya. Sekali ia berpaling, namun Buntal masih terbaring diam.

“Apakah yang sudah dilakukannya? Apakah ia merampas barang-barang milik Arum, ataukah ia berbuat lain?“

Orang bertubuh kekar itu menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia menjawab “Kami hanya mendengar Arum menjerit. Dan kami datang berlari-larian. Kami melihat kemudian anak itu sedang memeluk Arum yang lemah dan kotor”

“Diatas gubug?“

Orang itu menggeleng “Tidak. Di dalam lumpur”

“Kalian yakin bahwa anak ini berbuat jahat?“

Tidak seorangpun yang menjawabnya.

“Kalian yakin bahwa anak ini akan berbuat jahat terhadapi Arum?”

“Ya?”

“Begitu?”

Masih belum ada seorangpun yang menjawab.

“Bagaimana kalau Arum terpekik karena ia terjatuh, dan kemudian anak ini justru menolongnya dari lumpur?“

Orang-orang itu masih terdiam.

“Atau, apabila kalian yakin bahwa anak ini bersalah, akupun tidak berkeberatan anak ini dihukum. Apalagi kalau ia langsung akan berbuat jahat kepada Arum itu sendiri” anak muda itu terdiam sejenak sambil memandang berkeliling, lalu selangkah ia bergeser mendekati orang yang tinggi “Kau juga yakin ia bersalah?”

Orang tinggi itu menundukkan kepalanya, sementara Juwiring bergeser lagi. Seorang demi seorang didekatinya dan dengan nada datar bertanya kepadanya, apakah anak itu memang bersalah. Tetapi setiap kepala tertunduk karenanya.

“Baiklah. Kalian tidak ada yang menjawab dengan tegas, letapi karena kalian telah bertindak, maka kalianpun pasti sudah meyakini kesalahannya. Karena itu, akupun akan ikut serta memutuskan bahwa anak ini bersalah, karena ia telah berbuat jahat kepada Arum“ Juwiring berhenti sejenak. Namun tiba-tiba ia melangkah mendekati seseorang yang berdiri di paling belakang. Tanpa berkata apapun juga, orang itu diputarnya. Kemudian diambilnya sebuah sabit yang terselip dipunggungnya.

Semua mata memandang Juwiring dengan tegangnya. Apalagi ketika setapak demi setapak ia maju mendekati Buntal yang masih pingsan.

“Agaknya kalian telah berkeputusan untuk membunuhnya. Sekarang, biarlah aku yang melakukannya. Kalau kalian yakin anak ini bersalah, akupun yakin pula, sehingga pantaslah apabila ia dihukum mati”

Sekali lagi Juwiring memandang berkeliling. Karena tidak seorangpun yang menyahut, maka iapun melangkah maju. Dengan kaki renggang ia berdiri disisi Buntal yang terbaring di tanah.

Setelah memandang wajah anak yang pingsan itu sejenak, maka katanya “Aku akan membunuhnya. Aku akan membelah perutnya karena ia sudah berbuat jahat”

Tetapi ketika Juwiring berjongkok di samping tubuh Buntal yang pingsan, tiba-tiba seorang yang berkumis keputih-putihan berkata terbata-bata “Tetapi, tetapi kami belum yakin bahwa ia memang bersalah”

Juwiring mengangkat wajahnya. Dipandanginya orang yang berkumis putih itu. Bahkan kemudian anak muda itupun berdiri dan melangkah mendekatinya “Kau paman Dipa. Sepengetahuanku, membunuh tikuspun kau tidak mau. Tetapi agaknya kau ikut serta menyakiti anak ini?“

Orang berkumis putih dan bernama Dipa itu terdiam. Sekali ia menelan ludahnya. Namun tidak sepatah kata lagi yang meluncur dari mulutnya.

“Jadi bagaimana?“ Juwiring bertanya.

Karena tidak ada yaug menjawab, Juwiring menepuk pundak seseorang “Apakah sebaiknya aku membunuhnya?“

Orang itu menjadi tegang. Namun kemudian ia berkala gemetar “Tidak. Tidak. Akupun tidak meyakini kesalahannya”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang seorang yang berwajah pucat, tanpa ditanya apapun orang itu berkata “Ya. Kami belum pasti, bahwa ia pantas dihukum, apalagi dibunuh”

Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika sekali lagi ia memandang setiap wajah, maka setiap wajah itupun menjadi semakin tunduk ke tanah.

“Nah, ternyata kalian telah melakukan sesuatu dengan tergesa gesa. Setelah anak ini pingsan, dan bahkan hampir mati, barulah kalian menyadari, bahwa kalian tidak berbuat atas dasar keyakinan. Seorang diantara kalian berteriak bahwa anak ini bersalah, maka kalian tidak sempat lagi berpikir. Seperti kehilangan diri, kalian berebutan menjatuhkan hukuman atas anak ini. Dipa, Naya, Angga yang aku kenal sebagai orang-orang yang ramah dan baik hati, di dalaM keadaan tanpa sadar, telah melakukan perbuatan ini”

Kepala-kepala itupun menjadi semakin tunduk lagi. Kalau saja mungkin, mereka akan berlari dan menyembunyikan wajah-wajah yang serasa menjadi panas.

Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia mendekati Buntal. Dan Buntal agaknya masih juga pingsan.

“Panggil Kiai Danatirta itu” berkata Juwiring kemudian.

Dipa yang paling gemetar, segera berdiri dan berjalan tertatih-tatih
di pematang, pergi ke tempat Kiai Danatirta menunggui anaknya Arum.

“Kiai, Raden Juwiring memanggil Kiai”

“O, baiklah. Duduklah disini Arum”

“Aku ikut ayah”

“Kau masih terlampau lemah”

“Tidak. Aku sudah baik”

Kiai Danatirta memandang anaknya sejenak. Namun kemudian katanya “Marilah”

Kiai Danatirtapun kemudian membimbing anaknya di sepanjang pematang pergi mendapatkan Juwiring yang masih berdiri ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang kebingungan itu.

“Kiai” berkata Juwiring kemudian “anak ini pingsan”

“O“ Arumlah yang menyahut “Kenapa? Kenapa ia pingsan, Raden?“

“Bertanyalah kepada orang-orang ini”

Arum memandang orang-orang yang berdiri membeku itu. Kemudian perlahan-lahan ia melangkah maju bersama ayahnya, Kiai Danatirta, mendekati Buntal yang pingsan.

“Ayah“ Arum hampir memekik “wajahnya merah biru”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis “Apakah anak ini pantas mendapat hukuman yang begini berat?“

“Ia tidak bersalah” berkata Arum kemudian.

Dan ternyata kata-kata Arum itu bagaikan menyengat setiap hati yang membeku di sekitar Buntal yang pingsan itu.

“Ambillah air” desis Kiai Danatirta.

Seseorangpun kemudian mengambil air dengan sehelai daun yang disobeknya pada sebatang pohon pisang yang tumbuh di pinggir parit.

Setitik demi setitik, Kiai Danatirta meneteskan air di mulut Buntal. Sambil memijit-mijit bagian tubuhnya yang lain, Kiai Danatirta berusaha membangunkan Buntal yang pingsan itu.

Sejenak kemudian terdengar anak itu merintih. Semakin lama semakin keras. Bahkan kemudian terdengar ia mengaduh.

“Ia telah sadar” desis Kiai Danatirta.

Juwiringpun kemudian berjongkok pula di sampingnya. Ditatapnya wajah yang biru pengab itu dengan dada yang berdebar-debar. Juwiring menyadari, betapa sakitnya wajah itu, dan bahkan seluruh tubuhnya.

“Terlalu“ Juwiring berdesis “mudah-mudahan anak ini berjiwa besar”

Ketika sebuah pedati lewat di jalan persawahan itu, maka Juwiringpun segera menghentikannya. Dengan sangat ia minta agar pemiliknya bersedia menolong membawa Buntal ke rumah. Ke rumah Kiai Danatirta.

Ternyata pemilik pedati itu tidak berkeberatan. Dengan senang hati ia memenuhi permintaan Juwiring dan Kiai Danatirta itu.

Perlahan-lahan tubuh Buntal itu diangkat dan dibaringkan di dalam pedati. Setiap kali terdengar ia mengaduh. Namun matanya masih terpejam, dan kesadarannya masih belum pulih sama sekali.

Ketika Buntal perlahan-lahan membuka matanya, tampaklah atap rumah yang samar-samar. Semakin lama menjadi semakin jelas. Kemudian dilihatnya wajah-wajah yang cemas di sisinya. Wajah yang belum pernah dilihatnya.

Namun ketika ia mencoba menggerakkan tubuhnya, terasa seakan-akan seluruh tulang belulangnya berpatahan. Alangkah sakitnya, sehingga tanpa sesadarnya iapun mengaduh tertahan-tahan.

“Jangan bergerak dahulu. Tubuhmu masih terlampau lemah. Bahkan mungkin terlampau sakit. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih harus selalu menyeringai apabila rasa sakit mulai menusuk kulitnya.

“Apakah kau haus?“

Buntal memandang orang yang bertanya kepadanya. Seorang yang sudah memanjat ke pertengahan abad. Sedang seorang lagi ada lah seorang anak muda yang sebaya dengan dirinya. Seandainya ada selisih umur, maka selisih itu tidak lebih dari saru atau dua tahun.

“Dimanakah aku ini?” desis Buntal hampir tidak terdengar.

“Kau berada di rumahku, di rumah Kiai Danatirta. Dan anak muda ini adalah Raden Juwiring”

Buntal menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia mencoba mengurangi perasaan sakit yang menusuk-nusuk.

“Tenangkan hatimu” berkata Juwiring “Kau akan dirawat dengan baik disini”

Buntal memandang Juwiring dengan heran. Tetapi ia tidak segera bertanya apapun juga.

Namun sejenak kemudian Buntal terkejut ketika ia melihat seorang gadis yang memasuki bilik itu sambil membawa sebuah belanga kecil. Gadis itulah yang dilihatnya memanjat tangga gubug dan kemudian jatuh ke dalam lumpur.

Karena itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Dipandanginya gadis itu seperti memandang hantu. Bahkan kemudian terloncat kata-katanya

“Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa terhadapnya”

“Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya lembut

“Ya. kau memang tidak berbuat apa-apa”

Buntal heran mendengar jawaban itu. Karena itu iapun justru terdiam sejenak.

“Arum” berkata Kiai Danatirta “letakkan belanga itu disini”

Gadis itupun kemudian meletakkan belanga kecil itu di lantai di dekat pembaringan Buntal. Sejenak ia memandang anak yang terbaring kesakitan itu dengan pandangan iba. Bahkan tanpa sesadarnya ia bertanya “Kau sakit?“

Buntal menjadi bingung, bagaimana ia akan menjawab pertanyaan itu, sehingga karena itu, ia terdiam membeku.

Arum yang berdiri termangu-mangu itupun kemudian menundukkan wajahnya. Sebelum ia mendengar jawaban Buntal, ia telah pergi meninggalkan bilik itu.

“Ia adalah anakku” berkata Kiai Danatirta.

“O“ Buntal menjadi bertambah cemas “Tetapi aku tidak berniat berbuat apa-apa”

“Ya, ya. Aku percaya kepadamu. Kau tidak berbuat apa-apa. Anakku, Arum, juga berkata bahwa kau tidak berbuat apa-apa”

“O“ Buntal mengerutkan keningnya.

“Siapa namamu?“ bertanya Juwiring kemudian.

Buntal memandang anak muda itu sejenak, lalu jawabnya “Buntal. Namaku Buntal”

“Buntal” ulang Juwiring “dimana rumahmu?“

Buntal menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak mempunyai rumah. Aku tidak mempunyai ayah dan ibu lagi”

“Yatim piatu?“

“Ya”

“Tetapi kenapa kau berada di gubug itu. sehingga Arum terkejut karenanya?“

“Aku berjalan menuruti langkah kakiku. Ketika aku kemalaman, aku bermalam di gubug itu”

Kiai Danatirta yang ikut mendengar keterangan itu mengangguk-angguk. Sebagai seorang yang mempunyai pandangan yang luas tentang hidup dan kehidupan, ia melihat kejujuran di wajah Buntal. Karena itu maka ia sama sekali tidak berprasangka apapun kepada anak yang kesakitan itu.

“Aku akan mencoba mengobati badanmu yang merah biru” berkata Kiai Danatirta.

Buntal memandangnya dengan penuh keheranan. Ia melihat wajah kedua orang yang menungguinya itu bagaikan titik-titik embun di hatinya yang gersang.

“Bergeserlah sedikit menepi” berkata orang tua itu kemudian.

Buntal mencoba bergeser sedikit. Tetapi terasa seluruh tubuhnya menjadi sakit, seolah-olah tulang-tulangnya telah menusuk-nusuk kulit dan dagingnya. Namun ditahankannya perasaan itu sekuat-kuatnya. Meskipun ia menyeringai, tetapi ia kini tidak mengeluh lagi.

“Tolong anak mas” berkata Danatirta kepada Juwiring “peganglah belanga ini”

Juwiringpun kemudian memegang belanga yang berisi cairan yang berwarna coklat kehitam-hitaman, sementara Kiai Danatirta mulai mengendorkan seluruh pakaian Buntal.

Dengan lembut Kiai Danatirta mulai mengusap seluruh bagian badan Buntal dengan cairan itu. Cairan yang terasa hangat di tubuh yang biru pengab.

“Dengan demikian tubuhmu tidak akan membengkak Buntal” desis Kiai Danatirta.

Buntal tidak menyahut. Namun tiba-tiba terasa getaran-getaran yang aneh mengusik hatinya. Sentuhan tangan yang lembut itu telah menumbuhkan sebuah kenangan di hati Buntal. Kenangan kepada ayah dan ibunya yang telah mendahuluinya. Ia masih teringat semasa kanak-kanak, apabila ia terjatuh dan terkilir, ibunya selalu mengusapnya dengan pipisan beras kencur. Di sore hari setelah mandi, menjelang tidur. Meskipun ayah dan ibunya orang yang miskin, tetapi mereka berusaha sejauh-jauh dapat mereka lakukan, untuk membuat Buntal menjadi seorang anak yang baik. Yang memeliharanya dengan penuh kasih sayang.

Dari ucapan tangan Kiai Danatirta itu ternyata telah mengungkat kenangan itu. Terbayang kembali di rongga matanya, ibunya duduk di bibir pembaringannya, sedang ayahnya berjalan mondar mandir dengan tangan bersilang di dadanya, apabila ia menjadi sakit. Bahkan kadang-kadang ia melihat titik air mata di sudut mata ibunya yang redup.

Tiba-tiba perasaan haru yang sangat melonjak djdasar hatinya. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun setitik air mata telah mengembun di pelupuknya, bahkan kemudian mengalir di pipinya yang pengap.

Juwiring melihat air mata yang meleleh itu. Sehingga tanpa sesadarnya ia bertanya “Apakah tubuhnya justru menjadi sakit sekali?“

Pertanyaan itu mengejutkan Buntal. Dengan sisa tenaganya ia mengangkat tangannya dan mengusap matanya.

“Tidak” jawabnya “tubuhku merasa semakin baik”

“Tetapi kenapa kau justru menangis? Selagi kau dipukuli dan pingsan di pinggir jalan, aku tidak melihat matamu menjadi basah. Tetapi kini justru kau mulai menitikkan air mata”

Buntal mencoba menggelengkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan “Tidak. Aku tidak menangis”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak bertanya lagi meskipun ia merasakan sesuatu yang menyentuh perasaan anak itu, meskipun anak itu tidak mau mengatakannya.

Apalagi ketika Kemudian Kiai Danatirta berkata “Sudahlah Buntal. Tenangkan hatimu. Cobalah untuk tidur agar tubuhmu menjadi segar” Namun tiba-tiba “Apakah kau sudah makan?“

Pertanyaan itu benar-benar telah mengetuk hati Buntal, sehingga betapa ia bertahan, tetapi tilik air matanya menjadi semakin deras mengalir di pipinya.

Kiai Danatirta ternyata mampu membaca perasaan anak itu, sehingga ia berkata kepada Juwiring “Tungguilah anak ini anak mas. Aku akan pergi ke belakang sebentar”

Juwiring menganggukkan kepalanya. Namun ia mengerti juga apa yang akan dilakukan oleh Kiai Danatirta. Agaknya anak ini memang belum makan.

Sejenak kemudian seorang gadis masuk, ke dalam bilik itu. Tampaknya ia sudah menjadi sehat benar, seolah-olah tidak ada lagi bekasnya, bahwa ia baru saja terjatuh dan pingsan karenanya.

“Minuman hangat” desisnya sambil meletakkan sebuah mangkuk berisi air jahe yang panas dengan segumpal gula kelapa diatas sebuah nampan kayu. Sejenak ia berdiri memandang wajah Buntal yang biru pengab. Sepercik penyesalan membayang di wajah Arum.
“Kalau aku tidak berteriak” katanya di dalam hati “orang-orang itu tidak akan berbuat apa-apa atasnya” namun lalu “Tetapi aku sama sekali tidak sengaja. Aku terkejut sekali”

Tetapi Arum tidak mengucapkan kata-kata lagi. Iapun melangkah keluar dari bilik itu. Seorang pembantu telah menyediakan makan nasi hangat buat Buntal setelah Kiai Danatirta memberitahukan bahwa anak itu perlu makan. Dan Arumlah yang membawa makanan itu masuk ke biliknya.

“Makanlah” berkata Juwiring selelah makanan itu tersedia. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia bertahan sekuat-kuatnya agar perasaannya tidak meledak. Diusapnya air matanya yang membasah.

“Makanlah” ulang Juwiring “Aku kira kau belum makan”

Buntal mengangguk-angguk perlahan.

“O” desis Juwiring “Kau belum dapat bangkit sendiri? Marilah, aku tolong kau bangun”

Juwiringpiin kemudian menolong Buntal untuk bangkit dan duduk di pembaringan. Tubuhnya yang sudah dilumuri dengan param oleh Kiai Danatirta kini merasa agak menjadi segar.

“Makanlah” sekali lagi Juwiring mempersilahkan.

Buntal merasa agak malu juga. Tetapi tiba-tiba terasa perutnya yang lapar meronta, justru ketika hidungnya mulai disentuh, oleh asap nasi hangat dan sepotong ikan air kering.

Buntal menelan ludahnya. la bukan saja belum makan pagi ini, tetapi kemarin sehari penuh ia juga belum makan.

Juwiring bergeser maju. Sambil tersenyum ia bertanya “Kau dapat makan sendiri?“

“Ya, ya. Aku dapat makan sendiri” jawab Buntal terbata-bata.

“Tanganmu tidak sakit?”

Buntal menggeraktkan tangannya. Sebenarnya lengannya juga merasa sakit. Tetapi ia menggeleng “Tidak. Lenganku tidak sakit”

“Kalau begitu makanlah sendiri”

Buntal merasa agak malu-malu juga. Seandainya perutnya tidak terasa sangat lapar, ia akan berkeberatan makan sendiri di pembaringan, seperti seseorang yang kecukupan dan dilayani oleh pembantu-pembantunya.

Tetapi karena perutnya yang mendesak, akhirnya disenduknya juga nasi dari celing bambu dengan entong tempurung. Dengan sayur dedaunan yang hijau dan sepotong ikan kering, maka ia mulai menyuapi mulutnya yang sakit.

Alangkah nikmatnya. Jarang sekali ia sempat makan nasi hangat dengan sepotong ikan air, meskipun ia dapat mencarinya sendiri di sungai. Apalagi apabila perutnya sedang sangat lapar seperti saat itu, setelah meneguk air jahe dengan gula kelapa.

“Tetapi harganya terlampau mahal” katanya di dalam hati “wajahku harus menjadi biru pengab dan seluruh tubuhku terasa sakit. Untunglah bahwa aku belum mati diinjak-injak”

Demikianlah setelah makan dan minum, tubuh Buntal terasa menjadi semakin segar. Kini ia tinggal berjuang melawan rasa sakit. Tidak lagi melawan rasa lapar pula.

Bahkan sejenak kemudian tanpa disadari, Buntal berbaring sambil memejamkan matanya. Lambat laun semuanya tidak dapat diingatnya lagi. Tetapi kini ia tidak pingsan.

Ketika Buntal telah tertidur nyenyak maka Juwiringpun meninggalkannya sendiri di dalam bilik itu. Sekali Arum menengoknya juga dari ambang pintu, namun kemudian iapun melangkah pergi sambil menutup pintu itu.

Demikianlah, maka semua yang telah terjadi itu, menjadi sebab, bahwa Buntal untuk seterusnya diminta tinggal di rumah Kiai Danatirta. Sebuah padepokan kecil disebuah padukuhan yang subur. Padepokan yang dinamainya Padepokan Jati Aking didekat padukuhan Jatisari.

“Bukankah kau tidak mempunyai orang tua lagi?“ bertanya Kiai Danatirta setelah Buntal dapat berjalan-jalan lagi meskipun kekuatannya belum pulih kembali.

“Ya Kiai. Aku sudah yatim piatu”

“Jika demikian, kau tidak akan menolak seandainya aku minta kau tinggal untuk seterusnya di padepokan ini”

Terasa sesuatu melonjak di hati Buntal. Ia tidak menyangka bahwa ia akan terdampar pada suatu tempat yang terlampau baik buat dirinya, meskipun ia sadar, bahwa untuk seterusnya ia tidak akan diperlakukan seperti pada saat-saat ia masih belum dapat bangkit dan berjalan sendiri. Namun apapun yang akan dilakukan, tinggal di padepokan yang bersih dan sejuk ini pasti akan sangat menyenangkan.

“Aku sudah biasa bekerja keras. Seandainya aku disini harus bekerja keras, maka aku tidak akan berkeberatan. Tetapi padepokan ini rasa-rasanya memiliki kesejukan yang tenang“ Buntal bergumam di dalam hatinya.

“Bagaimana menurut pendapatmu?“

Buntal menundukkan kepalanya. Namun terdengar ia menjawab lirih “Aku senang sekali Kiai, apabila aku diperkenankan tinggal disini. Aku memang tidak mempunyai lagi tempat untuk menompangkan diri”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu “Jadi, kemanakah sebenarnya tujuanmu ketika kau bermalam di gubug itu sehingga kau mengalami nasib kurang baik?“

“Aku memang tidak mempunyai tujuan Kiai. Aku berjalan saja menurut langkah kakiku”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Kemudian dimintanya Buntal berceritera tentang dirinya.

Dengan singkat Buntal mengisahkan riwayatnya. Tetapi ia masih tetap melampaui nama-nama paman dan bibinya. Ia tidak ingin menyangkutkan kedua orang itu bersama anak-anaknya pada persoalan apapun juga agar mereka tidak semakin terlibat dalam kesulitan.

“Jadi ayah dan ibumu menjadi abdi Katumenggungan?“

“Ya Kiai, Tumenggung Gagak Barong”

“Tumenggung Gagak Barong. Aku pernah mengenal nama itu. Tetapi apakah ia sekarang berhubungan dengan orang-orang asing yang mulai banyak berkeliaran di Surakarta?“

Buntal mengangguk lemah.

Kiai Danatirta memandang Buntal dengan tatapan mata iba. Seandainya anak itu tidak mendapatkan tempat yang baik, maka hari depannya pasti akan menjadi sangat suram. Banyak sekali didengarnya ceritera tentang anak-anak yang tersesat masuk ke dalam lingkungan orang-orang jahat. Anak yang sebenarnya mempunyai bekal yang baik jasmaniah dan rohaniah, namun karena ia berada di lingkungan yang hitam, akhirnya hati merekapun menjadi hitam pula.

Dan kini, selain para penjahat yang berhati kelam, maka Surakarta menghadapi persoalan baru. Persoalan orang-orang yang berhati hitam tetapi berkulit putih. Orang-orang yang bukan saja membentuk kelompok-kelompok kecil yang merampok orang-orang kaya, tetapi orang berhati hitam dan berkulit putih itu telah membentuk suatu kelompok raksasa yang merampok bukan saja orang-orang kaya, tetapi juga orang-orang miskin.

“Buntal” berkata Kiai Danatirta kemudian “Kalau kau memang tidak berkeberatan, baiklah. Tetapi kau harus menyesuaikan dirimu dengan keadaan disini. Setiap orang di padepokan ini harus bekerja sesuai dengan tugas masing-masing. Semua harus bekerja keras. Hanya dengan bekerja keras kita dapat mencukupi kebutuhan kita“

“Ya Kiai. Aku akan berusaha bekerja apa saja yang harus aku kerjakan”

“Bagus. Kalau kau memang sudah berbekal tekad di hatimu, maka kau pasti akan dapat melakukannya. Kau akan menjadi kawan Raden Juwiring”

Buntal mengangguk-angguk kecil. Sejak ia melihat untuk pertama kalinya, ia agak tertarik pada bentuk dan ujud jasmaniah Raden Juwiring yang agak berbeda dengan ujud anak-anak padesan. Tetapi ia tidak berani menanyakannya hal itu kepada Kiai Danatirta.

Tetapi agaknya orang tua itu mengerti pertanyaan yang tersimpan di hati Buntal, sehingga iapun kemudian berkata “Buntal, Raden Juwiring tidak berasal dari padepokan ini atau padukuhan di sekitar padepokan ini. Ia berasal dari kota, dan bahkan ia adalah anak seorang bangsawan.

“Bangsawan?“ bertanya Buntal. Tiba-tiba saja wajahnya menegang, sehingga Kiai Danatirta melihat perubahan itu dengan jelas. Karena itu Kiai Danatirta melihat pula sesuatu yang tersirat di dalam hati Buntal.

“Apakah kesanmu tentang seorang bangsawan, Buntal?“

Buntal menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut.

“Coba katakan, apa kesanmu tentang seorang bangsawan. Katakan seperti yang sebenarnya tersimpan di dalam hatimu. Raden Juwiring tidak duduk bersama kita sekarang, dan aku tidak akan mengatakan apapun kepadanya, apakah kesanmu baik atau buruk”

Buntal masih menundukkan kepalanya.

“Katakan Kau pasti sudah mengenal Tumenggung Gagak Barong. Kau pasti mengenal keluarganya dan kalau ada, anak-anaknya. Apakah kau mempunyai kesan khusus atau kau menganggapnya bahwa seorang bangsawan tidak ada bedanya dengan orang kebanyakan?“

Buntal masih juga ragu-ragu. Tetapi Kiai Danatirta berkata lebih lanjut “Wajahmu menunjukkan kesan yang lain, Buntal”

Buntal tidak dapat ingkar lagi. Karena itu maka jawabnya “Ya Kiai. Aku memang terpengaruh sekali oleh keadaanku selagi aku masih tinggal di Tumenggungan. Pada umumnya seorang bangsawan adalah orang yang keras hati dan menganggap kami, orang-orang kebanyakan, sama sekali tidak berarti di dalam tata kehidupan. Mereka dapat berbuat apa saja atas kami. Dan mereka selalu menganggap kami bersalah”

Kiai Danatirta mengangguk. Buntal berusaha untuk mengatakannya dengan hati-hati sekali.

“Jadi, apakah kau diperlakukan seperti itu di Katumenggungan, Buntal?“

Buntal menganggukkan kepalanya.

“Juga ayahmu?“

Sekali lagi Buntal mengangguk. Namun diantara nafasnya yang memburu ia berkata terbata-bata “Terlebih-lebih di saat terakhir”

“Dan kau diusirnya?

“Ya Kiai”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditepuknya bahu Buntal yang menundukkan kepalanya dalam-dalam “Memang Buntal. Ada bangsawan yang bersikap demikian. Yang merasa dirinya lebih tinggi derajadnya dari kebanyakan orang. Mereka merasa diri mereka keturunan raja-raja yang berkuasa” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi seperti manusia kebanyakan, dimanapun juga dan di dalam lingkungan apapun juga, ada beberapa perkecualian. Diantaranya adalah Juwiring. Raden Juwiring”

Jilid 01 Bab 2 : Jati Aking

Buntal mengangkat wajahnya sejenak, namun wajah itupun kemudian tertunduk kembali.

“Raden Juwiring adalah seorang anak muda yang baik. Buntal, meskipun ia lahir dari tetesan darah seorang bangsawan. Dan demikianlah agaknya, bahwa kita dilahirkan dalam lingkungan yang berbeda, tetapi tiada berbeda. Sifat-sifat yang kemudian melekat pada diri kita masing-masing itulah yang membuat kita menemukan bentuk pribadi kita. Dan sifat-sifat itu dipengaruhi oleh, banyak hal diluar diri kita sendiri, dikehendaki atau tidak dikehendaki”

Buntal mengerutkan keningnya. Dengan susah payah ia mencoba menangkap maksud Kiai Danatirta. Namun perlahan-lahan ia melihat juga, meskipun samar-samar, maksud dari kata-kata itu.

“Karena itu Buntal” berkata Kiai Danatirta selanjutnya “Cobalah untuk mengenal Juwiring sebaik-baiknya tanpa prasangka”

Buntal menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Maaf Kiai. Mungkin aku terdorong perasaan dan mempunyai penilaian yang salah terhadap seseorang. Tetapi aku baru saja mengetahui bahwa Raden Juwiring adalah seorang bangsawan”

“Dan kau sudah mempunyai bekal anggapan tentang seorang bangsawan, meskipun ia bukan Juwiring. Anggapan itulah yang harus kau nilai. Mungkin kau tidak hanya melihat Tumenggung Gagak Barong saja. Mungkin kau mendengar dari kawan-kawanmu, mungkin dari orang lain tentang sifat seorang bangsawan. Dan semuanya itu membuat bayangan-bayangan yang kelam di dalam hatimu. Namun cobalah, untuk memandang dengan cara lain atas Raden Juwiring yang kebetulan juga seorang bangsawan”

Sekali lagi Buntal mengangguk-angguk. Jawabnya lirih “Ya Kiai. Aku akan mencoba untuk memandangnya sebagai Raden Juwiring itu sendiri, tanpa pengaruh prasangka yang sudah membekas di dalam hati”

Kian Danatirta tersenyum. Ternyata Buntal bukan anak yang terlampau dungu meskipun ia hanya anak seorang abdi. Tetapi seperti yang dikatakannya sendiri, semua unsur manusiawi dapat ditemuinya disetiap kelahiran, di dalam lingkungan yang berbeda tetapi tidak berbeda itu.

“Kau sudah berpijak pada alas yang benar Buntal. Raden Juwiring hanya kebetulan saja lahir disela-sela lingkungan bangsawan. Kau harus menilainya sebagai unsur badaniah. Tetapi tidak sebagai unsur rohaniah”

Buntal menjadi agak bingung. Namun Kiai Danatirta berkata “Kenang sajalah kata-kataku. Kalau kau masih belum jelas sekarang, pada suatu saat kau akan dapat menilainya. Dalam pada itu, sikapmu sendiripun sudah menjadi semakin matang”

“Ya Kiai” sahut Buntal. Kepalanya masih tertunduk dan seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, sebagian dari persoalan itu baru dapat diingatnya saja di dalam kepalanya. Tetapi ia masih belum dapat memecahkannya.

“Nah, sejak sekarang kau dapat berbuat sesuatu sebagai seorang kawan yang paling dekat dengan Raden Juwiring, karena di padepokan ini tidak ada orang lain kecuali kalian berdua, anakku Arum, dan beberapa orang pembantu yang agaknya dunianya sudah tidak sesuai lagi dengan Raden Juwiring, karena mereka pada umumnya sudah berumur jauh lebih tua”

Buntal menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Terima kasih atas kesempatan ini Kiai”

“Cobalah menyesuaikan diri, hidup djpadepokan kecil yang sepi ini”

Tetapi suasana di padepokan kecil itu ternyata sangat menarik bagi Buntal. Ia merasa jemu hidup di dalam kebisingan rumah Tumenggung Gagak Barong. Derap kuda dan kereta yang hilir mudik. Bentakan-bentakan yang keras dan menyakitkan hati. Kesibukan yang tidak pernah selesai, di dapur, di halaman dan dimana saja. Sejak matahari terbit sampai matahari terbenam setiap orang harus berbuat sesuatu dalam hiruk pikuk yang menjemukan. Menggosok tiang-tiang pendapa yang berukir dan bersungging halus, membersihkan lantai yang sudah bersih. Menjatahkan diri dan duduk bersila dimanapun juga mereka bergapasan dengan Raden Tumenggung. Dan segala macam pekerjaan yang gelisah.

Berbeda dengan keadaan di padepokan ini. Bukan berarti bahwa setiap orang di padepokan ini hanya sekedar bermalas-malasan. Tetapi kerja yang dilakukan justru membawa ketenteraman di hati. Bekerja di antara dedaunan yang hijau segar. Di dalam silirnya angin dan desir ranting-ranting yang bergerak lembut. Di kejauhan terdengar suara tembang yang ngelangut dibarengi dengan suara seruling gembala di rerumputan.

Demikianlah maka Buntal merasa kerasan tinggal di padepokan itu. Dari hari ke hari ia mulai mengenal Juwiring lebih dalam. Selain itu juga Arum. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, sebenarnyalah bahwa Juwiring mempunyai sifat dan ciri-ciri yang berbeda dari kebanyakan bangsawan yang pernah dikenalnya.

Raden Juwiring ternyata tidak memandang orang lain jauh lebih rendah dari dirinya. Ia menganggap setiap orang saudaranya.

Sedangkan Arum adalah seorang gadis yang berhati lembut. Kadang-kadang masih terucapkan olehnya, penyesalan yang dalam, justru karena ia berteriak di saat-saat mereka bertemu untuk pertama kali.

“Kau tidak sengaja mencelakakan aku” berkata Buntal.

“Aku hanya terkejut sekali waktu itu. Aku tidak menyangka bahwa ada orang lain diatas gubug sepagi itu”

Buntal tersenyum. Bahkan kemudian ia berkata “Jika tidak demikian, maka aku tidak akan mendapat kesempatan tinggal di padepokan ini”

Arumpun tersenyum pula. Katanya “Alangkah senangnya kalau kau datang ke rumah ini tanpa biru pengap seperti itu”

“Alangkah senangnya. Tetapi itulah yang terjadi”

Keduanya tertawa. Tawa yang segar di padepokan yang tenteram.

Namun demikian ada sebuah teka-teki bagi Buntal yang masih belum terjawab. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya kepada siapapun karena keseganannya.

“Kenapa Raden Juwiring itu berada di padepokan ini?” Tetapi Buntal selalu menggelengkan kepalanya sambil bergumam kepada diri sendiri “Ah, itu bukan persoalanku. Ia sudah berada disini. Dan ia bersikap baik kepadaku”

Dengan demikian maka anak muda yang berada di padepokan itu berhasil menyesuaikan diri mereka masing-masing. Bukan saja Buntal dan Juwiring yang sedikit lebih tua daripadanya, tetapi juga Arum.

Tetapi ternyata bahwa mereka tidak saja harus bekerja keras di sawah dan ladang setiap hari. Ada sesuatu yang Baru bagi Buntal. Di padepokan itu Raden Juwiring tidak saja hidup sederhana seperti kehidupan orang kebanyakan, tetapi ia juga mempelajari sesuatu dari Kiai Danatirta.

Mula-mula Buntal hanya diperkenankan menyaksikan. Di tempat yang tertutup Raden Juwiring mempelajari ilmu olah kanuragan. Ilmu ketangkasan badaniah dan tata bela diri.

“Menarik sekali” berkata Buntal di dalam hatinya. Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada siapapun. Namun setiap kesempatan yang didapatnya untuk menyaksikan latihan-latihan olah kanuragan. Buntal merasa beruntung sekali.

Agaknya Kiai Danatirta melihat minat yang begitu besar tersirat di wajah Buntal yang sengaja diperkenankannya melihat latihan-latihan itu. Bahkan, pada suatu saat, tanpa disadari oleh Buntal, Kiai Danatirta melihat anak itu menirukan gerak-gerak yang dilihatnya pada latihan-latihan Di tempat tertutup itu.

“Buntal” berkata Kiai Danatirta kepada Buntal yang dipanggilnya menghadap “Apakah kau tidak jemu melihat latihan-latihan bagi Raden Juwiring itu?“

Buntal mengangkat wajahnya. Tampak sesuatu tersirat di wajah itu. Namun kemudian wajah itu tertunduk.

Perlahan-lahan terdengar Buntal menjawab “Tidak Kiai. Aku senang sekali melihatnya”

“Raden Juwiring telah agak lambat mulai dengan penyadapan ilmu olah kanuragan. Tetapi aku masih berpengharapan, bahwa ia akan segera maju dan menguasai ilmu yang aku berikan kepadanya”

Buntal hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Buntal“ suara Kiai Danatirta menjadi dalam “Apakah kau juga berminat untuk ikut mempelajari ilmu semacam itu?“

Sekali lagi Buntal mengangkat wajahnya. Dari sorot matanya, Kiai Danatirta melihat gejolak di dada anak muda itu.

“Apakah kau juga ingin?“ ulang Kiai Danatirta.

“Sebenarnyalah Kiai. Tetapi aku tidak berani mengatakannya”

Kiai Danatirta tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata “Aku memang sudah menduga. Dan aku tidak berkeberatan apabila kau tidak saja mengawani Raden Juwiring setiap hari, tetapi juga mengawaninya menyadap ilmu kanuragan itu”

“Terima kasih Kiai. Apabila aku diperkenankan, aku berterima kasih sekali”

Kiai Danatirta menepuk bahu Buntal. Kalanya “Tetapi olah kanuragan bukan sekedar suatu permainan, Buntal. Bukan seperti permainan jirak, sembunyi-sembunyian di bulan terang. Juga tidak serupa dengan binten dan bantingan di pasir tepian sungai. Meskipun binten dan bantingan juga memerlukan ketangkasan, tetapi itu sekedar permainan. Tidak ada cara lain yang pernah dipergunakan dalam binten selain cara-cara yang sampai sekarang berlaku. Juga bantingan. Siapa yang berada di bawah dalam hitungan tertentu la akan kalah. Tidak boleh menggigit, tidak boleh menggelitik dan menarik rambut”

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi ilmu olah kanuragan memerlukan waktu untuk mengerti dan apalagi mendalaminya” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Apakah kau dapat mengira-ngirakan, berapa waktu yang kau perlukan untuk mempelajari ilmu itu?“

Buntal tidak menyahut.

“Kau memerlukan waktu bertahun-tahun Buntal. Ya, bertahun-tahun.

Tetapi kau dapat melakukannya bertahap. Setapak demi setapak. Dan setiap langkah, merupakan kebulatan-kebulatan tertentu” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Apakah kau sanggup?“

Buntal memandang Kiai Danatirta sejenak, lalu “Ya Kiai. Aku sanggup”

“Apakah kau sudah berpikir baik-baik”

“Sudah Kiai”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Ia tahu bahwa sebenarnya Buntal memang ingin sekali melakukannya. Tetapi seperti yang dikatakan, ia tidak berani mengemukakannya kepada siapapun.

“Kalau begitu baiklah. Aku memberi kesempatan kepadamu untuk berlatih olah kanuragan. Tetapi kau harus bersungguh-sungguh. Di dalam tiga bulan, aku akan melihat kemajuanmu. Kalau kau tidak berhasil mencapai taraf yang sewajarnya, maka sayang sekali, kau tidak akan dapat meneruskannya”

Buntal memandang Kiai Danatirta sejenak. Kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. Namun demikian terbayang di wajahnya, tekad yang mantap untuk ikut serta berlatih diri, menyadap ilmu olah kanuragan itu.

“Kau masih belum jauh ketinggalan dari Raden Juwiring” berkata Kiai Danatirta selanjutnya “Aku akan mencoba menyesuaikan ilmu yang bersama-sama akan kalian pelajari”

“Ya Kiai” jawab Buntal. Terasa sesuatu melonjak di dadanya. Ia sama sekali tidak bermimpi bahwa ia akan mendapat kesempatan yang baik itu.

“Tetapi Buntal. Ada beberapa pantangan dan kewajiban yang harus kau lakukan dengan tertib, apabila kau mulai mempelajari ilmu olah kanuragan” berkata Kiai Danatirta selanjutnya “Apakah kau akan bersedia melakukannya”

Buntal menganggukkan kepalanya.

“Buntal. Kalau sekali kau mencecap ilmu dari padepokan ini maka untuk seterusnya kau tidak akan pernah dapat melepaskan diri dari kewajiban-kewajiban dan pantangan-pantangan itu. Seumur hidupmu. Kau mengerti arti dari tanggung jawab itu?“

Buntal menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya. Katanya “Aku mengerti Kiai”

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Tetapi seandainya kau gagal setelah tiga bulan, namun pantangan dan kuwajiban itu masih akan tetap berlaku bagimu sepanjang hidupmu, kecuali apabila kemudian kau berniat melepaskan diri dari keluarga kami untuk seterusnya pula, serta menanggung segala akibatnya”

Buntal masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dengarlah baik-baik” berkata Kiai Danatirta kemudian “pantangan lahiriah yang dapat aku beritahukan sebagai salah satu contoh adalah, kau harus merahasiakan bahwa di padepokan ini telah dilakukan penurunan ilmu olah kanuragan, sehingga dengan demikian kau tidak boleh menunjukkan kemampuanmu dimanapun juga apabila kau tidak terpaksa sekali. Dan kau harus menghindarkan kesan, bahwa ilmu yang kau miliki itu kau dapat dari padepokan ini”

Buntal menganggukkan kepala.

“Kemudian, sebenarnyalah bahwa semua kemungkinan itu sumbernya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kau harus berjanji, bahwa ilmu yang kau dapat itu, sejauh-jauh mungkin kau pergunakan untuk kemanusiaan dan mencari ridho dari Tuhan Yang Maha Kuasa“

Buntal termangu-mangu sejenak.

“Maksudku, bahwa dengan ilmu itu kelak, kau harus berusaha berjalan dalam kebenaran”

“O“ Buntal mengangguk-angguk “Ayahku dahulu juga berkata begitu. Aku harus pasrah diri kepada Tuhan”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Katanya “Jadi ayahmu juga berkata begitu?“

“Ya Kiai”

Kiai Danatirtapun mengangguk. Ternyata meskipun ayah Buntal sekedar seorang pelayan, tetapi ia memperhatikan sekali kepada anaknya, bukan saja hidup jasmaniahnya, tetapi juga hidiup rohaniahnya. Tentu saja sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya.

Demikianlah, maka kesempatan yang diberikan kepada Buntal itu sangat menggembirakan Raden Juwiring. Mempelajari olah kanuragan seorang diri, terasa kurang menggairahkan. Tetapi berdua, agaknya suasananya akan menjadi lebih hidup. Keduanya dapat saling mengisi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri masing-masing Sedangkan Kiai Danatirta sendiri akan mendapat bahan pertimbangan dari perkembangan kedua murid-muridnya itu.

Namun demikian, tidak seorangpun yang mengetahui bahwa di padepokan kecil itu dua orang anak-anak muda sedang menerima ilmu olah kanuragan. Karena tidak seorangpun yang tinggal di padukuhan itu yang mengetahui, bahwa Kiai Danatirta adalah seorang yang mumpuni. Mereka hanya mengenalnya sebagai seorang tua yang baik, yang mempunyai pengetahuan yang luas dan menjadi tempat untuk mendapatkan nasehat dan petunjuk-petunjuk apabila di dalam perjalanan hidup seseorang dijumpai kesulitan. Namun tidak seorangpun yang menyangka, bahwa dibalik wadagnya yang tampaknya lemah, Kiai Danatirta memiliki ilmu yang tinggi dalam olah kanuragan.

Seperti yang dijanjikan kepada diri sendiri, ilmu itu hanya akan diberikan kepada mereka yang sesuai di hatinya. Dan yang sesuai baginya adalah anak-anak muda yang lembah manah. Anak-anak muda yang rendah hati dan jujur. Terlebih-lebih adalah anak-anak muda yang mengenal dirinya sendiri sesuai dengan tempatnya di dalam alam semesta, serta hubungan yang akrab antara alam yang besar dan alam kecil di dalam putaran waktu dan kejadian, dalam ikatan sebab dan akibat, yang berporos pada suatu sumber gerak yang Maha Mengetahui.

Dan pilihan Kiai Danatirta pertama-tama jatuh pada seorang keturunan bangsawan yang sedang berprihatin. Raden Juwiring. Namun kemudian ia melihat sesuatu yang tidak kalah bobotnya yang terdapat di dalam diri anak muda yang sederhana, yang diketemukannya dengan cara yang aneh. Buntal.

Meskipun demikian Kiai Danatirta cukup berhati-hati la tidak segera menuangkan pokok-pokok ilmu yang sebenarnya dari ilmunya. Yang sebenarnya diberikan dalam bulan-bulan pertama sampai ketiga adalah sekedar olah kanuragan yang pada umumnya dikuasai oleh anak-anak muda dan apalagi prajurit-prajurit, yang tidak mempunyai ke khususan sama sekali.

Namun demikian, murid-muridnya itu seakan-akan sudah harus bekerja berat dan berlatih mati-matian. Sehingga dengan demikian Kiai Danatirta dapat menilai, apakah ia akan dapat melanjutkan atau harus diambil keputusan lain.

Kiai Danatirta tidak mau mengulangi kesalahannya lagi. Bagaimanapun juga, sebagai manusia ia pernah khilaf. Orang yang mula-mula dapat menumbuhkan kepercayaannya, ternyata telah menimbulkan banyak kesulitan padanya, sehingga ia harus meninggalkan padepokannya yang lama dan tinggal di padepokannya yang baru ini. Orang yang pertama kali berhasil memasuki perguruannya ternyata bukanlah orang yang diharapkannya.

Kiai Danatirta selalu menghela nafas dalam-dalam apabila ia terkenang masa-masa lampau yang pahit itu.

Tetapi seluruh kesalahan itu tidak dapat aku timpakan padanya desisnya setiap kali “Anakku juga ikut bersalah”

Dan terbayang kembali hubungan yang sangat akrab antara muridnya itu dengan anak puterinya. Dan saat itu, Kiai Danatirta yang masih mempergunakan nama lain, sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan ia mengharap bahwa muridnya itu kelak akan menjadi pewaris ilmunya, sekaligus menantunya.

Tetapi ternyata harapan itu sama sekali tidak dapat terwujud. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Malapetaka.

Ternyata puterinya sama sekali tidak bermaksud hidup bersama muridnya. Hubungan yang akrab itu adalah sekedar hubungan antara orang serumah. Sejauh-jauhnya hubungan antara kakak beradik. Ternyata puterinya telah menjatuhkan pilihan atas cintanya kepada orang lain. Kepada anak muda yang lain.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Peristiwa itu selalu mengingatkannya, bahwa ia adalah seorang manusia biasa. Seorang manusia yang lemah, jasmaniah dan rohaniah.

“Tuhan telah menegur aku dengan cara yang sangat keras “ keluh Danatirta “Aku waktu itu memang terlampau bangga atas kelebihanku dari orang-orang kebanyakan. Tetapi Tuhan telah menunjukkan kelemahanku. Kelemahan yang tidak dipunyai oleh orang lain yang aku anggap jauh lebih lemah daripadaku” Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam, dan ia melanjutkannya di dalam hati “ternyata yang lemah itu memiliki kekuatan, dan yang kuat itu memiliki kelemahan. Mungkin aku dapat menunjukkan kelebihanku dalam olah kanuragan, tetapi tidak dalam menuntun anak. Orang yang paling lemah di dalam olah kanuragan dapat menuntun anaknya sampai ke puncak kemampuan untuk sesuatu bidang unsur hidup manusiawi. Tetapi aku tidak”

Orang tua itu mengelus dadanya dengan telapak tangannya, seakan-akan ingin menekan gejolak yang meronta-ronta di dalam dadanya itu.

Terbayang kembali betapa anak perempuannya itu menolak segala nasehatnya, dan atas kehendaknya sendiri, ia telah dilarikan oleh laki-laki yang dicintainya.

Namun itu bukan peristiwa yang terakhir. Muridnya yang menjadi panas tanpa setahunya telah mencari kedua anak-anak muda itu. Betapa pahitnya ketika ia kemudian mengetahui bahwa kedua laki-laki muda itu mati sampyuh di dalam satu perkelahian yang jantan. Keduanya mempergunakan keris dengan warangan yang kuat, dan kedua-duanya ternyata telah tergores oleh keris itu, sehingga jiwa mereka tidak tertolong lagi.

Dengan demikian, maka tidak ada yang dapat dilakukan sebagai seorang ayah untuk mengambil anaknya kembali, anaknya yang justru telah mengandung.

Hidup yang pahit itu harus ditanggungkannya. Ketika cucunya lahir, maka ibu yang selalu dibebani oleh perasaan bersalah itu tidak dapat tertahan hidup lebih lama lagi. Anak perempuan Kiai Danatirta yang melahirkan anak perempuan itupun kemudian meninggal.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Cucunya itulah yang kini bernama Arum. Tetapi tidak seorangpun yang mengetahui bahwa Arum adalah cucunya. Di tempatnya yang baru itu. Sejak ia membuka padepokan kecil yang dinamainya seperti hatinya yang kering, padepokan Jati Aking, di sebelah padukuhan Jatisari, ia sudah menganggap Arum sebagai pengganti anaknya yang telah hilang dari hatinya itu.

Dengan sepenuh hati Kiai Danatirta mendidik cucunya itu, agar ia dapat menebus kelengahannya selagi ia momong anaknya perempuan, sehingga terjadi peristiwa yang sangar membekas di hatinya.

Namun tiba-tiba Kiai Danatirta itu bagaikan terlonjak di tempat duduknya. Dengan suara gemetar ia berkata kepada diri sendiri “Sekarang aku telah menyediakan minyak itu didekat api. O, alangkah bodohnya aku ini. Di padepokan ini sekarang ada dua orang anak muda. Aku sendirilah yang menempatkan mereka disini. Di padepokan ini, bersama-sama dengar Arum”

Kesadaran itu ternyata telah mencemaskan hati Kiai Danatirta. Sekali-sekali terbayang wajah Raden Juwiring yang selalu dihiasi dengan senyum yang menawan. Kemudian wajah Buntal yang sederhana tetapi bersungguh-sungguh penuh pengertian atas alas keprihatinan.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Keduanya telah terlanjur berada di padepokannya. Dan keduanya baginya adalah anak muda yang baik.

“Suatu masa pendadaran bagiku“ berkata Kiai Danatirta, lalu “sampai umurku setua ini, aku masih harus menjalani ujian yang berat. Mudah-mudahan kali ini aku dapat mengatasinya. Dan mudah-mudahan kedua anak-anak muda ini mempunyai perhatian yang berbeda dari muridku yang dahulu. Atau tergantung kepadaku, bagaimana caraku mengarahkan hubungan mereka bertiga”

Namun kesadaran itu telah membuat Kiai Danatirta menjadi berhati-hati. Dan ia merasa bersyukur atas kenangan yang selalu membayang, sehingga seakan-akan ia selalu dihadapkan pada sebuah cermin untuk selalu melihat cacat di wajahnya.

Dan setiap kali Kiai Danatirta selalu berkata, bukan saja kepada diri sendiri, tetapi juga kepada murid-muridnya “Di dalam kekuatan terdapat kelemahan, dan di dalam kelemahan terdapat kekuatan.

Tetapi pada pekan-pekan pertama ia mulai memberikan latihan kepada muridnya itu, telah timbul suatu persoalan baru bagi Kiai Danatirta. Anaknya, Arum minta kepadanya dengan sepenuh hati, bahkan sambil merengek, agar ia diperkenankan ikut mempelajari olah kanuragan.

“Kau seorang gadis” berkata ayahnya “Tidak menjadi kebiasaan seorang gadis mempelajari olah kanuragan”
”Tetapi aku ingin sekali ayah. Biarlah orang lain tidak. Kalau ayah mau menurunkan ilmu itu kepada orang lain, kenapa tidak kepadaku? Kepada anaknya, meskipun aku seorang perempuan?“

“Arum. Mempelajari ilmu kanuragan bukanlah sekedar menjadi seorang yang tangguh. Tetapi sesuai dengan wadag seorang Laki-laki, ia pantas pergi dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengamalkan ilmunya. Tetapi tidak bagi seorang gadis. Tidak pantas sama sekali, dan bahayanya jauh lebih dahsyat dari seorang laki-laki”

“Apakah seorang laki-laki tidak dapat menjumpai bahaya? Apakah seorang Laki-laki tidak akan pernah menjumpai lawan yang melampauinya, tetapi selalu demikian bagi perempuan? Dan perempuan selalu tidak akaln dapat melepaskan diri dari bahaya?“

“Bukan begitu Arum. Bahaya yang paling besar bagi seorang laki-laki adalah maut. Tetapi tidak bagi perempuan. Kau mengerti? Masih ada bencana yang lebih dahsyat dari maut, justru karena ia
terlepas dari maut itu”

Arum menundukkan kepalanya, la mengerti maksud ayahnya. Perempuan memang mempunyai kelemahannya sendiri. Mungkin dalam sebuah perjalanan ia bertemu dengan orang yang tidak dapat dikalahkannya. Tetapi orang itu tidak membunuhnya. Dan karena justru ia tidak dibunuh itulah ia akan jatuh ke dalam neraka yang lebih jahat dari mati.

Tetapi tiba-tiba saja Arum mengangkat wajahnya sambil menyahut dengan serta meria “Aku akan membunuh diri di dalam keadaan yang demikian”

“Arum” suara Kiai Danatirta merendah “bunuh diri bukannya penyelesaian yang baik. Justru seorang yang bunuh diri akan menjumpai persoalan tanpa selesai, karena persoalannya beralih menjadi persoalan dan pertanggungan jawab kepada Tuhan Yang Maha Penyayang. Jelasnya bunuh diri apapun alasannya adalah perbuatan dosa”

“Baiklah, aku tidak akan membunuh diri. Tetapi aku akan memilih melawan sampai mati seperti Laki-laki. apabila kebetulan saja aku mengalami peristiwa yang pahit itu”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Hati anak perempuannya itu memang keras, sekeras hati ibunya. Dengan demikian maka kecemasan mulai merayapi dada orang tua itu. Kalau pada suatu saat anaknya ini tergelincir, maka ia akan mengeraskan hatinya di dalam kesesatannnya itu seperti ibunya.

Karena Kiai Danatirta tidak segera menjawab, maka Arum mendesaknya “Kenapa ayah diam saja?“

“Baiklah aku memikirkannya Arum”

“Kenapa harus dipikirkan?“

“Tunggulah sehari dua hari. Aku akan menimbang baik dan buruknya” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi kenapa kau tiba-tiba saja ingin ikut serta mempelajari olah kanuragan? Kenapa tidak sebelum ini?“

“Aku tidak tahu ayah. tetapi memang tiba-tiba saja aku ingin mempelajarinya”

“Baiklah. Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya”

“Apa yang harus dipertimbangkan? Aku menyatakan keinginanku mempelajarinya. Bukan untuk dipertimbangkan. Akulah yang bermaksud berbuat dan aku akan berbuat”
Dada Kiai Danatirta berdesir mendengar jawaban itu. Jawaban itu mirip benar dengan jawaban ibunya ketika ia mencoba mencegahnya berhubungan dengan seorang Laki-laki diluar padepokannya. Ibu Arum itu menjawab “Ayah tidak perlu mempersoalkannya. Akulah yang akan kawin. Bukan ayah. Karena itulah, akulah yang memutuskannya”

Pada saat itu. hampir saja ia menampar mulut anaknya. Untunglah bahwa ia masih dapat mengendalikan dirinya, meskipun saat itu ia mengancam “Kalau laki-laki itu masih datang lagi kepadamu, aku bunuh dia”

Tetapi yang terjadi justru anaknya dibawa lari, Dan muridnyalah yang membunuh laki-laki itu sampyuh dengan kematian sendiri. Dua jiwa telah menjadi korban.

Sejenak Kiai Danatirta merenung. Namun karena ayahnya tiba-tiba saja memandang kekejauhan, dan bahkan terbayang perasaan yang pedih di matanya tanpa diketahui sebab yang sebenarnya, Arum menjadi berdebar-debar. Ia menyangka, bahwa kata-katanya lelah menyakiti hati ayahnya. Sama sekali tidak terbayang di kepalanya, bahwa ayahnya yang sebenarnya adalah kakeknya itu sedang membayangkan suatu masa lampau yang panjang.

“Ayah” tiba-tiba Arum berjongkok di hadapan ayahnya yang duduk di bibir amben “Kenapa ayah merenung?“

“O” Kiai Danatirta terkejut. Kemudian iapun tersenyum sambil berkata “Tidak apa-apa Arum”

“Apakah kata-kataku melukai hati ayah?“

Kiai Danatirta menarik nafas dalam. Jawabnya “Tidak Arum. Tetapi ayah ingin anaknya menuruti kata-katanya. Tentu saja, ayah tidak selalu benar. Tetapi kadang-kadang seorang tua, betapapun bodohnya, mempunyai firasat tentang anak-anaknya”

“Maafkan aku ayah” suara Arum merendah “Aku tidak akan memaksa ayah. Aku akan menurut segala nasehat ayah. Aku hanya sekedar menyatakan keinginan hatiku. Tetapi terserahlah kepada ayah”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Inilah bedanya Arum dengan ibunya. Ternyata Arum mempunyai kelembutan di samping kekerasan hatinya.

Karena Kiai Danatirta tidak segera menjawab, maka Arumpun berkata pula “Apakah ayah marah kepadaku?“

“O, tidak. Tidak Arum. Aku tidak marah”

“Tetapi ayah diam saja “

“Aku sedang berpikir”

“Ayah tidak usah memaksa diri untuk mengambil keputusan sekarang. Aku akan menunggu”

Kiai Danatirta memandang Arum sejenak. Kemudian sekali lagi ia tersenyum “Ya. Kau memang harus menunggu”

Meskipun Arum kemudian meninggalkan Kiai Danatirta, namun Kiai Danatirta masih tetap dibebani oleh persoalan itu. Dicobanya untuk menilai untung ruginya. Permintaan Arum baginya merupakan suatu persoalan yang memang baru. Ibunya dulu sama sekali tidak tertarik pada olah kanuragan. Bahkan sebagian hidupnya telah dihabiskannya bekerja di sawah dan di dapur. Dan sebagian yang lain untuk dengan diam-diam menemui laki-laki yang kemudian melarikannya.

“Apakah ada baiknya aku memberi kesempatan kepada Arum untuk mempelajari olah kanuragan?“ pertanyaan itu mulai merayap di hatinya “Ia akan mempunyai suatu perhatian khusus di dalam hidupnya”

Namun demikian, Kiai Danatirta masih selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Ia memang pernah mendengar atau membaca di dalam kitab-kitab, bahwa pernah ada raja-raja perempuan di Tanah Jawa ini. Pahlawan-pahlawan perempuan di ceritera pewayangan dan prajurit-prajurit perempuan. Tetapi lingkungannya sendiri belum pernah melahirkan seorang perempuan yang mumpuni di dalam olah kanuragan.

“Aku akan melihat kemungkinan-kemungkinannya” berkata Kiai Danatirta kemudian kepada diri sendiri.

Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang masak, maka Kiai Danatirta mampu menilai setiap unsur gerak dari ilmunya dari beberapa segi. Dan itulah sebabnya, maka sejak ia mulai mempertimbangkan kemungkinan memberikan ilmu kanuragan kepada Arum Kiai Danatirta mulai melakukan penilaian lebih saksama lagi atas ilmunya. Di malam hari, ketika seisi padepokan itu sudah tidur, maka masuklah ia ke dalam bilik tertutupnya. Diamatinya kembali setiap tata gerak dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling sulit.

Tiba-tiba Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menemukan beberapa unsur gerak yang dapat disesuaikan dengan kemampuan kodrati seorang perempuan.

Tetapi Kiai Danatirta masih belum puas dengan penemuannya yang hanya sekedar unsur-unsur gerak yang terselip di dalam keseluruhan tata gerak, sehingga tidak merupakan suatu kebulatan yang utuh. Namun justru karena itu, maka Kiai Danatirta ternyata telah memulai dengan suatu kerja yang baru. Menyusun ilmu kanuragan khusus untuk seorang perempuan, namun yang tidak kalah dah-syahnya dari ilmu yang diperuntukkannya bagi seorang laki-laki berdasarkan perbedaan wadagnya.

Setiap kali Kiai Danatirta berletnu dengan Arum, tampaklah pertanyaan tersirat di wajah anak itu. Tetapi Kiai Danatirta masih belum memberikan jawaban. Dan betapapun gelisahnya dada gadis itu, namun Arum juga tidak bertanya kepada ayahnya.

Dalam pada itu. Raden Juwiring dan Buntal masih teras melakukan latihan-latihan di bawah tuntunan Kiai Danatirta. Meskipun masih merupakan gerak-gerak dasar dan bersifat umum, tetapi kedua anak-anak muda itu merasa bahwa mereka harus bekerja keras dan dengan penuh kesungguhan.

Ternyata kedua anak-anak muda itu memberikan kepuasan kepada Kiai Danatirta. Keduanya adalah anak-anak yang baik. Dan keduanya mempunyai tubuh yang memungkinkan bagi mereka untuk melakukan latihan-latihan yang berat seperti yang dikehendaki oleh Kiai Danatirta.

Namun di malam hari, apabila padepokan itu sudah sepi, Kiai Danatirta masih berada dibilik tertutup itu sendiri. Dengan tekun ia mematangkan bentuk baru dari ilmunya, meskipun isinya tidak berbeda.

Pada suatu malam yang sepi, Arum terkejut ketika ia mendengar pintu biliknya bergerit. Dengan serta merta ia bangkit dan duduk di pembaringannya.

Namun gadis itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat ayahnya berdiri dimuka pintu.

“Apakah kau sudah tidur Arum?“

Arum menggelengkan kepalanya “Belum ayah. Udara panas sekali sehingga aku tidak dapat tidur”

Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Kalau kau masih belum ingin tidur, kemarilah Marilah kita duduk diluar sejenak, untuk menyegarkan badan”

Arum mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. iapun segera bangkit berdiri dan membenahi pakaiannya. Kemudian diikutinya ayahnya melangkah keluar melalui pintu pringgitan melintasi pendapa.

Arum menarik nafas. Ayahnya itupun kemudian duduk di tangga pendapa.

“Disini tidak begitu panas” berkata ayahnya.

“Ya ayah”

“Duduklah disini“

Arumpun kemudian duduk di samping ayahnya.

“Arum” suara ayahnya menjadi dalam “Apakah kau masih tetap pada keinginanmu?“

“Apa ayah?“ bertanya Arum.

“Olah kanuragan?“

“O. Ya ayah. Aku hampir tidak sabar menunggu jawaban ayah. Aku kira ayah sudah melupakannya, atau sengaja membiarkan saja persoalan itu”

“Kenapa kalau begitu?“

“Aku tidak mau ayah. Aku harus mendapatkan ilmu seperti orang lain di padepokan ini, meskipun aku perempuan”

“Bagaimana kalau ayah berpendirian lain?“

“Tidak. Ayah tidak akan berpendirian lain. Aku memerlukannya. Kalau aku tidak minta kepada ayah, lalu kepada siapa?” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Inilah sifat Arum yang sebenarnya. Sekeras sifat ibunya. Namun Kiai Danatirtapun kemudian berkata “Jadi kau telah mencabut pendirianmu itu?“

“Pendirian yang mana? Aku tidak pernah mencabut sikap yang telah aku tentukan”

“Arum” berkata ayahnya “Bukankah kau mengatakan waktu itu kepada ayah, bahwa kau menyerahkan semuanya kepadaku. Apakah aku akan mengijinkan atau tidak? Bukankah kau tidak akan memaksa ayah dan menurut segala nasehat ayah”

“O“ kepala gadis itupun tertunduk. Perlahan-lahan ia berdesis “Maafkan ayah. Aku memang tidak akan memaksa ayah dan aku akan menurut segala kehendak ayah”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Di samping sifat-sifatnya, Arum telah berhasil menguasai dirinya sendiri meskipun kadang-kadang terlepas. Tetapi untuk seterusnya, ia harus berhati-hati, agar Arum tetap dapat memelihara keseimbangan itu. Bahkan agar ia semakin dekat dengan penguasaan diri tanpa memanjakan perasaannya. Dan inilah kelebihan Arum dari ibunya.
Melihat Arum menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan penuh kecewa Kiai Danatirta menjadi iba. Karena itu maka katanya

“Bagus Arum. Kau adalah anak yang baik. Kau akan tetap menurut nasehat ayah dan tidak akan memaksa. Bukankah begitu?”

“Ya ayah” suara Arum dalam sekali. Bahkan hampir tidak terdengar, karena Arum sedang berusaha untuk menahan air matanya yang telah memanasi pelupuknya.

Tetapi tiba-tiba ia terperanjat ketika ayahnya berkata “Arum. Tetapi bukankah aku belum mengatakan keputusanku tentang permintaanmu?“

Arum mengangkat wajahnya. Sepercik harapan membayang di wajahnya. Tanpa sesadarnya ia bertanya “Jadi maksud ayah?“

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berkata “Arum. Sebenarnya memang kurang lajim seorang gadis mempelajari olah kanuragan. Namun karena kau adalah anakku, maka aku telah mencoba untuk menyingkirkan kejanggalan itu dari hatiku”

Sebelum Kiai Danatirta melanjutkan kata-katanya, Arum telah melonjak dan berlutut di hadapan ayahnya sambil berkata “Terima kasih ayah. Terima kasih”

Sebuah senyum yang cerah membayang di bibirnya, meskipun di matanya secercah air telah membasahi pelupuknya.

Namun sebenarnya Kiai Danatirta mempunyai kepentingan yang. lain pula. la ingin mempergunakan keinginan Arum untuk mempelajari ilmu kanuragan itu sebagai cara untuk menghindarkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak dikehendaki, justru karena di padepokan itu sudah terlanjur terdapat dua orang anak-anak muda.

Demikianlah, maka Arum merasa bahwa dadanya menjadi terlampau lapang. Keinginannya akan terwujud. Bukan saja laki-laki yang boleh menyadap ilmu kanuragan, tetapi ayahnya kini sudah memperkenankannya untuk ikut serta.

“Tetapi” berkata ayahnya “Kau harus tetap seorang gadis Arum. Kau harus tetap berlaku sebagai seorang gadis. Dan kau harus tetap menunjukkan sifat-sifatmu di antara kawan-kawanmu. Kau tidak boleh menunjukkan perubahan apapun yang terjadi pada dirimu, seandainya kelak kau berhasil menguasai ilmu kanuragan ini”

“Aku berjanji ayah”

“Dan kau tidak pernah ingkar janji?“

Arum tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut.

Dalam pada itu, maka Arum tidak sabar lagi menunggu hari-hari berikutnya. Ia ingin segera mulai. Ia ingin segera mempelajari ilmu yang selama ini hanya dapat dilihatnya.

Tetapi ayahnya masih belum memulainya, meskipun beberapa hari telah lewat.

“Apakah ayah hanya sekedar menyenangkan hatiku saja” berkata Arum di dalam hatinya “Tetapi untuk seterusnya ilmu itu tidak pernah diberikannya?“

Namun pada suatu senja, Arum telah dipanggil ayahnya dibangsal latihan. Ketika ia masuk, ternyata di dalam bilik yang agak luas itu telah menunggu Raden Juwiring dan Buntal.

“Apakah kalian akan berlatih” bertanya Arum.

Hampir berbareng keduanya menggeleng. Juwiringlah yang kemudian menjawab “Kami telah dipanggil oleh Kiai Danatirta di luar saat-saat berlatih”

Arum mengerutkan keningnya. Agaknya ayahnyalah yang masih belum ada di ruang itu.

Tetapi Arum tidak menunggu terlalu lama. Sebentar kemudian maka Kiai Danatirtapun telah datang pula ke dalam ruangan itu.

“Anak-anakku” berkata orang tua itu sejenak kemudian “aku memang memanggil kalian bersama-sama. Ada sesuatu yang harus aku beritahukan kepada kalian”

Ketiga anak-anak muda itu menjadi berdebar-debar.

“Pertama-tama, aku memberitahukan kepada Raden Juwiring dan Buntal, bahwa Arum ternyata menyatakan keinginannya untuk mempelajari olah kanuragan. Suatu hal yang janggal bagi seorang gadis. Tetapi itu adalah keinginannya. Dan akupun tidak berkeberatan” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi sudah barang tentu, bahwa meskipun ilmu kalian bersumber pada sifat dan watak yang sama, namun pasti ada perbedaannya di dalam ungkapan, karena bagi seorang laki-laki tentu ada bedanya dari seorang perempuan”

Ketiga anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Terbayang sebuah senyum di bibir Arum. Sedang Juwiring dan Buntal mengangguk-angguk tanpa sesadarnya.

Tetapi terlebih-lebih lagi, aku akaln memberitahukan kepada kalian, hubungan yang harus kalian mengerti setelah kalian berguru bersama-sama” Kiai Danatirta berhenti sejenak. Dipandanginya wajah ketiga anak-anak muda itu satu demi satu. Lalu “ Setelah kalian menjadi murid dari satu perguruan, maka kalian akan menjadi tiga orang bersaudara. Tidak ada bedanya dengan saudara sekandung. Akulah yang menjadi ayah kalian dan ilmu yang akan kalian serap itu adalah pengikat dari persaudaraan kalian”

Ketiga anak-anak muda itupun menundukkan wajahnya.

“Nah, biarlah aku menentukan siapakah yang paling tua di antara kalian, di antara saudara sekandung di dalam penyadapan ilmu ini” berkata Kiai Danatirta kemudian “Bukan berdasarkan waktu kehadirannya di padepokan ini. Jika seandainya demikian, maka Arumlah yang akan menjadi paling tua. Tetapi berdasarkan umur, Raden Juwiring akan menjadi saudara tertua. Buntal akan menjadi anak kedua dan yang bungsu adalah Arum. Sudah tentu sejak sekarang, kalian tidak akan memanggil dengan istilah lain dari istilah persaudaraan ini, dan kalian akan memanggil aku ayah. Memang agak berbeda dengan sebutan perguruan, tetapi aku memang tidak ingin menunjukkan kepada tetangga-tetangga kita. bahwa kita telah mendirikan suatu perguruan kanuragan”

Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk. Sejenak mereka terpukau oleh kata-kata Kiai Danatirta.

“Apakah kalian tidak berkeberatan?“ bertanya Kiai Danatirta kemudian “terutama Raden Juwiring, yang berasal dari keluarga yang agak berbeda dengan kami disini. Dengan Buntal dan dengan Arum”

“Ah“ Juwiring berdesah “Apakah bedanya?“

“Jadi kau tidak berkeberatan?“ bertanya Kiai Danatirta.

Juwiring menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak berkeberatan sama sekali. Aku merasa menemukan saudara sekandung yang dapat aku hayati daripada saudaraku yang sebenarnya. Disini aku menemukan kedamaian hati yang sebenarnya. Di istana ayahnda aku merasa tersiksa. Meskipun aku tinggal rumah yang mewah dan besar, tetapi setiap saat selalu dibayangi oleh kedengkian dan iri”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula.

“Baiklah kau memang tidak berkeberatan. Untuk seterusnya aku hanya akan memanggil nama kalian masing-masing, karena kalian adalah anak-anakku. Tetapi aku sama sekali tidak berhasrat untuk merubah nama itu”

Ketiga anak-anak muda itu tidak menyahut.

“Nah, dengan demikian maka kita mempunyai keluarga baru yang besar sekarang. Tetapi jangan menunjukkan perubahan apapun kepada orang lain. Kepada tetangga-tetangga dan kawan-kawan kalian di padukuhan ini. Kalian harus tetap seperti kemarin. Juga Juwiring masih tetap seperti Raden Juwiring, karena setiap orang mengetahui bahwa kau adalah seorang bangsawan yang dititipkan kepadaku, untuk mendapatkan tuntunan olah kajiwan. Bukan olah kanuragan”

Juwiring mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut Sesaat terbayang kehidupan yang telah ditinggalkannya. Terbayang sebuah istana yang megah dari seorang bangsawan yang kaya. Tetapi justru karena ayahnya seorang yang kaya, dan tidak hanya mempunyai seorang isteri, maka rumah yang megah itu telah menjadi sarang kedengkiain dan iri. Setiap orang selalu curiga kepada orang lain. Kebencian tidak lagi dapat dihindarkan lagi.

Sehingga akhirnya ia terlempar ke padukuhan kecil itu karena bermacam-macam alasan yang sebagian terbesar tidak benar sama sekali, la sadar, bahwa ia sekedar disingkirkan dari lingkungannya yang sedang bergulat berebut kesempatan untuk mendapatkan warisan terbesar.

“Hem“ Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Terbayang pula wajah adik seayah tetapi tidak seibu yang umurnya hampir bersamaan dengan umurnya ”Rudira”

Juwiring terkejut ketika ia mendengar Kiai Danatirta berkata “Sudahlah. Aku tidak mempunyai persoalan lagi kini. Kalian dapat meninggalkan ruangan ini. Besok kita akan mulai dengan ilmu kanuragan dari padepokan ini yang sebenarnya. Selama ini, kalian sekedar mendapat dasar-dasar olah kanuragan pada umumnya. Meskipun waktu yang aku tetapkan sebagai waktu percobaan dan pendadaran belum habis, tetapi aku percaya kepada kalian, bahwa kalian akan selalu melakukan semua petunjukku sebaik-baiknya”

Demikianlah maka ketiga anak-anak muda itu meninggalkan bilik tempat mereka berlatih. Terasa sesuatu yang lain di dalam diri mereka Kini mereka harus menganggap yang satu dengan yang lain sebagai saudara. Saudara sekandung.

Dihari-hari berikutnya, seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, ketiganya mulai mendapatkan latihan-latihan khusus. Mereka mulai mempelajari unsur-unsur gerak yang agak lain dari unsur-unsur gerak yang selama ini mereka pelajari.

Sedangkan Arum telah mendapat waktu tersendiri di dalam latihan-latihan yang memang hanya diperuntukkan baginya. Tetapi di dalam tata gerak dasar, mereka kadang-kadang juga berlatih bersama.

Ternyata mereka tidak mengecewakan hati Kiai Danatirta. Mereka bertiga berlatih bersungguh-sungguh. Kadang-kadang diluar dugaan, bahvta mereka mampu melakukan latihan-latihan yang berat untuk waktu yang melampaui waktu yang sudah ditentukan oleh gurunya.

“Mereka benar-benar telah melakukan dengan sepenuh hati “berkata Kiai Danatirta di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, darah keturunan Juwiring masih tetap menjadi teka-teki bagi Buntal. Ia sama sekali tidak berani bertanya, darimanakah sebenarnya ia datang. Dan putera siapakah ia sebenarnya.

“Apakah ia putera seorang pengeran yang lahir dari seorang selir?“ pertanyaan itulah yang selalu melonjak di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, meskipun Juwiring telah menjadi anak angkat yang sekaligus murid Kiai Danatirta, namun pengaruhnya bagi orang-orang di sekitarnya masih tidak berubah. Bagaimanapun juga ujud lahiriahnya adalah seorang bangsawan yang memang lain dari orang-orang kebanyakan. Bagi tetangga-tetangga Kiai Danatirta, kehadiran seorang bangsawan di padepokan itu mempunyai pengaruh tersendiri. Sikap mereka yang sangat hormat dan segan kepada Juwiring sama sekali tidak berubah, meskipun mereka lahu bahwa sesuatu telah terjadi, sehingga Juwiring harus berada di padepokan Kiai Danatirta untuk menuntut ilmu kajiwan. Mempelajari kesusasteraan dan tata kesopanan. Tetapi diluar dugaan mereka, bahwa di samping itu semua, Juwiring juga mempelajari ilmu kanuragan.

Demikianlah dari waktu ke waktu, ketiga anak-anak muda di padepokan Kiai Danatirta itu berkembang dengan pesatnya, sesuai dengan idaman orang tua itu. Bukan saja dalam olah kanuragan. Tetapi tabiat dan sifat merekapun menunjukkan ketulusan hati mereka.

Di siang hari mereka bekerja seperti kebanyakan anak-anak padukuhan itu. Mereka pergi ke sawah. Membawa alat-alat pertanian dan pupuk. Sedang Arum pergi kesungai mencuci pakaian dan berbelanja kepasar. Kemudian ikut menanjak nasi dan masak di dapur seperti kebanyakan gadis-gadis padesan.

Demikianlah kehidupan yang tenang itu berjalan terus, sehingga pada suatu saat, seekor kuda yang tegar berlari memasuki halaman padepokan itu. Seorang laki-laki selengah umur yang kemudian menarik kekang kuda itu, segera meloncat turun.

Kiai Danatirta yang berada di pringgitan, bergegas menjengukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia berlari-lari kecil menyongsong orang berkuda itu sambil menyapanya “O, kau Dipanala”

Orang yang kini telah berdiri di halaman itu menganggukkan kepalanya, jawabnya “Ya kakang”

“Kemarilah. Sudah lama kau tidak datang”

Dipanalapun kemudian naik ke pendapa dan dipersilahkan masuk ke pringgitan.

Keduanyapun kemudian duduk berhadapan diatas sehelai tikar pandan. Sejenak mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing setelah agak lama mereka tidak bertemu.

“Sudah lama sebenairnya aku ingin datang kepedukuhan ini. Tetapi aku masih terlampau sibuk”

“Apa kerjamu sebenarnya? Bukankah kau hanya harus menghadap setiap keliwon dan duduk di regol dalam?“

“Ya, tetapi aku mempunyai pekerjaan juga di Dalem Kapangeranan”

“Apa kerjamu?“ bertanya Kiai Danatirta.

Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Memang tidak ada. Tetapi rasa-rasanya aku menjadi sangat sibuk. Semakin lama rumah itu menjadi semakin gersang”

“Kenapa? Bukankah di dalamnya tersimpan harta benda yang tidak ternilai jumlahnya”

“Justru itulah sebabnya. Sekarang Raden Ayu Manik sudah tidak ada lagi di Dalem Kapangeranan”

“Raden Ayu Manik? Bagaimana mungkin?“

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Istana Pangeran Ranakusuma. Tidak seorangpun akan menyangka bahwa pada suatu saat Raden Ayu Manik keluar dari istana itu dan kembali ke ayahandanya”

“Bagaimana sikap Pangeran Raksanagara ketika puterinya. dikembalikan kepadanya?“

“Betapa panas hati Pangeran tua itu. Tetapi ia tidak dapat, berbuat banyak. Ia tidak lagi dapat menantang perang tanding, karena tata kehidupan kebangsawanan sudah bergeser. Kini di Istana Pangeran Ranakusuma sering terjadi semacam bujana makan dan minum untuk menghormat tamu-tamunya”

“Siapakah tamu-tamu itu?“

Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Itulah yang sangat mencemaskan. Tamunya adalah orang-orang asing”

“Kumpeni maksudmu?“ Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kiai Danatirta berdesah sambil mengusap dadanya. Terbayang kini di rongga matanya, tata cara yang asing itu mulai merayap masuk ke dalam tata kehidupan para bangsawan dan pembesar di pusat pemerintahan. Meskipun Kiai Danatirta menyadari bahwa tidak semua adat dan tata cara orang asing itu jelek, karena menurut anggapan lahiriah merekapun orang-orang beradab, telapi kadang-kadang ada yang terasa seperti duri di dalam daging sendiri.

“Jadi siapakah yang sekarang berkuasa di istana Pangeran Ranakusuma?“

“Raden Ayu Sontrang “

“Raden Ayu Sontrang?“

“Ya, nama panggilan dari Raden Ayu Galihwarit, puteri Pangeran yang agak kurang waras itu”

“Pangeran Sindurata?“

“Ya”

Kiai Danatirta hanya dapat mengelus dadanya. Meskipun sepengetahuan orang banyak ia bukan seorang bangsawan yang mempunyai lingkungan hidup setaraf dengan mereka menurut bentuk lahiriah, tetapi yang terjadi itu membuat hatinya terlampau pedih. Sehingga tanpa sesadarnya ia berkata “Jadi bagaimana dengan Raden Juwiring?“

Ki Dipanala mengedarkan tatapan matanya keseputarannya. Seakan-akan ia sedang mencari seseorang di ruangan itu.

“Raden Juwiring tidak ada di rumah. Ia pergi ke sawah dengan Buntal”

“Siapakah Buntal itu?“

“Seorang anak pedesaan, sekedar untuk mengawani Raden Juwiring disini. Tetapi nanti aku ceriterakan tentang anak itu”

“Jadi anak itu tidak ada?“

“Tidak”

“Kakang Danatirta” berkata Dipanala kemudian “nasib anak muda itu memang kurang baik. Selama ini, sepeninggal ibunya, nasibnya seakan-akan tergantung dari belas kasihan Raden Ayu Manik, karena meskipun ia anak tirinya, Raden Ayu Manik sendiri tidak mempunyai anak. Tetapi sekarang Raden Ayu Manik tidak ada lagi di istana itu. Hidupnya akan menjadi semakin terasing dari ke luarganya, sehingga pada suatu saat ia akan dilupakan. Apalagi derajat ibunya tidak setingkat dengan Raden Ayu Manik dan Raden Ayu Sontrang”

Dantirta menundukkan kepalanya. Desisnya “Ya, Rara Putih memang tidak setingkat dengan Raden Ayu keduanya. Tetapi aku meletakkan harapan kepada Raden Ayu Manik, bahwa ia akan berhasil membawa Raden Juwiring kembali ke istana itu meskipun untuk waktu yang lama. Tetapi harapan itu akan menjadi semakin suram”

“Ya kakang. Yang sekarang hampir tidak dapat dikendalikan adalah Raden Rudira dan adiknya Raden Ajeng Warih. Mereka merasa lebih berkuasa dari ayahanda Pangeran Ranakusuma”

“Aku sudah menyangka. Karena kedua anak-anak itulah agaknya Raden Ayu Sontrang sampai hati menyingkirkan saudara sepupunya sendiri dari istana” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi sebenarnya Raden Ayu Galihwarit yang disebut Sontrang itu tidak usah berusaha mengusir puteri itu, karena ia tidak berputera. Raden Ayu Manik tidak akan memerlukan pembagian kekayaan suaminya, karena ia tidak mempunyai anak keturunan”

“Bukan anak keturunannya sendiri. Raden Ayu Manik selalu berbicara tentang Raden Juwiring yang kini ada di padepokan ini. Itulah sebabnya Jika demikian, maka hak Raden Juwiring akan menjadi sama dengan hak Raden Rudira. Itulah yang membuat Raden Ayu Sontrang berusaha menyingkirkan Raden Ayu Manik”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya “Apakah kau mengetahui cara yang dipergunakan untuk mengusir Raden Ayu Manik?“

“Seperti yang dilakukan buat mengusir Raden Juwiring. Adalah kebetulan sekali bahwa Pangeran Raksanagara, ayah Raden Ayu Manik, sangat membenci kepada kumpeni. Dan kebencian itu dapat dimanfaatkan dengan baik sekali oleh Raden Ayu Sontrang. Ia minta bantuan kumpeni untuk mendesak Pangeran Ranakusuma, agar Raden Ayu Manik, puteri seorang yang memberi kumpeni itu dikembalikan kepada ayahnya. Kalau tidak, kumpeni tidak akan mau berhubungan dengan Pangeran Ranakusuma di dalam segala hal”

“Gila. Benar-benar perbuatan yang sangat licik. Alangkah bodohnya orang-orang asing itu. Mereka telah diperalat untuk kepentingan pribadi dan nafsu ketamakan”

“Tidak kakang. Bukan suatu kebodohan. Orang-orang asing itu juga orang-orang tamak. Mereka adalah orang-orang yang selalu kehausan apapun juga”

“Tetapi apakah yang mereka dapatkan dari Pangeran Ranakusuma?“

“Kumpeni ingin mendapatkan dukungan yang kuat dari kalangan istana Surakarta untuk dapat memberikan tekanan-tekanan lebih berat lagi bagi Kangjeng Sunan. Kalau para Pangeran sudah berhasil dipengaruhinya, dengan segala macam cara. sebagian dengan janji-janji dan sebagian lagi dengan harta benda, maka kedudukan Kangjeng Sunan akan menjadi semakin lemah. Dengan demikian maka semua persetujuan yang dipaksakan oleh kumpeni tidak akan dapat ditolaknya lagi” Dipanala berhenti sejenak, lalu “Tetapi secara pribadi kumpeni itu juga mendapat imbalan dari persoalan pribadi Raden Ayu Sontrang dan Raden Ayu Manik”

“Apa yang mereka dapatkan?“

Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Kiai Danatirta sejenak. Namun kemudian ia hanya menelan ludahnya saja -sambil menundukkan kepalanya.

“Apakah yang mereka dapatkan secara pribadi?“ desak Kiai Danatirta”

“Maaf kakang. Sebenarnya aku tidak sampai hati untuk mengatakannya. Tetapi apaboleh buat. Kau memang perlu mendapat gambaran seluruhnya” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “berat sekali untuk mengatakannya, justru menyangkut nama baik seorang puteri bangsawan”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Ketajaman perasaannya segera menangkap persoalan yang belum dapat dikatakan oleh Ki Dipanala. Karena itu justru Kiai Danatirtalah yang kemudian berkata “Dipanala. Aku mengerti. Bukankah kau bermaksud mengatakan bahwa kumpeni-kumpeni itu mendapat imbalan secara pribadi juga? Aku tahu bahwa Raden Ayu Galihwarit, meskipun sudah berputera sebesar Raden Rudira, namun nampaknya masih muda dan cantik. Menilik sifat-sifatnya yang licik, maka memang mungkin sekali terjadi, bahwa ia telah mengorbankan kehormatannya sebagai seorang puteri bangsawan untuk mendapat jalan, mengusir Raden Ayu Manik”

Ki Dipanala menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menyahut “Dugaan itu tepat kakang. Ia bahkan mendapatkan segala-galanya. Bukan sekedar bantuan mengusir Raden Ayu Manik, tetapi ia memang memerlukannya. Bukankah kau tahu, bahwa Pangeran Ranakusuma tidak lagi dapat berbuat apa-apa untuknya?“

“Hem“ Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam “benar-benar suatu perbuatan yang memalukan. Memalukan bukan saja bagi para bangsawan, tetapi juga bagi kita seluruhnya. Bagi orang berkulit sawo matang ini”

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Tetapi kata-katanya terputus ketika Arum melangkah masuk ke pringgitan sambil menjinjing mangkuk minuman.

“Arum” desis Ki Dipanala “Kau sudah prigel menghidangkan suguhan buat tamu-tamu ayahmu”

“Ah paman“ Arum berdesah “Tetapi marilah paman. Sekedar air untuk menghilangkan haus”

“Terima kasih Arum. Berapa pekan paman tidak datang kemari. Kau tampaknya cepat tumbuh dan sekarang kau benar-benar seorang gadis dewasa. He, berapa umurmu?“

Arum tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya.

“Ia pantaran dengan anakku yang bungsu. Bukankah begitu kakang?“

Kiai Danatirta menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya. Hanya berselisih dua pekan”

Ki Dipanala mengangguk-angguk pula. Katanya kemudian “Sering datanglah ke rumah paman. Kau akan banyak melihat“

“Terima kasih paman. Lain kali kalau ayah mengijinkannya “Ki Dipanala tersenyum. Dipandanginya Arum yang bergeser surut kemudian meninggalkan pringgitan.

“Anakmu cepat menjadi besar kakang” Kiai Danatirta mengangguk”

“Tampaknya jauh lebih dewasa dari anakku yang masih senang bermain pasaran di halaman”

Kiai Danatirta tertawa.

“Ia akan menjadi gadis yang tinggi besar seperti ibunya” berkata Ki Dipanala kemudian.

Kiai Danatirta tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja wajahnya menjadi suram.

Terasa sesuatu berdesir di dada Ki Dipanala. Ia menyesal bahwa ia telah menyebut ibu Arum yang sudah tidak ada lagi itu. Karena itu, maka dengan serta merta ia berusaha mengalihkan pembicaraan

“Kapan Raden Juwiring kembali dari sawah?“

“Biasanya setelah tengah hari” jawab Kiai Danatirta “Apakah kau akan menemuinya?“

Dipanala merenung sejenak, lalu “Tetapi aku kali ini tidak membawa apapun buat Raden Juwiring. Aku sama sekali tidak berhasil mendapat sekedar belanja buat anak muda yang malang itu. Apalagi sepotong pakaian”

“Ah, jangan kau pikir lagi tentang belanja dan pakaian. Ia sudah berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan di padepokan ini. Jangan kau rusakkan lagi dengan kebiasaan yang cengeng di istana Kapangeranan itu”

Dipanala mengangguk-angguk.

“Kalau kau ingin bertemu dengan Raden Juwiring, jangan kau katakan apa yang terjadi di rumah itu. Ia akan menjadi semakin prihatin. Kalau perasaan mudanya tidak dapat dikendalikannya, maka pada suatu saat akan meledak dengan dahsyatnya. Padahal ia tidak mempunyai kekuatan apapun di belakangnya, sehingga ledakan itu pasti hanya akan menghancurkan dirinya sendiri”

“Ya kakang. Tetapi sebaiknya ia mengetahui, bahwa kadang-kadang Raden Rudira menyebut namanya. Bahkan anak itu ingin melihat dimana Raden Juwiring tinggal”

“Buat apa ia melihat tempat ini?“

“Itulah yang mencemaskan. Aku kira ia masih belum puas bahwa Raden Juwiring hanya sekedar tersisih. Ia pasti mempunyai tujuan yang lain yang barangkali tidak akan dapat kita bayangkan, hati apakah yang sudah bermukim di dadanya”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Terbayanglah tatapan mata yang tajam seorang bangsawan muda yang bernama Rudira itu. Bangsawan muda yang berhati hitam seperti hati ibunya, Raden Ayu Galihwarit yang juga disebut Raden Ayu Sontrang. Seorang perempuan bangsawan yang bertubuh tinggi besar, berkulit kuning langsat. Wajahnya yang bulat seperti bulan purnama dihiasi dengan sepasang mata yang berkilat-kilat. Tetapi di dalam dadanya yang mendebarkan jantung itu, tersembunyi hati yang hitam lekam. Dan kehitaman hatinya itu telah menurun kepada kedua anak-anaknya. Raden Rudira dan adiknya.

“Kalau hal itu kau anggap perlu Dipanala, katakanlah. Tetapi hati-hati, jangan menimbulkan kecemasan yang berlebih-lebihan di hatinya.

Dipanala mengangguk sambil menjawab “Aku mengerti kakang“

“Tunggulah sambil minum. Ia akan segera datang”

Keduanyapun kemudian meneguk air panas yang disuguhkan oleh Arum. Seteguk demi seteguk. Namun angan-angan mereka masih saja terlambat pada persoalan keluarga Pangeran Ranakusuma. Keluarga seorang bangsawan yang kaya raya. Tetapi tidak memiliki
kemantapan berkeluarga karena seisi rumah yang selalu curiga-mencurigai dan saling membenci.

Sejenak kemudian, ternyata Juwiring dan Buntal telah pulang dari sawah. Mereka langsung menuju ke ruang belakang. Mereka sudah menduga, bahwa ayah angkat mereka, pasti sedang menerima seorang tamu karena seekor kuda tertambat di halaman. Tetapi mereka tidak mengetahui, siapakah tamu ayahnya itu.

Baru ketika Juwiring meletakkan cangkulnya, Arum mendekatinya sambil berbisik “Paman Dipanala, kakang Juwiring”

“He, Dipanala? Eh, maksudku paman Dipanala?“

“Ya”

Juwiring mengangguk-angguk. Dipandanginya Buntal yang termangu-mangu itu sekilas. Namun kemudian dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh.

“Sudah agak lama ia tidak datang. Kabar apakah yang dibawanya?“

“Aku tidak tahu. Paman Dipanala sedang berbincang dengan ayah. Agaknya memang ada sesuatu yang penting”

Tetapi anak-anak muda itu terkejut ketika terdengar suara dipintu “Tidak. Tidak ada yang penting. Dipanala hanya sekedar menengok keselamatan Juwiring”

Ternyata Kiai Danatirta telah berdiri di belakang mereka. Sambil tersenyum ia berkata “Marilah Juwiring. Kalau kau sudah membersihkan diri, temuilah paman Dipanala sejenak. Ia ingin bertemu setelah sekian lama ia tidak datang”

Arum menundukkan kepalanya. Tanpa diketahuinya ayahnya mendengar kata-katanya. Sedang Juwiring memandang Kiai Danatirta dengan pertanyaan-pertanyaan yang membayang disorot matanya.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu tidak terucapkan. Bahkan iapun kemudian berkata “Baiklah ayah. Aku akan membersihkan diri lebih dahulu”

Demikianlah Juwiring segera pergi ke pakiwan. Setelah berganti pakaian, ia segera pergi ke pringgitan untuk menemui Dipanala yang datang dari kota setelah agak lama ia tidak berkunjung.

Sepeninggal Juwiring, tinggallah Buntal bersama Arum yang berdiri termangu-mangu. Sejenak mereka saling berpandangan, namun sejenak kemudian, setelah Juwiring berada di pringgitan, dan setelah Buntal berhasil mengatasi keragu-raguannya, iapun mendekati Arum. Perlahan-lahan ia berbisik “Siapakah yang datang?“

“Paman Dipanala”

“Siapakah paman Dipanala?“

Ia masih mempunyai hubungan keluarga dengan ayah”

“Dengan Kiai Danatirta, eh, ayah atau dengan Juwiring”

“Dengan ayah. Tetapi ia tinggal di Dalem Kapangeranan. Pangeran Ranakusuma”

Buntal mengerutkan keningnya. Ia berusaha untuk mengusir keragu-raguannya sama sekali. Ia benar-benar ingin mengetahui, siapakah sebenarnya Raden Juwiring itu. Dan kali ini agaknya ada kesempatan baginya. Kesempatan yang tidak menimbulkan kecurigaan apapun juga.

“Siapakah Pangeran Ranakusuma?” bertanya Buntal.

“Ayah Raden Juwiring”

“O, jadi ayahnya seorang Pangeran?“ Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya Ternyata Juwiring benar-benar seorang bangsawan yang masih terhitung dekat dengan istana. Ia adalah keturunan kedua dari Kangjeng Sunan.

“Jadi“ Buntal melanjutkan “Apakah hubungan Juwiring dengan paman Dipanala?“

“Hubungan keluarga yang sudah agak jauh, atau katakanlah tidak ada hubungan apa-apa, selain paman Dipanala tinggal di Dalem Kapangeranan itu”

“Benar-benar tidak ada hubungan keluarga?“

Arum tidak segera menjawab. Sejenak dipandanginya pintu ruang belakang itu. Tetapi ia hanya menarik nafas panjang.

Buntal tidak mendesaknya. Meskipun ia sudah dianggap sebagai saudara kandung oleh Arum, tetapi ia tidak dapat mendesaknya untuk menceriterakan sesuatu yang agaknya tidak ingin diceriterakannya.

Namun dengan demikian Buntal kini mendapat sedikit gambaran tentang Juwiring. Meskipun ia sadar, bahwa keterangan yang didengarnya dari Arum itu baru sebagian kecil dari keseluruhan Juwiring seutuhnya, namun ia sudah mendapat alas untuk mengetahui keadaan lebih lanjut.

Dalam pada itu, Juwiring telah berada di pringgitan bersama dengan Kiai Danatirta dan Dipanala. Dengar ragu-ragu Dipanala menceriterakan apa yang telah terjadi di istana Kepangeranaa. Meskipun tidak seluruhnya dikatakannya agar anak muda itu tidak menjadi semakin berkecil hati, namun Juwiring yang berotak cerah itu dapat membuat gambaran sendiri, apa yang telah terjadi, berdasarkan pengenalannya selagi ia masih tinggal di rumah itu.

“Tidak aneh bagi ibunda Galihwarit apabila ia sampai hati menyingkirkan ibunda Manik dari rumah itu” berkata Juwiring sambil menahan perasaannya yang hendak bergolak “Aku sudah menduga sejak dahulu, bahwa pada suatu saat hal itu akan terjadi”

“Ya. Dan sekarang Raden Ayu Sontranglah yang paling berkuasa di rumah itu bersama kedua puteranya”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Biarlah paman. Aku tidak mempunyai sangkut paut lagi dengan rumah itu. Aku merasa diriku lebih baik di padepokan mi. Aku tidak akan Bermimpi lagi memiliki apapun dari istana itu, meskipun hanya selembar kain atau sepotong perhiasan. Biarlah aku hidup seperti sekarang ini. Ayahku sekarang adalah Kiai Danatirta dan aku sudah mempunyai dua orang saudara. Bukan Rudira dan Warih, tetapi Buntal dan Arum. Dan itu sudah cukup bagiku”

Dipanala menundukkan kepalanya. Suaranya hampir tidak dapat meluncur dari sela-sela bibirnya “Itu suatu sikap terpuji Raden. Aku adalah pemomong Raden sejak kecil. Resmi atau tidak resmi. Sebenarnya ada juga sakit hatiku melihat nasib yang Raden alami. Tetapi agaknya hati Raden telah mengedap. Dan itu adalah kurnia Tuhan yang tidak ada nilainya Tentu akan jauh lebih berharga dari harta benda itu sendiri. Dengan pasrah diri Raden akan menemukan ketenteraman. Tetapi tidak demikian agaknya dengan harta benda itu, yang justru menimbulkan kegelisahan, dengki dan kebencian”

“Karena itu paman, namaku jangan dihubungkan lagi dengan istana Ranakusuman. Aku sekarang adalah anak padepokan Jati Aking di padukuhan Jati Sari. Aku mempunyai banyak kawan disini. Aku dapat hidup seperti cara hidup mereka. Dan aku senang menjalaninya. Itulah yang penting. Keikhlasan hati”

Tanpa sesadarnya Dipanala memandang wajah Kiai Danatirta. Agaknya Kiai Danatirtalah yang mengajari Juwiring untuk berbicara tentang keikhlasan hati dan penyesuaian diri, sumber dari kedamaian hati yang diketemukannya disini.

Namun karena itulah, maka Dipanala tidak sampai hati untuk mengusik ketenteraman itu dengan mengatakan rencana Rudira untuk masih membuat persoalan yang dapat menumbuhkan ketegangan ketegangan baru dengan kakaknya.

“Kalau Raden Rudira mengetahui, bahwa Juwiring tidak lagi mempunyai nafsu untuk mendapatkan bagiannya dari warisan itu, aku rasa, ia tidak akan berbuat apa-apa lagi, karena warisan itulah pusar dari peristiwa yang berurutan terjadi di istana Ranakusuman” berkata Dipanala di dalam hati, sehingga dengan demikian niatnya untuk mengatakan sesuatu tentang Raden Rudira telah dibatalkan.

“Dipanala“ yang berbicara kemudian adalah Kiai Danatirta “Agaknya pendirian Juwiring sudah jelas. Kau tidak usah bersusah payah mengusahakan apapun dari istana Ranakusuman. Kami disini mengucapkan terima kasih atas usahamu itu. Tetapi untuk seterusnya, seandainya kau sajalah yang datang tanpa membawa apapun, sudah cukup membuat hati kami gembira”

Dipanala mengangguk-angguk. Katanya “Kadang-kadang hati ini yang tidak dapat aku tahankan”

Tetapi Kiai Danatirta tersenyum “Anakmas Juwiring yang mengalaminya langsung telah berhasil mengendapkan perasaannya. Tentu kau juga dapat mengendapkan perasaan itu”

“Ya kakang. Aku akan mencoba. Tetapi ada beberapa soal yang selalu mengungkat perasaan ini. Kami, yang sudah tinggal bertahun-tahun di Dalem Kapangeranan, masih selalu merunduk-runduk apabila kami naik ke pendapa, apalagi apabila Pangeran Ranakusuma atau salah satu dari isteri-isterinya ada di pendapa. Kami selalu berjalan sambil berjongkok, kemudian duduk bersila sambil menundukkan kepala dalam-dalam setelah menyembah. Tetapi kini, orang-orang asing itu dengan tanpa ragu-ragu lagi naik ke pendapa masih juga memakai alas kakinya yang kotor. Duduk tanpa menghiraukan adat dan kebiasaan kami. Bahkan kadang-kadang mereka berkelakar tanpa batas. Tertawa berkepanjangan sehingga terdengar sampai ke seluruh kota”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Ketika tanpa sesadarnya ia memandang wajah Juwiring, terasa sesuatu bergolak di dada anak muda itu. Wajah anak muda itu menjadi merah padam. Dengan susah payah Juwiring berusaha untuk menahan perasaannya. Ditundukkan wajahnya dalam-dalam untuk menyembunyikan kesan yang melonjak. Namun kesan itu tertangkap pula bukan saja oleh Kiai Danatirta, tetapi juga oleh Ki Dipanala.

Bahkan akhirnya Juwiring tidak dapat bertahan lagi, dan meluncurlah pertanyaannya yang tertahan-tahan “Sampai kapan hal itu akan terus terjadi?“

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya.

“Rumah kami sudah menjadi kandang sampah yang paling kotor. Orang-orang asing itu telah menodai rumah itu dengan segala macam kejahatan dan kemaksiatan. Agaknya ayahanda Pangeran adalah seorang laki-laki yang lemah hati. Yang silau oleh kilatan benda-benda duniawi. Termasuk harta benda dan perempuan”

“Sudahlah anakmas Juwiring” berkata Danatirta ”Jangan hiraukan lagi apa yang terjadi. Bukankah kau sudah memutuskan di dalam hatimu untuk tidak mengaitkan diri lagi dengan rumah itu?“

“Ya ayah. Aku sudah memutuskan. Tetapi apakah aku dapat melepaskan diri dari gangguan perasaanku, bukan oleh harta warisan, tetapi oleh kesamaan warna kulit dan rambut ini? Bahwa ada di antara kita yang telah menjual harga dirinya kepada orang-orang asing itu untuk sekedar mendapatkan harta dan benda? Apalagi orang-orang yang telah berbuat demikian itu adalah orang-orang yang bersangkut paut dengan aku. Orang-orang yang berhubungan darah dengan aku. Aku dapat memutuskan segala ikatan lahiriah. Tetapi siapa yang dapat memutuskan hubunganku dengan ayahanda, hubungan antara ayah dan anak?“

Ki Dipanala hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sebenarnya hatinya sendiri juga terbakar setiap kali ia melihat orang-orang asing yang berkeliaran di pendapa Kapangeranan tanpa menghiraukan tata kesopanan dan adat. Siang maupun malam”

Tetapi Kiai Danatirtalah yang selalu berusaha menekan perasaan yang bergolak itu. Katanya “Sudahlah. Persoalan itu bukan persoalan kecil Bukan sekedar persoalan kita. Persoalanku, persoalanmu dan persoalan istana Ranakusuman. Tetapi persoalan itu adalah persoalan Surakarta. Kita harus menemukan saluran yang tepat, apabila kita ingin ikut berbicara tentang orang-orang asing itu”

Juwiring menundukkan kepalanya semakin dalam. Dadanya serasa terbakar. Tetapi ia masih berusaha untuk mendinginkan darahnya. Ia sadar, bahwa Kiai Danatirta berkata sebenarnya. Persoalan itu bukan persoalan satu dua orang. Tetapi persoalan itu adalah persoalan Surakarta. Sehingga karena itu, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa seorang diri. Atau katakanlah dengan kelompok yang kecil. Mungkin ia akan dapat berbuat sesuatu di rumahnya. Tetapi itu bukan penyelesaian bagi orang-orang asing. Itu hanya sekedar penyelesaian masalahnya sendirinya. Masalah pribadinya.

Namun demikian, orang-orang asing itu masih tetap menjadi persoalan di dalam hatinya. Sekilas ia teringat kepada ceritera Buntal, bahwa di rumah Tumenggung Gagak Barongpun orang-orang asing itu berbuat sesuka hatinya. Tentu juga seperti yang dilakukan di rumah Ranakusuman.

“Semakin banyak orang yang kehilangan pribadinya” berkata Juwiring di dalam hati.

Namun dalam pada itu Juwiring mengangkat wajahnya ketika Kiai Danatirta berkata “Sudahlah Juwiring. Kalau kau ingin beristirahat, beristirahatlah. Pamanmu akan bermalam disini malam nanti” Kiai Danatirta berhenti sejenak sambil memandang wajah Dipanala, lalu “Bukankah begitu?“

Dipanala mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum “Baiklah kalalu kakang menghendaki. Aku memang sedang mendapat waktu istirahat. Bahkan semakin sering aku minta waktu untuk beristirahat, orang-orang di istana Ranakusuman akan menjadi semakin senang. Mereka dapat berbuat apa saja tanpa ada yang mengganggunya”

“Jadi sebagian besar dari orang-orang di rumah itu sudah dimabukkan oleh kepuasan lahiriah?“ bertanya Juwiring.

Dipanala mengangguk. Namun cepat-cepat ia berkata “Tetapi sudahlah. Aku akan bermalam disini. Nanti maliam kita akan dapat berbicara panjang”

Juwiringpun mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Silahkan paman duduk. Aku akan beristirahat di belakang“

“Silahkan, silahkan“ Dipanalapun mengangguk-angguk pula. Juwiringpun segera meninggalkan pringgitan. Sementara Kiai Danatirta dan Ki Dipanala masih berbicara tentang berbagai macam persoalan.

“Dipanala“ yang berbicara kemudian adalah Kiai Danatirta

“Agaknya pendirian Juwiring sudah jelas. Kau tidak usah bersusah payah mengusahakan apapun dari istana Ranakusuman. Kami disini mengucapkan terima kasih atas usahamu itu. Tetapi untuk seterusnya, seandainya kau sajalah yang datang tanpa membawa apapun, sudah cukup membuat hati kami gembira”

“Aku tidak sampai hati merusak kedamaian hatinya kakang” berkata Ki Dipanala “peristiwa yang terjadi di istana Ranakusuman sudah membuatnya gelisah. Tetapi aku kira ia akan segera dapat meletakkan masalah itu pada tempat dan keadaan yang wajar. Tetapi yang menyangkut langsung dirinya sendiri benar-benar tidak dapat tertuang sama sekali”

“Maksudmu?“

“Niat Raden Rudira. Aku tidak tahu pasti, apakah sebabnya Raden Rudira masih saja ingin menemui kakaknya yang sudah terasing itu” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “Aku tidak mau membuatnya selalu dalam kecemasan”

“Biarlah aku yang akan mengatakannya kelak” berkata Kiai Danatirta “Tetapi aku harus mempertimbangkan waktu“

Demikianlah keduanya masih terus berbicara dari satu soal ke soal yang lain. Sedang sementara itu, Juwiring telah berada di ruang belakang. Betapa ia mencoba menyembunyikan perasaannya, namun Buntal dan Arum dapat menangkap, bahwa sesuatu sedang bergolak di hatinya”

Tetapi baik Buntal maupun Arum tidak segera bertanya kepadanya. Dibiarkannya Juwiring mendekati mereka dan duduk diatas amben bambu yang panjang.

Arum dan Buntal hanya saling berpandangan sejenak. Namun merekapun kemudian menundukkan kepala mereka pula.

Juwiring menarik nafas. Dan tiba-tiba saja ialah yang pertama-tama berbicara “Memang ada hal yang penting, Arum“

Arum mengangkat wajahnya. Demikian juga Buntal.

“Jadi persoalan itu memang ada?“ bertanya Arum.

“Ya. Persoalan itu membuat hatiku menjadi pepat. Aku ingin mengurangi beban itu sedikit. Apakah aku dapat mengatakannya kepada kalian meskipun persoalannya tidak menyangkut kalian sama sekali?“

“Tentu menyangkut. Persoalan yang menyangkut salah sedang dari kita, akan menyangkut kita semua”

Juwiring mengangguk-angguk. Tetapi suaranya yang datar meluncur dan sela-sela bibirnya “Ya, begitulah, Tetapi persoalan ini adalah persoalan keluargaku yang sebenarnya sudah ingin aku lupakan”

“O” desis Buntal “Tetapi kalau kau tidak berkeberatan, ceriterakanlah“

Dengan singkat Juwiring berceritera tentang keadaan rumah yang ditinggalkannya. Tetapi ceriteranya ditekankannya kepada kehadiran orang-orang asing yang seakan-akan lebih berkuasa dari orang-orang yang sudah bertahun-tahun menghuni rumah itu.

“Jadi orang-orang asing itu juga yang membuat ayahanda Pangeran Ranakusuma semakin gelap hati” berkata Juwiring “Agaknya mereka telah menyusup ke setiap sudut kota Surakarta. Kalau orang-orang di istana. Susuhunan lengah, maka akhirnya istana itupun akan segera dikuasainya”

Buntal mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata “Demikian juga di istana Tumenggung Gagak Barong. Aku juga melihat hal yang serupa”

“Tentu tidak hanya di istana Tumenggung Gagak Barong dani istana ayahanda Ranakusuma. Tentu di rumah-rumah Kapangeranan yang lain. Di rumah Bupati Nayaka, di rumah setiap bangsawan di Surakarta”

Buntal tidak menyahut. Pengetahuannya tentang para bangsawan memang sangat terbatas. Tetapi karena ia pernah tinggal di rumah seorang bangsawan, maka ia dapat membayangkan apa yang. sudah terjadi di rumah-rumah yang besar dan megah itu.

Makan minum, gelak tertawa yang tidak tertahankan, mabuk dan akhirnya mereka terkapar tidur setelah muntah-muntah. Tetapi itu adalah peristiwa-peristiwa sesaat. Yang lebih mengerikan, apakah yang telah terjadi di balik peristiwa-peristiwa sesaat itu.

Tetapi seperti kata-kata Kiai Danatirta, Juwiringpun berkata “Namun demikian, itu bukan persoalan kita seorang demi seorang. Itu adalah persoalan Surakarta. Karena itu, kita harus mendapatkan saluran untuk menyatakan hati kita”

“Saluran?“ bertanya Buntal.

“Ya. Tentu saluran. Bukan kita berbuat sendiri-sendiri. Itu tidtak akan berguna dan hanya akan membuang waktu dan tenaga, bahkan mungkin jiwa kita”

Buntal mengangguk-angguk. Memang tidak mungkin untuk berbuat sendiri-sendiri. Tetapi kalau mereka harus mencari saluran, dimanakah mereka akan mendapat?

Tetapi Buntal tidak bertanya. Ia kadang-kadang lebih senang berteka-teki kepada diri sendiri daripada melepaskan pertanyaan. Rasa-rasanya sangat berat untuk bertanya sesuatu. Ia masih merasa dirinya terlalu bodoh, sehingga mungkin pertanyaannya justru salah.

Demikianlah, di malam harinya, Dipanala benar-benar bermalam di padepokan itu. Mereka, seisi rumah itu, sempat duduk dan berbicara panjang lebar dengan Ki Dipanala. Bukan saja Juwiring, tetapi juga Arum dan Buntal yang mendapat kesempatan memperkenalkan dirinya. Tetapi mereka tidak membicarakan masalah-masalah yang dapat menegangkan perasaan. Mereka berbicara tentang keadaan mereka sehari-hari, tentang sawah dan ladang, air dan ternak.

Di pagi harinya Ki Dipanala minta diri kepada keluarga Jati Aking. Ia masih tetap tidak dapat mengatakan sesuatu tentang Rudira yang agaknya masih belum puas melihat kakaknya tersingkir sampai ke padukuhan Jati Sari.

Sepeninggal Ki Dipanala, maka. Kiai Danatirtalah yang memberikan banyak petunjuk kepada Juwiring dan Buntal. Seperti yang disanggupkan, ia akan memberi tahukan, meskipun samar-samar, bahwa ia harus tetap berhati-hati terhadap adik seayahnya, Raden Rudira.

“Juwiring” berkata Kiai Danatirta “sebenarnya pamanmu Dipanala tidak ingin mengatakan apa yang terjadi di Dalem Ranakusuman. Tetapi kadang-kadang perasaannya yang ingin mendapatkan saluran itu tidak tertahankan lagi. Tanpa disadarinya masalah-masalah yang semula akan tetap disimpannya di dalam hati. agar hatimu tidak menjadi semakin sakit itu, sedikit demi sedikit telah terloncat keluar. Apalagi tanggapanmu yang tajam telah memancing semua persoalan. Tetapi ingat, jangan cepat berbuat sesuatu. Masalah yang kau hadapi adalah satu segi dari rangkaian masalah yang besar”

Juwiring yang memang sudah menyadari keadaan sepenuhnya itupun menganggukkan kepalanya. Sementara Kiai Danatirta berkata seterusnya “Namun ada juga sangkut pautnya dengan masalahmu sendiri. Kau harus tetap berhati-hati. Raden Rudira adalah adikmu. Tetapi di dalam persoalan ini, ia berdiri berseberangan dengan kita semua. Ia bergaul rapat dengan orang-orang asing, dan ia dalah putera dari Raden Ayu Galihwarit”

“Aku mengerti ayah” jawab Juwiring.

“Sokurlah. Tetapi tanggapanmu jangan berlebih-lebihan. Mungkin hatinya tidak sejahat yang kita sangka”

Juwiring hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia masih belum dapat membayangkan, betapa warna ini dada adiknya itu yang sebenarnya.

Namun semuanya itu telah mendorong Juwiring untuk berbuat lebih banyak. Bersama-sama dengan Buntal dan Arum mereka telah menempa diri sejauh-jauh dapat mereka lakukan. Ketiga anak-anak muda itu berkeputusan, bahwa apapun yang akan mereka lakukan, namun mereka harus mengumpulkan bekal sebaik-baiknya. Dan bekal yang paling baik menurut pertimbangan mereka adalah olah kanuragan.

Demikianlah kemelutnya hati anak-anak muda itu membuat mereka semakin cepat maju. Rasa-rasanya dari hari demi hari, hati mereka menjadi semakin panas seperti panasnya udara Surakarta, sejak orang kulit putih semakin berpengaruh. Beberapa orang bangsawan benar-benar telah terbius oleh kesenangan lahiriah yang dibawa oleh orang-orang asing itu, sehingga lambat laun, semakin tipislah kesetiaannya kepada tanah tempat mereka dilahirkan. Hubungan yang akrab membuat mereka melupakan batas yang ada di antara para bangsawan itu dengan orang-orang asing.

“Apa salahnya kita saling berhubungan” berkata seorang bangsawan kepada seorang pelayannya “manusia di dunia mempunyai ikatan hakekat yang sama. Merekapun mengatakan bahwa bagi mereka tidak ada lagi batas-batas di antara manusia sedunia. Mereka datang dengan hikmah persaudaraan”

Pelayan-pelayannya hanya mengangguk-angguk, saja, karena mereka sama sekali tidak mengetahui, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Tetapi karena mereka ikut pula menikmati kesenangat duniawi yang melimpah ruah, maka merekapun mengiakannya dengan sepenuh hati.

Tetapi para bangsawan yang tinggal di batas-batas dinding yang tinggi, di halaman yang luas dan bersih, yang semakin lama menjadi semakin cerah karena mereka mendapatkan hadiah-hadiah yang merupakan barang-barang baru bagi rumah-rumah dan istana-istana mereka, sama sekali tidak melihat apa yang telah terjadi di padesan dan di padukuhan kecil. Rakyat yang merasakan langsung penghisapan yang mulai terjadi diatas tanah kelahiran ini.

Ternyata mereka yang mengatakan, bahwa kedatangan mereka adalah atas dorongan persaudaraan manusia yang tanpa batas itu. sebenarnya mempunyai kepentingan yang besar bagi mereka. Bagi satu pihak dari yang dikatakannya tanpa batas itu. Dan merekalah yang mendapatkan keuntungan terbesar dari suasana yang mereka kembangkan suasana tanpa ada batas, suasana tanpa jarak. Karena apa yang mereka katakan itu bukan kata nurani mereka yang sebenarnya, sehingga sikap orang-orang asing di Surakarta itu sama sekali hukan suatu sikap yang jujur.

Untunglah, bahwa tidak semua bangsawan terbius oleh keadaan itu. Ada juga bangsawan yang menyadari keadaan yang sebenarnya. Yang merasakan betapa janggalnya keadaan Surakarta pada saat itu.

Ternyata bahwa perpindahan istana dari Kartasura ke Surakarta sama sekali tidak membawa hikmah apapun juga. Bahkan sinar yang memancar dari keagungan Susuhunan Paku Buwana, semakin lama menjadi semakin suram.

Salah seorang yang memandang keadaan itu dengan tajam adalah seorang Pangeran yang berhati bening. Pangeran Mangkubumi.

Kepadanyalah beberapa bangsawan yang tidak dapat menerima keadaan yang berkembang itu meletakkan harapan. Kepadanyalah mereka berharap, agar pada suatu saat, lahir suatu sikap yang dapat menyelamatkan Surakarta.

Tetapi Pangeran Mangkubumi bukan seorang yang berhati panas. Ia masih mampu menilai keadaan dengan tenang. Setiap tindakan diperhitungkannya sebaik-baiknya, agar ia tidak terjerumus ke dalam suatu tindakan dan pengorbanan yang sia-sia.

Karena itulah, maka tidak jarang Pangeran Mangkubumi itu berusaha melihat dengan mata kepala sendiri, kehidupan yang sebenarnya dari rakyat Surakarta, yang lambat laun mengalami masa surut yang parah.

Berlawanan dengan Pangeran Mangkubumi, maka beberapa orang bangsawan berusaha menikmati hidup mereka sebaik-baiknya tanpa menghiraukan nasib siapapun. Seandainya mereka pergi keluar kota, mereka, sama sekali tidak ingin melihat dan tidak mau melihat kehidupan rakyat yang sebenarnya.

Adalah menjadi kebiasaan mereka pergi berburu. Mereka sengaja membiarkan beberapa bagian dari hutan yang dibuka menjadi tanah garapan. Hutan-hutan itu mereka pergunakan sebagai daerah perburuan yang mengasikkan.

Demikianlah, ketika orang-orang Jati Sari sibuk dengan kerja mereka di sawah dan ladang, mereka dikejutkan oleh derap beberapa ekor kuda yang berlari-lari di jalan persawahan menyusuri bulak yang panjang. Namun orang-orang Jati Sari itupun kemudian tidak menghiraukannya lagi, karena mereka telah mengenal, bahwa iring-iringan orang berkuda itu adalah iring-iringan beberapa orang yang pergi berburu. Dan salah seorang atau dua orang dari mereka adalah bangsawan.

Hanya beberapa orang sajalah yang masih sempat melihat seorang anak muda yang gagah berkuda di paling depan, dan di belakangnya beberapa orang pengawalnya mengiringnya.

Arum yang kebetulan berjalan di lorong itu pula membawa makanan untuk Juwiring dan Buntal yang sedang bekerja di sawah, dengan tergesa-gesa menepi. Namun dengan demikian, sejenak ia tegak berdiri memandang anak muda yang berkuda di paling depan.

Dadanya berdesir ketika ia melihat wajah anak muda itu. Begitu mirip dengan wajah Juwiring. Namun Arumpun segera memalingkan wajahnya. Tidak seorangpun yang berani memandang wajah seorang bangsawan apalagi ia sedang memandang pula.

Tetapi Arum terperanjat ketika ia sadar, bahwa kuda yang paling depan itu tiba-tiba saja berhenti. Dengan demikian, kuda-kuda yang berada di belakangnyapun berhenti pula dengan tiba-tiba, sehingga beberapa di antaranya meringkik dan berdiri diatas dua Kaki belakangnya, karena kendali yang terasa menjerat leher.

Sejenak Arum mengangkat wajahnya. Tetapi ketika matanya bertatapan dengan sorot mata anak muda yang berada diatas punggung kuda itu, kepalanyapun segera tertunduk.

“He, siapa kau anak manis?“ terdengar suara anak muda yang berada di punggung kuda itu.

Arum bingung sejenak. Ia tidak pernah berhubungan dengan orang-orang yang masih asing baginya. Sehari-hari ia hanya berada di rumahnya, di padepokan Jati Aking atau di sawah. Sekali-sekali ia pergi ke pasar. Tetapi jarang sekali seorang Laki-laki langsung menegurnya.

“Kenapa kau malu? Angkatlah wajahmu. Pandang aku. Dan jawablah pertanyaanku. Siapa namamu?“

Kata-kata yang mengalir itu seolah-olah merupakan pesona yang tidak dapat dielakkan, sehingga hampir tanpa disadari ia menjawab “Namaku Arum”

“Arum” ulang anak muda yang berkuda itu “nama yang bagus sekali. Dimana rumahmu he?“

Arum tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya sajalah yang kini justru tertunduk dalam.

“Dimana rumahmu?“ Arum masih tetap diam saja.

Namun terasa bulunya berdiri ketika anak muda itu tiba-tiba saja meloncat turun dari kudanya.

Arum sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Bahkan ia beringsut mundur beberapa jengkal, sehingga hampir saja ia terjatuh ke dalam parit.

Karena iring-iringan itu berhenti di tengah bulak, maka kini seluruh perhatian orang-orang yang ada di sawah itupun tertuju kepada anak muda yang kemudian sudah berdiri dimuka Arum.

“Kau belum menjawab pertanyaanku” berkata anak muda itu.

Tetapi Arum tetap diam. Hatinya menjadi semakin kecut ketika ia menyadari, bahwa orang-orang yang lainpun telah turun pula dari kuda mereka.

“Jangan takut dan jangan malu. Aku tidak apa-apa. Aku hanya terpesona oleh kecantikanmu. Memang gadis-gadis padesan justru mempunyai paras yang cantik, yang jarang diketemukan pada wajah-wajah gadis bangsawan. Ciri-ciri yang lain, menumbuhkan perhatian yang lain pula pada gadis-gadis padesan seperti kau. He, dimana rumahmu?”

Arum menjadi gemetar ketika anak muda itu berdiri semakin dekat. Di dalam keadaan itu, sama sekali tidak terlintas di dalam angan-angannya untuk melawan. Untuk mempergunakan ilmu kanuragan yang telah dipelajarinya, karena pada pendapatnya, tidak seorangpun yang dapat melawan seorang bangsawan. Bahkan ia pernah, mendengar ceritera, tentang gadis-gadis desa. yang terpaksa menjadi selir di istana-istana Pangeran dan bahkan bangsawan-bangsawan di dalam urutan drajat yang lebih rendah. Seorang cucu Susuhunan misalnya. Karena itu maka hatinyapun menjadi semakin kecut.

Tetapi ketika tangan anak muda itu meraba pipinya, dengan, gerak naluriah, Arum meloncat mundur. Meskipun ia berdiri membelakangi parit, tetapi tanpa disadarinya, kemampuan olah kanuragannya lelah mendorongnya melompati parit itu tanpa berpaling.

“He“ anak muda itu tiba-tiba terpekik. Wajahnya menjadi cerah seperti anak-anak mendapat mainan. Dengan nada tinggi ia berkata “Lucu sekali. Kau dapat meloncati parit ini tanpa memutar tumbuhmu. Bukan main. Hampir tidak masuk akal bagi seorang gadis desa seperti kau. Coba ulangi sekali lagi. Aku senang sekali melihat. Ternyata selain cantik, kau adalah seorang gadis yang sangat lincah. Seandainya kau seekor burung, kau tidak selembut burung perkutut. Tetapi kau selincah burung branjangan. Dan aku memang lebih senang burung branjangan dari burung perkutut yang seperti mengantuk sepanjang hari”

Tetapi dada Arum menjadi semakin berdebar-debar. Ia menjadi semakin bingung, apakah yang akan dilakukannya.

“Jangan takut. Aku tidak akan marah”

Wajah Arum menjadi semakin pucat. Hampir saja ia terduduk lemas.

Jilid 02 Bab 1 : Petani Sukowati

DAN anak muda itu berkata terus “Aku tidak akan marah anak manis, meskipun kau telah melanggar adat. Meskipun kau tidak berjongkok ketika aku lewat. Setiap orang yang berada di jalan yang sama yang dilalui seorang bangsawan harus berjongkok. Tetapi kau tidak. Tetapi aku tidak marah”

Arum telah benar-benar kehilangan akal. Hampir saja ia meloncat berlari di sepanjang pematang, tetapi niatnya diurungkan. Bahkan mulutnya tampak bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun yang keluar

Dalam pada itu, selagi semua orang memandang Arum yang pucat, tiba-tiba anak muda bangsawan itu bersama pengiringnya terkejut ketika mereka mendengar suara di belakang mereka “Hanya apabila seorang Raja yang lewat, maka setiap orang harus berjongkok. Tetapi tidak bagi kau. Tidak ada keharusan berjongkok bagi rakyat yang paling rendah derajadnya sekalipun”

Serentak orang-orang yang datang berkuda itu berpaling. Darah mereka tersirap ketika mereka melihat seorang anak muda yang kotor karena lumpur berdiri menjinjing sebuah cangkul. Namun dari sorot matanya, memancar wibawa yang tidak kalah tajamnya dari anak muda yang berkuda di paling depan.

Bahkan dengan suara gemetar terdengar anak muda yang bertanya kepada Arum itu berdesis “Kamas Juwiring”

“Ya adimas Rudira”

Sejenak kedua anak muda itu saling berpandangan. Dari sorot mata keduanya memancar pengaruh yang dalam. Namun sejenak kemudian anak muda yang bernama Rudira itu memalingkan wajahnya. Untuk melepaskan ketegangan di hatinya ia bertanya kepada seorang pengiringnya “He, bukankah ia kamas Juwiring”?

“Ya tuan. Ya, ia adalah Raden Juwiring”

“Kebetulan sekali kamas” berkata Rudira “Aku memang ingin menemui kamas Juwiring. Sudah lama aku tidak bertemu dan aku merasa rindu karenanya. Aku hanya mendengar bahwa kamas berada di padepokan Jati Aking. Apakah kita sudah berada dekat dengan padepokan Jati Akjng?“

“Bertanyalah kepada pengikutmu. Mereka tahu dimana Jati? Aking dan dimana Jati Sari”

Rudira mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum “Kamas masih sekeras dahulu. Tetapi sekarang kamas menjadi bertambah hitam. Apalagi pakaian dan tubuh kamas kotor karena lumpur”

“Lumpurlah yang memberikan makan kepada kita. Kepadaku dan kepadamu. Kepada orang-orang kota. Dan lumpur ini pulalah yang telah menarik perhatian kumpeni itu, karena lumpur ini adalah lumpur yang sangat subur”

“O“ sekali lagi Rudira mengerutkan keningnya “benar. Tetapi tanpa menyentuh lumpur itu sendiri, aku dapat mengambil hasil dari kesuburannya, Seperti kamas lihat, akupun makan sehari tiga kali. Dan barangkali apa yang aku petik dari hasil lumpur yang subur itu jauh lebih banyak dari yang kamas peroleh meskipun kamas langsung bergulat dengan lumpur yang subur itu”

“Ya“ Juwiring mengangguk “Kaupun benar. Inilah yang aku sebut harga diri. Aku maka hasil keringatku sendiri meskipun sedikit. Tetapi kau tidak”

“Itupun wajar sekali” sahut Rudira “Tidak semua orang harus turun ke sawah. Tidak semua orang di dalam suatu negeri harus menjadi petani. Pasti harus ada pekerjaan lain. Pemimpin pemerintahan, prajurit, Adipati dan para Abdi Dalem. Tidak sewajarnya para bangsawan harus mencangkul sendiri” Rudira diam sejenak, lalu “Seperti kau, kamas. Kau tidak usah turun ke sawah. Meskipun kamas berada di padepokan untuk mempelajari ilmu kajiwan dan kasampurnan, tetapi kamas tidak perlu makan dari keringat sendiri. Kamas seorang bangsawan. Kamas dapat memerintahkan apa saja yang kamas perlukan. Dengan mengotori diri sendiri kamas akan merendahkan derajad kebangsawanan kamas, dan mencemarkan nama keluarga Ranakusuma”

“Adimas Rudira, manakah yang lebih cemar. Berdiri diatas lumpur yang kotor tetapi bersih atau berdiri diatas permadani yang bersih tetapi kotor”

Rudira mengerutkan keningnya.

“Apakah kau tidak menyadari? Apakah arti kedatangan kumpeni setiap kali ke rumah kita. Ke istana Ranakusuman? Kenapa?“

“O. Kamas memang benar-benar harus mempelajari ilmu kasampurnan. Kamas masih membatasi diri dalam hubungan manusia. Apa salahnya kita bersahabat dengan setiap orang di muka bumi”

“Kita memang harus bersahabat dengan manusia di seluruh sudut bumi. Tetapi tanpa mengorbankan diri sendiri. Kalau kau bersedia bersahabat dengan setiap orang di muka bumi, kenapa justru kau terlampau jauh dari manusia yang hidup di sekitarmu. Manusia yang setiap hari bergulat dengan lumpur?“

Rudira terdiam sejenak. Namun wajahnya menjadi semburat merah.

Tetapi ternyata anak muda itu pandai bersamu-dana. Sejenak kemudian iapun tersenyum sambil berkata “Sudahlah. Kita tidak usah membicarakan masalah-masalah yang kurang sesuai bagi kita. Marilah kita berbicara tentang keadan yang kita hadapi ini” Rudira berhenti sejenak, lalu “Kamas, aku sangat tertarik kepada gadis Jati Sari ini”

Tanpa disadari terasa darah Juwiring menggelepar. Tiba-tiba saja ia berpaling. Ketika terpandang wajah Buntal yang berdiri di sampingnya, Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Wajah itupun menjadi tegang.

“Siapakah gadis ini kamas? Kamas yang sudah lama tinggal di Jati Sari, pasti mengenalnya. Agaknya akupun pada suatu saat harus mempelajari ilmu kajiwan di Jati Aking seperti kamas Juwiring”

Juwiring menarik nafas ,dalam-dalam. Katanya “Gadis itu adalah gadis padepokan Jati Aking”

“He“ Rudira terkejut.

“Ia adalah gadis padepokan kami. Ia adalah anak Kiai Danatirta”

“O“ Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya “pantas. Pantas, bahwa gadis itu gadis padepokan. Bukan gadis padesan biasa”

Tiba-tiba saja dada Buntal menjadi pepat. Ia tidak mengerti, kenapa hatinya menjadi sangat gelisah ketika ia mendengar seorang anak muda yang memuji kecantikan Arum.

“Ia adalah adikku” berkata Buntal di dalam hatinya. Tetapi ada perasaan lain dari perasaan itu. Dari perasaan seorang kakak kandung terhadap adiknya

Dalam pada itu Juwiring berkata “Sudahlah adimas Rudira. Jangan menjadi tontonan disini. Kalau kau akan pergi berburu, pergilah. Aku melihat kau membawa busur dan anak panah. Demikian juga pengiring-pengiringmu. Di hutan perburuan itu memang banyak sekali kijang”

“O“ Rudira mengangguk-angguk “Ya. Kami memang akan berburu. Tetapi buruanku ternyata sudah ada disini”

Darah Buntal tersirap mendengar kata-kata iitu. Bukan saja Buntal tetapi juga Juwiring. Apalagi ketika ia melihat Rudira tertawa sambil berpaling kepada Arum yang berdiri ketakutan.

“Kamas” berkata Rudira “Marilah, antarkan aku ke padepokan Jati Aking. Sudah lama aku ingin mengenal padepokan itu. Aku juga mulai memikirkan tentang masa depanku. Dan agaknya aku ingin juga belajar ilmu kajiwan dan ilmu kasampurnan. Mungkin juga ilmu-ilmu yang lain yang berhubungan dengan pemerintahan. Aku dengar Kiai Danatirta juga seorang yang mumpuni di dalam ilmu kasusastran”

Tetapi Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya “Pekerjaanku belum selesai”

“O. kalau begitu biarlah gadis itu mengantarkan aku ke padepokan ayahnya”

“Kau» lihat bahwa ia baru datang? Ia membawa makan dan minumanku. Setiap hari ia pergi ke sawah apabila aku ada di sawah. Jangan kau ganggu anak itu. Biarlah ia melanjutkan pekerjaannya”

Rudira memandang Juwiring dengan tatapan mata yang mulai menyala. Tiba-tiba saja ia berkata “Kamas Juwiring. Kau tidak berhak menghalang-halangi aku. Aku dapat berbuat sesuka hatiku. Apalagi rakyat kecil seperti Arum dan ayahnya Sedang kaupun tidak berhak mencegah aku”

“Aku tidak menghalang-halangi. Aku hanya minta, kau jangan mengganggu kerjaku dari kerja anak itu. Kalau kau akan pergi ke padepokan Jati Aking pergilah. Setiap orang tahu dimana tempatnya. Dan kau dapat bertanya kepada mereka. Bahkan kau dapat memaksa mereka dengan gelar kebangsawananmu untuk mengantarkan kau. Tetapi tidak aku dan tidak gadis itu”

Wajah Rudira menjadi merah semerah matanya. Selangkah ia maju sambil berkata “Kamas jangan menghina aku di hadapan rakyat Surakarta. Aku dapat bertindak tegas. Aku adalah seorang bangsawan penuh. Ayahku seorang bangsawan dan ibuku seorang bangsawan pula. Kau? Benar kau putera ayahanda Ranakusuma, tetapi ibumu adalah seorang gadis yang lahir di antara rakyat kecil”

“Tetapi aku mempunyai harga diri. Ibuku tidak pernah mimpi untuk menjadi seorang puteri bangsawan, seperti aku juga. Apalagi bermimpi untuk menjual harga diri kepada orang asing berapapun ia akan membelinya”

“Kamas“ potong Rudira “Jangan menghina keluarga kita sendiri. Seandainya kau terasing dari keluarga kita karena pokalmu sendiri, namun jangan menjadi pengkhianat bagi keluarga Ranakusuma”

“Bukan aku yang berkhianat. Justru aku ingin mempertahankan martabat ayahanda Ranakusuma sebagai seorang bangsawan dari Surakarta. Kalianlah yang telah berkhianat, karena kalian telah menjual nama dan keagungan kebangsawanan kepada orang asing itu”

“Cukup” bentak Rudira “sebenarnya aku tidak ingin bertengkar. Tetapi kau telah memancing persoalan. Jangan kau kira bahwa aku tidak dapat bertindak terhadapmu, kamas. Meskipun kau lahir dahulu, sehingga kau menjadi saudara tuaku, tetapi derajatku lebih tinggi dari derajatmu”

“Derajat tidak ditentukan oleh darah keturunan. Tetapi ditentukan oleh perbuatan. Perbuatan kita sendiri”

Mata Rudira benar-benar telah menyala. Selangkah ia maju mendekati Juwiring. Namun Juwiring sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan cangkulnyapun kemudian diletakkannya di tanah.

“Kau mulai menentang keluarga Ranakusuma” geram Rudira.

“Mudah-mudahan ada orang yang dapat menilai apia yang telah terjadi”

Rudira menggeram. Tetapi sejenak ia masih berdiri diam di tempatnya.

Dalam pada itu, orang-orang yang ada di sawah, yang bergeser mendekati kedua anak-anak muda yang bertengkar itu, menjadi berdebar-debar. Tetapi tidak ada seorangpun yang berani berbuat apapun juga. Keduanya adalah putera Pangeran Ranakusuma. Sehingga tidak ada yang berani untuk berbuat sesuatu atas keduanya.

Orang-orang yang menyaksikan itu hanya berharap, mudah-mudahan para pengiring Raden Rudira dapat mencegah peristiwa yang tidak mereka harapkan. Tetapi ternyata para pengiringnya itupun hanya berdiri saja dengan mulut ternganga.

“Kamas” berkata Rudira “Cepat, mintalah maaf. Aku masih memberi kesempatan, karena kau adalah saudara tua bagiku, meskipun derajatku lebih tinggi”

“Aku tidak merasa bersalah” berkata Juwiring “Justru aku berdiri di pihak yang benar. Buat apa aku minta maaf. Kalau kau jantan, kaulah yang minta maaf kepadaku, kepada Arum dan kepada ayahnya”

“Persetan, aku adalah seorang bangsawan. Kalau aku memang menghendaki, aku dapat mengambilnya kapan saja”

Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya “Selama aku masih ada di Jati Aking tidak ada seorangpun yang dapat berbuat demikian atasnya. Apalagi kau bukan seorang Pangeran”

Darah Rudira benar-benar telah mendidih. Karena itu, ia tidak dapat menahan diri lagi.

Ternyata bahwa perasaan yang membekali hati masing-masing pada pertemuan itu telah membuat jantung mereka semakin panas. Rudira yang ingin menjauhkan Juwiring dari keluarganya, dan Juwiring yang. merasa dirinya telah di fitnah.

Dengan demikian maka persoalan yang tumbuh itu hanyalah sekedar bagaikan api yang menyentuh minyak. Hati anak-anak muda yang belum terkendali ilupun segera berkobar membakar segenap urat darah.

Sejenak kemudian kediua anak muda itu telah berdiri berhadapan. Keduanya adalah putera Pangeran Ranakusuma. Tetapi ternyata bahwa nama Ranakusuma tidak mampu menjadi pengikat yang baik bagi keluarganya, sehingga kebencian, iri dan dengki telah mencengkam seisi Dalem Kepangeranan

“Kau benar-benar keras kepala kamas” geram Rudira.

“Kita sama-sama keras kepala”

“Meskipun kau saudara tua, tetapi kau tidak pantas dihormati. Apalagi derajatmu yang tidak setingkat dengan derajatku”

“Memang. Terapi darahku masih sepanas darahmu”

“Persetan. Aku akan membuktikan bahwa aku lebih baik darimu dalam segala hal”

“Dan hatimu lebih hitam dari hatiku”

Penghinaan di hadapan banyak orang itu benar-benar tidak dapat dimaafkan lagi. Tiba-tiba saja tangan Rudira terayun ke mulut Juwiring. Demikian cepatnya dan tidak terduga-duga, sehingga Juwiring terkejut karenanya. Tetapi gerak naluriahnya telah memutar leher dan menariknya mundur, sehingga tangan itu hanya menyentuh sedikit saja di pipinya.

Beberapa orang yang menyaksikan gerakan itu berdesah tertahan. Hanya suara Arum sajalah yang terdengar melengking. Namun iapun kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

Ternyata Juwiring tidak membiarkan dirinya diperlakukan demikian. Dengan marah pula ia mempersiapkan dirinya. Dan agaknya Rudira memang benar-benar ingin berkelahi, sehingga tiba-tiba saja ia telah menyerangnya.

Tetapi Juwiring telah siap pula. Karena itulah, maka sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang seru. Rudira yang tinggi hati itu tidak lagi berusaha mengekang dirinya Ia ingin benar-benar mengalahkan saudara seayahnya dan membuatnya jera.

Namun agaknya Juwiring tidak membiarkan Rudira berlaku sesuka hatinya. Latihan-latihan yang diperolehnya, tiba-tiba saja telah membuatnya menjadi garang. Sejenak kemudian tanpa sesadarnya, ialah yang justru menyerang adiknya itu dengan serangan-serangan beruntun, sehingga Rudira menjadi bingung karenanya.

Untuk menghindarkan dirinya, Rudira meloncat surut, tetapi Juwiring mengejarnya terus. Berkali-kali tangannya berhasil mengenai tubuh Rudira. Bahkan kemudian terdengar Rudira mengaduh ketika kaki Juwiring berhasil menghantam lambung.

Para pengiring dan pengawal Rudira yang sebenarnya ingin pergi berburu itupun menjadi berdebar-debar. Meskipun ketika mereka berangkat, ada juga pesan Rudira, bahwa mereka akan berusaha singgah di padepokan Jati Aking untuk menemui Juwiring, namun mereka tidak menyangka, bahwa pertengkaran akan begitu cepat berkobar.

Namun pada umumnya para pengiring itupun mengetahui, bahwa sejak lama pada keduanya telah tersimpan perasaan yang buram. Sikap bermusuhan memang sudah mereka lihat sejak keduanya masih tinggal di istana Ranakusuman, sampai pada suatu saat Juwiring disingkirkan dan dengan banyak alasan dikirim ke Jati Aking atas saran Ki Dipanala.

Bagi Dipanala, Juwiring lebih baik berada di Jati Aking daripada di tempat lain yang masih belum diketahuinya. Kalau ia jatuh kerangan orang yang tidak bertanggung jawab, maka nasibnya akan menjadi semakin buruk.

Dan kini, perasaan yang agaknya telah lama tersimpan di dalam hati kedua anak muda itu telah meledak.

Karena itulah maka para pengiringnya menjadi termangu-mangu sejenak. Baru setelah Rudira mulai terdesak, beberapa orang di antara mereka sadar, bahwa mereka dapat berusaha mencegah perkelahian yang semakin lama menjadi semakin sengit.

Namun demikian mereka masih ragu-ragu juga. Mereka mengenal Rudira baik-baik. Anak muda yang keras hati dan keras kepala itu, tidak akan mudah mendengarkan kata-kata mereka. Dan bahkan mungkin Rudira akan menjadi semakin marah. Sehingga dengan demikian, para pengawalnya itu hanya berdiri sa)a termangu-mangu.

Tetapi akhirnya salah seorang dari mereka tidak dapat menahan perasaannya lagi. Ia tidak sampai hati melihat kedua putera Pangeran Ranakusuma itu berkelahi. Karena itu, maka iapun bergeser setapak maju.

Tetapi langkahnya segera terhenti ketika tangan yang kuat menggamitnya. Tangan kawannya sendiri. Seorang pengawal yang bertubuh tinggi kekar dan berkumis lebat.

“Biar saja. Juwiring memang perlu dihajar”

Kawannya yang ingin melerai perkelahian itu mengerutkan keningnya. Dan orang berkumis itu berkata seterusnya “Kalau Raden Rudira tidak dapat menghajarnya, aku pasti akan mendapat kesempatan”

“Kenapa kita tidak mencegahnya, justru malahan akan ikut campur?“

Orang itu tersenyum. Katanya “Tuan kita adalah Raden Rudira. Bukan Juwiring yang sudah dibuang kepadesan itu”

Kawannya tidak menyahut. Ia sadar, bahwa orang berkumis itu mempunyai beberapa kelebihan dari padanya dan kawan-kawannya yang laia. Karena itu, iapun tidak berani lagi membantah. Namun dengan demikian hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Kalau orang itu benar-benar mendapat perintah dari Rudira, maka nasib Juwiring akan menjadi kurang baik.

Dengan ragu-ragu orang-orang itu mencoba memandang wajah-wajah kawan-kawannya yang lain. Seperti orang yang baru sadar akan dirinya, ia terperanjat. Ternyata orang-orang yang ada di dalam iring-iringan untuk pergi berburu itu kebanyakan adalah orang-orang yang dikenalnya sebagai abdi yang paling setia kepada Raden Ayu Galihwarit. Satu dua di antara bahkan termasuk bukan saja abdi setia, tetapi penjilat-penjilat.

Orang-orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri sebenarnya juga seorang penjilat. Tetapi ia menyadari, bahwa yang dilakukan itu sekedar untuk mempertahankan sumber penghidupannya beserta isteri dan anaknya. Kalau ia dipecat dari Ranakusuman, maka akan sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan baru di Surakarta. Apalagi ia tidak mempunyai lagi sawah dan ladang di padesan.

Tetapi kawan-kawannya yang lain menjadi penjilat bukan saja karena penghidupannya, tetapi mereka memang ingin mendapatkan pujian, borang-orang yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya dan uang yang lebih banyak lagi.

“Tidak banyak yang berani berbuat dan bersikap seperti Dipanala” katanya di dalam hati “Tetapi aku yakin, sebentar lagi iapun pasti akan tersisih dan bahkan mungkin, nasibnya lebih jelek lagi daripada itu”

Dan kini, ia menyaksikan perkelahian itu menjadi berat sebelah. Rudira ternyata benar-benar telah terdesak. Bagaimanapun juga Rudira berusaha, namun Juwiring tidak dapat dikalahkannya.

Rudira sama sekali tidak menyangka, bahwa Juwiring mampu juga berkelahi. Bahkan ternyata, Juwiring tidak dapat dikalahkannya.

Tetapi ternyata bahwa Rudira bukan seorang bangsawan yang berhati satria. Setelah ia yakin bahwa ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu, tiba-tiba saja ia berteriak “Sura. Hajar orang ini. Aku tidak mau mengotori tanganku dengan menyentuh tubuhnya yang berlumpur ini”

“Juwiring berdesir mendengar nama itu. Ia tahu, bahwa Sura adalah seorang abdi Ranakusuman yang paling ditakuti oleh kawan-kawannya, tetapi juga dibenci. Ia memiliki beberapa kelebihan karena tubuhnya yang kokoh kuat, meskipun otaknya sedungu kerbau.

Sebenarnya Juwiring tidak gentar apabila ia harus berkelahi melawan Sura itu, setelah ia mempunyai dasar-dasar pengetahuan ilmu olah kanuragan. Karena ia yakin, bahwa bukan kekuatan tubuh semata-mata yang dapat diandalkan dalam perkelahian. Tetapi juga pikiran dan pengamatan yang tepat

Tetapi untuk berhadapan dengan dua orang, ia memang merasa ragu-ragu. Apakah ia akan mampu berkelahi melawan dua orang sekaligus.

Ketika orang berkumis yang ternyata bernama Sura itu beringsut maju, maka dada orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin berdebar-debar. Orang itu bertubuh tinggi, tegap dan kekar. Kumisnya menyilang di bawah hidungnya, membuat wajahnya yang kasar menjadi semakin mengerikan.

“Kemarilah“ berkata Rudira masih sambil berkelahi “Anak ini tidak seberapa Tetapi tubuhnya terlampau kotor untuk di sentuh. Karena itu, bantinglah dan benamkan sama sekali ke dalam lumpur. Biarlah ia menjadi semakin kotor, karena lumpur baginya adalah sumber penghidupannya“

Arum yang melihat kehadiran orang itupun menjadi cemas juga. Menilik tubuhnya yang besar, maka ia pasti mempunyai kekuatan yang besar pula. Dengan demikian apakah Juwiring seorang diri mampu melawannya, apalagi apabila Rudira sendiri masih ikut serta berkelahi.

Dengan menahan nafas ia melihat Sura melangkah setapak demi setapak mendekati arena. Juwiring dan Rudira masih juga berkelahi dengan serunya. Sekali-sekali mereka berdua berpaling kearah orang berkumis yang mendekat perlahan-lahan, seperti seekor harimau yang sedang mengintai mangsanya.

Rudira perlahan-lahan berusaha menggeser perkelahian itu. Demikian Sura memasuki arena, maka ia akan dapat segera meloncat menepi.

Langkah Sura setapak demi setapak itu, terasa berdentangan di dada Arum. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Dengan gelisah dipandanginya otot-otot yang merambat di segenap wajah kulit orang yang bernama Sura itu.

Dalam pada itu, Juwiringpun menjadi berdebar-debar. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menjatuhkan Rudira sebelum Sura memasuki arena. Tetapi ia tidak segera berhasil, justru karena ia mulai gelisah melihat bentuk tubuh raksasa itu.

Namun adalah di luar dugaannya, dan di luar dugaan semua orang yang menyaksikan perkelahian itu sambil menahan nafas. Tiba-tiba saja tanpa berkata sepatah katapun, seorang anak muda melontarkan dirinya langsung menyerang Sura dari samping. Tubuhnya yang ringan dan sikapnya yang mapan, menunjukkan bahwa ia pernah mengenal ilmu olah kanuragan.

Kaki kanannya terjulur lurus menyamping. Tubuhnya bagaikan seorang yang sedang berbaring miring. Seperti halilintar, kakinya menyambar tengkuk Sura yang sedang berjalan perlahan-lahan maju. Benar-benar serangan yang tidak disangka-snagkanya dari arah yang tidak disangka-sangka pula.

Demikian kerasnya serangan itu dan langsung mengenai tengkuk, sehingga raksasa yang bernama Sura itu sama sekali tidak sempat berbuat apapun juga. Tumit yang menghantam tengkuknya serasa membuatnya kehilangan keseimbangan. Terhuyung-huyung ia terdorong beberapa langkah ke samping. Dengan susah payah ia mencoba menahan keseimbangan tubuhnya. Tetapi, kaki yang mengenai tengkuknya itu, begitu berjejak diatas tanah, langsung melontar kembali. Kali ini dengan sebuah putaran mendatar. Tumit itu pulalah yang kemudian menghantam perutnya, sehingga tanpa ampun lagi, Sura yang bertubuh raksasa itupun terduduk perlahan-lahan setelah berjuang dengan sekuat tenaganya untuk menjaga keseimbangannya.

Ternyata serangan yang datang masih belum tuntas. Kini sisi telapak tangan anak muda itulah yang menghantam pelipisnya sehingga wajah itu tertengadah sejenak. Disusul oleh sebuah pukulan di bawah telinga kanan.

Sura yang bertubuh raksasa itu benar-benar tidak berdaya. Serangan yang datang beruntun itu benar-benar mengejutkannya dan mengejutkan semua orang yang menyaksikannya. Tidak seorangpun yang menyangka bahwa hal itu akan terjadi, sehingga Sura sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk berbuat apapun juga, karena yang terjadi itu berlangsung begitu cepatnya.

Sejenak kemudian Sura telah duduk bersimpuh. Kepalanya terkulai dengan lemahnya, sedang kedua belah tangannya memegang perutnya yang serasa berputar-putar. Matanya menjadi berkunang-kunang, sedang telinganya berdesing keras sekali, seperti seribu sendaren bersama-sama mengaum di dalam telinganya itu.

Anak muda itu agaknya masih belum puas. Tetapi ketika ia mengangkat tangannya sekali lagi terdengar suara Juwiring “Buntal”

Anak muda itu tertegun. Iapun kemudian berpaling sambil berkata “Aku tidak akan dapat melawannya apabila ia sempat melakukan. Ia harus kehilangan kemampuannya itu, dan tidak berdaya untuk selanjutnya”

Juwiring berdiri termenung sejenak. Rudirapun menjadi bingung sesaat, sehingga perkelahian itu menjadi terhenti dengan sendirinya.

“Jangan Buntal” cegah Juwiring.

Buntal memandanginya dengan heran. Kenapa justru Juwiringlah yang mencegahnya. Karena itu, sejenak ia berdiri kebingungan. Sekali-sekali dipandanginya wajah Rudira, kemudian Juwiring dan bahkan beredar pada setiap wajah yang ada di sekitarnya.

Sejenak arena itu dicengkam oleh kediaman yang tegang. Semua mata kini tertuju kearah Buntal. Anak muda yang berdiri di samping seorang raksasa yang duduk bersimpuh menahan sakit di seluruh bagian tubuhnya.

Namun kediaman itu, segera dipecahkan oleh suara Rudira yang tiba-tiba menyadari keadaannya “Hancurkan kedua anak gila ini. Tidak ada ampun lagi bagi mereka”

Juwiring terkejut mendengar perintah itu. Selama ini, selama ia berkelahi melawan Rudira, ia masih belum kehilangan pegangan. Ia masih tetap sadar, bahwa lawannya itu adalah adiknya. Tetapi agaknya Rudira benar-benar telah menjadi mata gelap. Sura bukannya orang yang dapat menahan diri dan menimbang perasaan. Kalau Sura sempat berbuat sesuatu, maka ia pasti akan menjadi parah. Ternyata Buntal mempunyai perhitungannya sendiri dan melumpuhkan raksasa itu sebelum berbuat sesuatu.

Tetapi kini Rudira telah memerintahkan orang-orangnya yang lain Tidak kurang dari tujuh orang. Bahkan lebih.

Dalam pada itu, orang-orangnya menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka tersentak ketika Rudira berteriak “Cepat, sebelum mereka melarikan diri. Aku akan bertanggung jawab. Kalau ada orang lain yang ikut campur, mereka akan mengalami nasib serupa”

Seperti terbangun dari mimpi merekapun kemudian bergerak hampir bersamaan. Kuda-kuda mereka, begitu saja mereka lepaskan. Empat orang dari mereka dengan tergesa-gesa mengepung kedua anak-anak muda itu, namun yang lain masih juga agak ragu-ragu.

“Siapa yang berkhianat, aku tidak tahu akibat yang akan menimpa dirinya di istana nanti”

Ancaman itu telah mendorong orang-orang yang mengiringi Rudira itu semakin maju. Apapun yang ada di dalam hati, namun mereka harus berbuat seperti yang dikehendaki oleh anak muda bangsawan itu.

Tetapi agaknya Juwiring sama sekali tidak ingin menyerah. Demikian juga Buntal yang sedikit lebih muda daripadanya. Ke duanya justru menyiapkan diri, menghadapi segala kemungkinan.

Pada saat itu, Sura mulai bergerak. Dengan segenap ketahanan yang ada padanya, ia mencoba mengatasi rasa sakit di tubuhnya. Ketika ia mendengar aba-aba Rudira, timbullah niatnya untuk ikut berkelahi dan membalas serangan-serangan yang tidak sempat dielakkannya.

“Cepat. Aku mau kalian bertindak sekarang. Sekarang!”

Ketika orang-orang yang mengepung kedua anak muda itu mulai bergerak. Surapun berusaha untuk berdiri. Tetapi Buntal yang berdiri di sisinya sama sekali tidak memberinya kesempatan, la sadar sepenuhnya. bahwa orang yang bernama Sura itu orang yang paling berbahaya di antara para pengiring Rudira. Karena itulah, maka sebelum Sura berhasil berdiri, dengan sekuat tenaganya, tanpa peringatan apapun juga. Buntal sekali lapi menghantam tengkuk orang itu. Kali ini dengan sisi telapak tangannya.

Sura adalah seorang yang seakan-akan bertubuh liar. Tetapi ternyata pukulan Buntal itu membuatnya keriangan kekuatan. Sambil menyeringai ia mengpeliat, Tetapi sekali lagi pukulan yang sama telah diulang oleh Buntal. Kali ini Sura benar-benar tidak dapat bertahan 1agi. Kepalanya segera tertunduk dan tubuhnya terkulai dengan lemahnya.

Pada saat itulah, para pengawal Rudira mulai menyerang. Ada yang menyerang dengan mantap dan sepenuh hati, tetapi ada juga yang masih ragu-ragu, sebab merekapun tahu, bahwa Juwirng adalah putera Pangeran Ranakusnma seperti Rudira. Tetapi karena Rudira kini berkuasa di istana Ranakusuman, maka tidak seorangpun yang berani melawan kehendaknya.

Juwiring dan Buntal terpaksa berkelahi melawan mereka. Tetapi di antara mereka tidak lagi terdapat Sura yang telah hampir menjadi pingsan sambil duduk bersimpuh. Kepalanya yang terkulai mencium tanah dialasinya dengan kedua tangannya yang lemas.

Arum berdiri membeku di pinggir parit. Ia berdiri di antara dua kemungkinan yang sama-sama berat. Kalau ia sama sekali tidak berbuat apa-apa, adalah terlalu sulit bagi Juwiring dan Buntal untuk bertahan melawan tujuh orang bahkan lebih. Arum yang merasa memiliki kemampuan setingkat dengan Juwiring dan Buntal, yang hanya karena kodrat kegadisannya sajalah yang memberikan selisih sedikit dalam olah kanuragan, merasa mampu juga ikut di dalam arena perkelahian. Tetapi jika demikian, maka ia akan menjadi orang aneh di padukuhan Jati Sari. Ia akan menjadi pusat perhatian untuk waktu yang lama, yang bahkan tidak akan ada habisnya. Kawan-kawannya pasti akan bersikap lain kepadanya, bahkan mungkin gadis-gadis Jati Sari akan menjauhinya, sehingga ia akan terkurung di padepokan Jati Aking saja.

Dalam keragu-raguan itu, ia mendengar suara Juwiring lantang “Jangan berbuat sesuatu Arum. Tinggallah disitu. Atau pergilah jauh-jauh”

Arum mengerti maksud Juwiring. Ia harus menahan hati. Ia harus tetap merupakan seorang gadis biasa di mata kawan-kawannya dan orang-orang Jati Sari. Karena itulah maka ia justru melangkah surut Namun dengan demikian ia menjadi cemas akan nasib kedua saudara seperguruannya itu.

Dalam pada itu, Juwiring dan Buntal berkelahi mati-matian untuk mempertahankan diri. Untunglah bahwa tidak semua pengawal Rudira berkelahi bersungguh-sungguh, sehingga meskipun jumlah mereka cukup banyak, namun Juwiring dan Buntal masih tetap dapat bertahan.

Tetapi agaknya Rudira melihat hal itu, sehingga karenanya ia berteriak keras-keras” sekali lagi aku peringatkan. Siapa yang berberkhianat akan mengalami nasib jelek di istana. Tidak ada orang yang dapat mencegah tindakan yang akan aku ambil atas kalian”

Dada para pengiringnya itupun menjadi berdebaran. Mereka tidak boleh berkelahi berpura-pura. Dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan sikapnya itu. Jika demikian, maka mereka akan dapat diusir dari pekerjaan mereka.

Karena itu, tidak ada pilihan lain daripada berkelahi benar-benar. Di dalam hati mereka berkata “Bukan tanggung-jawabku. Aku hanya menjalankan perintah”

Dengan demikian maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin sengit. Bagaimanapun juga Juwiring dan Buntal menjadi semakin terdesak. Badan mereka mulai merasa lelah dan sakit, karena setiap kali mereka tidak berhasil mengelakkan serangan-serangan lawan yang datang dari segala penjuru, sedang ilmu yang mereka kuasai baru sekedar ilmu dasar, dari ilmu yang sesungguhnya.

Arum menjadi bertambah gelisah. Ia tidak akan dapat minta bantuan kepada ayahnya yang bagi orang-orang Jati Sari, Kiai Danatirta dari padepokan Jati Aking, adalah seorang tua yang hanya mesu kajiwan dan kasampurnan batin. Sama sekali bukan seseorang yang mendalami ilmu kanuragan. Sehingga dengan demikian Arum menjadi semakin bingung.

Dalam pada itu, keadaan Juwiring dan Buntal menjadi semakin sulit seperti hati Arum. Mereka terdesak semakin jauh, sehingga hampir tidak dapat bertahan lagi. Bahkan sekali-sekali Buntal terdorong beberapa langkah. Hanya karena kekerasan hatinya sajalah maka ia masih tetap bertahan dan berkelahi terus, meskipun keningnya telah menjadi kebiru-biruan dan pipinya mulai membengkak.

Pada saat-saat yang berat itu, justru Sura mulai bergerak dan tertatih-tatih berdiri. Sejenak ia masih memegangi perutnya dan kemudian meraba-raba tengkuknya. Namun sejenak kemudian ia sudah berhasil berdiri tegak.

Ketika ia melihat bahwa perkelahian masih berlangsung, maka iapun menggeram. Kini ia tidak melangkah setapak demi setapak perlahan-lahan. Tetapi dengan tergesa-gesa ia mendekati arena sambil berteriak “Lepaskan yang kecil itu. Itu adalah bagianku. Kalan semuanya tinggal mempunyai seorang lawan. Terserah perintah dari Raden Rudira terhadap kalian atas Raden Juwiring Tetapi anak gila itu serahkan kepadaku”

Buntal menjadi berdebar-debar. Ia melihat api yang menyala di mata orang yang bernama Sura itu.

Namun seperti yang telah terjadi. Benar-benar di luar dugaan, bahwa dalam keadaannya. Buntal berhasil menyusup, sesaat perhatian lawannya tertarik oleh suara Sura. Sekali lagi ia melontarkan dirinya dan kaki terjulur lurus menghantam raksasa itu. Kali ini mengarah ke dadanya.

Namun Sura sempat melihat serangan yang dianggapnya terlampau gila itu. Tetapi ia tidak sempat mengelak. Dengan demikian maka dengan tergesa-gesa disilangkannya tangannya di depan dadanya itu untuk menangkis serangan Buntal.

Daya lontar Buntal ternyata cukup besar. Ternyata benturan itu membuat Sura terdorong surut beberapa langkah, sedang Buntal sendiri terlempar jatuh di tanah Tetapi cepat ia bangkit berdiri meskipun ia harus menyeringai karena pergelangan kakinya seiasa akan patah.

Sura berhasil mempertahankan keseimbangan meskipun hampir saja ia terjatuh. Serangan itu begitu tiba-tiba. Didorong pula oleh daya lontar yang kuat, sedang tubuh Sura sendiri masih belum pulih sama sekali.

Tetapi kini Sura mengetahui, bahwa kekuatan anak itu tidak terlampau mencemaskan. Kalau ia sempat melawan, maka baginya Buntal bukanlah lawan yang harus diperhitungkan, meskipun kelincahannya mengagumkannya pula.

Kini Sura memusatkan perhatiannya kepada Buntal, sementara yang lain mulai melingkari Juwiring.

“Hancurkan mereka. Itu perintahku. Aku akan bertanggung jawab. Buatlah mereka untuk selanjutnya tidak akan dapat melawan kita lagi. Mungkin tangan mereka atau kaki merekalah yang membuat mereka terlampau sombong”

“Bagus” geram Sura “Aku akan melakukan sebaik-baiknya. Tangan anak ini memang terlampau cekatan”

Dada Buntal benar-benar berguncang ketika ia melihat Sura mendekatinya. Tetapi ia sudah terlanjur basah. Karena itu, apapun yang akan terjadi akan dihadapinya.

Dalam pada itu, Juwiringpun menjadi berdebar-debar. Sura memang bukan lawan Buntal yang masih terlalu muda itu. Bahkan ia sendiri yang lebih tua, masih harus mempergunakan bukan saja tenaganya, tetapi terlebih-lebih adalah otaknya untuk melawan orang yang bernama Sura itu. Dan agaknya pertimbangan pikiran Buntalpun masih belum cukup dewasa menanggapi lawannya itu, sehingga apabila ia hanya sekedar mempergunakan tenaga dan dasar-dasar ilmunya, maka ia tidak akan dapat melawannya. Apalagi apabila sekali anggauta badannya teraba oleh Sura, maka tulang-tulangnya pasti akan retak karenanya.

Tetapi Juwiring tidak dapat berbuat apa-apa, karena beberapa orang telah berdiri melingkarinya. Kalau ia bergerak, maka itu akan berarti, ia harus berkelahi melawan orang-orang itu.

Sejenak Juwiring berdiri termangu-mangu. Ia melihat Buntal telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan, meskipun kemungkinan yang paling besar akan terjadi adalah kemungkinan yang kurang menyenangkan baginya.

“Jangan menyesal” geram Sura “Kau sudah menyakiti aku. Sekarang aku akan menyakiti kau”

Buntal tidak menyahut. Tetapi ia tidak mau didahului. Menurut pertimbangannya, memang lebih baik mendahului daripada didahului.

Karena itu, maka selagi Sura melangkah mendekatinya, sekali lagi Buntal melontarkan serangan sekuat-kuat tenaganya. Untuk melawan raksasa itu, Buntal lebih percaya kepada kekuatan kakinya, meskipun ia sadar, bahwa ia menghadapi kekuatan yang lebih besar dari kekuatannya.

Juwiring mengerutkan keningnya. Buntal memang masih terlampau muda. Kalau ia mencoba melawan kekuatan dengan kekuatan, maka sebentar lagi, ia pasti akan diremukkan oleh raksasa Ranakusuman yang mengerikan itu.

Dugaan Juwiring tidak jauh meleset. Sekali lagi kaki Buntal menghantam tangan Sura. Kali ini Sura mengiringkan tubuhnya, dan membenturkan lengannya. Namun kekuatan lengannya telah mampu melemparkan Buntal dan membantingnya jatuh di tanah,
meskipun Sura sendiri juga terdorong beberapa langkah surut.

Buntal menyeringai menahan sakit di punggungnya yang membentur batu padas. Tetapi iapun segera berusaha berdiri untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi, meskipun pergelangan kakinya semakin terasa sakit.

Arum yang masih berdiri Di tempatnya menjadi semakin, bingung. Sudah tentu ia tidak akan dapat berdiam diri, apabila bahaya yang sebenarnya telah mengancam kedua saudaranya itu. Apapun yang akan dikatakan orang, dan apapun yang akan terjadi pada dirinya seterusnya ia tidak mempedulikannya lagi. Sehingga karena itu, iapun justru melangkah mendekat, setelah ia meletakkan selendangnya.

“Tetapi aku memakai kain panjang” berkata Arum kepada diri sendiri di dalam hatinya “sedang disini banyak orang. Kalau aku berada di halaman rumah sendiri di malam hari aku dapat menyingsingkan saja kain panjang ini. Tetapi bagaimana disini?“

Arum menjadi termangu-mangu. Tetapi ketika terpandang olehnya Buntal yang tampak terlampau kecil berdiri berhadapan dengan Sura, maka iapun menggeretakkan giginya “Apa peduliku dengan orang-orang itu. Aku dapat menyangkutkan kain seperti Buntal dan Juwiring”

Dalam pada itu, dada Arum berdesir ketika ia melihat Sura mulai menyerang lawannya. Sebuah pukulan yang keras mengarah ke pelipis Buntal. Tetapi Buntal cukup cekatan sehingga ia masih sempat mengelak. Bahkan kemudian dengan. lincahnya ia mencoba menyerang lambung Sura dengan kakinya.

Dengan gerak naluriah Sura mengibaskan tangannya, memukul kaki itu. Terdengar Buntal mengeluh tertahan. Terasa betisnya bagaikan dipukul dengan sepotong besi, sehingga ia terputar setengah lingkaran sebelum ia meloncat menjauhi Sura yang mengejarnya.

Juwiring sendiri masih berdiri termangu-mangu. Agaknya orang-orang yang mengurungnyapun menjadi termangu-mangu juga. Mereka masih menunggu apa yang harus mereka lakukan, sementara semua perhatian terikat oleh perkelahian antara Buntal dan Sura.

Hampir saja Arum menjerit, ketika ia melihat sekali lagi kekuatan mereka berbenturan, karena Sura tidak pernah berusaha mengelakkan serangan Buntal. Sekali lagi Buntal terlempar. Kali ini cukup keras, sehingga ia tidak dapat mempertahankan keseimbangannya lagi. Dengan derasnya ia jatuh terbanting dan berguling kokoh kuat yang seperti sepasang tiang terpancang jauh ke dalam bumi.

Ketika ia meloncat berdiri sambil menyeringai, ia sempat melihat orang itu. Seorang yang bertubuh tinggi kekar, bermata tajam dan berwajah sedalam lautan. Menilik raut mukanya yang meskipun kotor oleh debu dan keringat, orang itu bukan orang kebanyakan. Tetapi menilik pakaiannya, ia adalah seorang petani miskin yang baru berada dalam perjalanan yang jauh. Bajunya dibuka dan dililitkan di lambungnya. Kain panjangnya disingsingkannya pula, sehingga celananya yang sampai di bawah lututnya tampak kumal dan kotor sekotor wajahnya itu.

Kehadiran orang itu ternyata telah menarik perhatian. Sejenak ia berdiam diri memandang Buntal yang tertatih-tatih berdiri. Kemudian memandang orang-orang yang berada di sekitar arena perkelahian itu.

“Kenapa tuan-tuan berkelahi disini?“ bertanya orang itu dengan suara yang berat.

“Siapa kau?“ Rudiralah yang bertanya.

“Aku seorang petani yang berada dalam perjalanan yang jauh tuan. Dan siapakah tuan? Menilik pakaian tuan, tuau adalah seorang bangsawan”

“Ya. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma”

“O“ petani yang bertubuh tinggi itu mengangguk dalam-dalam “Maafkan aku tuan. Aku tidak tahu, bahwa tuan adalah seorang putera Pangeran”

“Sekarang kau sudah tahu. Minggirlah. Kami sedang menyelesaikan persoalan kami”

“Maaf tuan, apakah aku boleh bertanya?“

Rudira memandang orang itu dengan tajamnya. Tetapi jaraknya-tidak begitu dekat

“Kenapa perkelahian ini tidak dilerai? Dan agaknya anak muda yang seorang itupun sudah terkepung pula?“

Itu urusanku. Pergilah. Jangan mencampuri persoalan orang lain. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma. Aku mempunyai wewenang untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginanku atas orang-orang kecil yang tidak tahu adat ini”

“Jadi, tuanlah yang sedang melakukan tindakan kekerasan atas orang-orang kecil ini?“

“Ya”

“Apakah salah mereka?“

“Kau tidak mempunyai sangkut paut apapun juga dengan mereka. Pergilah, supaya kau tidak tersangkut di dalam persoalan ini” bentak Rudira.

“Aku sudah berjalan jauh tuan. Tetapi aku tidak pernah menjumpai persoalan serupa ini. Seharusnya tuan dan pengawal-pengawal tuan melindungi orang-orang kecil ini dari segala macam kesulitan”

“Diam, diam“ tiba-tiba Rudira membentak “Kau tahu akibat dari kata-katamu itu he? Bahwa kau berani membantah kata-kataku, itu adalah alasan yang baik bagiku untuk bertindak. Kau mengerti?“

“Mengerti tuan. Tetapi perjalananku yang jauh mengajar kepadaku, agar aku tidak cukup sekedar mengerti sikap orang lain, tetapi aku harus menilainya pula, apakah sikap itu benar atau tidak”

Tiba-tiba mata Rudira bagaikan menyala. Ia tidak menyangka bahwa orang yang tiba-tiba saja datang melihat perkelahian itu, bersikap sangat menyakitkan hati.

“He, apakah kau bukan kawula Surakarta?“

“Aku kawula Surakarta”

“Kenapa kau berani bersikap semacam itu kepadaku. Kepada putera Pangeran Ranakusuma”

“Aku pernah berjalan berkeliling kota Surakarta. Dan aku memang pernah mendengar siapakah Pangeran Ranakusuma itu. Kalau tuan puteranya, maka tuan pasti pernah melihat, ayahanda tuan adalah sahabat yang baik dari orang-orang yang berkulit aneh itu. Kulitnya tidak seperti kulit kita dan matanya tidak seperti mata kita. Tetapi itu bukan alasan untuk menarik batas antara kita yang berkulit kotor dan bermata gelap ini dengan mereka, tetapi tindak dan sikap merekalah yang membuat jarak antara kita dengan orang-orang asing itu. Memang tidak ada bedanya di dalam hakekat, bahwa kita adalah mahluk Tuhan seperti mereka. Tetapi juga tidak akan dibenarkan apabila yang satu mulai melakukan penghisapan kepada yang lain. Bangsa yang satu atas bangsa yang lain. Nah, tolong, sampaikan kepada ayahanda tuan, bahwa akulah yang berkata demikian”

“Siapa kau?“

“Seorang petani dari Sukawati”

“Huh“ Raden Rudira menjadi semakin marah “Apa artinya seorang petani bagi ayahanda. Pergi dari tempat ini, atau kau harus mengalami nasib seperti anak itu?“

“Anak ini adalah benih yang baik buat masa mendatang. Aku sebenarnya sudah melihat perkelahian yang terjadi disini dari kejauhan. Tetapi ketika aku melihat benih masa mendatang ini akan dipatahkan, aku merasa sayang, sehingga akupun mendekat”
Jawaban itu bagaikan iebuah tamparan yang langsung diwajab Rudira, sehingga wajah itupun menjadi merah padam. Dengan suara bergetar ia berkata “Jadi jadi, apa maksudmu he? Apa yang akan kau lakukan?“

“Aku melihat dua orang anak petani ini dapat berbuat banyak di saat-saat mendatang, Karena itu, jangan tuan mengganggunya”

“Persetan. Kau tidak dapat mencegah aku. Atau kau sendiri yang akan menjadi pengewan-ewan disini?”

“Tuan, aku sudah mendekati arena. Karena aku merasa sayang kepada dua orang anak muda yang berkelahi melawan beberapa orang inilah maka aku datang. Anak ini memang bukan lawan raksasa yang dungu itu”

“Gila“ Sura hampir berteriak “Apakah kau akan turut campur?“

“Maaf. Aku terpaksa turut campur”

“Sura” teriak Rudira yang tidak sabar lagi “selesaikan orang itu”

“Baik tuan” jawab Sura sambil membusungkan dadanya. Lalu katanya “Petani dari Sukawati, jangan menyesal bahwa kau hari ini telah salah langkah”

“Aku akan menerima segala nasib yang akan menimpaku hari ini” jawab petani itu.

Namun dalam pada itu Buntal tiba-tiba berkata “Pergilah. Pergilah supaya kau tidak terlibat dalam persoalan ini”

“Aku memang melibatkan diriku, anak muda” jawab petani itu.

Tetapi petani itu tidak sempat lagi mengucapkan kata-kata yang sudah di kerongkongan, karena tiba-tiba saja Sura telah menyerangnya. Tangannya terayun dengan derasnya ke wajah petani yang kotor itu. Tangan Sura yang mempunyai kekuatan melampaui kekuatan kawan-kawannya abdi Ranakusuman.

Yang melihat ayunan tangan Sura itu menahan nafas. Demikian juga Juwiring, Buntal dan bahkan Rudira sendiri. Kalau tangan itu mengenai pelipis petani itu, maka ia pasti akan pingsan seketika.

Tetapi yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Setiap orang yang menyaksikan hanya dapat berdiri dengan mulut ternganga. Mereka hampir tidak percaya atas apa yang telah terjadi.

Dengan tenangnya, petani dri Sukawati itu menggerakkan tangannya. Tenang tetapi secepat gerak tangan Sura. Hampir tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tiba-tiba saja orang itu telah berhasil menggenggam pergelangan tangan raksasa yang marah itu. Demikian cepatnya, sehingga Sura tidak sempat menariknya. Bahkan sekejap kemudian terdengar Sura itu mengaduh pendek. Tangannya ternyata jelah terpilin di punggungnya. Kemudian suatu hentakkan yang keras mendorongnya, sehingga Sura itupun jatuh menelungkup dengan derasnya, sehingga wajahnya telah menyentuh tanah.

Tidak seorangpun yang dapat mengatakan, apa yang telah dilakukan oleh petani yang mengaku berasal dari Sukawati itu. Tetapi yang mereka lihat kemudian Sura berusaha dengan susah payah bangkit berdiri. Ketika ia meraba dahinya, terasalah sepercik darah dari kulitnya yang tersobek karena benturan sepotong batu padas.

Peristiwa yang sesaat itu, ternyata telah membuat gambaran yang jelas kepada semua orang yang menyaksikan, apa saja yang dapat dilakukan oleh petani yang sedang dalam perjalanan jauh itu. Karena itu, maka dada merekapun menjadi berdebaran.

Rudira yang menyaksikan hal itupun seolah-olah telah membeku. Hampir tidak masuk akal, bahwa raksasa itu dapat dijatuhkannya dengan mudah dalam perkelahian beradu muka. Berbeda dengan serangan Buntal yang tidak terduga-duga. Tetapi kali ini justru Suralah yang telah menyerang orang itu.

Hal itu membuat jantung Rudira menjadi susut. Tetapi darahnya yang menggelegak membuatnya berteriak “He petani dungu. Kau sudah melawan keluarga Ranakusuma. Kau akan menyesal. Kami akan beramai-ramai mencincangmu tanpa tuntutan apapun juga”

“Silahkanlah tuan. Disini aku tidak berdiri sendiri. Setidak-tidaknya aku mempunyai dua orang kawan untuk melawan tuan bersama kawan-kawan tuan. Dan sebelumnya aku akan memperingatkan kepada tuan, bahwa tuan bersama pengiring tuan seluruhnya, tidak akan dapat melawan kami bertiga”

Rudira menggeram. Tetapi ia tidak begitu saja mempercayainya. Karena itu, ia berteriak “Hancurkan orang itu lebih, dahulu”

Kini para pengiringnya memandang petani itu dengan penuh keragu-raguan. Tetapi apabila Raden Rudira memerintahkan, merekapun harus melakukannya. Berkelahi dengan petani yang dengan sekilas telah menunjukkan kelebihan yang hampir tidak masuk akal.
“Cepat” teriak Rudira “Orang itu harus kalian selesaikan dahulu, sebelum cucurut-cucurut kecil itu”

Para pengiring Rudirapun mulai bergerak, betapapun dada mereka diguncang oleh keragu-raguan. Apapun yang akan mereka alami, namun mereka tidak akan dapat menolak perintah Raden Rudira. Tetapi langkah mereka terhenti, ketika mereka melihat Juwiring dan Buntalpun mulai bergerak pula. Dengan nada yang dalam Juwiring dan Buntalpun mulai bergerak pula. Dengan nada yang dalam Juwiring berkata “Terima kasih atas pertolonganmu, petani dari Sukawati. Dan kini sudah barang tentu bahwa aku tidak akan membiarkan orang-orang itu mengerubutmu beramai-ramai. Aku dan adikku akan turut campur dalam setiap pertengkaran dengan kau apapun alasannya. Apalagi karena kau telah menolong aku dan adikku”

“Terima kasih. Kita akan berkelahi bersama-sama melawan mereka” jawab petani dari Sukawati itu.

Ternyata hal itu telah mengguncangkan jantung Rudira. Sejenak ia memandang Juwiring, kemudian Buntal dan yang terakir petani dari Sukawati itu.

Namun tiba-tiba saja ia menyadari keadaannya. Para pengiringnya tidak akan dapat melawan mereka bertiga. Orang yang bertubuh tinggi kekar itu memiliki kemampuan yang tidak terduga-duga. Kalau ia memaksakan perkelahian, maka ia pasti akan menderita malu jauh lebih banyak lagi. Sehingga karena itu, maka Rudira yang masih sempat menilai keadaan itu tiba-tiba saja berkata lantang “Gila, semuanya sudah gila. Dan kita tidak akan terseret ke dalam kegilaan ini. Marilah kita tinggalkan orang-orang gila yang tidak berharga ini. Kita akan pergi berburu. Lebih baik menghunjamkan anak panah kita ke tubuh seekor kancil daripada harus dikotori dengan darah orang-orang yang tidak tahu adat ini. Tetapi ingat, bahwa keluarga Ranakusuma tidak akan tinggal diam. Kami akan mengambil tindakan yang pantas bagi kalian. Pada saatnya kami akan pergi juga ke Sukawati untuk menemukan seorang petani yang sombong macam kau”

Petani itu menengadahkan wajahnya. Jawabnya “Aku akan menunggu tuan. Dan aku akan mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungan tuan di Sukawati”

“Persetan. Kau akan menyesal” lalu ia berteriak kepada para pengiringnya “tinggalkan cucurut-cucurut ini. Tangan kita jangan dikotori oleh lumpur yang melekat di tubuh mereka”

Keputusan itu terasa seperti embun yang menitik di hati para pengiringnya yang kering. Perintah itu tidak perlu diulang lagi. Ketika Rudira kemudian pergi ke kudanya dan langsung meloncat naik ke punggungnya, maka para pengiringnyapun segera berbuat serupa.

Sejenak kemudian maka kaki-kaki kuda itu berderap diatas tanah yang berbatu padas, melontarkan debu putih yang mengepul di udara. Beberapa pasang mata mengikutinya dengan debar jantung yang terasa semakin cepat.

Juwiring memandang debu yang semakin lama menjadi semakin tipis, dan yang kemudian lenyap disapu angin, seperti kuda-kuda yang berderap itu hilang di kejauhan.

Sambil menarik nafas ia berpaling kepada petani yang mengaku dari Sukawati itu. Kemudian dengan mantap ia berkata ”sekali lagi aku mengucapkan terima kasih Ki Sanak”

Petani itu menarik nafas dalam-dalam pula, seakan-akan ia ingin berebut menghirup udara dengan Juwiring. Katanya “Kita sekedar saling tolong menolong” lalu sambil memandang kepada Buntal ia berkata “Bukankah kau tidak apa-apa”

Buntal menggeleng. Jawabnya “Tidak. Aku tidak apa-apa”

“Sokurlah. Ternyata bahwa mereka, maksudku Putera Pangeran Ranakusuma beserta pengiringnya bukan orang-orang yang kuat lahir dan batinnya. Sebenarnya pertengkaran semacam ini tidak perlu terjadi”

Juwiring akan menyahut. Tetapi suaranya terputus ketika ia melihat seorang tua yang berlari-lari langsung mendapatkan Arum sambil berkata “Kenapa kau Arum, kenapa?“

Arum mengerutkan keningnya. Dilihatnya ayahnya dengan nafas tersengal-sengal mendatanginya dengan wajah yang tegang.

“Aku tidak apa-apa ayah”

“Sokurlah. Sokurlah. Aku dengar Raden Rudira lewat di jalan ini dan kebetulan sekali berpapasan dengan kau”

“Ya ayah. Untunglah ada kakang Juwiring dan Buntal” Arum berhenti sejenak, dipandanginya petani dari Sukawati itu sambil berkata “selebihnya orang itulah yang telah menolong kami”

Kiai Danatirta memandang petani dari Sukawati itu dengan seksama. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Terima kasih Ki Sanak atas semua pertolonganmu. Tetapi apakah dengan demikian kau sendiri tidak terancam oleh bencana karena tingkah laku Raden Rudira itu. Aku datang dengan tergesa-gesa ke tempat ini setelah seseorang memberitahukan kepadaku, apa yang terjadi. Aku masih melihat perkelahian yang berlangsung, dari kejauhan”

Petani itu mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya “Mereka tidak akan menemukan aku Kiai”

“Siapakah Ki Sanak sebenarnya?“

“Aku seorang petani dari Sukawati”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Ia melangkah semakin dekat dengan orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu. Tetapi sebelum ia dekat benar, petani itu berkata “Sudahlah Kiai. Aku akan meneruskan perjalananku kembali ke Sukawati. Aku baru saja menempuh perjalanan jauh mengunjungi sanakku“

“Tunggu” cegah Kiai Danatirta “Aku masih ingin bertanya”

Petani itu tertegun. Tetapi katanya “Sudahlah. Tidak ada yang dapat aku terangkan lagi”

“Kenapa Ki Sanak membantu anak-anakku? Apakah Ki Sanak sudah mengenal mereka?“

“Belum Kiai. Tetapi mereka adalah harapan di masa datang. Karena itu aku merasa sayang apabila benih yang baru tumbuh itu akan dipatahkan” Orang itu berhenti sejenak, lalu “Sudahlah Kiai. Aku akan pergi”

“Tunggu, tunggu“ Kiai Danatirta menjadi semakin dekat. Dipandanginya wajah orang itu dengan saksama, seakan-akan ada yang dicarinya pada wajah orang itu.

Tiba-tiba saja, semua orang yang melihatnya terperanjat bukan buatan. Dengan serta-merta Kiai Danatirta berjongkok di hadapannya sambil menyembah “Ampun Pangeran. Anak-anak itu tidak tahu, siapakah sebenarnya yang telah menolongnya”

Tetapi dengan cepatnya orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itupun menangkap lengannya dan menariknya berdiri “Jangan berjongkok. Kalau kau mengenal aku, jangan kau beritahukan hal itu kepada siapapun”

Tetapi Juwiring dan Buntal telah melihat sikap yang aneh pada gurunya. Demikian juga agaknya Arum, sehingga hampir berbareng mereka melangkah maju dengan penuh keragu-raguan.

Kiai Danatirta tidak lagi berjongkok di hadapan petani dari Sukawati itu. Tetapi sikapnya menjadi berlainan sekali. Bahkan sambil menyembah ia berkata “Ampun. Pangeran. Kami tidak menyangka bahwa tuan akan datang ke tempat ini”

Ternyata panggilan itu telah mengguncangkan dada anak-anak muda yang sudah semakin dekat, dan dapat menangkap kata-kata itu. Sejenak mereka berdiri tegak sambil saling berpandangan.

“Anak-anakku” berkata Kiai Danatirta “Kemarilah. Kau pasti belum mengenalnya. Juwiring yang sudah lama tinggal di Ranakusumanpun pasti belum mengenalnya dengan baik, karena Pangeran ini jarang berada di antara kaum bangsawan. Bahkan Raden Rudirapun tidak.

Juwiring memandang petani dari Sukawati itu dengan dada yang berdebar-debar. Baru kini ia melihat sinar yang tajam memancar dari sepasang mata orang itu. Sementara Buntal yang sudah sejak semula melihat kelainan di wajah pelani itu menjadi semakin gelisah. Ia adalah orang yang pertama-tama berdiri paling dekat dengan orang itu, ketika ia terbanting jatuh dan berguling beberapa kali

Pampir saja menyentuh sepasang kakinya yang kuat. Dan sejak ia melihat wajah itu dari jarak yang sangat dekat, ia sudah melihat kelainan itu.

Arum yang seakan-akan tanpa menyadarinya bertanya perlahan-lahan “Siapakah orang itu ayah?“

“Petani dari Sukawati” jawab orang itu.

Tetapi Kiai Danatirta berkata “Perkenankanlah anak-anak ini mengenal siapakah tuan”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

“Bukankah tuan tidak berkeberatan?“

“Baiklah Kiai. Tetapi hanya anak-anakmu, meskipun aku tahu, bahwa mereka bukan anakmu sendiri”

“Terima kasih tuan“ Kiai Danatirtapun kemudian berpaling kepada anak-anaknya, katanya “Inilah yang bergelar Pangeran Mangkubumi”

“Pangeran Mangkubumi?” desis Juwiring. Hampir saja ia berlutut di hadapan orang itu, seandainya orang yang ternyata adalah Pangeran Mangkubumi itu tidak berkata “Jangan membuat kesan yang aneh di tengah sawah ini. Aku adalah petani dari Sukawati. Lihat, masih banyak orang berada di sekitar tempat ini meskipun agak jauh. Tetapi jika mereka melihat sikap kalian, maka mereka pasti akan bertanya-tanya”

“Tetapi, tetapi…” suara Juwiring menjadi bergetar “tuan adalah Pangeran Mangkubumi”

“Ya. Apakah salahnya kalau aku Mangkubumi” Pangeran Mangkubumi berhenti sejenak, lalu “Kaupun pasti bukan anak Kiai Danatirta. Meskipun belum terlalu rapat, aku sudah berkenalan dengan orang yang menjadi ayahmu ini, sehingga ia berhasil mengenali aku dalam pakaianku ini. Bahkan aku sudah mengotori wajahmu dengan debu. Tetapi siapa kau sebenarnya?“

“Namanya Juwiring“ Kiai Danatirtalah yang menjawab “Ia adalah juga putera Pangeran Ranakusuma”

“O“ Pangeran Mangkubumi mengangguk-anggukkan kepalanya ”jadi kau adalah putera Kamas Ranakusuma? Jadi apamukah yang berkuda itu?“

“Ia Putera Pangeran Ranakusuma yang muda tuan. Tetapi keduanya berlainan ibu. Raden Juwiring putera yang lahir dari seorang ibu dari rakyat jelata, atau katakanlah seorang bangsawan yang telah agak jauh dari lingkungan istana, sedang Raden Rudira, adiknya itu adalah putera yang lahir dari ibunda Raden Ayu Sontrang”

“Jadi yang berkuda itu anak Sontrang yang terkenal itu?“

“Ya tuan”

“Pantas sekali. Aku memang sudah mendengar serba sedikit apa yang terjadi di Ranakusuman. Tetapi aku tidak pernah datang berkunjung kehadapan kamas Ranakusuma. Aku muak melihat bekas alas kaki orang asing yang tidak dilepas yang mengotori pendapa rumahnya yang pernah terasa keagungannya. Jadi anak inilah yang lahir dari seorang perempuan yang bernama Rara Putih?“

“Ya tuan”

“Dan Rudira itu anak Sontrang yang telah berhasil menyisihkan Diajeng Manik, puteri paman Reksanagara?“

“Ya tuan”

Pangeran Mangkubumi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku tahu betapa tamaknya perempuan itu. Ia mewarisi sikap ayahnya, pamanda Sindurata. Sikap yang sangat bertentangan dengan pamanda Reksanagara. Agaknya kumpeni telah ikut campur pula di dalam persoalan ini, sehingga mempercepat tersisihnya putera pamanda Reksanagara dari Ranukusuman”

Buntal mendengarkan keterangan itu dengan heran. Ternyata bagaimanapun juga ia tidak dapat mengerti, bahwa orang-orang yang masih terikat di dalam hubungan keluarga, bahkan masih terlalu dekat, dapat juga saling memfitnah, saling mendesak dan yang satu mengorbankan yang lain”

“Mereka adalah saudara sepupu“ katanya di dalam hati “bahkan Raden Rudira dan Raden Juwiring adalah saudara seayah”

Terbayang sekilas paman dan bibinya yang miskin. Mereka sama sekali tidak mempunyai kelebihan apapun juga dari pendapatan mereka sehari-hari. Bahkan untuk makan merekapun masih belum memenuhi. Tetapi mereka mau juga memeliharanya. Mau juga memberinya tempat di antara keluarganya yang miskin itu.

“Aku tidak tahu” katanya pula di dalam hatinya “Apakah justru orang-orang besar itulah yang kadang-kadang tidak lagi saling mengasihi di antara sesama. Mereka hidup berpegangan kepada kepentingan diri sendiri. Mereka sama sekali tidak lagi merasa terikat hubungan seorang dengan yang lain. Bahkan kalau perlu yang seorang berdiri beralaskan sesamanya tanpa menghiraukan sakit dan pedihnya”

Terkilas diangan-angan Buntal nasehat Kiai Danatirta “Kita hidup bumi yang sama. Tuhan yang Satu walaupun Ia mempunyai sembilan puluh sembilan nama dan kitapun diciptakan dari tanah yang sama. Itulah sebabnya maka kita harus saling sayang menyayangi. Saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran”

Dalam pada itu, Buntal seakan-akan tersadar dari mimpinya ketika ia mendengar Pangeran Mangkubumi itu bertanya “Lalu siapakah anak muda ini”

“Aku menemukannya di bulak ini tuan. Menurut pengakuannya ayahnya seorang abdi dari Katumenggungan Gagak Barong”

“O. Tumenggung itu lagi” desis Pangeran Mangkubumi “Bagaimana ia sampai disini”

“Ia menjadi yatim piatu, sehingga ia harus pergi meninggalkan Katumenggungan itu”

“Itu lebih bagus baginya” Pangeran itu mengangguk-angguk, lalu
“gadis itu?“

“Itu adalah anakku tuan.

“Anakmu?“

Kiai Danatirta menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi karena Arum ada di dekatnya, maka iapun mengangguk sambil menjawab “Ya tuan. Ia adalah anakku”

“Agaknya anakmu itulah yang telah menarik perhatian Rudira. Bukankah begitu?”

“Ya tuan”

“Lalu, Juwiring mencoba melindunginya. Apakah Juwiring ada di padepokanmu?“

“Ya tuan. Ia terusir dari istana Ranakusuman. Bahkan sebelum Raden Ayu Manik”

“Bagus. Tinggallah pada Kiai Danatirta. Aku akan sering berkunjung ke padepokan itu. Aku sering melakukan perjalanan semacam ini untuk melihat kenyataan. Bukan sekedar mendengar berita dari tembang rawat-rawat. Aku sendiri ingin melihat kebenaran. Apalagi setelah kumpeni mulai berpengaruh di Surakarta. Sebenarnya itu sangat menyakitkan hati. Tetapi tidak mudah untuk menolak pengaruh itu. Justru semakin lama agaknya malahan menjadi semakin kuat.

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia juga menyadari kebenaran kata-kata Pangeran Mangkubumi. Kata-kata itu bukan sekedar meloncat karena dorongan perasaan yang sedang meluap. Tetapi agaknya Pangeran Mangkubumi sudah memikirkannya masak-masak.

Dalam pada itu, maka Pangeran Mangkubumipun berkata kepada Kiai Danatirta “Sudahlah. Aku akan meneruskan perjalanan. Aku sedang menjelajahi daerah Surakarta dari ujung Selatan”

“Apakah tuan tidak singgah barang sebentar di padepokan kami agar tuan dapat beristirahat”

“Terima kasih. Aku adalah pejalan yang tidak mengena! lelah. Aku memang membiasakan diri Berjalan tanpa berhenti dari matahari terbit sampai matahari terbenam”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya Ia percaya kepada keterangan itu. Pangeran Mangkubumi memang sering berjalan dari matahari terbit sampai matahari terbenam, atau sebaliknya dari matahari terbenam sampai matahari terbit. Bahkan kadang-kadang Pangeran Mangkubumi sengaja tidak berbicara sama sekali selama perjalanannya.

Demikianlah maka petani dari Sukawati itupun minta diri kepada Kiai Danatirta dan ketiga anak-anak angkatnya. Namun baginya, padepokan Jati Aking telah menarik perhatiannya.

Sepeninggal Pangeran Maugkubumi, Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak tahu sama sekali, bahwa orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu adalah Ramanda Pangeran Mangkubumi”

“Aneh sekali” desis Buntal “Bukankah tidak terlalu banyak jumlah Pangeran di Surakarta?“

“Tetapi Pangeran Mangkubumi jarang sekali ada di kota. Apalagi jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah berhubungan dengan ayahanda Pangeran Ranakusuma, sehingga aku hampir tidak mengenalnya lagi. Memang sekali dua kali aku pernah melihatnya sepintas. Tetapi dengan mengotori wajahnya dan dengan pakaian yang kumal, aku tidak mengenalnya sama sekali, dan apalagi aku tidak menyangka bahwa Pangeran Mangkubumi akan menyamar diri serupa itu. Tentu adimas Rudira tidak mengenalnya pula. Untunglah, bahwa adi mas Rudira segera meninggalkan tempat ini, sebelum Ramanda Mangkubumi bertindak lebih jauh.

“Ternyata bahwa Pangeran Maugkumi benar-benar bertindak atas suatu sikap. Bukan kebetulan saja ia berbuat sesuatu disini” berkata Kiai Danatirta.

“Aku dengar sikap Ramanda Pangeran Mangkubumi terhadap Kumpeni agak keras” berkata Juwiring.

“Ya. Itulah sebabnya Pangeran Mangkubumi tidak pernah berhubungan dengan Pangeran Ranakusuma, karena Pangeran Mangkubumi tahu, bahwa Pangeran Ranakusuma agak dekat dengan orang-orang asing itu“

Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tatapan mata yang tajam dipandanginya petani dari Sukawati yang semakin lama menjadi semakin hilang ditelan kejauhan.

Ketika Pangeran Mangkubumi itu sudah tidak tampak lagi, Kiai Danatirta beserta anak-anaknya seolah-olah telah tersadar dari angan-angannya. Tiba-tiba saja orang tua itu berkata “Kita masih berada di tengah-tengah bulak. Marilah, lanjutkan kerja kalian”

“O“ Juwiring dan Buntalpun segera memungut alat-alat mereka sambil memandang Arum yang masih berdiri di pematang.

“Kau juga” berkata Juwiring.

Arum mengangguk. Diambilnya selendangnya, dan digendongnya pula bakul yang berisi makanan buat Juwiring dan Buntal yang kemudian kembali turun ke sawah.

“Aku akan kembali ke padepokan” berkata Kiai Danatirta “hari ini aku tidak ikut bekerja bersama kalian. Tetapi hati-hati. Jangan kau katakan kepada siapapun, bahwa petani dari Sukawati itu adalah Pangeran Mangkubumi”

Demikianlah, ketika Juwiring dan Buntal sudah berada di sawahnya kembali, maka beberapa orang dengan ragu-ragu telah mendekatinya. Bagaimanapun juga mereka ingin juga mendengar, apakah yang sebenarnya terjadi, dan siapa sajakah yang telah terlibat di dalam persoalan itu.

“Raden” berkata seseorang “Kami menjadi berdebar-debar menyaksikan apa yang telah terjadi. Untunglah bahwa semuanya telah selamat”

“Ya paman” sahut Juwiring “Tidak ada apa-apa lagi”

“Tetapi siapakah anak muda yang berkuda diikuti oleh para pengiring itu? Apakah ia juga seorang Pangeran?“

“Ia putera seorang Pangeran”

“O” Orang-orang yang mendengar jawaban itu mengangguk-angguk. Itulah agaknya mengapa Raden Juwiring berani menentang kehendaknya, karena orang-orang itupun tahu, bahwa Raden Juwiring adalah seorang bangsawan pula meskipun bukan seorang Pangeran.

“Tetapi, tetapi…” bertanya seseorang “Apakah anak muda itu tidak akan mendendam dan di kesempatan lain berbuat sesuatu di luar dugaan?“

Juwiring menarik nafas. Jawabnya “Memang mungkin. Tetapi apaboleh buat”

“Apakah Raden belum mengenalnya sebelum ini?“ bertanya yang lain.

Juwiring menjadi termangu-mangu. Tetapi ia tidak mengatakan bahwa anak muda itulah yang bernama Raden Rudira, adiknya seayah.

“Aku sudah mengenalnya” jawab Juwiring, lalu “Apakah kau tidak mendengar percakapan kami dan mendengar ia menyebut namanya?“

Orang-orang itu menggelengkan kepalanya. Salah seorang menjawab “Kami tidak berani mendekat. Dan kami menjadi semakin berdebar-debar melihat seorang dari Iikungan kami ikut campur. Apakah orang itu tidak tahu, bahwa yang lagi bertengkar adalah para bangsawan”

Juwiring mengerutkan keningnya. Ketika tanpa sesadarnya ia berpaling kepada Buntal, dilihatnya anak muda itu menundukkan kepalanya.

Namun Juwiringpun kemudian menjawab “Tidak seorangpun yang mengenal petani itu. Ia sadar, bahwa tidak mudah untuk menemukannya, sehingga karena itu ia berani menolong kami”

“Tetapi bukankah para bangsawan mempunyai banyak abdi yang dapat mencari dan menemukannya?“

“Berapapun banyaknya, tetapi pasti sangat sulit untuk mencari seorang petani di seluruh daerah Surakarta ini”

Orang yang kemudian telah berkerumun di sekitar anak-anak muda anak angkat Kiai Danatirta itu mengangguk-angguk. Alasan itu memang masuk akal. Adalah sulit sekali untuk menemukan seseorang di seluruh wilayah Surakarta yang luas ini.

“Tetapi” berkata salah seorang dari mereka “Apakah Raden sendiri dengan demikian tidak merasa terancam?“

Juwiring menggelengkan kepalanya ”Tidak” jawabnya “asal aku tidak memusuhi seseorang, maka aku pasti tidak akan mengalami apapun juga. Apa yang aku kerjakan adalah, membela diri dan melindungi saudaraku“

Orang itupun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sekilas mereka memandang Buntal yang sudah mulai sibuk dengan cangkulnya.

Satu dua orang yang menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan menjadi heran. Ternyata Buntal adalah seorang anak muda yang bersikap keras. Ia langsung menyerang lawannya tanpa menunggu apapun juga Raksasa itu dapat dijatuhkannya. Jika tidak ada orang lain yang harus dilayani, maka raksasa itu pasti tidak akan sempat bangun.

“Tetapi ia tidak berbuat apapun juga ketika karena salah paham anak itu dipukuli di bulak ini” berkata beberapa orang di dalam hatinya “ternyata ia mampu berkelahi. Jika saat itu ia melawan dan apalagi mendapatkan sepucuk senjata jenis apapun, maka ia akan sangat berbahaya dan barangkali, kami akan lari tunggang langgang Tetapi saat itu ia tidak melawan sama sekali sehingga kami dapat memukulinya sepuas-puas kami”

Tetapi orang-orang itu sama sekali tidak mengerti, bahwa Buntal menemukan kemampuannya justru sesudah ia berada di padepokan Jati Aking.

Dalam pada itu, Rudira yang marah memacu kudanya secepat-cepatnya. Di sepanjang jalan ia mengumpat tidak habis-habisnya. Bahkan kemudian ia berteriak memanggil “Sura, Sura. Kemari”

Sura mencoba mempercepat derap kudanya, agar ia dapat menyusul Raden Rudira. Tetapi kuda Raden Rudira terlampau cepat, sehingga Sura tidak juga berhasil mendekatinya.

“Sura cepat kemari “ Rudira berteriak “Apakah kau sudah tuli”

“Ya, ya Raden. Aku sedang berusaha”

Jawaban itulah yang membuat Rudira sadar, bahwa derap kudanya ternyata terlampau cepat, sehingga Sura tidak segera berhasil menyusulnya. Karena itu, sambil berpaling ia memperlambat lari kudanya.

Jilid 02 Bab 2 : Tanah Kalenggahan

“Kau sekarang sudah gila” bentak Rudira.

Sura yang kemudian berada sedikit di belakangnya hanya menundukkan kepalanya saja.

“Kemari, cepat”

Sura tidak dapat membantah, sehingga karena itu ia berpacu di sisi Rudira yang marah.

“Kenapa kau tidak dapat berbuat apa-apa terhadap petani gila itu, he? Kenapa kau tidak dapat berbuat garang seperti biasanya?“

Sura tidak segera menjawab.

“Kenapa?“ Rudira berteriak.

Sura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa tidak perlu ingkar lagi. Jawabnya kemudian “Raden, orang itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. Tangannya seperti besi, sehingga tidak akan ada kekuatan yang dapat mengimbanginya”

“O, jadi kau sekarang sudah bukan raksasa Ranakusuman lagi ya? Kau sekarang tidak ada bedanya dengan tikus-tikus piti yang berkeliaran di kandang kuda, itu? Bagaimana mungkin kau telah kehilangan kekuatan yang selama ini kau banggakan?“ Raden Rudira berhenti sejenak, lalu “mula-mula kau hampir saja dibunuh oleh anak itu. Untunglah Juwiring telah mencegahnya. Kemudian kau sama sekali Tidak berdaya menghadapi petani dari Sukawati itu. Kalau saja ia mau membunuhmu, ia pasti dapat melakukannya”

Sura tidak dapat segera menjawab. Nafasnya terasa semakin cepat mengalir lewat lubang hidungnya.

“Tetapi kita tidak akan diam. Kita akan mencarinya di Sukawati. Kalau ia memberikan keterangan palsu, kita akan mencarinya di seluruh Surakarta, sampai kita dapat menemukannya dan memberinya sedikit peringatan, bahwa apa yang dilakukan itu tidak berkenan di hariku, putera Pangeran Ranakusuma. Aku dapat mengajak kawanku. Orang kulit putih itu”

Sura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja diberanikan dirinya untuk berkata “Jangan Raden. Jangan membawa orang asing itu”

“Kenapa? Kau sama sekali sudah tidak berguna lagi bagiku“

“Tetapi orang asing itu akan berbuat terlampau kasar. Aku adalah orang yang paling kasar. Tetapi masih juga terasa sesuatu yang kurang mapan di dalam hati apabila orang asing itu memperlakukan keluarga kita dengan semena-mena”

“Apa katamu? Sejak kapan kau menjadi guruku he?“ bentak Rudira hampir berteriak “Apakah kau takut kehilangan kedudukanmu jika aku mendapat orang baru untuk memaksakan kehendakku?“

Sura menundukkan kepalanya.

“Kita akan melihat, apa yang akan kita lakukan kelak. Tetapi aku ingin menemukan orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu. Aku harus dapat membalas sakit hatiku. Ia akan mendapat hukuman yang jauh lebih berat dari kamas Juwiring sendiri”

Sura tidak berani menyahut lagi. Ditundukkannya saja kepalanya dalam-dalam, meskipun dadanya masih tetap bergolak. Bagaimanapun juga ia lebih senang bertindak sendiri dengan kekasaran yang tidak tanggung-tanggung daripada melihat orang asing itulah yang berbuat kasar kepada orang-orang Surakarta.

Demikianlah iring-iringan itu berpacu semakin cepat. Untuk beberapa lamanya mereka tidak berbicara apapun juga. Wajah Raden Rudira tampak gelap seperti mendung yang menggambang di langit. Kegagalannya menyentuh seorang gadis manis dari padepokan Jati Aking membuat hatinya kelam. Bukan karena gadis itu sendiri, karena ia masih akan dapat mencari gadis yang lebih cantik dari Arum, tetapi justru karena Juwiringlah yang merintanginya. Apalagi tiba-tiba saja muncul seorang petani yang bodoh sekali, yang berusaha membantu Juwiring dan anak gila yang hampir saja membuat Sura pingsan.

Pikiran-pikiran itulah yang membelit perasaannya selama ia berada di punggung kudanya. Perburuan yang dilakukan kali ini benar-benar tidak menggembirakannya.

Meskipun demikian Rudira sampai juga di hutan perburuan. Setelah beristirahat sejenak, maka iapun mulai memasuki hutan yang tidak begitu lebat, untuk mencari binatang-binatang buruan yang memang banyak berkeliaran di antara semak-semak.

Tetapi karena hatinya yang sedang pepat, maka adalah kebetulan sekali, ia tidak menemukan seekor kelincipun. Binatang-binatang hutan itu seolah-olah telah mengetahui kehadiran beberapa orang pemburu, sehingga merekapun bersembunyi jauh ke dalam daerah yang lebih rapat.

“Gila“ Rudira mengumpat-umpat” Kemana binatang-binatang ini bersembunyi”

Pengiringnya tidak ada yang berani menyahut. Tetapi mereka berpendapat di dalam hati “Tentu tidak akan mendapat seekor binatangpun, jika cara berburu ini dilakukan seperti sekelompok orang-orang menebas hutan, sehingga binatang di seluruh hutan ini pasti akan berlari-larian”

Akhirnya Rudira menjadi lelah. Keringatnya membasahi seluruh pakaiannya. Namun belum seekor biuatangpun yang didapatkannya.

“Kita berhenti” teriak Rudira kemudian “nanti malam kita ulangi. Kita akan mendapatkan harimau yang paling besar di hutan ini, atau rusa jantan yang bertanduk sepanjang badan kita”

Maka perburuan itupun dihentikannya. Mereka kemudian mencari tempat untuk beristirahat dan menunggu matahari terbenam di Barat. Memang di malam hari kadang-kadang mereka dapat mengintai harimau yang keluar dari sarangnya mencari mangsa. Dari atas pepohonan mereka dapat membidik dan melepaskan anak panah tepat mengenai pangkal kaki depannya. Biasanya harimau itu tidak akan dapat lari terlampau jauh. Dengan demikian maka beramai-ramai mereka akan dapat membunuhnya, kalau mungkin tanpa membuat luka-luka di tubuh harimau itu.

Semakin sedikit luka-luka pada kulit harimau itu, maka belulang yang didapatnya akan menjadi semakin berharga.

Namun tidak seperti biasanya Raden Rudira selalu gelisah. Ia sama sekali tidak menerima keadaan yang baru saja dialami. Petani dari Sukawati itu memang pantas untuk dihukum seberat-beratnya.

Tiba-tiba saja Rudira tidak berhasil menahan perasaannya lagi. Dengan serta-merta ia berteriak “Kita kembali ke Ranakusuman. Kita membawa beberapa orang lagi. Kita pergi ke Sukawati. Baru setelah itu aku dapat dengan tenang berburu”

Sura menjadi termangu-mangu. Tetapi seperti kawan-kawannya yang lain ia sama sekali tidak berani mencegahnya. Karena itu, ketika Raden Rudira menyiapkan kudanya, yang lainpun berbuat serupa pula.

Ternyata mereka meninggalkan daerah perburuan itu. Kuda-kuda itu berpacu secepat-cepatnya kembali ke Surakarta melalui jalan lain. Mereka tidak mau lagi berjumpa dengan petani dari Sukawati sebelum membawa kawan lebih banyak lagi. Atau bertemu dengan Juwiring dan kawan-kawannya di tengah-tengah bulak.

Kedatangan mereka di istana Ranakusuman menjelang sore hari telah mengejutkan beberapa orang pelayan. Biasanya Rudira berada di daerah perburuan dua sampai tiga hari. Tetapi baru pagi tadi ia berangkat, kini ia telah datang kembali dengan wajah yang buram.

Setelah meloncat dari punggung kudanya, ia langsung berlari-lari masuk ke ruang belakang mencari ibunya yang sedang duduk dihadap oleh para pelayan.

“Ibu“ Rudira hampir berteriak.

Raden Ayu Galihwarit terkejut. Dengan serta-merta ia berdiri menyongsong puteranya yang manja itu.

“Kau sudah kembali?“

“Ada orang-orang gila yang menghalangi perjalananku”

“Siapa? Ada juga orang yang berani berbuat demikian? Apakah karena mereka tidak tahu bahwa kau adalah putera Pangeran Ranakusuma atau mereka dengan sengaja ingin menentang ayahandamu?“

“Yang kedua. Orang itu tahu benar siapa aku”

“Benar begitu? Siapakah orang itu?”

“Kakang Juwiring”

“Juwiring. Juwiring anak dungu itu?“

“Ya bunda”

“Dimana kau bertemu dengan Juwiring?“

“Di tengah-tengah bulak, la sekarang tidak ubahnya seperti seorang petani biasa. Bekerja di sawah penuh dengan noda-noda lumpur di pakaiannya yang kotor. Tetapi ia masih berani menghalang-halangi aku”

“Apa yang dilakukannya? Apakah ia menghentikan perjalananmu atau dengan sengaja mengganggumu tanpa sebab?“

Rudira terdiam sejenak. Diedarkannya pandangan matanya kesekelilingnya, seakan-akan ada yang sedang dicarinya.

“Dimana ayahanda?“ Ia bertanya.

”Kenapa?“

“Apakah ayahanda pergi ke istana menghadap Kangjeng Susuhunan”

Ibunya menggelengkan kepalanya.

Ayahandamu ada di rumah”

“Aku akan menghadap. Aku memerlukan beberapa orang“

“Untuk apa? Apakah kau berselisih dengan Juwiring? Jika demikian bukankah kau sudah membawa Sura dan beberapa orang lagi?“

Rudira tidak segera menyahut.

“Apakah Sura tidak dapat mematahkan lehernya, kalau anak-itu memang berani menentangmu Kau bukan anak-anak sederajatnya Derajatmu lebih tinggi, meskipun kau adalah saudara seayah”

“Ya. Aku tahu. Yang penting bagiku bukan kakang Juwiring. Tetapi seorang petani dari Sukawati”

“Seorang petani?“

“Ya. Ialah yang membantu kakang Juwiring sehingga aku. gagal memaksakan kehendakku atasnya”

“Seorang petani kau bilang?“

“Ya ia seorang petani dari Sukawati. Ia berani melawan aku meskipun aku sudah mengatakan bahwa aku adalah putera Pangeran Ranakusuma. Ia mungkin menganggap, bahwa aku tidak akan dapat menemukannya. Tetapi aku benar-benar akan mencarinya ke Sukawati.

Raden Ayu Galihwarit yang juga disebut Raden Ayu Sontrang termenung sejenak. Tetapi kemudian katanya “Menghadaplah. Ayahandamu ada di ruang dalam”

“Ayahanda” desis Rudira.

Pangeran Ranakusuma berpaling Dilihatnya Rudira berdiri sambil menundukkan kepalanya.

“Apa?“ pertanyaan ayahnya terlampau singkat.

“Aku memerlukan sesuatu ayahanda”

“Apa?

“Perkenankan aku membawa lima orang pengawal ayahanda selain Sura dan pengiringku sendiri” Rudira berhenti sejenak, lalu “bahkan apabila ayahanda berkenan, aku akan mengajak kawan ayahanda“

“Kumpeni maksudmu?“

“Ya. Mereka mempunyai jenis senjata yang menakjubkan”

“Ada apa sebenarnya”

“Seorang petani lelah berani menghina aku, ayahanda. Aku akan mencarinya ke rumahnya. Ia mengaku petani dari Sukawati. Selebihnya aku juga akan membuat perhitungan dengan kakang juwiring”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Ia masih duduk Di tempatnya. Tatapan matanya sudah kembali menerobos pintu-pintu yang membatasi ruangan-ruangan di dalam rumah itu langsung menikam cahaya matahari di halaman.

“Kenapa kau selalu membuat keributan Rudira” pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya, sehingga karena itu, sejenak ia terbungkam. Bahkan dadanya menjadi berdebar-debar dan kakinya bergetar.

“Juwiring sudah jauh dari istana ini. Kau masih juga menyusulnya sekedar membuat persoalan. Apakah sebenarnya yang kau kehendaki? Dan apalagi dengan seorang petani dari Sukawati. Buat apa kau minta kumpeni melibatkan diri dalam persoalan itu. Mungkin karena merasa tidak dapat menang atas petani itu atau atas Juwiring, maka kau ingin mematahkan lawanmu dengan senjata api itu. Bukankah dengan demikian kau berarti telah membunuhnya dengan meminjam tangan orang asing?“

Rudira masih berdiam diri.

“Katakan apa yang sudah terjadi”

Rudira tidak dapat ingkar. Maka diceriterakan apa yang sudah terjadi. Ketika ia tiba-tiba saja tertarik pada seorang gadis desa yang berada di tengah-tengah bulak. Ternyata gadis itu adalah anak Kiai Danatirta.

“Kau yang salah” desis Pangeran Ranakusuma “seharusnya seorang putera Pangeran tidak berlaku demikian”

Sekali lagi Rudira terkejut. Ia banyak mendengar ceritera tentang bangsawan yang manapun yang ia sukai. Kemudian apabila perempuan itu mengandung, maka perempuan itu diberikan saja sebagai triman kepada pelayan-pelayannya atau kepada bebahu padesan. Mereka akan merasa mendapat kehormatan besar menerima triman seorang perempuan yang sudah mengandung. Karena anak yang akan lahir memiliki aliran darah seorang bangsawan.

Tetapi ayahnya berkata selanjutnya “Juwiring adalah kakakmu. Bagaimanapun juga ia adalah anakku pula” Rudira tidak menyahut.

“Lalu bagaimana dengan petani itu”

“Ia telah membantu kakang Juwiring meskipun aku sudah mengatakan bahwa aku adalah Putera Pangeran Ranakusuma?”

Pangeran Ranakusuma tidak segera menyahut. Ia merenung sejenak, lalu “ Biarkan saja mereka. Suatu pelajaran buatmu, agar kau tidak berbuat sewenang-wenang. Sekali lagi aku beritahukan kepadamu, bahwa kaulah yang bersalah. Bukan Juwiring. Sedang petani itu adalah seorang yang ingin berdiri diatas kebenaran. Mungkin ia mengetahui, bahwa kau dan Juwiring adalah kakak beradik. Karena itu ia berani ikut campur”

Rudira menjadi semakin tunduk. Ia tidak lagi berharap bahwa ayahandanya akan membantunya menebus malu yang tercoreng di kening.

“Kamas Ranakusuma“ tiba-tiba terdengar suara melengking sehingga Pangeran Ranakusuma berpaling. Dilihatnya isterinya yang muda, Raden Ayu Sontrang berdiri di samping anaknya “Kenapa kamas sekarang berpendirian lain? Sebaiknya kamas membesarkan hati Rudira, bukan sebaliknya. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempercayainya. Bersama Rudira beberapa orang pengiring akan dapat memberikan keterangan”

“O“ Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita memang tidak perlu menghukum Juwiring. Tetapi Setidak-tidaknya Juwiring perlu mendapat peringatan agar ia tidak selalu mengganggu Rudira”

Pangeran Ranakusuma mengangguk “Ya. ya. Ia memang perlu mendapat peringatan”

“Dan sudah barang tentu, kita tidak akan dapat tinggal diam apabila seorang petani telah berani melawan Rudira. Petani dari. Sukawati itu”

“Ya. ya. Memang petani itu adalah seorang yang deksura sekali”

“Nah, jika demikian apa yang dapat kita lakukan?“

“Jadi. apakah yang diminta oleh Rudira?“

“Lima orang pengawal dan apabila mungkin kumpeni. Bukankah begitu?“

“Kita tidak akan dapat minta kumpeni untuk kepentingan! serupa ini”

“Bukan secara resmi. Kita mempunyai banyak kawan yang pasti akan bersedia menolong kita secara pribadi”

“Aku kira itu sama sekali tidak perlu. Kalau Rudira ingin-membuat petani itu jera, apakah sekian banyak orang tidak akan mampu melakukannya? Ia akan membawa Sura dengan pengiringnya yang lain bersama lima orang pengawal. Apalagi?“

“Petani itu memiliki kemampuan yang luar biasa. Dengan sekali hentak Sura sudah menjadi lumpuh”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Katanya kemudian “Apakah ada seorang petani yang dapat melawan sepuluh orang lebih sekaligus. Apalagi di antara sepuluh orang itu terdapat Sura dan lima orang pengawal”

“Apa salahnya membawa seorang kawan. Aku akan minta kepada mereka secara pribadi. Nanti malam pasti ada satu dua orang yang datang kemari”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam Ia tidak dapat membantah setiap keinginan isterinya. Isterinya itu baginya, merupakan seorang yang berhak mengambil keputusan apapun. Juga hubungan dengan orang-orang asing itu, meskipun Pangeran Ranakusuma menaruh juga sedikit kecurigaan terhadap hubungan mereka dengan Raden Ayu Sontrang.

Tetapi Pangeran Ranakusuma bagaikan orang yang kena pesona. Karena ketakutannya ditinggalkan oleh isterinya yang cantik itulah, maka seakan-akan ia harus menuruti semua permintaannya.

Meskipun demikian kali ini karena persoalannya akan menyentuh tanah Sukawati ia masih mencoba memperingatkan “Ingatlah, kedatangan orang asing itu masih belum dapat diterima sepenuhnya oleh rakyat Surakarta. Apalagi persoalannya akan menyangkut daerah Sukawati. Kita tahu bahwa daerah Sukawati adalah daerah yang berada di bawah perlindungan adimas Pangeran Mangkubumi. Dan kita tahu, bahwa adimas Pangeran Mangkubumi bukanlah orang yang dapat diajak berbicara dengan baik mengenai orang-orang asing itu”

“Apa peduli kita dengan Pangeran Mangkubumi? Kalau Pangeran Mangkubumi berani menentang kedatangan orang-orang asing itu, berarti ia akan menentang kekuasaan Kangjeng Susuhunan. Dan itu tidak akan mungkin terjadi”

“Memang demikian. Tetapi alangkah baiknya kalau kita tidak ikut serta mempertajam pertentangan itu. Biarlah Rudira membawa pengawal berapapun yang dibutuhkan. Tetapi ingat, jangan merusakkan daerah Sukawati. Ia hanya dapat mengambil orang yang diperlukan. Bahkan orang itu sama sekali tidak berasal dari Sukawati, tetapi sengaja menyebut dirinya orang Sukawati”

“Aku sudah memperhitungkannya ayahanda. Tetapi seandainya bukan orang Sukawati, aku akan mencarinya. Aku akan menjelajahi bulak-bulak panjang, karena aku menduga ia memang seorang petualang”

“Kau akan membuang-buang waktu”

“Tentu tidak setiap hari. Kadang-kadang aku akan memerlukan melewati jalan-jalan padesan. Hatiku benar-benar telah disakiti”

Raden Ayu Sontrang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata “Begitulah ayahandamu Rudira. Terlalu banyak pertimbangan dan kecemasan. Sebagai seorang bangsawan sebenarnya ayahandamupun mempunyai banyak keleluasaan. Tetapi ayahandamu selalu ragu-ragu”

Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Ia hanya menarik nafas saja dalam-dalam.

“Baiklah” berkata ibu Rudira “kali ini kau tidak usah membawa kumpeni. Pergilah sendiri ke Sukawati. Meskipun Sukawati berada dalam perlindungan Pangeran Mangkubumi, tetapi kau berhak mengambil seseorang yang telah berbuat salah kepadamu. Kau dapat menemui Demang Sukawati dan membawanya serta. Ia tidak akan berani membantah perintahmu apalagi atas nama ayahandamu Pangeran Ranakusuma”

“Baik ibu. Aku akan pergi besok. Aku harus mengambil petani itu. Aku masih ingat bentuk dan ciri-cirinya. Kalau butan aku, Sura dan para pengiring tentu masih ingat pula. Aku akan mengambilnya, dan mengadilinya di luar daerah Sukawati”

“Hati-hatilah” berkata Pangeran Ranakusuma “Aku segan terlibat dalam suatu persoalan dengan adimas Pangeran Mangkubumi. Meskipun ia lebih muda dari aku, tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dapat aku sebutkan”

“Ah, kamas selalu berkecil hati. Apakah lebihnya Pangeran Mangkubumi?“

Pangeran Ranakusuma tidak menjawab, tetapi tatapan matanya kembali menembus langsung kehalaman depan.

“Pangeran Mangkubumi tidak disukai oleh kalangan istana dan Kumpeni” berkata Raden Ayu Sontrang sambil mengangkat wajahnya “Kalau kita bukan orang-orang yang baik hati, kita dapat mempercepat dan mematangkan persoalan, sehingga Pangeran Mangkubumi tidak mendapat tempat lagi di istana”

“Apakah keuntungan kita dengan berbuat demikian?” bertanya Pangeran Ranakusuma “Bagaimanapun juga ia adalah saudaraku”

“Tetapi ia keras hati kalau tidak dapat disebut keras kepala. Kenapa ia menjauhi kami, yang disebutnya orang-orang yang telah berhubungan dengan orang asing?“

“Sudahlah. Itu bukan persoalan kita. Kalau pihak istana akan bertindak atasnya, biarlah mereka bertindak” Pangeran Ranakusuma menarik nafas, lalu katanya kepada puteranya “Rudira. Batasi persoalanmu dengan petani yang kau maksud itu saja“

“Ya ayah”

“Tidak akan ada manfaatnya kau bertindak lebih jauh dari itu. Perselisihan-perselisihan yang timbul sudah cukup memusingkan kepalaku. Jangan membuat persoalan baru”

“Kamas Pangeranlah yang sebenarnya terlalu baik hati. Tetapi di jaman ini orang yang terlampau baik, pasti justru akan terinjak. Kita harus memanfaatkan yang ada di hadapan kita. Termasuk orang asing itu”

Pangeran Ranakusuma memandang wajah isterinya yang tengadah itu sejenak. Isterinya itu memang seorang yang cantik. Pantas dengan sebutannya. Kulitnya yang halus dan wajahnya bagaikan telaga yang memantulkan cahaya matahari pagi. Tetapi Pangeran Ranakusumapun menyadari, bahwa hubungan isterinya itu dengan kumpeni sangat mencurigakan. Namun demikian, Pangeran Ranakusuma sendiri tidak tahu, pengaruh apakah yang sudah mencengkamnya, sehingga seolah-olah isterinya itu adalah orang yang paling berkuasa di dalam rumah ini. Bahkan ia telah mengantarkan isteri pertamanya kembali kepada ayahnya, dan menyingkirkan anaknya yang tua ke padepokan Jati Aking.

Pangeran Ranakusuma berpaling ketika Rudira berkata “Besok pagi-pagi benar aku akan berangkat ayah”

Pangeran Ranakusuma mengangguk. Jawabnya “Baiklah. Tetapi jika Ramandamu Pangeran Mangkubumi ada di Sukawati, kau harus mohon ijin kepadanya”

“Ya ayahanda. Tetapi aku tidak terlalu dekat dengan Ramanda Mangkubumi. Aku jarang sekali melihat dimanapun, karena Ramanda Pangeran Mangkubumi jarang sekali berkumpul dengan para Pangeran. Ia seakan-akan seorang Pangeran yang terasing dari lingkungan keluarga besar”

“Tidak” jawab Pangeran Ranakusuma “Adimas Pangeran Mangkubumi bukan orang terasing. Ia dekat sekali dengan para Bangsawan yang sependirian. Terutama menghadapi kedatangan orang-orang asing itu di Surakarta.

“Ah. Itu hanyalah sekedar bayangan di dalam kegelapan. Sebentar lagi ia harus menyesuaikan diri dengan keadaan” Sahut Raden Ayu Sontrang.

Pangeran Ranakusuma tidak menjawab lagi. Ia kembali duduk memandang kekejauhan.

“Pergilah” berkata Raden Ayu Sontrang kemudian kepada puteranya “siapkan keperluanmu itu. Tetapi hati-hati1ah. Petani itu pasti bukan petani yang tidak mengerti menanggapi keadaan yang dihadapinya”

“Baik ibu” sahut Raden Rudira sambil bergeser meninggalkan ruang itu.

Sepeninggal Raden Rudira, Raden Ayu Sontrang maju perlahan-lahan mendekati suaminya dan berdiri di belakangnya. Kemudan sambil memijit pundaknya ia berkata “Kamas terlampau hati-hati. Sudahlah, jangan dirisaukan lagi adimas Pangeran Mangkubumi”

Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Namun setiap kali, sentuhan tangan isterinya itu seolah-olah telah meluluhkan segala akalnya, sehingga apapun yang dikatakannya tidak dapat dibantahnya lagi.

Di hari berikutnya. Raden Rudira sudah siap dengan para pengiringnya. Ia benar-benar akan mencari petani yang sudah membuatnya terlampau sakit hati. Jika petani yang demikian itu tidak dihukum, maka akibatnya akan dapat membahayakan kedudukan para Bangsawan. Petani itu akan membuat orang-orang kecil yang lain berani pula melawan.

“Kalau Ramanda Pangeran Mangkubumi ada, aku akan mohon ijin. Tetapi jika tidak diijinkan, atas nama ayahanda Pangeran Ranakusuma aku akan bertindak. Ayahanda Ranakusuma adalah saudara tua Ramanda Mangkubumi, sehingga wewenangnya pasti lebih besar dari yang muda” berkata Raden Rudira di dalam hatinya. Meskipun ia tidak terlalu sering bertemu, tetapi ia pernah beberapa kali bertemu dan bahkan pernah berbicara satu kali di halaman Masjid Agung.

“Ramanda Pangeran Mangkubumi mudah dikenal” berkata Rudira di dalam hatinya pula “wajahnya yang agung dan tatapan matanya yang tajam. Ia seorang pendiam dan penuh dengan wibawa”

Namun ternyata hatinya tiba-tiba saja berkeriput. Kalau benar Pangeran Mangkubumi ada di Sukawati, apakah ia akan berani berbuat sesuatu?.

“Tetapi Ramanda Pangeran Mangkubumipun pasti akan membantu Petani itu harus dihukum. Ramanda Pangeran Mangkubumipun pasti tidak akan senang mendengar ceritera tentang seorang petani yang berani melawan seorang Bangsawan” Rudira mencoba menenteramkan hatinya sendiri.

Demikianlah, setelah semuanya siap, dan setelah minta diri kepada ayah dan ibunya, Raden Rudirapun meninggalkan rumahnya diiringi oleh beberapa orang. Agar perjalanannya tidak menimbulkan pertanyaan, maka merekapun telah membawa pula kelengkapan berburu. Seakan-akan mereka adalah iring-iringan beberapa orang yang pergi ke hutan perburuan.

Tetapi perjalanan yang mereka tempuh kali ini adalah perjalanan yang agak jauh. Lewat tengah hari mereka baru akan sampai di tempat yang mereka tuju. Tetapi kadang-kadang mereka pasti harus berhenti dan beristirahat. Kalau bukan kuda-kuda mereka yang haus, maka mereka sendirilah yang haus di bawah terik matahari sehingga baru di sore hari mereka akan sampai ke daerah Sukawati.

“Ramanda Pangeran Mangkubumi pasti tidak ada disana. Meskipun jarang berada di lingkungan para bangsawan, tetapi Pangeran Mangkubumi pasti berada di kotar Mungkin hanya sebulan sekali atau bahkan tiga bulan sekali, ia pergi ke Sukawati yang sepi itu”

Rudira berusaha menenangkan kegelisahannya sendiri. Namun demikiap kadang-kadang hatinya masih juga menjadi berdebar-debar.

Tetapi perjalanan itu sendiri adalah perjalanan yang menyenangkan. Kadang-kadang mereka masih harus menyusup di antara hutan rindang dan lewat di Padukuhan-padukuhan kecil. Para petani yang melihat iring-iringan itu menjadi ketakutan, dan merekapun segera berjongkok di pinggir jalan, karena mereka tidak dapat segera membedakan, apakah yang lewat itu seorang bangsawan dari tingkat pertama, atau tingkat berikutnya. Namun kuda yang tegar, pakaian yang gemerlapan dan pengiring yang banyak, membuat para pelani dan orang-orang kecil lainnya berdebar-debar.

Demikianlah maka perjalanan Rudira tidak menjumpai rintangan apapun di perjalanan. Sekali-sekali mereka berhenti, memberi kesempatan kepada kudanya untuk minum seteguk dan beristirahat sejenak Dalam pada itu Rudira sempat juga memandang daerah yang terbentang di hadapannya. Daerah yang hijau segar. Sawah yang uas, dibatasi oleh padukuhan dan pategalan. Sungai yang berliku liku menyusup di antara pebukitan padas yang rendah.

Tetapi semakin dekat iring-iringan itu dengan Sukawati, maka hati Rudirapun rasa-rasanya menjadi semakin gelisah. Bukan saja Rudira, tetapi para pengiringnyapun menjadi gelisah pula, meskipun di antara mereka terdapat lima orang pengawal dan beberapa orang pengiring Rudira di bawah pimpinan Sura.

“Apakah orang-orang Sukawati akan membiarkan kami mengambil salah seorang warga pedukuhan mereka?“ pertanyaan itu yang selalu menyelinap di dalam hati “Jika mereka berkeberatan, dan Raden Rudira berkeras hati, maka akibatnya akan dapat menimbulkan pertengkaran. Bahkan mungkin pertumpahan darah. Jika demikian, persoalan ini tidak akan berhenti sampai sekian. Pasti masih ada persoalan-persoalan berikutnya.

Sura menarik nafas dalam-dalam. Ia adalah orang yang paling kasar di antara para pengiring Rudira. Tetapi setiap kali terbayang olehnya, orang-orang berkulit putih itu ikut campur di dalam persoalan orang orang Surakarta, hatinya menggelonjak.

Tetapi apabila persoalan petani dari Sukawati itu akan berkepanjangan, maka mau tidak mau, Raden Rudira lewat ibunya pasti akan menyeret beberapa orang kulit pulih ikut serta di dalam persoalan ini, karena Pangeran Ranakusuma tidak akan dapat menggali kekuatan dari rakyat di Tanah Kelenggahannya.

Demikianlah maka menjelang sore hari, iring-iringan itu benar-benar telah mendekati Sukawati. Dari kejauhan mereka. sudah melihat padukunan yang hijau subur. Beberapa padukuhan yang terpencar itu terikat di dalam satu wilayah Kademangan di bawah perlindungan Pangeran Margkubumi, karena daerah itu merupakan Tanah Kalenggahannya.

Tanpa sesadarnya, semakin dekat dengan daerah Sukawati, Rudira berpacu semakin lambat. Bahkan akhirnya iapun berhenti berapa ratus tonggak dari induk padukunan di Sukawati.

“Dimanakah rumah Demang di Sukawati?” Ia bertanya.

Tidak seorangpun yang segera menjawab.

“Dimana“ Raden Rudira hampir berteriak “Sura, apakah kau sudah tuli”

“O, maksud Raden, rumah Demang Sukawati?“

“Ya, rumah Ki Demang. Apakah kau pernah melihat”

“Pernah Raden. Aku memang pernah pergi ke Sukawati. Aku pernah singgah di rumah Demang Sukawati”

“Kau sudah mengenalnya?“

“Sudah. Aku sudah mengenalnya”

“Baik. Bawa aku kepadanya. Aku akan bertanya kepadanya tentang petani gila itu” Ia harus dapat menemukannya dan membawa kepadaku”

Sura akan berbicara beberapa patah kata. Tetapi kata-katanya tersangkut di kerongkongan. sehingga karena itu, ia hanya sekedar menelan ludahnya saja”

“Marilah, tunjukkan aku rumah Ki Demang itu”

Sura mengangguk-angguk kecil. Jawabnya terbata-bata “Baik, baik Raden”

“He, kenapa kau menggigil seperti orang kedinginan? Kau takut he?”

“Tidak. Tidak” jawab Sura.

Namun demikian Sura sendiri melihat, wajah Raden Rudira menjadi pucat.

Baik Rudira maupun Sura dan para pengiring yang lain, tidak tahu, apakah sebabnya sehingga mereka merasa cemas dan tegang. Bagi mereka, seorang rakyat kecil tidak akan banyak berarti. Apa saja yang dikehendaki atas mereka, biasanya tidak pernah urung.

Demikianlah, Raden Rudira dan pengiringnya mencoba menenteramkan hati mereka yang bergolak ketika mereka sudah berada di mulut lorong tanah Sukawati Para pengawal yang merupakan orang-orang khusus di Dalem Kapangeranan itupun merasa debar jantungnya menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya mereka tidak sekedar akan bertindak terhadap seorang petani betapapun tinggi kemampuan tempurnya.

Tidak ada seorang petanipun yang dengan tergesa-gesa berjongkok apalagi sambil menyembah. Mereka tetap pada pekerjaan mereka. Satu dua di antara mereka berpaling, namun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Sura yang ada didekatnya “Gila“ Raden Rudira menggeram. Sura yang didekatnya memang ikut merasakan suasana yang lain di padukuhan Sukawati.

”Agaknya kita terpengaruh oleh Ramanda Pangeran Mangkubumi memiliki daerah Sukawati itu” berkata Raden Rudira dengan suara menghentak, seolah-olah ingin melepaskan tekanan yang terasa memberati dadanya “Tetapi Ramanda Pangeran Mangkubumi pasti tidak akan mencegah kita, karena kita tidak akan mengganggu Tanah Sukawati. Kita hanya akan mengambil seseorang yang telah berani menentang para bangsawan di Surakarta. Sudah tentu Ramanda Pangeran akan justru membantu menemukan orang itu apabila ia berada di Sukawati. Kalau tidak, kita akan dapat berbuat lebih leluasa”

Tidak ada seorangpun yang menyahut. Tetapi setiap orang merasa, betapa getaran suara Raden Rudira mengandung kecemasan yang sangat, seperti kecemasan yang ada di dalam hati mereka masing-masing.

“Begini besar perbawa Pangeran Mangkubumi” desis Sura di dalam hatinya “Pangeran Ranakusuma dengan tanpa ragu-ragu telah mengembalikan puteri Pangeran Raksanagara. Pangeran yang sebenarnya pernah mempunyai pengaruh yang besar sebelum kedatangan orang asing yang semakin banyak di bumi Surakarta. Tetapi kini, kami menjadi menggigil ketakutan sebelum kami memasuki wilayah Sukawati untuk mengambil hanya seorang rakyat yang telah memberontak. Apakah sebenarnya yang membuat Pangeran Mangkubumi rasa-rasanya lebih berwibawa dari Pangeran Raksanagara dan Pangeran yang lain?“

Tetapi Sura tidak mengucapkan kegelisahan itu, betapapun hai itu benar-benar telah memberati perasaannya. Semakin dekat, semakin menekan di dalam dada.

Ketika mereka mendekati pintu gerbang padukuhan induk di Sukawati, mereka menjadi semakin berdebar-debar. Mereka masih melihat beberapa orang petani di sawah masing-masing. Tetapi para petani itu agaknya acuh tidak acuh saja atas kedatangan mereka. Sama sekali tidak seperti para petani di sepanjang jalan yang mereka lalui. Tidak ada seorang petanipun yang dengan tergesa-gesa berjongkok, apalagi sambil menyembah. Mereka tetap pada pekerjaan mereka. Satu dua di antara mereka berpaling, namun kemudian tidak menghiraukannya lagi.

“Gila“ Raden Rudira menggeram. Sura yang ada di dekatnya memang ikut merasakan suasana yang lain di padukuhan Sukawati.

“Kita langsung ke rumah Demang di Tanah Sukawati ini“ geram Raden Rudira.

“Apakah Raden tidak datang ke pasanggrahan Ramanda Pangeran Mangkubumi?“ bertanya Sura dengan suara yang patah-patah.

“Tidak“ Raden Rudira hampir berteriak tidak sesadarnya. Tetapi kemudian ia berkata “Ramanda tidak ada di Sukawati. Pasti. Dan aku akan membawa Demang Sukawati menghadap ke pesanggrahan untuk memastikannya”

Sura tidak bertanya lagi. Diikutinya saja kuda Raden Rudira yang menjadi semakin lambat.

Di belakang Raden Rudira dan Sura, para pengawalpun menjadi berdebar-debar. Tugas mereka kali ini rasanya begitu berat, sehingga dada mereka menjadi tegang.

Setiap orang di dalam iring-iringan itu terkejut ketika mereka melihat, di dalam regol di mulut lorong yang memasuki Tanah Sukawati itu, beberapa orang berdiri di sebelah menyebelah jalan. Mereka berdiri saja seakan-akan tidak menghiraukan derap kuda yang sudah berada di gerbang padukuhan mereka. Dengan tangan bersilang di dada mereka memandang Raden Rudira yang berada di paling depan. Namun mereka sama sekali tidak bertanya apapun.

Raden Rudiralah yang kemudian menarik kekang kudanya, sehingga kuda Itu berhenti. Sejenak ia memandang beberapa orang yang berdiri diam seperti patung itu. Wajah-wajah mereka bagaikan wajah-wajah yang kosong tanpa perasaan apapun melihat kehadiran Raden Rudira dan pengiringnya.

Sejenak Raden Rudira menjadi bimbang, Orang-orang itu benar-benar membuatnya kebingungan. Menilik pakaian mereka, mereka adalah petani-petani. Tetapi mereka sama sekali tidak bersikap sebagai seorang petani yang melihat hadirnya seorang bangsawan di padukuhan mereka yang terletak agak jauh dari kota. Padukuhan-padukuhan yang jauh ini pada umumnya, menjadi gempar apabila seorang bangsawan memasuki wilayahnya. Bahkan ada di antara mereka yang berlari-lari bersembunyi, ada yang dengan tiba-tiba saja menjatuhkan diri berlutut di pinggir jalan. Jika bebahu padukuhan itu melihatnya, maka ia akan menyongsong sambil terbungkuk-bungkuk dan kemudian berjalan sambil berjongkok mendekatinya.

Tetapi petani-petani di Sukawati itu berdiri saja sambil menyilangkan tangannya di dada, seakan-akan mereka telah berjanji yang satu dengan yang lain untuk berbuat demikian. Sedang wajah-wajah yang beku itu sama sekali tidak membayangkan kesan apapun yang ada di dalam hati mereka.

“He, bukankah kalian orang-orang Sukawati?” Raden Rudira berteriak untuk mengatasi gejolak di dalam dadanya.

Petani yang berdiri di paling ujung berpaling memandanginya. Kemudian iapun menjawab “Benar Raden. Kami adalah orang-orang Sukawati”

“Kenapa kalian berkumpul disini he?“

“Kami akan pergi ke sawah. Tetapi ketika kami melihat iring-iringan kuda menuju ke padukuhan ini, kamipun menunggu sampai Raden lewat. Silahkanlah kalau Raden akan lewat. Kami akan pergi ke sawah”

“Persetan. Apakah kalian tidak tahu siapa aku?“

“Kami hanya tahu bahwa tuan adalah seorang bangsawan. Tetapi kami tidak tahu, siapakah tuan”

“Aku adalah Raden Rudira. putera Pangeran Ranakusuma”

Tanggapan dari para petani itupun benar-benar mengejutkan. Mereka sama sekali tidak tertarik pada nama itu. Meskipun mereka mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi sikap yang beku itu sama sekali tidak berubah.

“He, apakah kalian dengar, bahwa aku putera Pangeran Ranakusuma?”

“Ya, kami dengar tuan”

“Jadi, begitukah kalian bersikap terhadap seorang bangsawan?“

Para petani itu menjadi heran mendengar pertanyaan Raden Rudira. Petani yang berdiri di paling ujung itupun bertanya “Jadi apakah sikap kami keliru?“

“Kalian tidak sopan. Kalian berhadapan dengan putera seorang Pangeran. Siapakah yang mengajar kalian bersikap deksura itu he?“

“O, jadi kami bersikap deksura?“ petani di paling ujung itu terdiam sejenak, lalu “Tetapi maaf Raden. Kami memang diajar bersikap demikian”

“Ya, aku sudah menduga. Siapa yang mengajarmu?“

“Pangeran Mangkubumi”

“He?“ mata Raden Rudira terbelalak mendengar jawaban itu. Demikian juga para pengiringnya. Namun dengan demikian dada mereka serasa telah berguncang.

Sejenak Raden Rudira termangu-mangu. Namun kemudian dengan suara yang gemetar ia bertanya “Jadi Ramanda Pangeran Mangkubumi mengajarmu bersikap demikian?“

“Ya tuan. Kamipun sebenarnya tahu, bahwa kami harus berjongkok apabila seorang bangsawan lewat di jalan yang kebetulan kami lalui juga. Tetapi hanya bagi para Pangeran. Bukan kepada setiap bangsawan. Biasanya kami hanya mengenal seorang bangsawan pada sikap dan pakaiannya serta para pengiringnya. Dan kami semuanya menganggap mereka seorang Pangeran, sehingga kami langsung berjongkok di pinggir jalan. Tetapi bagi kami, orang-orang di daerah Sukawati mendapat kekhususan dari Pangeran Mangkubumi. Jangankah bangsawan di tingkat berikutnya, sedangkan terhadap Pangeran Mangkubumi sendiri, yang menguasai Tanah Sukawati dan seorang bangsawan tertinggi, kami tidak diharuskan berjongkok”

“O, itu salah, salah sekali. Itu akan merusak sendi-sendi tata kesopanan rakyat Surakarta”

“Kami berpegangan kepada perintah Pangeran Mangkubumi”

“Persetan. Tunjukkan kepada kami. dimana rumah Demangmu”

Sejenak para petani itu termangu-mangu. Sedang Sura yang berada di sebelah Raden Rudira berbisik. “Aku sudah tahu tempat itu Raden”

“Aku akan bertanya kepada mereka” sahut Raden Rudira.

Sura menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia memandangi para petani itu seorang demi seorang. Mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, sedang tangan mereka masih tetap bersilang di dadanya.

“Coba katakan, kemana aku harus pergi?“

“Tuan sudah mengambil jalan yang benar. Tuan dapat berjalan terus lewat lorong ini. Sekali tuan berbelok ke kiri di tengah-tengah padukuhan ini, di tikungan di bawah pohon preh yang besar”

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Sambil berpaling kepada Sura ia bertanya “Benar begitu?“

Sura menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya tuan. Benar begitu”

Raden Rudira termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata kepada para pengiringnya “Kita pergi ke rumah Demang di Sukawati”

Tanpa minta diri kepada para petani yang masih saja berdiri tegak dengan tangan bersilang itu, Raden Rudira melanjutkan perjalanannya, menyusuri jalan di tengah-tengah padukuhan, sambil memperhatikan rumah-rumah yang ada di sebelah menyebelah jalan. Meskipun letak rumah-rumah itu masih cukup jarang, tetapi terasa bahwa Tanah Sukawati akan segera menjadi ramai. Lewat diatas pagar batu di setiap halaman, Raden Rudira dan pengiringnya melihat rumah-rumah yang bersih dan teratur. Halaman yang rapi dan kebun yang penuh dengan tanaman palawija, garut dan ganyong. Beberapa batang ubi dan gadung merambat pada pohon metir, merayap sampai ke puncaknya.

Tiba-tiba saja Raden Rudira berkata “Pangeran Mangkubumi telah merusak adat di Surakarta. Sikap itu pasti akan mempengaruhi sikap para petani kecil di sekitar Tanah Sukawati. Lambat atau cepat”

Tidak ada seorangpun yang menjawab. Sura masih saja termangu-mangu sambil menundukkan kepalanya.

Sejenak kemudian merekapun telah sampai di tikungan. Tetapi sekali lagi dada mereka berdesir, ketika mereka melihat beberapa orang laki-laki yang sedang berdiri pula di sebelah menyebelah jalan tikungan itu. Seperti orang-orang yang berdiri di mulut lorong, maka orang orang itupun berdiri dengan wajah membeku sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

Melihat sikap yang bagaikan patung-patung batu itu, terasa bulu-bulu tengkuk Raden Rudira meremang. Tetapi ia harus mengatasi goncangan perasaannya, sehingga karena itu, iapun juga berhenti di hadapan orang-orang itu.

Sekali lagi ia bertanya dengan lantang “He, apakah kalian diajari untuk menjadi patung? Atau memang demikianlah adat Sukawati untuk menghormat seorang bangsawan?“

Orang-orang itu memandang Raden Rudira hanya dengan sudut matanya. Kemudian orang yang paling pendek di antara mereka menjawab “Kami diajari untuk bersikap sopan terhadap siapapun. Juga terhadap para bangsawan”

“He” jawaban itu benar-benar mengejutkannya “Coba ulangi“

“Tuan” jawab petani yang pendek itu “Kami diajari untuk bersikap sopan kepada siapapun. Juga kepada para bangsawan”

“Kenapa juga kepada para bangsawan? Kenapa justru tidak kepada para bangsawan baru kepada yang lain?“

Petani pendek itu mengerutkan keningnya. Tetapi wajahnya kemudian seakan-akan telah membeku kembali. Katanya “Kami tidak melihat perbedaan itu. Tetapi kami memang mengenal tingkat tata penghormatan. Namun pada dasarnya, kami menghormati siapa saja”

“Siapa yang mengajarimu?“

”Pangeran Mangkubumi”

“Cukup, cukup“ Raden Rudira berteriak. Nama itu rasa-rasanya seperti sebutan hantu yang paling menakutkan baginya. Karena itu tanpa berkata sepatah katapun lagi ia meneruskan perjalanannya menuju ke rumah Ki Demang di Tanah Sukawati.

Namun di jalan yang semakin pendek itu, Raden Rudira dan pengiringnya masih juga menjumpai satu dua orang yang berdiri acuh tidak acuh saja melihat kehadirannya. Bahkan mereka yang kebetulan berada di halaman pun hanya sekedar berpaling tanpa menghentikan kerjanya. Anak-anak yang sedang berlari-larian berhenti sejenak, lalu berlari lagi masuk ke dalam rumah masing-masing.

Perasaan Raden Rudira semakin lama menjadi semakin terguncang-guncang. Rasa-rasanya ia telah memasuki suatu daerah asing yang belum pernah dijajaginya. Bahkan rasa-rasanya seperti di daerah mimpi yang mengawang di antara bumi dan langit.

“Sura” berkata Raden Rudira kemudian “Apakah memang begini sikap orang Sukawati? Bukankah kau pernah datang kemari dahulu?”

“Tidak tuan. Sikap orang-orang Sukawati tidak seganjil ini. Aku tidak mengerti, perubahan apa yang telah terjadi disini”

Raden Rudira menjadi semakin berdebar-debar. Setiap kali ia melihat seseorang yang berdiri tegak di pinggir jalan dengan tangan bersilang di dada, jantungnya berdetak semakin cepat, sehingga hampir saja ia tidak tahan.

“Aku ingin memukul kepalanya” geramnya.

Tetapi dengan mengerahkan keberaniannya Sura mencegahnya, katanya “Maaf tuan. Jangan melakukan hal itu. Lebih baik kita menemukan orang yang kita cari tanpa membuat persoalan dengan orang lain”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia dapat mengerti nasehat Sura itu, sehingga iapun tidak berbuat apapun juga. Namun dengan demikian hatinya serasa semakin lama menjadi semakin berkeriput kecil sekali.

“Raden” berkata Sura kemudian “gerbang yang tampak itu adalah gerbang Kademangan”

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Gerbang itu. termasuk sebuah pintu gerbang yang bagus bagi sebuah Kademangan. Namun dengan demikian gerbang itupun telah membuat detak jantungnya semakin berdentangan.

Tetapi Raden Rudira tidak mau melangkah surut. Ia telah benar-benar merasa terhina karena tindakan petani yang menyebut dirinya berasal dari Sukawati itu. Karena itu maka ia harus berhasil menemukannya dan menghukumnya, sebagai seorang rakyat kecil yang berani menentang para bangsawan.

Karena itu, betapa hatinya berdebaran, Rudira tetap maju mendekati pintu gerbang itu.

Ketika kudanya sudah berada di depan pintu, dilihatnya dua orang mendatanginya. Dua orang dalam pakaian yang agak lain dari pakaian para petani.

“Itulah bebahu Kademangan Sukawati” desis Raden Rudira “Ia harus tahu bahwa rakyatnya telah bertindak tidak sopan. Dan itu tidak dapat dibiarkannya. Tentu bukan Ramanda Pangeran Mangkubumi yang mengajarinya. Tentu orang-orang yang ingin mengeruhkan tata kehidupan Surakarta yang selama ini tenang dan tenteram”

Di depan pintu, di dalam halaman, kedua orang itu berhenti sambil menganggukkan kepala mereka. Ternyata mereka memang lebih hormat dari sikap para petani di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Dengan sopan salah seorang dari mereka berdua bertanya “Apakah kami dapat berbuat sesuatu untuk tuan?“

“Aku akan bertemu dengan Demang di Sukawati” sahut Raden Rudira langsung “Apakah ia ada di rumah?“

“O“ orang itu mengangguk-angguk “ada tuan. Marilah tuan kami persilahkan masuk”

Tanpa turun dari kudanya Raden Rudira memasuki halaman Kademangan. Ternyata halaman itu adalah halaman yang luas dan bersih. Beberapa batang pohon tanjung berada di pinggir, sedang sepasang pohon sawo kecik berada tepat di depan pendapa.

“Mana Ki Demang?“ bertanya Raden Rudira.

“Marilah, kami persilahkan tuan naik ke pendapa”

“Di mana Ki Demang he?“

“Nanti kami akan memanggilnya”

“Panggil ia kemari”

“Tuan, kami telah mempersilahkan tuan duduk. Kami akan segera memanggilnya” orang itu berhenti sejenak, lalu “Silahkan tuan turun dari kuda”

“Tidak, aku akah menunggu Ki Demang disini. Aku memerlukannya. Ia harus mengantar aku ke pesanggrahan Ramanda Pangeran Mangkubumi apabila Ramanda ada disana”

“Tuan, kami persilahkan tuan turun”

“Aku tidak mau turun. Kau tidak tahu siapa aku he? Aku adalah Putera Pangeran Ranakusuma“

“Tetapi ada semacam ketentuan, siapapun dipersilahkan turun apabila berada di kuncung pendapa ini.

“Aku seorang Putera Pangeran”

“Bahkan seorang Pangeranpun bersedia untuk turun dari kudanya apabila ia berada di bawah kuncung ini”

“Aku tidak peduli. Tetapi aku tidak mau turun. Hanya seorang Pangeran yang tidak tahu akan harga dirinya sajalah yang bersedia turun dari kudanya, meskipun di kuncung pendapa sekalipun, justru hanya pendapa seorang Demang”

”Tetapi justru kami sangat hormat kepadanya”

“Siapa?“

“Pangeran Mangkubumi”

“Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi. Apapun yang kalian bicarakan kalian menyebut Pangeran Mangkubumi“ Rudira hampir berteriak.

“Kedua bebahu itu menjadi terheran-heran melihat sikap Raden Rudira. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata “Raden, kami tetap mempersilahkan tuan turun. Kecuali kalau tuan tidak berada di bawah kuncung pendapa, meskipun di halaman”

“Aku tidak mau. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma Aku bukan Pangeran Mangkubumi. Ayahanda Pangeran Ranakusuma pasti tidak akan turun pula meskipun kudanya naik ke pendapa sekalipun”

Kedua bebahu Kademangan itu saling berpandangan sejenak. “Kemudian salah seorang berkata “Jika demikian, kami tidak akan memanggil Ki Demang”

“Apa, kalian tidak akan memanggil Ki Demang?“

“Ya. Jika tuan tidak bersedia turun”

“Gila. Kau berani menentang aku he? Aku datang untuk mencari seseorang yang berani menentang seorang bangsawan. Kini kau akan menentang aku pula. Apakah kau tahu akibatnya?“

“Kami sekali-kali tidak akan menentang tuan. Tetapi kami hanya mematuhi ketentuan yang berlaku di Kademangan ini. Sebenarnyalah bahwa kami takut sekali kepada Raden, apalagi setelah kami tahu bahwa Raden adalah putera Pangeran Ranakusuma. Tetapi apaboleh buat. Ketentuan yang berlaku harus tetap berlaku”

“Tidak. Aku tidak mau. Dan kalian harus tetap memanggil Ki Demang di Sukawati. Jika kalian tidak bersedia, maka aku akan menghukum kalian”

“Raden” berkata salah seorang dari keduanya “Tanah Sukawati mempunyai kekhususan. Yang langsung membimbing pemerintahan Kademangan Sukawati adalah Pangeran Mangkubumi sendiri, karena tanah ini adalah tanah kalenggahan”

“Aku tidak peduli. Aku yakin bahwa Ramanda Pangeran Mangkubumi akan membenarkan sikapku dan berpihak kepadaku. Panggil Demang itu, cepat”

“Sebelum tuan turun dari kuda, kami tidak akan memanggil. Kami tidak berkeberatan atas mereka yang masih tetap berada di punggung kuda di halaman, tetapi tidak di bawah kuncung pendapa“

“Persetan. Apakah aku harus mencarinya sendiri dan memaksanya menghadap aku kemari?“

“Jika tuan berkenan di hati, kami akan mempersilahkannya dengan senang hati”

“Tuan” jawab salah seorang dari mereka sambil berpaling “kami tidak bertanggung jawab lagi apa yang dapat terjadi dengan tuan, karena tuan tidak mematuhi peraturan yang berlaku di Kademangan Sukawati”

“Kalian sudah gila. Aku adalah putera seorang Pangeran. Dengar perintahku. Seperti kau lihat, aku sudah membawa beberapa orang pengiring”

“Tuan akan berburu. Tuan membawa kelengkapan sekelompok pemburu yang akan berburu rusa di hutan rindang”

“Kami sudah melampaui beberapa daerah perburuan. Tetapi kami memang akan pergi ke Sukawati. Karena itu jangan mengganggu kami sehingga dapat menimbulkan kemarahan kami”

Hampir berbareng keduanya mengangguk dalam-dalam. Salah seorang di antaranya berkata “Baiklah. Kami tidak akan berbuat apa-apa”

Dan tiba-tiba saja keduanya melangkah surut. Kemudian di luar kuncung, di depan tangga terakhir yang mengelilingi pendapa Kademangan keduanya berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada. Sikap merekapun telah berubah, mirip dengan orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan.

Ternyata sikap itu telah membuat seluruh tubuh Raden Rudira meremang. Bahkan pengiringnyapun menjadi gelisah, sehingga untuk sesaat mereka bagaikan telah terpukau oleh sikap itu, sehingga mereka sama sekali tidak bergerak.

Untuk mengatasi hatinya yang kecut, maka Raden Paidira itupun telah memaksa dirinya untuk berkata lantang “He, apakah kalian telah menjadi patung?“

“Tuan” jawab salah seorang dari mereka sambil berpaling “Kami tidak bertanggung jawab lagi apa yang dapat terjadi dengan tuan karena tuan tidak mematuhi peraturan yang berlaku di Kademangan Sukawati” ia berhenti sejenak, lalu “Dan Ki Demangpun tidak akan bersedia mengantar tuan pergi ke pasanggrahan Pangeran Mangkubumi. Memang tuan dapat memaksanya dengar kekerasan. Tetapi kami kira tuan tidak akan berhasil. Bukan karena Ki Demang mempunyai sepasukan pengawal yang dapat melindunginya. Tetapi karena kekerasan halinya, ia akan memilih akibat yang bagaimanapun beratnya dari pada ia melihat peraturan yang dibuatnya tidak ditaati“

“Gila, permainan apakah sebenarnya yang telah kalian lakukan? Apakah kalian sedang diamuk oleh suatu kepercayaan tahyul yang membuat kalian, orang-orang Sukawati menjadi seperti orang-orang gila”

“Tuan keliru” jawab salah seorang dari kedua pengawal “sikap kami adalah sikap yang mewujudkan kediaman kami menghadapi keadaan dewasa ini, dimana kita merasa berdiri di atas bara justru di kampung halaman sendiri”

Jawaban itu benar-benar tidak diduga, sehingga Raden Rudira terdiam untuk beberapa saat. Namun wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang.

Tetapi ternyata Raden Rudira tidak mau surut. Meskipun hatinya bergejolak dahsyat sekali, namun ia mencoba mengatasinya dengan berteriak sekali lagi “Panggil Ki Demang di Sukawati”

Betapapun ia berteriak, tetapi kedua bebahu Kademangan Sukawati itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.

Kemarahan Raden Rudira hampir tidak terkekang lagi, Namun ketika dadanya bagaikan akan meledak, Sura, pengiringnya yang selama ini paling dibanggakan itu telah meloncat turun dari kudanya. Perlahan-lahan ia mendekatinya. Dengan suara bergetar ia berkata “Raden, kami persilahkan Raden turun dari kuda. Bukan suatu sikap merendahkan diri, tetapi barangkali demikianlah yang dikehendaki oleh Ramanda Pangeran Mangkubumi”

“Persetan“ Raden Rudira berteriak “Kau juga sudah menjadi pengecut?“

“Bukan Raden. Bukan soalnya, berani menentang ketentuan itu atau tidak. Tetapi kita ingin mendapat bantuan dari Ki Demang di Sukawati. Bukankah tujuan kita untuk mendapatkan petani yang telah menghina Raden di tengah bulak itu?“ Karena itu, sebaiknya kita tidak membuat persoalan-persoalan baru disini”

Darah Raden Rudira bagaikan mendidih karenanya. Namun perlahan-lahan ia mulai menyadari kata-kata Sura. Kalau ia bertindak kasar, maka ia hanya akan menambah kesulitan diri sendiri tanpa mendapatkan Hasil apapun dari kepergiannya ke Sukawati. Dan lebih daripada itu, sebenarnyalah di dalam sudut hatinya tersirat kecemasan yang sangat melihat sikap orang-orang Sukawati itu.

Namun sudah barang tentu Raden Rudira tidak membiarkan dirinya terlempar surut tanpa pembelaan. Dengan lantang ia berkata kepada kedua bebahu itu “Baiklah. Aku akan turun. Bukan karena aku takut menghadapi sikap kalian yang gila itu. Tetapi aku secepatnya ingin menangkap petani yang telah berani menghinakan aku di tengah bulak”

Raden Rudirapun segera meloncat dari punggung kudanya sambil berteriak “Aku sudah turun. Panggil Ki Demang di Sukawati”

Tetapi Raden Rudira terkejut, ketika sebelum kedua orang itu beranjak, telah terdengar suara dari balik pintu pringgitan di pendapa “Aku sudah disini tuan”

Darah Raden Rudira tersirap. Di tengah-tengah pintu yang kemudian terbuka ia melihat seorang laki-laki yang bertubuh sedang, berkumis tipis, yang kemudian berjalan melintas pendapa mendekatinya.

“Kau disitu sejak tadi?“

“Ya. Aku sudah berada di balik pintu sejak tuan datang. Tetapi aku menunggu tuan turun dari kuda. Maaf. Itu sudah menjadi ketentuan kami. Sekali kami melanggar ketentuan itu, maka untuk selanjutnya ketentuan itu tidak akan berarti, karena pelanggaran yang serupa akan terjadi lagi. Sekali lagi dan sekali lagi, sehingga ketentuan itu tidak berarti apa-apa lagi. Baik bagi kami maupun bagi setiap orang yang datang ke padukuhan ini”

“Persetan” jawab Raden Rudira “Aku tidak perlu sesorahmu. Aku memerlukan kau”

“O“ Ki Demang yang kemudian turun dari pendapa rumahnya mengangguk hormat “Kami akan membantu tuan. Apakah yang harus kami lakukan?“

Raden Rudira memandang Demang Sukawati itu dengan herannya. Ia tidak mengerti, apakah yang sebenarnya tersirat di dalam hatinya. Setelah ia memaksanya turun dari kudanya, maka iapun kemudian bersikap sopan dan ramah.

Tetapi Raden Rudira tidak mempedulikannya lagi. Dengan kasar ia berkata “Aku sedang mencari seseorang”

“O. Siapa?“

“Aku tidak tahu namanya. Ia menyebut dirinya petani dari Sukawati”

Tampak Ki Demang mengerutkan keningnya sejenak. Tetapi iapun kemudian berusaha untuk melenyapkan kesan itu. Bahkan kemudian ia bertanya “Kenapa Raden mencarinya? Apakah petani dari Sukawati itu telah menjual sesuatu kepada Raden dan Raden akan membayarnya sekarang, atau persoalan apapun yang pernah terjadi dengan petani itu?“

“Ia menghina aku di tengah-tengah bulak Jati Sari”

“O“ Ki Demang dari Sukawati terkejut “di Jati Sari?”

“Ya”

“Begitu jauh dari Sukawati”

“Ya. Orang itu mengaku petani dari Sukawati. Ia tentu seorang petualang. Nah, tunjukkan kepadaku, siapakah yang sering bertualang disini”

Ki Demang tidak segera menjawab. Dengan sudut matanya ia memandang kedua pembantunya yang kini berdiri termangu-mangu pula.

“He, apakah kau tidak dapat mengenal orang-orangmu?“

“Maaf tuan. Aku tidak dapat mengingat semua orang di Kademangan Sukawati. Mungkin aku mengenal mereka, tetapi tentu tidak akan dapat mengerti kebiasaan mereka sehari-hari dengan pasti”

“Tetapi bertualang bukan kebiasaan yang wajar bagi seorang petani. Karena itu, seharusnya kau dapat segera mengetahui orang yang aku maksudkan”

Tetapi Ki Demang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya “Maaf. Aku tidak dapat segera mengatakan, siapakah yang Raden maksud itu”

“Kalau begitu, antarkan aku menjelajahi Kademangan ini. Aku akan mencarinya sendiri”

“Tuan akan menjelajahi Kademangan Sukawati?“

“Ya”

Ki Demang menjadi termangu-mangu. Sekali lagi ia memandang kedua kawan-kawannya. Kini keduanyapun menunjukkan kegelisahannya.

“Tuan” berkata Ki Demang “tanah Sukawati adalah tanah kalenggahan”

“Aku mengerti“ Rudira memotong “maksudmu, kau akan menyebut nama Ramanda Pangeran Mangkubumi?“

“Ya tuan”

“Antarkan aku ke pasanggrahan Ramanda Pangeran Mangkubumi. Aku akan menghadap dan mohon ijinnya. Tentu Ramanda akan memberikan ijin itu. bahkan akan membantuku mencari orang-orang yang deksura dan berani menentang para bangsawan”

Ki Demang di Sukawati mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berkata “Tetapi Pangeran Mangkubumi tidak sedang berada di Sukawati. Apakah Raden tidak menjumpainya di istana Kapangeranan di kota?“

Sesuatu terasa bergetar di dalam dada Rudira. Seolah-olah ia terlepas dari tekanan kecemasan yang menghimpit dadanya, sehingga tanpa sesadarnya ia menarik nafas dalam-dalam.

“Jadi Ramanda Pangeran tidak ada di Sukawati?“

Ki Demang menggelengkan kepalanya “Tidak tuan. Tidak”

Tetapi tiba-tiba saja Rudira membentak “Bohong. Kalian pasti mencoba berbohong, karena kalian, orang-orang Sukawati adalah orang-orang yang deksura. Kalian takut juga bahwa aku akan mengatakan kepada Ramanda Pangeran Mangkubumi tentang kalian. Tentang petani-petani yang berdiri membeku di regol padukuhan dan mereka yang seperti patung mati di tikungan. He, kenapa orang-orangmu kau ajari deksura terhadap para bangsawan? Dan sekarang kau takut membawa aku menghadap Ramanda Pangeran”

Ki Demang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya “Aku minta maaf tuan. Orang-orangku adalah orang-orang padesan yang jauh dari kota. Kami sama sekali tidak berniat untuk berlaku kurang baik dan apalagi tidak sopan. Tetapi kami, orang-orang padesan memang kurang mengerti tata-krama. Kadang-kadang kami kehilangan akal, apa yang harus kami lakukan untuk menunjukkan hormat kami. Demikian juga para petani di Sukawati, dan barangkali juga petani yang tuan sebut, berjumpa dengan tuan di bulak Jati Sari”

“Tidak. Ia tidak sekedar kurang tata-krama. Tetapi ia benar-menentang aku” Rudira berhenti sejenak, lalu “antarkan aku ke pasanggrahan Ramanda Pangeran”

Ki Demang menarik nafas. Lalu “Baiklah. Marilah Raden aku antarkan ke pesanggrahan itu. Tetapi aku sudah mengatakan bahwa Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan itu”

Rudira seolah-olah tidak menghiraukannya Meskipun hal itu baginya adalah suatu kebetulan. Namun di hadapan Ki Demang ia bersikap seakan-akan ia kecewa bahwa Pangeran Mangkubumi tidak ada dipasanggrahannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, maka Raden Rudirapun segera meloncat ke punggung kudanya. Dengan tatapan mata aneh Ki Demang memandanginya. Tetapi Raden Rudira tidak menghiraukannya. Ia duduk diatas punggung kudanya, meskipun kudanya masih berada di kuncung pendapa Kademangan.

“Berjalanlah di depan“ berkata Rudira kemudian “Aku akan mengikutimu”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Kemudian ia bertanya “Apakah kami harus berjalan kaki saja?“

“Ya. Kalian berjalan kaki saja. Kalian tidak perlu berkuda seperti kami”

“Tetapi pesanggrahan itu terletak di padukuhan lain, meskipun tidak begitu jauh. Nanti perjalanan ini akan memakan waktu apabila kami hanya sekedar berjalan kaki”

“Aku tidak peduli Adalah pantas sekali, kalau kau berjalan kaki, dan kami naik diatas punggung kuda. Dengan demikian perbedaan derajad kita akan tampak dengan jelas”

Wajah Ki Demang berkerut sejenak. Tetapi iapun kemudian tersenyum dan berkata “Baiklah tuan. Kami akan mengantarkan Raden ke pesanggrahan itu dengan berjalan kaki. Tetapi sudah kami katakan, bahwa perjalanan ini akan memakan waktu. Sebentar lagi malam akan segera turun. Apalagi Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan”

“Aku tidak peduli”

“Tetapi bagaimana kalau tuan kemalaman?“

“Aku akan bermalam di pasanggrahan?“

“Di pesanggrahan? Selagi Pangeran Mangkubumi tidak ada?”

Rudira mengerutkan keningnya. Ia berpaling kepada Sura yaug masih berdiri di samping kudanya. Tetapi Sura menggeleng kecil tanpa sesadarnya.

“Sekarang, jangan banyak bicara” bentak Rudira kemudian “berjalanlah. Kita harus segera sampai ke pesanggrahan itu”

“Baiklah tuan” jawab Ki Demang.

Dengan isyarat, maka kedua kawannya itupun diajaknya, sehingga mereka berjalan bertiga di depan kuda Raden Rudira. Sedang Sura masih menuntun kudanya sejenak. Baru ketika mereka sudah keluar dari halaman, maka iapun segera meloncat naik. Demikian pula para pengiring yang lain, yang telah turun pula dari kudanya.
Perlahan-lahan iring-iringan itu berjalan meninggalkan regol Kademangan. Namun betapa hati Raden Rudira dan para pengiringnya menjadi berdebar-debar. Tanpa mereka ketahui darimana datangnya, mereka melihat beberapa orang anak-anak muda yang berdiri di sebelah menyebelah jalan di luar regol dengan sikap yang mendebarkan itu. Mereka berdiri tegak sambil menyilangkan tangan di dadanya.

Sekali-sekali Raden Rudira memandang wajah-wajah itu. Wajah-wajah yang seakan-akan membeku. Mereka sama sekali tidak memandang orang-orang yang lewat. Mereka seakan-akan berdiri asal saja berdiri di pinggir jalan.

Namun Ki Demanglah yang kemudian menegur salah seorang dari mereka “Kalian sudah pulang dari sawah?“

Seorang anak muda yang tinggi kekurus-kurusanlah yang menjawab mewakili kawan-kawannya “Sudah Ki Demang”

“Baiklah. Dan sekarang ketahuilah, yang berkuda di paling depan ini adalah Raden Rudira, putera Pangeran Ranakusuma di Surakarta”

“O“ hanya itulah yang terloncat dari mulut anak muda itu.

Tidak ada bayangan kekaguman, heran atau takut sedikkpun juga. Ia masih tetap berdiri seperti sediakala dengan menyilangkan tangannya di dadanya.

“Persetan“ Rudira bergumam di dalam dadanya.

Ketika mereka sudah melampaui anak-anak muda yang berdiri di sebelah menyebelah jalan itu, Raden Rudira yang marah segera bertanya kepada Ki Demang “Ki Demang, kenapa anak-anak mudamu tidak kau ajari sopan santun”

”Maksud Raden?“ bertanya Ki Demang.

“Mereka harus tahu, bagaimana caranya menghormati seorang bangsawan. Seorang putera Pangeran”

“Apakah sikap mereka salah?“

”Tentu. Mereka sama sekali tidak sopan. Mereka harus berjongkok atau membungkukkan kepala mereka dalam-dalam”

“O“ Ki Demang mengangguk-angguk “begitukah yang benar?”

“Ya”

“Kalau begitu selama ini kami telah membuat kesalahan Kami tidak pernah berbuat begitu. Itulah agaknya tuan tidak senang terhadap rakyat kami. Tetapi sekali lagi agar tuan ketahui, rakyat kami adalah rakyat yang jauh dari kehidupan para bangsawan sehingga barangkali kami tidak mengenal keharusan yang berlaku di kota, untuk menghormat para bangsawan. Sebenarnyalah bahwa di padukuhan yang terpencil ini kami hanya mengenal seorang bangsawan, Daripadanyalah kami mengenal tata-krama. Tetapi agaknya tata-krama yang kami anggap sudah cukup baik itu masih kurang dalam pandangan tuan”

“Tentu. Dan siapakah yang telah mengajar kalian cengan cara yang salah itu?“

 

Jilid 3 Bab 1 : Kain Lurik

TETAPI selagi Ki Demang akan menjawab, Rudira memotongnya dengan lantang “Aku sudah tahu. Aku sudah tahu”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Nama yang sudah ada di ujung lidahnya seakan-akan ditelannya kembali.

Demikianlah maka mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padukuhan yang semakin lama menjadi semakin sempit. Mereka berbelok beberapa kali pada tikungan-tikungan yang suram, karena matahari telah tenggelam. Padukuhan Sukawati itu semakin lama menjadi semakin gelap, sedang jalan di bawah kaki kuda merekapun menjadi semakin jelek.

“He, apakah kau menunjukkan jalan yang benar?“ bertanya Rudira yang menjadi jemu berjalan di jalan sempit yang gelap.

”Ya tuan, jalan inilah yang menuju ke pesanggrahan Pangeran Mangkubumi”

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Sesaat, ia berpaling kepada Sura yang dianggapnya sudah mengetahui jalan-jalan di daerah Sukawati. Tetapi Sura menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Namun di dalam. harl, Sura merasakan sesuatu yang lain dari anggukan kepalanya. Ia memang mengetahui jalan-jalan di daerah Sukawati meskipun tidak kenal benar. Dan ia kenal jalan lain yang lebih baik dari jalan yang ditempuhnya sekarang ke pesanggrahan Pangeran Mangkubumi.

“Ki Demang agaknya telah tersinggung” berkata Sura didalam hatinya “Kalau Raden Rudira tidak melarangnya naik kuda, maka kita tidak akan melewati jalan ini, dan barangkali kita jauh lebih cepat sampai”

Tetapi Sura tetap berdiam diri, meskipun kemudian ia yakin, bahwa memang demikianlah agaknya. Jalan yang mereka lalui adalah jalan yang sempit dan sangat gelap karena tidak ada seorangpun yang memasang lampu di regol-regolnya yang kecil.

“Kita seperti berjalan di dalam goa” desis Raden Rudira.

“Inilah kehidupan di daerah padesan tuan” sahut Ki Demang “Tetapi kami sudah biasa hidup di dalam keadaan seperti ini, sehingga kami tidak merasa canggung lagi. Mungkin agak berbeda atau bahkan jauh berbeda, seperti bumi dan langit dengan kehidupan di kota-kota yang ramai. Apalagi di Negari Ageng seperti Surakarta”

Raden Rudira tidak menyahut, meskipun hatinya terasa menggelepar.

Namun akhirnya iring-iringan itupun mendekati pesanggrahan. Dari kejauhan telah nampak cahaya obor yang terang di regol. Dan bahkan lampu-lampu minyak yang melontarkan cahayanya di pendapa.

“Itukah pesanggrahan Ramanda Pangeran Mangkubumi?” bertanya Raden Rudira.

“Ya, itulah pesanggrahan Pangeran Mangkubumi” sahut Ki Demang di Sukawati.

Dada Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Menurut Ki Demang, Pangeran Mangkubumi saat itu tidak berada di pesanggrahannya. Karena itulah pesanggrahan itu tampaknya sangat lengang.

Ketika mereka sampai di regol pesanggrahan itu, dua orang pengawal telah membuka pintu. Sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam salah seorang dari mereka bertanya “Siapakah yang kau antar kemari Ki Demang?“

“Putera Pangeran Ranakusuma “ jawab Ki Demang di Sukawati.

“O” desis salah seorang dari keduanya itu pula “Aku sudah menyangka. Tentu seorang bangsawan dari kota meskipun tidak membawa songsong. Agaknya Raden akan pergi berburu”

“Aku akan menghadap Ramanda Pangeran Mangkubumi” berkata Rudira. Namun terasa bahwa suaranya bergetar karena hatinya yang bergetar pula.

“O. Maaf tuan. Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan”

Raden Rudira mengerutkan keningnya, dan Ki Demang di Sukawati itu menyahut “Aku sudah memberitahukan bahwa Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan”

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk.

Namun demikian Raden Rudira berkata “He, apakah kami tidak kau persilaihkan masuk?“

“Kalau tuan menghendaki, silahkan. Tetapi supaya tuan tidak kecewa, kami telah memberitahukan bahwa Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan”

“Aku akan masuk pesanggrahan Ramanda Pangeran. Meskipun Ramanda tidak ada, tetapi aku sudah berusaha menghadap”

“Tetapi apakah yang akan tuan dapatkan di pesanggrahan ini jika Pangeran tidak ada?“

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Ternyata kedua pengawal yang tampaknya sangat hormat itu membuatnya jengkel juga. Seharusnya mereka mempersilahkannya masuk dan duduk di pendapa pesanggrahan. Bahkan mempersilahkannya bermalam di pesanggrahan itu juga. Tetapi agaknya kedua pengawal itu memang tidak mempunyai kesopanan sama sekali. Ia hanya sekedar diajari untuk membungkuk dan menghormat. Seterusnya, ia tidak mengenal sopan santun sama sekali.

“Aku akan masuk” berkata Raden Rudira kemudian.

“O, silahkan. Mungkin tuan belum pernah melihat pesanggrahan Ramanda Pangeran Mangkubumi”

“Aku tidak sekedar ingin melihat. Tetapi aku adalah kemanakannya”

“O Baiklah. Silahkanlah”

Kedua pengawal itupun kemudian membuka regol pesanggrahan itu semakin lebar. Keduanya berdiri dengan hormatnya di sebelah menyebelah pintu. Tetapi ketika Raden Rudira mulai melintasi regol halaman, maka kedua pengawal itupun maju bersama-sama sambil berkata “Maaf tuan. Kami harap tuan turun dari kuda”

“He“ Raden Rudira terkejut “Aku harus turun dari kuda?“

“Ya tuan”

“Kalian menghina aku. Kalau rakyat kecil memasuki halaman pesanggrahan ini memang harus turun dari kendaraannya. Tetapi aku tidak. Aku adalah Raden Rudira Putera Pangeran Ranakusuma”

“Maaf tuan. Hanya seorang yang diperkenankan naik kuda di halaman ini. Pangeran Mangkubumi. Selain Pangeran Mangkubumi, siapapun harus turun. Bahkan pengiring-pengiring Pangeran Mangkubumipun harus turun dari kudanya meskipun mereka datang bersama dan mengiringi Pangeran Mangkubumi sendiri”

“Bohong. Kau sangka aku tidak mengetahui peraturan yang berlaku? Seorang putera Pangeran pasti diperkenankan memasuki halaman Kapangeranan diatas punggung kuda, meskipun ia harus turun sebelum sampai di depan pendapa, dan kemudian mengikatkan kudanya di depan gandok”

“O“

“Peraturan itu berlaku dimanapun. Dan sekarangpun aku tidak perlu turun dari kuda”

“Maaf tuan. Aku adalah seorang pedesan. Meskipun aku bekerja pada Pangeran Mangkubumi, tetapi aku berasal dari Sukawati ini. sehingga aku tidak mengetahui peraturan yang seharusnya berlaku. Tetapi di pesanggrahan ini, tuan harus turun dari kuda apabila tuan memasuki regol ini”

“Tidak. Aku tidak akan turun”

“Tuan“ berkata pengawal itu “Aku hanyalah seorang abdi. Aku tidak, dapat menolak perintah tuanku. Karena itu, jika tuan kasihan kepada kami, agar kami tidak berbuat salah dan yang mungkin mempunyai akibat yang luas bagi kami berdua dan keluarga kami, kami persilahkan tuan turun”

Sebelum Rudira menjawab, Ki Demang di Sukawati telah mendahului “Tuan, kami berharap bahwa tuan berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Tanah Sukawati adalah tanah kalenggahan. Karena itu semua peraturan yang berlaku disini bersumber kepada Pangeran Mangkubumi. Memang mungkin dengan demikian ada beberapa perbedaan dengan peraturan yang berlaku di tempat lain, bahkan di Negari Ageng sekalipun. Tetapi demikianlah yang dikehendaki oleh Pangeran Mangkubumi”

Raden Rudira menggeram. Dengan mata yang menyala ia berkata lantang “Apakah hal ini bukan sekedar pokal kalian? Sejak aku memasuki padukuhan ini aku sudah melihat sikap orang-orang Sukawati yang mencurigakan, seperti sikap petani yang aku jumpai di bulak Jati Sari. Dengan demikian aku menjadi semakin yakin, bahwa orang itu memang berkata sebenarnya. Agaknya memang menjadi ciri orang-orang Sukawati yang suka menentang perintah orang-orang yang seharusnya dihormati”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Apakah keuntungan kami dengan berbuat demikian? Kami sekedar menjalankan tugas kami seperti yang dikatakan oleh para pengawal pesanggrahan ini”

Raden Rudira menggeretakkan giginya. Tanpa disadarinya ia berpaling kepada Sura. Tetapi Sura telah mendahului meloncat dari punggung kudanya diikuti oleh para pengiringnya yang lain serta kelima pengawal Ranakusuma.

Raden Rudira tidak dapat berbuat lain daripada memenuhi. Tetapi betapa hatinya menjadi sakit. Dua kali ia dipaksa turun dari kudanya.

“Kalau aku tahu, bahwa kali ini aku harus turun untuk kedua kalinya, aku tidak akan turun tadi di halaman Kademangan“ Ia menggerutu di dalam hatinya.

Setelah meloncat turun, maka iapun segera menyerahkan kudanya kepada pengiringnya. Sambil menjinjing wiron kain panjangnya ia berjalan menuju ke pendapa pesanggrahan Pangeran Mangkubumi.

Sejenak ia berdiri termangu-mangu di muka pendapa. Ada hasratnya untuk menunjukkan kebesaran dirinya dengan melangkahi tangga naik ke pendapa. Tetapi hatinya tiba-tiba menjadi ragu-ragu. Pendapa yang sepi lengang itu terasa terlampau agung baginya. Pendapa yang sama sekali tidak berisi peralatan apapun juga itu, rasa-rasanya mengandung pengaruh yang tidak terkatakan.

“Apakah tuan akan naik?“ bertanya para pengawal.

Rudira menjadi ragu-ragu. Tetapi untuk mengatasi keragu-raguan itu ia bertanya “Kaulah yang seharusnya mempersilahkan aku naik. Aku adalah tamu disini”

“Jika demikian, maka baiklah aku beritahukan bahwa tuan rumah tidak berada di rumahnya. Apakah tuan akan menunggu atau tuan akan kembali?“

Pertanyaan itu benar-benar telah menggetarkan dada Raden Rudira. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa orang-orang Sukawati itu adalah orang-orang yang sama sekali tidak mengenal sopan santun dan tata hubungan dengan para bangsawan. Karena itu, rasa-rasanya darahnya telah mendidih di dalam jantungnya. Tetapi ia harus tetap menahan diri, agar ia tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan persoalan dengan para pengawal pesanggrahan itu dan para bebahu Kademangan. Justru karena itulah maka dadanya menjadi sesak karenanya.

Dengan demikian maka sejenak suasana menjadi tegang. Raden Rudira berdiri dengan tubuh gemetar. Sedang Sura dan para pengiring yang lain menjadi termangu-mangu, menunggu perintah Raden Rudira selanjutnya

Namun agaknya Raden Rudira masih berusaha untuk mempertahankan harga dirinya. Karena itu maka iapun kemudian berkata kepada para pengawal “Aku adalah keluarga Ramanda Pangeran Mangkugumi. Hubunganku dengan Ramanda Pangeran adalah jauh lebih dekat dari hubungan kalian yang hanya sekedar sebagai seorang abdi dengan tuannya. Karena itu, kalianpun harus menghormati aku sebagai keluarga dekat dari tuanmu”

“Tentu tuan. Kami akan tetap menghormati tuan dalam batas-batas yang diijinkan”

“Aku akan bermalam di pesanggrahan ini bersama pengiringku”

Para pengawal itu terkejut mendengar kata-kata itu. Sejenak mereka saling berpandangan.

Salah seorang dari merekapun kemudian berkata “Tuan, saat ini Pangeran Mangkubumi tidak ada di pesanggrahan ini. Karena itu, kami tidak dapat menentukan, apakah kami dibenarkan menerima tuan bermalam di pesanggrahan ini“

“Pesanggrahan ini adalah pesanggrahan Ramanda Pangeran. Pesanggrahan pamanku sendiri. Kenapa kalian membuat pertimbangan yang terlalu berbelit-belit”

“Bukan maksud kami. Tetapi kami tidak berani menentukan“ pengawal itu menyahut “Tetapi jika tuan memang menghendaki, tuan kami persilahkan bermalam di gandok sebelah kanan”

“Di gandok? Jadi aku, Raden Rudira, Putera Pangeran Ranakusuma harus bermalam di gandok?“

“Bukan maksud kami merendahkan tuan. Apalagi tuan adalah putera Pangeran Ranakusuma. Tetapi kami tidak berani menerima tuan bermalam di Dalem Agung dari pesanggrahan ini, karena kami tidak mendapat wewenang untuk itu”

“Bodoh sekali. Kalian tidak lebih dari seekor kuda penarik pedati. Kalau kendali ditarik ke kiri, baru kau berbelok ke kiri. Kalau kendali ditarik kekanan baru kau berbelok kekanan”

“Maaf tuan. Demikianlah keadaan seorang abdi yang sebenarnya. Kami memang tidak lebih dari seekor kuda pedati. Karena itu kami tidak berani menerima tuan di Dalem Agung” pengawal itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi di gandokpun tersedia perlengkapan yang cukup Tuan akan dapat berbaring dengan tenang dan beristirahat secukupnya”

Dada Raden Rudira rasa-rasanya akan meledak. Timbul juga menyesalannya bahwa ia telah sampai ke padukuhan Sukawati. Ternyata orang-orang Sukawati. adalah orang-orang yang memang keras kepala. Seperti juga petani yang pernah ditemuinya di bulak Jati Sari.

Karena itu, maka untuk sejenak Raden Rudira menggeram. Hampir saja ia memaksa para pengawal itu. Persoalan yang dapat timbul kemudian dapat diserahkan kepada ayahnya, seandainya Ramanda Pangeran Mangkubumi menjadi marah. Kalau perlu ayahandanya dapat minta bantuan kepada Kumpeni. Kalau Pangeran Ranakusuma berkeberatan, maka ibunya pasti akan bersedia mengusahakannya, sehingga Pangeran Mangkubumi tidak akan dapat bertindak apapun juga atasnya.

Tetapi ketika ia melihat dua orang pengawal, Ki Demang Sukawati, dan dua orang bebahu Kademangan yang menyertainya, hatinya serasa bergetar. Satu dari para petani di Sukawati sudah dikenal kemampuannya. Apalagi kini ia berhadapan dengan lima orang, bukan saja petani biasa. Tetapi seorang dari mereka adalah Demang Sukawati, yang lain bebahunya dan dua orang pengawal pesanggrahan.

Tanpa disadarinya ia memandang para pengiringnya. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Apakah para pengiringnya termasuk lima orang pengawal yang paling baik dari Ranakusuman itu mampu menghadapi orang-orang Sukawati.

Tetapi ketika terbayang olehnya orang-orang yang berdiri di sebelah menyebelah jalan sambil menyilangkan tangannya di dada, ia merasa ngeri sendiri. Orang-orang itu memang tidak ubahnya seperti kuda pedati. Mereka tidak akan mampu berpikir. Jika atasannya memerintahkannya untuk berkelahi, maka merekapun akan berkelahi, siapapun yang akan menjadi lawannya. Jika ternyata mereka mempunyai kemampuan seperti petani yang ditemuinya di bulak Jati Sari itu. maka seluruh rombongannya akan mengalami bencana.

Dan ternyata betapapun Raden Rudira membusungkan dadanya, ia memang bukan seorang yang berjiwa besar. Karena itu, ia tidak memilih meninggalkan pesanggrahan itu meskipun harus bermalam di tengah hutan. Ternyata betapa dadanya menggelegak, ia berkata “Hanya karena aku tidak mau berselisih dengan keluarga Ramanda Pangeran Mangkubumi sajalah aku bersedia menginap di gandok. Jika aku memaksa, maka akan dapat menimbulkan salah paiham di antara kami dan Ramanda Pangeran Mangkubumi, meskipun seandainya Ramanda Pangeran Mangkubumi mengetahui persoalan yang sebenarnya, tentu kalianlah yang akan mengalami bencana. Baik bagi kalian sendiri, maupun bagi keluarga kalian”

Tidak soorangpun yang menjawab. Seolah-olah mereka membiarkan saja apa yang akan dikatakan oleh Raden Rudira. Namun ia dengan terpaksa telah bersedia menginap di gandok bersama para pengiringnya.

“Nah tuan” berkata Ki Demang kemudian “Tuan telah mendapat- tempat yang baik untuk menginap. Karena itu, kami minta diri untuk kembali ke Kademangan”

“Tetapi aku memerlukan kau. Besok sejak pagi-pagi kau harus mengantarkan aku, mengelilingi padukuhanmu untuk mencari petani yang telah menghinakan kami”

“Baik tuan. Di pagi-pagi hari aku sudah ada di halaman pesanggrahan ini”

Rudira tidak menyahut lagi. Dipandanginya saja Demang Sukawati yang kemudian minta diri kepada kedua pengawal pesanggrahan itu.

Demikianlah, maka Raden Rudira malam itu bersama para pengiringnya Di tempatkan di gandok sebelah kanan. Betapa sakit hati putera Pangeran Ranakusuma, tetapi ia tidak dapat memaksa untuk tinggal di Dalem Ageng pesanggrahan itu.

Ketika di malam hari Raden Rudira membentak-bentak Sura, yang baginya terasa sama sekari tidak dapat membantunya, maka seorang pelayan telah mendatanginya. Dengan hormatnya ia bertanya kepada Raden Rudira “Apakah yang telah terjadi tuan? Agaknya tuan marah sekali kepada pengiring tuan itu”

“Jangan turut campur. Itu adalah persoalanku”

“Kami, para abdi di pesanggrahan ini terkejut dan bahkan ada yang menjadi ketakutan”

“Apa pedulimu”

“Sebaiknya tuan tidak membentak-bentak”

“Kau, kau memerintah aku ya? Aku adalah putera seorang Pangeran”

“Apalagi putera seorang Pangeran, sedang seorang Pangeranpun tidak berlaku seperti tuan. Pangeran Mangkubumi tidak pernah membentak-bentak seperti tuan“

“Aku tidak peduli”

“Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang tenang. Sikapnya matang sebagai sikap seorang Pangeran. Tetapi ia adalah seorang yang ramah tidak dibuat-buat. Kalau ada di antara kami yang berbuat salah, maka Pangeran Mangkubumi memberikan nasehat kepada kami, agar kami tidak mengulangi kesalahan itu”

“Aku tidak peduli. Aku tidak peduli”

Tetapi abdi pesanggrahan itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ia berkata terus ”Namun dengan demikian sikapnya memiliki perbawa. Pandangannya tajam dan setiap katanya bernilai buat kami” ia berhenti sejenak, lalu “Tuan. sebenarnya Pangeran Mangkubumipun selalu berada di gandok. Tetapi gandok sebelah kiri. Jarang sekali Pangeran Mangkubumi berada di Dalem Agung, yang dengan demikian seakan-akan terpisah dari lingkungannya. Kami adalah sahabat-sahabat yang sangat dekat dengan Pangeran Mangkubumi meskipun kami adalah abdinya. Seakan-akan tidak ada batas di antara kami. orang-orang kecil yang sama sekak tidak mempunyai setitikpun darah keturunan dari kraton, dengan Pangeran Mangkubumi, keturunan pertama dari seorang raja, karena bagi Pangeran Mangkubumi, di antara kami memang tidak ada batasnya”

“Bohong, bohong. Kau berbohong”

“Aku berkata sebenarnya tuan Itulah Pangeran Mangkubumi. Meskipun tuan adalah kemanakannya, tetapi ternyata bahwa kami lebih dekat dengan Pangeran itu daripada tuan. Bukan saja dekat dalam pengertian lahiriah, tetapi hati kamipun terlalu dekat pula”

“Bohong, bohong“ ternyata Raden Rudira telah berteriak pula

Abdi pesanggrahan itu terkejut mendengar bentakan-bentakan yang semakin keras itu. Tetapi iapun kemudian berusaha menguasai dirinya dan berkata lebih lanjut “Apakah tuan akan mengenal Ramanda tuan itu lebih dekat?“

“Apa maksudmu?“

“Agar tuan tidak menyangka aku berbohong, maka marilah tuan melihat-melihat apa yang ada di dalam bilik Pangeran Mangkubumi di gandok sebelah kiri. Bukan di Dalem Ageng. Karena di Dalem Ageng tuan akan menjumpai kelengkapan pesanggrahan seorang Pangeran. Sebuah batu hitam beralaskan kulit harimau tempat duduk Pangeran Mangkubumi. Sebuah songsong bertangkai panjang. Beberapa buah tombak pusaka, meskipun bukan pusaka Pangeran Mangkubumi yang paling bertuah, dan beberapa kelengkapan yang lain. Tetapi berbeda sekali dengan isi gandok, yang justru merupakan tempat tinggal Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya apabila ia berada di Pesanggrahan ini”

Sejenak Raden Rudira menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Sura yang kosong. Kemudian beberapa orang pengiringnya.

“Apakah tuan ragu-ragu?“ tiba-tiba pelayan itu bertanya.

“Ya” jawab Raden Rudira “Apakah ada manfaatnya?”

“Tentu ada Raden. Agar tuan dapat mengenal Ramanda tuan dengan baik. Sebagai seorang kemanakan, tuan akan dapat lebih mendekat lagi kepadanya”

Raden Rudira masih tetap ragu-ragu. Meskipun sebenarnya ia memang kemenakannya, tetapi rasa-rasanya jarak antara Ranakusuman dan Mangkubumen memang terlampau jauh.

Tetapi ternyata abdi pesanggrahan itu mendesaknya “Tuan. marilah. Tuan akan melihat Ramanda Pangeran Mangkubumi seutuhnya”

Dada Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Tetapi ada juga keinginannya untuk melihat, apakah yang dimaksud oleh pelayan itu. Sehingga karena itu, maka iapun kemudian menjawab “Baik. Aku akan melihat gandok sebelah kiri” Lalu katanya kepada Sura “Sura, ikuti aku”

Keduanya itupun kemudian diantar oleh abdi pesanggrahan itu pergi ke gandok sebelah kiri Dengan ragu-ragu Raden Rudira mengikuti langkah pelayan itu. Ada juga timbul kecurigaannya menilik sikap dan sifat-sifat orang Sukawati yang seolah-olah disaput oleh rahasia yang baur.

Ketika mereka memasuki ruang depan dari gandok itu, dilihatnya perlengkapan yang sederhana. Lebih sederhana dari perlengkapan yang ada di gandok kanan. Di ruang itu terdapat sebuah amben bambu yang besar. “Sebuah bancik lampu dan geledeg bambu. Buat apa amben sebesar ini?“ bertanya Raden Rudira.

“Ini adalah kehendak Pangeran Mangkubumi sendiri. Jika Pangeran Mangkubumi mengunjungi rumah-rumah orang miskin, maka, selalu ditemukannya sebuah amben sebesar ini, atau katakanlah satu-satunya kelengkapan rumah rakyat kecil adalah amben semacam ini. Ada juga yang memiliki geledeg bambu dan bancik dlupak minyak kelapa seperti ini”

“Huh“ tiba-tiba Raden Rudira berdesah “Apakah sebenarnya gunanya Ramanda Pangeran membuat suasana pesanggrahan serupa ini?“

“Pangeran Mangkubumi ternyata merasa tenteram berada di dalam suasana ini. Jauh lebih tenteram daripada berada di Dalem Ageng dalam suasana yang penuh ketegangan. Disini Pangeran Mangkubumi dapat duduk selonjor bersandar tiang atau dinding sambil minum air panas dan makan jagung rebus. Tetapi tidak di Dalem Ageng. Jika Pangeran Mangkubumi duduk dialas batu yang beralaskan kulit harimau itu dan dihadap oleh para bebahu Kademangan, suasananya memang menjadi kaku dan tegang. Karena itu Pangeran Mangkubumi lebih senang menerima Demang di Sukawati di ruangan ini sambil duduk seenaknya”

Raden Rudira tiba-tiba merasa dadanyalah yang menjadi tegang Tingkah laku Pangeran Mangkubumi itu sama sekali tidak disukainya. Dengan demikian Pangeran itu telah merendahkan derajadnya sendiri. Derajad yang sebenarnya harus dipertahankan, Seandainya Raden Rudira itu juga seorang Pangeran, maka ia pasti akan berbuat sesuatu untuk menghentikan solah Pangeran Mangkubumi itu.

“Akibatnya dapat dilihat langsung“ Ia berkata di dalam hatinya “ternyata orang-orang Sukawati tidak menaruh hormat lagi kepada para bangsawan. Mereka menganggap aku ini sederajad saja dengan mereka”

Dalam pada itu, maka pelayan pesanggrahan itupun berkata “Marilah tuan, silahkan tuan masuk ke ruang dalam. Ke bilik Pangeran Mangkubumi”

Raden Rudira menjadi ragu-ragu, sehingga pelayan itu berkata “Ramanda tuan tidak akan marah. Tempat ini seperti banjar Kademangan saja. Semua orang boleh masuk. Tetapi tidak di Dalem Ageng. Hanya orang-orang tertentu dan dalam keadaan tertentu saja orang boleh memasuki Palem Ageng”

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian mengikuti pelayan itu memasuki sebuah bilik di ruang dalam gandok sebelah kiri itu.

Tiba-tiba dada Raden Rudira merasa berdentangan ketika ia melihat beberapa potong pakaian tergantung di dinding. Dengan serta merta ia bertanya “Pakaian siapakah itu?“

“Pangeran Mangkubumi” jawab pelayan itu.

”Bodoh kau, yang aku maksud adalah pakaian yang tergantung itu. Bukankah pakaian itu pakaian seorang petani. Tutup kepala yang besar dan ikat pinggang kulit kasar itu?“

“Ya. Itu adalah pakaian Pangeran Mangkubumi jika Pangeran ada disini”

“Bohong. Bohong” sekali lagi Rudira berteriak “pakaian itu adalah pakaian seorang petani”

Pelayan itu menjadi heran. Jawabnya “Ya, pakaian itu memang pakaian seorang petani” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi kenapa tuan harus berteriak-teriak. Para abdi pesanggrahan ini tidak biasa mendengar seseorang membentak-bentak seperti tuan. Kenapa seseorang harus membentak-bentak? Dan kenapa orang lain harus dibentak-bentak?“

”Diam, diam kau. Kau jangan membuat aku marah”

“Baiklah. Tetapi aku tidak biasa melayani seseorang seperti tuan. Jika tuan jemu menyaksikan ruangan Ramanda Pangeran, tuan aku persilahkan kembali ke bilik tuan di gandok sebelah kanan”

Rudira berdiri tegak seperti patung. Jawaban itu menyakitkan hatinya. Tetapi yang lebih mendebarkan jantungnya adalah pakaian yang tergantung di dinding itu.

“Apakah benar pakaian itu. pakaian Ramanda Pangeran?“ pertanyaan itu telah mengetuk dinding jantungnya. Serasa semakin lama semakin keras.

Namun tiba-tiba sekali lagi ia berkata keras-keras “Bohong sekali. Tentu tidak benar bahwa pakaian itu adalah pakaian Ramanda Pangeran”

Tetapi pelayan itu menyahut “Terserahlah kepada tuan, apakah tuan mempercayainya atau tidak. Tetapi pakaian itu sebenarnyalah pakaian Pangeran Mangkubumi”

“Tetapi kenapa pakaian itu sekarang tidak dipakainya?“

“Tentu Pangeran Mangkubumi tidak hanya mempunyai pakaian sepengadeg itu”

Terasa sesuatu telah menggetarkan dada Raden Rudira. Seakan-akan ia pernah melihat pakaian seperti pakaian yang tergantung di dinding itu.

Karena itu. untuk melepaskan ketegangan yang tiba-tiba telah mencengkam dadanya, Raden Rudira berkata lantang “Cukup. Aku sudah cukup melihat-melihat gandok ini. Aku tidak percaya bahwa Ramanda Pangeran Mangkubumi selalu berada di gandok ini. Pakaian ini pasti pakaian kalian, abdi-abdi pesanggrahan yang deksura dan tidak mengenal sopan santun. Kalau Ramanda Pangeran mengetahui, bahwa kalian telah berani berada di gandok ini seperti berada di rumah kakek dan nenekmu sendiri, maka Ramanda Pangeran pasti akan menjadi marah sekali. Kalian akan dipecat dan bahkan kalian akan mendapat hukuman”

“Tuan” sahut abdi itu “Kalau Pangeran Mangkubumi tidak berkenan di hatinya. apakah mungkin, kami para abdi berani memasukkan amben sebesar itu ke dalam gandok ini meskipun Pangeran tidak ada di pesanggrahan?“

“Diam, diam. Jangan membual lagi, Aku tidak mau mendengarnya. Aku akan kembali ke gandok kanan. Ternyata pesanggrahan ini diliputi oleh suasana yang tidak menyenangkan apabila Ramanda sedang tidak berada disini. Kalian merasa, seolah-olah pesanggrahan ini adalah milikmu sendiri”

Abdi itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Baiklah jika tuan tidak percaya Marilah, aku persilahkain tuan kembali ke gandok sebelah kanan. Tetapi aku telah berkata sebenarnya, Terserahlah atas penilaian tuan“

Kemarahan Raden Rudira rasa-rasanya tidak lagi dapat ditahan. Hampir saja ia berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirinya sendiri. Untunglah, selagi ia berjuang menahan perasaannya, Sura telah menggamitnya. Dan sentuhan tangan Sura itu seakan-akan membuat Raden Rudira semakin menyadari keadaannya.

Demikianlah, maka Raden Rudira itupun diantar kembali ke gandok sebelah kanan. Namun sepatah katapun Raden Rudira tidak berbicara lagi dengan pelayan pesanggrahan itu”

Tetapi dalam pada itu, di kepalanya sedang berkecamuk persoalan yang hampir tidak masuk akalnya. Pakaian yang tergantung itu, menurut keterangan pelayan pesanggrahan adalah pakaian Ramanda Pangeran Mangkubumi.

“Bohong. Orang itu mencoba membohongi aku”

Dan terasalah olehnya, bahwa pesanggrahan itu agaknya telah diliputi oleh suatu rahasia. Seperti di dalam kabut di waktu pagi,
maka yang dapat dilihatnya itu adalah sekedar bentuk yang samar-samar.

Ketika ia sudah duduk kembali di dalam bilik di gandok sebelah kanan, maka iapun mulai mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Para pengiringnya yang berada di luar bilik itupun mendengar langkah kakinya yang gelisah. Kadang-kadang Raden Rudira membanting dirinya, duduk di pembaringan. Namun kadang-kadang dengan tergesa-gesa ia meloncat berdiri dan berjalan hilir-mudik.

Akhirnya, dada Raden Rudira serasa tidak tahan lagi merendam perasaannya. Dengan serta-merta dipanggilnya Sura yang berada di luar biliknya

Dengan tergesa-gesa Sura melangkah terbungkuk-bungkuk mendekati Raden Rudira yang berdiri di sudut biliknya.

“Sura” berkata Raden Rudira “Apakah kau percaya kepada abdi pesanggrahan ini?“

Sura termangu-mangu sejenak. Terasa berat sekali untuk mengatakan yang sebenarnya tersirat di dalam hatinya.

“Apakah kau percaya he?“

“Maaf Raden” berkata Sura “sebenarnyalah bahwa aku percaya kepada abdi pesanggrahan itu”

“Kau percaya he? Kau mempercayainya?“

Sura menundukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab dengan suara bergetar “Ya tuan. Aku mempercayainya”

“Jadi kau percaya juga bahwa pakaian itu pakaian Ramanda Pangeran?”

“Ya Raden “

“Gila. Kau juga sudah gila” Raden Rudira berhenti sejenak, lalu “Aku merasa pernah melihat pakaian serupa itu. Tetapi tentu ada lebih dari seribu rakyat kecil yang mengenakan pakaian serupa itu. Kain lurik kasar, tutup kepala lebar dan baju lurik bergaris tebal”

“Tuan benar. Tuan memang pernah melihatnya?”

“Ya, dan sudah aku katakan, ada seribu orang yang mengenakan pakaian serupa itu. Tentu para abdi di pesanggrahan inipun sering mengenakan pakaian serupa itu”

“Apakah tuan ingat, dimana tuan melihat pakaian serupa itu yang terakhir kali?“

Meskipun Rudira tidak senang mendengar pertanyaan itu, tetapi ia mencoba mengingat-ingat. Namun ia menggelengkan kepalanya

“Tidak. Aku tidak mempunyai kesempatan mengingat-ingat pakaian petani kecil”

“Tetapi petani yang seorang ini agak lain Raden” sahut Sura kemudian.

“Maksudmu?“

“Apakah tuan ingat pada petani yang tuan cari?“

“Ya”

“Pakaiannya?“

Rudira mengingat-ingat sejenak. Lalu tiba-tiba ia berkata lantang
“Ya. Itulah yang kita cari. Orang yang mengenakan pakaian itu. Tentu ia orang Sukawati. Kita akan segera menemukannya. Bahkan mungkin ia orang pesanggrahan ini pula”

“Raden” berkata Sura kemudian “Jika tuan menghubungkan pakaian itu dengan petani dari Sukawati yang tuan cari, dan ceritera tentang pakaian itu oleh abdi pesanggrahan ini, tuan pasti akan dapat mengambil kesimpulan”

“He?“ tiba-tiba wajah Rudira menjadi pucat.

“Dan apakah tuan dapat membayangkan kembali bentuk petani dari Sukawati itu”

“Tidak. Tidak“ tiba-tiba Rudira berteriak. Namun kemudian tubuhnya menjadi gemetar. Terbayang kembali petani yang dijumpainya di bulak Jati Sari. Petani yang bertubuh tegap kekar, dan mengenakan pakaian serupa yang tergantung di dinding itu. Atau bahkan pakaian itulah yang memang dipakainya.

“Orang itu bertubuh tinggi, besar, bermata tajam. Ia memiliki kemampuan yang hampir tidak terkatakan. Ia menguasai olah kanuragan yang sempurna. Aku merasakan langsung sentuhan tangannya yang membuat aku hampir kehilangan semua kekuatan” desis Sura.

“Cukup, cukup”

“Raden. Bayangkan wajah yang kotor oleh debu itu. Apakah Raden tidak mengenalnya? Aku tidak dapat segera mengenal waktu itu, tetapi setelah aku merenung justru sekarang aku mengetahui dan yakin . . . . . . . . . . . . . . ”

Kata-kata Sura terputus, karena tiba-tiba saja Rudira telah menampar mulutnya, sambil berteriak “Diam, diam kau”

Sura hanya terdorong selangkah surut. Meskipun tangan Rudira itu terasa sakit di pipinya, namun ia meneruskan “Orang yang tuan cari sekarang itulah Pangeran Mangkubumi”

“Diam. diam, diam“ Rudira berteriak-teriak, sehingga para pengiringnya mengerutkan keningnya. Tetapi mereka mendengar percakapan di dalam bilik itu. Dan merekapun menjadi berdebar pula karenanya.

Surapun kemudian terdiam. tetapi rasa-rasanya dadanya sudah menjadi lapang. Yang tidak pernah berani dilakukan, telah dilakukannya. Selagi Rudira membentak-bentak, bahkan telah menampar pipinya, ia masih juga berbicara terus dan berhasil mengucapkan nama itu, Pangeran Mangkubumi.

Ternyata nama itu telah mempengaruhi setiap dada dari para pengiring Raden Rudira. Jika yang dikatakan Sura itu benar, apakah mungkin mereka akan meneruskan usaha mereka untuk menemukan petani yang deksura di bulak Jati Sari itu?.

Suasana yang tegang sejenak telah mencengkam semua orang di dalam iring-iringan Putera Pangeran Ranakusuma yang sedang dicengkam oleh kebimbangan. Kadang-kadang ia berusaha juga membayangkan wajah Petani yang dijumpainya di Jati Sari. Namun tiba-tiba ia menggeleng sambil menggeretakkan giginya, seolah-olah ia ingin menghalau pengakuan kenyataan yang di hadapinya.

“Tidak mungkin, tidak mungkin” tiba-tiba ia menggeram.

Sura tidak menyahut. Ia mengerti bahwa yang dimaksud oleh Raden Rudira adalah petani yang dijumpainya di Jati Sari itu. Namun Sura sama sekali tidak berbuat sesuatu. Tidak berkata apapun juga dan tidak bergerak dari tempatnya.

Dan tiba-tiba saja Raden Rudira membentaknya “Kau berbohong Sura. Kau sudah menjadi pengecut, Karena kau melihat sikap orang-orang Sukawati, kau telah membuat bayangan khayal itu, agar aku mengurungkan niatku mencarinya dengan menjelajahi seluruh wilayah Sukawati.

Sura tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dalam-dalam,

“Aku tidak percaya. Besok kita meneruskan usaha ini. Aku harus menemukannya dan membawanya ke istana Ranakusuman” geram Raden Rudira. Meskipun demikian terasa betapa ia sedang berusaha mengatasi gejolak di dalam hatinya sendiri.

Dalam pada itu Sura masih tetap diam. Ia masih saja menundukkan kepalanya. Ia sudah mengatakan apa yang tersirat di hatinya. Dan ia sudah puas karenanya, Apapun yang akan terjadi atas Raden Rudira dan pengiringnya termasuk dirinya sendiri tergantung sekali kepada sikap dan tanggapan Raden Rudira.

Sura terkejut ketika tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak “Pergi, pergi kau pengecut”

Sura membungkukkan badannya dalam-dalam. Kemudian iapun melangkah surut sambil terbungkuk-bungkuk pula meninggalkan bilik Raden Rudira itu.

Di luar Sura segera dikerumuni oleh kawan-kawannya dan pengawal khusus dari Ranakusuman itu. Sambil berbisik-bisik mereka minta agar Sura menjelaskan, kenapa ia menyebut-nyebut nama Pangeran Mangkubumi.

“Itulah Pangeran Mangkubumi” berkata Sura kemudian “Tidak seorangpun yang dapat menatap tajam pandangan matanya. Kekuatan yang ada di dalam dirinya bagaikan kekuatan seratus banteng ketaton, dan ilmu kanuragan yang dikuasainya, meliputi segala macam kemungkinan yang ada. Namun ternyata hatinya bersih sebersih mata air di lereng pegunungan”

“He, apakah kau sedang bermimpi?“ bertanya salah seorang kawannya yang tahu benar tentang keadaan Sura selama ini.

“Aku sadar, bahwa aku adalah penjilat yang paling rendah di dalam Ranakusuman. Tetapi menghadapi Pangeran Mangkubumi aku mempunyai kesan tersendiri di antara para Pangeran yang. ada di Surakarta”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka mendesak “Jadi menurut dugaanmu, petani yang kita jumpai di bulak Jati Sari itulah Pangeran Mangkubumi itu sendiri”

“Ya. Dan ini bukan sekedar bayangan ketakutan karena aku berada di tengah-tengah rakyat Sukawati yang aneh, yang diliputi oleh rahasia ini. Tetapi ketika aku melihat pakaian yang tergantung di gandok sebelah kiri, dan abdi pasanggrahan ini menyebut bahwa pakaian itu adalah pakaian Pangeran Mangkubumi. maka aku mulai merenungi wajah itu lagi. Wajah yang waktu itu kotor oleh keringat dan debu. Tetapi kalau kita berhasil membayangkan kembali sorot matanya, ialah Pangeran Mangkubumi itu”

“Ah” berkata salah seorang pengawal “mungkin kau keliru. Apakah Pangeran Mangkubumi merendahkan dirinya berpakaian sebagai seorang petani dan berjalan menyusuri bulak Jati Sari”

“Memang hampir mustahil. Tetapi aku meyakininya”

“Aku kenal betul wajah Pangeran Mangkubumi” berkata salah seorang pengawal “Jika kita berhasil menjumpainya, aku akan dapat mengenal”

“Tetapi dalam pakaian seorang petani yang kotor dan kumal, serta wajah yang basah oleh keringat dan noda-noda debu, wajah itu memang berubah, sehingga aku tidak segera dapat mengenalnya. Tetapi sekarang aku yakin. Yakin sekali” suara Sura menjadi semakin mantap.

Tidak seorangpun yang kemudian menyahut. Tetapi mereka mencoba membayangkan kembali wajah petani itu, kecuali para-pengawal yang saat itu tidak ikut bersama mereka.

“Seperti kita melihat bintang Bima Sakti” tiba-tiba salah seorang berdesis.

“Maksudmu?“ bertanya Sura.

Semakin tajam kita berangan-angan maka bentuk itu menjadi semakin jelas, seolah ada gambar Bima yang cemerlang di langit yang terjadi dari taburan bintang-bintang yang gemerlapan. Tetapi itui adalah gambaran kita sendiri. Kitalah yang membuat gambar Bima itu. Tidak di langit, tetapi di dalam angan-angan kita”

“O, jadi maksudmu demikian juga dengan petani dari Jati Sari itu?“ sahut Sura “Kita sendirilah yang membuat gambaran seolah-olah orang itu Pangeran Mangkubumi? Gambaran kitalah yang menyesuaikan bentuk orang itu dengan Pangeran Mangkubumi?“

“Itulah yang benar” tiba-tiba mereka terkejut. Ternyata Rudira mendengarkan percakapan mereka, dan tiba-tiba saja ia menyahut ketika ia sudah berdiri di ambang pintu biliknya.

Selangkah demi selangkah Raden Rudira berjalan mendekati para pengiringnya. Satu-satu dipandanginya wajah-wajah yang kemudiar tertunduk. Lebih-lebih lagi Sura. Ia merasa bahwa kepercayaan Rudira kepadanya semakin menurun. Namun ada sesuatu yang melonjak di dalam hatinya. Kekaguman yang luar biasa kepada sikap Pangeran Mangkubumi. Di dalam angan-angannya terbayang kebesaran Pangeran itu Seakan-akan seisi Kademangan Sukawati ini berada di dalam genggamannya. Setiap orang mengarahkan kiblat pandangan hidupnya kepada Pangeran Mangkubumi. Setiap kali nama itu selalu diucapkan oleh siapapun juga di dalam Kademangan ini.

Tetapi jiwa Sura yang kerdil tidak cukup kuat untuk mengungkapkan perasaannya itu. Bagaimanapun juga telah hidup untuk bertahun-tahun lamanya sebagai seorang penjilat di dalam istana Pangeran Ranakusuma. sehingga untuk melepaskan diri dari jalan hidup yang sudah terlalu lama dihayatinya itu terlampau sulit baginya.

Dengan demikian, ketika Raden Rudira berdiri di hadapannya, kepalanya menjadi semakin tunduk. Ia sendiri tidak dapat mengatakannya, kekuatan apakah yang telah mendorongnya untuk mcnyatakan keyakinannya, bahwa orang itu adalah Pangeran Mangkubumi. Tetapi kini ia sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mempertahankan keyakinannya itti.

“Sura” berkata Raden Rudira kemudian “Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba kau sudah berubah. Sudah bertahun-tahun kau berada di Ranakusuman. Selama ini kau adalah abdi yang paling setia dan kau memang memiliki kelebihan dari kawan-kawanmu. Tetapi tiba-tiba kini kau berkerut menjadi seorang pengecut”

Sura tidak menjawab, tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk “Hanya karena kau sudah lama berada di Ranakusuman, maka aku tetap membiarkan kau pada kedudukanmu yang sekarang. Tetapi jika kau benar-benar sudah tidak bermanfaat lagi bagi kami, kau akan segera tersisih, karena orang lain cukup banyak yang memiliki syarat-syarat seperti yang kau miliki sekarang”

Sura masih tetap membeku. Dalam keadaan ymg demikian rasa-rasanya ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan apapun juga melain menundukkan kepalanya. Sura dalam keadaan yang demikian, sama sekali tidak mencerminkan kekasaran yang keganasannya seperti apabila ia sedang berkelahi. Berkelahi untuk kepentingan tuannya yang selama ini telah melimpahkan pemberian kepadanya dan kepada keluarganya.

Tetapi adalah aneh sekali, bahwa di saat ia harus menunduk semakin dalam, ada perasaan lain yang menyelinap di dalam hatinya. Setiap kali perasaannya itu selalu dipengaruhi oleh nama yang bagaikan bergema tidak ada henti-hentinya di seluruh Kademangan Sukawati.

“Alangkah bedanya” katanya di dalam hati “Aku dan orang-orang Sukawati. Aku seorang abdi dan orang-orang Sukawati itu juga seorang abdi seperti abdi pesanggrahan itu, tetapi rasa-rasanya mereka tidak harus selalu menundukkan kepalanya” Bahkan terbayang di rongga mata Sura itu. bahwa abdi Mangkubumen kadang-kadang sempat juga berkelakar dengan Pangeran Mangkubumi, memberikan pendapat dan pertimbangan, bahkan sampai pada persoalan-persoalan yang penting dan pribadi.

“Ah tentu tidak“ Sura berkata kepada dirinya sendiri “itu pasti hanya gambaranku saja. Seperti aku menciptakan bentuk Bima Sakti di langit karena angan-anganku”

Sura terkejut ketika Rudira berkata “Sura. Kau harus mencoba memperbaiki kesalahan-kesalahan yang lelah kau perbuat untuk. mengembalikan kepercayaanku dan ayahanda Pangeran Ranakusuma kepadamu. Kalau kau tidak berhasil, maka nasibmu akan menjadi sangat jelek”

Tanpa disadarinya Sura mengangguk perlahan sambil menjawab Ya tuan. Aku akan mencoba memperbaikinya”

Namun suasana itu tiba-tiba telah dipecahkan oleh suara tertawa perlahan. Hampir berbareng setiap orang berpaling kearah suara itu. Ternyata salah seorang pengawal yang ikut serta di dalam iring-iringan itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

“Kenapa kau tertawa?“ bertanya Raden Rudira.

“Pengecut itu” jawabnya sambil menunjuk Sura.

Wajah Sura menjadi merah padam. Tetapi ia tidak sempat menjawab ketika Rudira berkata “Teruskan. Kau tentu mempunyai alasan untuk menyebutnya sebagai pengecut”

“Ia menjadi ketakutan melihat sepotong pakaian tergantung di dinding seperti ceriteranya sendiri”

“Kau benar” berkata Raden Rudira. Ketika ia berpaling memandang wajah Sura, dilihatnya orang itu menggertakkan giginya “Jangan marah. Ia berkata sebenarnya. Aku memang sudah berpikir untuk memberikan kesempatan kepada orang lain. Tetapi sudah aku katakan, bahwa karena kau sudah terlalu lama berada di Ranakusuman, maka kau masih mendapat kesempatan jika kau berhasil memulihkan kepercayaanku kepadamu. Terutama selagi kita berada di dalam keadaan yang gawat sekarang ini”

Sura tidak menyahut. Sekali-sekali ia masih memandang pengawal itu dengan sudut matanya. Tetapi pengawal itu seolah-olah acuh tidak acuh saja.

Tanpa disadarinya Sura mulai menilai pengawal itu. Sudah lama ia mengenalnya. Tetapi ia tidak menduga sama sekali, bahwa pada suatu saat ia akan berbuat demikian.

Tubuhnya yang tinggi kekar dan dijalari oleh otot-otot yang kuat, membayangkan keadaan orang itu. Tidak jauh badannya dengan dirinya sendiri. Orang itupun dapat juga disebut raksasa di Ranakusuman. Dan agaknya orang itu sengaja memancing persoalan di dalam saat yang menguntungkan itu baginya. Arahnya dapat jelas dilihat oleh Sura, bahwa orang itu ingin menggantikan kedudukannya.

Tetapi di dalam hal yang demikian, Sura adalah orang yang kasar, dan bahkan hampir liar. Karena itulah maka jantungnya segera dibakar oleh dendam yang menyala di dadanya.

“Kalau ada kesempatan, aku akan menyelesaikan masalah ini” katanya di dalam hati. Tetapi Surapun sadar, bahwa orang itu pasti tahu juga akibat yang bakal dihadapinya. Dan agaknya urang itupun sama sekali tidak takut.

“Memang salah seorang dari kami harus pergi” berkata Sura di dalam hatinya.

Tetapi sementara itu, pengawal yang bertubuh raksasa seperti Sura itupun berkata di dalam hatinya “Kau sudah terlalu lama berkecimpung dalam genangan pemberian yang berlimpah-limpah dari Pangeran Ranakusuma dan Raden Rudira hanya karena kau membasahi tanganmu dengan darah. Akupun dapat berbuat seperti kau, dan salah seorang di antara kita memang harus pergi dari Ranakusuman. Di Ranakusuman cukup ada seorang raksasa saja, dan yang seorang harus pergi”

Tetapi keduanya menyimpan masalah itu di dalam hati mereka. Kini mereka harus mendengarkan Rudira berkata “Besok kita teruskan usaha ini. Kita tidak menghiraukan kicau abdi pesangerahan ini tentang pakaian yang tergantung di dinding gandok kiri itu”

“Kita sudah siap” berkata pengawal yang bertubuh raksasa itu, sementara Sura hanya menganggukkan kepalanya saja.

“Sekarang kalian boleh beristirahat”

Ketika Rudira masuk ke dalam bilik yang disediakan olehnya, Sura dan pengawal yang bertubuh raksasa itu saling memandang untuk, beberapa saat. Namun mereka sama sekali tidak berbicara apa-apa, karena beberapa orang yang mengerti akan keadaan itu Segeja berusaha mengalihkan perhatian mereka berdua.

Sura yang hatinya sedang dibelit oleh berbagai persoalan itu sama sekali tidak menghiraukan lagi kawan-kawannya. Ia langsung membaringkan dirinya diatas tikar disudirt ruangan. Sedang beberapa orang yang lain masih juga duduk sambil berbicara.

“Suasana menjadi panas” berkata salah seorang pengiring Rudira “pengawal itu terlampau bernafsu. Sebenarnya ia dapat mencari kesempatan lain”

“Akibatnya tentu tidak menyenangkan bagi keduainya” sahut yang lain. Tetapi suara mereka seakan-akan hanya dapat mereka dengar sendiri. Mereka menganggap bahwa para pengawal pasti berada di pihak raksasa itu.

Tetapi ternyata bahwa kawani pengawal yang bertubuh raksasa itupun kecewa terhadap sikap itu. Namun demikian mereka tidak berniat untuk mencampurinya. Meskipun pada umumnya mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui orang kebanyakan, namun mereka segan untuk bertengkar dengan kawan sendiri di pihak manapun mereka akan berdiri.

Demikianlah maka malam itu mereka membaringkan diri masing masing dengan ketegangan yang menyesak di dalam dada. Bukan saja karena kawan-kawan mereka bertengkar, tetapi juga karena petani yang mengandung rahasia itu.

Dengan demikian, maka hampir tidak seorangpun yang dapat tidur nyenyak. Sura yang tampaknya berbaring diam di sudut ruangan ternyata hatinya bergolak semakin dahsyat. Semakin tenang keadaan ruangan itu, terasa hatinya menjadi semakin sakit mengingat sikap pengawal yang bertubuh raksasa itu.

“Mandra memang sudah gila” katanya di dalam hati “Aku tidak menyangka bahwa ia begitu bernafsu dan tanpa malu-malu berusaha merebut kedudukan” tiba-tiba saja Sura menggeram “Aku tidak peduli. Tetapi aku pasti akan membual perhitungan, Salah seorang dari kami memang harus pergi”

Namun ternyata bahwa Rudirapun tidak dapat memejamkan matanya. Pakaian yang tergantung di gandok sebelah kiri membuat hatinya menjadi bingung. Kadang-kadang ia mempercayainya, bahwa pakaian Pangeran Mangkubumi. Dan petani yang dijumpainya di bulak Jati Sari itu benar-benar Pangeran Mangkubumi pula.

“Tidak mungkin. Tidak mungkin“ setiap kali ia berusaha mengusir perasaan itu ”hanya seorang Pangeran yang gila sajalah yang berbuat demikian. Dan sudah barang tentu tidak dengan Ramanda Pangeran Mangkubumi”

Namun demikian, perasaan yang bergolak tidak juga dapat ditenangkannya, sehingga Raden Rudira menyadari keadaannya ketika ia mendengar kokok ayam jantan yang penghabisan.

“Fajar” ia berdesis.

Namun ternyata fajar itu telah mengurangi ketegangan di dalam dada Rudira. Ia lebih baik berpacu diatas punggung kuda daripada berada di dalam bilik yang sempit tanpa dapat memejamkan matanya. Sehingga karena itu, maka iapun segera pergi keluar biliknya. Dilihatnya beberapa orang pengiringnya masih tertidur meskipun dengan gelisah, namun Sura yang berada di sudut ternyata telah duduk bersandar dinding.

“Kau sudah bangun?“ bertanya Raden Rudira.

“Ya tuan”

“Kau pasti tidak dapat tidur sama sekali”

“Raden benar“ jawabnya.

“Kemarilah”

Surapun mendekat. Dilangkahinya saja kawan-kawannya yang masih tertidur diatas tikar yang dibentangkan di lantai gandok itu.

“Cari pelayan pasanggrahan itu. Suruhlah mereka menyediakan air panas. Aku akan mandi”

Sura termangu-mangu sejenak. Pesanggrahan ini adalah pesanggrahan Pangeran Mangkubumi Pelayan-pelayan itu adalah pelayan Pangeran Mangkubumi. Apakah mereka tidak menjadi sakit hati apabila Raden Rudira memberikan perintah semena-mena.

“He, kenapa kau diam saja? Cepat. Suruh pelayan-pelayan itu menyediakan air panas”

“Baik, baik tuan. Aku akan mencarinya”

Surapun kemudian keluar dari gandok sebelalah kanan. Langit menjadi semakin terang oleh cahaya merah yang semakin cerah.

Tetapi hati Sura justru menjadi semakin gelap. Ia tidak mengerti, kenarfa kini ia dihinggapi oleh sikap ragu-ragu. Sebagai seorang hamba yang setia, didukung oleh sifat-sifatnya yang kasar, biasanya Sura menjalankan tugas yang diberikan kepadanya tanpa berpikir.

Sura menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian rasa-rasanya ia mulai menemukan dirinya kembali setelah untuk waktu yang lama ia terbenam dalam sikap yang rendah. Menjilat.

“Ternyata selama ini aku telah kehilangan otakku” berkata Sura kepada diri sendiri ”Aku tidak pernah sempat berpikir. Ternyata aku memang tidak lebih dari seekor kuda penarik pedati seperti yang dikatakan oleh abdi pesanggrahan ini kemarin. Meskipun ia mengatakan tentang dirinya sendiri, namun akulah yang lebih dungu dari padanya”

Namun demikian, tidak mudah untuk merubah sikap dengan tiba-tiba. Demikian juga Sura yang perlahan-lahan dirayapi oleh ketidak puasan terhadap dirinya sendiri itu. tidak dapat berbuat lain dari pada mematuhi perintah yang diterimanya. Tetapi ia kini tidak dapat berbuat tanpa berpikir, justru karena ia sudah mulai berpikir.

Dengan ragu-ragu Sura pergi kebagian belakang dari pesanggrahan itu. Dilihatnya di dapur api sudah menyala. Ketika ia menjengukkan kepalanya, dilihatnya dua orang perempuan sedang sibuk memanasi air dan menanak nasi, sambil menuang air untuk mengisi jambangan pencuci alat-alat dapur.

Sejenak Sura berdiri termangu-mangu. Apakah ia akan berbuat seperti yang selalu dilakukannya selama ini? Berbuat tanpa berpikir? Ia dapat saja menyampaikan perintah Raden Rudira itu. Tetapi itu tidak benar menurut perasaannya kini. Ia sudah mendapat kesempatan untuk bermalam. Tetapi apakah ia masih harus memerintah para pelayan, menyediakan air panas untuk mandi.

Ternyata ada sesuatu yang menahan Sura. sehingga ia tidak sampai hati menyampaikan perintah yang semena-mena itu. Tetapi ia juga tidak dapat menolak perintah Raden Rudira untuk menyediakan air panas. Karena itu, maka ia berusaha untuk menemukan jalan.

Kedua perempuan yang ada di dapur itu terkejut melihat Sura yang kemudian muncul dipintu. Tetapi Sura segera mengangguk sambil tertawa kecil “Eh maaf. Mungkin aku telah mengejutkan kalian”

Kedua perempuan itu saling berpandangan sejenak. Tetapi tampak kecemasan di wajahnya.

“Aku adalah salah seorang pengawal Raden Rudira yang bermalam di gandok”

“O“ kedua perempuan itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari merekapun bertanya “Apakah yang kau perlukan sekarang?“

“Aku mendapat perintah agar menyediakan air panas untuk mandi. Apakah aku dapat menumpang merebus air?“

“O” sahut salah seorang dari mereka “Aku sedang merebus air”

“Tetapi bukankah air itu untuk minum?“

“Tetapi air itu cukup banyak. Kalau masih kurang, aku dapat menambahnya. Aku akan mengambil secukupnya untuk membuat air minum. Yang lain dapat kau ambil untuk mandi tamu pesanggrahan ini”

Sura menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia masih berpura-pura berkata “Tetapi itu akan merepotkan kalian”

“Tidak. Tidak mengapa, Kami akan menyediakannya”

Ternyata hal itu merupakan suatu pengalaman baru bagi Sura. la mendapatkan apa yang dikehendaki tanpa membentak dan mengancam.

“Beberapa hari yang lalu, aku tentu bersikap lain dari sekarang” berkata Sura di dalam hatinya “barangkali tiga hari yang lalu, jika aku mendapat perintah itu, aku akan masuk ke dapur ini sambil bertolak pinggang dan berteriak “Sediakan air untuk tuanku”

Sura menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian ia memang akan mendapat air. Tetapi ternyata bahwa dengan cara yang lain ia mendapatkan air panas itu juga. Bahkan sama sekali tanpa menyakiti hati orang lain. Mereka membantunya dengan senang hati dan dengan wajah yang terang, tanpa perasaan takut dan tegang.

“Bodoh sekali” berkata Sura di dalam hatinya “Kenapa baru sekarang aku tahu”

Sura terkejut ketika salah seorang perempuan itu berkata “Silahkan kau menunggu saja. Tidak pantas kau berada di dapur, Selain kau seorang laki-laki, kau adalah tamu-tamu kami”

“Terima kasih. Terima kasih” sahut Sura terbata-bata “Aku akan menunggu di luar”

Surapun melangkah perlahan-lahan keluar dapur. Tanpa disadarinya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata bahwa apa yang pernah dilakukan selama ini, membentak-bentak, mengancam, bahkan dengan kekerasan badaniah, adalah suatu kebodohan dan merusak hubungan baik antar manusia.

Demikianlah dengan kewajaran hubungan dan tanpa menimbulkan persoalan apapun. Sura berhasil memenuhi perintah Raden Rudira, dengan menyediakan air panas di jambangan pakiwan. Bagi Sura, pengalaman yang kecil itu semakin membuka hatinya, bahwa sebenarnyalah selama ini ia tidak mempergunakan otaknya Ia telah dibutakan oleh sikap menjilat dan limpahan borang-orang dari keluarga Ranakusuman.

Tanpa disadarinya, bulu-bulu kuduk raksasa itu berdiri. Terbayang keluarga Ranakusuman yang seorang demi seorang telah dilemparkan keluar. Ia memegang peranan yang cukup penting, dalam hal yang kini terasa olehnya, terlampau kasar. bahkan sekilas terbayang pula olehnya, Raden Juwiring yang terpaksa meninggalkan istana Panakusuman dengan seribu macam alasan, dan berada di padepokan Jati Aking di Jati Sari.

“Hampir saja aku mencelakainya“ gumamnya “untunglah seorang petani yang penuh dengan rahasia itu menyelamatkannya”

Terlintas pula tandang seorang anak muda yang mengagumkannya. Dengan tanpa ragu-ragu anak itu menyerangnya, sehingga untuk sesaat ia tidak berdaya.

“Luar biasa“ Sura berdesis “mereka akan menjadi anak-anak muda yang perkasa kelak. Jauh lebih perkasa dari Raden Rudira”

Sura yang sedang merenung itu terperanjat ketika Raden Rudira memanggilnya dari dalam biliknya di gandok. Dengan tergesa-gesa ia meloncat berdiri dan berlari-lari kecil menghampirinya. Ternyata bahwa ia tidak dapat dengan serta-merta berbuat lain dari perbuatan seorang penjilat.

“Suruhlah semua pengiring bersiap. Kemudian panggillah Demang di Sukawati. Aku akan segera berangkat mengelilingi padukuhan ini untuk mencari orang yang telah merusak sendi tata hubungan antara orang-orang kecil dan para bangsawan itu”

Sura menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Baik, baik tuan” Tetapi masih ada yang agaknya tersangkut di kerongkongannya. Namun ketika Raden Rudira membentaknya, sambil terbungkuk-bungkuk Sura menyahutnya.

“Ya, ya tuan. Aku akan melakukan”

Sikap Sura itu ternyata tidak lepas dari sorotan mata Raden Rudira. Ia melihat suatu kelainan, meskipun samar-samar. Kadang-kadang Sura bersikap biasa sebagai seorang abdi yang setia. Tetapi kadang-kadang matanya memancarkan sinar yang aneh, yang tidak dikenalnya selama ini.

“Kenapa raksasa itu benar-benar menjadi ketakutan di Sukawati dan sekitarnya ini?“ pertanyaan itulah yang selalu menyentuh hati Raden Rudira. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa di dalam hati Sura telah berkembang suatu sikap yang lain, meskipun masih terlampau dalam diliputi oleh ketebalan kabut yang selama ini membungkus isi dadanya.

Sejenak kemudian maka para pengiring itupun sudah siap. Dua orang abdi pasanggrahan sempat juga menghidangkan minuman untuk Raden Rudira dan para pengiringnya.

“Panggil Demang yang malas itu” berkata Raden Rudira kemudian “matahari akan menjadi semakin tinggi, dan aku masih saja berada disini”

Tetapi sebelum Sura pergi ke Kademangan, muncullah dua orang bebahu Kademangan di halaman pesanggrahan. Mereka langsung menemui Raden Rudira sambil berkata “Raden, kami berdua mendapat pesan dari Ki Demang, bahwa Raden bersama para pengring diminta untuk datang ke Kademangan. Ki Demang ingin menjamu makan, karena agaknya Raden bersama para pengiring masih belum makan sejak kemarin malam“

Sejak Raden Rudira termenung. Secercah kegembiraan membayang di setiap wajah yang memang sudah merasa lapar. Namun tiba-tiba Raden Rudira membentak “Kenapa Ki Demang tidak datang kemari sendiri?“

Kedua bebahu Kademangan Sukawati itu mengerutkan keningnya. Sejenak mereka saling berpandangan. Salah seorang dari merekapun kemudian menjawab “Maaf Raden. Ki Demang sedang sibuk sekali menyiapkan jamuan bagi Raden dan para pengiring. Ki Demang tidak dapat mempercayakannya kepada para pelayan, agar jamuan itu tidak mengecewakan Raden”

Raden Rudira mengangguk-angguk. Sebelum ia menjawab dipandanginya setiap wajah para pengiringnya. Agaknya merekapun mengharap undangan itu dapat diterima, karena sebenarnyalah mereka menjadi lapar. Jika mereka berburu, maka semalam mereka pasti sudah makan dengan daging hasil buruan mereka. Tetapi ternyata semalam mereka terbaring dengan gelisah karena di antara kawan-kawan mereka sendiri telah terjadi perselisihan

“Baiklah” berkata Rudira kemudian “Kami akan pergi ke Kademangan sebentar lagi. Suruhlah Ki Demang bersiap, bahwa kita akan segera pergi mencari petani yang telah berani melanggar tata kesopanan terhadap para bangsawan di bulak Jati Sari. Kau dengar”

“Ya, ya Raden. Kami akah menyampaikannya kepada Ki Demang di Sukawati”

“Pergilah mendahului. Kami akan mempersiapkan segala sesuatu yang perlu bagi kami. Kami akan langsung pergi mencari petani itu tanpa kembali ke pasanggrahan ini lagi”

“Baik Raden. Kami akan mendahului”

Raden Rudira memandang kedua bebahu yang meninggalkan pesanggrahan itu dengan kerut-merut dikeningnya. Sejenak kemudian, kedua orang itupun segera lenyap di balik regol, disusul oleh derap kaki-kaki kuda yang berlari kencang.

“Mereka berkuda” berkata Raden Rudira kepada diri sendiri.

Demikianlah maka Raden Rudira bersama pengiringnya, segera mempersiapkan diri masing-masing. Mereka akan segera meninggalkan pesanggrahan itu dengan membawa semua bekal mereka, karena mereka tidak akan kembali lagi ke pesanggrahan itu.

“Sura“ Panggil Raden Rudira kemudian “Panggil para pelayan, Beritahukan, bahwa aku akan pergi”

“Baik, baik Raden” sahut Sura. Tetapi ia masih ragu-ragu, Apakah ia harus memberitahukan kepada para pelayan, atau sebaiknya ia minta diri.

“Kenapa kau masih berdiri disitu?“ bentak Raden Rudira.

“O“ Sura menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Iapun kemudian pergi ke belakang mencari para pelayan.

Tetapi pengalamannya telah membuatnya menjadi seorang yang mempunyai pertimbangan atas tingkah lakunya. Ketika ia bertemu para pelayan, ia sama sekali tidak sekedar memberitahukan bahwa Raden Rudira akan meninggalkan pesanggrahan, tetapi katanya kepada pelayan itu “Ki Sanak, Raden Rudira akan minta diri. Kami akan pergi ke Kademangan, tetapi selanjutnya kami akan langsung meninggalkan Sukawati tanpa singgah ke pesanggrahan ini”

“O“ pelayan itu terkejut “begitu tergesa-gesa? Kami akan menyiapkan makan buat kalian. Kami harap kalian bersabar sebentar”

“Terima kasih. Terima kasih sekali. Kami terpaksa sekali tidak dapat menerima kebaikan hati Ki Sanak. Ki Demang agaknya menduga bahwa tidak ada persediaan di pasanggrahan ini. Karena itu Ki Demang sudah menyediakan makan buat kami. Baru saja dua orang pesuruhnya datang menjemput kami”

“Jadi?“

“Kami minta maaf”

“Lalu buat apa nasi sebanyak ini?“

“Kami sudah terlanjur menyanggupi Ki Demang di Sukawati. Aku kira nilainya sama saja buat kami. Kami telah menerima kebaikan hati rakyat Sukawati”

Pelayan itu tampak kecewa sekali. Tetapi iapun kemudian berdesah “Apaboleh buat”

“Lain kali kami akan datang. Dan lain kali kami akan menolak pemberian siapapun juga. Kini kami dihadapkan pada pilihan yang sama-sama berat”

Pelayan itu mengangguk-angguk.

“Sekarang, kami akan minta diri. Raden Rudira dan para pengiringnya yang lainpun akan minta diri pula”

Pelayan itu menganguk-angguk. Dengan tergesa-gesa ia membenahi pakaiannya. Kemudian diajaknya seorang kawannya menyertainya ke gandok sebelah kanan.

Raden Rudira hampir tidak sabar menunggu. Ketika ia melihat Sura membawa dua orang pelayan mendekatinya, dari kejauhan Raden Rudira sudah berkata “Kami tergesa-gesa”

Kedua pelayan itupun berjalan semakin cepat. Sambil membungkukkan kepala mereka berhenti beberapa langkah di hadapan Rudira. Salah seorang dari mereka berkata “Kami mengucapkan selamat jalan Raden. Sebenarnya kami sedang menyiapkan makan buat Raden dan para pengiring”

“Aku tidak sempat” jawab Raden Rudira “Aku akan pergi ke Kademangan. Selanjutnya aku akan mencari orang yang telah menyakitkan hatiku itu”

Pelayan itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata sekali lagi “Kami mengucapkan selamat jalan”

Raden Rudira menjadi acuh tidak acuh. Bahkan ia merasa bahwa ternyata para pelayan itu kini telah berubah sikap. Mereka terpaksa menghormatinya sebagaimana seharusnya menghormati seorang bangsawan.

“Aku akan pergi”

“Silahkan tuan. Kami sangat berterima kasih bahwa tuan sudi singgah ke pasanggrahan ini”

“Aku singgah di rumah pamanku, tidak di rumah kakekmu “ jawab Raden Rudira.

Kedua pelayan itu saling berpandangan. Tetapi mereka tidak mengucapkan sepatah katapun.

Dan Raden Rudira tidak menghiraukannya lagi. Ia ingin menunjukkan bahwa ia memang seorang bangsawan yang seharusnya dihormati. Tingkah laku para pelayan itu kemarin sangat menyakitkan hatinya. Kini agaknya mereka menyadari, dan menempatkan diri mereka pada keadaan yang seharusnya bagi seorang pelayan.

“Bawa kudaku kemari” tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak. Dengan tergesa-gesa seorang pengiring berlari-lari sambil membawa kuda Raden Rudira.

Tetapi Raden Rudira itu menjadi sangat terkejut ketika pelayan yang disangkanya menyesali tingkah lakunya kemarin itu berkata
“Tuan, maaf. Tuan tidak dapat menaiki kuda tuan di halaman. pesanggrahan ini”

“He“ wajah Raden Rudira tiba-tiba menjadi merah padam. Ternyata ia salah sangka. Ternyata pelayan-pelayan pesanggrahan ini masih saja seperti kemarin. Deksura dan tidak sopan sama sekali.

Namun dengan demikian Raden Rudira justru terdiam. Hanya giginya sajalah yang terdengar gemeretak, serta wajahnya yang semakin merah.

Sura berdiri tegak seperti patung. Kini tanggapannya atas sikap Raden Rudira menjadi lain. Seakan-akan ia melihat seorang bangsawan yang lain dari yang selalu diikutinya. Namun iapun kemudian menyadari, bahwa bukan Raden Rudiralah yang berubah, tetapi tanggapannya atas Raden Rudira itu.

Kedua pelayan itupun menundukkan wajah-wajah mereka. Mereka tidak mau memandang warna-warna merah di wajah Raden Rudira. Namun demikian mereka sama sekali tidak menarik keterangannya itu.

Sejenak kemudian, barulah Raden Rudira dapat berbicara “Jadi kalian masih tetap tidak menyadari kebodohan kalian?“

Kedua pelayan itu terheran-heran. Sejenak mereka saling berpandangan.

“Tuan” berkata salah seorang dari mereka kemudian “Kami hanyalah abdi-abdi pesanggrahan ini. Kami hanya sekedar melakukan tugas kami. Demikianlah yang diperintahkan kepada kami. Tidak seorangpun yang boleh naik kuda di halaman, selain Pangeran Mangkubumi”

“Tetapi aku adalah putera Pangeran Ranakusuma”

“Tidak seorangpun yang diperbolehkan, siapapun orang itu”
“Gila. Kau-bohong. Seandainya Ramanda, Pangeran ada, maka justru Ramanda Pangeran akan menyuruh aku naik diatas punggung kuda bersama semua pengiringku”

“Mungkin, jika itu dikehendaki oleh Pangeran Mangkubumi sendiri. Tetapi tentu kami tidak berani melanggar perintah yang pernah kami terima”

“Aku tidak peduli. Aku tidak percaya bahwa Ramanda Pangeran benar-benar membuat peraturan itu. Itu hanya karena kalian ingin menunjukkan, bahwa kalian berkuasa disini apabila Ramanda Pangeran tidak ada. Sekali-sekali abdi yang paling rendahpun ingin menunjukkan kekuasaannya atas orang yang lebih luhur derajadnya. Tetapi aku tidak peduli, Aku tidak mau mendengar peraturanmu yang cengeng itu”

“Maaf Raden” berkata pelayan itu “Kami sama sekali tidak berusaha mengada-ada Apakah keuntungan kami dengan membuat peraturan-peraturan yang berbelit-belit itu, yang hanya akan mempersulit diri kami sendiri. Tetapi kami mohon dengan hormat, tuan dapat mengerti”

Darah Raden Rudira mendidih sampai keubun-ubun. Tanpa disadarinya ia mengedarkan tatapan matanya. Namun hatinya menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya, dua orang penjaga regol depan telah menutup pintu. Keduanya kemudian berdiri sambil memeluk tombak-tombak panjang mereka. Di sudut halaman ia melihat seorang, juru taman berdiri bersandar dinding Sapu lidinya telah disandarkannya pada dinding halaman. Sedang di tempat lain dilihatnya dua orang abdi pesanggrahan itu juga berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada.

“Gila” Raden Rudira menggeram “Aku akan menyampaikan perlakuan gila-gilaan ini kepada Ramanda Pangeran Mangkubumi. Kalian akan diusir dari pesanggrahan ini”

Tidak seorangpun yang menjawab. Wajah kedua pelayan yang ramah itu, tiba-tiba saja telah menjadi buram.

Raden Rudirapun kemudian melemparkan ujung kendali kudanya kepada pengiringnya yang masih berdiri di sampingnya. Dengan tanpa berbicara separah kalapun ia berjalan dengan tergesa-gesa melintasi halaman yang luas menuju ke regol halaman.

Hatinya menjadi semakin panas, ketika kedua penjaga regol itu tanpa diperintahnya telah membuka pintu. Demikian Raden Rudira melangkah di hadapan mereka, maka merekapun menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

Tetapi Raden Rudira sama sekali tidak berpaling. Ia berhenti sejenak menunggu kudanya. Kemudian dengan menengadahkan dadanya ia meloncat ke punggung kudanya dan berpacu cepat-cepat meninggalkan pesanggrahan yang telah membuat hatinya menjadi pedih.

Para pengiringnyapun kemudian berloncatan naik ke punggung kuda masing-masing. Merekapun segera berpacu mengikuti Raden Rudira yang tanpa! berpaling menjauhi regol itu.

Namun dalam pada itu Sura masih sempat berkata kepada kedua penjaga regol itu “Terima kasih. Selama kami berada di pesanggrahan kami mendapat pelayanan yang menyenangkan sekali.

Para penjaga regol itu tidak menyahut. Namun keduanya tersenyum sambil mengangguk.

Sura terkejut ketika ia mendengar namanya dipanggil oleh Raden Rudira. Dengan dada yang berdebar-debar ia mempercepat langkah kudanya menyusul Raden Rudira yang berada di paling depan.

“Kau tahu jalan ke Kademangan? Aku tidak sempat mengingat-ingat lagi jalan yang kita tempuh kemarin”

Ketika Sura telah berada disisi Raden Rudira, maka iapun berkata “Raden, apakah kita akan mengikuti jalan yang kemarin, atau kita akan mengambil jalan lain yang lebih dekat?“

“Apakah ada jalan lain?“

“Ada Raden”

“Apakah jalan itu lebih baik atau justru lebih jelek?“

Jilid 3 Bab 2 : Ki Demang

“Aku sudah lama tidak melalui jalan itu. Aku tidak tahu apakah jalan itu sekarang menjadi lebih jelek atau masih seperti dahulu”
Raden Rudira berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia berkata “Kita lewati jalan yang pasti. Jalan yang kemarin. Mungkin jalan yang kau kenal itu sekarang sudah dibongkar atau sudah menjadi pategalan”

Sura menarik nafas. Tetapi agaknya itu memang lebih baik. Jika jalan yang akan ditunjukkannya itu jalan yang lebih baik, maka Rudira pasti akan marah dan merasa bahwa ia telah dipersulit oleh Demang Sukawati.

Demikianlah maka mereka menempuh jalan yang semalam dilalui. Meskipun terasa sulit, tetapi di siang hari mereka dapat memilih sisi yang baik untuk dilalui.

Namun semakin dekat dengan regol Kademangan. dada Raden Rudira menjadi semakin berdebar-debar. Masih terngiang kata-kata Ki Demang ketika ia dipaksa turun dari kudanya, ketika ia sampai di kuncung pendapa Kademangan Sukawati.

“Seorang Pangeranpun akan turun dari kudanya” berkata Demang Sukawati itu. Dan Pangeran yang dikatakannya itu adalah Pangeran Mangkubumi.

“Mangkubumi, Mangkubumi“ Rudira menggeram di dalam hati ”setiap orang menyebut namanya, tingkah lakunya yang aneh dan melanggar sendi-sendi tata pergaulan di Surakarta, hubungan antara seorang bangsawan dan rakyat kecil, akan menggoncangkan tata kehidupan di Surakarta”

Tetapi terasa juga kengerian merayap di hatinya. Ia merasa berada di daerah asing yang penuh dengan rahasia. Di perjalanan ke Kademangan inipun ia menjumpai beberapa orang yang berdiri di sebelah menyebelah jalan dengan tangan bersilang di dada. Meskipun mereka melihat Raden Rudira lewat di hadapan mereka, maka mereka hampir tidak memberikan penghormatan apapun juga, selain mengangguk betapapun dalamnya.

“Daerah ini harus dimusnakan” tiba-tiba saja Raden Rudira menggeram di dalam hatinya “Surakarta harus mengetahui apa yang telah terjadi disini. Kumpeni juga pantas diberi tahu. Mungkin aku memerlukan bantuan mereka.

Raden Rudira menyadari angan-angannya ketika ia sudah berada di regol Kademangan. Ia melihat Ki Demang dan beberapa orang bebahu Kademangan sudah siap menyambutnya.

“Gila” desis Raden Rudira “kadang-kadang mereka bersikap sangat sopan. Tetapi kadang-kadang sikap mereka sangat deksura”

Namun dengan demikian, terasa bahwa rahasia yang menyaput padukuhan ini menjadi semakin tebal.

Meskipun Raden Rudira berusaha menengadahkan kepalanya, tetapi terasa juga dadanya bergetar semakin cepat. Ki Demang di Sukawati yang tampaknya ramah dan hormat itu, memancarkan tatapan mata yang aneh baginya.

“Silahkan tuan, kami sudah menunggu” berkata Ki Demang Sukawati.

Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya pendapa Kademangan yang sudah terisi oleh bentangan tikar yang putih serta beberapa jenis makanan.

Rudira menarik nafas dalam-dalam. Beberapa langkah kudanya berjalan memasuki halaman itu. Tetapi sekali lagi ia merasa debar jantungnya menjadi semakin cepat, ketika ia melihat kuncung pendapa Kademangan itu. Ia harus turun apabila kudanya memasuki kuncung itu.

Karena itu, Raden Rudira tidak mau pergi ke kuncung pendapa. Tetapi ia menarik kendali kudanya ke kiri, sehingga kuda itu melangkah ke samping dan berhenti di depan tangga disisi pendapa.

Ki Demang berdiri termangu-mangu. Tetapi iapun kemudian menyusul Raden Rudira yang meloncat dari punggung kudanya langsung ke tangga pendapa yang terakhir. Selangkah ia naik, maka ia sudah berdiri di pendapa.

Seorang pengiringnya segera memegang kendali kudanya dan menuntunnya menepi, mengikatnya pada tonggak-tonggak di sebelah gandok.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kekerasan hati Putera Pangeran Ranakusuma itu. Namun ia melihat juga bahwa sebenarnya hatinya bukanlah hati yang kuat dan tabah. Apalagi ia sama sekali bukan seorang bangsawan yang berjiwa besar. Ia masih memerlukan bersikap angkuh yang berlebih-lebihan untuk mengangkat kewibawaannya yang tentu dirasakannya sendiri, masih belum setinggi yang diharapkannya.

Tetapi Ki Demang tidak mempersoalkannya lebih lanjut. Dipersilahkannya Raden Rudira dan pengiringnya duduk melingkari makanan yang lelah disediakan.

Tetapi rasa-rasanya makanan yang berlimpah-limpah itu tidak memberikan rangsang bagi Raden Rudira sendiri untuk makan dengan tenang. Berbeda dengan para pengiringnya yang menyuapi mulutnya dengan penuh gairah, maka Raden Rudira rasa-rasanya selalu digelisahkan oleh kesamaran Kademanga Sukawati itu.

Bahkan tiba-tiba saja Raden Rudira terkejut ketika ada seekor kuda berlari kencang di halaman. Tanpa berhenti di samping pendapa kuda itu langsung masuk ke longkangan belakang. Begitu kuda dan penunggangnya itu hilang di balik sudut pendapa, maka seakan-akan suara derap kaki kuda itupun segera menghilang.

Beberapa orang pengiring Raden Rudira berhenti juga menyuapi mulut masing-masing dan berpaling. Tetapi mereka tidak menghiraukannya lagi, setelah kuda itu hilang dari tatapan mata mereka, karena mereka kembali disibukkan oleh makanan di hadapan mereka.

Tetapi Raden Rudira yang memang selalu dibayangi oleh kecurigaan itu menjadi semakin curiga, meskipun ia tidak berbuat apapun juga

Namun belum lagi hatinya menjadi tenang, sekali lagi seekor kuda dengan penunggangnya berlari memasuki halaman itu, dan seperti yang terdahulu, kuda itupun seakan-akan lenyap di balik sudut pendapa.

Raden Rudira tidak dapat menahan kecurigaannya lagi. Dengan ragu-ragu ia bertanya kepada Ki Demang “Siapakah mereka?“

“O“ Ki Demang tersenyum “Mereka adalah keluargaku, tuan“

“Keluargamu? Maksudmu, apakah mereka bebahu Kademangan atau sanak kadangmu?“

“Yang terdahulu adalah anakku laki-laki” berkata Ki Demang

“Anakmu? Kenapa ia berkuda terus sampai ke longkangan?”

“Itu sudah menjadi kebiasaannya tuan”

“Yang kedua?“

“Adik iparku”

“Juga kebiasaannya berkuda sampai ke longkangan?“

“Ya. Umur keduanya hampir sebaya. Kemanakan dan paman itu memang anak-anak bengal. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa tuanlah yang berada di pendapa”

“Tetapi ia tidak sopan sama sekali, jika ada tamu di pendapa, seharusnya ia tidak berbuat begitu. Apalagi tamu seorang bangsawan. Lihat, debu itu menghambur kemari. Terlebih-lebih lagi kau menyuguh makanan bagi kami”

“Maaf tuan. Aku akan memberi tahukan kepadanya kelak”

“Tetapi hal itu sudah terjadi”

Raden Rudira mengangguk-angguk. Tetapi kecurigaannya masih saja membayang di wajahnya. Apalagi ketika Ki Demang kemudian berkata “Mereka adalah pengiring-pengiring Pangeran Mangkubumi apabila Pangeran itu berada di pesanggrahan dan berkenan untuk pergi berburu”

“Pengiring Ramanda Pangeran Mangkubumi? Bohong. Pengiring Ramanda Pangeran pasti pengawal-pengawal Kapangeranan yang tingkatnya hampir serupa dengan prajurit-prajurit Kerajaan”
“Memang” sahut Ki Demang “Tetapi di pesanggrahan Pangeran Mangkubumi senang sekali bergaul dengan anak-anak muda. Mereka banyak mendapat kesempatan. Dua di antara mereka adalah anak dan iparku itu. Mereka adalah pemburu-pemburu yang baik di hutan-hutan perburuan di daerah Sukawati. Pangeran Mangkubumi memang membiarkan beberapa bagian hutan menjadi lebat. Berburu di hutan rindang tidak lagi menyenangkan baginya dan bagi anak-anak Sukawati itu”

Wajah Raden Rudira menjadi tegang. Namun kemudian ia bertanya “Jadi ada juga abdi Ramanda Pangeran yang khusus mengikutinya berburu?“

“Bukan abdi, tetapi kawan berburu”

“He?“ Raden Rudira membelalakkan matanya “Kau katakan anak dan iparmu itu kawan berburu bagi Ramanda Pangeran Mangkubumi?“

“Ya tuan”

“Apakah kau sudah mabuk pangkat hanya karena kau menjadi seorang Demang di Sukawati?“ Raden Rudira membelalakkan matanya “Aku tidak senang kau menyebut anak dan iparmu itu sebagai pengiring Ramanda Pangeran. Yang pantas mereka adalah hamba-hambanya. Sekarang justru kau menyebutnya sebagai kawan”

Ki Demang menjadi terheran-heran. Sejenak ia memandang Raden Rudira. Kemudian para bebahu di Sukawati. Dengan ragu-ragu menjawab “Maaf tuan. Tetapi demikianlah Pangeran Mangkubumi menyebutnya. Mereka adalah kawan-kawan berburu. Tentu aku tidak akan berani menyebutnya demikian, jika Pangeran Mangkubumi sendiri tidak mengatakan demikian”

“Bohong, bohong” Raden Rudira hampir berteriak. Tetapi iapun kemudian berusaha menahan hatinya. Namun dengan demikian dadanya menjadi semakin sesak.

Para pengiring dan pengawal yang sedang sibuk menelan makanan, terpaksa berhenti juga sejenak. Dipandanginya wajah Raden Rudira yang merah. Tetapi ada pula di antaranya yang tidak menghiraukannya lagi selagi makanan dihadapannya masih tersisa.

Namun demikian, mereka terpaksa menelan dengan susah payah ketika tiba-tiba saja Raden Rudira berkata “Kita pergi sekarang. Antarkan kami mencari petani yang telah berani melawan aku dan para bangsawan itu.

Ki Demang terkejut. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Tetapi silahkan menyelesaikan dahulu tuan. Juga para pengiring sedang makan”

“Cukup. Sudah cukup”

Beberapa orang dengan tergesa-gesa menyuapkan makanan yang tersisa, sehingga kadang-kadang mereka terpaksa menarik leher yang serasa sesak, disusul oleh beberapa teguk air hangat untuk mendorong makanan itu turun ke dalam perut.

Agaknya Raden Rudira tidak sabar lagi menunggu. lapun segera berdiri dan berjalan turun dari pendapa.

“Ambil kudaku” teriaknya.

Para pengiringnyapun kemudian dengan tergesa-gesa berdiri. Ada juga satu dua orang yang sempat memasukkan beberapa bungkus makanan ke dalam kantong-kantong baju mereka. Nagasari dan hawug-hawug. Ada juga yang tidak sempat lagi mengunyah makanan yang sudah ada di dalam mulutnya, sehingga hampir saja makanan itu menyumbat lehernya, jika ia tidak segera menelan beberapa teguk minuman.

“Tunggu sebentar tuan” berkata Ki Demang “Aku akan menyiapkan kudaku”

“Kau berjalan kaki” bentak Raden Rudira. Namun kemudian ia menyadari bahwa dengan demikian akan menelan waktu terlampau lama, sehingga katanya kemudia “Cepat, ambil kudamu”

Ki Demang menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun segera berlari-lari ke belakang menyiapkan kudanya bersama beberapa orang bebahu yang lain, yang akan memakai kuda-kuda dari Kademangan itu pula.

Ki Demang hanya memerluka waktu sedikit, karena kudanya memang sudah siap. Kuda itu adalah kuda yang baru saja berlari memasuki halaman Kademangan itu.

Demikianlah maka Raden Rudira diantar oleh Ki Demang di Sukawati meninggalkan Kademangan. Dengan nada yang datar Rudira berkata “Kita kelilingi padukuhan induk ini sebelum kita pergi ke setiap padukuhan yang lain”

“Tetapi tuan” berkata Ki Demang “Jika Raden ingin bertemu dengan para petani di saat-saat begini, pada umumnya mereka berada di sawah atau di sungai?”

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-angguk ia berkata ”Ya, pada umumnya mereka berada di sawah. Tetapi kenapa ada juga yang di sungai?“

“Mereka yang telah selesai dengan kerja di sawah, ada juga yang pergi menjala ikan di sepanjang sungai tuan. Sekedar untuk tambah membeli garam“

“Apakah banyak petani-petani yang pergi menjala okan di sungai itu?“

“Beberapa. Ada lima atau enam orang dari padukuhan ini. Tetapi ada padukuhan yang hampir semua laki-laki dewasa pergi mencari ikan di saat-saat tidak ada kerja di sawah. Di saat-saat mereka tinggal menunggu padi yang sudah mulai menguning“

“Persetan” geram Raden Rudira “bawa aku ke sawah”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Diiringi oleh Ki Demang, maka Raden Rudira bersama pengawal-pengawalnya melintas keluar dari padukuhan dan menuju ke bulak yang luas di sebelah padukuhan itu.

Tetapi sawah yang terbentang di hadapannya terlalu luas. Hampir sampai kebatas penglihatan. Di cakrawala barulah tampak sebuah padukuhan yang lain, padukuhan kecil. Di sebelah yang lain ada juga padukuhan kecil serupa, Tetapi jarak itu tidak terlalu dekat.

“Untunglah Demang itu berkuda” berkata Rudira di dalam hatinya” Kalau tidak, maka sehari penuh aku tidak akan dapat mengelilingi bulak yang satu ini”

Demikianlah maka kuda itupun segera berpacu. Dilihatnya beberapa, orang laki-laki yang sedang bekerja di sawah. Ketika mereka mendengar derap kaki kuda, merekapun mengangkat kepala mereka. Tetapi kepala itupun segera tertunduk kembali menekuni kerja yang belum selesai.

“Gila” berkata Raden Rudira di dalam hati “Kenapa rakyat Sukawati ini acuh tidak acuh terhadap seorang yang asing?“

Tetapi ia tidak mengucapkannya. Yang dikatakannya adalah “Sura, jangan lengah. Lihat setiap orang. Kalau kau melihat orang yang kita cari, kau harus mengatakan kepadaku”

Sura mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Sura, apakah kau sudah tuli atau bisu?“

“Ya, ya Raden?” Sura menjawab terbata-bata.

Namun ketegangan melonjak ketika di antara para pengawal terdengar suara tertawa pendek. Ketika semua orang berpaling, dilihatnya Mandra menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

“Kenapa kau tertawa?“ bertanya Raden Rudira.

“Apakah pengecut itu berani menunjuk orang yang Raden cari? Sayang, aku tidak melihatnya sebelumnya. Kalau aku pernah melihat, maka pasti aku akan segera menemukannya”

Sura yang mendengar jawaban itu menjadi merah padam. Tetapi ia tidak sempat menjawab, karena Raden Rudira berkata “Ia masih harus membuktikan bahwa ia masih Sura yang dahulu”

Sura sama sekali tidak menyahut. Telapi hatinya menjadi semakin sakit ketika ia mendengar Mandra itu tertawa tertahan-tahan. Meskipun demikian ia masih lelap berdiam diri sambil menahan hati.

Demikianlah irin-iringan itu melintasi bulak yang panjang di tengah-tengah sawah yang sedang digarap. Beberapa orang laki-laki sibuk membajak tanah yang digenangi air. Yang lain mengatur pematang, sedang yang lain lagi mulai menyebarkan rabuk kandang.

Tetapi di antara mereka tidak terlihat petani yang sedang mereka cari.

“Dimana orang itu he?“ tiba-tiba Rudira yang mulai jengkel berteriak.

Tetapi tidak ada seorangpun yang menjawab” Dimana Ki Demang? Dimana orang itu?”

Ki Demang menjadi bingung sejenak. Namun kemudian ia menjawab “Kami tidak mengetahui orang yang Raden maksud, sehingga kami tidak akan dapat membantu menunjukkan dimana ia berada”

“Orangnya bertubuh tinggi, kekar. Bermata setajam mata burung hantu. Ayo, tunjukkan orang yang berciri serupa itu”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak pernah melihat orang itu. Mungkin orang itu sengaja ingin menjelekkan nama Sukawati sehingga ia mengaku orang Sukawati”

“Tentu tidak. Hampir semua orang Sukawati mempunyai sikap serupa dengan orang itu. Deksura dan tidak tahu adat”

“Apakah begitu?“

“Ya”

“Jika begitu, akan semakin sulit lagi untuk menemukannya Seorang di antara sekian banyak orang yang mempunyai ciri hampir sama”

“Bodoh sekali” teriak Raden Rudira “Aku akan dapat mengenalinya jika aku menemukannya”

“Dan ternyata tuan masih belum menemukannya sekarang” sahut Ki Demang “Tetapi Sukawati adalah daerah yang luas. Mungkin kita tidak dapat menemukan di bulak ini, tetapi kita akan dapat menjumpainya di bulak yang lain. Atau mungkin pula orang itu sedang berada di sungai, atau seperti yang tuan katakan, ia seorang petualang yang sedang bertualang. Sehingga dengan demikian, maka kita tidak akan dapat menjumpainya disini”

“Kita harus menemukannya, harus”

Ki Demang tidak menyahut lagi. Ditebarkannya saja tatapan matanya ke bulak di sekitarnya. Para petani masih juga sibuk dengan kerja mereka, seakan-akan tidak acuh sama sekali akan iring-iringan di jalan yang membelah tanah persawahan itu.

Kuda-kuda itupun berderap semakin cepat. Ketika mereka sampai ke ujung bulak dan tidak menemukan orang yang dicarinya, merekapun berbelok lewat jalan sempit mengitari bulak itu. Tetapi sampai pada satu lingkaran penuh, mereka masih belum menemukannya.

“Kita terus ke bulak di sebelah lain” berkata Rudira “Aku tidak akan kembali ke Ranakusuman tanpa membawa orang itu”

”Silahkanlah” berkata Ki Demang “Aku akan mengantarkan tuan sampai orang itu kita ketemukan”

Kuda-kuda itupun berpacu terus. Setiap orang tidak luput dari pengawasan Raden Rudira dan pengiringnya. Namun sama sekali tidak ada orang yang mirip dengan orang yang mereka cari.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh Raden Rudira, mereka tidak berhenti. Mereka berkeliling dari satu bulak ke bulak yang lain di seluruh Kademangan Sukawati. Sampai lewat tengah hari mereka sudah menempuh hampir semua daerah persawahan tidak saja di seputar padukuhan induk, tetapi juga di Padukuhan-padukuhan kecil lainnya.

“Gila” geram Raden Rudira “Kau suruh orang itu bersembunyi?“

”Tentu tidak Raden“

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Terasa juga tubuhnya menjadi lelah. Karena itu, maka iapun berhenti sejenak di sudut padukuhan induk.

“Tuan” berkata Ki Demang “Kami ingin mempersilahkan tuan dan para pengiring untuk beristirahat sejenak di Kademangan. Nanti aku akan mengantar Raden meneruskan pencaharian ini. Bukan saja ke bulak-bulak. tetapi aku akan mencarinya dari pintu ke pintu”

“Tidak. Aku tidak akan beristirahat dimanapun. Aku akan mencari terus”

Namun demikian terasa nafas Raden Rudira mengalir semakin cepat. Panas matahari yang mulai condong ke Barat, rasa-rasanya bagaikan membakar kulit, sehingga dengan demikian, maka hati Raden Rudirapun rasa-rasanya telah ikut terbakar pula.

Tetapi yang dicarinya belum juga dapat diketemukan.

Sementara itu para pengiringnyapun telah menjadi lelah dan haus, bahkan jemu. Mereka hampir tidak mengharap akan menemukan orang yang dicarinya. Seorang di antara sekian banyak orang-orang Sukawati. Bahkan mungkin orang itu sama sekali bukan orang Sukawati. Untuk menghilangkan jejak, dapat saja ia menyebut dirinya orang Sukawati.

Namun demikian, seperti yang dikatakan oleh Rudira, ada juga ciri-ciri yang sama pada orang-orang Sukawati itu. Mereka bersikap acuh tidak acuh terhadap bangsawan. Dan hal itu agaknya terbawa oleh sikap Pangeran Mangkubumi yang rendah hati, sehingga bagi orang Sukawati, bangsawan bukannya manusia yang melampaui manusia yang lain.

Demikianlah, setelah mereka beristirahat sejenak, terasa tubuh mereka dan kuda-kuda mereka menjadi segar. Karena itu maka Raden Rudira yang sudah siap melanjutkan perjalanan bersama pengiringnya berkata “Kita teruskan. Kita jelajahi seluruh Kademangan ini”

“Tetapi tuan” berkata Ki Demang “Aku sudah, lelah sekali. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk berkuda sepanjang hari”

“Pemalas. Aku tahu. kau hanya malas atau barangkali dengan demikian kau menghindari tanggung jawabmu atas orang-orang diwilayahmu“

“Tidak tuan. Aku sama sekali tidak ingin menghindari tanggung jawab. Tetapi ternyata nafasku memang hampir putus. Panas matahari rasa-rasanya hampir memecahkan kepala”

“Persetan” geram Raden Rudira “Aku akan berangkat”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Apakah aku diperkenankan menunggu disini? Jika tuan memerlukan aku, salah seorang dari pengiring tuan aku persilahkan memanggil aku disini”

“Tidak, kau harus ikut”

Tetapi Demang itu menggeleng “Maaf tuan. Jika tuan sudi beristirahat sampai nanti senja, aku akan mengantar tuan. Berapa haripun asal aku mendapat kesempatan beristirahat. Aku sekarang tidak kuat lagi”

“Aku tidak peduli. Kau harus pergi bersama kami. Kau kami perlukan di daerah ini”

“Maaf tuan. Aku akan pingsan di bulak itu”

Raden Rudira menjadi marab sekali. Namun tiba-tiba saja Sura yang tidak pernah berselisih pendapat dengan tuannya, karena selama ini ia hanya sekedar mengiakan, tiba-tiba berkata “Raden, Ki Demang memang sudah terlalu tua. Bagaimana kalau seperti yang dikatakannya, biarlah ia menunggu disini. Kita akan mencarinya di seluruh Kademangan atas ijin Ki Demang”

Raden Rudira justru terbungkam sesaat. Ia tidak menduga sama sekali bahwa Sura berani menyatakan pendapat yang berbeda dengan pendapatnya sendiri. Namun karena itu ia justru hanya dapat membelalakkan matanya tanpa mengucapkan kata-kata.

Yang menyahut kemudian adalah pengawal Rudira yang bertubuh besar itu “Sura, kau adalah seorang hamba. Kau hanya dapat melakukan perintahnya. Tidak menentang dan tidak mengguruinya”

Tetapi sesuatu telah berkembang di hati Sura, sehingga ia menyahut “Aku adalah seorang hamba yang tidak ingin melihat tuanku berbuat kesalahan”

“Kau berani menyalahkan Raden Rudira?“ teriak Mandra.

“Aku tidak menyalahkannya sekarang, karena Raden Rudira belum berbuat kesalahan. Tetapi aku mencoba mencegah agar ia tidak berbuat kesalahan itu” Sura berhenti sejenak, lalu “selama ini aku adalah seorang hamba yang jelek. Yang tidak pernah mencoba mencegah suatu kesalahan. Aku selalu mengiakan dan membenarkan semua yang diputuskan oleh momonganku. Tetapi ternyata itu tidak benar. Jika aku ingin menjadi hamba yang baik, aku harus mengatakan yang benar menurut pendapatku, bukan selalu membenarkan sikap tuanku”

“Kau mengigau. Aku tidak mengerti yang kau maksudkan. Tetapi, aku adalah hamba yang setia, yang tidak senang melihat kau mulai berkhianat”

“Pikiran itulah yang menyesatkan kita dan justru tuan kita. Kesetiaan yang mati telah menjerumuskan kita bersama-sama, bersama Raden Rudira sendiri ke dalam suatu sikap yang salah“

“Diam, diam kau Sura “ tiba-tiba Raden Rudira berteriak.

Sura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian diam meskipun tidak menundukkan kepalanya seperti biasanya.

Perubahan sikap itu semakin terasa pada Raden Rudira. Sura yang sekarang, memang lain dati Sura yang dahulu tidak pernah bertanya apapun yamg diperintahkannya.

“Ki Demang” berkata Rudira kemudian “Aku tidak peduli tentang keadaanmu. Kau harus mengikuti kami mencari orang itu sampai kita dapat menemukannya”

Tetapi Ki Demang menggeleng sambil berkata “Maaf tuan. Aku mohon Raden dapat menundanya sampai senja nanti, setelah aku beristirahat sebentar. Aku sudah terlalu lelah”

“Tidak” Raden Rudira membentak.

Tetapi Ki Demangpun tetap menggeleng juga “Tidak. Aku tidak akan dapat meneruskan perjalanan. Aku dapat menjadi pingsan”

“Aku tidak peduli. Matipun aku tidak peduli. Biarlah orang-orang Sukawati menguburmu”

“Maaf tuan, aku tidak dapat”

“Jangan banyak mulut” tiba-tiba Mandra membentak “ berangkat, atau kau akan menyesal”

Ki Demang memandang pengawal Raden Rudira yang bertubuh raksasa itu. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata “Ki Sanak, aku sudah tua. Kalau aku masih semuda dan segagah Ki Sanak, aku tidak akan ingkar. Tetapi maaf, dalam keadaanku serupa ini, aku tidak dapat memaksa diri berjalan terus. Kudakupun sudah lelah karena kuda ini bukan kuda sebaik kuda Ki Sanak”

“Aku tidak peduli. Raden Rudirapun tidak peduli. Ayo pergi”

Ki Demang masih tetap menggelengkan kepalanya. Katanya “Ki Sanak jangan memaksa aku. Aku bukan bawahan Ki Sanak dan bukan bawahan Raden Rudira. Aku adalah abdi tanah kelenggahan Pangeran Mangkubumi. Hanya Pangeran Mangkubumi atau para hambanya yang dipercaya sajalah yang dapat memerintah aku. Kau tidak, siapapun tidak. Jika Ki Sanak mencoba memaksa kami, itu berarti Ki Sanak telah melanggar hak Pangeran Mangkubumi”

Mandra menjadi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Raden Rudira yang agaknya sedang dilanda oleh kebimbangan.

Namun tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak “Aku akan mengatakannya kepada Ramanda Pangeran Mangkubumi. Akulah yang bertanggung jawab”

Mandra mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian sambil mendekati Ki Demang ia berkata “Jangan membantah lagi”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun dalam pada itu Surapun bergeser setapak sambil berkata “Mandra, jangan berbuat apapun yang dapat membuai Pangeran Mangkubumi murka. Kau akan tahu akibatnya”

“Sura“ Raden Rudira berteriak “Ia berbuat atas namaku”

Sura mengerutkan keningnya. Ia masih mencoba mencegah “Tetapi tuan, kekerasan sama sekali tidak bijaksana di dalam masalah ini”

“Ia tidak akan mempergunakan kekerasan” berkata Raden Rudira “Tetapi Mandra akan menawarkan kudanya. Mungkin dengan demikian Ki Demang tidak akan berkeberatan untuk berjalan terus”

“Bukan saja kudaku, tetapi terutama adalah badanku sendiri “ Ki Demang menyahut.

Raden Rudira benar-benar menjadi marah. Seorang Demang di Sukawati telah berani menentang kehendaknya, seperti petani di Sukawati itu. Ternyata kekecewaan, kemarahan, bahkan hinaan telah dialaminya berturut-turut selamai ia berada di Sukawati.

“Orang-orang Sukawati memang gila“ Ia menggeram di dalam hatinya. Namun tiba-tiba ia menggeretakkan giginya sambil berkata kepada diri sendiri “Jika Demang itu kelak menuntut lewat Ramanda Pangeran Mangkubumi, biarlah ia berurusan dengan ayahanda. Tentu ayahanda Ranakusuma memiliki kekuasaan lebih besar dari Ramanda Pangeran Mangkubumi karena ayahanda Ranakusuma adalah saudara tua dan ayahanda pasti lebih dekat pada Kangjeng Susuhunan dari pada Ramanda Pangeran Mangkubumi. Apalagi ibunda mempunyai sahabat-sahabat orang asing yang mempunyai kelengkapan jauh lebih baik dari orang-orang Surakarta yang manapun juga”

Oleh pikiran itu, serta luapan perasaan yang bertimbun-timbun maka Raden Rudirapun menjadi semakin berani. Dengan wajah yang tegang ia berkata “Kau tidak mempunyai pilihan lain Ki Demang”

“Aku dapat menentukan sikapku sendiri Raden. Hanya Pangeran Mangkubumilah yang dapat memaksa aku. Orang lain yang manapun tidak. Aku sudah berbuat sebaik-baiknya menyambut kedatangan Raden Rudira di Sukawati. Bahkan aku sudah membiarkan Raden bermalam di pesanggrahan Pangeran Mangkubumi. Tetapi ternyata Raden adalah orang yang tidak mengenal terima kasih. Kini Raden masih memaksa aku untuk melakukan pekerjaan di luar kemampuan tenagaku”

“Diam, diam” teriak Raden Rudira “apaklah kau tidak dapat menutup mulutmu”

“Maaf Raden, aku hanya sekedar memberikan penjelasan”

“Bungkam mulutmu” teriak Raden Rudira.

Biasanya Sura tidak perlu mendapat perintah untuk kedua kalinya. Tetapi kini Sura masih berada di tempatnya. Ia masih duduk tanpa bergerak diatas punggung kudanya.

Namun ada juga orang yang mulai bergerak maju. Mandra.

Dengan wajah yang tegang Sura mengawasinya. Tanpa sesadarnya iapun bergerak. Tetapi perintah Raden Rudira masih belum dapat diatasinya ketika perintah itu terasa mencengkam dadanya

“Kau tetap di tempatmu Sura. Ternyata kau tidak aku perlukan lagi“

Sura masih belum mampu menembus batas yang digoreskan oleh Raden Rudira itu. Karena itu, bagaimanapun juga ia tidak dapat melanggarnya.

Dalam pada itu Mandra yamg mengambil alih tugas Sura, maju semakin dekat. Namun ternyata ia tidak mau berbuat sesuatu selagi ia masih berada di punggung kuda. Karena itu, maka iapun segera meloncat turun sambil berkata “Ki Demang, kau tidak mempunyai pilihan lain. Mengantarkan kami, atau kau menjadi seorang tawanan yang akhirnya harus menyertai kami juga mengelilingi Kademanganmu ini, karena kami berkeputusan untuk memaksamu ikut serta”

Tetapi ternyata. Ki Demang dengan tenang menjawab “Tidak ada orang yang dapat memaksa aku Ki Sanak”

“Aku akan memaksamu. Turunlah dari kudamu, supaya jika kudamu lari kau tidak terseret olehnya dan mengalami luka-luka parah karena kulitmu terkelupas. Aku hanya ingin membuat kau jera untuk berkeras kepala”

Ki Demang tidak menyahut. Tetapi dari matanya yang semula redup itupun ternyata memancar sorot kemarahan yang memuncak.

“Apakah kau akan memaksa aku dengan kekerasan?“ bertanya Ki Demang.

“Apaboleh buat” sahut Mandra.

Ki Demang tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah. Jika demikian kami terpaksa membela diri”

“He“ Mandra terkejut mendengar jawaban itu. Ia tidak menyangka bahwa Ki Demang berani menjawab demikian. Menilik tubuhnya yang kecil dan seperti yang dikatakannya sendiri, nafasnya sudah mulai terengah-engah, masih juga ia berani mengatakan untuk membela diri.

Mandra menjadi semakin heran ketika ia melihat Ki Demang melambaikan tangannya kepada seorang bebahu yang mengikutinya. Seorang pendiam yang bertubuh sedang, berkulit hitam dan berkumis tipis dialas bibirnya yang tebal.

“Cegah orang itu“ perintah Ki Demang pendek. Perintah itupun ternyata telah menggetarkan setiap dada.

Meskipun perintah itu hanya pendek, tetapi seakan-akan mempunyai kekuatan perbawa yang luar biasa. Bukan saja atas orang yang mendapat perintah, tetapi juga atas orang-orang yang mendengarnya.

Orang yang bertubuh sedang dan berkulit hitam itupun kemudian meloncat turun pula dari kudanya. Setelah menyerahkan kendali kudanya kepada kawannya, iapun kemudian berjalan dengan tenangnya dan berdiri tegak di muka Ki Demang menghadap kearah Mandra.

“Kau berani melawan orangku?“ bertanya Raden Rudira dengan marahnya.

“Maaf tuan. Seperti tuan juga berani melawan orang-orang Pangeran Mangkubumi”

“Persetan, aku adalah Putera Pangeran Ranakusuma yang lebih tua dan lebih berkuasa dari Ramanda Pangeran Mangkubumi”

“Terserahlah kepada tuan. Tetapi aku tidak mau dipaksa oleh siapapun”

“Mandra, jangan menunggu lagi. Sebentar lagi hari akan benar-benar menjadi senja”

“Baik Raden” jawab Mandra yang kemudian siap menghadapi orang berkulit hitam itu.

Ternyata orang berkulit hitam dan berkumis jarang itu sama sekali tidak berkata apapun. Ia berdiri saja dengan penuh kewaspadaan menghadapi segala kemungkinan.

Mandra yang berusaha untuk mendapat kepercayaan dan kedudukan yang baik menggantikan Sura yang mulai goyah itu. segera melangkah mendekat. Semakin dekat ia pada orang berkulit hitam itu, maka orang itupun menjadi semakin siaga dan merendah diatas lututnya.

Tiba-tiba saja Mandra itupun langsung menyerangnya. Ia menganggap orang-orang Sukawati bukan orang-orang kuat yang pantas diperhitungkan. Namun ternyata, bahwa serangannya yang pertama itu gagal, bahkan orang berkulit hitam itu ternyata dengan lincahnya telah berhasil memukul pundaknya dengan sisi telapak tangannya.

“Uh, Gila“ Mandra menyeringai sambil meloncat mundur. Kini ia terbangun dari lamunannya. Ternyata lawannya bukannya seorang pedesaan yang tidak mampu berbuat apa-apa.

Karena itu, maka iapun kini harus mempergunakan segenap kekuatan dan kemampuannya. Ia harus berhasil menundukkan orang itu di dalam waktu yang paling pendek, supaya tampak oleh Raden Rudira, bahwa ia memang seorang yang pilih tanding.

Dengan demikian, maka Mandrapun mengulangi serangannya. Kini menjadi semakin dahsyat.

Namun lawannya yang bertubuh lebih kecil daripadanya itupun telah siap pula menghadapi serangannya. Dengan tangkasnya ia menghindar, dan dengan tangkasnya pula ia menyerang kembali. Tetapi Mandra berhasil menangkis serangan itu dengan sikunya, meskipun ia terdorong beberapa langkah surut.

Dengan demikian, maka Mandra dapat menilai kekuatan lawannya. Ternyata ia tidak menyangka bahwa lawannya yang lebih kecil daripadanya, dan pendiam pula, seolah-olah tidak bertenaga sama sekali itu mempunyai kekuatan yang dapat mendorongnya surut meskipun ia tidak berada dalam sikap perlawanan sepenuhnya.

Sejenak kemudian keduanyapun terlibat dalam, perkelahian yang sengit. Perkelahian yang sama sekali tidak diduga-duga, baik oleh Mandra, maupun oleh Sura dan kawan-kawannya. Bahkan Raden Rudira menjadi terheran-heran melihat kemampuan orang Sukawati itu.

Mandra adalah salah seorang pengawal terpilih dari Ranakusuman. Ia memiliki tenaga raksasa sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar itu. Namun menghadapi seorang yang bertubuh, sedang dan pendiam itu, Mandra tidak banyak mendapat kesempatan.

Di dalam benturan-benturan kekuatan yang terjadi, Mandra memang memiliki kelebihan tenaga. Tetapi orang yang hitam itu memiliki kelebihan yang lain. Ia mampu bergerak secepat tatit, sesigap sikatan menyambar bilalang. Itulah yang kadang-kadang membuat Mandra menjadi bingung. Selagi ia bergulat mengerahkan kekuatannya untuk melumpuhkan lawannya itu, tiba-tiba saja lawannya itu seakan-akan telah hilang. Sebelum ia sadar, maka ia sudah dihadapkan pada serangan yang bagaikan kilat menyambar di langit.

Demikianlah maka akhirnya Mandra menjadi semakin bingung Setiap kali ia kehilangan lawannya. Dan setiap kali serangan lawannya, meskipun tidak dengan tenaga sekuat tenaganya, telah berhasil mengenainya. Betapapun besar daya tahan tubuhnya, namun lambat laun, serangan-serangan itu telah menyakitinya.

Raden Rudira yang melihat perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Sura yang masih duduk diatas punggung kudanya rasa-rasanyi bagaikan membeku. Mandra tidak akan dapat mengalahkan orang berkulit hitam itu. Dan seandainya ia sendiri yang turun ke arena, itupun pasti tidak akan berhasil mengalahkannya.

Ki Demang Sukawati duduk dengan tenangnya, diatas punggung kuda. Ia menonton perkelahian itu seperti menonton adu ayam. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya. Kemudian mengangguk-angguk.

“Pantas ia menjadi keras kepala“ Raden Rudira mengumpat di dalam hati “Agaknya ia mempunyai seorang pelindung yang baik. Tetapi aku tidak mau kepalang tanggung. Keadaan sudah terlanjur memburuk. Aku tidak perduli lagi apakah Ramanda Pangeran akan marah kepadaku. Aku akan mendapat perlindungan dari ayahanda Pangeran Ranakusuma dan ibu akan mendapatkan bantuan kumpeni. Sukawati memang harus diperingatkan, karena Sukawati telah merusak sendi-sendi adat pergaulan rakyat Surakarta”

Karena itu, ketika Mandra semakin lama justru menjadi semakin terdesak, Raden Rudira sudah tidak dapat berpikir bening. Ia tidak ingat lagi dimana ia berada dan akibat-akibat yang dapat timbul karenanya.

Sementara itu Mandra memang menjadi semakin sulit. Serangan lawannya yang berkulit hitam dan berkumis jarang itu menjadi semakin lama justru semakin cepat. Betapapun kuatnya daya tahan tubuhnya, namun lambat laun Mandra menjadi semakin lemah juga. Serangan-serangan yang cepat kadang-kadang membuatnya bingung dan tanpa dapat berbuat sesuatu, ia harus menerima serangan-serangan dari arah yang tidak diketahuinya.

“Persetan“ Raden Rudira menggeram, lalu katanya di dalam hati “Aku tidak peduli. Demang ini harus ditangkap dan dibawa ke kota. Ia harus diadili karena ia berani menentang aku”

Dengan demikian Raden Rudira telah mengambil keputusan, bahwa orang-orangnya harus turun tangan tanpa mempedulikan apapun. Demang itu harus ditangkap. Harus.

Dengan wajah yang tegang Rudira berpaling kepada orang-orangnya yang menjadi tegang pula. Namun ia menjadi heran, bahwa orang-orangnya sama sekali tidak memperhatikan arena perkelahian yang semakin berat bagi Mandra. Mereka melihat ke kejauhan dengan sorot matanya yang aneh.

Tanpa disadarinya Raden Rudirapun memandang kekejauhan pula, kearah tatapan mata para pengiringnya.

Tiba-tiba saja jantungnya serasa berdentangan semakin keras. Dilihatnya beberapa orang laki-laki berdiri berjajar di pinggir desa di seberang parit. Dengan wajah yang seakan-akan beku mereka berdiri dengan tangan bersilang di dada memperhatikan orang yang berkulit hitam, yang sedang berkelahi melawan Mandra.

Tetapi ternyata bukan hanya di seberang parit, tetapi juga di dalam pagar batu tampak tundung kepala berjajar-jajar. Di bawah tudung kepala itu tampak wajah-wajah yang membeku.

“Gila“ Raden Rudira mengumpat di dalam hatinya “ini sudah suatu pemberontakan”

Namun demikian wajahnya yang merah semakin lama menjadi semakin pucat. Kalau seorang di antara mereka berhasil mengalahkan Mandra, apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang berdiri di seberang parit dan di balik pagar batu itu.

Ki Demang agaknya mengerti persoalan yang bergejolak di dalam hati Raden Rudira. Karena itu sambil tersenyum ia berkata “Mereka adalah petani-petani yang berpikir sederhana tuan. Mereka melihat aku, Demang di Sukawati yang mereka anggap sebagai pemomong mereka mendapat kesulitan, maka merekapun datang berkerumun. Mereka adalah petani-petani yang kita lihat bekerja di sawah dan ladang. Dan kita tidak dapat menemukan petani yang justru tuan cari”

Rudira tidak menyahut. Tetapi dadanya berdesir ketika ia melihat Mandra terlempar beberapa langkah surut, ketika kaki orang berkulit hitam itu terjulur ke dadanya. Sejenak Mandra mencoba bertahan, namun ternyata bahwa keseimbangannya sudah tidak dapat dikuasainya lagi, sehingga akhirnya iapun terjatuh di tanah.

Meskipun demikian, dengan susah payah ia mencoba bangun. Dikerahkan segala sisa tenaganya yang ada. Tetapi selagi kedua kakinya belum tegak benar, serangan lawannya itu telah meluncur sekali lagi. Kali ini mengenai pundaknya, sehingga Mandra terputar satu kali dan sekali lagi jatuh terbanting di tanah.

Wajah Raden Rudira menjadi merah padam. Orang berkulit hitam itu berdiri hanya selangkah disisi Mandra yang agaknya benar-benar sudah kehabisan tenaga meskipun ia tidak mengalami luka yang berbahaya.

“Sudahlah” berkata Ki Demang di Sukawati “tinggalkan orang itu“

Orang berkulit hitam itu berpaling. Dipandanginya Ki Demang sejenak, lalu dianggukkan kepalanya sedikit. Perlahan-lahan ia berjalan meninggalkan lawannya yang masih terbaring di tanah, tanpa Pepatah katapun meloncat dari bibirnya.

“Gila kau Mandra” teriak Raden Rudira “bangun atau kau akan tinggal disini“

Dengan susah payah Mandra berusaha untuk bangkit. Ketika ia memutar tubuhnya menghadap Ki Demang di Sukawati, maka orang berkulit hitam yang sudah berdiri di samping kudanya, melangkah setapak maju. Tetapi Ki Demang menggamitnya sehingga iapun berhenti.

“Apakah kalian sudah memperhitungkan akibat perlawanan kalian“ Raden Rudira menggeram. Suaranya bergetar penuh kemarahan.

“Sama sekali belum Raden, karena kami harus mengambil sikap dengan tiba-tiba. Tetapi akulah yang seharusnya bertanya, apakah Raden sudah memperhitungkan akibat yang timbul dari sikap Raden itu?“

“Aku akan mempertanggung jawabkannya“

“Tetapi orang yang tuan percaya itu tidak mampu melawan orangku. Apakah tuan akan mengambil sikap lebih keras lagi dan memerintahkan para pengiring Raden menangkap aku?“

Raden Rudira tidak segera menjawab. Tetapi ia sadar bahwa Ki Demang dengan sengaja menyindirnya, karena ia merasa kuat Petani-petani yang ada di sawah dan melihat perkelahian itu ternyata telah berkerumun meskipun dari jarak agak jauh.

Kemarahan Raden Rudira seakan-akan telah bergejolak sampai keubun-ubun. Tetapi ia sama sekali tidak berdaya untuk mengambil suatu sikap, karena orang-orang Sukawati ternyata adalah orang-orang yang keras kepala.

“Tanggung jawab atas sikap yang gila ini terletak pada. Ramanda Pangeran Mangkubumi” berkata Rudira di dalam hatinya jika Ramanda Pangeran tidak bersikap keliru dan memanjakan orang-orangnya di daerah Sukawati ini, maka hal-hal semacam ini pasti tidak akan dapat terjadi”

Tetapi Rudira tidak dapat berbuat apa-apa saat itu. Betapapun dadanya serasa akan retak, namun ia harus menahan diri. la tidak tahu, kemampuan apa yang tersimpan di balik wajah-wajah yang beku dan tangan-angan yang bersilang di dada itu.

Karena Raden Rudira tidak segera menjawab, maka Ki Demang Sukawati itu menarik nafas dalam-dalam, sambil berkata “Sudahlah Raden. Kadang-kadang kita memang dihanyutkan oleh perasaan yang meledak-meledak. Aku tahu, umur Raden yang masih sangat muda itulah yang membuat Raden kurang pertimbangan. Tetapi itu bukan suatu kesalahan yang perlu disesalkan sekali, meskipun harus selalu diingat sebagai pengalaman. Sekarang, lupakan saja apa yang telah terjadi. Aku rasa orang di rumah sudah menyediakan makan siang buat Raden dan para pengiring. Bagaimanapun juga, aku tetap ingin mempersilahkan Raden dan para pengiring untuk makan siang di rumah kami, karena disini tuan adalah tamu kami“

Kata-kata itu rasa-rasanya justru membual hati Rudira semakin panas. Tanpa menjawabnya Raden Rudira berteriak kepada Mandra “Cepat naik ke kudamu. Kita akan pergi”

“Raden” berkata Ki Demang dengan serta merta “Kami persilahkan Raden singgah sejenak”

Rudira tidak menjawab. Bahkan ia memalingkan wajahnya. Katanya kepada pengiringnya “Kita akan meninggalkan neraka ini. Tetapi kita tidak akan membiarkan daerah ini tetap dikuasai oleh kebodohan serupa ini. Aku adalah pulera Pangeran Ranakusuma”

Raden Rudira tidak menunggu lebih lama lagi. lapun segera menyentuh perut kudanya dengan tumitnya, sehingga kudanya mulai bergerak.

Tetapi tiba-tiba saja Raden Rudira menarik kendali kudanya yang sudah mulai berlari, sehingga kuda itu terkejut dan melonjak berdiri. Beberapa orang pengiringnyapun terkejut pula. Bahkan Mandra yang dengan lemahnya duduk diatas punggung kudanya mengangkat wajah dan mencoba mengerti, kenapa tiba-tiba saja Raden Rudira berhenti.

Dengan mata yang terbelalak Raden. Rudira memandang ke sudut desa yang sedikit menjorok masuk ke tanah persawahan. Dilihatnya beberapa orang petani berdiri berjajar sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Namun yang berdiri di paling ujung, agaknya petani yang sedang dicarinya.

Sura yang berkuda di antara merekapun terkejut pula melihat orang yang berdiri tidak terlalu jauh dari jalan yang sedang dilaluinya. Namun tanpa disadarinya, mulutnya berdesis “Benar dugaanku. Orang itu adalah Pangeran Mangkubumi”

Desis Sura itu mengguncangkan dada Raden Rudira. Laki-laki yang berdiri di ujung itu adalah laki-laki yang sedang dicarinya. Wajah. laki-laki itupun kotor oleh lumpur yang melekat disana-sini. Seperti petani-petani yang lain, disisinya terletak sebuah cangkul, pakaian yang kotor dan basah, serta wajah yang beku. Tetepi yang seorang ini memiliki sepasang mata yang tajam dan rasa-rasanya sedang membara.

Raden Rudira menjadi termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba kengerian yang sangat telah merayapi hatinya. Siapapun orang itu, namun kemampuannya tentu berlipat-lipat dari orang yang berkulit hitam. Sura di bulak Jati Sari sama sekali tidak berdaya menghadapinya. Kini Mandra telah dilumpuhkan oleh orang berkulit hitam itu.

“Apalagi kalau benar orang itu adalah Ramanda Pangeran Mangkubumi“ tanggapan itu tiba-tiba saja melonjak di dadanya.

Dengan demikian tanpa disadarinya sekali lagi Raden Rudira memandang orang itu. Tiba-tiba saja jantungnya serasa berhenti berdenyut” Orang itu memang mirip sekali dengan Ramanda Pangeran Mangkubumi”

Tetapi iapun kemudian mencoba membantahnya sendiri “Ada seribu orang yang mirip di dunia ini”

Meskipun demikian, Raden Rudira segera memacu kudanya. Semakin lama semakin cepat diikuti oleh para pengiringnya. Debu yang putih berterbangan menyelubungi jalan yang kering.

Yang berpacu di paling belakang adalah Sura. Tetapi bagaimanapun juga, rasa-rasanya masih ada ikatan yang tidak dapat dilepaskannya, bahwa ia harus mengikuti Raden Rudira kembali ke Surakarta.

Ternyata bahwa perasaan Raden Rudira telah benar-benar menjadi kisruh. Darahnya bagaikan mendidih. Tetapi hentakan di dadanya
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Raden Rudira berpacu kembali ke kota. Ia tidak menghiraukan lagi panas yang semakin lama menjadi semakin lemah dan cahaya langit yang kemerah-merahan.

“Kita akan sampai ke kota jauh malam“ desis seseorang di antara para pengawalnya, itu masih harus tetap disimpannya paling dalam.

“Ya. Tetapi tidak terlalu malam. Lihat, matahari masih agak tinggi”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia berdesis “Aku haus sekali”

“Aku tidak hanya sekedar haus. Aku lapar sekali”

Kawannya berpaling. Dilihatnya orang yang merasa lapar itu menjadi pucat meskipun cahaya kemerah-merahan masih memancar di langit dan jatuh di setiap wajah.

Dalam pada itu, Mandra masih tampak terlalu lemah, meskipun ia mampu juga berpacu Namun tampaknya ia tidak sesegar ketika berangkat, dan bahkan rasa-rasanya lain sekali dengan Mandra yang selalu mentertawakan Sura.

Sedang Sura sendiri berpacu di paling belakang. Angan-angannya masih saja dicengkam oleh kenangannya atas petani yang dijumpainya di bulak Jati Sari. Petani itu pasti petani yang berdiri di ujung itu. Dan keduanya adalah Pangeran Mangkubumi itu sendiri.

Sebenarnya bukan saja Sura yang bertanya-tanya di dalam hati. Tetapi pertanyaan tentang petani itu tumbuh juga di hati para pengiring Raden Rudira yang pernah mengikutinya berjalan di tengah bulak Jati Sari. Dan mereka yang mengenal Pangeran Mangkubumi akan berkata di dalam hati “Orang itu memang mirip sekali dengan Pangeran Mangkubumi. Apalagi jika ia mengenakan pakaian yang pantas dan baik. Seandainya ia bukan Pangeran Mangkubumi, maka seseorang pasti akan dapat keliru”

Namun keragu-raguan yang berkembang di dalam setiap dada itu, membuat mereka menjadi semakin lama semakin dicengkam oleh kecemasan. Bahkan akhirnya mereka hampir meyakini, bahwa orang itu memang Pangeran Mingkubumi.

Tetapi Raden Rudira seakan-akan telah menutup pintu hatinya, la tidak mau mengakui kenyataan penglihatannya. Baginya orang itu adalah seorang petani yang telah memberontak terhadap para bangsawan di Surakarta. Menurut Raden Rudira, mereka harus mendapat hukuman.

“Ibunda akan memanggil beberapa orang asing. Dengan senjata api mereka tidak akan dapat dilawan oleh Pangeran Mangkubumi seandainya mereka mempertahankan Sukawati”

Dengan dada yang berdentangan Raden Rudira memacu kudanya terus. Ia tidak berhenti sama sekali, seandainya kudanya tidak gelisah kehausan.

“Pemalas“ Ia menggeram. Meskipun demikian Raden Rudira memberi kesempatan juga kepada kudanya untuk meneguk air bening yang mengalir di parit di pinggir jalan. Demikian juga kuda-kuda yang lain. Kuda Mandra dan kuda Sura.

Dalam pada itu Sura bergeser mendekati seorang kawannya sambil berbisik “Aku tidak tahu tanggapanmu atasku. Mungkin kau menjadi muak melihat sikapku. Aku tidak peduli. Tetapi aku ingin meyakinkan perasaanku. Coba katakan, apakah orang yang kita lihat tadi adalah petani di bulak Jati Sari?“

Kawannya ragu-ragu sejenak.

“Aku mungkin kau tuduh berkhianat kepada Raden Rudira. Aku tidak ingkar, Tetapi katakan dengan jujur, apakah benar orang itu petani yang berada di bulak Jati Sari?“

Meskipun masih ragu-ragu, tetapi kawannya itu menjawab “Aku kira begitu”

“Bagus. Apakah kau kenal Pangeran Mangkubumi”

“Kenal, tetapi tidak dari dekat”

“Apakah orang itu Pangeran Mangkubumi?”

Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia menundukkan kepalanya ”Kau tidak mau menjawab?“

Kawannya masih tetap berdiam diri.

Sura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bertambah yakin karenanya.

Sejenak kemudian maka Raden Rudirapun sudah berpacu kembali. Rasa-rasanya semakin lama semakin cepat. Kemarahan, keragu-raguan dan bahkan kecemasan telah bercampur baur di dalam hatinya. Bagaimanapun juga ia tidak dapat melupakan wajah petani yang seorang itu. la tidak dapat ingkar, bahwa wajah itu adalah wajah seorang Pangeran yang pernah berbicara dengannya satu kali di halaman. Masjid Agung.

“Tidak“ Ia menggeletakkan giginya “Tentu hanya mirip”

Seperti yang mereka perhitungkan, maka mereka memasuki regol halaman istana Pangeran Ranakusuma setelah jauh malam. Derap kaki-kaki kuda itu telah mengejutkan para penjaga dan para abdi yang tinggal di dalam dinding istana itu. Bahkan orang-orang yang tinggal di tepi-tepi jalanpun terkejut pula dan bertanya-tanya di dalam hati “Siapakah yang berpacu di malam begini?“

Tetapi ketika derap kaki-kaki kuda itu sudah menjauh, maka merekapun segera tidur kembali. Mereka tidak menghiraukannya lagi ketika suara itu telah lenyap dari pendengaran.

Namun tidak demikian halnya dengan orang-orang yang tinggal di dalam halaman istana Pangeran Ranakusuma. Beberapa orang penjaga segera bersiaga. Namun ketika mereka melihat bahwa yang datang itu Raden Rudira bersama pengiringnya, maka merekapun menjadi semakin heran.

Tetapi tidak seorangpun yang berani bertanya. Mereka hanya sekedar menganggukkan kepala, sedang beberapa orang yang lain berlari-lari menyusulnya sampai ke tangga pendapa.

Demikian Raden Rudira meloncat dari punggung kudanya, maka orang yang berlari-lari itupun segera menangkap kendali kuda itu.
Dengan tergesa-gesa Raden Rudira naik ke pendapa. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat pendapa yang masih dikotori oleh titik-titik air yang berwarna kekuning-kuningan. Beberapa potong makanan masih terkapar di sudut.

“He” bertanya Raden Rudira kepada seorang pelayan “Apakah baru saja ada tamu?“

“Ya tuan. Baru saja mereka meninggalkan halaman ini”

“Siapa?“

“Beberapa orang kumpeni. Ibunda tuan baru saja menjamu beberapa orang sahabatnya, setelah ibunda menerima undangan mereka dan berkunjung ke rumah Tumenggung Santidarma yang dipinjam oleh kumpeni untuk menjamu ibunda tuan”

“Bersama ayalianda?“

“Tidak. Ayahanda Raden Rudira sedang menghadap Kangjeng Susuhunan di istana. Utusan dari istana datang lewat tengah hari”

“Dan sekarang?“

“Ayahanda dan ibunda ada di dalam. Keduanya sudah di istana ini sebelum para tamu datang”

“Dada Raden Rudira berdentangan mendengar jawaban abdi itu. Ia sebenarnya tidak senang jika ibunya diundang untuk menghadiri perjamuan yang diselenggarakan oleh kumpeni di rumah Tumenggung Santidarma atau di rumah Tumenggung Nitiraga. Meskipun ia belum pernah menyaksikan pertemuan itu, dan meskipun ia tidak pernah mendengar apa yang terjadi di dalam pertemuan-pertemuan semacam itu, tetapi ia mempunyai firasat bahwa pertemuan itu tidak wajar diselenggarakan untuk beberapa orang bangsawan.

“Tetapi dengan demikian ibunda mempunyai banyak kawan dari lingkungan mereka. Mudah-mudahan aku dapat mengambil manfaat dari hubungan ibunda dengan orang-orang bule itu” berkata Raden Rudira di dalam hatinya. Dan apabila ia sudah mulai terbentur pada kepentingan sendiri, maka iapun tidak akan peduli lagi, apa yang akan dilakukan oleh ibunya, meskipun kadang-kadang ia dihantui oleh kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi.

“Ayah tidak melarangnya” berkata Raden Rudira itu pula di dalam hatinya.

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian dihentakkannya tangannya. Baru saja ia mengalami kegagalan mutlak. Dan kini ia menghayati suatu perasaan yang terasa pedih di hatinya, meskipun ia dapat mengambil keuntungan daripadanya.

“Persetan“ Raden Rudira itupun segera menuju ke pintu pringgitan yang tengah. Tetapi pintu itu sudah digerendel dari dalam.

“Tuan“ salah seorang pelayannya mempersilahkan “sebaiknya tuan mengambil jalan dari longkangan”

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian melangkah turun dari pendapa, lewat longkangan menuju ke pintu butulan.

Dengan kerasnya ia mengetuk pintu yang sudah tertutup itu pula, sehingga seorang pelayan yang ada di dalam terkejut karenanya.

“Siapa?“ pelayan itu bertanya setelah ia berdiri di muka pintu.

“Aku. Bukalah pintu” sahut Rudira.

“Aku siapa?“

“Cepat, aku puntir kepalamu”

Tetapi pelayan itu masih ragu-ragu, sehingga Raden Rudira membentak “Buka pintu. Jika kau mempermainkan aku, aku pukul kepalamu sampai pecah”

Tetapi pelayan yang terkejut itu masih berdiri kebingungan. Ia berpaling ketika ia mendengar suara dari pintu dalam “Bukalah. Raden Budira“

“Ampun Raden Ayu“ Orang itu terbungkuk-bungkuk “Aku, aku tidak tahu”

“Nah, sekarang bukalah”

Dengan gugup orang itu segera membuka pintu. Demikian pintu terbuka, Raden Rudira yang marah langsung menggenggam rambut pelayannya ambil membentak. “Lain kali, buka telingamu Kau harus mengenal suaraku”

“Ampun tuan, ampun”

“Sudahlah, lepaskan. Ia terkejut mendengar ketokan pintu itu, karena itu ia menjadi bingung”

Raden Rudira melepaskan rambut pelayan itu. Perlahan-lahan ia melangkah memasuki istananya dengan wajah yang suram.

“Bagaimana dengan perjalananmu? Dan kenapa kau pulang dijauh malam begini?“

“Gagal” sahut Raden Rudira pendek?”

“Kau tidak dapat menemukan?“

“Tidak” jawab Raden Rudira. Tetapi terbayang di rongga matanya, petani yang dicarinya itu berdiri berjajar di antara para petani yang lain. Tetapi demikian besar pengaruh tatapan matanya, sehingga ia justru tidak berani berhenti dan berbuat sesuatu atasnya, setelah sekian lama dicarinya.

“Gila” tiba-tiba penyesalan yang sangat telah melanda dinding jantungnya. Lalu katanya di dalam hatinya pula “Kenapa aku justru pergi meninggalkan padukuhan itu setelah Mandra kalah? Gila, barangkali aku juga sudah gila melihat sikap orang-orang Sukawati yang seolah-olah semuanya sudah kerasukan iblis itu”

Raden Rudira mengangkat wajahnya ketika ibunya berkata “Sudahlah. Jangan selalu kau renungi kegagalanmu. Itu tidak baik sama sekali. Besok atau lusa kau dapat mengulanginya. Mungkin orang itu sedang bersembunyi karena ia sudah menduga bahwa kau akan datang ke Sukawati”

Raden Rudira menganggukkan kepalanya.

”Karena itu, justru apabila mereka sudah tidak membicarakannya lagi, kau pergi dengan tiba-tiba saja ke padukuhan Sukawati itu”

Sekali lagi Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja Raden Rudira itu dengan tergesa-gesa pergi ke pintu butulan kembali. Ketika dilihatnya seseorang pelayan lewat maka dipanggilnya pelayan itu mendekat.

”Panggil Mandra dan beberapa orang pengiring yang lain”

“Baik tuan”

“Apakah yang akan kau lakukan Rudira?“ Bertanya ibunya yang menjadi heran.

Tetapi Rudira tidak menyahut. Dari kejauhan di bawah sinar obor di halaman ia melihat beberapa orang mendatanginya.

“He” berkata Raden Rudira setelah orang-orang itu berada di hadapannya “Siapakah yang dapat pergi ke istana Ramanda Pangeran Mangkubumi“

Tidak seorangpun yang menyahut.

“Siapa yang mempunyai satu atau dua orang saudara yang. menjadi abdi di istana Ramanda Pangeran?“

“Apa yang akan kau perbuat Rudira?“ bertanya ibunya.

Raden Rudira tidak menghiraukan pertanyaan ibunya. Sekali lagi ia bertanya kepada orang-orangnya “Siapa yang mempunyai saudara yang tinggal di Dalem Istana Ramanda Pangeran Mangkubumi he?“

Sejenak orang-orangnya itu termangu-mangu. Namun kemudian seseorang di antara mereka berkata “Aku Raden. Aku mempunyai seorang kakak yang bekerja disana. Menjadi abdi pekatik Pangeran Mangkubumi”

“Bagus, pergilah menemui kakakmu itu”

“Rudira“ ibunya memotong “Apakah kau sadari perintahmu itu?“

“Aku sadar sepenuhnya ibu. Bukankah bunda ingin mengaitkan bahwa hari telah larut malam?“

“Ya“

“Tidak ada. Orang itu harus menemui kakaknya saja. Apapun alasannya. Ia dapat menyebut bahwa ayahnya sakit atau ibunya atau siapa saja, sehingga ia mendapat ijin penjaga regol untuk memasuki halaman dan bertemu dengan kakaknya”

“Jika ia sudah menemui kakaknya, apa yang harus dikerjakan?“

“Hanya sekedar bertanya, apakah Ramanda Pangeran ada di istananya.

“Kenapa?“ bertanya ibunya.

“Aku ingin meyakinkan, apakah Ramanda Pangeran ada di istana”

“Kenapa tidak besok saja Rudira”

“Aku memerlukannya sekarang ibu. Ada sesuatu yang memaksa aku untuk mengetahuinya sekarang”
Ibunya mengerutkan keningnya. Tetapi agaknya keinginan Rudira itu tidak dapat ditundanya lagi. Meskipun demikian ibunya berkata “Rudira, lebih baik kau mohon nasehat ayahandamu”

Rudira mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak memerlukan nasehat apapun, karena aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui, apakah Ramanda Pangeran ada di istananya. Hanya itu”

“Kenapa kau ingin mengetahuinya?“

“Ramanda Pangeran tidak ada di pesanggrahan”

“Dan kenapa harus sekarang?“

Raden Rudira termangu-mangu sejenak. Lalu jawabnya “Tidak apa-apa. Tetapi aku ingin mengetahuinya sekarang”

Ibunya tidak dapat mencegahnya lagi. Karena itu, iapun tidak mencoba menahannya.

“Pergilah” berkata Rudira kepada orang yang mengaku mempunyai seorang kakak yang bekerja menjadi pekatik di Dalem Pangeran Mangkubumi itu.

Orang itu menjadi termangu-mangu sejenak. Namun Rudira segera membentak “Pergi, cepat”

“Ya, ya tuan. Aku akan pergi”

Maka dengan tergesa-gesa orang itupun meninggalkan istana Ranakusuman. Bagaimanapun juga ia tidak dapat menolak lugas itu. Sambil melangkahkan kakinya, maka iapun mulai mereka-reka, alasan apakah yang akan dikemukakannya kepada para penjaga regol agar ia diperkenankan menemui kakaknya itu.

“Kakek sakit keras“ desisnya “mungkin alasan itu dapat diterima, meskipun kakek sudah lama meninggal. Lebih baik aku menyebut orang yang sudah meninggal daripada aku harus menyebut ayah dan ibuku. Bagaimana kalau mereka benar-benar menjadi sakit”

Sementara itu, di istana Ranakusuman, Rudira masih-berdiri di muka pintu sambil berkata “Mandra, siapkan pengiring-pengiringku. Besok kita akan pergi lagi”

“Kemana Rudira?“ bertanya ibunya.

“Aku harus menebus sakit hatiku. Lebih baik mengurus gadis kecil itu daripada petani Sukowati yang gila itu”

“Maksudmu?”

“Ada gadis cantik di Jati Aking. Ia dapat diambil sebagai abdi di istana ini. Ibunda tentu memerlukannya seorang dayang yang dapat membantu ibunda menyediakan tempat sirih dan botekan”

“Siapakah anak itu?“

“Anak Danatirta, Jati Aking”

“Danatirta?” Raden Ayu Sontrang mengerutkan keningnya “Maksudmu dari padepokan Jati Aking, tempat tinggal Juwiring sekarang?“

“Ya”

“Apakah kau pergi ke Jati Aking”

“Ya. bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku bertemu dengan petani gila itu di bulak Jati Sari?“

Raden Ayu Sontrang mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Ya. Kau memang pernah mengatakannya. Tetapi bagaimana dengai gadis itu?“

“Aku akan mengambilnya dan menyerahkannya kepada ibunda”

“Aku tidak memerlukannya”

“Barlah ia berada di istana ini. Gadis itu cantik. Jika ia tetap berada di Jati Aking bersama-sama dengan kamas Juwiring, agaknya akan berbahaya baginya”

“Jangan kau urusi orang itu”

“Aku tidak akan mengurusi kamas Juwiring, tetapi aku akan menyelamatkan gadis itu. Aku akan minta Kepada ayahnya, agar anak gadisnya diserahkan kepada ibunda”

“Kau akan menambah persoalan Rudira. Danatirta bukan anak-anak macam Sura” ibunya berhenti sejenak, lalu tiba-tiba “He, dimana Sura sekarang?“

”Ia menjadi liar. Bahkan hampir berkhianat”

“Tidak mungkin. Ia adalah abdi tertua disini”

“Bertanyalah kepada orang-orang kita yang lain, ibu. Mereka akan memberikan keterangan dengan jujur. Tanpa ditambah dan tanpa dikurangi”
Raden, Ayu Sontrang mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu atas keterangan puteranya itu. Meskipun demikian ia tidak bertanya lagi dan berkata “Sudahlah. Hari sudah jauh malam, beristirahatlah”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dilemparkannya segala kelengkapan yang masih merekat di tubuhnya.

“Aku akan mandi. Kemudian aku memerlukan makan, aku lapar”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Disuruhnya pelayannya membangunkan pelayan yang lain. juru masak dan pembantu-pembantunya. Puteranya memerlukan makan meskipun sudah jauh malam.

Sambil menggerutu pelayan-pelayan di dapur itupun mulai menyiapkan makan bagi Raden Rudira dengan tergesa-gesa. Apalagi Raden Rudira termasuk orang yang agak sulit dilayani, justru karena ibundanya sangat memanjakannya, terlebih-lebih lagi setelah Juwiring tidak ada lagi di istana itu.

“Raden Juwiring makan apa yang ada” berkata seorang juru masak kepada pembantunya “Tetapi Raden Rudira memerlukan lauk yang disenanginya. Kapanpun ia ingin makan. Untunglah yang disenanginya tidak begitu sulit dicari. Telur ayam, otak lembu dan udang, yang hampir setiap hari pasti tersedia di dapur Dalem Ranakusuman”

Dalam pada itu. selagi Raden Rudira mandi, ibunda Raden Ayu Sontrang menunggunya di ruang dalam. Tetapi ia tidak membangunkan Pangneran Ranakusuna yang baru saja tidur, yang agaknya lelah juga selelah menghadap ke istana Susuhunan.
Sejenak Raden Ayu Sontrang duduk seorang diri di bawah lampu minyak yang menyala terang di ruang dalam. Sejenak ia sempat merenungi keadaan puteranya laki-laki. Ia berharap agar puteranya kelak menjadi satu-satunya pewaris segala kekayaan yang berlimpah di Ranakusuman ini. Bahkan Raden Ayu Sontrang masih belum puas dengan kekayaan yang ada. Ia masih juga menerima banyak sekali pemberian dari beberapa orang perwira kumpeni yang menjadi kawan-kawannya terdekat.

Kadang-kadang terasa bulu-bulunya meremang jika dikenang, imbalan yang harus diberikan kepada perwira-perwira berkulit putih itu. Kulit yang kasar dan sikap yang kasar. Tetapi gemerlapnya permata memang telah menyilaukannya.

“Kamas Ranakusuman tidak menghiraukannya” berkata Raden Ayu Sontrang ini. Karena Kamas Ranakusuma juga memerlukan dukungun dari ilm orang-orang kulit putih itu untuk mendapat tempat terbaik di istana. Dukungan timbal balik”

Tetapi Raden Ayu Sontrang kemudian mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tidak mau mendengarkan persoalan yang tumbuh di hatinya tentang dirinya sendiri. Apapun yang terjadi atas dirinya sudah dilakukannya dengan sadar, sehingga seharusnya tidak ada persoalan lagi baginya.

Dalam pada itu, seorang abdi yang diperintahkan oleh Raden Rudira pergi ke Mangkubumen, semakin lama menjadi semakin dekat dengan regol yang sudah tertutup. Dengan hati yang berdebar-debar ia mendekat, sementara ia masih juga mengatur alasan yang akan dikemukakannya.

“Memang lebih baik kakek” desisnya. Tetapi tiba-tiba “Jika kakek yang sakit, kenapa tampaknya aku terlampau gugup. Kakek pasti sudah tua. Jika ia sakit keras, itu sudah wajar”

Pelayan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian “Tetapi kakang telah diangkat menjadi anak kakek itu”

Tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Tanpa disadarinya ia sudah berdiri di luar regol Dalem Mangkubumen.

Dengan tangan gemetar ia mengetuk lubang dipintu regol. Ketika lubang persegi empat itu terbuka, dilihatnya seraut wajah yang menjenguk dari lubang itu.

“Siapa?” Ia mendengar orang di dalam regol itu bertanya.

“Aku, Sampir”

“Sampir siapa?“

“Aku akan menemui kakangku yang bekerja disini sebagai pekatik”

“Malam-malam begini?“

Jilid 4 Bab 1 : Arum

“KAKEK sakit keras. Aku segera ingin menemui kakangku dan jika perlu, mengajaknya mengunjungi kakek”

“Kakangmu siapa?“

“Sada”

“Sada pekatik itu?“

“Ya”

“Datanglah besok pagi”

“Kakek sakit keras. Kakang Sada adalah cucunya terkasih. Ia sudah diambil anak angkat oleh kakek. Hampir setiap saat ia mengigau memanggil nama kakang Sada”

Penjaga itu merenung sejenak. Terdengar suara mereka berbisik-bisik. Agaknya mereka sedang membicarakan permintaan abdi Ranakusuman itu”

Tiba-tiba pintu regol itu terbuka perlahan-lahan. Seorang pengawal berdiri di dalam regol sambil memandanginya. Katanya “Tunggulah sebentar. Aku akan memanggilnya”

“Apakah aku boleh mengunjungi di dalam biliknya”

“Tunggulah di sini. Di dalam”

Pelayan Raden Rudira itu termangu-mangu. Jika ia harus berbicara di regol itu. di hadapan para pengawal, maka ia tidak akan dapat menyampaikan pertanyaan yang sebenarnya harus ditanyakannya. Karena itu. maka sekali lagi ia minta “Sudahlah, jangan membuat kalian terlalu repot. Biarlah aku datang ke biliknya”

“Apakah kau pernah mengunjunginya”

“Pernah, tetapi di siang hari. Dan aku belum tahu letak biliknya itu. Meskipun demikian, aku ingin datang kepadanya supaya aku dapat mengatakannya dengan hati-hati, agar ia tidak terkejut karenanya”

Para petugas regol itu menjadi termangu-mangu sejenak. Ia melihat kegelisahan, bahkan kekisruhan pada jawaban pelayan Ranakusuman itu. Untunglah bahwa mereka mengira, orang itu benar-benar sedang ditimpa kemalangan, bukan karena kecemasan bahwa niat kedatangannya yang sebenarnya akan dapat diketahui oleh para penjaga itu.

Sejenak kemudian maka penjaga itu berkata “Jadi manakah yang benar? Apakah kau pernah mengunjunginya atau belum?“

Pelayan itu berpikir sejenak, lalu “Keduanya benar. Aku pernah mengunjunginya kemari. Tetapi tidak tahu dimana ia tinggal, maksudku, aku bertemu ia di muka regol ini”

“Sudahlah“ potong salah seorang dari para penjaga “Marilah, aku antarkan saja kau kepondoknya di belakang, di sebelah kandang”

“Terima kasih, terima kasih” sahut pelayan itu terbata-bata.

Maka dengan hati yang berdebar-debar iapun mengikuti penjaga yang membawanya ke belakang. Dekat di sebelah kandang kuda terdapat sebuah pondok kecil. Di situlah kakaknya tinggal bersama isterinya.

Sada terkejut ketika pintu rumahnya diketok orang di malam hari. Dengan tergesa-gesa ia bangkit dan melangkah menuju ke pintu.

“Siapa?“ Sada bertanya.

“Aku kakang, Sampir”

“He“ Sada semakin terkejut “Kau datang di malam begini?“

“Ya, ada perlu yang penting”

Ketika terdengar selarak pintu dibuka, maka Sampirpun berkata kepada penjaga yang mengantarkannya “Terima kasih. Terima kasih. Orang itu benar-benar kakakku”

Penjaga itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mau mencampurinya, sehingga ditinggalkannya Sampir di muka pintu yang kemudian terbuka.

“O, kau diantar oleh penjaga regol itu?“

“Ya”

“Masuklah. Apakah yang penting?“

Sampirpun segera melangkah masuk. Sikapnya yang gelisah membuat kakaknya bertanya-tanya. Baru ketika pintu sudah ditutupnya, Sampir berkata “Aku datang membawa persoalan yang penting kakang”

“Kau membuat aku berdebar-debar. Apakah yang penting itu?”

“Kepada para penjaga aku berkata bahwa kakek sakit keras”

“Kakek? Kakek yang mana?“

“Kakek kita”

“He“ Sada mengerutkan keningnya “Apakah kau kesurupan? Bukankah kakek sudah meninggal?“

“Itulah. Aku hanya sekedar memberikan alasan, agar aku dapat masuk dan menemui kau”

“Apa sebenarnya yang penting itu?“

Sampir menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia berbisik Apakah tidak ada orang yang akan mendengar?“

“Aku tidak mengerti, apakah yang akan kau katakan?”

“Aku mendapat perintah dari Raden Rudira”

“Apa yang harus kau kerjakan?“

“Apakah tidak ada yang mendengar?“

“Ada, mungkin mBokayumu. Ia terbangun juga tadi mendengar pintu diketuk keras-keras. Dan barangkali kuda-kuda di kandang sebelah”

“Baiklah“ Sampir menelan ludahnya “Raden Rudira ingin mengetahui, apakah Pangeran Mangkubumi ada di istana?“

“Di istana Kangjeng Sunan?“

“Tidak. Maksudku di istananya sendiri. Di rumah ini. Bukan di istana Kangjeng Susuhunan”

“Kenapa?“

“Aku tidak tahu. Tetapi ia sedang digelisahkan oleh wajah yang kembar. Setidak-tidaknya mirip sekali”

“Aku tidak mengerti” Sampir menarik nafas dalam-dalam.

“Cobalah, tenangkan sedikit hatimu, supaya kata-katamu tidak bersimpang siur”

“Apakah ada minum?“

“Ada, ada meskipun dingin”

Sadapun kemudian mengambil semangkuk air dan diberikannya kepada adiknya yang gelisah.

Setelah menelan seteguk air, dan sekali lagi menarik nafas dalam-dalam, maka iapun mulai berceritera, apa yang diketahuinya tentang perasaan Raden Rudira yang gelisah.

Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Jadi Raden Rudira putera Pangeran Ranakusuma mencari seorang petani yang telah melawannya. Adalah kebetulan sekali bahwa petani itu mirip benar dengan Pangeran Mangkubumi?“

“Ya. Tetapi bukan itu saja. Di pesanggrahan Pangeran Mangkubumi diketemukan pakaian petani yang menurut para pelayan di sana, pakaian itu adalah pakaian Pangeran Mangkubumi”

Sada mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sambil tersenyum ia kemudian menjawab “Memang Pangeran Mangkubumi sering mempergunakan pakaian seorang petani. Itu menjadi kegemarannya”

Sampir mengerutkan keningnya. Terbata-bata ia bertanya “Jadi petani itu Pangeran Mangkubumi sendiri?“

“Belum tentu. Kapan Raden Rudira melihatnya?“

“Sore tadi”

“Sore tadi?“ Sada merenung sejenak, lalu “Pangeran Mangkubumi ada di istana ini”

“He, jadi Pangeran Mangkubumi ada di rumah, eh, maksudku di istananya?“

“Ya. Sejak beberapa hari Pangeran tidak meninggalkan istananya. Ia baru samadi di sanggarnya”

“Kau melihat sendiri?“

“Kudanya ada di kandang. Kalau kau tidak percaya, tunggulah sampai fajar. Hampir setiap fajar, Pangeran Mangkubumi berjalan-jalan mengelilingi halaman Kapangeranan ini”

“Tetapi tadi kau katakan bahwa Pangeran Mangkubumi sedang samadi di sanggarnya”

“Ya. Namun setiap pagi Pangeran Mangkubumi turun dari sanggar dan berjalan-jalan mengelilingi halaman”

Sampir mengangguk-angguk. Tetapi ia masih ingin meyakinkan “Tetapi kau benar-benar melihatnya”

“Aku yakin. Sebelum aku pergi tidur, aku melihat Pangeran Mangkubumi berada di pendapa sejenak”

Tetapi Sampir justru menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia berkata “Aku akan mengatakannya kepada Raden Rudira. Terserah, kesimpulan apakah yang akan diambilnya”

Sada yang melihat adiknya menjadi semakin bingung justru tersenyum sambil berkata “Kau jangan ikut menjadi bingung. Banyak rahasia yang tidak diketahui tentang Pangeran Mangkubumi.

Tetapi ia adalah seorang Pangeran yang baik, yang ramah dan rendah hati. Tetapi pendiriannya keras sekeras besi baja. Ia tidak mudah terpengaruh oleh persoalan-persoalan baru yang tampaknya memikat hati”

Sampir mengangguk-angguk.

“Katakan apa yang kau dengar tentang Pangeran Mangkubumi. Ia ada di istananya malam ini. Jika yang dijumpainya di Sukawati itu juga Pangeran Mangkubumi, maka hal itupun mungkin pula terjadi”

“Jadi bagaimana? Apakah Pangeran Mangkubumi bergegas kembali ke Dalem Kapangeranan?“

“Tidak perlu bergegas. Jika dikehendaki, ia dapat menempuh jarak dari Sukawati ke istana ini dalam sekejap. Mungkin ia berada di Sukawati, dan sekejap kemudian berada di sini”

“Bagaimana mungkin hal itu terjadi?“

“Apakah kau belum pernah mendengar, bahwa Pangeran Mangkubumi memiliki aji Sepi Angin”

“O“

Sada tertawa tertahan melihat wajah adiknya yang tegang.

“Jangan bingung. Jangan hiraukan tentang Sepi Angin. Tetapi katakan saja kepada Raden Rudira, bahwa Pangeran Mangkubumi ada di rumahnya. Dengan demikian ia akan menjadi tenang”

“Tidak. Bahkan sebaliknya. Ia pasti akan semakin bernafsu mencari petani itu kembali. Hanya karena ia ragu-ragu, bahwa petani yang mirip Pangeran Mangkubumi itu benar-benar Pangeran Mangkubumi itu sendirilah, maka ia tidak berbuat apa-apa dan memerintahkan aku malam-malam begini menemuimu”

Sada masih tertawa. Katanya “Sudahlah. Jangan kau bicarakan lagi. Apakah kau akan tidur di sini atau kembali? Sebentar fajar akan menyingsing”

Sampir menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata “Raden Rudira menunggu aku. Dan aku sudah terlanjur mengatakan kepada para penjaga, bahwa kakek sedang sakit. Kau harus menyesuaikan dirimu”

Tetapi kakaknya masih saja tertawa, katanya “Jangan gelisah. Aku akan mengatakan kepada mereka, bahwa kakek memang sakit. Dan aku akan pergi menengoknya. Karena itu, kita berangkat setelah fajar”

Sampir merenung sejenak. Tetapi sebelum ia menjawab, terdengar suara seorang perempuan bertanya dari dalam bilik tidurnya

“Siapa yang sakit?“

“Ia mendengar percakapan kita. Tetapi agaknya hanya yang terakhir. Rupa-rupanya ia tidur terlampau nyenyak, sehingga ia tidak mendengar percakapan kita sebelumnya. Ia tertidur lagi, setelah aku membuka pintu dan tahu, bahwa yang datang adalah kau”

Sampir mengangguk-anggukkan kepalanya, dan suara itu bertanya lagi “Siapakah yang sakit?“

“Kakek” sahut Sampir.

“Kakek siapa?“

“Ssst, nanti aku beritahu” sahut suaminya. Perempuan itu diam. Tetapi ia tidak keluar dari biliknya.

Setelah mereka terdiam sejenak, maka Sampirpun bertanya “Jadi kau akan pergi juga”

“Tentu, bukankah kau sudah mengatakan kalau kakek sakit?“

“Baiklah, jika demikian, biarlah aku menunggu sampai fajar menyingsing”

Kakaknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak kemudian iapun berdiri dan membuka pintu pondoknya. Sambil menengadahkan kepalanya ia berkata “Sudah semburat“

“Apa?“

“Fajar. Aku akan mandi dan minta diri agar pekerjaanku dapat dikerjakan oleh orang lain. Di sini hanya ada dua pekatik, apalagi kami merangkap juru taman”

Sampir tidak menjawab. Kakaknyapun kemudian melangkah Keluar membersihkan wajahnya dipakiwan. Ternyata ia tidak mandi sepenuhnya, selain kepalanya dan kaki tangannya.

Setelah memberikan pesan secukupnya kepada isterinya, maka iapun minta diri. Ia akan mengunjungi kakeknya yang sakit seperti yang dikatakan adiknya dan berpesan pula kepada kawannya, mungkin ia lambat kembali.

“Apakah kau akan pergi sampai tengah hari?“

“Menjelang tengah hari, aku kira aku sudah kembali”

Demikianlah keduanya meninggalkan pondok Sada pada saat fajar menyingsing. Seperti yang sudah terlanjur dikatakan, keduanya kan pergi ke rumah kakeknya yang sedang sakit.

Tetapi tiba-tiba langkah mereka terhenti di sudut pendapa. Sesosok bayangan berjalan perlahan-lahan di dalam keremangan fajar. Sambil mengayunkan tongkatnya, orang itu melangkah menyilang dari sudut halaman yang satu ke sudut yang lain”

“Itulah Pangeran Mangkubumi” desis Sada.

“O“ tiba-tiba wajah Sampir menjadi pucat. Dengan serta merta ia menjatuhkan diri berjongkok ketika orang yang disebut sebagai Pangeran Mangkubumi itu berpaling kearah mereka.

Tetapi Sada tidak berjongkok. Sada hanya menganggukkan kepalanya dalam-dalam.

Sampir menjadi semakin berdebar-debar ketika orang itu memperhatikannya dan berkata “Kenapa ia berjongkok”

Barulah Sada sadar, dan segera menarik adiknya berdiri.

“Bukankah itu Pangeran Mangkubumi“ bisik Sampir.

“Ya, Pangeran Mangkubumi tidak mengharuskan abdinya berjongkok setiap saat. Hanya dalam keadaan tertentu”

Tetapi Sampir masih ragu-ragu. Ia menjadi gemetar ketika ia melihat Pangeran Mangkubumi itu mendekatinya.

Tampaklah di dalam cahaya lampu pendapa, wajah Pangeran yang penuh wibawa itu. Berpandangan tajam tetapi lembut.

“Orang ini, memang orang di Sukawati itu” tiba-tiba Sampir berkata di dalam hatinya “petani itu bukan saja mirip, tetapi tepat tidak ada bedanya sama sekali”

“Siapakah kau?“ bertanya Pangeran Mangkubumi kepada Sampir yang masih belum mau berdiri.

“Ampun tuan. Hamba adalah abdi Ranakusuman” Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Kemudian iapun bertanya “Kenapa kau di sini pagi-pagi benar?“

“Hamba, eh, hamba ingin menemui kakak hamba ini”

“Ada apa?“

Tiba-tiba saja terasa mulutnya seakan-akan membeku. Dibawah tatapan mata Pangeran Mangkubumi, Sampir sama sekali tidak dapat berbohong. Ia tidak tahu. pengaruh apakah yang sudah mencengkamnya. Namun tidak sepatah katapun yang dapat diucapkan.

“Adik hamba mengabarkan bahwa kakek sedang sakit tuan“ Sadalah yang menyahut sambil membungkuk dalam-dalam.

“O“ Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk ”Dan kau akan pergi mengunjunginya?“

“Ya tuan” Sada menjawab.

“Dan kau adiknya?“

“Hamba tuan“ Sampir menyembah.

“Aku sudah mengira, bahwa ia bukan abdi Mangkubumen“ berkata Pangeran Mangkubumi “sikapnya bukan sikap orang-orangku di sini”

Keduanya tidak menjawab.

“Baiklah, kalau kau akan pergi menengok kakekmu itu. Apakah kau sudah memberitahukan kawanmu? Bukankah kau pekatik?“

“Ya tuan. Hamba sudah memberitahukan kepada kawan hamba. Hamba berharap, sebelum tengah hari hamba sudah datang“

Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Kemudian iapun berjalan lagi meninggalkan kedua orang itu termangu-mangu.

“Kenapa kau tidak berjongkok” bertanya Sampir kemudian setelah Pangeran Mangkubumi menjauh “Kami harus berjongkok di hadapan Pangeran Ranakusuma”

“Sudah aku katakan. Kami tidak harus berjongkok setiap saat” jawab kakaknya.

Sampir tidak bertanya lagi. Tetapi ia masih memandang Pangeran Mangkubumi yang menjauh. Rasa-rasanya ada sesuatu yang lain padanya dari Pangeran Ranakusuma.

Demikianlah keduanyapun kemudian meninggalkan istana Mangkubumen. Bagi Sada, kepergiannya itu sebenarnya hanyalah sekedar untuk menutup ceritera adiknya tentang kakeknya yang sakit. Kakek yang sangat mengasihinya.

“Sekarang kemana aku harus pergi?“ tiba-tiba saja Sada berdesis.

Sampir tidak segera menjawab. Iapun tidak tahu, kemanakah sebaiknya Sada pergi.

“Aku akan pergi ke Ranakusuman” berkata Sada tiba-tiba.

“O“ adiknya termangu-mangu.

“Lebih baik pergi ke tempatmu daripada aku harus mengelilingi kota sampai tengah hari”

“Baik, baik. Kau akan dapat memberikan keterangan tentang Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian mereka tidak akan dapat menuduh aku berbohong”

Sada mengangguk. Namun tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk mengetahui, apa saja yang akan ditanyakan oleh Raden Rudira kepadanya tentang Pangeran Mangkubumi? Kenapa ia begitu gelisah sehingga mengirimkan adiknya di jauh malam untuk menemuinya dan sekedar bertanya, apakah Pangeran Mangkubumi ada di rumah.

Karena itu, maka iapun membulatkan niatnya untuk ikut bersama adiknya pergi ke Ranakusuman.

Dalam pada itu, di Ranakusuman, Raden Rudira ternyata hanya tertidur beberapa saat. Di pagi-pagi benar ia sudah terbangun dan langsung mencari Sampir.

“Anak itu belum datang“ seorang pelayan memberitahukan kepadanya.

“He, sampai fajar anak itu masih belum datang? Apakah ia mati di pinggir jalan atau dicekik hantu regol Mangkubumen?”

Pelayannya tidak berani mengangkat wajahnya.

“Cari anak itu sampai ketemu. Ia harus menghadap aku segera”

Pelayan itu hanya dapat mengangguk dalam-dalam sambil berdesis dengan suara gemetar “Ya tuan. Aku akan mencarinya”

“Cepat“

Orang itupun segera meninggalkan Raden Rudira yang marah-
marah. Tetapi ia tidak tahu, kemana ia harus mencari Sampir. Ia tahu bahwa Sampir pergi ke Mangkubumen. Tetapi apakah ia harus menyusulnya?

Selagi ia kebingungan, maka dilihatnya dua orang memasuki regol halaman. Orang itu adalah Sampir.

“Cepat“ Orang itu berlari-lari “Kau dicari oleh Raden Rudira”

“O“ Sampir mengangguk-angguk. Sambil berpaling kepada kakaknya ia berkata “Marilah, Raden Rudira akan senang sekali dapat bertemu dengan kau”
Sada mengangguk-angguk. Iapun kemudian mengikuti adiknya berberjalan cepat ke serambi belakang”

“He, Raden Rudira tidak ada di situ” berkata pelayan yang mencarinya.

Sampir tertegun. Terbata-bata ia bertanya “Dimana?“

“Di gedogan. Ia sedang menengok kudanya yang baru” keduanya segera pergi kekandang kuda. Meskipun hari masih agak gelap, tetapi ternyata Raden Rudira sudah berada di kandang kudanya yang baru, seekor kuda yang tegar berbulu coklat kehitam-hitaman.

“He, cepat, kemarilah“ Panggil Raden Rudira ketika ia melihat Sampir mendekat.

“Apakah Ramanda Pangeran ada di istana?“ langsung Raden Rudira bertanya

Sampir menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Ya Raden, Pangeran Mangkubumi ada di istananya”

“Nah, bukankah aku benar. Laki-laki itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ramanda Pangeran Mangkubumi. Bodoh sekali, kenapa aku tidak berbuat sesuatu”

Tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak “Sura, eh, aku tidak memerlukannya lagi, Mandra. Panggil Mandra kemari”
Pelayannyapun segera berlari-lari memanggil pengawal yang bertubuh raksasa yang bernama Mandra untuk menghadap Raden Rudira.

Namun dalam pada itu, sesosok tubuh yang lain berada di balik dinding gedogan dengan dada yang berdebar-debar. Ia mendengar semua pembicaraan, la tahu bahwa Raden Rudira sudah tidak memerhatikannya lagi, karena orang itu adalah Sura.

Tetapi Sura yang sudah menemukan dirinya, tidak memperdulikannya lagi. Ia sama sekali tidak menyesal, badwa ia akan dikeluarkan dari istana Ranakusuman, tempat ia bekerja bertahun-tahun. Namun sikap Raden Rudira, semakin lama semakin tidak disukainya.

Sura yang berada di belakang dinding itu mendengar derap kaki Mandra berlari-lari. Bahkan dari celah-celah dinding yang tidak rapat, ia melihat orang yang bertubuh tinggi kekar itu dengan tenang datang menghadap Raden Rudira. Sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam ia bertanya “Apakah tuan memanggil aku?”

“Ya. Aku memerlukan kau”

“Aku selalu siap menjalankan perintah tuan”

“Dengar” katanya “petani itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ramanda Pangeran Mangkubumi”

Mandra menjadi bingung mendengarnya. Ia tidak segera mengerti apa yang dikatakan oleh Raden Rudira.

“He, kenapa kau mendengarnya dengan mulut ternganga?” bentak Raden Rudira.

Mandra masih merenung sejenak, baru kemudian ia mengangguk-angguk sambil berkata “O, tentu, tentu Raden. Memang tidak ada hubungan apapun juga antara petani itu dengan Pangeran Mangkubumi.

“Jadi, aku harus menangkapnya. Aku harus menemukannya kembali, selagi ia belum lari dari Sukawati. Suralah yang agaknya telah berkhianat. Mungkin ia menjadi sangat ketakutan setelah ia dikalahkan oleh petani itu”

“Sura memang tidak berarti apa-apa tuan. Jika tuan menghendaki, aku sanggup mengantarkan tuan meskipun tanpa orang lain. Aku sanggup menangkapnya sendiri dan membawanya kemari, menyeretnya di belakang kuda dengan tangan terikat”

“Bagus. Kita akan mengambilnya. Hatiku masih belum puas, Jika aku belum berhasil menangkapnya” Raden Rudira menggeram “Kita akan mengambil petani itu sekaligus dengan perempuan dari Jati Aking”

“Perempuan dari Jati Aking?“ Mandra bertanya.

”Ya. Petani itu pulalah yang telah menggagalkan rencanaku atas gadis Jati Aking itu”

Mandra masih belum jelas, apakah hubungan antara petani itu dengan seorang gadis dari Jati Aking, meskipun ia pernah mendengar bahwa petani itu dijumpai pertama-tama di bulak Jati Sari.

Namun selagi Mandra bertanya-tanya di dalam hati dan mencoba menghubung-hubungkan ceritera yang pernah didengarnya itu dengan perempuan yang dimaksud Raden Rudira, tiba-tiba saja Sada yang selama itu hanya mendengarkan saja berkata “Tetapi tidak mustahil bahwa Pangeran Mangkubumilah petani yang tuan maksud itu”

Raden Rudira membelalakkan matanya. Dipandanginya orang itu tajam-tajam. Kemudian ia bertanya “Siapakah laki-laki ini?“

“Ampun tuan“ Sampirlah yang menjawab “Orang ini adalah kakakku. Ia adalah abdi di Mangkubumen. Kepadanya aku bertanya tentang Pangeran Mangkubumi, dan adalah kebetulan sekali bahwa aku telah melihatnya sendiri”

“Tetapi kenapa ia berkata begitu?“

Sada seakan-akan sama sekali tidak mengerti, akibat apa yang dapat timbul dari kata-katanya. Seenaknya ia berkata “Memang Mungkin sekali. Pangeran Mangkubumi dapat berada di sembarang tempat di setiap waktu”

Raden Rudira menjadi tegang ”Maksudmu?“

“Pangeran Mangkubumi mempunyai aji Sepi Angin”

Wajah Raden Rudira menjadi merah. Sejenak ia memandang wajah Sada. Namun sejenak kemudian dipandanginya wajah pelayan-pelayannya yang ada di sekitarnya. Dan ternyata bahwa wajah-wajah itupun menegang juga.

Namun tiba-tiba ia berteriak “Bohong. Bohong kau”

Tetapi masih seenaknya Sada menggeleng “Kenapa aku berbohong? Aku hanya memperingatkan tuan, agar tuan tidak salah langkah. Dari Sampir aku mendengar bahwa tuan menjadi ragu-ragu melihat seorang petani yang mirip dengan Pangeran Mangkubumi. Memang tidak mustahil bahwa petani itu memang Pangeran Mangkubumi”

Raden Rudira memandang Sada dengan tajamnya. Ia sama sekali tidak senang melihat sikapnya. Seakan-akan ia sedang berbicara dengan orang-orang sejajarnya. Apalagi persoalan yang dikatakannya telah menimbulkan keragu-raguan yang sangat di dalam hatinya.

Karena itu, maka dengan wajah yang merah ia membentak ”Aku tidak memerlukan keteranganmu. Aku tidak memerlukan kau. pergi. Pergi dari sini. Sikapmu tidak menyenangkan dan kau mulai membual seperti pelayan-pelayan pesanggrahan itu. Aku harus melaporkannya kepada Ramanda Pangeran Mangkubumi bahwa pasti ada seseorang dari abdi-abdinya yang dengan sengaja mengacaukan susunan tata-krama”

Sada terkejut mendengar bentakan-bentakan itu, sehingga tanpa sesadarnya ia berkata “Kenapa tuan membentak-bentak aku?“.

“Kau tidak mengenal sopan santun. Dan kau sengaja membuat aku gelisah” lalu Raden Rudira berkata kepada Sampir “bawa orang ini meninggalkan halaman”
Sampir menjadi termangu-mangu. Karena itu ia tidak segera berbuat sesuatu sehingra Raden Rudira membentaknya pula “Cepat, bawa orang ini pergi”

“Ya, ya tuan“ Ia menyahut terbata-bata.

Sadapun kemudian menyadari, bahwa ia tidak disukai oleh Raden Rudira. Karena itu, maka iapun menganggukkan kepalanya sambil berkata “Baiklah Raden. Aku minta diri. Aku minta maaf, bahwa aku berbuat sesuatu yang tidak berkenan di hati Raden. Mungkin hal ini terbawa oleh kebiasaan kami di istana Pangeran Mangkubumi”

“Cukup, Cukup. Kau tidak usah sesorah sekarang tinggalkan halaman ini”

“Baiklah Raden” sahut Sada sambil membungkuk sekali lagi.

Demikianlah, Sampir telah membawa kakaknya keluar regol halaman Ranakusuman, sambil minta maaf kepadanya.

“Kau tidak apa-apa. Baiklah aku berjalan berkeliling kota sampai menjelang tengah hari, seolah-olah aku sudah menengok kakek yang sedang sakit”

Dalam pada itu Raden Rudira benar-benar telah dicengkam kembali oleh keragu-raguan yang dahsyat. Keterangan Sada membuatnya semakin bingung, sehingga dendam yang tersimpan di dalam dadanya seakan-akan menghentak-hentak tanpa mendapat saluran.

Dalam kebingungan dan kebimbangan itulah, tiba-tiba. Raden Rudira mencari sasaran yang paling lunak untuk melepaskan kemarahannya. Katanya kepada Mandra “Sebentar lagi matahari akan terbit. Jika panasnya mulai menyentuh atap gandok kulon, kalian harus sudah siap. Aku akan pergi ke Jati Aking. Aku akan mengambil gadis itu atas perintah ibunda. Ibunda Ranakusuma memerlukan seorang pelayan untuk menyiapkan tempat sirihnya setiap saat”

Perintah itu itu sebenarnya sangat mengejutkan. Apalagi Sura yang berada di balik dinding dengan gelisah. Jika Rudira masih saja berdiri di situ sampai matahari naik, maka kehadirannya pasti diketahui oleh salah seorang yang ada di sekitar kandang itu.

Untunglah bahwa kemudian jatuh perintah Raden Rudira yang mengejutkan itu, sehingga sejenak kemudian Raden Rudirapun meninggalkan kandang itu sambil menggeram “Aku harus mengambilnya. Tidak seorangpun dapat menentang perintah seorang Pangeran. Dan ayahanda lewat ibunda menghendaki gadis itu”

Para abdinya yang termangu-mangu iupun sejenak kemudian telah meninggalkan kandang itu pula Meskipun mereka harus menggerutu, tetapi mereka tidak dapat menolak. Betapapun lelahnya, mereka harus segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Jati Sari.

“Mudah-mudahan petani itu tidak kita jumpai lagi di Jati Sari” desis salah seorang dari mereka.

Jika benar orang itu Pangeran Mangkubumi yang mempunyai aji Sepi Angin, tidak mustahil tiba-tiba saja ia sudah berada di padepokan Jati Aking itu” sahut kawannya.

“Tetapi Pangeran Mangkubumi tidak mengetahui rencana yang tiba-tiba saja meledak karena kemarahan yang tidak tersalurkan. Tindakan ini semata-mata adalah semacam pelepasan yang hampir-hampir tidak dapat dimengerti”

“Sst, siapa tahu, selain aji Sepi Angin, Pangeran Mangkubumi juga mempunyai aji Sapta Pangrungu. Ia mendengar setiap pembicaraan yang dikehendakinya”

“Apakah ia sekarang sedang mendengarkan pembicaraan kita dan pembicaraan Raden Rudira beberapa saat tadi?”

“Mungkin, karena Sampir baru saja meninggalkan istana Pangeran Mangkubumi itu. Pangeran Mangkubumi ingin mengetahui yang akan dilaporkannya kepada Raden Rudira”

“Terasa tengkuk orang itu meremang. Baginya Pangeran Mangkubumi dan petani di bulak Jati Sari itu adalah orang-orang yang menyimpan rahasia yang tidak terpecahkan.

Tetapi mereka harus pergi, meskipun mereka tahu, bahwa Raden Rudira hanya sekedar ingin melepaskan kemarahan yang bergejolak di hatinya. Ia tentu ingin membuat Raden Juwiring menjadi semakin sakit hati karena gadis yang diambilnya itu.

“Apakah gadis itu bakal isteri Raden Juwiring?“ bertanya seseorang kepada kawannya.

“Siapa yang bilang? Gadis itu adalah anak Danatirta. Jika di antara mereka timbul juga perasaan saling mencintai, itu wajar sekali. Setiap hari mereka bertemu dan bergaul. Apalagi Raden Juwiring adalah seorang anak muda yang tampan dan rendah hati”

Merekapun kemudian terdiam Namun tangan merekalah yang sibuk dengan alat-alat yang harus mereka bawa. Alat-alat berburu yang tidak akan dipergunakannya karena sebenarnya mereka tidak akan berburu binatang di hutan-hutan perburuan.

Dengan tergesa-gesa merekapun makan pagi. Jika matahari naik, tentu Raden Rudira akan segera membawa mereka pergi.

Demikianlah, dugaan mereka itu ternyata benar-benar terjadi. Ketika langit menjadi semakin cerah, dan sinar matahari mulai jatuh diatas atap gandok kulon, maka Raden Rudira segera mempersiapkan orang-orangnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi kepada Sura. Apakah ia ada di halaman istana atau tidak. Tetapi Raden Rudira tidak membawanya serta, karena ternyata Sura tidak lagi Sura yang setia.

Demikianlah maka Raden Rudira beserta para pengiringnya segera berpacu ke Jati Aking. Beberapa orang yang melihat menjadi terheran-heran. Baru saja mereka melihat Raden Rudira berangkat berburu dua hari yang lalu. Sekarang mereka melihat Raden Rudira telah berangkat lagi.

Raden Ayu Sontrang hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalannya saja. Ia tidak dapat lagi mencegah anaknya yang bernafsu untuk melepaskan kemarahannya kepada orang-orang yang dianggapnya menjadi sebab. Jika Juwiring dan orang-orang Jati Aking itu tidak mengganggunya saat itu, maka petani itupun tidak akan berbuat apa-apa.

“Kemanakah Rudira itu pergi?“ bertanya Pangeran Ranakusuma kepada isterinya.

Raden Ayu Sontrang tidak segera menjawab. Tetapi sambil tersenyum ia berkata “Makan telah kami sediakan. Silahkan kamas makan pagi”

“Rudira itu pergi kemana?“ Pangeran Ranakusuma mengulang.

“Isterinya masih saja tersenyum. Katanya “Janganlah kamas terlampau menghiraukan anak itu. Ia sudah meningkat dewasa. Ia akan dapat menemukan jalannya sendiri yang dianggapnya baik”

“Aku hanya bertanya, ia akan pergi kemana”

Raden Ayu Sontrang justru tertawa.

“Baru semalam ia datang. Belum lagi aku sempat berbicara, ia telah pergi lagi. Aku tidak tahu tabiat anak-anak muda sekarang. Terlampau sulit untuk diketahui kemauannya”

“Kamas menganggapnya masih terlampau kanak-kanak”

“Tidak. Justru aku menganggap ia sudah meningkat dewasa, maka ia harus menemukan kepribadiannya. Selama ini Rudira hampir tidak pernah berbuat apa-apa yang dapat berarti bagi hidupnya kemudian. Ia sama sekali tidak mau mempelajari tata pemerintahan, tidak mempelajari ilmu kehidupan dan ilmu tata susunan alam dan bintang-bintang. Ia malas membaca kitab-kitab dan kidung yang berisi ilmu kasampurnan, dan ia tidak pula maju dalam ilmu kanuragan”

“O“ Raden Ayu Sontrang mengerutkan keningnya, namun kemudian ia duduk di sebelah suaminya sambil berkata “pada saatnya hatinya akan terbuka. Kamaslah yang wajib menuntunya. Sampai sekarang kamas terlampau sibuk dengan pemerintahan di Surakarta berhubung dengan kehadiran orang-orang asing itu”

“Dan kau sibuk pada jamu-jamuan yang diselenggarakan oleh mereka itu dan jamuan yang kita adakan untuk mereka.

Terasa dada Raden Ayu Sontrang berdesir. Baru semalam, sebelum anaknya pulang ia menghadiri jamuan tamu-tamu asing itu dan kemudian menjamu mereka pula. Jamuan yang tidak sekedar makan dan minum.

Namun sejenak kemudian Raden Ayu Sontrang itu sudah tersenyum kembali sambil berkata “Tetapi masih belum terlambat.
Kita akan segera menebus kelambatan itu. Bukankah kita dapat memanggil guru yang cakap untuk menuntun Rudira di dalam bermacam-macam ilmu?“

Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil menatap kekejauhan ia berkata “Tetapi kalau kita tidak segera melakukannya, pada suatu saat, kita baru akan sadar, jika kita sudah terlambat”

Isterinya tidak menyahut, tetapi diangguk-anggukkannya kepalanya pula. Bahkan kemudian katanya “Kamas, silahkan makan. Semuanya sudah tersedia. Bukankah kamas akan segera menghadap ke istana?“

Demikianlah, ketika Pangeran Ranakusuma berangkat ke istana, maka Raden Rudira berpacu secepat-cepatnya di tengah-tengah bulak menuju ke Jati Aking. Ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke Sukawati karena keragu-raguan yang mencengkam dadanya. Sekali-sekali terbayang wajah petani itu, namun kadang-kadang ia diganggu oleh wajah Pangeran Mangkubumi yang memang hampir tidak dapat dibedakannya.

“Persetan dengan petani itu” geramnya “Aku harus melepaskan sakit hatiku kepada kakang Juwiring. Mandra pasti akan lebih berhasil dari Sura yang berkhianat itu”

Dengan demikian, maka mereka berpacu semakin cepat. Ketika matahari merayap semakin tinggi, maka merekapun telah membelah daerah persawahan di Jati Sari.

“Kita hampir sampai” desis Rudira.

Yang berpacu di sebelahnya kini adalah Mandra Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bertanya “Apakah mereka tidak sedang berada di sawah?“

“Aku tidak peduli. Aku harus pergi ke Jati Aking menemui Kiai Danatirta. Ia harus menghadap dan membawa Juwiring, anak dungu yang hampir saja mencelakai Sura dengan licik itu. dan anak gadisnya. Aku memerlukan gadis itu. Tidak seorangpun akan dapat mencegahnya. Kalau perlu, kau dapat bertindak dengan kekerasan”

“Jangan cemas” sahut Mandra “Aku tidak akan mengecewakan tuan seperti Sura. Aku akan berhasil membawa gadis itu. Meskipun Raden Juwiring kini memiliki aji Lebur Seketi dan Tameng Waja seperti yang pernah dimiliki oleh Kangjeng Sultan Pajang, namun ia tidak akan berhasil mencegah aku”

“Ia tidak akan dapat berbuat banyak. Yang gila adalah petani dari Sukawati itu. Hampir tanpa berbuat sesuatu ia sudah berhasil mengalahkan Sura” Raden Rudira berhenti sejenak, lalu “Apakah ia mempunyai kekuatan gaib pada tatapan matanya yang tajam itu, yang sering disebut sebagai aji Candramawa”

“Aku tidak peduli tuan. Aku akan memaksa mereka menurut segala perintah tuan. Dan jika tuan kehendaki, aku dapat mengikat mereka dan menuntun mereka di belakang kaki kuda ini”

Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia memang mengharap, mudah-mudahan Mandra adalah orang yang lebih baik dari Sura.

Demikianlah, maka menjelang tengah hari, mereka telah berada di bulak Jati Sari. Sebentar lagi mereka akan memasuki padepokan Jati Aking, padepokan yang agak terpisah, di luar padukuhan Jati Sari meskipun tidak begitu jauh.

“Apakah kita akan langsung pergi ke padepokan Jati Aking?“ bertanya Mandra.

“Ya. Jika kakang Juwiring dan orang-orang yang kita cari sedang berada di sawah, maka Danatirta harus memanggil mereka” sahut Raden Rudira.

Mandra mengangguk-angguk. Namun ia menjadi berdebar-debar. Kali ini ia ingin menunjukkan kemampuannya bertindak melampaui Sura, agar ia benar-benar mendapat tempat untuk menggantikan orang yang dianggapnya sudah terlalu lama menduduki tempat yang paling baik di Ranakusuman.

“Aku harus mengatasi“ Mandra bergumam kepada diri sendiri “Jika aku gagal kali ini, maka aku tidak akan berhasil mengusir Sura meskipun Sura sudah berkhianat. Raden Rudira pasti akan mencari orang lain yang Setidak-tidaknya tidak lebih jelek dari Sura”

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itupun sudah menjadi semakin dekat dengan padepokan Jati Aking. Beberapa orang yang melihat iring-iringan itu menjadi cemas. Mereka masih belum melupakan peristiwa beberapa hari yang lalu di bulak Jati Sari.

Beberapa orang yang tidak sempat menyingkir dari jalan yang dilalui Raden Rudira memberikan hormat yang sedalam-dalamnya. Bahkan ada yang menjadi ketakutan dan berjongkok meskipun mereka mengerti, bahwa mereka tidak harus berbuat demikian.

Raden Rudira tidak mengacuhkan mereka. Tetapi penghormatan yang diterimanya sedikit menawarkan kemarahannya, setelah ia mengalami perlakuan yang menyakitkan hati si Sukawati. Orang-orang Sukawati seakan-akan tidak mengacuhkannya ketika ia lewat. Mereka berdiri saja dengan tangan bersilang di dada. Tetapi ternyata orang-orang Jati Sari lebih bersikap sopan. Mereka membungkuk dalam-dalam atau bahkan berjongkok di tepi jalan.

Seorang pengiring yang pernah pergi ke Jati Aking diperintahkan oleh Raden Rudira berkuda di paling depan. Kemudian di belakangnya adalah Raden Rudira dan Mandra.

Ketika pengiring yang berkuda di paling depan itu berhenti di depan regol padepokan, maka Raden Rudirapun mendahuluinya sambil berkata “Kita berkuda terus. Tidak ada orang yang berhak melarang”

Demikianlah maka sejenak kemudian kuda-kuda itu berderap di halaman padepokan yang bersih gilar-gilar dibayangi oleh sepasang pohon sawo kecik yang sejuk.

Ternyata derap kaki-kaki kuda itu telah terdengar oleh para penghuninya, sehingga dengan tergesa-gesa Kiai Danatirta menjengukkan kepalanya lewat pintu depan.

Raden Rudira yang sudah berada di depan pendapa melihat kepala yang terjulur disela-sela pintu itu sehingga dengan serta merta ia berkata “Ha, aku datang Kiai”

Kiai Danatirtapun kemudian muncul dari balik pintu. Dengan berlari-lari kecil ia melintasi pendapa. Dengan hormatnya ia menyambut kedatangan Raden Rudira di tangga pendapa, sementara Raden Rudira masih berada di punggung kudanya.

“Silahkan Raden“ dengan ramahnya ia mempersilahkam tamunya “Agaknya aku mendapat anugerah tiada taranya, Raden sudi berkunjung ke padepokan ini”

Raden Rudira termangu-mangu sejenak. Diedarkannya tatapan matanya kesekeliling padepokan. Halaman yang bersih dan terawat. Rerumputan yang hijau dan pohon-pohon bunga yang tumbuh di sekeliling halaman itu. Beberapa sangkar burung bergantungan dipepohonan yang rindang. Burung dari bermacam-macam jenis. Jenis burung bersiul dan jenis burung mendekur.

Di tengah-tengah halaman itu sepasang pohon sawo kecik yang belum tua benar tumbuh dengan rimbunnya, membuat halaman itu semakin sejuk dan segar. Sedang beberapa pohon buah-buahan yang lain bertebaran di sana-sini memenuhi halaman dan kebun padepokan itu.

Karena Rudira tidak menjawab, maka sekali lagi Kiai Danatirta mempersilahkan “Tuan, marilah, silahkan tuan naik ke pendapa”

Seperti kena pesona maka Raden Rudirapun turun dari kudanya diikuti oleh para pengiringnya. Selangkah demi selangkah ia naik tangga pendapa. Demikian juga para pengiringya.

Ternyata di tengah-tengah pendapa itu sudah terbentang beberapa helai tikar yang putih seperti seputih janggut yang tumbuh di dagu Kiai Danatirta meskipun tidak begitu lebat dan panjang.

“Silahkan tuan”

Raden Rudira memandang tikar yang terhambar itu sejenak Kemudian iapun bertanya “Apakah kau tahu bahwa aku akan datang kemari?”

Kiai Danatirta tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi ia berka ia “Kunjungan tuan sangat menngejutkan. tetapi juga membesarkan hati, bahwa padepokanan yang kecil ini mendapat juga perhatian tuan”

“Jangan mengada-ada” sahut Raden Rudira “Kamas Juwiring berada di sini. Bukan untuk sekedar berkunjung”

“Justru karena ia sudah ada di sini, maka tidak ada lagi yang menarik padanya. Tetapi kedatangan tuan adalah suatu kehormatan bagiku”

Raden Rudira mengangguk-angguk. Ketika ia akan duduk diatas tikar yang sudah terhampar itu, sekali lagi ia bertanya “Apakah kau tahu, bahwa aku dan pengiringku akan datang?“

Seperti tidak mendengar pertanyaan itu Kiai Danatirta mempersilahkan ”Marilah tuan, silahkan duduk di sini. Biarlah para pengiring duduk di sebelah”

Raden Rudira maju beberapa langkah dan duduk di hadapan Kiai Danatirta yang segera duduk pula, di sebelah Mandra.

Sementara itu para pengiring Raden Rudirapun telah duduk pula di sebelah tiang tengah, melingkar saling berhadapan. Sejenak mereka saling berpandangan, seakan-akan saling bertanya, apakah yang akan segera terjadi?

Dalam pada itu Kiai Danatirtapun bertanya sekedar keselamatan Raden Rudira dan pengiringnya. Dan Rudirapun menjawab acuh tak acuh karena ia tahu, bahwa hal itu hanyalah sekedar kelengkapan adat sopan santun, yang bahkan dirasakan sangat mengganggunya, karena ia tidak segera dapat mengatakan maksudnya.

Baru kemudian, Rudira sempat berkata “Aku datang untuk suatu keperluan yang penting Kiai“

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-angguk ia bertanya “Silahkan Raden duduk dahulu. Silahkan Raden menikmati hidangan yang akan kami suguhkan. Bukankah Raden tidak tergesa-gesa. Raden dapat tinggal di padepokan ini sehari atau bahkan beberapa hari yang Raden ingini. Sekali-sekali Raden dapat melihat kehidupan padesan, sekali-sekali Raden dapat melihat kenyataan hidup petani-petani miskin di daerah Surakarta.

Terasa sesuatu berdesir di dada Rudira. Namun dengan demikian ia bahkan menjadi semakin ingin cepat menyampaikan maksudnya. Katanya “Aku tidak mempunyai banyak kesempatan”

“O, tetapi tunggulah sebentar tuan. Kami harus menjamu tuan meskipun hanya sekedar apa yang ada di padepokan”

“Aku tidak sempat menunggu. Aku harus segera kembali sebelum ayahanda mencari aku”

“Bukankah ayahanda tuan mengetahui bahwa Raden pergi kemari?“

“Ayahandalah yang memerintahkan aku pergi kemari”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Katanya kemudian “Apalagi ayahanda Raden sendirilah yang memerintahkan Raden kemari”

“Tetapi ayahanda berpesan agar aku segera kembali”

Kiai Danatirta tersenyum. Katanya “Silahkan tuan duduk sejenak”

“Jangan pergi. Aku akan segera kembali”

Tetapi Kiai Danatirta seakan-akan tidak mendengar kata-kata Raden Rudira itu. Iapun segera beringsut dan meninggalkan tamu-tamunya masuk ke dalam.

Sejenak kemudian ia sudah kembali. Sambil tersenyum ia duduk Di tempatnya. Katanya “Kami akan menghidangkan air. Hanya air untuk penawar haus”

Raden Rudira tidak sempat menjawab ketika pintu pringgitan kemudian segera terbuka. Seorang gadis keluar sambil menjinjing sebuah nampan berisi beberapa mangkuk air panas.

Sejenak Raden Rudira terpesona. Gadis itulah yang dilihatnya di tengah-tengah bulak beberapa saat yang lalu, sehingga tanpa disadarinya ia telah terlibat dalam suatu pertengkaran dengan petani dari Sukawati itu. Dan kini gadis itu datang untuk menghidangkan air panas baginya.

Dada Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Ia sudah tertarik melihat gadis itu di bawah terik matahari. Dalam pakaian seorang anak petani yang membawa makanan ke sawah. Kini gadis itu tidak dibakar oleh panasnya sinar matahari, dan dalam pakaian yang lebih baik pula, sehingga bagi Raden Rudira, gadis itu tampak menjadi semakin cantik.

Dengan cekatan gadis itu kemudian berjongkok dan bergeser mendekat. Ketika ia sudah berada di sudut tikar, iapun segera duduk sambil meletakkan nampannya di hadapannya.

“Maaf tuan” berkata Kiai Danatirta, sehingga Raden Rudira terkejut karenanya “Ia adalah seorang gadis padesan, sehingga barangkali solah tingkahnya kurang berkenan di hati tuan”

“O, tidak. Tidak“ Rudira menggelengkan kepalanya.

Namun wajahnya menjadi merah ketika ia melihat Kiai Danatirta tersenyum sambil mengambil mangkuk-mangkuk itu dari nampan dan menghidangkannya kepada Raden Rudira dan Mandra.

Tetapi selagi Raden Rudira termangu-mangu melihat wajah Arum yang cerah, tiba-tiba sekali lagi pintu berderit. Ketika Raden Rudira berpaling, maka kini dadanya berguncang. Ia melihat seorang anak muda yang pernah dikenalnya di bulak Jati Sari. Anak itulah yang dengan garangnya menyerang Sura, sehingga hampir saja Sura tidak berdaya, karena ia sama sekali tidak mengira, bahwa anak itu akan menyerangnya bagaikan arus banjir bandang.

Kali ini anak muda yang bernama Buntal itupun membawa sebuah nampan seperti yang dibawa oleh Arum. Tetapi Buntal kemudian membawa hidangannya kepada para pengiring Raden Rudira.

Bukan saja Raden Rudira, tetapi para pengiring yang melihat tandang anak muda itu di bulak Jati Sari menjadi berdebar-debar. Menilik sikapnya kini, sama sekali tidak terbayang kesan kegarangannya. Sambil berjalan terbungkuk-bungkuk di wajahnya terlukis sebuah senyum yang ramah.

“Itu adalah seorang cantrik di padepokan ini yang aku ambi! menjadi anak angkatku” berkata Kiai Danatirta, meskipun sebenarnya ia tahu, bahwa baik Raden Rudira maupun sebagian dari pengiringnya pernah melihatnya.

Tidak seorangpun yang menyahut. Hanya beberapa orang pengawal yang belum pernah melihatnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajah Raden Rudira sendiri tiba-tiba telah menjadi muram. Ternyata di samping gadis yang cantik itu terdapat seorang anak muda yang tampan, bahkan di rumah ini masih ada Raden Juwiring.

Karena itu, maka setelah keduanya selesai menghidangkan mangkuk minuman, Rudira tidak sabar lagi untuk menunggu. Ia ingin segera mengatakan, bahwa ibunya memerlukan seorang gadis pembantu. Karena Juwiring berada di sini, maka alangkah baiknya kalau gadis dari padepokan ini berada di Dalem Ranakusuman.

Tetapi belum lagi ia sempat mengatakannya, sekali lagi gadis ini datang menghidangkan makanan bagi Raden Rudira, disusul oleh Buntal pula, yang membawa makanan bagi para pengiringnya.

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat kedua anak-anak muda itu masuk ke pringgitan dan kemudian menutup pintu dari dalam, terasa hatinya melonjak, sehingga kesan itu tampak di wajahnya.

Kiai Danatirta adalah seorang tua yang memiliki ketajaman indera, sehingga ia melihat kesan yang tersirat di wajah Raden Rudira. Karena itu, maka segera ia berusaha memindahkan perhatian Raden Rudira “Silahkan Raden, silahkanlah minum”

“O“ Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mereka adalah anak-anak padesan. Barangkali ada kekurangan tata kesopanan, harap Raden memaafkan”

Raden Rudira hanya mengangguk-angguk tanpa menjawab sepatah katapun.

Dalam pada itu, para pengiringnya tidak menunggu dipersilahkan untuk kedua kalinya. Merekapun segera mengangkat mangkuk masing-masing. meneguk minuman yang hangat sambil mengunyah sebongkah gula kelapa.

Namun ternyata Raden Rudira tidak dapat menahan gejolak di dalam hatinya. Sejalan dengan tabiatnya yang kasar dan tergesa-gesa, maka tiba-tiba saja ia berkata “Kiai Danatirta, kedatanganku bukannya sekedar untuk singgah di padepokanmu yang sejuk. Tetapi kedatanganku mengemban perintah ayahanda Pangeran Ranakusuma”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Jawabnya “Sekarang tuan telah meneguk air dari padukuhan Jati Aking yang dihidangkan oleh anakku dan anak angkatku. Silahkan tuan menyampaikan kepentingan tuan”

“Kiai” berkata Raden Rudira “ibunda Raden Ayu Ranakusuma memerlukan seorang pembantu”

“O” Kiai Danatirta mengangguk-angguk “maksud Raden, apakah ibunda Raden Rudira ingin memerintahkan kepada kami di padepokan ini untuk mencari seseorang? Barangkah Raden dapat menyebutkan, tugas apakah yang akan diserahkan kepada pembantu itu sehingga aku dapat mencari orang yang tepat”

“Ibunda memerlukan seorang gadis yang cakap dan pantas untuk melayaninya setiap saat. Karena ibunda sering menerima tamu-tamu bukan saja para bangsawan, tetapi juga orang-orang asing, maka pelayannyapun harus seorang yang pantas untuk diketengahkan di dalam setiap perjamuan, karena pelayan itu adalah pelayan khusus buat ibunda di setiap saat, di setiap kepentingan”

“O” Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Kemudian katanya “Jadi ibunda Raden Ayu Ranakusuma memerlukan seorang gadis”

“Ya. Gadis yang pantas”

“Baiklah Raden. Aku akan berusaha. Mudah-mudahan aku akan segera dapat menemukan gadis yang tuan maksud. Apakah kemudian aku harus membawanya ke Dalem Pangeran Ranakusuma dan menyerahkannya kepada ibunda Raden Rudira?“

“Tidak itu tidak perlu. Ibunda memerintahkan aku membawanya sekarang juga. Ibunda memerlukan pelayan itu secepatnya, untuk segera diajari melayani ibunda terutama apabila ibunda menerima tamu di dalam jamuan yang memang sering diadakan”

“Tetapi bagaimana mungkin sekarang, Raden. Aku harus mencarikannya. Mencari seorang gadis yang pantas dan tentu saja memiliki kecerdasan yang cukup. Aku kira aku memerlukan waktu barang satu dua pekan”

“Itu terlalu lama” potong Raden Rudira “Aku memerlukan sekarang”

Kiai Danatirta menggeleng “Apakah tuan akan menunggu sampai aku mendapatkan anak itu? Aku harus pergi ke padukuhan Jati Sari. Aku yakin bahwa orang-orang Jati Sari akan merasa mendapat kanugrahan apabila anak gadisnya dipanggil masuk ke Dalem Pangeranan. Setiap orang pasti akan menyerahkan dengan hati yang ikhlas. Tetapi yang sulit adalah memilih satu dari antara gadis-gadis itu. Tentu saja aku tidak akan dapat menyerahkan sembarang gadis, karena jika ternyata gadis itu tidak memenuhi syarat yang dikehendaki, tuan akan marah kepadaku”

“Kau tidak perlu bersusah payah mencarinya Kiai“ Raden Rudira tidak sabar lagi “Aku sudah menemukan gadis itu”

“O, jadi tuan sendiri sudah menemukannya? Jika demikian soalnya tidak akan begitu sulit. Tuan dapat datang kepada Demang Jati Sari, dan Ki Demang pasti akan dengan senang hati menyampaikan maksud tuan kepada orang tua gadis itu”

“Persetan dengan Demang di Jati Sari. Aku sudah langsung datang kepada orang tuanya”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya.

“Aku datang kemari, karena aku akan mengambil Arum” berkata Raden Rudira dengan tegas.

Mandra menahan nafasnya sejenak. Ia menyangka bahwa Kiai Danatirta akan terkejut. Jika orang tua itu keberatan, maka akan menjadi tugasnya untuk memaksanya menyerahkan anak gadisnya. Ia tidak mau gagal lagi seperti di Sukawati. Jika sekali ini ia gagal, kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya tidak akan datang lagi. Raden Rudira akan melepaskannya pula, dan barangkali Sura akan dipanggilnya kembali. Kegagalannya di Sukawati adalah permulaan yang buruk baginya.

Tetapi ternyata Mandra menjadi heran. Ia sama sekali tidak melihat kesan apapun di wajah Kiai Danatirta, seakan-akan apa yang dikatakan oleh Raden Rudira itu sudah diketahuinya.

Raden Rudirapun memandang wajah orang tua itu sesaat. Untuk meyakinkan tanggapannya yang aneh iapun sekali lagi berkata kepada orang tua itu “Aku datang untuk mengambil anakmu. Bukankah anakmu bernama Arum?“

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Tuan. Adalah tidak dapat aku mengerti, bahwa untuk tugas yang penting itu ternyata tuan telah memilih Arum. Arum adalah seorang gadis yang dungu, manja dan tidak dapat berbuat apa-apa, selain menyampaikan makanan ke sawah. Kenapa tuan memilihnya? Apakah ibunda tuan yang memerintahkan tuan untuk mengambil gadis itu?”

“Aku tidak tahu. Ibundalah yang menghendakinya. Dan atas persetujuan ayahanda maka aku datang kemari. Ingat Kiai Danatirta. Kau tidak akan dapat menolak. Ayahanda adalah seorang Pangeran”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih bertanya “Tuan. adalah aneh sekali jika ibunda Raden Rudiralah yang menghendakinya. Bukankah ibunda tuan belum pernah melihat anakku itu? Tuanlah yang pernah melihatnya di bulak Jati Sari beberapa waktu yang lampau. Dan tuanlah yang pertama-tama telah tertarik kepada anakku. Entah karena anakku memang mempunyai ciri dan tampang seorang pelayan, sehingga tiba-tiba saja tuan ingin mengambilnya menjadi pelayan di Ranakusuman. atau hal yang lain”

Wajah Raden Rudira menjadi merah padam. Ia merasakan sindiran yang tajam dari Kiai Danatirta. Meskipun demikian Raden Rudira masih mencoba untuk menahan hati. Katanya “Memang akulah yang menyampaikannya kepada ibunda tentang anakmu. Ibunda setuju dan ayahandapun menyetujuinya. Nah, tidak ada persoalan lagi. Serahkan anakmu kepadaku. Aku akan membawanya menghadap ibunda”

Kiai Danatirta memandang wajah Raden Rudira yang tegang Kemudian ditatapnya Mandra sejenak. Sambil mengepalkan tangannya Mandra bergeser setapak maju.

“Tuan” berkata Kiai Danatirta “Apakah yang sebenarnya terjadi atas tuan sehingga tiba-tiba saja kami, penghuni padepokan yang jauh ini telah menjadi ajang dan sasaran kemarahan, kekecewaan dan kebencian tuan?“

Dada Raden Rudira berdesir. Seolah-olah Kiai Danatirta itu mengerti apa yang sebenarnya terjadi atas dirinya. Karena itu Raden Rudira justru menjadi semakin tegang dan hampir berteriak ia berkata “Jangan mengada-ada. Ayahanda Pangeran Ranakusuma menghendaki aku mengambil Arum untuk pelayan ibunda. Kau yang tinggal di padepokan Jati Aking tidak dapat menolak, karena ayahanda mempunyai wewenang khusus dari Kangjeng Susuhunan atas Rakyat Surakarta”

“Tuan” berkata Kiai Danatirta “Aku tidak akan menolak wewenang khusus itu. Tetapi bagaimanakah jika seorang yang lain, yang juga mempunyai wewenang yang serupa menghendaki lain?”

“Ada beberapa tingkat kekuasaan para bangsawan. Pada umumnya yang lebih tualah yang lebih berhak”

“Tetapi bagaimanakah jika karena sesuatu hal terjadi tidak demikian?”

“Cukup. Aku tidak peduli. Sekarang aku memerlukan Arum. Jika ada kekuasaan yang lebih tinggi yang dapat menolak perintah ini, lekas katakan”

Tetapi Kiai Danatirta menggeleng “Aku tidak dapat mengatakan tuan, siapakah yang berkeberatan atas perintah Pangeran Ranakusuma lewat tuan dan aku juga tidak dapat mengatakan kekuasaan manakah yang akan dapat mencegahnya. Tetapi lebih dari pada itu, aku adalah ayahnya. Aku mohon kepada tuan, agar tuan tidak mengambilnya sekarang. Aku akan mencoba mendidiknya agar ia menjadi seorang gadis yang dapat menempatkan dirinya di antara kaum bangsawan”

“Itu tidak perlu. Ibunda akan mengajarinya”

“Tetapi Arum masih terlalu bodoh tuan. Aku harus memberikan dasar lebih dahulu sebelum ia berada di Dalem Ranakusuman. Apalagi, Arum adalah anak yang manja, yang belum pernah terpisah dari keluarganya”

“Ia sudah cukup dewasa untuk hidup dalam lingkungan yang lebih baik. Tidak di padepokan yang sepi. Ia akan berkembang menjadi seorang gadis yang memiliki pengetahuan melampaui kawan-kawannya di padepokan dan bahkan diselunih Kademangan Jati Sari”

“Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas perhatian tuan dan ayahanda tuan, Pangeran Ranakusuma. Tetapi perkenankanlah aku mohon, agar anak itu jangan dibawa sekarang”

“Tidak“ Raden Rudira hampir kehilangan kesabaran “Kau jangan membantah. Kau tidak mempunyai hak menolak perintah yang diberikan oleh ayahanda. Suruhlah anakmu bersiap. Bawalah pakaian secukupnya saja karena ibunda pasti akan memberikan jauh lebih banyak dari yang dimilikinya sekarang”

Kiai Danatirta merenung sejenak. Namun kemudian ia menggeleng “Maaf tuan. Aku tidak sampai hati melepaskan anakku”

“Kau tidak dapat menolak” suara Rudira menjadi semakin keras.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia memanggil Arum tanpa beranjak dari tempatnya.

Agaknya Arum sudah berada di balik pintu. Demikian namanya disebut, demikian pintu itu terbuka.

“Kemarilah“

Sejenak Arum menjadi ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian mendekati ayahnya dan duduk bersimpuh di belakangnya.

Kehadiran Arum ternyata membuat Raden Rudira menjadi gelisah. Sejenak ia memandang wajah gadis itu, namun kemudian dilemparkannya tatapan matanya ke halaman, ke celah-celah dedaunan yang bergetar ditiup angin.

“Arum” berkata Kiai Danatirta “ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu, dan aku ingin mendengar pendapatmu”

“Kiai“ potong Raden Rudira “sebaiknya Kiai memberitahukan persoalannya. Kiai tidak perlu mendengar pendapatnya”

“Bukankah anak ini yang akan menjalaninya”

“Tetapi Kiai dapat memerintahkan kepadanya tanpa mendengar pendapatnya”

“Raden, aku adalah orang tua. Aku adalah ayahnya. Tentu aku tidak dapat berbuat sekasar itu kepada anak gadisku sendiri”

“Kau berhak menentukan sikap, dan anakmu harus tunduk kepadamu. Kepada orang tuanya”
Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpaling memandangi wajah anaknya, dan bersamaan dengan itu Raden Rudirapun memandang wajah gadis itu pula.

Tetapi ia menjadi heran. Ia tidak melihat kesan yang tegang di wajah Arum. Bahkan dengan tenangnya ia bertanya “Apakah sebenarnya yang akan ayah katakan?“

Kiai Danatirta berpaling pula kepada Raden Rudira sambil berkata “Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya kepada anakku“

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam untuk menahan kegelisahan di dadanya, sementara Kiai Danatirta mengatakan kepentingan Raden Rudira datang ke padepokan ini.

Sekali lagi Raden Rudira menjadi heran. Arum mengikuti keterangan ayahnya, kata demi kata. Tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan perubahan wajah dan tanggapan yang bersungguh-sungguh.

Baru saja ayahnya selesai, ia sudah menjawab “Aku tidak mau”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kepada Raden Rudira “Raden sudah mendengar sendiri. Anakku tidak mau”

“Aku tidak peduli“ Raden Rudira hampir berteriak “Aku dapat memaksa. Jika aku menyampaikan penolakan ini kepada ayahanda, maka ayahanda akan menjadi sangat marah dan dengan wewenang yang didapat dari Kangjeng Susuhunan, maka kau sekeluarga dapat dihukum seberat-beratnya”

“Tentu ayahanda tuan tidak akan berbuat sekejam itu”

“Kenapa tidak? Tetapi akulah yang tidak ingin semua itu terjadi. Aku akan membawa Arum sekarang”

“Jangan Raden. Ia tidak sanggup”

“Terserah kepadanya. Kalau tidak, maka kaulah yang akan aku bawa. Kau akan diikat di belakang kuda dan dituntun sebagai pengewan-ewan, sebagai seorang pemberontak yang menentang kekuasaan Surakarta. Tidak ada seorangpun yang akan menyalahkan aku dan tidak ada seorangpun yang berani menolongmu, karena aku bertindak atas nama ayahanda. Dan semua orang tahu bahwa ayahanda adalah orang yang dekat sekali dengan Kangjeng Susuhunan, di antara beberapa bangsawan yang lain”

“Ayah” tiba-tiba Arum nampak menjadi cemas.

“Pertimbangkan hal itu. Kau dapat memilih, kau pergi ke Surakarta, tinggal bersama ibunda, atau ayahmu yang akan dituntun ke alun-alun”

“Kedua-duanya tidak tuan” jawab Kiai Danatirta “Tentu aku juga keberatan mengalaminya. Aku kira ayahanda tuan, Pangeran Ranakusuma tidak akan berbuat demikian. Dan kekuasaan resmi di Surakartapun tentu tidak. Apalagi seorang saudara tuan ada di sini. Kakanda tuan. Raden Juwiring”

“Persetan dengan kakanda Juwiring. Aku tidak memerlukannya. Aku mempersoalkan Arum di sini”

“Tetapi aku bukan orang asing bagi Pangeran Ranakusuma justru karena kakanda tuan ada di sini”

“Aku tidak peduli”

Kiai Danatirta tidak sempat menjawab ketika tiba-tiba pintu pringgitan itu terbuka lagi. Kali ini seorang anak muda yang tegap berdiri di muka pintu. Raden Juwiring.

“Sebenarnya aku tidak ingin mencampuri persoalanmu adinda Rudira. Aku tidak mau peristiwa di bulak Jati Sari itu terulang. Kita pasti akan ditertawakan orang, karena justru kita bersaudara. Alangkah jeleknya apabila dua orang yang bersaudara selalu saja bertengkar”

Raden Rudira memandang kakaknya dengan sorot mata yang membara. Tiba-tiba saja ia berdiri sambil berkata “Kakanda Juwiring memang tidak usah turut campur”

“Aku berusaha untuk menutup telingaku. Tetapi kau terlampau kasar. Sikapmu kepada Kiai Danatirta bukannya sikap seorang anak muda kepada seorang yang sudah lanjut usia”

“Aku putera seorang bangsawan”

“Itulah kesalahanmu yang terutama. Kau terlampau sadar, bahwa kau seorang bangsawan. Dan itu adalah sumber kesalahanmu”

“Persetan” jawab Rudira “kakanda Juwiring. Kali ini aku tidak akan bermain-main. Aku akan berbuat sungguh-sungguh untuk membuatmu jera. Aku akan bertindak tegas seperti terhadap petani di Sukawati itu”

Juwiring tidak sempat menjawab, karena Rudira segera berpaling kepada Mandra “Mandra. Kau dapat memaksanya pergi. Aku tidak senang melihat kehadirannya di sini”

Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu katanya masih dengan sikap yang tenang “Kau membawa orang lain adinda Rudira. Kenapa kau tidak membawa Sura? Apakah ia sekarang sudah menjadi jera karena anak yang tadi menghidangkan makanan itu”

“Aku tidak memerlukan Sura lagi. Tetapi bukan karena anak gila itu“ lalu katanya kepada Mandra “Cepat Mandra. Doronglah ia masuk. Akulah yang bertanggung jawab”

Semua yang berada di pendapa sudah berdiri. Para pengiring Raden Rudira, Kiai Danatirta dan Arum. Suasana menjadi semakin tegang ketika Mandra melangkah setapak demi setapak maju.

“Cepat Mandra” berkata Raden Rudira “Aku tidak mau menunggu terlalu lama”

Mandra mengerutkan keningnya. Kemudian iapun melangkah selangkah maju sambil menatap wajah Raden Juwiring dengan sorot mata yang membara.

Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Bahkan semua orang berpaling ketika mereka mendengar suara dari samping pendapa di pojok longkangan “Kau memang garang Mandra”

Mandra tersentak ketika ia melihat orang yang berdiri di pojok di bawah tangga pendapa itu. Apalagi Raden Rudira sehingga darahnya serasa berhenti mengalir. Dengan suara gemetar ia berkata “Kau Sura”

“Ya, ya tuan. Aku adalah Sura”

Raden Rudira memandangnya dengan mata yang tidak berkedip. Sejenak ia berpaling kepada Mandra, namun kemudian kembali ia memandang Sura tajam-tajam.

Terlebih-lebih lagi ketika ia melihat di sebelah Sura itu berdiri anak muda yang bernama Buntal dan seorang lagi yang membuat jantung Raden Rudira semakin berdentangan. Orang itu adalah Dipanala.

“Kalian telah berkhianat” geram Raden Rudira.

“Apa yang sudah aku lakukan tuan? Tuan tidak memerlukan aku lagi, dan akupun pergi dari Dalem Ranakusuman. Apakah aku berkhianat”

“Persetan. Aku tidak mau melihat mukamu lagi. Pergi dari sini”

“Orang itu tamuku tuan” sahut Kiai Danatirta “Ia datang bersama Dipanala”

“Aku muak melihatnya” berkata Raden Rudira “Kalau ia tamumu, suruh ia pergi”

“Maaf tuan. Padepokan ini dapat menerima siapapun juga. Orang-orang yang tidak disukai, yang terasing dan yang dibenci oleh siapapun, dapat diterima di padepokan ini”

“Tetapi tidak orang itu” Raden Rudira merenung sejenak, lalu “Tentu itulah sebabnya, kalian mengetahui bahwa aku akan datang kemari. Karena pengkhianat itu pulalah kalian telah mempersiapkan diri dengan segala macam jawaban, keberatan dan apapun juga. Orang itu memang harus digantung”

“Tuan” berkata Sura kemudian “sebenarnya aku tidak pernah merasa sakit hati terhadap tuan. Tuan adalah bendara yang aku ikuti, bahkan sejak tuan masih terlalu kecil. Kalau tuan sudah jemu terhadap aku, maka sudah sewajarnya jika tuan mengusirku. Tetapi yang paling memuakkan bagiku adalah orang yang bernama Mandra itu. Ia telah menjilat tuan lebih daripadaku. Aku memang seorang penjilat. Aku pulalah yang ikut melaksanakan mengusir kakanda tuan, Raden Juwiring dari istana. Yang kemudian dibawa oleh Ki Dipanala ke padepokan ini. Tetapi ternyata ada penjilat yang lebih besar daripadaku”

“Diam, diam“ Mandra tidak dapat menahan perasaannya.

Tetapi Sura tertawa. Katanya “Jangan sakit hati Mandra. Kita sama-sama seorang yang berhati kerdil. Seorang yang tidak tahu malu. Mengorbankan orang lain untuk mendapat keuntungan bagi diri sendiri”

“Tutup mulutmu Sura. Kau telah dicekik oleh perasaan iri yang melonjak-lonjak di dalam kepalamu. Itu salahmu sendiri. Kau tidak mampu lagi melakukan tugasmu. Jangan mencari kesalahan orang lain”

“Tidak. Jangan salah paham. Aku tidak mencari kesalahan orang lain. Aku menyalahkan diriku sendiri, setelah aku merenungi beberapa hari. Sebelum ini aku tidak pernah mempergunakan nalar untuk menilai suatu tindakan. Namun sekarang aku bersikap lain. Dan agaknyayang sudah aku sadari itu ternyata baru kau mulai sekarang”

“Persetan. Aku akan membungkam mulutmu”

Jilid  4 Bab 2 : Sura dan Mandra

“Terus terang Mandra. Aku memang ingin melihat, apakah kau dapat melakukannya”

Tubuh Mandra menjadi gemetar karenanya. Sejenak ia berdiri tegang. Namun sejenak kemudian ia berkata “Aku ingin membuktikan, bahwa aku dapat melakukannya”

Sura bergeser setapak. Katanya “Aku sudah siap. Aku akan meminjam halaman padepokan ini sejenak, siapakah yang akan berhasil membungkam mulut kita masing-masing. Kau atau aku”

“Kau akan menyesal“ Lalu Mandra berpaling kepada Raden Rudira “Raden, perkenankanlah aku menyelesaikan orang ini lebih dahulu. Ternyata orang-orang di padepokan ini merasa tidak gentar terhadap kehadiran kita karena di sini ada orang ini”

Raden Rudira merenung sejenak, lalu “Terserah kepadamu”

“Nah, kau sudah mendapat ijin Mandra. Marilah kita mencobanya. Aku memang mendahului kedatanganmu, dan minta kesempatan ini kepada Kiai Danatirta sebelum ia berbuat sesuatu atasku karena kesalahanku beberapa waktu yang lalu”

Mandra tidak sabar lagi menunggu. Iapun segera meloncat turun ke halaman.

Raden Rudira. Kiai Danatirta dan orang-orang lainpun mengikutinya dan membuat sebuah lingkaran mengelilingi kedua orang raksasa yang sudah berhadap-hadapan itu.

“Kita mengambil saksi” berkata Sura “Aku harap kedua bersaudara, Raden Rudira dan Raden Juwiring menjadi saksi dari perkelahian ini. Apakah kita akan mempergunakan senjata atau tidak”

“Tidak, tidak“ Kiai Danatirtalah yang menyahut “Jika kalian mempergunakan senjata, kalian harus pergi dari halaman ini”

“Aku setuju. Bagaimana dengan kau?“

Mandra menggeretakkan giginya. Katanya “Sebenarnya aku ingin memenggal lehermu. Tetapi, baiklah. Kita tidak bersenjata”

Mandrapun kemudian melepaskan senjatanya dan melemparkannya menepi.

“Nah, kita dapat segera mulai. Apakah tandanya bahwa salah seorang dari kita sudah kalah?“ bertanya Sura.

“Mati” teriak Mandra.

“Tidak. Tidak” sekali lagi Kiai Danatirta menengahi “Aku tidak mau melihat pembunuhan terjadi di sini”

Sura memandang Mandra dengan tatapan mata yang aneh. Ia tidak menyatakan pendapatnya tentang hal itu, sehingga Mandralah yang menyahut “Sampai kita meyakini kemenangan kita”

Sura sama sekali tidak menyahut. Tetapi ia sudah benar-benar mempersiapkan dirinya. Kesempatan inilah yang ditunggunya. Hatinya yang panas karena sikap Mandra memerlukan penyaluran agar tidak selalu menghentak-hentak di dalam dadanya. Sura tidak peduli lagi, apakah dengan demikian ia akan ditangkap oleh Raden Rudira dan pengiringnya, kemudian dibawa dan diadili di Dalem Ranakusuman. Ia tidak peduli lagi seandainya ia akan dikubur hidup-hidup di halaman belakang atau di samping kandang. Tetapi sakit hatinya sudah dilepaskannya. Bahkan seandainya ia akan dapat dikalahkan sekalipun oleh Mandra dan dicekiknya sampai mati, ia tidak akan mempedulikannya lagi.

Demikian juga agaknya dengan Mandra. Iapun menunggu kesempatan ini. Kesempatan untuk menunjukkan kelebihannya dari Sura. Kegagalannya di Sukawati hampir-hampir menghilangkan kepercayaan Raden Rudira yang sedang tumbuh. Jika ia kini dapat mengalahkan Sura, maka yakinlah, bahwa ia akan dapat menggantikan kedudukan Sura sebagai lurah para abdi di Ranakusuman.

Namun sekali-sekali dadanya berdesir jika dilihatnya Dipanala ada di halaman itu pula. Dipanala adalah orang yang tidak begitu disukai di Dalem Ranakusuman. Tetapi tidak ada yang dapat mengusirnya. Bahkan Pangeran Ranakusumapun tidak pernah berbuat apapun atasnya.

“Persetan dengan Dipanala. Di sini ada Raden Rudira. Jika ada persoalan dengan Dipanala, biarlah Raden Rudira yang menyelesaikannya” berkata Mandra di dalam hatinya.

Demikianlah kedua orang yang dibakar oleh dendam dan nafsu itu telah berdiri berhadapan. Beberapa orang yang mengelilinginya menjadi berdebar-debar. Kiai Danatirtapun menjadi berdebar-debar pula. Apalagi jika ia melihat sorot mata pada kedua orang raksasa yang berdiri di tengah-tengah lingkaran itu. Sorot mata yang memancarkan kebencian, dendam, dan yang lain nafsu ketamakan dan pamrih yang berlebih-lebihan.

Di sekeliling arena itu berdiri dengan tegangnya Raden Rudira bersama pengiringnya, Raden Juwiring, Buntal, Arum dan Ki Dipanala, sedang di kejauhan beberapa orang penghuni padepokan itupun berdiri dengan termangu-mangu. Tetapi mereka tidak berani mendekat karena mereka tahu, bahwa orang yang berdiri berhadapan di tengah-tengah itu adalah orang-orang yang sedang marah dan siap untuk berkelahi.

Sejenak halaman padepokan Jati Aking itu dibakar oleh ketegangan yang memuncak. Perlahan-lahan kedua raksasa yang marah itu saling mendekat. Di dalam kesiagaan sepenuhnya terdengar Mandra menggeram “Jangan menyesal kalau kau tidak akan bangun lagi Sura. Riwayat petualanganmu akan habis sampai di sini”

“Jika kau berhasil, maka riwayat petualanganmu baru dimulai hari ini. Ternyata kau seorang penjilat yang lebih baik dari aku”

Kemarahan Mandra tidak lagi tertahankan. Karena itu, maka iapun segera meloncat menyerang lawannya dengan garangnya.

Tetapi Surapun sudah siap menghadapi setiap kemungkinan, sehingga karena itu, maka iapun dengan tangkasnya menghindari serangan yang pertama itu dengan sebuah loncatan pendek.

Demikianlah maka perkelahian itupun segera mulai dengan dilandasi oleh kebencian yang sangat. Karena itulah maka perkelahian itupun segera meningkat menjadi semakin seru. Masing-masing tidak lagi mengekang diri, dan bahkan dengan sepenuh tenaga berusaha untuk segera mengalahkan lawannya.

Ketika tangan-tangan mereka telah mulai dibasahi oleh keringat, maka tidak ada lagi yang tersirat di dalam hati, selain mengalahkan lawannya dan bahkan membunuhnya sama sekali meskipun mereka tidak bersenjata.

Tetapi ternyata keduanya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan berkelahi yang luar biasa. Ketahanan tubuh mereka benar-benar mengagumkan. Sebagai raksasa di Ranakusuman keduanya memiliki tenaga yang luar biasa. Namun apabila serangan-serangan mereka kadang-kadang mengenai lawannya, lawannya itupun masih juga mampu mempertahankan keseimbangannya.

Semakin lama perkelahian itu justru menjadi semakin dahsyat Mandra memang seorang pengawal yang dapat dipercaya. Kakinya bagaikan tidak berjejak diatas tanah. Meskipun tubuhnya bagaikan tubuh raksasa, namun ia mampu berloncatan dengan cepatnya. Sekali melenting sambil menyambar lawannya, namun kemudian kakinya menyerang mendatar bagaikan lembing yang meluncur dengan derasnya.

Tetapi lawannya adalah seorang yang telah bertahun-tahun hidup dalam suasana kekerasan. Sura adalah lambang dari kekuasaan Raden Rudira yang dialasi dengan kekuatannya untuk bertahun-tahun lamanya. Namun tiba-tiba lambang itu kini menjadi goyah. Tetapi kemampuan Sura ternyata tidak goyah. Ia masih mampu bertempur sebaik beberapa tahun yang lampau. Bahkan oleh kemarahan dan

Wajah Raden Rudira yang merah seakan-akan menjadi semakin menyala karenanya. Bahkan kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya sambil berkata “Aku dapat memaksakan kehendakku“

Kebencian yang menyala di hatinya, maka seakan-akan tenaganya kini menjadi berlipat. Tangannya yang kadang-kadang bagaikan membeku di depan tubuhnya, tiba-tiba saja bergerak menyambar lawannya. Dengan jari-jarinya yang mengembang, Sura merupakan orang yang sangat berbahaya. Tandangnya yang kasar dan garang menggetarkan dada setiap orang yang menyaksikan di seputar arena itu.

Raden Juwiring memandang perkelahian itu dengan tajamnya. Di halaman padepokan Jati Aking ini telah terjadi perkelahian antara hamba-hamba dari Dalem Ranakusuman ditunggui oleh adiknya Raden Rudira.

“Inilah ciri kekuasaan Rudira” berkata Juwiring di dalam hatinya “Ia telah menimbulkan dengki dan iri hati di antara pelayan-pelayan di dalam lingkungannya. Sengaja atau tidak sengaja ia telah menyabung kedua raksasa ini”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya wajari Rudira yang tegang. Kemudian ia berkata pula di dalam hatinya “Jika adinda Rudira mendapat kesempatan untuk memimpin pemerintahan, maka nasib rakyatnyalah yang akan menjadi sangat jelek. Ia pasti menimbulkan pertentangan di dalam lingkungannya. Dan pertentangan itu agaknya membuatnya semakin kuat, karena di dalam setiap pertentangan yang timbul, rakyatnya tidak akan sempat menilai kebijaksanaannya, dan setiap pihak akan berusaha untuk mendapat kesempatan mendekatinya” Juwiring menggigit bibirnya, lalu “dan kini di dalam lingkungan kecil itu Mandra telah berkelahi dengan penuh dendam dan kebencian melawan Sura”

Dalam pada itu perkelahian itu sendiri menjadi semakin dahsyat pula. Keduanya hampir tidak lagi mempertimbangkan tata geraknya dengan nalar, karena hentakan perasaan yang tidak terkekang.

Benturan-benturan kekuatan yang terjadi, membuat keduanya sekali! terlontar surut beberapa langkah. Kemudian hampir berbareng mereka meloncat maju. Dan bahkan hampir berbareng tangan-tangan mereka berhasil mengenai tubuh lawannya.

Ketika Sura terputar oleh pukulan tangan Mandra yang mengenai pelipisnya, matanya seakan-akan menjadi berkunang-kunang. Tetapi ia cepat berusaha menguasai keadaannya, sehingga ketika Mandra menyerangnya sekali lagi dengan kakinya mengarah kelambung, Sura masih sempat menghindar. Bahkan dengan garangnya ia menangkap kaki Mandra dan memutarnya dengan sepenuh tenaga. Tetapi Mandra tidak membiarkan kakinya patah. Ia justru menjatuhkan dirinya sambil berputar, kemudian menghentakkan kakinya itu sambil menyerang dengan kakinya yang lain. Tetapi Sura sempat melepaskan kaki yang ditangkapnya. Ketika serangan kaki Mandra yang lain hampir mengenai dadanya, Sura dapat mengelak. Demikian ia surut selangkah, maka Mandrapun melenting berdiri. Tetapi Sura agaknya lebih cepat, karena tiba-tiba saja kakinya telah meluncur ke dada lawannya.

Mandra tidak sempat mengelak, karena serangan itu bagaikan tidak dibatasi oleh waktu. Yang dapat dilakukan hanyalah sekedar menahan serangan itu dengan tangannya. Sambil melipat tangan ia memiringkan tubuhnya. Namun kaki Sura terlampau kuat, sehingga dorongan pada lengan tangannya membuatnya terlempar beberapa langkah surut.

Sura tidak membiarkannya. Dengan cepatnya ia memburu lawannya. Sekali lagi ia memutar kakinya mendatar. Tumitnya tepat mengarah kebagian bawah perut Mandra.

Mandra terkejut melihat serangan yang begitu cepat datang beruntun. Tetapi kali ini ia masih mempunyai kesempatan. Ia menarik sebelah kakinya sambil membungkukkan badannya, sehingga tumit Sura terbang sejengkal saja dari tubuhnya. Pada saat itulah Mandra mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Ia meloncat mendekat. Tangannya mematuk dagu Sura dengan cepatnya sehingga terdengar gigi Sura gemeretak beradu. Bahkan kepala Sura terangkat sejenak. Pada saat itulah Sura mengeluh pendek. Tangan Mandra yang lain ternyata tepat mengenai perut Sura. sehingga Sura terbungkuk sejenak.

Saat itu dipergunakan oleh Mandra sebaik-baiknya. Dengan kedua tangannya ia berusaha memukul tengkuk Sura, sehingga dengan demikian ia berharap dapat segera mengakhiri perkelahian.

Tetapi Sura yang masih sempat berpikir tidak membiarkan tengkuknya dikenai. Karena itu, selagi Mandra mengayunkan tangannya Sura bergeser sedikit karena ia tidak mungkin berbuat lebih dari itu. Namun yang sedikit itu ternyata telah menyelamatkan tengkuknya. Tangan Mandra yang menghantam keras sekali itu ternyata mengenai pundak lawannya.

Sura menyeringai menahan sakit. Tetapi akibat pukulan itu tidak membuatnya pingsan seperti seandainya tangan itu mengenai tengkuknya.

Mandra tidak mau melepaskan kesempatan itu. Ketika ia sadar bahwa tangannya tidak berhasil mengenai tengkuk lawannya, maka sekali lagi ia berusaha mengulangi, selagi Sura masih belum sempat beranjak dari tempatnya, bahkan agaknya ia masih sedang menahan sakit.

Tetapi ketika Mandra sekali lagi mengangkat tangannya, Sura mempergunakan kesempatan yang ada padanya. Dengan sisa tenaganya ia membenturkan dirinya ke dada Mandra. Bahkan ia masih sempat mengangkat lututnya dan langsung menghantam perut lawannya dengan kerasnya, sementara tangannya masih juga berusaha mencengkam leher.

Mandra terkejut sekali mengalami serangan yang tidak diperhitungkannya. Selagi tangannya sedang terangkat, ia terdorong dengan derasnya, sehingga ia tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya.

Sejenak kemudian keduanya jatuh berguling. Sura yang telah melepaskan segenap kekuatannyapun tidak dapat bertahan lagi, dan jatuh menimpa Mandra.

Beberapa saat keduanya berguling-guling. Namun sejenak kemudian keduanya sempat juga berdiri. Tetapi ternyata bahwa kekuatan mereka telah hampir terkuras habis.

Dari mulut Sura tampak meleleh darah yang merah kehitam-hitaman, sedang sambil menyeringai Mandra memegangi perutnya yang bagaikan lumat.

Sejenak keduanya berdiri termangu-mangu. Nafas mereka meloncat satu-satu dari lubang hidung. Ketika dengan tangan kirinya, Sura mengusap mulutnya, maka tangannyapun menjadi merah oleh darah.

Melihat darah itu mata Sura menjadi semakin menyala. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa tenaganya semakin lama menjadi semakin tipis, dan nafasnyapun menjadi semakin dalam di dasar perutnya.

Arum yang juga menyaksikan perkelahian itu menjadi ngeri. Meskipun ia sudah mempelajari olah kanuragan, tetapi ia jarang sekali melihat kekerasan yang sebenarnya. Dan kini ia melihat dua orang raksasa sedang bertempur mati-matian di halaman rumahnya

Terasa bulu-bulu gadis itu meremang. Rasa-rasanya tangannya bergetar dan kadang-kadang bergerak-gerak tanpa disadarinya. Bahkan kadang-kadang seakan-akan tangan-tangan yang kasar dari kedua raksasa itu telah menyentuh tubuhnya.

Sekilas ia memandang wajah ayahnya yang tegang. Ia tahu bahwa ayahnya adalah seorang yang memiliki ilmu yang hampir sempurna. Ia yakin bahwa kedua orang yang sedang bertempur itu sama sekali bukan orang-orang yang mengagumkan bagi ayahnya. Namun dalam pada itu, Arum melihat suatu segi dunia yang rasa-rasanya lain dari dunia yang dikenalnya sehari-hari. Kedamaian di padepokan Jati Aking yang sejuk serta hubungan yang ramah di antara penghuninya. Meskipun mereka berlatih ilmu olah kanuragan, namun Arum belum pernah melihat kebencian yang sebenarnya seperti yang dilihatnya kini. Ia melihat pertengkaran di bulak Jati Sari, dan perkelahian di antara saudara-saudara seperguruannya dengan para pengiring Raden Rudira, adalah sebagai suatu pertentangan yang masih dapat dilihatnya sebagai suatu peristiwa yang dapat saja terjadi. Tetapi kali ini terpancar dari tatapan mata keduanya, kebencian yang melonjak-lonjak. Bukan sekedar persoalan yang tiba-tiba saja timbul karena perbedaan pendapat, tetapi mereka agaknya sudah menyimpan dendam di hati masing-masing.

Demikianlah Arum mulai menjumpai lontaran dendam. Dendam yang tersimpan di hati, yang pada suatu saat memerlukan lontaran yang dahsyat.

Sejenak Sura dan Mandra masih berdiri berhadap-hadapan dengan nafas yang tersenga-sengal. Tampak bahwa kekuatan keduanya sudah jauh susut. Namun dendam yang membara di hati masih tetap membakar perasaan mereka, sehingga dengan demikian mereka sama sekali tidak menghiraukan kenyataan, bahwa sebenarnya mereka sudah menjadi sangat lelah.

Raden Rudirapun menjadi berdebar-debar. Kehadiran Sura di padepokan itu sama sekali di luar perhitungannya.

“Pengkhianat itu memang harus mati” geram Raden Rudira “Kenapa Mandra tidak bersenjata saja dan memenggal lehernya sama sekali”

Tetapi Raden Rudira tidak dapat berbuat lain kecuali memperhatikan saja perkelahian yang berlangsung itu.

Ternyata bahwa baik Sura maupun Mandra tidak mau surut dari arena. Setelah nafas mereka agak teratur, merekapun saling mendekat dan tanpa berkata sepatah katapun, Mandra telah mulai menyerang lawannya. Meskipun serangannya sudah tidak segarang semula, namun lawannyapun juga sudah tidak lagi cukup cekatan. Sehingga karena itu, maka ayunan serangan mereka kadang-kadang sama sekali tidak terarah lagi, meskipun lawannya tidak menghindar. Bahkan kadang-kadang mereka terseret oleh ayunan tangannya sendiri dan terhuyung-huyung jatuh tertelungkup. Namun lawannya yang masih dibakar oleh nafsunya untuk memenangkan perkelahian itu dan yang dengan tergesa-gesa ingin mempergunakan kesempatan, ternyata kemampuan tubuhnya tidak lagi memungkinkan, sehingga justru iapun terjatuh sendiri hanya karena kakinya tersentuh sebuah batu kecil.

Demikianlah perkelahian itu sudah berubah bentuknya. Tenaga kedua orang itu sama sekali tidak mampu lagi mengimbangi dendam yang masih menyala di hati. Seakan-akan mereka masih ingin menghancur lumatkan lawan masing-masing, seolah-olah mereka masih mempunyai tenaga yang cukup untuk meremas gunung dan mengeringkan lautan. Namun setiap kali mereka berdiri, maka kaki mereka menjadi gemetar dan seakan-akan tulang belulang mereka telah menjadi selemas serat nanas.

Akhirnya, betapapun mata mereka masih menyala, namun keduanya sudah tidak mampu lagi untuk berbuat sesuatu. Sura berdiri terhuyung-huyung sambil mengusap bibirnya yang berdarah, sedang Mandra bertelekan pada pinggangnya, untuk menahan perasaan mual yang mengaduk perutnya.

Kiai Danatirta yang melihat bahwa perkelahian itu sudah mendekati akhirnya, menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kekuatan dua orang raksasa itu berimbang.

Karena itu, maka katanya kemudian “Sudahlah. Marilah Ki Sanak, kita sudahi kebencian yang menyala di hati kalian masing-masing. Marilah kita duduk sejenak untuk beristirahat. Tidak ada gunanya kita selalu dicengkam oleh dendam dan kebencian”
Sura dan Mandra tidak sempat menjawab karena nafas mereka yang memburu, bahkan seakan-akan hampir terputus di kerongkongan.

Namun dalam pada itu dada Raden Rudiralah yang serasa menyala. Terbayang kegagalan lagi yang akan ditemuinya di padepokan ini. Kegagalan demi kegagalan harus ditelannya. Alangkah pahitnya.

Dengan wajah yang merah padam tiba-tiba terdengar suaranya menggelegar “Sura, kau sudah berkhianat lagi. Ternyata kau sudah mendahului aku, dan mengabarkan kehadiranku kepada Kiai Danatirta. Apakah keuntunganmu dengan berbuat demikian?“

Sura memandang Raden Rudira yang rasa-rasanya agak kabur. Namun disela-sela nafasnya yang terengah-engah ia berkata “Ya. Aku memang mendahului setelah aku mendengar kalian membicarakan rencana ini di kandang kuda”

“Persetan” geram Raden Rudira “Apakah kau tahu akibat dari perbuatanmu?“

“Aku mengharap akibat inilah yang terjadi. Aku berharap bahwa aku akan dapat melumatkan Mandra. Tetapi aku ternyata gagal”

“Anak demit” sahut Mandra “Akulah yang akan melumatkan kepalamu”

Sebuah senyum yang masam tampak di bibir Sura “Kita melihat kenyataan ini”

“Tetapi kau tidak akan terlepas dari hukuman pengkhianatanmu” sahut Raden Rudira lalu dipandanginya Kiai Danatirta “kau jangan melibatkan diri pada pengkhianatannya. Biarlah ia menanggungnya sendiri”

Kiai Danatirta memandanginya pula. Sorot keheranan memancar dari sepasang matanya yang lembut. Dengan terbata-bata ia bertanya “Apakah aku tuan anggap terlibat dalam persoalan antara kedua abdi tuan ini?“

Pertanyaan itu ternyata membingungkan Raden Rudira. Namun kemudian ia menjawab lantang “Ya. Kau sudah melindungi pelayanku yang berkhianat. Dengan demikian kau akan terlibat pula karenanya”

“Raden” berkata Kiai Danatirta “Aku tidak mengetahui sama sekali persoalan antara kedua abdi tuan ini. Persoalan tuan di sini adalah persoalan gadis itu”

“Tetapi kau sudah mempergunakan orang yang tidak aku sukai lagi untuk mengacaukan pembicaraan kita. Kedatangannya untuk berkhianat ini kau sambut dengan senang dan dengan demikian akan menguatkan sikap penolakanmu” Raden Rudira berhenti sejenak, lalu “Aku jangan kau anggap anak yang sama sekali tidak dapat menghubungkan persoalan yang satu dengan persoalan yang lain. Siapapun kalian, tetapi kali ini kalian mempunyai kepentingan yang dapat saling menguntungkan. Itulah sebabnya Sura ada di sini”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Dengan hormatnya ia menjawab “Memang kadang-kadang sikap seseorang dapat menimbulkan akibat yang tidak dikehendakinya sendiri. Sebaiknya aku tidak ingkar, bahwa sebenarnyalah abdi tuan yang bernama Sura itu datang mendahului tuan. Tetapi yang penting baginya, bukan karena tuan akan mengambil anakku. Ia ingin mendapat kesempatan untuk melepaskan dendamnya terhadap kawannya yang bernama Mandra itu”

“Dan kau yang menyebut dirimu Kiai Danatirta ternyata telah membakar nafsu dendam di hati seseorang”

”Bukan itu. Lebih baik dendam itu meledak di bawah saksi serupa ini daripada mereka mencari kesempatan sendiri. Tentu hal itu akan menjadi jauh lebih berbahaya”

“Bukan itu. Yang penting bagimu, kau dapat menggagalkan niat kami membawa anakmu” potong Raden Rudira “Tetapi kau keliru. Meskipun seandainya Mandra tidak lagi dapat memaksamu karena ia harus berdiri berhadapan dengan pengkhianat itu, aku masih membawa beberapa pengiring yang akan dapat memaksamu”

Kata-kata itu ternyata bagaikan api yang menyentuh telinga Buntal. Tetapi ketika ia bergeser setapak Juwiring telah menggamitnya. Agaknya anak muda itu dapat berpikir lebih tenang dari Buntal.

“Raden” bertanya Kiai Danatirta “Akupun tetap pada permohonanku. Jangan tuan membawanya”

“Kami akan memaksa. Anak itu atau kau”

Sebelum Kiai Danatirta menjawab, Ki Dipanalalah yang menyahut sambil melangkah maju “Raden. Akupun adalah seorang abdi di Dalem Ranakusuman. Tetapi tuan jangan tergesa-gesa menuduh aku seorang pengkhianat. Aku ingin tuan mempertimbangkan keputusan tuan untuk mengambil Arum dari rumah ini”

“Maksudmu, agar aku membantah perintah ayahanda?“

“Raden, seperti Raden yang sudah bukan kanak-kanak lagi sehingga Raden dapat mengetahui apa yang sudah terjadi di padepokan ini dengan penghubungan peristiwa-peristiwa dan persoalan-persoalan yang telah terjadi, maka akupun demikian pula. Sudah tentu Kiai Danatirta yang sudah berusia lebih tua daripadaku itupun dapat mengerti, bahwa tuan datang tidak tidak atas perintah ayahandan tuan”

Wajah Raden Rudira menjadi merah padam.

“Kau juga berkhianat”

“Tidak tuan. Aku adalah seorang tua. Ayahanda tuan banyak mendengarkan pendapatku, meskipun tidak semuanya dibenarkan. Aku berharap tuan mendengarkan aku. Barangkali tuan tidak senang mendengar pendapatku, tetapi bukan maksudku menyenangkan hati tuan dengan membenarkan segala sikap tuan seperti Sura sebelum tuan anggap ia berkhianat. Dan aku memang berbeda dari Sura, sehingga kadang-kadang Sura membenciku saat itu. Tetapi bagiku, bagi seorang abdi yang ingin berbakti, tidak seharusnya selalu membenarkan sikap tuannya, namun sebaiknya ia menunjukkan kebenaran kepadanya”

“Omong kosong” bentak Raden Rudira “Kau memang pandai berbicara. Kau sangka ayah akan berterima kasih dengan sesorahmu itu”

“Ya. Aku memang menyangka demikian. Dan aku akan menghadap ayahanda tuan”

Wajah Raden Rudira yang merah seakan-akan menjadi semakin menyala karenanya. Bahkan kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya sambil berkata “Aku dapat memaksakan kehendakku”

“Jika terjadi benturan kekerasan, aku menjadi saksi, bahwa bukan tuan yang berada di pihak yang benar. Dan sudah tentu aku tidak akan berdiri di pihak yang salah. Aku tidak hanya pandai berbicara, tetapi seperti yang tuan ketahui dari ayahanda tuan jika ayahanda tuan pernah berceritera, aku adalah seorang prajurit”

Dada Raden Rudira bagaikan retak mendengar kata-kata Dipanala. Sejak ia berpaling kepada para pengiringnya yang berada di sekitarnya. Namun tampaklah wajah mereka yang ragu-ragu. Dan jantungnya terasa berdesir ketika ia memandang wajah-wajah yang lain wajah Dipanala, Juwiring, Buntal dan bahkan wajah Arum sendiri. Tampaklah ketegangan yang mantap memancar di mata mereka.

“Adimas Rudira“ Juwiringlah yang kemudian berbicara “Aku tidak mengerti, bagaimana kau menganggap aku Tetapi aku tetap merasa bahwa aku adalah saudara tuamu. Aku adalah kakakmu. Mungkin derajadku memang lebih rendah dari padamu namun sebagai saudara tua, aku ingin menasehatkan kepadamu, urungkan saja niatmu”

“Aku tidak memerlukan nasehatmu. Aku tahu, kau tidak mau kehilangan gadis itu”

“Adimas Rudira” potong Juwiring “Kau jangan salah mengerti. Ia adalah adikku. Di dalam padukuhan ini, kami bertiga adalah putera Kiai Danatirta”

“Bohong. Jika kau tidak berkepentingan, kau tidak akan bertahan. Kau bahkan harus menasehatkan kepada Kiai Danatirta agar gadis itu masuk ke istana Ranakusuman. Itu akan menguntungkan baginya dan bagi hari depannya”

Tetapi Raden Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku adalah seorang putera Bangsawan. Aku pernah hidup di lingkungan para bangsawan. Tidak seorangpun yang dapat menyatakan bahwa ibuku, yang dahulu juga masuk ke dalam lingkungan para bangsawan dengan harapan yang berlebih-lebihan, kemudian menemukan kebahagiaannya. Dan aku. anaknya, anak seorang bangsawan, tidak dapat hidup dengan tenang di rumah ayahnya sendiri”

Sejenak Raden Rudira bagaikan membeku. Ia tidak dapat membantah kenyataan yang dikatakan oleh Juwiring, karena anak muda itu telah mengalaminya sendiri.

“Adimas Rudira” berkata Juwiring kemudian “sebenarnya ibunda Galihwarit tidak memerlukan seorang gadis untuk membantunya, karena di istana ayahanda Ranakusuma ada adinda Warih. Biarlah adinda Rara Warih mulai berkenalan dengan kerja sehari-hari yang pantas bagi seorang gadis”

“Apa, apakah katamu kamas Juwiring? Kau akan menjadikan Diajeng Warih seperti seorang pelayan he? Seperti aku, adinda Warih derajatnya lebih tinggi dari kau. Dan kau sekarang berani mengatakan bahwa Diajeng Warih harus bekerja meskipun di rumah sendiri”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Bukankah tidak ada salahnya untuk melayani ibu sendiri?“

“Kau yang pantas melakukannya. Bukan aku dan bukan adikku yang lahir dari ibunda Galihwarit” potong Rudira yang menjadi semakin marah “Tetapi Arum. Gadis padepokan ini. Ia pantas melayani keluarga kami, selain kau”

Wajah Juwiringpun menjadi merah pula. Namun Kiai Danatirtalah yang menyahut “Tuan, aku berterima kasih atas kesempatan yang terbuka bagi anakku, tetapi sayang, kali ini anakku belum bersedia menerima kesempatan itu”

Ketika Raden Rudira akan menyahut, Dipanala mendahului “Silahkan tuan kembali. Aku akan menghadap ayahanda tuan. Jika ayahanda tuan berkeras untuk mengambil Arum, akulah yang akan menyampaikannya dan membujuknya agar ia bersedia. Tetapi jika ayahanda tuan dapat mengerti alasan Arum dan ayahnya, aku persilahkan tuan menahan perasaan. Karena kekerasan tidak akan menguntungkan tuan di sini. Kentongan itu akan dapat banyak berbicara, meskipun tuan seorang bangsawan. Cantrik padepokan tidak ubahnya seperti kuda tunggangan bagi gurunya. Apapun yang diperintahkannya akan dilakukan, seperti Sura pada saat-saat ia masih belum sempat berpikir. Apapun yang tuan perintahkan pasti akan dilakukannya juga, meskipun seandainya ia harus berkelahi melawan Pangeran Mangkubumi. Karena perintah Raden bagi Sura waktu itu adalah keputusan yang tidak dapat dibantah seperti perintah Kiai Danatirta bagi cantrik-cantriknya. Dan seperti yang sudah aku katakan, aku ingin mengatakan kebenaran kepada tuan, bukan sekedar membenarkan kata tuan”

“Gila“ Rudira menggeram. Tetapi ia benar-benar merasa berdiri diatas minyak yang setiap saat dapat menyala. Ki Dipanala sudah menentukan sikapnya. Dan itu berarti bahwa ia akan berdiri di pihak Juwiring, anak muda yang bernama Buntal dan para cantrik.

Namun demikian rasa-rasanya terlalu pedih untuk sekali lagi mengalami kegagalan. Wajah-wajah yang dilihatnya tegang di halaman itu bagaikan wajah-wajah orang-orang Sukawati yang menyilangkan tangan di dadanya, dan bahkan seperti wajah petani Sukawati yang sangat dibencinya itu.

Tiba-tiba saja Rudira berkata “Kalian memang harus dimusnahkan seperti orang-orang Sukawati. Kalianpun harus disingkirkan dari bumi Surakarta, seperti Sukawati harus dipisahkan dari Ramanda Pangeran Mangkubumi. Jika kalian tetap berkeras kepala, kalian akan menyesal”

Tidak seorangpun yang menjawab. Baik Kiai Danatirta, maupun Raden Juwiring dan Ki Dipanala mengerti, bahwa di dalam dada Raden Rudira sedang terjadi pergolakan yang sengit. Karena itu maka merekapun membiarkannya untuk segera mengambil keputusan.

Tetapi sekali lagi Raden Rudira tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapi. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh penghuni-penghuni padepokan itu, yang disebut oleh Ki Dipanala sebagai cantrik-cantrik yang tidak mampu berpikir seperti Sura beberapa saat yang lampau. Raden Rudira tidak mengerti bahwa mereka bukannya cantrik-cantrik yang meneguk ilmu kanuragan di padepokan Jati Aking, karena Kiai Danatirta tidak menyatakan dirinya sebagai seorang guru di dalam ilmu kanuragan itu.

Namun bahwa beberapa orang mengawasinya dari kejauhan, ternyata membuat hati Raden Rudira semakin susut.

Dan sekali lagi Raden Rudira terpaksa mengambil keputusan yang sangat pahit. Ia tidak dapat memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Selain Sura, ternyata Ki Dipanala telah menentangnya pula. Namun kedudukan Ki Dipanala agak berbeda dengan Sura. Betapapun Ki Dipanala tidak disukai, tetapi rasa-rasanya masih juga ada pengaruhnya terhadap ayah dan ibundanya.

Karena itu, betapa pahitnya, maka Raden Rudira terpaksa berkata “Baiklah. Kali ini kalian menang. Aku terpaksa membatalkan niatku untuk membawa gadis itu atas perintah ayahanda. Tetapi kalian tidak akan dapat menikmati kemenangan kalian. Juga kakanda Juwiring. Jangan kau sangka bahwa kau akan tetap berhasil mempertahankan Arum. Pada suatu saat kaulah yang akan kecewa, bahwa Arum akan lepas dari tanganmu.

“Adimas Rudira” potong Juwiring “Kau salah paham”

Tetapi Rudira ingin mengurangi kepahitan di hatinya. Karena itu ia tertawa sambil berkata “Jangan menyangkal. Kau lebih kerasan di padepokan ini daripada di rumah kita karena di sini ada Arum. Tetapi Arum tidak pantas berada di rumah ini bersama kau dan anak setan itu, apalagi dilingkungi oleh suasana padesan yang kasar”

“Arum memang anak padesan Raden” sahut Kiai Danatirta “ sejak lahir ia adalah anak padepokan”

“Tetapi ia tumbuh seperti sekuntum bunga. Tetapi bunga itu berkembang di batu karang yang gersang” Raden Rudira menyahut “Namun kamas Juwiring tidak akan berhasil memetik kembang itu”

“Dengar adimas” potong Juwiring “Kau salah paham Bukan kehendakku sendiri bila aku berada di padepokan ini”

“Dan kau tidak mau pergi lagi dari tempat ini”

“Bukan maksudku”.

Raden Rudira tertawa pula. Dipandanginya Arum sejenak. Dan wajah gadis itu menjadi merah padam.

“Aku tinggalkan padepokan ini. Tetapi aku akan kembali dengan suatu sikap yang pasti”

Raden Rudira tidak menunggu jawaban lagi. Iapun segera pergi ke kudanya. Para pengiringnya menjadi termangu-mangu sejenak, namun merekapun kemudian mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tetapi Mandra yang tertatih-tatih masih juga mengumpat “Sura aku tidak puas dengan perkelahian ini. Kita akan mengambil kesempatan lain. Aku ingin kita mempergunakan senjata”

Sura memandangnya dengan tajam. Tetapi kemudian ia menarik nafas sambil menjawab “Baiklah. Memang kita adalah orang-orang yang mendambakan dendam di hati”

“Persetan” geram Mandra. Namun ia tidak sempat berbicara terlalu banyak, karena kawan-kawannya telah berloncatan keatas punggung kuda.

Sejenak kemudian iring-iringan itupun telah berpacu meninggalkan padepokan Jati Aking.

Derap kaki-kaki kuda yang berlari-lari itu telah menghamburkan debu yang putih, berterbangan meninggi, namun kemudian pecah bertebaran dihembus angin, seperti pecahnya hati Raden Rudira, Putera Pangeran Ranakusuma itu ternyata telah gagal lagi. Dengan demikian timbunan kekecewaan dan buhkan dendam semakin tebal mengendap di hatinya. Setiap saat kebencian dan dendam itu akan dapat meledak seperti meledaknya Gunung Kelut.

Namun dalam pada itu, kepergian Raden Rudira telah menumbuhkah kesan yang aneh di hati anak-anak muda di padepokan Jati Aking. Selama ini mereka tidak pernah mempersoalkan hubungan mereka yang satu dengan yang lain. Namun tiba-tiba kini mereka seperti dihentakkan dalam suatu kesempatan berpikir tentang diri mereka. Bahwa mereka sebenarnya adalah anak-anak muda yang meningkat dewasa.

Buntal yang mendengar semua percakapan kedua kakak beradik itu menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia merasa dirinya memang terlalu kecil. Ia adalah seorang anak yang diketemukan di pinggir jalan oleh orang-orang Jati Sari, bahkan setelah dipukuli sampai merah biru. Sedang meskipun tersisih dari keluarganya, namun Raden Juwiring adalah putera seorang Pangeran.

Tanpa disadarinya Buntal memandang Arum yang masih juga belum beranjak dari tempatnya memandangi debu yang berhamburan di regol halaman padepokannya. Terasa sesuatu berdesir di dada Buntal Sepercik perasaan melonjak di hatinya “Arum memang terlalu cantik”

Tetapi kepala itupun segera tertunduk. Didekatnya berdiri seorang yang lahir oleh tetesan darah seorang bangsawan. Juwiring.

Buntal terkejut ketika seseorang menggamitnya. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya Juwiring berdiri disinya.

“Jangan hiraukan mereka. Mereka tidak akan bertindak lebih jauh lagi. Paman Dipanala sudah menjanjikan akan menemui ayahanda Pangeran Ranakusuma?”

Buntal tergagap sejenak. Namun kemiudian ia bertanya “Apakah ayahandamu akan mendengarkan keterangannya?“

“Sampai saat ini ayahanda masih mendengarkan. kata-katanya. Mudah-mudahan dalam hal inipun kata-katanya masih mendapat perhatian ayahanda”

Buntal mengangguk-angguk. Dilihatnya Kiai Danatirta naik ke pendapa bersama Ki Dipanala dan Sura. Sura yang pernah diserangnya dengan serta-merta tanpa diduga-duga terlebih dahulu, sehingga hampir raksasa itu dapat dijatuhkannya. Sementara Arum bergegas melintasi pendapa masuk ke ruang dalam.

Sekali lagi Buntal menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun berjalan beriringan dengan Juwiring masuk ke longkangan samping.

“Kita masih sempat pergi ke sawah” berkata Juwiring. Buntal menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya, aku akan berganti pakaian”

Mereka berduapun segera masuk ke dalam bilik masing-masing Namun demikian pintu bilik Buntal tertutup, iapun merebahkan dirinya diatas amben bambu pembaringannya. Tiba-tiba saja batinya telah dirayapi oleh sesuatu yang kurang dimengertinya. Seakan-akan ia merasa dibayangi oleh kemuraman yang samar-samar.

“Gila“ tiba-tiba Buntal menghentakkan dirinya sendiri “Aku sudah menjadi gila. Aku tidak boleh berpikir dengan hati yang kerdil. Agaknya aku telah dicengkam oleh kehendak iblis yang paling jahat”

Dengan sekuat tenaga Buntal mencoba melupakan perasaan yang aneh itu, yang seakan-akan dengan tiba-tiba telah mencengkamnya. Memang setiap kali terpercik juga pujian atas gadis yang cantik itu, namun kata-kata Rudira justru serasa menusuk jantungnya dan menghunjamkan perasaan yang aneh itu ke dalamnya.

Dengan tergesa-gesa Buntal berganti pakaian. Bahkan sebelum ia selesai, didengarnya suara Juwiring di depan biliknya “Apakah kau belum selesai?“

“Sudah, sudah” suara Buntal agak tergagap. Tetapi ia tidak sempat mengenakan ikat kepalanya, sehingga ikat kepala itu hanya dibelitkan saja di kepalanya.

Sambil menyambar cangkulnya Buntal melangkah keluar. Derit pintu biliknya mengejutkannya sendiri, apalagi ketika Juwiring bertanya “Kenapa kau menutup pintu bilikmu rapat-rapat?“

Buntal tersenyum meskipun dipaksakannya. Tidak apa-apa Hampir tidak sengaja karena aku masih memikirkan Raden Rudira”

Juwiring mengangguk-angguk. Katanya “Jangan hiraukan. Anak itu memang terlalu manja. Ibunyalah yang sebenarnya bersalah. Adiknya, adinda Warih tidak kalah manjanya dari adinda Rudira”

Buntal mengangguk-angguk pula.

“Ternyata bahwa sifatnya yang manja itu telah membahayakan dirinya. Nafsunya menyala seperti api yang ingin membakar setiap bentuk tanpa kendali, sehingga tingkah lakunya seakan-akan tidak berbatas lagi”

Buntal masih mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya “Apakah ia tidak akan berbahaya bagimu. Jika tidak sekarang, apakah pada suatu saat ia tidak akan berbuat jauh lebih kasar lagi?“

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Aku tidak tahu Buntal. Tetapi kemungkinan itu memang ada. Namun yang paling mencemaskan sebenarnya bukan aku sendiri. Bagaimanapun juga aku masih mempunyai lambaran yang dapat mengimbangi kebengalannya. Tetapi nafsu kemudaannya kini berbahaya bagi Arum”

Dada Buntal berdesir mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak segera menjawab. Dan Juwiring berkata terus “Adalah tidak menguntungkan bagi Arum untuk tinggal di Ranakusuman. Seperti yang aku katakan, nasib ibuku tidak terlalu baik sampai saat meninggalnya, meskipun ia adalah isteri seorang Pangeran. Justru karena ibuku tidak mempunyai darah keturunan setingkat dengan isteri-isteri ayahanda yang lain”

Buntal mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya “Tetapi bagaimana dengan Raden Ayu Manik? Bukankah ia juga mempunyai derajat yang setingkat dengan Raden Ayu Galihwarit itu?“

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Persoalannya, adalah persoalan manusia Galihwarit dan Manik. Tetapi ayahanda Ranakusuma juga ikut menentukan ketidak-wajaran yang telah terjadi itu. Lebih daripada itu. ada pihak lain yang mengambil keuntungan”

“Orang asing maksudmu?“

Juwiring memandang Buntal sejenak. Namun kemudian ia mengangguk.

Buntal tidak berbicara lagi. Ketika mereka lewat di depan pendapa, dilihatnya Kiai Danatirta masih duduk bersama Sura dan Ki Dipanala.

“Ayah, kami akan pergi ke sawah” berkata Juwiring kepada Kiai Danatirta.

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Jawabnya “Pergilah. Nanti jika sempat aku akan menyusul. Apakah kalian akan pulang di waktu makan, atau Arum harus membawa makananmu ke sawah?”

“Kami akan pulang sore hari. Sesiang ini kami baru berangkat”

“Baiklah. Biarlah Arum pergi membawa maka kalian siang nanti”

Sura dan Dipanala memandang kedua anak muda yang berjalan melintasi halaman sambil membawa cangkul. Terasa sesuatu bergetar di dalam hati keduanya. Juwiring adalah putera seorang Pangeran. Siapapun ibunya, tetapi ayahnya adalah seorang Pangeran. Tetapi kini dengan ikhlas ia memanggul cangkul pergi ke sawah. turun ke dalam lumpur.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Sura berkata “Baru sekarang aku menyadari, betapa besar dosaku atas anak muda yang lapang dada itu. Ia sama sekali tidak tampak mendendam kepadaku, meskipun aku ikut serta berusaha menyingkirkannya dari Dalem Ranakusuman” Lalu tiba-tiba saja ia berpaling kepada Ki Dipanala “Ki Dipanala, apakah Raden Juwiring tidak mengetahui bahwa aku ikut menyingkirkannya?“

“Ia tentu mengetahuinya. Ia kenal siapa kau waktu itu” jawab Dipanala “Tetapi ia memang seorang anak muda yang berhati lautan. Sebagian adalah karena tuntutan Kiai Danatirta”

“Ah“ desah Kiai Danatirta “Ia belum cukup lama di sini untuk dapat membentuk wataknya. Jika hatinya lapang selapang lautan adalah karena pembawaannya. Dan itu adalah suatu karunia bagi Raden Juwiring”

Sura mengangguk-anggukkan kepalanya. Lambat laun ia merasa bahwa dirinya telah menjadi manusia kembali dengan segala macam gejolak di dalam hatinya. Ia kini sempat mempertimbangkan nalar dan perasaannya. Ia sempat memperhitungkan persoalan tentang dirinya dan persoalan di luar dirinya. Hubungan antara manusia di sekitarnya dan antara dirinya, manusia dan alam besar yang meliputi bentuk-bentuk alam yang kecil. Pengaruh timbal balik dari getaran di dalam dirinya terhadap alam di sekitarnya dan getaran alam di sekitarnya dan getaran alam di sekitarnya terhadap dirinya.

Sura menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya seperti ia dilahirkan-kembali dengan tanpa bekal apapun, sehingga ia merasa dirinya betapa bodohnya.

Sura terkejut ketika ia mendengar Ki Dipanala bertanya kepadanya “Sura, lalu apakah yang kau kerjakan? Apakah kau akan kembali ke Dalem Pangeran Ranakusuma atau tidak?“

Sura mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian menjawab “Aku akan kembali ke Dalem Ranakusuman. Aku adalah abdi Ranakusuman. Jika Pangeran Ranakusuma sudah tidak memerlukan aku lagi. aku akan pergi. Tetapi sebelum aku diusirnya, aku akan tetap berada di sana apapun yang akan terjadi, dan perlakuan apapun yang akan diperbuat oleh Raden Rudira dan Mandra. Aku masih mempunyai kepercayaan, bahwa beberapa orang abdi yang lain tidak akan ikut melibatkan dirinya di dalam persoalanku dengan Mandra”

Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah
Sura. Aku tidak akan melepas tangan. Persoalannya sudah menyangkut aku pula”

“Tetapi kedudukan Ki Dipanala tidak segoyah kedudukanku meskipun aku sudah tinggal berpuluh tahun di istana itu”

“Karena itu, aku akan membantu memecahkan persoalan-persoalan yang mungkin kau jumpai”

“Terima kasih. Mudah-mudahan hal itu justru tidak menyulitkan Ki Dipanala sendiri”

Kiai Danatirta yang selama itu mendengarkan percakapan mereka berdua, tiba-tiba menyela “Jika kalian tidak mendapat tempat lagi di Ranakusuman, tinggallah di padepokan ini. Kalian akan menjadi kawan yang baik bagi Raden Juwiring dan Buntal”

“Ya Kiai” jawab Sura “dan aku berterima kasih atas kesempatan itu. Namun aku masih juga mempunyai secuwil tanah warisan di padesan yang sempat aku perluas dengan uang yang aku dapat dari istana Ranakusuman itu pula dengan menjual kemanusiaanku”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun Ki Dipanalalah yang berkata kemudian “Kau akan lebih aman berada di padepokan ini. Banyak hal yang dapat terjadi atasmu karena sikapmu yang tiba-tiba berubah terhadap Raden Rudira”

“Aku menyadari. Tetapi aku mempunyai anak isteri yang tentu tidak akan dapat tinggal bersama-sama di sini. Jika demikian maka padepokan ini akan penuh dengan keluargaku saja”

“Padepokan ini cukup luas” sahut Kiai Danatirta.

“Aku mengucapkan banyak terima kasih”

Kiai Danatirta tidak menyela, lagi. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menekur seakan-akan sedang merenungi sesuatu yang amat penting.

Dalam pada itu, Sura masih berbicara tentang berbagai persoalan dengan Ki Dipanala. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Ranakusuman menjelang senja.

“Apakah kalian tidak bermalam saja di sini agar Raden Rudira menjadi agak tenang sedikit. Jika kalian hadir di halaman Ranakusuman hari ini maka kemarahan Raden Rudira akan masih mudah terangkat kembali”

Tetapi Ki Dipanala menggeleng. Katanya “Lebih baik kita tuntaskan persoalan ini jika memang Raden Rudira menghendaki, tetapi mudah-mudahan Pangeran Ranakusuma masih mau mendengar kata-kataku kali ini meskipun besok atau lusa aku akan diusir pula dari Ranakusuman. Jika aku yang diusir maka aku akan terpaksa tinggal di padepokan ini untuk sementara bersama keluargaku, sebelum aku mempertimbangkan untuk kembali saja ke Madiun”

“Apakah kau pernah berpikir untuk kembali ke Madiun, saja?“

“Ya. Tetapi kadang-kadang menjadi kabur lagi”

“Tinggallah di sini. Aku akan senang sekali jika kau bersedia, dan Arumpun akan mendapat kawan lagi yang sebaya”

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Jawabnya “Aku akan mempertimbangkannya”

Demikianlah maka mereka masih duduk beberapa saat di pendapa. Namun Kiai Danatirta yang masih mempunyai beberapa pekerjaan itupun segera mempersilahkan kedua tamunya untuk beristirahat di gandok.

“Terima kasih Kiai” jawab Sura “padepokan ini memang merupakan tempat yang dapat memberikan kesejukan. Aku akan menikmati ketenangan ini meskipun hanya sejenak, sebelum aku kembali ke Surakarta menjelang senja”

Ketika kedua tamunya kemudian pergi ke gandok maka Kiai Danatirtapun segera masuk ke ruang dalam.

Orang tua itu terkejut ketika dari sela-sela pintu bilik Aram, ia melihat gadis itu menelungkup di pembaringannya. Karena itu maka dengan tergopoh ia mendekatinya sambil bertanya “Kenapa kau Arum?“

Arum mengangkat wajahnya. Tampaklah setitik air mata membasahi pelupuknya.

“Ada apa ngger?“ bertanya ayahnya pula.

Perlahan-lahan Arum bangkit dan duduk di pinggir ambennya. Ditatapnya wajah ayahnya sejenak. Namun justru titik air di matanya terasa menjadi semakin banyak.

“Katakan Arum” bisik ayahnya.

“Kenapa aku justru membuat ayah mengalami kesulitan?”

“Kenapa??” bertanya ayahnya.

“Kenapa Raden Rudira berbuat begitu terhadap ayah?“

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu merasa, bahwa dirinyalah yang menjadi sumber kesulitan yang tumbuh di padepokan itu. Namun Kiai Danatirta itu berkata “Jangan berpikir begitu Arum. Bukan kau satu-satunya sumber persoalan antara padepokan ini dengan Dalem Ranakusuman. Sejak Raden Juwiring dibawa kemari oleh pamanmu Dipanala, aku sudah merasa, bahwa persoalan yang lain akan menyusul. Kau adalah salah satu alasan saja yang diberikan oleh Raden Rudira untuk menumbuhkan persoalan-persoalan baru yang dapat mengguncangkan ketenangan padepokan ini, yang sebenarnya sebagian terbesar ditujukan kepada kakaknya, Raden Juwiring”

“Jika ayah sudah mengetahui, kenapa ayah menerima Raden Juwiring itu di padepokan ini?“ tiba-tiba saja Arum bertanya.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenung untuk mendapatkan jawaban yang dapat dimengerti oleh Arum.

“Arum” berkata Kiai Danatirta kemudian “Memang sukar untuk mengatakan, apakah sebabnya aku menerima Raden Juwiring di padepokan ini justru karena aku mengerti bahwa persoalannya masih akan berkepanjangan. Tetapi sebagian terbesar adalah karena aku tidak dapat menolak permintaan pamanmu Ki Dipanala. Raden Juwiring adalah seorang anak bangsawan yang baik, tetapi hidupnya tersia-sia. Bahkan ayahnya sendiri sampai hati untuk menyingkirkannya, bukan karena anak itu nakal atau tidak mau tunduk kepada ayahnya. Tetapi karena kedengkian orang lain terhadapnya. Dengan alasan untuk mendapat ilmu kejiwaan, maka iapun dikirim kemari atas pendapat Dipanala”

Arum tidak menjawab. Namun tampak di wajahnya, beberapa persoalan sedang bergulat di dalam hatinya. Kata-kata Kiai Danatirta itu seakan-akan merupakan bayangan yang dapat dilihatnya. Seorang anak muda dari seorang bangsawan yang dengan kepala tunduk meninggalkan istana kapangeranan dan kemudian tinggal di sebuah padepokan kecil.

“Memang Raden Juwiring adalah anak yang baik” tiba-tiba saja timbul pengakuan di dalam hati Arum.

Sekilas terbayang kembali wajah anak bangsawan itu. Senyumnya yang ramah di wajahnya yang selalu cerah.

Arum menarik nafas dalam-dalam. Di sebelah bayangan wajah Raden Juwiring itu membayang wajah anak muda yang lain. Wajah yang tampaknya selalu bersungguh-sungguh dan prihatin. Wajah Buntal, anak muda yang diketemukan di pinggir jalan itu. Namun ternyata iapun adalah anak yang baik.

“Sudahlah Arum” berkata Kiai Danatirta “Jangan kau pikirkan lagi. Persoalan yang baru saja terjadi, dan seandainya masih akan terjadi, adalah persoalan padepokan ini keseluruhan, bukan persoalan yang kau timbulkan. Dan yang lebih penting Arum, jangan menyalahkan diri sendiri. Jika demikian maka kau akan kecewa atas dirimu sendiri, dan itu berarti bahwa kau kecewa terhadap karunia yang telah kau terima”

Arum tidak menjawab. Tetapi air di matanya masih mengambang di pelupuknya.  Kiai Danatirta memandang anak gadisnya itu sejenak. Namun hampir saja ia terseret oleh kenangan tentang anaknya yang sebenarnya, tentang ibu Arum. Wajah yang cantik dan sikap yang baik justru telah menyeretnya ke dalam kesulitan.

“Apakah kecantikan Arum akan membawanya ke dalam kesulitan pula?” Kiai Danatirta bertanya kepada diri sendiri.

Untunglah bahwa orang tua itu segera berhasil menguasai perasaannya yang hampir bergejolak itu, sehingga kemudian dipaksanya bibirnya untuk tersenyum sambil berkata “Arum, kakak-kakakmu sudah pergi ke sawah. Mereka baru akan pulang menjelang sore. Karena itu, kau masih mempunyai tugas. Kau harus pergi ke sawah untuk mengantar makan mereka”

Arum menganggukkan kepalanya. Hampir setiap hari ia melakukannya, sehingga karena itu, maka hal itu bukan merupakan hal yang baru baginya.

Demikianlah pada saatnya, ketika nasi sudah masak, dan mata hari sudah bergeser ke Barat, Arumpun segera berangkat ke sawah untuk menyampaikan nasi beserta lauk pauknya kepada kedua saudara angkatnya yang sedang bekerja di sawah.

Meskipun pekerjaan ini sudah dikerjakan setiap hari, namun tiba-tiba saja hatinya menjadi berdebar-debar. Ketika ia menyusuri pematang, dilihatnya Juwiring aan Buntal yang sudah lelah, sedang beristirahat di bawah gubugnya. Sejenak Arum memandang keduanya berganti-ganti, namun sejenak kemudian terasa suatu getar yang aneh di dalam hatinya.

Terngiang kata-kata Raden Rudira yang menyebut-nyebut hubungannya dengan Juwiring dan kebencian bangsawan muda itu kepada Buntal.

Arum tidak pernah memikirkan hubungan itu. Keduanya serasa benar-benar seperti saudaranya sendiri. Tetapi tiba-tiba kini ia melihat keduanya sebagai anak-anak muda yang berasal dari padepokannya. Seolah-olah Arum itu sadar, bahwa Raden Juwiring adalah Putera Pangeran Ranakusuma yang dititipkannya di padepokan Jati Aking dan Buntal adalah anak muda yang asing, yang dikeroyok orang karena mengejutkannya ketika ia memanjat gubug yang berkaki tinggi itu.

Untunglah bahwa Arumpun segera berhasil menguasai dirinya. Sejenak kemudian iapun sudah tersenyum ramah seperti kebiasaannya sehari-hari. Sambil meletakkan bakulnya ia berkata “Maaf, aku agak lambat. Tetapi bukan salahku. Nasi baru saja masak. Agaknya para pelayan sedang sibuk melihat perkelahian di halaman, sehingga mereka lambat mulai menanak nasi”

“Kamipun lambat berangkat” sahut Juwiring.

“Tetapi kami tidak ingin lambat pulang” berkata Buntal kemudian.

Arum memandang Buntal sejenak, lalu “Aku membawa gembrot sembukan. Bukankah kakang Buntal senang sekali gembrot sembukan? Dan aku membawa pecel lele bagi kakang Juwiring”

Buntal sudah mendengar kata-kata Arum berpuluh kali sejak ia berada di padepokan itu. Tetapi kali ini hatinya serasa tersentuh. Seolah-olah baru kali ini ia mendapat pelayanan dengan wajah yang bening tanpa keluhan keprihatinan. Seolah-olah baru kali ini ia menemukan suatu kehidupan yang sejuk.

Tetapi Buntalpun menahan perasaannya sejauh-jauh dapat dilakukan. Ia sama sekali berusaha menghapus kesan itu dari gerak lahiriahnya, dari warna-warna kerut di wajahnya dan dari tatapan matanya.

Karena itu maka iapun tertawa sambil berkata “Kau tidak pernah melupakan kegemaran kami. Terima kasih “Ia berhenti sejenak, lalu “Marilah kakang Juwiring”

Juwiringpun tersenyum, la mengerti. bahwa orang-orang yang berada di dapur padepokan Jati Aking mengenal kegemarannya, dan demikian juga kegemaran penghuni-penghuni lainnya. Dan pecel lele yang dibawa Arum itu telah benar-benar membangkitkan seleranya.

Demikianlah kedua anak-anak muda itupun kemudian makan dengan lahapnya. Arum yang duduk di pematang memandang keduanya dengan terenyum kecil. Ia memang selalu senang apa bila kedua anak-anak muda itu makan kiriman yang dibawanya dengan lahap.

Dalam pada itu, Juwiring yang sedang mengunyah nasi dan pecel lelenya, sekali-sekali memandang wajah Arum juga. Meskipun gadis itu tinggal bersamanya unluk waktu yang panjang namun kali ini ia benar-benar memperhatikan wajahnya.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata di dalam hatinya “Gadis ini memang cantik. Pantas adinda Rudira sangat tertarik kepadanya. Tetapi adalah berbahaya sekali apabila ia berada di istana, ayahanda Ranakusuma ia tidak akan dapat bertahan untuk tiga bulan dari ketamakan adinda Rudira, yang memantaskan segala cara untuk mencapai tujuannya”

Namun ia terkejut ketika tiba-tiba saja sepucuk duri ikan lelenya tersangkut di kerongkongan, sehingga Juwiring itu menjadi terbatuk-batuk karenanya.

“Minum kakang” berkata Arum sambil mengacungkan sebuah gendi berisi air dingin.

Juwiring menerima gendi itu, lalu diteguknya air yang terasa telah menyejukkan seluruh badanya, bukan saja sekedar melarutkan duri dari kerongkongannya.

Demikianlah ketika mereka sudah beristirahat sejenak setelah makan, mulailah mereka bekerja kembali, sedang Arumpun membawa sisa-sisa makanannya pulang ke padepokan.

Menjelang senja, kedua anak-anak muda padepokan Jati Aking itu sudah berada kembali di padepokannya. Mereka mengerti bahwa Sura dan Ki Dipanala akan kembali ke Surakarta. Karena itu, mereka pulang dengan tergesa-gesa untuk dapat bertemu lagi dengan kedua orang yang akan meninggalkan padepokannya itu.

“Hati-hati1ah“ pesan Kiai Dinatirta kepada keduanya.

“Ya Kiai. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di istana Ranakusuman jawab Ki Dipanala.

“Mudah-mudahan” Sura menyahut “Tetapi rasa-rasanya hati ini selalu bergetar. Aku mempunyai persoalan yang agak berbeda dengan Ki Dipanala”

“Memang persoalanmu lebih gawat Sura Kebencian dan dendam itu dapat tertumpah kepadamu. Seperti kita lihat, kegagalan Raden Rudira di Sukawati telah membawanya keman. Temya ia ia gagal sekarang. Karena itu, kau akan merupakan sasaran yang kemudian dari padanya”

“Aku menyadari. Tetapi aku tidak akan lari”

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Dipandanginya Raden Juwiring dan Buntal sejenak, lalu katanya “Kalianpun harus berhati-hati. Kalian sekarang mengenal Raden Rudira lebih banyak, la dapat berbuat apa saja tanpa menghiraukan apapun iuga. Karena itu, kalian harus mengawasi adik kalian itu. Mungkin Raden Rudira mengambil cara lain untuk membawa Arum. Jika Arum sudah berada di istana Ranakusuman, maka akan sangat sulit bagi kalian untuk mengambilnya kembali apabila ibunda Raden Rudira, Raden Ayu Sontrang, ikut mencampuri persoalan ini”

Juwiring dan Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti sepenuhnya maksud Ki Dipanala. Mungkin Rudira dapat mengupah sekelompok orang untuk mengambil Arum dengan paksa, atau menculiknya selagi Arum berada di bulak.  Karena itu sambil mengangguk-angguk, Juwiring menjawab “Baiklah paman. Kami akan mengawasinya”

Ki Dipanala mengangguki pula. Lalu katanya kepada Kiai Danatirta “Baiklah kami segera minta diri. Doakan agar kami tidak terjerumus ke dalam kesulitan yang lebih parah lagi”

“Amiin“ sahut Kiai Danatirta “dan mudah-mudahan pula Pangeran Ranakusuma masih mau mendengarkan kata-katamu”

“Terima kasih. Semuanya masih merupakan teka-teki bagiku. Dan aku akan memasuki halaman Ranakusuman setelah malam menjadi gelap dan suasana di Dalem Kapangeranan yang gelap pula”

Demikianlah. Sura dan Ki Dipanala meninggalkan padepokan Jati Aking menjelang senja. Derap kaki kuda mereka berdetak di sepanjang jalan padukuhan dan sejenak, kemudian merekapun segera berpacu diengah bulak Jari Sari yang panjang.

Betapapun mereka sudah bertekad untuk menghadapi setiap persoalan yang mungkin tumbuh, namun hati mereka menjadi berdebar-debar juga ketika mereka menjadi dekat dengan kota. Keduanya hampir tidak berbicara sama sekali di sepanjang perjalanan oleh gejolak perasaan masing-masing. Sehingga tanpa mereka sadari mereka telah menyusuri jalan kota yang gelap karena malam yang menyelubungi seluruh Surakarta.

Sekali-sekali mereka memandang lampu-lampu minyak yang bergayutan di sudut-sudut gardu dan di simpang-simpang empat. Nyala yang kemerah-merahan terayun-ayun disentuh angin yang lembab.

Sura menarik nafas dalam-dalam. Kesunyian kota membuat hatinya semakin sunyi. Jika terjadi sesuatu dengan dirinya, maka seluruh keluarganya pasti akan menderita. Tetapi ia tidak akan dapat kembali kepada suatu dunia tanpa perasaan dan nalar seperti yang pernah dilakukannya. Dunia yang seakan-akan tidak pernah berakhir, sehingga apa yang dilakukannya sama sekali tidak pernah memikirkan hari akhirat, tidak memikirkan hubungan antara dirinya dengan Tuhan Yang menciptakanNya. Semestinya yang dilakukannya adalah melakukan urusan dunia sesuai dengan garis-garis yang sudah ditentukan oleh agama dan dalam ridho Tuhan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan juga melakukan ibadah-ibadah dan amalan yang diperintahkan oleh agama.

Kini ia menyadari betapa pentingnya hubungannya dengan sesama manusia dan lingkungan di sekitarnya bersamaan dengan hubungannya dengan Tuhan Sang Pencipta Alam semesta.

Namun debar jantungnya terasa semakin cepat ketika dari kejauhan mereka melihat regol Dalem Ranakusuman ysng telah tertutup.

Dengan tajamnya keduanya memandang regol itu tanpa berkedip, seolah-olah ingin mengetahui, apakah yang tersenyum di balik pintu serta dinding yang tinggi, yang mengelilingi halaman itu.

Bahkan bagi Sura, bayangan-bayangan yang suram telah merambat di angan-angannya, seakan-akan di balik dinding dan pintu yang tertutup itu telah berbaris beberapa orang yang menunggunya dengan tombak yang merunduk, siap untuk menyobek perutnya apabila ia memasuki pintu regol.

“Apaboleh buat” berkata Sura di dalam hatinya.

Meskipun demikian, hatinya telah dicengkam pula oleh ketegangan.

Ketika kedua orang itu sudah sampai di muka regol. maka keduanyapun turun dari kuda masing-masing. Sejenak mereka berpandangan Ki Dipanalalah yang mula bertanya “Kita bawa kuda-kuda ini ke dalam atau kita akan mengembalikannya lebih dahulu ke kandangnya?“

“Aku ingin segera melihat, apa yang bakal terjadi. Biarlah kita bawa kuda ini masuk”

Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata kegelisahan di hati Sura justru memaksanya untuk segera melihat akibat yang bakal terjadi atasnya tanpa membawa kuda itu lebih dahulu ke rumah Dipanala yang terletak di belakang Dalem Ranakusuman dan dihubungkan dengan sebuah butulan kecil. Bahkan Dipanala menduga, bahwa Sura menganggap kuda itu setiap saat akan diperlukannya.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun sejenak kemudian tangan Sura yang gemetar telah mengetuk pintu regol itu.

Sesaat kemudian terdengar seseorang menyapa dari dalam “Siapa diluar?“

Sebelum Sura menyahut, Ki Dipanalalah yang telah mendahuluinya “Aku, Dipanala”

Ketika sebuah lubang persegi terbuka, Dipanala berdiri tepat di muka lubang itu, sehingga wajahnya seakan-akan telah memenuhi seluruh lubang persegi itu.

O, Ki Dipanala“ desis para penjaga itu. Namun terasa suara mereka menyimpan nada yang lain dari kebiasaan mereka.

“Agaknya orang-orang ini sudah mengetahui apa yang terjadi” berkata Ki Dipanala di dalam hatinya.

Sejenak kemudian pintu regol itu berderit, dan perlahan-lahan terbuka. Yang mula-mula berdiri di muka pintu yang terbuka itu memang Ki Dipanala yang memegangi kendali kudanya. Namun kemudian para penjaga itupun melihat, bahwa Dipanala tidak datang sendiri.

Para penjaga itu seakan-akan membeku sejenak ketika mereka melihat Sura berdiri di belakang Ki Dipanala.

Melihat wajah-wajah yang tegang itu Surapun bertanya “Kenapa kalian memandang aku seperti itu?“

“Kau kembali juga ke Ranakusuman ini?“ bertanya seseorang.

“Ya, kenapa?“

Para penjaga itu saling berpandangan sejenak. Tetapi Sura tidak menghiraukannya lagi. Seperti Ki Dipanala iapun langsung memasuki regol Ranakusuman sambil menuntun kudanya.

“Orang itu sudah Gila“ berbisik para penjaga.

“Apakah ia memiliki nyawa rangkap sehingga ia berani datang lagi ke halaman ini” desis salah seorang dari mereka.

“Ia tidak akan dapat lari, karena ia harus membawa keluarganya. Kecuali jika ia ingin menyelamatkan dirinya sendiri tanpa menghiraukan anak isterinya” sahut yang lain.

Dan seorang yang berkumis lebat berkata “Bagaimanapun juga Sura adalah seorang yang berani. Ia bukan seorang yang licik menghadapi persoalan-persoalan yang gawat. Ia berani bersikap jantan, akibat apapun yang akan dihadapi”

Beberapa orang yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Bagaimanapun juga ada kekaguman dari para penjaga terhadapnya. Dalam keadaan yang bagaimanapun juga, ia tidak melarikan diri seperti seorang pengecut.

Namun ternyata di halaman Ranakusuman tidak ada persiapan apapun untuk menunggu kedatangan Sura.

“Barangkali mereka memang menganggap bahwa aku tidak akan datang lagi ke halaman rumah ini” desis Sura di dalam hatinya.

Bersama Ki Dipanala merekapun langsung pergi ke halaman samping. Kuda merekapun segera diikat pada sebatang pohon di belakang gandok.

Tanpa mereka sadari, ternyata keduanya telah menjadi bahan pembicaraan orang-orang yang melihat kehadiran mereka. Ketika mereka sejenak berdiri termangu-mangu di bawah pohon tempat mereka menambatkan kuda-kuda mereka, ternyata beberapa pasang mata mengawasi mereka dengan sorot yang aneh.

Tiba-tiba seorang dari antara mereka menyeruak kedepan sambil mengumpat. Dengan tangan di pinggang orang yang bertubuh raksasa itu berkata “Sura, apakah kau sudah gila dan karena itu berani memasuki halaman ini lagi?“

Sura yang mendengar suara itu berpaling. Dilihatnya Mandra berdiri di antara beberapa orang pengawal yang lain yang agaknya masih berkumpul di serambi gandok.

Sura tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Mandra yang tegang dan sorot matanya yang berapi-api.

“Sura. Kau benar-benar tidak tahu malu. Kau sudah berkhianat dan bahkan memberontak. Kenapa kau datang lagi kemari? Apakah kau sedang mengantarkan nyawamu, atau kau akan bersimpuh sambil mohon ampun atas pengkhianatanmu dan pemberontakanmu? sia-sia Sura. Tidak ada orang yang dapat mengampuni kau. Juga kawanmu yang merasa dirinya mempunyai pengaruh atas isi halaman ini. Kalian akan menyesal, karena semuanya sudah pasti, bahwa kalian adalah musuh dari Raden Rudira, berarti musuh dari seluruh isi halaman ini”

Sura yang hatinya mulai terbakar ingin menjawab. Tetapi Dipanala menggamitnya sambil berdesis “Jangan kau tanggapi. Kita tidak memerlukan orang itu. Kita memerlukan Pangeran Ranakusuma”

“Tetapi bagaimana dengan orang itu?”

“Biarkan. Kita berdiri saja di sini sambil menunggu kesempatan. Jika Raden Rudira mengetahui kehadiran kita, ia pasti akan berbuat sesuatu. Aku mengharap, aku akan mendapat kesempatan, karena semua tindakan yang diambil di halaman ini biasanya mendapat perhatian dari Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit”

Sura tidak membantah. Ia percaya kepada Dipanala, karena selama ini Dipanala memang mendapat beberapa kesempatan yang lebih baik dari orang-orang lain, meskipun Dipanala adalah orang yang tidak disukai.

Tetapi Mandra masih saja bertolak pinggang sambil berkata “Sura, apakah kau sekarang tuli atau bisu? Atau barangkali kau memang mempunyai nyawa yang liat, yang tidak dapat lepas dari tubuhmu”

Dan sekali lagi Dipanala berdesis “Biarkan saja ia berteriak. Suaranya akan memanggil Raden Rudira dan ibundanya yang banyak ikut campur dalam setiap persoalan”

Sura menggeram. Tetapi ia masih tetap berdiam diri ”Sura. Sura“ Mandra berteriak semakin keras. Sikap Sura yang diam itu membuatnya semakin marah.

Jilid 5 Bab 1 : Raden Ayu Sontrang

MANDRA berpaling. Ketika ia melihat Raden Rudira. maka ia pun segera berkata “Tuan. Cucunguk itu datang kemari”

“Siapa?”

“Sura dan Dipanala”

“Sura dan Dipanala?“ Raden Rudira terkejut.

“Itulah mereka”

Raden Rudira memandang ke dalam keremangan cahaya lampu yang sayup-sayup saja sampai. Tetapi iapun segera mengenal mereka berdua. Mereka benar-benar Sura dan Dipanala.

Terdengar Raden Rudira menggeretakkan giginya. Lalu tiba-tiba keluar perintahnya sebelum ia sempat berpikir “Kepung mereka. Jangan sampai keduanya dapat lari dari halaman ini. Ikat mereka pada pohon sawo di halaman depan. Kita akan menunjukkan kepada semua abdi dan pengawal, bahwa yang terjadi adalah akibat dari pengkhianatan mereka”

Sejenak para pengawal menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika Mandra mendahului melangkah mendekati Sura. maka yang lainpun segera mengikutinya.

“Jangan melawan Sura” bisik Dipanala.

“Apakah aku akan membiarkan diriku mati dengan sia-sia”

“Apakah kau masih percaya kepadaku?“

Sura merenung sejenak. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil berdesis “Ya. Aku masih percaya kepada Ki Dipanala”

“Jika kau masih percaya kepadaku, jangan melawan. Aku masih mengharap bahwa kita tidak akan mati sambil terikat”

“Aku tidak mau mati dengan tangan terikat. Aku ingin mati dengan pedang di tangan”

“Percayalah kepadaku”

Sura menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu orang-orang yang mengepungnya menjadi semakin rapat. Namun Sura tidak berbuat apa-apa seperti juga Dipanala.

“Tangkap mereka. Jika mereka melawan, patahkan tangannya” teriak Raden Rudira.

Ki Dipanala memandanginya sejenak, lalu jawabnya “Kami tidak akan melawan”

“Bagus. Jika demikian ikat tangan mereka pada pohon sawo di halaman depan”

Terdengar gigi Sura yang gemeretak. Tetapi ia tidak melawan seperti yang dinasehatkan Ki Dipanala, meskipun sebenarnya hatinya tidak mau menerima perlakuan itu.

Dengan kasarnya Mandra mendorongnya dan kemudian beberapa orang mengikat tangannya dan menyeretnya kesebatang pohon sawo di halaman depan.

“Tutup pintu regol. Jangan seorangpun yang diperbolehkan masuk” berkata Raden Rudira dengan lantang.

Para penjaga di regol halaman, segera menutup pintu yang sudah tertutup itu menjadi semakin rapat dan memalangnya kuat-kuat.

“Aku curiga, bahwa sebenarnya Sura tidak datang hanya berdua saja. Awasi semua sudut”

Mandra mengerutkan keningnya, lalu berkata kepada kawan-kawannya “Benar juga. Mungkin mereka tidak hanya berdua saja. Awasi semua sudut”

Beberapa orangpun segera memencar. Di dalam keremangan mereka mengawasi dinding-dinding halaman Dalem Ranakusuman. Mereka memperhatikan setiap desir dan setiap gerak. Tetapi tidak ada seorangpun yang mereka jumpai. Meskipun demikian mereka tetap Di tempatnya masing-masing.

“Kau akan tetap terikat sampai besok Ki Dipanala” berkata Rudira “dan kau Sura, barangkali nasibmu akan lebih jelek lagi”

Sura memandang Ki Dipanala sejenak, namun tampaknya wajah orang itu masih tetap tenang-tenang saja.

Tetapi ketenangan Dipanala agaknya membuat hati Rudira semakin panas, sehingga iapun kemudian berteriak “Nasibmupun tidak perlu kau sesali. Besok, jika matahari naik sampai keujung pepohonan, semua abdi dari istana ini akan berkumpul di halaman dan menyaksikan bagaimana aku memukul kalian dengan rotan sampai tubuh kalian tidak berbentuk. Setelah itu aku akan melemparkan kalian keluar regol halaman rumah ini untuk selamanya”

Dipanala tidak menyahut sama sekali. Tetapi wajahnya masih tetap tenang dan seakan-akan yakin, bahwa tidak akan pernah terjadi sesuatu atas dirinya.

Ternyata keributan dan teriakan-teriakan Raden Rudira telah membangunkan seisi istana itu. Bahkan Pangeran Ranakusuma yang telah nyenyakpun terbangun pula.

Sambil bangkit dari pembaringannya ia berdesah “Apalagi yang dilakukan anak itu”

Dengan wajah yang kusut Pangeran Ranakusuma keluar dari biliknya dan memukul sebuah bende kecil disisi pintu biliknya.

Seorang pelayan dalam berlari-lari kecil mendekatinya. Beberapa langkah di hadapan Pangeran Ranakusuma pelayan itupun segera berjongkok sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Ada apa di luar?“ Pangeran Ranakusuma bertanya.

“Raden Rudira sedang marah tuan”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ia berpaling ketika didengarnya suara isterinya, Raden Ayu Galihwarit “Siapakah yang kali ini dimarahinya?“

“Menurut pendengaran hamba, agaknya Raden Rudira marah-marah kepada Sura dan Ki Dipanala”

“He?“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Tetapi yang bertanya lebih dahulu adalah Raden Ayu Sontrang “Maksudmu Ki Dipanala abdi Ranakusuman ini?“

“Hamba dengar demikian“

Sejenak Raden Ayu Galihwarit menjadi tegang. Tetapi iapun berusaha untuk menghilangkan kesan itu dari wajahnya.

“Dimanakah mereka sekarang?“

“Di halaman depan tuan”

Pangeran Ranakusuma termenung sejenak. Lalu ia bertanya kepada isterinya “Apakah ia mengatakan sesuatu tentang kedua orang itu?“

“Ya kamas. Ia merasa dikhianati oleh keduanya. Ia tidak berhasil mengambil gadis Jati Aking itu”

“Gadis Jati Aking? Siapa?“

“Anak Danatirta”

“He“ Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya “Jadi Rudira ingin mengambil anak gadis Danatirta?“

“Ya kamas. Aku memang memerlukan seorang pelayan untuk menjediakan kinangan dan botekan, khusus buatku”

“Tetapi kenapa anak Danatirta? Aku sudah menitipkan Juwiring di padepokan itu, dan sekarang Rudira ingin mengambil anaknya”

“Apakah salahnya?“

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Tidak. Aku tidak boleh membiarkannya. Keluarga kita tidak boleh menyakiti hatinya. Aku yakin, bahwa Danatirta tentu keberatan memberikan anaknya itu, dan Rudira tidak boleh memaksanya”

“Tetapi itu dapat berarti menurunkan martabat kita kamas”

“Kenapa?“

“Akan menjadi kebiasaan seorang rakyat kecil menolak perintah seorang bangsawan, apalagi seorang Pangeran seperti kamas Ranakusuma”

“Tetapi perintah itu sama sekali tidak wajar”

“Kenapa tidak? Bukankah sudah menjadi kebiasaan seorang bangsawan untuk mengambil seorang perempuan yang disukainya?“

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat membantah karena ia pernah melakukannya, dan isterinya itupun mengetahuinya pula. Namun demikian, ia masih berkata “Tetapi Danatirta adalah seorang yang mengasuh anakku pula”

“Ah, kamas masih selalu memikirkannya. Kamas masih selalu memperhitungkan anak itu, sedangkan yang sekarang menghadapi persoalan adalah Rudira, Putera kamas pula”

Pangeran Ranakusuma menjadi termangu-mangu. Setiap kali ia dihadapkan pada persoalan yang rumit. Dan kali ini, ia berdiri disimpang jalan yang sangat membingungkan.

Selagi ia termangu-mangu, maka Raden Rudirapun berjalan bergegas masuk ke ruang tengah dan langsung ke pintu bilik ayahandanya yang terbuka, sedang ayah dan ibunya masih berdiri di muka pintu dihadap seorang pelayan.

“Ayahanda masih belum tidur?“

“Aku terkejut mendengar kau berteriak-teriak di halaman, aku baru bertanya apa yang sudah terjadi”

“Aku telah menangkap Sura dan Ki Dipanala, keduanya aku ikat pada pohon sawo kecik di halaman untuk menjadi pengewan-ewan”

“Rudira“ hampir berbareng ayah dan ibunya memotong. Namun hanya ayahanyalah yang melanjutkannya “Kau akan menghukum mereka?“

“Ya ayahanda. Aku akan menghukum kedunya”

Wajah Ranakusuma menjadi tegang sejenak. Tanpa disadarinya ia berpaling memandang wajah Raden Ayu Galihwarit. Ternyata wajah itupun menegang pula.

“Rudira” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Sura dan Dipanala adalah abdi-abdi Ranakusuman yang telah bertahun. Karena itu, setiap hukuman bagi mereka harus dipertimbangkan sebaik-baiknya”

“Aku sudah mempertimbangkan ayahanda. Mereka adalah pengkhianat-pengkhianat yang harus dihukum. Mereka telah menghina aku sebagai seorang putera Pangeran. Keduanya telah mencegah keinginanku mengambil seorang gadis dari padepokan Jati Aking. Mereka sama sekali tidak berhak berbuat demikian ayah”

Pangeran Ranakusuma merenung sejenak. Dan sebelum ia menyahut. Raden Ayu Sontrang sudah mendahuluinya “Jangan berbuat sewenang-wenang terhadap keduanya Rudira. Terutama Ki Dipanala”

“Kenapa dengan Ki Dipanala?“ bertanya Rudira “Ia tidak ada bedanya dengan abdi yang lain, sehingga karena itu, maka iapun wajib mendapat perlakuan yang sama seperti Sura”

Sejenak ayah dan ibu Rudira itu termenung. Namun kegelisahan yang sangat telah membayang di wajah mereka. Karena itu, tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma berkata “Aku ingin melihat mereka”

“Tidak usah sekarang ayahanda. Biarlah mereka merasakan betapa dinginnya sisa malam ini”

“Mereka tidak akan kedinginan karena hatinya yang panas”

“Jika demikian, biarlah mereka merasakan panasnya sengatan rotan di punggung mereka besok siang”

“Jangan kehilangan keseimbangan Rudira. Aku memerlukan Dipanala”

“Ya“ sambung Raden Ayu Galihwarit “ Setidak-tidaknya Dipanala harus mendapat pertimbangan lebih banyak”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Timbullah pertanyaan di dalam hatinya, apakah Raden Ayu Sontrang juga mempunyai kepentingan dengan Dipanala seperti dirinya?

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak bertanya kepada isterinya. Kepada pelayan dalam ia berkata “Antarkan aku ke halaman depan”

“Ayahanda“ Raden Rudira berusaha mencegah “biarkan mereka terikat sampai besok menjelang tengah hari. Biarlah mereka sekarang kedinginan, dan besok kepanasan”

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak menjawab. Ia melangkah diikuti oleh Raden Ayu Galihwarit dan Raden Rudira. Di belakang mereka adalah pelayan dalam yang mendapat perintah untuk mengikutinya pula.

“Aku masih memerlukan Dipanala”

“Ya” sahut Raden Ayu Sontrang “Kau harus melepaskan Dipanala, Rudira”

“Apakah yang lain pada Dipanala? Kenapa ayahanda agak terikat kepadanya?“

Ayahnya tidak menyahut. Tetapi jantung Raden Ayu Galihwaritpun menjadi berdebar-debar. Jika Rudira bertanya demikian kepadanya maka ia akan mengalami kesulitan untuk mencari jawabnya. Untunglah bahwa Rudira tidak bertanya kepadanya.

Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak menjawab pertanyaan Raden Rudira. Pelayan dalam itu bergegas membuka pintu samping ketika Pangeran Ranakusuma berkenan melalui pintu yang sudah ditutup rapat itu.
Seusap angin malam yang berhembus dari Selatan telah membuat Pangeran Ranakusuma berdesis. Tetapi ketegangan di dalam hatinya membuatnya seolah-olah sama sekali tidak kedinginan. Bahkan beberapa titik keringat telah mengembun di dahinya.

Kedatangan Pangeran Ranakusuma, Raden Ayu Galihwarit dan Raden Rudira membuat Sura menjadi berdebar-debar. Namun ia tidak mengerti, kenapa justru Ki Dipanala tersenyum karenanya. Senyum yang sama sekali tidak dapat dibaca maknanya.

Beberapa orang prajurit yang ada di halaman itupun segera berjongkok. Berbagai pertanyaan telah timbul di dalam hati mereka. Apakah Pangeran Ranakusuma tidak sabar menunggu sampai besok?.

Sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma sudah berdiri di hadapan Ki Dipanala. Dengan tajamnya ia memandang orang yang terikat itu. Namun sejenak kemudian, ia berpaling kepada Sura.

Dan pertanyaan yang pertama-tama diberikan adalah justru kepada Sura “Sura, apakah benar kau sudah berkhianat?“

“Bukan maksud hamba berkhianat Pangeran” jawab Sura terbata-bata.

“Jadi apakah maksudmu?“

“Hamba sekedar mulai berpikir dan menilai perbuatan-perbuatan hamba sendiri”

“Apakah selama ini kau tidak pernah memikirkan perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakanmu?“

Sura menggelengkan kepalanya “Tidak tuan. Selama ini hamba tidak memikirkan perbuatan hamba”

“Untuk apa sebenarnya kau mengabdikan dirimu, sehingga kau kehilangan kepribadianmu?“

Sura menundukkan kepalanya. Pertanyaan itu telah membelit hatinya kuat-kuat.

“Ya. untuk apa?” Ia bertanya kepada diri sendiri.

Dan tiba-tiba saja ia menemukan jawab “Hamba ingin membuat keluarga, anak dan isteri hamba hidup agak baik tuan. Hamba telah menjual kepribadian hamba untuk itu”

“Bukankah keputusan yang kau ambil itu juga hasil pemikiran? Apakah dengan demikian, bukan sebaliknya yang terjadi, bahwa justru sekaranglah kau telah kehilangan kesempatan untuk berpikir? Untuk memikirkan keluargamu? Apakah dengan demikian, justru baru sekarang kau telah kehilangan arti dari dirimu sendiri? Kau memiliki kemampuan yang disertakan alam sejak kelahiranmu, dan kau dapat mempergunakannya sebaik-baiknya atas pertimbangan nalar untuk kesejahteraan keluargamu”

Sura menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Ampun tuan. Jika hamba memandang dari segi itu, agaknya memang demikian. Hamba sudah kehilangan arti dari kemampuan yang hamba miliki bagi keluarga hamba. Tetapi pengenalan arti yang hamba maksudkan adalah pengenalan atas baik dan buruk, atas kebenaran yang kesesatan”

“O“ Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya “Kau mulai berguru olah kajiwan. Apakah kau ikut serta dengan Juwiring belajar pada Kiai Danatirta? Atau tiba-tiba saja kau mendapat ilham yang mengajarmu tentang baik dan buruk dan tentang kebenaran dan kesesatan?“

“Ampun Pangeran. Hamba tidak mempelajarinya dari Kiai Danatirta. Tetapi hamba mempelajari dari jalan hidup hamba sendiri. Meskipun pengenalan atas baik dan buruk itu ada sejak aku sadar akan diriku di masa kanak-kanak, tetapi pengakuan dan penghayatannya itulah yang seakan-akan telah membuat aku manusia yang lahir kembali sekarang ini”

“He, darimana kau belajar menyusun pembelaan ini? Kau memang mengagumkan Sura. Aku kira kau tidak pernah belajar apapun juga, dan tidak mempelajari ilmu kajiwan dan pandangan hidup. Tetapi kau dapat menyebut kalimat-kalimat yang bernafas kajiwan. Bahkan aku telah mengagumi kata-katamu”

Sura menunduk dalam-dalam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Menurut pengertiannya, tiba-tiba saja ia menyadarinya. Dan ia tidak dapat menyebutkan sumber yang manakah yang telah mengaliri hatinya, sehingga ia mampu mengucapkan kata-kata itu.

“Sura” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Sayang, bahwa justru pengalamanmu atas dirimu sendiri itulah yang membuatmu telah berkhianat. Berkhianat kepada bendara dan berkhianat kepada kesadaranmu berkeluarga. Jika kau dihukum karenanya, maka keluargamu pasti akan terlantar”

Dada Sura menjadi berdebar-debar. Sekilas ia memandang wajah Ki Dipanala yang masih terikat. Tetapi wajah itu masih tetap tenang dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa atasnya.

“Apakah justru Ki Dipanala ini sekedar berpura-pura untuk menjebakku. Kemudian ia akan terlepas dari semua tanggung jawab yang mereka tuduhkan pengkhianatan ini?“

“Sura” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Kau adalah abdi yang sudah lama. Lama sekali. Tetapi sekarang kau dihadapkan pada suatu kenyataan, bahwa kau terpaksa mendapat hukuman. Sudah barang tentu bahwa itu adalah sekedar akibat dari kekeliruanmu”

Sura sama sekali tidak menjawab.

“Tetapi kau memang seorang laki-laki. Kau menghadapi semuanya dengan sikapmu yang jantan. Itulah yang masih ada padamu satu-satunya. Kejantanan”

Sura masih tetap berdiam diri. Ia mengangkat wajahnya sebentar ketika Pangeran Ranakusuma kemudian berpaling kepada Ki Dipanala “Dipanala. Persoalanmu agak berbeda dengan Sura. Jika kau bersedia minta maaf kepadaku dan kepada Rudira. kau akan dibebaskan dari segala tuntutan”

Pertanyaan itu telah mendebarkan dada Sura. Jika Dipanala sekedar minta maaf, dan kemudian dilepaskan tanpa menghiraukan dirinya, maka sadarlah ia bahwa sebenarnya Dipanala telah menjebaknya sehingga ia tidak melawan sama sekali ketika kedua tangannya diikat.

Tetapi jawaban Dipanala benar-benar mengejutkannya “Tuan. Hamba tidak bersalah. Karena itu hamba tidak akan mohon maaf kepada siapapun juga”

“Dipanala” tiba-tiba saja wajah Ranakusuma menjadi tegang.

“Hamba hanya sekedar mencoba meluruskan jalan yang dilalui oleh Raden Rudira terhadap Arum, anak gadis Kiai Danatirta. Apakah hal itu sudah cukup kuat dipergunakan sebagai alasan untuk menyebut pengkhianat dan mengikat hamba di sini?“

“Kenapa kau ikut mencampuri persoalan ini?“

“Barangkali hamba memang suka mencampuri persoalan orang lain. Bukan baru kali ini hamba mencampuri persoalan penghuni Dalem Ranakusuman ini”

“Cukup” tiba-tiba Raden Ayu Galihwarit berteriak memotong. Semua orang berpaling kepadanya. Bahkan Pangeran Ranakusuma memandangnya dengan heran. Apalagi Raden Rudira.

Namun Raden Ayu Galihwarit segera menyadari keadaannya sehingga ia berkata seterusnya “Kau tidak usah mengigau. Seandainya kau memang pernah mencampuri urusan orang lain pula, aku tidak peduli. Tetapi aku minta kau jangan mencampuri persoalan anakku”

Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang peristiwa-peristiwa yang suram yang terjadi di dalam halaman istana Ranakusuman ini. Namun kemudian ia berkata “Terserahlah kepada penilaian tuan. Tetapi hamba dan kawan hamba ini tidak bersalah. Jika hamba akan dihukum, maka sudah tentu hamba tidak akan mau mengalami derita seorang diri atau hanya berdua dengan Kawan hamba ini”

Raden Ayu Galihwarit menggigit bibirnya. Namun wajah Pangeran Ranakusumapun menjadi tegang.

“Jangan hiraukan orang itu ayahanda” berkata Raden Rudira kemudian “Aku akan memanggil para pengiring besok setelah matahari terbit. Aku dapat menghukum keduanya dengan cara yang paling menarik, selain hukum picis”

“Apa yang dapat kau lakukan Rudira?”

“Macam-macam sekali ayah. Aku dapat membakar dua potong besi sehingga membara. Jika ujung-ujung besi itu tersentuh mata keduanya, maka akibatnya akan dapat dibayangkan”

Terasa bulu-bulu tengkuk Raden Ayu Galihwarit meremang. Namun sebelum ia berkata sesuatu, Pangeran Ranakusuma telah mendahului “Rudira. Kita hidup pada jaman peradaban. Kita bukan lagi orang-orang liar yang dapat dengan sekehendak hati kita memperlakukan sesama manusia”

Rudira menjadi heran mendengar kata-kata ayahnya. Ayahnya tentu tahu, bahwa ia tidak akan memperlakukan kedua orang itu seperti yang dikatakan. Tetapi ia benar-benar akan mendera keduanya dengan cambuk atau rotan.

Belum lagi keragu-raguan itu mereda, tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma berkata “Lepaskan Dipanala”

Kata-kata itu benar-benar telah mendebarkan jantung Raden Rudira. Namun selain Rudira, Surapun menjadi berdebar-debar pula. Perintah Pangeran Ranakusuma hanya berlaku bagi Dipanala. Tetapi tidak berlaku baginya.

Namun ternyata Dipanala bertanya “Apakah aku akan dilepaskan sendiri?“

“Ya, kau akan dilepaskan atas perintahku. Kau sudah lama sekali tinggal di rumah ini. Karena itu, aku masih juga mempunyai perasaan iba”

“Tuan” berkata Dipanala “Masa pengabdianku dan Sura tidak terpaut banyak. Karena itu, hamba mohon agar Sura juga mendapatkan kesempatan seperti hamba”

“Gila” bentak Pangeran Ranakusuma “Aku hanya memaafkan engkau. Itu tergantung atas kehendakku”

“Jika tuan tidak berbuat adil, maka biarlah hambapun mengalami perlakuan seperti yang akan dialami Sura. Hambapun tidak berkeberatan mengalami dera dengan cambuk atau rotan seratus kali pada badan hamba”

“Dipanala. kau jangan berbuat bodoh dan gila. Aku tidak mau berbuat lain kecuali mengampuni kau meskipun Rudira tidak setuju. Sedang Sura, bagiku bukan seseorang yang aku perlukan lagi”

“Tuan, soalnya bukan diperlukan atau tidak diperlukan. Soalnya aku dan Sura dapat dianggap berbuat kesalahan yang sama“

“Tidak. Jauh berbeda” sahut Raden Rudira “meskipun aku ingin menghukum kalian berdua, namun sebenarnya kesalahan Sura jauh lebih besar dari kesalahanmu. Sura dengan tegas menentang kehendakku. Ia berani melawan Mandra yang bertindak atas namaku“

Dipanala mengerutkan keningnya. Namun katanya “Tergantung kepada Pangeran. Tetapi hamba mohon Sura juga dilepaskan”

“Tidak. Jika ayahanda ingin memaafkan kau Ki Dipanala, aku masih dapat mengerti, karena selama ini kau nampaknya mempunyai pengaruh atas ayahanda. Tetapi tidak dengan Sura. Ia benar-benar sudah berkhianat. Bukan saja dengan angan-angan. tetapi sudah dilakukan dengan perbuatan”

“Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma “Kau hanya mempunyai dua pilihan. Menjalani hukuman bersama Sura, atau kau mohon maaf dan aku lepaskan”

“Hamba memang mempunyai dua pilihan. Dilepaskan bersama-sama atau harus menjalani hukuman bersamanya. Perbedaan hukuman dan pengampunan sama sekali tidak adil. Dan hambapun sama sekali tidak berbuat kesalahan menurut hemat hamba”

Raden Rudira menggeretakkan giginya. Katanya “Aku akan menghukum kedua-duanya “

Sejenak Pangeran Ranakusuma termenung. Ketika ia berpaling memandang isterinya, tampaklah betapa ketegangan yang memuncak membayang di wajahnya.

“Apakah pertimbanganmu?“ tiba-tiba Pangeran Ranakusuma bertanya.

Raden Ayu Galihwarit mendapatkan kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu, sehingga karena itu Pangeran Ranakusuma mendesaknya “Apa yang baik kita lakukan sekarang?“

Tubuh ibunda Raden Rudira itu menjadi gemetar. Disela-sela deru nafasnya ia berkata “Yang manapun yang baik menurut kakanda”

Dipanala menjadi berdebar-debar juga. Memang ia mempunyai keuntungan dengan sikapnya. Tetapi kemungkinan yang lain justru pahit sekali. Baik Pangeran Ranakusuma, maupun Raden Ayu Galihwarit dapat memerintahkan untuk segera membunuhnya, agar mulutnya tidak lagi dapat mengucapkan kata-kata.

“Jika demikian yang terjadi, apaboleh buat. Tetapi aku pasti masih mempunyai kesempatan untuk berteriak meskipun hanya beberapa kata. Dan yang beberapa kala itu akan membawa Pangeran Ranakusuma suami isteri untuk bersama-sama mengalami kenyerian yang tiada taranya meskipun berbeda bentuknya.

Namun Pangeran Ranakusuma tidak segera berbuat sesuatu, la masih berdiri saja mematung memandang Dipanala yang terikat itu. Sekali-sekali dipandanginya pula wajah Sura yang tegang.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Keduanya adalah abdi yang termasuk paling lama bekerja di Ranakusuman. Tetapi Sura bagi Pangeran Ranakusuma tidak lebih dari benda-benda mati. Jika ia tidak terpakai lagi, maka apa salahnya jika ia dibuang.

Tetapi agaknya tidak demikian dengan Dipanala. Namun karena itu, Dipanala menjadi lebih tidak disukai lagi. Bahkan memang terlintas di angan-angan Pangeran Ranakusuma “Kenapa orang ini tidak segera mati saja?“

Selagi Pangeran Ranakusuma termangu-mangu, maka Raden Rudira berkata “Serahkan kepadaku ayahanda. Mungkin ayahanda tidak akan sampai hati karena orang-orang ini sudah terlalu lama berada dan mengabdikan diri kepada ayahanda. Tetapi penghinaan yang diberikan kepadaku sepantasnya untuk diperhitungkan sebaik-baiknya. Dan aku tidak berkeberatan sama sekali untuk melakukannya.

Wajah Pangeran Ranakusuma menjadi semakin tegang. Keringat dingin mulai mengalir di punggung dan tengkuknya.

Raden Rudira menjadi heran melihat sikap ayahandanya. Bahkan sikap ibundanya Galihwarit. Seakan-akan ada sesuatu yang menghantui mereka berdua, sehingga mereka berdua tidak segera berani mengambil suatu sikap terhadap Dipanala.

Setelah mengalami perjuangan yang berat di dalam jantungnya, tiba-tiba dengan suara gemetar Pangeran Ranakusuma berkata kepada anaknya “Lepaskan mereka”

“Ayahanda“ Raden Rudira hampir berteriak “Mereka telah menghina aku. Sura terlebih-lebih lagi. Ia menghina aku di Sukawati dan kemudian di padepokan Jati Aking. Apakah ia harus dilepaskan?“

Terasa tubuh Pangeran itu menjadi semakin gemetar. Dipandanginya wajah Dipanala yang tenang. Lalu iapun menggeram “Kau memang licik seperti setan, Dipanala. Tetapi jangan kau berharap bahwa lain kali kau dapat mempergunakan akal licikmu ini”

“Tuan” berkata Dipanala “hamba sama sekali tidak ingin berbuat licik. Hamba hanya memohon agar tuan sudi mempertimbangkan untuk melepaskan kami, karena kami tidak bersalah. Sehingga karena itu maka kami berkeberatan untuk memohon maaf kepada Raden Rudira”

“Diam, diam kau” teriak Pangeran Ranakusuma yang menjadi semakin marah. Tiba-tiba saja tangannya telah menampar mulut Dipanala, sehingga wajah Dipanala terdorong dan membentur batang sawo. Namun kemudian dengan suara yang bergetar Pangeran Ranakusuma berkata “Lepaskan mereka. Lepaskan setan-setan licik ini”

“Ayahanda“

“Lepaskan, lepaskan. Apakah kalian mendengar?“

Raden Rudira menjadi tegang. Apalagi ketika ia melihat beberapa orang berdiri termangu-mangu di kejauhan. Di antara mereka adalah Mandra.

Karena Rudira masih termangu-mangu, maka ayahandanya Pangeran Ranakusuma berteriak sekali lagi “Lepaskan. Lepaskan, apakah kalian tuli he?“

Selagi Raden Rudira berdiri termangu-mangu, maka ibunya, Raden, Ayu Galihwarit mendekatinya sambil berbisik “Jangan membantah perintah ayahanda, Rudira. Lepaskan. Kau tidak memerlukan keduanya”

Terasa kerongkongan Raden Rudira seperti tersumbat. Bahkan matanya terasa menjadi panas.

“Tetapi, tetapi . . ” ia masih akan berkata lebih banyak lagi. Namun dengan jari-jarinya ibunya menyentuh bibir puteranya sambil berkata pula “Rudira, bukankah kau satu-satunya Putera ayahanda yang paling patuh? Nah, lepaskan mereka seperti yang diperintahkan oleh ayahanda”

Betapa kecewa menghentak-hentak dada Raden Rudira. Hampir saja ia berteriak dan menangis terlolong-lolong. Kekecewaan yang datang beruntun membuat hatinya serasa pecah. Dan kali ini ayahandanya dan ibundanya sendirilah yang membuatnya kecewa. Kecewa sekali, seperti saat ia gagal mengambil Arum.

“Ibu membiarkan aku pergi ke Jati Aking” suara Rudira terputus-putus ”Tetapi ibu membiarkan pula aku terhina”

“Bukan maksudku Rudira. tetapi sebaiknya kau melakukan perintah ayanda”

Raden Rudira tidak dapat membantah lagi. Dengan mata yang menjadi merah, ia berteriak kepada pelayan dalam yang berdiri mematung “Lepaskan, lepaskan”

Pelayan dalam itu termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia maju beberapa langkah dan melepaskan tali pengikat kedua orang itu pada batang-batang sawo di halaman itu.

Ketika tali-tali itu terlepas, maka Dipanala dan Sura hampir berbareng menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada yang dalam Dipanala berkata “Tuan, hamba mengucapkan beribu terima kasih”

“Diam, diam“ Pangeran Ranakusuma berteriak. Dipandanginya Dipanala dan Sura sejenak. Namun iapun kemudian segera melangkah meninggalkan halaman depan itu kembali memasuki ruangan dalam istananya diikuti oleh isterinya.

Raden Rudira masih berdiri sejenak di halaman. Sorot matanya yang membara itu bagaikan menyala. Dengan suara gemetar ia berkata “Dipanala, apakah kau dapat menyihir dan memaksa ayahanda mengambil keputusan itu lewat tatapan matamu?”

“Tidak tuan. Aku sama sekali tidak mengenal ilmu itu”

“Tetapi kau sanggup memaksa ayah melepaskan kau berdua. Tetapi jangan tertawa atas kemenanganmu kali ini. Kau tahu siapa Raden Rudira. Pada suatu saat, aku akan menebus semua kegagalanku sekaligus. Petani Sukawati, Arum dan kau berdua”

Dipanala tidak menyahut. Bahkan ditundukkannya wajahnya.

Dan Rudira masih berkata “Dengan kemenanganmu sekarang ini ternyata telah mendekatkan kau kejalan kematianmu. Kau harus tahu, bahwa aku sama sekali tidak dapat menerima keadaan serupa ini”

Dipanala masih tetap berdiam diri. lapun mengerti, betapa kecewa hati anak muda itu. Karena itu, ia tidak ingin membakarnya sehingga dapat menghanguskannya sama sekali.

Dalam pada itu di dalam istana, Pangeran Ranakusuma duduk dengan wajah yang suram. Isterinya, Raden Ayu Galihwarit berdiri bersandar bibir pintu biliknya.

“Kenapa kau kali ini bersikap lain?“ bertanya Pangeran Ranakusuma.

“Maksud Pangeran?“

“Kau biasanya terlalu memanjakan anakmu. Tetapi kenapa kali ini kau membenarkan sikapku?“

“Pertanyaan Pangeran sangat aneh” sahut isterinya “bukankah aku berusaha untuk ikut memberikan bimbingan kepada Rudira, dan mendidiknya untuk mematuhi perintah ayahandanya”

Pangeran Ranakusuma tidak bertanya lagi. Terasa sesuatu yang lain pada sikap isterinya saat itu. Kenapa ia tidak justru memaksanya untuk menyerahkan Dipanala dan Sura kepada Rudira?

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak bertanya lagi. Apalagi ketika anak gadisnya terbangun pula dan datang mendekati ibunya “Apa yang terjadi ibunda?“

”Tidak apa-apa sayang. Tidurlah”

“Saat apakah sekarang ini? Apakah masih belum pagi?“

“Belum. Hari masih malam”

“Tetapi kenapa ayahanda dan ibunda tidak tidur pula?“

“Kami terbangun karena keributan di halaman. Kakandamu Rudira sedang sibuk dengan hamba-hamba istana yang licik dan berkhianat”

“O, apakah kamas Rudira sedang menghukum mereka”

“Ya”

“Aku akan melihatnya”

“Jangan, jangan“ tiba-tiba Raden Ayu Galihwarit menangkap lengan anaknya. Kemudian dibimbingnya anak itu masuk ke dalam biliknya sambil berkata kepada Pangeran Ranakusuma “Perkenankan aku menidurkan anak ini kamas”

Pangeran Ranakusuma menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab sepatah kalapun.

Sepeninggal Raden Ayu Galihwarit, Pangeran Ranakusuma masih saja duduk di tempatnya. Terbayang sekilas beberapa peristiwa yang tidak akan dapat dilupakan. Dan peristiwa itulah yang memaksanya untuk tidak dapat membiarkan Dipanala menerima hukumannya, apabila ia tidak ingin terseret ke dalam kesulitan.

“Setan itu sebaliknya lekas mati. Aku akan segera berusaha memeras aku. tetapi pada suatu saat ia dapat berbahaya bagiku”

Tetapi melenyapkan Dipanala bukan suatu pekerjaan yang mudah. Pangeran Ranakusuma tahu benar, bahwa Dipanala adalah seorang bekas prajurit yang mumpuni. Tetapi kini ia hampir tidak pernah bersikap dengan berlandaskan kepada kemampuannya dalam olah kanuragan. Namun demikian, di dalam keadaan yang memaksa, maka Dipanala adalah seekor harimau yang garang.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Harimau itu kini tampaknya menjadi jinak. Bahkan ia sama sekali tidak berbuat apa-apa ketika Rudira dan pengiringnya mengikatnya pada pohon sawo. Apabila Dipanala dan Sura itu melakukan perlawanan, maka akibatnya seisi istana Kapangeranan ini akan terlibat. Untuk berhasil menundukkan kedua orang yang bekerja bersama itu, diperlukan waktu dan tenaga.

Dalam kebingungan itu Pangeran Ranakusuma melihat Raden Rudira memasuki biliknya tanpa berkata sepatah katapun. Dibantingnya tubuhnya di pembaringannya dengan kesalnya.

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya. Ia masih tetap duduk sambil merenung.

Di bilik yang lain. Raden Ayu Galihwarit berbaring disisi anak gadisnya. Sekali-sekali puterinya itu bertanya, namun. Raden Ayu Galihwarit selalu menghindar dan menjawab “Tidurlah. Tidurlah”

“Sebentar lagi hari akan menjadi terang. Aku tidak dapat Tidur lagi ibu”
“Kalau begitu, ibulah yang akan tidur. Ibu terlalu lelah“

Puterinya tidak menyahut. Dibiarkannya Ibundanya berbaring diam disisinya. Tetapi ketika ia memandang wajah ibundanya dengan sudut matanya, ternyata mata Raden Ayu Galihwarit itu tidak terpejam.

Dalam pada itu. Raden Ayu Galihwarit yang memandangi atap biliknya itu benar-benar sedang digelisahkan oleh peristiwa-peristiwa yang beruntun terjadi. Namun yang paling menggelisahkannya adalah karena Dipanala sudah tersangkut pula di dalamnya.

“Setan itu memang licik “Ia berkata di dalam hatinya “kenapa la tidak mati saja”

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam, sehingga desah nafasnya telah membuat puterinya berpaling. Tetapi gadis itu sama sekali tidak bertanya.

Persoalan yang diketahuinya itu agaknya telah dipergunakannya sebagai alat untuk menyelamatkan diri Bahkan mungkin di saat-saat mendatang ia berbuat lebih berani lagi“ Raden Ayu Ranakusuma itu meneruskan di dalam hati “meskipun sampai saat ini ia belum pernah melakukan pemerasan, tetapi apakah hal itu pada suatu suat tidak terjadi?

Raden Ayu Galihwarit itupun menjadi heran, bahwa sikap Pangeran Ranakusuma tiba-tiba saja menjadi begitu lunak terhadapnya. Bahkan Pangeran Ranakusuma terpaksa menuruti permintaan Dipanala untuk melepaskan Sura pula.

“Pengaruh apa pula yang ada pada Dipanala terhadap kamas Ranakusuma?“

Pertanyaan itu ternyata telah sangat mengganggunya. Jika tidak ada sesuatu yang menyebabkannya. Pangeran Ranakusuma tentu tidak akan berbuat sedemikian lunaknya terhadap Dipanala dan kepada Sura. Meskipun kadang-kadang Pangeran Ranakusuma tidak sependapat dengan tingkah laku anak laki-lakinya. tetapi ia jarang sekali mengurungkan keputusan yang sudah diambil oleh anak itu.

Namun kali ini. Pangeran Ranakusuma telah menggagalkan niat Raden Rudira untuk menghukum kedua orang itu. Mutlak.

Ketika Raden Ayu Galihwarit berpaling, dilihatnya puterinya telah tertidur nyenyak di sampingnya. Karena itu, maka perlahan-lahan ia bangkit dan meninggalkan pembaringan itu.

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam ketika dari celah-celah pintu ia masih melihat Pangeran Ranakusuma duduk termenung. Tetapi ia sama sekali tidak menyapanya, bahkan Raden Ayu Galihwarit itu pun langsung pergi ke pembaringannya sendiri.

Dalam pada itu, di halaman Sura masih berdiri termangu-mangu. Seperti bermimpi ia melihat orang-orang yang sudah siap untuk menghukumnya itu berlalu.

Sejenak kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Dipanala sejenak. Namun akhirnya ia tidak dapat menahan keinginannya untuk mengetahui, apakah sebabnya semuanya itu sudah terjadi.

“Apakah seperti kata Raden Rudira, kau sudah menyihirnya Ki Dipanala?” bertanya Sura.

Ki Dipanala memandang Sura sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum sambil menyahut “Aku tidak mengenal ilmu itu”

Tetapi kenapa Pangeran Ranakusuma memenuhi permintaanmu, bahkan melepaskan aku sekaligus”

Ki Dipanala mengangkat bahunya. Namun ia tidak menjawab.

“Dan yang lebih mengherankan lagi, karena Raden Ayu Sontrang itu kali ini tidak memaksakan kehendak anak laki-lakinya yang manja itu? Jika Raden Ayu Galihwarit itu mencoba menekan Pangeran Ranakusuma, jangankan aku dan kau, sedangkan isterinya yang lain telah disingkirkannya, dan bidikan puteranya Raden Juwiring”

Dipanala tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Apakah sebabnya?“ Sura mendesak.

Tiba-tiba saja Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak begitu mengerti Sura. Tetapi aku masih mempunyai keyakinan bahwa kata-kataku masih juga didengar, justru oleh yang tua-tua. Tidak oleh Raden Rudira sendiri, karena ia belum mengenal aku sejauh-jauhnya”

“Tidak banyak yang mengenal kau ki Dipanala. Meskipun kita bersama-sama berada di rumah ini bertahun-tahun, tetapi aku masih juga tidak mengerti, apa yang sebenarnya telah kau lakukan terhadap isi istana ini, sehingga seakan-akan kata-katamu merupakan keputusan bagi mereka”

Sekali lagi Ki Dipanala menggeleng. Katanya “Entahlah. Mungkin karena aku mereka anggap sebagai orang tua di sini. Atau barangkali karena aku sudah terlalu lama tinggal di rumah ini”

Sura memandang Dipanala dengan tatapan mata yang aneh. Namun seolah-olah Ki Dipanala itu diliputi oleh suatu rahasia yang tidak dapat diduganya.

Tetapi Sura tidak bertanya lagi. Ia mengerti, bahwa Ki Dipanala tidak akan mengatakannya meskipun ia berulang kali mendesaknya.

“Yang harus kau ketahui Sura” berkata Ki Dipanala kemudian “bahwa karena kata-kataku seakan-akan harus mereka dengar itulah, maka sebenarnya aku berada di ujung bahaya”

Sura menjadi semakin tidak mengerti. Karena itu ia berkata “Kau bagiku seperti bayangan dikegelapan. Aku tidak dapat melihat garis-garis bentukmu Ki Dipanala”

“Mereka lebih senang melihat aku mati daripada aku masih harus berbicara, karena kata-kataku ternyata masih harus mereka dengarkan”

“Aku menjadi semakin tidak mengerti. Tetapi Ki Dipanala tidak akan menjelaskannya kepadaku”

“Ya. Karena persoalannya memang tidak dapat dijelaskan“

Sura menarik nafas dalam-dalam.

“Sudahlah” berkata Ki Dipanala “Marilah kita kembalikan kuda-kuda itu ke kandangnya”

Sura tidak menjawab. Diikutinya saja Ki Dipanala yang mengambil kudanya dan menuntunnya.

“Kita akan lewat regol depan”

Sura mengangguk. Namun kemudian ia bertanya “Apakah aku masih akan dapat masuk lagi?“

“Kau akan memasuki halaman ini bersamaku”

Sura mengangguk-anggukkan kepalanya.

Keduanyapun kemudian menuntun kuda-kuda mereka keluar halaman. Setelah mengitari dinding samping maka merekapun memasukkan kuda itu di kandangnya. di halaman belakang rumah Ki Dipanala.

“Aku tidak mengerti Ki Dipanala. apakah sebaiknya aku tetap berada di Dalem Ranakusuman”

“Kau belum diusir. Tetapi jika kau ingin pergi, sebaiknya kau siapkan tempat baru itu, supaya keluargamu tidak terlantar”

“Tetapi jika terjadi sesuatu dengan aku di Dalem Ranakusuman, apakah isteri dan anak-anakku harus menyaksikannya?“

Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya, ia dapat mengerti keberatan itu, sehingga katanya “Memang, sebaiknya kau bawa keluargamu pergi. Tetapi kau harus minta diri kepada Pangeran Ranakusuma, selagi aku masih dapat berbuat sesuatu untuk keselamatanmu dan keluargamu. Jika sampai saatnya aku sendiri akan dipancung, maka semuanya sudah akan lewat. Aku tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi”

Sura mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia bergumam “Apakah aku dapat menghadap Pangeran Ranakusuma untuk minta diri?“

“Aku akan mengusahakan. Dan itu harus terjadi segera, sebelum keadaan berubah. Mungkin aku sudah tidak diperlukan lagi atau mungkin aku sudah terbunuh”

“Lalu bagaimana dengan Ki Dipanala sendiri? Apakah Ki Dipanala tidak akan meninggalkan Dalem Ranakusuman?“

Ki Dipanala tidak segera menjawab. Sorot matanya memancarkan keragu-raguan. Namun kemudian ia menggeleng “Sementara ini belum. Aku masih didengar oleh Pangeran Ranakusuma. Senang atau tidak senang”

“Tetapi apakah Ki Dipanala dapat mengetahui, sampai kapan Ki Dipanala akan mendapatkan kepercayaan itu, maksudku, bahwa kata-kata Ki Dipanala masih didengar oleh Pangeran Ranakusuma?“

Ki Dipanala menggeleng. Jawabnya “Aku tidak tahu”

Keduanyapun kemudian saling berdiam diri sejenak. Namun Ki Dipanala kemudian berkata Sura, kita masih mempunyai kesempatan sedikit untuk beristirahat. Meskipun langit sudah menjadi merah, namun kita masih sempal tidur meskipun hanya sekejap dan kita akan bangun kesiangan”

“Apakah kita tidak kembali ke Ranakusuman?“

“Besok saja kita kembali ke Ranakusuman. Para penjaga regol itu akan menjadi jengkel, jika setiap kali kita minta mereka membuka pintu untuk kita”

Sura tidak menyahut. Diikutinya saja Ki Dipanala pergi ke serambi depan rumahnya yang tidak begitu besar.

“Kau dapat berbaring di amben ini. Aku tidak dapat mempersilahkan kau tidur di dalam, karena tidak ada lagi tempat”

“Dan kau?“

“Aku akan tidur di ketepe itu”

“Apakah anyaman belarak itu masih ada?“

“Untuk apa?“

“Aku juga lebih suka tidur di lantai, diatas ketepe belarak seperti kau”

Ki Dipanala termenung sejenak Namun kemudian iapun mengetuk pintu rumahnya untuk mengambil tikar.

“He, apakah kita benar-benar tidak akan tidur di dalam?“ bertanya Ki Dipanala kemudian “meskipun hanya di lantai?“

“Aku akan tidur di luar saja”

Namun Ki. Dipanalapun kemudian berbaring juga diatas tikar pandan di samping Sura.

Ternyata Sura masih juga sempat tidur mendekur. Meskipun agak gelisah, tetapi ia masih sempat melepaskan ketegangan di dalam hatinya. Tidur adalah suatu pelepasan yang baik bagi orang-orang yang mengalami himpitan perasaan seperti Sura.

Tetapi Ki Dipanala sendiri sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ia ternyata lebih gelisah dari Sura. Yang terbayang di dalam angan-angan Ki Dipanala justru karena ia masih juga mempunyai pengaruh yang mantap terhadap Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit.

“Tetapi pada suatu saat, mereka akan melenyapkan pengaruh ini, karena pengaruh itu terjadi bukan karena persoalan yang wajar. Bukan karena aku orang tua, bukan karena aku sudah terlalu lama berada di Dalem Ranakusuman, dan bukan karena nasehat-nasehatku mempunyai pengaruh yang sangat baik, atau bukan karena aku seorang yang pandai dan mumpuni” berkata Ki Dipanala di dalam hatinya.

Sambil berbaring terbayang kembali peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya. Peristiwa yang hanya karena kebetulan saja ia berkesempatan untuk mengambil keuntungan daripadanya.

Dipanala menarik nafas dalam-dalam Namun ia tidak mencoba untuk membayangkan kembali apa yang sudah terjadi dengan Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit.

Namun, betapa Ki Dipanala dicengkam oleh kegelisahan, tetapi oleh lelah dan udara yang dingin segar, maka Ki Dipanala itupun terlena meskipun hanya sebentar.

Dan ternyata bahwa Ki Dipanalapun telah terbangun lebih dahulu. Dibiarkannya saja Sura masih terbaring diatas tikar sambil memejamkan matanya. Agaknya ia dapat juga tidur nyenyak dalam keadaan yang bagaimanapun juga.

Namun tidak lama kemudian, Surapun sudah terbangun pula. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke pakiwan untuk membersihkan dirinya dan membenahi pakaiannya.

“Kita pergi ke Dalem Ranakusuman Ki Dipanala” bertanya Sura.

“Sepagi ini?“

“Tidak ada pagi tidak ada sore bagiku sekarang”

Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Kegelisahan yang sangat telah merayapi dada Sura begitu ia terbangun dari tidurnya. Ia justru ingin segera masuk ke halaman istana Ranakusuman. Ia ingin segera mengerti, akibat atau hukuman apa lagi yang akan diterimanya. Dan apakah masih ada kesempatan baginya untuk meninggalkan halaman itu tanpa meninggalkan kepalanya. Karena agaknya Raden Rudira benar-benar menganggapnya sebagai seorang pengkhianat.

“Baiklah Sura” berkata Ki Dipanala “Memang tidak ada batasan waktu bagimu sekarang. Marilah, aku antarkan kau masuk ke halaman itu”

“Jika aku masih mendapat kesempatan” berkata Sura “Aku akan segera meninggalkan Ranakusuman bersama seluruh keluargaku”

“Kau belum mempersiapkan tempat untuk keluargamu Sura?“

“Aku mempunyai sekedar warisan meskipun hanya sejengkal. Dan aku sudah memperluasnya sedikit dengan uang yang aku terima selama aku menjilat di Ranakusuman”

“Apakah rumah warisan itu sudah siap kau pergunakan?“

“Siap atau tidak siap. Soalnya, semakin lama aku tinggal di Ranakusuman, maka kemungkinan-kemungkinan yang buruk akan selalu dapat terjadi. Kadang-kadang akupun kehilangan pengendalian diri apabila aku melihat tampang Mandra”

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti perasaan Sura, bagaimana ia merasa dirinya didesak oleh Mandra dan tersingkir karenanya. Ketika mula-mula Raden Rudira menjumpai Arum di bulak Jati Sari, sebelum mereka selalu dihantui oleh wajah Petani dari Sukawati, maka Sura masih menjadi orang pertama di antara para pengiring dan pengawal di Ranakusuman. Namun kini Sura hampir sudah tidak berarti lagi, bahkan hampir saja ia mengalami hukuman cambuk yang sangat pedih.

Demikianlah keduanyapun segera kembali masuk ke halaman Ranakusuman lewat regol depan. Para penjaga yang melihat kedatangan mereka hanya menarik nafas dalam-dalam. Ternyata keduanya adalah orang-orang aneh di dalam pandangan mereka. Bahkan seakan-akan keduanya dengan sengaja hilir mudik memamerkan diri.

Namun ketika salah seorang abdi berdesis di samping Sura yang kebetulan lewat “Kau datang kembali Sura?“ Maka Sura menjawab tanpa berhenti “Untuk yang terakhir kalinya”

“Mudah-mudahan kau dapat keluar lagi dari halaman ini” sahut abdi itu. Tetapi Sura sudah semakin jauh sehingga ia sama sekali tidak mendengarnya.

Dalam pada itu, Ki Dipanalalah yang berusaha untuk dapat menghadap Pangeran Ranakusuma. Lewat seorang Pelayan Dalam, Kj Dipanala menyampaikan permohonan untuk mendapat waktu beberapa saat saja.

“Ampun tuan” berkata Pelayan Dalam itu sambil berjongkok dan menyembah.

“Persetan dengan Dipanala. Katakan kepadanya, aku tidak mempunyai waktu. Suruh ia pergi sampai saatnya aku memanggilnya”

Pelayan Dalam itu membungkukkan kepalanya. Tetapi sebelum ia pergi Raden Ayu Galihwarit berkata “Berilah orang itu waktu barang sekejap kamas. Aku ingin mendengar, apa yang akan dikatakannya”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah isterinya sejenak, namun ketika Galihwarit tersenyum, Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam sambil berkata “Aku hanya mempunyai waktu sedikit”

Pelayan Dalam itu membungkuk sekali lagi sambil menyembah, kemudian bergeser surut sambil berjongkok. Baru ketika ia sudah menuruni tangga, iapun berdiri terbungkuk-bungkuk.

Ki Dipanala dan Surapun kemudian dibawanya menghadap. Namun ketika Pangeran Ranakusuma yang duduk di serambi belakang melihat kehadiran dua orang itu ia mengerutkan keningnya. Kemudian tampak semburat merah terlintas di wajahnya sambil menggeram di dalam hati “Apakah Dipanala itu sekarang mulai memeras? Aku kira ia tidak akan berbuat sejahat itu waktu itu. Kalau saja aku tahu, aku pasti sudah membunuhnya “

Pangeran Ranakusuma masih belum beranjak ketika kedua orang itu kemudian seolah-olah merangkak dan duduk di hadapannya,

Sejenak kedua orang itu duduk sambil menundukkan kepalanya. Sebelum Pangeran Ranakusuma bertanya sesuatu, mereka berdua sama sekali tidak berani berkata apapun juga.

Baru kemudian Pangeran Ranakusuma bertanya “Apakah maksudmu memohon waktu untuk menghadap?”

Ki Dipanala mengangkat wajahnya. Namun sebelum ia berkata sesuatu, dilihatnya Raden Ayu Galihwarit sudah berdiri di belakang Pangeran Ranakusuma. Perempuan bangsawan itu memandanginya sejenak dengan sorot mata yang penuh kecurigaan.

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Dan terdengar Pangeran Ranakusuma membentaknya “Cepat, katakan. Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk melayanimu”

“Maaf tuan” berkata Ki Dipanala “hamba berdua memberanikan diri untuk memohon waktu sekedar. Sebenarnya bukanlah hamba yang mempunyai kepentingan, tetapi Sura. Suralah yang ingin menyampaikan suatu permohonan kepada tuan”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Sura yang masih tetap menunduk itu sejenak. Lalu tiba-tiba ia membentak “Cepat cepat katakan”

“Ampun Pangeran“ Sura terkejut sehingga ia tergeser sejengkal surut. Hamba ingin mengajukan permohonan kehadapan tuan”

“Katakan, katakan”

“Ya tuan” suara Sura bergetar juga betapapun ia berusaha untuk berbuat setenang-tenangnya “hamba sudah cukup lama bekerja dan mengabdi di hadapan Pangeran. Namun agaknya akhir akhir ini hamba tidak lagi mampu mengikuti perkembangan yang terjadi di Dalem Kapangeranan ini, khususnya Raden Rudira, sehingga seakan-akan hamba tidak lagi diperlukan di sini, bahkan menurut istilah yang dipergunakan oleh Raden Rudira, hamba telah berkhianat. Maka dengan tidak mengurangi perasaan terima kasih bahwa selama ini hamba seakan-akan telah mendapatkan tempat berteduh di Dalem Ranakusuman ini, maka perkenankanlah kini hamba mohon diri. Semisal hamba ini selembar daun, maka agaknya daun itu sudah menguning dan sampai saatnya lepas dari tangkainya”

Terasa sesuatu berdesir di hati Pangeran Ranakusuma. Bagaimanapun juga, Sura adalah orangnya yang sudah lama sekali bekerja padanya dan kemudian mendapat kepercayaan mengasuh dan melindungi anak laki-lakinya. Namun sampai pada suatu saat, orang itu telah dianggap berkhianat oleh anak laki-lakinya itu.

Meskipun demikian Pangeran Ranakusuma telah berusaha menyembunyikan perasaannya itu. Bahkan dengan kasar ia membentak “Jika kau merasa telah berada di rumah ini untuk waktu yang lama kenapa kau berkhianat?”

“Pangeran, benar-benar tidak terlintas di hati hamba, bahwa hamba akan berkhianat. Hamba yang sudah merasa mapan menjadi abdi di Dalem Kapangeranan ini, kenapa hamba harus berkhianat? Namun barangkali bahwa hamba telah mencoba memberikan pendapat hamba itulah, maka terutama Raden Rudira menganggap hamba tidak lagi tunduk kepada perintahnya. Tetapi sebenarnyalah bahwa hamba ingin Raden Rudira tidak mendapatkan kesulitan di hari mendatang, terlebih-lebih lagi sehubungan dengan Petani dari Sukawati yang menurut pendapat hamba adalah tidak lain adalah dari Pangeran Mangkubumi itu sendiri”

“Bohong, bohong” tiba-tiba saja terdengar suara Rudira dari dalam biliknya. Tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di ruangan itu, ia langsung melangkah kehadapan Sura dengan wajah yang merah padam. Bahkan dengan serta merta ia mengayunkan kakinya menghantam pundak Sura.

Sura terdorong surut. Meskipun ia mampu bertahan apabila ia mau, tetapi ia terjatuh berguling. Namun kemudian dengan tergesa-gesa ia bangkit dan duduk kembali sambil menundukkan kepalanya.

Agaknya Raden Rudira masih belum puas. Ia telah dikecewakan oleh ayahnya, karena ia tidak boleh memukul kedua orang itu dengan rotan selagi mereka terikat di pohon sawo. Namun sebelum ia berbuat lebih jauh Ki Dipanala berkata “Ampun tuan. Hamba mengharap bahwa tuan mencegah tindakan puteranda lebih jauh lagi”

Terasa sesuatu bergetar di hati Pangeran Ranakusuma. Ada sesuatu yang seakan-akan menekan hatinya sehingga terasa nafasnya menjadi sesak.

“Persetan“ Raden Rudira menggeram. Namun Pangeran Ranakusuma kemudian mencegahnya “Rudira. Cobalah berbuat dengan nalar. Kau sudah menjadi semakin dewasa. Unsur dari perbuatanmu sebaiknya bukan saja penimbangan perasaan, tetapi juga nalar. Jika kau tidak mampu mendapatkan keseimbangan nalar dan perasanmu, maka semisal timbangan, kau akan menjadi berat sebelah, sehingga tindakan-tindakan yang lahir darimu, bukannya tindakan-tindakan yang terpuji”

Wajah Raden Rudira yang merah menjadi semakin merah. Ditatapnya wajah ibunya yang penuh dengan kebimbangan, la mengharap bahwa kali ini ibunya dapat membantunya. Tetapi ia menjadi sangat kecewa ketika ibunya berkata “Bersabarlah Rudira. Seperti kata ayahandamu, kau sudah menjadi semakin dewasa”

Kata-kata ibunya itu membuat dada Raden Rudira menjadi semakin pepat. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan ketika sekilas ia memandang wajah ibunya, wajah itu bukan saja dibayangi oleh kebimbangan, tetapi rasa-rasanya Raden Ayu Sontrang bagaikan berdiri di depan sarang hantu. Ketakutan.

Raden Rudira benar-benar tidak dapat mengerti, apakah sebabnya bahwa ayah dan ibunya sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan Dipanala. Namun Raden Rudira tidak ingin bertanya di hadapan kedua orang itu. Karena itu, maka sambil menghentakkan kakinya, iapun segera pergi meninggalkan mereka yang masih terpancang Di tempat masing-masing.

“Sura” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian setelah Rudira pergi “ada bermacam-macam tanggapan terhadapmu sekarang. Tetapi baiklah, aku mengambil kesimpulan, bahwa sebenarnya kau memang sudah tidak diperlukan lagi di rumah ini. Karena itu. jika memang kau kehendaki, aku tidak berkeberatan kau pergi meninggalkan tempat pengabdianmu yang sudah kau lakukan bertahun-tahun, karena tiba-tiba saja kau telah dicengkam oleh mimpi yang kau anggap dapat memberi kepuasan batiniah itu”

Sura tidak menyahut. Rasa-rasanya memang terlampau berat untuk meninggalkan pengabdian yang sudah lama dilakukan dengan penuh kesetiaan bahkan seakan-akan tanpa sempat memikirkan benar dan salah.

“Nah, jika kau memang akan pergi, pergilah. Tetapi ingat Sura. Kau pernah menjadi abdi yang setia di rumah ini. Akupun merasa seakan-akan kau telah termasuk di dalam lingkup keluarga. Tetapi kau ternyata tidak menyesuikan dirimu lagi. Itu tidak apa. Tetapi kau jangan sebenarnya berkhianat. Pengkhianatan adalah bentuk yang paling jahat dari hubungan antar manusia. Apakah kau mengerti?“

“Ya Pangeran. Hamba mengerti”

“Dan kau Dipanala? Apakah kau juga akan berkhianat?”

Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tidak tuan. Memang tidak terlintas di hati hamba untuk berkhianat. Dan Surapun tidak. Karena hamba sadar, pengkhianatan yang sebenarnya adalah perbuatan bukan saja yang paling jahat dari hubungan antar manusia, tetapi juga yang paling licik, pengecut, dan segala macam istilah yang paling buruk. Namun sayang sekali, bahwa setiap orang mempunyai penilaian yang berbeda-beda tentang arti dari pengkhianatan itu. Bahkan sebagian orang melihat pernyataan kebenaran justru sebagai suatu pengkhianatan”

“Diam, diam“ Pangeran Ranakusuma membentak keras sekali sehingga Dipanala terkejut karenanya. Namun ia masih tetap dapat menguasai perasaannya. Bahkan ia masih sempat memandang wajah Raden Ayu Galihwarit yang menjadi pucat karenanya.

Namun Dipanala itu kemudian berkata “Ampun tuan. Hamba akan berusaha mengartikan pengkhianatan itu sebagaimana yang tuan kehendaki”

Hampir saja Pangeran Ranakusuma kehilangan kesabarannya. Untunglah bahwa ia masih menyadari keadaannya, sehingga ia masih tetap berhasil menguasai dirinya. Bahkan tiba-tiba saja terasa tangan isterinya. Raden Ayu Galihwarit meraba pundaknya sambil berkata “Sudahlah kamas. Biarkan mereka pergi. Mereka tidak lagi kita perlukan”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Yang akan pergi hanyalah Sura saja. Biarlah Dipanala tetap berada di rumah ini. Aku masih mengharap bahwa ia menemukan dirinya kembali sebagai seorang pemomong yang sudah puluhan tahun berada di sini. Dengan umurnya yang semakin tua, ia seharusnya menjadi semakin mendekatkan dirinya pada ketenangan. Bukan justru sebaliknya”

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Katanya “Hamba tuan. Memang hamba tidak berniat untuk meninggalkan istana ini. Hamba akan mencoba menyesuaikan diri hamba yang menjadi semakin tua ini”

“Baiklah, suruh Sura pergi jika itu yang dikehendaki. Aku mengijinkan ia membawa semua miliknya yang ada dipondoknya di halaman Kapangeranan ini” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, lalu katanya kepada Sura “mudah-mudahan kau menemukan hari-hari tuamu tanpa keprihatinan yang semakin mencengkam karena pokalmu sendiri”

“Ya tuan. Hamba akan mencoba hidup sebagai seorang petani di padukuhan hamba dengan secuwil sawah dan pategalan”

“Tetapi kau dapat menjadi orang yang berbahaya bagi padukuhanmu, justru karena kau merasa memiliki kelebihan dari orang lain. Selama ini kau hidup dengan bekal kemampuanmu berkelahi. Kebiasaan itu tidak akan dapat lenyap sehari dua hari. Dan malanglah nasib tetangga-tetanggamu itu”

Sura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi peringatan itu justru menjadi cambuk baginya, bahwa ia adalah manusia biasa yang harus dapat hdup sebagai manusia biasa yang lain. Kelebihan itu adalah suatu kebetulan saja. Tetapi dengan kelebihan itu ia tidak akan dapat hidup terpisah dari manusia yang lain.

Demikianlah, maka pada hari itu, Sura benar-benar meninggalkan halaman Ranakusuman. Dengan sebuah pedati ia membawa barang-barangnya yang tidak begitu berarti. Namun ketika pedati itu meninggalkan regol Ranakusuman, terasa sesuatu bergetar di dalam hatinya. Seakan-akan ia kini merasa menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang mengerti hubungannya antara dia dengan Tuhan Yang Menciptakannya, dan antara dia dengan sesama manusia dan lingkungannya.

Sura sendiri, tidak tahu, darimanakah ia menemukan kesadaran itu justru setelah ia mengalami benturan yang dahsyat ketika, ia sama sekali tidak berdaya melawan petani dari Sukawati itu.

Namun hatinya masih bergejolak ketika ia melihat Mandra yang berdiri di sebelah regol sambil bertolak pinggang memandanginya. Suara tertawanya yang semakin lama menjadi semakin keras terasa menggelitik hati. Tetapi ketika ia melihat Ki Dipanala berdiri dengan tenangnya justru di sebelah Mandra itu terasa hatinya bagaikan disentuh oleh titik air yang sejuk dingin.

Namun demikian di sepanjang jalan. Sura tidak habis berpikir, apakah sebabnya Dipanala mempunyai pengaruh yang begitu besar, meskipun jelas, bahwa ia bukan orang yang disenangi oleh Pangeran Ranakusuma, apalagi oleh Raden Rudira.

“Apakah benar-benaria mempunyai ilmu semacam ilmu sihir yang mampu mempengaruhi perasaan orang lain dengan tatapan mata nya?“ pertanyaan itu masih saja selalu terngiang di hatinya.

Namun Surapun kemudian tidak mempedulikannya lagi. Kini ia sudah tidak mempunyai hubungan apapun juga dengan istana Ranakusuman. Dengan Raden Rudira dan dengan Mandra.

Tetapi tiba-tiba terlintas di kepalanya bayangan seorang dari keluarga Ranakusuman yang justru tidak tinggal di istana itu. Seorang anak muda yang meskipun agak mirip dengan Raden Rudira pada bentuk lahiriahnya, namun mempunyai sikap dan pandangan hidup yang berbeda. Jauh berbeda.

Tiba-tiba saja timbul keinginan Sura untuk menemui Raden Juwiring. bahkan tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk lebih dekat lagi dengan putera Pangeran Ranakusuma yang pernah disingkirkannya itu.

“Aneh, kenapa saat itu Ki Dipanala justru membawanya pergi? Padahal ia mempunyai pengaruh yang kuat terhadap Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit. Jika ia menghendaki maka ia pasti akan dapat mencegahnya, sehingga Raden Juwiring masih akan tetap berada di istana. Demikian juga dengan orang-orang lain yang telah tersingkir”

Namun Sura tidak kunjung menemukan jawabnya, sehingga ia sampai ke padukuhannya dan memulai suatu kehidupan baru sebagai seorang petani.

Mula-mula memang agak canggung hidup di dalam dunia yang baru baginya. Seperti kata Pangeran Ranakusuma, memang ada tersembul nafsu untuk menguasai orang-orang di sekitarnya justru karena ia merasa memiliki kelebihan.

Tetapi untunglah, bahwa ia menyadarinya sehingga ia selalu berhasil menahan diri dan mencoba hidup seperti orang kebanyakan. Meskipun kadang-kadang sebagai orang baru ia mendapat berbagai macam kesulitan karena ada juga orang erang yang keras kepala dan menganggap Sura sebagai seorang yang tidak pantas berada di antara mereka. Namun Sura telah berhasil melampaui masa itu. Bahkan ia lelah berhasil luluh di dalam kehidupan para petani tanpa memperlihatkan kekerasan dan kemampuannya.

Meskipun demikian ia masih belum berhasil melupakan keinginannya untuk menemui Raden Juwiring di padepokan Jati Aking.

“Pada suatu saat aku akan pergi ke padepokan itu” berkata Sura di dalam hatinya “mudah-mudahan kehadiranku di padepokan itu tidak menimbulkan persoalan bagi Raden Juwiring. Sebab kebencian Raden Rudira terhadap kakaknya itupun melonjak setinggi langit, sehingga dapat saja ia menuduh kakaknya telah berhubungan dengan aku, seorang pengkhianat”

Dan keragu-raguan semacam itulah yang selalu menunda-nunda kepergian Sura ke padepokan Jati Aking di Jati Sari.

Namun dalam pada itu, anak-anak muda yang berada di Jati Aking ternyata mempergunakan waktunya sebaik-baiknya. Mereka dengan tekun melatih diri, seakan-akan ada firasat yang membisikkan ketelinga mereka, bahwa sesuatu akan terjadi.

Bahkan kadang-kadang Kiai Danatirta menjadi heran, kesungguhan yang luar biasa, bahkan agak berlebih-lebihan telah mendorong Buntal berlatih tanpa mengenal waktu. Bukan saja di saat-saat seharusnya ia berlatih di malam hari, atau di saat-saat lain yang ditentukan oleh gurunya. Tetapi juga di saat-saat ia seharusnya beristirahat setelah ia bekerja keras di sawah, kadang-kadang dipergunakannya juga untuk mematangkan ilmu yang dikuasainya.

Namun di dalam tangkapan gurunya, Buntal anak muda yang sedang tumbuh itu, memang sedang dibakar oleh gairah yang menyala-nyala di dalam dadanya. Sekali-sekali Kiai Danatirta terpaksa memperingatkan, agar kemauan yang begitu keras itu tidak justru mengganggu kesehatannya.

“Kau harus menjaga keseimbangan hasrat dan batas kemampuan wadagmu Buntal” berkata gurunya “Aku senang sekali melihat perkembangan yang pesat padamu dan pada Juwiring, tetapi aku tidak dapat membiarkan kau tenggelam dalam latihan yang berlebih-lebihan. Dengan demikian, jika terjadi sesuatu dengan kesehatanmu, akulah yang harus mempertanggung jawabkannya”

Setiap kali Buntal hanya menganggukkan kepalanya saja. Kemudian menunduk dalam-dalam.

“Kau mengerti?“

Sekali lagi Buntal mengangguk sambil berdesis lambat sekali “Ya guru. Aku mengerti”

Tetapi setiap kali, tanpa disadarinya, terasa sesuatu yang memacunya untuk berlatih lebih banyak. Dan hampir di luar sadarnya, kadang-kadang terbersit perasaan “Aku tidak boleh kalah dari Raden Juwiring. Raden Juwiring adalah seorang bangsawan, sedang aku adalah seorang pidak-pedarakan yang di ketemukan di pinggir jalan. Jika aku tidak dapat mengimbangi ilmunya, maka aku adalah seorang anak muda yang tidak akan berarti apa-apa dlpadepokan ini”

Namun setiap kali Buntal menjadi malu sendiri. Apalagi apabila terpandang olehnya tatapan mata Arum yang lunak sejuk seperti tatapan mata ayahnya, Kiai Danatirta.

Meskipun Buntal mempergunakan waktu yang lebih banyak dari Raden Juwiring untuk berlatih, namun hampir tidak dapat dimengerti oleh Buntal sendiri, bahwa setiap kali mereka berlatih bersama, ilmunya ternyata tidak lebih matang dari ilmu Raden Juwiring. Ia hanya mempunyai kelebihan tenaga sedikit saja dari putera Pangeran itu, namun justru kemampuan menguasai tata gerak dan kecepatan, Raden Juwiring masih melampauinya.

Dan itulah kelebihan Raden Juwiring dari Buntal. Raden Juwiring seakan-akan tidak menghiraukan sama sekali, jika Buntal mempergunakan hampir setiap waktu untuk menempa diri. Raden Juwiring kadang-kadang pergi saja berjalan-jalan di kebun belakang dan duduk di bawah batang-batang kayu yang rindang, atau tinggal di dalam biliknya, berbaring sambil memandangi atap biliknya.

Tetapi Buntal tidak tahu, bahwa Raden Juwiringpun mempergunakan waktu-waktu senggangnya untuk mematangkan ilmunya. Tetapi ia mempunyai cara yang lain dari cara yang dipakai oleh Buntal.

Raden Juwiring ternyata tidak mempercayakan diri pada tenaga wadagnya semata-mata. Tetapi ia mempergunakan otaknya pula. Sambil duduk di bawah pohon yang rindang di sore hari di kebun belakang, atau jauh malam hari, bahkan menjelang dini hari di dalam biliknya, Raden Juwiring bermain-main dengan rontal dan kertas-kertas yang berwarna kekuning-kuningan. Dibuatnya beberapa buah gambar yang meskipun kurang baik namun dapat menyatakan gejolak di dalam batinnya mengenai tata gerak ilmunya. Raden Juwiring ternyata tidak hanya berlatih dengan badannya, tetapi ia mampu membuat rencana tata gerak yang bermanfaat bagi ilmunya. Kadang-kadang dipadukannya beberapa macam unsur gerak yang ada dan yang pernah dipelajarinya.

Bahkan dengan unsur-unsur gerak alam dan binatang. Dan itulah sebabnya Raden Juwiring sering duduk termenung merenungi burung-burung yang berterbangan. Burung-burung kecil yang lincah cekatan menyambar bilalang. Tetapi juga burung elang yang dengan garangnya menyambar anak ayam. Bahkan juga bagaimana seekor domba membenturkan kepalanya pada lawannya jika terpaksa mereka berlaga. Ayam jantan, dan kadang-kadang dilihatnya kerbau jantan yang sedang-marah.

Bukan saja binatang yang ada di sekitarnya. Tetapi terbayang juga, bagaimana seekor harimau menerkam mangsanya dan bagaimana seekor kelinci menghindarkan diri justru menyusup di bawah kaki binatang-binatang yang menerkamnya. Betapa lucunya gerak seekor kera namun betapa gesitnya ia memanjat, menangkap sesuatu dan berloncatan.

Itulah yang selalu dipikirkan oleh Raden Juwiring. Dan hal itu sama sekali tidak terlintas di kepala Buntal. Dan perbedaan perhatian itulah yang merupakan perbedaan kepribadian mereka. Buntal lebih senang langsung memantapkan tata gerak dan kekuatan jasmaniahnya, namun Raden Juwiring memperkaya tata gerak dari paduan gerak yang beraneka macam dan kegunaannya yang berlain-lainan.

Namun mereka berdua berkembang dengan pesatnya menurut jalur yang digariskan oleh gurunya, Kiai Danatirta.

Sebagai seorang yang berpengalaman, maka Kiai Danatirta melihat perbedaan di dalam diri kedua muridnya itu. Namun Kiai Danatirta tidak melihat keberatannya sama sekali atas perkembangan kepribadian masing-masing.

Bahkan di dalam latihan-latihan bersama Kiai Danatirta dapat memanfaatkan kemajuan kedua muridnya itu dan meramunya dalam satu ciri-ciri ilmu yang tidak terpisah. Hanya karena perbedaan kepribadian itu sajalah, tampak perbedaan pula dalam ungkapan inti ilmu perguruan Jati Aking, namun pada dasarnya keduanya sama.

Jilid 5 Bab 2 : Bunga Menur

Berbeda dari keduanya adalah Arum. Ia langsung mendapat tuntunan dari ayahnya menurut petunjuk-petunjuk dan nasehat-nasehatnya. Arum lebih mementingkan pada kecepatan bergerak dan kemampuannya menguasai arah gerak.

Kadang-kadang ia justru dapat mengambil keuntungan dari serangan lawannya karena dorongan gerak serangan itu sendiri.

Dalam keadaan yang khusus Arum mendapat latihan untuk mempergunakan tenaga dorong lawannya. Bahkan Arum mampu mempergunakan tenaga lawannya untuk melemparkan dirinya sendiri apabila diperlukan, dan dalam kesempatan tertentu Arum dapat merobohkan lawannya karena ayunan tenaga lawan itu sendiri.

Bagaimanapun juga, maka Kiai Danatirta tidak mau meninggalkan keturunannya sendiri di dalam olah kanuragan. Sejalan dengan kemajuan yang dicapai oleh Juwiring dalam keragaman unsur geraknya beserta kegunaannya, dan sejalan dengan kemajuan kekuatan tenaga Buntal, maka Arum adalah seorang gadis yang lincah cekatan, seperti seekor kijang di padang rumput yang hijau segar.

Dalam ujudnya masing-masing, ketiga murid Kiai Danatirta itu berkembang dengan pesatnya, justru oleh dorongan di dalam diri murid-murid itu sendiri. Memang kadang-kadang ada juga kecemasan di hati orang tua itu, bahwa murid-muridnya sudah terjerumus ke dalam suatu pacuan yang berbahaya. Namun atas kebijaksanaannya, Kiai Danatirta mampu mengarahkannya sesuai dengan ajaran-ajaran keagamaan dari padepokan Jati Aking. Murid-muridnya bukan saja mendapat tempaan kanuragan, tetapi mereka mendapat pengarahan yang mantap di bidang agama. Mereka langsung diperkenalkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka ditunjukkan, bahwa pertanggungan jawab tertinggi dari perbuatan manusia adalah pertanggungan jawab terhadap Tuhannya.

Meskipun demikian, Buntal adalah seorang anak muda yang lengkap. Yang utuh. Jasmaniah dan rohaniah. Itulah sebabnya maka Buntalpun mengenal apa yang dikenal oleh orang lain.

Di waktu matahari terbit, Buntal kadang-kadang berdiri di ujung halaman sambil memandang cahaya yang kemerah-merahan di langit. Ujung pegunungan nampak seperti seonggok batu akik yang berukir dalam berbagai warna antara hijau dan merah.

Juga di malam hari Buntal kadang-kadang merenungi kilauan bintang yang berhamburan di langit. Dikala bulan terang, anak muda itu mampu juga menangkap sesuatu yang menyentuh perasaannya.

Ternyata bahwa Buntal, seorang anak muda yang ditemukan di pinggir jalan itu, mempunyai selera rohaniah yang lengkap.

Dan karena itulah ia mengenal bentuk-bentuk keindahan.

Bukan saja bentuk-bentuk keindahan yang tersebar di sekitarnya, namun ada sesuatu yang indah yang setiap hari direnunginya. Semakin lama justru menjadi semakin memikat.

Yang lebih indah dari yang paling indah dari alam di sekitarnya itu adalah Arum yang mekar seperti mekarnya bunga menur yang berwarna putih. Betapapun juga ia mencoba mengelak, namun ia selalu dibayangi oleh kenyataan itu.

Berterima kasihlah Buntal, bahwa Tuhan telah rezeki berbentuk mata yang dapat melihat, melihat keindahan dari alam di sekitarnya. Namun keindahan yang satu ini ternyata telah membuatnya selalu berdebar-debar. Selalu cemas dan kadang-kadang menjadi bingung. Sebenarnya iapun mengucapkan terima kasih bahwa setiap hari ia dapat menikmati keindahan itu. Tetapi tanpa disadarinya, ia dirayapi oleh suatu keinginan, bukan saja menikmatinya sebagai suatu bentuk keindahan, namun lebih daripada itu.

“O, aku menjadi semakin gila” keluh Buntal. Sudah beberapa lama ia bertahan dan bahkan mencoba mengusir perasaan itu. Namun yang terlontar dari dirinya adalah kemauan yang semakin keras untuk melatih diri. Seolah-olah ia sedang berpacu untuk mencapai garis batas terlebih dahulu dengan taruhan yang tiada taranya.

“Tidak. Arum bukan barang taruhan. Ia dapat menentukan sikapnya sendiri. Dan tidak seorangpun dapat merubah keputusan yang akan diambilnya”

Demikianlah ketenangan padepokan itu rasa-rasanya mulai terganggu. Terasa dadanya bergetar jika ia melihat Arum sedang bergurau dengan Juwiring.

“Sejak aku pertama kali menginjakkan kakiku di padepokan ini, keduanya telah sering bergurau“ Buntal ingin mencoba mempergunakan nalarnya. Namun setiap kali ia tenggelam dalam arus perasaannya.

Tetapi Buntal selalu menekan perasaan itu dalam-dalam di dasar hatinya. Endapan yang semakin lama menjadi semakin tebal itu tidak luput dari tatapan mata hati Kiai Danatirta. Gurunya itu melihat, bahwa Buntal semakin lama menjadi semakin dalam terendam oleh kediaman yang murung.

Justru karena itulah, maka Buntalpun kadang-kadang tampak menyendiri duduk sambil merenungi bintik-bintik di kejauhan. Namun sejenak kemudian iapun segera berlari ke bangsal tempat berlatih. Dicurahkannya segenap kemurungannya pada gerak-gerak jasmaniahnya. Seolah-olah anak muda itu tidak mengenal lelah sama sekali.

Di saat-saat yang demikian itu, kedua saudara seperguruannya kadang-kadang memperhatikannya juga. Bahkan di dalam hati merekapun tumbuh berbagai macam pertanyaan, apakah sebenarnya yang telah bergolak di hati anak muda itu.

Buntal terkejut ketika pada suatu ketika ia sedang melarikan diri di dalam bangsal latihan itu. seseorang telah menyapanya “Buntal”

Buntal mulai menahan tenaganya, sehingga akhirnya ia berhenti. Ketika ia berpaling dilihatnya Arum berdiri di sudut bilik itu.

Buntal menarik nafas. Tetapi nafas itu setiap kali seakan-akan saling memburu.

“Apakah kau tidak lelah?“

Buntal memandang Arum sejenak. Dan Arum yang kini bukan lagi Arum yang manja yang berlari-larian di pematang sambil menyingsingkan kain panjangnya. Meskipun setiap kali Arum masih juga pergi ke sawah mengantarkan makanan, tetapi sikapnya sudah lain dari Arum yang terkejut melihat kehadirannya diatas gardu sawahnya.

“Kau berlatih terlampau banyak Buntal”

Buntal menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan ragu-ragu ia menjawab “Tidak Arum. Aku belum lelah”

“Kau memiliki tenaga dan ketahanan nafas yang luar biasa. Tetapi kau harus beristirahat. Setiap kali kau mempunyai waktu tertuang, kau selalu berada di dalam bangsal ini”

Buntal tidak menyahut.

“Beristirahatlah”

Buntal masih tetap diam.

“Marilah. Kita pergi ke dapur. Makan sudah tersedia”

Buntal memandang Arum dengan tajamnya, dan di luar sadarnya ia bertanya “Dimana Raden Juwiring”

Arum mengerutkan keningnya. Sebelum ia menjawab, dengan tergesa-gesa Buntal menyambung “Maksudku, apakah ia akan makan bersama kita?“

“Ya. Kakang Juwiring sudah ada di dapur”

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya ” baiklah. Aku akan membersihkan diri dahulu”

Arum menganggukkan kepalanya. Dipandanginya langkah Buntal yang lesu dengan kepala tunduk. Sama sekali tidak segairah ketika ia berlatih seperti yang baru saja dilakukannya di bangsal ini.

“Apakah ada sesuatu yang mengganggu perasaannya?” Arum bertanya kepada diri sendiri. Tetapi sudah barang tentu bahwa ia tidak akan dapat menemukan jawabnya.

Dengan langkah yang berat Buntal pergi ke pakiwan. Ia berdiri saja sejenak di bawah sejuknya dedaunan sebelum ia membersihkan dirinya. Dibiarkannya keringatnya susut. Dan barulah kemudian ia mencuci muka, kaki dan tangannya.

Ketika kemudian ia memasuki pintu dapur, hatinya tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar. Dilihat Arum dan Juwiring duduk di amben yang panjang. Agaknya keduanya sedang asyik berbincang.

Pembicaraan keduanya berhenti ketika mereka melihat Buntal masuk. Sambil tersenyum Juwiring berkata “Marilah. Aku menunggumu. Bukankah kita akan makan bersama-sama seperti biasanya?“

Buntal menganggukkan kepalanya. Dicobanya pula untuk tersenyum sambil menjawab “Aku agak lupa waktu karena aku berada di bangsal latihan”

“Arum menyusulmu?“

“Ya” jawab Buntal pendek.

Keduanyapun kemudian makan bersama, dan seperti biasanya Arum melayani kedua saudara seperguruannya dan yang telah dijadikannya saudara angkatnya itu.

Demikianlah, dari hari ke hari, kediaman Buntal menjadi semakin menarik perhatian. Juwiring yang masih juga selalu bersama-sama pergi ke sawah menjadi heran. Meskipun setiap kali Buntat masih berusaha menunjukkan senyum dan tawanya, tetapi rasa-rasanya senyum dan tertawa itu hambar.

Ternyata bahwa yang paling besar menaruh perhatian atas keadaan Buntal adalah justru gurunya. Karena itu, tanpa disangka-sangka oleh Buntal, gurunya telah memanggilnya bersama dengan kedua saudara angkatnya.

Dan tanpa diduganya pula, maka Kiai Danatirta telah langsung bertanya kepadanya “Buntal. Jangan kau merasa tersinggung jika aku memerlukan bertanya kepadamu. Kau adalah tidak ubahnya dengan anakku sendiri. Karena itu pengamatanku atasmu tidak ada bedanya dengan pengamatanku atas Arum dan Juwiring”

Kiai Danatirta terdiam sesaat, lalu “Akhir-akhir ini Buntal, aku melihat sesuatu yang lain padamu. Sesuatu yang perlahan-lahan tumbuh pada sikap dan kebiasaanmu. Mungkin kau sendiri tidak menyadari. Tetapi bagaimanapun juga, pasti ada sebab yang membuat kau menjadi demikian. Mungkin sebab itu seharusnya dapat diabaikan. Namun mungkin pula, bahwa aku, guru dan sekaligus orang tuamu, saudara-saudaramu. dapat membantumu menemukan jalan yang baik, yang dapat membawamu keluar dari suasana yang sekarang. Suasana yang tampaknya tidak begitu cerah seperti di hari-hari yang lewat”

Terasa dada Buntal menjadi berdeburan. Seakan-akan isi dadanya telah bergolak dengan dahsyatnya.

Dan dalam pada itu Kiai Danatirta meneruskan “Jangan kau simpan persoalan itu di dalam hatimu Buntal. Jika demikian kau akan menjadi tertekan sendiri, sedang saudara-saudaramu dan aku tidak dapat ikut memecahkannya. Karena itu, katakanlah. Kami bukan orang lain lagi bagimu”

Kepala Buntal tertunduk dalam-dalam. Bagaimana mungkin ia akan dapat mengatakan persoalannya itu. Persoalan yang bagi dirinya sendiri masih dianggapnya sebagai suatu persoalan yang gila. Dan nalarnyapun menganggapnya bahwa perasaan yang tumbuh di dalam dirinya itu adalah perasaan yang tidak waras.

“Kau tidak usah merasa segan terhadap kami Buntal” berkata Juwiring kemudian “anggaplah aku sebagai saudara tuamu dan Arum sebagai adikmu. Kami sudah meningkat dewasa, dan karena itu, kami sudah mampu membuat pertimbangan-pertimbangan yang barangkali dapat membantumu”

Jika sekiranya Buntal masih kanak-kanak, ingin rasanya ia menjerit dan menangis sekeras-kerasnya untuk melepaskan himpitan di dalam hati.

Tetapi dalam keadaannya kini, ia tidak akan dapat melakukannya. Ia adalah seorang laki-laki dewasa yang sudah ditempa di padepokan Jati Aking. Karena itu, ia bukan lagi seorang anak yang cengeng yang menangis meronta-ronta jika hatinya tersentuh sedikit saja.

Namun Buntal menyadari, bahwa ia tidak akan dapat berdiam diri. Ia harus menjawab pertanyaan gurunya dan saudara-saudara angkatnya. Karena itu, Buntal terpaksa berbohong “Ayah” suaranya bergetar di bibirnya “sebenarnya apa yang tersangkut di dalam hati ini tidak pantas aku katakan”

“Tetapi juga tidak sebaiknya kau simpan di dalam hati sedang wajahmu hampir setiap saat tampak muram. Dalam perkembangan berikutnya, hatimu akan terpengaruh dan kau dapat terperosok ke dalam suatu keadaan yang tidak menguntungkan bagimu sendiri”

Buntal mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Ayah, tiba-tiba saja sebuah kenangan tentang keluargaku lelah membayangi aku untuk beberapa hari terakhir. Ada semacam kerinduan yang tidak dapat aku singkirkan, meskipun aku tahu. bahwa aku tidak akan pernah dapat menjumpai mereka lagi.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Itulah agaknya yang merisaukan hatimu”

Buntal tidak menyahut. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk. Tiba-tiba saja ia merasa suatu beban baru telah tersangkut di hatinya. Ia sudah berbohong. Dan kebohongan itu harus dipertahankan. Bahkan untuk menyembunyikan suatu kebohongan ia kadang-kadang harus mengatakan kebohongan- kebohongan yang lain.

Buntal tiba-tiba merasa denyut jantungnya menjadi semakin cepat. Namun ia tidak akan berani mengatakan perasaannya yang sebenarnya.

“Buntal” berkata gurunya “Aku dapat mengerti. Memang tebuah kenangan kadang-kadang tiba-tiba saja mempengaruhi perasaan kita. Namun kau harus mampu membuat pertimbangan-pertimbangan dengan nalar, agar hidupmu tidak disaput oleh kenangan dan bayangan-bayangan yang terpisah dari kehidupanmu yang sebenarnya”

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita sudah lama berkumpul di padepokan ini. Dan kita harus melihat kenyataan ini. Orang tuamu sekarang adalah aku, dan saudara-saudaramu adalah Juwiring dan Arum. Memang kita tidak dapat membendung hadirnya sebuah kenangan pada diri kita, seperti kita membendung air di parit-parit. Namun kita harus mampu menguasai perasaan kita dan membuat pertimbangan-pertimbangan dengan nalar” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Memang ada semacam kerinduan apabila kenangan itu hinggap pada diri kita. Kerinduan pada masa lampau. Tetapi kita harus sadar, bahwa kita tidak akan dapat kembali kepada masa lampau itu”

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas ditatapnya wajah Kiai Danatirta yang bersungguh-sungguh. Dan Buntalpun merasa bersalah pula, bahwa ia telah memaksa orang tua itu menasehatinya sedang persoalan yang sebenarnya adalah persoalan yang lain.

“Nah, cobalah” berkata Kiai Danatirta mudah-mudahan kau berhasil. Mudah-mudahan kau dapat menjadikan masa lampaumu sebagai kenangan yang dapat mendorongmu menjelang masa depan yang cerah”

“Ya ayah” jawab Buntal dengan suara gemetar.

“Pandanglah saudara-saudaramu. Juwiring juga mempunyai kenangan yang dapat membuatnya rindu pada masa lampaunya di istana Ranakusuman. Arum juga mempunyai masa lampaunya sendiri dalam pelukan kasih sayang ibunya. Dan kaupun mempunyai kerinduan pada masa lampau itu. Tetapi masa lampau itu jangan merusak masa kini dan apalagi menyuramkan masa-masa datangmu”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk mengambil arti dari nasehat gurunya, meskipun persoalan yang sebenarnya, berbeda dengan yang sedang dialaminya.

“Nah, kita akan semakin banyak mengisi waktu kita dengan latihan-latihan kanuragan” berkata Kiai Danatirta kemudian “dengan demikian kalian telah membangun hari depan kalian, di samping ilmu pengetahuan dan kesusasteraan. Kalian tidak boleh melupakan membaca kitab suci yang berisi nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk tentang hidup dan jawaban dari persoalan-persoalan kita”

Ketiga anak-anak muda itupun mengangguk-angguk. Di padepokan itu mereka memang mendapat ilmu yang hampir menyeluruh. Agama, pengetahuan dan Kanuragan.

“Nah” berkata Ki Danatirta kemudian “Kalian boleh mendengar serba sedikit, apa yang terjadi di Surakarta. Keadaan agaknya menjadi semakin panas. Orang asing itu menjadi semakin deksura. Kekuasaan Surakarta menjadi semakin terbatas. Dan itulah yang menyebabkan beberapa orang Pangeran tidak mau menerima keadaan ini. Bagaikan api semakin lama menjadi semakin membara, sehingga pada suatu saat, kemungkinan yang paling dekat adalah meledaknya api itu dan membakar seluruh Surakarta. Karena itu, kalian harus mempersiapkan diri. Siapa tahu, bahwa tenaga kalian yang lemah itu diperlukan bersama dengan anak-anak muda yang lain”

Buntal mengangkat wajahnya sejenak, lalu kepala itu tertunduk lagi. Ada semacam perasaan malu yang menyelinap di sudut hati. Selagi orang-orang di Surakarta mempersoalkan negara dan bangsanya, ia dicengkam oleh kegilaannya sendiri.

Demikianlah, maka ketiga anak-anak muda itu di hari-hari berikutnya berlatih semakin mantap. Dengan susah payah Buntal berusaha untuk menghilangkan kesan kemurungan dari wajahnya. Meskipun demikian, di luar sadarnya. kadang-kadang ia memandang Arum dari kejauhan. Baik selagi ia berlatih dalam olah kanuragan, maupun apabila gadis itu mengambil air untuk mencuci mangkuk di dapur.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. la tidak dapat menentang gerak alamiah bagi seorang laki-laki. Yang dapal dilakukannya adalah sekedar membatasi diri dengan nalar seperti yang dikatakan oleh gurunya, meskipun dalam persoalan yang berbeda.
Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa suasana menjadi semakin buruk. Udara Surakarta seakan-akan menjadi semakin panas. Beberapa orang Pangeran tidak dapat menerima keadaan yang sedang dihadapinya, namun beberapa orang yang lain justru memanfaatkan keadaan itu sebaik-baiknya bagi keuntungan diri sendiri.

Demikianlah yang terjadi di istana Ranakusuman. Istana itu nampaknya semakin lama menjadi semakin cerah. Barang-barang pecah belah yang selamanya belum pernah dimiliki oleh Pangeran yang manapun juga, telah terdapat di Ranakusuman. Hadiah yang mengalir seperti mengalirnya Kali Bengawan yang diterima oleh Raden Ayu Galihwarit, membuat istana Ranakusuman menjadi semakin cemerlang.

Namun dalam pada itu, Raden Rudirapun menjadi semakin manja. Kekayaan yang ada pada keluarganya membuatnya menjadi semakin sombong dan bahkan ia merasa menjadi seorang putera Pangeran yang paling kaya di seluruh Surakarta, tanpa mengerti dari mana kekayaan itu didapatnya.

Ia hanya pernah mendengar ibunya berkata kepada ayahandanya “Sikap kakanda yang bersahabat terhadap orang asing itu ternyata menguntungkan sekali. Aku sering menerima hadiah yang tidak aku mengerti darimana dan dari siapa, meskipun aku tahu, pasti dari salah seorang sahabat kakanda itu”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam, la memang telah terjerumus ke dalam sikap yang menguntungkan orang-orang asing itu. Bukan saja karena Pangeran Ranakusuma tidak mempunyai keyakinan yang teguh atas kemampuan Surakarta untuk tegak sebagai suatu negara yang berkuasa, namun rumahnya seakan-akan sudah menjadi ajang pertemuan bagi orang-orang asing itu. Isterinya yang ramah dan mempunyai kelincahan bergaul membual istana Ranakusuman menjadi sering dikunjungi oleh orang-orang asing.

Karena itu. Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak mengerti kenapa isterinya kadang-kadang mengingkarinya. Isterinya mengatakan kepadanya, bahwa kadang-kadang ia tidak mengerti dari siapa hadiah-hadiah itu datang, meskipun isterinyalah yang lebih banyak berhubungan dengan orang-orang asing itu.

Dan bagi Raden Ayu Galihwarit, hubungannya dengan orang-orang asing itu banyak memberikan pengalaman baru. Pengalaman rohaniah dan jasmaniah, sehingga ia mengenal adat dari orang-orang asing itu di dalam tata pergaulannya serba sedikit. Hubungan tata pergaulan yang belum pernah dialami sebelumnya.
Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak menghiraukan, apabila di dalam pertemuan-pertemuan resmi para Pangeran, beberapa orang isteri Pangeran duduk mempercakapkannya. Sambil berbisik-bisik mereka memandanginya dengan sudut mata.

“Mereka adalah orang-orang yang dengki dan iri hati” berkata Raden Ayu Galihwarit di dalam hatinya.

Namun di saat-saat terakhir. Raden Ayu Galihwarit merasa terganggu oleh sikap Dipanala. Sepeninggal Sura, rasa-rasanya Dipanala justru dengan sengaja berbuat banyak hal yang membuatnya berdebat. Setiap kali ia menjadi curiga apabila Dipanala menghadap Pangeran Ranakusuma untuk kepentingan apapun, sehingga setiap kali ia selalu berusaha mengetahui atau mendengar percakapan mereka.

Tetapi demikian juga agaknya Pangeran Ranakusuma. Ia tidak pernah membiarkan Dipanala menghadap isterinya untuk kepentingan apapun, sehingga setiap abdi terdekatnya dan pelayan dalam, dipesannya agar mendengar apa saja yang dikatakan oleh Dipanala kepada siapapun juga.

Ternyata betapa kebencian memuncak di hati Pangeran Ranakusuma serta Raden Ayu Galihwarit, namun mereka tidak dapat berbuat banyak atas orang itu. Mereka tidak dapat mengusir dan apalagi menghukumnya.

Hal itu sama sekali tidak dapat dimengerti oleh Raden Rudira. Baginya Dipanala bagaikan duri di dalam daging. Setiap kali orang itu menghalang-halangi niatnya, ayahanda dan ibundanya tidak dapat mencegahnya. Jika dahulu sebelum Sura meninggalkan istana, Dipanala jarang atau hampir tidak pernah mencampuri persoalan ayahanda dan ibunda, namun kini, Dipanala justru menjadi lebih sering menghadap.

“Aku harus mengetahui, kenapa setan itu tidak disingkirkara atau dibunuh saja oleh ayahanda Ranakusuma. Kenapa ia masih-bebas berkeliaran dan bahkan kadang-kadang dipanggil menghadap oieh ayahanda dan ibunda?“ bertanya Raden Rudira di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa Dipanala memang sering dipanggil baik oleh Pangeran Ranakusuma, maupun oleh Raden Ayu Galihwarit. Namun sebenarnya Dipanala sama sekali tidak sedang diajak berunding. Bahkan Pangeran Ranakusuma selalu mengancamnya dan menakut-nakutinya.

Ki Dipanala sendiri memang tidak pernah berniat jahat. Ia menyadari keadaannya dan sama sekali tidak timbul niatnya untuk mencelakakan orang lain. Tetapi kadang-kadang ia berani juga mencegah niat yang bertentangan dengan nuraninya.

“Kau terlalu banyak mencampuri persoalanku Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma kepada Ki Dipanala pada suatu saat.

“Apa yang sudah hamba lakukan Pangeran? Hamba tidak pernah berbuat apa-apa”

“Kau sudah membuat anakku membencimu. Dan kadang-kadang kau berani berterus terang memperingatkan tingkah lakuku di hadapan anak itu. Kau tidak usah mengurusi hubunganku dengan asing, atau hubungan Rudira dengan Juwiring dan petani dari Sukawati itu. Kau harus merasa berterima kasih bahwa kau dapat hidup layak di belakang istana ini. Aku masih tetap memberikan penghasilanmu, meskipun kau sama sekali tidak bermanfaat bagiku”

“Justru karena hamba masih selalu menerima pemberian tuanku itulah, hamba kadang-kadang ingin juga memberikan sedikit bahan pertimbangan. Juga atas hubungan tuan dengan orang asing itu dan niat Raden Rudira yang tidak ada redanya untuk mencelakakan kakandanya. Hamba tahu, bahwa Raden Rudira menaruh perasaan cemburu, karena di padepokan itu ada seorang gadis cantik yang bernama Arum. Tetapi sebenarnyalah bahwa tidak ada hubungan apapun antara Raden Juwiring dengan Arum”

Kedua orang yang sedang berbicara itu terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar suara Raden Ayu Galihwarit “Dipanala. Aku akan memberimu tambahan penghasilan jika kau berjanji tidak akan mengganggu gugat masalah-masalah kami. Masalah kakanda Pangeran dalam hubungannya dengan orang asing itu, dan masalah anakku. Bahkan sebaiknya kau membujuk Kiai Danatirta, agar ia mau menyerahkan anaknya kemari. Aku memang memerlukannya. Sedang hubungan kakanda Pangeran dengan orang asing itu mendatangkan banyak keuntungan bagi kami, bagi rumah tangga kami. Istana kami adalah istana yang paling cerah dari semua istana Kapangeranan di Surakarta. Sahabat-sahabat kakanda Pangeran telah mengirimkan hadiah yang tidak ternilai dan yang sebelumnya belum pernah kita lihat dan apalagi kita miliki”

Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Raden Ayu Galihwarit sejenak. Sekilas Dipanala melihat kecantikan yang memancar di wajah itu. Meskipun Raden Ayu Galihwarit sudah memiliki dua orang anak yang menjelang dewasa, namun ia sendiri masih tampak segar dan cantik.

Tetapi kecantikan lahiriah itu sama sekali tidak bersumber pada kecantikan rohaniah.

Kulitnya yang kuning bersih tidak mencerminkan hatinya yang sebenarnya buram, yang dikuasai oleh nafsu ketamakan yang tiada taranya. Ketamakan akan harta dan kekayaan, sehingga apapun yang ada padanya telah dikorbankannya untuk mendapatkan kekayaan dan harta benda yang diinginkan.

“Pangeran” berkata Ki Dipanala kemudian “hamba senang sekali apabila hamba mendapatkan tambahan penghasilan yang dapat memperbaiki kehidupan hamba sekeluarga. Tetapi hambapun cemas melihat mendung yang mengambang diatas Surakarta sekarang ini. Orang asing itu tidak disukai oleh beberapa orang Pangeran”

“Bodoh sekali. Itu adalah suatu kebodohan“ Raden Ayu Galihwaritlah yang menjawab “Apakah keberatan mereka atas kehadiran orang-orang asing itu? Hanya karena mereka tidak berhasil bersahabat dengan mereka dan tidak pernah mendapatkan pemberian apapun juga, mereka menganggap bahwa orang-orang asing itu tidak disenangi di Surakarta”

Ki Dipanala tidak segera menjawab. Sudut pandangan Raden Ayu Galihwarit berbeda dari sudut pandangan dan sikap pemerintahan di Surakarta. Namun agaknya Raden Ayu Galihwarit itu sama sekali tidak mau tahu, apakah sebenarnya yang telah terjadi di Surakarta ini.

“Sudahlah Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian “Seperti yang aku katakan, kau jangan terlampau banyak mencampuri persoalan kami. Aku tidak senang. Kau mengerti?“

“Hamba Pangeran. Hamba tidak akan banyak mencampuri persoalan yang ada di istana ini. Namun perkenankanlah hamba memperingatkan, bahwa sikap Pangeran Mangkubumi terhadap orang-orang asing itu menjadi semakin tegas”

“Aku sudah mengerti…!!!“ Pangeran Ranakusuma membentak. Namun suaranya kemudian menurun “Tetapi ia tidak akan berbuat apa-apa”

“Mudah-mudahan” sahut Dipanala.

“Seandainya ia akan berbuat sesuatu, apakah yang dapat dilakukan? Meskipun ia seorang Pangeran yang pilih tanding, tetapi ia akan berdiri seorang diri. Dan ia tidak akan berani menentang kekuasaan Susuhunan Paku Buwana, sehingga apabila Susuhunan Paku Buwana sudah menentukan, maka semua Pangeran akan tunduk?”

“Tetapi bagaimana dengan beberapa orang Pangeran yang telah meninggalkan kota dan melakukan perlawanan?“

“O, apakah yang dapat mereka lakukan? Mereka hanya berlari-lari dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain, dan sama sekali jauh dari kota Surakarta. Sebentar lagi mereka akan digiring dan dipaksa untuk menyerah”

“Tetapi jika kemudian di antara mereka terdapat Pangeran Mangkubumi?“

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab Raden Ayu Galihwarit telah menyahut “Apa bedanya Pangeran Mangkubumi dengan yang lain-lain itu?“

Ki Dipanala memandang Raden Ayu Galihwarit sejenak, lalu berpindah kepada Pangeran Ranakusuma “Apakah benar Pangeran dan Raden Ayu tidak tahu kelebihan Pangeran Mangkubumi”

“Cukup, cukup” bentak Pangeran Ranakusuma ”kenapa kau mengajukan pertanyaan yang gila itu?“

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Baginya hal itu merupakan pengakuan, betapa Pangeran Ranakusuma segan kepada saudara mudanya itu. Namun ternyaa bahwa Raden Ayu Galihwaritlah yang menjawab “Aku tahu, kelebihan Pangeran Mangkubumi adalah pada ilmu kanuragan. Meskipun ia kebal atas segala macam senjata tajam, namun ia tidak akan dapat melawan senjata orang kulit putih itu. Sebutir peluru akan menembus jantungnya, dan ia akan mati seperti kebanyakan orang mati. Dan ia tidak akan dapat hidup kembali”

Tiba-tiba saja kepala Pangeran Ranakusuma tertunduk dalam-dalam. Ada sesuatu yang bergolak di dadanya. Bagaimanapun juga, ia tidak dapat ingkar bahwa kulitnya tidak seputih kulit orang asing itu. Meskipun seandainya ia tidak memperhitungkan warna kulit, namun ia tahu benar niat kedatangan orang-orang asing itu di Surakarta. Seperti Pangeran Mangkubumi maka iapun merasa cemas melihat perkembangan Surakarta. Tetapi kadang-kadang semuanya itu lenyap jika ia melihat kepada dirinya sendiri. Apakah arti pengabdiannya kepada Surakarta, jika kedatangan orang asing itu menguntungkan dirinya. Pribadinya.

“Apakah yang dapat aku petik dari kekuasaan Surakarta ini sekarang secara langsung?“ pertanyaan itu kadang-kadang melonjak di hatinya “sedangkan orang-orang asing ini banyak memberikan sesuatu yang memang aku perlukan, dan yang diperlukan oleh isteriku”

Tetapi jika kemudian terbayang pergaulan yang terlalu rapat antara orang-orang asing itu dengan isterinya. maka hatinya menjadi berdebar-debar pula.

Namun untuk mengusir perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya, tiba-tiba Pangeran Ranakusuma berteriak “Pergi, pergi kau Dipanala. Awas jika kau masih mengganggu kami. Aku dapat berbuat baik, tetapi aku juga dapat berbuat kasar”

“Ampun tuan” berkata Ki Dipanala kemudian. Tetapi ia masih juga berkata “Sebelum hamba mohon diri, hamba mohon agar tuanku bertanya kepada puleranda Raden Rudira. apakah yang diketahuinya tentang Sukawati”

“Diam, diam“ Pangeran Ranakusuma berteriak “Aku tidak mau mendengar lagi tentang adinda Pangeran Mangkubumi”

“Tidak Pangeran, bukan tentang Pangeran Mangkubumi itu sendiri, tetapi tentang orang-orang di daerah Sukawati dan sekitarnya. Daerah kalenggahan Pangeran Mangkubumi”

“Aku tidak mau mendengar. Pergi”

Ki Dipanalapun mengangguk dalam-dalam. Kemudian ia berdesis “Ampun tuan. Sekarang perkenankanlah hamba mengundurkan diri”

Pangeran Ranakusuma tidak menjawab, sedang Raden Ayu Galihwarit berdiri dengan gelisah. Orang itu memang berbahaya baginya. Dan tiba-tiba saja ia mengumpat di dalam hati “Kenapa orang itu tidak disambar petir saja kepalanya?“

Dari lubang pintu yang terbuka Raden Ayu Galihwarit melihat Ki Dipanala keluar dari serambi belakang. Langkahnya lurus menuju ke pintu butulan di dinding belakang. Orang itu sama sekali tidak berpaling.

Namun terasa sesuatu berdesir di hati Raden Ayu Galihwarit ketika ia melihat seorang raksasa berdiri bertolak pinggang memandangi langkah Ki Dipanala. Tetapi raksasa itu sama sekali tidak berbuat apa-apa.

“Mandra” desis Raden Ayu Galihwarit di dalam hatinya “sepeninggal Sura, orang itulah yang dipercaya oleh Rudira”

Sejenak Raden Ayu Galihwarit berdiri membeku. Terbersit di dalam hatinya “Jika Dipanala tidak juga disambar petir, kenapa tidak ada orang yang membinasakannya saja? Dengan demikian semua persoalan yang diketahuinya tentang diriku akan ikut terkubur bersamanya”

Raden Ayu Galihwarit itu menggigit bibirnya. Namun pikiran itu tiba-tiba saja melekat di hatinya. Dan ia mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang gagah dan berani bersama beberapa orang pengiringnya.

Namun untuk beberapa lamanya, ia masih harus menyimpan pikiran itu sebaik-baiknya sebelum dipertimbangkannya masak-masak.

Tetapi dari hari kehari Dipanala benar-benar merupakan duri di pusat jantungnya. Setiap detak dan setiap tarikan nafas terasa jantungnya menjadi pedih. Kenangan mengenai peristiwa itu benar-benar telah menghantuinya.

“Jika Dipanala menjadi gila, maka akupun akan dibuatnya gila pula. Lenyaplah semua rencana dan harapan yang telah tersusun ini” namun kemudian “Tetapi jika ia ingin mencelakakan aku, kenapa tidak sekarang, atau saat aku mengusir Juwiring atau karena perbuatan-perbuatanku yang lain?“

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Memang terasa olehnya bahwa sampai saat ini Ki Dipanala tidak berniat berbuat jahat kepadanya. Namun dalam keadaan yang terpaksa maka orang itu dapat menjadi orang yang paling berbahaya baginya.

“Rudira akan dapat menyelesaikannya” berkata Raden Ayu Galihwarit di dalam hati “bersama Mandra, Dipanala bukan lawan yang berat baginya meskipun Ki Dipanala pernah menjadi seorang prajurit. Tetapi akan lebih baik apabila Mandra dan Rudira sendiri tidak ikut menangani, agar tidak menambah beban lagi bagiku jika usaha ini gagal. Mereka dapat mencari seseorang yang dapat dipercaya. Atau katakanlah sekelompok kecil orang-orang yang diperhitungkan dapat melakukan tugas itu”

Demikianlah ternyata bahwa di dalam tubuh Raden Ayu Galihwarit yang cantik itu tersimpan hati yang keras dan hitam. Dan agaknya, pikiran itu tetap dipertimbangkannya. Semakin hari justru terasa semakin mendesak. Apalagi setiap kali ia masih melihat Ki Dipanala berada di halaman istana Ranakusuman seolah-olah tidak terjadi sesuatu apapun atasnya.

“Orang itu memang berhati batu” berkata Raden Ayu Galihwarit di dalam hatinya” Ia sama sekali tidak merasa bahwa ia tidak diperlukan lagi di sini. Agaknya Sura yang kasar itu masih juga memiliki perasaan, sehingga karena itu ia minta diri untuk meninggalkan istana ini. Tetapi Ki Dipanala tidak. Ia masih tetap saja berkeliaran setiap hari”

Namun hal itu agaknya telah mematangkan rencananya untuk melenyapkan saja Ki Dipanala itu.

Untuk melakukan hal itu Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak berbicara lebih dahulu dengan suaminya. Ia tidak ingin Pangeran Ranakusutna bertanya kepadanya, dan mendesaknya, kenapa hal itu dilakukannya. Karena itu, maka satu-satunya orang yang dibawanya berbicara adalah anak laki-lakinya, Raden Rudira.

Tetapi ternyata bahwa Raden Rudirapun bertanya kepada ibunya “Kenapa orang itu harus dilenyapkan ibu?“

“Ia sangat berbahaya bagi kita Rudira”

“Ya, tetapi kenapa? Aku sudah lama merasakan bisa ludahnya. Seakan-akan ayahanda tidak dapat ingkar akan kata-katanya”

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Aku tidak tahu Rudira. Mungkin ada rahasia yang tersimpan antara ayahandamu dan Ki Dipanala. Tetapi yang pasti, kehadirannya sangat merugikan aku dan terutama kau. Jika orang itu dilenyapkan, maka banyak hal yang dapat kau kerjakan tanpa gangguan. Sebab sebenarnyalah jika ayahanda berkeberatan tentang apa pun juga, asalnya dari mulut Dipanala itu pula”

Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya “Aku dapat membunuhnya bersama Mandra”

Raden Ayu Galihwarit memandanginya sejenak. Namun kemudian ia berkata “Mungkin kau dan Mandra dapat melakukannya Rudira. Tetapi sebaiknya bukan kau tangani sendiri. Semula aku juga ragu-ragu. Apakah kau sendiri bersama Mandra atau orang lain. Tetapi jika gagal karena sesuatu sebab, maka kau tidak akan dapat ingkar lagi bahwa kau sudah berusaha membunuhnya“

“Tetapi jika orang lain ibunda” jawab Rudira “persoalannya hampir sama saja. Jika ia tertangkap, maka ia akan berceritera tentang kita, bahwa kitalah yang telah menyuruhnya membunuh Ki Dipanala”

“Amat-amati dari kejauhan. Jika ia gagal, kau dapat menyelesaikannya. Bukankah kau pandai berburu”

“Maksud ibu, aku harus membunuh Dipanala dengan panah?“

“Jika mungkin. Jika tidak, maka orang-orang yang harus membunuh Dipanala itulah yang harus kau bunuh?“

Raden Rudira mengangguk-angguk. la sadar, bahwa dengan demikian mereka akan menghilangkan jejak. Karena itu, sambil mengangguk-angguk ia berkata “Aku mengerti ibu, tetapi apakah ayahanda sudah mengetahui rencana ini?“

“Aku tidak usah mohon kepada ayahandamu. Sebenarnya ayahandamu juga berniat demikian. Tetapi karena ada semacam hubungan yang sudah terlampau lama terjalin, maka ayahandamu tidak akan sampai hati melakukannya. Namun jika Dipanala itu masih saja berada di istana ini, ia akan menjadi iblis yang paling jahat”

Raden Rudira masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Jadi, aku harus mencari orang yang mampu melakukannya dan dapat dipercaya”

“Ya”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia berkata “Aku akan berbicara dengan Mandra. Mungkin ia dapat menemukan orangnya. Tentu tidak hanya seorang Ki Dipanala adalah bekas seorang prajurit. Tentu ia memiliki kemampuan untuk berkelahi. Mungkin Mandra harus menyiapkan tiga atau empat orang yang yakin akan dapat membunuh Dipanala itu”

Raden Ayu Galihwarit mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Kita sudah mulai. Kita tidak boleh berhenti sampai di tengah. Jika Dipanala sudah tersingkir, akan datang giliran Juwiring sehingga ia tidak akan dapat lagi menuntut hak atas warisan ayahandamu. Tetapi selama Dipanala masih ada, semuanya itu pasti akan dihalanginya”

Rudira mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah ibu, serahkan semuanya kepadaku. Aku dan Mandra akan menyelesaikan sebaik-baiknya, meskipun barangkali aku memerlukan uang yang cukup untuk mengupah orang-orang yang akan melakukan pembunuhan itu”

“Jangan cemas” sahut ibunya “Aku akan menyediakan uang berapa saja yang kau perlukan”

Rudira termenung sejenak. Kemudian iapun minta diri kepada ibunya untuk menemui Mandra.

”Kau harus secepatnya mengatakan kepadaku jika kau sudah mendapatkan orang itu” pesan ibunya.

“Baik ibu. Aku akan segera memberitahukan”

Demikianlah Rudira pergi menemui Mandra tanpa orang lain yang mendengar percakapan mereka. Meskipun sebenarnya bagi Rudira, Mandra yang sekarang ini masih belum sebaik Sura sebelum ia berkhianat, namun agaknya orang inipun cukup memadai juga.

“Kenapa bukan aku sendiri?“ bertanya Mandra.

“Kau sudah cukup dikenal, bahwa kau adalah pengiringku. Aku juga sudah minta kepada ibunda, karena bukan aku dan kau. Tetapi ibunda ragu-ragu. Dan ibunda memutuskan untuk mengambil orang lain, tetapi di bawah pengawasan kita” lalu diceriterakannya apa yang harus dilakukan seandainya usaha itu mengalami kegagalan.

“Tidak mungkin gagal” berkata Mandra “meskipun Dipanala seorang bekas prajurit tetapi ia menjadi semakin tua. Kemampuannya tidak lagi berkembang, justru menurun karena ia tidak berusaha memalangkan pelepasan tenaga cadangan”

“Tetapi bagaimanapun juga ia cukup berbahaya”

“Baiklah. Aku akan mencari liga atau empat orang yang sama sekali belum dikenal”

“Ya. Kita akan mengatur segala sesuatunya. Ayahanda atau ibunda akan menyuruh Ki Dipanala pergi ke Jati Aking untuk menyampaikan sesuatu kepada kamas Juwiring. Pada saat itulah, Ki Dipanala harus dibinasakan”

Mandra mengangguk-angguk.

“Kau harus menyiapkan orang itu di bulak Jati Sari. Lebiti baik jika kau beri pakaian kepada mereka seperti petani dari Sukawati itu. Jika mungkin seseorang melihat meskipun dari kejauhan, maka ia akan dapat mengatakannya”

“Lebih baik kita lakukan di malam hari”

“Tentu, Tetapi ada kalanya di malam hari orang pergi ke sawah melihat air”

Mandra mengangguk-angguk pula. Katanya “Baik, baik. Aku akan melakukan dengan cermat. Tetapi tentu dengan kerja sama yang baik dengan ibunda Raden Rudira supaya waktu yang ditentukan itu tidak meleset”

“Tentu. Pada saatnya kita akan menyusun rencana sebaik-baiknya”

Dengan demikian, maka di luar pengetahuan Pangeran Ranakusuma, Raden Ayu Galihwarit dan anak laki-lakinya sedang menyusun rencana untuk membunuh Dipanala, orang yang dianggap paling berbahaya baginya.

Akhirnya Mandra dan Rudira menemukan juga orang yang dapat dipercayanya untuk melakukan tugas itu. Mereka adalah kawan-kawan Mandra yang hidup dalam dunia yang gelap, sebagai orang yang mendapatkan nafkahnya dengan cara yang dikutuk oleh sesama.

“Tetapi kau harus berhasil” berkata Mandra kepada mereka.

Salah seorang dari mereka tertawa. Katanya “Pekerjaan itu sama sekali bukan pekerjaan yang sulit bagi kami. Membunuh Dipanala apakah sukarnya?“

“Jangan berkata begitu” sahut Mandra “kadang-kadang ada masalah lain yang berada di luar perhitungan”

“Jangan cemas. Pokoknya kami akan membunuhnya, dan kami harus mendapat upah seperti yang kami minta”

“Aku sudah menyanggupi. Tetapi jika gagal, kalian harus melarikan diri. Jangan sampai ada di antara kalian yang tertangkap hidup dan mengatakah, bahwa akulah yang menyuruh kalian melakukan pembunuhan itu”

“Kami bukan anak-anak lagi. Kenapa kalian harus mengatakan pesan itu?“

“Jangan sombong. Kelemahanmu justru karena kau terlampau sombong. Aku tahu, bahwa kau memiliki kemampuan. Tetapi yang kau hadapi jangan kau anggap ringan, agar kau tidak terjerumus dalam kegagalan”

“Kau terlalu banyak bicara. Nah, beritahukan waktunya, kapan kami harus mencegatnya di bulak Jati Sari”

“Kami akan mengatur sebaik-baiknya”

Demikianlah, maka semuanya segera diatur serapi-rapinya. Raden Ayu Galihwarit berusaha untuk mengetahui dengan pasti, kapan Ki Dipanala akan pergi ke Jati Aking.

“Sudah lama kita tidak mengirimkan perbekalan bagi Juwiring” berkata Raden Ayu Galihwarit.

Pangeran Ranakusuma menjadi heran. Biasanya Galihwarit tidak pernah mempersoalkan perbekalan bagi Juwiring yang tinggal di Jati Aking. Tetapi tiba-tiba kali ini ia mempersoalkannya.

“Siapakah yang akan pergi mengirimkan perbekalan?“ bertanya Pangeran Ranakusuma yang mulai curiga, bahwa kesempatan ini akan dipergunakan oleh Raden Rudira, karena menurut keterangan yang didengarnya Rudira telah tertarik pada gadis padepokan Jati Aking yang bernama Arum, yang membuat Rudira dan Juwiring, dua orang saudara seayah, menjadi semakin renggang.

Tetapi jawaban Raden Ayu Galihwarit ternyata tidak diduganya sama sekali “Bukankah biasanya Ki Dipanala juga yang membawanya ke Jati Aking?“

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia terlampau berprasangka terhadap isteri dan anaknya. Isteri yang justru paling berpengaruh atasnya.

“Baiklah” berkata Pangeran Ranakusuma “biarlah dipersiapkan perbekalan bagi Juwiring. Biarlah Ki Dipanala membawanya ke Jati Aking”

“Semuanya sudah siap. Tentu kita tidak usah mengirimkan beras, karena Jati Sari adalah lumbung beras yang subur”

“Apakah aku pernah mengirimkan beras ke Jati Aking?“ bertanya Pangeran Ranakusuma.

“Tidak. Memang tidak. Maksudku, biarlah Ki Dipanala membawa beberapa lembar kain dan uang. Ki Danatirta tentu memerlukan uang untuk membeayai padepokannya. Mungkin beberapa lembar juga untuk gadis itu”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya isterinya menyebut gadis itu juga. Namun dengan demikian Raden Ayu Galihwarit telah menghilangkan kecurigaan Pangeran Ranakusuma, tentang hal yang lain-lain. Menurut dugaannya, Raden Ayu Galihwarit sedang mengambil hati gadis itu. yang dengan perlahan-lahan akan dipancing ke rumah ini. Tentu saja bagi Raden Rudira.

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak berkeberatan dengan cara itu. Asal Rudira tidak melakukan kekerasan dan merampas gadis itu dari padepokan Kiai Danatirta. Jika dengan cara itu, Arum berhasil diambil masuk ke istana Ranakusuman dan tidak menumbuhkan persoalan apapun dengan Kiai Danatirta, maka Pangeran Ranakusuma tidak akan mencegahnya.

“Mungkin Danatirta memang perlu disumbat mulutnya dengan uang atau Barang-barang lainnya, sehingga ia tidak berkeberatan. melepaskan anaknya. Sedang gadis itu sendiri tidak akan banyak menimbulkan persoalan apabila ayahnya sudah menyerahkannya” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya. Karena bagi beberapa orang bangsawan hal serupa itu bukannya hal yang baru pertama kali akan terjadi. “Bahkan kadang-kadang jika seorang gadis sudah mengandung, maka diserahkannya gadis itu kepada abdinya sebagai triman untuk mendapat pengesahan perkawinan.

Ternyata Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak menduga, bahwa saat yang ditentukan untuk mengutus Ki Dipanala ke Jati Aking itu menjadi perhatian Raden Rudira dan Mandra. Merekapun segera menyiapkan segala sesuatunya. Orang-orang yang ditugaskannya untuk membunuh Dipanala itupun sudah diberitahukannya.

“Jika kalian berempat gagal, maka hancurlah semua rencana. Kalianpun akan digantung karena kalian berusaha membunuh seseorang jika kalian tertangkap”

Salah seorang dari orang-orang itu tertawa berkepanjangan. Katanya “Kau memang banyak bicara Mandra”

“Kaulah yang terlampau sombong” jawab Mandra “Kau tahu bahwa aku dapat membunuh orang seperti kau dengan mudah. Tetapi aku tidak menganggap pekerjaan ini terlampau ringan”

Orang itu masih tertawa. Namun katanya “Baiklah. Aku akan bertindak hati-hati sekali”

“Jangan lupa. pakai pakaian seperti yang aku katakan”

“Agar ujud kami tidak seperti perompok. Tetapi seperti petani biasa, begitu maksudmu?“

“Sebagian begitu”

“Tetapi bagimu sebenarnya lebih aman jika kami berpakaian seperti yang kami pakai. Justru kami akan mempertegas bentuk kami sebagai perampok. Orang-orang akan mengatakan, jika ada. yang melihat, bahwa Ki Dipanala telah dirampok orang. Dan habis perkara”

Mandra mengangguk-angguk. Tetapi agaknya ada niat lain pada Raden Rudira. Ia ingin memberikan kesan, bahwa petani perantau yang mengaku dari Sukawati itu dan kawan-kawannya ternyata telah merampok Dipanala pula di bulak Jati Sari.

Demikianlah semuanya sudah ditentukan. Tetapi ternyata sangat sulitlah bagi Raden Ayu Galihwarit untuk memaksakan keinginannya agar Ki Dipanala dapat pergi ke Jati Aking di malam hari. Yang dapal diusahakan hanyalah memperlambat persiapan agar Dipanala berangkat di sore hari.

“Tunggulah sebentar” berkata Raden Ayu Galihwarit ketika Dipanala mohon diri kepada Pangeran Ranakusuma untuk berangkat ke Jati Aking “Aku masih mempunyai selembar kain lurik yang halus untuk anak Danatirta itu”

“Pemberian Pangeran Ranakusuma sudah terlampau banyak kali ini Raden Ayu” berkata Ki Dipanala.

“Aku sudah menyediakannya, dan aku ingin memberikan kepadanya”

Ki Dipanala tidak dapat menolak lagi. lapun terpaksa menunggu beberapa saat ketika Raden Ayu Galihwarit masih berpura-pura mencarinya.

“Aku sudah menyediakannya. Aku simpan kain itu baik-baik. Tetapi karena itu aku justru lupa. dimana aku menyimpannya”

Ki Dipanala hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, sedang Pangeran Ranakusumapun tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tahu, bahwa isterinya akan menjadi sangat kecewa jika kain yang sudah lama disediakan itu tidak dapat dibawa serta.

Meskipun demikian ketika Raden Ayu Galihwarit terlalu lama belum juga dapat menemukannya, Pangeran Ranakusuma berkata “Biarlah lain kali Dipanala membawanya. Ia masih akan pergi lagi ke Jati Aking”

“Tidak. Tidak untuk lain kali. Tetapi aku ingin kain itu segera sampai ke tangan gadis itu”

Ketika kain yang dicari itu ketemu, maka matahari sudah mulai condong ke Barat. Sejenak Raden Ayu Galihwarit memberikan beberapa pesan agar disampaikan kepada Kiai Danatirta.

“Katakan kepadanya” berkata Raden Ayu Galihwarit “Aku sama sekali tidak mempunyai maksud apa-apa. Persoalannya lepas sama sekali dengan persoalan yang pernah timbul karena tingkah Rudira. Aku benar-benar ingin memberikan sesuatu tanpa pamrih apapun juga”

“Baik Raden Ayu. Biarlah hamba sampaikan kepada Kiai Danatirta dan kepada anak gadis itu sendiri”

“Dan pesanku kepada Juwiring” berkata Raden Ayu Galihwarit “Ia berada di padepokan Jati Aking untuk mempelajari ilmu kajiwan dan kesusasteraan. Jangan terlampau banyak membuang waktunya untuk belajar bertani. Itu tidak penting baginya kelak. Jika ternyata kita melihat hasil yang baik, maka pada saatnya Juwiring kembali ke istana ini, Rudiralah yang akan mempelajari ilmu yang serupa”

Ki Dipanala dan Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Sejenak mereka saling berpandangan, seakan-akan mereka mendapat kesan yang sama, bahwa sebenarnya Raden Ayu Galihwarit memang ingin memisahkan Juwiring dari Arum dan memberikan kesempatan kepada Raden Rudira, meskipun cara yang dipakainya adalah cara yang tampaknya wajar sekali, bahkan terlalu baik terhadap anak tirinya.

Demikianlah mereka berbicara beberapa saat lamanya. Kemudian Ki Dipanalapun minta diri kepada kedua suami isteri itu.

“Hamba akan sampai di Jati Aking senja hari Pangeran” berkata Dipanala.

“Kau akan bermalam?“

“Ya. Hamba memang sering bermalam di padepokan itu”
“Baiklah”

“Tetapi, masih ada satu yang terlupa” berkata Raden Ayu Galihwarit “Aku masih mempunyai sesuatu buat anak-anakmu”

“O, terima kasih. Hamba akan langsung berangkat ke Jati Aking. Besok jika hamba kembali, hamba akan menghadap lagi“

“Ah, kau. Jangan terlalu malas. Bukankah kau dapat melintas halaman belakang dan lewat pintu butulan sejenak menyerahkannya kepada anak-anakmu”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun mengangguk sambil menjawab “Hamba mengucapkan beribu terima kasih”

Maka dengan demikian sebelum berangkat Ki Dipanala masih harus pulang sejenak, untuk menyerahkan sebuah bungkusan kecil kepada anak-anaknya.

“O, jadi ayah belum berangkat?“ bertanya anaknya yang kebetulan ada di halaman.

“Segera akan berangkat. Simpanlah“

“Apakah ini ayah?“

“Nanti kau akan tahu. Ayah akan segera berangkat”

“Apakah aku boleh membukanya”

“Bukalah di dalam rumah. Ayah tergesa-gesa sekali”

“Dimanakah ayah membeli ini?“

“Bukan ayah yang membeli. Tetapi itu adalah hadiah dari Raden Ayu Galihwarit”

“O, hadiah dari Raden Ayu Galihwarit” anaknyapun kemudian berlari menghambur masuk ke dalam rumah untuk segera mengetahui isi bingkisan kecil itu.

Ki Dipanalapun kemudian dengan tergesa-gesa kembali ke istana Ranakusuman untuk sekali lagi mohon diri dan memberitahukan bahwa hadiah itu sudah diserahkannya kepada anak-anaknya.

Ketika kudanya mulai berlari di luar regol istana Ranakusuman Ki Dipanala menengadahkan wajahnya kelangit. Matahari sudah semakin condong. Karena itu maka katanya di dalam hati “Aku akan sampai ke Jati Aking sesudah padepokan itu menjadi gelap. Mudah-mudahan kedatanganku tidak mengejutkan kakang Danatirta”

Sekali Ki Dipanala berpaling. Diamatinya sebungkus kain dibagian belakang kudanya. Kemudian dirabanya sebuah kampil kulit yang diikatkan di lambung kuda itu pula. Di dalam kampil itu disimpannya uang yang harus diserahkannya kepada Kiai Danatirta.

“Banyak sekali yang harus aku bawa kali ini” berkata Ki Dipanala di dalam hati. Sebenarnya ia merasa heran, kenapa tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit menjadi begitu baik terhadapnya. Masih terasa tali-tali yang mengikatnya pada sebatang pohon sawo ketika Raden Rudira menjadi sangat marah kepadanya. Hampir saja ia menjadi pengewan-ewan. Dan sekarang, tiba-tiba anak-anaknyapun telah menerima hadiah dari Raden Ayu yang garang itu.

Tetapi Ki Dipanala sama sekali tidak mengerti bahwa jumlah Barang-barang dan uang yang dibawanya adalah jumlah yang dijanjikan oleh Raden Rudira kepada keempat kawan-kawan Mandra. Jika mereka dapat membunuh Dipanala maka apa yang dibawanya dapat diambilnya. Uang dan Barang-barang yang sebelumnya sudah disetujui jumlahnya.

Bagi Ki Dipanala, Raden Ayu Sontrang itu sedang berusaha untuk membujuk secara halus, agar Arum akhirnya dapat juga diambil ke istana bagi Raden Rudira. Tidak lebih dari dugaan itu. Meskipun dugaan itu sudah cukup membuatnya berkeluh kesah.

“Apakah yang dapat aku katakan kepada kakang Danatirta jika iapun menaruh curiga pula?“ Ki Dipanala bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi Ki Dipanalapun kemudian menggelengkan kepalanya. Dipacunya kudanya semakin cepat. Seleret teringat pula olehnya bulak Jati Sari yang panjang itu.

“Jika ada seseorang yang mengetahui aku membawa barang-barang dan uang, ada juga bahayanya bulak panjang di Jati Sari itu” katanya di dalam hati. Tetapi bagi Ki Dipanala, hal itu tidak begitu dihiraukannya meskipun sekali-sekali ia menyentuh hulu keris yang diselipkan di lambungnya.

Demikianlah kuda itu berpacu semakin lama seakan-akan menjadi semakin cepat. Apalagi ketika Ki Dipanala sudah meninggalkan pintu gerbang kota. Kudanya berlari seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

Di perjalanan Ki Dipanala seakan-akan tidak berhenti sama sekali untuk beristirahat. Hanya jika kudanya terasa terlalu lelah berlari, maka dikuranginya kecepatannya sedikit, dan sekali diberinya kesempatan kudanya minum beberapa teguk air jernih dari parit di pinggir jalan yang dilaluinya.

Meskipun demikian, maka seperti yang sudah diperhitungkan bahwa ketika ia mulai memasuki daerah Jati Sari, maka gelap malampun mulai turun perlahan-lahan.

Tetapi jaraknya sudah tidak terlampau jauh lagi. Ki Dipanalapun mulai merasa tenteram, bahwa ia akan dapat menyampaikan Barang-barang itu kepada yang berhak.

Dalam keremangan malam yang semakin temaram Ki Dipanala memandang bulak Jati Sari yang panjang. Di ujung bulak itu terletak salah satu desa kecil dari kelompok pedukuhan Jati Sari. Dan di seberang bulak sempit berikutnya terletak padepokan kecil Jati Aking.

Sementara itu, disebuah batu ditanggul parit yang membujur di sepanjang bulak itu duduk seseorang yang berpakaian seperti pakaian seorang petani. Tetapi dengan kain yang membelit lambung dan sebuah tutup kepala bambu yang lebar, agaknya petani itu baru saja menempuh sebuah perjalanan yang jauh.

Ia telah duduk diatas balu itu sejak senja mulai turun. Sekali-sekali ia mengedarkan pandangan matanya ke daerah di sekitarnya. Sawah yang terbentang luas. Batang-batang padi yang hijau segar. Satu dua masih dilihatnya beberapa orang berjalan pulang kedesanya masing-masing yang terpencar di sekitar bulak yang luas itu.

“Tentu ada di antara mereka yang sudah melihat aku duduk disini” berkata petani itu di dalam hatinya. Dan iapun tetap duduk saja Di tempatnya ketika seorang petani Jati Sari lewat di jalan di hadapannya”

Petani Jati Sari itupun tidak berhenti dan tidak menyapanya. Ia belum mengenal orang itu. Ia hanya dapat menduga bahwa orang itu adalah seseorang yang sedang beristirahat setelah lelah berjalan.

Dan karena petani yang sedang beristirahat itu tidak mengatakan apa-apa, maka menurut pendapatnya, ia memang tidak memerlukan bantuan apapun juga.

Namun ketika senja menjadi gelap, ternyata bahwa petani itu tidak hanya seorang diri. Ternyata dua orang lainnya telah menyusulnya dan kemudian duduk di pematang, terlindung oleh batang batang padi, dan seorang lagi duduk di seberang jalan, sehingga jumlah mereka semuanya adalah empat orang.

“Apakah orang itu justru sudah lewat?“ bertanya salah seorang dari antara mereka kepada kawannya.

Petani yang bertudung lebar dan duduk diatas batu itulah yang menyahut “Aku berada di sini sejak senja. Ia belum lewat”

Kawannya menarik nafas. Katanya “Jika kita terlambat, kita harus menempuh jalan lain”

“Apa?“ bertanya kawannya.

“Mendatangi padepokan itu”

“Gila. Kau sangka di padepokan itu tidak ada orang lain?”

“Cantrik-cantrik maksudmu? Yang biasanya hanya menyabit rumput? Mereka sama sekali tidak berarti”

“Raden Juwiring?“

“Ah, kita buat ia pingsan dengan sebuah pukulan di tengkuk. Kemudian kita bunuh Dipanala. Kita rampas kembali semua Barang-barang dan uang yang sudah diserahkan kepada Danatirta. Dan jika ada, justru kekayaan padepokan itu dapat kita bawa sama sekali”

“Kau memang gila”

Percakapan itu tiba-tiba terhenti ketika mereka mendengar derap kaki kuda di kejauhan. Sejenak mereka mengangkat kepala untuk mendengarnya. Ketika mereka sudah pasti, maka orang yang berpakaian petani itu berkata “Bersembunyilah. Aku akan menghentikannya”

Yang lainpun segera bersembunyi rapat-rapat. Mereka berjongkok di dalam lumpur berlindung batang-batang padi. Gelap malam yang semakin buram telah menyembunyikan orang-orang itu semakin rapat.

Sejenak kemudian derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin dekat. Meskipun sudah menjadi pekerjaan dan kebiasaan mereka merampok dan menyamun, namun kali ini keempat orang itu masih juga berdebar-debar, karena yang bakal mereka hadapi adalah Ki Dipanala.

“Ia sudah semakin tua” desis salah seorang dari mereka tanpa disadari.

“Kenapa?“ bertanya kawannya.

“Ia tidak akan dapat apa-apa untuk membela dirinya”

“Kau takut?“

“Tidak. Sebaliknya. Kenapa kita harus menyembunyikan diri dan menyergap dengan tiba-tiba”

Kawannya memandanginya sejenak. Namun tiba-tiba kawannya itu tersenyum sambil berbisik “Kau berdebar-debar. Jangan ingkar. Aku juga”

“Ah“ Tetapi ia tidak menyahut. Derap kuda itu terdengar semakin keras seperti detak jantungnya yang menjadi semakin berdentangan di dalam dadanya.

Memang terasa aneh sekali, bahwa kedatangan orang setua Dipanala masih juga mendebarkan jantung. Apalagi mereka berempat, yang selama ini telah menyimpan banyak sekali pengalaman bagaimana mereka harus melayani orang-orang yang akan disamunnya.

Dalam keremangan malam yang menjadi semakin gelap, orang yang duduk diatas batu itu masih juga melihat seekor kuda yang tegar berlari. Semakin lama semakin dekat.

Dan tiba-tiba saja ia berdiri. Dilepaskan tudungnya yang lebar serta dilambaikannya sebagai suatu isyarat.

Bukan saja kuda yang berlari itulah yang agak terkejut karenanya, tetapi Dipanala juga terkejut karena tiba-tiba saja orang yang semula duduk diam itu meloncat ketengah-tengah jalan yang dilaluinya.

Dengan serta-merta Ki Dipanala menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu berdiri tegak sambil meringkik. Tetapi sesaat kemudian kuda itu sudah dapat dikuasainya dan menjadi tenang kembali.
“Ki Sanak” berkata orang yang berpakaian petani dengan tudung yang besar itu “Apakah Ki Sanak akan pergi ke Jati Aking?“

Ki Dipanala menjadi ragu-ragu sejenak. Lalu iapun bertanya “Siapakah kau?“

“Aku petani dari Sukawati.

“He?” Ki Dipanala menjadi ragu-ragu. Dicobanya mengamati wajah orang itu. Ia belum pernah mengenal orang yang berdiri di tengah jalan itu. Meskipun wajahnya yang samar di bawah bayangan kegelapan, namun Ki Dipanala pasti, bahwa ia belum pernah melihat orang itu.

Namun nama petani dari Sukawati seperti yang pernah didengarnya membuat hatinya menjadi berdebar-debar. Nama itu menurut pendengarannya mempunyai arti yang tersendiri.

Sebagai bekas seorang prajurit Ki Dipanala mempunyai naluri yang tajam dalam menghadapi persoalan-persoalan yang meragukannya. Karena itu, sebelum ia berbuat sesuatu, maka iapun memandang ke sekitatnya tanpa disengajanya.

“He, kenapa kau tidak turun dari kuda?“. berkata orang yang berdiri di tengah-tengah jalan itu.

“Apakah maksudmu menghentikan aku?“ bertanya Ki Dipanala.

“Turunlah. Kita akan berbicara. Aku mempunyai beberapa pesan yang harus kau sampaikan kepada Juwiring”

Ki Dipanala menjadi semakin ragu-ragu. Sejenak ia seakan-akan membeku diatas punggung kudanya.

“Turunlah “

Hampir saja Ki Dipanala meloncat turun, jika tangannya tidak menyentuh kampil uang yang diikat di lambung kuda itu, serta beberapa macam barang yang harus diberikannya kepada Juwiring, Kiai Danatirta dan Arum.

“Turunlah “

“Katakanlah pesan itu” berkata Ki Dipanala kemudian “Aku akan segera melanjutkan perjalanan”

“Turunlah. Kau harus berbuat sopan terhadapku”

“Siapa kau sebenarnya?“

“Petani dari Sukawati”

Sekali lagi jantung Ki Dipanala dijamah oleh kebimbangan yang sangat. Tetapi ia masih tetap bertahan duduk diatas kudanya sambil menjawab “Kenapa aku harus turun dari kuda jika aku berhadapan dengan seorang petani meskipun dari Sukawati?“

“Kau belum pernah mendengar siapakah petani dari Sukawati itu?“

Ki Dipanala menggeleng ”Aku belum pernah mendengar“

“Aku adalah Pangeran Mangkubumi”

“Bohong” tiba-tiba Ki Dipanala berteriak. Kini ia yakin bahwa ia berhadapan dengan bahaya. Katanya “Pangeran Mangkubumi yang berpakaian petani tidak akan berkata bahwa inilah Pangeran Mangkubumi. Apakah arti pakaian petani baginya jika ia masih menyebut dirinya Pangeran Mangkubumi”

Namun ternyata penyamun itu masih dapat menjawab dengan tenang “Kepada orang lain aku tidak memperkenalkan diriku yang sebenarnya. Tetapi karena aku mempunyai kepentingan dengan, kau dan Juwiring, maka aku mengatakan siapakah aku. Bukankah Juwiring sudah mengetahui bahwa petani di Sukawati itu sebenarnya adalah Pangeran Mangkubumi?“

Tetapi Ki Dipanala masih juga menjawab dengan keyakinan “Jika benar kau Pangeran Mangkubumi, kau tidak akan menunggu aku lewat, karena kau tidak tahu bahwa aku lewat”

“Kau lupa bahwa aku mempunyai aji Sapta Pameling dan Sapta Pangrungu, Sapta Pangganda dan Sapta Pangrasa. Aku tahu bahwa kau akan lewat dan karena itu aku menunggumu di sini”

“Sekali lagi kau berbuat kesalahan. Jika kau mempunyai aji Sapta Pameling, maka kau tidak memerlukan aku untuk menyampaikan pesanmu kepada Raden Juwiring. Kau dapat duduk di sini dan memanggil Raden Juwiring menghadap dengan aji Sapta Pamelingmu”

Orang yang mengaku petani dari Sukawati itu diam sejenak. Namun kemudian sambil menggeretakkan giginya ia berkata “Turun dari kudamu. Aku tidak peduli apakah kau percaya tentang aku atau tidak”

“Katakan, apa maksudmu” jawab Ki Dipanala tegas.

“Turun dahulu, sebelum aku menyeretmu”

“Aku tidak akan turun”

Orang itu menggeram. Selangkah ia maju, namun Ki Dipanalapun segera mempersiapkan dirinya menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Kini ia benar-benar harus berbuat sesuatu untuk mempertahankan tugasnya, dan sudah barang tentu mempertahankan hidupnya.

Sejenak kemudian, petani itu berdiri tegak. Tetapi ia tidak mau kehilangan korbannya. Jika kuda itu meloncat dan berlari, maka akan lepaslah ia dari tangannya. Karena itu selagi hal itu belum terjadi maka iapun segera memberikan isyarat kepada kawan-kawannya.

Dada Ki Dipanala menjadi berdebar-debar. Ia benar-benar berhadapan dengan empat orang penyamun. Namun demikian timbul juga pertanyaan di dalam hati “Darimana orang ini mengetahui beberapa masalah mengenai Petani dari Sukawati, Raden Juwiring dan bahwa aku akan lewat membawa Barang-barang dan uang bagi padepokan Jati Aking.

Sekilas memang terlintas di dalam benaknya, bahwa di istana Ranakusuman banyak terdapat orang yang tidak menyukainya. Orang-orang yang menjilat dan bahkan Pangeran Ranakusuma berdua. Apalagi Raden Rudira dan orang-orang yang berdiri di belakangnya. Salah seorang dari mereka dapat saja berhubungan dengan para penyamun dan memberitahukan bahwa ia membawa Barang-barang berharga ke Jati Aking.

Tetapi di saat yang gawat itu ia tidak dapat sekedar mencari-cari, siapakah yang telah berbuat jahat dan berkhianat atasnya itu. Yang harus dilakukannya adalah mempertahankan barang-barang yang menjadi tanggung jawabnya.

Bersambung Jilid 06

Bunga Di Batu Karang

Karya : SH Mintardja

Jilid : 06 – 10


Jilid 6 Bab 1 : Bulak Panjang

“MENYERAHLAH” berkata orang yang semula mengaku petani dari Sukawati itu ”Kau memang mempunyai pandangan yang tajam. Kau tidak segera percaya bahwa aku adalah petani dari Sukawati itu”

Ki Dipanala sama sekali tidak menjawab.

“Nah, menyerahlah. Kami akan memperlakukan kau sebaik-baiknya” Berkata orang itu pula “serahkan semua Barang-barang yang akan kau bawa ke Jati Aking”

Ki Dipanala masih tetap berdiam diri.

“Kau hanya seorang diri. Kau tidak akan dapat mengharapkan bantuan siapapun juga di sini. Aku memang masih melihat, seorang dua orang lewat sebelum kau, Jika sekarang masih ada juga yang melihat kita berdiri di sini, mereka tidak akan berani berbuat apapun juga”

“Aku tidak mengharap siapapun juga” desis Ki Dipanala “Aku percaya kepada diriku sendiri”

“Omong kosong“ Orang yang mengaku petani, dari Sukawati itu tertawa ”suaramu bergetar. Kau sedang ketakutan”

“Aku adalah lekas seorang prajurit. Adalah suatu anugerah bahwa aku masih tetap hidup setelah tugasku selesai. Dengan demikian maka mati bagiku bukan lagi bayangan yang menakutkan. Tetapi mungkin bagi kalian, karena selama hidup kalian, kalian selalu berbuat dosa, sehingga mati adalah akhir yang paling mengerikan bagi kalian, kalian akan sengsara di akhirat”

“Tutup mulut” bentak penyamun itu “Jangan menakut-nakuti aku dengan kepercayaan tahyul semacam itu. Tidak seorang pun yang dapat berbicara tentang mati. Tidak ada kehidupan setelah mati itu”

“Jika benar demikian, kenapa aku takut mati?“ potong Dipanala “Apalagi aku percaya bahwa ada kehidupan akhirat yang abadi dan surga yang dijanjikan bagi mereka yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Suci dan tidak ada sekutu bagiNya, dan kepercayaan itulah yang membuat aku semakin tidak takut kepada mati”

“Persetan” sahut penyamun itu “Jika kau tidak takut kepada mati, maka kau akan takut menjelang saat-saat matimu, karena kami berempat dapat berbuat apa saja atasmu sebelum kau mati”

“Aku tidak akan menyerahkan leherku untuk kau jerat”

“Tetapi kau tidak akan berdaya menghadapi kami berempat. Pilihlah. Menyerah, dan aku akan membunuhmu segera, atau kau akan melawan tetapi berakibat sangat buruk di saat menjelang mati”

“Yang kedua. Tetapi tidak seluruhnya. Aku akan melawan dan membuat kalian menyesal sebelum kalian mati”

“Omong kosong“ salah seorang dari para penyamun yang selama itu mengikuti pembicaraan menjadi sangat marah. Lalu “Kita terlalu banyak berbicara. Mari. kita seret dan kita bunuh segera”

“Ya, sekarang” sahut yang lain.

Ki Dipanala tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba kerisnya telah digenggam tangannya.

Hampir berbareng keempat orang itu menyerang. Namun Ki Dipanala sudah bersiap meskipun ia masih diatas punggung kudanya.

Tetapi ternyata bahwa kejutan-kejutan yang sengaja dilakukan oleh orang-orang itu, membuat kuda Ki Dipanala sukar dikendalikan sehingga kadang-kadang hampir saja ia kehilangan kesempatan untuk menghindar dan menangkis serangan-serangan yang mulai berdatangan.

Karena itu, tidak ada cara lain daripadanya adalah turun dari kudanya. Ia sudah tidak melihat lagi kemungkinan untuk menembus kepungan keempat orang itu, karena dua dari mereka berdiri di depan dan dua yang lain di belakang. sehingga kali ini ia harus benar-benar berkelahi.

“Tetapi tentu satu atau dua dari orang-orang ini akan melarikan kudaku” berkata Ki Dipanala itu di dalam hati.

Tetapi itu lebih baik bagi Ki Dipanala daripada dadanya ditembus ujung pedang. Katanya pula di dalam hati “Jika aku berlasil menangkap seorang saja dari keempatnya, maka aku akan dapat mendengar keterangannya dan mencari kuda serta muatannya kembali.

Atas perhitungan itulah maka Ki Dipanalapun kemudian meloncat turun dari kudanya. Dengan demikian ia justru merasa menjadi lebih lincah untuk melawan keempat orang yang mengeroyoknya.

Ternyata bahwa dugaannya tentang kudanya adalah keliru. Tidak seorangpun dari keempat orang itu menghiraukan kuda yang kemudian menepi dan seakan-akan berdiri melihat apakah pemiliknya akan dapat mengatasi kesulitan yang sedang dihadapinya.

Memang tidak seorangpun dari keempat lawannya yang menghiraukan kuda itu. Tugas mereka tidak sekedar merampas Barang-barang yang dibawa oleh Ki Dipanala, tetapi membinasakannya. Itulah sebabnya maka yang penting bagi mereka justru kematian Dipanala. Baru mereka akan menghitung uang dan Barang-barang yang ada padanya, apakah sesuai atau tidak dengan pembicaraan yang telah diadakan.

Tetapi ternyata, meskipun Ki Dipanala sudah menjadi semakin tua, namun ia masih mampu bergerak secepat burung sikatan. Kakinya dengan ringan melontar-lontarkan tubuhnya dan kerisnyapun menyambar-nyambar dengan dahsyatnya di antara kilatan keempat ujung pedang lawannya. Meskipun pedang lawan-lawannya jauh lebih panjang dari keris Ki Dipanala. namun kecepatannya bergerak mampu mengimbangi kecepatan keempat ujung pedang yang lebih panjang itu.

Demikianlah mereka segera terlibat dalam perkelahian yang sengit. Keempat orang penyamun itupun segera mengerahkan kemampuan mereka untuk mengatasi kecepatan bergerak lawannya.

Namun bagaimanapun juga, ternyata bahwa Ki Dipanala memang tidak dapat mengimbangi keempat lawan-lawannya yang juga cukup berpengalaman. Perlahan-lahan semakin jelas, bahwa tenaganya terpaksa harus diperasnya untuk mempertahankan diri. Tetapi dengan demikian maka tenaga itupun menjadi cepat surut.

Sejenak kemudian, maka Ki Dipanalapun mulai terdesak. Ujung senjata lawannya seakan-akan telah mengurungnya, sehingga ia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk menyerang. Semakin lama semakin terasa olehnya, bahwa senjatanya memang terlampau pendek.

Namun demikian tidak terkilas pada Ki Dipanala untuk menyerah. Ia harus bertahan atau menyelamatkan diri. Bukan karena ia takut mati. Tetapi ia harus mendapat keterangan, apakah latar belakang dari penyamun ini. Sekedar Barang-barangnya, atau benar-benar suatu usaha pembunuhan atas dirinya. Jika sekedar perampokan, maka ia harus mendapat keterangan, siapakah yang sudah berkhianat dan memberitahukan kepada para penyamun tentang keberangkatannya dan tentang Barang-barang yang dibawanya. Tetapi menilik tingkah laku dan sikap keempat orang itu, maka perhatian pertama dari mereka adalah kematiannya.

Dengan demikian, maka Ki Dipanala kadang-kadang terpaksa mencari jalan untuk melepaskan diri dari kepungan itu. Namun ternyata ia bahwa kepungan itu cukup rapat, sehingga usahanya selalu sia-sia.

Akhirnya, tidak ada pilihan lain bagi Ki Dipanala selain berkelahi sejauh-jauh dapat dilakukan. Jika ia akhirnya harus mati, maka ia harus memberikan bekas pada perkelahian itu. Lawannyapun harus ada yang mati pula bersamanya.

Karena itu, maka perlawanan Ki Dipanala justru menjadi semakin sengit. Ia berkelahi dengan sepenuh tenaga yang ada padanya, meskipun tenaga itu sudah menjadi semakin susut.

Selagi Ki Dipanala tidak lagi dapat melepaskan diri dari kesulitan itu, maka tiba-tiba seseorang telah berlari-lari diatas pematang yang pendek. Dengan langkah yang ringan ia meloncati parit dan sejenak kemudian ia sudah berdiri di pinggir jalan, di sebelah dari arena perkelahian itu.

“Kenapa kalian berkelahi di sini?“ tiba-tiba saja ia bertanya lantang.

Keempat perampok itu menjadi berdebar-debar. Salah seorang dari mereka menjawab “Jangan hiraukan yang terjadi. Kami adalah penyamun yang sedang menyelesaikan korban kami. Jika kau ikut campur, maka kaupun akan menjadi korban pula meskipun kalian tidak mempunyai apa-apa”

“Aku memang tidak mempunyai apa-apa” berkata orang itu “karena aku kebetulan saja melihat perkelahian ini selagi aku mengikuti arus air untuk mengairi sawah. Tetapi perkelahian yang tidak seimbang ini sangat menarik perhatianku“

“Pergilah, aku tidak memerlukan kau” berkata salah seorang perampok itu “Atau kalau mau nonton, nontonlah, bagaimana kami membantai korban kami yang melawan kehendak kami. Kami tidak memerlukan kau, karena bajupun kau tidak mempunyai”

Orang itu tidak segera pergi. Bahkan selangkah ia maju mendekat. Katanya “Sebenarnya aku tidak baru saja datang ke tempat ini. Aku sudah melihat kau sejak senja. Duduk diatas batu dan mengaku dirimu petani dari Sukawati. Itulah yang menarik perhatianku”

Keempat orang yang sedang berkelahi melawan Ki Dipanala itu tanpa mereka sadari telah menghentikan serangan-serangan mereka, meskipun mereka tetap berdiri melingkari korbannya. Dengan bertanya-tanya di dalam hati mereka memandang orang yang justru berjalan mendekat itu.

“Aku tertarik pada pakaian dan pengakuanmu kepada paman Dipanala” berkata orang itu kepada yang berpakaian seperti petani dari Sukawati “semula aku menyangka, karena aku hanya melihat dari jarak yang agak jauh bahwa kau benar-benar petani dari Sukawati itu. Itulah sebabnya aku menunggu sejenak dan kemudian berusaha mendekat. Tetapi ketika aku melihat kau menyamun, maka aku memastikan bahwa kau sama sekali tidak ada hubungan dengan petani dari Sukawati itu”

“Persetan. Siapa kau?“ bentak orang yang mengaku petani dari Sukawati itu.

Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia melangkah semakin dekat.

Dalam keremangan malam, maka semakin dekat, Ki Dipanalapun menjadi semakin jelas, siapakah orang yang dalang itu. Meskipun ia belum begitu rapat mengenal anak muda itu serapat Raden Juwiring, namun akhirnya ia mengenal juga. Karena itu, maka katanya kemudian “Buntal. Bukankah kau Buntal?“

“Ya paman. Aku tahu benar, bahwa paman sedang dalam bahaya, karena sudah agak lama aku berada di sini, justru karena orang yang berpakaian seperti petani dari Sukawati itu. Pakaian itu sangat menarik perhatianku, sehingga aku mendekatinya dengan diam-diam, karena aku masih meragukannya. Aku mulai curiga karena orang itu tidak mengetahui kedatanganku, sehingga orang itu pasti tidak mempunyai aji Sapta Pangrungu, atau jika bukan aji Sapta Pangrungu maka pendengarannya masih belum terlatih cukup baik untuk menangkap kehadiran seseorang di sekitarnya”

“Gila” potong orang itu “Kau berada pada jarak yang terlampau jauh bagi pendengaran yang bagaimanapun juga tajamnya”

“O. Mungkin begitu. Tetapi akhirnya aku yakin, bahwa paman Dipanala telah dicegat oleh beberapa orang penyamun di bulak Jati Sari yang panjang ini”

“Ya. Aku tidak ingkar. Bukankah aku sudah mengatakan sejak kau datang”

“Tetapi tentu tidak mungkin bahwa aku harus begitu saja meninggalkan paman Dipanala yang sedang menghadapi bahaya maut”

“Siapa, kau sebenarnya, siapa?“

“Paman Dipanala sudah menyebut namaku, Buntal. Aku tinggal bersama-sama Raden Juwiring di padepokan Jati Aking”

Sejenak para penyamun itu termenung. Namun kemudian salah seorang berkata “Ya, bukankah nama itu disebut-sebut juga oleh kawan kita itu?“

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti bahwa orang inilah yang dimaksud oleh Mandra, anak muda yang ada di padepokan yang harus diperhitungkan juga.

“Ya” sahut yang lain “anak ingusan ini memang suka mencampuri urusan orang lain” lalu katanya kepada Buntal “Buntal, aku masih memberimu kesempatan. Aku akan merampok semua milik Ki Dipanala dan membunuhnya sekali karena sudah melawan kehendakku sejak pertama kali aku memberinya peringatan. Pergilah, atau kalau kau mau nonton, nontonlah. Kemudian katakan kepada Raden Juwiring, bahwa kiriman baginya sudah habis dirampok orang, sedang Ki Dipanala sudah terbunuh di tengah jalan sebagai seorang pahlawan yang mempertahankan tanggung jawabnya. Kau mengerti?“

“Sayang, bahwa aku tidak dapat berbuat begitu” jawab Buntal ”Aku mengenal Ki Dipanala dengan baik. Aku mengenal Raden Juwiring yang akan menerima Barang-barang itu, dan bahkan aku tentu akan mendapat bagian pula apabila barang-barang yang akan kau rampok itu sampai ke padepokan”

“He, kau sekedar ingin mendapat bagian? Aku akan memberimu” sahut perampok itu.

“Itu tidak baik. Aku akan menerima barang-barang yang sudah bernoda darah meskipun jika Ki Dipanala terbunuh, tidak ada yang akan dapat mengatakan darimana aku mendapatkannya. Tetapi pada suatu saat orang-orang dari Ranakusuman akan mengenal barang-barang itu. Dan aku akan digantungnya pula. Tetapi jika aku menerimanya langsung dari Ki Dipanala, aku dapat memakainya dengan tenang”

“Diam” bentak orang yang berpakaian seperti petani dari Sukawati “Kau mau pergi atau tidak?“

Buntal menggeleng “Tidak”

“Jika tidak, aku akan membunuhmu”

“Silahkan. Aku akan membantu Ki Dipanala. Jika aku dapat mengurangi seorang saja dari keempat lawannya, maka paman Dipanala akan dapat bertempur dengan baik melawan tiga orang di antara kalian”

“Persetan” tiba-tiba orang yang berpakaian petani itu menggeram “bunuh anak ini. Serahkan Dipanala kepadaku berdua, dan kalian berdua membunuh anak yang gila itu, supaya pekerjaan kita cepat selesai. Setelah anak itu mati dan kau lemparkan ke dalam parit, kita bunuh Dipanala pula”

“Ya“ sahut yang lain “ mencampuri persoalan orang lain.

Orang-orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sejenak kemudian mereka sudah berloncatan menyerang. Yang dua orang menyerang Buntal, dan dua yang lain menyerang Ki Dipanala. Menurut perhitungan mereka, membunuh Buntal tidak memerlukan waktu sepanjang membunuh Ki Dipanala.

Namun baik Buntal, maupun Ki Dipanala sudah siap pula menghadapi segala kemungkinan, sehingga karena itu, maka merekapun masih sempat mengelakkan serangan-serangan pertama itu, dan membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah cepatnya pula.

Dalam pada itu, Buntal yang tidak siap untuk bertempur, tidak membawa senjata yang memadai untuk melawan dua buah pedang di tangan dua orang penyamun yang garang. Yang ada padanya hanyalah sebuah parang pembelah kayu yang dibawanya bersama sebuah cangkul ke sawah. Dan parang itulah yang kemudian dipergunakannya untuk bertempur melawan sepasang pedang lawannya.

Orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu menyangka, bahwa dua orang kawannya akan segera membunuh Buntal. Dengan demikian maka mereka akan segera dapat menyelesaikan Dipanala yang sudah hampir kehabisan tenaga itu. Meskipun ia masih tetap lincah. Tetapi melawan empat orang, ternyata ia tidak dapat berbuat banyak.

Tetapi ternyata perhitungan itu tidak tepat. Meskipun hanya mempergunakan sebilah parang pembelah kayu, namun anak muda yang bernama Buntal itu ternyata memiliki kemampuan yang tinggi. Para penyamun itu tidak mengetahui, betapa tekunnya anak muda ini berlatih. Bagaimana Buntal setiap hari berusaha menambah kekuatan jasmaniah dan keprigelan bermain senjata. Karena itulah, maka melawan dua orang penyamun itu, ia tidak segera dapat mereka kuasai. Bahkan sebaliknya. Buntal sekali-sekali berhasil membuat lawangnya menjadi bingung.

Dalam pada itu, meskipun tenaga Ki Dipanala sudah susut, tetapi kini seakan-akan ia hanya menghadapi separo dari lawan-lawannya yang terdahulu. Karena itu, maka iapun masih juga sempat bernafas. Sekali-kali bahkan ia sempat menyaksikan bagaimana Buntal dengan kekuatannya yang luar biasa kadang-kadang berhasil mendesak lawannya.

Setiap benturan senjata, membuat tangan lawannya menjadi sakit dan pedih. Jika Buntal saat itu menggenggam pedang yang kuat, maka ia akan segera berhasil melemparkan senjata-senjata lawannya apabila lawan-lawannya tidak menghindari benturan langsung dengari senjatanya.

Kali ini lawan-lawannyalah yang berusaha melepaskan senjata buntal. Mereka menyangka bahwa parang pembelah kayu itu akan segera terlepas dari tangan anak muda itu. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Tangan kedua orang itulah yang menjadi pedih. Sehingga karena itu, selanjutnya mereka telah mencoba menghindari benturan-benturan langsung dengan parang itu.

Namun Buntal sendiri menyadari, bahwa parangnya sudah mulai pecah-pecah di bagian tajamnya, karena parang itu tidak terbuat dari besi baja yang baik. Tetapi dengan demikian maka tajam parang Buntal itu bahkan seakan-akan menjadi bergerigi mengerikan.

Demikian perkelahian dikedua lingkaran itu menjadi semakin seru. Ternyata Ki Dipanala yang hanya melawan dua orang lagi itu masih juga mampu bertahan. Bahkan kadang-kadang ia masih sempat mendesak lawannya pula. Sekali-sekali ia berhasil menyerang dengan garangnya sehingga hampir saja mengenai sasaran. Namun, kerja sama dari kedua lawannya benar-benar sangat rapi, sehingga setiap kali, Ki Dipanala harus menarik serangannya karena ia harus menghindari serangan dari lawannya yang lain. Meskipun demikian, setelah lawannya tinggal dua orang, perkelahian itu tidak lagi membahayakan jiwanya, jika ia tidak membuat suatu kesalahan di dalam perlawanannya.

Buntal yang masih muda ternyata agak berbeda dengan Ki Dipanala. Bukan saja ia memiliki kekuatan yang sangat besar, tetapi keringat yang mulai membasahi tubuhnya, membuatnya semakin panas. Apalagi setiap kali kedua lawannya. itu. membuat gerakan-gerakan yang dapat membingungkannya dan bahkan kadang-kadang hampir membahayakan kedudukannya. Itulah sebabnya maka darah mudanyapun semakin lama menjadi semakin panas, dan akhirnya, ketika ujung pedang lawannya menyentuh kulitnya, ia tidak lagi dapat mengekang dirinya.

Ternyata bahwa ujung pedang lawannya itu telah menitikkan darahnya di antara titik-titik keringat. Meskipun tidak begitu dalam dan panjang, tetapi goresan itu benar-benar telah membakar jantungnya.

Meskipun demikian ia tetap sadar, bahwa kedua lawannya mempunyai keuntungan dengan senjata yang lebih panjang dan lebih baik daripadanya, apalagi lawannya bertempur berpasangan

Tetapi Buntal telah berlatih tidak mengenal waktu untuk memantapkan ilmunya. Karena itu, maka sejenak kemudian ketika ia sudah sampai pada puncak kemarahannya, maka tandangnyapun menjadi semakin garang. Serangan-serangannya tidak lagi terkendali. Tangannya yang terjulur tidak lagi ditariknya jika ia melihat lawannya menyeringai. Kini tangannya bagaikan bergerak bebas menurut kehendak sendiri, meskipun tidak lepas dari pusat kemauannya.

Demikianlah akhirnya Buntal semakin sering dapat menguasai lawannya. Semakin lama semakin nyata, sehingga kedua lawannya hampir tidak sempat melakukan perlawanan sebaik-baiknya selain meloncat-loncat surut.

Dalam pada itu, jika Ki Dipanala menghendaki, kesempatan untuk melepaskan diri kini sudah terbuka luas. Tetapi Ki Dipanala tidak mau melakukannya lagi, karena di antara perkelahian itu terdapat Buntal. Dengan demikian, maka iapun telah mengambil keputusan untuk bertempur terus bersama-sama dengan anak muda yang telah menolongnya itu.

Tetapi keadaan Ki Dipanala sudah menjadi semakin baik. Ia dapat bertahan dari serangan-serangan kedua orang lawannya bagaimanapun juga mereka berusaha. Bahkan sekali-sekali ia masih sempat melihat di dalam keremangan malam, Buntal melontarkan diri dengan kecepatan yang mengagumkan, menyerang kedua lawannya berganti-ganti.

Ternyata bahwa kedua lawan Buntal itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Mereka benar-benar mendapat lawan yang tidak terduga-duga. Mereka yang menyangka bahwa untuk membunuh anak muda itu tidak diperlukan waktu yang lama, tetapi ternyata bahwa dua orang itu justru semakin lama menjadi semakin terdesak.

Dalam pada itu, orang yang mengaku dirinya petani dari Sukuwati itu harus mengambil langkah untuk mengatasi kesulitan ini. Karenu itu, maka dengan tergesa-gesa ia kemudian berkata kepada seorang kawannya yang berkelahi bersama-sama melawan Ki Dipanala ”Bantulah kedua kawan-kawanmu itu untuk mempercepat kerja mereka. Bunuh saja anak itu tanpa belas kasihan karena ia sudah mengganggu tugas kami. Serahkan Ki Dipanala kepadaku”

Seorang kawannya itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian dilepaskannya Ki Dipanala dan iapun segera bergabung dengan kedua kawannya yang lain.

Dengan demikian maka orang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati itu harus bertempur melawan Ki Dipanala seorang lawan seorang. Betapapun, beratnya ia harus berusaha bertahan, meskipun hanya sekedar berloncat-loncatan. Ia berharap bahwa tiga orang kawannya itu akan segera dapat menyelesaikan anak muda yang bernama Buntal itu.

Namun kemarahan Buntal menjadi kian memuncak. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi tiga orang lawan. Bahkan seakan-akan ia mendapat kesempatan untuk berlatih menghadapi bahaya yang sebenarnya. Bukan sekedar latihan-latihan di dalam sebuah bangsal yang tertutup rapat, bersama dengan orang-orang yang setiap hari sudah diketahui tingkat ilmunya dan yang berkembang bersama-sama.

Ternyata bahwa Buntal mampu bertahan melawan ketiga orang itu. Bahkan ketika ia mengerahkan segenap kemampuannya, masih tampak bahwa ia kadang-kadang memiliki kesempatan untuk menguasai perkelahian itu meskipun dengan susah payah, karena lawan-lawannyapun telah memeras segenap kemampuan mereka untuk segera menghentikan perkelahian. Tetapi agaknya kedua belah pihak tidak segera berhasil. Kedua belah pihak seakan-akan memiliki kesempatan yang seimbang.

Tetapi petani yang menyebut dirinya berasal dari Sukawati itulah yang kemudian mengalami, kesulitan karena ia harus melawan Ki Dipanala seorang diri. Meskipun Ki Dipanala seorang diri. Meskipun Ki Dipanala sudah menjadi semakin tua, tetapi bahwa ia bekas seorang prajurit yang memiliki kemampuan yang tinggi masih tampak pada sikap dan tata geraknya.

Apalagi agaknya Ki Dipanala tidak mau melepaskan peluang itu, selagi la mendapat kesempatan. Karena itulah maka ia justru berusaha segera mengalahkan lawannya, sebelum ketiga orang penyamun yang lain dapat mengalahkan Buntal.

Tetapi baik yang berkelahi melawan Ki Dipanala, maupun yang bertempur bertiga melawan Buntal, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan dapat memenangkan perkelahian itu.

Itulah sebabnya penyamun yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu harus menyadari keadaannya. Ia tidak boleh mengingkari kenyataan itu. Bahwa pada suatu saat, maka dirinya pasti akan dikalahkan oleh Ki Dipanala. Kemudian ketiga kawannya itupun seorang demi seorang akan berjatuhan.

“Tentu tidak menyenangkan digantung di alun-alun karena aku telah menyamun utusan Pangeran Ranakusuma” berkata penyamun itu di dalam hatinya “dan terlampau sulit bagiku untuk mengkaitkan diriku dengan Raden Rudira. Dengan mudah ia akan dapat ingkar, dan justru menuduhku telah memfitnahnya“

Berbagai pertimbangan di kepala penyamun itu, agaknya telah mendorongnya untuk mengambil suatu sikap. Daripada ia harus mengalami siksaan untuk mengaku siapakah yang telah memerintahkannya, jika tidak, dari siapa ia mengetahui bahwa Dipanala membawa Barang-barang berharga, dan kemudian digantung di alun-alun, maka lebih baik bagi mereka untuk melarikan diri. Kemungkinan itulah satu-satunya yang dapat ditempuh dalam, keadaan seperti ini, selagi kekuatan mereka masih utuh, sehingga sambil melarikan dri, mereka masih dapat melawan sejauh-jauh dapat dilakukan apabila kedua lawannya mengejarnya.

Akhirnya, penyamun yang berpakaian seperti seorang petani itu mengambil keputusan, bahwa mereka harus lari. Karena itu, maka iapun segera memberikan isyarat, dengan sebuah suitan yang nyaring, agar kawan-kawannya melepaskan lawannya.

Demikianlah, maka seperti berebut dahulu, para penyamun yang tidak dapat mengingkari kenyataan itu berloncatan menjauhi lawannya, dan kemudian bersama-sama melarikan diri meninggalkan calon korbannya yang gagal.

Tetapi ternyata bahwa Buntal tidak melepaskan mereka begitu saja. Dengan serta merta ia meloncat dan menerkam salah seorang penyamun itu, yang justru baru saja melepaskan Ki Dipanala dan berlari tidak jauh dari Buntal menyusul kawan-kawannya.

Sejenak mereka berguling-guling. Namun Buntal tidak mau melepaskannya.

Dengan sekuat tenaganya, penyamun yang mengaku dirinya sebagai petani dari Sukawati itu mencoba melepaskan diri. Tetapi kejutan-kejutan yang tiba-tiba, dan yang karena itu telah membantingnya ke tanah, telah melepaskan senjatanya dari tangannya. Karena itu yang dapat dilakukannya adalah melawan Buntal dengan tangannya.

Tetapi Buntalpun cukup tangkas. Sebuah pukulan mengenai tengkuk orang itu, sehingga pandangan matanyapun kemudian menjadi berkunang-kunang. Hampir saja ia menjadi pingsan.

Namun dengan demikian, maka kekuatannyapun bagaikan lenyap sama sekali. Selagi ia bertahan agar matanya tidak menjadi gelap sama sekali, Buntal telah berhasil memilin tangannya ke punggungnya dan menekan tubuhnya pada tanah berbatu-batu.

Dalam pada itu, kawan-kawannya yang sedang berlari sejenak berhenti termangu-mangu. Tetapi mereka melihat Ki Dipanala telah siap untuk melawan mereka. Apa lagi ketika mereka melihat kawannya itu sama sekali tidak berdaya.

Karena itulah maka mereka menganggap bahwa lebih baik lari menyelamatkan diri daripada ikut tertangkap seperti kawannya yang seorang itu.

Ki Dipanala yang sebenarnya sudah cukup payah tidak mengejar ketiga penyamun yang sedang berlari. Baginya cukup seorang saja yang dapat ditangkap. Yang seorang ini pasti akan dapat memberikan banyak, keterangan. Bahkan dari yang seorang ini pasti akan diketahui dimana persembunyian ketiga kawan-kawannya itu.

Karena itu, ketika Ki Dipanala melihat Buntal memilin tangan orang itu sehingga orang itu menyeringai kesakitan iapun segera mendekatinya.

“Jangan, jangan kau patahkan tanganku“ Orang itu hampir berteriak.

“Kau harus dibunuh karena kau sudah berniat membunuh paman Dipanala”

“Tidak. Aku tidak benar-benar akan membunuhnya. Aku hanya akan merampas Barang-barangnya”

“Aku tidak percaya. Kau sudah siap membunuhnya. Karena itu, kaupun harus mati.

Buntal yang marah itupun segera menarik rambut orang yang sudah tidak berdaya itu. Sekali ia membenturkan kepala orang itu pada batu yang berserakkan di sepanjang jalan.

“Jangan“ Orang berteriak.

“Jangan” terdengar suara Ki Dipanala di belakang Buntal.

“Aku akan membunuhnya” berkata Buntal ”Aku akan membunuh dengan tanganku”

“Kau tidak dapat membunuhnya. Orang ini harus diserahkan kepada wewenang yang akan mengadilinya. Kita tidak dapat menghukumnya sendiri”

“Tetapi ia adalah seorang penyamun paman. Ia akan membunuh kita jika kita tidak membunuhnya”

“Ia tidak berhasil membunuh kita”

“Kita membela diri”

“Kita sudah menangkapnya. Ia sudah tidak akan dapat melawan lagi”

“Tidak ada orang yang tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya”

“Kita masing-masing mengetahuinya”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang saat dirinya sendiri terbaring di jalan ini pula. Di buIak Jati Sari, pada saat ia diketemukan oleh Juwiring dan Kiai Danatirta. Orang-orang hampir saja membunuhnya pula karena ia disangka berbuat jahat atas Arum. Padahal ia tidak berbuat apa-apa pada waktu itu. Sedang orang ini adalah seorang penyamun.

Namun ia masih mendengar Ki Dipanala berkata “Kita harus dapat menguasai diri kita sendiri. Sebagai seorang yang berperi-kemanusiaan, kita wajib menghidupinya. Selain itu kita masih mempunyai kepentingan dengan orang ini. Ia adalah sumber keterangan yang dapat kita pergunakan untuk mencari jejak perampokan ini”

Buntal mengangguk-angguk. Perlahan-lahan dilepaskannya orang yang sudah tidak berdaya itu.

Ketika Buntal sudah berdiri, maka Ki Dipanalapun berkata kepada penyamun itu “Berdirilah. Aku memerlukan kau”

Dengan tubuh gemetar orang itupun merangkak. Dari dahinya masih mengalir darah yang hangat, meskipun tidak begitu banyak.
Buntalpun kemudian memungut pedang orang itu dan parangnya sendiri. Ia masih memerlukan parang itu untuk membelah kayu di padepokan atau untuk kepentingan yang serupa di sawah.

“Cepat berdiri” berkata Ki Dipanala “Kita akan meneruskan perjalanan ini ke Jati Aking. Kau akan tinggal semalam di sana. Besok kau akan aku bawa ke Surakarta, dan aku serahkan kepada yang berwenang mengadilimu. Tetapi sebelumnya aku ingin tahu, siapa kau dan siapakah yang menunjukkan kepadamu tentang Barang-barang dan uang yang aku bawa”

Orang itu sama sekali tidak menyahut. Dengan lengan bajunya ia mengusap darah yang meleleh didahinya.

“Cepat. Kita akan segera meneruskan perjalanan Jati Aking sudah dekat”

Tertatih-tatih orang itu berdiri. Badannya masih terasa lesu dan lemah. Tangannya terasa sakit bukan buatan karena Buntal benar-benar hampir mematahkannya.

“Kita berjalan” berkata Ki Dipanala “Kita tidak akan berbicara di sini tetapi di Jati Aking”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun Buntal mendorongnya sambil berkata “Cepat, sebelum aku mendorongmu dengan ujung pedang Berterima kasihlah bahwa kau masih tetap hidup”

“Tetapi, tetapi aku tidak tahu apa-apa.

“Jangan berkata sekarang. Kita akan berbicara di padepokan Jati Aking”.

Orang itu terdiam. Ketika ujung pedangnya sendiri yang kini berada di tangan Buntal menyentuh punggungnya, maka iapun. berjalan dengan langkah yang sangat berat.

“Ambil tudung kepalamu” berkata Buntal, kemudian “supaya lengkap pakaianmu. Pakaian petani dari Sukawati”

“Bukan maksudku” sahut orang itu gemetar “Aku hanya, ingin menakut-nakuti Ki Dipanala”

“Ambillah“

Orang itupun segera membungkuk mengambil tudung kepalanya yang terjatuh di tengah-tengah jalan.

Adalah di luar dugaan siapapun, bahwa sesuatu yang mengejutkan telah terjadi. Ketika orang yang membungkukkan badannya mengambil tudung kepalanya itu berdiri tegak, maka tiba-tiba saja ia memekik tinggi. Sejenak tubuhnya terhuyung-huyung, sehingga Buntal dengan serta-merta menangkapnya.

“Kenapa?“ bertanya Ki Dipanala.

Orang itu mengerang sekali. Namun kemudian tubuhnya menjadi tidak berdaya.

“Panah ini paman. Panah”

“He?”

Dan keduanya dengan mata terbelalak melihat sebuah anak panah menancap tepat di dada orang itu.

“Gila” teriak Ki Dipanala.

Buntal tidak berkata apapun juga. Diletakkannya orang itu, kemudian iapun meloncat berlari ke arah anak panah itu dilepaskan.

“Buntal, Buntal, jangan” teriak Ki Dipanala “berbahaya bagimu”

Tetapi Buntal tidak menghiraukannya. Ia belari terus sambil berloncatan di tanggul parit, untuk menghindari bidikan anak panah atas dirinya.

Tetapi terlambat. Sebelum Buntar menemukan seseorang di dalam kegelapan, ia melihat dua sosok bayangan di kejauhan menghilang ke dalam gerumbul. Ia masih akan mengejar terus. Namun sejenak kemudian derap dua ekor kuda yang meluncur dari balik gerumbul itu telah memecah sepinya malam.

“Gila. Gila” teriak Buntal seorang diri. Di saat ia dapat mengerti betapa pentingnya orang yang ditangkapnya itu bagi keterangan seterusnya, maka seseorang telah membunuhnya dengan licik sekali.

Sambil mengumpat-umpat Buntal berlari-lari kembali mendapatkan orang yang telah terbaring di tanah. Diam. Meskipun masih terdengar nafasnya satu-satu, tetapi orang itu hampir sudah tidak memiliki kesadaran akan dirinya lagi.

Sambil menempelkan mulutnya di telinga orang itu Ki Dipanala berkata “Sebutkan, siapakah yang telah menyuruhmu mencegat aku. Tentu orang yang membunuhmu itu. Aku berjanji akan mencarinya dan membalas dendam bagimu”

Yang terdengar hanyalah desah nafas yang semakin lambat dan tidak teratur.

“Apakah kau masih dapat mendengar suaraku” desak Ki Dipanala “sebut saja namanya. Aku akan berbuat sesuatu untukmu dan untuk diriku sendiri”

Orang itu mencoba menggerakkan bibirnya. Tetapi ia hanya mampu menyeringai dan berdesah. Kemudian sebuah tarikan nafas yang panjang. Sesaat kemudian maka orang itupun telah melepaskan nafasnya yang terakhir.

“Ia sudah mati” desis Ki Dipanala.

Buntal menggeretakkan giginya. Bukan saja ia ikut merasa kehilangan kemungkinan untuk mengetahui siapakah orang ini sebenarnya, tetapi ia juga merasa tersinggung oleh perbuatan pengecut itu.

Dengan wajah yang tegang Buntal menyaksikan Ki Dipanala menarik anak panah dari tubuh orang itu, dan kemudian memperhatikannya dengan saksama. Tetapi di dalam gelapnya malam ia tidak dapat menemukan. sesuatu pada anak panah itu. Karena itu maka katanya ”Aku akan membawa anak panah ini”

Buntal mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu memperhatikan anak panah itu, karena perhatiannya tiba-tiba saja tertarik kepada kuda Ki Dipanala yang justru sedang mengunyah rumput yang segar.

Tetapi niatnya meminjam kuda itu untuk mengejar orang-orang yang lelah membunuh penyamun itu dengan licik diurungkannya karena ia menyadari bahwa pada kuda itu tersangkut Barang-barang yang bernilai dan uang.

Buntal tersandar ketika Ki Dipanala memanggilnya dan berkata “Marilah kita bawa orang ini ke padepokanmu“

“Baik, baik paman”

“Marilah Kita sangkutkan saja tubuhnya pada kuda itu. Kita akan melaporkannya besok kepada Ki Demang di Jati Sari, agar ada kesaksian atas peristiwa yang baru saja terjadi“

Demikianlah mayat orang itupun kemudian disangkutkannya pada Kuda Ki Dipanala, setelah Barang-barang yang akan diserahkan kepada orang-orang di Padepokan Jati Aking disisihkan, agar tidak bernoda darah.

Di dalam keremangan malam, Ki Dipanala dan Buntal berjalan menuntun kuda yang membawa mayat penyamun yang terbunuh itu. Beribu-ribu pertanyaan bergulat di dalam hati mereka. Dan adalah tiba-tiba saja Buntal itu bertanya “Siapakah orang yang membunuh penyamun ini paman? Apakah ia ingin menolong kita, atau sebaliknya?“

“Sebaliknya Buntal” jawab Ki Dipanala “Orang itu pasti berhubungan rapat dengan penyamun ini. Bahkan menurut dugaanku, orang itulah yang telah menyuruh penyamun ini merampok dan membunuhku”

“Jika demikian, kenapa ia tidak membunuh paman saja dengan anak panahnya?“

“Mungkin aku berdiri di balik orang yang terbunuh itu, sehingga seolah-olah aku telah dilindunginya tanpa sengaja. Tetapi mungkin atas dasar perhitungan yang lain. Jika ia membunuh aku, maka kau akan dapat bertindak cepat. Menyingkirkan orang itu dan berusaha mendapatkan orang yang telah melepaskan anak panah itu”

“Orang itu dapat menyerang aku selagi aku menghindari panah dari kawan mereka”

“Kau dapat melumpuhkannya dengan cepat, tanpa membunuhnya dan melemparkannya ke dalam parit atau di balik pematang. Dan orang yang bersembunyi itu tentu tidak yakin, apakah ia dapat membunuhmu, karena ia melihat bagaimana kau dengan tangkas berhasil melawan penyamun-penyamun itu” sahut Ki Dipanala, lalu “Atau atas perhitungan yang lain lagi, aku tidak tahu. Tetapi yang paling pasti bagi mereka untuk menghilangkan jejak percobaan pembunuhan ini adalah membunuh orang yang dapat menjadi sumber keterangan”

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia merenungi kata-kata Ki Dipanala itu.

Namun tiba-tiba langkah mereka tertegun ketika dari arah yang berlawanan mereka melihat sebuah bayangan hitam mendekat. Semakin lama semakin dekat.

Namun agaknya bayangan ilupun menjadi ragu-ragu. Langkahnya diperlambat dan sikapnya menjadi sangat berhati-hati.

“Siapa?“ Buntallah yang bertanya pertama-tama.

“Buntalkah itu?“ terdengar orang itu justru bertanya.

“Ya, aku”

“Aku mengenal suaramu”

“Kakang Juwiring. Aku juga mengenal suaramu. Aku datang bersama paman Dipanala”

“O“ bayangan yang ternyata adalah Raden Juwiring itupun kemudian menjadi semakin dekat, lalu “Kami di padepokan menjadi cemas karena kau terlalu lambat pulang. Ternyata kau bertemu dengan paman Dipanala di bulak Jati Sari”

“Ya” sahut Buntal.

Namun ketika Juwiring menjadi kian dekat, maka dilihatnya sesosok tubuh yang tersangkut di kuda Ki Dipanala, sehingga dengan serta-merta ia bertanya “Siapakah itu paman Dipanala?“

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Ceriteranya cukup panjang Raden. Tetapi pada pokoknya, ada usaha untuk membunuhku”

“Dan paman membunuhnya lebih dahulu?“

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Bukan aku yang membunuhnya dan bukan Buntal”

“Jadi?”

Sebelum Ki Dipanala menjawab, Juwiring berseru dengan tegang “Petani itu?“

“Bukan” sahut Juwiring “Bukan petani itu. Justru ia berpakaian mirip sekali”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu “Baiklah. Aku akan bertanya lebih banyak lagi di padepokan. Tadi ayah Danatirta menjadi sangat cemas, kenapa Buntal terlambat sekali kembali ke padepokan dari sawah. Ternyata ada sesuatu yang telah terjadi”

Demikianlah maka merekapun berjalan semakin cepat kembali ke padepokan Jati Aking. Untunglah bahwa di sepanjang jalan mereka tidak bertemu lagi dengan seseorang. Bahkan ketika mereka memilih jalan sempit di padukuhan sebelum mereka sampai ke padepokan Jati Aking, mereka juga tidak menjumpai seorangpun. Apalagi dengan sengaja mereka menghindari jalan yang di tunggui oleh para peronda di gardu-gardu.

Ketika mereka sampai di padepokan, ternyata bahwa sosok mayat itu telah mengejutkan penghuni-penghuninya. Arum yang masih juga duduk di pendapa bersama ayahnya menunggu kedatangan Buntal dan Juwiring. menjadi termangu-mangu.

“Aku telah mengejutkan kakang Danatirta” berkata Ki Dipanala.

“Ya. Aku terkejut sekali. Tetapi marilah, naiklah”

Setelah mengikat kendali kudanya, maka Ki Dipanalapun segera naik ke pendapa. Sekali-sekali ia masih berpaling memandang mayat yang tersangkut di punggung kudanya. Namun ia masih juga membiarkannya.

”Kau benar-benar mengejutkan. aku. Siapakah yang kau bawa diatas punggung kuda itu?“

“Kita harus melaporkannya kepada Ki Demang, kakang. Agar ada kesaksian, bahwa aku tidak membunuh orang”

Ki Danatirta mengangguk-angguk. Katanya “Tetapi kau belum mengatakan kepadaku, siapakah orang itu. Dan dimana kau berjumpa dengan Buntal dan Juwiring”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Raden Juwiring juga ingin mendengar tentang orang itu. Aku belum mengatakan kepadanya. Tetapi Buntal mengetahui sendiri, apa yang sudah terjadi di bulak Jati Sari”

Kiai Danatirta memandang Juwiring dan Buntal berganti-ganti. Namun kemudian kalanya kepada Ki Dipanala “Katakanlah”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun mulai mericeriterakan apa yang dialaminya di bulak Jati Sari yang panjang itu.

Kiai Danalirla, Arum dan Juwiring mendengarkan dengan penuh perhatian. Bahkan sekali-kali mereka mengangguk-angguk, dan kadang-kadang menggeleng-gelengkan kepalanya

“Aku memang hampir mati” berkata Ki Dipanala. Lalu “Untunglah Buntal berhasil menolongku. Aku belum sempal mengucapkan terima kasih kepadanya”

“Aku hanya sekedar membantu” berkata Buntal “Paman sendirilah yang sebenarnya telah menyelamatkan diri sendiri”

Seakan-akan tidak mendengar kata-kata Buntal, Ki Dipanala berkata selanjutnya “Aku ikut berbangga, bahwa anak padepokan Jati Aking memiliki ketangkasan jasmaniah seperti Buntal, dan sudah barang tentu Raden Juwiring”

Mereka melatih diri mereka sendiri sahut Kiai Danatirta.

Ki Dipanala tidak membantah, tetapi senyum di bibirnya melantarkan suatu sikap hatinya terhadap anak-anak muda yang berada di padepokan Jati Aking.

Namun kemudian terdengar Kiai Danatirta bertanya “Jadi kau sama sekali tidak mengetahui, siapakah yang sudah melepaskan anak panah itu?“

Dengan ragu-ragu Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak kakang”

“Apakah peristiwa ini didahului dengan kejadian-kejadian yang dapat menarik suatu dugaan tentang peristiwa itu?“

Sekali lagi Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Juga tidak”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Jika demikian persoalan ini akan tetap menjadi gelap. Apakah kau tidak mempunyai bahan sama sekali untuk mengurai peristiwa ini?”

Ki Dipanala masih menggelengkan kepalanya.

“Tidak kakang. Tidak ada apa-apa yang dapat aku pergunakan sebagai bahan” katanya kemudian.

“Baiklah” berkata Kiai Danatirta “besok kita akan memperhatikan tempat itu. Mungkin kita dapat menemukan sesuatu” ia berhenti sejenak, lalu “sekarang, bagaimana dengan mayat itu?“

“Aku akan membawanya kepada Ki Demang agar aku tidak mendapat tuduhan yang bukan-bukan” sahut Ki Dipanala.

“Baiklah. Buntal akan menyertaimu”

“Aku akan ikur serta dengan paman Dipanala” berkata Raden Juwiring.

Kiai Danatirta berpikir sejenak. Kemudian jawabnya “Pergilah. Kalian dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi”

Demikianlah maka mereka bertigapun segera pergi ke Kademangan meskipun malam menjadi semakin malam. Mereka tidak ingin terlambat apabila kemudian timbul persoalan karena kematian penyamun itu.

Barulah ketika Ki Demang di Jati Sari mengerti akan persoalan yang sebenarnya terjadi, Ki Dipanala dapat bernafas lega, seakan-akan ia telah terbebas dari kemungkinan yang dapat menyeretnya ke dalam kesulitan.

“Biarlah anak-anak meletakkan mayat itu di banjar” berkata Ki Demang kemudian “besok mereka akan menguburnya”

“Baiklah Ki Demang. Aku mengucapkan terima kasih atas pengertian Ki Demang tentang peristiwa ini”

Demikianlah, maka mayat itupun kemudian diusung oleh anak-anak muda yang sedang meronda ke banjar Kademangan untuk mendapat perawatan sebagaimana seharusnya besok pagi.

Dalam pada itu, Ki Dipanala bersama Juwiring dan Buntalpun segera kembali ke Padepokan. Setelah mereka membersihkan diri masing-masing, maka merekapun duduk kembali di pendapa. Tetapi Ki Dipanala tidak menambah keterangannya mengenai orang yang terbunuh itu.

“Orang itu akan tetap merupakan suatu teka-teki Ki Dipanala” berkata Kiai Danatirta “Ia sudah membawa rahasia tentang dirinya ke dalam kubur”

Ki Dipanala nanya mengangguk-angguk saja. Namun ketika tiba-tiba ia teringat akan Barang-barang dan uang yang dibawanya, maka iapun segera berkata “Aku akan menyerahkan Barang-barang itu kepada kakang Danatirta sekarang. Barang-barang itu membuat diriku diintai oleh bahaya maut”

“Aku mengucapkan banyak terima kasih” berkata Kiai Danatirta.

Ki Dipanala tidak menyahut. Iapun segera pergi ke kudanya dan mengambil Barang-barangnya serta uang di dalam kampil yang tersangkut di lambung kudanya pula.

”Bukan main” berkata Kiai Danatirta “pemberian Pangeran Ranakusuma bagi Juwiring dan keluarga padepokan ini terlampau banyak sekali ini. Ditambah lagi dengan uang dan kain untuk Arum”

Raden Juwiring mengerutkan keningnya melihat Barang-barang itu. Ia belum pernah menerima kiriman sebanyak itu. Namun sejenak kemudian ia tersenyum “Kita akan mengucapkan terima kasih kepada ayahanda Pangeran Ranakusuma dan ibunda Galihwarit”

Ki Dipanala tersenyum. Jawabnya “Aku. akan menyampaikannya bersama laporan tentang diriku sendiri”

Demikianlah pemberian itu bukan hanya, untuk Juwiring saja, tetapi keluarga padepokan Jati Aking itu mendapat bagiannya masing-masing.

Namun demikian hal itu ternyata justru telah menimbulkan berbagai pertanyaan di hati Kiai Danatirta meskipun tidak diucapkannya. Sekali-sekali dipandanginya wajah Ki Dipanala yang seolah-olah di saput oleh mendung yang membayangi sebuah rahasia. Tetapi Kiai Danatirta tidak bertanya apapun. Bahkan dengan sebuah senyum di bibir ia berkata “Nah anak-anak, bawalah pemberian yang banyak sekali ini ke dalam. Simpanlah baik-baik dan. kita akan mempergunakan dengan baik pula”

“Baiklah” sahut Raden Juwiring. Lalu diajaknya Buntal dan Arum membawa Barang-barang itu masuk ke dalam.

“Tetapi uang ini?“ bertanya Juwiring kepada Kiai Danatirta.

“Bawalah masuk. Simpanlah. Kita akan memerlukannya”

Ketiga anak muda itupun segera masuk ke dalam. Disimpannya
Barang-barang itu dengan baik. Namun sekali-sekali Arum masih juga melekatkan kain di badannya sambil berkata “Bagus sekali. Aku kira aku pantas mempergunakan kain ini”

“Pantas sekali” berkata Juwiring “kau akan bertambah cantik”

“Ah“ wajah Arum menjadi kemerah-merahan. Diletakkannya kain itu sambil berkata “Terlalu baik. Aku tidak pantas memakainya”

“Kenapa?“ bertanya Juwiring “Ayahanda dan ibunda Galihwarit menghadiahkannya kepadamu”

Arum tidak menjawab. Tetapi sekali lagi kain itu diraihnya dan dibentangkannya diatas amben sambil tersenyum-senyum.

Buntal yang duduk di sudut ruangan merasa seakan-akan ia dihadapkan pada sebuah cermin untuk melihat dirinya sendiri. Tidak ada seorangpun yang mengirimkan apapun kepadanya seperti Juwiring. Tidak ada sanak keluarganya yang memiliki sesuatu untuk diberikannya kepada Arum. Apalagi kain sebagus itu, dan sebenarnyalah akan membuat Arum semakin cantik. Bahkan untuk dianya sendiri, ia kini menggantungkan sama sekali kepada pemberian Kiai Danatirta.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa dirinya menjadi semakin kecil disisi Juwiring. Juwiring putera seorang Pangeran yang kaya. Meskipun ia tersisih, tetapi ayahnya masih juga mumberikan barang-barang sejumlah itu. Ia tidak dapat membayangkan, berapa nilai barang-barang itu. Apalagi Pangeran Ranakusuma masih juga menyertakan uang di dalam kampil untuk Kiai Danutirta.

Buntal terkejut ketika Juwiring berkata “He Buntal, kau dapat memilih. Manakah yang paling sesuai bagimu?“

Anak muda itu memaksa bibirnya untuk tersenyum. Katanya “Aku sesuai dengan semuanya itu”

Juwiring tertawa pendek. Lalu “Kita akan memilih sendri mana yang kita sukai dari kiriman-kiriman ini” ia berhenti sejenak, lalu ”dan yang paling berhak memilih lebih dahulu adalah Buntal, selain yang memang khusus untuk Arum, karena Barang-barang ini hampir saja lenyap dibawa penyamun. Bukan saja Barang-barang ini, tetapi bahkan jiwa paman Dipanala sendiri“

“Ya” sahut Arum “tanpa kau kakang Buntal, maka kita tidak akan melihat paman Dipanala membawa barang-barang ini sampai ke padepokan”

“Ah“ Buntal berdesah “hanya suatu kebetulan”

“Bukan suatu kebetulan saja. Jika kau tidak tertarik kepada orang yang berpakaian petani, itu, maka yang terjadi akan berbeda sekali”

Buntal tidak menyahut.

“Nah pilihlah. Kemudian aku akan memilih pula setelah Kiai Danatirta dan tentu saja kita tidak akan dapat melupakan paman Dipanala. Hidupnya sendiri tidak begitu baik. Ia menerima upah yang sangat sedikit dari ayahanda. Tetapi ia adalah orang yang setia”

Dalam pada itu, selagi anak-anak muda di dalam sedang sibuk membicarakan Ki Dipanala, di pendapa, Kiai Danatirta mulai bertanya bersungguh-sungguh “Dipanala. Apakah kau benar-benar tidak dapat menduga, siapakah yang sudah melakukannya dan apakah kau tidak mendapatkan tanda apapun dalam perkelahian itu?“

Ki Dipanala memandang pintu yang sudah tertutup. Kemudian ia berkata lambat “Mungkin aku dapat menduga kakang. Tetapi sekedar menduga. Jika dugaanku salah, maka aku sudah berdosa menuduh orang yang tidak bersalah”

“Tetapi bukankah kau belum berbuat apa-apa” sahut Kiai Danatirta “Kita baru menduga. Tentu saja dugaan kita mungkin keliru”

Ki Dipanala itupun tiba-tiba berdiri. Katanya “Aku membawa anak panah yang menghunjam di dada orang yang terbunuh itu”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menyahut Ki Dipanala sudah melangkah turun dari pendapa.

Dari pelana yang dilepasnya dari punggung kudanya, ia mengambil sepucuk anak panah dan dibawanya naik ke pendapa. Ia berhenti sejenak di bawah nyala pelita. Sambil mengerutkan keningnya ia mengamat-amatinya dengan saksama.

“Kau mengenalnya?“ bertanya Kiai Danatirta.

Ki Dipanalapun kemudian duduk kembali di hadapan Kiai Danatirta. Keningnya masih berkerut-merut Sedang tatapan matanya menjadi agak tegang,

“Bagaimana?”Kiai Danatirta mendesak.

“Kakang. ada semacam perasaan takut padaku untuk menerima kenyataan ini. Aku memang sudah mencurgainya. Pemberian Pangeran Ranakusuma yang berlebih-lebihan dan caranya melepaskan aku pergi ketika aku berangkat”

“Jadi bagaimana?“

“Semula aku tidak memikirkannya, bahwa Raden Ayu Galihwarit berusaha memperlambat keberangkatanku. Ada-ada saja alasannya, sehingga aku akhirnya berangkat sesudah lewat tengah hari, bahkan sudah sore hari. Dengan demikan menurut perhitungan mereka, aku akan sampai di bulak Jati Sari setelah gelap”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk ketika Ki Dipanala menceriterakan kembali, bagaimana sikap Raden Ayu Galihwarit sebelum ia berangkat.

“Dan anak panah itu?”

Ki Dinanala menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia mengamat-amati anak panah yang bernoda darah itu.

“Ada seribu anak panah yang mirip bentuknya” berkata Ki Dipanala.

“Ya” sahut Kiai Danatirta “barangkali kau tidak akan dapat mengenal anak panah sebuah demi sebuah. Tetapi apakah sepintas lalu, kau pernah melihat anak panah seperti itu?“

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Mungkin belum. Tetapi aku sudah dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi sebelumnya, sehingga karena itu, aku merasa seakan-akan aku mengenal anak panah ini”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Katanya “Ya, kau memang takut melihat kenyataan. Kau kecewa sekali bahwa hal semacam itu sudah terjadi atasmu, sehingga kau berusaha untuk mengaburkan penglihatanmu atas kenyataan itu. Ternyata kau masih seorang yang setia terhadap Pangeran Ranakusuma. meskipun ada semacam persoalan yang bergejolak di dalam hatimu. Tetapi kesetiaanmu ternyata berbeda dengan kesetiaan Sura pada waktu itu dan mungkin Mandra pada waktu ini. Kau adalah seorang yang benar-benar setia. Bukan sekedar menjilat dan menundukkan kepala dalam-dalam. Tetapi kau berani menyebut kesalahan dan kecurangan keluarga istana Ranakusuman justru karena kesetiaanmu itu. Tetapi tidak banyak orang yang mengerti, bahwa demikianlah adanya. Justru karena itulah, maka kau menjadi orang yang paling dibenci di Ranakusuman”

“Mungkin kakang benar. Aku memang cemas dan bahkan takut melihat perkembangan yang terjadi di istana Ranakusuman. Mungkin aku memang orang yang setia, yang ingin memperingatkan dengan niat baik. Kadang-kadang aku mencoba mencegah dan bahkan aku menghalang-halangi”

“Kenapa mereka tidak mengusir kau saja daripada mereka harus bertindak kasar dan licik semacam itu? Meskipun kau belum mengatakan, tetapi aku sudah menduga, apa yang ada di dalam hatimu. Yang menakut-nakutimu dan yang membual kau menghindari penglihatanmu atas kenyataan itu”

Ki Dipanala tidak menyahut.

“Ki Dipanala, apakah anak panah itu. anak panah Raden Rudira?“

Ki Dipanala tidak segera menyahut. Wajahnya menjadi kemerah-merahan. Sesuatu agaknya sedang bergejolak di dalam hatinya.

Sejenak kemudian terdengar suaranya parau “Aku tidak tahu kakang. Aku tidak tahu”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Kali ini kau tidak usah mengingkari kata hatimu Dipanala. Kau sudah berada di ujung tanduk seekor kerbau liar yang dungu. Kau harus melihat kenyataan itu dengan dada terbuka”

Ki Dipanala tidak segera menjawab.

“Menurut urutan ceriteramu Dipanala, ternyata bahwa orang orang di istana Ranakusuman, Setidak-tidaknya sebagian dari mereka memang berusaha membunuhmu. Kau tidak disukai di Ranakusuman, tetapi mereka tidak dapat mengusirmu. Dan kau juga tidak dapat meninggalkan mereka seperti Sura, karena kau bukan sekedar penjilat yang akan lari jika tidak ada lagi tulang-tulang yang dilemparkan kepadanya. Kau adalah seorang yang sadar akan diri dan harga dirimu” Kiai Danatirta berhenti sejenak! lalu “Namun demikian kaupun harus melihat kenyataan yang dapat terjadi”

Ki Dipanala menjadi tegang sejenak. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Dipanala. Sebenarnya kau dan aku sependapat. Setidak-tidaknya kita menduga, benar atau salah, bahwa ada yang dengan sengaja menjerumuskan kau ke dalam suatu perangkap pembunuhan. Salah atau benar, kita sama-sama menduga bahwa yang berusaha menutup mulut penyamun itu untuk selama-lamanya adalah orang-orang Ranakusuman. Karena kita tahu, bahwa Raden Rudira adalah seorang pemburu yang cakap, maka ia akan dapat membidik dengan tepat meskipun di malam hari”

Kepala Ki Dipanala menjadi semakin tunduk. Kata-kata Kiai Danatirta itu bagaikan guruh yang melingkar-lingkar di kepalanya. Namun ia tidak dapat lari dari suara itu, karena di dalam hatinya suara itupun telah berkumandang sebelum Kiai Danatirta mengucapkannya.

“Bagaimana menuruti pendapatmu Dipanala?“ “Ki Dipanala masih terdiam sejenak.

“Apakah kau tidak berani melihat hal itu?“

Ki Dipanala menarik nafas dalam sekali. Katanya “Aku memang takut melihatnya. Tetapi aku tidak dapat lari dari pengakuan itu”

“Kau sependapat?“

Ki Dipanala menganggukkan kepalanya ”Ya kakang”

“Nah, jika kau sependapat, maka kita akan dapat melhat lebih jauh lagi. Kenapa di saat kau dijerumuskan ke dalam tangan para penyamun justru kau harus membawa Barang-barang yang cukup banyak beserta uang sekampil?“

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tdak tahu kakang. Mungkin orang-orang yajg ingin membunuhku itu benar-benar membuat kesan, seakan-akan aku telah dirampok”

“Jika Barang-barang itu hilang, atau jika kau sama sekali tidak membawa apa-apa, bukankah sama saja akibatnya bagi orang lain yang menemukan kau mati di tengah bulak?“

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Namun sekali lagi ia menggeleng “Aku tidak mengerti. Perhitungan apakah yang membuat mereka berbuat demikian”

“Kita memang tidak dapat menebak semua teka-teki dari percobaan pembunuhan ini. Tetapi bersukurlah kepada Tuhan bahwa kau telah terlepas dari bencana“

Ki Dipanala tidak segera menyahut. Namun iapun menyadari bahwa ia masih dilindungi oleh Tuhan Yang Tunggal, sehingga ia selamat dari tangan para penyamun itu, dengan membiarkan Buntal tetap berada di sawah meskipun langit menjadi buram, karena ia melihat orang yang berpakaian seperti petani dari Sukawati itu.

“Semua itu adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” katanya di dalam hati.

“Dipanala” berkata Kiai Danatirta kemudian “Jika kita tetap tidak dapat memecahkan teka-teki tentang Barang-barang yang justru kau bawa, apakah kau dapat mencari alasan, kenapa kau akan dibunuhnya? Apakah sekedar karena kau pernah berusaha mencegah Raden Rudira membawa Arum?“

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku dan Sura memang pernah diikat pada sebatang pohon di halaman istana Pangeran Ranakusuma. Aku dan Sura akan mendapat hukuman cambuk di hadapan para abdi di Ranakusuman”

“Tetapi bukankah keluarga Sura dan keluargamu tinggal di dalam dan di belakang halaman istana itu?“

Ki Ki Dipanala mengangguk.

“Jadi bagaimana jika keluargamu, anak-anakmu dan anak-anak Sura melihatnya?“

“Mungkin memang itulah yang dimaksudkannya”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi aku dapat memaksa Pangeran Ranakusuma dan isterinya yang cantik itu untuk mengurungkan niatnya” desis Dipanala.

“Itulah yang aku heran. Kadang-kadang kau berhasil memaksakan pendapatmu” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Tetapi hal itu pulalah agaknya yang telah membuat mereka ingin membunuhmu. Memang ada dua kemungkinan. Raden Rudira yang membencimu karena ayahandanya selalu mendengarkan kata-katamu atau Pangeran Ranakusuma sendiri atau Raden Ayu Galihwaritlah yang ingin membunuhmu, karena kau terlampau berpengaruh atas mereka karena sesuatu sebab”

“Agaknya kedua-duanya kakang. Meskipun yang satu tidak tahu alasan yang tepat dari yang lain, namun ada semacam pertemuan pendapat, bahwa aku memang harus dilenyapkan. Raden Rudira tentu tahu rencana ini, ternyata jika dugaan kita benar, maka ia telah membunuh penyamun itu. Menurut dugaanku pula Raden Ayu Galihwaritpun tahu akan rencana ini, karena ia telah memperlambat keberangkatanku”

“Bagaimana dengan Pangeran Ranakusuma?“

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu kakang. Tetapi tampaknya Pangeran Ranakusuma acuh tidak acuh saja atas rencana ini”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Namun kemudian ia bertanya “Tetapi apakah alasan Raden Ayu Galihwarit? Apakah seperti juga Raden Rudira yang sakit hati karena Pangeran Ranakusuma selalu mendengar kata-katamu “

Ki Dipanala terdiam sejenak. Sekali lagi ia berpaling memandang piatu yang sudah tertutup.

“Kakang, dimanakah anak-anak itu?“

“Mereka ada di dalam. Agaknya mereka sedang sibuk dengan barang-barang kiriman yang kau bawa. Selama ini mereka hanya mengenal kain lurik yang kasar. Sedang yang kau bawa adalah kain yang halus dan Barang-barang yang jarang dan bahkan hampir tidak pernah dilihat oleh Arum dan Buntal”

Ki Dipanala mengangguk-angguk pula. Tetapi seakan-akan ia tidak yakin bahwa anak-anak itu tidak mendengar pembicaraan itu.

“Adayang ingin aku katakan kakang. Tetapi aku berharap agar anak-anak itu tidak mendengarnya. Pengaruhnya agak kurang baik bagi mereka”

Kiai Danatirtapun mengangguk. Agaknya yang akan dikatakan oleh Ki Dipanala adalah suatu rahasia yang lama disimpannya.

“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya kepada siapapun. Juga kepada kakang, orang yang paling aku percaya. Tetapi karena tindakan yang telah diambilnya adalah suatu pembunuhan, maka ada baiknya orang lain mengetahuinya. Jika pada suatu saat aku benar-benar mati, maka ada orang yang tahu alasan sebenarnya atas kematianku itu”

Kiai Danatirta merenungi wajah Ki Dipanala sejenak. Kemudian iapun berdiri sambil berkata “Coba aku lihat anak-anak itu”

Ketika Kiai Danatirta masuk ke ruang dalam, maka ternyata ruangan itu sudah sepi. Barang-barang yang-semula di bentang selembar demi selembar, telah tersusun rapi dan diletakkan dalam tumpukan yang teratur di geledeg. Bahkan di sampingnya terletak kampil yang berisi uang.

Kiai Danatirta menarik nafas. Anak-anak, itu tentu menganggap bahwa tidak akan ada seorangpun yang akan mengusik Barang-barang itu. Apalagi mengambilnya, karena padepokan ini memang tidak pernah kehilangan karena tangan seseorang. Jika ada barang yang hilang itu hanyalah disebabkan kekurang telitian dari antara mereka yang menyimpan Barang-barang itu dan barang itu tidak dapat diketemukan lagi. Tetapi mungkin sebulan dua bulan barang yang hilang itu tanpa disengaja telah dijumpai oleh seseorang yang justru tidak sedang mencarinya.

Dengan hati-hati Kiai Danatirta pergi ke bilik Arum. Dilihattiya dari sela-sela daun pintu yang tidak tertutup rapat, gadis itu telah terbaring di pembaringannya meskipun agaknya belum tertidur.

Dari bilik Arum, Kiai Danatirta pergi ke bilik Juwiring dan Buntal. Keduanyapun sudah ada pula di dalam biliknya, meskipun keduanya masih berbicara tentang sesuatu.

Kiai Danatirta itupun segera kembali ke pendapa. Mereka sengaja berbicara di pendapa, tidak di pringgitan, agar tidak mudah orang lain ikut mendengarnya justru karena pendapa itu terbuka.

“Kakang” berkata Ki Dipanala kemudian “sebenarnya ceritera ini sudah berlangsung lama. Dan karena ceritera inilah maka aku seakan mempunyai pengaruh di Ranakusuman meskipun aku tidak disukai oleh siapapun juga”

Kiai Danatirta tidak menyahut. Dibiarkannya Ki Dipanala meneruskan ceriteranya.

“Adalah suatu kebetulan pula bahwa aku melihat hal itu terjadi. Dan karena itu pula aku seakan-akan mempunyai perbawa atas Raden Ayu Galihwarit. Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat untuk memerasnya. Aku sudah berjanji untuk merahasiakan apa yang sudah terjadi itu. Namun agaknya Raden Ayu. Galihwarit selalu dihantui oleh bayangannya sendiri, la selalu curiga kepadaku. Bertahun-tahun hal itu terjadi. Tetapi pada suatu saat, karena persoalan-persoalan lain yang berkembang, agaknya sampai juga suatu keputusan pada Raden Ayu Galihwarit untuk membunuhku”

Kiai Danatirta hanya mengangguk-angguk saja. Ia ingin segera mendengar ceritera yang sesungguhnya, sehingga Raden Ayu Galihwarit harus mengambil sikap itu. Membunuh atau mendengar setiap pendapat Dipanala.

“Pada saat itu. Raden Ayu Galihwarit sedang berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk menyingkirkan Juwiring. Dengan berbagi macam cara dan hasutan, sehingga akhirnya Pangeran Ranakusuma mulai mendengar kata-kata itu” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “Namun di samping itu, Raden Ayu Galihwarit mulai dihinggapi penyakit yang sekarang menjadi semakin parah”

Kiai Danatirta hanya mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk saja.

“Pada suatu malam, selagi aku pergi ke tempat seorang saudaraku, aku melihat sebuah kereka berhenti di pinggir jalan di pinggirkota, di bawah bayangan kegelapan. Aku menjadi curiga. Semula aku mengira saisnya tentu sedang mempunyai kepentingan di kegelapan. Dan menurut dugaanku kereta yang bagus itu tentu kosong. Jika ada penumpangnya,saisitu tentu tidak akan berani berhenti. Apalagi menurut dugaanku kereta itu tentu kereta seorang perwira kumpeni” Ki Dipanala berhenti sejenak, kemudian di teruskannya “Tetapi kemudian aku melihatsaisitu berdiri bersandar sebatang pohon agak jauh dari keretanya. Kemudian berjalan mondar-mandir. Aku menjadi semakin heran. Timbullah keinginanku untuk mengetahui, apakah yang sebenarnya sudah terjadi. Karena itu, dengan diam-diam aku mendekati kereta itu tanpa diketahui oleh saisnya” tiba-tiba saja Ki Dipanala menjadi tegang. Katanya “Kakang, peristiwa berikutnya adalah peristiwa yang paling kotor yang pernah aku lihat”

“Apa?“

“Setelah aku berhasil mendekati kereta yang memang berada di kegelapan itu, aku mendengar suara di dalamnya. Suara seorang perempuan dan seorang laki-laki. Menilik warna suaranya tentu seorang laki-laki asing” nafas Ki Dipanala serasa menjadi semakin cepat mengalir “Kakang, aku tidak tahan menyaksikan hal serupa itu. Orang asing itu telah mengotorikotaini dengan kebiadaban. Aku mengira bahwa mereka yang katanya membawa peradaban yang tinggi, ternyata memiliki tata kesopanan yang sangat rendah. Mereka akan mencemarkan namakotaini dengan perbuatan yang kotor di jalan-jalan. Karena itu, dengan tidak sabar aku meloncat. Dengan sekuat tenaga aku tarik pintu kereta yang sekaligus terbuka” Dada Ki Dipanala menjadi seakan-akan berdebaran meskipun ia hanya sekedar berceritera. Lalu suaranya menjadi terputus-putus “Tetapi, tetapi sama sekali tidak aku duga. Ketika pintu itu terbuka, seseorang telah terdorong dan jatuh keluar. Seorang perempuan. Kemudian disusul seorang laki-laki asing meloncat pula. Tetapi, yang sama sekali tidak aku duga. ternyata perempuan itu bukannya perempuan yang aku sangka diambilnya di pinggir jalan. Perempuan itu adalah Raden Ayu Galihwarit yang sejak sore pergi memenuhi undangan perwira asing yang mengadakan pertemuan makan bersama dengan beberapa orang bangsawan. Tetapi karena kesibukannya, maka Pangeran Ranakusuma sendiri tidak dapat datang dan membiarkan isteriiya dijemput dan diantar kembali ke istana Ranakusuman. Tetapi agaknya yang mengantar Raden Ayu Galihwarit saat itu adalah seorang perwira kumpeni yang, gila dan setengah mabuk”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa bulu-bulunya meremang juga. Itulah sebabnya maka istana Ranakusuman menjadi penuh dengan berbagai macam Barang-barang hadiah dari orang-orang asing itu. Barang-barang yang tidak terdapat diSurakartasendiri.

Sejenak kemudian, setelah menarik nafas dalam-dalam, Ki Dipanala meneruskan “Kakang dapat membayangkan, bagaimana perasaan Raden Ayu Galihwarit yang kemudian dibantu oleh orang asing itu berdiri memandang aku. Meskipun di dalam kegelapan, tetapi ia segera mengenal aku pula.

“Dipanala” katanya dengan suara gemetar.

Aku menjadi bingung. Tetapi akupun kemudian mengangguk sambil menjawab “Ya Raden Ayu”

Sejenak Raden Ayu Galihwarit memandang aku. Kemudian terdengar la menggeram “Apakah kau sudah gila?“

“Maaf Raden Ayu, hamba tidak tahu”

“Gila. Kenapa kau mencampuri persoalan orang lain. Seandainya kau tidak tahu siapa yang ada di dalam, apakah hubunganmu dengan hal ini?”

“Ampun Raden Ayu.Hamba adalah seorang penghunikotaini. Hamba tersinggung bahwa hal ini sudah terjadi di jalan-jalan raya dikotaSurakartayang amat hamba junjung tinggi ini”

“Tetapi itu bukan urusanmu”

“Terdorong oleh rasa tanggung jawab hamba semata-mata, ataskotaini”

“Kakang Danatirta, sebenarnya aku sudah akan berlutut minta maaf kepada Raden Ayu Galihwarit. Tetapi orang asing yang agaknya sudah dapat mempergunakan bahasa kita itu ikut memaki. “Kau memang anjing tidak tahu diri” katanya. Dan Raden Ayu itu tidak melindungi aku sama sekali, bahkan iapun memaki “Kau merupakan malapetaka bagiku Dipanala”

“Ampun Raden Ayu, hamba tidak akan berbuat apa-apa. Hamba akan pergi dan melupakan apa yang pernah hamba lihat ini”

Raden Ayu Galihwarit memandangku dengan tajamnya. Namun agaknya Raden Ayu Galihwarit tidak mempercayaiku.

“He anjing busuk” berkata kumpeni itu “Kau berani mengganggu Raden Ayu dan aku ya? Kau sudah menghina aku”

“Ia sangat berbahaya bagiku” berkata Raden Ayu Galihwarit kepada orang asing itu.

“Jadi apakah maksud Raden Ayu orang ini dilenyapkan saja?“

Dadaku berdesir mendengar pertanyaan itu. Dan apalagi setelah aku mendengar jawabnya “Terserahlah kepada tuan”

Hatiku bergejolak mendengar orang asing itu tertawa. Apalagi ketika tiba-tiba saja tangannya meraba sesuatu di balik bajunya. Aku tahu, bahwa ia mengambil senjata api. Jika senjata api itu meletus, sebutir peluru akan menembus dadaku dan aku akan mati seketika, sedang tidak akan seorangpun di sekitar tempat itu yang akan berani berbuat sesuatu, karena mereka sadar bahwa suara itu adalah suara senjata yang sangat menakutkan.

Tetapi alangkah takutnya aku kepada mati pada waktu itu. Kematian bagiku lebih menakutkan daripada kumpeni itu dan juga daripada Raden Ayu Galihwarit. Itulah sebabnya aku tiba-tiba saja berbual sesuatu untuk menghindarkan diri dari kematian.

Ketika aku melihat tangan orang asing itu menggenggam benda yang menakutkan itu tiba-tiba saja aku kehilangan pertimbangan lain. Aku menganggap bahwa membela diri adalah jalan satu-satunya untuk melepaskan diri dari ketakutanku akan mati. Karena itu ketika orang asing itu mengacungkan senjatanya kepadaku, tiba-tiba saja aku meloncat. Dengan kakiku aku berhasil menghantam pergelangan tangannya sehingga senjata itu terloncat dari tangannya sebelum meledak.

Tetapi orang asing itu sama sekali tidak kehilangan akal. lapun segera mencabut pedangnya yang panjang. Dengan serta merta ia mencoba menusuk dadaku dengan pedang itu. Untunglah aku masih sempat menghindar. Namun ia benar-benar bertekad membunuhku, sehingga iapun segera memburu.

Akupun telah bertekad membela diriku. Karena itu maka tiba-, tiba saja kerisku sudah berada di dalam genggaman tanganku.

Jilid 06-Bab 2 : Sais

Ternyata bahwa orang asing itu tidak begitu pandai berkelahi. Ia hanya dapat mengayun-ayunkan pedangnya. Tetapi kakinya seolah-olah mati. Ia mempercayakan tata geraknya pada gerak tangannya. Tetapi aku tidak demikian bodohnya. Aku mempergunakan semua anggauta badan kita. Kaki dan tangan. Karena itu, ketika aku meloncat-loncat ia menjadi bingung.

Aku sendiri tidak ingat lagi. Aku sadar ketika aku mendengar orang asing itu mengeluh tertahan. Suaranya serak dan kemudian hilang ditelan seninya malam. Yang terdengar kemudian adalah suara tubuh itu roboh di tanah. Mati. Ternyata aku telah menusuknya tepai di dadanya.

Raden Ayu Galihwarit melihat perkelahian itu dengan tubuh gemetar. Dengan suara yang parau ia berkata “Kau gila Dipanala. Kau dapat dibunuh oleh kumpeni. Kau sudah membunuh seorang perwira. Dan kau akan menebus kebodohanmu”

“Tidak ada orang yang melihat pembunuhan ini”

“Aku dansaisitu”

Aku berpaling. Aku lihatsaisitupun ketakutan berdiri disisi sebatang pohon yang besar.

“Saisitu tidak mengenal hamba“ kataku. Aku tidak tahu dari mana aku mempunyai keberanian untuk berbantah dengan Raden Ayu Galihwarit.

“Aku mengenalmu. Aku dapat mengatakan kepada Pangeran Ranakusuma dan kepala pimpinan kumpeni bahwa kau telah membunuh salah seorang dari mereka”

“Raden Ayu tidak akan mengatakannya”

“Kenapa tidak? Aku akan mengatakannya. Dan kau akan digantung di alun-alun, atau dipancung di perapatan”

Tetapi aku tetap menggeleng dan berkata perlahan-lahan “Jangan terlalu keras Raden Ayu. Hamba tidak mausaisitu mendengar dan mengetahui tentang hamba”

“Aku akan mengatakan. Aku akan mengatakan”

“Raden Ayu tidak akan mengatakan. Baik kepada kumpeni, kepada Pangeran Ranakusuma maupun kepadasaisitu. Bukankah dengan demikian Raden Ayu akan membuka rahasia Raden Ayu sendiri? Selama ini Pangeran Ranakusuma kadang-kadang bertanya-tanya juga, kenapa Raden Ayu sering sekali mengunjungi makan bersama dengan orang-orang asing itu meskipun pada saat-saat Pangeran Ranakusuma berhalangan. Ternyata justru saat-saat yang demikian itulah yang menyenangkan bagi Raden Ayu. Apakah Raden Ayu tidak mengetahui, bahwa perasaan seorang suami kadang-kadang tergetar jika isterinya berbuat seperti apa yang Raden Ayu lakukan meskipun tidak melihatnya sendiri? Apakah Raden Ayu tidak mencemaskan kemungkinan yang buruk bagi Raden Ayu jika Pangeran Ranakusuma mengetahui hal ini”

“Tidak ada yang mengetahuinya”

“Hamba dansaisitu. Jika tuan berusaha menjerumuskan hamba ke tiang gantungan atau hukuman apapun, maka hambapun akan sampai hati pula mengatakan kepada siapapun tentang Raden Ayu”

“Kumpeni tidak akan percaya. Seandainya percaya, maka mereka pasti akan merahasiakannya, karena banyak sekali di antara mereka yang terlibat dajam keadaan yang sama. Bahkan bukan dengan aku sendiri.Adaputeri-puteri bangsawan yang lain yang melakukan seperti yang aku lakukan”

“Tetapi Raden Ayulah yang paling menonjol di antara mereka itu”

“Tutup mulutmu”

“Dan Raden Ayupun akan menutup mulut. Jika Raden Ayu sampai hati membunuh hamba, hambapun akan sampai hati mengatakan yang terjadi. Mungkin Kumpeni tidak akan mempercayai bahwa ada perwira-perwiranya yang berbuat demikian, atau dengan sengaja menyembunyikan kenyataan itu, karena sebagian besar dari mereka terlibat. Namun hati Pangeran Ranakusuman pasti akan terketuk. Jika Pangeran Ranakusuma menangkap getaran isarat dalam lubuk hatinya, maka tuan akan mengalami nasib yang kurang baik. Bukankah isteri Pangeran Ranakusuma tidak hanya seorang? Dan bukankah isteri yang lain meskipun tidak selincah Raden Ayu tetapi ia adalah seorang isteri yang setia? Dan apakah tuan tahu, betapa pahitnya perasaan seorang suami jika mengetahui bahwa isterinya tidak setia seperti Raden Ayu meskipun Pangeran Rana kusuma adalah seorang suami yang longgar, yang memberi banyak kesempatan kepada Raden Ayu untuk keluar rumah tanpa suaminya. Apalagi tuan sudah berbuat tidak senonoh dengan seorang asing, seorang bule“

“Diam, diam“

“Jangan berteriak. Aku mencegah. Tetapi wajah Raden Ayu Galihwarit menjadi pucat.

“Nah Raden Ayu“ kataku kemudian “terserahlah kepada Raden Ayu. Sebelum ada orang yang mengetahui tentang aku, maka aku akan pergi. Tetapi jika hamba ditangkap oleh siapapun juga karena membunuh kumpeni. hamba akan mengatakannya juga kepada siapapun. bahwa tuan sudah berbuat sesat. Maka nama Raden Ayu, seorang puteri bangsawan yans menjadi isteri seorang Pangeran pula. akan tercemar. Dan tuan akan tersisih dari pergaulan. Mungkin Raden Ayu akan disingkirkan dari Ranakusuman dan ayahanda Raden Ayu tidak akan menerima Raden Ayu lagi. Dengan demikian Raden Ayu akan dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada Raden Ayu. Terasing dan dihinakan oleh seluruh rakyatSurakarta. Yang terbayang pada Raden Ayu hanyalah tinggal satu jalan, semakin jauh terperosok ke dalam kesesatan”

“Tidak, tidak” tiba-tiba Raden Ayu Galihwarit menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Terdengar isak tangisnya tertahan-tahan.

“Sudahlah Raden Ayu“ kataku kemudian aku akan pergi dan hentikan semuanya yang pernah Raden Ayu lakukan, mumpung belum ada seorangpun yang mengetahui dari keluarga tuan. Dari keluarga Ranakusuman, apalagi putera Raden Ayu yang meningkat dewasa itu”

Aku tidak menghiraukannya lagi. Akupun segera pergi meninggalkannya. Meninggalkan Raden Ayu Galihwarit yang sering disebut Raden Ayu Sontrang itu, dan mayat seorang kumpeni di pinggir jalan yang sepi. Aku tidak peduli lagi kepadasaisyang aku sangka ketakutan itu”

“Kenapa sekedar kau sangka?“ tiba-tiba Kiai Danatirta bertanya.

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Danatirta sejenak, lalu “Ceriteranya masih panjang kakang. Apakah kakang tidak menjadi jemu?“

“Ceriterakanlah” berkata Kiai Danatirta kemudian. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. “Aku ingin mendengar kelanjutan ceriteramu. Nanti saja kau makan hidangan yang ada. Sekarang kau berceritera terus”

Ki Dipanala tersenyum. Namun dari matanya memancar perasaannya yang pahit mengenangkan apa yang pernah terjadi itu.

“Jadi, aku sudah membunuh seorang kumpeni kakang”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya “Itulah yang ingin aku katakan. Jadi perwira kumpeni yang mati itu kaulah yang membunuhnya?“

Ki Dipanala mengangguk.

“Ternyata Raden Ayu Galihwarit benar-benar tidak membuka rahasiamu”

“Ya kakang. Raden Ayu Galihwarit tidak membuka rahasiaku. Ia tidak mengatakannya kepada siapapun. Dan akupun memenuhi janjiku pula. Aku merahasiakannya. Tidak seorangpun yang pernah mengetahui hal itu terjadi. Kepada kakangpun baru sekarang aku mengatakannya” Ki Dipanahi berhenti sejenak, lalu “Agaknya sesuatu telah menggerakkan hati Pangeran Ranakusuma. Tetapi, meskipun ia mulai curiga, bahkan anak laki-lakinya itupun mulai bertanya-tanya tentang tabiat ibunya, namun Pangeran Ranakusuma itu masih saja membiarkannya berbuat demikian. Mungkin Pangeran itu ingin menemukan bukti-bukti yang mantap”

“Jadi Raden Ayu itu tidak sembuh meskipun kau pernah menemukannya?“

“Hanya untuk beberapa waktu. Tetapi penyakit, itu kambuh kembali. Namun aku semula tidak mempedulikannya lagi. Aku tidak akan mencampuri persoalannya. Jika aku membunuh orang asing itu, sama sekali bukan karena aku ingin mencampuri persoalan Raden Ayu Galihwarit meskipun hatiku menjadi sakit sekali”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk.

“Dansaisitupun tidak mengatakan kepada siapapun juga tentang kau dan tentang Raden Ayu Sontrang?“

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Sekarang tidak dapat berkata kepada siapapun juga”

“Kenapa?“

“la sudah mati”

“Mati?“

“Ya”

“Apakah Raden Ayu Galihwarit mencurigainya dan menyuruh seseorang membunuhnya”

Sejenak Ki Dipanala termenung. Namun kemudian katanya-lambat “Akulah yang membunuhnya”

“Kenapa kau?“

“Saisitu sebenarnya sama sekali tidak ketakutan ketika aku membunuh orang asing itu. Meskipun ia tidak mengatakan kepada siapapun juga, namun ia mempunyai maksud tertentu” Ki Dipanala berhenti sejenak “kakang, bukankah saat ituSurakartamenjadi gempar? Tetapi saat itu Raden Ayu Galihwarit mengatakan, bahwa ia tidak tahu menahu tentang pembunuhan itu. Tiba-tiba saja ketika orang asing itu mengantarkannya pulang seperti dipesankan oleh Pangeran Ranakusuma. ia sudah diserang oleh seseorang yang tidak dikenalnya”

“Tetapi“ Kiai Danatirta memotong “Apakah tidak seorangpun yang bertanya, kenapa kereta itu lewat jalan yang sepi di pinggirkota?“

“Beberapa orang telah mencurigaisaisitu kakang. Bahwa ia dengan sengaja telah mengumpankan perwira kumpeni itu. Mereka mempertimbangkan, bahwa orang-orang yang duduk di dalam kereta, tidak mengetahui, jalan manakah yang sudah mereka lewati karena mereka tidak memperhatikannya. Apalagi orang asing itu masih belum begitu mengenal jalan-jalan diSurakarta. Tetapi Raden Ayu Galihwarit yang mencemaskan nasibnya sendiri, bahwasaisitu akan berceritera tentang dirinya, mencoba membelanya. Menurut Raden Ayu Galihwarit, orang asing itu memang ingin melihat beberapa bagian dari kitaSurakarta”

“Di malam hari?“

“Di siang hari ia tidak mempunyai waktu lagi. Apalagi malam masih belum terlampau larut”

“Apa tidak ada seorangpun yang justru mencurigai Raden Ayu Galihwarit?“

“Kumpeni-kumpeni itu yakin, kalau perempuan bangsawan itu dapat dipercaya”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Lalu “Tetapi bagaimanasaisitu kemudian terbunuh? Apakah Raden Ayu Galihwarit mengupahmu?“

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak menerima upah dan aku memang bukan seorang pembunuh. Tetapi agaknya Raden Ayu Galihwarit tidak mau melibatkan orang lain lagi di dalam persoalan ini. Itulah sebabnya ia datang kepadaku dan minta kepadaku, agar aku membunuhsaisitu”

“Apakahsaisitu akan membuka rahasia?“

Ki Dipanala mengangguk “Saisitu mengancam akan membuka rahasia”

“Ia memeras?“

“Ya”

“Barangkali itulah yang ditakutkan atasmu. Mungkin pada suatu saat kau akan memerasnya juga. Setelahsaisitu, maka datang giliranmu untuk disingkirkan”

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Jawabnya “Kakang benar”

“Apakahsaisitu memeras harta benda Ranakusuman”

“Jika demikian, aku sudah berjanji untuk tidak mencampuri persoalan itu. Tetapi sikapnya yang sangat menyinggung perasaan itulah yang membuat aku marah dan membunuhnya. Apalagi ia dengan sengaja melawan aku. Karena itu, sebenarnya ia bukan seorang penakut yang gemetar melihat aku membunuh orang asing itu”

“Jadi apa yang diperas?“

“Itulah yang gila.Saisyang masih muda itu telah memeras Raden Ayu Galihwarit”

“Ya, tetapi apakah yang ingin didapatkannya dari Raden Ayu itu?“

“Raden Ayu itu sendiri”

“He“ Kiai Danatirta benar-benar terkejut mendengar jawaban Ki Dipanala.

“Ya kakang. Yang diinginkan olehsaisitu adalah Raden Ayu Galihwarit yang meskipun lebih tua daripadasaisitu, namun kesegarannya telah membuatsaisitu menjadi gila.Saisitu ingin berbuat terlalu banyak atas Raden Ayu Galihwarit seperti orang asing yang telah aku bunuh itu”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap dadanya. Katanya “Apakah dunia ini benar-benar sudah hampir kiamat? Kenapa hal yang serupa itu dapat terjadi diatas bumiSurakartaini”

“Ya kakang. Itulah yang telah memuakkan aku. Jika Raden Ayu Galihwarit menolak, maka ia akan membuka rahasia pembunuhan itu kepada kumpeni dan kepada Pangeran Ranakusuma serta membuka rahasia hubungan Raden Ayu Galihwarit dengan orang-orang asing yang banyak diketahuinya“

“Dan kau percaya begitu saja? Mungkin itu hanya sekedar ceritera Raden Ayu Galihwarit untuk memaksamu membunuhsaisitu”

“Semula aku menyangka demikian kakang. Tetapi ternyata tidak. Ketika hal itu aku tanyakan langsung kepada Raden Ayu Galihwarit, maka ia bersedia membuktikan apa yang dikatakannya”

“Apa yang sudah dilakukannya?“

“Ia memberitahukan kepadaku, apa yang harus dilakukannya untuk memenuhi niatsaisyang gila itu.Saisitu akan menjemput Raden Ayu Galihwarit seolah-olah ia mendapat perintah dari kumpeni. Raden Ayu Galihwarit harus berusaha agar ia pergi seorang diri tanpa emban atau pengawal seperti yang sering dilakukan jika ia dijemput oleh orang-orang asing dari rumahnya. Orang asing yang banyak memberi harapan bagi Pangeran Ranakusuma dan banyak memberikan kecemerlangan bagi istananya, sehingga Pangeran Ranakusuma tidak dapat melarang, jika isterinya pergi mengunjungi pertemuan yang diselenggarakan oleh kumpeni, apalagi penyelenggaraan itu dilakukan di rumah para bangsawan pula” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu ”Tetapi saat yang ditentukan itu sama sekali bukan atas perintah kumpeni tetapi atas kehendak sais itu sendiri”

“O. Dosa itu berkembang begitu cepatnya”

“Ya kakang. Dan aku harus melindungi dosaku dengan dosa baru yang harus aku lakukan. Aku harus membunuh lagi”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku harus menunggu di tempat yang sudah ditentukan olehsaisitu sendiri menurut petunjuk Raden Ayu Galihwarit, yang ternyata adalah sebuah pondok kosong milik orang tuasaisyang gila itu. Di dalam pondok itu aku harus menanti dengan hati yang berdebar”

“Dan mereka datang?” Kiai Danatirta menjadi tidak sabar.

“Ya. Ketika senja mulai turun aku mendengar derap kaki kuda. Justru sebelum gelap. Langit masih merah oleh sisa cahaya matahari yang tersangkut di tepi gumpalan awan yang mengapung di langit”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam.

“Sebenarnyalah bahwa dada ini akan retak oleh kemuakan ketika aku mendengar mereka mendekati pintu rumahsaisyang kosong itu” Ki Dipanala berhenti sejenak. Kemudian katanya “Silahkan Raden Ayu” berkatasaisitu di luar pintu. Suaranya benar-benar membuat kepala pening kakang”

Kiai Danatirta menahan nafasnya.

Dan Ki Dipanala meneruskan “Aku mencoba menahan nafas ketika aku mendengar pintu berderit terbuka. Dan aku dengar Raden Ayu Galihwarit mengumpat “Kau gila. Kau akan dibunuh oleh Pangeran Ranakusuma”

Tetapisaisitu tertawa “Tuan tidak akan mengatakannya seperti yang dikatakan oleh pembunuh orang asing itu”

“Gila, kau dengar percakapan kami”

“Aku dengar Raden Ayu”

“Tetapi kalau kau masih menggangguku, kau akan menyesal” berkata Raden Ayu itu.

“Kenapa tidak. Setiap saat kita dapat singgah ke rumah ini. Jika tuan puteri akan melayani orang-orang bule itu, tuan puteri akan aku persilahkan singgah dahulu. Bukankah aku berkulit sawo matang seperti Raden Ayu, dan orang-orang asing itu berkulit semerah kulit manggis dan jauh lebih kasar dari kulitku”

“Gila, kau memang gila. Aku tidak mau berbuat gila seperti itu?”

“Raden Ayu tidak mempunyai pilihan lain”

“O“ terdengar Raden Ayu Galihwarit menahan tangisnya.

“Jangan menangis Raden Ayu. Marilah kita hayati satu-satunya pilihan yang dapat tuan puteri lakukan agar aku tidak mengambil keputusan lain”

“Kau lebih baik membunuh aku “ tangis Raden Ayu itu.

“Silahkan duduk. Bukankah aku harus mengantar Raden Ayu kembali setelah gelap? Sebaiknya kita tidak membuang waktu“

Aku mendengar suara Raden Ayu Galihwarit gemetar. Mula-mula aku menjadi ragu-ragu untuk bertindak. Mungkin Raden Ayu itu memang harus menanggung dosanya dan mendapat hukuman karenanya.

Tetapi aku tidak dapat menahan perasaan muak yang menyesak dada ini, sehingga karena itu, maka nafaskupun menjadi tersengal-sengal.

Bahkan bukan saja perasaan muak. tetapi juga oleh kekhawatiran, bahwa apabila orang itu dikecewakan oleh Raden Ayu Galihwarit pada suatu saat, dimana puleri bangsawan itu sudah tidak dapat bertahan lagi mengalami pemerasan yang paling parah itu, maka ia akan sampai pada suatu keputusan untuk membuka rahasia Raden Ayu Galihwarit dan rahasiaku sendiri.Saisyang gila itu tentu tidak akan mempedulikan lagi, malapetakan apa yang akan aku alami dan kehinaan yang akan dihayati oleh Raden Ayu Galihwarit. meskipun jika Raden Ayu Galihwarit membuka rahasia tentangsaisitu sendiri, ia akan dapat dihukum mati pula”

Kiai Danatirta masih mengangguk-angguk. Tetapi terasa kulit di seluruh tubuhnya meremang. Yang terjadi itu adalah hukuman yang paling laknat bagi Raden Ayu Galihwarit.

“Dan kau tidak membiarkannya terjadi?”

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Hatiku bagaikan terpecah-pecah. Aku tidak dapat membiarkannya terjadi. Ketika kegilaansaisitu menjadi semakin meretakkan dada ini, tiba-tiba saja aku sudah meloncat masuk ke ruangan itu. Meskipun Raden Ayu Galihwarit mengetahui bahwa aku ada di rumah itu pula, tetapi kehadiranku di ruang itu membuatnya terpekik kecil. Sejenak wajahnya menjadi merah. Namun kemudian sepercik harapan tampak di matanya.

Saisitupun terkejut bukan kepalang. Seperti yang aku duga. bahwa ia tidak akan menjadi ketakutan dan berdiri gemetar. Ternyata kehadiranku membuatnya marah bukan buatan.

“Kau” geramnya.

“Akupun sudah dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap, sehingga aku menjawab kasar Aku datang untuk menghentikan kegilaan ini”

“Kau sudah membunuh orang asing itu. Apakah kau juga aku membunuh aku“saisitu bertanya.

“Ya”

Tetapi ternyata orang itu tidak takut sama sekali. Bahkan iapun tertawa sambil berkata “Kau sangka aku menjadi ketakutan seperti yang kau lihat di bawah pohon pada saat kau membunuh orang asing itu”

“Aku tidak peduli”

“Jangan menyesal kalau kaulah yang akan mati. Memang sepantasnya kau mati, supaya tidak ada orang lain yang akan memeras lagi kepada Raden Ayu Galihwarit, karena jika kau berhasil membunuh aku, maka kaulah yang akan melakukannya”

“Aku bukan binatang buas yang pantas diburu“ Tetapi ia masih juga tertawa. Suara tertawanya yang tidak begitu keras itu membuatku semakin terbakar. Karena itulah maka akupun kemudian kehilangan pengamatan diri. Apalagi tidak ada jalan yang memang lebih baik dari membungkam untuk selama-lamanya.

Dengan demikian, maka akupun berkata langsung kepadanya “Sekarang aku tidak mempunyai pilihan lain. Membunuh kau atau aku akan terbunuh. Jika kau tetap hidup, artinya akan sama saja dengan kematian bagiku, karena kati tidak akan lagi menyembunyikan rahasia yang pernah kau lihat itu”

“Ya. Aku akan membunuhmu atau akan menyeretmu di belakang keretaku sehingga kulitmu akan terkelupas di sepanjang jalan kita ini. Bila kau masih hidup, maka kumpenilah yang akan menyelesaikanmu meskipun terlebih dahulu luka-lukamu akan dibasahi dengan air garam”

Memang mengerikan sekali jika hal itu benar-benar terjadi. Diseret di belakang kereta yang dilarikan kencang-kencang.

“Nah, kau memang tidak ada pilihan lain” katanya “dan Raden Ayu Galihwarit pasti akan tetap berdiam diri”

Aku sudah tidak dapat menahan kemarahan di dalam dada. Tetapi aku masih dapat berpikir sehingga aku tidak mau tenggelam dalam kehilangan nalar karena kemarahanku.

Meskipun aku sudah siap, tetapi aku tidak segera menyerangnya. Aku menunggu sampai orang itupun menjadi sangat marah dan akan lebih baik kalausaisitulah yang kehilangan nalar dan bertempur dalam nyala kemarahan yang tidak terkendali.

“Ayo, apa lagi yang kau tunggu?“ katanya.

“Kumpeni” jawabku “Bukankah kereta itu kereta seorang perwira kumpeni? Mungkin yang sudah mati aku bunuh, tetapi mungkin kereta orang lain. Tetapi pasti bukan keretamu sendiri. Orang yang memiliki kereta itu pasti akan mencarimu. Mereka pasti akan melihat kereta berhenti di pinggir jalan itu dan mencarimu ke rumah ini”

“Aku akan selamat. Raden Ayu Galihwarit tentu akan tetap diam dan melindungi aku”

“Tidak. Raden Ayu Galihwarit sebenarnya dapat berterus terang saja kepada kumpeni karena semua yang kau kehendaki masih belum terlanjur terjadi. Mereka tidak akan menyampaikan rahasia itu kepada Pangeran Ranakusuma, karena mereka sendiri akan terlibat di dalamnya. Dan sudah tentu bahwa karena kau terlampau banyak mengetahui, maka kaupun akan dibunuhnya juga”

“Gila” Orang itu menggeretakkan giginya.

“Jangan menyesal”

“Persetan dengan kau. Apapun yang akan terjadi atasku tetapi niatku tidak boleh gagal. Kau akan aku bunuh, dan aku akan melaksanakan niatku. Aku tidak peduli kepada kereta itu dan kepada kumpeni yang akan mencarinya”

“Omong kosong. Kau tidak akan berani melakukan karena itu akan berarti kematianmu”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun agaknya ia telah benar-benar menjadi marah.

“Aku akan segera membunuhmu” ia menggeram sambil melangkah maju. “Semakin cepat semakin baik”

Dan tiba-tiba saja bahwa orang itu menarik sebuah pisau belati dari balik bajunya

Raden Ayu Galihwarit mundur selangkah sambil membenahi pakaiannya. Kilatan pisau itu mendebarkan jantungnya. Ia mengharap bahwa aku dapat memenangkan perkelahian yang sebentar lagi tentu akan terjadi. Dengan demikian maka ia berharap dapat terlepas dari nafsusaisyang gila itu.

“Tetapi apakah Dipanala tidak akan melakukan kegilaan yang sama?“ Raden Ayu Galihwarit mungkin bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi agaknya baginya aku masih lebih baik darisaisyang ganas itu. Selain ia memang sudah mengenal diriku ini dengan baik, maka akupun adalah seorang, hamba istananya dan bekas seorang prajurit pula yang memiliki tingkatan yang tidak terlampau rendah.

Sejenak kemudian maka Raden Ayu Galihwarit melangkah semakin surut melekat di sudut dinding ketika ia melihatsaisitu meloncat menerkam aku sambil mengayunkan pisaunya. Tetapi aku sudah bersedia sepenuhnya. Bahkan ketika aku meloncat mengelak, aku telah menarik kerisku dari wrangkanya.

Sejenak kemudian terjadilah perkelahian yang seru. Ternyatasaisitu bukannya sekedar seorangsaisyang hanya pandai mengendalikan kuda. Ternyata ia adalah seorang yang mengenal dengan baik tata olah kanuragan, sehingga ia untuk beberapa lamanya mampu mengimbangi ilmuku.

Tetapi aku adalah bekas seorang prajurit yang pernah mendapat kepercayaan dari atasanku di medan-medan perang. Dengan bekal yang ada padaku, ternyata aku memiliki beberapa keunggulan. Meskipun orang itu memiliki ilmu yang sudah lengkap, tetapi ia masih jauh dari aneka warna pengalaman, sehingga masih banyak kesempatan bagiku untuk menembus pertahanannya.

Demikianlah, maka akhirnya akupun sampai pada puncak dari perkelahian itu. Setelah aku mengetahui kelemahan dan kekuatan yang ada padanya, maka akupun segera berusaha mengakhirinya.

Meskipun semula terasa agak sulit, namun akhirnya aku berhasil mendesak dan menguasainya sehingga saat-saat yang menentukan itu datang.

Tiba-tiba sajasaisitu menjadi pucat. Dengan suara Terbata-bata ia berkata “Apakah benar-benar kau akan membunuhku?“

Tidak ada kegilaan seperti perasanku pada saat itu. Aku sama sekali tidak lagi dapat mengekang diri. Meskipunsaisyang tidak menyangka mendapat lawan yang dapat mengalahkannya itu benar-benar menjadi cemas akan dirinya, namun aku tidak menghiraukannya lagi.

“Jangan bunuh aku“

Aku masih mendengar suaranya. Tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku desak ia ke sudut dan aku tidak mau mendengar lagi ia berkata separah katapun. Karena itu, maka ketika aku melihat mulutnya mulai bergerak di saat-saat yang paling menetukan, aku tidak mau menunggu. Sebuah tikaman yang tepat telah menghunjam di dadanya.

Yang terdengar kemudian adalah orang itu mengerang. Ketika aku menarik kerisku, iapun terjerembab jatuh. Mati.

Sejenak aku berdiri dengan tangan bergetar. Baru sesaat kemudian aku sadar, bahwa di ruang itu ada seorang perempuan yang gemetar ketakutan.

Ketika aku memandang sela-sela daun pintu yang tidak tertutup rapat, maka senjapun sudah menjadi semakin suram. Ternyata aku tidak berkelahi terlalu lama.

“Raden Ayu harus segera kembali ke istana Ranakusuman“ Aku berkata kepada perempuan itu. Aku sudah tidak begitu jelas lagi melihat perubahan wajahnya di dalam keremangan malam yang sudah turun perlahan-lahan.

“Bagaimana aku akan pulang?“ bertanya Raden Ayu.

“Terserah kepada Raden Ayu. Tugasku sudah selesai”

“Tetapi, apa yang dapat aku katakan kepada Pangeran Ranakusuma tentang diriku”

“Terserah kepada Raden Ayu”

“Tidak. Aku memerlukan pendapatmu”

Aku tidak peduli. Tetapi ketika aku melangkah pergi, Raden Ayu Ranakusuma telah menahanku, bahkan berpegangan lenganku.

“Aku tidak dapat pulang sendiri dan aku tidak mempunyai alasan untuk mengatakan sesuatu kepada Pangeran Ranakusuma”

“Terserah kepada Raden Ayu. Itu bukan urusanku”

“Dipanala, Dipanala. jangan tinggalkan aku sendiri di sini“ tangisnya sambil berpegangan lenganku erat-erat.

Untunglah bahwa aku sudah setua ini. Atau aku memang bukan sejenis orang yang memiliki darah yang terlampau panas, sehingga aku tidak mudah dibakar oleh nafsu yang gila itu meskipun Raden Ayu Ranakusuma agaknya sudah benar-benar kehilangan keseimbangan berpikir. Pada saat itu Raden Ayu Galihwarit pasti sudah kehilangan nalarnya sehingga untuk membawanya pulang dan menyerahkannya dengan selamat dan alasan-alasan yang dapat diterima oleh Pangeran Ranakusuma, apapun imbalannya pasti akan diberikan. Namun justru karena itu aku menjadi semakin muak. Hampir saja aku lemparkan perempuan itu. Untunglah bahwa aku segera sadar, bahwa aku adalah hambanya. Aku adalah seorang abdi Ranakusuman.

Karena itu, maka akupun mencoba untuk menenangkan diri dan pengendapkan perasaan. Dalam keremangan yang semakin kelam aku masih melihat sesosok tubuh yang terbujur di lantai bergelimang darah.

“Antarkan aku pulang” sekali lagi aku mendengar tangis Raden Ayu Galihwarit.

Akhirnya akupun berpikir, bagaimana membawa Raden Ayu itu kembali ke rumahnya.

“Marilah, hamba antar Raden Ayu pulang dengan kereta itu“ Akupun kemudian mengambil keputusan.
“Tetapi apa yang akan aku katakan kepada Pangeran Ranakusuma?“

“Raden Ayu dapat mengatakan apa saja”
“Ya, tetapi apa? Dan kenapa tiba-tiba kau membawa kereta ini kembali ke Ranakusuman? Dan bagaimana dengan mayatsais itu?“

“Raden Ayu dapat mengirimkan utusan kepada orang yang mempunyai kereta itu. Orang itu tentu akan berkata bahwa bukan dia yang menyuruhsaisitu menjemput Raden Ayu”

“Lalu kenapa kau yang membawa itu, dan kenapasaisitu mati?“

“Saisitu menipu Raden Ayu”

“Ia memang menipu, maksudku memeras. Tetapi bagaimana aku harus mengatakan?“

“Saisitu menipu, kemudian ingin merampok Raden Ayu. Ketika kereta ini dipacu. Raden Ayu melihat hamba di pinggir jalan. Raden Ayu berteriak memanggil, dan hamba sempat menghentikan kereta itu. Hamba bunuh saisnya dan hamba membawa Raden Ayu kembali”

“Tetapi kenapa di rumah ini”

“Ia mencoba bersembunyi”

“Lalu apakah alasanmu bahwa kau berada di jalan yang dilalui kereta ini”

“Serahkan kepada hamba”

Sejenak Raden Ayu Galihwarit berpikir. Namun kemudian iapun berkata sambil mengangguk kecil “Baiklah. Mudah-mudahan kamas Ranakusuma tidak bertanya terlampau banyak”

“Mudah-mudahan“

Raden Ayu Galihwaritpun kemudian berjalan tertatih-tatih ke kereta yang masih ada di tepi jalan. Aku mengikutinya dengan hati yang berdebar-debar. Namun akupun mulai berpikir, apakah yang harus aku katakan kepada Pangeran Ranakusuma.

Ternyata bahwa usaha Raden Ayu Galihwarit untuk membersihkan dirinya berhasil. Seorang kumpeni datang ke Ranakusuman sambil memaki-maki. Ia merasa menyesal bahwa keretanya telah dipergunakan olehsaisitu untuk merampok.

“Untunglah bahwa usaha itu gagal” katanya dengan nada yang kaku.

Kedatangan orang asing itu memang mempengaruhi sikap Pangeran Ranakusuma. Ia percaya bahwa isterinya telah tertipu dan aku yang kebetulan melihatnya telah menolongnya.

“Tentusaisitu pula yang menjebak kawanku, perwira yang terbunuh itu” berkata orang asing itu “Tetapi agaknya ia belum sempat merampok saat itu. Sejak saat itu sebenarnya aku sudah curiga, tetapi Raden Ayu sendiri yang mengatakan bahwasaisitu tidak bersalah”

Demikianlah semua kesalahan telah berhasil dilemparkan kepadasaisyang mati itu. Dan akupun terlepas pula dari segala sangkut paut dan keterlibatan atas kematiansaisitu. Sementara Raden Ayu Galihwaritpun berhasil menghindarkan diri dari kemarahan Pangeran Ranakusuma”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “Jadi itulah agaknya yang menjadi sebab, kenapa Raden Ayu Galihwarit tidak dapat berbuat apa-apa atasmu”

“Demikianlah agaknya kakang”

“Sayang, bahwa ia justru tidak melakukannya karena ia merasa berterima kasih kepadamu. Jika demikian, maka ia akan menghentikan semua kelakuannya yang binal itu, dan berbuat baik kepadamu dengan jujur. Ternyata bahwa yang dilakukan justru kebalikan dari itu. Ia sama sekali tidak merasa menyesal dan bahkan menganggap kau sebagai orang yang paling berbahaya baginya”

“Ternyata demikian yang terjadi kakang. Meskipun di antara kami dengan diam-diam ada semacam perjanjian, bahwa kami tidak akan saling membuka rahasia, namun agaknya Raden Ayu Galihwarit menganggap bahwa dengan membunuhku, maka persoalannya menjadi lebih jernih. Ia akan berhasil melenyapkan semua rahasia yang hanya aku ketahui, jika rahasia itu aku bawa mati seperti sais itu pula”

Kiai Danatirta masih mengangguk-angguk. Lalu katanya “Ternyata Raden Ayu Galihwarit adalah orang yang sangat berbahaya. Lebih berbahaya dari yang aku duga. Ia sampai hati melakukan pembunuhan meskipun tidak dengan tangan sendiri. Sudah barang tentu bahwa nasib Raden Juwiringpun pada suatu saat terancam pula olehnya”

“Ya kakang. Kemungkinan itu memang dapat terjadi” Kiai Danatirtapun terdiam sejenak. Wajahnya yang tenang dan dalam itu tiba-tiba seakan-akan bergejolak. Tetapi hanya sejenak, karena sejenak kemudian maka perasaan yang melonjak sesaat itupun segera dapat dikuasainya kembali.

Namun demikian bagi Dipanala masih ada persoalan yang dihadapinya. Setelah ia terlepas dari maut, lalu apakah yang akan dilakukannya?

Karena itu, maka iapun kemudian minta pertimbangan kepada Kiai Danatirta tentang persoalannya itu. Persoalan yang sangat rumit baginya.

“Apakah aku masih akan kembali ke istana Ranakusuman kakang?“

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit bagi Ki Dipanala untuk menentukan sikap. Jika ia tidak kembali ke Ranakusuman, maka Raden Ayu Galihwarit pasti akan menjadi semakin cemas akan dirinya sendiri. Raden Ayu itu tentu menduga, bahwa Dipanala mengetahui bahwa ia telah berusaha membunuhnya. Dengan demikian, maka nafsu membunuh itu akar, menjadi semakin bergejolak di dalam hatinya, dan sebelum ia berhasil, ia pasti tidak akan berhenti, karena masalahnya akan menyangkut namanya dan kedudukannya. Apalagi keluarga Dipanala masih tinggal di belakang istana Ranakusuman, sehingga mungkin Raden Ayu yang garang itu akan melepaskan dendamnya kepada keluarga Dipanala, atau mempergunakan keluarga itu untuk memaksakan kehendaknya atas Dipanala.
Tetapi jika ia kembali ke Ranakusuman, maka iapun akan berada di dalam bahaya.

Namun setelah berpikir sejenak, Kiai Danatirta itu berkata “Sebaiknya kau kembali Dipanala?”

Ki Dipanala memandang wajah Kiai Danatirta yang dalam, itu.

“Berbuatlah seolah-olah kau tidak mengetahui apa yang telah terjadi atasmu. Kau tidak usah menyinggung-nyinggung masalah itu sebagai masalah yang menyangkut keluarga Ranakusuman”

“Tetapi bukankah Raden Rudira mengetahui, bahwa aku sudah mengalami? Jika aku diam sama sekali, apakah hal itu justru tidak mencurigakan bagi mereka”

“Maksudku, kau jangan menyinggung nama penghuni Ranakusuman. Kau dapat melaporkan bahwa kau telah dirampok di perjalanan. Kau dapat mengatakan apa yang terjadi. Tetapi kau tidak tahu siapakah yang lelah melakukan itu”

Ki Dipanahi mengangguk-angguk.

”Namun bagaimanapun juga, kau harus berhati-hati. Usaha itu tentu tidak akan berhenti sampai sekian. Semakin lama kau pasti dianggapnya sebagai orang yang semakin berbahaya bagi Raden Ayu Galihwarit”

“Ki Dipanala mengangguk-angguk. la sadar sesadar-sadarnya, bahwa kini ia benar-benar di dalam kesulitan, apapun yang dilakukannya.

“Ki Dipanala” berkata Kiai Danatirta kemudian “Aku adalah orang tua. Mungkin aku tidak mempunyai kemampuan apapun juga untuk membantumu. Tetapi karena sedikit banyak persoalan ini menyangkut hubunganmu dengan padepokan ini, maka jika kau sempat, katakanlah kesulitan-kesulitanmu kepadaku”

“Ah, kakang tidak terlibat. Semuanya adalah hasil perbuatanku sendiri. Dan aku memang harus mempertanggung jawabkannya”

“Tetapi kemarahan Raden Rudira kepadamu terutama karena kau telah menentang niatnya untuk membawa Arum. Bahwa ibu dan ayahnya mengurungkan niatnya untuk menderamu di halaman Ranakusuman, bukannya karena mereka melarang, tetapi mereka takut jika kau membuka rahasia itu kepada setiap orang”

Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Terima kasih kakang. Sebenarnyalah bahwa aku memerlukan perlindungan. Pada suatu saat mungkin aku memang harus menyingkirkan keluargaku dari rumah yang sekarang aku diami”

“Memang mungkin mereka mengusirnya. Tetapi jika mereka sudah berhasil membinasakan kau”

“Bukan saja karena Raden Ayu Galihwarit ingin membunuhku. Tetapi kota Surakarta memang menjadi semakin panas. Pengaruh orang asing yang semakin lama menjadi semakin terasa menjerat kaki dan tangan kita sendiri, telah menumbuhkan persoalan baru. Beberapa orang Pangeran tidak menerima keadaan ini. Dan menurut Raden Rudira yang baru datang dari Sukawati, aku mendengar bisik-bisik di antara para pelayan dan hamba yang lain yang mendengarnya, bahwa keadaan Sukawati terasa sangat aneh. Rakyat Sukawati seakan-akan bukan lagi merupakan rakyat biasa seperti yang kita lihat di padukuhan-padukuhan lain. Rakyat Sukawati mempunyai bentuknya tersendiri”

“Bagaimana dengan rakyat Sukawati itu?“

“Mereka memiliki sifat-sifat yang aneh. Seorang pengiring yang mengikuti Raden Rudira ke daerah Sukawati mengatakan bahwa ia seakan-akan masuk ke dalam suatu mimpi yang menggetarkan. Seakan-akan setiap orang di Sukawati adalah prajurit-prajurit yang siap untuk bertempur”

“Tentu itulah sikap Pangeran Mangkubumi. Jika Raden Rudira mengatakan hal itu kepada ayahanda Pangeran Ranakusuma, maka kumpenipun tentu akan segera mendengarnya”

“Tetapi Sukawati sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Mereka sama sekali tidak gentar menghadapi kemungkinan yang manapun jika Pangeran Mangkubumi memang sudah bersikap demikian”

“Sebenarnyalah harapan kita tergantung kepadanya”

“Menilik suasananya kakang, agaknya bagaikan bisul yang sudah masak. Entah pagi, entah sore, maka bisul itu akan segera pecah”

“Apakah kau sudah merasakan?“

“Ya kakang. Baru-baru ini datang utusan kumpeni dari Semarang. Tentu ada persoalan yang akan berkembang lagi. Dan aku yakin bahwa hal itu pasti akan menyangkut persoalan Pangeran Mangkubumi dan segala kegiatannya”

“Tentu kita tidak akan dapat tinggal diam. Jika angin bertiup maka kita harus bersikap. Tetap tegak atas kemampuan diri atau merunduk ke arah angin. Dan orang asing itu adalah angin yang sangat deras.

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Lalu katanya “Aku berada di padang ilalang”

“Yang akan merunduk karena hembusan angin”

“Ya kakang. Aku mengetahui dengan pasti sikap Pangeran Ranakusuma”

“Kau tidak dapat memberikan pendapat? Bukankah sampai sekarang suaramu masih di dengar?“

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tetapi persoalannya hampir sama dengan persoalan Raden Ayu Galihwarit”

“He?” Kiai Danatirta terkejut.

“Tetapi bukan secara kebetulan. Pangeran Ranakusuma memang melakukannya dengan sengaja meskipun akhirnya ia terjerat oleh kebiasaannya itu. Aku pernah dijadikan penghubung antara Pangeran Ranakusuma dengan Raden Ayu Retnasasi”

“Raden Ayu Retnasasi? Aku pernah mendengar namanya. Tetapi bukankan Pangeran Ranakusuma memang beristeri lebih dari seorang?“

“Jika Raden Ayu Retnasasi itu orang lain, maka persoalannya tidak akan terlampau sulit. Pangeran Ranakusuma dapat mengawininya. Mungkin Raden Ayu Galihwarit akan marah, tetapi tidak akan bertahan lama dan persoalannya akan berkembang seperti yang pernah terjadi. Tetapi yang lebih parah adalah karena Raden Ayu Retnasasi adalah adik kandung Raden Ayu Galihwarit sendiri”

“He, itupun suatu kegilaan yang berlebih-lebihan”

“Demikianlah keadaan istana Ranakusuman”
“Jika terjadi sesuatu dengan Raden Ayu Retnasasi apakah yang dapat dilakukan oleh Pangeran Ranakusuma?“

“Tidak apa-apa. Raden Ayu Retnasasi sudah bersuami”

“O” Kiai Danatirta memijit-mijit keningnya sambil menggeleng-geleng lemah ”Bukan main. Aku ingat sekarang. Raden Ayu Retnasasi agak berbeda dari kakaknya Raden Ayu Galihwarit yang juga disebut Raden Ayu Sontrang. Raden Ayu Retnasasi bertubuh kecil, tetapi lincah seperti burung sikatan”

“Ya. Begitulah kira-kira”

“Ternyata keluarga yang tampaknya menyilaukan itu, agaknya adalah keluarga yang rapuh sekali. Pada saatnya akan datang kekecewaan yang mencengkam seisi rumah itu”

“Termasuk aku kakang, karena akupun sudah terlibat begitu jauh dari seluruh persoalan yang ada di istana itu”

“Tetapi kau dapat menyingkir Dipanala”

“Terlambat kakang. Aku harus mempertanggung jawabkan semua yang pernah aku lakukan selama aku berhubungan dengan Keluarga itu. Bahkan hampir saja aku digilasnya. Tetapi agaknya lambat laun hal itu akan terjadi juga, karena mereka tentu tidak akan berhenti berusaha”

“Tetapi kau tidak akan sekedar menundukkan kepala sambil mengacukan ibu jarimu untuk mempersilahkan mereka memenggal lehermu. Apalagi kau memiliki senjata yang dalam keadaan yang paling berbahaya masih dapat kau pergunakan”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam.

“Namun adalah kewajibanmu untuk berusaha melindungi dirimu sendiri. Kau memang harus berhati-hati sekali”

“Kali ini agaknya Pangeran Ranakusuma belum terlibat dalam usaha untuk menyingkirkan aku. Tetapi lain kali. mungkin ialah yang melakukannya, dan tentu jauh lebih cermat dari usaha isterinya”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula, tetapi ia tidak menyahut, sehingga dengan demikian keduanyapun berdiam diri untuk beberapa saat lamanya.

Dalam pada itu, malampun menjadi semakin malam. Angin yang dingin berhembus menyentuh kulit. Di kejauhan terdengar derik bilalang bersahut-sahutan disela-sela rintih angkup yang samar-samar.

“Sudahlah” berkata Kiai Danatirta kemudian “beristirahatlah. Kau tentu lelah setelah menyelesaikan perjalanan yang kurang menyenangkan itu. Apalagi kau masih harus berkelahi”

Ki Dipanala tersenyum. Jawabnya “Terima kasih kakang”

“Tidurlah di gandok kiri”

“Terima kasih”

Ketika Ki Dipanala berdiri bersama-sama dengari Kiai Danatirta, maka ia berkata “Aku akan membawa anak panah itu kembali besok. Aku akan berpura-pura tidak tahu, siapakah pemilik anak panah itu, dan aku tidak akan mengatakan bahwa Buntal terlibat dalam perkelahian ini.

Kiai Danatirta tersenyum “Cobalah, mudah-mudahan pancinganmu mengena”

Demikianlah maka keduanyapun kemudian meninggalkan pendapa. Ki Dipanala pergi ke gandok kiri. sedang Kiai Danatirta masuk ke ruang dalam.

Ternyata bahwa kedua anak-anak muda itu sudah tidur. Juwiring tidur sambil memegang bajunya yang dilepasnya. Agaknya ia merasa udara terlalu panas malam itu, sedang Buntal pun juga tidak berbaju.

Sambil mengangguk-angguk Kiai Danatirta meninggalkan bilik itu. Ia berhenti ketika ia melihat bilik Arum masih terbuka sedikit. Dari celah-celah pintu itu ia melihat Arum terbaring di pembaringannya. Tetapi agaknya ia masih belum tidur.

Arum terkejut ketika ia mendengar pintu itu berderit perlahan-lahan. Dengan cekatan ia meloncat bangkit. Namun gadis itupun menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Kiai Danatirta berdiri di muka pintu.

“Ayah mengejutkan aku” gadis itu bersungut-sungut.

Kiai Danatirta tersenyum. Kemudian ia bertanya “Kenapa kau belum tidur?“

“Belum ayah. Udara panas sekali malam ini”

“Kau memikirkan kiriman itu? Bukankah kau mendapat kiriman khusus dari Raden Ayu Ranakusuma, di samping kiriman-kiriman yang lain”

“Ah” desis gadis itu.

“Kain itu tentu bagus sekali”

“Ah” sekali lagi Arum berdesis.

“Tidurlah” berkata Kiai Danatirta kemudian.

Arumpun segera membaringkan dirinya. Ia hanya berpaling sambil tersenyum ketika ia melihat ayahnya menutup pintu biliknya rapat-rapat.

Sejenak kemudian Kiai Danatirtapun masuk pula ke dalam biliknya. Tetapi seperti Ki Dipanala, maka orang tua itu tidak segera dapat tertidur. Angan-angannya berterbangan mengitari setiap persoalan yang seakan-akan saling susul menyusul dengan cepatnya. Arum, Juwiring, Buntal, Sura, Dipanala kemudian tentang Surakarta dan kumpeni.

Menjelang dini hari, barulah Kiai Danatirta dapat tidur sejenak. Karena sebentar kemudian ayam jantan telah berkokok saling sahut menyahut.

Dalam pada itu, Raden Rudira dan Mandra masih berada di simpang empat di luar kota. Mereka duduk sambil berbincang, meskipun keduanya tampak gelisah.

“Kenapa sampai gagal, Mandra?“ bertanya Rudira geram.

“Aku tidak menyangka Raden. Tetapi menurut pengamatanku ada seseorang yang ikut serta dalam perkelahian itu”

“Ya”

“Apakah Raden mengetahuinya?“

Raden Rudira menggelengkan kepalanya. Katanya “Dari mana aku tahu. Di dalam malam gelap dan jarak yang tidak terlalu dekat”

“Tetapi Raden dapat membidik dengan tepat”

“Untuk membidik seseorang aku hanya memerlukan bentuknya. Bukan garis-garis wajahnya”

“Tetapi apakah Raden tidak keliru?“

“Aku yakin tidak. Aku adalah pemburu yang baik”

“Ya. Raden adalah seorang pemburu yang baik” gumam Mandra mudah-mudahan Dipanala tidak mengetahui apakah yang sebenarnya lelah terjadi”

“Lalu apa yang akan kita katakan kepada ibunda?“

“Apa yang ada saja tuan. Mungkin usaha ini harus diulangi.

Raden Rudira merenung sejenak, lalu tiba-tiba saja ia berkata “Kenapa kau suruh cucurut-cucurut itu melakukan tugas yang penting ini Mandra, sehingga kita telah melewatkan kesempatan yang bagus ini”

“Maaf Raden. Aku kira mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Tetapi jika tidak ada orang lain yang ikut campur aku kira Dipanala sudah terbunuh”

“Aku harus lahu siapakah orang itu”

“Dari siapa tuan akan tahu?“

Raden Rudira merenung sejenak. Namun kemudian katanya “Dipanala pasti akan kembali ke Ranakusuman. Ia akan berceritera tentang perjalanannya”

“Apakah jika ia mengetahui bahwa kila terlibat di dalamnya ia masih juga akan kembali?“

Raden Rudira tidak segera menyahut. Namun sekali lagi ia menggeram “Kau memang terlampau bodoh untuk memilih orang”

“Aku minta maaf Raden”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun bergumam seperti kepada diri sendiri “Mudah-mudahan Dipanala kembali ke Ranakusuman. Ia akan berceritera, siapakah yang membantunya”

“Mudah-mudahan ia masih berani kembali ke Ranakusuman”

“Ia harus kembali” bentak Raden Rudira “Jika ia tidak kembali, berarti ia mengetahui bahwa kita sudah terlibat. Dan itu berbahaya sekali. Kita harus memburunya kemana ia pergi dan membunuhnya”

“Ya, ya Raden. Kita harus membunuhnya“

“Tetapi apa yang sekarang harus kita lakukan?“ Raden Rudira menahan kemarahan yang masih bersarang di dadanya. Tetapi ia tidak mau menyakiti hati Mandra agar iapun tidak berkianat.

“Marilah kita kembali. Tuan akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi”

Raden Rudira menarik nafas dalam. Lalu “Marilah kita segera kembali. Mudah-mudahan kita masih menemukan jalan yang sebaik kali ini, agar kita tidak usah memburunya seperti memburu kijang di hutan perburuan itu.

Keduanyapun kemudian dengan lesu pergi ke kuda mereka yang tertambat di pohon perdu. Dengan lesu pula mereka meloncat naik dan berjalan memasuki kota Surakarta.

Kota yang masih lengang itu udaranya terasa sangat panas sepanas hati mereka karena kegagalan yang dialaminya untuk yang kesekian kalinya.

“Pada suatu saat aku harus berhasil” geram Raden Rudira di dalam hati “Jika besok Dipanala kembali dan menyebut orang yang membantunya itu, aku akan segera mengambil sikap. Sebaiknya tidak tanggung-tanggung”

Dalam pada itu, semalam suntuk Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak dapat tertidur sekejappun. Dengan gelisah ia menunggu kedatangan puteranya yang mengawasi tugas orang-orang yang mencegat Dipanala.

Semakin dekat fajar menyingsing. Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin cemas. Jika terjadi sesuatu dengan Raden Rudira dan rahasia itu dapat diketahui oleh Dipanala, maka orang itu pasti akan membuka segala rahasianya pula, meskipun itu akan berakibat mati bagi Dipanala, karena dalam keadaan yang memaksa Raden Ayu Galihwarit pasti akan membuka rahasia Dipanala pula, karena Dipanala sudah membunuh seorang perwira kumpeni.

Tetapi jika Pangeran Ranakusuma dan terlebih-lebih anak laki-lakinya ini mendengar rahasianya, maka iapun pasti akan terhina untuk selama-lamanya. Ia akan tersisih dari pergaulan yang wajar para bangsawan dan ia pasti akan diusir dari Ranakusuman. Meskipun Pangeran Ranakusuma adalah seorang bangsawan yang tidak terlampau ketat memegang kebiasaan yang berlaku bagi isteri-isterinya, karena hubungannya yang luas dengan orang-orang asing, namun apakah ia akan dapat membiarkan isterinya berbuat terlampau jauh. Dan apakah kata putera laki-lakinya tentang dirinya?”

Kegelishan itu memuncak ketika ayam jantan sudah mulai berkokok bersahut-sahutan menjelang pagi. Namun Raden Rudira dan Mandra masih juga belum kembali.

Dalam kegelisahan yang tidak tertahankan lagi, maka Raden Ayu Galihwaritpun segera bangkit dan keluar dari biliknya.

Beberapa orang abdi melihatnya dengan heran. Tidak menjadi kebiasaan Raden Ayu Galihwarit bangun terlampau pagi, karena ia adalah seorang perempuan bangsawan yang mendambakan kamukten yang berlebih-lelbihan, sehingga sama sekali tidak terlintas di dalam angan-angannya untuk berbuat sesuatu yang dianggapnya dapat merendahkan martabat kebangsawanannya.

Seperti orang yang sedang dicengkam oleh kebingungan yang sangat. Raden Ayu Galihwarit duduk di ruang depan, meskipun ia belum membenahi dirinya. Dan hal itupun adalah di luar kebiasaannya, la belum keluar dari biliknya sebelum ia yakin bahwa ia sudah menjadi sangat cantik.

Raden Ayu Galihwarit tersentak ketika ia melihat regol terbuka. Yang, pertama dilihatnya adalah kepala seekor kuda yang tersembul dari sela pintu. Namun Raden Ayu Galihwarit sudah mengenal kuda itu baik-baik. Kuda itu adalah kuda puteranya Raden Rudira.

Karena itu, maka Raden Ayu Galihwaritpun segera berdiri dan melangkah dengan tergesa-gesa ke tangga depan. Demikian Raden Rudira masuk, maka iapun segera memanggilnya.

Raden Rudira berpaling mendengar suara ibunya. Dan iapun segera berbelok ke tangga pendapa Ranukusuman diikuti oleh Mandra.

Dengan tidak sabar Raden Ayu Galihwarit menyongsong kedatangan anaknya. Hampir berlari-lari ia turun tangga dan berdiri di bawah kuncung.

Demikian Raden Rudira meloncat dari kudanya, ibunya segera bertanya “Bagaimana?”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia berpaling kepada Mandra. namun orang itu sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Bagaimana?“ sekali lagi Raden Ayu Galihwarit berdesis.

“Aku berhasil mengawasi mereka ibu” jawab Raden Rudira.

“Sst, jangan terlampau keras. Ayahanda masih tidur di dalam biliknya. Ia tidak boleh mengetahui rencana ini”

Raden Rudira mengangguk. Namun terasa tenggorokannya bagaikan tersumbat. Ternyata terlampau berat baginya untuk mengatakan kegagalannya.

Tetapi ia tidak dapat mengelak lagi. Ketika ibunya mendesaknya, maka iapun harus menceriterakan apa yang sudah terjadi.

Tiba-tiba saja wajah Raden Ayu Galihwarit yang gelisah itu menjadi pucat. Dengan suara yang terputus-putus ia bertanya “Jadi, jadi Dipanala itu masih hidup?“

“Ya. Aku menyesal sekali bahwa aku gagal lagi kali ini”

“Bodoh sekali. Kenapa kalian tidak berhasil membunuh kelinci yang akan dapat menjadi sebuas serigala itu?“

“Sekarang kami gagal ibu. tetapi percayalah bahwa pada suatu saat ia akan mati. Akulah orang yang paling mendendamnya. Akulah yang akan selalu berusaha memusnakannya”

“Jangan menunggu ia menerkam aku”

“Kenapa dengan ibu?“ bertanya Raden Rudira.

Pertanyaan itu telah mengejutkan Raden Ayu Galihwarit. Namun dengan tergesa-gesa ia menyambung “Tidak. Maksudku, menerkam kita semuanya. Ia akan dapat berkhianat seperti Sura”

“Ibunda dan ayahanda terlalu memanjakannya. Aku sudah ingin menderanya dengan rotan sambil mengikatnya pada pohon sawo kecik itu. Tetapi ayahanda dan ibunda melarangnya”

Dada Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin berdebar-debar. Katanya “Itu tidak bijaksana. Jika didengar oleh Pangeran-Pangeran yang lain, maka kita seakan-akan menjadi orang yang paling kejam di Surakarta”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi orang itu harus dimusnahkan“ gumam Raden Ayu Galihwarit. Lalu “Kenapa bukan Dipanala saja yang kau bunuh dengan panahmu. Jika kau berhasil membidik orang itu, kaupun pasti berhasil membunuh Dipanala”

“Tetapi orang yang tertangkap itu akan sangat berbahaya ibu. Ia dapat mengatakan siapakan yang menyuruhnya”

“Orang itupun kau bunuh pula”

“Itulah yang sulit. Orang yang berkelahi di pihak Dipanala itu mempunyai kesempatan untuk menyeretnya dan memukulnya hingga pingsan. Kemudian menyembunyikannya di balik tanggul. Tentu aku tidak dapat mendekatinya, agar aku tidak dapat dikenai oleh orang yang memihak Dipanala itu, karena aku belum pasti dapat membunuhnya”

“Siapakah orang itu?“

“Aku tidak mengenalnya di dalam gelap dan jarak yang tidak cukup dekat”

Raden Ayu Galihwarit menundukkan kepalanya. Persoalan itu justru membuatnya semakin gelisah. Namun tiba-tiba saja ia menggeram “Tetapi orang itu harus dibunuh. Segera” Ketika ia menyadari keadaannya, ia menyambung “Jika tidak, maka semua keinginanmu pasti akan dihalang-halanginya. Sebenarnya aku tidak berkeberatan jika kau mengambil gadis itu Mungkin ia berguna bagiku dan bagimu. Apa salahnya kau mengambil seorang gadis padepokan, karena kau putera seorang Pangeran?“

Ternyata kata-kata itu berhasil membakar hati Raden Rudira, sehingga iapun menyahut “Ya. Ia akan aku bunuh segera. Jika aku tidak berbuat cepat, maka gadis itu akan menjadi selir kamas Juwiring, karena mereka tinggal bersama-sama di padepokan itu”

Raden Ayu Galihwarit tidak menghiraukan kata-kata itu. Baginya yang penting adalah, Dipanala terbunuh.

“Jika Dipanala kembali, ia tentu akan berceritera tentang orang yang menolongnya itu” berkata Raden Rudira kemudian.

“Apakah mungkin orang yang selalu kau sebut-sebut sebagai petani dari Sukawati itu?“ bertanya ibunya.

Dada Raden Rudira berdesir. Namun iapun kemudian menjawab “Tentu bukan. Ia memerlukan waktu untuk mengalahkan lawan-lawannya. Tentu tidak demikian dengan petani dari Sukawati itu. Dengan gerak yang sederhana ia berhasil memaksa Sura untuk menyerah dan tidak berdaya lagi”

“Ya, Dipanala akan berceritera. Tetapi apakah ia akan berani kembali kemari?“

“Ia tidak tahu bahwa akulah yang membunuh tangkapannya. Jika ia tidak kembali kemari, artinya ia mengetahui rahasia ini”

“O“ Raden Ayu Galihwarit menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Kenapa ibu?“

“Aku kasihan kepadamu. Jika ia tahu akan rahasia ini, maka namamu akan tercemar”

“Jangan hiraukan. Aku dapat menyebutnya sebagai fitnah belaka karena ia tidak akan dapat membuktikannya”

Raden Ayu Galihwarit menganggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Sudahlah ibu” berkata Rudira “Jangan hiraukan lagi. Aku akan menyelesaikan semuanya. Sekarang aku akan menyingkirkan kuda ini”

Raden Ayu Galihwarit mengangguk pula meskipun terasa hatinya menjadi semakin parah. Tetapi ia masih mempunyai harapan bahwa Rudira akan segera menyelesaikannya.

“Tentu Dipanala tidak mengetahui bahwa yang membunuh tangkapannya itu adalah Rudira” berkata Raden Ayu Sontrang di dalam hatinya.

Demikianlah Raden Rudira dan Mandrapun meninggalkan Raden Ayu Galihwarit. Sejenak Raden Ayu itu masih berdiri di tempatnya. Namun ketika dilihatnya seorang juru taman menyapu halaman, maka iapun segera menyadari keadaannya. Dengan tergesa-gesa ia masuk ke ruang dalam. Sejenak ia berdiri di muka bilik suaminya. Dari sela-sela pintu ia melihat di pembaringan di sebelah pintu itu, Pangeran Ranakusuma masih terbaring diam.

“Kamas Ranakusuma masih tertidur. Tetapi pintu biliknya sudah terbuka. Tentu ia sudah pergi ke pakiwan dan tidak rapat menutup pintu biliknya” pikir Raden Ayu Galihwarit.

Tetapi Raden Ayu Galihwarit terkejut ketika ia mendengar suara suaminya yang masih berbaring “Masuklah“

Perlahan-lahan Raden Ayu Galihwarit melangkah maju. Hatinya yang gelisah menjadi semakin gelisah.

“Apakah Pangeran Ranakusuma mengetahui pembicaraanku dengan Rudira?”Ia bertanya kepada diri sendiri.

Ketika Raden Ayu Galihwarit sudah berdiri di depan pintu dalam bilik, Pangeran Ranakusumapun segera bangkit. Sambil duduk di bibir pembaringannya ia bertanya “Kau bangun terlalu pagi hari ini, apakah ada sesuatu yang penting?“

Raden Ayu Galihwarit menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak kamas. Tetapi tiba-tiba saja. aku menjadi gelisah. Biasanya aku melepaskan Rudira pergi berburu dengan hati yang tenang”

“Apakah anak itu pergi berburu?“ Raden Ayu Galihwarit mengangguk.

“Berbeda dengan kebiasaannya, ia membawa beberapa orang pengiring”

“Aku sudah bertanya kepadanya. Tetapi kini ia mempergunakan cara lain. Orang yang berjumlah semakin banyak, akan mengganggu binatang buruannya”

“Apakah ia mendapat sesuatu?“

Raden Ayu Galihwarit menggeleng. Jawabnya “Tidak”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Akhirnya sama saja. Dengan atau tidak dengan pengiring, ia tidak mendapat seekor kelincipun”

Raden Ayu Galihwarit tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan getar di dalam hatinya.

“Dimana Rudira sekarang?“

“Di belakang, kamas”

“Tingkah lakunya menjadi semakin aneh sekarang. Dahulu ia berburu di malam hari. Kadang-kadang dua tiga malam ia berada di hutan buruan. Bahkan dahulu ia sering membawa seekor rusa atau Setidak-tidaknya kulitnya, jika rusanya sudah dimakan bersama pengiring-pengiringnya di tengah-tengah hutan. Tetapi akhir-akhir ini ia tidak berhasil mendapatkan apa-apa. Menurut penilaianku ia adalah seorang pembidik yang baik. Tetapi ia malas sekali mengikuti buruannya”

Raden Ayu Galihwarit tidak menyahut, la ingin segera diperkenankan meninggalkan suaminya yang masih tetap duduk di bibir pembaringannya.

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas lega ketika Pangeran Ranakusuma berkata “Apakah kau akan mandi?“

“Ya kamas, aku belum mandi“

“Mandilah. Suruhlah seseorang menyediakan air panas buatku”

“Baiklah Pangeran” sahut Raden Ayu Galihwarit sambil bergeser surut.

Tetapi ketika ia sampai di pintu Pangeran Ranakusuma memanggilnya sambil bertanya “Apakah Dipanala sudah kembali?”

“Sepengetahuanku belum kamas“ jawab Raden Ayu Galihwarit dengan dada yang semakin berdebar-debar. Rasa-rasanya lantai yang dipijaknya menjadi panas.

“Kenapa belum?“

”Bukankah sudah menjadi kebiasaannya bermalam di padepokan itu? Bahkan pernah ia bermalam sampai dua malam berturut-turut”

Pangeran Ranakusuma mengangguk. Lalu katanya “Mandilah”
Dengan tergesa-gesa Raden Ayu Galihwaritpun segera meninggalkannya sebelum Pangeran Ranakusuma bertanya lebih banyak lagi.

Dalam pada itu, selagi Raden Ayu Galihwarit kemudian sibuk mempercantik dirinya.

Sementara itu di padepokan Jati Aking Ki Dipanalapun sedang berkemas, ia benar-benar ingin kembali ke Ranakusuman, justru secepat-cepatnya.

“Aku tiba-tiba saja ingin segera menghadap Pangeran Ranakusuma berdua. Aku ingin tahu kesan di wajah mereka ketika mereka melihat kehadiranku. Juga anak laki-lakinya itu apabila ia berada di istananya” gumam Dipanala sambil mengusap leher kudanya.

Kiai Danatirta yang berdiri sarribil bersilang tangan berkata “Tetapi hati-hatilah Dipanala. Banyak hal yang tidak terduga-duga dapat terjadi. Tetapi juga mungkin karena kita salah menilai keadaan”

“Ya kakang. Aku akan selalu berhati-hati”

“Bukan saja karena keadaan di Ranakusuman sendiri, tetapi keadaan Surakarta pada umumnya. Jika terjadi huru hara, cobalah menghubungi kami di padepokan ini. Tetapi kau juga harus menjaga dirimu, karena dalam keadaan yang demikian, kesempatan untuk membunuhmu tanpa perkara akan menjadi semakin besar. Tidak ada orang yang sempat mengurus kematianmu jika benar-benar pecah perartg karena ketidak puasan yang sudah tidak lagi dapat tertahan di dada beberapa orang Pangeran yang justru berpengaruh”

“Ya kakang. Aku akan mencoba”

“Ki Dipanala. Apakah tidak sebaiknya keluargamu sajalah yang lebih dahulu kau singkirkan?“

“Aku juga berpikir demikian kakang, tetapi tentu tidak segera agar tidak menumbuhkan kecurigaan bahwa aku akan melarikan diri karena percobaan pembunuhan yang gagal ini”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Tentu aku tidak akan berkeberatan jika kau bawa keluargamu kemari. Arum akan mendapat kawan yang sebaya”

Ki Dipanala menarik nafas dalami. Katanya “Terima kasih kakang. Kau terlalu baik terhadapku, terhadap keluargaku dan terhadap momonganku, Raden Juwiring”

“He, apa yang sudah aku lakukan?“ bertanya Kiai Danatirta.

Ki Dipanala tersenyum.

Mereka kemudian terdiam ketika Juwiring datang mendekat. Sambil tersenyum ia berkata “Biarlah aku memasang pelana kuda paman. Agaknya paman sedang dicari oleh Arum”

“Kenapa?“ bertanya Ki Dipanala.

“Makan pagi telah tersedia”

Ki Dipanala tertawa. Dan Kiai Danatirtapun kemudian mempersilahkannya masuk ke ruang dalam.

Setelah makan pagi, maka Ki Dipanalapun segera minta diri kepada Kiai Danatirta dan ketiga anak-anak muda yang mengantar mereka sampai ke regol halaman. Dengan wajah yang cerah Ki Dipanala berkata “Aku akan kembali ke Ranakusuman. Mudah-mudahan aku segera mendapat tugas serupa, membawa Barang-barang yang lain lagi kemari”

Juwiringpun tertawa pula. Katanya “Tetapi paman harus membawa beberapa orang pengawal agar paman tidak dirampok orang di perjalanan. Tentu Buntal tidak dapat setiap hari menunggu kedatangan paman di sawah”

Yang mendengar kata-kata Juwiring itupun tertawa pula. Buntal bahkan menyahut “Aku akan menyongsong paman ke Surakarta jika aku tahu kapan paman akan datang, dan apakah paman membawa kain lurik berwarna cerah buatku”

Ki Dipanalapun tertawa pula, meskipun ia tidak dapat menyingkirkan debar dadanya karena peristiwa yang telah terjadi itu.

“Tetapi paman tidak usah membawa apa-apa lagi buatku“ berkata Arum kemudian.
“Kenapa? Kain itu pemberian Raden Ayu Galihwarit. Apakah kain itu kurang baik buatmu?“

“Bukan kurang baik, tetapi terlalu baik. Dan apakah pemberian itu tidak menyimpan pamrih apapun”

Ki Dipanala tersenyum. Jawabnya “Aku tidak tahu. Tetapi jika aku yang diberinya, aku akan menerimanya dengan senang hati, apapun pamrih yang tersimpan di dalam hatinya. Asal aku tidak goyah dari sikap dan pendirianku”

“Itulah yang namanya memanfaatkan keadaan” sahut Kiai Danatirta sambil tertawa.

Demikianlah, maka ketika matahari semakin tinggi dan panasnya terasa mulai menggigit kulit, Ki Dipanalapun meninggalkan padepokan Jati Aking. Dipacunya kudanya menyusur jalan persawahan yang dilaluinya pada saat ia datang ke padepokan itu.

Ketika ia sampai Di tempat ia dicegat beberapa orang perampok yang sekaligus akan membunuhnya itu, maka iapun berhenti. Agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang yang berada di sawah masing-masing, maka iapun membiarkan kudanya minum seteguk di parit di pinggir jalan, sementara ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Ternyata di sebelah parit induk yang agak besar terdapat gerumbul-gerumbul perdu diatas tanggul. Namun agaknya tanggul itu cukup lebar untuk berpacu diatas punggung kuda.

“Dari sana anak panah itu dilepaskan“ Ia bergumam. Lalu “Ketika Buntal memburunya sambil berloncat-loncatan, mereka lari ke kuda mereka yang ditambat di balik gerumbul-gerumbul itu dan berpacu menjauh”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Disentuhnya sebuah batu di pinggir jalan dengan kakinya. Di situlah orang yang berpakaian petani dengan tutup kepala yang lebar itu duduk menunggunya. Tetapi ternyata orang itu telah dibinasakan oleh Raden Rudira sendiri.

Sejenak kemudian barulah Ki Dipanala meloncat ke punggung kudanya dan meneruskan perjalanannya kembali ke istana Ranakusuman. Tetapi setiap kali ia terngiang pesan Kiai Danatirta “Hati-hatilah”

Jilid 7 Bab 1 : Anak Panah

KI DIPANALA menarik nafas dalam-dalam.

Di perjalanan Ki Dipanala tidak terlalu sering beristirahat meskipun ia tidak berpacu terlalu cepat. Sekali-sekali ia berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kudanya beristirahat.

Apalagi ketika ia sudah mendekatikota. Kudanya berjalan semakin lamban. Ia berharap bahwa apabila ia datang di istana Ranakusuman, Pangeran Ranakusuma sudah ada di istana, jika Pangeran itu pergi menghadap Susuhunan.

Karena itulah maka ketika ia mendekati regol Ranakusuman matahari sudah condong jauh ke Barat, meskipun panasnya masih terasa menyengat kulit

Meskipun sejak ia memasukikotaia sudah berusaha mengatur perasaannya, namun ia masih merasa berdebar-debar juga ketika ia berdiri di depan regol yang terbuka. Dengan agak gemetar ia meloncat turun dari kudanya dan menuntunnya masuk halaman.

Parapenjaga regol mengangguk sambil menyapanya. Salah seorang bertanya “Kau bermalam di padepokan itu?“

“Ya” jawab Ki Dipanala.

Lalu yang lain “Kau bawa ubi manis atau gembili?”

Ki Dipanala mencoba terserryum. Jawabnya “ Sayang, aku tidak sempat. Aku datang lewat senja, dan pagi-pagi aku sudah berangkat lagi“

“Seharusnya kau membawa gembili ungu. Manisnya bukan main”

Ki Dipanala masih saja tersenyum, namun ia tidak menjawab. Debar jantungnya terasa justru menjadi semakin keras sehingga sejenak ia masih saja berdiri di regol sambil termangu-mangu.

Namun kemudian hatinyapun menjadi bulat. Apapun yang akan dihadapi. Karena itu, maka iapun melangkah maju sambil menuntun kudanya.

Ki Dipanala terkejut ketika ia mendengar suara seorang perempuan menyapanya. Ketika ia berpaling dilihatnya Raden Ayu Galihwarit berdiri di pintu butulan.

“He, kau sudah pulang Dipanala?“

Ki Dipanala mengangguk dalam-dalam sambil menjawab “Ya Raden Ayu. Baru saja hamba datang”

“Kemarilah“ Panggil Raden Ayu Galihwarit.

“Apakah hamba diperkenankan menambatkan kuda ini?“

“Ikat saja pada pohon itu. Kemarilah”

Ki Dipanala menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat membantah. Diikatnya kudanya pada sebatang pohon soka putih yang tumbuh di halaman samping, dan dengan hormatnya ia mendekati Raden Ayu Galihwarit

Dadanya berdesir ketika ia melihat di belakang Raden Ayu itu berdiri anak laki-lakinya. Raden Rudira.

Ketika Ki Dipanala berjalan mendekat, maka Raden Ayu Galihwaritpun masuk ke ruang dalam dan duduk menghadap pintu, sementara Ki Dipanala merayap naik tangga dan kemudian duduk bersila di lantai di hadapan Raden Ayu Galihwarit.

Raden Rudira yang kemudian masuk ke ruang itu pula berdiri di sisi ibundanya. Dengan tajamnya. dipandanginya Ki Dipanala yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Bagaimaha. kabar kepergianmu ke padepokan Jati Aking?” bertanya Raden Ayu Galihwarit.

“Hamba telah melakukan tugas hamba sebaik-baiknya Raden Ayu. Hamba telah sampai ke padepokan Jati Aking”

“O“ Raden Ayu Galihwarit mengangguk-angguk. Lalu “Apakah kau sudah bertemu dengan Juwiring?“

Namun sebelum Ki Dipanala menjawab, ia mendengar suara dari ruang dalam “Suruh Dipanala kemari”

Raden Ayu Galihwarit mengerutkan keningnya. Tetapi ia kenal betul, bahwa suara itu adalah suara Pangeran Ranakusuma sehingga ia tidak dapat lagi membantahnya.

“Menghadaplah” berkata Raden Ayu Galihwarit.

Ki Dipanalapun kemudian bergeser sambil berjongkok bagaikan merayap masuk ke ruang dalam menghadap Pangeran Ranakusuma yang duduk dengan wajah yang buram, sementara Raden Ayu Galihwarit mengikutinya di belakang, dan yang kemudian duduk di sisi Pangeran Ranakusuma.

Tetapi Rudira tidak ikut masuk ke ruang dalam. Bahkan dengan wajah bersungut-sungut ia berjalan keluar menemui Mandra di halaman belakang.

“Dipanala sudah datang” bisiknya di telinga Mandra.

“O. apakah yang dikatakannya kepada Pangeran“

“Aku tidak tahu. Ibunda duduk bersama ayahanda. Lebih baik aku menyingkir”

Mandra mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Kita menunggu perintah Raden Ayu”

Dalam pada itu, Dipanala yang menghadap Pangeran Ranakusuma duduk tepekur. Ia tidak berani mengangkat wajahnya sebelum Pangeran Ranakusuma bertanya sesuatu kepadanya.

Baru sejenak kemudian terdengar suara Pangeran Ranakusuma Apakah semua kiriman kami sudah kau sampaikan?“

“Sudah Pangeran. Hamba sudah sampai di padepokan Jati Aking. Hamba sudah bertemu dengan Kiai Danatirta dan Raden Juwiring”

“Baik. Mereka tentu senang menerima kiriman itu. Barangkali kali ini adalah kiriman kami yang paling banyak sejak ia berada di padepokan itu”

“Hamba Pangeran”

“Dan apakah kirimanku untuk Arum juga sudah kau sampaikan?“ bertanya Raden Ayu Galihwarit.

“Sudah Raden Ayu. Hamba sudah menyampaikannya langsung kepada anak itu”

“Apa katanya?“

“Anak padepokan itu belum pernah melihat kain sebagus itu sehingga ia menjadi kagum karenanya. Bahkan hampir tidak dapat mengerti, bahwa ada kain yang sebagus itu”

Raden Ayu Galihwarit tersenyum sambil mengangguk-angguk. Tetapi hatinya mengumpat tidak habis-habisnya. Kain itu seharusnya tidak sampai ke tangan Arum. Kain itu seharusnya merupakan hadiah khusus bagi penyamun-penyamun yang berjanji akan membunuh Ki Dipanala

“Dan uang itu?“ bertanya Pangeran Ranakusuma.

“Semuanya sudah hamba sampaikan. Raden Juwiring dan Kiai Danatirta beserta anak perempuannya mengucapkan beribu-riibu terima kasih atas kemurahan Pangeran”

Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Ia sama sekali tidak berprasangka apapun terhadap perjalanan Dipanala. Karena itu maka ia tidak bertanya lebih lanjut. Bahkan iapun kemudian berkata “Baiklah. Beristirahatlah. Kau sendiri tentu akan mendapat bagianmu juga”

“Hamba telah menerimanya sebelum hamba berangkat Pangeran”

“Itu masih belum cukup. Aku akan menambah besok”

“Terima kasih Pangeran. Hamba mengucapkan beribu-ribu terima kasih”

“Kau boleh pulang sekarang” berkata Pangeran Ranakusuma.

“Tetapi tuan, apakah hamba diperkenankan memberitahukan apa yang terjadi di perjalanan yang baru saja hamba jalani”

“He?“

“Maafkan hamba Pangeran, bahwa hamba akan sekedar berceritera.

“Tentang apa?“ bertanya Pangeran Ranakusuma.

“Tentang perjalanan hamba yang baru saja hamba lakukan”

“Tentu perjalanan yang menarik sekali” potong Raden Ayu Galihwarit, namun diteruskannya “sebenarnya Pangeran Ranakusuma sudah akan beristirahat. Karena itu aku tidak menghadapkan kau kepada Pangeran, jika Pangeran sendiri tidak memanggilmu karena aku tidak mau mengganggunya. Simpanlah ceriteramu itu untuk besok atau lusa apabila Pangeran tidak sedang sibuk atau akan beristirahat seperti sekarang ini”

“O“ Ki Dipanala menjadi kecewa. Tetapi ia masih menunggu perintah Pangeran Ranakusuma.

Sejenak Pangeran Ranakusuma berpikir. Lalu katanya “Sebenarnya aku memang ingin tidur sebentar. Tetapi baiklah, katakan apa yang kau alami”

Hati Raden Ayu Galihwarit menjadi berdebar-debar. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Rudira, jika Dipanala menuduh Rudira telah membunuh perampok itu, maka Dipanala harus dapat membuktikannya. Jika tidak, maka ia justru dapat dianggap memfitnahnya.

Karena itu Raden Ayu Galihwarit tidak dapat mencegahnya lagi. Mau tidak mau ia harus mendengar apa yang akan dikatakannya. Tetapi jika Dipanala itu berceritera sampai kepada ceritera yang paling dirahasiakannya, maka semuanya pasti akan menjadi kacau.

“Pangeran” berkata Dipanala kemudian “ternyata bahwa perjalanan hamba kali ini mengalami sebuah gangguan yang hampir saja menewaskan hamba”

“He“ Pangeran Ranakusuma terkejut mendengar ceritera Dipanala itu, sehingga ia tergeser maju “Apa yang kau katakan?”

“Empat orang penyamun telah menunggu hamba di bulak Jati Sari. Tidak jauh lagi dari padepokan Jati Aking”

“Penyamun?“

Ki Dipanala mengangguk sambil menjawab “Hamba Pangeran”

Wajah Pangeran Ranakusuma menjadi tegang. Sementara itu Ki Dipanala mencoba untuk menilainya, apakah Pangeran Ranakusuma benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi. Namun menilik sikapnya, agaknya Pangeran Ranakusuma benar-benar tidak terlibat di dalamnya.

Ketika Ki Dipanala mencoba memandang wajah Raden Ayu Galihwarit, tampaklah wajah itu menjadi merah. Namun sejenak kemudian terdengar Raden Ayu itu bertanya “Bagaimana mungkin penyamun itu menunggumu di bulak Jati Sari?“

“Hamba tidak mengerti Raden Ayu, tetapi sebenarnyalah hamba telah ditunggu oleh empat orang penyamun. Apakah penyamun itu sengaja menunggu hamba atau tidak, hamba sama sekali tidak tahu. Tetapi yang hamba heran, penyamun itu mengetahui bahwa hamba membawa Barang-barang dan sekedar uang ke padepokan Jati Aking”

“Ah, aneh sekali” sahut Raden Ayu Galihwarit.

“Apakah di bulak itu memang sering terjadi hal serupa itu menurut ceritera orang-orang Jati Sari?“ bertanya Pangeran Ranakusuma.

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya “Tidak Pangeran. Bulak itu adalah bulak yang aman. Bahkan seluruh daerah Jati Sari hampir tidak pernah lagi terdengar kerusuhan apapun yang terjadi”

Pangeran Ranakusuma merenung sejenak. Ceritera itu ternyata sangat menarik perhatiannya.

“Tetapi“ Raden Ayu Galihwaritlah yang berkata kemudian “sekarang kerusuhan memang mulai menjalar. Orang-orang yang tidak tahu diri berusaha menentang persahabatan antara orang-orang asing itu dengan bangsa sendiri. Mereka yang berjiwa kerdil menganggap bahwa persahabatan itu merugikan diri sendiri”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi hal itu masih belum terasa sampai ke padepokan Jati Aking Raden Ayu” Sahut Dipanala.

“Mungkin baru sekarang kerusuhan itu mulai, dan kau adalah korban yang pertama. Dengan alasan yang dibuat-buat, seolah-olah orang-orang itu mencoba menegakkan harga diri, namun sebenarnya mereka hanya sekedar menumbuhkan keributan dan akibatnya mereka dengan leluasa dapat melakukan kejahatan”

Terasa dada Ki Dipanala berdesir. Kata-kata itu sama sekali tidak dapat diterima oleh perasaannya. Namun ia tidak membantahnya, karena kata-kata itu diucapkan oleh Raden Ayu Galihwarit di hadapan Pangeran Ranakusuma yang berkuasa di lingkungan istana Ranakusuma ini.

Pangeran Ranakusuma sendiri tidak menyahut. Namun kemudian ia justru bertanya “Tetapi bukankah kau berhasil melepaskan diri dari tangan para penyamun itu?“

“Ya Pangeran. Hamba terpaksa berkelahi melawan mereka. Tetapi karena hamba hanya seorang dan hamba tidak lebih hanya bersenjatakan sebilah keris yang pendek maka hamba hampir saja tidak dapat melihat sinar matahari yang terbit di pagi hari ini dan hamba tidak akan dapat menghadap Pangeran sekarang ini”

“Jadi? Kenapa kau masih hidup?“

“Seseorang telah menolong hamba”

“Siapa?“ bertanya Raden Ayu Galihwarit dengan serta-merta. Seperti Raden Rudira, maka iapun ingin sekali mendengar nama orang yang telah menolong Dipanala itu.

Sejenak Dipanala berpikir. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata “Sayang Raden Ayu, hamba tidak mengenal orang itu. Hamba hanya melihatnya sepintas di dalam gelap, dan ia adalah seorang petani”

“Petani dari Sukawati itu?“ bertanya Pangeran Ranakusuma dengan wajah tegang.

“Hamba tidak dapat mengatakan dengan pasti. Malam sudah terlampau gelap, dan hamba tidak mendapat kesempatan untuk berbicara terlampau lama, karena orang itu segera meninggalkan hamba”

“Kenapa ia segera pergi?“

Ki Dipanalapun lalu menceriterakan bahwa orang yang menolongnya itu berhasil menangkap seorang dari para penyamun itu, tetapi sayang, sebuah anak panah telah membunuh penyamun itu.

“Orang itupun kemudian memburu orang yang melepaskan anak panah itu Pangeran” berkata Dipanala kemudian “dan hamba tidak bertemu lagi sampai sekarang, sehingga hamba masih belum sempat mengucapkan iterima kasih”

“Tidak mungkin” tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit membantah “Kau tentu tahu siapa orang itu”

Ki Dipanala menjadi terheran-heran. Dipandanginya Raden Ayu Galihwarit dan Pangeran Ranakusuma berganti-ganti.

“Kalau orang itu tidak mengenalmu dan sebaliknya, tentu ia tidak akan menolongmu. Dan di daerah yang jauh terpencil itu tentu tidak banyak orang yang mampu memberikan pertolongan kepadamu melawan para perampok itu”

Ki Dipanala masih juga terheran-heran. Lalu jawabnya “Ampun Raden Ayu. Hamba benar-benar tidak tahu. Dan apakah salahnya jika hamba tahu siapakah yang menolong hamba itu mengatakan kepada Raden Ayu dan Pangeran Ranakusuma?“

Wajah Raden Ayu Galihwarit menjadi gelisah sejenak. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata lembut “Sebenarnya aku ingin tahu siapakah orang itu. Ia sudah menyelamatkan kau dan barang-barang yang kami kirimkan ke padukuhan Jati Sari. Seharusnya kamipun mengucapkan terima kasih dan sekedar hadiah baginya dengan tulus”

“Ya” sahut Pangeran Ranakusuma “Kami wajib mengucapkan terima kasih kepadanya”

Ki Dipanala mengumpat di dalam hati. Ada saja alasan yang lapat diberikan oleh Raden Ayu Galihwarit untuk membayangi sikapnya. Hampir saja ia berhasil memancing sikap Raden Ayu itu sehingga menimbulkan kecurigaan Pangeran Ranakusuma, tetapi ada juga cara untuk mengaburkannya.

Namun dalam pada itu, Ki Dipanala masih belum mengatakan semuanya yang telah dipersiapkannya. Masih ada satu persoalan lagi yang akan dikatakannya. Karena itu maka katanya kemudian “Pangeran, hamba akan berusaha untuk menemukan orang itu. Memang Di tempat terpencil tidak banyak orang yang dapat membantu hamba berkelahi melawan empat orang perampok. Tentu tidak banyak petani yang memiliki kemampuan serupa itu di Jati Sari. Hanya petani-petani di Sukawati sajalah yang memiliki kemampuan demikian” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu “ternyata bahwa petani dari Sukawati itu pulalah yang pernah ikut campur dalam persoalan putera-putera tuanku di bulak Jati Sari beberapa waktu yang lalu”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Raden Ayu Galihwarit berkata “Tidak semua petani di Sukawati. Tentu hanya satu dua orang yang kebetulan memiliki kemampuan serupa itu, seperti juga satu dua orang Jati Sari”

“Mungkin juga demikian Raden Ayu?” sahut Ki Dipanala “dan karena itulah hamba akan mencarinya untuk mengucapkan terima kasih hamba sendiri dan pernyataan terima kasih dari Pangeran berdua”

“Kau harus segera menemukannya” berkata Raden Ayu Galihwarit “supaya ia tidak sempat menganggap kami sebagai orang yang tidak mengenal terima kasih”

“Tetapi itu bukan salah kami“ Pangeran Ranakusumalah yang menjawab “Ia sengaja merahasiakan dirinya”

“Belum tentu. Mungkin ia mengejar orang yang. melepaskan anak panah itu sampai jarak yang jauh. Ketika ia kembali Dipanala sudah meninggalkan tempatnya”

“Seandainya demikian, itupun bukan salah kami pula. Ia tentu tahu bahwa semuanya itu terjadi karena ketidak sengajaan”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa pembicaraan itu seakan-akan merupakan pembicaraan yang tidak mapan. Masing-masing mencari kelemahan dan mencoba menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya diketahuinya, kecuali Pangeran Ranakusuma yang kadang-kadang menjadi bingung mendengar pembicaraan itu.

Dalam pada itu Raden Ayu Galihwaritpun menjawab pula “Tetapi bukankah lebih cepat akan menjadi lebih baik Pangeran?”

“Ya, memang lebih cepat lebih baik” lalu katanya kepada Dipanala “Bukankah lebih cepat lebih baik Dipanala?“

“Ya Pangeran. Hamba akan mencarinya secepat-cepatnya. Lebih cepat memang lebih baik “Ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi hambapun akan mencari perampok-perampok yang berhasil melarikan diri itu. Hambapun akan mencari orang yang membunuh perampok yang telah tertangkap itu. Hamba tahu bahwa orang yang melepaskan anak panah itu tentu mempunyai sangkut paut dengan penyamun yang terbunuh itu”

“Ya. Itu dapat dimengerti. Orang itu tentu sekedar ingin menghilangkan jejak”

“Atau dengan tujuan lain yang tidak kita mengerti“ Raden Ayu Galihwarit memotong “Tetapi bagiku Dipanala, mencari orang yang telah menolongmu itu jauh lebih penting dari mencari pembunuh itu. Sebenarnya kita tidak bersangkut paut dengan pembunuh itu. Apalagi kau sudah dapat kembali dengan selamat”

“Tentu tidak“ Pangeran Ranakusumalah yang menjawab “Ia masih tetap berbahaya bagi Dipanala. Lain kali, jika Dipanala pergi ke Jati Aking, ia akan mengalami keadaan yang serupa jika orang itu masih belum diketemukan”

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Dengan dada yang berdebar-debar ia mengikuti pembicaraan selanjutnya. Dan Ki Dipanalapun berkata “Pangeran, sebenarnyalah hamba mempunyai bahan untuk memulainya, mencari orang yang melepaskan anak panah itu. Walaupun terlampau kecil dan barangkali kurang cukup untuk sampai pada orang yang aku cari itu”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Namun Raden Ayu Galihwaritlah yang menjadi sangat berdebar-debar dan cemas.

“Apakah yang kau punyai?“ bertanya Pangeran Ranakusuma.

“Apakah hamba dapat mengambilnya tuan?“ bertanya Ki Dipanala.

“Ambillah. Aku ingin melihatnya”

“Ki Dipanalapun kemudian bergeser surut dan turun ke halaman samping mengambil barang yang dikatakannya. Kemudian sambil menjinjing sebuah anak panah ia menghadap Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit kembali.

“Inilah yang dapat hamba bawa Pangeran. Anak panah inilah yang telah membunuh penyamun itu. Anak panah ini adalah satu-satunya landasan yang dapat hamba pakai untuk menemukan siapakah pembunuh penyamun itu yang seperti tuan katakan, bahwa pembunuh itu tentu tersangkut dalam usaha perampokan itu”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya, sedang wajah Raden Ayu Galihwarit menjadi tegang.

“Berikan anak panah itu” berkata Pangeran Ranakusuma. Ki Dipanalapun bergeser maju untuk menyerahkan anak panah itu. Anak panah yang masih dikotori dengan noda-noda darah yang sudah kering.

Ketika Pangeran Ranakusuma, melihat anak panah itu, tiba-tiba saja jantungnya serasa menghentak-hentak. Tangannya menjadi gemetar dan keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya. Sebagai seorang ayah yang sering ikut serta dalam kesenangan anaknya yang paling dimanjakannya, Pangeran Ranakusuma dapat mengenal anak panah itu meskipun belum pasti, karena pada umumnya setiap anak panah telah diberinya ciri tersendiri sebagai suatu kebanggaan. Anak panah yang kemudian dipegang oleh Pangeran Ranakusuma itu adalah anak panah yang pernah dikenalnya dengan ciri-ciri yang jelas pada warna dan garis-garis yang melingkar. Warna kuning emas di pangkal anak panah itu dan sebuah guratan pada bedornya. Guratan yang tidak terdapat pada anak panah yang lain selain jenis anak panah itu.

Bukan saja Pangeran Ranakusuma, tetapi Raden Ayu Galihwaritpun menjadi pucat. Jika Dipanala dapat mengenal ciri-ciri anak panah itu, maka ia akan mendapat rintisan jalan untuk menemukan pembunuh itu.

Raden Ayu Galihwarit tidak begitu mengerti akan ciri-ciri anak panah puteranya. Tetapi ia tahu bahwa ciri-ciri itu pasti ada karena puteranya dapat membedakan antara anak panahnya dengan anak panah pemburu-pemburu yang lain apabila kebetulan mereka berbareng pergi ke hutan perburuan.

Namun Raden Ayu Galihwarit tidak dapat mengatakan apapun juga. Ia hanya menunggu saja, apa yang akan diperbuat oleh Pangeran Ranakusuma.

Ki Dipanala yang memperhatikan wajah-wajah itu dapat meraba, bahwa sebenarnyalah Pangeran Ranakusuma dapat mengenali anak panah itu meskipun ia belum mengatakannya. Sedang kecemasan yang membayang di wajah Raden Ayu Galihwaritpun mempunyai kesan tersendiri pada Ki Dipanala, sehingga ia hampir pasti bahwa yang terjadi adalah seperti yang diduganya. Dan iapun hampir pasti bahwa rencana pembunuhan itu hanya dibuat oleh Raden Ayu Galihwarit dan Raden Rudira di luar pengetahuan Pangeran Ranakusuma.

Pangeran Ranakusuma masih dengan tegang mengamat-amati anak panah yang kemudian sudah di tangannya. Namun ia tidak mengatakan sesuatu tentang anak panah itu.

“Pangeran“ Ki Dipanala yang mula-mula berkata “Apakah Pangeran dapat mengenal anak panah itu? Jika Pangeran dapat mengenalnya, maka pembunuh itu akan segera dapat diketemukan”

“Bodoh sekali” tiba-tiba Pangeran Ranakusuma membentak. Wajahnya menjadi merah padam. Dengan anak panah itu ia menunjuk hidung Ki Dipanala sambil berkata “Kau sangka aku seorang cucuk yang melayani para bangsawan yang sedang berburu, sehingga dengan demikian aku dapat mengenal anak panah yang beratus-ratus jenisnya itu? Dan alangkah bodohnya jika kau berpikir bahwa pemilik anak panah inilah yang telah membunuh penyamun itu. Tentu siapapun juga dapat mempergunakan anak panah yang manapun. Mungkin satu dua anak panah jenis ini tertinggal di hutan perburuan. Orang yang menemukan anak panah itu dapat saja mempergunakan untuk berbuat apa saja. Hanya orang gila sajalah yang percaya dan pasti bahwa pembunuh itu adalah pemilik anak panah ini”

Ki Dipanala yang ditunjuk hidungnya bergeser sejengkal surut. Namun kemudian ia memberanikan diri berkata “Pangeran. Memang demikianlah kemungkinan itu dapat terjadi. Tetapi kemungkinan seperti yang hamba katakanpun dapat pula terjadi. Karena itu, apakah salahnya jika anak panah itu hamba simpan dan hamba jadikan bukti dalam pengusutan. Seandainya tuduhan itu salah, maka bukankah tertuduh belum menjalani hukuman apapun juga”

“Tuduhan adalah hukuman yang paling keji bagi orang yang tidak bersalah. Karena itu, anak panah ini sama sekali tidak ada gunanya dan tidak ada harganya sebagai barang bukti”

Adalah di luar dugaan Dipanala bahwa dengan wajah yang seakan-akan terbakar Pangeran Ranakusumapun kemudian mematahkan anak panah itu menjadi potongan-potongan yang kecil. Menghancurkan bulu-bulu dijuntainya dan melemparkannya ke sudut ruangan.

“Pangeran” desis Ki Dipanala.

“Jangan kau sebut lagi anak panah itu. Kau sudah cukup lama menghamba di istana ini setelah kau tidak lagi menjadi seorang prajurit. Menurut pendengaranku kau adalah prajurit yang cakap. Tetapi ternyata kau bodoh sekali seperti kerbau yang paling dungu”

Raden Ayu Galihwarit yang melihat Pangeran Ranakusuma menghancurkan satu-satunya bukti itu menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa seakan-akan dadanya yang terbakar itu tersiram oleh air yang sejuk. Dengan demikian maka tidak ada bukti lagi yang dapat dipergunakan unluk menuduh Rudira jika benar ciri-ciri panah itu adalah ciri-ciri anak panah puteranya.

Dalam pada itu Ki Dipanala yang masih duduk di lantai berkata “Pangeran, apakah tindakan yang Pangeran lakukan itu cukup bijaksana?“

“Aku meyakini perbuatanku. Aku akan sangat merasa malu atas kebodohanmu jika orang lain mengetahuinya. Karena itu sekarang pergilah. Pulang ke rumahmu dan kalau kau ingin mencari orang yang telah menolongmu, carilah. Juga jika kau ingin menemukan pembunuh itu usahakanlah. Tetapi jangan mempergunakan cara yang paling bodoh dan memalukan itu”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Lalu iapun bertanya ”Tetapi bagaimanakah cara yang paling baik dapat hamba tempuh Pangeran”

“Aku tidak sempat memikirkannya”

Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Memang banyak sekali kenyataan yang tidak dapat diungkapkan. Kenyataan yang paling buruk dan kenyataan yang paling baik. Mungkin hamba tidak dapat menemukan penolong hamba, tetapi hamba juga tidak dapat menemukan pembunuh penyamun itu. Kedua-duanya adalah kenyataan yang telah terjadi, tetapi kedua-duanya tetap tidak akan pernah dapat diketahui kebenarannya. Siapakah mereka itu”

“Cukup. Cukup. Kau tidak usah mengigau” bentak Pangeran Ranakusuma.

“Baiklah Pangeran” jawab Ki Dipanala “Memang demikianlah agaknya. Seperti kenyataan yang berlaku atas diri hamba sendiri. Mungkin hambapun pernah melakukan perbuatan-perbuatan yang terkutuk tanpa diketahui orang lain, sehingga perbuatan hamba itu akan tetap tersembunyi untuk selama-lamanya tanpa mendapat hukuman apapun”

Tiba-tiba saja wajah Pangeran Ranakusuma menjadi pucat. Dan hampir bersamaan itu pula. keringat dingin mengalir di tubuh Raden Ayu Galihwarit. Kedua-duanya menjadi sangat cemas bahwa Ki Dipanala akan mengatakan rahasia yang selama ini telah disimpannya rapat-rapat. Rahasia yang ada pada kedua-duanya dan yang kedua-duanya diketahui oleh Ki Dipanala.

Tetapi Ki Dipanala kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil lerkata “Baiklah hamba mohon diri. Hamba melihat bahwa Pangeran dan Raden Ayu agaknya merasa terganggu oleh kehadiran hamba di sini. Hamba mohon maaf. Hamba sama sekali tidak bermaksud membuat Pangeran dan Raden Ayu menjadi gelisah. Hamba akan berusaha menemukan orang yang telah menolong hamba dan sekaligus pembunuh penyamun itu tanpa mengganggu ketenangan dan ketenteraman Pangeran berdua”

“Aku tidak peduli” sahut Pangeran Ranakusuma “pergilah. Aku akan beristirahat. Aku akan mencoba melupakan kebodohan yang pernah kau perbuat”

Ki Dipanala mengangguk dalam-dalam. Tetapi katanya “Namun perkenankanlah hamba sekali lagi menyampaikan terima kasih putera Pangeran, Raden Juwiring, Kiai Danatirta dan anak gadisnya Arum”

Pangeran Ranakusuma tidak menjawab. Wajahnya masih buram, serta tatapan matanya hinggap di sudut yang jauh.

Ki Dipanalapun kemudian bergeser surut. Raden Ayu Galihwaritlah yang kemudian berkata “Beristirahatlah. Jika kau masih terlalu lelah, jangan kau hiraukan lagi apa yang sudah terjadi. Kau sudah diselamatkan sehingga kau wajib mengucap sukur kepada Tuhan. Dan kau tidak perlu mencari keributan lagi dimana-mana dengan mencari orang yang tidak jelas tanda-tandanya”

“Baiklah Raden Ayu. Hamba akan melepaskan persoalan ini seperti persoalan-persoalan yang telah pernah hamba jumpai sebelumnya. Sengaja atau tidak sengaja”

Sepercik warna merah membayang di wajah Raden Ayu Galihwarit, sedang Pangeran Ranakusuma membelalakkan matanya memandanginya. Tetapi Ki Dipanala menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil bergeser surut. Akhirnya ia turun dari tangga dan meninggalkan pintu ruang dalam.

Sejenak ia berdiri sambil menghela nafas dalam-dalam, serasa udara di halaman itu menjadi semakin segar. Ketika ia mengedarkan tatapan matanya di halaman samping itu, dilihatnya Raden Rudira dan Mandra berdiri agak jauh di kebun belakang.

Tetapi Ki Dipanala tidak menghiraukannya lagi. Kini ia sudah mendapat kepastian justru karena tingkah laku Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit. Karena itu, kemudian iapun melepaskan kudanya dan menuntunnya ke belakang. Seperti yang diperintahkan oleh Pangeran Ranakusuma maka iapun langsung lewat pintu butulan pulang ke rumahnya di belakang dinding halaman istana Ranakusuman.

Sepeninggal Ki Dipanala, maka Pangeran Ranakusumapun masih duduk merenung di tempatnya. Raden Ayu Galihwarit yang duduk di sampingnya tidak berani menegurnya, sehingga dengan demikian keduanya duduk sambil berdiam diri untuk beberapa saat lamanya. Masing-masing dihanyutkan oleh angan-angan yang buram tentang peristiwa yang baru saja terjadi atas Dipanala, tentang anak panah dan tentang usaha Dipanala untuk menemukan orang yang menolongnya dan sekaligus orang yang telah membunuh penyamun itu dengan anak panah. Anak panah yang sebenarnya dapat dikenal langsung oleh Pangeran Ranakusuma.

Raden, Ayu Galihwarit menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Pangeran Ranakusuma bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke sudut ruangan. Diambilnya anak panah yang telah dipatah-patahkannya dan sekali lagi diamat-amatinya.

“Apakah kau mengenal anak panah ini?“ bertanya Pangeran Ranakusuma kepada isterinya.

Raden Ayu Galihwarit termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya “Apalagi aku Pangeran. Aku sama sekali tidak mengetahui ciri-ciri dari anak panah milik siapapun karena aku tidak pernah melihatnya”

“Bukan milik orang lain. Tetapi anak panah semacam ini?”

Raden Ayu Galihwarit menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tidak tahu, kamas”
Pangeran Ranakusuma memandang isterinya dengan tajamnya. Sebagai seorang Pangeran ia memiliki pandangan yang jauh dan luas, ia mampu mengurai persoalan yang dihadapinya dan kemudian mengambil kesimpulan. Pembicaraan yang singkat dengan Dipanala dan anak panah yang dikenalnya baik-baik itu memberikan gambaran kepadanya, siapakah yang telah merencanakan pembunuhan atas Ki Dipanala itu. Pangeran Ranakusumapun masih dapat mengingat apa yang telah dilakukan oleh isterinya ketika Dipanala akan berangkat ke padepokan Jati Aking.

“Itulah sebabnya, ia berusaha memperlambat keberangkatan Ki Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hati. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak tahu pasti, alasan apakah yang telah mendorong Raden Ayu Galihwarit untuk melakukan rencana pembunuhan itu.

Setelah merenungi anak panah yang telah patah-patah itu, Pangeran Ranakusumapun berkata “Baiklah. Aku akan beristirahat. Aku akan tidur”

“Silahkanlah Pangeran” sahut Raden Ayu Galihwarit.

Raden Ayu Galihwarit mengantarkan suaminya sampai ke pintu biliknya. Ketika Pangeran Ranakusuma masuk maka Raden Ayu itupun berdiri sejenak di muka pintu. Kemudian pintu itupun didorongnya dan tertutup rapat.

Dengan tergesa-gesa pergi ke ruang dalam. Disuruhnya seorang pelayannya memanggil puteranya Raden Rudira.

Dengan gelisah Raden Rudira mendapatkan ibunya yang tidak kalah gelisahnya. Dengan suara yang dalam dan lambat Raden Ayu Galihwarit berkata “Ki Dipanala membawa anak panah yang bernoda darah. Anak panah yang telah membunuh penyamun itu”

“He“ wajah Raden Rudira menjadi pucat. Lalu “ Di manakah anak panah itu sekarang?“

“Ada pada ayahandamu. Ketika ayahandamu menerima anak panah itu, ia menjadi marah dan anak panah itu dipatahkannya”

“Apakah ayahanda mengetahui bahwa anak panah itu anak panahku?“

“Mungkin”

“Dan ayahanda marah kepadaku?”

“Tidak“ Raden Ayu Galihwarit menggeleng. Lalu diceriterakannya apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Pangeran Ranakusuma kepada Ki Dipanala.

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Jadi ayah justru marah kepada Dipanala?“

“Ya”

“Memang Dipanala bodoh sekali. Jika ada orang yang tahu hahwa anak panah itu anak panahku, tentu itu tidak dapat menjadi bukti yang kuat, bahwa aku telah melakukannya. Aku memang sering kehilangan anak panah selagi aku berburu seperti yang dikatakan oleh ayahanda itu”

Raden Ayu Galihwarit mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun menjadi agak tenang pula, bahwa anaknya tidak dapat langsung mendapat tuduhan. Tetapi ia masih tetap gelisah tentang dirinya sendiri. Apakah pada suatu saat Dipanala tidak akan membuka rahasianya?

Karena itu maka Raden Ayu Galihwaritpun berkata “Tetapi Rudira, bagaimanapun juga Dipanala adalah orang yang paling berbahaya bagi kita sekarang. Tentu ia masih tetap menuduhmu, karena agaknya Dipanalapun mengenal anak panah itu”

“Ia akan segera terbunuh” geram Raden Rudira.

“Tetapi biarlah ia menemukan orang yang menolongnya lebih dahulu. Orang itupun cukup berbahaya bagi kita”

“Mustahil kalau ia tidak mengetahui siapakah yang menolongnya itu”

”Mungkin petani dari Sukawati itu”

Raden Rudira menggeretakkan giginya. Katanya “Seharusnya Sukawatipun dihancurkan pula. Kumpeni harus mengambil tindakan yang tegas terhadap Pangeran Mangkubumi”

“Ssst” desis ibunya “itu bukan persoalanmu. Kangjeng Susuhunan dan Kumpeni tentu sudah membuat perhitungan sebaik-baiknya. Mereka menyadari sikap Pangeran Mangkubumi”

“Tetapi tidak boleh terlambat. Jika terlambat, maka semuanya akan menyesal, karena agaknya Sukawati sudah sampai pada persiapan untuk melakukan perang. Perang yang sebenarnya”

“Apakah yang dapat dilakukan oleh orang-orang Sukawati untuk melawan senjata kumpeni?“

“Ya“ Raden Rudira mengangguk-angguk pula “Mereka akan ditumpas. Tetapi lebih baik membunuh anak macan daripada menunggu ia menjadi besar dan buas”

Ibunya mengangguk-angguk. Tanpa sesadarnya ia berkata “Aku akan berusaha meyakinkan Kumpeni“

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Katanya “Ibunda akan meyakinkan mereka?“

“Ya. Bukankah aku mengenal beberapa orang perwira yang sering berkunjung kemari“

Raden Rudira tidak segera menjawab. Kumpeni baginya adalah orang-orang yang aneh. Ia kadang-kadang merasa bahwa kehadiran kumpeni di Surakarta itu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pribadinya. Tetapi kadang-kadang ia merasa bahwa kumpeni itu sangat menyinggung perasaannya. Ia tidak senang melihat ibunya bergaul terlampau rapat dengan mereka. Bahkan kadang-kadang Raden Rudira merasa cemas, bahwa ia akan kehilangan ibunya yang sangat mengasihinya dan memanjakannya.

Dan Raden Rudira tidak dapat mengerti kenapa ayahandanya tidak berbuat sesuatu melihat ibunya kadang-kadang hadir di dalam pertemuan-pertemuan tanpa dikawaninya. Betapapun sibuknya ayahandanya dalam keadaan yang gawat akhir-akhir ini, tetapi ia wajib memberikan sebagian waktunya bagi ibunya. Atau jika tidak, ayahandanya dapat melarangnya sama sekali.

Tetapi Raden Rudira yang sudah menginjak dewasa itu dapat mengerti juga bahwa ayahandanya memerlukan kumpeni. Untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar di istana, ayahnya memerlukan dukungan. Kini kumpeni ternyata mempunyai pengaruh yang kuat di istana, sehingga dukungan dari kumpeni akan dapat menentukan.

Namun setiap kali Raden Rudira memikirkan hal itu, terasa kulitnya meremang. Tetapi ia selalu berusaha menghindarkan diri dari perasaannya yang kadang-kadang dengan kuat mencengkamnya ”Apakah ayahanda telah mempergunakan ibunda untuk kepentingan dirinya dan apakah agaknya ibunda sendiri merasa bahwa hal itu justru suatu kesempatan baginya?“

Raden Rudira terkejut ketika ibunya berkata “Apakah yang kau renungkan Rudira?“

“O“ Rudira tergagap “Tidak apa-apa ibu. Tetapi anak panah itu?“

“Anak panah itu sudah di tangan ayahandamu. Dan sudah tentu bahwa ayahandamu tidak akan berbuat apa-apa. terhadapmu”

“Apakah ibu yakin?“

“Ibu yakin. Mungkin ayahanda akan bertanya kepadamu. Tetapi sebaiknya kau menghindar untuk sementara”

Raden Rudira mengangguk-angguk. Memang masih belum terlintas di kepalanya, untuk mengucapkan pengakuan meskipun kepada ayahnya sendiri. Ia masih akan berusaha untuk melakukan tugasnya sampai berhasil. Dipanala harus mati.

Pada saat yang bersamaan, di dada ibunyapun menggeletar semacam keputusan yang pasti “Dipanala harus mati”

Tetapi mereka tidak dapat mengerti, apakah yang sebenarnya dipikirkan oleh Pangeran Ranakusuma. Sambil berbaring ia mencoba untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan oleh isteri dan anak-anaknya, sehingga akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan, bahwa sebenarnyalah Rudira telah melakukannya bersama-sama dengan Raden Ayu Galihwarit.

“Aku harus meyakinkannya. Aku harus mendengar sendiri dari mereka pengakuan itu” katanya sambil menghentakkan tangannya.

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak bertindak tergesa-gesa. la tidak segera memanggil anaknya selagi ada ibunya.

Untuk mendapatkan waktu itu sebenarnya Pangeran Ranakusuma tidak terlampau sulit. Ketika Raden Ayu Galihwarit mengajaknya pergi atas undangan seorang Pangeran yang sedang menyambut kedatangan seorang perwira kumpeni setelah senja, Pangeran Ranakusuma berkata “Aku sedang sibuk sekali. Keadaan menjadi semakin panas. Pergilah sendiri dan katakan, bahwa aku minta maaf karena aku tidak dapat hadir. Aku harus menghadap ke istana”

“Apakah kakanda tidak dapat menunda sampai esok pagi?”

“Tidak. Aku harus segera menghadap” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, lalu “Apakah pertemuan itu harus aku hadiri?“

“Bukankah Pangeran juga menerima undangan khusus”

“Terlalu mendadak. Seharusnya mereka mengundang aku sehari atau dua hari sebelumnya, sehingga aku sempat mengatur waktu”

“Pertemuan ini bukan pertemuan resmi kamas. Sekedar pertemuan di antara beberapa orang terpenting di Surakarta”

“Tetapi aku lebih penting menghadap Susuhunan malam ini“

“Kamas Pangeran selalu membiarkan aku pergi sendiri”

“Maaf, aku adalah seorang Pangeran yang selalu harus memberikan pertimbangan-pertimbangan yang penting bersama dengan beberapa orang penasehat Susuhunan. Itulah sebabnya aku harus hadir dalam pertemuan-pertemuan khusus”

“Baiklah Pangeran“ Raden Ayu Galihwarit memberengut “Aku terpaksa pergi sendiri. Tetapi aku akan kembali segera sebelum terlampau malam”

“Bawalah keretanya jika kau perlukan”

“Tidak Pangeran. Bukankah biasanya mereka datang menjemput?“

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

Namun demikian setiap kali Pangeran Ranakusuma harus menahan perasaannya melihat Raden Ayu Galihwarit itu merias dirinya agak berlebih-lebihan, seperti seorang gadis yang terlambat kawin menghadiri peralatan sambil mengharap untuk mendapatkan perhatian dari para jejaka.

Sebenarnya di dalam hati kecilnya, ada juga perasaan yang menggelitik hatinya. Namun karena Pangeran Ranakusuma mengharapkan kekuasaan yang terlalu besar di istana Kangjeng Susuhunan, maka kadang-kadang ia menghindarkan diri dari perasaan-perasaan di hatinya itu. Bahkan kadang-kadang ia bersikap tidak jujur kepada diri sendiri dan berkata “Ia adalah seorang isteri yang setia. Aku memberikan apa yang dimintanya. Tentu ia tidak akan membiarkan orang lain melanggar pagar ayu”

Tetapi bagaimanapun juga, Pangeran Ranakusuma tidak dapat menghapus getar yang kadang-kadang mengguncangkan dadanya.
Derap kereta yang kemudian membawa Raden Ayu Galihwarit pergi meninggalkan halaman istana Ranakusuman terasa menggetarkan jantung Pangeran Ranakusuma. Meskipun hal itu bukan untuk yang pertama kalinya, namun ia tidak dapat mengingkar kata hatinya meskipun kadang-kadang ia berhasil berpura-pura dan acuh tidak acuh.

Ternyata bukan saja Pangeran. Ranakusuma yang memandang kereta itu sampai hilang ditelan pintu regol. Raden Rudirapun memandang dari kejauhan dengan hati yang berdebar-debar. Ibunya selalu pergi dengan atau tidak dengan ayahnya. Meskipun ibunya mengasihi dan memanjakannya, tetapi rasa-rasanya perhatian ibunya terhadap pertemuan-pertemuan, makan-makan dan kegembiraan di antara para bangsawan dan orang-orang asing itu telah merampas sebagian perhatian ibunya terhadap dirinya.

“Tetapi pada suatu saat ibunda memerlukan orang asing itu” berkata Raden Rudira di dalam hatinya. Tetapi Raden Rudira itu sekedar berpikir tentang dirinya sendiri. Jika orang asing itu dapat dimanfaatkan oleh ibunya, maka hal itupun sekedar untuk kepentingannya sendiri. Raden Rudira hampir tidak pernah memikirkan pergolakan yang terjadi di Surakarta dari sumber persoalannya. Ia melihat Surakarta pada permukaannya saja. Dan ia berusaha untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri tanpa menghiraukan masalah lain yang akan bersangkur paut.

Raden Rudira yang sedang merenung tingkah ibunya itu mengerutkan keningnya, ketika seorang pelayan datang kepadanya dan berkata “Raden dipanggil oleh ayahanda”

“Ayahanda memanggil aku?“ Rudira menjadi berdebar-debar.

“Ya. Ayahanda Raden ada di ruang dalam”

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Namun ia harus datang menghadap.

Dengan dada yang berdebaran Raden Rudira masuk ke ruang dalam. Dilihatnya ayahandanya duduk dengan wajah yang berkerut merut.

“Kemarilah” suara Pangeran Ranakusuma datar.

Raden Rudira menjadi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah ayahnya yang dingin dan sama sekali tidak memandang kepadanya. Tetapi iapun melangkah semakin dekat dan kemudian berdiri termangu-mangu. Sikap ayahnya itu bagi Raden Rudira adalah sikap yang agak lain dari sikapnya sehari-hari terhadapnya.

“Duduklah” desis ayahnya.

Raden Rudirapun kemudian duduk dengan gelisah menunggu apakah yang akan dikatakan oleh ayahnya.

Tetapi untuk beberapa saat lamanya Pangeran Ranakusuma masih berdiam diri, sehingga Raden Rudirapun menjadi semakin gelisah pula.

Akhirnya Raden Rudira tidak dapat menahan desakan di dalam hatinya yang meronta-ronta. Karena itulah maka iapun memaksa dirinya untuk bertanya “Apakah ayahanda memanggil aku?“

Ayahnya menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya. Aku ingin berbicara sedikit”

“Apakah yang akan ayahanda bicarakan?“

Raden Rudira memandanginya sejenak. Namun kemudian dilemparkannya pandangannya kembali kekejauhan.

“Rudira” berkata ayahanda kemudian ”apakah kau sudah mendengar ceritera yang terjadi atas Dipanala?“

Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Namun iapun menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Ya ayah. Aku sudah mendengar“

Ayahnya mengangguk. Tetapi pembicaraan itupun terputus ketika seorang abdi menyalakan semua lampu di setiap ruangan di dalam istana Ranakusuman. Dari ruang yang paling belakang sampai pendapa dan bahkan regol halaman, melengkapi beberapa buah lampu yang sudah dinyalakan lebih dahulu.

Raden Rudira menundukkan kepalanya. Rasanya ia sedang menghadap untuk diadili karena kesalahan yang telah dilakukannya.

“Rudira” berkata ayahandanya lebih lanjut “Apakah kau tidak tertarik oleh ceritera itu?“

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam untuk menenteramkan hatinya. Jawabnya “Ceritera itu menarik sekali ayahanda. Ternyata di daerah Surakarta mulai terjadi kerusuhan-kerusuhan sejak beberapa orang bangsawan yang iri hati melihat perkembangan kekuasaan bangsawan yang lain, menarik diri dari pemerintahan di Surakarta”

Ayahandanya terkejut dan bertanya “Siapa yang mengatakan kepadamu?“

“Bukankah ayahanda pernah mengatakan?“

“Bukan menarik diri. Tetapi ada beberapa orang putera Pangeran yang lolos dari kota. Karena itulah maka ayah mereka untuk sementara terpaksa membekukan diri dari pemerintahan karena tingkah anak mereka. Tetapi sekelompok anak-anak muda itu bukan pergi dari rumah mereka untuk merampok”

“Tetapi akibat dari kerusuhan yang mereka lakukan, maka ketenteraman menjadi semakin buruk di Surakarta”

“Memang hal itu mungkin sekali. Tetapi menurut pendengaranku, mereka sama sekali tidak berbuat apa-apa. Salah seorang dari mereka telah bertapa di lereng pegunungan untuk mendapat pepadang, apakah yang sebaiknya dilakukannya”

“Tetapi jika mereka dibiarkan saja berkeliaran di luar kota Surakarta ayah, keadaan pasti akan bertambah buruk. Apalagi jika ayahanda mengetahui keadaan padukuhan Sukawati. Karena itu Kangjeng Susuhunan seharusnya mulai memperhatikan sikap Pangeran Mangkubumi”

“Rudira” berkata ayahandanya kemudian “lepas dari setuju atau tidak setuju terhadap tujuan dan cara mereka mencapai tujuan, namun aku masih menaruh hormat kepada mereka, karena mereka adalah anak-anak muda yang bercita-cita. Mereka ikut memikirkan hari depan Surakarta menurut penilaian mereka”

“Ayah sependapat dengan mereka?“

Ayahnya menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak. Aku tidak sependapat dengan mereka. Tetapi aku menghormati mereka dengan cita-citanya”

“Tetapi bukankah ayah berpihak kepada Kangjeng Susuhunan dan Kumpeni, sehingga jika terjadi sesuatu, ayah pasti akan berhadapan dengan siapapun yang melawan kekuasaan Kangjeng Susuhunan di Surakarta?“

Pangeran Ranakusuma menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya. Tetapi aku tetap hormat kepada mereka. Soalnya adalah perbedaan pendapat antara mereka dan aku. Aku tetap setia kepada kekuasaan Raja, dan mereka memerlukan perubahan”

Raden Rudira tidak menjawab lagi. Kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Nah Rudira” berkata ayahandanya “seharusnya kaupun mulai memperhatikan keadaan yang berkembang terus ini. Kau harus mulai menempatkan dirimu dalam sikap tertentu. Bukankah saudara-saudara sepupumu yang sebaya dengan kau sudah mulai bersikap pula?“

“Yang ayahanda maksud, mereka yang meninggalkan kota?”

“Ya, dan mereka yang setia. Kau tidak dapat berdiri sendiri di dalam keadaan yang gawat. Kau harus tergabung di dalam suatu kelompok bersama saudara-saudara sepupumu yang sesuai pendirian dan sikapnya”

Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau termasuk anak muda yang memiliki kemampuan. Kau adalah pembidik yang baik. Jika kau masih saja menuruti kata hatimu sendiri, pada suatu saat yang paling gawat, kau akan mendapat kesulitan”

Raden Rudira tidak menjawab. Tetapi kepalanya masih terangguk-angguk.

“Tetapi jika berada di antara saudara-saudaramu itu, kau pasti akan mendapat tempat yang baik karena kelebihanmu. Bukankah mereka menyebutmu sebagai pemburu terbaik di antara mereka?“

“Ya ayah”

“Nah, karena itu, beradalah di lingkungan mereka agar kau dapat mengikuti perkembangan keadaan secara terus-menerus”

Raden Rudira tidak menyahut. Tetapi ia masih agak bingung. Apakah yang dikatakan ayahandanya itu ada sangkut pautnya dengan ceritera tentang Dipanala yang ditanyakannya itu.

“Rudira” suara ayahnya tiba-tiba menjadi dalam “karena itu kau jangan terlampau dalam hanyut dalam kepentinganmu sendiri. Dalam pergolakan yang semakin panas ini, setiap keadaan akan menjadi sepercik api yang dapat menyala dan membakar suasana. Pertentangan yang tidak perlu harus dihindarkan. Kita harus dapat mengikat hati rakyat Surakarta, agar mereka tidak mudah dipengaruhi oleh sikap dan usaha yang tampaknya akan menguntungkan mereka”

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Tetapi terasa debar jantungnya menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya ayahnya sudah mulai mempersoalkan dirinya dan tindakannya atas Ki Dipanala.

Dan dugaannya itu tidak salah. Sejenak kemudian ayahandanya berkata “Rudira. Seharusnya kaupun membantu agar rakyat Surakarta menganggap bahwa para bangsawan yang kini berkuasa di bawah perintah Kangjeng Susuhunan Pakubuwana sekarang ini, adalah pelindung rakyat. Dengan demikian kau jangan menyakiti hati rakyat dan orang-orang terdekat yang dapat menimbulkan kesan kesewenang-wenangan”

Raden Rudira masih tetap berdiam diri.

“Nah, barangkali kau tahu maksudku. Kiai Danatirta adalah orang yang berpengaruh atas lingkungannya. Kau harus bersikap baik terhadapnya dan terhadap keluarganya”

Raden Rudira sama sekali masih belum menyahut. Tetapi jantungnya seakan-akan berdetak semakin cepat. Namun demikian Raden Rudira menjadi heran, bahwa ayahnya mulai dari Kiai Danatirta. Apakah ayahnya tidak akan berbicara tentang Dipanala?

“Jika kau berbuat kasar terhadap mereka, Rudira, maka orang-orang di Jati Sari akan mempunyai kesan yang kurang baik terhadap kita. Dengan demikian maka mereka akan dengan cepat dapat dipengaruhi oleh para bangsawan yang menentang kekuasaan Kangjeng Susuhunan”

Dengan suara yang dalam Raden Rudira menjawab “Ya ayahanda” Namun ia mengharap agar ayahnya hanya sekedar membicarakan hubungannya dengan Kiai Danatirta. Dan ia mengharap agar itulah yang dimaksud dengan ceritera Dipanala. Mungkin Kiai Danatirta pernah mengeluh kepada Ki Dipanala, atau barangkali persoalan-persoalan lain yang dikemukakan kepadanya. Atau persoalannya sekedar rentetan dari persoalan yang dahulu pada saat ia hampir saja menghukum Dipanala dengan caranya.

Namun rasa-rasanya jantungnya berhenti berdenyut ketika ayahnya kemudian berkata “Rudira, kenapa kau sakiti hati Dipanala? Tentu bukan karena sekedar dendam bahwa niatmu membawa anak gadis Danatirta itu gagal”

Rudira menjadi semakin gelisah.

“Dipanala dan Danatirta mempunyai hubungan yang rapat. Menurut katamu Sukawati sudah menyusun bentuk yang aneh yang menurut dugaanmu adalah suatu persiapan dari usaha mereka menyusun kekuatan. Apakah kau ingin Jati Sari juga membentuk dirinya menjadi padukuhan yang dibayangi oleh rahasia seperti Sukawati? Mungkin Jati Sari tidak mempunyai seorang seperti Adimas Pangeran Mangkubumi. Tetapi orang-orang Jati Sari dapat mencari hubungan dan bergabung dengan mereka”

Sekali-sekali Rudira mencoba memandang ayahnya, namun kemudian wajahnya tertunduk dalam-dalam.

“Rudira” suara Pangeran Ranakusuma menjadi dalam “Kenapa kau mencoba membunuh Dipanala?“

Pertanyaan itu bagaikan menghentak isi dadanya. Sejenak Rudira menjadi tegang dan bahkan terbungkam.

“Kenapa?“ desak ayahnya “Katakan. Kau dan ibumu sudah mencoba melakukan pembunuhan dengan mengupah beberapa orang penjahat. Tetapi karena mereka tidak berhasil, dan justru salah seorang dari mereka tertangkap, maka kau telah membunuhnya”

Rudira tidak segera dapat menjawab. Wajahnya bagaikan membeku dalam ketegangan. Dengan mata yang tidak berkedip ditatapnya wajah ayahnya. Namun ketika ayahnya memandangnya iapun segera melemparkan pandangannya dan jatuh pada ujung jari kakinya.

“Kenapa?“ desak ayahnya.

“Aku, aku tidak melakukan ayah” sahut Rudira tergagap setelah ia memaksa dirinya untuk menjawab.

“Rudira, aku bukan orang yang terlampau dungu. Karena itu jangan menipu aku. Kau dan ibumu sudah bersepakat untuk membunuhnya”

Raden Rudira masih akan mengingkarinya lagi. Tetapi ayahnya kemudian melemparkan anak panah yang sudah terpotong-potong kehadapan Rudira, sehingga karena itu, maka anak muda itupun telah terbungkam lagi.

“Agaknya dendam yang membakar jantungmu sudah kau tiup-tiupkan ketelinga ibumu sehingga ibumu telah membantumu untuk memusnakan Dipanala, meskipun aku agak curiga, bahwa alasan itu terlampau kecil untuk mengambil keputusan untuk membunuh seseorang“

Rudira sama sekali tidak dapat menjawab lagi. Karena itu dengan mulut yang bagaikan terbungkam ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Rudira“ Ia mendengar suara ayahnya “Apakah pantas bagimu dan ibumu, bahwa karena persoalan yang kecil itu, kau sudah memutuskan untuk membunuhnya? Jika masalahnya adalah masalah Arum yang saat itu gagal kau bawa, sama sekali bukan alasan yang kuat untuk membunuhnya. Nah, apakah kau tahu alasan lain yang lebih dapat diterima dengan akal, bahwa Ki Dipanala harus dibunuh?“

Rudira sama sekali tidak menyahut

“Rudira“ Ayahnya mendesak “jawablah pertanyaanku. Apakah kau mengetahui alasan lain atau alasanmu sendiri yang lebih mantap agar orang itu dapat dibunuh?“

Rudira masih belum menjawab.

“Apakah kau tidak mendengar pertanyaanku, atau kau memang tidak dapat mengatakan apapun juga?“

“Aku tidak tahu ayah. Aku sama sekali tidak tahu”

“Jadi alasanmu satu-satunya adalah karena Dipanala selalu mengganggu niatmu? Hanya itu?“

Rudira mengangguk.

“Jika itu Rudira, kau adalah anak muda yang paling kejam dan bengis. Dipanala mempunyai keluarga. Mempunyai anak-anak yang makan karena jerih payahnya. Jika kau membunuhnya, maka anak anak itu akan terlantar, dan kau tidak akan mendapat keuntungan apa-apa karena Danatirta sendiri akan dapat mencegahnya”

Rudira tidak dapat menjawab lagi. Dan kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk.

“Rudira” berkata ayahnya “seharusnya untuk melakukan hal serupa itu, kau harus minta pertimbangan kepadaku, kepada ayahmu. Masalahnya adalah masalah yang besar. Jiwa manusia. Dan kau agaknya hanya berbicara dengan ibumu. Aku tidak tahu kenapa ibumu dapat menyetujui rencanamu yang bengis itu”

Rudira menjadi semakin tunduk.

“Kenapa?“ tiba-tiba ayahnya membentak sehingga Raden Rudira menjadi terkejut karenanya. Tetapi ia sama sekali tidak dapat menjawabnya.

“Rudira, aku ingin mendengar jawabmu. Sebelum kau menjawab dengan jawaban yang dapat aku mengerti, kau masih harus letap duduk di situ”

Dada Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Hampir di luar sadarnya ia berkata “Ibunda justru menganjurkan aku membunuhnya ayah”

“He?” Ayahnya terkejut. Tetapi kesan di wajahnya itupun segera lenyap. Bahkan wajah Pangeran Ranakusuma itu seakan-akan menjadi semakin terang.

Raden Rudira yang mencoba memandang wajah ayahnya sekilas menjadi heran Ayahnya tampaknya menjadi tidak marah lagi kepadanya. Bahkan kemudian ia melihat Pangeran Ranakusuma itu tersenyum. Katanya “Jadi ibundamu yang menganjurkan kepadamu agar Dipanala dibunuh saja?“

Raden Rudira menjadi ragu-ragu. Lalu jawabnya “Ya ayah. Ibundalah yang menganjurkan agar aku membunuh Dipanala”

“Apakah alasan ibumu?“

“Dipanala dapat mengganggu semua cita-citaku. Ia adalah orang yang berbahaya karena mulutnya berbisa“ Raden Rudira berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia bertanya dengan hati yang kosong “Kenapa ayahanda selalu mendengarkan kata-katanya? Ibunda kadang-kadang. merasakan suatu kejanggalan, seakan-akan Dipanalalah yang menentukan semua keputusan di sini. Ayahanda selalu menuruti pendapatnya, meskipun pendapat itu bertentangan dengan kepentinganku dan kepentingan ibunda”

“He?“ Sekali lagi Pangeran Ranakusuma terkejut. Namun kesan itupun segera lenyap pula dari wajahnya.

Namun demikian, terasa sesuatu bergetar di dalam hatinya. Bahkan kemudian timbul pertanyaan di dalam dirinya “Apakah Galihwarit mengetahui hubunganku dengan adiknya?“

Tetapi iapun kemudian menjawabnya sendiri “Tentu tidak. Jika demikian tentu bukan Dipanala yang akan dibunuhnya”

Sejenak Pangeran Ranakusuma itu merenung. Sekali-sekali dipandanginya kepala Rudira yang tertunduk. Kemudian dilemparkannya pandangannya itu jauh menembus kegelapan di luar daun pintu yang terbuka.

Namun dalam ada itu tumbuh pula persoalan di dalam dirinya dibumbui oleh perasaan yang selama ini dicobanya untuk menekan dalam-dalam di dalam lubuk hatinya, apabila ia melihat sikap dan rias isterinya itu agak berlebih-lebihan jika ia pergi mengunjungi pertemuan dan kadang-kadang makan dan minum bersama orang-orang asing itu. Dengan atau tidak dengan dirinya. Bahkan dengan bercermin kepada diri sendiri, maka timbul pertanyaan pula “Apakah isteriku juga menyimpan suatu rahasia yang diketahui oleh Dipanala sehingga ia akan membunuhnya?“

Sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kepada anaknya “Rudira. Kenapa kau tidak membicarakan rencanamu itu dengan ayahmu?“

Rudira tidak berani menengadahkan wajahnya, dan sama sekali tidak menjawab.

Tetapi kata ayahnya lebih lanjut sama sekali tidak diduganya. “Jika kau membicarakannya dengan aku, mungkin aku akan dapat memberimu jalan sehingga kau tidak akan gagal”

Tiba-tiba saja Raden Rudira mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah ayahnya dengan penuh pertanyaan. Tetapi ayahnya itu justru tersenyum kepadanya “Kau tidak percaya?“

Raden Rudira tidak menyahut. Ia masih belum mengerti tangkapan yang sebenarnya dari ayahanda itu.

“Rudira” berkata ayahnya kemudian “Kau menjadi bingung?”

“Aku tidak mengerti ayahanda, perasaan apakah yang sekarang bergolak di dalam hatiku”

“Kau memang sedang bingung. Tetapi baiklah. Dengarlah. Aku akan membantumu jika kau dapat mengatakan alasan, kenapa ibumu menganjurkan kepadamu untuk membunuh Dipanala? Apakah benar bahwa hal itu sekedar karena cintanya dan kasih sayangnya kepadamu? Jika demikian, maka ia dapat mengambil jalan lain. Karena itu, untuk kepentinganmu dan kepentingan ibundamu sendiri Rudira, cobalah, usahakanlah mengerti, apakah alasan ibumu yang sebenarnya”

“Apakah aku harus bertanya kepada ibunda?“

“Terserahlah kepadamu. Tetapi hati-hati. Jangan menyakiti hati ibundamu. Ia memang sangat mengasihimu” ayahandanya berhenti jenak, lalu “Jika aku mengetahui alasan yang sebenarnya itu. Maka aku akan menentukan sikap. Jika masalahnya memang pentingi sekali dan wajar, aku akan menolongmu”

Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, pergilah. Tetapi untuk selanjutnya kau harus berhati-hati. Jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakakan kau sendiri dan dapat menimbulkan kesan yang tidak baik. Jika terjadi sesuatu, dan rakyat yang bodoh itu dapat dibakar, maka kita akan menjadi sasaran pertama apabila kita selalu menyakiti hati mereka”

Raden Rudira mengangguk kecil sambil menjawab “Ya ayah. Aku akan mengingat semuanya”

Sejenak kemudian maka Raden Rudirapun segera minta diri, sementara ayahandanya masih duduk di tempatnya. Jika Rudira berbasil menemukan alasan ibundanya yang sebenarnya, dan alasan itu benar-benar dapat dimengertinya, maka hal itu pasti akan menenteramkannya. Ia tidak akan selalu dikejar oleh perasaan curiga dan cemas. Ia akan dapat berbuat sesuatu dengan mantap, karena sebenarnyalah Ki Dipanala tidak berguna lagi baginya sekarang. Hubungannya dengan adik kandung Raden Ayu Galihwarit telah berjalan dengan lancar tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali oleh Ki Dipanala.

“Jika Galihwarit mengetahuinya dan terlebih-lebih lagi suami adik kandungnya itu, maka keadaan pasti akan bergejolak. Suaminya itu pasti akan menentukan sikap dan barangkali kami terpaksa melakukan perang tanding” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya “Tetapi itu tentu memalukan sekali meskipun aku dapat berbuat lebih dahulu dengan bantuan kumpeni”

Sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma itupun segera berkemas. Ia memang benar-benar harus pergi ke istana meskipun hanya sekedar untuk mendengarkan perkembangan terakhir dari Kerajaan Surakarta di bawah pemerintahan Kangjeng Susuhunan Pakubuwana. Namun yang semakin lama tampak menjadi semakin suram karena selalu dibayang-bayangi oleh kekuasaan asing yang semakin dalam mencengkeram kekuasaan di Surakarta.

Dalam pada itu Raden Rudira duduk termenung di ruang belakang. Tetapi ia selalu saja gelisah karena kata-kata ayahnya.

Tetapi tidak seperti yang dikehendaki oleh ayahnya, agar ia dapat mengemukakan alasan ibunya seperti yang dikehendaki oleh ayahandanya, tetapi hatinya justru ditumbuhi oleh kecurigaan. Bahkan setiap kali timbul pertanyaan di dalam hatinya “Apakah benar ada alasan rahasia yang tidak dikatakan oleh ibunda tentang rencana pembunuhan itu? Jika demikian apakah alasan itu dapat langsung aku tanyakan kepada ibunda?“

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang ibunya yang cantik dan masih tampak selalu muda itu berada di antara orang asing yang meskipun tidak banyak jumlahnya, tetapi cukup mencemaskannya.

“Apa saja yang dilakukan oleh ibunda dan kadang-kadang bersama ayahanda di dalam pertemuan-pertemuan serupa itu? Apalagi jika ibunda pergi seorang diri?“

Perasaan kasih seorang ibu kepada anaknya, terasa setiap saat membelai hati Raden Rudira, Namun setiap kali ia selalu dicemaskan oleh tindak dan sikap ibunya. Bahkan kadang-kadang ia tidak rela apabila ibundanya pergi dan duduk di dalam sebuah kereta bersama orang asing itu, meskipun kadang-kadang ibunya berkata kepadanya sebelum ia bertanya “Bagi mereka, hal serupa itu adalah menjadi kebiasaan. Mereka bukan orang-orang yang lekas menjadi cemburu seperti kita. Mereka menganggap persahabatan sebagai sesuatu yang harus dihormati, seperti mereka menghormati diri mereka sendiri. Karena itulah maka tidak seorangpun dari mereka yang berbuat tidak senonoh”

Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Mereka menghormati persahabatan seperti dirinya sendiri. Dengan demikian mereka tentu akan menghormati keluarga dan ikatan keluarga sahabat-sahabat mereka. Dan merekapun akan menghormati ibunda dan ayahanda, apalagi ayahanda adalah seorang Pangeran“

Meskipun demikian hati Raden Rudira tidak juga menjadi tenteram. Sebagai seorang anak laki-laki yang dewasa, ia dapat membayangkan kemungkinan yang dapat timbul. Tetapi setiap kali terngiang kata-kata ibunya “Mereka menghormati persahabatan seperti dirinya sendiri. Seperti dirinya sendiri”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia kemudian berdiri dam melangkah keluar, dilihatnya bayangan lampu obor yang menyala di sudut istananya bergetar oleh angin malam yang lembut.

Tanpa maksud tertentu Rudira berjalan saja di halaman di sebelah rumahnya. Dingin malam yang semakin menggigit terasa membuat hatinya agak sejuk. Ketika ia kemudian menengadahkan kepalanya, dilihatnya bintang-bintang gemerlapan di langit yang seakan-akan tanpa batas.

Rudira terkejut ketika seseorang menyapanya dari kegelapan.

Namun mendengar suaranya yang agak parau, Rudira segera mengenalnya, bahwa orang itu adalah Mandra.

“Apakah tuan menghadap ayahanda?“ bertanya Mandra. Raden Rudira menganggukkan kepalanya.

“Apakah yang ditanyakan oleh ayahanda tuan kepada tuan ada hubungannya dengan kegagalan kita?“

Sekali lagi Raden Rudira mengangguk sambil menjawab “Ya. Ayah bertanya tentang penyamun itu, tentang anak panah yang ternyata telah disimpan oleh Dipanala, dan kemudian ayah langsung menunjuk hidungku sambil bertanya “Kenapa kau berusaha membunuh Dipanala?“

“Apakah tuan mengiyakan?“

“Sebenarnya aku ingin mengingkarinya seperti pesan ibunda. Tetapi aku tidak berhasil. Ayah mempunyai alasan yang kuat untuk menuduh aku”

Mandra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia bertanya “Dengan demikian apakah ayahanda tuan juga menyebut namaku?“

“Tidak”

“Tetapi Pangeran Ranakusuma tentu mengetahuinya. Jika yang seorang Raden Rudira, maka yang seorang tentu aku”

“Apaboleh buat”

“Tetapi, tetapi apakah ayahanda marah?“

Rudira menggeleng. Katanya “Aku harus mengetahui alasan ibunda yang sebenarnya, kenapa ibundapun dengan sangat bernafsu ingin membunuh Ki Dipanala. Akupun mulai mempertimbangkannya, jika tidak ada alasan yang kuat, ibunda tentu tidak akan mengambil langkah demikian”

Mandrapun mengangguk-anggukkan kepalanya pula sambil berkata “Ya. Tentu ada alasan yang cukup kuat”

“Itulah yang harus aku tanyakan kepada ibunda”

Mandra tidak menyahut. Tetapi menurut dugaannya, alasan itu memang dapat saja alasan yang lain, tetapi mungkin juga bagi seorang ibu yang sangat memanjakan anaknya, kegagalan Rudira di Jati Aking, membuatnya marah sekali sehingga hampk di luar sadarnya ia memerintahkan agar orang yang bernama Dipanala itu dibunuh saja. Tetapi tidak mustahil pula bahwa memang ada alasan lain yang cukup kuat bagi Raden Ayu Galihwarit.

“Aku memerlukan waktu” berkata Rudira kepada pengiringnya yang-setia itu.

“Tetapi tidak terlalu lama. Keadaankotaini bagaikan bisul yang akan pecah. Dan itu dapat terjadi siang, malam, pagi atau sore”

Raden Rudira mengangguk-angguk. Namun katanya “Tetapi kenapa justru ibunda semakin sering pergi dengan atau tidak dengan ayahanda? Kumpeni sama sekali tidak menghiraukan keadaan yang sebenarnya terjadi diSurakarta. Mereka masih saja mengadakan bujana makan dan minum. Justru semakin lama bagaikan orang-orang yang tidak mempunyai persoalan sama sekali selain makan, minum bersenang-senang dan seakan-akan melepaskan semua kekangan nafsunya”

“Ya, demikianlah agaknya”

Namun ternyata kata-kata Raden Rudira itu telah mengejutkan dirinya sendiri. Tiba-tiba saja kecurigaannya menjadi semakin memuncak. Sekali lagi terngiang kata-katanya sendiri yang seolah-olah begitu saja terlontar dari sela-sela bibirnya “Makan, minum, bersenang-senang dan seakan-akan melepaskan semua kekangan nafsunya”

“Apakah betul begitu?” Ia bertanya kepada diri sendiri.

Namun pertanyaan yang lain telah membuat hatinya semakin gelisah “Jika tidak, apa saja yang mereka lakukan? Pada suatu saat mereka tentu akan jemu makan dan minum betapa enak dan beraneka macamnya makanan. Tetapi mereka tentu mencari kepuasan yang lain, tidak sekedar makan minum”

Terasa bulu-bulu Raden Rudira meremang. Sekilas terbayang wajah ibunya yang cantik dan masih selalu tampak muda. Pakaian dan rias yang berlebih-lebihan.

“Apakah ayahanda tidak pernah merasa cemburu, atau justru karena dengan demikian ayah akan mendapatkan apa yang dikehendakinya. Jabatan, kekuasaan dan segala macam benda yang selama ini belum pernah kita miliki?“

“Tidak. Tentu tidak” tiba-tiba saja hatinya melonjak “Ayah tentu tidak akan mengorbankan harga dirinya sampai serendah itu. Apalagi ayahanda adalah seorang Pangeran. Jika terjadi sesuatu yang menyimpang dari keterangan ibunda, bahwa mereka menghormati persahabatan seperti dirinya sendiri, maka ayahanda tentu akan bertindak. Tentu ayahanda tidak akan menjual harga dirinya, berapapun juga mereka akan membeli”

Tiba-tiba terasa hati Raden Rudira itu menjadi panas. Ia tidak mau, meskipun sekedar di dalam angan-angan, ibunya akan membagi kasih sayangnya. Ibunya mencintainya dan mencintai ayahandanya. Dan tidak boleh ada sangkutan kasih yang lain pada ibunya, apapun alasannya. Sadar atau tidak sadar, jujur atau tidak jujur.

Tetapi Raden Rudira bahkan telah dicengkam oleh perasaan curiga yang amat sangat. Dan perasaan itu bagaikan mengorek dasar hatinya yang manja.

Karena itu, maka terbersit suatu keinginan di dalam hatinya untuk sekali-sekali mengetahui meskipun dari kejauhan, apakah yang sebenarnya dilakukan oleh ibunda di dalam pertemuan-pertemuan serupa itu.

”O“ Raden Rudira mengeluh di dalam hati “Apakah aku sudah kehilangan kepercayaan kepada ibunda?“

Tetapi Raden Rudira. tidak dapat menyingkirkan keinginan itu. Bahkan semakin ia mencoba melupakannya, rasa-rasanya bagaikan semakin dalam menghunjam ke dalam jantungnya.

Dalam pada itu, pengaruh perkembangan hubungan antara pimpinan pemerintahan diSurakartadan kumpeni mempunyai pengaruh di dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa orang bangsawan dengan tegas menunjukkan penolakan atas pengarus yang semakin besar mencengkam Surakarta, sedang beberapa orang Pangeran yang lain dengan senang hati menerima keadaan itu sebagai suatu karunia bagi mereka yang haus akan kekayaan dan kemewahan yang melimpah-limpah, tanpa menghiraukan kemungkinan apapun yang dapat terjadi atas bangsa dan negaranya.

Jilid 7 Bab 2 : Hutan Perburuan

Pertentangan itulah yang bagaikan jalur yang menyelusur dari atas sampai ke bawah. Pengaruh para Pangeran ternyata mempunyai warna tersendiri di daerah palenggahan mereka atau di daerah pengaruh mereka masing-masing.

Dan itulah yang menyedihkan. Mereka yang tidak banyak mengerti tentang persoalan yang menyangkut pemerintahan dan hubungannya dengan perkembangan tanah mereka, menjadi terpecah pula. Sebagian dengan sadar menentukan sikap, dan yang sebagian lagi tanpa memikirkan sebab dan akibatnya, langsung saja berpihak.

Dalam keseluruhanSurakartasudah mulai retak.Parabangsawan saling mencurigai di antara mereka. Dan demikian juga rakyat di suatu daerah terhadap rakyat di daerah yang lain. Seakan-akan mereka bukan lagi terdiri dari kesatuan yang selama ini telah bersama-sama membinaSurakartadengan segala keprihatinan.

Di Jati Aking, udara yang panas itupun sudah terasa semakin. panas. Dengan demikian maka baik Raden Juwiring maupun Buntal telah menempa diri sejauh-jauh dapat dilakukan dengan cara masing-masing. Buntal masih saja mengisi segenap waktunya tanpa mengenal lelah, sedang Juwiring mempergunakan cara yang lebih sederhana namun mempunyai hasil yang cukup mengagumkan. Sedang Arum di bawah bimbingan khusus dari Kiai Danatirta, justru karena ia seorang gadis, meningkat dengan cepatnya pula mengiringi kemajuan kedua saudara angkatnya meskipun mereka adalah laki-laki.

Namun sejalan dengan kemajuan mereka di dalam olah kanuragan, maka di mata Buntal, Arumpun berkembang seperti kuncup yang mulai mekar. Baunya yang semerbak dan warnanya yang cerah semakin menumbuhkan kesan yang lain. di dalam dirinya. Tetapi setiap kali ia masih saja harus mengusap dadanya, betapa ia merasa dirinya terlampau kecil. Di antara dirinya dan gadis itu seakan-akan telah berdiri seorang raksasa yang perkasa. Raden Juwiring.

Setiap kali Buntal melihat Arum memakai pakaiannya yang paling bagus, yang diterimanya dari Raden Ayu Galihwarit, hatinya menjadi berdebar-debar. Sekali-sekali teringat pula olehnya Raden Rudira yang setiap saat dapat datang ke padukuhan ini atas perintah ayahandanya untuk mengambil gadis itu. Dengan umpan yang tidak ternilai harganya atau dengan kekerasan. Tetapi seandainya Raden Rudira itu tidak datang lagi ke padepokan ini makar di sini masih ada Raden Juwiring.

Namun hal itu telah mendorongnya untuk menempa diri tanpa mengenal batas waktu. Kapan saja ia ingin, maka hal itu dilakukannya. Bahkan kadang-kadang di tengah malam, selagi ia terbangun dari tidurnya dan ia tidak berhasil memejamkan matanya kembali, ma ka iapun kemudian pergi ke tempat yang sepi dan jarang disentuh kaki para penghuni padepokan itu, apalagi di malam hari, untuk melakukan latihan seorang diri.

“Meskipun aku keturunan pidak pedarakan, tetapi aku tidak mau kalah dengan keturunan bangsawanan” katanya di dalam hati. Namun apabila kemudian ia sadar, ia menjadi malu sendiri, seakan-akan ia telah memusuhi Raden Juwiring yang bersikap terlalu baik kepadanya.

“Gila” desisnya “hatiku sudah dicengkam oleh kuasa iblis yang paling jahat. Tidak demikian seharusnya aku bersikap, di dalam perbuatan dan angan-angan terhadap saudara angkat apabila aku seseorang yang jujur”

Namun setiap kali persoalan itu kembali menggelitik hatinya.

Adalah suatu hal yang mengejutkannya ketika pada suatu hari Kiai Danatirta telah memanggilnya bersama Raden Juwiring. Dengan wajah yang bersungguh-sungguh Kiai Danatirta itupun berkata “Anak-anakku, ternyata keadaan kini menjadi semakin gawat. Di sebelah Timur telah timbul kegelisahan yang sangat. Mungkin masih belum terasa dari daerah yang aman seperti Jati Sari. Namun kadang-kadang telah terjadi bentrokan yang gawat. Masih sering terjadi kesalah pahaman, sehingga seakan-akan yang terjadi adalah perselisihan di antara rakyat Surakarta. Seolah-olah terjadi perselisihan antara padukuhan jang satu dengan padukuhan yang lain, tetapi tidak demikian yang sebenarnya, Persoalannya jauh lebih dalam dari persoalan padukuhan yang kecil dan barangkali persoalan kerusuhan biasa”

Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Apakah sebabnya yang terjadi adalah demikian ayah? Bukankah dengan demikian para petanilah yang menjadi korban tanpa menyentuh sasarannya. Bukankah kerusuhan yang demikian itu tidak akan berarti apa-apa bagi kumpeni?“

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Jawabnya ”Ya. Jika yang terjadi demikian, memang Kumpeni tidak akan merasa terguncang. sama sekali. Bahkan mereka dapat memanfaatkan bentrokan-bentrokan kecil yang telah terjadi itu. Tetapi bagaimanapun juga yang telah terjadi itu merupakan persoalan. Jika para bangsawan masih saja berbeda sikap dan pendirian, maka hal serupa itu masih saja akan terjadi. Yang parah adalah apabila Kumpeni justru dapat mengambil keuntungan dan meniupkan pertentangan di antara kita menjadi lebih besar lagi”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan dengan suara yang dalam Raden Juwiring berkata “Dengan menyesal aku harus menyaksikan sikap ayahanda yang condong berpihak kepada kumpeni”

“Ya” sahut Kiai Danatirta “Tetapi tanpa sesadarnya. Raden Ayu Galihwaritlah yang telah mendorongnya. Seperti yang dikatakan oleh Ki Dipanala, bahwa pemberian kumpeni yang berlimpah-limpah itu agaknya telah mengaburkan sikap satria yang seharusnya dimiliki oleh para bangsawan di Surakarta”

Raden Juwiring mengangguk-angguk. Tetapi wajahnya menjadi semakin buram. Agaknya sesuatu sedang bergejolak di dalam hatinya.

“Anak-anakku” berkata Kiai Danatirta kemudian “dalam keadaan yang gawat ini, sebenarnya Surakarta memerlukan seorang yang kuat. Seorang yang dapat berdiri diatas segala kepentingan, sehingga justru tidak terjadi benturan di antara kita sendiri. Dan jauh sebelum semuanya terjadi, kita harus sudah memilih tempat. Dan aku percaya, bahwa Ki Demang di Sambi Sari akan sependapat dengan kita. Sebelum kita semua terlambat, kita harus mengambil sikap, agar apabila banjir bandang melanda Surakarta, kita tidak akan sekedar hanyut dan hilang tenggelam tanpa arti. Kita harus merupakan butir-butir air dalam arus banjir bandang, atau menjadi sebutir debu dari batu karang yang tidak tergoyahkan”

Kedua anak-anak muda ku mengangguk-angguk. Mereka mengerti sikap guru dan sekaligus ayah angkatnya. Dalam keadaan yang paling gawat dan menentukan, mereka tidak dapat menunggu.

Dan ternyata bahwa Kiai Danatirtapun kemudian berkata “Karena itu anak-anakku, jika kita ingin menentukan sikap, maka kita harus memilih sekarang, juga. Kita sudah dapat menduga, siapakah yang dapat dijadikan sandaran di dalam saat yang paling gawat”

Juwiring mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu. Dan Kiai Danatirta berkata selanjutnya “Anak-anakku. Sebenarnya aku ingin mendengar pendapatmu. Yang kita kenal dan pasti, ada dua pihak yang berdiri bersebarangan di Surakarta. Katakaniah, bahwa yang satu pihak telah dipengaruhi oleh kehadiran orang asing itu dan justru membantunya mempersempit kemerdekaan diri, sedang yang lain berdiri pada atas yang sewajarnya dibumi sendiri. Bukan untuk sesuatu yang berlebih-lebihan. Mereka yang tidak dapat menerima pengaruh yang semakin besar dari orang asing itu tidak menginginkan sesuatu di luar haknya. Mereka hanya ingin agar rumah tangganya tidak terganggu. Dan itu adalah wajar sekali”

Wajah Raden Juwiring menjadi semakin berkerut.

“Sekarang, menurut pendapatmu, dimana kita harus berdiri? Aku tahu bahwa Juwiring menghadapi masalah yang cukup berat bagi dirinya sendiri, karena kebetulan ia adalah putera Pangeran Ranakusuma”

Wajah Raden Juwiringpun menjadi semakin tunduk.

“Karena itu” berkata Kiai Danatirta lebih lanjut “pikirkanlah sebaik-baiknya. Dimanakah kau akan berdiri. Tentu kau tidak akan dapat menjawabnya sekarang. Aku tidak mau kau mengambil keputusan yang tergesa-gesa. Hal ini akan menyangkut masalah yang sangat luas bagimu”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam.

“Namun sementara itu Juwiring, aku ingin memberitahukan kepada kalian, bahwa aku berniat untuk menghubungi Pangeran Mangkubumi atau orang-orangnya di Sukawati. Aku ingin mendapat penjelasan, apakah yang telah mereka lakukan, karena menurut pendengaranku, mereka telah mempersiapkan diri jika terjadi sesuatu”

Juwiringpun kemudian mengangkat wajahnya. Dengan ragu-ragu ia, berkata “Ayah, aku memang menjadi bingung sekali. Tetapi pada dasarnya aku adalah salah seorang yang lahir dan dibesarkan diatas bumi Surakarta. Itulah yang mendorong aku untuk mencintai tanah ini. Meskipun aku wajib mencintai ayah dan ibunda, tetapi apakah salahnya bahwa aku tidak menempuh jalan yang sama seperti yang dilakukan oleh ayahanda Pangeran Ranakusuma. Apalagi seperti ibunda Galihwarit”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun ia masih berkata “Kau tergesa-gesa Juwiring. Jika aku mengambil sikap itu adalah sikap padepokan Jati Aking. Tetapi aku tidak mengharuskan kau bersikap seperti aku. Aku tidak akan marah dan apalagi mengingkari kau sebagai murid dan anak angkatku. Aku menghargai perbedaan pendirian. Jika kita memang harus menempuh jalan yang berbeda, kita akan berjalan diatas jalan kita masing-masing. Tetapi jika kita bersetuju untuk menempuh satu jalan, aku akan senang sekali”

“Ayah, aku seolah-olah tidak mempunyai tempat lagi di rumah ayahanda Pangeran Ranakusuma. Karena itu, aku tidak akan dapat berada di dalam lingkungannya”

“Apakah itu alasanmu? Sekedar untuk menempatkan diri dalam lingkungan yang baru karena kau kehilangan tempat di lingkunganmu yang lama?“

“Tidak ayah, bukan itu. Tetapi aku merasa bahwa aku tidak sesuai lagi dengan lingkungan ayahanda bukan karena aku disingkirkan, tetapi juga karena sikap ayahanda terhadap Kumpeni dan pengaruhnya”

“Jadi bukan semata-mata sebuah luapan dendam terhadap kedudukanmu dalam keluargamu?“

“Sama sekali bukan ayah”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Lalu “Meskipun demikian kau masih mempunyai kesempatan yang panjang untuk memikirkannya” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “sementara itu, hubungan yang aku inginkan dengan Sukawati, akan aku teruskan”

Sejenak Kiai Danatirta termangu-mangu. Namun kemudian katanya selanjutnya “Anak-anakku. Aku ingin kalianlah yang pergi ke Sukawati. Apalagi setelah aku mendengar isi hati Juwiring. Sambil berjalan ke Sukawati ia dapat berpikir dan memperbincangkan kedudukannya di dalam lingkungannya dengan kau Buntal. Bersikaplah jujur terhadap diri sendiri, sehingga semua tindakan yang akan kalian lakukan adalah tindakan yang berakar di dalam hati” Kedua anak muda itu tidak menjawab ”Apakah kalian sanggup melakukannya?“

Buntallah yang lebih dahulu menjawab meskipun nada suaranya agak dalam “Tentu kami akan bersedia ayah. Seperti yang selalu ayah pesankan kepada kami, bahwa tanah yang kami injak, air yang kami minum dan butir-butir beras yang kami makan adalah bagian dari bumi yang mengandung kami, seperti seorang ibu yang
mengandung dan kemudian membesarkan anaknya. Adalah wajib bagi kami untuk berbuat sesuatu terhadapnya sesuai dengan tuntutan keadaan dan kemampuan kami masing-masing”

“Bagus Buntal“ Kiai Danatirta mengangguk-angguk “Jika demikian, aku percaya kepada kalian berdua. Kalian adalah anak-anakku yang akan pergi ke Sukawati. Aku sudah tidak sangsi lagi. Jika Pangeran Mangkubumi tidak ada, maka bertemulah dengan orang-orang yang dipercayanya atau Ki Demang di Sukawati”

“Bagaimana kami dapat menghadap Pangeran Mangkubumi ayah?”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Dalam keadaan seperti ini, tentu setiap orang mempunyai prasangka terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya.

Karena itu, setelah merenung sejenak, maka Kiai Danatirtapun berkata “Kau harus menemukan jalan yang tepat. Jika tidak, kau tidak akan sampai padanya” orang itu berhenti sejenak, lalu “Aku mempunyai seorang sahabat yang tinggal di Sukawati. Aku berharap bahwa iapun ikut di dalam arus pergolakan yang telah terjadi di daerah itu. Menurut pendengaranku, orang-orang Sukawati bukan saja mempersiapkan segala jenis senjata, tetapi merekapun sibuk menyempurnakan ilmu mereka lahir dan batin. Beberapa orang lelah menempa diri di dalam olah kanuragan. Yang lain mengasingkan diri di lereng-lereng gunung dan tebing-tebing untuk mendapatkan jalan terang dan petunjuk, namun juga untuk membajakan ilmu mereka dan menyadap kekuatan alam di sekitarnya”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

”Sahabatku adalah seorang yang memiliki kemampuan yang cukup. Itulah sebabnya aku mengharap bahwa iapun mempergunakan kemampuan itu untuk kepentingan tanah kelahiran ini” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Orang itu bernama Kiai Sarpa Srana, yang sering disebut orang Kiai Sarpa Ireng. Ia adalah seorang yang menguasai hubungan dengan ular. Seakan ia dapat berbicara dengan segala jenis ular. Ia dapat mempergunakan racun ular untuk kepentingan yaing dianggapnya baik”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-angguk pula.

“Temuilah Kiai Sarpa Ireng. Katakanlah bahwa kau berdua adalah muridku. Katakanlah apa maksud kedatanganmu. Mudah-mudahan orang itu dapat menolongmu”

Juwiring mengangkat kepalanya, lalu katanya “Kami siap melakukannya ayah. Kapankah kami harus berangkat?“

“Jika matahari besok terbit, kalian berangkat dari padepokan ini. Sekarang kalian sempat menyediakan bekal secukupnya. Sukawati tidak terlalu jauh, meskipun bukan jarak yang dekat”

“Baiklah ayah. Kami akan berkemas”

“Kalian bukan saja harus menyediakan bekal, tetapi juga alat untuk menjaga diri”

“Senjata?“

“Ya”

“Pedang maksud ayah, atau tombak”

Kiai Danatirta menggeleng. Jawabnya “Bukan senjata yang justru dapat mengundang kesulitan. Bawalah senjata yang dapat kalian sembunyikan”

“Pisau?“

“Semacam itu. Kau dapat membawa sebilah keris dan beberapa buah pisau kecil. Bukan semata-mata karena kalian ingin berke lahi. Tetapi keadaan ternyata sangat gawat. Semakin lama semakin panas. Jika karena sesuatu hal, di daerah Sukawati kau bertemu dengan kumpeni yang memiliki senjata yang dapat meledak dan membunuh dari jarak yang jauh, kau dapat melawannya dengan pisau-pisau kecil itu jika perlu, meskipun jangkau lontaran tanganmu tidak sejauh jangkau peluru”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka memang sudah melatih diri melontarkan pisau-pisau kecil untuk menghadapi lawan pada jarak yang tidak dapat dijangkau dengan tangan. Dan jika mereka bertemu dengan Kumpeni, maka mereka mempunyai senjata yang dapat menyerang mereka dari jarak yang jauh.

Meskipun demikian Buntal masih juga bertanya “Ayah, apakah Kumpeni akan pergi ke Sukawati?“

“Hanya suatu kemungkinan Buntal. Menurut pendengaranku, Kumpeni sangat membenci daerah itu. Jika mereka datang kesana, maka akan mungkin sekali timbul bentrokan karena orang-orang Sukawati juga membenci mereka sampai keujung rambut”

Buntal mengangguk-angguk. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi ia mendengar juga dari Ki Dipanala atau kadang-kadang justru dari para pedagang yang keluar masuk kota Surakarta, bahwa keadaan memang memanjat semakin panas.

“Nah, sekarang kalian dapat beristirahat” berkata Kiai Danatirta “besok pagi-pagi kalian akan berangkat”

Kedua anak-anak muda itupun kemudian meninggalkan gurunya yang telah mengangkat mereka menjadi anak-anaknya. Perintahnya memberikan sesuatu yang terasa lain di hati kedua anak-anak muda itu. Jika selama ini mereka ditempa untuk melatih diri di dalam ruangan yang tertutup dan hampir tidak dilihat orang lain, maka kini mereka mendapat tugas untuk pergi keluar dari lingkungan mereka, meskipun tugas itu sekedar tugas yang pendek dan hampir tidak memerlukan kemampuan apapun juga, karena mereka hanya sekedar pergi untuk menemui seseorang seperti jika mereka di hari-hari yang senggang mengunjungi kakek dan nenek di padukuhan lain.

Selagi mereka berdua berada di bilik mereka, maka kedua anak-anak itupun mulai berbincang. Meskipun Kiai Danatirta tidak menyebutkan dengan jelas, tetapi mereka sudah dapat menangkap maksud- gurunya menyuruh mereka berdua menghadap Pangeran Mangkubumi atau orang yang dianggapnya berwenang.

“Apa yang akan kita katakan?” bertanya Buntal.

“Kita akan berterus terang. Kita akan menyerahkan semuanya kepada Pangeran Mangkubumi. Maksudku, kita menyediakan diri untuk melakukan segala perintahnya. Bukankah menurut tangkapanmu juga demikian yang dimaksud oleh ayah?“

“Ya. Tetapi yang siap untuk melakukan segalanya barulah kita di padepokan ini, sedangkan rakyat Jati Sari masih memerlukan banyak persoalan”

“Jika Pangeran Mangkubumi menerima penyerahan kita, maka kita akan segera mulai. Tentu rakyat Jati Sari tidak akan dapat menyamai rakyat Sukawati. Tetapi persiapan yang sedikit itu tentu akan banyak membantu menghadapi arus kekuasaan asing di bumi Surakarta. Setidak-tidaknya kita dapat memberikan gambaran siapakah yang akan kita laWan, dan kemampuan yang ada pada mereka.

Senjata mereka yang ganas itu dan cara mereka menyerang lawan-lawannya”

“Aku kira Pangeran Mangkubumi tidak akan menolak meskipun tentu ada juga kecurigaannya terhadap kita dan padepokan Jati Aking”

Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Ya, karena di Jati Aking ada aku. Dan aku adalah Putera Pangeran Ranakusuma. Setiap orang di Surakarta mengetahui, bagaimanakah sikap ayahanda terhadap orang asing itu”

Buntal tidak menyahut lagi. Ia tidak ingin mengorek luka itu lebih dalam lagi. Bagaimanapun juga ia dapat merasakan betapa berat persoalan yang dihadapi oleh Raden Juwiring. Di satu pihak, ia merasa ikut bertanggung jawab meskipun hanya seperti setitik air, tahwa Surakarta harus dipertahankan. Bukan hanya sekedar bentuk lahiriahnya saja, tetapi juga kekuasaan dan hakekat dari kekuasaan itu. Tetapi di pihak yang lain, ia merasa wajib juga berbakti kepada ayahandanya dan menurut perintahnya. Jika ayahandanya memerlukan untuk ikut berjalan diatas jalan yang dibuatnya, maka Raden Juwiring akan berdiri di simpang jalan. Jalan yang ditunjukkan oleh ayahnya dan jalan yang telah diyakininya.

Keduanyapun kemudian berdiam diri untuk sejenak. Dan yang mula-mula berkata adalah Juwiring “Sebaliknya kita berkemas. Mungkin kita akan bermalam beberapa malam di Sukawati. Mungkin kita harus menunggu Pangeran Mangkubumi sehari dua hari”

Buntal menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Baiklah. Apakah kita akan membawa pakaian beberapa potong?“

“Ya. Sepotong baju, sepotong celana dan sehelai kain panjang. Itu saja”

Buntal mengangguk-angguk. Tetapi seperti kata gurunya, ia harus menyiapkan bukan saja pakaian, tetapi juga senjata.

Karena itu, maka Buntalpun kemudian mempersiapkan pisau-pisaunya. Ia masih mempunyai kesempatan untuk mencobanya sekali lagi. Di dalam ruang latihannya Buntal mulai berlatih. Selain untuk membiasakan jari-jari tangannya, ia merasa perlu mengisi waktunya yang seakan-akan berjalan terlampau lambat. Hampir ia tidak sabar menunggu malam menjelang pagi.

Demikianlah maka akhirnya waktu yang ditunggunya itu datang juga. Malam itu Buntal hanya tertidur beberapa saat saja. Menjelang fajar ia sudah terbangun dan kemudian berwudhuk sebelum melakukan kewajibannya sebagai seseorang hamba yang mengakui adanya Tuhan. Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ternyata Juwiringpun telah melakukannya pula dalam waktu yang hampir bersamaan, sehingga sejenak kemudian merekapun segera bersiap untuk melakukan perjalanan yang tidak diketahui apakah yang akan terjadi di sepanjang jalan karena keadaan yang tidak menentu. Mungkin mereka tidak akan menjumpai apapun di perjaianan bahkan mungkin seseorang yang baik hati akan memberinya beberapa butir buah kelapa muda. Tetapi mungkin juga mereka akan bertemu dengan segerombolan perampok yang memanfaatkan setiap keadaan untuk kepentingan mereka sendiri, atau mereka akan berpapasan dengan sekelompok peronda yang di antaranya terdapat beberapa orang Kumpeni.

Tetapi betapa terkejut kedua anak-anak muda itu ketika tiba-tiba saja pintu bilik mereka itu terbuka. Ketika mereka serentak berpaling dilihatnya seseorang berdiri di muka pintu.

“Aku sudah siap. Bukankah kita akan berangkat pagi ini?”

“Arum” desis Juwiring dan Buntal hampir berbareng.

“Bukankah kita akan pergi ke Sukawati?“ bertanya Arum.

“Kamilah yang akan pergi. Tetapi kau tidak”

“Aku juga. Ayah menyuruh kita bertiga pergi di pagi ini”

Juwiring dan Buntal saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Juwiring berkata “Tidak Arum. Tentu ayahmu tidak akan membiarkan kau pergi”

“Ayah menyuruh aku pergi bersama kalian ke Sukawati menghadap Pangeran Mangkubumi. Aku tahu benar. Bukankah kita harus lebih dahulu menemui Kiai Sarpasrana dan mengatakan maksud kedatangan kita?“

Sekali lagi kedua anak muda itu saling berpandangan. Arum mengerti perincian tugas mereka, sehingga dengan demikian mereka menjadi ragu-ragu. Apakah benar Kiai Danatirta telah memerintahkan Arum untuk pergi bersama mereka.

“Kenapa kalian menjadi bingung. Ayah tidak membedakan aku dengan kalian. Meskipun aku seorang gadis, tetapi aku juga mendapat tuntunan dari ayah dalam olah kanuragan. Aku juga diajarinya melontarkan pisau-pisau kecil jika aku bertemu dengan Kumpeni yang mempunyai senjata yang dapat meledak dan melontarkan sebutir peluru api. Tetapi jika aku mendapat kesempatan, maka pisaukupun mampu membunuh mereka sebelum mereka berhasil meledakkan senjata mereka itu”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Dalam keragu-raguan iapun berkata “Baiklah Arum. Aku akan menemui Kiai Danatirta sejenak.
“Buat apa kau menemuinya? Aku sudah minta diri atas nama kalian”

“Ah, kau aneh” sahut Buntal “Tentu kita harus mohon diri dan barangkali masih ada pesan-pesannya terakhir sebelum kita berangkat”

“Ah, kalian seperti seorang gadis yang mau ngunggah-unggahi. Akulah seorang gadis. Tetapi aku tidak cengeng seperti kalian”

“Kau memang aneh Arum. Minta diri dan mohon restu bukan suatu sikap yang cengeng” sahut Juwiring “adalah wajar sekali jika kita menghadap ayah dan minta diri serta mohon restu agar perjalanan kita selamat. Juga barangkali pesan-pesan terakhirnya, apakah yang sebaiknya kita lakukan dan kita sampaikan kepada Pangeran Mangkubumi agar Pangeran itu yakin bahwa niat kita adalah baik bagi Pangeran Mangkubumi dan bagi bumi Surakarta ini”

Arum tidak menyahut. Tetapi ia berdiri saja di muka pintu.

“Marilah Arum. Jika memang Kiai Danatirta menyuruh kita bertiga pergi, marilah kita bersama-sama mohon restunya”

Arum mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata sambil bersungut-sungut “Pergilah menghadap. Aku sudah minta diri. Kalian agaknya tidak percaya kepadaku”

“Sama sekali bukan tidak percaya” berkata Buntal “Tetapi selain restu, itu adalah kewajiban kami sesuai dengan tata kesopanan kita”

“Pergilah, pergilah” Tetapi Arum masih berdiri di muka pintu. Bahkan kemudian ia berpegangan tiang-tiang pintu sambil berkata lebih lanjut “Agaknya kau ingin mendapat bekal uang dari ayah”

“Kami tidak memerlukan uang”

“Jika demikian buat apa kalian menghadap?“

“Sudah aku katakan, itu adalah kuwajiban dan tata kesopanan”

Arum menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tanpa berkata sesuatu iapun pergi meninggalkan kedua saudara angkatnya.

“Apakah ia benar-benar sudah mendapat ijin dari ayah?“ bertanya Buntal.

“Itulah yang kita sangsikan”

“Tetapi kenapa ia tahu betul tugas yang harus kita lakukan?”

“Mungkin ia kemarin mengintip di balik dinding dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Kiai Danatirta”

Keduanya termenung sejenak. Namun kemudian keduanyapun tersenyum.

“Memang, boleh jadi. Dan itulah kemungkinan yang terbesar”

Demikianlah maka kedua anak-anak muda itupun pergi menghadap Kiai Danatirta untuk minta diri karena langit sudah menjadi semakin terang. Sebentar lagi matahari akan merayap naik ke atas bukit. Dan haripun akan menjadi semakin siang karenanya.

Setelah mereka mohon diri, maka Juwiringpun kemudian bertanya “Apakah ayah memerintahkan Arum untuk pergi bersama dengan kami?“

“Arum“ kening Kiai Danatirta menjadi berkerut-merut.

“Ya ayah”

“Tidak. Aku tidak menyuruhnya pergi. Tentu tidak. Ia searang gadis meskipun ia mampu menjaga dirinya. Apalagi dalam keadaan yang gawat dan panas ini”

Kedua anak muda itu saling berpandangan. Sebelum salah seorang dari mereka menjawab, Kiai Danatirta sudah bertanya “Apakah Arum mengatakan demikian?“

“Ya ayah. Bahkan Arum sudah siap dengan pakaian yang sering dipergunakan untuk berlatih”

Kiai Danatirta merenung sejenak, lalu “Dimana anak itu sekarang?”

“Ia masih ada di dalam” jawab Juwiring. “Panggillah ia kemari”

Juwiringpun kemudian meninggalkan ruangan itu. Sejenak kemudian ia telah kembali bersama Arum.

“Duduklah Arum” berkata Kiai Danatirta kemudian dengan nada yang datar.

Arumpun kemudian duduk sambil menundukkan kepalanya. Tetapi sekilas tampak bahwa wajahnya menjadi buram.

“Arum” berkata ayahnya kemudian “Apakah kau akan mengikuti kedua kakakmu pergi ke Sukawati?“

Arum mengangkat wajahnya sejenak. Tetapi wajah itu kemudian tertunduk lagi.

“Kedua kakakmu mengatakan bahwa kau justru sudah siap untuk berangkat dan apakah aku telah menyuruhmu?“

Wajah Arum menjadi semakin muram. Sambil bersungut-sungut ia berkata “Ayah tidak adil. Kenapa hanya anak laki-laki saja yang boleh pergi ke Sukawati? Ayah tidak memanggil aku dan menyuruh aku pergi bersama dengan kakang Juwiring dan Buntal”

“Untunglah bahwa kakakmu datang memberitahukan kepadaku bahwa kau akan ikut serta, bahkan katamu, akulah yang menyuruhnya” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu “Arum. Jika ayah tidak menyuruhmu, tentu ayah mempunyai alasan. Bukan ayah membedakan murid-muridnya di dalam olah kanuragan, tetapi menurut kodratmu kau adalah seorang gadis. Adalah tidak pantas jika kau ikut menempuh perjalanan ini. Selain jalan yang akan dilalui oleh kedua kakakmu itu masih merupakan sebuah daerah yang gelap karena kita tidak tahu apa yang akan mereka jumpai, adalah juga tidak pantas jika kau pergi bersama mereka. Setiap orang di padepokan dan padukuhan ini mengetahui, bahwa kedua anak muda itu sebenarnya bukan saudaramu yang sesungguhnya”

“Ah apakah salahnya aku berjalan bersama kedua saudara angkatku? Aku menganggap mereka seperti sudaraku sendiri. Benar-benar seperti saudara kandung” Arum memandang ayahnya sejenak, namun kemudian kepalanya tertunduk lagi. Namun ia masih berkata “Dan seandainya jalan yang akan dilalui itu gawat, apakah jalan itu dapat membedakan antara seorang laki-laki dan perempuan? Jika jalan itu gawat bagiku, maka jalan itu gawat juga bagi kedua kakakku. Atau barangkali ayah menganggap bahwa kemampuanku lebih rendah dari kemampuan kedua kakakku? Jika demikian, ayahpun tidak adil pula”

“Ah, pikiranmu selalu bergeser jauh dari persoalan yang sebenarnya sedang kita bicarakan. Bagaimanapun juga bahaya bagi seorang gadis menurut kodratnya adalah lebih besar bagi seorang laki-laki. Jika seorang laki-laki batas bencana bagi dirinya adalah mati, maka bagi seorang gadis masih ada lagi bencana yang lebih jahat dari itu, bencana yang akan menyiksa sepanjang umurnya”

“Aku mengerti ayah, tetapi aku tidak akan menyerahkan diriku untuk mengalaminya, karena aku akan memilih mati”

”Kadang-kadang yang terjadi bukan yang kita pilih Arum”

“Apakah aku harus menyerah sebelum berbuat sesuatu?”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Anaknya memang keras hati. Jika ia sudah mempunyai niat yang mantap, maka sulitlah untuk menahannya. Jika karena terpaksa Arum dapat dicegah, namun ia akan mencari arah pelarian dari kekecewaannya. Kadang-kadang dengan tingkah laku yang berbahaya.

“Jadi, bagaimanakah sebenarnya niatmu Arum?“ bertanya Kiai Danatirta kemudian.

“Sudah jelas ayah. Aku akan ikut pergi ke Sukawati”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Hatimu terlalu keras Arum. Sekeras batu karang”

“Aku hidup disela-sela batu karang yang keras ayah. Karena itulah jiwaku terbentuk sesuai dengan lingkunganku”

“He, siapakah yang mengatakan kepadamu?“

Arum tidak menjawab. Tetapi tampak diwajahnya, bahwa ia sama sekali tidak ingin mengurungkan niatnya.

“Arum” berkata ayahnya kemudian “Apaboleh buat, jika kau memang berkeras untuk pergi. Tetapi aku mempunyai beberapa syarat”

“Apakah syarat itu ayah?“

“Kau tidak boleh mengganggu tugas kakak-kakakmu”

“Apakah aku sering mengganggu mereka?“

“Aku belum selesai Arum, Maksudku, karena kau seorang gadis yang hampir tidak pernah melihat daerah yang agak jauh, kau jangan memburu kesenanganmu sendiri. Kau jangan membiarkan kedua kakakmu mengikuti keinginanmu untuk melihat-melihat daerah yang baru bagimu. Mungkin tanah pegunungan yang hijau, sungai yang bening dan hutan-hutan perburuan dengan binatang-binatangnya yang liar tetapi memikat”

Arum menganggukkan kepalanya.

“Dan masih ada syarat lagi “

Arum mengangkat wajahnya yang menjadi tegang.

“Sebaiknya kau memakai pakaian seorang laki-laki sepenuhnya. Itu lebih baik bagimu dan bagi perjalananmu. Hindarilah sejauh mungkin orang-orang padukuhan ini meskipun kita mengharap, agar mereka tidak mengenalmu dalam pakaian yang tidak pernah kau pergunakan keluar rumah itu”

Arum menarik nafas dalam-dalam.

“Masih ada lagi. Sebaiknya kau tidak berbicara di antara orang banyak, agar mereka tidak segera mengenalmu sebagai seorang gadis”

Arum menjadi bersungut-sungut. Katanya seperti kepada diri sendiri “Ternyata bahwa laki-laki mempunyai kesempatan lebih banyak dari seorang perempuan”

“Tidak Arum. Bukan itu maksudku“

“Ternyata aku harus menjadi seorang laki-laki. Kenapa aku tidak boleh bersikap dalam keadaanku yang sebenarnya?“

”Jangan sekarang. Mungkin dalam keadaan yang lain”

Arum masih saja bersungut-sungut. Tetapi iapun kemudian berkata “Jika demikian kehendak ayah, apaboleh buat. Tetapi aku akan ikut serta”

“Bagus” gumam Kiai Danatirta, namun kemudian “Tetapi ambillah jalan yang lain dari jalan yang biasa kalian lalui. Kalian dapat mengambil jalan belakang padepokan ini dan menyusur jalan sempit itu sehingga kalian akan turun ke bulak panjang. Mudah-mudahan tidak banyak orang yang berada di sawah dimusim begini”

Demikianlah maka Arumpun segera berkemas dan berpakaian sepenuhnya seperti seorang laki-laki. Dengan ikat kepalanya menutup rambutnya yang panjang, yang dilipatnya di bawah ikat kepalanya itu.

Juwiring dan Buntal tersenyum-senyum melihat Arum dalam pakaian laki-laki itu. Namun mereka terpaksa menyembunyikan senyumnya ketika Arum bergeremang “Aku tidak mau. Jika kakang berdua mentertawakan aku, aku tidak jadi”

“Itu lebih baik” sahut Juwiring.

“Maksudku, aku tidak jadi memakai pakaian ini. Aku akan memakai pakaianku yang paling baik, yang aku terima dari Surakarta. Biar saja ayah marah. Aku tidak peduli”

“Ah, jangan merajuk. Cepatlah. Hari sudah semakin siang. Kita akan kepanasan di perjalanan”

“Aku tidak takut kepanasan. Nah, ini suatu bukti bahwa tidak selalu seorang perempuan lebih lemah dari laki-laki”

Juwiring dan Buntal menahan senyum di bibir mereka. Namun Juwiringlah yang kemudian berkata “Sudahlah Arum. Marilah. Aku tidak mentertawakan kau lagi”

Ketiganyapun kemudian sekali lagi minta diri. Kiai Danatirta hanya dapat mengusap dadanya melihat anak perempuannya itu berjalan di antara kedua saudara angkatnya. Sikap Arum memang lebih mirip seorang anak laki-laki dalam pakaiannya itu, sehingga tentu banyak orang yang tidak dapat mengenalnya lagi. Bahkan mungkin gadis-gadis kawannya bermainpun tidak akan dapat segera mengenalnya.

Ketika matahari hinggap di punggung pebukitan, ketiga anak-anak muda itu keluar dari regol butulan padepokannya diantar oleh Kiai Danatirta sampai kejalan sempit di sebelah luar dinding halaman, sambil memberikan pesan-pesannya.

Dengan langkah yang tetap ketiganyapun kemudian berjalan semakin lama semakin jauh, menyusup di bawah bayangan dedaunan yang tumbuh di sebelah menyebelah jalan.

Ketika ketiga anak-anak muda itu telah hilang di balik kelokan jalan, maka Kiai Danatirtapun menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya ia bergumam “Anak yang keras hati, sekeras hati ibunya. Mudah-mudahan ia tidak memilih jalan yang sesat seperti jalan yang dilalui ibunya itu, sehingga yang terjadi adalah sebuah malapetaka”

Namun seperti yang pernah terjadi, dada Kiai Danatirta menjadi berdebar-debar jika ia mengenangkan dua orang anak muda yang tinggal bersama di padepokannya. Dua anak muda yang memiliki sifat yang berbeda justru karena atas tempat mereka berpijakpun berbeda pula. Tetapi kedua-duanya memiliki kelebihan mereka masing-masing di samping kelemahan yang wajar terdapat pada setiap orang.

“Mudah-mudahan tidak akan pernah timbul persoalan di antara mereka bertiga justru karena salah seorang dari mereka adalah seorang gadis“ gumam Kiai Danatirta di dalam hatinya.

Dengan kepala tunduk orang tua itupun masuk kembali ke halaman samping padepokannya dan berjalan melintasi sebuah petamanan yang sempit. Akhirnya segalanya harus dipasrahkan kepada Tuhan Yang Suci.

“Kemanakah mereka pergi Kiai?“ bertanya seorang cantrik.

Kiai Danatirta berpaling. Dilihatnya cantriknya yang setia berdiri di belakangnya. Seorang yang telah mendekati usia setengah abad.

“O” sahut Kiai Danatirta “Mereka pergi melihat-lihat daerah di luar padepokan ini. Mereka harus mempunyai gambaran tentang kehidupan di alam yang luas. Bukan selalu hidup dan melihat kehidupan yang sempit di padepokan ini saja”

Cantrik itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Memang pengalaman itu sangat perlu. Tetapi kenapa justru saat ini?“

“Kenapa dengan saat ini?“ bertanya Kiai Danatirta.

“Kiai” jawab Cantrik itu “hampir setiap orang mempersoalkan keadaan yang berkembang masa kini. Rasa-rasanya kota Surakarta telah dipanggang diatas bara yang semakin lama menjadi semakin panas”

“Tetapi mereka tidak akan pergi ke kota cantrik. Mereka akan menyelusuri desa yang satu ke desa yang lain. Aku sudah menunjukkan kepada siapa mereka harus datang dan apakah yang harus dikatakannya”

Cantrik itu mengangguk-angguk pula. Namun ia masih menjawab “Tetapi udara yang panas itu telah memanasi padesan dan padukuhan di daerah ini, Kiai, jalan yang semula aman dan tenteram, semaki lama menjadi semakin gelisah karena hal-hal yang tidak jelas”

Kiai Danatirta tersenyum, katanya “Itulah yang sedang dilihat oleh anak-anak itu cantrik?“

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Sebenarnya hal itu terlampau berbahaya bagi mereka Kiai. Mereka masih terlampau muda dan belum berpengalaman”

Sambil menepuk bahu cantrik itu Kiai Danatirta berkata “Terima kasih cantrik. Kau sangat memperhatikan mereka. Mudah-mudahan mereka selamat. Tetapi sekali-sekali mereka memang harus berlatih menjelajahi daerah ini. Mengenal lingkungan di sekitarnya dan menghayati perjalanan yang kadang-kadang sulit”

Cantrik itu masih mengangguk-angguk.

“Nah, kembalilah kepada pekerjaanmu. Akupun akan pergi ke sawah. Karena kedua anak-anakku itu tidak ada di rumah, akulah yang harus membuka pematang untuk mendapatkan air”

“Bukankah aku dapat juga pergi Kiai?“

“Kau mempunyai tugasmu sendiri”

Cantrik itupun kemudian pergi ke belakang. Digapainya kapaknya dan iapun melanjutkan kerjanya, membelah kayu bakar.

Dalam pada itu, ketiga anak muda dari padepokan Jati Aking itupun telah melintasi parit dan turun kejalan yang lebih besar. Untunglah tidak banyak orang yang mereka jumpai, sehingga mereka tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, karena semua orang di Jati Sari dan sekitarnya sudah mengenal mereka sebagai anak-anak angkat Kiai Danatirta. Apalagi merekapun mengetahui, bahwa Raden Juwiring adalah putera seorang Pangeran. Seorang yang masih harus diagungkan dan dihormati meskipun Juwiring sendiri sama sekali tidak menghendakinya. Ternyata pula bahwa Arum tidak menarik perhatian mereka justru karena mereka tidak menyangka sama sekali.

Perjalanan itupun kemudian menjadi semakin laju ketika mereka keluar dari daerah yang telah mengenal mereka. Daerah yang telah mengenal mereka. Daerah yang masih agak asing bagi Arum, meskipun kadang-kadang ia ikut ayahnya pergi kekenalan-kenalannya di padesan di sekitar Kademangan Jati Sari.

Orang-orang yang berpapasan dengan ketiga anak-anak muda itu sama sekali tidak mengira, bahwa seorang dari mereka adalah seorang gadis. Dalam pakaian laki-laki Arum memang benar-benar seperti seorang laki-laki. Langkahnya yang tegap dan tandang geraknya yang cekatan. Hanya apabila ia berbicara, maka suaranyalah yang terutama memperkenalkannya bahwa ia adalah seorang gadis. Kadang-kadang juga kenianjaannya dan wajahnya yang berubah-ubah. Kadang-kadang ia tersenyum, bahkan tertawa. Tetapi hampir tanpa sebab ia memberengut dan bersungut-sunguit.

Tetapi Juwiring dan Buntal yang sudah bergaul lama dengan Arum, sudah mengenalnya dengan baik. Karena itu, mereka hampir tidak terpengaruh karenanya. Dibiarkannya Arum bersungut-sungut ketika ia melintasi parit yang kotor dan melemparkan bau yang tidak sedap di hidungnya. Tetapi ia tertawa karena ia melihat seorang anak kecil yang duduk diatas punggung kerbau yang digembalakannya.

Ketika mereka kemudian melintasi jalan sempit di sebelah sebuah hutan perburuan yang tidak begitu lebat, maka Arumpun bertanya “Apakah kita tidak dapat menyusup lewat hutan ini?“

“Mungkin kita akan dapat sampai pula. Tetapi aku masih menyangsikannya” sahut Juwiring.

“Marilah kita coba. Kita masuk ke dalam hutan ini. Jika kita mengetahui arahnya, kita akan dapat menyelusur sampai ke tepi di sebelah lain”

“Ah“ Buntallah yang kemudian menjawab “Bukankah ayah sudah berpesan, jangan menuruti kesenangan sendiri”

“Tetapi aku tidak berbelok dari tugas yang aku bawa. Aku tetap pergi ke Sukawati. Aku hanya ingin berjalan di dalam hutan perburuan yang belum pernah aku lihat”

“Binatang buruan adalah binatang yang memikat“ sela Juwiring.

“Tergantung kepada kita. Jika kita tidak terpikat, kita tidak akan terganggu karenanya”

“Lebih baik kia berjalan di luar hutan” berkata Buntal kemudian.

“Apakah kalian takut bertemu dengan seekor harimau?“

Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu iapun kemudian bertanya “Apakah kau pernah melihat seekor harimau, Arum?“

“Tentu sudah” jawab Arum dengan serta-merta “di padang perdu, di sebelah padepokan kita, masih berkeliaran beberapa ekor harimau. Di pegunungan yang membujur ke Barat itupun terdapat beberapa ekor yang sering mengganggu padukuhan di sekitarnya karena harimau-harimau itu sering mencuri kambing”

“Harimau tutul. Harimau yang agak kecil dibanding dengan harimau gembong yang berkulit loreng”

“Kau takut?“

“Bukan takut. Tetapi perjalanan kita dapat terganggu. Kita harus memanjat dan menunggu sampai harimau itu pergi”

“Ah, kita akan membunuhnya. Kita bunuh harimau itu dengan pisau-pisau kita. Kita melemparkan bersama-sama tiga buah pisau. Sebuah di pangkal pahanya yang depan, sebuah dikeningnya dan yang lain diarah jantung”

Juwiring dan Buntal mengerutkan keningnya. Hampir di luar sadarnya Juwiring bertanya “Kenapa di pangkal pahanya yang depan?“

“Kau bertanya, atau sekedar ingin tahu apakah aku mengerti kata-kata yang aku ucapkan“

“Ah“ Juwiring tersenyum “kedua-duanya”

Arum memandangnya dengan tajam, lalu “Baiklah. Menurut ayah ketika ia menangkap seekor harimau yang berwarna kehitam-hitaman, pangkal paha depan dapat melumpuhkannya. Harimau itw tidak akan dapat lari kencang lagi”

“Apakah Kiai Danatirta pernah membunuh seekor harimau?“

“Dahulu ketika aku masih kecil. Kalian belum ada di padepokan”

Juwiring dan Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi bagaimana dengan kita?“ tiba-tiba saja Arum bertanya sambil berhenti.

“Kenapa kau berhenti?“ bertanya Buntal.

“Aku akan menyusup hutan rindang ini”

“Ah”

“Jika kalian tidak mau, aku akan menembus hutan ini sendiri”

“Kau sudah mulai rewel Arum” desis Juwiring.

“Terserahlah kepada kalian”

Kedua anak muda itu saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka sadar, bahwa Arum memang keras kepala. Jika tidak, ia tentu tidak akan ikut serta bersama mereka.

“Jangankan kami” berkata kedua anak muda itu di dalam hatinya “sedang Kiai Danatirtapum tidak dapat mencegahnya”

“Apakah kalian akan ikut?“ tiba-tiba saja Arum bertanya sambil melangkah mendekati hutan perburuan itu.

Juwiring dan Buntal berpandangan sejenak. Keduanyapun kemudian mengangkat bahunya.

“Apaboleh buat” desis Juwiring.

Dengan demikian maka keduanyapun segera melangkah mengikutinya. Bagaimanapun juga hati mereka bergeremang, namun mereka tidak akan dapat mencegah gadis itu lagi. Apalagi sebenarnya keduanyapun mempunyai keinginan betapapun kecilnya, untuk sekali-sekali melihat-melihat daerah perburuan. Kadang-kadang beberapa orang bangsawan memasuki hutan itu dan berburu kijang atau rusa. Meskipun demikian kadang-kadang mereka bertemu juga dengan seekor harimau yang besar.

Adalah di luar pengetahuan ketiganya bahwa hutan perburuan itu merupakan hutan yang tertutup. Karena binatang buruan menjadi semakin berkurang, maka hanya para bangsawan sajalah yang kemudian diperkenankan berburu di hutan itu. Dan Juwiring yang pernah juga berburu, tidak mengetahui bahwa di saat terakhir telah dibuat peraturan serupa itu.

Dengan berlari-lari kecil Arum memasuki hutan yang tidak begitu lebat itu. Hutan yang baginya merupakan tempat bermain yang menyenangkan sekali.

Juwiring dan Buntal hanya mengikutinya saja. Jika kemudian Arum hilang dari pandangan mata mereka, merekapun sekedar berteriak memanggil.

“Aku di sini” jawab Arum dari kejauhan.

“Jangan terlalu jauh. Kau dapat tersesat. Atau jika kita semuanya tersesat, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Tetapi jika kita bersama-sama, tersesat atau tidak, kita tetap bersama-sama”

Arumpun agaknya dapat mengerti juga. Karena itu, iapun tidak lagi berlari-lari terlalu jauh.

“Begitukah caramu berburu Arum” bertanya Juwiring “Jika demikian maka binatang-binatang buruan akan berlari-larian menjauh sebelum kau sempat melihatnya”

“Ah, jangan memperbodoh aku” sahut Arum “Bukankah kita tidak sedang berburu. Jika kita sedang berburu, kita harus mengetahui arah angin. Kita harus duduk didahan beberapa lama, dan jika kita harus menyelusuri jejak binatang, kitapun harus berjalan sangat berhati-hati atau menunggunya didekat sumber air di tengah hari, menunggu saat binatang buruan menjadi haus dan minum di sumber itu”

Juwiring dan Buntal mengerutkan keningnya. Tetapi Juwiring segera menyahut “Tentu Kiai Danatirta yang memberi tahukan kepadamu”

“Tentu. Jika bukan ayah, siapa lagi?“ Kedua anak-anak muda itu tersenyum.

Namun dalam pada itu, ternyata suara mereka yang keras dan bergema di dalam hutan itu jika mereka saling memanggil, telah didengar oleh beberapa orang prajurit yang mendapat tugas merondai hutan itu. Prajurit-prajurit itu harus mencegah jika ada pemburu liar yang mereka sebut mencuri binatang di hutan itu.

Itulah sebabnya, maka sejenak kemudian terdengar derap beberapa ekor kuda yang berlari-lari di hutan yang rindang itu.

Juwiring, Buntal dan Arumpun kemudian terkejut mendengar derap kaki kuda itu. Mereka menyangka bahwa ada seorang bangsawan yang sedang berburu. Karena itu, maka Juwiringpun berkata “Marilah kita menghindarinya. Aku tidak mau menemui siapapun. Mungkin pemburu itu adalah adimas Rudira, mungkin adimas atau kamas sepupuku atau barangkali pamanda Pangeran siapapun juga”

“Kenapa kita harus menghindar?“ bertanya Arum “Aku ingin melihat cara mereka berburu”

“Arum, kali ini aku minta dengan sangat. Cobalah mengerti perasaanku. Kau tidak boleh ingkar, bahwa kau mengetahui tentang diriku, bahwa aku adalah putera seorang Pangeran”

Arum mengerutkan keningnya. Kemudian iapun menjawab “Apa salahnya jika kau putera seorang Pangeran. Justru mereka akan mengenalmu dan bahkan mungkin mengajak kita untuk ikut berburu”

“Ah, kau aneh Arum. Aku adalah seorang putera Pangeran yang seakan-akan telah tersisih. Maka lebih baik bagiku apabila aku tidak berhubungan lagi dengan para bangsawan. Setidak-tidaknya untuk sementara, karena aku merasa diriku telah terpisah dari mereka”

Bagaimanapun juga keras hati gadis itu, tetapi ia melihat kesungguhan membayang di wajah Juwiring. Karena itu maka iapun kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata “Terserahlah kepadamu. Kau adalah saudara yang tertua di antara kami bertiga. Kaulah yang akan menentukannya”

“Baiklah” jawab Juwiring “Terima kasih” Ia berhenti sejenak untuk mendengar langkah kaki-kaki kuda yang menjadi semakin dekat.

“Kita berhenti saja di sini” berkata Juwiring kemudian.

Ketiganyapun kemudian duduk di bawah sebatang kayu yang besar. Mereka seakan-akan tidak menghiraukan langkah kaki-kaki kuda itu. Biar saja orang-orang berkuda itu lewat. Mereka tidak akan mengganggu. Tidak akan menyapa dan sama sekali tidak akan memperhatikannya. Bahkan Juwiring mengharap agar orang-orang berkuda itu tidak melihatnya, agar mereka bertiga tidak usah menghormati mereka dengan tata cara yang tidak disukainya. Apalagi mereka bertiga memakai pakaian petani yang sederhana.

Tetapi ternyata derap kaki-kaki kuda itu menjadi kian dekat. Kadang-kadang berhenti dan kemudian terdengar lagi.

Dalam pada itu, orang-orang berkuda yang sedang mencari anak-anak muda itu berusaha untuk mengikuti jejak yang telah mereka ketemukan. Bekas-bekas kaki ketiga anak-anak muda itu tampak pada ranting-ranting perdu yang patah dan rerumputan yang roboh.

“Mereka masih berada Di tempat ini” berkata salah seorang dari mereka ”Suara mereka terdengar dari arah ini”

“Ya”

Suara itu bergema. Sangat sulit untuk menemukan arahnya”

“Tetapi kita menemukan jejak kaki yang baru di daerah ini. Kita dapat mengikuti jejak ini dan kemudian menemukan mereka. Ternyata menilik jejaknya, mereka tidak hanya seorang diri.

“Ya. Tentu, bukan hanya seorang, karena mereka saling memanggil”

Demikianlah mereka maju perlahan-lahan. Selangkah demi selangkah, sehingga para prajurit itupun telah berloncatan dari punggung kuda mereka, agar mereka dapat mengikuti jejak itu dengan saksama.

“Kita berpencar” berkata pemimpin sekelompok prajurit yang sedang menyusuri jejak itu. Jika salah seorang dari kita menemukannya, kita akan memberikan tanda-tanda. Di sini jejak itu berpisah. Dan kitapun berpisah”

Maka sekelompok prajurit itupun kemudian berpencar. Karena jejak yang mereka ikutipun berpencar.

Jejak yang memisahkan diri itu adalah jejak Arum. Namun jejak itu tidak berpisah terlampau lama. Akhirnya jejak itupun bergabung kembali sehingga para prajurit itupun berkata di antara mereka “Jejak ini menyatu lagi”

Pemimpin prajurit peronda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya mencoba memecahkan teka-teki itu Agaknya ia kehilangan binatang buruannya”

“Atau karena kawannya memanggilnya. Bukankah lamat-lamat kita mendengar suara mereka memanggil” sahut salah seorang prajurit.

Pemimpin kelompok peronda itu mengangguk-angguk pula. Lalu katanya “Baiklah, kita maju terus. Tetapi sebaiknya kita agak menebar”

Sambil menuntun kuda masing-masing maka beberapa orang prajurit itupun maju terus. Semakin lama mereka memang menjadi semakin cekat dengan tempat Juwiring dan adik-adik angkatnya duduk di bawah sebatang pohon yang besar.

Seorang prajurit yang berada di paling depan akhirnya melihat ketiga anak-anak muda itu, sehingga karena itu, maka iapun berhenti dan memberitahukannya kepada pemimpinnya.

Pemimpinnyapun kemudian maju di samping orang itu. Dan dilihatnya tiga orang duduk di bawah sebatang pohon sambil menundukkan kepala mereka.

“Hem, itulah mereka” gumam pemimpin kelompok itu.

“Ya. Tetapi mereka tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Mereka tidak membawa senjata untuk berburu” sahut seorang prajurit.

“Bagaimanapun juga mereka sudah melanggar peraturan. Marilah kita dekati dan kita bertanya kepada mereka, apakah yang mereka cari disini”

Maka beberapa orang prajurit itupun kemudian mendekati mereka yang sedang duduk sambil menunduk itu.

Juwiring, Buntal dan Arum menyadari, bahwa beberapa orang sambil menuntun kuda mereka, telah berjalan mendekat. Menilik pakaian mereka, maka orang-orang itu adalah prajurit-prahurit Surakarta, sehingga karena itu, maka hati Juwiringpun menjadi semakin berdebar-debar.

Beberapa langkah dari tempat ketiga anak-anak muda itu duduk, para prajurit itu berhenti. Sementara itu Juwiring berbisik kepada Buntal ”jawablah pertanyaan mereka”
Buntal mengerutkan keningnya. Namun ia mengerti bahwa Juwiring benar-benar ingin menyembunyikan dirinya, agar ia tidak dikenal oleh para prajurit itu sebagai seorang bangsawan.

Karena itu, ketika orang-orang itu mendekatinya, maka Buntallah yang kemudian mengangkat wajahnya.

“He, siapakah kalian?“ bertanya pemimpin prajurit itu.

“Kami adalah anak-anak padepokan Jati Aking di Jati Sari tuan”

“Kenapa kalian ada di tengah-tengah hutan perburuan ini?“

“Tidak apa-apa tuan. Kami hanya sekedar lewat. Kami akan melintasi hutan ini dari sebelah sisi sampai kesisi yang lain. Sebenarnyalah bahwa kami sedang mencari jalan yang memintas”

Pemimpin prajurit itu mengangguk-angguk. Kemudian maka iapun bertanya “Kemana kalian akan pergi?“

Buntal menjadi termangu-mangu sejenak. Sedang Juwiringpun menjadi berdebar-debar. Mereka sama sekali belum mengetahui sikap para prajurit itu. Apakah mereka termasuk orang yang berpihak kepada orang-orang asing itu dan membenci Pangeran Mangkubumi atau sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang bersikap memusuhi kumpeni dan sependapat dengan. Pangeran Mangkubumi

Karena itu Buntal tidak segera menjawab. Dipandanginya Juwiring sejenak, tetapi Juwiring masih menundukkan kepalanya.

“Kemana kalian akan pergi he?“

Buntal harus segera menjawab. Karena ia tidak mempunyai jawaban lain, maka iapun”akhirnya menyahut “Kami akan pergi ke Sukawati tuan”

“Sukawati? Kenapa kau pergi ke Sukawati he?“

Dada Buntal menjadi kian berdebar-debar. Namun ia menyahut juga “Kami akan menengok kakek kami yang tinggal di daerah Sukawati. Sudah lama kami tidak menengoknya dan kakek kami yang sering datang ke Jati Aking sudah lama pula tidak datang”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Meskipun ia sudah lama berada dan menjadi prajurit Surakarta, tetapi ia tidak mengetahui siapakah yang disebut penghuni-penghuni Jati Aking di Jati Sari, karena tugasnya yang berpindah-pindah. Karena itu nama-nama tempat itu sama sekali tidak menarik perhatiannya.

“He, kenapa kalian lewat hutan tertutup ini?” bertanya prajurit itu lebih lanjut.

Buntal terkejut mendengar pertanyaan itu, apalagi Juwiring. Namun Juwiring masih saja menundukkan kepalanya meskipun ia ingin bertanya beberapa hal kepada prajurit itu. Untunglah bahwa Buntalpun bertanya pula kepada prajurit itu “Tetapi bukankah hutan ini hutan perburuan? Menurut pendengaranku hutan ini terbuka bagi siapapun juga yang ingin berburu binatang”

“Sekarang tidak lagi. Hutan ini hanya diperuntukkan bagi para bangsawan”

“O, kami tidak mengerti tuan. Kami mohon maaf. Kami akan segera keluar dari hutan ini. Kami berani memasuki hutan ini karena kami mengira bahwa hutan ini masih bukan hutan tertutup“

“Apa, begitu saja minta maaf dan akan pergi meninggalkan hutan ini?“ bertanya prajurit itu.

Buntal mengerutkan keningnya.

“Kau sudah berbuat kesalahan. Di dalam keadaan yang panas ini, kami tidak dapat berbuat terlalu baik terhadap siapapun. Dan aku tidak yakin jika kalian adalah anak-anak muda yang sekedar tidak mengetahui bahwa hutan ini adalah hutan tertutup”

“Tuan” berkata Buntal “Kami adalah anak-anak padepokan. Kami sama sekali tidak mengetahui perkembangan keadaan. Kami tidak tahu apakah yang sedang terjadi saat ini dan kamipun tidak tahu bahwa hutan ini adalah hutan larangan. Sehari-hari kami bergulat saja dengan padepokan kami. Sawah dan ladang dan sedikit olah kajiwan”

“Aku tidak peduli. Kalian telah melanggar peraturan. Karena itu kalian harus ditangkap”

Dada Buntal menjadi semakin berdebar-debar. Demikian juga agaknya Juwiring dan Arum. Arum merasa bahwa ialah yang telah menjerumuskan mereka bertiga dalam persoalan yang tidak mereka sangka-sangka. Tetapi seperti pesan yang diterimanya, bahwa sebaiknya ia tidak berbicara kepada orang lain sehingga tidak segera menimbulkan kecurigaan. Setidak-tidaknya mereka pasti akan bertanya, kenapa berpakaian seperti seorang laki-laki.

“Tuan” berkata Buntal kemudian “Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya tuan. Kami benar-benar tidak mengerti, bahwa hutan ini sekarang menjadi hutan tertutup. Menurut pengetahuan kami, hutan ini adalah hutan yang terbuka karena kami pernah juga melihat orang-orang berburu di hutan ini beberapa saat lampau tanpa kami sengaja, ketika kami dalam perjalanan seperti sekarang ini”

“Omong kosong” bentak prajurit itu “ikut kami”

Buntal menjadi bingung. Karena itu, maka digamitnya Juwiring yang masih menunduk memeluk lututnya.

“Jangan membantah perintah kami. Jika di dalam pemeriksaan selanjutnya kalian tidak bersalah, kalian akan kami lepaskan”

“Apakah kami akan dibawa ke Surakarta?“ bertanya Buntal.

“Tidak. Kalian akan kami bawa ke induk penjagaan hutan ini. Mereka, pemimpin kami yang lebih tinggi, akan menentukan apakah kalian boleh pergi atau tidak”

Buntal menjadi termangu sejenak. Jika mereka dibawa pergi ke induk penjagaan hutan ini, dan para prajurit menemukan senjata di dalam tubuh mereka, maka hal itu pasti akan menjadi persoalan yang berkepanjangan. Apalagi di saat-saat seperti sekarang, saat Surakarta dipanggang diatas bara api ketidak pastian. Setiap orang tidak mengerti dengan pasti apa yang sebaiknya dilakukan selain mereka yang sudah bersikap.

Karena itu, untuk menemui pemimpin prajurit yang bertugas di hutan perburuan itupun Buntal menjadi ragu-ragu. Jika para prajurit menjadi curiga dengan senjata-senjata mereka, dengan pisau-pisau yang terselip pada ikat pinggang di bawah baju mereka, maka akan dapat timbul salah paham dengan para prajurit itu.

“Cepat“ prajurit itu membentaknya “berdiri dan berjalan ke induk penjagaan itu. Jika kalian memang merasa tidak berbersalah, maka kalian tentu tidak akan berkeberatan. Tetapi jika kalian menolak, kami akan memaksa dengan kekerasan karena itu berarti bahwa kalian memang bersalah”

Debar di dada Buntal menjadi semakin keras, Sekali-sekali dipandanginya prajurit-prajurit yang berdiri di sekitarnya dengan sudut matanya, seakan-akan Buntal ingin menjajagi kemampuan para prajurit itu. Namun demikian ia masih sempat juga berpikir, bahwa akibatnya jika ia menolak akan berkepanjangan juga, karena ia sudah terlanjur berterus terang bahwa ia adalah penghuni padepokan Jati Aking di Jati Sari.

Selagi Buntal kebingungan, maka sambil menundukkan kepalanya Juwiring berkata “Kita pergi bersama mereka”

Buntal termangu-mangu sejenak. Arum yang sudah mengangkat wajahnya, tidak jadi mengucapkan sepatah katapun, karena tiba-tiba-tiba saja ia teringat kepada pesan agar ia tidak berbicara.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Juwiringpun kemudian berdiri meskipun kepalanya masih tetap tunduk. Ditariknya lengan Arum sambil berkata “Marilah”

Arum dan Buntal masih tampak ragu-ragu. Tetapi merekapun kemudian mengangguk pula.

“Marilah” berkata Buntal kepada prajurit itu.

“Jangan berbuat sesuatu yang dapat membuat kalian menyesal“ perintah pemimpin prajurit itu.

Ketiga anak-anak muda itu tidak menjawab.

“Ikutlah aku“ perintah prajurit itu kemudian baik ke atas punggung kuda masing-masing.

Buntal, Juwiring dan Arumpun kemudian berjalan di belakangnya. Tetapi agaknya prajurit itu tidak mau melelahkan kakinya untuk berjalan. Ketika ketiga anak-anak muda itu sudah mengikutinya, maka iapun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya.

Para prajurit yang lain mengikuti di belakang ketiga anak muda dari Jati Aking itu. Tetapi merekapun segera berloncatan ke atas punggung kuda masing-masing.

Buntal memandang para prajurit itu dengan hati yang bergejolak. Namun ketika ia sadar, bahwa ia bersama kedua saudara angkatnya itu berpakaian seperti seorang petani yang sederhana, maka iapun mencoba untuk menenangkan perasaannya.

“Betapa rendahnya martabat seorang petani, tetapi sikap itu adalah sikap yang deksura” berkata Buntal di dalam hatinya.

Namun ia masih juga berjalan terus bersama kedua saudara angkatnya mengikuti prajurit yang berkuda di hadapan mereka. Kadang-kadang mereka harus berlari-lari kecil dan bahkan berloncatan jika mereka sampai di bawah sebatang pohon tua dengan dahan-dahannya yang berpatahan.

Dalam pada itu selama mereka berjalan, Buntal sempat bertanya kepada Juwiring “Bagaimanakah jika mereka menemukan senjata-senjata kita?“

“Biarlah kita mengatakannya, bahwa senjata-senjata itu sekedar untuk menjaga diri”

“Tetapi senjata-senjata kami bukannya senjata yang biasa dipergunakan oleh orang kebanyakan. Mereka tentu akan bertanya terus-menerus tentang senjata-senjata kita yang pasti mereka anggap aneh”

Juwiring mengerutkan keningnya. Ketika sekilas ia berpaling maka diketahuinya bahwa prajurit-prajurit yang membawanya itu belum mengenalnya atau jika ada yang pernah melihatnya, mereka tidak dapat mengenalinya karena pakaian yang dipakainya adalah pakaian seorang petani yang sederhana.

“ Aku harap mereka percaya” berkata Juwiring kemudian “Jika tidak, kita akan mencari jalan lain”

“Melarikan diri? Aku sudah terlanjur mengatakan, bahwa kita adalah anak-anak Jati Aking. Mereka pasti akan mencari kita dan jika mereka tidak menemukan kita, maka Kiai Danatirtalah yang harus bertanggung jawab. Aku yakin bahwa Kiai Danatirta tidak akan berbohong”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Memang agak sulit untuk memecahkan persoalan yang tiba-tiba saja harus mereka hadapi. Tetapi Juwiring dan Buntal tidak mau melemparkan kesalahan kepada Arum. Bagaimanapun juga mereka harus mempertanggung jawabkan bersama-sama. Hanya Arum sendirilah yang merasa di dalam hatinya, bahwa ia adalah sumber dari kesulitan ini.

Bahkan tiba-tiba saja ia berbisik perlahan sekali agar suaranya yang bernada tinggi itu tidak didengar oleh para prajurit “Bagaimanakah jika kita nanti dibawa keSurakarta?“

Juwiring memandanginya sejenak, namun iapun kemudian tersenyum “Tidak apa-apa. Bukankah sekali-sekali kau ingin juga bertamasya keSurakarta”

“Ah kau“ Arum bersungut-sungut. Namun sebelum ia meneruskan kata-katanya, Juwiring menyahut “Bukan maksudku. Tetapi jika kita terpaksa dibawa keSurakarta, maka aku mengharap bahwa ada satu dua orang perwira atasan yang mengenal aku, bahwa aku adalah putera ayahanda Ranakusuma. Dengan demikian, maka kita akan dapat bebas dari segala tuduhan, meskipun perjalanan kita terhambat”

“Tetapi dengan senjata-senjata kita yang aneh ini?“

“Kita memang ingin berburu” jawab Juwiring “dan aku harap, mereka tidak akan memperpanjang persoalan lagi”

Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Juwiring sendiri tidak yakin akan kata-katanya. Meskipun ia putera Pangeran Ranakusuma, maka kumpeni dan para bangsawan yang berpihak kepadanya akan dapat mencurigainya, karena ternyata banyak pula para bangsawan yang menentang mereka.

Dalam pada itu merekapun menjadi semakin dekat dengan induk penjagaan hutan itu. Dari kejauhan telah tampak sebuah gardu yang agak besar. Beberapa ekor kuda masih tertambat di pepohonan. Dua tiga orang prajurit duduk di serambi gardu itu sambil berbicara dengan asyiknya.

Ketika mereka melihat prajurit berkuda yang di paling depan, maka merekapun segera berdiri. Seorang yang sudah setengah umur memandang prajurit itu dengan sorot mata yang tajam.

“Kami membawa mereka” berkata prajurit itu sambil meloncat dari kudanya.

“Siapa?“ bertanya prajurit yang sudah agak lanjut usia

“Anak muda yang sering mencuri binatang buruan”

“Kami tidak pernah mencuri “ Buntal menyahut.

“Diam” bentak prajurit itu.

“Dimana kau temukan anak-anak itu?“ bertanya prajurit yang sudah ubanan.

“Di tengah-tengah hutan ini ketika aku meronda. Mereka mencoba mencuri binatang buruan“

“Tidak“ sekali lagi Buntal menyahut. Namun Juwiring yang selalu menundukkan kepalanya itupun menggamitnya.

Prajurit-prajurit yang lainpun telah berdiri di belakang ketiga anak-anak muda itu. Tetapi mereka masih belum berbuat apa-apa.

“Dimana Ki Lurah” bertanya pemimpin peronda itu kepada prajurit yang sudah setengah umur itu.

“Di dalam”

“Mari ikut aku” bentak pemimpin peronda itu kepada Buntal.

“Kemana?“ beritanya Buntal.

“Ikutlah” desis Juwiring.

Buntal termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Juwiring berbisik “Katakan bahwa kita memang ingin berburu”

Jilid 8 Bab 1 : Nyanggong

BUNTAL mengerutkan keningnya. Dan iapun bertanya perlahan “Berburu atau sekedar untuk membela diri?“

“Berburu. Katakan bahwa kita akan berburu” bisik Juwiring “kemudian jangan menolak apapun juga keputusan mereka. Kita berhadapan dengan prajurit-prajurit”

Buntal menganggukkan kepalanya. Tetapi terbayang bahwa ia akan menghadapi kesulitan.
“Cepat” bentak pemimpin peronda itu “ikut aku” Buntalpun kemudian melangkah mengikuti pemimpin peronda itu memasuki gardu induk penjagaan hutan perburuan itu.

Di ruang dalam, seorang prajurit yang bertubuh tinggi tegap duduk diatas sebuah amben kecil sambil bersandar tiang. Ia berpaling ketika ia melihat pemimpin peronda itu masuk bersama Buntal.

“Siapa itu?“ bertanya prajurit yang tinggi jtegap itu.

“Seorang pencuri binatang buruan” jawab prajurit yang membawa Buntal masuk.

Prajurit yang tinggi tegap, yang agaknya adalah pemimpin dari seluruh penjagaan hutan itupun kemudian mengerutkan keningnya. Dipandanginya Buntal dengan tajamnya. Lalu katanya, “Bawa ia masuk. Suruh ia duduk di situ”

Prajurit itupun berpaling kepada Buntal dan kemudian menyuruhnya duduk di sebuah dingklik kayu yang rendah “Duduk“

Buntal menjadi berdebar-debar. Tetapi iapun duduk di dingklik kayu itu.

Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu memandangnya dengan sorot mata yang mendebarkan jantung. Lalu katanya dengan nada yang datar “Jadi inilah orangnya yang sering mencuri binatang buruan itu, sehingga semakin lama binatang buruan di hutan ini menjadi semakin tipis” Lalu tiba-tiba suaranya menyentak “He, kau dari mana?“

“Aku anak padepokan Jati Aking tuan”

“Jati Aking, Jati Aking “ Ia mengingat-ingat “Aku pernah mendengar nama itu”
“Jati Aking terletak di padukuhan Jati Sari tuan”

“Jadi kau anak Jati Sari?“

“Ya tuan”

“Kenapa kau mencuri binatang di hutan ini he?“

“Aku tidak mengetahui tuan, bahwa hutan ini merupakan hutan tertutup, sehingga aku sama sekali tidak berniat untuk mencuri. Itulah sebabnya kami bertiga sama sekali tidak berusaha bersembunyi atau melarikan diri ketika para peronda lewat”

“Bertiga? Jadi kau bertiga?“

“Ya tuan”

“Kalian tidak tahu bahwa hutan ini hutan tertutup?“

“Sungguh tidak tuan”

“Bohong” sahut prajurit yang membawa Buntal itu masuk ”hutan itu telah diberi gawar dengan hampir segenggam lawe berwarna kuning”

Buntal mengerutkan keningnya. Jika benar hutan itu telah diberi tanda dengan gawar lawe berwarna kuning, maka pelanggaran yang dilakukan adalah pelanggaran yang cukup berat.

Tetapi justru di luar dugaannya, prajurit yang bertubuh tinggi tegap itulah yang bertanya kepada prajurit yang membawanya “Apakah gawar itu mengelilingi seluruh hutan ini sehingga setiap lubang masuk telah ditandai”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Jawabnya “Tidak Ki Lurah. Tetapi jalan masuk yang biasa dilalui orang sudah kami tandai”

Prajurit yang tegap itu mengangguk-angguk. Lalu iapun bertanya kepada Buntal “Darimana kau masuk?“

“Kami semula berjalan menyusur pinggir hutan. Tiba-tiba saja kami ingin masuk untuk melihat-melihat. Seandainya kami digolongkan dengan pemburu-pemburu, maka niat kami untuk menangkap binatang buruan, hanyalah tiba-tiba saja tumbuh setelah kami berada di dalam hutan itu”

Pemimpin prajurit itu bergeser sejengtal, lalu “Jadi apa niatmu sebenarnya?“

“Kami sekedar berjalan di pinggir hutan. Kami sedang dalam perjalanan ke rumah keluarga kami, kakek kami yang tinggal di Sukawati”

Pemimpin prajurit itu mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya “Apakah orang ini membawa busur dan anak panah?“

Prajurit yang membawanya Buntal termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng sambil menyahut “Tidak. Mereka tidak membawa busur dan anak panah”

Pemimpinnya mengangguk-angguk. Lalu “Apakah kau hanya membawa keris itu?“

Buntallah yang menjadi termangu-mangu sejenak. Lalu “Ya. Aku membawa keris ini, dan jenis senjata kecil untuk menangkap binatang. Maksud kami apabila di perjalanan kami, kami bertemu dengan binatang-binatang yang harus kami lawan. Dan mungkin juga ada seekor kijang di pinggir hutan. Namun sebenarnyalah kami tidak tahu bahwa hutan ini merupakan hutan tertutup”

Pemimpin prajurit itu bergeser lagi. Katanya ”Jawabanmu ternyata tidak lurus. Mungkin kau ingin mengatakan bahwa kau benar-benar tidak tahu bahwa hutan ini hutan tertutup. Tetapi apakah yang kau maksud dengan senjata-senjata kecil itu?“

Buntal menjadi semakin berdebar-debar.

“Apa?“ desak pemimpin prajurit itu.

Sebenarnyalah Buntal menjadi bingung. Ternyata menjawab pertanyaan prajurit-prajurit itu tidak semudah yang diduganya. Apalagi ia memang tidak siap menghadapi keadaan serupa itu.

“Tunjukkanlah senjata kecil yang kau maksud”

Buntal tidak dapat berbuat lain. Dibukanya bagian dada bajunya, dan tampaklah beberapa buah belati kecil terselip diikat pinggangnya”

Tiba-tiba saja Lurah prajurit itu melonjak berdiri. Dengan wajah yang tegang ia berkata lantang “Tidak. Kau bukan anak Jati Aking. Kau bukan anak seorang petani yang pergi ke rumah kakekmu”

Buntal terkejut sehingga iapun berdiri di luar sadarnya. Tetapi tiba-tiba saja prajurit itu menghentakkan bajunya dan meraba bagian belakang ikat pinggangnya. Ternyata bahwa pisau kecil itu terdapat di selingkar perutnya.

Dengan nada yang berat prajurit itu berkata “Kau bukan pencuri binatang buruan. Kau bukan sekedar ingin mengunjungi kakekmu di Sukawati. Tetapi kau benar-benar orang yang pantas dicurigai dalam saat-saat seperti ini”

“Kenapa?“ bertanya Buntal.

“Jarang sekali aku menjumpai jenis-jenis senjata aneh seperti ini. Hanya orang-orang yang khusus, yang memiliki kemampuan lontar yang itinggi sajalah yang membawanya. Dan kau tentu salah seorang daripadanya. Sudah tentu kau adalah perusuh-perusuh yang harus ditangkap”

“Tidak tuan“ Buntal mencoba menjelaskan. Seperti pesan Juwiring, maka ia harus mengaku bahwa senjata-senjata itu adalah senjata berburu “Kami mempergunakannya untuk berburu tuan. Jika perlu kami dapat membuktikannya. Karena itulah maka kami tidak membawa busur dan anak panah, karena senjata ini adalah ganti daripada anak panah itu”

“Bohong. Apakah kau dapat mendekati binatang buruan sedekat jarak lontaran pisau?“

Buntal menjadi agak bingung. Tetapi ia sempat menjawab “Kami harus nyanggong diatas pohon tuan. Jika binatang itu lewat di bawah kami, kami melontarkan pisau kami. Dua buah sekaligus mengarah kepangkal paha, kemudian disusul dengan lontaran berikutnya kearah jantung atau di antara kedua matanya apabila kami berkesempatan menghadapinya”

Lurah prajurit itu mengerutkan keningnya. Ternyata Buntal dapat menyebutkan cara yang baik, meskipun Buntalpun hanya sekedar mendengar keterangan Arum.

Namun demikian, tiba-tiba Lurah prajurit itu memerintahkan kepada prajurit yang membawa Buntal masuk “Bawa yang lain menghadap. Apakah mereka juga membawa senjata serupa ini”

Buntal menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan Lurah prajurit itu kemudian memerintahkan “Kau duduk saja di situ. Duduk. Jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakakan dirimu. Pisau-pisau itu memang dapat berbahaya bagi orang lain. Tetapi tidak bagiku”

Dada Buntal bagaikan menjadi pepat. Terlebih-lebih lagi ketika ia melihat beberapa orang prajurit yang lain membawa Juwiring dan Arum masuk ke ruang itu.

Dengan wajah yang tegang pemimpin prajurit itu memandang keduanya. Namun ia tidak dapat melihat wajah-wajah itu dengan jelas, karena keduanya menundukkan kepalanya.

“Anak ini juga membawa senjata serupa?“ bertanya Lurah prajurit itu “bawa ia maju”

Seorang prajurit mendorong Arum ke tengah-tengah ruangan. Dan pemimpin prajurit itu membentaknya “Kau masih terlalu muda. Apakah kau ikut juga terlibat dalam kerusuhan-kerusuhan yang sering terjadi?“

Arum tidak menjawab. Tetapi keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya.

“Kemarilah” berkata pemimpin prajurit itu. Arum berdiri membeku Di tempatnya.

“Kau tentu membawa senjata serupa itu” berkata lurah prajurit itu “buka bajumu”

Perintah itu telah menggetarkan jantung Buntal dan Juwiring. Tentu tidak mungkin Arum harus membuka bajunya di hadapan beberapa orang prajurit itu.

“Buka bajumu, cepat“ pemimpin prajurit itu berteriak. Namun Arum masih saja berdiri tegak. Sebagai seorang gadis yang jarang sekali keluar dari padepokannya, maka perintah itu telah membuatnya pucat.

“Cepat, apakah aku harus memaksamu?“ prajurit itu menjadi semakin marah.

Meskipun demikian Arum masih tetap berdiri membeku. Ternyata pemimpin prajurit itu tidak sabar lagi. lapun meloncat maju sambil menjulurkan tangannya.

Namun selagi tangan itu belum menyentuh baju Arum, Buntal dan Juwiring meloncat hampir berbareng, dan berdiri tepat di muka Arum.

“Jangan tuan“ hampir berbareng pula mereka mencegah.

Pemimpin prajurit itu menjadi semakin marah bukan kepalang. Dengan tangan kirinya ia menampar wajah Buntal dan Juwiring berganti-ganti. Namun kedua anak muda yang telah mengalami pembajaan diri itu, hampir tidak tergerak karenanya.

“Kau gila. Apakah kau sadar bahwa perbuatanmu ini dapat Menyeretmu ke lubang kubur?“

Juwiring dan Buntal tidak menyahut. Tetapi ketika mereka sempat melihat para prajurit di sekitarnya dengan sudut mata, maka merekapun melihat ujung-ujung senjata yang telah terjulur kearah mereka.

“Kenapa kau menghalangi aku he?“ bertanya lurah prajurit itu.

Juwiringlah yang kemudian membuka bajunya dan berkata “Kami memang membawa senjata serupa ini“

Pemimpin prajurit itu memandangi ikat pinggang Juwiring. Seperti ikat pinggang Buntal, maka beberapa buah pisau kecil terdapat pada ikat pinggang itu.

“Aku ingin metihat yang seorang itu. Jika kalian berkeberatan, aku akan mempergunakan kekerasan”

“Tetapi, tetapi” suara Juwiring terputus-putus. Ia menjadi bingung, bagaimana mungkin ia mencegah lurah prajurit itu membuka baju Arum.

“Bawa kedua anak ini menepi“ perintah pemimpin prajurit itu “Aku akan melihat, apa yang tersimpan di bawah baju anak yang tampaknya paling muda ini”

Juwiring dan Buntal menjadi bingung. Terlebih-lebih lagi Arum. Wajahnya menjadi semakin pucat, dan tubuhnya gemetar. Namun demikian di dalam hati gadis itu, terbersit suatu tekat, jika mereka memaksa, maka ia akan melawan dengan sekuat-kuat tenaganya.

Bahkan terngiang di telinganya kata-kata ayahnya “Bagi seorang anak muda, bahaya yang paling pahit adalah mati“

Dan kini Arum mengalami, bahwa sebelum ia sampai pada bahaya yang paling besar bagi seorang gadis, maka yang terjadi inipun sudah hampir membuatnya pingsan.

“Aku akan memilih mati” waktu itu ia menjawab. Dan ayahnya berkata bahwa kadang-kadang yang terjadi bukannya yang dipilihnya.

Jika saat itu ia menjadi pingsan, maka ia tidak akan dapat memilih mati itu.

Ketika beberapa orang prajurit melangkah maju dan menekan ujung pedangnya ke tubuh Juwiring dan Buntal, maka tidak ada pilihan lain bagi Juwiring untuk melakukan usaha terakhirnya.

Karena itu, ketika ujung pedang itu menekannya semakin keras, maka tiba-tiba saja ia menarik ikat kepalanya yang kumal dan sama sekali membuka bajunya. Dengan suara yang bergetar ia memanggil “Ki Lurah Bausasra”

Lurah prajurit itu terkejut. Dengan tajamnya ia mengamati Juwiring yang tidak menundukkan kepalanya lagi, dan apalagi kini kepalanya tidak tertutup lagi oleh ikat kepala yang sudah kumal itu sebagaimana kebiasaan seorang petani.

“Kau mengenal namaku?“

“Ya Ki Lurah. Aku mengharap Ki Lurah juga mengenal aku atau Setidak-tidaknya salah seorang dari kalian”

Lurah prajurit yang bernama Bausasra itu menjadi terheran-heran. Dipandanginya anak muda yang menyebut namanya itu dengan saksama. Dengan suara yang ragu-ragu ia bertanya “Siapa kau, siapa?“

“Pandanglah aku. Adalah kebetulan kita sudah pernah bertemu. Kebetulan sekali kau pernah datang ke rumahku, dan kita pernah bercakap-cakap. Tentu kau lupa kepadaku, karena kau adalah seorang prajurit yang menunaikan tugasmu tidak di satu tempat. Tetapi aku tidak lupa kepadamu”

“Siapa, siapa?“ Bausasra bertanya semakin keras “sebut namamu jika nama itu dapat mengingatkan aku kepadamu. Namun meskipun kau sudah mengenal aku, itu bukan berarti bahwa aku dapat melepaskan tanggung jawabku sebagai seorang prajurit yang menjaga hutan buruan ini”

Juwiring menarik keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Kau benar. Meskipun aku mengenal kau dan kau mengenal aku, itu bukan berarti bahwa kau dapat melepaskan tanggung jawabmu. Kau kini sedang bertugas mengawasi hutan buruan ini, dan melarang setiap orang berburu di sini. Bukankah itu tugasmu? Tugasmu sama sekali tidak untuk menangkap orang dalam tuduhan yang lain kecuali melarang peraturan hutan tutupan ini”

“Tidak. Aku adalah seorang prajurit. Jika aku menjumpai kesalahan yang lain, apalagi perusuh-perusuh, meskipun tidak-sedang berada di daerah tugasku, aku memang wajib menangkapnya. Dan sekarang kalian menimbulkan kecurigaanku karena sikapmu, senjatamu dan tentu ada suatu rahasia yang tersembunyi pada anak yang masih terlalu muda itu”

“Ki Lurah” berkata Juwiring kemudian “Marilah kita batasi persoalan kita. Kau bertugas di hutan buruan ini. Dan menurut peraturan, para bangsawan diperkenankan berburu di hutan ini. Dan aku pernah melihat Raden Rudira berburu di sini”

“Tentu, apakah yang kau maksud adalah Raden Rudira putera Pangeran Ranakusuma?“

“Ya”

“Tentu. Raden Rudira boleh berburu, dan ia memang sering berburu kemari.

“Dan aku?“

Ki Lurah Bausasra menjadi termangu-mangu. Orang yang tinggi tegap itu memandang Juwiring dengan tajamnya. Kini diamatinya anak muda itu dari ujung kaki sampai keujung rambutnya.

“Siapa kau?“ suaranya menjadi rendah.

Juwiring tersenyum. Katanya “Apakah benar-benar tidak ada seorangpun yang mengenal aku di sini”

Ki Lurah memandang berkeliling. Beberapa orang prajurit menjadi termangu-mangu. Dan yang lain menggelengkan kepalanya. Tetapi dalam ruang yang tidak begitu luas itu seorang dari antara mereka tiba-tiba mendesak maju sambil berkata “Maaf, apakah aku boleh berbicara?“

“Apa yang akan kau katakan?“

“Apakah aku boleh menyebut anak muda ini, meskipun barangkali tidak benar”

Pemimpin prajurit yang tegap itu mengangguk “Sebut namanya”

“Apakah, apakah tuan berasal dari istana Ranakusuman juga seperti Raden Rudira?“ perajurit itu justru bertanya.

Juwiring tersenyum mendengar pertanyaan itu. Hatinya menjadi agak dingin. Jika ada seorang saja dari antara mereka yang mengenal, maka keadaannya akan menjadi semakin baik.

Namun dalam pada itu, pemimpin prajurit yang tegap dan bernama Bausasra itu terkejut. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya “Dari Ranakusuman maksudmu?“

Prajurit itu mengangguk. Jawabnya “Ya. Aku pernah melihatnya dahulu. Sudah agak lama. Tetapi aku masih ingat”

“Jadi siapa anak muda ini, siapa?“ Ki Lurah Bausasra menjadi tidak sabar”

“Kalau aku tidak salah, tetapi kalau tidak salah, bukankah anak muda ini Raden Juwiring”

“Raden Juwiring. He? Apakah anak muda ini Raden Juwiring?“

Juwiring menganggukkan kepalanya. Katanya “Ya Ki Lurah Bausasra. Aku adalah Juwiring, Juwiring dari Ranakusuman. Karena itu aku mengenalmu meskipun kau tidak lagi dapat mengenali aku”

“O, jadi, jadi?“ Ki Lurah Bausasra agak gugup.

“Mungkin pakaianku dan sikapku membuatmu semakin tidak mengenal aku”

Bausasra mengamati Raden Juwiring dengan saksama. Dan sejenak kemudian ia berteriak “Pergi, semuanya pergi dari ruangan ini. Biarlah ketiga anak-anak muda ini tinggal bersama aku”

Para prajurit itupun menjadi termangu-mangu. Pedang yang masih telanjangpun kemudian tertunduk lesu.

“Pergi” sekali lagi. Bausasra berteriak.

Beberapa orang prajurit yang ada di dalam ruangan itupun kemudian melangkah surut dengan dada yang berdebar-debar. Dan ketika mereka sudah sampai di pintu, maka merekapun berdesak-desakan meloncat keluar, seakan-akan ruangan itu menjadi terlampau panas bagi mereka.

Ketika mereka sudah ada di luar, maka seorang dari prajurit itu berdesah “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi? Jika Raden Juwiring itu menjadi marah, maka kita semuanya akan kena akibatnya”

“Aku hampir tidak mengenalnya lagi. Baru ketika ia melepas ikat kepalanya sama sekali dan kemudian menyebut nama Raden Rudira. Bukankah Raden Rudira itu adiknya?“

“Aku kurang mengerti. Dan barangkah aku memang kurang mengenalnya karena aku hampir tidak pernah bertugas di dalam kota Surakarta sendiri. Apalagi aku belum lama menjadi seorang prajurit” Prajurit ijtu berhenti sejenak, lalu “Tetapi yang aneh adalah Ki Lurah Bausasra. Kenapa ia tidak mengenal putera Pangeran Ranakusuma? Seharusnya ia mengenalinya”

“Bukan hanya Ki Lurah Bausasra. Sebagian terbesar dari kita harus sudah mengenalnya. Tetapi pakaiannya dan keadaan yang tampak pada lahiriahnya, ia seperti seorang petani biasa. Petani kecil yang sederhana”

Dan tiba-tiba seorang prajurit yang sudah beruban dikening menyahut “Bukankah Raden Juwiring sudah beberapa saat tidak berada di istana Ramakusuman? Adalah benar kata anak muda yang pertama, bahwa mereka adalah anak-anak Jati Sari. Raden Juwiring itu tentu berada di padepokan yang disebutnya Padepokan Jati Aking itu”

Prajurit-prajurit itu terdiam sejenak. Tetapi mereka masih tetap berdebat. Pangeran Ranakusuma adalah seorang Pangeran yang berpengaruh di istana, apalagi di saat-saat terakhir ketika orang-orang asing menjadi semakin banyak di Surakarta.

Namun dalam pada itu di dalam ruang dalam, Juwiring berkata kepada Ki Lurah Bausasra sambil tersenyum “Bukan salahmu Ki Lurah”

“Kami mohon maaf Raden. Kami benar-benar tidak mengenal Raden Juwiring. Tetapi tentu Raden Tidak percaya. Aku memang pernah berbicara dengan Raden ketika aku menghadap ayahanda Pangeran Ranakusuma, sebelum aku bertugas ke Timur untuk beberapa lamanya. Setelah aku kembali sampai sekarang, barulah kali ini aku bertemu lagi dengan Raden Juwiring. dan itupun dalam keadaan yang tidak aku duga sama sekali”

Juwiring masih tersenyum. Katanya “Tidak apa-apa. Aku tahu bahwa kau menjalankan tugas yang dibebankan kepadamu, meskipun barangkali kau tidak sesuai dengan tugas ini”

Ki Lurah Bausasra menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia berkata “Memang Raden. Di dalam suasana yang panas ini, setiap prajurit ingin berbuat sesuatu yang besar. Yang bernilai bagi seorang anak Surakarta. Tetapi aku justru mendapat tugas mengawasi binatang buruan. Hanya mengawasi beberapa ekor kijang dan harimau kumbang”

Juwiring mengangguk-anggukkan. Katanya “Itu adalah tugas yang dapat diberikan kepadamu sekarang. Mungkin para pemimpin di Surakarta masih belum yakin akan sikapmu, sehingga kau masih belum mendapatkan tugas yang lebih baik dari mengawasi sebuah hutan tertutup”

Ki Lurah Bausasra menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya anak-anak muda yang kemudian dipersilahkan duduk di amben bambu.

“Mungkin Raden benar” sahut Ki Lurah “Aku memang sudah jauh ketinggalan dari keadaan yang berkembang. Karena itu pula aku tidak mengenal Raden lagi. Sekali lagi kami mohon maaf Raden”

Raden Juwiring tertawa. Katanya “Jangan kau sebut lagi hal itu. Sebenarnya kami memang tidak bermaksud mengejutkan kalian. Sebenarnyalah kami tidak mengetahui bahwa hutan ini sekarang menjadi hutan tertutup. Jika kau tidak memaksa adikku ini untuk membuka bajunya, maka aku tidak akan menyatakan ihriku. Kami masih berusaha untuk dapat membebaskan diri tanpa memperkenalkan diriku yang sebenarnya. Tetapi kecurigaan kalian
beralasan. Senjata-senjata Ini memang senjata yang aneh, yang tidak lazim dipakai oleh para pemburu. Tetapi kami dapat mempergunakannya dengan baik”

Ki Lurah mengangguk. Tetapi ia bertanya “Siapakah yang Raden maksud dengan adik Raden?“

“Keduanya adalah adik seperguruanku di dalam olah kajiwan dan kanuragan. Seperti yang sudah dikatakan, kami kini tinggal bersama-sama di padepokan Jati Aking. Dan adikku yang bungsu ini adalah anak Kiai Danatirta dari Jati Aking”

“O, aku minta maaf. Aku tidak mengerti. Tetapi penolakan Raden terhadap permintaanku sangat menambah kecurigaanku”

“Kau benar. Tetapi bertanyalah, siapakah nama anak itu“

Arum termangu-mangu mendengar kata-kata Juwiring. Tetapi iapun kemudian mengerti maksudnya. Karena itu ketika Bausasra memandang kepadanya, ia menjawab “Namaku Arum”

“He“ mata Bausasra terbelalak karenanya. Dengan suara gemetar ia bertanya “Apakah kau seorang gadis, atau suaramu sajalah yang seperti suara seorang gadis”

“Ia memang seorang gadis, meskipun bentuknya seperti seorang anak laki-laki”

“O“ keringat yang dingin mengembun didahi Ki Lurah Bausasra “Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Untunglah di sini ada Raden Juwiring”

Arum tertunduk dalam-dalam. Di pipinya membayang warna semburat merah. Tetapi iapun tersenyum pula seperti Juwiring dan Buntal.

“Sudahlah” berkata Juwiring “Marilah kita lupakan saja peristiwa ini. Aku akan segera melanjutkan perjalananku ke Sukawati”

Ki Lurah Bausasra masih dicengkam oleh kegelisahan. Bahkan kemudian ia berkata “Aku minta maaf kepada kalian semua. Aku benar-benar tidak mengerti, bahwa aku berhadapan dengan Raden Juwiring dan kedua adik seperguruannya. Apalagi seorang daripadanya adalah seorang gadis”

“Bukan salahmu Ki Lurah. Aku tahu, kau dan para prajurit itu sedang melakukan kuwajibannya. Akupun minta maaf, bahwa aku telah membuat kau dan prajuritmu menjadi sibuk”

“Tidak. Tidak. Raden tidak bersalah Raden berhak berburu di hutan ini seperti juga Raden Rudira dan putera-putera Pangeran yang lain”

“Terima kasih. Kami tidak ingin berburu”

Ki Lurah Bausasra mengerutkan keningnya. Namun Juwiring tertawa dan berkata “Mungkin keterangan kami berbelit-belit dan kadang-kadang saling bertentangan. Jika kalian tidak mengenal kami, maka kalian tentu akan menjadi semakin curiga. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami memberikain keterangan yang tidak sebenarnya, karena semula kami tidak bermaksud mengatakan tentang diri kami masing-masing yang sebenarnya. Terutama aku sendiri, sehingga kami mencoba untuk mencari-cari alasan, sehingga dengan demikian keterangan kami menjadi berbelit-belit.
Ki Lurah Bausasra tidak menyahut. Dan Raden Juwiring berkata selanjutnya “Tetapi sebenarnyalah kami hanya ingin lewat Kami akan pergi ke Sukawati”

Ki Lurah Bausasra mengangguk-angguk.

“Oleh guru kami, kami dibekali denpan senjata-senjata kecil ini. Justru karena keadaan semakin lama menjadi semakin kisruh dan tidak menentu”

Ki Lurah Bausasra masih mengangguk-angguk.

“Kami sengaja tidak membawa senjata yang menyolok selain keris dan pisau-pisau belati kecil ini. Senjata-senjata ini dapat sekedar melindungi diri kami apabila kami perlukan, namun tidak memancing perhatian dan persoalan, karena kami dapat menyembunyikannya di bawah baju kami”

“Kami mengerti” jawab Ki Lurah Bausasra “kini aku percaya. Semula keterangan Raden dan adik-adik seperguruan Raden memang membingungkan dan mencurigakan. Tetapi kini kami dapat mengerti, kenapa Raden dan adik-adik Raden berusaha untuk meng hindarkan diri dari pertanyaan-pertanyaan kami dan tidak menjawab sebenarnya seperti yang akan Raden lakukan”

“Ya. Terima kasih atas pengertian Ki Lurah. Dan sekarang kami akan minta diri”

“Tetapi tentu bukan untuk mengunjungi seorang kakek yang sudah lama tidak bertemu”

Raden Juwiring tersenyum.

“Sebenarnya aku juga menunggu kesempatan, kapan aku dapat menghadap Pangeran Mangkubumi” desis Bausasra.

“He?“ Juwiring mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia harus hati-hati menghadapi orang yang tidak begitu dikenalnya. Mungkin Bausasra hanya sekedar memancingnya, dan kemudian melaporkannya kepada pimpinan prajurit di Surakarta, yang mempunyai wewenang untuk melakukan penangkapan atas para bangsawan.

Namun tiba-tiba Ki Lurah Bausasra itu menjadi sangat gelisah. Dan dengan suara yang bergetar ia bertanya “Tetapi Raden. Apakah Raden akan menghadap pamanda Pangeran Mangkubumi?“

Juwiring masih tetap berhati-hati, meskipun seakan-akan acuh tidak acuh saja ia menjawab “Tidak Ki Lurah. Kami tidak akan menghadap pamanda Pangeran Mangkubumi. Kami akan pergi kepada seorang sahabat Kiai Danatirta”

“O“ Ki Lurah Bausasra menjadi semakin gelisah. Namun seperti tidak terjadi apapun juga Raden Juwiring berkata “Nah, sekarang kami akan minta diri. Sekali lagi kami minta maaf bahwa kami sudah mengganggu kalian. Tolong katakan kepada prajurit-prajuritmu, bahwa kita lupakan saja apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah kita perbuat masing-masing”

“Baik, baik Raden. Terima kasih atas kesempatan ini. Mudah-mudahan lain kali kami tidak membuat kesalahan. Nanti aku akan memerintahkan agar gawar lawe yang berwarna kuning itu tidak hanya disangkutkan pada lorong-lorong masuk ke dalam hutan ini, tetapi direntangkan di sekitar hutan yang menghadap kejalan yang Raden lalui, agar orang lain nanti tidak terjebak dalam kesalahan yang sama seperti Raden yang tidak mengetahui bahwa hutan ini adalah hutan tertutup. Untunglah bahwa Raden memang berhak melakukannya. Jika terjadi atas orang lain, akibatnya akan tidak menyenangkan bagi orang itu, meskipun sebenarnya ia memang tidak bersalah”

“Baiklah” berkata Raden Juwiring ”Aku minta diri”

Buntal dan Arumpun kemudian minta diri pula kepada Ki lurah Bausasra, Merekapun kemudian diantar oleh Ki Lurah itu sampai ke halaman dan selanjutnya meninggalkan barak penjagaan prajurit Surakarta itu.

Beberapa langkah kemudian, Buntal bertanya kepada Juwiring “Jadi, bukankah Ki Lurah Bausasra agaknya tidak berpihak kepada Kompeni, atau Setidak-tidakhya tidak terlalu menjilat mereka?“

“Mungkin sekali. Tetapi aku masih ragu-ragu. Kita tidak dapat berbuat tergesa-gesa terhadap orang yang belum kita kenal dengan baik. Mungkin Ki Lurah Bausasra sedang memancing kita. Tetapi menilik sikapnya, aku mempunyai dugaan, bahwa sebenarnya ia tidak berpura-pura. Ternyata ia justru menjadi gelisah”

“Kenapa justru gelisah?“

“Ki Lurah Bausasra mengerti kalau aku adalah Putera ayahanda Ranakusuma. Dan Ki Lurah Bausasrapun tahu, bagaimana sikap ayahanda terhadap perkembangan keadaan kini”

Buntal dan Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Ki Lurah Bausasra menjadi gelisah, karena menurut dugaannya Raden Juwiring pasti mempunyai sikap seperti ayahandanya.

Tetapi mereka tidak mempersoalkannya lagi. Arum yang merasa tidak akan terganggu lagi di hutan tutupan itu mulai tertarik lagi pada gerumbul-geriumbul liar yang berserakan diantara pepohonan yang semakin lama semakin pepat.

“Dalam gerumbul itu tentu bersembunyi binatang buruan. Kijang atau rusa” desisnya.

“Atau harimau” sahut Buntal.

“Apa salahnya seekor harimau”

“Tentu bukan harimau. Di sekitar tempat ini tentu tidak ada seekor harimaupun saat ini” desis Juwiring.

“Kenapa kau tahu?“ beritanya Arum.

“Lihat. Di sini banyak kera berkeliaran. Jika di daerah ini ada seekor harimau atau seekor ular yang besar, maka tentu tidak akan ada seekor kerapun yang tampak. Mereka akan menyisih jauh-jauh. Bahkan jika seekor ular besar sedang lapar dan mengikatkan ujung ekornya pada sebatang dahan yang besar, bukan saja tidak ada seekor kerapun yang tampak, tetapi juga burung-burung akan berterbangan pergi. Apabila arah angin tepat bertiup kearah kita, maka kita akan mencium bau yang langu”

“Kau mengetahui banyak tentang hutan dan perburuan“

“Aku dahulu sering ikut berburu seperti adinda Rudira. Tetapi kemampuan berburu adinda Rudira berkembang karena ia kemudian mendapat kesempatan untuk pergi berburu sendiri dengan beberapa orang pengiring. Tetapi aku kemudian mendapat kesempatan lain. Mempelajari olah kanuragan, kajiwan serta ilmu pergaulan dan tata pemerintahan dari Kiai Danatirta, meskipun adinda Rudira pasti juga mendapat dari orang lain”

Buntal dan Arum mengangguk-angguk. Tanpa mereka sedari mereka merasakan betapa pahitnya perasaan Raden Juwiring, karena ia telah tersisih dari lingkungan keluarganya, apapun alasannya.

Namun sejenak kemudian perhatian Arum telah tertuju kepada hutan di sekitarnya. Jika Juwiring dan Buntal setiap kali tidak mencegahnya, maka ia pasti sudah berlari-larian di antara semak-semak yang lebat.

“Ada beberapa kemungkinan Arum” berkata Juwiring “Kau bukannya berburu, tetapi diburu oleh binatang liar atau tersesat”

“Mungkin aku dapat tersesat. Tetapi seandainya ada binatang liar, akulah yang akan menangkapnya. Bukankah yang ada hanyalah rusa atau kijang? Bukankah di sini tidak ada harimau. Bahkan seandainya ada harimau sekalipun aku tidak takut. Aku dapat memanjat dan membunuhnya dengan pisau-pisau ini”

“Bukan seekor harimau Arum. Tetapi yang paling berbahaya bagi pemburu adalah ular kecil yang berbisa. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat mengobati gigitan ular weling, welang atau bandotan. Tetapi tidak kalah bahayanya adalah serangga-serangga yang berbisa. Laba-laba biru atau lebah kendit, yang bergaris putih dipinggangnya yang ramping”

Arum mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil memberengut ia berkata “Kau membohongi aku. Aku percaya kalau di hutan ini banyak ular berbisa. Tetapi tidak dengan serangga-serangga semacam itu”

“Sebaiknya kau mempercayainya Arum” berkata Buntal “Kakang Juwiring mempunyai pengalaman dan pengenalan atas hutan ini dan barangkali di hutan-hutan yang lain”

Arum tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi gelap. Dan tiba-tiba saja ia berkata ”Kita keluar dari hutan ini. Jika kita bertemu dengan peronda yang lain lagi, yang belum mengetahui tentang kita, maka kita harus berurusan lagi dengan mereka, dan Lurah itu akan memaksa lagi aku membuka baju”

Juwiring dan Buntal tersenyum.

“Kalian mentertawakan aku?“

“Mereka tidak tahu Arum. Justru karena itu membuktikan bahwa kau pantas berpakaian seperti seorang laki-laki” sahut Buntal.

Arum tidak menjawab. Tetapi ia berjalan lebih cepat. lagi mendahului kedua saudara seperguruannya.

Demikianlah akhirnya merekapun keluar dari hutan tertutup itu. Mereka berjalan menyusur jalan sempit di pinggir hutan itu. Dan sebenarnyalah mereka di beberapa tempat melihat gawar lawe berwarna kuning sebagai pertanda bahwa hutan itu adalah hutan tertutup.

Perjalanan merekapun tidak terganggu lagi oleh keinginan Arum mencari binatang buruan di hutan, setelah mereka menjadi semakin jauh dari hutan tertutup itu. Bahkan kemudian mereka sampai di daerah pategalan yang sudah ditanami dengan berbagai macam pohon buah-buahan. Dan sejenak kemudian merekapun sampai di bulak persawahan yang panjang.

Ketika matahari menjadi semakin rendah di Barat, maka merekapun beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang. Namun mereka sama sekali masih belum dapat duduk dengan tenang, karena Sukawati masih cukup jauh. Apalagi perjalanan mereka terganggu oleh prajurit-prajurit yang bertugas di hutan tutupan itu.

Dengan bekal yang hanya sedikit, mereka mengisi perut mereka sebelum melanjutkan perjalanan di bawah terik matahari menjelang sore.

Meskipun panasnya sudah mulai susut, namun rasa-rasanya masih juga menyengat kulit yang seakan-akan menjadi merah seperti tembaga. Pakaian mereka telah basah oleh keringat dan kotor oleh debu. Tetapi mereka berjalan terus.

“Kita harus sampai ke rumahnya” berkata Juwiring seakan-akan kepada diri sendiri.

Tetapi Buntal menyahut “Ya. Kita harus langsung sampai ke rumah Kiai Sarpasrana meskipun lewat tengah malam”

Arum tidak berkata apapun. Tetapi ia tidak berkeberatan seandainya ia masih harus berjalan sampai lewat tengah malam. Meskipun ia seorang gadis, tetapi latihan-latihan yang teratur dan mapan, membuat ketahanan tubuhnya menjadi sangat tinggi, seperti juga Juwiring dan Buntal.

Dalam pada itu, mataharipun semakin lama menjadi semakin rendah. Langit menjadi kemerah-merahan oleh sinarnya yang lemah. Dan ujung mega di atas pegunungan bagaikan membara.

Arum yang seakan-akan telah mandi keringat, sempat memandang langit yang ditaburi oleh sisa-sisa sinar matahari menjelang senja. Angin yang lembut mengusap wajahnya yang basah. Sekali-sekali gadis itu mengusap keringat dikeningnya dengan lengan bajunya dengan acuh tidak acuh. Perhatiannya sedang dicengkam oleh warna-warna yang dengan cepatnya berubah-ubah di sore hari.

Juwiring yang berjalan agak di depan menundukkan kepalanya. Angan-angannya telah mendahuluinya menemui Kiai Sarpasrana. Berbagai macam gambaran telah bergerak di kepalanya. Mungkin orang itu akan menyambutnya dengan baik, tetapi mungkin sebaliknya.

Dalam pada itu, Buntal untuk beberapa saat terlempar ke dalam dunia kenangan. Di saat-saat ia berjalan tanpa tujuan. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit dengan warnanya, yang semakin gelap. Seperti warna yang pernah dilihatnya di bulak Jati Sari. Betapa warna itu bagaikan bayangan hantu yang akan menerkamnya saat itu.

Seakan-akan masih terasa tengkuknya bagaikan patah ketika orang orang Jati Sari memukulinya. Masih juga terngiang pekik Arum yang terkejut melihatnya diatas gubug.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya dipandanginya wajah Arum sekilas. Hanya sekilas. Tetapi Buntal melihat ujung rambutnya yang bergerak-gerak ditiup angin yang lembut, bagaikan rumbai-rumbai yang menghiasi seraut wajah yang bulat cerah.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali ia mencoba mengusir pikiran gila itu dari kepalanya. Namun setiap kali wajah itu terbayang juga meskipun ia sudah berusaha untuk mengenyahkannya.

“Kenapa aku harus membayangkan wajahnya“ Buntal membentak dirinya sendiri di dalam hati “anak itu ada di sini. Aku dapat memandanginya sepuas-puasnya. Bukan sekedar bayangan di dalam angan-angan“

Buntal terkejut ketika ia mendengar suara Juwiring “Di malam hari, lebih sulit bagi kita untuk menemukan rumah Kiai Sarpasrana”

Sejenak Buntal tergagap. Namun iapun kemudian menjawab “Ya. Tidak ada tempat untuk bertanya”

“Mungkin di gardu-gardu parondan” sahut Arum.

Juwiring mengangguk-angguk. Katanya “Ada dua kemungkinan. Di gardu-gardu peronda kita akan mendapat petunjuk, atau justru dicurigai dalam keadaan seperti sekarang ini”

“Ya“ Buntal menyahut “Kita dapat dicurigai seperti prajurit-prajurit itu mencurigai kita. Agaknya saat ini adalah saat saling curiga mencurigai di antara sesama orang Surakarta dan wilayahnya“

“Ya. Kedatangan orang-orang asing itulah yang telah mengguncangkan sendi-sendi kehidupan di Surakarta” Juwiring berhenti sejenak, lalu “Apakah kalian sependapat, apabila kita teruskan perjalanan kita sampai ke Sukawati malam ini, meskipun sampai jauh dan bahkan lewat tengah malam? Tetapi baru besok pagi-pagi kita mencari rumah Kiai Sarpasrana?“

Tetapi Arum menggelengkan kepalanya “Kita sampai ke rumahnya malam ini. Jika kita menunggu dimanapun juga, masih akan ada kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi”

Buntal menganggukkan kepalanya “Ya. Tentu di daerah Sukawati peronda-peronda selalu nganglang hampir setiap saat. Lebih baik kita berterus terang kepada mereka”

Juwiring mengangguk-angguk pula. Katanya “Baiklah. Kita akan berusaha untuk menemukan rumah itu“

Ketiga anak muda itupun kemudian terdiam sejenak. Sementara langit menjadi buram dan ujung pegunungan telah menjadi pudar.
Hampir tanpa mereka sadari, maka perlahan-lahan malampun mulai turun. Cahaya matahari yang tersangkut di tepi langit telah padam sama sekali. Bintang-bintang satu demi satu mulai memancar di dalam kegelapan.

Ketiga anak-anak muda itupun berhenti pula sejenak untuk melepaskan lelah. Meskipun mereka cukup terlatih menguasai diri, tenaga dan tubuh, namun mereka masih juga memerlukan beristirahat sejenak. Membasahi kaki mereka dengan air parit yang bening. Bahkan kemudian tangan dan wajah mereka yang bagaikan hangus dibakar sinar matahari.

“Kita duduk sejenak” berkata Arum kemudian “Bukan karena lelah. Tetapi aku ingin menikmati segarnya udara“

Juwiring dan Buntal tersenyum, namun mereka tidak menjawab. Meskipun demikian Arum berkata “Kalian tidak percaya?“

“Tentu kami percaya” jawab Juwiring “Akupun ingin duduk sebentar. Angin terasa sejuk sekali”

“Apakah perjalanan kita masih jauh?“ bertanya Arum kemudian.

“Tidak begitu jauh lagi” jawab Juwiring “Aku kira tidak sampai tengah malam kita sudah akan mencapai daerah Sukawati”

Arum tidak bertanya lagi. Ia duduk diatas rerumputan sambil bersandar sebatang pohon. Namun kemudian sambil berpaling memandang ke dalam kegelapan bayangan pepohonan ia berkata “Bukankah aku tidak bersandar sebatang pohon hutan tutupan?“

Tidak Arum“ Buntallah yang menjawab “Kita berada di daerah pategalan”

“O“ Arum menyandarkan dirinya lagi sambil memandang ke kejauhan.

Namun tiba-tiba Arum terkejut. Hampir bersamaan Juwiring dan Buntalpun mengangkat kepala mereka memandang kekejauhan.

“Beberapa buah obor” desis Arum.

“Ya“ Juwiring dan Buntal hampir bersamaan.

“Siapakah mereka?“ bertanya Arum pula.

Juwiring menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu”

Arumpun kemudian berdiri. Dilihatnya beberapa buah obor itu berjalan beriringan. Tidak banyak. Ada tiga buah yang jaraknya agak kejauhan.

“Mereka menuju kemari” desis Buntal yang telah berdiri pula.

“Ya. Obor itu menuju kemari”

Ketiganyapun kemudian berdiri termangu-mangu. Mereka memandangi obor yang semakin lama menjadi semakin dekat itu dengan saksama.

“Mereka akan melewati jalan ini” berkata Arum, kemudian Juwiring merenung sejenak, lalu “Kita bersembunyi”

“Menyingkir?“ beritanya Arum.

“Tidak. Aku ingin melihat siapakah mereka”

Buntal menganggukkan kepalanya sambil bergumam “Ya, kita bersembunyi di balik semak-semak untuk melihat, siapakah mereka itu”

Demikianlah ketiganyapun kemudian segera bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun. Apalagi di dalam gelapnya malam.

“Hati-hatilah, jangan menimbulkan suara apapun yang dapat menarik perhatian mereka” berkata Juwiring.

Kedua adik-adik seperguruannya itu tidak menjawab. Tetapi mereka menyadari, bahwa apabila mereka membuat kesalahan, maka akibatnya tidak dapat dibayangkan karena mereka tidak mengetahui siapakah yang akan lewat itu.

Arum yang telah mendapat pengalaman dari kesulitan yang dialaminya di hutan tertutup itupun menjadi agak berhati-hati. Apalagi apabila mereka berhadapan dengan orang-orang yang sama sekali tidak diketahuinya. Mungkin perampok-perampok, mungkin prajurit-prajurit yang sedang mengejar perampok atau mencari apapun, tetapi mungkin juga orang-orang asing yang kadang-kadang dapat menjadi buas menghadapi gadis-gadis, seperti cerita yang pernah didengarnya.

Bahkan ketika obor-obor itu menjadi semakin dekat, Arum telah menahan nafasnya, agar tidak terdengar oleh orang-orang yang kemudian lewat di jalan di pinggir pategalan itu.

Ketiga anak-anak muda itupun kemudian memperhatikan sebuah iring-iringan yang mendebarkan jantung. Sebagian terbesar dari mereka adalah laki-laki bersenjata. Bahkan ada di antara mereka yang berpakaian seperti prajurit Surakarta. Sedang di bagian tengah dari iring-iringan itu, adalah beberapa orang perempuan dan bahkan anak-anak.

Hampir saja Arum membuka mulutnya untuk bertanya kepada Buntal yang ada di sebelahnya. Untunglah bahwa ia segera sadar sehingga niatnya itupun diurungkannya.

Namun yang paling tegang dari ketiga anak-anak muda itu adalah Juwiring. Di bawah cahaya obor yang menerangi terutama di bagian perempuan dan anak-anak itu, dilihatnya seorang yang pernah dikenalnya.

Sejenak ketiganya seakan-akan telah membeku. Tetapi dengan demikian mereka berhasil tidak menarik perhatian orang-orang yang lewat beberapa langkah saja di hadapan mereka.

Baru ketika iring-iringan itu sudah lewat agak jauh, ketiga anak-anak muda itu bangkit dari persembunyiannya- Perlahan-lahan mereka bergeser maju. Dengan hati-hati mereka menyusup di antara semak-semak dan muncul di jalan yang baru saja dilalui oleh iring-iringan yang mendebarkan jantung itu.

“Siapakah mereka?” desis Arum,

Buntal menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tidak tahu”

“Apakah belum ada orang yang kau kenal sama sekali?“

Sekali lagi Buntal menggeleng. Katanya “Belum. Aku belum pernah mengenal mereka”

Arum menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia berpaling kepada Juwiring, dilihatnya di dalam kesuraman malam, anak muda itu merenung.

“Apakah ada yang kau kenal?“ bertanya Arum kepada Juwiring.

Juwiring tidak segera menjawab. Ia masih memandang cahaya obor di kejauhan yang seakan-akan bagaikan seberkas bara yang berterbangan di dalam gelapnya malam. Bahkan Arum berdesis seperti kepada diri sendiri “Seperti beberapa ekor burung kemamang”

Juwiring mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Seakan-akan aku pernah mengenainya salah seorang dari mereka”

“Siapa?” bertanya Buntal dan Arum hampir bersamaan.

“Yang berjalan di luar iring-iringan. Kebetulan saja ia melintas di sebelah obor yang ada di depan perempuan dan anak-anak itu”

“Ya siapa?“ Arum tidak sabar.

“Juga seorang bangsawan“

“Bangsawan? Siapa? Raden Rudira? Atau siapa? Laki-laki atau perempuan?“ bertanya Arum.

Juwiring masih belum menjawab, sehingga Arum mendesaknya lagi “Yang. kau maksudkan seorang laki-laki atau seorang perempuan?“

“Seorang laki-laki” desis Juwiring.

“Namanya? Tentu ia mempunyai nama”

“Raden Mas Said”

“Raden Mas Said“ Arum dan Buntal mengulang.

“Siapakah Raden Mas Said itu?” bertanya Buntal.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak yakin, apakah aku benar. Tetapi jika benar ia Raden Mas Said, maka ia adalah puteranda paman Aria Mangku Negara”

“Tetapi apakah yang dilakukannya dengan perempuan dan anak-anak itu?“

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi menilik sikapnya, apabila ia benar-benar Raden Mas Said, maka ia pasti sedang menyingkir dari Surakarta. Laki-laki bersenjata itu adalah pasukannya dan perempuan itu pasti keluarga mereka. Sikap pamanda Aria Mangku Negarapun sudah jelas bagi Surakarta”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Ternyata bahwa Surakarta benar-benar terbelah. Bahkan keluarga Ranakusumapun terbelah”

“Lebih dari itu Buntal. Banyak di antara para bangsawan yang hatinya sendiri terbelah. Penuh keragu-raguan dan tidak menentu. Bahkan tidak tahu apa yang sedang dilakukannya“

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat membayangkan betapa kacaunya sikap para bangsawan dan pimpinan pemerintahan di Surakarta. Prasangka, curiga mencurigai, dan saling menfitnah. Setiap orang dapat menanggapi keadaan sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Tetapi bahwa api mulai berkorbar di Surakarta, agaknya sudah tidak dapat diingkari lagi.

Dalam pada itu Arumpun kemudian bertanya “Lalu apa yang harus kita lakukan?“

“Sementara ini tidak berbuat apa-apa” berkata Raden Juwiring “Kita melanjutkan perjalanan. Malam ini kita akan menemukan rumah Kiai Sarpasrana. Ternyata banyak ceritera yang dapat kita katakan kepadanya. Mungkin ia tahu agak banyak tentang pasukan yang baru saja lewat“

“Marilah” sahut Arum” Kita jangan terlampau lama berdiri saja di sini sambil berbicara tanpa ujung pangkal”

“Ya. Kita melanjutkan perjalanan. Mungkin kita harus segera berbuat sesuatu apabila kita sudah bertemu dengan Kiai Sarpasrana”

Ketiga anak-anak muda itupun kemudian meneruskan perjalanan mereka ke Sukawati. Meskipun mereka telah menempuh perjalanan yang cukup panjang, namun karena kemauan yang mantap di dalam liati, maka tampaknya mereka sama sekali tidak menjadi lelah. Apalagi tubuh mereka telah cukup terlatih, sehingga mereka mampu mengatur tenaga yang ada di dalam diri mereka sebaik-baiknya.

Di sepanjang perjalanan mereka kemudian, hampir tidak seorangpun yang berbicara. Mereka berjalan saja dengan langkah yang cepat. Angan-angan mereka ternyata telah dipengaruhi oleh bayangan mereka masing-masing tentang iring-iringan yang baru saja mereka lihat.

“Ada yang membawa senjata api” berkata Juwiring di dalam hatinya, karena secara kebetulan pula ia melihat seseorang di dalam iring-iringan itu membawanya “Tentu didapatnya dari orang asing-asing itu dengan kekerasan” Tetapi Raden Juwiring tidak mengatakannya kepada kedua adik seperguruannya.

Demikianlah, tanpa beristirahat lagi, merekapun memasuki tlatah Sukawati. Karena itu, mereka menjadi semakin berhati-hati. Sukawati agak berbeda dari padukuhannya. Meskipun Sukawatipun termasuk daerah yang tidak banyak diganggu oleh penjahat, namun apaknya Sukawati mempunyai persiapan yang khusus menghadapi keadaan yang semakin memuncak di Surakarta.

Apalagi merekapun sadar, bahwa banyak orang-orang di Sukawati yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, sehingga apabila mereka kurang berhati-hati, maka mereka akan terjerumus ke dalam kesulitan.

Karena itu, agar mereka tidak membuat salah paham, maka mereka berkeputusan untuk langsung pergi kegardu yang pertama-tama akan mereka temui dan langsung bertanya, dimanakah rumah Kiai Sarpasrana yang juga sering disebut Kiai Sarpa Ireng.

“Belum tengah malam” bisik Buntal ketika ia menengadahkan kepalanya melihat bintang-bintang yang bersinar di langit

“Ya” sahut Juwiring “bintang Gubug Penceng sudah hampir tegak lurus. Sebentar lagi kita akan menginjak tengah malam. Dan mudah-mudahan kita sudah sampai pada Kiai Sarpasrana”

Arum mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun ia tidak menyahut sama sekali.

Demikianlah, ketika mereka melihat cahaya obor di gardu perondan, maka merekapun langsung menghampirinya. Lebih baik mereka bertanya lebih dahulu daripada mereka dicurigai oleh para peronda itu.

Para peronda yang ada di dalam gardu itupun terkejut. Mereka segera berloncatan turun ketika mereka melihat tiga orang anak muda yang belum mereka kenal mendekati gardu mereka.

“Siapakah kalian?“ bertanya pemimpin peronda itu.

“Kami datang dari Jati Sari Ki Sanak“ Juwiringlah yang menyahut.

“Siapa?“

“Namaku Juwiring. Keduanya adalah adikku”

Peronda itu termangu-mangu sejenak, sedang Juwiring menjadi berdebar-debar. Ia tidak sempat menyembunyikan namanya, apalagi membuat nama buat Arum jika ia dipaksa untuk menyebutnya.

“Mudah-mudahan mereka tidak mengenal Raden Juwiring dari Ranakusuman” berkata Juwiring di dalam hatinya.

Untunglah bahwa peronda itu sama sekali tidak mempersoalkan namanya dan tidak bertanya pula nama kedua adik seperguruannya.

Yang ditanyakan kemudian adalah “Kemanakah kalian akan pergi di malam begini?“

“Kami kemalaman di jalan. Ki Sanak. Tetapi kami tidak berani berhenti dan bermalam di jalan. Karena itulah kami memaksa diri untuk meneruskan perjalanan”

“Kalian akan pergi kemana?“ desak peronda itu.

“Kami akan mengunjungi paman Sarpasrana yang juga disebut Sarpa Ireng. Karena kami belum pernah melihat rumahnya, maka kami sengaja datang ke gardu ini. Juga agar tidak timbul salah paham, karena kami memasuki padukuhan ini di tengah malam”

Peronda itu merenung sejenak. Kemudian iapun berpaling kepada kawan-kawannya, tetapi tidak seorangpun yang mengatakan sesuatu.

“Apa hubungan kalian dengan Kiai Sarpasrana?“ bertanya peronda itu.

“Ayahkulah yang mempunyai hubungan dengan Kiai Sarpaprana, tetapi tidak lebih dari seorang sahabat. Sekarang aku disuruh oleh ayahku untuk datang menemuinya. Tetapi kami belum pernah melihat rumahnya”

“Apakah kepentinganmu atau kepentingan ayahmu itu?“

“Tidak ada kepentingan apa-apa. Ayahku sudah lama tidak bertemu. Lalu disuruhnya aku menengoknya, apakah Ki Sarpasrana sehat-sehat saja”

Peronda itu menjadi ragu-ragu. Ditatapnya saja wajah Juwiring yang menjadi semakin kemerah-merahan oleh cahaya obor di gardu pemuda itu.

“Orang ini tentu tidak akan berani berbohong” berkata prajurit itu di dalam hatinya “Kiai Sarpasrana bukanlah orang kebanyakan. Seandainya orang-orang ini berhasil menemuinya, tentu mereka tidak akan berani berbuat jahat. Seandainya mereka berani, maka merekapun pasti akan segera dibinasakan oleh Kiai Sarpasrana dan murid-muridnya”

Dalam keragu-raguan itu, ia kemudian bertanya lagi “Apakah benar kalian tidak bermaksud apa-apa?“

“Tentu” jawab Juwiring “kami akan mengunjunginya. Hanya mengunjunginya saja. Tentu kami tidak akan dapat berbuat apa-apa di hadapan Kiai Sarpasrana”

Peronda itu menarik nafas dalam-dalam- Anak muda itu seolah-olah dapat membaca isi hatinya. Dan sejenak kemudian ia berkata “Baiklah. Tetapi jangan mencoba mencelakai dirimu sendiri dengan perbuatan yang aneh-aneh di hadapan Kiai Sarpasrana. Jika kalian berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, maka kalian pasti akan menyesal, karena Kiai Sarpasrana adalah orang yang keras. Sangat keras”

Juwiring menganggukkan kepalanya sambil menyahut “Tentu. Kami tidak akan mencelakai diri kami sendiri”

Peronda itupun kemudian menyuruh dua orang kawannya untuk mengantar Juwiring dan adik-adik seperguruannya ke rumah Kiai Sarpasrana yang juga disebut Kiai Sarpa Ireng. Namun di sepanjang jalan para peronda itupun cukup berhati-hati. Dipersilahkannya Juwiring dan kedua adik seperguruannya itu berjalan di depan.

Ternyata untuk mencapai rumah Kiai Sarpasrana mereka masih harus berjalan beberapa lamanya. Mereka masih melalui beberapa gardu peronda dan sebuah bulak kecil, karena Kiai Sarpasrana itu terletak di sebuah padukuhan kecil yang terpisah dari padukuhan induk Sukawati.

“Itulah rumahnya” berkata peronda yang mengantar ketiga anak-anak muda itu “berhati-hati1ah. Kiai Sarpasrana adalah orang yang dhormati. Meskipun tampaknya ia agak kasar, tetapi ia adalah orang yang baik. Ia mengerti perasaan orang-orang Sukawati sehingga karena itulah maka iapun dekat dengan Pangeran Mangkubumi”

“O“ Juwiring menganggukkan kepalanya.

“Di dalam olah kanuragan, iapun memiliki beberapa kelebihan meskipun agaknya ia belum mendekati Pangeran Mangkubumi”

Ketiga anak muda itu masih mengangguk-angguk. Sekilas terbayang wajah seorang tua yang keras hati. Namun melintas juga bayangan seorang Pangeran yang luar biasa, yang pilih tanding. Bahkan menurut beberapa orang, Pangeran Mangkubumi memiliki beberapa macam ilmu yang jarang dikuasai oleh orang lain.

“Tetapi apakah Kiai Sarpasrana tidak menjadi marah karena kedatangan kami di tengah malam begini?” tiba-tiba saja Buntal bertanya.

“Jika kau mempunyai alasan yang kuat, maka Kiai Sarpasrana tentu tidak akan marah. Bagi orang yang belum mengenalnya, sikapnya memang seperti orang yang sedang marah. Tetapi kemudian sikap itu akan berubah. Apakah kau sudah sering bertemu dengan orang itu?“

Juwiring menggelengkan kepalanya.

“Apakah ayahmu juga berpesan kepadamu. tentang sifat dan kebiasaan Kiai Sarpasrana itu?“

Juwiring ragu-ragu sejenak. Namun kemudian jawabnya “Hanya sedikit. Tetapi kami sudah mempunyai gambaran tentang orang itu”

“Jadi kalian sama sekali belum pernah menemuinya? Maksudku jika sekali-sekali Kiai Sarpasrana itu berkunjung kepada ayahmu yang katamu adalah sahabatnya?“

“Belum. Kami memang belum pernah bertemu dengan Kiai Sarpasrana. Tetapi menurut pesan ayahku, jika aku menyebut bahwa aku adalah anak-anaknya, maka Kiai Sarpasrana pasti akan segera mengenal aku”

Peronda itu mengangguk-angguk-

Dalam pada itu, merekapun sudah berdiri di depan regol halaman rumah Kiai Sarpasrana. Halaman yang cukup luas dengan berbagai macam pepohonan. Di dalam gelapnya malam Juwiring tidak segera dapat mengenal, pohon apa sajalah yang tumbuh di halaman rumah itu.

“Masuklah” berkata peronda itu “regol ini tidak pernah diselarak”

Juwiring ragu-ragu sejenak. Lalu iapun bertanya “Apakah kalian tidak masuk”

Peronda itupun menjadi ragu-ragu pula. Namun salah seorang dari mereka berkata “Baiklah. Marilah, kami antar kau mengetuk pintu pendapa”

Demikianlah dengan hati-hati mereka membuka pintu regol halaman. Perlahan-lahan mereka maju melintasi halaman menuju ke tangga pendapa.

“Naiklah, dan ketuklah pintu pringgitan” berkata peronda itu. Tetapi agaknya peronda itu sendiri ragu-ragu pula.

“Apaboleh buat” berkata Juwiring “Kami sama sekali tidak berniat jelek”

Tetapi ketika Juwiring baru menginjak anak tangga yang pertama, hampir saja mereka terlonjak karena terkejut. Peronda-peronda itupun terkejut pula ketika mereka mendengar suara seseorang dari kegelapan “Jangan mengetuk pintu”

Semua orang berpaling kearah suara itu. Di dalam kegelapan bayangan dedaunan mereka melihat seseorang yang berdiri tegak dengan kaki renggang.

“O“ peronda itu hampir berbareng berdesis. Kemudian yang seorang melanjutkan “Kami sekedar mengantar tiga anak muda ini ingin menghadap Kiai Sarpasrana“

“Di malam hari begini? Apakah kau sangka Kiai Sarpasrana itu sebangsa ular yang tidak pernah tidur? Dan apabila sudah mulai tidur sebulan sama sekali tidak terbangun?“

“Tetapi, tetapi anak-anak ini akan dapat memberikan penjelasan kenapa mereka baru sampai di sini di tengah malam”

“Penjelasan atau tidak dengan penjelasan, ternyata kalian datang tengah malam. Kalian sebenarnya mempunyai otak untuk berpikir bahwa di malam begini pada umumnya seseorang sedang tidur”

“Tetapi ada juga yang karena sesuatu hal belum tidur” Juwiring mencoba menyahut “misalkan kami dan maaf, barangkali Ki Sanak juga”

“Persetan” geram orang itu “itu bukan bicara seseorang yang cukup bijaksana. Sekarang kalian harus pergi sebelum Kiai Sarpasrana merasa terganggu”

“Tetapi“ Juwiring masih ingin menjelaskan lebih lanjut. Agar ia segera mendapat perhatian, maka katanya “Tetapi kami adalah putera-putera Kiai Danatirta di Jati Aking”

“He?” orang itu agaknya memang menaruh perhatian atas nama itu. Namun kemudian ia berkata “Siapapun kalian, namun kalian tidak dapat mengganggu Kiai Sarpasrana”

“Ki Sanak” berkata Juwiring “sebenarnya kami memang tidak ingin mengganggu. Tetapi kami terpaksa datang ke rumah Kiai Sarpasrana di tengah malam. Jika kami sempat menemuinya, kami akan dapat memberikan keterangan tentang perjalanan kami”

Orang itu diam sejenak. Lalu “Pergilah. Sebaiknya kalian pergi saja dari halaman rumah ini. Sebaiknya para peronda itu kembali saja ke gardu kalian”

Para peronda itu termangu-mangu.

“Kembalilah. Kalian membawa orang-orang ini. Dan orang-orang ini sudah sampai kepadaku. Tinggalkan mereka. Aku akan memaksa mereka pergi. Tetapi tugasmu sudah selesai. Kalian tidak akan bersangkut paut lagi dengan anak-anak gila ini”

Para peronda itupun kemudian melangkah surut sambil berkata “Baiklah. Kami minta diri. Kami sekedar menunjukkan ketiga anak muda ini”

“Baiklah. Pergilah sebelum Kiai Sarpasrana bangun dan marah pula kepadamu“

Para peronda itu memandang Juwiring, Buntal dan Arum berganti-ganti. Namun merekapun kemudian melangkah surut sambil berkata “Kami sudah membawa kalian sampai ke tempat yang kalian cari”

“Terima kasih” sahut Juwiring.

Para peronda itupun kemudian dengan tergesa-gesa pergi. Ketika mereka sudah hilang di balik pintu regol, maka orang di dalam kegelapan itu berkata lagi “Kalianpun harus cepat pergi. Jika Kiai Sarpasrana mengetahui bahwa dengan sangat bodoh kalian minta agar Kiai dibangunkan, maka ia pasti akan marah sekali. Bukan karena ia dibangunkan, karena meskipun tidak, tetapi jika ia mengetahui pikiran gilamu untuk membangunkannya di tengah malam, ia akan marah. Meskipun baru di dalam angan-anganmu sekalipun, jika itu dapat dimengertinya, ia pasti akan marah karena ada seseorang yang sama sekali tidak menghormatinya, yang berniat, jadi atau tidak jadi, untuk membangunkannya selagi ia tidur nyenyak”

Juwiring menjadi ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah Buntal yang kemudian menjadi tegang.

“Bagaimana?“ bertanya Juwiring kepada Buntal perlahan-lahan sekali.

“Memang membingungkan. Tetapi jika kita dapat bertemu dengan Kiai Sarpasrana sendiri, kita akan sempat mengatakan kepentingan kita, dan siapakah kita ini”

“He, kenapa kalian saling berbisik” bertanya orang di dalam kegelapan itu “Cepat pergi”

“Tunggu Ki Sanak“ Buntallah yang kemudian berbicara “Kami minta kesempatan untuk mengetuk pintu. Jika kemudian Kiai Sarpasrana marah, biarlah marah kepada kami. Apapun yang akan dilakukan atas kami, kami tidak akan mengelak. Tetapi jika kami berkesempatan mengatakan bahwa kami adalah anak-anak Kiai Danatirta, mudah-mudahan Kiai Sarpasrana tidak menolak kehadiran kami di sini”

“Persetan” geram orang itu “Aku mempunyai wewenang menerima atau menolak setiap orang yang akan menemui Kiai Sarpasrana”

“Tetapi siapakah Ki Sanak sebenarnya?“

“Aku adalah Putut Srigunting. Aku mempunyai kekuasaan seperti Kiai Sarpasrana di halaman rumah ini”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ditatapnya wajah Buntal yang tegang. Sementara Arum memandang kedua anak-anak muda itu berganti-ganti.

“Cepat pergi sebelum aku menjadi marah” berkata orang yang menyebut dirinya Putut Srigunting.

“Ki Sanak” berkata Juwiring “Apakah salahnya jika kami mencoba menemui Kiai Sarpasrana”

“Kalian benar-benar tidak tahu sopan santun. Kau lihat bintang Gubug Penceng yang sudah bergeser ke Barat itu? Kini tengah malam sudah lewat. Dan kalian akan mengejutkan Kiai Sarpasrana yang sedang tidur nyenyak?“

Juwiring tidak segera menjawab. Ia memang mengharap agar perbantahan itu menjadi semakin keras dan dapat membangunkan Kiai Sarpasrana. Jika Kiai Sarpasrana menengoknya keluar, dan bertanya tentang dirinya dan kedua adik seperguruannya, maka mereka tentu akan diterima, meskipun mungkin Kiai Sarpasrana akan membentak-bentaknya dengan kasar karena sifatnya.

“He, kenapa kalian masih saja berdiri di situ?“ bertanya Putut itu.

“Ki Sanak. Baiklah. Jika kami tidak dapat diterima malam ini. biarlah kami menunggunya sampai fajar. Kami akan duduk saja di pendapa ini tanpa mengganggunya” berkata Juwiring kemudian. Baginya itu lebih baik daripada pergi meninggalkan halaman rumah ini dan berkeliaran di sepanjang jalan.

Tetapi jawab Putut itu “Tidak. Kalian harus pergi. Aku tidak mau melihat kalian berkeliaran di halaman rumah ini. Kalian telah membuat halaman ini menjadi kotor. Kami tidak biasa menerima tamu semacam kalian, apalagi memaksa untuk menemui Kiai Sarpasrana di malam hari. Hanya orang-orang besar sajalah yang dapat menemuinya. Bukan petani-petani miskin seperti kalian”

Terasa dada ketiga anak-anak muda itu berdesir. Ternyata ada alasan lain dari Putut Srigunting itu untuk menolaknya. Dan penolakan itu benar-benar telah menyakitkan hati. Karena itu maka Juwiringpun berkata “Ki Sanak. Jangan menghinakan kami petani-petani miskin. Apakah di Sukawati ini tidak ada petani miskin? Dan apakah Pangeran Mangkubumi juga membenci petani-petani miskin“

“Aku tidak peduli orang-orang Sukawati. Aku tidak peduli sikap Pangeran Mangkubumi. Tetapi aku tidak dapat membiarkan kalian, petani-petani miskin dari Jati Sari untuk menemuinya. Bukankah Danatirta tinggal di padukuhan Jati Aking di Kademangan Jati Sari?“

“Ya Ki Sanak”

“Nah, pergi kepada Danatirta. Beritahukan bahwa ia tidak berhak membuat hubungan dengan Kiai Sarpasrana. Martabat keduanya tidak sama. Danatirta adalah seorang petani miskin yang tinggal di padepokan kecil, kotor dan buruk. Tetapi Kiai Sarpasrana tinggal di sebuah padukuhan tersendiri. Besar dan berpengaruh”

Kata-kata itu benar-benar menyakitkan bati ketiga anak-anak muda itu.

Hampir saja Arum menjawabnya dengan marah. Tetapi ketika ia melangkah maju, Buntal sempat menggamitnya.

“Ki Sanak” berkata Juwiring “Kami tidak menyangka, bahwa kami akan mendapat sambutan yang begini hangat. Menurut Kiai Danatirta, kami akan diterima dengan baik oleh Kiai Sarpasrana, karena Kiai Danatirta adalah sahabat baik Kiai Sarpasrana. Tetapi yang kami jumpai justru sebaliknya”

“Danatirtalah yang tidak tahu diri Ia membayangkan dirinya sejajar dengan Kiai Sarpasrana” orang itu berhenti sejenak, lalu “sekarang pergi. Cepat pergi”

”Baik” suara Juwiring menjadi bergetar “Tetapi aku masih ingin mengatakan kepadamu Putut. Jika aku sempat bertemu dengan Kiai Sarpasrana sendiri, tentu kami tidak akan menjumpai sikap sekasar sikapmu. Mungkin Kiai Sarpasrana akan marah kepada kami. Tetapi ia memang berhak marah. Dan kamipun tidak akan sakit hati karenanya. Tetapi kau, apa hakmu marah kepada kami. Kau adalah seorang Putut. Seharusnya kau menyampaikan persoalan ini kepada Kiai Sarpasrana. Jika kau tidak berani membangunkan, aku sendiri akan mengetuk pintu. Dan jika kau mendapat pesan agar Kiai Sarpasrana tidak diganggu, kau tidak usah bersikap begitu bodoh terhadap kami. Betapa rendahnya martabat Kiai Danatirta, tetapi ia adalah ayahku, guruku dan aku menghormatinya. Jika kau hinakan ayahku dan sekaligus guruku itu, maka adalah wajar sekali apabila aku merasa tersinggung karenanya”

“O, kau merasa tersinggung. Danatirta-memang orang yang bodoh, yang mengirimkan anak-anak ingusan itu untuk datang kemari. Jangan kau sangka bahwa Kiai Sarpasrana akan menundukkan kepalanya jika ia mendengar nama Danatirta. Akupun mengenal orang yang bernama Danatirta itu. Nah, kalian mau apa?“

Juwiring yang masih muda seperti juga Buntal dan Arum itu ternyata sulit untuk menguasai perasaannya. Bagi Juwiring dan kedua adik-adik angkatnya itu. Kiai Danatirta adalah orang yang paling dihormati. Karena itu, maka Juwiringpun berkata “Putut Srigunting. Aku tetap menghormati Kiai Sarpasrana, karena gurukupun menghormatinya. Tetapi maaf, aku sama sekali tidak dapat menghormatimu. Seharusnya kau masih belum pantas untuk menjadi seorang Putut. Kau masih harus magang untuk beberapa tahun lagi sebelum kau menjadi seorang cantrik. Apalagi Putut atau Jejanggan”

Orang di dalam kegelapan itu menggeram. Selangkah ia maju sambil berkata “Kau memang gila. Aku adalah Putut Srigunting murid terpercaya dari Kiai Sarpasrana. Kau ternyata berani menghinakan aku. Apakah kau sudah jemu hidup“

“Ternyata kau bukan murid yang baik. Kepercayaan Kiai Sarpasrana telah kau sia-siakan. Mungkin Kiai Sarpasrana tidak pernah melihat sikap sombongmu itu” Juwiring berhenti sejenak, lalu “Memang seorang budak yang bodoh kadang-kadang ingin bersikap garang melampaui tuannya. Tetapi dengan demikian setiap orang tahu, bahwa sebenarnyalah ia belum pantas mendapat sedikit kekuasaan yang sudah mulai di salah gunakan”

“Diam, diam” Orang itu berteriak.

Juwiring terdiam. Tetapi ia menjadi heran. Tidak seorangpun yang terbangun di padepokan itu.

“Apakah Kiai Sarpasrana tidak ada di padepokan?” Ia bertanya di dalam hatinya.

Namun yang terdengar adalah orang itu berkata lebih lanjut “Kau membuat aku marah. Jika sekali lagi kau menghina ak, aku akan membunuhmu”

“Aku tidak pernah berhasrat untuk menyombongkan diri. Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk memamerkan ilmu Jati Aking. Tetapi sudah sepantasnya kalau aku harus mempertahankan diriku, mempertahankan martabatku dan martabat guruku”

“O, kau memang ingin mati. Jika aku membunuh orang di padepokan ini, tidak ada orang yang berani mengurusnya, karena tidak ada orang yang berani menentang Kiai Sarpasrana. Bahkan Pangeran Mangkubumipun tidak”

Jilid 8 Bab 2 : Putut S